BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Persepsi
1. Pengertian persepsi
Persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari proses penginderaan,
proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera atau disebut juga proses
sensori (Senoadi, 2015). Persepsi adalah suatu proses kognitif yang dialami setiap
orang dalam merespon dan memahami informasi dari lingkungannya. Cara pandang
individu akan menetukan kesan yang dihasilkan dari proses persepsi (Sari et al.,
2019). Dalam Kamus Psikologi, persepsi didefinisikan sebagai kesadaran seseorang
terhadap segala sesuatu di lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya atau
pengetahuan lingkungan yang diperoleh melalui interpretasi data indera. Pada proses
ini kepekaan dalam diri seseorang terhadap lingkungan sekitar mulai terlihat (Soares,
2015).
Setiap individu memiliki cara pandang yang berbeda-beda dalam
mempersepsikan sesuatu, baik persepsi positif maupun negatif yang akan
mempengaruhi tindakan manusia (Fuady et al., 2017).
Persepsi akan menentukan seseorang menerima suatu pesan dan mengabaikan
pesan lainnya. Semakin tinggi derajat kesamaan dan sebagai konsekuensinya,
semakin cenderung membentuk kelompok budaya atau kelompok identitas
(Chrystianty et al., 2021). Jika persepsi tidak akurat akan sulit untuk berkomunikasi
dengan efektif. Maka dari itu, persepsi disebut inti dari komunikasi.
6
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud persepsi yaitu proses penerimaan informasi yang dimulai oleh proses
penginderaan sehingga terbentuk tanggapan dan sudut pandang positif maupun
negatif yang akan mempengaruhi tindakan seseorang.
2. Teori persepsi
Persepsi terhadap kesehatan adalah proses di mana informasi terkait kesehatan
di lingkungan diolah, diterima melalui alat indera, kemudian diteruskan ke otak untuk
diseleksi, diorganisasikan sehingga menimbulkan penafsiran berupa penilaian dari
penginderaan atau pengalaman sebelumnya terhadap kesehatan diri. Teori persepsi
kesehatan berkaitan dengan teori health belief model (HBM). Health belief model
merupakan perilaku kesehatan yang ditentukan oleh keyakinan dan persepsi individu
tentang suatu penyakit dan strategi yang digunakan untuk mengurangi terjangkitnya
penyakit. Teori health belief model dibuat untuk mendorong masyarakat agar
melakukan tindakan ke arah kesehatan yang positif. Health belief model digunakan
untuk menentukan alasan individu melakukan aktifitas tertentu yang meningkatkan
kesehatan dan kesejahteraan (Ayu Titisari et al., 2018).
Health belief model merupakan kerangka utama yang digunakan untuk
memahami perilaku manusia terkait kesehatan. Model ini menjelaskan faktor-faktor
yang dipertimbangkan seseorang sebelum mengambil tindakan untuk berperilaku
sehat. HBM berfungsi sebagai model upaya preventif dalam konteks kesehatan.
Health belief model dibangun oleh empat persepsi utama, meliputi perceived
susceptibility, perceived severity, perceived benefit dan perceived barrier (Ismayadi et
al., 2021).
7
a. Persepsi kerentanan (Perceived susceptibility)
Persepsi terhadap kerentanan merupakan keyakinan seseorang mengenai
kemungkinan terjangkit suatu kondisi atau penyakit.
b. Persepsi keparahan (Perceived severity)
Persepsi terhadap keparahan adalah keyakinan seseorang mengenai seberapa
berat terjangkit suatu penyakit termasuk konsekuensi fisik, seperti kematian,
kecacatan, kesakitan, dan konsekuensi sosial seperti keterbatasan kerja, kesulitan
membangun hubungan dengan orang lain.
c. Persepsi manfaat (Perceived benefit)
Persepsi terhadap manfaat diartikan sebagai keyakinan seseorang mengenai
keuntungan dari melakukan suatu perilaku untuk mengurangi ancaman penyakit.
d. Persepsi hambatan (Perceived barrier)
Persepsi terhadap hambatan merupakan keyakinan seseorang mengenai
besarnya hambatan yang ditemui untuk melakukan perilaku kesehatan yang
disarankan, seperti hambatan dalam ekonomi, fisik, dan psikososial.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
Faktor-faktor yang memengaruhi persepsi pada umumnya dibagi dua yaitu (Senoadi,
2015) :
a. Faktor internal, faktor ini berasal dari dalam diri individu yang mencakup
beberapa hal diantaranya :
1) Fisiologis
Informasi yang masuk melalui alat indera selanjutnya akan mempengaruhi
dan melengkapi usaha untuk memberikan arti terhadap lingkungan sekitarnya.
