0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan16 halaman

Religiusitas dalam Puisi Joko Pinurbo

Diunggah oleh

Hesti Nurul Inayati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan16 halaman

Religiusitas dalam Puisi Joko Pinurbo

Diunggah oleh

Hesti Nurul Inayati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

RELIGIUSITAS DALAM PUISI “BAJU BULAN”, “KEPADA UANG”, DAN

“DOA SEORANG PESOLEK” KARYA JOKO PINURBO (SEBUAH


KAJIAN SRUKTURAL SEMIOTIKA)

Faiza Salsabila
Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Diponegoro Semarang
faizasalsae@[Link]

Abstract
Religiusitas Dalam Puisi “Kepada Uang”, “Baju Uang’, Dan “Doa Seorang Pesolek” Karya Joko Pinurbo
(Sebuah Kajian Sruktural Semiotika). This thesis research aims to express the structure of poetry and the meaning
of religiosity contained in Joko Pinurbo's poetry in the poetry anthology Happy Performing Poetry Worship. The
material object is in the form of three pieces of Joko Pinurbo poems entitled "Moon Clothes", "To The Money",
and "Prayer of a Dandy" while the formal object is an analysis of aspects of religiosity with semiotics studies. The
research method used is library study. This method requires the science of assistance by involving the structural
theory of Roman Norma Ingarden to study the structure of poetry and semiotics theory to study the personification
of God in the aspect of poetry religiosity. The results of strata norma Roman Ingarden's analysis poems "Moon
Clothes", "To Money", and "Prayer of a Dandy" produce a euphonic sound because it is dominated by vocal
phonemes. The poem "Moon Clothes" has the meaning of the limitations of a little girl to celebrate Eid. The poem
"To the Money" means the fear of an elderly candidate to face his old age. The poem "Prayer of a Dandy" has the
meaning of a woman's dissatisfaction in living life. While the results of the analysis of aspects of poetry religiosity
obtained through the form of personification of God from the poems "Clothes of the Moon", "To the Money", and
"Prayer of a Dandy" by Joko Pinurbo provide a new color to involve inanimate objects as if they were God. The
religiosity of the poem "Moon Suit" means that God is a Moon that always emits its light and can grant the prayers
of His people. The religiosity of the poem "To Money" means that money can grant all human desires. "Prayer of
a Dandy" has the meaning that makeup tools can change human destiny and [Link] moon, money, and
makeup tools are inanimate objects that seem to be given life by Joko Pinurbo to carve stories in his three poems.
Joko Pinurbo as the author gives a shadow of the lowness of a human being when he wants to ask for something.
He also played a word so beautiful that the three poems could give birth to new interpretations for the author.

Keyword: Poetry, structural, semiotics, riffattere, religiosity.

1. Pendahuluan perasaan. Bentuk struktural puisi dibagi


menjadi dua yakni struktur fisik dan struktur
1.1 Latar Belakang batin. Struktur fisik pada puisi akan
Puisi merupakan karya sastra yang berkenaan dengan tipografi,citraan atau
termasuk dalam golongan lirik. pengimajian, rima, majas, diksi, dan kata
Dibandingkan dengan jenis karya sastra lain konkret. Sedangkan struktur batin pada puisi
seperti prosa dan drama, puisi memiliki berisi mengenai jalan cerita puisi tersebut
bentuk khusus terutama pada bentuk yang di dalamnya terdapat tema, alur,
tipografinya. Puisi memiliki pemaknaan keterangan suasana, dan nada. Puisi
yang multitafsir dan bahasa yang padat dinobatkan sebagai karya sastra bahasa kedua
sehingga pembaca dapat memiliki
interpretasi sendiri. Selain memiliki bentuk
yang multi tafsir, puisi juga merupakan
sebuah alat untuk mengungkapkan
atau second language system.1 Hal tersebut bagian dari buku puisi Jokpin dengan tajuk
dikarenakan, puisi dibiaskan dengan Selamat Menunaikan Ibadah Puisi yang
menggunakan bahasa-bahasa kias dan tidak ditulisnya pada tahun 2006. Puisi “Kepada
menggunakan bahasa sehari-hari. Bahasa Uang” berhasil menarik perhatian penulis
kias tersebut yang dapat menimbulkan sebab puisi ini adalah sebuah gambaran
kesan estetik pada sebuah puisi. manusia di masa tua nanti yang sudah Jokpin
terawang dan kemudian disusun secara naratif
Tidak hanya memiliki bentuk struktur
ke dalam puisi. Melalui diksi-diksinya yang
fisik dan batin, Budi Setia,dkk. dalam
sederhana, penulis merasa diuntungkan
jurnalnya mengatakan bahwa sebuah puisi
dengan adanya puisi ini sebab penulis dan
bisa dinikmati melalui penanda atau simbol
juga para pembacanya nanti seolah-olah
yang terdapat dalam sebuah puisi. Ratna
sudah diberikan sebuah bekal untuk
melalui (Budi,dkk.,2019:2) menyebutkan
menghadapi masa tuanya nanti.
bahwa tanda-tanda yang ada pada sebuah
puisi atau karya sastra lainya tidak hanya Puisi “Doa Seorang Pesolek” merupakan
terletak pada teks tertulis, melainkan puisi ketiga yang penulis pilih untuk
hubungan antara penulis, karya sastra dan dijadikan sebuah objek material pada
pembaca yang menyediakan pemahaman penelitian ini. Penulis memiliki sebuah alasan
terhadap tanda-tanda karya sastra yang pribadi mengenai pemilihan puisi “Doa
sangat kaya. Pada kondisi tersebut seorang Seorang Pesolek” sebab puisi tersebut
penulis membutuhkan ilmu bantu yang memiliki sasaran pada kaum perempuan,
bertugas untuk menguraikan makna pada terutama yang senang bersolek. Melalui
sebuah karya sastra. Ilmu bantu tersebut alasan pribadi tersebut penulis selaku kaum
dikenal sebagai ilmu semiotika. perempuan akan mengembangkan alasan
tersebut menjadi sebuah kerangka berpikir
Puisi “Baju Bulan” merupakan salah satu
akademis. Nantinya hasil dari penelitian
puisi yang berada dalam buku kumpulan
terhadap puisi “Doa Seorang Pesolek” dapat
puisi milik Jokpin yang berjudul Selamat
berguna bagi para pembacanya, khususnya
Menunaikan Ibadah Puisi yang ditulisnya
kaum perempuan. Joko Pinurbo berhasil
pada tahun 2003. Puisi tersebut
menghidupkan pendayagunaan makna puisi
menceritakan mengenai seseorang yang
dengan menggunakan media alat kosmetik.
sangat menantikan sebuah Hari Raya
Perempuan identik dengan bersolek dan salah
dengan keinginannya untuk membeli baju
satu cara perempuan untuk mempercantik diri
baru. Penulis memiliki daya tarik tersendiri
adalah dengan bersolek atau menggunakan
terhadap puisi “Baju Bulan” sebab puisi ini
alat kosmetik.
memiliki diksi yang indah dan pada baris
pertamanya yang berbunyi “Tuhan aku mau 1.2 Rumusan Masalah
lebaran” berhasil memikat daya tarik
Berdasarkan pada latar belakang yang
penulis untuk dilakukan penelitian lebih
sudah penulis paparkan, rumusan masalah
lanjut mengenai makna dari puisi tersebut.
akan menjadi suatu acuan agar pembahasan
Selain itu, penulis beranggapan bahwa puisi
pada penelitian ini akan sistematis dan
“Baju Bulan” memiliki pemaknaan bahasa
struktural. Berikut adalah rumusan masalah
kias yang relevan dengan tujuan dan analisis
yang penulis angkat, yakni:
penelitian yang akan disusun.
1. Bagaimana struktur puisi “Baju
Puisi “Kepada Uang” merupakan puisi
Bulan”, “Kepada Uang”, dan “Doa
kedua yang dipilih oleh penulis untuk
Seorang Pesolek” dalam buku
dijadikan sebuah objek material penelitian.
kumpulan puisi Selamat Menunaikan
Puisi tersebut juga merupakan salah satu
Ibadah Puisi karya Joko Pinurbo?

