0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan26 halaman

Pengaruh Anggaran Kinerja pada Aparatur

Diunggah oleh

Orans Fabeoki St
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan26 halaman

Pengaruh Anggaran Kinerja pada Aparatur

Diunggah oleh

Orans Fabeoki St
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Manajemen, Vol.15, No.

2, Mei 2016

PENGARUH ANGGARAN BERBASIS KINERJA


TERHADAP KINERJA APARATUR
PEMERINTAH DAERAH
(STUDI KASUS PADA DINAS SOSIAL PROVINSI
JAWA BARAT)

Oleh:
Febrina Astria Verasvera
Magister Manajemen-Universitas Katolik Parahyangan

Abstract: This research was conducted at Dinas Sosial of West Java Province,
located on Jalan Raya Cibabat No. 331 Cimahi, West Java. This research tries to
analyze whether there is influence of budget based on performance toward the
improvement of local government officials performance. The variable X research
indicators (Budgeting Based on Performance), they are: preparation, ratification,
implementation, evaluation and reporting. While for the variable Y (Performance of
Local Government Apparatus) these are: effectiveness, efficiency, employee growth,
and customer satisfaction. The method used in this research is descriptive analysis
method with a case study approach, and hypothesis testing used Rank Spearman
correlation analysis in order to find out the correlation variable X (Budgeting based
on Performance) and Variable Y (Performance of Local Government Apparatus).
Whereas for knowing how much the influence of variable X toward variable Y, by
using the coefficient of determination. Based on the results of research for the data
obtained, it can be concluded that, budgeting based on performance has significant
effect on the performance of local government apparatus in the Dinas Sosial of West
Java Province. It is shown in the results of Spearman Rank correlation of rs = 0.6956
and the interval from 0.60 ― 0.79 which shows a strong association level, as well
as the results of testing the hypothesis that the results show that t hitung 7.1150> t tabel 1
.6707. That matter make an indication of rejection of Ho which indicates that there
is a positive relationship between the variables X with variables Y and for the
coefficient of determination that shows the much influence of budgeting based on
performance toward the performance of local government apparatus which obtained
yield is 48.39% while 51.61% influenced by other factors. So that expected that all
officials in the Dinas Sosial able to implement the budgeting based on performance
more better.

Keywords: budget, performance.

137
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…

PENDAHULUAN
Pemberlakukan otonomi daerah berakibat pada terjadinya dinamika perkembangan
dan perbaikan sistem keuangan serta akuntansi di pemerintahan daerah menuju
pengelolaan keuangan yang lebih transparan dan akuntabel. Dinamika
perkembangan tersebut ditunjukkan dengan adanya regulasi-regulasi yang telah
dikeluarkan oleh pemerintah pusat, seperti Undang-Undang (UU) 17 tahun 2003
tentang Keuangan Negara, UU no. 32 dan 33 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah,
serta beberapa Undang-undang maupun aturan-aturan lain yang memang menjadi
regulasi terhadap berbagai pengelolaan keuangan pemerintah pusat maupun daerah.
Keadaan tersebut mendorong perkembangan praktek dan teori pada bidang
akuntansi sektor publik menjadi begitu pesat.
Pengelolaan keuangan dalam pembangunan baik di tingkat pusat ataupun
tingkat daerah merupakan kunci penting dalam menunjang pelaksanaan
pembangunan. Namun dalam hal ini sering terdapat masalah yang dapat
menghambat lajunya pembangunan, tetapi seperti yang kita ketahui hambatan justru
sering dialami oleh daerah, apalagi daerah-daerah yang kurang potensial, baik itu
sumber daya alamnya maupun sumber daya manusianya.
Hambatan-hambatan dalam hal keuangan mulai sangat terasa pada saat
terjadi penurunan penerimaan negara akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan
yang berdampak pula pada penurunan pemberian subsidi dan pembiayaan proyek-
proyek pemerintah di daerah oleh pemerintah pusat. Oleh karena itu, suatu daerah
harus mampu menggali sumber-sumber potensi daerahnya untuk dapat membiayai
anggaran belanja daerah yang nyata, dinamis dan bertanggung jawab merupakan
konsekuensi dari tugas pokok pemerintah, pelaksanaan administrasi keuangan
daerah merupakan salah satu unsur yang sangat penting di dalam penyelenggaraan
pemerintah mengingat perkembangan volume kegiatan yang meningkat dari tahun
ke tahun. Dengan demikian pemerintah daerah diharapkan lebih memahami dan
memenuhi aspirasi masyarakat dalam menyelenggarakan pemerintah dan
pelaksanaan pembangunan yang merupakan prasyarat keberhasilan pemerintah.
Pemberlakuan Undang-Undang no. 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah
dan Undang-Undang no. 33 tentang perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah,
membawa perubahan fundamental dalam hubungan Tata Pemerintah dan Hubungan
Keuangan, sekaligus membawa perubahan penting dalam pengelolaan Anggaran
Daerah. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) disusun berdasarkan
pendekatan kinerja, yaitu suatu sistem anggaran yang mengutamakan upaya
pencapaian hasil kerja atau ouput dari perencanaan alokasi biaya atau input yang
ditetapkan (PP no. 58 tahun 2005). Berdasarkan pendekatan kinerja, APBD disusun
berdasarkan pada sasaran tertentu yang hendak dicapai dalam satu tahun anggaran.
Oleh karena itu, dalam rangka menyiapkan Rancangan APBD, Pemerintah Daerah
bersama DPRD menyusun Kebijakan Umum APBD yang memuat petunjuk dan
ketentuan-ketentuan umum yang disepakati sebagai pedoman dalam penyusunan
APBD. Penyusunan Kebijakan Umum APBD pada dasarnya merupakan upaya
pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk jangka waktu 5 (lima)
tahun dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJPD

138
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016

dengan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional


(RPJMN) dan standar pelayanan minimal yang telah ditetapkan pemerintah. Untuk
mengantisipasi adanya perubahan lingkungan, pemerintah daerah perlu melakukan
penjaringan aspirasi masyarakat untuk mengidentifikasi perkembangan kebutuhan
dan keinginan masyarakat. Penjaringan aspirasi masyarakat dimaksudkan untuk
memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dan terlibat dalam
proses penganggaran daerah.
Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 32 dan Nomor 33 Tahun 2004
tersebut membawa konsekuensi bagi daerah dalam bentuk pertanggungjawaban atas
pengalokasian dana yang dimiliki dengan cara yang efektif dan efisien, khususnya
dalam upaya peningkatan kesejahteraan dan pelayanan umum kepada masyarakat.
Oleh karena itu pemerintah daerah perlu melakukan pengelolaan dana publik yang
didasarkan pada konsep dasar value for money/performance budgeting system
(anggaran kinerja). Sehubungan dengan hal tersebut maka penyelenggaraan
pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang otonomi
dipandang perlu untuk lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi di
antaranya, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilan, serta memperhatikan
potensi dan keanekaragaman daerah. Otonomi daerah memberikan wewenang yang
luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional yang
diwujudkan dengan pengaturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional
serta pertimbangan keuangan pusat dan daerah yang dilaksanakan dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
Fenomena pembangunan yang berkembang saat ini adalah terjadinya krisis
di segala bidang dan adanya tuntutan ekonomi daerah serta korupsi, kolusi dan
nepotisme; untuk terselenggaranya suatu pemerintah daerah yang baik sebagai upaya
mewujudkan good governance yang ditandai adanya tiga pilar utama, yaitu:
transparansi, partisipasi dan akuntabilitas, untuk itu maka perlu adanya penerapan
dan pertanggung jawaban yang tepat, jelas dan nyata sehingga penyelenggaraan
pemerintah dan pembangunan dapat berlangsung secara berdaya guna dan berhasil
guna.
Agar pemerintah daerah mampu menciptakan kesejahteraan bagi warganya,
maka otonomi diberikan hendaknya kondusif bagi pembangunan itu sendiri,
otonomi yang berwawasan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat
memerlukan adanya pemahaman keterkaitan otonomi tersebut dengan kebutuhan
masyarakat. Pemahaman akan kebutuhan masyarakat tersebut akan menjadikan
landasan berfikir bagaimana mengoperasikan otonomi tersebut sehingga betul-betul
mencapai sasaran yaitu meningkatkan taraf dan kualitas hidup masyarakat.
Sebagai perwujudan dari pelaksanaan otonomi daerah, salah satunya melalui
Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat merupakan Dinas Teknis Daerah yang berada di
bawah Kementrian Sosial dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat yang mempunyai tugas pokok merumuskan
kebijakan operasional di bidang Kesejahteraan Sosial dan melaksanakan sebagian
kewenangan dekonsentrasi yang dilimpahkan kepada Gubernur.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh anggaran
berbasis kinerja terhadap peningkatan kinerja aparatur pemerintah daerah di

139
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…

lingkungan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, yang telah menerapkan anggaran
berbasis kinerja yang terfokus pada efisiensi penyelenggaraan suatu aktivitas.
Sardjito dan Muthaher (2007) menemukan pengaruh yang signifikan antara
partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja aparat pemerintah daerah pada
Dinas Pemerintah Karisidenan Semarang, yang ditunjukkan dengan nilai t hitung
sebesar 2,054 dengan signifikasi sebesar 0,042 yang lebih kecil dari α = 0,05.
Semakin tinggi partisipasi penyusunan anggaran maka akan semakin meningkatkan
kinerja aparat pemerintah daerah”.

TELAAH LITERATUR
Konsep Anggaran Berbasis Kinerja
Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan
dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, penganggaran daerah di Indonesia
disusun dengan pendekatan kinerja. Pendekatan kinerja disusun untuk mengatasi
berbagai kekurangan yang terdapat dalam pendekatan tradisional, khususnya
kekurangan yang disebabkan oleh tidak adanya tolak ukur yang dapat digunakan
untuk mengukur kinerja dalam pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik.
Anggaran berbasis kinerja merupakan metode penganggaran bagi manajemen untuk
mengaitkan setiap pendanaan yang dituangkan dalam kegiatan-kegiatan dengan
keluaran dan hasil yang diharapkan termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dari
keluaran tersebut (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan, 2005)
Keluaran dan hasil tersebut dituangkan dalam target kinerja pada setiap unit
kerja. Sedangkan bagaimana tujuan itu dicapai, dituangkan dalam program diikuti
dengan pembiayaan pada setiap tingkat pencapaian tujuan. Program pada anggaran
berbasis kinerja didefinisikan sebagai instrumen kebijakan yang berisi satu atau
lebih kegiatan yang akan dilaksanakan oleh instansi pemerintah atau lembaga untuk
mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran atau kegiatan
masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah.

Proses Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja


Menurut Noerdiawan (2006:79), tahap-tahap penyusunan anggaran berbasis kinerja
adalah sebagai berikut: (a) Penetapan Strategi Organisasi (visi dan misi); (b)
Pembuatan Tujuan; (c) Penetapan Aktivitas; dan (d) Evaluasi dan Pengambilan
Keputusan.
Dalam menyusun anggaran berdasarkan kinerja, organisasi ataupun unit
organisasi tidak hanya diwajibkan menyusun anggaran atas dasar fungsi, program,
kegiatan, dan jenis belanja tetapi juga menetapkan kinerja yang ingin dicapai.
Kinerja tersebut antara lain dalam bentuk keluaran (output) dari kegiatan yang akan
dilaksanakan dan hasil (outcome) dari program yang telah ditetapkan. Apabila telah
ditetapkan prestasi (kinerja) yang hendak dicapai, baru kemudian dihitung
pendanaan yang dibutuhkan untuk menghasilkan keluaran atau hasil yang
ditargetkan sesuai rencana kinerja.

140
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016

Manfaat Anggaran Berbasis Kinerja


Anggaran berbasis kinerja merupakan metode penganggaran bagi manajemen untuk
mengaitkan setiap biaya yang dituangkan dalam kegiatan-kegiatan dengan manfaat
yang dihasilkan. Manfaat tersebut dideskripsikan pada seperangkat tujuan dan
sasaran yang dituangkan dalam target kinerja pada setiap unit kerja. Menurut
Muljarijadi (2006:77), beberapa manfaat yang bisa dirasakan dengan adanya
pengukuran kinerja, diantaranya adalah: (a) Akuntabilitas organisasi publik kepada
DPRD dan publik lebih mudah dilihat; (b) Lebih memotivasi peningkatan pelayanan
kepada publik; (c) Peningkatan kepercayaan publik kepada pemerintah; dam (d)
Anggaran kinerja menekankan pada sasaran kinerja dan pencapaian bukan pada
pembelian yang dilakukan oleh organisasi.
Anggaran Berbasis Kinerja yang efektif akan mengidentifikasi keterkaitan
antara nilai uang dan hasil, serta dapat menjelaskan bagaimana keterkaitan tersebut
dapat terjadi yang merupakan kunci pengelolaan program secara efektif. Jika terjadi
perbedaan antara rencana dan realisasinya, dapat dilakukan evaluasi sumber-sumber
input dan bagaimana keterkaitannya dengan output dan outcome untuk menentukan
efektivitas dan efisiensi pelaksanaan program.

Siklus Anggaran Berbasis Kinerja


Menurut Mardiasmo (2009:70) siklus anggaran meliputi empat tahap yang terdiri
atas: (a) Tahap persiapan (preparation); (b) Tahap ratifikasi (approval/ratification);
(c) Tahap implementasi (implementation); dan (d) Tahap pelaporan dan evaluasi
(reporting and evaluation).
Untuk dapat menyusun Anggaran Berbasis Kinerja terlebih dahulu harus
disusun perencanaan strategik (Renstra). Penyusunan Renstra dilakukan secara
obyektif melibatkan seluruh komponen yang ada di dalam pemerintahan dan
masyarakat agar sistem dapat berjalan dengan baik perlu ditetapkan beberapa hal
yang sangat menentukan yaitu standar harga, tolok ukur kinerja dan Standar
Pelayanan Minimal yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Pengukuran kinerja (tolok ukur) digunakan untuk menilai keberhasilan atau
kegagalan pelaksanaan kegiatan/program/kebijakan sesuai dengan sasaran dan tugas
yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi pemerintah daerah.