8
Kapasitas indera untuk mempersepsikan sesuatu pada setiap orang berbeda-beda
sehingga interpretasi terhadap lingkungan juga berbeda.
2) Perhatian
Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan untuk memfokuskan
pada bentuk fisik dan fasilitas mental yang ada pada suatu objek. Energi tiap orang
berbeda-beda sehingga perhatian seseorang terhadap objek juga berbeda dan hal ini
akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu objek.
3) Minat
Persepsi terhadap suatu objek beragam tergantung pada seberapa banyak
energi atau perceptual vigilance yang digerakkan untuk mempersepsi. Perceptual
vigilance merupakan kecenderungan seseorang untuk memperhatikan karakteristik
tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat.
4) Kebutuhan yang searah.
Faktor ini dapat dilihat dari seberapa kuatnya seorang individu mencari objek-
objek atau pesan yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya.
5) Pengalaman dan ingatan
Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan dalam arti sejauh mana
seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian di masa lalu untuk mengetahui suatu
rangsang dalam pengertian luas.
6) Suasana hati
Suasana hati menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada waktu tertentu
yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang dalam menerima, bereaksi dan
mengingat.
9
b. Faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi merupakan karakteristik dari
lingkungan dan objek-objek yang terlibat didalamnya. Faktor-faktor eksternal yang
mempengaruhi persepsi adalah :
1) Ukuran dan penempatan dari objek atau stimulus
Faktor ini menyatakan bahwa semakin besarnya hubungan suatu objek maka
semakin mudah untuk dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu
dan dengan melihat bentuk ukuran suatu objek individu akan mudah untuk perhatian
pada gilirannya membentuk persepsi.
2) Warna dari objek-objek.
Objek-objek yang mempunyai cahaya lebih banyak, akan lebih mudah
dipahami (to be perceived) dibandingkan dengan yang sedikit.
4. Indikator persepsi
Persepsi memiliki indikator sebagai berikut (Mastuinda et al., 2020) :
a. Penyerapan terhadap rangsang atau objek dari luar individu
Suatu rangsangan yang diterima oleh panca indera, baik penglihatan,
pendengaran, peraba, penciuman, dan pengecapan secara mandiri maupun bersama-
sama. Kemudian hasil penyerapan atau penerimaan oleh alat-alat indera tersebut
menghasilkan gambaran, tanggapan, atau kesan di dalam otak.
b. Pengertian dan pemahaman
Setelah gambaran atau kesan terbentuk di dalam otak, maka gambaran
tersebut diorganisir, diklasifikasikan, dibandingkan, diinterprestasi, sehingga
terbentuk pengertian atau pemahaman.
10
c. Penilaian atau evaluasi
Setelah pemahaman terbentuk, terjadilah penilaian dari individu. Individu
secara subjektif membandingkan pemahaman yang baru mereka peroleh dengan
standar atau norma pribadi. Penilaian dari tiap individu tentunya berbeda-beda
meskipun objeknya sama. Oleh karena itu, persepsi bersifat individual.
5. Pengukuran persepsi
Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang terhadap fenomena sosial. (Laside dan Andaki
2020). Pengukuran persepsi dapat dilakukan menggunakan skala likert dengan
kategori sebagai berikut (Azwar, 2010) :
a. Pernyataan positif
1) Sangat setuju (SS) :4
2) Setuju (S) :3
3) Tidak setuju (TS) :2
4) Sangat tidak setuju (STS) :1
b. Pernyataan negatif
1) Sangat setuju (SS) :1
2) Setuju (S) :2
3) Tidak setuju (TS) :3
4) Sangat tidak setuju (STS) :4
c. Kriteria pengukuran Persepsi
1) Persepsi positif jika nilai > mean/median.
