0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan18 halaman

Pengaruh Anggaran Partisipatif SKPD Bengkulu

Diunggah oleh

Orans Fabeoki St
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan18 halaman

Pengaruh Anggaran Partisipatif SKPD Bengkulu

Diunggah oleh

Orans Fabeoki St
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Fairness Volume 3, Nomor 2, 2013: 213-230 ISSN 2303-0348

PENGARUH IMPLEMENTASI ANGGARAN PARTISIPATIF,


TRANSPARANSI, AKUNTABILITAS DAN ANGGARAN BERBASIS
KINERJA TERHADAP KINERJA SATUAN KERJA PERANGKAT
DAERAH

Meta Herlia
Program Magister Akuntansi Universitas Bengkulu

Fachruzzaman
Baihaqi
Jurusan Akuntansi Universitas Bengkulu

ABSTRACT
This study examined the effect of the implementation of participatory budgeting,
transparency, accountability, and performance-based budgeting to performance Unit
(SKPD) Bengkulu provincial government. The study was a descriptive survey method. Data
were obtained from the employee personnel involved in budget preparation on all SKPD in
Bengkulu province government. Data obtained using a questionnaire given to the
respondents directly.
Based on data from 56 respondents who participated in the study, the research found that
the simultaneous implementation of participatory budgeting, transparency, accountability,
and performance-based budgeting affect the performance of the Regional Working Units
(SKPD) Bengkulu provincial government. Only partial implementation of transparency and
performance-based budgeting that have a significant positive impact on the performance of
the government on education Bengkulu province.

Keywords: Anggaran Partisipatif, Transparansi, Akuntabilitas, Anggaran Berbasis


Kinerja, Kinerja Satuan Kerja Perangkat

PENDAHULUAN
Implementasi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara dan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Otonomi Daerah serta Undang-Undang
Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah membuka wacana baru dalam pengelolaan keuangan pemerintah daerah.
Selanjutnya pemerintah juga mengeluarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 Tentang
Perbendaharaan Negara dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan
Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara.
Untuk lebih memberikan pedoman dan arah dalam pengelolaan pemerintahan dan
keuangan bagi pemerintah daerah dengan rinci, maka dikeluarkanlah Peraturan Menteri
Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006, yang kemudian diperbaiki dengan
Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 dan terakhir diperbaiki dengan Permendagri Nomor 21
Tahun 2011 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Undang-Undang ini
memberikan aturan dan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk lebih dominan dalam
menentukan arah dan kebijakan pembangunan daerah dengan tetap berpedoman kepada arah
dan kebijakan pembangunan nasional. Siregar (2010) mengatakan bahwa beralihnya
kewenangan pengelolaan pembangunan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah
memberikan tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah untuk lebih fokus dalam
pengelolaan pembangunan daerah.
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 214

Anggaran adalah sebuah proses yang dilakukan oleh organisasi sektor publik untuk
mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya ke dalam kebutuhan-kebutuhan yang tidak
terbatas (Nordiawan, 2006). Mardiasmo (2005) menyatakan terdapat beberapa alasan
pentingnya anggaran sektor publik yaitu: (a) anggaran merupakan alat bagi pemerintah
untuk mengarahkan pembangunan sosial-ekonomi, menjamin kesinambungan, dan
meningkatkan kualitas hidup masyarakat, (b) anggaran diperlukan karena adanya masalah
keterbatasan sumber daya (scarcity of resources), pilihan (choise) dan trade offs. (c)
anggaran diperlukan untuk meyakinkan bahwa pemerintah telah bertanggung jawab
terhadap rakyat. Rahayu, dkk (2007) mengatakan bahwa, mengingat pentingnya anggaran
sektor publik maka Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) harus disusun
berdasarkan prinsip-prinsip pokok anggaran sektor publik. Permendagri Nomor 59 Tahun
2007 menyatakan bahwa dalam penyusunan APBD harus memperhatikan prinsip-prinsip:
(a) Partisipasi, (b) Transparansi dan Akuntabilitas Anggaran, (c) Disiplin Anggaran, (d)
Keadilan Anggaran, (e) Efisiensi dan Efektivitas Anggaran, dan (f) Taat Asas.
Partisipasi dalam penyusunan anggaran merupakan tingkat seberapa besar
keterlibatan dan pengaruh manajer dalam proses penyusunan anggaran baik secara periodik
maupun tahunan (Brownell, 1982 dalam Nanda, 2010). Partisipasi penyusunan anggaran
diyakini akan memberikan pemahaman yang tinggi di kalangan pegawai/karyawan terhadap
anggaran yang dibuat tersebut. Hasil penelitian tersebut ada yang menunjukkan hubungan
negatif signifikan antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial
(Cambell dan Gingrich, 1986; Ivancevich, 1977 dalam Supriyono, 2004). Kemudian juga
ada yang menemukan bahwa partisipasi penyusunan anggaran berhubungan positif
signifikan dengan kinerja (Browell dan Mclnes, 1986; Chenhall dan Brownell, 1988; Early,
1985; Strees, 1975 dalam Supriyono, 2004). Selanjutnya penelitian yang berkaitan
menemukan bahwa tidak ada pengaruh partisipasi penyusunan anggaran ke kinerja (Dosett,
Latham dan Mitchell, 1979; Mia, 1998; Latham dan Marshall, 1982 dalam Supriyono,
2004).
Rahayu dkk (2007) mengatakan bahwa makna dari akuntabilitas dan transparansi
dalam penganggaran dapat dilihat dalam dua hal yaitu; (1) salah satu wujud
pertanggungjawaban pemerintah kepada rakyat, dan (2) upaya peningkatan manajemen
pengelolaan dan penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan mengurangi kesempatan
praktek kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN). Salah satu cara untuk mewujudkan
pertanggungjawaban pemerintah daerah terhadap warganya yaitu menggunakan prinsip
transparansi. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
membuka koridor baru bagi implementasi konsep akuntabilitas serta transparansi ini di
lingkungan pemerintah. Penerapan azas akuntabilitas dan transparansi dalam
penyelenggaraan pemerintahan daerah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk
mengetahui berbagai informasi tentang penyelenggaraan pemerintahan daerah secara benar,
jujur dan tidak diskriminatif (Rahmanurrasjid, 2008). Konsekuensi dari transparansi
pemerintahan adalah terjaminnya akses masyarakat dalam berpartisipasi, utamanya dalam
proses pengambilan keputusan (Fernandez, 2004). Isu penting lainnya dalam penganggaran
pemerintah daerah yang merupakan isu penelitian ini adalah tentang penerapan anggaran
berbasis kinerja. Pendekatan anggaran berbasis kinerja ini mengatakan bahwa besarnya
alokasi anggaran didasarkan atas target prestasi kinerja yang diusulkan oleh instansi
pengusul (Yusriati, 2007).
Berdasarkan uraian di atas yang berkaitan dengan betapa pentingnya hal yang perlu
diperhatikan dalam proses penganggaran yang meliputi implementasi partisipasi dalam
penganggaran, implementasi akuntabilitas dan transparansi dalam penganggaran,
implementasi anggaran berbasis kinerja yang mempunyai kaitan dengan peningkatan kinerja
pengelolaan pemerintahan, maka peneliti ingin melakukan penelitian lebih lanjut terhadap
fenomena ini. Isu penelitian ini merupakan gabungan dari beberapa penelitian terdahulu
(Siregar, 2010; Julianto, 2009; Desvertika, 2008; Ismiarti, 2012; dan Supriyono, 2005) yang
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 215

melihat fenomena di atas. Penelitian terdahulu tersebut masih melihat permasalahan


penelitian pada masing-masing variabel yang pengaruhnya kepada kinerja. Penelitian ini
mencoba menggabungkan berbagai variabel tersebut dalam satu model penelitian karena
masing-masing variabel tersebut mempunyai kaitan. Harapannya adalah didapatkan model
komprehensif tentang proses penganggaran pada organisasi pemerintahan sesuai dengan
harapan implementasi Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 dalam proses penyusunan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Penelitian ini mencoba membuktikan
fenomena tersebut pada pemerintah daerah yaitu pada Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) sebagai unit/satker pada Pemerintah Provinsi Bengkulu.
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah dari
penelitian ini adalah: a. Apakah implementasi anggaran partisipatif berpengaruh terhadap
kinerja? b. Apakah implementasi prinsip akuntabilitas dalam penganggaran berpengaruh
terhadap kinerja? c. Apakah implementasi prinsip transparansi dalam penganggaran
berpengaruh terhadap kinerja? D. Apakah implementasi anggaran berbasis kinerja
berpengaruh terhadap kinerja? Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini
adalah untuk menguji dan membuktikan: a. Implementasi anggaran partisipatif
berpengaruh terhadap kinerja b. Implementasi prinsip akuntabilitas dalam penganggaran
berpengaruh terhadap kinerja. c. Implementasi prinsip transparansi dalam penganggaran
berpengaruh terhadap kinerja. d. Implementasi anggaran berbasis kinerja berpengaruh
terhadap kinerja