1
Kemampuan sebuah karya sastra untuk mengungkapkan makna kedua (makna kias).
2. Bagaimana makna religiusitas yang sinyal untuk melakukan penelitian pada
digunakan oleh Joko Pinurbo dalam sajak Jokpin dengan memilih ketiga buah
puisi “Baju Bulan”, “Kepada Uang”, puisi yang berhubungan dengan benda
dan “Doa Seorang Pesolek”? mati yang dikiaskan sebagai Tuhan dalam
aspek religiusitas. Berdasarkan uraian
1.3 Tujuan dan Manfaat
tersebut penulis membutuhkan bahan
Berdasarkan permasalahan sebagaimana penelitian sebelumnya yang memiliki
penulis rumuskan di atas, maka tujuan yang relevansi dengan penelitian penulis, yakni:
hendak dicapai melalui penelitian ini (a) “Analisis Semiotik Dalam Kumpulan
adalah: Sajak Ketika Jarum Jam Leleh dan Lelah
a. Menjelaskan mengenai struktur puisi Berdetak Karya Dimas Arika Mihardja”
“Baju Bulan”, “Kepada Uang”, dan oleh Jetri Ramasyahri pada tahun 2017
“Doa Seorang Pesolek” yang dipaparkan (Universitas Batang Hari), (b) “Analisis
melalui teori Roman Ingarden. Struktural-Semiotik Puisi La Tzigane
b. Mengetahui aspek religiusitas yang Karya Guillaume Apollinaire” oleh Agnes
digunakan oleh Joko Pinurbo dalam puisi Kartika Ratna pada tahun 2015 (UNY), (c)
“Baju Bulan”, “Kepada Uang”, dan “Doa “Sosok Wanita Dalam Puisi “Portrait
Seorang Pesolek”. D’une Femme” Karya Ezra Pound
Tujuan penelitian akan menghasilkan sebuah (Sebuah Kajian Melalui Pendekatan
manfaat yang diperoleh bagi pembaca dan Struktural Dan Semiotik)” oleh Lynda
penulis dengan rangkaian sebagai berikut: Susana Widya Ayu Fatmawaty pada tahun
1. Manfaat Teoretis 2009 (Undip), (d) “Ketidaklangsungan
a. Menambah pengetahuan mahasiswa Ekspresi dalam Kumpulan Puisi Buku
Bahasa dan Sastra Indonesia tentang Latihan Tidur Karya Joko Pinurbo:
karya sastra puisi. Pendekatan Semiotika Riffaterre” oleh
b. Dapat menjadi bahan pustaka bagi Rahmat Hidayat, Nensilianti, dan Faisal
penelitian selanjutnya pada karya (UNM), (e) ”Analisis Semiotika Pada
sastra lain yang mengangkat tema Puisi “Barangkali Karena Bulan” Karya
religiusitas. Ws. Rendra” oleh Budi Setiadi dan Dida
2. Manfaat Praktis Firmansyah (IKIP Siliwangi)
a. Memahami pesan pemaknaan bahasa
Dari beberapa penelitian di atas,
kias personifikasi pada puisi “Baju
penulis menemukan satu (1) buah hasil
Bulan”, “Kepada Uang”, dan “Doa
analisis yang memiliki kemiripan dengan
Seorang Pesolek” karya Joko Pinurbo.
penelitian yang dilakukan oleh penulis.
b. Menambah kekayaan makna pada
Berikut ini merupakan paparan perbedaan
puisi “Baju Bulan”, “Kepada Uang”,
dari penelitian sebelumnya dengan
dan “Doa Seorang Pesolek” karya Joko
penelitian yang akan dilakukan penulis.
Pinurbo sebagai khasanah kesusastraan
Indonesia. 1. Penelitian yang dilakukan oleh
penulis memiliki kemiripan
1.4 Tinjauan Pustaka
dengan hasil analisis milik M.
a) Penelitian Sebelumnya Dani Wahyana. Penelitian dengan
judul “Metafor Maut Dalam Puisi
Joko Pinurbo merupakan seorang
“Kurindukan”, “Kehendak-Mu”,
pensyair yang memiliki gaya kepenulisan
dan “Bunga” Karya Soedjarwo
yang khas. Salah satu gaya yang
(Sebuah Kajian Stilistika)”
digunakan adalah dengan menjadikan
memiliki kesamaan objek material
sebuah benda mati sebagai objek dan
yakni puisi. Persamaan yang
tokoh dalam setiap judul puisinya.
paling menonjol ada pada teori
Dengan demikian, penulis memberikan
yang dipilih yakni sama-sama
menggunakan Strata Norma Pada analisis bunyi, haruslah
Roman Ingarden sebagai bentuk ditujukan pada bunyi-bunyi atau
struktural puisi. Sementara hal pola bunyi yang bersifat istimewa
yang membedakan adalah atau khusus, yaitu yang
penelitian Dani Wahyana dipergunakan untuk mendapatkan
menggunakan ilmu bantu efek puitis atau nilai seni.
stilistika. Penulis menggunakan
b. Lapis Arti
teori semiotika untuk membantu
menemukan makna religiusitas Lapis kedua adalah analisis
dalam puisi. lapis arti. Lapis arti (units of
meaning) merupakan sebuah
b) Landasan Teori
cerita. Satuan terkecil berupa
Puisi merupakan sebuah kesatuan fonem. Satuan fonem berupa
yang rumit dan berskala, hal tersebut suku kata dan kata. Kata
diperkuat dengan isi dari sebuah puisi bergabung menjadi kelompok
yang menyangkut beberapa hal termasuk kata, kalimat, alinea, bait, bab,
rima, bait, baris, serta kebutuhan eksplisit dan seluruh cerita. Itu semua
puisi yang tidak terlihat seperti lapis pada merupakan satuan arti.
puisi. Kajian lapis pada puisi tersebut
c. Lapis Objek
hendaknya harus dikaji melalui
pendekatan yang sudah konkret dan teruji Lapis ketiga adalah lapis objek
kebenarannya seperti sebuah pendekatan yang akan mengemukakan
strata Roman Ingarden. Selain seluruh objek dengan bentuk
membutuhkan sebuah pendekatan nomina, latar tempat, waktu, dan
struktural, puisi juga memiliki beberapa suasana, serta tokoh dalam
gaya penyampaian bahasa yang berbeda- sebuah puisi. Selain memuat
beda setiap puisinya, hal tersebut yang daftar objek pada puisi, lapis
disebut dengan adanya perbedaan gaya ketiga akan berbicara mengenai