2) Persepsi negatif jika nilai < mean/median.
11
6. Perbedaan Persepsi, Motivasi, dan Sikap
Persepsi adalah pandangan secara umum terhadap suatu objek dilihat dari
beberapa aspek yang dapat dipahami oleh seseorang. Persepsi adalah anggapan
berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang terkadang berbeda pada setiap
individu maupun dengan kondisi yang sebenarnya. Sedangkan motivasi diartikan
sebagai daya penggerak yang menimbulkan semangat dalam diri seseorang untuk
mencapai kepuasan. Motivasi juga dapat diartikan sebagai keadaan internal seseorang
yang mendorong keinginan individu untuk memenuhi keinginan tertentu guna
mencapai suatu tujuan.
Sikap merupakan respon atau reaksi terhadap suatu stimulus yang dilakukan
suatu objek, memihak atau tidak memihak, positif atau negatif terhadap berbagai
situasi sosial (Putri dan Rifai, 2019). Notoatmodjo dalam Shinta (2019) menjelaskan
bahwa sikap mempunyai tiga komponen utama, yaitu :
a. Kepercayaan atau keyakinan, ide, dan konsep mengenai suatu objek.
b. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap suatu objek.
c. Kecenderungan bertindak (tend to behave).
Ketiga komponen tersebut secara bersama sama membentuk sikap yang utuh
(total attitude). Dalam menentukan sikap yang utuh ini, pengetahuan, pikiran,
keyakinan dan emosi memegang peranan penting.
12
B. Konsep Wanita Usia Subur
1. Pengertian wanita usia subur
Wanita usia subur adalah wanita yang berusia antara 15-49 tahun baik yang
berstatus menikah maupun yang belum menikah atau janda. Wanita usia dengan
rentang tersebut organ reproduksinya berfungsi dengan baik. Puncak kesuburan
wanita berada pada usia 20-29 tahun (Lestari, 2020).
2. Ciri-ciri wanita usia subur
a. Siklus menstruasi
Wanita dengan siklus menstruasi yang teratur biasanya memiliki kesuburan
yang baik. Siklus menstruasi dimulai dari hari pertama menstruasi sampai hari
sebelum menstruasi kembali. Biasanya berlangsung selama 28-30 hari. Oleh karena
itu, siklus menstruasi bisa dianggap sebagai tanda awal untuk mengetahui subur atau
tidaknya seorang wanita.
b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik juga dapat mengetahui kesuburan seorang wanita. Beberapa
organ tubuh tertentu, seperti payudara, kelenjar tiroid di leher, dan organ reproduksi
bisa menunjukkan kesuburan seorang wanita. Kelenjar tiroid yang menghasilkan
hormon tiroksin berlebihan akan mengganggu proses ovulasi. Sedangkan
pemeriksaan payudara bertujuan untuk mengetahui hormon prolaktin, dimana kadar
hormon prolaktin yang tinggi akan menghambat terjadinya ovulasi. Selain itu,
pemeriksaan pada sistem reproduksi juga harus dilakukan untuk mengetahui apakah
sistem reproduksi tersebut normal atau tidak.
13
C. Konsep Inspeksi Visual Asam Asetat
1. Pengertian IVA
Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) merupakan salah satu alternatif untuk
mendeteksi dini kanker serviks secara visual dengan menggunakan larutan asam cuka
(asam asetat 3-5%) dan larutan iodium lugol pada serviks kemudian melihat
perubahan warna yang terjadi setelah dilakukan olesan (Tsegaye et al., 2023). Tujuan
pemeriksaan IVA adalah untuk melihat adanya sel yang mengalami displasia sebagai
salah satu metode skrining kanker mulut rahim. IVA positif bila ditemukan adanya
area berwarna putih dan permukaannya meninggi dengan batas yang jelas di sekitar
zona transformasi (Asih et al., 2019).
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 29 Tahun 2017 Tentang
Penanggulangan Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim, kegiatan skrining dan
penemuan dini kanker serviks dilaksanakan oleh dokter umum terlatih atau bidan
terlatih di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Klien atau pasien dengan
hasil tes IVA negatif bisa menjalani tes kembali 3-5 tahun, sedangkan klien atau
pasien dengan hasil IVA positif dilakukan tindak lanjut dengan krioterapi.
