0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan6 halaman

Kesetaraan Gender dalam Islam dan Al-Qur'an

ilmu Al Qur'an dan hadits

Diunggah oleh

esawww17
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan6 halaman

Kesetaraan Gender dalam Islam dan Al-Qur'an

ilmu Al Qur'an dan hadits

Diunggah oleh

esawww17
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Masyarakat muslim adalah masyarakat yang selain diikat oleh kesatuan emosional,

juga adanya kesamaan agama, yaitu agama Islam. Dalam memahami masyarakat muslim
dapat dilakukan dengan dua sisi yakni masyarakat muslim konseptual adalah masyarakat
ideal yang hendak diwujudkan dengan berpedoman kepada petunjuk-petunjuk al-Quran dan
Sunnah Rasul. Sedangkan masyarakat secara faktual adalah masyarakat yang secara nyata
ada dalam suatu kelompok manusia yang beragama Islam dengan indikator, kebiasaan,
tradisi, sikap dan perasaan yang sama.

Salah satu tantangan pokok yang saat ini banyak dibicarakan dalam al-Qur’an adalah
tentang sosial. Ini disebabkan karena fungsi utamanya adalah mendorong lahirnya perubahan-
perubahan positif dalam kehidupan bersosial. Adapun persoalan yang mencakup sosial
kemasyarakatan dalam al-Qur’an banyak sekali, diantaranya tentang keadilan, musyawarah,
persaudaraan, toleransi beragama dan gender. Ketentuan bersosial yang tercantum dalam
kitab suci al-Qur’an ini masih bersifat umum maka perlu penafsiran yang lebih dalam, agar
dapat dipahami secara utuh dan memberikan gambaran jelas maksud dari ayat tersebut. Salah
satu contoh tantangan sosial kontemporer yang sering terjadi adalah persoalaan hak asasi
manusia pada perempuan.