bahasa atau majas pada sebuah puisi. dunia pengarang.
Semua pensyair memiliki kode etik
d. Lapis Dunia
menulis yang tidak dimiliki oleh pensyair
lainnya, maka dari itu, berikut adalah Lapis keempat merupakan
teori yang penulis gunakan sebagai lapis dunia yang berisi
pedoman penyusunan skripsi, yakni: pengungkapan makan implisit
yang terdapat pada sebuah puisi.
1. Strata Norma Roman
Pembaca akan menyadari adanya
Ingarden
beberapa hal yang tidak perlu
a. Lapis Bunyi dijelaskan oleh pensyair namun
makna dalam puisi tersebut sudah
Lapis pertama pada teori
tersampaikan dengan baik. Izwar
Roman Ingarden adalah analisis
(2016:8) menyatakan bahwa lapis
lapis bunyi. Dalam suatu sajak
dunia yang dipandang dari titik
terdapat satuan- satuan suara
pandang tertentu yang tak perlu
yang meliputi suara suku kata,
dinyatakan, tetapi terkandung
suara kata, suara frasa hingga
dalamnya (implied).
suara kalimat. Jadi lapis bunyi
dalam sajak itu ialah semua e. Lapis Metafisis
satuan bunyi berdasarkan suatu
Lapis ini berisi sebuah
konvensi bahasa tertentu, dalam
pandangan hidup atau filsafat
sajak ini adalah bahasa Indonesia.
yang terdapat dalam sebuah puisi,
dapat berupa sebuah pandangan 2. Metode Penelitian
hidup yang dapat ditangkap oleh Metode penelitian yang penulis gunakan
akal tidak sehat atau di luar adalah kualitatif dalam ranah studi
pemikiran rasional. Lapis ini pustaka. Metode tersebut diawali dengan
akan berisi mengenai mengumpulkan data primer dan sekunder
kenyataan-kenyataan yang tidak yang berkaitan dengan ketiga puisi
ingin terjadi pada sebuah puisi tersebut. Langka pertama yang penulis
namun harus terjadi dan lakukan adalah pengumpulan data. Data
diterima secara lapang dada oleh primer dari penelitian ini diperoleh
para pembacanya. melalui puisi-puisi yang telah disebutkan,
2. Semiotika Riffattere sedangkan data sekunder akan diperoleh
dari analisis pemaknaan puisi yang
“Semiotik (semiotika) adalah didapatkan melalui sumber-sumber
ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini terkait.
menganggap bahwa fenomena
sosial/masyarakat dan kebudayaan Berikut adalah langkah kerja atau metode
ini merupakan tanda-tanda. Semiotik penelitian yang digunakan oleh penulis:
itu mempelajari sistem-sistem, a. Memilih objek material penelitian
aturan-aturan, dan konvensi- b. Memilih objek formal penelitian
konvensi tambahan dan meneliti ciri- c. Menulis hipotesa
ciri (sifat-sifat) yang menyebabkan d. Membuat judul sementara
bermacam-macam cara (modus) e. Melakukan analipisis Strata Norma
wacana mempunyai makna” Roman Ingarden. Analisis struktural
Preminger,dkk melalui tiga buah puisi Joko Pinurbo yakni
(Pradopo,2018:119) “Baju Bulan”, “Kepada Uang”, dan
“Doa Seorang Pesolek” dengan sebuah
Skema 1.1 Konsep Semiotika
teori Roman Ingarden yang dilakukan
Dasar (Petanda dan Penanda)
dengan mencari lapis-lapis strata norma
puisi dari lapis pertama (lapis bunyi)
hingga lapis kelima (lapis metafisika).
Dengan adanya analisis tersebut dapat
menghasilkan sebuah bunyi puisi,
makna puisi, kumpulan objek dalam
puisi, dan hal-hal yang tersirat dalam
Perkembangan ilmu semiotika sebuah puisi dengan analisis metafisika
terhitung cepat dan pesat dengan pada lapis empat dan lima.
diiringi dengan perkambangan sastra f. Analisis aspek religiusitas dengan
modern. Bambang Santoso melalui disiplin ilmu Semiotika pada ketiga
(Maghfirah,dkk:8) menjelaskan puisi pada penelitian yakni “Baju
bahwa Riffattere dalam bukunya yang Bulan”, “Kepada Uang” dan “Doa
berjudul Semiotics of Poetry Seorang Pesolek”.
menyebutkan bahwa dalam 3. Hasil Analisis Strata Norma Roman
menganalisis dan melakukan Ingarden
pemaknaan dalam sebuah puisi harus a. Strata Norma Roman Ingarden
berdasarkan dengan empat aspek. Puisi “Baju Bulan”
Aspek-aspek tersebut ialah: a. Baju Bulan
ketidaklangsungan ekspresi puisi, b.
pembacaan heuristik dan hermeneutik Bulan, aku mau lebaran. Aku ingin baju
(retroaktif), [Link], model, dan baru,
varian, dan [Link]
tapi tak punya uang. Ibuku entah di Bulan” adalah sebagai berikut:
mana sekarang, nomina (kata benda): bulan, lebaran,
sedangkan ayahku hanya bisa baju baru, uang, ayah, baju, baju
kubayangkan. buatan, langit, rumah, dan atap.
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu Pelaku atau tokoh: ayah, aku, ibu,
barang semalam? dan gadis kecil. Latar tempat: langit,
Bulan terharu: kok masih ada yang persimpangan jalan, dan atap. Latar
membutuhkan bajunya yang kuno di waktu: malam hari
antara begitu banyak warna-warni 4) Lapis Dunia
baju buatan. Dalam puisi “Baju Bulan”
Bulan mencopot bajunya yang pembaca akan diajarkan untuk
keperakan, mengenakannya pada mensyukuri sebuah hidup, terutama
gadis kecil yang sering menangis di sebuah nikmat yang sudah Tuhan beri.
persimpangan jalan. Fokus utama puisi ini berada pada
Bulan rela telanjang di langit, atap aspek sandang, yakni mengenai
paling rindang pakaian. Secara tidak konsumtif,
