ANALISIS TRANPARANSI PENGELOLAAN DANA APBDES DI DESA
RANTAU BINUANG KEC. KLUET SELATAN
PROPOSAL
Diajukan Oleh:
REZA KAMAL
NIM. 21
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ADMINISTRASI NEGARA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) AR-RANIRY
DARUSSALAM BANDA ACEH
TAHUN 2023 M/ 1444 H
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara yang terdiri dari banyak desa sebagai wilayah
pemerintahan terkecil suatu negara. Desa merupakan kelompok sosial yang
berhak berdiri sendiri untuk menentukan arah tindakannya sendiri. Desa
merupakan instansi sosial yang memiliki posisi sangat penting di masyarakat.
Desa merupakan suatu lembaga yang terbentuk dari berbagai macam tradisi, adat
istiadat, kebiasaan yang menjadi hukum yang telah menjadi pedoman dalam
bermasyarakat.
Dalam Permendagri Nomor 72 Tahun 2005 Tentang Desa, dikatakan
bahwa Desa adalah kesatuan masyarakat hukum dengan batas-batas wilayah yang
luasnya telah ditentukan dan memiliki kebebasan untuk mengurus dan mengelola
kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan denga nasal usul adat istiadat yang
diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan NKRI.1
Sedangkan dalam Permendagri Nomor 113 Tahun 2014, Tentang
Pengelolaan Keuangan Desa, dinyatakan bahwa Desa atau yang disebut dengan
nama lain, merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah
yang memiliki hak otonom untuk mengatur kepentingannya sendiri, dalam hal
pemerintahan.2 Melalui UU Nomor 6 Tahun 2014, Pemerintah desa telah
diberikan kebebasan yang lebih besar untuk mengelola keuangan desa yang terdiri
1
Permendagri Nomor 72 Tahun 2005
2
Permendagri Nomor 113 Tahun 2014
dari Perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan pengelolaan keuangan desa
dalam proses pembangunan desa. Dalam Permendagri Nomor 113 Tahun 2014
Tentang Pengeolaan Keuangan Desa, APBDes merupakan agenda keuangan
Pemerintah Desa setiap tahun. Agenda tersebut dikelola berdasarkan harapan dan
kebutuhan masyarakat dan bagian dari rencana pengelolaan program kerja desa. 3
Partisipasi merupakan bentuk kedaulatan masyarakat yang menjadikan
mereka sebagai awal dan target pembangunan. Dengan diterbitkannya UU Nomor
6 Tahun 2014 Tentang Desa, dimana Pemerintah Desa memiliki kebebasan yang
lebih besar untuk melakukan perencanaan, penganggaran dan pelaksanaan
keuangan desadalam hal pelaksanaan pembangunan desa. Hal ini tidak luput dari
prinsip pengelolaan keuangan desa, bahwasanyan keuangan desa dikelola
berdasarkan prinsip transparan, akuntabel dan partisipatif. Sehingga dapat
meminimalisir terjadinya kecurangan atau penyelewengan dalam pengelolaan
keuangan desa. 4
ADD yang dialokasikan langsung dari APBN dan APBD harus
diinformasikan secara transparan dan jujur atau terbuka kepada masyarakat. Hal
tersebut untuk menghindari terjadinya penyelewengan dana, kecurigaan publik,
dan agar pembangunan yang sedang dikerjakan di desa dapat berlangsung secara
kondusif. Dana Desa pada intinya dipergunakan untuk mensejahterakan
masyarakat, membangun infrastruktur yang dibutuhkan, meningkatkan
perekonomian warga dan pemberdayaan lainnya. Partisipasi dari masyarakat
merupakan inti dari pelaksanaan pembangunan sejak perencanaan hingga
3
Permendagri Nomor 113 Tahun 2014
4
UU Nomor 6 Tahun 2014
pertanggungjawaban. Masyarakat menjadi bagian langsung dari proses tersebut
pada lingkup tertentu. Peranan masyarakat diharapkan dapat memperkuat
kemungkinan masuknya agenda-agenda penting masyarakat berbasis pada data
yang dibangun secara kolektif.
Alokasi Dana Desa adalah anggaran keuangan yang diberikan pemerintah
kepada desa, yang mana sumbernya berasal dari Bagi Hasil Pajak Daerah serta
dari Dana Perimbangan Keuangan Pusat Dan Daerah yang diterima oleh
kabupaten. Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 37 tahun 2007
Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa di dalam Pasal 18 menyatakan
bahwa, “Alokasi Dana Desa berasal dari APBD Kabupaten / Kota yang bersumber
dari Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh
Pemerintah Kabupaten / Kota untuk desa paling sedikit 10 % (sepuluh persen).
(‘Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 37 tahun 2007 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Desa.5
Akuntabilitas adalah bentuk kewajiban penyedia penyelenggaraan
kegiatan publik untuk dapat menjelaskan dan menjawab segala hal menyangkut
langkah dari seluruh keputusan dan proses yang dilakukan, serta
pertanggungjawaban terhadap hasil kinerjanya.”. Akuntabilitas menjadi indikator
penting atas kemampuan pemerintahan dalam memperoleh kepercayaan
masyarakat dan menjadi salah satu parameter dari kuat lemahnya partisipasi
masyarakat. Manfaat Akuntabilitas bagi pemerintahan desa adalah untuk
meningkatkan kepercayaan masyarakat , pertanggung jawaban desa kepada
5
Purba, “Keuangan Daerah, Transparansi Publikdan Aktivitas Pengendalian Terhadap
Akuntabilitas Keuangan Pada Badan Keuangan Daerah” tahun 2018, Jurnal Akuntansi Bisnis dan
Publik, h. 99–111.