Prinsip Penyusunan APBD Berbasis Kinerja


APBD merupakan rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang disetujui oleh
DPRD dan ditetapkan dengan peraturan daerah. Untuk menyusun APBD,
pemerintah daerah harus terlebih dahulu menyusun Rencana Kerja Pemerintah
Daerah (RKPD) yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) dengan menggunakan bahan dari Rencana Kerja
Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD) untuk jangka waktu 1 (satu) tahun
yang mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah.
Berdasarkan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (2005) prinsip-
prinsip penganggaran sebagai berikut: (a) Transparansi dan Akuntabilitas Anggaran;
(b) Disiplin Anggaran; (c) Keadilan Anggaran; (d) Efisiensi dan Efektivitas
Anggaran; dan (e) Disusun dengan Pendekatan Kinerja.

141
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…

Pendekatan penganggaran terpadu dilakukan dengan memadukan seluruh


proses perencanaan dan penganggaran di lingkungan SKPD untuk menghasilkan
rencana kerja dan anggaran. Pendekatan penganggaran berdasarkan prestasi kerja,
dilakukan dengan memerhatikan keterkaitan antara pendanaan dengan output yang
diharapkan dari kegiatan dan hasil yang diharapkan dari program termasuk efisiensi
dalam pencapaian hasil dan output tersebut.

Konsep Kinerja
Berdasarkan Undang-undang Nomor 17 tahun 2003, maka penyusunan APBD
dilakukan dengan mengintegrasikan program dan kegiatan masing-masing satuan
kerja di lingkungan pemerintah daerah untuk mencapai sasaran dan tujuan yang
ditetapkan. Dengan demikian tercipta sinergi dan rasionalitas yang tinggi dalam
mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
yang tidak terbatas. Hal tersebut juga untuk menghindari duplikasi rencana kerja
serta bertujuan untuk meminimalisasi kesenjangan antara target dengan hasil yang
dicapai berdasarkan tolok ukur kinerja yang telah ditetapkan.
Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu
kegiatan atau program atau kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi,
dan visi organisasi yang tertuang dalam perumusan skema strategis (strategic
planning) suatu organisasi (Bastian, 2001:329).
Pengukuran kinerja merupakan suatu alat manajemen yang digunakan untuk
meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Pengukuran
kinerja juga digunakan untuk menilai pencapaian tujuan dan sasaran (goals and
objectives) dengan elemen kunci sebagai berikut: (1) Perencanaan dan penetapan
tujuan; (2) Pengembangan ukuran yang relevan; (3) Pelaporan formal atas hasil; dan
(4) Penggunaan informasi.
Tujuan dilakukannya pengukuran kinerja organisasi sektor publik menurut
Mahmudi (2005:14) adalah sebagai berikut: (1) Mengetahui tingkat ketercapaian
tujuan organisasi; (2) Menyediakan sarana pembelajaran pegawai; (3) Memperbaiki
kinerja periode berikutnya; (4) Memberikan pertimbangan yang sistematik dalam
pembuatan keputusan pemberian reward dan punishment; (5) Memotivasi pegawai;
dan (6) Menciptakan akuntabilitas publik.
Dalam melakukan pengukuran kinerja, terdapat tiga tahap yang harus
dilakukan yaitu penetapan indikator kinerja, pengumpulan data kinerja, dan cara
pengukuran kinerja. Penetapan indikator kinerja merupakan proses identifikasi dan
klasifikasi indikator kinerja melalui sistem pengumpulan dan pengolahan data
informasi untuk menentukan capaian tingkat kinerja kegiatan atau program. Dalam
pengukuran kinerja diperlukan juga penetapan capaian kinerja, yang dimaksud untuk
mengetahui dan menilai capaian indikator kinerja pelaksanaan kegiatan atau
program kebijakan yang telah ditetapkan.
Terlepas dari besar, jenis, sektor atau spesialisasinya setiap organisasi
biasanya cenderung untuk tertarik pada penilaian kinerja dalam aspek berikut: (a)
Aspek Keuangan (financial); (b) Kepuasan Pelanggan; (c) Operasi Bisnis Internal;
(d) Kepuasan Pegawai; (e) Kepuasan Komunitas dan Shareholders/Stakeholders;
dan (f) Waktu.

142
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016

Elemen indikator kinerja menurut Bastian (2001:337) adalah sebagai


berikut: (a) Indikator Masukan (input) mengukur jumlah sumber daya seperti dana,
SDM, peralatan, material, dan masukan lainnya yang dipergunakan untuk
melaksanakan kegiatan; (b) Indikator proses (process), organisasi merumuskan
ukuran kegiatan, baik dari segi kecepatan, ketepatan, maupun tingkat akurasi
pelaksanaan kegiatan tersebut. Rambu yang paling dominan dalam proses adalah
tingkat efisiensi dan ekonomis pelaksanaan kegiatan organisasi; (c) Indikator
Keluaran (output) digunakan untuk mengukur keluaran yang dihasilkan dari suatu
kegiatan. Dengan membandingkan keluaran, instansi dapat menganalisis apakah
kegiatan terlaksana sesuai dengan rencana; (d) Indikator hasil (outcome) lebih utama
daripada sekedar output. Dengan indikator outcome, organisasi akan dapat
mengetahui apakah hasil yang telah diperoleh dalam bentuk output memang dapat
dipergunakan sebagaimana mestinya dan memberikan kegunaan yang besar bagi
masyarakat banyak; dan (e) Indikator manfaat (benefits) menggambarkan manfaat
yang diperoleh dari indikator hasil. Manfaat tersebut baru tampak setelah beberapa
waktu kemudian, khususnya dalam jangka menengah dan jangka panjang. Indikator
manfaat menunjukkan hal yang diharapkan untuk dicapai bila keluaran dapat
diselesaikan dan berfungsi dengan optimal (tepat waktu dan lokasi).

METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Rancangan penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah untuk
menguji adanya pengaruh antara variabel X dengan variabel Y, dalam penelitian ini
yaitu variabel X (anggaran berbasis kinerja) dan variabel Y (kinerja aparatur
pemerintah daerah). Penelitian ini merupakan penelitian survei. Penelitian survei
adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan
kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok.
Penelitian ini terdapat variabel independen dan variabel dependen. Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui dan membuktikan pengaruh anggaran berbasis kinerja
sebagai variabel independen terhadap kinerja aparatur pemerintah daerah sebagai
variabel dependen. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka desain penelitian
sederhana akan digambarkan seperti gambar di bawah ini:

Anggaran Berbasis Kinerja Aparatur


Kinerja Pemerintah Daerah
(X) (Y)

Teknik Pengumpulan Data


Untuk memperoleh hasil penelitian yang diharapkan maka diperlukan data dan
informasi yang mendukung. Berkaitan dengan keperluan tersebut, penulis
menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1) Penelitian Lapangan (Field Research) yaitu, penelitian secara langsung
objek penelitian dengan cara:

143
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…

a. Kuesioner, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara membuat


pertanyaan-pertanyaan yang diajukan penulis kepada pihak-pihak
yang berhubungan dengan masalah yang dihasilkan.
b. Wawancara, yaitu teknik pengumpulan dengan cara tanya jawab
dengan pejabat dan staf perusahaan yang berwenang mengenai
masalah yang diteliti.
2) Penelitian Literatur (Literature Research) yaitu, penelitian yang dilakukan
dengan cara mengumpulkan literatur, catatan-catatan ilmiah, website yang
dijadikan landasan teoritis untuk menjawab identifikasi masalah.