bagi yang tak berumah dan tak bisa manusia memiliki hak untuk memilih
pulang. apa yang harus mereka pakai dan
1) Lapis Bunyi pakaian apa yang harus mereka
kenakan setiap harinya. Hal tersebut
/a/: 91 /b/: 24 /ny/: 2 /h/: 6
Dengan demikian, asonansi
yang dimiliki oleh puisi “Baju Bulan” /i/: 23 /l/: 14 /ng/: 14 /t/: 10
jatuh pada bunyi fonem /a/ dengan /u/: 29 /m/: 13 /s/: 3
jumlah 91, sementara bentuk /e/: 20 /n/: 28 y/: 2
aliterasinya didapatkan pada bunyi
/o/: 2 /k/: 17 /r/: 14
fonem /n/ sebanyak 28. Maka dari itu,
bunyi dari puisi “Baju Bulan” adalah
eufoni2. tanpa disadarkan pun sudah tertuang
2) Lapis Arti jelas pada kerangka berpikir manusia,
Secara garis besar puisi “Baju namun fokus masalah pada puisi
Bulan” akan bercerita mengenai “Baju Bulan” adalah ketika ada salah
keadaan pada malam sebelum Hari satu umat Tuhan yang tidak dapat
Raya Lebaran. Pembaca akan menggapai dan memenuhi kebutuhan
digiring perasaannya pada sebuah sandangnya.
tema mayor yang berbicara 5) Lapis Metafisis
mengenai kemiskinan dan Penulis mendapatkan dua bentuk
kesenjangan sosial antara Si Kaya kejadian tragis yakni rasa haru
dan Si Miskin dalam menyabut seorang gadis kecil yang tidak dapat
sebuah hari penuh kemenangan merasakan menggunakan baju baru
tersebut. Sesuai dengan sejarahnya, pada saat lebaran. Tidak semua umat
Hari Raya Lebaran merupakan hari Islam menjadikan sebuah baju baru
yang sangat ditunggu-tunggu oleh sebagai indikator terpenting dalam
umat Muslim di setiap tahunnya. sebuah hari raya namun hal tersebut
3) Lapis Objek sudah menjadi tabiat dalam hari raya
Berdasrkan hasil penelitian meskipun sebenarnya mereka tidak
penulis, hasil dari pelbagai objek tahu pelopor yang mendahului tabiat
yang terdapat pada puisi “Baju tersebut. Kejadian kedua adalah
2
Bunyi puisi dengan mayoritas bunyi vokal yang
teduh dan damai.
adanya rasa ingin kumpul dengan bahwa kehidupannya nanti setelah
keluarga dan adanya rasa tragis yang masuk pada masa tua, ia tetap akan
dialami oleh sebagian profesi yang senang dan merasa cukup akan
tidak dapat merasakan lebaran pada kebutuhan yang sudah ia pikirkan ke
umumnya. depannya. Puisi “Kepada Uang”
b. Strata Norma Roman Ingarden bagi tokoh aku adalah sebuah angan
Puisi “Kepada Uang” dan perwujudan sebelum ia pergi
Kepada Uang meninggalkan dunia yang sudah
Uang, berilah aku rumah yang mendewasakan dirinya.
murah saja, 3) Lapis Objek
yang cukup nyaman buat berteduh Pada lapis ketiga ini penulis akan
senja-senjaku, yang jendelanya menyediakan data mengenai objek,
hijau menganga seperti jendela subjek, dan latar yang digunakan
mataku. oleh pensyair (Jokpin) dalam
Sabar ya, aku harus menabung menulis puisi dengan tajuk “Kepada
[Link] laparmu, Uang”. Berikut objek-objek yang
menabung mimpimu. berada pada puisi “Kepada Uang”,
Mungkin juga harus menguras yakni: nomina (kata benda): uang,
cadangan sakitmu. rumah, senja, jendela, mimpi,
ranjang, kaki dan mata. Selanjutnya
Uang, berilah aku ranjang yang adalah pelaku atau tokoh: Aku
lugu saja, (suami) dan kamu (istri). Sementara
yang cukup hangat buat merawat untuk uraian latar, latar tempat:
encok-encokku, yang kakinya sebuah rumah, dan latar waktu: masa
lentur dan liat seperti kaki masa kecil tokoh aku dan masa tua tokoh
kecilku. aku.
1) Lapis Bunyi 4) Lapis Dunia
Subjek utama pada puisi tersebut
/a/: 62 /ng/: 18 /k/: 17 /c/: 6 /d/: 3 adalah seorang dengan predikat
/i/: 13 /b/: 9 /m/: 17 /p/: 6 /g/: 2 lanjut usia yang memiliki sebuah
ketakutan untuk menghadapi sebuah
/u/: 34 /r/: 13 /y/: 7 /ny/: 3 /w/: 1
kehidupan.
/e/: 24 /l/: 10 /s/: 11 /n/: 15 Secara tidak langsung mereka
sudah tidak memikirkan harta serta
/o/: 2 /h/: 9 /j/: 9 /t/: 11
segala hal yang berbau kemewahan
Berdasarkan hasil dari yang akan menunjang taraf
penelitian penulis, uraian bunyi kebahagiaan seseorang seperti saat
keseluruhan pada puisi “Kepada ia muda saat itu, yang ia inginkan
Uang” memiliki asonansi akhir hanya sebuah kehidupan yang
dengan jumlah 62 pada bunyi fonem nyaman dan sederhana. Mereka
/a/ dan aliterasi akhir dengan jumlah lebih cenderung fokus pada tujuan
18 pada bunyi fonem /ng/, dengan pada akhir kehidupan yakni
demikian bunyi puisi “Kepada Uang” menikmati masa tua tanpa
adalah memiliki bunyi puisi eufoni memikirkan suatu hal apapun. Pada
sebab didominasi oleh bunyi vokal beberapa bait puisi “Kepada Uang”
pada setiap baitnya. ia acap kali memberikan perantara
2) Lapis Arti akan ia dan Tuhan dengan
Puisi ini diyakini ditulis oleh memberikan sebuah monolog
tokoh aku saat ia masih kecil dan ia permintaan kepada uang untuk
ingin menunjang dan memastikan mengabulkan segala permintaannya.
Namun sesungguhnya ia hanya Sebelum Kausenyapkan warna.
ingin hidup tenang saat Sebelum Kauoleskan lipstik terbaik
menghadapi transformasi lanjut ke bibirku yang mati kata.
usia. 1) Lapis Bunyi
5) Lapis Metafisis
/a/: 82 /ng/: 12 /k/: 34 /c/: 4 /d/: 8
Pembaca tidak akan menyadari
bahwa subjek pada puisi tersebut /i/: 25 /b/: 17 /m/: 23 /p/: 7 /g/: 3