masyarakat seperti halnya dalam penyampaian realisasi Alokasi Dana Desa
diperlukan akuntabilitas untuk mengetahui tingkat pertangung jawaban desa
kepada masyarakat. Dimana untuk menghindari terjadinya penyelewengan seperti
korupsi. 6
Pelaksanaan Pemerintah yang baik juga diperlukan adanya unsur
Transparansi. Transparansi artinya dalam menjalankan pemerintahan, pemerintah
mengungapkan hal-hal yang sifatnya material secara berkala kepada pihak-pihak
yang memiliki kepentingan, dalam hal ini yaitu masyarakat luas sehingga prinsip
keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan
akses informasi seluas-luasnya tentang keuangan daerah. Dijelaskan pada Bab 2
Pasal 2 tentang asas pengelolaan keuangan daerah dalam (Permendagri No.113
Tahun 2014), Keuangan desa dikelola berdasarkan asas-asas transparan,
akuntabel, partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran. Dengan
adanya transparansi menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk
memperoleh informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi
tentang kebijakan, proses pembuatan, dan pelaksanaannya serta hasil-hasil yang
dicapai. 7
Transparansi adalah adanya kebijakan terbuka bagi pengawasan.
Sedangkan yang dimaksud dengan informasi adalah informasi mengenai setiap
aspek kebijakan pemerintah yang dapat dijangkau publik. Keterbukaan informasi
diharapkan akan menghasilkan persaingan politik yang sehat, toleran, dan
6
Subroto, “Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa ( Studi Kasus Pengelolaan Alokasi Dana
Desa Di Desa-Desa Dalam Wilayah Kecamatan Tlogomulyo Kabupaten Temanggung’, tahun
2009, h. 15.
7
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 113 Tahun 2014
kebijakan dibuat beradsarkan preferensi public. Transparansi sebagai prinsip yang
menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi
tentang penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi tentang kebijakan proses
pembuatan dan pelaksanaanya serta hasil-hasil yang dicapai. 8
Transparansi sebagai penyediaan informasi tentang pemerintahan bagi
publik dan dijaminnya kemudahan di dalam memperoleh informasi-informasi
yang akurat dan memadai”. Dari pengertian tersebut dijelaskan bahwa
transparansi tidak hanya sekedar menyediakan informasi tentang penyelenggaraan
pemerintahan, namun harus disertai dengan kemudahan bagi masyarakat untuk
memperoleh informasi tersebut. Sedangkan program pembangunan desa
merupakan program yang dibuat oleh pemerintah desa yang diperuntukan bagi
masyarakat desa guna menunjang pencapaian kesejahteraan sosial, tujuan
ekonomi sosial dan demografi. 9
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Rantau Binuang Kecamatan Kluet
Selatan, realisasi Alokasi Dana Desa Dari tahun 2020-2021 mengalami penurunan
dan salah satu penyebab turunnya alokasi dana desa berdasarkan wawancara yang
dilakukan dengan bendahara desa dapat diketahui informasi bahwa dalam
menyampaikan laporan realisasi alokasi dana desa mereka pernah melakukan
keterlambatan dalam penyetorannya dikarenakan mereka sulit menyusun laporan
realisasi Alokasi Dana Desa. Dimana seharusnya dalam (Permendagri No.113
8
Purba Debby Arimanondang dan dkk, “Analisis Transparansi dan Akuntabilitas
Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) di Desa Jembayan Kecamatan
Loa Kulu Kabupaten Kutai Kartanegara” Jurnal Ilmu Akuntansi Mulawarman (JIAM), Vol. 7 (3)
2022, h. 13-15.
9
Purba Debby Arimanondang dan dkk, “Analisis Transparansi dan Akuntabilitas…, h. 15.
Tahun 2014) penyampaian laporan realisasi alokasi dana desa tidak boleh lewat
dari bulan Juli tahun anggaran berjalan.
Berdasarkan fenomena yang ada dibuktikan dengan hasil wawancara yang
dilakukan dengan salah satu aparatur Desa Rantau Binuang ternyata belum
mengoptimalkan sistem transparansi seperti mereka tidak memaparkan kegiatan
pencatatan kas masuk dan kas keluar serta tidak ada papan informasi mengenai
kegiatan yang sedang dijalankan mengenai Alokasi Dana Desa. 10
Pengelolaan alokasi dana desa harus dilaksanakan dengan prinsip
transparan sebagai indikator akuntabilitas dalam pengelolaan alokasi dana desa
sesuai (Permendagri No.113 Tahun 2014) yaitu “Kegiatan Pencatatan Kas masuk
maupun keluar dapat diakses dengan mudah oleh seluruh masyarakat. Ketentuan
tersebut menunjukkan adanya komitmen pemerintah dalam memberikan dana
ADD untuk memberikan stimulasi kegiatan operasional dan pemerdayaan
masyarakat, semua tidak terlepas dari pedoman-pedoman yang menaungi alokasi
dana desa. 11
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan sebelumnya,
maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Tidak terdapatnya papan informasi tentang pengeluaran atau pemasukan
Alokasi Dana Desa dan kegiatan yang sedang dijalankan tentang alokasi
dana desa.
10
Wawancara dengan Aparatur Desa Rantau Binuang pada tanggal 4 Okotober 2023.
11
Hasil Observasi pada tanggal 4 Okotober 2023.
2. Terjadinya Keterlambatan pelaporan realisasi anggaran Alokai Dana Desa
Di Desa Rantau Binuang.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perencanaan dan pelaksanaan anggaran pemerintah Desa
Rantau Binuang Kecamatan Kluet Selatan?
2. Bagaimana Tranparansi Pengelolaan Alokasi Dana Desa Rantau Binuang
Kecamatan Kluet Selatan?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat diketahui tujuan penelitian
ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui perencanaan dan pelaksanaan anggaran pemerintah
Desa Rantau Binuang Kecamatan Kluet Selatan.