Penentuan Populasi dan Sampel


Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penulis untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan sampel adalah dari
jumlah karakteristik yang dimilki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2009:80-81)
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan yang ada pada Dinas
Sosial Provinsi Jawa Barat yang terdiri dari 279 orang. Mempertimbangkan
kemungkinan tidak seluruh responden mengembalikan kuesioner hingga batas waktu
yang ditetapkan, maka berdasarkan kondisi ini tidak memungkinkan untuk meneliti
populasi tersebut. Dengan demikian, dalam penelitian ini penulis mengambil sampel
yang dapat diwakili populasi secara tepat. Jumlah sampel yang dapat mewakili
populasi secara tepat. Jumlah sampel yang dapat mewakili populasi tergantung besar
kecilnya populasi. Dalam menentukan jumlah sampel minimal pada penelitian
deskriptif, yaitu dua puluh persen (≥ 20%) dari jumlah populasi (Tuwu, 2003:163).
Penentuan ukuran sampel sebesar 56 orang (20%) dari 279 pegawai pada
Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. Teknik penarikan sampel dalam penelitian ini
menggunakan purposive sampling, yang merupakan nonprobability sampling
dimana teknik penentuan sampelnya dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono,
2009:85). Pertimbangan memilih sampel adalah orang-orang yang terlibat dan
berkepentingan dalam menyusun anggaran sesuai dengan objek dalam penelitian ini.

Operasionalisasi Variabel
Variabel penelitian adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh
penulis untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian
ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009:38). Variabel yang digunakan dalam
penelitian ini, yaitu:
1. Anggaran Berbasis Kinerja (X), yaitu suatu variabel yang mempengaruhi
variabel lainnya.
2. Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah (Y), yaitu suatu variabel yang
dipengaruhi atau dihasilkan oleh variabel independen.

144
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016

Indikator Operasionalisasi Variabel

Variabel Indikator Ukuran Skala


Anggaran a. Persiapan Ordinal
Berbasis b. Ratifikasi Ordinal
Kinerja c. Implementasi Ordinal
(X) d. Evaluasi dan Pelaporan Ordinal
Kinerja a. Efektivitas Ordinal
Aparatur b. Efisiensi Ordinal Likert
Pemerintah c. Pertumbuhan Pegawai Ordinal
Daerah (Kemampuan, Motivasi,
(Y) Kesempatan berprestasi)
d. Kepuasan Pelanggan
Ordinal

Selanjutnya indikator-indikator tersebut dijalankan dalam bentuk pernyataan-


pernyataan dalam kuesioner. Adapun pernyataan dalam kuesioner untuk Anggaran
Berbasis Kinerja dan Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah adalah sebagai berikut:

Variabel Indikator
A. Persiapan
1. Dinas Sosial mempunyai visi yang sudah jelas, mudah diingat serta
memberi motivasi kepada anggota organisasi
2. Dinas Sosial mempunyai misi yang sudah jelas, mudah diingat, dan
sesuai dengan tugas pokok dan fungsi
3. Dalam jangka waktu 1 s/d 5 tahun Dinas Sosial memiliki tujuan
yang sudah jelas, selaras dengan visi misi, menjadi dasar utama
pembuatan target dan indikator kinerja pada pelaksanaan aktivitas
4. Dinas Sosial memiliki informasi finansial tersedia dengan lengkap
untuk digunakan sebagai perencanaan anggaran
Anggaran 5. Rapat penyusunan rencana kinerja anggaran dilaksanakan sebelum
Berbasis penyusunan anggaran Dinas
Kinerja
(X) B. Ratifikasi
6. Pengesahan anggaran dilakukan karena anggaran tersebut telah
sesuai dengan skala prioritas yang proporsional
7. Ketepatan waktu pengesahan telah sesuai dengan rencana
implementasi anggaran
8. Alasan yang disampaikan pimpinan dalam pengesahan anggaran
telah sesuai dengan perencanaan pembuatan anggaran untuk
pelaksanaan kegiatan

C. Implementasi
9. Penganggaran di Dinas Sosial telah dilaksanakan secara transparansi
145
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…

dan akuntabilitas anggaran, disiplin anggaran, keadilan anggaran,


efisiensi dan efektivitas anggaran, serta disusun dengan pendekatan
kinerja
10. Penyusunan anggaran di Dinas Sosial telah selaras dengan visi, misi,
dan tujuan serta realistis (dapat dicapai) dan menggambarkan hasil
(output dan outcome) serta berdasarkan value for money
11. Anggaran Dinas Sosial lebih berorientasi kepada pendayagunaan
anggaran yang tersedia untuk mencapai hasil yang optimal dari
kegiatan yang dilaksanakan
12. Setiap kegiatan atau aktivitas dipilih berdasarkan rencana strategi
dan tujuan operasional yang telah ditetapkan

D. Evaluasi dan Pelaporan


13. Keberhasilan realisasi anggaran telah sesuai dengan prosedur yang
ditetapkan dalam hal pencapaian tujuan dinas
14. Realisasi anggaran telah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
Dinas Sosial
15. Sistem anggaran kinerja telah berperan sebagai patokan dalam
melaksanakan tujuan dan sasaran dinas
16. Dalam hal pelaporan anggaran telah sesuai dengan kerangka acuan
kegiatan
17. Laporan realisasi anggaran Dinas Sosial telah memberikan
gambaran yang jelas atas tingkat keberhasilan, serta mendorong
aparatur Dinas Sosial untuk selalu meningkatkan kinerja
Kinerja E. Efektivitas
Aparatur 18. Dalam melaksanakan kegiatan setiap aparatur di Dinas Sosial
Pemerintah memberikan kinerja yang optimal dengan penggunaan anggaran
Daerah seminimal mungkin
(Y) 19. Penggunaan anggaran dilaksanakan oleh setiap seksi sesuai dengan
perencanaan yang telah disusun
20. Setiap kegiatan, program, dan kebijakan dilakukan evaluasi dengan
menilai efisiensi biaya
21. Rencana kinerja di Dinas Sosial sudah digunakan sebagai komitmen
untuk menyediakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan secara
efisien
F. Efisiensi
22. Penyusunan anggaran telah memperhatikan tingkat pencapaian
(outcome) yang diharapkan
23. Rencana kinerja anggaran telah disesuaikan dengan Rencana
Strategis pada Dinas Sosial
24. Penyusunan anggaran di Dinas Sosial telah memberikan informasi
kinerja yang tepat sehingga dapat digunakan untuk melakukan
efektivitas dalam implementasi anggaran
25. Setiap kegiatan, program, dan kebijakan dilaksanakan sesuai dengan
kebutuhan dan prioritas untuk menciptakan suatu efektivitas
146
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016

