Pengaruh Anggaran Kinerja pada Aparatur
Pengaruh Anggaran Kinerja pada Aparatur
2, Mei 2016
Oleh:
Febrina Astria Verasvera
Magister Manajemen-Universitas Katolik Parahyangan
Abstract: This research was conducted at Dinas Sosial of West Java Province,
located on Jalan Raya Cibabat No. 331 Cimahi, West Java. This research tries to
analyze whether there is influence of budget based on performance toward the
improvement of local government officials performance. The variable X research
indicators (Budgeting Based on Performance), they are: preparation, ratification,
implementation, evaluation and reporting. While for the variable Y (Performance of
Local Government Apparatus) these are: effectiveness, efficiency, employee growth,
and customer satisfaction. The method used in this research is descriptive analysis
method with a case study approach, and hypothesis testing used Rank Spearman
correlation analysis in order to find out the correlation variable X (Budgeting based
on Performance) and Variable Y (Performance of Local Government Apparatus).
Whereas for knowing how much the influence of variable X toward variable Y, by
using the coefficient of determination. Based on the results of research for the data
obtained, it can be concluded that, budgeting based on performance has significant
effect on the performance of local government apparatus in the Dinas Sosial of West
Java Province. It is shown in the results of Spearman Rank correlation of rs = 0.6956
and the interval from 0.60 ― 0.79 which shows a strong association level, as well
as the results of testing the hypothesis that the results show that t hitung 7.1150> t tabel 1
.6707. That matter make an indication of rejection of Ho which indicates that there
is a positive relationship between the variables X with variables Y and for the
coefficient of determination that shows the much influence of budgeting based on
performance toward the performance of local government apparatus which obtained
yield is 48.39% while 51.61% influenced by other factors. So that expected that all
officials in the Dinas Sosial able to implement the budgeting based on performance
more better.
137
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…
PENDAHULUAN
Pemberlakukan otonomi daerah berakibat pada terjadinya dinamika perkembangan
dan perbaikan sistem keuangan serta akuntansi di pemerintahan daerah menuju
pengelolaan keuangan yang lebih transparan dan akuntabel. Dinamika
perkembangan tersebut ditunjukkan dengan adanya regulasi-regulasi yang telah
dikeluarkan oleh pemerintah pusat, seperti Undang-Undang (UU) 17 tahun 2003
tentang Keuangan Negara, UU no. 32 dan 33 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah,
serta beberapa Undang-undang maupun aturan-aturan lain yang memang menjadi
regulasi terhadap berbagai pengelolaan keuangan pemerintah pusat maupun daerah.
Keadaan tersebut mendorong perkembangan praktek dan teori pada bidang
akuntansi sektor publik menjadi begitu pesat.
Pengelolaan keuangan dalam pembangunan baik di tingkat pusat ataupun
tingkat daerah merupakan kunci penting dalam menunjang pelaksanaan
pembangunan. Namun dalam hal ini sering terdapat masalah yang dapat
menghambat lajunya pembangunan, tetapi seperti yang kita ketahui hambatan justru
sering dialami oleh daerah, apalagi daerah-daerah yang kurang potensial, baik itu
sumber daya alamnya maupun sumber daya manusianya.
Hambatan-hambatan dalam hal keuangan mulai sangat terasa pada saat
terjadi penurunan penerimaan negara akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan
yang berdampak pula pada penurunan pemberian subsidi dan pembiayaan proyek-
proyek pemerintah di daerah oleh pemerintah pusat. Oleh karena itu, suatu daerah
harus mampu menggali sumber-sumber potensi daerahnya untuk dapat membiayai
anggaran belanja daerah yang nyata, dinamis dan bertanggung jawab merupakan
konsekuensi dari tugas pokok pemerintah, pelaksanaan administrasi keuangan
daerah merupakan salah satu unsur yang sangat penting di dalam penyelenggaraan
pemerintah mengingat perkembangan volume kegiatan yang meningkat dari tahun
ke tahun. Dengan demikian pemerintah daerah diharapkan lebih memahami dan
memenuhi aspirasi masyarakat dalam menyelenggarakan pemerintah dan
pelaksanaan pembangunan yang merupakan prasyarat keberhasilan pemerintah.