2. Untuk mengetahui tranparansi pengelolaan alokasi dana Desa Rantau
Binuang Kecamatan Kluet Selatan.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis, bermanfaat untuk menambah pengalaman serta
pembelajaran dan menambah wawasan serta gambaran penulis mengenai
akuntabilitas dan transparansi pengelolaan Alokasi Dana Desa.
2. Bagi Desa, bermanfaat untuk membagikan ulasan atas anggaran industri
yang cocok dengan Peraturan Wilayah yang terdapat.
3. Bagi peneliti selanjutnya, bermanfaat untuk membagikan ulasan atas
anggaran industri yang cocok dengan Peraturan Wilayah yang terdapat.
F. Defenisi Operasional
1. Tranparansi
Menurut Perpem No.24 Tahun 2005, menjelaskan bahwa transparan
adalah memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada
masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk
mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah
dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya
pada perundang-undangan. Transparansi merupakan pelaksanaan tugas dan
kegiatan yang bersifat terbuka bagi masyarakat, mulai dari proses kebijakan,
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian yang mudah diakses
oleh semua pihak yang membutuhkan informasi tersebut. 12
2. Dana Desa/Belanja Desa
Belanja Desa Menurut (Permendagri No.20 Tahun 2018) Belanja desa
meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa
dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali
oleh desa.13 Merujuk pada Pasal 74 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang
Desa. Disebutkan, bahwa belanja desa diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan
pembangunan yang disepakati dalam musyawarah desa dan sesuai dengan
prioritas pemerintah daerah kabupaten/kota, pemerintah daerah provinsi, dan
[Link] pembangunan yang tidak terbatas pada kebutuhan primer,
pelayanan dasar, lingkungan, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat desa
12
Peraturan Pemerintahan No.24 Tahun 2005.
13
Permendagri No.20 Tahun 2018
semata. Melainkan boleh sesuai kebutuhan desa yang telah disepakati dan
diputuskan dalam musyawarah desa bersama seluruh masyarakat.14
Belanja Desa sebagaimana diartikan untuk meliputi semiua pengeluaran
dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam satu tahunan anggaran
yang tidak diperoleh pembayarannya kembali oleh desa. Belanja desa
sebagaimana diartikan dipergunakan dalam rangka mendanai penyelenggaraan
kewenangan Desa. Klasifikasi Belanja Desa sebagaimana diartikan, terdiri atas
kelompok: 15
14
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014
15
Zulia Hanum, “Analisis Fungsi Anggaran Biaya Sebagai alat Pengawasan Pada Perum
Perumnas Regional 1 Medan”, Festival Riset Ilmiah Manajemen dan [Link] tahun
2019, h. 11.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Penelitian Terdahulu
No Nama Variabel Teori Metode Hasil Persamaan
Penulis Penelitian Penelitian, dan
Jurnal dan Kesimpulan perbedaan
Tahun dan Saran variable,
metode,
konsep yang
digunakan
penulis dan
peneliti
sebelumnya
1 Purba Analisis Teori tentang Kualitatif Hasil Adapun
Debby Transparansi Permendagri Deskriftif penelitian ini persamaan
Arimanonda dan Nomor 113 menunjukkan penelitian ini
Akuntabilitas Tahun 2014 dan bahwa adalah sama-
ng tahun
Pengelolaan Peraturan Bupati Pemerintah sama meneliti
2020 Anggaran Kutai Desa tentang
Pendapatan Kartanegara Jembayan tranparansi
dan Belanja Nomor 35 masih belum Pengelolaan
Desa Tahun 2015 terbuka Anggaran
merupakan kepada Pendapatan
pedoman yang masyarakat dan Belanja
digunakan oleh terkait Desa, metode
Pemerintah informasi
juga
Desa Jembayan keuangan desa
dalam atau menggunakan
mengelola belum metode
APBDes. transparan kualitatif
kepada sedangkan
masyarakat perbedaan nya
terkait yaitu Jurnal
pengelolaan
Purba ini ada
APBDes.
Akuntabilitas variable
pengelolaan tentang
APBDes oleh Akuntabilitas,
Pemerintah sedangkan
Desa peneliti tidak
Jembayan
sudah ada tentang
dijalankan akuntabilitas
dengan baik
sesui dengan
Permendagri
Nomor 113
Tahun 2014
Tentang
Pengelolaan
Keuangan
Desa
2 Desi Pengelolaan -Teori Kualitatif Dari hasil Adapun
Novianti alokasi dana pengelolaan penelitian ini persamaan
tahun 2022 desa dalam desa menunjukkan penelitian ini
adalah sama-
pembanguna bahwa dalam
-Teori alokasi sama meneliti
n desa di pengelolaan tentang
Desa Cimahi dana desa alokasi dana tranparansi
desa dalam Pengelolaan
pembangunan Anggaran
desa di Desa Pendapatan
Cimahi Secara dan Belanja
Keseluruhan Desa, metode
mulai dari juga
akuntabilitas menggunakan
dan metode
transparansi, kualitatif
sudah cukup sedangkan
baik, akan perbedaan nya
tetapi masih yaitu Jurnal
memiliki Desi ini ada
cukup banyak variable
kelemahan tentang
dan Pembangunan
kekurangan. Desa,
Hal tersebut sedangkan
dibuktikan peneliti tidak
dalam ada tentang
pengelolaan Pembangunan
alokasi dana Desa
desa,
pemerintah
telah
menerapkan
prinsip
akuntabilitas,
yaitu dengan
melibatkan
masyarakat
dalam
perencanaan
pengalokasian
dana desa
( musyawarah
desa ).