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anggaran
Anggaran adalah alokasi sumberdaya yang dimiliki dalam mencapai tujuan. Anthony dan
Govindarajan (2005) menyatakan bahwa anggaran merupakan alat penting untuk
perencanaan dan pengendalian jangka pendek yang efektif dalam organisasi. Hansen dan
Mowen (2004) mengatakan bahwa anggaran merupakan elemen utama dari perencanaan
yang memuat tujuan dan tindakan dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut dan terdapat dua
dimensi dalam penganggaran yaitu bagaimana anggaran dibuat dan bagaimana anggaran
digunakan untuk mengimplementasikan rencana organisasi. Anggaran mempunyai fungsi
yang pada dasarnya sama dengan manajemen (Nafarin, 2004) yang meliputi: fungsi
perencanaan; fungsi koordinasi; dan fungsi pengawasan. Ada dua pedekatan dalam proses
penyusunan anggaran sebagaimana dikemukakan oleh Anthony dan Govindarajan (2005),
yaitu pendekatan dari atas ke bawah (top down approach) dan pendekatan dari bawah ke
atas (bottom up approach).

2.2 Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)


Undang-Undang (UU) Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah menyatakan bahwa asas umum manajemen
keuangan daerah adalah: (1) keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan
memperhatikan keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat; (2) APBD, perubahan
APBD, dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD setiap tahun ditetapkan dengan
peraturan daerah; (3) APBD mempunyai fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi,
distribusi, dan stabilitasi; (4) semua penerimaan dan pengeluaran daerah dalam tahun
anggaran yang bersangkutan harus dimasukkan dalam APBD; (5) surplus dapat digunakan
untuk membiayai pengeluaran daerah tahun anggaran berikutnya; dan (6) penggunaan
surplus APBD dimaksudkan untuk membentuk dana cadangan atau penyertaan dalam
perusahaan daerah harus memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari pada DPRD.
Renyowijoyo (2008) dalam Suparno (2012) mengatakan bahwa fungsi anggaran
(APBD/APBN) bagi pemerintah adalah: (1) sebagai pedoman pemerintah dalam mengelola
daerah/Negara pada periode mendatang; (2) alat pengawasan bagi masyarakat terhadap
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 216

kebijakan pemerintah; (3) dan alat pengawasan terhadap kemampuan pelaksanaan kebijakan
pemerintah. Noordiawan (2007) mengatakan bahwa fungsi utama anggaran sektor publik
adalah: (1) sebagai alat perencanaan, (2) alat pengendalian, (3) alat kebijakan fiskal, (4) alat
politik, (5) alat koordinasi dan komunikasi, (6) alat penilaian kinerja, (7) alat motivasi dan
alat menciptakan ruang publik. Halim (2001) dalam Suparno (2012) mengatakan bahwa
agar strategi yang telah ditetapkan dapat dicapai, maka pemerintah daerah perlu untuk tetap
memiliki komitmen bahwa Anggaran

2.1 Anggaran Partisipatif


Robbins (2003) mengatakan bahwa partisipasi merupakan suatu konsep dimana bawahan
ikut terlibat dalam pengambilan keputusan sampai tingkat tertentu bersama atasannya.
Kennis (1979) dalam Ghozali (2005) menyatakan pada penyusunan dengan menggunakan
pendekatan partisipasi, informasi anggaran yang didapat oleh manajemen puncak digunakan
untuk mengevaluasi kinerja manajerial fungsional dan mendistribusikan penghargaan dan
hukuman. Selain itu Hansen dan Mowen (2004) mengatakan bahwa penyusunan anggaran
untuk pengendalian, evaluasi kerja, komunikasi, dan koordinasi menyiratkan untuk
membawa banyak dimensi perilaku.
Partisipasi dalam penyusunan anggaran memiliki beberapa keunggulan. Soepomo
dan Indriantoro (1998) berpendapat bahwa kinerja dinyatakan efektif apabila tujuan
anggaran tercapai dan bawahan mendapat kesempatan terlibat dan berpartisipasi dalam
proses penyusunan anggaran serta memotivasi bawahan mengidentifikasi dan melakukan
negosiasi dengan atasan mengenai target anggaran, menerima kesepakatan anggaran dan
melaksanakannya. Anthony dan Govindarajan (2005) menyatakan bahwa penganggaran
partisipasif memiliki dua keunggulan yaitu:
1) Tujuan anggaran akan dapat lebih mudah diterima apabila anggaran tersebut berada di
bawah pengawasan manajer.
2) Penganggaran partisipasi menghasilkan pertukaran informasi yang efektif antara
pembuat anggaran dan pelaksana anggaran yang dekat dengan produk dan pasar.

2.2 Akuntabilitas Dalam Proses Penganggaran


Di Indonesia konsep akuntabilitas memang bukan merupakan hal yang baru, hampir seluruh
instansi dan lembaga-lembaga pemerintah menekankan konsep akuntabilitas ini khususnya
dalam menjalankan fungsi administratif pemerintahan. Tuntutan masyarakat ini muncul
karena pada masa orde baru konsep akuntabilitas tidak mampu diterapkan secara konsisten
yang pada akhirnya menjadi salah satu penyebab lemahnya birokrasi dan menjadi pemicu
munculnya berbagai penyimpangan dalam pengelolaan keuangan dan administrasi negara di
Indonesia (Arifiyadi, 2005). Akuntabilitas dapat diartikan sebagai bentuk kewajiban
mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam
mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya, melalui suatu media
pertanggungjawaban yang dilaksanakan secara periodik (Stanbury, 2003 dalam Mardiasmo,
2006). Pada dasarnya, akuntabilitas adalah pemberian informasi dan pengungkapan
(disclosure) atas aktivitas dan kinerja finansial kepada pihak-pihak yang berkepentingan
(Mardiasmo, 2006). Sebagian besar pemerintah daerah lebih menitikberatkan
pertanggungjawabannya kepada DPRD daripada masyarakat luas (Mardiasmo, 2006).
Sedarmayanti (2003) menyatakan bahwa akuntabilitas merupakan dasar pelaporan
keuangan di pemerintahan yang didasari oleh adanya hak masyarakat untuk mengetahui dan
menerima penjelasan atas pengumpulan sumber daya dan penggunaannya. Akuntabilitas
memungkinkan masyarakat untuk menilai pertanggungjawaban pemerintah atas semua
aktivitas yang dilakukan. Krina (2003) mengatakan akuntabilitas sebagai prasyarat bahwa
setiap aktivitas yang berkaitan dengan kepentingan publik perlu
mempertanggungjawabkannya kepada publik. Tanggung jawab tidak hanya diberikan
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 217

kepada atasan saja melainkan juga kepada para pemegang saham (stake holder), yaitu
masyarakat luas. Wiranto (2012) mengatakan bahwa ada tiga dimensi dari akuntabilitas
publik yang perlu diperhatikan yaitu: 1) Akuntabilitas Politik; 2) Akuntabilitas Finansial; 3)
Akuntabilitas administratif.

