Nama : Meiva Zavani
Nim : 1052022060
Unit : 3
Semester : 3
Mata Kuliah : Bimbingan Konseling
Pengertian Anak Berperilaku Bermasalah
Menurut Sunaryo Kartadinata,dkk. 1998. Dalam kehidupan anak di sekolah tidak
semua dapat melihat dan merasakan bahwa di antara anak ada yang telah atau sedang
menghadapi masalah dan ada yang masih gejala, bahkan bagi anak sendiri juga banyak yang
tidak tahu bahwa dirinya sedang bermasalah. Oleh karena itu kita perlu mengetahui apa yang
dimaksud dengan “pengertian berperilaku bermasalah”. Perilaku bermasalah adalah tingkah
laku siswa yang menyimpang dari kebiasaan-kebiasaan temannya. Lebih lanjut dikatakan
apabila anak tiba-tiba tidak dapat melakukan apa-apa juga merupakan indikasi bahwa anak
mengalami masalah yang segera harus ditangani gurunya.
Salah satu kesulitan memahami perilaku bermasalah ialah karena perilaku tersebut
tampil dalam perilaku menghindar atau mempertahankan diri. Dalam psikologi perilaku ini
disebut “mekanisme pertahanan diri” karena dengan perilaku tersebut individu dapat
mempertahankan diri atau menghindar dari situasi yang menimbulkan ketegangan.
Penggunaan mekanisme pertahanan diri dalam diri anak sebenarnya dikatakan normal
apabila dalam taraf yang tidak berlebihan (apabila mekanisme pertahan diri dalam taraf
berlebihan disebut neurotik). Sebab tujuan dari mekanisme pertahanan diri adalah untuk
melindungi ego dan mengurangi kecemasan yang setiap saat diperlukan setiap orang terutama
pada anak-anak.(Bloom & Reenen, 2013)
Bentuk-bentuk Perilaku Bermasalah Pada Anak
Menurut [Link].2008. landasan bimbingan dan [Link] : Remaja
rosdakarya. Bentuk-bentuk Perilaku Bermasalah. Bentuk umum perilaku mekanisme
mempertahankan diri ialah :
1. Rasionalisasi
Perilaku rasionalisasi ditunjukkan dalam bentuk memberikan penjelasan atau alasan yang
dapat diterima oleh akal, tapi pada dasarnya bukan penyebab nyata karena dengan penjelasan
tersebut individu bermaksud menyembunyikan latar belakang perilakunya. 2. Sikap
bermusuhan
Sikap ini nampak pada perilaku agresif, menyerang, mengganggu, bersaing, dan mengancam
lingkung.
3. Menghukum diri sendiri
Perilaku ini tampak dalam wujud mencela diri sendiri dari penyebab utama dari kesalahan
atau kegagalan. Perilaku ini terjadi karena individu cemas bahwa orang lain tidak akan
menyukai kiranya dia mengkritik orang lain. Orang seperti ini memiliki kebutuhan untuk
diakui dan disukai amat kuat.
4. Represi
Represi didefinisikan sebagai upaya individu untuk menyingkirkan frustrasi, tekanan, konflik
batin, mimpi buruk, krisis keuangan dan sejenisnya yang menimbulkan kecemasan. Bila
represi terjadi, hal-hal yang mencemaskan itu tidak akan memasuki kesadaran walaupun
masih tetap ada pengaruhnya terhadap perilaku. Jenis-jenis amnesia tertentu dapat dipandang
sebagai bukti akan adanya represi. Tetapi represi juga dapat terjadi dalam situasi yang tidak
terlalu menekan. Bahwa individu merepresikan mimpinya, karena mereka membuat
keinginan tidak sadar yang menimbulkan kecemasan dalam dirinya. Sudah menjadi umum
banyak individu pada dasarnya menekankan aspek positif dari kehidupannya. Beberapa bukti,
misalnya:
1. Individu cenderung untuk tidak berlama-lama untuk mengenali sesuatu yang tidak
menyenangkan, dibandingkan dengan hal-hal yang menyenangkan. Individu akan membuang
memori tentang hal tidak menyenangkan dari otaknya.
2. Berusaha sedapat mungkin untuk tidak melihat gambar dan mengingat-inget kejadian yang
menyesakkan dada.
3. Lebih sering mengkomunikasikan berita baik daripada berita buruk.
3. Lebih sering mengkomunikasikan berita baik daripada berita buruk. 4. Lebih mudah
mengingat hal-hal positif daripada yang negatif.