3 Ahmad Analisis -Teori tentang Kualitatif Hasil dari Adapun
Makhrus Tranparansi tranparansi, penelitian ini persamaan
Amanu Pengelolaan indicator menunjukkan penelitian
tahun 2020 Anggaran tranparansi bahwa dalam skripsi
Pendapatan transparansi ini yaitu
Dan Belanja -Teori tentang dalam sama-sama
Desa Pengelolaan pelaksanaan menggunakan
(APBDES) Anggaran pengelolaan teori tentang
Pendapatan Dan Anggaran tranparansi,
Belanja Desa Pendapatan indicator
dan Belanja tranparansi
Desa (APBD) dan teori
di desa tentang
Ngadimulyo Pengelolaan
Kecamatan Anggaran
Sukorejo Pendapatan
Kabupaten Dan Belanja
Pasuruan Desa, metode
sudah sesuai yang
dengan tata digunakan
kelola juga metode
pemerintahan penelitian
yang baik. kualitatif
Namun secara sedangkan
teknis masih perbedaan
terdapat dalam
kendala yaitu penelitian ini
keterlambatan yaitu lokasi
proses tempat
laporan. penelitian dan
Namun pengambilan
perbaikan data.
terus
dilakukan
agar terwujud
nya
pemerintah
yang bagus
(good
governance).
2.2 Pendapatan dan Belanja Desa
2.2.1 Pengertian Pendapatan
Pendapatan merupakan semua Penerimaan Rekening Kas Umum
Negara/Daerah yang menambah ekuitas dan lancar dalam periode tahunan
anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah dan tidak perlu dibayar
kembali oleh pemerintah. 16
Pendapatan adalah semua penerimaan uang melalui rekening desa yang
merupakan hak desa dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali
oleh desa. Sedangkan rekening desa sendiri adalah rekening tempat menyimpan
uang dan menampung seluruh penerimaan desa yang dapat digunakan untuk
membayar seluruh pengeluaran desa dalam satu rekening pada bank yang
ditetapkan. Ini artinya, jika merunut pengertian rekening desa, sekaligus
menjawab apa yang sering ditanyakan terkait boleh dan tidaknya desa mempunyai
16
Nurmala Eka, “Good Governance :Transparansi Dan Akuntabilitas Publik Melalui e-
[Link] UMSU” tahun 2017, h. 10-13.
rekening lebih dari satu. Sudah jelas, bahwa dalam (Permendagri No.20 Tahun
2018 Pasal 1 No 20) yang menjadi pedoman pengelolaan keuangan desa. Desa
hanya boleh memiliki satu rekening bank saja.17
Selanjutnya,menurut (Undang - Undang No.6 Tahun 2014 tepatnya pasal
72) dikatakan bahwa sumber pendapatan itu dibagi menjadi beberapa bagian.
1. Pendapatan asli desa.
2. Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
3. Bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah kabupaten/kota.
4. Alokasi dana desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang di
terima kabupaten/kota.
5. Bantuan keuangan dari APBD provinsi dan APBD kabupaten/kota.
6. Hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga dan lain-lain
pendapatan yang sah. 18
Pendapatan Desa meliputi seluruh penerimaan uang lewat rekening desa yang
merupakan hak desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak perlu dibayar
kembali oleh Desa. Pendapatan Desa yang dibagi atas kelompok:
1. Pendapatan Asli Desa (PAD)
a. Hasil usaha desa antara lain: hasil bumdes, tanah kas desa.
b. Hasil aset antara lain: tambatan perahu, pasar desa, tempat.
c. Pemandian umum, jaringan irigasi.
2. Transfer
Kelompok transfer sebagaimana diartikan sebagai jenis:
17
Permendagri No.20 Tahun 2018 Pasal 1 No 20.
18
Undang - Undang No.6 Tahun 2014 tepatnya pasal 72
a. Dana desa;
b. Bagian dari hasil pajak daerah wilayah kabupaten/kota dan retribusi daerah
c. Alokasi Dana Desa (ADD); Bantuan keuangan dari APBD Provinsi; dan
bantuan keuangan dari APBD Kebupaten/Kota.
Kelompok pendapatan lain-lain sebagaimana dimaksud terdiri atas jenis:
a. Hibah serta sumbanagn dari pihak ketiga yang tidak mengikat, dan lain-
lain pendapatan Desa yang sah.
2.2.2 Belanja Desa
Belanja Desa Menurut (Permendagri No.20 Tahun 2018) Belanja desa
meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa
dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali
oleh desa.19 Merujuk pada Pasal 74 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang
Desa. Disebutkan, bahwa belanja desa diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan
pembangunan yang disepakati dalam musyawarah desa dan sesuai dengan
prioritas pemerintah daerah kabupaten/kota, pemerintah daerah provinsi, dan
[Link] pembangunan yang tidak terbatas pada kebutuhan primer,
pelayanan dasar, lingkungan, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat desa
semata. Melainkan boleh sesuai kebutuhan desa yang telah disepakati dan
diputuskan dalam musyawarah desa bersama seluruh masyarakat.20
Belanja Desa sebagaimana diartikan untuk meliputi semiua pengeluaran
dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam satu tahunan anggaran
19
Permendagri No.20 Tahun 2018
20
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014
yang tidak diperoleh pembayarannya kembali oleh desa. Belanja desa
sebagaimana diartikan dipergunakan dalam rangka mendanai penyelenggaraan
kewenangan Desa. Klasifikasi Belanja Desa sebagaimana diartikan, terdiri atas
kelompok: 21
Penyelenggaraan Pemerintahan Desa yang terdiri atas:
a. Belanja Pegawai
Tunjangan bagi Kepala Desa dan Perangkat Desa serta tunjangan BPD
yang pelaksanaannya dibayarkan setiap bulan.