2.3 Transparansi dalam Proses Penganggaran


Transparansi (keterbukaan) dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah azas yang
membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur dan
tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan pemerintahan daerah dengan tetap
memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan dan rahasia negara.
Transparansi adalah keterbukaan pemerintah dalam membuat pengelolaan keuangan daerah,
sehingga dapat diketahui dan diawasi oleh DPRD dan masyarakat. Transparansi pengelolaan
keuangan daerah pada akhirnya akan menciptakan horizontal accountability antara
pemerintah daerah dengan masyarakatnya, sehingga tercipta pemerintah daerah yang bersih,
efektif, efisien, akuntabel, dan responsif terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat
(Suparno, 2012). Menurut Mardiasmo (2004), transparansi berarti keterbukaan (opensess)
pemerintah dalam memberikan informasi yang terkait dengan aktivitas pengelolaan
sumberdaya publik kepada pihak-pihak yang membutuhkan informasi.
Untuk melaksanakan itu semua, media membutuhkan kebebasan pers sehingga
dengan adanya kebebasan pers maka pihak media akan terbebas dari intervensi pemerintah
maupun pengaruh kepentingan bisnis (Wiranto, 2012). Dilihat dari sisi proses penganggaran,
anggaran yang disusun oleh pihak eksekutif dikatakan transparan jika: a) terdapat
pengumuman kebijakan anggaran; 2) tersedia dokumen anggaran dan mudah diakses; 3)
tersedia laporan pertanggungjawaban yang tepat waktu; dan 4) terdapat sistem pemberian
informasi kepada publik (Sopanah dan Mardiasmo, 2003). Mardiasmo (2005) Mengatakan
bahwa informasi sosial, ekonomi, dan politik yang andal (reliable) dan berkala haruslah
tersedia dan dapat diakses oleh publik (biasanya melalui filter media massa yang
bertanggung jawab). Sedangkan transparansi penyelenggaraan pemerintah daerah dalam
hubungannya dengan pemerintah daerah perlu kiranya perhatian terhadap beberapa hal
berikut; (1) publikasi dan sosialisasi kebijakan-kebijakan pemerintah daerah dalam
penyelenggaraan pemerintahan daerah, (2) publikasi dan sosialisasi regulasi yang
dikeluarkan pemerintah daerah tentang berbagai perizinan dan prosedurnya, (3) publikasi
dan sosialisasi tentang prosedur dan tata kerja dari pemerintah daerah, (4) transparansi
dalam penawaran dan penetapan tender atau kontrak proyek-proyek pemerintah daerah
kepada pihak ketiga, (5) kesempatan masyarakat untuk mengakses informasi yang jujur,
benar dan tidak diskriminatif dari pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan
daerah (Rahmanurrasjid, 2008).

2.4 Anggaran Berbasis Kinerja


Penerapan anggaran berbasis kinerja pada instansi pemerintah di Indonesia dicanangkan
melalui pemberlakuan Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara
dan diterapkan secara bertahap mulai tahun anggaran 2005. Secara yuridis, definisi anggaran
berbasis kinerja adalah penyusunan anggaran dengan memperhatikan keterkaitan antara
pendanaan dengan keluaran dan hasil yang diharapkan termasuk efisiensi dalam pencapaian
hasil dan keluaran tersebut. Dalam penganggaran berbasis kinerja diperlukan sektor
indikator kinerja, standar biaya dan evaluasi kinerja dari setiap program dan jenis kegiatan
(Siregar, 2010). Penyusunan APBD berbasis prestasi kerja atau kinerja dilakukan
berdasarkan capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga,
dan standar pelayanan minimal. Dalam penyelenggaraannya, pemerintah daerah dituntut
lebih responsif, transparan, dan akuntabel terhadap kepentingan masyarakat (Mardiasmo,
2006).
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 218

Menurut Mardiasmo (2005) performance budget pada dasarnya adalah sistem


penyusunan dan pengelolaan anggaran daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil atau
kinerja. Kinerja tersebut mencerminkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik, yang
berarti berorientasi pada kepentingan publik. Siregar (2010) mengatakan bahwa proses
penyusunan anggaran daerah terlebih dahulu mengakomodir dan menyeleksi kebutuhan
masyarakat yang akan dipenuhi dalam jangka waktu tertentu sehingga angka-angka yang
tercantum dalam anggaran sebanding dengan pemenuhuhan atas kebutuhan masyarakat
tersebut. Mahmudi (2007) mengatakan bahwa performance budgeting adalah suatu struktur
anggaran yang (1) terfokus pada aktivias atau fungsi penciptaan suatu produk atau hasil dan
darimana sumber daya yang digunakannya, serta (2) menunjukkan proses penganggaran
yang berupaya mengaitkan antara tujuan organisasi dengan penggunaan sumber dayanya.
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah menyatakan bahwa anggaran dengan pendekatan kinerja adalah suatu sistem
anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja atau output dari alokasi biaya
atau input yang ditetapkan. Permendagri Nomor 59 tahun 2007 yang telah diperbaiki
dengan Nomor 21 Tahun 2011 menyatakan bahwa anggaran berbasis kinerja adalah: 1)
suatu sistem anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja atau output dari
perencanaan alokasi biaya atau input yang ditetapkan; 2) didasarkan pada tujuan dan
sasaran kinerja; 3) penilaian kinerja didasarkan pada pelaksanaan value for money dan
efektivitas anggaran; 4) anggaran kinerja merupakan sistem yang mencakup kegiatan
penyusunan program dan tolok ukur (indikator) kinerja sebagai instrumen untuk mencapai
tujuan program. Mahmudi (2007) untuk dapat mengimplementasikan anggaran berbasis
kinerja, harus diketahui langkah-langkah yang meliputi: a) pengembangan suatu struktur
program atau aktivitas untuk masing-masing badan; b) memodifikasi sistem akuntansi
sehingga biaya untuk masing-masing program dapat ditetapkan; c) mengidentifikasi ukuran
kinerja pada tingkat aktivitas; d) menghubungkan biaya dengan ukuran kinerja; dan e)
membangun sistem monitoring sehingga penyimpangan (variance) antara target dengan
aktual dapat diketahui.

2.5 Kinerja Pemerintah Daerah (SKPD)


Berdasarkan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara, dijelaskan
bahwa penyusunan APBD dilakukan dengan mengintegrasikan program dan kegiatan
masing-masing satuan kerja (SKPD) di lingkungan pemerintah daerah untuk mencapai
sasaran dan tujuan yang ditetapkan. Julianto (2009) mengatakan bahwa harapan dari
kebijakan ini adalah tercipta sinergi dan rasionalitas yang tinggi dalam mengalokasikan
sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tidak terbatas.
Melalui suatu pengukuran kinerja, keberhasilan suatu instansi pemerintah akan lebih dilihat
dari kemampuan instansi tersebut berdasarkan sumber daya yang dikelolanya untuk
mencapai hasil sesuai dengan rencana yang telah dituangkan dalam perencanaan strategis
(Mahmudi, 2007). Lebih lanjut Tangkilisan (2005) dalam Rahman (2012) mengakatan
bahwa kriteria penilaian yang dapat dijadikan acuan untuk mengukur kinerja organisasi
publik adalah: a) responsiveness, mengacu pada keselarasan antara program dan kegiatan
pelayanan yang diberikan oleh organisasi publik dengan kebutuhan dan keinginan
masyarakat.
Dalam rangka mengukur tingkat keberhasilan suatu instansi pemerintah sangat
dibutuhkan adanya indikator yang jelas oleh stakeholders. Indikator kinerja adalah ukuran
kuantitaif dan/atau kualitatif yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu sasaran atau
tujuan yang telah ditetapkan. Dengan indikator kinerja, suatu organisasi mempunyai wahana
yang jelas bagaimana dia akan dikatakan berhasil atau tidak berhasil di masa yang akan
datang (Mahmudi, 2007). Value For Money (VFM) merupakan konsep pengelolaan
organisasi sektor publik yang mendasarkan pada tiga jenis elemen yaitu: ekonomi, efisiensi,
dan efektifitas (Renyowijoyo, 2008). Ekonomi merupakan perolehan pemasukan (input)
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 219

dengan kualitas dan kuantitas tertentu dengan harga terendah yang merupakan perbandingan
antara masukan yang terjadi dengan nilai masukan yang seharusnya. Efisiensi merupakan
pencapaian keluaran (output) yang maksimum dengan masukan tertentu dengan penggunaan
masukan terendah untuk mencapai keluaran tertentu. Efektivitas merupakan tingkat
pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan (Suparno, 2012). Penggunaan
publik hendaknya tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu saja melainkan secara
merata (Suparno, 2012). Selanjutnya Ulum (2009) mengatakan bahwa pembahasan VFM
menyangkut apa yang dikenal dengan 3 E yaitu ekonomi, efisiensi dan efektivitas.

