0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan3 halaman

Soal Ujian Pancasila Kelas V SD/MI

Diunggah oleh

Endang Payakumbuh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan3 halaman

Soal Ujian Pancasila Kelas V SD/MI

Diunggah oleh

Endang Payakumbuh
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMERINTAH KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

UNIT PELAKSANA UPTD 04 KOTO TANGAH BATU HAMPA


KEC. AKABILURU
SUMATIF TENGAH SEMESTER I SD/MI
TAHUN AJARAN 2024/2025
NASKAH SOAL
Mata Pelajaran : Pendidikan Pancasila Hari / Tanggal :
Kelas / Semester : V/I Waktu : 90 menit
Petunjuk Umum :
a. Awalilah pekerjaanmu dengan membaca basmalah!
b. Tulislah nama dan nomor ujianmu pada lembar jawaban yang telah disediakan!
c. Semua jawaban dikerjakan pada lembar jawaban yang telah disediakan!
d. Kerjakan soal yang mudah terlebih dahulu!

I. Pilihan Ganda
Silangilah (X) salah satu huruf A, B, C, dan D yang kamu anggap paling benar pada lembar
jawaban!
1. Sidang pertama BPUPKI membahas tentang persoalan penting dalam mempersiapkan
kemerdekaan Indonesia yaitu ... .
a. rumusan dasar Negara
b. pemilihan pemimpin bangsa
c. rumusan asas politik Negara
d. sumber – sumber kekayaan dalam membentuk negara

2. panitia yang dibentuk oleh BPUPKI pada tanggal 22 juni 1945 dan berhasil merumuskan piagam
Jakarta dikenal dengan nama …
a. panitia Inti c. panitia Khusus
b. panitia Sembilan d. panitia Delapan
3. Sila Pancasila yang mengalami perubahan saat disahkan adalah sila ...
a. pertama c. ketiga
b. kedua d. keempat

4. Bangsa Indonesia memiliki keyakinan bahwa pancasila mampu mengemban tugas kemasa depan
dalam mewujudkan…
a. Masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan pancasila
b. Kehendak rakyat yang ikut melawan penjajah
c. Cita – cita pendiri bangsa
d. Impian para lluhur bangsa

5. Tokoh berikut yang mengemukakan usul tentang dasar negara adalah...


a. Ir . Soekarno
b. Drs. [Link]
c. [Link] Yamin
d. Kihajar dewantara

6. Berikut contoh sikap meneladani para pendiri bangsa adalah ...


a. Memiliki jiwa dan semangat patriotic
b. Memiliki rasa setia kawan dan senasib seperjuangan
c. Rela berkorban demi kepentingan kelompok dan golongan
d. Mencintai tanah air sendiri secara berlebihan dan menggap rendah bangsa lain

7. Dalam proses perubahan isi piagam Jakarta , para tokoh pendiri bangsa senantiasa ….
a. Menyerukan perbedaan
b. Bekerja sama dengan penjajah
c. Menjunjung tinggi nilai kebersamaan
d. Mengutamakan kepentingan kelompok

8. Contoh mewujudkan persatuan dan kesatuan disekolah adalah….


a. Bekerjasama saat mengerjakan ulangan
b. Berteman tanpa memendang perbedaan
c. Suka memilih- milih teman
d. Memaksanakan kehendak pada orang lain
9. Bercanda dengan memanggil teman, menggunakan sebutan tertentu yang dapat menyinggung
perasaannya, merupakan tindakan yang kurang sesuai dengan norma...
a. agama c. kesusilaan
b. kesopanan d. hukum

10. Kita akan mudah menerima keputusan hasil musyawarah jika memiliki kesadaran untuk ….
a. Menggungulkan pendapat sendiri
b. Mengutamakan kepentingan bersama
c. Memeksakan kehendak kepada orang lain
d. Tidak menerima pendapat orang lain
11. Perbedaan norma hukum dengan norma-norma yang lain terletak pada sanksinya, yaitu...
a. hukuman yang berat c. bersifat jelas dan tegas
b. berupa hukuman penjara d. pengucilan dan pidana

12. Seseorang dapat diancam hukuman penjara bila terbukti menyebarkan berita bohong melalui
media sosial. Hal tersebut merupakan pelanggaran norma...
a. agama c. kesusilaan
b. kesopanan d. hukum

13. Berikut ini merupakan alat perlengkapan negara yang bertugas menegakkan hukum dengan
menanggulangi aksi kejahatan dan gangguan keamanan...
a. jaksa c. pengacara
b. hakim d. kepolisian

14. Keadilan yang dilambangkan dengan timbangan atau neraca yang setara mengandung makna
bahwa...
a. onrma hukum lebih menitikberatkan pada pertimbangan.
b. hukum itu tidak berat sebelah, dan tidak pernah memihak.
c. berat ringannya pelanggaran hukum harus ditimbang dulu.
d. pemberian hukuman harus berdasarkan kepentingan korban.