G. Pertumbuhan Pegawai (Kemampuan, Motivasi, Kesempatan


berprestasi)
26. Penempatan pegawai telah sesuai dengan pengetahuan dan
kemampuan yang dimiliki
27. Pendidikan kinerja pegawai yang meningkat mempengaruhi
kemajuan instansi
28. Secara periodik diadakan pelatihan atau seminar untuk pegawai
29. Setiap pegawai Dinas Sosial bekerja dengan tekun, rajin dan baik
untuk menghasilkan kerja yang berkualitas
30. Setiap pegawai Dinas Sosial bekerja dengan tekun, rajin dan baik
agar memiliki karier yang terus meningkat
31. Evaluasi prestasi setiap pegawai dilakukan secara berkala
32. Prestasi pegawai akan berdampak pada kinerja Dinas
33. Pengembangan kinerja instansi akan dipengaruhi dengan motivasi
kerja pegawai
34. Fasilitas kerja yang disediakan kantor sudah mendukung kelancaran
tugas pegawai
35. Setiap pegawai Dinas Sosial bekerja dengan tekun, rajin dan baik
agar mendapatkan promosi jabatan
H. Kepuasan Pelanggan
36. Pemberian layanan jasa dengan cepat dan tepat sesuai keinginan
masyarakat
37. Tersedianya fasilitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat
38. Kompetensi, kesopanan, dan kredibilitas sebagai pegawai Dinas
Sosial sangat diperlukan dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat
39. Alat ukur kepuasan masyarakat terhadap pelayanan (angket,
wawancara, pengaduan) sudah tepat dan sesuai
40. Jumlah pengaduan masyarakat mengalami penurunan setiap
tahunnya
Penyusunan kuesioner menggunakan teknik skala likert dapat dilihat pada tabel
dibawah ini.

Penggunaan Skala Pengukuran dalam Kuesioner

Notasi Nilai Keterangan


Sangat Setuju (SS) 5 Jawaban apabila responden sangat setuju
dengan pernyataan dalam kuesioner
Setuju (S) 4 Jawaban apabila responden setuju dengan
pernyataan dalam kuesioner
Kurang Setuju (KS) 3 Jawaban apabila responden kurang setuju
dengan pernyataan dalam kuesioner

147
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…

Tidak Setuju (TS) 2 Jawaban apabila responden tidak setuju


dengan pernyataan dalam kuesioner
Sangat Tidak Setuju 1 Jawaban apabila responden sangat tidak
(STS) setuju dengan pernyataan dalam kuesioner

HASIL DAN PEMBAHASAN


Uji Validitas
Pengujian validitas digunakan untuk mengukur valid atau tidaknya suatu pernyataan
kuesioner yang disebarkan kepada responden, maka kuesioner dikatakan valid jika
kuesioner mampu mengungkap sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.
Pengujian validitas dalam penelitian ini menggunakan korelasi Rank Spearman. Dari
17 item pernyataan untuk Anggaran Berbasis Kinerja memiliki nilai-nilai koefisien
validitas untuk masing-masing item pernyataan lebih besar dari r kritis = 0,22
sehingga dapat dikatakan bahwa item-item pernyataan tersebut adalah valid.
Sedangkan dari 23 item pernyataan untuk Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah
memiliki nilai-nilai koefisien validitas untuk masing-masing item pernyataan lebih
besar dari r kritis = 0,22 sehingga dapat dikatakan bahwa item-item pernyataan
tersebut adalah valid.

Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas merupakan metode untuk mengukur suatu jawaban pernyataan, suatu
kuesioner dikatakan reliabel jika jawaban terhadap pernyataan adalah konsisten.
Pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan metode belah dua (Split Half
Method) Spearman Brown. Dalam melakukan uji reliabilitas, penulis menggunakan
alat bantu software SPSS 19.0 Hasil perhitungan dapat diketahui bahwa reliabilitas
untuk Anggaran Berbasis Kinerja sebesar 0,801. Sedangkan reliabilitas untuk
Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah sebesar 0,854. Karena nilai koefisien
reliabilitasnya lebih besar dari 0,7 maka dapat dikatakan bahwa item-item
pernyataan tentang Anggaran Berbasis Kinerja dan Kinerja Aparatur Pemerintah
Daerah adalah reliabel.

Pengujian Hipotesis
Hasil penelitian mengenai pengaruh anggaran berbasis kinerja terhadap aparatur
pemerintah daerah diperoleh dengan melakukan pengujian hipotesis. Pengujian
hipotesis dilakukan dengan menggunakan korelasi Rank Spearman, dengan langkah-
langkah sebagai berikut:
a. Penetapan Hipotesis Penelitian
Perumusan Ho dan Ha adalah sebagai berikut:
Ho: Tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara anggaran
berbasis kinerja terhadap kinerja aparatur pemerintah daerah
Ha: Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara anggaran berbasis
kinerja terhadap kinerja aparatur pemerintah daerah
Dengan kriteria sebagai berikut:
Jika t hitung < t tabel (df = n-2) maka Ho diterima
Jika t hitung > t tabel (df = n-2) maka Ho ditolak
148
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016

b. Pengujian Statistik
Hasil pengolahan kuesioner dianalisis dengan menggunakan korelasi Rank
Spearman, yaitu dengan cara masing-masing jawaban diberi bobot nilai dan
kemudian dijumlahkan sehingga diperoleh variabel X dan variabel Y.

Tabel Perhitungan Ranking dan Selisih Ranking


Resp X Y Rank Rank di di2
X Y (Rank X- Rank Y)
1 70 98 23,5 30,5 -7 49
2 73 98 34 30,5 3,5 12,25
3 75 101 43 43 0 0
4 65 86 5 5 0 0
5 68 92 17,5 16,5 1 1
6 70 101 23,5 43 -19,5 380,25
7 72 92 30 16,5 13,5 182,25
8 75 100 43 40 3 9
9 76 105 48 52 -4 16
10 75 103 43 47 -4 16
11 72 101 30 43 -13 169
12 71 105 26,5 52 -25,5 650,25
13 68 97 17,5 27,5 -10 100
14 64 87 2,5 6,5 -4 16
15 66 89 8,5 9,5 -1 1
16 68 85 17,5 2,5 15 225
17 67 85 11,5 2,5 9 81
18 68 92 17,5 16,5 1 1
19 66 88 8,5 8 0,5 0,25
20 66 89 8,5 9,5 -1 1
21 71 100 26,5 40 -13,5 182,25
22 76 98 48 30,5 17,5 306,25
23 68 90 17,5 11,5 6 36
24 64 90 2,5 11,5 -9 81
25 74 99 38 35,5 2,5 6,25
26 72 96 30 25,5 4,5 20,25
27 76 98 48 30,5 17,5 306,25
28 73 102 34 45 -11 121
29 65 85 5 2,5 2,5 6,25
30 65 87 5 6,5 -1,5 2,25
31 62 85 1 2,5 -1,5 2,25
32 78 99 51,5 35,5 16 256
33 80 103 55 47 8 64
34 81 92 56 16,5 39,5 1560,25
35 73 99 34 35,5 -1,5 2,25
36 73 100 34 40 -6 36
37 68 93 17,5 21,5 -4 16
38 68 92 17,5 16,5 1 1
39 67 92 11,5 16,5 -5 25
40 68 92 17,5 16,5 1 1
41 74 104 38 49,5 -11,5 132,25
42 68 92 17,5 16,5 1 1
43 74 97 38 27,5 10,5 110,25
44 73 99 34 35,5 -1,5 2,25
45 71 103 26,5 47 -20,5 420,25
149
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…