2.6 Penelitian Terdahulu dan Perumusan Hipotesis


2.6.1 Implementasi Anggaran Partisipatif dan Kinerja SKPD
Partisipasi penyusunan anggaran diharapkan dapat meningkatkan kinerja, ketika tujuan telah
direncanakan dan disetujui secara partisipatif, pegawai/karyawan akan menginternalisasi
tujuan tersebut dan mereka akan memiliki tanggung jawab secara personal untuk
mencapainya melalui keterlibatan dalam proses anggaran yang pada akhirnya akan
meningkatkan kinerja organisasi (Milani, 1975 dalam Nanda, 2008). Menurut Brownell
(1982) dalam Nanda (2008) partisipasi umumnya dinilai sebagai suatu pendekatan
manajerial yang dapat meningkatkan kinerja anggota organisasi yang sekaligus berdampak
terhadap kinerja organisasi. Partisipasi dalam penganggaran dapat meningkatkan kinerja: 1)
partisipasi memungkinkan bawahan untuk mengkomunikasikan apa yang dibutuhkan oleh
manajer dan karyawan kepada atasannya; 2) partisipasi dapat memungkinkan bawahan
untuk memilih dan tindakan memilih tersebut dapat membangun komitmen dan dianggap
sebagai tanggung jawab atas apa yang telah dipilih.
Indriantoro (1993) dalam Supriyono (2004) menemukan hubungan yang positif
antara partisipasi penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial. Beberapa peneliti
sebelumnya menunjukan bukti bahwa partisipasi penyusunan anggaran mempunyai efek
positif yang kuat terhadap kinerja manajerial seperti yang ditunjukkan oleh hasil penelitian
Riyadi (2000), Supriyono (2004), Eker (2007) yang menunjukkan bahwa partisipasi yang
tinggi mempunyai pengaruh positif terhadap kinerja manajerial. Sinambela (2003) dengan
judul pengaruh partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi dalam penyusunan anggaran mempunyai
pengaruh yang positif terhadap kinerja manajerial.
H1: Implementasi Anggaran Partisipatif Berpengaruh Positif Terhadap Kinerja SKPD

2.6.2 Implementasi Akuntabilitas dalam Penganggaran dan Kinerja SKPD


Makna dari akuntabilitas dapat dilihat dalam dua hal yaitu: salah satu wujud
pertanggungjawaban pemerintah kepada rakyat, dan upaya peningkatan manajemen
pengelolaan dan penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan mengurangi kesempatan
praktek kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN). Untuk menciptakan akuntabilitas kepada
publik diperlukan partisipasi pimpinan instansi dan warga masyarakat dalam penyusunan
dan pengawasan program/kegiatan dan anggaran (Rubin, 1996 dalam Werimon, 2007).
Tuntutan masyarakat akan implementasi akuntabilitas ini muncul karena pada masa orde
baru konsep akuntabilitas tidak mampu diterapkan secara konsisten di setiap lini
pemerintahan yang pada akhirnya menjadi salah satu penyebab terjadinya berbagai
penyimpangan (Arifiyadi, 2005). Konsep ini menekankan bahwa laporan keuangan
pemerintah harus dapat memberikan informasi yang dibutuhkan para pemakainya dalam
pembuatan keputusan ekonomi, sosial dan politik (Halim, 2002).
Menurut Krina (2003) akuntabilitas berhubungan dengan kewajiban dari institusi
pemerintahan maupun para aparat yang bekerja di dalamnya untuk membuat kebijakan
maupun melakukan aksi yang sesuai dengan nilai yang berlaku maupun kebutuhan
masyarakat. Akuntabilitas sebagai bentuk kewajiban mempertanggungjawabkan
keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 220

yang telah ditetapkan sebelumnya, melalui suatu media pertanggungjawaban yang


dilaksanakan secara periodik (Stanbury, 2003 dalam Rahmanurrasjid, 2008). Anggaran
tahunan secara khusus mempunyai otoritas legal untuk pengeluaran dana publik, sehingga
proses penganggaran secara keseluruhan menjadi relevan untuk manajemen fiskal dan untuk
melaksanakan akuntabilitas keuangan dan pengendalian pada berbagai tingkat operasi
(Shende dan Bennet, 2004 dalam Pasaribu, 2011). Siregar (2011) membuktikan
akuntabilitas publik secara parsial berpengaruh positif signifikan terhadap pengelolaan
APBD. Ini menandakan bahwa implementasi akuntabilitas pada pengelolaan pemerintahan
mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan telah mampu meningkatkan kinerja
pengelolaan APBD.
H2: Implementasi Akuntabilitas Dalam Penganggaran Berpengaruh Positif Terhadap
Kinerja SKPD

2.6.3 Implementasi Transparansi dalam Penganggaran dan Kinerja SKPD


Transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah azas yang membuka diri
terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur dan tidak
diskriminatif tentang penyelenggaraan pemerintahan daerah (termasuk penganggaran)
dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan dan rahasia
negara. Implementasi transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah
memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengetahui berbagai informasi tentang
penyelenggaraan pemerintahan daerah secara benar, jujur dan tidak diskriminatif
(Rahmanurrasjid, 2008). Kondisi yang mengharuskan pemerintah memberikan informasi
seluas-luasnya kepada masyarakat terkait pengelolaan pemerintahan secara tidak langsung
pengelola pemerintahan berusaha untuk memberikan yang terbaik (kinerja terbaik) kepada
masyarakat dengan meningkatkan pencapaian tujuan pemerintahan sesuai dengan visi dan
misi.
Praktik kepemerintahan yang baik mensyaratkan bahwa pengelolaan dan keputusan
manajemen publik harus di lakukan secara terbuka dengan ruang partisipasi sebesar-
besarnya bagi masyarakat yang terkena dampaknya. Konsekuensi dari transparansi
pemerintahan adalah terjaminnya akses masyarakat dalam berpartisipasi, utamanya dalam
proses pengambilan keputusan (Fernandez, 2004). Transparansi adalah prinsip yang
menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang
penyelenggaraan pemerintahan, yakni informasi tentang kebijakan, proses pembuatan dan
pelaksanaannya, serta hasil-hasil yang dicapai. (Werimon, dkk, 2007). Keterbukaan dan
keiukutsertaan masyarakat dalam melakukan kontrol terhadap perencanaan, pelaksanaan,
dan pertanggungjawaban pengelolaan APBD mengharuskan pemerintah untuk
melaksanakan APBD dengan sungguh-sungguh, teliti dan benar sesuai aturan, serta selalu
berpihak kepada rakyat.
H3: Implementasi Transparansi Dalam Penganggaran Berpengaruh Positif Terhadap
Kinerja SKPD

2.6.4 Implementasi Anggaran Berbasis Kinerja dan Kinerja SKPD


Ikhsan (2006) dalam Julianto (2009) mengatakan bahwa performance budgeting adalah
suatu struktur anggaran yang terfokus pada aktivias atau fungsi penciptaan suatu produk
atau hasil dan darimana sumber daya yang digunakannya. Dalam hal ini prinsip anggaran
terfokus pada peningkatan efisiensi dengan cara pengklasifikasian aktivitas dan pengukuran
biaya sehingga mampu mencapai tujuan. Asmoko (2006) dalam Siregar (2010) telah
melakukan penelitian tentang penganggaran berbasis kinerja. Hasil penelitiannya
membuktikan bahwa penganggaran berbasis kinerja berpengaruh positif signifikan terhadap
efektifitas pengendalian keuangan dan efektivitas pengendalian kinerja pada Pemerintah
Daerah. Hasil penelitian ini mendukung adanya hubungan kausalitas antara penganggaran
berbasis kinerja dengan efektivitas pengendalian keuangan dan efektivitas kinerja.
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 221

Yusriati (2007) melakukan penelitian tentang pengaruh anggaran berbasis kinerja


terhadap kinerja SKPD. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa ada pengaruh positif dan
signifikan penerapan anggaran berbasis kinerja pada SKPD terhadap kinerja SKPD itu
sendiri. Selanjutnya Julianto (2009) melakukan penelitian tentang pengaruh penerapan
anggaran berbasis kinerja terhadap kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah. Dengan
menggunakan seluruh pejabat SKPD di lingkungan Pemda Tebing Tinggi yang terlibat
dalam proses penganggaran dibuktikan bahwa penerapan anggaran berbasis kinerja
berpengaruh terhadap kinerja SKPD. Siregar (2010) meneliti tentang penerapan anggaran
berbasis kinerja dan keadilan procedural terhadap kinerja manajerial SKPD. Dengan
menggunakan responden pejabat pengelola keuangan di SKPD. Hasil penelitiannya
membuktikan bahwa penerapan anggaran berbasis kinerja pada SKPD mampu
mempengaruhi kinerja manajerial SKPD.
H4: Implementasi Anggaran Berbasis Kinerja Berpengaruh Positif Terhadap Kinerja
SKPD

METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode survey, yaitu penelitian yang
dilakukan pada populasi besar maupun kecil tetapi data yang dipelajari adalah data dari
sampel yang diambil dari populasi tersebut. Dalam sektor publik penelitian ini disebut juga
penelitian kausal komparatif, yaitu penelitian yang ditujukan untuk mengetahui hubungan
antara berbagai variabel penelitian (Sugiyono, 2012).