Pelaksanaan krioterapi dilakukan paling lambat 1 tahun setelah pertama kali pasien
dinyatakan IVA positif dan pemeriksaan ulang IVA dalam 6 bulan dianjurkan pasca
krioterapi.
Pemeriksaan IVA bisa dilakukan kapan saja, dalam keadaan haid ataupun
sedang minum obat-obatan tertentu. Idealnya pemeriksaan IVA dilakukan setiap 3
tahun pada wanita usia 25-60 tahun (Yulita et al., 2022). Di Indonesia, interval
14
pemeriksaan IVA adalah setahun sekali bila hasil positif dan bila hasil negatif
pemeriksaan dilakukan 5 tahun sekali (Harleanto, 2018).
2. Indikasi pemeriksaan IVA
Semua wanita usia subur dianjurkan untuk melakukan tes kanker. Berdasarkan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 29 Tahun 2017 Tentang Penanggulangan Kanker
Payudara dan Kanker Leher Rahim, persyaratan klien atau pasien yang melakukan
skrining kanker serviks dengan metode IVA sebagai berikut:
a. Wanita yang pernah berhubungan seksual.
b. Wanita berusia 30-50 tahun.
c. Tidak sedang hamil
d. Bersedia dilakukan pemeriksaan IVA
3. Alat dan bahan untuk pemeriksaan IVA
Sebelum melakukan pemeriksaan IVA diperlukan persiapan alat dan bahan
antara lain :
a. Lampu sorot
b. Spekulum berukuran S, M, L
c. Wadah plastik 3 (tiga) buah untuk larutan asam cuka 3-5%, air DTT, dan larutan
klorin.
d. Wadah untuk meletakkan spekulum
e. Larutan asam asetat 3-5%
Larutan asam cuka 25% yang dijual di pasaran dapat digunakan dengan
mengencerkan larutan menjadi 5% dengan perbandingan 1:4 (satu bagian asam cuka
dicampur dengan empat bagian air), contohnya: 10 ml asam cuka 25% dicampur
15
dengan 40 ml air akan menghasilkan 50 ml asam asetat 5% atau 20 ml asam cuka
25% dicampur dengan 80 ml air akan menghasilkan 100 ml asam asetat 5%.
Penggunaan asam asetat 3% maka asam cuka 25% diencerkan dengan air dengan
perbandingkan 1:7 (satu bagian asam cuka dicampur tujuh bagian air), contohnya: 10
ml asam cuka 25% dicampur dengan 70 ml air akan menghasilkan 80 ml asam asetat
3%. Campur asam cuka dengan baik dan buat sesuai kebutuhan hari itu dan jangan
disimpan untuk beberapa hari.
f. Kapas lidi
g. Jelly spekulum
h. Sarung tangan
i. Larutan klorin untuk dekontaminasi alat.
4. Prosedur pemeriksaan IVA
Prosedur pemeriksaan IVA dilakukan sebagai berikut :
a. Memastikan identitas, memeriksa status dan kelengkapan informed consent klien.
b. Meminta klien untuk menanggalkan pakaiannya dari pinggang hingga lutut dan
menggunakan kain yang sudah disediakan.
c. Memposisikan klien dalam posisi litotomi
d. Menutupi area pinggang hingga lutut klien dengan kain
e. Menggunakan sarung tangan.
f. Melakukan vulva hygiene dengan menggunakan air DTT
g. Memasukkan spekulum hingga serviks terlihat jelas
h. Membersihkan serviks dari cairan, darah, dan sekret dengan kapas lidi bersih
i. Memeriksa serviks sesuai langkah-langkah berikut :
16
1) Terdapat kecurigaan kanker atau tidak, apabila ada kecurigaan kanker maka klien
dirujuk dan pemeriksaan IVA tidak dilanjutkan, apabila pemeriksa adalah dokter
obstetri dan ginekologi maka dilakukan biopsi.
2) Identifikasi Sambungan Skuamo Kolumnar (SSK) bila tidak ada kecurigaan
kanker, pemeriksaan mata telanjang tanpa asam asetat dilakukan bila tidak tampak
SSK, lalu beri kesimpulan sementara, misalnya hasil negatif namun SSK tidak
tampak. klien disarankan untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya lebih cepat atau
pap smear maksimal enam bulan lagi.