b. Belanja Barang
Belanja barang dan jasa digunakan untuk pembelian/pengadaan barang yang
nilai manfaatnya kurang dari 12 (dua belas) bulan. Belanja barang/jasa
sebagaimana dimaksud antara lain: (a) alat tulis kantor; (b) benda pos; (c)
bahan/material; (d) pemeliharaan; (e) cetak/penggandaan; (f) sewa kantor desa;
(g) sewa perlengkapan dan peralatan kantor; (h) makanan dan minuman rapat; (i)
pakaian dinas dan atributnya; (j) perjalanan dinas; (k) upah kerja; (l) honorarium
narasumber/ahli; (m) operasional Pemerintah Desa; (n) operasional BPD; (o)
insentif Rukun Tetangga/Rukun Warga; dan (p) pemberian barang pada
masyarakat/kelompok masyarakat.
c. Belanja Modal
21
Zulia Hanum, “Analisis Fungsi Anggaran Biaya Sebagai alat Pengawasan Pada Perum
Perumnas Regional 1 Medan”, Festival Riset Ilmiah Manajemen dan [Link] tahun
2019, h. 11.
Belanja modal digunakan untuk pengelaran dalam rangka
pembelian/pengadaan barang atau bangunan yang nilai manfaatnya lebih dari 12
bulan. 22
2.2.3 Pembiayaan Desa
Anggaran memiliki karakteristik, yaitu:
a. Anggaran dinyatakan dalam satuan keuangan dan satuan selain
keuangan.
b. Anggaran umumnya mencakup jangka waktu tertentu, satu atau beberapa
tahun.
c. Anggaran berisi komitmen atau kesanggupan manajeman untuk
mencapai sasaran yang ditetapkan.
d. Usulan angggaran ditelaah dan disetujui oleh pihak yang berwenang
lebih tinggi dari penyusunan anggaran.
e. Sekali disusun, anggaran hanya dapat diubah dalam kondisi tertentu. 23
2.2.4 Alokasi Dana Desa
Alokasi dana desa adalah merupakan bagian dari dana perimbagan
keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh daerah/kabupaten untuk desa
paling sedikit 10 persen yang pembagiannya untuk desa secara proporsional
dalam anggaran pendapatan dan belanja daerah setelah dikurang dana alokasi
khusus. Maka intinya, alokasi dana desa adalah bagian keuangan desa yang
diperoleh dari hasil bagi hasil pajak daerah dan bagian dari dana perimbangan
22
Julita dan Abdullah, ‘Transparansi Dalam Pengelolaan Dana Desa (Studi Di Kecamatan
Sukakarya Kota Sabang)’, Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi, tahun 2020, h. 213–221.
23
Peraturan Menteri Nomor 5 Tahun 2015. Tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana
Desa Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2014. Tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.
keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota untuk desa yang
dibagikan secara proporsional.
Dalam pengelolaan ADD desa telah dibuat dalam (Permendagri No.7
Tahun 2007) tentang Pedoman pengelolaan Keuangan Desa. Dan sesuai dengan
(Permendagri No.113 Tahun 2014) tentang Perencanaan, Pelaksanaan,
Penatausahaan, Pertanggungjawaban, dan Pelaporann. Tujuanya untuk
memudahkan dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan Desa, agar tidak
menimbulkan multitafsir dalam penerapanya. Sehingga dengan demikian desa
dapat mewujudkan pengelolaan keuangan yang efektif dan efisien. Serta proses
dan mekanisme penyusunan APBDesa yang diatur dalam Permendagri tersebut
akan menjelaskan siapa yang bertanggungjawab dan bagaimana
pertanggungjawabannya.24
Untuk itu perlu ditetapkan pedoman umum tata cara pelaporan dan
pertanggungjawaban penyelenggaraan pemerintah desa, yang dimuat dalam
peraturan Mentri Dalam Negri No. 35 Tahun 2007. (‘Peraturan Menteri Dalam
Negeri No. 35 Tahun 2007’, 2007) Selain itu Pengelolaan alokasi dana desa sudah
dijelaskan dalam (Permendagri No. 07 Pasal 02 Tahun 2019) Tentang pengelolaan
Dana Desa sebagai berikut : a) Penganggaran b) Pengalokasian c) Penyaluran d)
Penatausahaan, pertanggungjawab, dan pelaporan. e) Pedoman penggunaan, dan
f) Pemantauan serta evaluasi. 28 Tahapan pengelolaan ADD diatur secara garis
besar oleh (Permendagri No.113 Tahun 2014) mulai dari proses perencanaan,
pelaksanaan, penatausaha, pelaporan, dan perttanggungjawaban. 25
24
Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.
25
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003. Tentang Keuangan Negara
Secara garis besar menurut terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam pelaksanaan ADD yaitu : 26
a. Terdapat 8 Tujuan ADD yang bila disimpulkan secara umum ADD
bertujuan peningkatan aspek pembangunan baik prasarana fisik maupun
non fisik dalam rangka mendorong tingkat partisipasi masyarakat untuk
pemberdayaan dan perbaikan taraf hidupnya.
b. Azas dan prinsip pengelolaan ADD yaitu transparan, akuntabel, dan
partisipatif. Halini berarti ADD harus dikelola dengan mengedepankan
keterbukaan, dilaksanakansecara bertanggungjawab, dan juga harus
melibatkan peran serta aktif segenapmasyarakat setempat.
c. ADD merupakan bagian yang integral (satu kesatuan/tidak terpisahkan)
dari APBDesmulai dari perencanaan, pelaksanaan, pertanggungjawaban,
dan pelaporannya.
d. Penggunaan ADD ditetapkan sebesar 30% untuk belanja aparatur dan
operasional Desa dan sebesar 70% untuk belanja pemberdayaan
masyarakat.
e. Meskipun pertangungjawaban ADD integral dengan APBDes, namun
tetapdiperlukan pelaporan atas kegiatan–kegiatan yang dibiayai dari
anggaran ADD secara berkala (bulanan) dan laporan hasil akhir
penggunaan ADD. Laporan inibterpisah dari pertanggungjawaban
26
Chabib Soleh dan Heru Rochmansjah, Pengelolaan Keuangan Desa, Edisi Revisi.