A. Persoalan Kesetaraan Gender dalam Islam


Dalam perspektif Islam, persoalan gender merupakan hal yang menarik
dibicarakan pada kalangan akademisi. Karena banyak hal yang ingin kita pelajari
untuk dapatkan dan mengetahui nilai-nilai dari sudut pandang baik menurut al-Qur’an
maupun Hadis Nabi Muhammad saw. Mendengar sebutan gender tentu dipikiran kita
timbul diskriminasi pada wanita dan penghilangan hak terhadap mereka. Gender yang
diperjuangkan dari kalangan akademisi ataupun dari kalangan yang menganggap
bahwa Islam adalah agama yang memicu kehadiran isu gender tersebut di dunia ini.
Tentunya para orientalis yang berbasis misionaris ini ingin mendiskreditkan umat
Islam dan menyudutkan dengan opini sepihak dengan mengangkat isu kesetaraan
gender dan Islam.
Islam tidak membedakan antara hak dan kewajiban yang ada pada anatomi
manusia, hak dan kewajiban tetap sama dalam Islam bagi laki-laki maupun
perempuan. Sebab Islam memprioritaskan konsep keadilan bagi siapapun dan untuk
siapapu tanpa melihat jenis kelamin mereka. Islam adalah agama menganut
persamaan hak dan tidak pernah menonjolkan salah satu komunitas saja. Karena Islam
hadir sebagai agama yang menyebarkan kasih sayang bagi umat manusia.1
Ada beberapa alasan munculnya dorongan al-Qur’an ke arah kesetaraan
perempuan dan laki-laki. Pertama yakni al-Qur’an memberikan tempat yang
terhormat kepada seluruh manusia, yang meliputi perempuan dan laki-laki. Kedua,
secara norma-etis al-Qur’an membela prinsip-prinsip kesetaraan perempuan dan laki-
laki. Perbedaan struktur biologis , menurut al-Qur’an tidak berarti ketidaksetaraan dan
status yang didasarkan pada jenis kelamin. Menurutnya, kita harus membedakan
antara fungsi-fungsi biologis dari fungsi-fungsi sosial.
Perempuan dan laki-laki akan dinilai berdasarkan amal perbuatannya. Jika
perempuan menjalankan amal keagamaan, demikian pula dalam kiprah sosialnya,
mereka akan diberi ganjaran sebagaimana seharusnya, dan jika laki-laki
melakukannya dia pun akan mendapatkan balasan yang setimpal (QS.
Al-Ahzab/33:35). Al-Qur’an sama sekali tidak melakukan diskriminasi antara
perempuan dan laki-laki dalam hal apapun. Keduanya akan mendapat ganjaran atas
amal keagamaan dan keduniaan. Berdasarkan ayat tersebut, dalam penciptaan pun,
perempuan menurut al-Qur’an, sama sekali tidak lebih rendah dari laki-laki. Dengan
demikian, adalah benar-benar sah berpendapat bahwa hak-hak perempuan dalam
Islam telah dilindungi dengan baik.
Perdebatan mengenai kesetaraan gender dalam perspektif Al-Qur’an terpola
dalam dua kubu pemikiran, yaitu pemikir muslim klasik dan modern. Dari kalangan
pemikir muslim klasik yakni mufasir Ibnu Katsir dan pemikir muslim modern yaitu
M. Quraish Shihab. Terlihat perbedaan pada penafsiran kedua tokoh terhadap ayat-
ayat kesetaraan gender yang menerangkan tentang kepemimpinan. Ibnu Katsir
mengatakan kaum laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan. Sedangkan menurut M.
Quraish Shihab membolehkan perempuan menjadi pemimpin di luar rumah
tangganya, karena beranggapan bahwa perempuan dan laki-laki setara sehingga
memiliki peluang yang sama dalam kehidupan publik.
Para pemikir feminis mengemukakan bahwa posisi perempuan demikian itu,
di samping karena faktor-faktor ideologi dan budaya yang memihak laki-laki, boleh
jadi dijustifikasi oleh pemikiran kaum agamawan. Hal ini misalnya terlihat pada
penafsiran mereka atas ayat Al-Qur’an pada surah An-Nisa 4/34.

1
Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
Menurut pandangan Ibnu Katsir dalam surah An-Nisa ayat 34 mengatakan
bahwa laki-laki adalah pemimpin, orang yang harus dihormati, dan pendidik
perempuan karena laki-laki lebih baik dari perempuan. Tidak hanya dalam rumah
tangga, keunggulan kepemimpinan laki-laki terlihat dari persoalan kenabian yang
hanya dianugerahkan kepada laki-laki, jabatan hakim, dan pemerintahan yang besar.
Berkaitan dengan masalah ini Ibnu Katsir menjelaskan firman Allah,
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.” (QS. An-Nisa 4/34)
dalam tafsirnya menulis bahwa laki-laki adalah pemimpin perempuan, saudara
perempuan yang paling besar, hakim atas perempuan, dan yang mengingatkannya
serta yang meluruskannya pada saat perempuan menyimpang. Allah telah
menganugerahkan potensi kepemimpinan terhadap laki-laki, seperti keberanian,
kekuatan, dan kesempurnaan din serta akal.2
Sedangkan, menurut M. Quraish Shihab, persamaan antara perempuan dan
laki-laki juga persamaan antar bangsa, suku, dan keturunan, adalah pokok ajaran dan
prinsip utama dalam ajaran Islam. Perempuan dan laki-laki juga sama dan setara di
hadapan Allah SWT. Perempuan dan laki-laki juga memiliki perbedaan, M. Quraish
Shihab menyatakan perbedaan antara perempuan dan lakilaki adalah suatu yang
menjadi kepastian. Karena perbedaan sudah menjadi kodrat yang sudah termaktub
dalam Al-Qur’an. Perbedaan tersebut dari segi biologis perempuan dan laki-laki.3
Menurut M. Quraish Shihab, perbedaan biologis manusia tidak menjadikan
perbedaan atas potensi yang diberikan oleh Allah kepada manusia, baik perempuan
maupun laki-laki. Keduanya memiliki tingkat kecerdasan dan kemampuan berpikir
yang sama yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Sebagaimana kaum laki-laki,
perempuan juga mempunyai kemampuan berpikir, mempelajari dan mengamalkan
apa yang mereka hayati dari bertafakur dan berzikir kepada Allah dan juga yang
mereka pikirkan dari alam semesta ini.4
B. Peran Perempuan menurut Perspektif al-Qur’an
Peran kaum perempuan yang dibicarakan dalam al-Qur’an masuk dalam salah
satu dari 3 kategori yang diklasifikasikan oleh Muhsin yaitu pertama, peran yang
menggambarkan konteks sosial, budaya, dan sejarah di mana si perempuan tinggal,