3.2 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel


Ringkasan Variabel dapat digambarkan sebagai berikut:
Butir
Variabel Indikator Jenis Data
Pernyataan
Kinerja Pencapaian target kinerja, Kesesuaian realisasi Interval 7
Pemerintah dengan anggaran, Pencapaian efesiensi
Daerah (SKPD) operasional, Ketepatan dan kesesuaian hasil,
Pencapaian program, Dampak hasil kegiatan
terhadap kehidupan masyarakat, dan Moral
perilaku pegawai
Implementasi Keterlibatan dalam penyusunan anggaran Interval 9
Anggaran (APBD), Pengaruh yang dirasakan dalam
Parstisipatif penyusunan anggaran, Peran dalam
penyusunan anggaran, serta Pencapaian target
anggaran
Implementasi Ada dokumen tentang kebijakan (Renstra, Interval 14
Akuntabilitas RKPD), Program kerja yang jelas, Metode
dalam penetapan target anggaran dan standarisasi
Penganggaran biaya, Evaluasi kegiatan dan dokumentasi,
Laporan pertanggungjawaban, Pelaksanaan
anggaran dan Informasi, Kebijakan jabatan,
dan Efesiensi dan efektivitas anggaran.
Implementasi Keterlibatan masyarakat dalam proses Ordinal 14
Transparansi anggaran, Akses informasi masyarakat terkait
dalam proses anggaran, program/kegiatan, dan
Penganggaran kebijakan, Laporan tepat waktu, Kepercayaan
masyarakat dalam penyusunan RKA, Media
pelaporan, Standar pelayanan, Tidak ada
keluhan masyarakat, Pengetahuan pengelolaan
anggaran, dan Sistem keterbukaan anggaran
Implementasi Panduan capaian kinerja, Indikator kinerja, Interval 8
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 222

Anggaran Analisis standar belanja, Standar satuan harga,


Berbasis dan Standar pelayanan minimal, Anggaran
Kinerja mempunyai indikator yang jelas tentang input,
output dan outcome; Kesesuaian pengeluaran
dengan hasil, dan Program/kegiatan telah
sejalan dengan sasaran

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi dan sample dalam penelitian ini adalah seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) yaitu sebanyak 40 SKPD pada pemerintah Provinsi Bengkulu, sehingga metode
sample yang digunakan adalah sensus. SKPD yang dimaksud adalah seluruh Dinas, Kantor,
Badan yang dalam Standar Akuntansi Pemerintahan disebut sebagai entitas akuntansi pada
Pemerintah Provinsi Bengkulu. Sumber data diperoleh dari pegawai/manajer tingkat
menengah yang terlibat dalam penyusunan anggaran pada SKPD yang ada di pemerintah
Provinsi Bengkulu. Kriteria sampel adalah pegawai/manajer yang memiliki masa kerja
minimal dua tahun untuk meyakini bahwa para pegawai/manajer tersebut telah memiliki
pengalaman dalam menyusun serta mengimplementasikan anggaran yang menjadi tanggung
jawabnya. Pegawai/manajer tersebut terlibat langsung dan paham dalam proses penyusunan
anggaran di unit kerja (SKPD) nya.

3.4 Metode Analisis Data


3.4.1 Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif digunakan dalam penelitian ini untuk memberikan gambaran
atau deskriptif mengenai variabel-variabel penelitian yaitu: Implementasi anggaran
partisipatif, akuntabilitas dalam penganggaran, transparansi dalam penganggaran,
implementasi anggaran berbasis kinerja, dan kinerja pemerintah daerah (SKPD). Penelitian
ini menggunakan tabel distribusi frekuensi yang menunjukkan kisaran teoritis, kisaran
aktual, nilai rata-rata (mean) dan standar deviasi (Ghozali, 2011).

3.4.2 Uji Kualitas Data


a. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu
kuesioner dikatakan valid jika pernyataan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan
sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Apabila korelasi antara masing-masing
item atau indikator terhadap total skor variabel menunjukan hasil probabilitas < 0,01 atau <
0,05 berarti angka probabilitas tersebut signifikan sehingga dapat disimpulkan bahwa
masing-masing item pertanyaan adalah valid (Ghozali, 2011).
b. Uji Reliabilitas
Reabilitas adalah untuk mengukur suatu koesioner yang merupakan indikator dari variabel.
Suatu koesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban responden terhadap pernyataan
adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Tingkat reliabel suatu variabel atau
konstruk penelitian dapat dilihat dari hasil uji statistik Cronbach Alpha (α). Menurut kriteria
(Ghozali, 2011), variabel atau konstuk dikatakan reliabel jika nilai Cronbach Alpha > 0,6.
Semakin nilai alpahnya mendekati satu maka nilai reliabilitas datanya semakin terpercaya.

3.4.3 Uji Asumsi Klasik


Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi yang digunakan dalam
penelitian memiliki variabel penggangu atau residual yang terdistribusi secara normal.
Model regresi yang baik adalah mempunyai distribusi data normal atau mendekati normal
(Ghozali, 2011). Uji normalitas yang digunakan adalah uji statistik non-parameterik One-
Sample Kolmogorov-Smirnov Test. Nilai signifikansi dari residual yang terdistribusi secara
normal jika nilai Asymp. Sig (2-tailed) dalam uji One-Sample Kolmogorov Smirnov Test
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 223

lebih besar dari 0,05. Hal ini dapat disimpulkan bahwa dalam regresi terdapat variabel
residual atau pengganggu yang terdistribusi secara normal.
Uji Multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan
adanya korelasi antar variabel bebas (Independen). Model regresi yang baik seharusnya
tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Apabila nilai VIF lebih dari 10 dan nilai
tolerance kurang dari 0,10 maka terjadi multikolinearitas, sebaliknya tidak terjadi
multikolinearitas apabila nilai VIF kurang dari 10 dan nilai tolerance lebih dari 0,10
(Ghozali, 2011).
Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan lain. Apabila variance dari
suatu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastik sedangkan jika
berbeda disebut heteroskedastik (Ghozali, 2011). Model regresi yang baik adalah yang
homoskedastik atau tidak terjadi heteroskedastik. Heteroskedastik terjadi apabila ada
kesamaan deviasi standar nilai variabel dependen pada variabel independen.

3.5 Uji Hipotesis


Hipotesis 1, 2, 3, dan 4 akan diuji dengan menggunakan model regresi linear berganda
(Multiple Linier Regression). Persamaan Statistik yang digunakan adalah:
Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 + e
Ket:
Y = Kinerja Pemerintah Daerah (SKPD)
X1 = Implementasi Anggaran Partisipatif
X2 = Implementasi Akuntabilitas Dalam Penganggaran
X3 = Implementasi Transparansi Dalam Penganggaran
X4 = Implementasi Anggaran Berbasis Kinerja
α = Konstanta
β0, β2, β3, β4 = Koefisien regresi
e = error

Untuk mendapatkan gambaran bagaimana pengaruh variabel independen terhadap


variabel dependen dilakukan uji model (Uji F) untuk melihat pengaruhnya secara simultan.
Uji model dibutuhkan agar interpretasi hubungan antar variabel dependen dengan variabel
independen tidak keliru atau analisis pengaruh variabel independen terhadap variabel
dependen dapat dengan benar dilakukan. Uji-t dalam penelitian ini digunakan untuk melihat
apakah variabel independen berpengaruh secara individual (parsial) terhadap variabel
dependen atau ditolak, prosedur pengujiannya adalah dimana H1, H2, H3 dan H4 diuji dengan
membandingkan tingkat signifikansi t dengan 0,05 (á = 5%). Apabila tingkat signifikansi t ≤
0,05, maka hipotesis diterima. Hal ini berarti bahwa H1 Implementasi anggaran partisipatif
berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Pemerintah daerah (SKPD), dan begitu juga untuk
variabel independen lainnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Deskriptif Responden
Data penelitian dikumpulkan dengan menyebarkan secara langsung kuesioner sebanyak 80
kuesioner kepada pegawai/manajer tingkat menengah yang terlibat dalam penyusunan
anggaran pada SKPD yang ada di pemerintah Provinsi Bengkulu Kuesioner disebarkan
dengan cara mengantar langsung kepada responden atau SKPD yang bersangkutan.
Kuesioner ditinggal kemudian diambil kembali. Waktu yang diperlukan untuk pengumpulan
data selama 3 minggu. Berdasarkan Tabel 4.1 di bawah ini, jumlah kuesioner yang
dikirimkan sebanyak 80 kuesioner, dengan jumlah kuesioner yang kembali adalah 63
kuesioner (78,75%). Dari 63 kuesioner yang kembali, sebanyak 7 kuesioner tidak lengkap
jawaban sehingga tidak dipergunakan dalam analisis data. Jumlah kuesioner yang
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 224

dipergunakan adalah sebanyak 56 (56 responden) atau 88,89% dari kuesioner yang kembali
atau 70% dari yang diedarkan.

