0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan5 halaman

Evaluasi K3 untuk Kurangi Kecelakaan Konstruksi

iniiiiiiiiiii p

Diunggah oleh

maraaniee
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
65 tayangan5 halaman

Evaluasi K3 untuk Kurangi Kecelakaan Konstruksi

iniiiiiiiiiii p

Diunggah oleh

maraaniee
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL

EVALUASI IMPLEMENTASI KESELAMATAN DAN


KESEHATAN KERJA (K3) DALAM MENGURANGI
KECELAKAAN KERJA DI PROYEK KONSTRUKSI : STUDI
KASUS DI PT. HK

Dosen Pengampu : Asti Inka Pratiwi, [Link].,[Link]

Disusun Oleh :

Amara Febriyanti

(233001010010)

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN & ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ADIWANGSA

JAMBI

2024
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan hal yang sangat penting
dalam dunia industri, terutama di sektor konstruksi yang memiliki risiko
kecelakaan kerja yang tinggi. Menurut Kementerian Ketenagakerjaan, pada
tahun 2020, sektor konstruksi menyumbang sekitar 25% dari total kecelakaan
kerja yang terjadi di Indonesia. Aktivitas yang melibatkan penggunaan alat
berat, pekerjaan di ketinggian, serta lingkungan kerja yang dinamis menjadi
faktor utama penyebab tingginya angka kecelakaan tersebut.

Penerapan K3 yang baik mampu mengurangi risiko kecelakaan kerja dan


meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Namun, di lapangan, banyak
perusahaan konstruksi yang belum optimal dalam menerapkan prosedur K3.
Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kurangnya kesadaran akan
pentingnya K3, minimnya pelatihan bagi pekerja, hingga rendahnya
pengawasan terhadap implementasi prosedur K3. Santoso (2021) menyatakan
bahwa “implementasi K3 yang tidak optimal di sektor konstruksi sering kali
diakibatkan oleh kurangnya komitmen dari manajemen dan kurangnya
pengetahuan pekerja mengenai prosedur keselamatan yang harus diikuti.”

Berdasarkan pra survei yang dilakukan di PT. HK, ditemukan bahwa terdapat
beberapa pelanggaran terhadap prosedur K3, seperti tidak menggunakan alat
pelindung diri (APD) dengan benar, serta adanya pekerja yang belum
mendapatkan pelatihan K3 secara memadai. Oleh karena itu, penelitian ini
dilakukan untuk mengevaluasi implementasi K3 di PT. HK, dan menilai
dampaknya terhadap pengurangan kecelakaan kerja.

1.2 Rumusan Masalah

• Bagaimana Implementasi K3 di PT. HK pada proyek konsturksi yang


sedang berlangsung?
• Apa saja kendala yang dihadapi dalam penerapan K3 di PT. HK
• Bagaimana pengaruh implementasi K3 Terhadap Pengurangan angka
kecelakaan kerja di PT. HK
1.3 Tujuan Penelitian

[Link] Implementasi K3 di PT. HK Pada proyek konstruksi

[Link] kendala dalam penerapan K3 di PT. HK

[Link] dampak implementasi K3 terhadap pengurangan kecelakaan kerja di PT.


HK

1.4 Maanfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi:

• Perusahaan: Sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki implementasi K3 guna


mengurangi risiko kecelakaan kerja.
• Pemerintah: Sebagai referensi untuk meningkatkan regulasi dan kebijakan
terkait K3 di sektor konstruksi.
• Akademisi: Sebagai tambahan literatur dan referensi dalam penelitian terkait
K3 di sektor konstruksi.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini akan difokuskan pada evaluasi penerapan K3 di PT. HK yang


sedang menjalankan proyek konstruksi, dengan cakupan penilaian terhadap
penggunaan APD, pelatihan pekerja, pengawasan, serta dampaknya terhadap
angka kecelakaan kerja.
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjau Pustaka

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah upaya untuk memastikan kondisi
kerja yang aman bagi para pekerja, mencegah kecelakaan kerja, serta
meningkatkan kesejahteraan di tempat kerja. K3 telah diatur dalam Undang-
Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan Peraturan Pemerintah
No. 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja.

Menurut Rivai (2019), “implementasi K3 yang baik tidak hanya melibatkan


penggunaan alat pelindung diri, tetapi juga pengelolaan risiko secara sistematis
melalui pelatihan, pengawasan, dan evaluasi berkelanjutan.” Di sektor
konstruksi, penerapan K3 memiliki tantangan tersendiri karena sifat pekerjaan
yang dinamis dan penuh risiko, seperti pekerjaan di ketinggian dan penggunaan
alat berat.

2.2 Risiko Kecelakaan Kerja di Sektor Konstruksi

Industri konstruksi memiliki tingkat risiko kecelakaan kerja yang lebih tinggi
dibandingkan dengan sektor lainnya. Hal ini disebabkan oleh karakteristik
pekerjaan yang melibatkan banyak aktivitas fisik di lingkungan kerja yang
berubah-ubah. Menurut Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
Ketenagakerjaan, sektor konstruksi berkontribusi besar terhadap angka
kecelakaan kerja yang terjadi di Indonesia.

Dalam sebuah studi oleh Setiawan (2020) disebutkan bahwa “penyebab utama
kecelakaan kerja di sektor konstruksi adalah kurangnya kesadaran pekerja
terhadap pentingnya K3 dan minimnya pelatihan yang diberikan oleh
perusahaan.” Kurangnya pengawasan dalam penerapan K3 juga menjadi salah
satu faktor penting yang mempengaruhi tingginya angka kecelakaan kerja.
2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi K3

Keberhasilan implementasi K3 dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya


adalah:

1. Komitmen Manajemen: Komitmen dari manajemen perusahaan sangat penting


dalam memastikan bahwa K3 dijalankan dengan baik. Susanto (2020)
mengemukakan bahwa “komitmen manajemen yang kuat merupakan kunci utama
dalam keberhasilan penerapan K3.”

2. Pelatihan Pekerja: Pelatihan merupakan salah satu elemen penting dalam


penerapan K3, karena pelatihan akan memberikan pengetahuan dan keterampilan
bagi pekerja untuk mengenali dan menghindari risiko kerja. Pratama (2018)
menemukan bahwa “pekerja yang mendapatkan pelatihan K3 lebih mampu
menerapkan prosedur keselamatan dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan
pelatihan.”

3. Pengawasan: Pengawasan yang konsisten dan ketat terhadap penerapan K3 di


tempat kerja dapat meminimalkan risiko kecelakaan. Wibowo (2019) menyatakan
bahwa “pengawasan yang baik mampu mengurangi tingkat pelanggaran prosedur
K3 hingga 40%.

2.4 Kajian Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penerapan K3 yang baik mampu


menurunkan angka kecelakaan kerja secara signifikan. Sebagai contoh, penelitian
yang dilakukan oleh Hidayat (2019) menemukan bahwa “dengan penerapan K3
yang optimal, perusahaan konstruksi dapat menurunkan angka kecelakaan kerja
hingga 30%.”

2.5 Landasan Teori

Penelitian ini akan menggunakan teori Safety Management System (SMS) yang
menyatakan bahwa kecelakaan kerja dapat dicegah melalui pengelolaan
keselamatan yang sistematis. Teori ini menekankan pentingnya identifikasi risiko,
pelatihan, dan evaluasi dalam penerapan K3 untuk menciptakan lingkungan kerja
yang aman dan sehat

Anda mungkin juga menyukai