saat masa mudanya adalah seorang /u/: 31 /r/: 20 /y/: 9 /ny/: 3 /w/: 2
pekerja keras yang lupa bagaimana /e/: 31 /l/: 17 /s/: 38 /n/: 21
cara mereka untuk memberikan /o/: 7 /h/: 8 /j/: 3 /t/: 23
apresiasi bagi dirinya sendiri
ataupun membahagiakan diri
sendiri, ia lebih cenderung berkutat Dengan penjabaran data
dan fokus pada pekerjaannya. Hal tersebut wujud asonansi dan aliterasi
tersebut yang nantinya akan di atas, puisi “Doa Seorang Pesolek”
membuat pundi-pundi memiliki bunyi eufoni. Hal tersebut
tabungannya banyak, namun yang disebabkan karena secara mayoritas
ia rasakan hanyalah sebuah lelah, puisi ini didominasi dengan
hal tersebut ditunjukkan pada penggunaan huruf vokal dengan
potongan bait “Sabar ya, aku harus asonansi fonem /a/ dengan jumlah 82
menabung dulu. Menabung yang mana mengalahkan jumlah
laparmu, menabung mimpimu. penggunaan huruf konsonan
Mungkin juga harus menguras dominan yang dimenangkan oleh
cadangan sakitmu.”. fonem /s/ dengan jumlah 38.
2) Lapis Arti
c. Strata Norma Roman Ingarden Secara garis besar puisi ini berisi
Puisi “Doa Seorang Pesolek” mengenai ajakan untuk mensyukuri
Doa Seorang Pesolek nikmat yang sudah diberi oleh
Tuhan yang cantik, Tuhan, terutama nikmat akan fisik
temani aku yang sedang menyepi yang segalanya akan sempurna di
di rimba kosmetik. mata Tuhan. Namun melalui sifat
Nyalakan lanskap manusia yang tidak pernah puas
pada alisku yang gelap. menjadikan puisi ini tercipta. Selain
Ceburkan bulan mengungkapkan rasa kurang
ke lubuk mataku yang dalam. bersyukurnya manusia, terdapat
Taburkan hitam beberapa bentuk pengandaian dari
pada rambutku yang suram. umat pada Tuhannya. Mereka selalu
Hangatkan merah menginginkan keadaan serta bentuk
pada bibirku yang resah. fisik yang lebih dari bentuk fisik
manusia pada umumnya, seperti
Semoga kecantikanku tak lekas rambut berwarna hitam, alis dengan
usai pola rambut yang berbeda-beda
dan cepat luntur seperti pupur. struktur, serta warna bibir yang
Semoga masih bisa kunikmati selalu ingin merona menjadi pokok
hasrat pembahasan dari isi puisi “Doa
yang merambat pelan Seorang Pesolek”.
menghangatkanku 3) Lapis Objek
sebelum jari-jari waktu Pada lapis ketiga ini penulis akan
yang lembut dan nakal menyediakan data mengenai objek,
merobek-robek bajuku. subjek, dan latar yang digunakan
oleh pensyair (Jokpin) dalam dan adanya pembenaran dalam
menulis puisi dengan tajuk “Doa sebuah kata-kata mutiara atau yang
Seorang Pesolek”. Berikut objek- sering disebut dengan quote dalam
objek yang berada pada puisi “Doa bahasa Inggris yakni “Beauty is
Seorang Pesolek”, yakni: nomina pain” yang artinya adalah cantik itu
(kata benda): rimba, kosmetik, luka. Subjek dalam puisi ini berani
lansekap, alis, bulan, mata, rambut, untuk merubah bentuk fisik yang
bibir pupur (bedak), jari-jari, sudah Tuhan beri dengan bentuk
waktu, baju, warna, lipstick, dan sebaik-baiknya menjadi bentuk yang
kata. Pelaku atau tokoh: Tuhan dan ia inginkan. Kedua, kurangnya
aku. Sementara untuk latar yakni: kedekatan Tuhan dengan umat-Nya
latar tempat berada pada sebuah sehingga mereka tidak menyadari
rimba sementara latar waktu terjadi bahwa Tuhanlah yang memberikan
pada malam hari. mereka semua nikmat baik dalam
4) Lapis Dunia bentuk fisik maupun dalam bentuk
Doa Seorang Pesolek” adalah nonfisik.
sebuah isyarat dan pengandaian
akan nikmat Tuhan yang tidak 4. Hasil Analisis Semiotika Riffaterre
pernah disadari oleh manusia. a. Hasil Analisis Semiotika
Setiap manusia pasti memiliki satu Riffaterre Puisi “Baju Bulan”
sifat mutlak yang tidak dapat 1) Ketidaklangsungan Ekspresi
diubah meskipun mereka sudah a. Penggantian arti, sajak “Baju
mengetahui kehadiran dari sifat Bulan” didapatkan pada
tersebut yakni tidak akan pernah beberapa gaya bahasa yang
puas. Melalui puisi ini, Jokpin terdapat di dalamnya. Gaya
melakukan sebuah pengandaian bahasa yang terdapat pada
antara Tuhan dan umat-Nya puisi tersebut adalah gaya
mengenai nikmat rasa syukur. bahasa personifikasi,
Ketika puisi ini dibaca dalam satu metafora, dan hiperbola.
kali, pembaca belum mengetahui b. Penyimpangan arti, dalam
maksud dan makna dari puisi puisi “Baju Bulan” karya
tersebut. Begitu pula jika hanya Joko Pinurbo tidak
bagian judul saja yang dibaca. Hal ditemukan adanya
pertama yang terlintas adalah penyimpangan arti. Diksi
sebuah puisi yang menggambarkan dan gaya bahasa yang
seorang wanita nakal entah pelacur digunakan oleh sesuai
atau PSK (Pekerja Seks Komersial) dengan isi puisi dan
yang menjadikan bahan tata rias interpretasi makna puisi
sebagai unsur pokok kepada pembaca.
kehidupannya, tetapi sudah penulis c. Penciptaan arti, pada sajak
tekankan pada lapis arti bahwa “Baju Bulan” hanya sebatas
puisi ini tidak memiliki gender dan rima dan enjambemen . Hal
bebas untuk siapa saja. tersebut didukung dengan
5) Lapis Metafisis pilihan diksi Jokpin yang
Jika puisi ini dibaca secara tergabung sehingga dapat
sepintas, pembaca tidak akan menjadi rima yang indah.