4.2 Profil Responden


Profil 56 responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, umur,
pendidikan, dan lama menjabat dapat kita lihat bahwa responden yang terlibat dalam
penelitian ini mayoritas laki-laki. Pada SKPD pemerintah Provinsi Bengkulu mayoritas yang
terlibat dalam penyusunan anggaran (APBD) adalah laki-laki (67,86%.). Dilihat dari sisi
umur atau usia responden, mayoritas berada pada usia 31 s.d 40 tahun sebanyak 27 orang
(48,21%), dan di usia 41 s.d 50 tahun sebanyak 14 orang (25%). Dilihat dari sisi pendidikan,
mayoritas`responden berpendidikan S1 sebanyak 36 orang (53,28%). Dilihat dari lama
menjabat dalam tim anggaran mayoritas selama 4 s.d 5 sebanyak 25 orang atau sebesar
44,65%.

4.3 Statistik Deskriptif Penelitian


Untuk melihat gambaran mengenai variabel penelitian dalam penelitian ini seperti
Implementasi Anggaran Partisipatif (AP), Implementasi Transparansi, Implementasi
Akuntabilitas, Implementasi Anggaran Berbasis Kinerja (ABK), dan Kinerja SKPD maka
digunakan tabel statistik deskriptif.
Tabel 4.1 Statistik Deskriptif
Rentang Rata-rata Standar Rentang Rata-rata
Variabel
Teoritis Teoritis devasi Aktual Aktual
AP 9 – 45 27 3,63657 28 – 45 37,8929
ABK 8 – 40 24 3,53664 25 – 40 31,4643
Transparansi 14 – 70 42 8,56139 28 – 68 50,8929
Akuntabilitas 14 – 70 42 7,57988 28 – 68 54,0000
Kinerja 7 – 35 21 3,95888 17 – 35 25,0000
Sumber: Data diolah, 2013
Berdasarkan Tabel 4.1 di atas nampak bahwa rata-rata aktual seluruh variabel yang
meliputi AP, ABK, Transparansi, Akuntabilitas, dan Kinerja menunjukkan angka yang lebih
tinggi dari rata-rata teoritis, hal ini menandakan bahwa semua variabel adalah baik dimana
responden memberikan angka yang tinggi pada setiap pernyataan yang ada. Berdasarkan
hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di
pemerintah Provinsi Bengkulu telah mengimplementasikan Anggaran Partisipatif (AP),
Anggaran Berbasis Kinerja (ABK), Transparansi, dan Akuntabilitas dalam proses
penganggaran yang dilakukan. Proses penganggran sampai menjadi Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD) yang dilakukan di pemerintah Provinsi Bengkulu telah
menerapkan AP, ABK, tarnsparansi dan akuntabilitas. Responden memberikan jawaban
yang mengatakan bahwa pemerintah Provinsi Bengkulu telah menerapkan ke empat hal
tersebut di atas dengan baik. Selanjutnya responden juga memberikan jawaban bahwa
kinerja SKPD pemerintah Provinsi Bengkulu dengan angka tinggi sehingga memberikan
makna bahwa kinerja pemerintah daerah baik.

4.4 Uji Kualitas Data


4.4.1 Uji Validitas Data
Dari Tabel 4.2 tersebut terlihat bahwa semua variabel yang meliputi AP, ABK,
Transparansi, Akuntabilitas, dan Kinerja semuanya valid. Hal ini terlihat dari nilai
signifikansi dari semua variabel memiliki nilai dibawah 0.01 yaitu bernilai 0.000. Ini
menandakan bahwa semua item pernyataan untuk mengukur variabel adalah valid.

Tabel 4.2 Uji Validitas Data


No Variabel Pearson Signifikan Status
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 225

Correlation
1 AP .531**- .796** 0,000 – 0,000 Valid
2 ABK .570**- .827** 0,000 – 0,000 Valid
3 Transparansi .541**- .822** 0,000 – 0,000 Valid
4 Akuntabilitas .465**- .925** 0,000 – 0,000 Valid
5 Kinerja .461**- .806** 0,000 – 0,000 Valid
Sumber: Data diolah, 2013

4.4.2 Uji Reliabilitas Data


Tingkat reliabilitas suatu variabel penelitian dapat dilihat dari hasil uji statistik Cronbach
Alpha (α). Variabel dikatakan reliabel jika nilai Cronbach Alpha > 0,6. Semakin nilai
alphanya mendekati satu maka nilai reliabilitas datanya semakin terpercaya. Hasil pengujian
reliabilitas dapat dilihat pada Tabel 4.3 dibawah ini:
Tabel 4.3 Hasil Uji Reliabilitas
No Variabel Nilai Cronbach Alpha Keterangan
1 AP 0,835 Reliabel
2 ABK 0,849 Reliabel
3 Transparansi 0,899 Reliabel
4 Akuntabilitas 0,912 Reliabel
5 Kinerja 0,841 Reliabel
Sumber: Data diolah, 2013
Dari Tabel 4.3 terlihat bahwa semua variabel reliabel. Hal ini terlihat dari nilai Cronbach
Alpha yang > 0,6. Sehingga tidak terjadi masalah pada uji reliabilitasnya. Ini menandakan
bahwa semua pernyataan yang digunakan dalam mengkur variabel penelitian adalah
reliable, artinya pernyataan tersebut benar-benar mengukur variabel penelitian yang ada.

4.5 Uji Asumsi Klasik


4.5.1 Uji Normalitas Data
Pengujian normalitas ini dilakukan dengan menggunakan One Sample Kolmogorof-Smirnov
Test. Pengujian data berdistribusi normal jika nilai Asymp Sig (2-tailed) yang dihasilkan
lebih besar dari nilai alpha yaitu sebesar 0,05 (5%). Hasil pengujian normalitas data dapat
dilihat pada Tabel 4.4 dibawah ini:
Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas data
Variabel Asymp Sig (2-tailed) Keterangan
AP 0,083 Normal
ABK 0,286 Normal
Transparansi 0,136 Normal
Akuntabilitas 0,210 Normal
Kinerja 0,376 Normal
Sumber: Data diolah, 2013
Dari Tabel 4.4 terlihat bahwa semua variabel memiliki nilai Asymp Sig lebih dari 0,05,
sehingga data yang digunakan dalam penelitian ini berdistribusi normal.

4.5.2 Uji Heteroskedastisitas


Hasil uji heteroskedastisitas dapat dilihat pada Tabel 4.5 dibawah ini terlihat bahwa untuk
semua variabel memiliki nilai signifikansi lebih dari 0.05, sehingga semua variabel tidak
terjadi masalah heteroskedastisitas.
Tabel 4.5 Hasil Uji Heteroskedastisitas
Variabel Signifikansi Keterangan
Anggaran Partisipatif (AP) 0.545 Bebas
Anggaran Berbasis Kinerja (ABK) 0.733 Heteroskedastisitas
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 226

Transparansi 0.650
Akuntabilitas 0.095
Sumber: Data diolah, 2013

4.5.3 Uji Multikolinearitas


Hasil uji multikolinearitas dapat dilihat pada Tabel 4.6 dibawah ini. Dari Tabel 4.6 terlihat
bahwa semua variabelnya memiliki nilai tolerance > 0.10 dan nilai VIF < 10, sehingga
semua variabel bebas dari masalah multikolinearitas.