2
Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al- Adzim, Jilid III Surkarta: Insan Kamil, Cet. 1,2015.
3
M. Quraish Shihab, Tafsir al-misbah, pesan, kesan dan keserasian al qur’an,vol. 2 Tanggerang: Lentera Hati,
2006.
4
Atik Wartini, Tafsir Feminis M. Quraish Shihab Telaah Ayat-ayat Gender dalam Tafsir AlMishbah, Jurnal
Palastran, Vol. 6, No.2, (2013): 485-487.
tanpa pujian atau kritik sekalipun dari al-Qur’an. Kedua, peran yang memainkan
fungsi keperempuanan yang secara universal diterima yakni mengasuh atau merawat,
dengan beberapa pengecualian atau bahkan telah diberikan dalam al-Qur’an. Ketiga,
peran yang memainkan fungsi spesifik non-gender, yakni peran yang menggambarkan
usaha manusia di muka bumi dan disebutkan dalam al-Qur’an untuk menunjukkan
jenis kelamin pelakunya yakni seorang perempuan.
C. Kajian al-Qur’an tentang Hak Asasi Manusia pada Perempuan
Al-Qur’an memberikan kecerdasan manusia di dalam menata pembagian
peran antara laki-laki dan perempuan. Dengan kesadaran bahwa persoalan ini cukup
penting tetapi tidak dirinci di dalam al-Qur’an maka hal tersebut menjadi isyarat
adanya kewenangan manusia untuk menggunakan hak-hak kebebasannya dalam
memilih pola pembagian peran laki-laki dan perempuan yang saling menguntungkan,
baik dalam sektor domestik maupun sektor publik. Dalam pandangannya, al-Qur’an
tidak memberikan beban gender secara mutlak dan kaku kepada seseorang namun
bagaimana agar adanya kewenangan manusia untuk menggunakan hak-hak
kebebasannya dalam memilih pola pembagian peran laki-laki dan perempuan yang
saling menguntungkan, baik dalam sektor domestik maupun sektor publik.
Sepanjang sejarah, dari zaman nabi bahkan mugnkin hingga saat ini masih ada
yang menstereotipkan perempuan memiliki kedudukan lebih rendah daripada laki-
laki, bahkan dianggap sebagai subordinat kaum laki-laki. Stereotip ini senantiasa
muncul dan dipertahankan oleh sebagian besar masyarakat, terkecuali dalam
masyarakat matrilinial yang jumlahnya hanya sedikit. Dalam tradisi fiqh, sebagian
ulama juga cenderung menempatkan kedudukan perempuan lebih rendah dari laki-
laki. Namun dalam kalangan modernis Islam belakangan ini muncul suatu kesadaran
bahwa al-Qur’an memberikan kedudukan yang sama antara laki-laki dan perempuan.
Pernyataan al-Qur’an dalam QS. An-Nisa’ ayat 34 yang seolah-olah
membedakan status laki-laki dan perempuan, semestinya tidak dipahami secara
literal-normatif semata namun juga perlu dipahami secara kontekstual-historikal.
Kesadaran akan kesetaraan kedudukan dan peran antara laki-laki dan perempuan pada
gilirannya akan melahirkan kesadaraan akan keseimbangan tanggung jawab dalam
berbagai tugas domestik dan publik keduanya, yang pada tahap selanjutnya akan
menciptakan dan menegakkan prinsip keadilaan, yang menurut Fakih. 5 merupakan inti