15. Apabila norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tidak dipatuhi oleh warga masyarakat maka
dampaknya ialah...
a. terjadi kekacauan dan anarkisme c. tugas kepolisian semakin berat
b. banyak orang yang akan dipenjara d. anggota masyarakat akan unjuk rasa

16. Arti pentingnya norma dalam kehidupan bermasyarakat ialah...


a. melindungi hak dan kewajiban setiap warga masyarakat.
b. untuk mewujudkan ketertiban dan keteraturan dalam masyarakat.
c. memberikan hukuman yang setimpal bagi orang yang melanggar.
d. untuk membuat orang takut sehingga tidak akan merugikan orang lain.

17. Norma hukum memilki sifat memaksa artinya...


a. warga masyarakat terpaksa patuh karena takut polisi.
b. pemberian hukuman diberikan karena terpaksa.
c. pelanggarnya dapat dipaksa untuk menerima sanksi.
d. polisi dapat memaksa seseorang untuk patuh atau tidak patuh.

18. Tindakan main hakim sendiri merupakan pelanggaran hukum. Karena itu jika mengetahui adanya
peristiwa pelanggaran hukum, yang harus dilakukan ialah...
a. beramai-ramai menghukum pelaku. c. berdiam diri agar tidak terlibat.
b. melapor kepada yang berwajib. d. memberitahu orang lain.

19. Keadilan dalam masyarakat dapat terwujud jika seluruh anggota masyarakat mematuhi norma-
norma yang berlaku, dan berpartisipasi dalam...
a. upaya penegakan hukum.
b. mengadili suatu perkara.
c. menghukum pelaku pelanggaran.
d. penyelidikan yang dilakukan polisi.
20. Proses penyelenggaraan pemerintahan oleh pemerintah harus didasarkan kepada norma … .
a. kesusilaan c. adat
b. hukum d. kesopanan
21. Setiap pelanggar norma pasti mendapat sanksi. Sanksi bagi orang yang melanggar norma kesusilaan
adalah … .
a. dosa c. penjara
b. rasa penyesalan d. denda

22. Contoh perilaku sesuai norma di lingkungan sekolah adalah … .


a. menghormati guru c. terlambat masuk sekolah
b. mengotori kelas d. pulang tanpa izin sebelum pelajaran berakhir

23. Dijauhi atau dikucilkan oleh masyarakat di lingkungan sekitar merupakan sanksi bagi orang yang
melanggar norma … .
a. Kesopanan c. Agama
b. Hukum d. Kesusilaan

24. Penjara, kurungan, dan denda merupakan sanksi yang akan diterima oleh orang yang melanggar
norma … .
a. Agama c. Kesusilaan
b. Hukum d. Kesopanan

25. Norma yang penerapannya hanya di daerah tertentu dan kadang tidak berlaku di daerah lain adalah
norma … .
a. adat c. kesopanan
b. hukum d. kesusilaan

II. Isilah titik-titik di bawah ini dengan jawaban yang benar !


26. Apa kepanjangan dari BPUPKI?
27. Tanggal berapa siding BPUPKI pertama?
27. Norma yang berlaku di sekolah dilaksanakan oleh … .
28. Taat membayar pajak adalah contoh norma … .
29. Salah satu contoh norma kesopanan adalah … .
30. Norma yang mengatur etika seseorang dalam bergaul dengan orang lain disebut norma … .
31. Sanksi bagi yang melanggar norma hukum antaralain … .
33. Taat pada rambu-rambu lalu lintas merupakan norma yang harus dipatuhi oleh … .
34. Sanksi norma hukum berupa … .
35. Pelaksanaan norma agama langsung diawasi oleh … .

III. Jawablah pertanyaaan di bawah ini dengan tepat!


36. Tuliskan 3 anggota dari panitia Sembilan!
37. Tulislah 3 macam norma yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari!
38. Tulis 3 contoh perilaku yang sesuai dengan norma di lingkungan masyarkat!
39. Tulislah 3 manfaat norma!
40. Tulislah 3 kewajibanmu di sekolah!

Selamat bekerja!

Common questions

Didukung oleh AI

Balancing legal norms and traditional customs requires a nuanced approach that respects customary practices while ensuring adherence to national law. Legal norms provide a structured, standardized framework for justice, ensuring equality and consistency, while traditional customs reflect local traditions and social harmony. In addressing societal disputes, Indonesia can incorporate customary laws (adat) within the legal framework, allowing traditional mediations that are respected and endorsed by formal judicial systems, thus ensuring judicial decisions are culturally sensitive and widely respected . This dual approach fosters community acceptance and integration of diverse legal viewpoints.