46 71 96 26,5 25,5 1 1
47 75 94 43 23 20 400
48 75 95 43 24 19 361
49 68 105 17,5 52 -34,5 1190,25
50 75 93 43 21,5 21,5 462,25
51 66 99 8,5 35,5 -27 729
52 75 99 43 35,5 7,5 56,25
53 79 106 53,5 54,5 -1 1
54 79 107 53,5 56 -2,5 6,25
55 77 106 50 54,5 -4,5 20,25
56 78 104 51,5 49,5 2 4
Total 8839
Sumber: Hasil Pengolahan Data

150
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016

Nilai Korelasi Variabel X Nilai Korelasi Variabel Y


Nilai Nilai yang sama f(t) Tx = (t3-t)/12
yang f(t) Tx = (t3-t)/12 85 4 5
sama 87 2 0,5
64 2 0,5 89 2 0,5
65 3 2 90 2 0,5
66 4 5 92 8 42
67 2 0,5 93 2 0,5
68 10 82,5 96 2 0,5
70 4 5 97 2 0,5
71 4 5 98 4 5
72 3 2 99 6 17,5
73 5 10 100 3 2
74 3 2 101 3 2
75 7 28 103 3 2
76 3 2 104 2 0,5
78 2 0,5 105 3 2
79 2 0,5 106 2 0,5
Jumlah 145,5 Jumlah 81,5
Sumber: Hasil Pengolahan Data Sumber: Hasil Pengolahan Data
Maka: Maka:

151
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…

Karena terdapat nilai yang sama maka nilai koefisien Korelasi Rank Spearman
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Setelah diketahui besar koefisien korelasi tersebut, untuk mengetahui


kekuatan hubungan antara variabel X dan variabel Y digunakan pedoman untuk
tingkat keeratan hubungan antar kedua variabel berdasarkan interpretasi Guildford’s
Emperical Rule (Sitepu, 1994:108), sebagai berikut:
Tabel Derajat Hubungan Antar Variabel

Internal Koefisien Tingkat Hubungan


Korelasi
0,00 – 0,19 Sangat Rendah
0,20 – 0,39 Rendah
0,40 – 0,59 Sedang
0,60 – 0,79 Kuat
0,80 – 1,00 Sangat Kuat
Sumber: Sitepu 1994

Berdasarkan tabel tersebut, maka koefisien korelasi Rank Spearman (r s )


sebesar 0,6956 termasuk tingkat hubungan yang kuat yang berada pada daerah 0,60
– 0,79. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang searah yang artinya
jika penerapan anggaran berbasis kinerja meningkat, maka kinerja aparatur
pemerintah daerah akan meningkat mengindikasikan bahwa penerapan anggaran
berbasis kinerja menurun, maka kinerja aparatur pemerintah daerah juga akan
menurun.

c. Penetapan Tingkat Signifikan


Untuk menguji hipotesis penelitian maka langkah selanjutnya adalah
membandingkan t hitung dengan t tabel untuk taraf signifikansi sebesar 5% (0,05)
dengak rumus dk = n – 2, maka hasilnya sebagai berikut:

152
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016

Dari perhitungan t tabel sebagai berikut:


ttabel = t (1 – 0,95); 56-2
ttabel = t (0,05); 54
ttabel = 1,6707

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut dengan taraf signifikansi 5% atau taraf


kepercayaan 95% didapatkan bahwa t hitung (7,1150) > t tabel (1,6707) maka Ho
ditolak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan
antara anggaran berbasis kinerja terhadap kinerja aparatur pemerintah daerah.

d. Perhitungan Koefisien Determinasi


Untuk mencari seberapa besar pengaruh variabel X (anggaran berbasis
kinerja) terhadap variabel Y (kinerja aparatur pemerintah daerah) dapat dicari
dengan menggunakan rumus koefisien determinasi yang dapat mengetahui nilai
yang menyatakan besarnya pengaruh variabel X terhadap variabel Y, hasil
perhitungan sebagai berikut:
Kd = r s 2 x 100%
Kd = (0,6956)2 x 100%
Kd = 48,39%
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa anggaran berbasis
kinerja memberikan pengaruh terhadap kinerja aparatur pemerintah daerah
sebesar 48,39%, sedangkan sisanya sebesar 51,61% merupakan kontribusi
variabel lain selain anggaran berbasis kinerja.

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengolahan kuesioner yang kemudian telah diuji melalui
pengujian hipotesis dengan uji statistik yang sesuai serta dengan mempelajari buku-
buku dan literatur yang berkaitan dengan penelitian, maka dapat dijelaskan bahwa
anggaran berbasis kinerja berpengaruh terhadap kinerja aparatur pemerintah daerah.

Anggaran Berbasis Kinerja


Apabila total skor jawaban pernyataan Anggaran Berbasis Kinerja dirinci
menurut indikator yang ada, maka gambaran atas masing-masing indikator adalah
sebagai berikut:
a. Persiapan
Pada indikator persiapan, skor yang dapat dicapai adalah sebesar 1180 atau
84,29% dari skor maksimal 1400. Persentase tersebut berada pada kategori

153
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…

baik, sehingga memberikan gambaran bahwa persiapan anggaran berbasis


kinerja di Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat telah selaras dengan visi, misi,
dan tujuan serta didukung oleh ketersediaan informasi finansial yang
lengkap sehingga dapat digunakan sebagai perencanaan anggaran pada
dinas tersebut.
b. Ratifikasi
Pada indikator ratifikasi, skor yang dicapai sebesar 697 atau 82,98% dari
skor maksimal 840. Persentase tersebut berada pada kategori baik. Sehingga
memberikan gambaran bahwa penganggaran berbasis kinerja di Dinas
Sosial Provinsi Jawa Barat ditinjau dari indikator ratifikasi telah
dilaksanakan tepat waktu sesuai dengan rencana pelaksanaan anggaran.
c. Implementasi
Pada indikator implementasi, skor yang dapat dicapai adalah sebesar 951
atau 84,91% dari skor maksimal 1120. Persentase tersebut berada pada
kategori baik. Sehingga memberikan gambaran bahwa implementasi
penganggaran berbasis kinerja di Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat telah
dilaksanakan sesuai dengan pronsip-prinsip anggaran berbasis kinerja yaitu
transparansi dan akuntabilitas anggaran, disiplin anggaran, keadilan
anggaran, serta efisiensi dan efektivitas anggaran. Selain itu implementasi
anggaran di Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat lebih berorientasi kepada
pendayagunaan anggaran yang tersedia untuk mencapai hasil yang optimal
dari setiap program dan kegiatan yang dilaksanakan.
d. Laporan dan Evaluasi
Pada indikator laporan dan evaluasi, skor yang dapat dicapai adalah sebesar
1164 atau 83,14% dari skor maksimal 1400. Persentase tersebut berada
pada kategori baik, sehingga memberikan gambaran bahwa penganggaran
berbasis kinerja dapat digunakan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat
selain sebagai alat pertanggungjawaban pencapaian kinerja tetapi juga
sebagai alat yang dapat memotivasi pegawai di Dinas tersebut untuk bekerja
lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah


Pembahasan mengenai peningkatan setiap indikator kinerja yang dilakukan oleh
aparatur Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat adalah sebagai berikut:
a. Efisiensi
Pada indikator efisiensi, skor yang dicapai adalah sebesar 952 atau 85,00%
dari skor maksimal 1120. Persentase tersebut berada pada kategori sangat
baik, sehingga memberikan gambaran bahwa setiap aparatur pada Dinas
Sosial Provinsi Jawa Barat telah melaksanakan program dan kegiatan
dengan menggunakan sumber daya yang sekecil mungkin dan setiap
kegiatan, program, dan kebijakan tersebut dilakukan evaluasi dengan
menilai efisiensi biaya sehingga dapat mencegah pemborosan.
b. Efektivitas

154
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016

Pada indikator efektivitas, skor yang dapat dicapai adalah sebesar 943 atau
84,20% dari skor maksimal 1120. Persentase tersebut berada pada kategori
baik. Hal ini menggambarkan bahwa program dan kegiatan yang
dijalankan oleh setiap aparatur telah sesuai dengan tujuan dan sasaran yang
telah ditetapkan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat sehingga dapat
dikatakan bahwa kinerja setiap aparatur telah berjalan efektif. Untuk lebih
jelasnya terkait dengan pelaksanaan kegiatan program dapat dilihat pada
lampiran 11.
c. Pertumbuhan Pegawai
Pada indikator pertumbuhan pegawai yang terdiri dari faktor kemampuan,
kesempatan berprestasi dan faktor motivasi, skor yang dapat dicapai adalah
sebesar 2340 atau 83,57% dari skor maksimal 2800. Persentase tersebut
berada pada kategori baik. Ini menggambarkan bahwa keadaan aparatur
Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat telah memadai baik segi kualitas maupun
kuantitas. Dalam hal meningkatkan kemampuan pegawai, Dinas Sosial
mengadakan program sebagai berikut:
1. Penanaman sikap mental, disiplin, dan jiwa korsa
2. Diklat Jabatan Fungsional yang diadakan oleh BKD dan Kementrian
3. Pembekalan peningkatan motivasi kerja yang diadakan oleh PSD
Pemerintah Provinsi Jawa Barat
4. Pembekalan kecerdasan sosial yang diadakan oleh PSD Pemerintah
Provinsi Jawa Barat
5. Pembekalan kewirausahaan PNS Purna Bakti bagi pegawai yang akan
pensiun
6. Orientasi CPNS dan PNS yang diadakan oleh BKD dan Pusdik
d. Kepuasan Pelanggan
Pada indikator kepuasan pelanggan skor yang dapat dicapai adalah sebesar
1156 atau 82,57% dari skor maksimal 1400. Persentase tersebut berada
pada kategori baik. Hal ini menggambarkan bahwa kualitas layanan publik
terhadap kepuasan masyarakat telah sesuai yang diharapkan, dimana
pemberian jasa layanan dilaksanakan dengan tepat dan cepat sesuai dengan
keinginan masyarakat, juga didukung oleh fasilitas memadai. Kompetensi
(competency), kesopanan (courtesy), dan kredibilitas (credibility) setiap
aparatur sangat diperlukan dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat. Kepuasan masyarakat juga dapat dilihat dari berkurangnya
jumlah pengaduan dari masyarakat. Hal ini disebabkan karena
penyelenggaraan jasa terhadap publik telah terpenuhi dengan baik.

155
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…

Pengaruh Anggaran Berbasis Kinerja (X) Terhadap Kinerja Aparatur


Pemerintah Daerah (Y)
Berdasarkan hasil pengolahan data mengenai Pengaruh Anggaran Berbasis Kinerja
(X) terhadap Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah (Y), yaitu sebagai berikut:
Koefisien
Variabel r s t hitung t tabel Keputusan Ket.
Determinasi
X dan Y 0,6956 7,1150 1,6707 Ho ditolak signifikan 48,39%
Sumber: Hasil Pengolahan Data

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa besarnya hubungan Anggaran Berbasis
Kinerja (X) Terhadap Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah (Y) adalah 0,6956.
Hubungan ini termasuk kategori hubungan yang kuat. Hasil pengujian dengan
statistik t didapat nilai t hitung (7,1150) > t tabel (1,6707). Hal tersebut mengindikasikan
penolakan Ho yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif Anggaran
Berbasis Kinerja (X) Terhadap Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah (Y). Semakin
tinggi penerapan Anggaran Berbasis Kinerja, maka akan semakin tinggi pula
Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah.
Untuk melihat besarnya pengaruh Anggaran Berbasis Kinerja (X) terhadap
Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah (Y) digunakan koefisien determinasi. Hal ini
memberikan pengertian Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah dipengaruhi oleh
Anggaran Berbasis Kinerja sebesar 48,39%, sedangkan sisanya 51,61% merupakan
kontribusi variabel lain selain Anggaran Berbasis Kinerja.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat
disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh anggaran berbasis kinerja
terhadap kinerja aparatur pemerintah daerah pada Dinas Sosial Provinsi Jawa
Barat. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, didapat t hitung > t tabel. Anggaran
berbasis kinerja memiliki hubungan positif yang kuat dan searah, artnya jika
anggaran berbasis kinerja diterapkan dengan baik maka efektivitas
pengendalian akan meningkat, sebaliknya apabila anggaran berbasis kinerja
tidak diterapkan dengan baik maka efektivitas pengendalian tidak akan berjalan
dengan baik (lemah). Adapun besarnya pengaruh penerapan anggaran berbasis
kinerja terhadap kinerja aparatur pemerinah daerah pada Dinas Sosial Provinsi
Jawa Barat sebesar 48,39% dan sisanya sebesar 51,61% dipengaruhi oleh
variabel lain yang tidak diikutsertakan dalam penelitian ini seperti audit
internal, pengawasan intern, dan sebagainya.
2. Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja pada Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat
telah dilaksanakan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari indikator: (a)
Persiapan anggaran berbasis kinerja di Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat telah
selaras dengan visi, misi, dan tujuan serta didukung oleh ketersediaan informasi
finansial yang lengkap sehingga dapat digunakan sebagai perencanaan anggaran

156
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016

pada dinas tersebut; (b) Ratifikasi anggaran berbasis kinerja telah dilaksanakan
tepat waktu sesuai dengan rencana pelaksanaan anggaran; (c) Implementasi
penganggaran berbasis kinerja di Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat telah
dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip anggaran berbasis kinerja yaitu
transparansi dan akuntabilitas anggaran, disiplin anggaran, keadilan anggaran,
serta efisiensi dan efektivitas anggaran. Selain itu implementasi anggaran di
Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat lebih berorientasi kepada pendayagunaan
anggaran yang tersedia untuk mencapai hasil yang optimal dari setiap program
dan kegiatan yang dilaksanakan; dan (d) Laporan dan Evaluasi penganggaran
berbasis kinerja dapat digunakan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat selain
sebagai alat pertanggungjawaban pencapaian kinerja tetapi juga sebagai alat
yang dapat memotivasi pegawai di dinas tersebut untuk bekerja lebih baik
dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
3. Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah pada Dinas Provinsi Jawa Barat telah
dilaksanakan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari indikator: (a) Efisiensi,
setiap aparatur pada Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat telah melaksanakan
program dan kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang sekecil mungkin
dan setiap kegiatan, program, dan kebijakan tersebut dilakukan evaluasi dengan
menilai efisiensi biaya sehingga dapat mencegah pemborosan; (b) Efektivitas,
program dan kegiatan yang dijalankan oleh setiap aparatur telah sesuai dengan
tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat
sehingga dapat dikatakan bahwa kinerja setiap aparatur telah berjalan efektif;
(c) Pertumbuhan Pegawai, keadaan aparatur Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat
telah memadai baik segi kualitas maupun kuantitas; dan (d) Kepuasan
Pelanggan, kualitas layanan publik terhadap kepuasan masyarakat telah sesuai
yang diharapkan, dimana pemberian jasa layanan dilaksanakan dengan tepat
dan cepat sesuai dengan keinginan masyarakat, juga didukung oleh fasilitas
memadai.