5. Lebih sering menekankan pada kejadian yang membahagiakan dan enggan menekankan
yang tidak membahagiakan.
6. Konformitas
Perilaku ini diutnjukkan dalam bentuk menyelamatkan diri dengan atau terhadap harapan-
harapan orang lain. Dengan memenuhi harapan orang lain, maka dirinya akan terhindar dari
kecemasan. Orang seperti ini memiliki harapan sosial ketergantungan orang lain.
6. Sinis
Perilaku sinis muncul dari ketidakberdayaan individu untuk berbuat atau berbicara terhadap
kelompok. Ketidakberdayaan ini membuat dirinya khawatir akan penilaian orang lain
terhadap dirinya, dan preilaku sinis merupakan perilaku menghindar dari penilaian orang lain.
7. Proyeksi
Individu yang menggunakan teknik proyeksi ini, biasanya sangat cepat dalam
memperlihatkan ciri pribadi individu lain yang tidak dia sukai dan apa yang dia
perhatikan itu akan cenderung dibesar-besarkan. Teknik ini mungkin dapat digunakan untuk
mengurangi kecemasan karena dia harus menerima kenyataan akan keburukan dirinya
sendiri.(Bloom & Reenen, 2013)
Identifikasi Masalah-Masalah Karakteristik Perkembangan Anak Yang Berkaitan
Dengan Berperilaku Bermasalah
Menurut Abin Syamsuddin Makmun.1996. Pendekatan perkembangan membawa
implikasi bahwa pendekatan terhadap siswa berperilaku masalah dapat dilakukan dengan
mengkaji tugas-tugas perkembangan karakteristik perkembangan siswa, yakni :
1. Menanamkan dan mengembangkan kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertakwa
Tuhan Yang Maha Esa.
2. Mengembangkan keterampilan dasar dalam membaca, menulis dan berhitung. 3.
Mengembangkan konsep-konsep yang perlu dalam kehidupan sehari-hari. 4. Belajar bergaul
dan bekerja dengan kelompok sebaya. 5. Belajar menjadi pribadi yang mandiri. 6.
Mempelajari keterampilan fisik yang sederhana yang diperlukan baik untuk permainan
maupun kehidupan.
7. Mengembangkan kata hati, moral, dan nilai-nilai sebagai pedoman perilaku. 8. Membina
hidup sehat untuk diri sendiri dan lingkungan serta keindahan.
9. Belajar memahami diri sendiri dan orang lain serta menjalankan peran tanpa membedakan
jenis kelamin.
10. Mengembangkan sikap terhadap kelompok, lembaga sosial, tanah air, bangsa dan negara.
11. Mengembangakan pemahaman dan sikap awal untuk perencanaan masa depan(Bloom &
Reenen, 2013)
Anak Underachier
Underachiever menunjukan bahwa penyebab munculnya permasalahan pada siswa
underachiever kedua subjek yaitu: faktor pembebanan, meliputi kurikulum pendidikan di
kelas yang tidak mampu mengakomodir kemampuan kedua subjek dan materi pelajaran yang
terlalu padat dan sulit, dan faktor keluarga yaitu orang tua tidak peduli terhadap arti sebuah
prestasi dan orang tua tidak memberi perhatian terhadap potensi yang dimiliki kedua subjek.
Orang tua mementingkan pembelajaran di sekolah anaknya saja tanpa memperhatikan potensi
lain anak. Hasil penelitian ini memberikan rekomendasi untuk orang tua harus menyadari
bahwa anak memiliki potensi lain yang bisa berkembang dengan baik. Bagi guru, agar selalu
mendorong siswanya untuk meraih prestasi optimal dengan cara memberikan persepsi positif
terhadap kemampuan siswa. Guru seharusnya menciptakan suasana belajar- mengajar yang
menyenangkan sehingga membuat siswa merasa nyaman terhadap beban materi dengan cara
merubah strategi pembelajaran yang lebih kreatif.(Sulaeman & Choiriyah, 2021)
DAFTAR PUSTAKA
Bloom, N., & Reenen, J. Van. (2013). 済無No Title No Title No Title. NBER Working
Papers, 89. [Link]
Sulaeman, E., & Choiriyah, C. (2021). Anak Underachiever: Analisis Faktor-Faktor
Penyebabnya. Journal of Early Childhood Education (JECE), 2(2), 155–169.
[Link]