Tabel 4.6 Hasil Uji Multikolinearitas


Collenearity Statistics
Variabel Keterangan
Tolerance VIF
Anggaran Partisipatif 0,921 1,086 Bebas
Anggaran Berbasis Kinerja 0,998 1,002 Multikolinearitas
Transparansi 0,527 1,897
Akuntabilitas 0,560 1,786
Sumber: Data diolah, 2013

4.6 Pengujian Hipotesis


Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linear berganda
(multiple regression analysis). Hasil pengujian untuk hipotesis 1, 2, 3 dan 4 dapat terlihat
pada Tabel 4.7 dibawah ini. Berdasarkan hasil regresi pada Tabel tersebut dapat dilihat
bahwa model regresi memperoleh nilai Adjust R Square sebesar 0,485, ini menunjukkan
bahwa 48,5% variabel Kinerja dapat dijelaskan oleh variabel Anggaran Partisipasif (AP),
Akuntabilitas, Transparansi, dan Anggaran Berbasis Kinerja (ABK), sedangkan sisanya
sebesar 51,5% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam persamaan ini. Nilai
statistik F sebesar 13.924 dengan nilai signifikansi p= 0,000 < 0,05 menunjukkan bahwa
secara bersama-sama variabel independen (AP, Akuntabilitas Transparansi, dan ABK)
mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen (Kinerja) SKPD pemerintah Provinsi
Bengkulu.
Tabel 4.7 Hasil Pengujian Hipotesis 1, 2, 4 dan 4
Konfirmasi
Variabel
Nilai Koefisien t- statistik Sig. Hipotesis
AP -0,012 -0,110 0,913 Ditolak
Akuntabilitas -0,072 -1,066 0,291 Ditolak
Transparansi 0,152 2,471 0,017 Diterima
ABK 0,751 6,921 0,000 Diterima
R Square 0,522
Adj R Square 0,485
F 13,924
Sig. 0,000
Sumber: Data diolah, 2013
Hipotesis Pertama dalam penelitian ini adalah Implementasi Anggaran Partisipasif
(AP) berpengaruh positif terhadap Kinerja SKPD pemerintah Provinsi Bengkulu.
Berdasarkan hasil uji hipotesis pada Tabel 4.7 terlihat bahwa nilai koefisien sebesar -0,012
dengan nilai signifikansi 0,913 > 0,05 yang berarti bahwa terdapat pengaruh negatif dan
tidak signifikan implementasi anggaran partisipasif terhadap kinerja. Hasil pengujian ini
tidak sejalan dengan hipotesis yang telah dibuat sehingga Hipotesis Pertama Ditolak.
Hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah Implementasi Akuntabilitas dalam
penganggaran berpengaruh positif terhadap Kinerja SKPD pemerintah Provinsi Bengkulu.
Berdasarkan hasil uji hipotesis pada Tabel 4.7 terlihat bahwa nilai koefisien sebesar -0,072
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 227

dengan nilai signifikansi 0,291 > 0,05 yang berarti bahwa terdapat pengaruh negatif dan
tidak signifikan variabel akuntabilitas terhadap kinerja. Hasil pengujian tidak sejalan dengan
hipotesis yang telah dibuat sehingga Hipotesis kedua Ditolak.
Hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah implementasi Transparansi dalam
proses penganggaran berpengaruh positif terhadap Kinerja SKPD pemerintah Provinsi
Bengkulu. Berdasarkan hasil uji hipotesis pada Tabel 4.7 terlihat bahwa nilai koefisien
sebesar 0,152 dengan nilai signifikansi 0,017 < 0,05 yang berarti bahwa terdapat pengaruh
positif dan signifikan variabel transparansi terhadap kinerja. Hasil pengujian sejalan dengan
hipotesis yang telah dibuat dimana terdapat pengaruh yang positif transparansi terhadap
kinerja sehingga Hipotesis Ketiga Diterima. Semakin baik implementasi transparansi
dalam proses penganggaran pada SKPD pemerintah Provinsi Bengkulu maka akan semakin
tinggi kinerja SKPD pemerintah Provinsi Bengkulu.
Hipotesis keempat dalam penelitian ini adalah Implementasi Anggaran Berbasis
Kinerja (ABK) mempunyai pengaruh positif terhadap Kinerja SKPD pemerintah Provinsi
Bengkulu. Hasil pengujian menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,751 dengan nilai
signifikansi 0,000 < 0,05 yang berarti bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan
implementasi Anggaran Berbasis Kinerja terhadap Kinerja SKPD pemerintah Provinsi
Bengkulu. Hasil pengujian sejalan dengan hipotesis yang telah dibuat sehingga Hipotesis
Keempat Diterima. Semakin baik implementasi Anggaran Berbasis Kinerja pada SKPD
pemerintah Provinsi Bengkulu maka akan semakin tinggi Kinerja SKPD pemerintah
Provinsi Bengkulu.

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI


Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: 1) Implementasi anggaran partisipatif
dalam proses penganggaran di SKPD pemerintah Provinsi Bengkulu tidak berpengaruh
terhadap Kinerja SKPD pemerintah Provinsi Bengkulu. 2) Implementasi akuntabilitas dalam
proses penganggaran di SKPD pemerintah Provinsi Bengkulu tidak berpengaruh terhadap
Kinerja SKPD pemerintah Provinsi Bengkulu. 3) Implementasi transparansi dalam proses
penganggaran di SKPD pemerintah Provinsi Bengkulu berpengaruh positif signifikan
terhadap Kinerja SKPD pemerintah Provinsi Bengkulu. Semakin baik transparansi yang
dilakukan dalam proses penganggaran di SKPD maka akan semakin baik kinerja
pemerintahan tersebut. 4) Implementasi anggaran berbasis kinerja dalam proses
penganggaran di SKPD pemerintah Provinsi Bengkulu berpengaruh positif signifikan
terhadap Kinerja SKPD pemerintah Provinsi Bengkulu. Semakin baik implementasi
anggaran berbasis kinerja di pemerintah maka akan sebaik baik kinerja pemerintahan
tersebut.
Implikasi dari penelitian ini adalah: 1) Bagi pemerintah Provinsi Bengkulu
hendaknya hasil penelitian ini memberikan pemahaman betapa pentingnya pengelolaan yang
baik terhadap anggaran partisipatif, akuntabilitas, transparansi, dan anggaran berbasis
kinerja dalam proses penganggaran pemerintahan. Untuk itu diharapkan kepada pemerintah
provinsi Bengkulu untuk melakukan evaluasi dan penataan kembali proses penganggaran
yang ada selama ini. Perbaikan kembali dalam proses penganggaran terutama tentang
adanya unsur partisipasi yang lebih baik dalam proses penganggaran dan penerapan
akuntabilitas yang harus lebih baik lagi dengan melakukan upaya-upaya perbaikan termasuk
melahirkan kebijakan dan peraturan terkait hal tersebut. 2) Kepada aparatur pemerintahan
yang ada pada semua SKPD pada berbagai level di pemerintah Provinsi Bengkulu
diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai alat evaluasi dalam peningkatan
kinerja individu dan melibatkan diri lebih jauh dalam pengembangan kompetensi ke arah
yang lebih baik terutama berkaitan dengan permasalahan penelitian ini.
Keterbatasan dan rekomendasi penelitian ini adalah: 1) Penelitian ini hanya mampu
membuktikan dua buah variabel yaitu implementasi transparansi dan anggaran berbasis
kinerja dalam proses penganggaran berpengaruh terhadap Kinerja SKPD. Penelitian ini
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 228