Fokusmedia. Bandung, 2015), h. 14.
APBDes, hal ini sebagai bentuk pengendalian danmonitoring serta bahan
evaluasi bagi Pemerintah Daerah.
Untuk pembinaan dan pengawasan pengelolaan ADD dibentuk Tim
Fasilitasi Kabupaten/Kota dan Tim Pendamping Kecamatan dengan kewajiban
sesuai tingkatandan wewenangnya. Pembiayaan untuk Tim dimaksud dianggarkan
dalam APBD dan diluar untuk anggaran ADD.
Tahapan pengelolaan ADD diatur secara garis besar mulai dari tahap
perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawan, sebagai berikut:
a. Tahap Perencanaan Mekanisme perencanaan ADD dimulai dari Kepala
Desa selaku penanggungjawab ADD mengadakan musyawarah desa untuk
membahas rencana penggunaan ADD yang dihadiri oleh unsur pemerintah
desa, Badan Permusyawaratan Desa, lembaga kemasyarakatan desa dan
tokoh masyarakat, hasil musyawarah tersebut dituangkan dalam
Rancangan Penggunaan Dana (RPD) yang merupakan salah satu bahan
penyusunan APBDes.
b. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan kegiatan sebagaimana ditetapkan dalam
APBDes yang pembiayaannya bersumber dari ADD sepenuhnya
dilaksanakan oleh Tim Pelaksana Desa, selanjutnya guna mendukung
keterbukaan dan penyampaian informasi secara jelas kepada masyarakat,
maka pada setiap pelaksanaan kegiatan fisik ADD wajib dilengkapi
dengan Papan Informasi Kegiatan yang dipasang di lokasi kegiatan.
c. Tahap Pertanggungjawaban Pertanggungjawaban ADD terintegrasi
dengan pertanggungjawaban pelaksanaan APBDes. Namun demikian Tim
Pelaksana ADD wajib melaporkan pelaksanaan ADD yang berupa
Laporan Bulanan, yang mencakup perkembangan peelakasanaan dan
penyerapan dana, serta laporan kemajuan fisik pada setiap tahapan
pencairan ADD yang merupakan gambaran kemajuan kegiatan fisik yang
dilaksanakan. 27
2.2.5 Transparansi
[Link] Pengertian Transparansi
Transparansi adalah adanya kebijakan terbuka bagi pengawasan.
Sedangkan yang dimaksud dengan informasi adalah informasi mengenai setiap
aspek kebijakan pemerintah yang dapat dijangkau publik. (Permendagri No.113
tahun 2004), tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, menyebutkan
bahwa transparan adalah prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat
untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluas-luasnya tentang
keuangan daerah. Dengan adanya transparansi menjamin akses atau kebebasan
bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggaraan
pemerintahan, yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan, dan
pelaksanaannya serta hasil-hasil yang dicapai.
27
Subroto, “Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa ( Studi Kasus Pengelolaan Alokasi Dana
Desa Di Desa-Desa Dalam Wilayah Kecamatan Tlogomulyo Kabupaten Temanggung” tahun
2009, h.
Menurut Mardiasmo, “transparansi berarti keterbukaan (opennsess)
pemerintah dalam memberikan informasi yang terkait dengan aktivitas
pengelolaan sumber daya publik kepada pihak-pihak yang membutuhkan
informasi. 28
Transparansi merupakan salah satu aspek mendasar bagi terwujudnya
penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Perwujudan tata pemerintahan yang
baik mensyaratkan adanya keterbukaan, keterlibatan, dan kemudahan akses bagi
masyarakat terhadap proses penyelenggaraan pemerintah. Keterbukaan dan
kemudahan informasi penyelenggaran pemerintahan memberikan pengaruh untuk
mewujudkan berbagai indikator lainnya”.
Transparansi sebagai penyediaan informasi tentang pemerintahan bagi
publik dan dijaminnya kemudahan di dalam memperoleh informasi-informasi
yang akurat dan memadai. Dari pengertian tersebut dijelaskan bahwa transparansi
tidak hanya sekedar menyediakan informasi tentang penyelenggaraan
pemerintahan, namun harus disertai dengan kemudahan bagi masyarakat untuk
memperoleh informasi tersebut. 29
Sedangkan menurut (Perpem No.24 Tahun 2005), menjelaskan bahwa
transparan adalah memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada
masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk
mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah
dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya
28
Mardiasmo, Akuntansi Sektor Publik, (Yogyakarta: Andi, 2009), h.
29
Ruru, ‘Analisis Penerapan Alokasi Dana Desa (ADD) dalam Upaya Meningkatkan
Pembangunan Desa (Studi Kasus pada Desa Suwaan, Kecamatan Klawat, Kabupaten Minahasa
Utara)’, Jurnal Riset Akuntansi, tahun 2017, h.
pada perundang-undangan. Transparansi merupakan pelaksanaan tugas dan
kegiatan yang bersifat terbuka bagi masyarakat, mulai dari proses kebijakan,
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian yang mudah diakses
oleh semua pihak yang membutuhkan informasi tersebut. 30
Transparansi juga memiliki arti keterbukaan organisasi dalam memberikan
informasi yang terkait dengan aktivitas pengelolaan sumber daya publik kepada
pihak-pihak yang menjadi pemangku Transparansi pengelolaan keuangan publik
merupakan prinsip good governance yang harus dipenuhi oleh organisasi sektor
publik. Dengan dilakukannya transparansi tersebut publik akan memperoleh
informasi yang aktual dan faktual, sehingga mereka dapat menggunakan informasi
tersebut untuk (1) membandingkan kinerja keuangan yang dicapai dengan yang
direncanakan (2) menilai ada tidaknya korupsi dan manipulasi dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban anggaran, (3) menentukan
tingkat kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang terkait, (4) mengetahui
hak dan kewajiban masing-masing pihak, yaitu antara manajemen organisasi
sektor publik dengan masyarakat dan dengan pihak lain yang terkait.