menemukan sebuah kata misterius Tidak ada tipografi khusus
ataupun kata yang menjurus pada pada sajak “Baju Bulan”
hal tragis namun puisi ini sarat sebab Jokpin menerapkan
akan sebuah bentuk rasa syukur sajak a-b-a-b di setiap
barisnya. Pada setiap saat malam hari sebelum hari raya
barisnya tidak ditemukan lebaran namun menurut ramalan
bentuk tipografi yang astronomi, pada saat bulan syawal
menyimpang ataupun ada dua waktu di mana bulan tidak
yang berbeda dengan akan muncul atau biasa disebut
baris-baris yang berkaitan dengan bulan mati. Bulan mati
dengan bunyi puisi. tersebut terjadi pada awal puasa dan
2) Pembacaan Heuristik hari terakhir puasa. Perlambangan
Jika dibaca berdasarkan bulan di atas kuburan pada sajak
dengan pembacaan heuristik, “Malam Lebaran” memiliki arti
peristiwa yang terjadi pada puisi ini bahwa bulan pada malam sebelum
adalah keadaan malam saat bulan hari raya lebaran adalah bulan mati.
Ramadan berlangsung. Sesesorang Kata “kuburan” dimaknai dengan
berbicara kepada bulan perlambangan mati.
mengatakan bahwa sebentar lagi
akan lebaran. Ia menginginkan baju
baru namun tidak punya uang
sepeser pun. Selain tidak punya
uang, ia juga kehilangan sosok
ayah dan ibu yang selama ini
senantiasa bersamanya. Jejak
kedua orang tuanya tidak diketahui 4) Matriks dan Model
sama sekali dan ia hanya bisa Untuk membuka makna dalam
membayangkan sosoknya. Hingga sebuah puisi kepada para pembaca
akhirnya ia meminta kepada bulan dibutuhkan sebuah kata kunci.
untuk meminjamkan bajunya Sebuah sajak akan mudah dipahami
barang semalam. Dengan rasa haru dan tepat sasaran ketika sudah
yang tak tertahankan, bulan diketahui model dan matriks di
berkata, “Kok masih ada yang dalamnya. Matriks bersifat hipotesis
membutuhkan bajunya yang kuno dan di dalam struktur teks hanya
di antara begitu banyaak warna- terlihat sebagai aktualisasi kata-kata.
warni baju buatan”. Bulan akhirnya Matriks bisa saja berupa sebuah kata
luluh dan mencopot bajunya yang dan dalam hal ini tidak pernah
keperakan untuk mengenakannya muncul di dalam teks
kepada gadis kecil yang sering (Maghfirah,dkk:11). Matriks yang
menangis di persimpangan jalan. tersedia pada puisi “Baju Bulan”
Bulan rela telanjang di langit bersifat lurus dan sistematis
karena bajunya telah dipinjam oleh sehingga mudah dipahami para
gadis itu. Pada atap yang paling pembaca. Karena sajak “Baju
rindang bagi yang tak berumah dan Bulan” di atas hanya berisi 11 baris,
tak bisa pulang model puisi itu adalah baris
3) Pembacaan Hermeneutik pertamanya, yaitu /Bulan, aku mau
Isi cerita sajak “Baju Bulan” lebaran. Aku ingin baju baru,/.
memiliki keterkaitan dengan salah b. Hasil Analisis Semiotika
satu puisi milik Sitor Situmorang. Riffaterre Puisi “Kepada Uang”
Puisi tersebut berjudul “Malam 1) Ketidaklangsungan Ekspresi
Lebaran” yang hanya berbunyi a. Penggantian arti, dalam
bulan di atas kuburan. Selaras sajak “Kepada Uang”
dengan puisi tersebut seyogianya didapatkan pada beberapa
sajak “Baju Bulan” bercerita pada gaya bahasa yang terdapat
di dalamnya. Gaya bahasa Jokpin selaku penulis tidak
yang terdapat pada puisi menggunakan kriteria
tersebut adalah gaya khusus untuk menyusun bait
bahasa litotes, metafora, per bait sajak tersebut.
hiperbola, personifikasi, 2) Pembacaan Heuristik
dan simile. Jika dibaca berdasarkan dengan
b. Penyimpangan arti, dalam pembacaan heuristik, peristiwa pada
puisi “Kepada Uang” puisi tersebut terjadi pada seorang
karya Joko Pinurbo tidak lansia yang baru saja akan memasuki
ditemukan adanya masa senjanya. Seseorang berkata
penyimpangan arti. Diksi kepada uang, ia ingin diberi sebuah
dan gaya bahasa yang rumah dengan harga yang murah.
digunakan oleh sesuai Selain murah, ia ingin rumah
dengan isi puisi dan tersebut cukup nyaman untuk
interpretasi makna puisi berteduh dari waktu-waktu senjanya.
kepada pembaca. Lansia tersebut mengatakan bahwa
c. Penciptaan arti, pada sajak jendelanya harus hijau menganga
“Kepada Uang” hanya seperti jendela matanya yang lebar.
ditemukan pada bagian Lansia tersebut menggerutu dan
tipografi dan enjambemen. mengingatkan dirinya sendiri untuk
Sajak tersebut terdiri dari bersabar sebab semua ucapan di atas
tiga bait. Setiap bait dari baru sebuah angan. Ia harus
puisi tersebut memiliki menabung dulu, menabung lapar,
baris yang tidak merata. menabung mimpi dan tentu ia harus
Pada bait pertama dan menguras segala cadangan sakit
ketiga terdiri dari 4 baris yang dimilikinya. Ia kembali
sementara pada bait kedua berbicara kepada uang, katanya
hanya berjumlah 3 baris. “Uang, berilah aku ranjang yang
Tipografi untuk rima sajak lugu saja”. Setelah meminja sebuah
“Kepada Uang” tidak rumah, ia kembali meminta isi dari
diperhatikan secara penuh rumah tersebut. Lansia tersebut
oleh Jokpin. Ia menerapkan menginginkan sebuah ranjang yang
rima yang berbeda di setiap lugu. Ranjang tersebut harus hangat
baitnya. Pada bait pertama sebab nantinya akan bisa merawat