belum mampu membuktikan implementasi anggaran partisipatif dan akuntabilitas


berpengaruh terhadap kinerja. Hal ini kemungkinan kelemahan dalam data jawaban yang
diberikan responden karena tidak ada proses pendampingan dalam pengisian kuesioner.
Peneliti selanjutnya diharapkan melakukan pendampingan dan evaluasi jawaban responden
sehingga data yang diberikan adalah benar-benar yang sesungguhnya. 2) Keterbatasan
dalam data penelitian, dari 40 buah SKPD yang ada dan sebanyak 80 kuesioner yang
diedarkan, hanya kembali dan diolah sebagai data penelitian sebanyak 56 kuesioner. Peneliti
selanjutnya hendaknya memperbanyak data penelitian sehingga memungkinkan
memberikan hasil yang lebih baik. 3) Dilihat dari nilai Adjust R Square sebesar 0,485, ini
menunjukkan bahwa hanya 48,5% variabel kinerja mampu dijelaskan oleh variabel
independen yang ada dalam model penelitian ini. Masih ada variabel lain yang kemungkinan
mempunyai peranan dalam meningkatkan kinerja. Peneliti selanjutnya diharapkan mencoba
mencari variabel independen lainnya baik berkaitan dengan anggaran ataupun lainnya
sehingga memberikan kesempurnaan dalam model penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
Anthony, Robert dan Vijay Govindarajan. 2005. Sistem Pengendalian Manajemen. Salemba Empat,
Jakarta.
Anonim. 2007. Analisa Efektifitas Pemungutan Pajak Melalui Sistem Retribusi Dan Sistem ketetapan
Pajak Serta Kontribusinya Terhadap Penerimaan Asli Daerah Kabupaten Malang. Artikel.
<[Link]
Arifiyadi, Teguh. 2005. Konsep Tentang Akuntabilitas dan Implementasinya di Indonesia. (online).
(diakses tanggal 5 Nopember 2012). Tersedia di World Wide Web: [Link]
Bastian, Indra. 2006. Akuntansi Sektor publik: Suatu Pengantar. Erlangga, Jakarta.
Eker, Melek. 2007. The Impact Of Budget Participation On Managerial Performance Via
Organizational Commitment: A Study On The Top 500 Firms In Turkey. Ankara University
Fernandez, Joe. 2004. Partisipasi dan Transparansi. (online). (diakses tanggal 10 Agustus 2012).
Tersedia di World Wide Web: [Link]
Ghozali, I. dan K. Yusfaningrum. 2005. Analisis Pengaruh Partisipasi Anggaran Terhadap Kinerja
Manajerial Melalui Komitmen Tujuan Anggaran Dan Job Relevant Information (JRI) Sebagai
Variabel Intervening. Simposium Nasional Akuntansi VII Solo. September 2005.
Ghozali, 1. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit-
Universitas Diponegoro.
Hansen, Don [Link] Marryane M. Mowen. 2004. Akuntansi Manajemen, Edisi tujuh Jakarta: Salemba
Empat
Julianto, 2009. Pengaruh Penerapan Anggaran Berbasis Kinerja Terhadap Kinerja Satuan Kerja
Perangkat Daerah di Pemerintah Kota Tebing Tinggi. Tesis. USU.
Krina, Loina Lalolo. 2003. Indikator dan Alat Ukur Prinsip Akuntabilitas, Transparansi dan
Partisipasi. Sekretariat Good Public Governance BPPN Jakarta.
Mardiasmo, 2005. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi.
..............., 2006. Perwujudan Transparansi dan Akuntabilitas Publik Melalui Akuntansi Sektor
Publik: Suatu Sarana Good Governance. Jurnal Akuntansi Pemerintahan. Volume 2 Nomor 1. Mei
2006.
Mahmudi, 2007. Manajemen Kinerja Sektor Publik. UUP STIM YKPN, Yogyakarta.
Nafarin, M. 2004. Penganggaran Perusahaan, Edisi Revisi, Selemba Empat, Jakarta.
Nanda. 2010. Perngaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial dengan
Komitmen Organisasi dan Locus of Control sebagai Variabel Moderating, (Study Kasus pada PT.
Adhi Karya (persero) Tbk Divisi Konstruksi I Pada Universitas Diponegoro). Skripsi Tidak
Dipublikasikan.
Noordiawan. D. 2006. Akuntansi Sektor Publik. Salemba Empat: Jakarta.
Noordiawan, Putra, Rahmawati, 2007. Akuntansi Pemerintahan. Salemba Empat, Jakarta.
Nuryakin. 2001. Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pengalaman Kerja dan Motivasi terhadap Prestasi
Kerja anggota DPRD Kabupaten Barito Provinsi Kalimantan Tengah. Artikel
<[Link]
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 229

Pasaribu, Frans J, 2011. Pengaruh Penyajian Laporan Keuangan SKPD dan Aksebilitas Laporan
Keuangan SKPD Terhadap Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan SKPD. Tesis.
UGM.
Rahman, Fajar A, 2012. Pengaruh Sistem Pengendalian Intern Organisasi Perangkat Daerah Terhadap
Kinerja Organisasi Perangkat Daerah. Skripsi. Jurusan Akuntansi FE Siliwangi.
Rahmanurrasjid, Amin, 2008. Akuntabilitas dan Transparansi Dalam Pertanggung jawaban
Pemerintah Daerah Untuk Mewujudkan Pemerintahan Yang Baik di Daerah. Tesis Tidak
Dipublikasikan. Program Magister Ilmu Hukum-Universitas Diponegoro-Semarang.
Rahayu, Unti Ludigdo, & Didied Affandy. 2007. Studi Fenomenologis Terhadap Proses Penyusunan
Anggaran Daerah Bukti Empiris Dari Satu Satuan Kerja Perangkat Daerah di Provinsi Jambi.
Simposium Nasional Akuntansi X Makassar.
Riyadi, S. 2000 Pengaruh Motivasi dan Pelimpahan Wewenang sebagai Variabel Moderating dalam
Hubungan antara Partisipasi Anggaran dan Kinerja Manajerial, Jurnal Riset akuntansi Indonesia.
Vol 3, No.2, hal 134-150.
Robbins, Stephen P. 2003. Organization Behavior. Tenth Edition, New Jerw Jersey: Prentice Hall.
Renyowijoyo, Muindro, 2008. Akuntansi Sektor Publik Organisasi Non Laba, Mitra Wacana Media
Jakarta.
Republik Indonesia. 2012. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2012 Tentang
Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2013.
……… 2004. Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah. Jakarta: Pustaka
Pergaulan.
……… 2004. Undang-Undang RI Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Daerah. Jakarta: Direktorat Jenderal Otonomi Daerah.
……… 2003. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara.
……… 2011. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah
……… 2005. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah.
Siregar, Rahmayani, 2010. Pengaruh Penerapan Anggaran Berbasis Kinerja dan Keadilan Prosedural
Terhadap Kinerja Manajerial SKPD (Studi Kasus Pada Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai).
Tesis. USU.
Sinambela, Elizar, 2003. Pengaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial
(Study Empiris pada Perguruan Tinggi Swasta di Kota Medan). Skripsi Tidak dipublikasikan.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Cetakan ke Tiga. Alfabeta.
Bandung.
Supriyono, R.A. 2004. Pengaruh Variabel intervening Kecukupan Anggaran dan Komitmen
Organisasi terhadap Hubungan Antara Partisipasi Anggaran dan Kinerja Manajer di Indonesia.
Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. l9, Nomor 3.
Supriyono, R.A. 2005. Pengaruh Komitmen Organisasi, Keinginan Sosial. dan Asimetri Informasi
terhadap Hubungan Antara Partisipasi Penganggaran dengan Kinerja Manajer. Jurnal Ekonomi
dan Bisnis Indonesia, Vol. 20, No.1.
Suparno, 2012. Pengaruh Akuntabilitas Keuangan Daerah, Value For Money, Kejujuran,
Transparansi dan Pengawasan Terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah (Studi Kajian Pada
Pemerintah Kota Dumai). Tesis. USU.
Sedarmayanti, 2003. Good Governance (Kepemerintahan Yang Baik) Dalam Rangka Otonomi
Daerah, Mandar Maju, Bandung.
Sulistyorini, Nety Retnaningdiah. 2006. Analisis penerimaan Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah
Untuk Meningkatkan Kemampuan Keuangan Daerah Pemerintah Kabupaten Kediri TA 2000-
2003. Artikel. <[Link]
Sopamah, Mardiasmo, 2003. Pengaruh Partisipasi Masyarakat dan Transparansi Kebijakan Publik
Terhadap Hubungan Pengetahuan Antara Pengetahuan Dewan Tentang Anggaran Dengan
Pengawasan Keuangan Daerah, Simposium Nasional Akuntansi (SNA) VI. Oktober-Surabaya.
Salam, Dharma Setyawan. 2001. Otonomi Daerah Dalam Perspektif Lingkungan, Nilai dan Sumber
Daya. Jakarta: Djambatan.
Ulum, MD Ihyaul, 2009. Audit Sektor Publik. Bumi Aksara, Jakarta.
Werimon, Simson, Imam Ghozali, & M. Nasir.2007. Pengaruh Partisipasi Masyarakat dan
Transparansi Kebijakan Publik Terhadap Hubungan Antara Pengetahuan Dewan Tentang
Meta Herlia, Fachruzzaman, Baihaqi 230

Anggaran Dengan Pengawasan Keuangan Daerah (APBD). Simposium Nasional Akuntansi X


Makassar.
Wiranto, Tatang, 2012. Akuntabilitas dan Transparansi dalam Pelayanan Publik. (online). (diakses
tanggal 5 Nopember 2012). Tersedia di World Wide Web: [Link]
Yusriati, 2007. Pengaruh Anggaran Berbasis Kinerja Terhadap kinerja SKPD di Kabupaten
Mandailing Natal, Tesis. Program Pasca Sarjana-Medan.
Yunita. 2006. Pengaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran Terhadap Kinerja Manajeria: Komitmen
Organisasi Dan Kecukupan Anggaran Sebagai Variabel Kontinjen (Studi Kasus Pada Universitas
Dian Nuswantoro Semarang). Skripsi Tidak Dipublikasikan. Fakultas Ekonomi Universitas Dian
Nuswantoro Semarang.
Yoseva, Lindra. 2003. Pengaruh Motivasi dan Disiplin Kerja Terhadap Prestasi Kerja Karyawan pada
Dinas Pertanahan Kota Bengkulu. Skripsi Tidak Dipublikasikan, FE Universitas Bengkulu.

Anda mungkin juga menyukai