[Link] Indikator Transparansi
Menurut (Permendagri No.113 tahun 2004) dalam laporan keuangan
daerah harus transparansi sesuai dengan peraturan sebagai berikut:
a. Kegiatan Pencatatan Kas masuk maupun keluar dapat diakses dengan
mudah oleh masyarakat. Serta ada papan pengumuman mengenai kegiatan
yang sedang dijalankan.
30
Peraturan Pemerintahan No.24 Tahun 2005.
b. Laporan realisasi dan laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan
APBDesa diinformasikan kepada masyarakat secara tertulis dan dengan
media informasi yang mudah diakses oleh masyarakat.
c. Laporan Realisasi dan Laporan Pertanggungjwaban Realisasi Pelaksanaan
ADD disampaikan kepada Bupati/Walikota melalui camat. 31
2.3 Kerangka Pemikiran
Kerangka berpikir ialah uraian teoritis antara variabel yang diteliti. Pendanaan
dari tiap aktivitas pembangunan desa, dan memerlukan biaya yang terbilang tidak
sedikit. Di setiap desa di Indonesia diberikan Alokasi Dana Desa (ADD) tiap tahun
dengan jumlah tertentu dengan tujuan buat pembangunan desa tersebut.
Pengalokasian dana oleh Pemerintah Kabupaten buat Desa, bersumber dari untuk
hasil penerimaan pajak wilayah, untuk hasil penerimaan retribusi wilayah, serta
bagian dana perimbangan keuangan pemerintah pusat serta wilayah yang diterima
Pemerintah Kabupaten kecuali Dana Alokasi Khusus. Akuntabilitas dalam
penyelenggaraan pemerintahan wilayah dimaksud untuk kewajiban pemerintah
wilayah untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pelaksanaan pemerintahan
di daerah dalam rangka otonomi wilayah buat menggapai tujuan yang sudah
diresmikan lewat media pertanggungjawaban yang terukur baik dari segi kualitasnya
ataupun kuantitasnya. Adapun kerangka pemikiran dalam skripsi ini yaitu:
Pengelolaan Dana Desa
Penatausahaan
31 Pelaporan Pertanggungjawaban
Permendagri No.113 tahun 2004.
Prinsip Akuntabilitas/ Prinsip Transparansi/ adanya
Pelaporan tepat waktu keterbukaan bagi masyarakat
Permendagri No 20 Tahun
2014
Tabel 2.1. Kerangka Berfikir
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
deskriptif, menurut Sugiyono metode penelitian kualitatif adalah metode
penelitian yang berdasarkan pada filsafah post-positivisme, yaitu yang
memandang realitas sosial sebagai sesuatu yang utuh, kompleks, dinamis, dan
penuh makna. Digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah,
(sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti sebagai instrumen kunci32.
Pendekatan deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok
manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem pemikiran, ataupun suatu kelas
peristiwa pada masa sekarang33. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat
deskripsi atau gambaran, sifat-sifat serta hubungan atau gambaran, sifat-sifat serta
hubungan antara fenomena yang diselidiki34. Hal ini sesuai dengan pendapat
Sudjana yang menjelaskan bahwa metode deskriptif digunakan apabila penelitian
bertujuan untuk menjelaskan dan menafsirkan peristiwa atau kejadian dimasa
sekarang35. Dalam hal ini penulis memberikan gambaran tentang Tranparansi
Pengelolaan Alokasi Dana Desa Rantau Binuang Kecamatan Kluet Selatan.
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan suatu tempat yang dipilih serta ingin diteliti
untuk memperoleh data yang diperlukan. Sesuai dengan judul pada bab
pendahuluan, maka penulis menetapkan lokasi penelitian di sini adalah Di Desa
Rantau Binuang Kecamatan Kluet Selatan.
32
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, (Bandung:
Remaja Rosda Karya, 2004), h. 15
33
Moh. Nazir, Metode Penelitian, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2009), h. 54
34
Muhammad Nazir, Metode Penelitian, cet. III, (Jakarta: Rajawali, 2010), h. 63
35
Sudjana, Metode Statistika, (Bandung: Tarsito, 2000), h. 162
C. Subjek Penelitian
Penelitian ini terdiri dari objek dan subyek yang mempunyai kualitas dan
karakterisitik tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulan.36 Teknik penarikan subjek penelitian dilakukan
secara random sampling. Ini merupakan cara pengambilan subjek ditentukan
secara acak37. Dalam hal ini peneliti mengambil sampel aparatur perangkat desa
Rantau Binuang.
D. Sumber Data
Adapun sumber data dalam penelitian ini terdiri dari sumber primer dan
sumber sekunder.
1. Data Primer
Data primer adalah data yang langsung diperoleh dari sumber data pertama
di lokasi penelitian atau objek penelitian. 38 Adapun data primer yang digunakan
dalam penelitian ini berupa hasil wawancara dengan informan kunci. Data primer
juga berupa hasil observasi langsung di lapangan juga dijadikan sumber primer
guna mendukung hasil wawancara.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua dari data
yang dibutuhkan.39 Adapun sumber sekunder terdiri dari berbagai literature bacaan
36
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif.., h. 215.