Failure to uphold norms such as kesusilaan (propriety) and kesopanan (courtesy) could lead to societal issues like increased conflict, moral decline, and social disintegration. These norms are essential for maintaining respectful and orderly interactions among community members. Without adherence, there is a risk of misunderstanding, disrespectful behavior, and a decline in community trust and cooperation, potentially escalating into broader societal discord and instability . Therefore, upholding these norms is crucial for ensuring harmonious and respectful community relations.

BPUPKI, or the Investigating Committee for Preparatory Work for Independence, played a crucial role in discussing fundamental issues about Indonesia's state formation, particularly during its first session, which involved deliberations on the formulation of the Pancasila philosophy as the foundation of the country . This process highlights the importance of deliberative discussions in the creation of foundational state principles, emphasizing diverse input and consensus to establish durable and representative governing norms for the future Indonesian state.

Incorporating evaluative questions in civic studies assessments is essential to foster critical thinking, deep understanding, and application of knowledge beyond rote memorization. Such questions require students to synthesize information, analyze scenarios, and make informed judgments, thereby promoting higher-order thinking skills. This approach helps students internalize the principles of Pancasila and recognize their application in real-world contexts, thereby aligning educational outcomes with the needs of a progressively complex and dynamic societal environment . It prepares students for participatory citizenship, enabling them to engage with societal issues thoughtfully and responsibly.

Adherence to societal norms, like paying taxes and following traffic rules, demonstrates the function of structured governance and social contracts in maintaining public order and facilitating stability. Paying taxes exemplifies a citizen's contribution to the state's economic capabilities and public service funding, while compliance with traffic rules ensures safety and order in public spaces. Such norms underscore the interconnected relationship between individual behaviors and broader societal structures, where individual compliance facilitates overall governance efficacy and societal harmony . This reflects a reciprocal relationship pivotal in reinforcing national stability and citizen engagement in governance.

The educational curriculum for Grade V students plays a significant role in imparting Pancasila values and societal norms, facilitating understanding of national identity and civic responsibilities. Through subjects like Pendidikan Pancasila, students are introduced to the philosophical and ethical foundations of the Indonesian state and the importance of societal norms, such as participation in democracy and respect for law. This education aims to develop character, critical thinking, and a sense of national pride among students . Such early education embeds core national values, reinforcing the role of schools as foundational platforms for nation-building and citizen character development.

The change in the first principle of Pancasila from 'Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya' to 'Ketuhanan Yang Maha Esa' was influenced by the need to accommodate religious diversity and foster national unity. Originally proposed in the Jakarta Charter, the initial wording catered specifically to Muslim interests, but it was altered to ensure the principle was inclusive of all religious and ethnic groups in Indonesia, reflecting the country's pluralistic society . The decision reflected cooperative discussions among founding figures to prioritize national unity over sectarian preferences.

Incorporating Pancasila education in primary school curricula cultivates civic consciousness and national identity from an early age, promoting informed and active citizenry. By learning about Pancasila, students develop a foundation of democratic values, responsibilities, and national pride, which are vital for effective civic participation. This education ensures students are well-versed in their civic duties, rights, and the philosophical tenets guiding the nation, fostering future engagement in democratic processes and community involvement . Ultimately, it reinforces the importance of active participation in national development and governance.

The 'Panitia Sembilan,' formed by BPUPKI, was pivotal in drafting the Jakarta Charter, which eventually served as the foundation for Indonesia's constitution. This committee, consisting of representatives from various political and religious groups, exemplified the spirit of compromise and mutual respect essential in Indonesia's pluralistic setting. The Jakarta Charter, although not adopted verbatim, influenced the final Preamble of the Constitution, institutionalizing the foundational principles of Pancasila and setting a precedent for inclusion and diversity within Indonesia's constitutional framework . This highlighted the committee's role in balancing diverging interests for the sake of a unified constitutional identity.

Legal sanctions serve as a deterrent against norm violations by imposing consequences that reflect societal disapproval and reinforce expected behaviors. In Indonesia, sanctions such as imprisonment, fines, or community service serve dual purposes: they punish the offender and serve as a warning to the wider community, deterring similar actions. These penalties are designed to uphold the rule of law, protecting societal order and ensuring reliable enforcement of societal norms. By showcasing the serious repercussions of violations, sanctions discourage non-compliance, fostering communal adherence to established laws and norms .

Anda mungkin juga menyukai