SARAN
Gambaran yang akan diperoleh lebih luas lagi mengenai pengaruh anggaran
berbasis kinerja terhadap kinerja aparatur bila penelitian dilakukan terhadap
beberapa dinas sekaligus atau pemerintah provinsi Jawa Barat atau Kota/Kabupaten
lainnya. Karena tingkat pengaruh anggaran berbasis kinerja pada salah satu dinas
belum tentu sama dengan tingkat pengaruh anggaran berbasis kinerja pada dinas
lainnya.
Diharapkan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat hendaknya lebih meningkatkan
lagi penerapan anggaran berbasis kinerja, karena peningkatan penerapan anggara
berbasis kinerja ini dapat digunakan sebagai alat bantu bagi Dinas Sosial Provinsi
Jawa Barat untuk mencapai efektivitas pengendalian, juga terus meningkatkan lagi
kualitas pelayanan dan anggaran yang direncanakan lebih mengarah pada
masyarakat luas agar masyarakat merasa lebih puas dengan pelayanan yang telah
diberikan.

157
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…

Untuk peneliti selanjutnya dapat memperluas pemilihan variabel lain agar


diperoleh gambaran mengenai faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kinerja
aparatur pemerintah daerah guna mendorong terwujudnya good governance, serta
meambah variabel lain yang ikut mempengaruhi efektivitas pengendalian.

DAFTAR PUSTAKA
Bastian, Indra. 2001. Akuntansi Sektor Publik di Indonesia. Yogyakarta:
[Link] Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). 2005.
Pedoman penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja (Revisi). Direktorat
Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan Daerah Wilayah 3. Jakarta,
Indonesia.
Mahmudi. 2005. Manajemen Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi.
Muljarijadi, Bagdja. 2006. Penyusunan APBD Berbasis Kinerja, Jurnal Governance
(Sinergi Masyarakat, Swasta, dan Pemerintah yang Berkeadilan), Vol. 2.
Bandung: Universitas Padjajaran.
Nazir, Moh. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Noerdiawan, Deddi. 2006. Akuntansi Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.
Sardjito, Bambang dan Muthaher, Osmad. 2007. Pengaruh Partisipasi Penyusunan
Terhadap Kinerja Aparat Pemerintah Daerah: Budaya Organisasi dan
Komitmen Organisasi sebagai Variabel Moderating. Simposium Nasional
Akuntansi X. Makassar.
Sitepu, Nirwanan SK. 1994. Analisis Korelasi. Unit Pelayanan Statistika Jurusan
Statistika UNPAD Bandung.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung:
[Link].
Tuwu, Alimmudin. 2006. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: UI-Press.

158
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016

Lampiran 1 - Penggunaan SPSS dalam Perhitungan Variabel X

Case Processing Summary


N % Reliability Statistics
Cases Valid 56 100.0 Cronbach's
a
Excluded 0 .0 Alpha N of Items
Total 56 100.0 .801 17
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.

Item-Total Statistics
Corrected Item- Squared Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance Total Multiple Alpha if Item
Item Deleted if Item Deleted Correlation Correlation Deleted
pert1 66.95 19.033 .446 .562 .787
pert2 67.16 19.592 .413 .529 .790
pert3 67.21 18.899 .342 .623 .796
pert4 67.14 18.670 .536 .630 .781
pert5 67.11 19.806 .329 .421 .795
pert6 67.09 19.356 .362 .543 .793
pert7 67.27 19.800 .335 .409 .795
pert8 67.21 18.462 .463 .404 .786
pert9 67.04 19.053 .405 .688 .790
pert10 67.18 20.004 .323 .428 .795
pert11 66.98 19.072 .483 .782 .785
pert12 67.18 19.531 .497 .577 .787
pert13 67.14 18.706 .409 .517 .790
pert14 67.23 19.381 .403 .555 .790
pert15 67.20 19.688 .290 .344 .798
pert16 67.18 19.386 .399 .510 .791
pert17 67.16 19.919 .273 .450 .799

159
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…

Lampiran 2 - Penggunaan SPSS dalam Perhitungan Variabel Y

Case Processing Summary Reliability Statistics


N % Cronbach's
Cases Valid 56 100.0 Alpha N of Items
a .854 23
Excluded 0 .0
Total 56 100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.

Item-Total Statistics
Corrected Item- Squared Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance Total Multiple Alpha if Item
Item Deleted if Item Deleted Correlation Correlation Deleted
pert18 91.86 37.579 .323 . .852
pert19 91.91 37.719 .349 . .851
pert20 91.93 37.122 .365 . .850
pert21 91.95 38.015 .315 . .852
pert22 91.98 36.018 .468 . .846
pert23 91.91 35.283 .635 . .840
pert24 92.09 37.901 .253 . .854
pert25 91.93 37.013 .381 . .850
pert26 91.98 36.127 .453 . .847
pert27 91.98 37.509 .329 . .851
pert28 91.96 36.399 .409 . .849
pert29 91.84 36.028 .563 . .843
pert30 91.95 36.343 .572 . .844
pert31 91.96 38.108 .348 . .851
pert32 91.96 37.962 .335 . .851
pert33 92.00 35.673 .498 . .845
pert34 92.07 36.686 .452 . .847
pert35 92.11 36.861 .312 . .853
pert36 91.98 37.218 .348 . .851
pert37 92.00 35.636 .598 . .842
160
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016

pert38 92.04 36.726 .396 . .849


pert39 92.07 36.286 .481 . .846
pert40 92.07 36.940 .412 . .849

Lampiran 3 - Penggunaan SPSS dalam Perhitungan Hubungan Variabel X


dan Y

Correlations
Anggaran_ Kinerja_Aparatur_
Berbasis_Kinerja Pemerintah_Daerah
Spearman's rho Anggaran_Berbasis_Kinerja Correlation Coefficient 1,000 ,223
Sig. (2-tailed) . ,390
N 17 17
Kinerja_Aparatur_ Correlation Coefficient ,223 1,000
Pemerintah_Daerah Sig. (2-tailed) ,390 .
N 17 23

161
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…

Reliability Statistics
Cronbach's Alpha Part 1 Value 1,000
N of Items 1a
Part 2 Value 1,000
b
N of Items 1
Total N of Items 2
Correlation Between Forms ,355
Spearman-Brown Coefficient Equal Length ,524
Unequal Length ,524
Guttman Split-Half Coefficient ,518
a. The items are: Anggaran_Berbasis_Kinerja
b. The items are: Kinerja_Aparatur_Pemerintah_Daerah

162

Anda mungkin juga menyukai