5
Syamsuddin M., “Peranan Perempuan Muslim dalam Upaya Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat,” Jurnal
Penelitian Agama, Pusat Penelitian IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 1998
dari ajaran setiap agama. Al-Qur’an mencakup berbagai anjuran untuk menegakkan
keadilan ekonomi, keadilan politik dan kultural termasuk keadilan gender. Karena itu,
diperlukan metode pendekatan penafsiran pada ayat-ayat al-Qur’an yang bisa
dipergunakan untuk memahami bagaimana ajaran moral agama yang bersifat prinsipil
yang mesti membutuhkan analisis sosial.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa Hak Asasi manusia
berkaitan dengan perempuan menurut al-Qur’an, diperlihatkan dalam bentuk
memberikan prinsip-prinsip kesetaraan kedudukan antara laki-laki dan perempuan,
baik dalam peran domestik maupun peran publiknya. Secara logis dan wajar dapat
diterapkan dalam kehidupan umat manusia di era apapun, jika penafsiran al-Qur’an
dilaksanakan secara terus-menerus oleh setiap generasi dengan tetap merefleksikan
tujuannya secara utuh dan holistik, terutama dalam etika yang bersifat umum, seperti
tentang kekuatan keadilan dan kesetaraan bagi setiap umat manusia, tanpa harus
ditandai oleh atribut seks, laki-laki dan perempuan.
Hak-hak perempuan dalam dimensi masyarakat seharusnya mulai diubah,
untuk memberikan jalan terhadap hak perempuan yang sejalan dengan konsep yang
dikembangkan al-Qur’an. Selain itu juga penafsiran tentang hak asasi manusia tertulis
dalam al-Qur’an harus menempatkan perempuan dalam hakikat kemanusiaannya
sebagai khalifah di bumi yang memunyai kesempatan dan akses yang sama dengan
laki-laki pada peran-peran publik, karena perempuan sekarang ini dapat memiliki
kapasitas dan kompetensi memadai sebagai hasil dari pendidikan yang baik.
DAFTAR REFERENSI

Alharira Eisyi Latifah, Dudin Shobaruddin. (2022). Kesetaraan Gender Dalam Perspektif Al-
Qur’an (Studi Komparatif Tafsir Ibnu Katsir Dan Al-Mishbah). TAFAHUS: JURNAL
PENGKAJIAN ISLAM, 2 (1), 74-84.

Amir, A. N. (2021). ISU SOSIO-HISTORIS DALAM TAFSIR AL-QUR’AN AL-KARIM.


An-Natiq, 1 (2), 181-205.

Fakih, M. (2008). Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Imam Ibnu Katsir. (2015). Tafsir al-Qur'an al-Adzim Jilid III. Surakarta: Insan Kamil.

M. Quraish Shihab. (2006). Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur'an.
Tanggerang: Lentera Hati.

M. Syamsuddin. (1998). Peranan Perempuan Muslim dalam Upaya Peningkatan


Kesejahteraan Masyarakat. Jurnal Penelitian Agama.

Perempuan, P. K.-Q.-I. (2013). Yeni Huraini. Ilmu Ushuluddin, 1 (5), 465-476.

Syihabuddin Alwy, Nawal Nur Arofah. ([Link].). ISU-ISU SOSIAL MASYARAKAT


DALAM TAFSIR; KAJIAN ANALISIS WACANA TAFSIR TĀJ AL-MUSLIMĪN
MIN KALĀMI RĀBB AL-‘ALAMIN KARYA K.H. MISBACH MUSTAFA.

Wartini, A. (2013). Tafsir Feminis M. Quraish SHihab Telaah Ayat-ayat al-Qur'an dalam
Tafsir al-Mishbah. Jurnal Palastran, 6 (2), 485-487.

Anda mungkin juga menyukai