bunyi akhir dari bait encok-encoknya yang makin hari
tersebut adalah a-h-a-u makin terasa. Satu hal yang
dengan demikian Jokpin terlewatkan bahwa ranjang yang ia
menggunakan pola sajak a- minta kakinya juga harus lentur dan
b-a-b. Hal tersebut juga liat seperti kaki pada masa kecilnya.
dilakukan pada bait ketiga 3) Pembacaan Hermeneutik
sajak “Baju Bulan” yang Analisis hipogram aktual di atas
menggunakan pola sajak a- akan menghasilkan hipogram
b-a-b dengan bunyi rima potensial. Penjelasan mengenai
akhir a-t-a-u. Berbeda hipogram potensial tersebut akan
dengan bait 1 dan 3, pada berkaitan dengan konteks sosial dan
bait 2 Jokpin menggunakan budaya yang terdapat pada sajak
rima akhir yang sama yakni “Kepada Uang”. Selain memberikan
bunyi u-u-u. Dengan sorotan akan gambaran seorang
demikian secara tipografi calon pensiunan untuk menjalani
pada sajak “Kepada Uang”, masa senjanya. Jokpin juga
menyelipkan sisi eksplisit sajak menerangkan interaksi seseorang
“Kepada Uang” yang memiliki dengan sebuah uang.
relevansi dengan salah satu pepatah c. Hasil Analisis Semiotika
Arab dalam kitab Az-Zuhd karya Riffaterre Puisi “Doa Seorang
Imam Ahmad yang berbunyi, Pesolek”
“Semua orang di dunia ini adalah 1) Ketidaklangsungan Ekspresi
tamu, sedangkan harta seluruhnya a. Penggantian arti dalam
adalah titipan. Semua tamu pasti sajak “Doa Seorang
pergi, sedangkan barang titipan itu Pesolek” didapatkan pada
harus dikembalikan kepada beberapa gaya bahasa yang
pemilik” terdapat di dalamnya. Gaya
Pepatah tersebut menjadi bahasa yang terdapat pada
sebuah pengantar yang akan puisi tersebut adalah gaya
menghasilkan analisis bahwa bahasa metafora, hiperbola,
sesungguhnya sajak “Kepada personifikasi, dan antitesis.
Uang” mengandung beberapa satir b. Dalam puisi “Doa Seorang
mengenai sebuah harta. Berikut Pesolek” karya Joko Pinurbo
adalah skema dari analisis tidak ditemukan adanya
transformasi puisi. penyimpangan arti. Diksi
dan gaya bahasa yang
digunakan oleh sesuai
dengan isi puisi dan
interpretasi makna puisi
kepada pembaca.
c. Pencipaan arti pada sajak
“Kepada Uang” hanya
ditemukan pada bagian
tipografi dan enjambemen.
Sajak tersebut terdiri dari
4) Matriks dan Model sepuluh bait. Setiap bait
Matriks yang tersedia pada dari puisi tersebut memiliki
puisi “Kepada Uang” bersifat baris yang tidak merata.
lurus dan sistematis sehingga Secara tipografi sajak “Doa
mudah dipahami para pembaca. Seorang Pesolek” tidak
Seperti puisi sebelumnya yakni memiliki bunyi rima
“Baju Bulan”, sajak “Kepada khusus. Sebagai contoh
Uang” memiliki kata kunci pada pada bait 1 berbunyi /k-i-k/,
baris pertamanya yaitu /Uang, bait 2 berbunyi /p-p/, bait 3
berilah aku rumah yang murah berbunyi /n-m/, dan bait 4
saja,/. Kalimat inti tersebut berbunyi /m-m/.
disematkan sebagai model sebab Berdasarkan empat buat
kata “uang” menjadi gerbang contoh tersebut dapat
utama jalannya cerita pada sajak diyakini bahwa pada setiap
tersebut. Tokoh dalam puisi rima sajak “Doa Seorang
tersebut berbicara kepada uang Pesolek” tidak memiliki
untuk diberikan sebuah rumah pola yang sama.
dengan jendela yang lebar dan Ketidaksamaan pola
kaki ranjang yang kuat. Selaras tersebut kiranya tidak
dengan judul puisi tersebut, sajak menjadi masalah bagi
“Kepada Uang” akan Jokpin selaku penulis sebab
yang ia fokuskan adalah sebuah wanita yang menyukai
tahap-tahap alur yang kegiatan bersolek dan memberikan
dimiliki pada sajak sebuah narasi akan kegunaan dan
tersebut. peran dari alat rias yang dimilikinya
2) Pembacaan Heuristik sehingga jalinan cerita dapat
Jika dibaca berdasarkan dengan berkembang dengan sendirinya.
pembacaan heuristik, sajak ini Benda rias yang disebutkan oleh Oka
dimulai berdasarkan kisah seorang
perempuan yang suka bersolek. Ia
mulai bergumam, “Tuhan yang
cantik, temani aku yang sedang
menyepi di rimba kosmetik”.
Perempuan itu sudah
berkecimpung di dunia tata rias. Ia
meminta untuk dinyalakan lanskap Rusmini adalah lipstik, bedak, dan
pada alisku yang gelap dan pensil alis. Sementara itu benda yang
ceburkan bulan ke lubuk mataku disebutkan Jokpin dalam sajaknya
yang dalam. Setelah alis dan mata, adalah lipstik, bedak, kontak lensa,
perempuan itu ingin taburkan pensil alis, dan pewarna rambut.
hitam pada rambutku yang suram Tidak hanya memiliki keterkaitan
dan tidak lupa untuk hangatkan dengan puisi milik Oka Rusmini,
merah pada bibirku yang resah. sajak tersebut juga memiliki
Semoga kecantikanku tak lekas kesinambungan dengan novel Cantik
usai dan cepat luntur seperti sebuah Itu Luka karya Eka Kurniawan.
bedak. Semoga masih bisa Novel tersebut menceritakan
kunikmati hasrat yang merambat mengenai seorang pesolek yang
pelan menghangatkanku. Sebelum hidup di jaman kolonial Belanda
sebuah penyesalan datang yang yang merupakan seorang pekerja
diibaratkan dengan jari-jari waktu seks komersial (PSK). Judul buku
yang lembut dan nakal akan tersebut selaras dengan salah satu tag
merobek-robek bajuku. Sebelum line yang bersangkutan dalam puisi