3) Lakukan IVA bila SSK tampak dengan mengoleskan kapas lidi yang sudah
dicelupkan ke dalam asam asetat 3-5% ke seluruh permukaan serviks
4) Tunggu hasil IVA selama satu menit dengan memperhatikan pakah ada bercak
putih (acetowhite epithelium) atau tidak.
5) Jelaskan kepada klien kapan harus kembali untuk mengulangi pemeriksan IVA
bila hasil IVA negatif.
6) Tentukan metode tata laksana yang akan dilakukan bila IVA positif.
j. Keluarkan spekulum.
k. Buang sarung tangan, kapas, dan bahan sekali pakai lainnya ke dalam container
(tempat sampah) yang tahan bocor. Alat-alat yang dapat digunakan kembali, rendam
dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit untuk dekontaminasi.
l. Jelaskan hasil pemeriksaan kepada klien, kapan melakukan pemeriksaan lagi.
5. Keunggulan pemeriksaan IVA
Beberapa keunggulan pemeriksaan IVA adalah sebagai berikut (Atfa et al.,
2023) :
17
a. Mudah dilakukan, tidak memerlukan teknisi laboratorium untuk pelaksanaannya.
b. Praktis dan mampu terlaksana.
c. Alat yang diperlukan sederhana, tidak memerlukan alat tes laboratorium yang
canggih seperti alat pengambil sampel jaringan, preparat, regen, mikroskop, dan
sebagainya.
d. Tidak memerlukan banyak waktu untuk mendapatkan hasil tes karena hasilnya
langsung bisa diketahui.
e. Sensitifitas IVA dalam mendeteksi kelainan [Link] sekitar 75%.
D. Keteraturan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) keteraturan berarti kesamaan
keadaan, kegiatan, atau proses yang terjadi beberapa kali atau lebih, keadaan atau hal
teratur. Keteraturan pemeriksaan IVA pada wanita usia subur dapat didefinisikan
sebagai suatu perilaku berulang yang dilakukan oleh wanita usia subur dan bersifat
teratur dalam melakukan kegiatan tersebut. Kanker serviks biasanya berkembang
secara perlahan, oleh karena itu sebagian besar kasus dapat diidentifikasi dan
ditangani dengan melakukan skrining secara teratur (Mukti dan Wahyono, 2021).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keteraturan WUS dalam melakukan
pemeriksaan IVA, antara lain :
1. Motivasi
Motivasi merupakan kekuatan, dorongan, kebutuhan, tekanan, dan mekanisme
psikologi sebagai akumulasi faktor-faktor internal dan eksternal. Faktor internal
berasal dari dalam diri individu itu sendiri, sedangkan faktor eksternal berasal dari
18
luar individu. Faktor internal dapat pula disebut sebagai akumulasi aspek-aspek
internal individu, seperti kepribadian, intelegensi, ciri-ciri fisik, kebiasaan, kesadaran,
minat, bakat, kemauan, spirit, antusiasme, dan sebagainya. Faktor eksternal
bersumber dari lingkungan, lingkungan fisik, sosial, tekanan dan regulasi
keorganisasian (Merani, 2021). Semakin baik motivasi yang dimiliki oleh WUS,
maka semakin banyak WUS yang mau melakukan deteksi dini kanker serviks dengan
metoda pemeriksaan IVA. Hal ini juga sesuai bahwa motivasi adalah dorongan dari
dalam diri manusia untuk bertindak atau berperilaku. Motivasi dalam hal ini
merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan, menentukan
arah perbuatan yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai (Suartini et al., 2021).
2. Sikap
Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan
merupakan pelaksanaan motif tertentu (Mustofa1 et al., 2021). Sikap mempengaruhi
perilaku pemeriksaan IVA. Sebagian besar WUS yang memiliki sikap kurang
terhadap pemeriksaan IVA bisa disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya akses
informasi yang berkaitan dengan pengetahuan WUS, dan nantinya menyebabkan
terbatasnya pengetahuan yang didapatkan WUS sehingga sikap yang terbentuk
menjadi tidak baik (Wulandari, 2018).
19