37
Etta Mamang Sangadji dan Sopiah, Metodologi Penelitian Pendekatan Praktis Dalam
Penelitian, (Yogyakarta: Andi, 2010), h. 186
38
Burhan Bugin, Metode Penelitian Kualitatif (Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan
Publik Serta Ilmu-ilmu Sosial Lainnya, (Jakarta: Kencana Prenada Media, 2011), h. 143.
39
Burhan Bugin, Metode Penelitian Kualitatif,… h. 143.
yang memiliki relevansi dengan kajian ini seperti jurnal ilmiah, majalah, artikel
dan situs internet.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan
kajian kepustakaan dan penelitian lapangan. Kajian kepustakaan dilakukan dalam
pengumpulan data-data untuk landasan teoritis dengan cara menelaah buku-buku
yang berhubungan dengan karakter Islami.
Sedangkan penelitian lapangan dilakukan dengan cara turun langsung
kelapangan yang telah ditentukan, yaitu Desa Rantau Binuang untuk mendapatkan
data dalam penulisan skripsi ini. Adapun instrumen pengumpulan data yang
ditempuh yaitu:
1. Observasi
Observasi adalah metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan
pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau
mengamati individu atau kelompok secara langsung. Metode ini digunakan untuk
melihat dan mengamati secara langsung keadaan di lapangan agar peneliti
memperoleh gambaran yang lebih luas tentang permasalahan yang diteliti.
Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan objek-objek di lapangan guna
memperoleh data atau keterangan-keterangan dengan akurat, objektif dan dapat
dipercaya. Observasi ini penulis gunakan untuk mengamati lingkungan atau letak
geografis Desa Rantau Binuang.
2. Wawancara
Wawancara adalah suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah
tertentu. Ini merupakan proses tanya jawab lisan, dimana dua orang atau lebih
berhadap-hadapan secara fisik. Terdapat dua pihak dengan kedudukan yang
berbeda dalam proses wawancara. Pihak pertama berfungsi sebagai penanya,
disebut pula sebagai interviewer, sedangkan pihak kedua berfungsi sebagai
pemberi informasi atau informan. Interviewer mengajukan pertanyaan-pertanyaan,
meminta keterangan atau penjelasan, sambil menilai jawaban-jawabannya.
Sekaligus ia mengadakan paraphrase (menyatakan kembali isi jawaban
interviewer dengan kata-kata lain), mengingat-ingat dan mencatat jawaban-
jawaban. Disamping itu, dia juga menggali keterangan-keterangan lebih lanjut dan
berusaha melakukan “probing” (rangsangan atau dorongan)40. Penulis
mengadakan wawancara langsung dengan kebutuhan judul skripsi penulis.
3. Studi Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen
bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.
Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya surat, catatan harian, laporan, artefak
dan foto41. Jadi, studi dokumen merupakan pelengkap dari pengguna metode
observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.
F. Instrumen Pengumpulan Data
1. Pedoman wawancara dengan kepala Desa
2. Pedoman wawancara dengan Aparatur Desa
3. Peodman wawancara dengan masyarakat desa Rantau Binuang
40
Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, Cet 1, (Jakarta: Bumi
aksara, 2013), h. 160-161
41
Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian Skripsi, Tesis, Disertasi dan karya Ilmiah,
(Jakarta: Kencana, 2012), h. 141
4. Lembar observasi
G. Teknik Analisis data
Analisis data kualitatif adalah pengujian sistematik dari sesuatu untuk
menetapkan bagian-bagiannya, hubungan antar kajian, dan hubungannya terhadap
keseluruhannya. Artinya, semua analisis data kualitatif akan mencakup
penelusuran data, melalui catatan-catatan (pengamatan lapangan) untuk
menemukan pola-pola budaya yang dikaji oleh peneliti.
Teknik pengumpulan data dan analisis data pada praktiknya tidak secara
mudah dipisahkan. Kedua kegiatan tersebut berjalan serempak. Artinya, analisis
data memang seharusnya dikerjakan bersamaan dengan pengumpulan data, dan
kemudian dilanjutkan setelah pengumpulan data selesai dikerjakan. Tiga tahapan
yang harus dikerjakan dalam menganalisis data peneltian kualitatif yaitu:
a. Reduksi data, yaitu proses pemilihan pemusatan perhatian dan transformasi
data yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan.
b. Penyajian data, yaitu proses dimana data yang telah diperoeh, diidentifikasi
dan dikategorisasikan kemudian disajikan dengan cara mencari kaitan antara
satu kategori dengan kategori lainnya.
c. Penarikan kesimpulan dan verifikasi, penarikan kesimpulan merupakan
tahapan mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan, pola pola,
penjelasan konfigurasi-konfigurasi akibat dan proporsi. Sedangkan
verifikasi merupakan tahap untuk menguji kebenaran kekokohan dan
kecocokannya.42
Analisis data kualitatif dilakukan secara bersamaan dengan proses
42
Sutrisno Hadi, Metodelogi Penelitian Reseach, (Yogyakarta: Andi, 2004), h. 4.
pengumpulan data berlangsung, artinya kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan juga
selama dan sesudah pengumpulan data.
H. Teknik Keabsahan Data
Untuk keabsahan data dalam penelitian ini, data-data yang diperoleh dapat
dipercaya kebenaran, konsisten dari prosedur dan kenetralan dari temuan dan
kutipan refrensinya. Maka sesuai dengan penelitian yang dilakukan adalah secara
kualitatif. Penulis melakukannya dengan validitas dan reliabilitas. Validitas
merupakan ketetapan data yang dapat dinyatakan valid apabila tidak ada
perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi
pada objek yang diteliti. Sedangkan reliabilitas adalah bersifat majemuk/ganda,
dinamis/selalu berubah, sehingga tidak ada yang konsisten, dan berulang seperti
semula.43
43
Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif…, h. 211.