Kau senyapkan warna dan sebelum “Doa Seorang Pesolek” yakni beauty
Kau oleskan lipstik terbaik ke is pain.
bibirku yang mati kata.
3) Pembacaan Hermeneutik
Berdasarkan isi cerita yang 4) Matriks dan Model
dimiliki, sajak “Doa Seorang Matriks yang tersedia pada puisi
Pesolek” memiliki sebuah “Doa Seorang Pesolek” bersifat
kesamaan bentuk cerita dengan dua lurus dan sistematis sehingga mudah
buah karya sastra. Hal tersebut dipahami para pembaca. Seperti
dapat dijadikan sebuah bentuk puisi sebelumnya yakni “Baju
transformasi. Karya sastra tersebut Bulan” dan “Kepada Uang”, sajak
adalah sebuah puisi milik Oka “Doa Seorang Pesolek” memiliki
Rusmini yang berjudul “Di Depan kata kunci pada baris pertamanya
Meja Rias” yang ditulis pada tahun yaitu /Tuhan yang cantik, temani aku
1997 dan sebuah novel milik Eka yang sedang menyepi di rimba
Kurniawan yang berjudul Cantik kosmetik./. Kalimat inti tersebut
Itu Luka yang ditulis pada tahun disematkan sebagai model sebab
2002. Sajak yang dituliskan oleh kata “kosmetik” menjadi gerbang
Oka Rusmini bercerita mengenai
utama jalannya cerita pada sajak Melalui analisis semiotika dapat
tersebut. Tokoh dalam puisi disimpulkan bahwa ketiga sajak tersebut
tersebut berbicara kepada memiliki gaya, diksi, dan tanda yang
beberapa alat kosmetik untuk berbeda dengan pensyair lain. Meskipun
memperbaiki bentuk fisiknya penggunaan bahasanya yang sederhana,
menjadi lebih menawan. Subjek mudah dipahami, dan tidak banyak
dalam puisi tersebut tidak merasa menggunakan kata kias sajak “Baju Bulan”,
puas dan ingin mengubah bentuk “Kepada Uang” dan “Doa Seorang Pesolek”
wajahnya. Selaras dengan judul memiliki pesona yang kuat dalam penyajian
puisi tersebut, sajak “Doa Seorang gaya bahasa personifikasi. Bentuk
Pesolek” akan menerangkan penerapan gaya bahasa tersebut
interaksi seseorang dengan sebuah disampaikan dengan baik dan tepat sasaran
alat kosmetik yang merupakan sehingga ketiga sajak tersebut sangat cocok
pengandaian Tuhan. Dari model untuk dijadikan sebagai objek penelitian
tersebut terbentuk pula bait semiotika.
berikutnya, yakni alis, mata,
rambut, bibir, bedak, waktu, dan 6. Daftar Pustaka
baju. Fatmawaty, Lynda Susana Widya Ayu. 2009.
5. Simpulan “Sosok Wanita Dalam Puisi “Portrait
Aspek religiusitas dalam sajak “Baju D’une Femme” Karya Ezra Pound (Sebuah
Bulan”, “Kepada Uang” dan “Doa Seorang Kajian Melalui Pendekatan Struktural
Pesolek” karya Joko Pinurbo memberikan Dan Semiotik)”. Tesis. Semarang: Magister
gambaran seorang manusia yang Ilmu Susastra. Program Pascasarjana.
mengibaratkan sebuah benda mati sebagai Universitas Diponegoro Semarang.
Tuhan yang dapat mengabulkan sebuah Maghfirah,dkk. Tidak Ada Tahun. “Analisis
permintaan (berupa barang). Simiotika Rifaterre Dalam Buku “Puisi
Perlambangan makna religiusitas dalam Baru” Karya Sultan Takdir
sajak dihadirkan melalui tanda-tanda yang Alisjahbana”. Jurnal. Makassar:
disampaikan secara lugas dan tepat Program Studi Pendidikan Bahasa dan
sasaran. Di samping itu, pemaknaan sajak Sastra Indonesia. Fakultas Keguruan
yang mengandung unsur religiusitas akan dan Ilmu Pendidikan. Universitas
memicu munculnya sebuah satir dan Muhammadiyah Makassar.
perenungan tersendiri. Meski ketiga puisi Pinurbo, Joko, 2020. Selamat Menunaikan
tersebut menyampaikan cerita mengenai Ibadah Puisi. Jakarta: PT. Gramedia
permohonan kepada sebuah benda mati, Pustaka Utama.
gaya bahasa personifikasi dijelaskan Pradopo, Rachmat Djoko. 2018. Pengkajian
secara rinci sebagai penegasan makna. Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada
Melalui analisis strata norma Roman University Press.
Ingarden pada ketiga sajak tersebut, maka Pribadi, Budi Setia,dkk. 2019. “Analisis
dapat diperoleh makna mendalam puisi Semiotika Pada Puisi “Barangkali
yang dihasilkan melalui analisis lima lapis Karena Bulan” Karya Ws. Rendra”.
yaitu lapis bunyi, arti, objek, dunia, dan Jurnal. Siliwangi: Pendidikan Bahasa
lapis metafisis yang menguraikan kohesi dan Sastra Indonesia. IKIP Siliwangi.
antara subjek dengan pensyair. Ramasyahri, Jetri. 2017. ”Analisis Semiotika
Berdasarkan kohesi antarpuisi tersebut Dalam Kumpulan Sajak Ketika Jarum
sajak “Baju Bulan”, “Kepada Uang” dan Jam Leleh Dan Lelah Berdetak Karya
“Doa Seorang Pesolek” memiliki benang Dimas Arika Mihardja”. Skripsi. Jambi:
merah saat Jokpin mendayagunakan benda Program Studi Pendidikan Bahasa dan
mati seolah-olah hidup dan bergerak Sastra Indonesia.
seperti manusia. Ratna, Agnes Kartika. 2015. “Analisis
Struktural-Semiotik Puisi La Tzigane
Karya Guillaume Apollinaire”.
Skripsi. Yogyakarta: Jurusan
Pendidikan Bahasa Prancis. Fakultas
Bahasa Dan Seni. Universitas Negeri
Yogyakarta.
Wahyana, Mukhamad Dani. 2020. “Metafor
Maut Dalam Puisi “Kurindukan”,
“Kehendak-Mu”, dan “Bunga”
Karya Soedjarwo (Sebuah Kajian
Stilistika”. Skripsi. Semarang:
Program Studi Bahasa dan Sastra
Indonesia. Universitas Diponegoro.

Anda mungkin juga menyukai