Pemberlakuan Undang-Undang no. 32 tahun 2004 tentang pemerintah daerah
dan Undang-Undang no. 33 tentang perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah,
membawa perubahan fundamental dalam hubungan Tata Pemerintah dan Hubungan
Keuangan, sekaligus membawa perubahan penting dalam pengelolaan Anggaran
Daerah. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) disusun berdasarkan
pendekatan kinerja, yaitu suatu sistem anggaran yang mengutamakan upaya
pencapaian hasil kerja atau ouput dari perencanaan alokasi biaya atau input yang
ditetapkan (PP no. 58 tahun 2005). Berdasarkan pendekatan kinerja, APBD disusun
berdasarkan pada sasaran tertentu yang hendak dicapai dalam satu tahun anggaran.
Oleh karena itu, dalam rangka menyiapkan Rancangan APBD, Pemerintah Daerah
bersama DPRD menyusun Kebijakan Umum APBD yang memuat petunjuk dan
ketentuan-ketentuan umum yang disepakati sebagai pedoman dalam penyusunan
APBD. Penyusunan Kebijakan Umum APBD pada dasarnya merupakan upaya
pencapaian visi, misi, tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk jangka waktu 5 (lima)
tahun dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman kepada RPJPD
138
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016
139
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…
lingkungan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, yang telah menerapkan anggaran
berbasis kinerja yang terfokus pada efisiensi penyelenggaraan suatu aktivitas.
Sardjito dan Muthaher (2007) menemukan pengaruh yang signifikan antara
partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja aparat pemerintah daerah pada
Dinas Pemerintah Karisidenan Semarang, yang ditunjukkan dengan nilai t hitung
sebesar 2,054 dengan signifikasi sebesar 0,042 yang lebih kecil dari α = 0,05.
Semakin tinggi partisipasi penyusunan anggaran maka akan semakin meningkatkan
kinerja aparat pemerintah daerah”.
TELAAH LITERATUR
Konsep Anggaran Berbasis Kinerja
Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan
dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, penganggaran daerah di Indonesia
disusun dengan pendekatan kinerja. Pendekatan kinerja disusun untuk mengatasi
berbagai kekurangan yang terdapat dalam pendekatan tradisional, khususnya
kekurangan yang disebabkan oleh tidak adanya tolak ukur yang dapat digunakan
untuk mengukur kinerja dalam pencapaian tujuan dan sasaran pelayanan publik.
Anggaran berbasis kinerja merupakan metode penganggaran bagi manajemen untuk
mengaitkan setiap pendanaan yang dituangkan dalam kegiatan-kegiatan dengan
keluaran dan hasil yang diharapkan termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dari
keluaran tersebut (Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan, 2005)
Keluaran dan hasil tersebut dituangkan dalam target kinerja pada setiap unit
kerja. Sedangkan bagaimana tujuan itu dicapai, dituangkan dalam program diikuti
dengan pembiayaan pada setiap tingkat pencapaian tujuan. Program pada anggaran
berbasis kinerja didefinisikan sebagai instrumen kebijakan yang berisi satu atau
lebih kegiatan yang akan dilaksanakan oleh instansi pemerintah atau lembaga untuk
mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran atau kegiatan
masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah.
140
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016
141
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…
Konsep Kinerja
Berdasarkan Undang-undang Nomor 17 tahun 2003, maka penyusunan APBD
dilakukan dengan mengintegrasikan program dan kegiatan masing-masing satuan
kerja di lingkungan pemerintah daerah untuk mencapai sasaran dan tujuan yang
ditetapkan. Dengan demikian tercipta sinergi dan rasionalitas yang tinggi dalam
mengalokasikan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
yang tidak terbatas. Hal tersebut juga untuk menghindari duplikasi rencana kerja
serta bertujuan untuk meminimalisasi kesenjangan antara target dengan hasil yang
dicapai berdasarkan tolok ukur kinerja yang telah ditetapkan.
Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu
kegiatan atau program atau kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi,
dan visi organisasi yang tertuang dalam perumusan skema strategis (strategic
planning) suatu organisasi (Bastian, 2001:329).
Pengukuran kinerja merupakan suatu alat manajemen yang digunakan untuk
meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Pengukuran
kinerja juga digunakan untuk menilai pencapaian tujuan dan sasaran (goals and
objectives) dengan elemen kunci sebagai berikut: (1) Perencanaan dan penetapan
tujuan; (2) Pengembangan ukuran yang relevan; (3) Pelaporan formal atas hasil; dan
(4) Penggunaan informasi.
Tujuan dilakukannya pengukuran kinerja organisasi sektor publik menurut
Mahmudi (2005:14) adalah sebagai berikut: (1) Mengetahui tingkat ketercapaian
tujuan organisasi; (2) Menyediakan sarana pembelajaran pegawai; (3) Memperbaiki
kinerja periode berikutnya; (4) Memberikan pertimbangan yang sistematik dalam
pembuatan keputusan pemberian reward dan punishment; (5) Memotivasi pegawai;
dan (6) Menciptakan akuntabilitas publik.
Dalam melakukan pengukuran kinerja, terdapat tiga tahap yang harus
dilakukan yaitu penetapan indikator kinerja, pengumpulan data kinerja, dan cara
pengukuran kinerja. Penetapan indikator kinerja merupakan proses identifikasi dan
klasifikasi indikator kinerja melalui sistem pengumpulan dan pengolahan data
informasi untuk menentukan capaian tingkat kinerja kegiatan atau program. Dalam
pengukuran kinerja diperlukan juga penetapan capaian kinerja, yang dimaksud untuk
mengetahui dan menilai capaian indikator kinerja pelaksanaan kegiatan atau
program kebijakan yang telah ditetapkan.
Terlepas dari besar, jenis, sektor atau spesialisasinya setiap organisasi
biasanya cenderung untuk tertarik pada penilaian kinerja dalam aspek berikut: (a)
Aspek Keuangan (financial); (b) Kepuasan Pelanggan; (c) Operasi Bisnis Internal;
(d) Kepuasan Pegawai; (e) Kepuasan Komunitas dan Shareholders/Stakeholders;
dan (f) Waktu.
142
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Rancangan penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah untuk
menguji adanya pengaruh antara variabel X dengan variabel Y, dalam penelitian ini
yaitu variabel X (anggaran berbasis kinerja) dan variabel Y (kinerja aparatur
pemerintah daerah). Penelitian ini merupakan penelitian survei. Penelitian survei
adalah penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan
kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok.
Penelitian ini terdapat variabel independen dan variabel dependen. Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui dan membuktikan pengaruh anggaran berbasis kinerja
sebagai variabel independen terhadap kinerja aparatur pemerintah daerah sebagai
variabel dependen. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka desain penelitian
sederhana akan digambarkan seperti gambar di bawah ini:
143
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…
Operasionalisasi Variabel
Variabel penelitian adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh
penulis untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian
ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009:38). Variabel yang digunakan dalam
penelitian ini, yaitu:
1. Anggaran Berbasis Kinerja (X), yaitu suatu variabel yang mempengaruhi
variabel lainnya.
2. Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah (Y), yaitu suatu variabel yang
dipengaruhi atau dihasilkan oleh variabel independen.
144
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016
Variabel Indikator
A. Persiapan
1. Dinas Sosial mempunyai visi yang sudah jelas, mudah diingat serta
memberi motivasi kepada anggota organisasi
2. Dinas Sosial mempunyai misi yang sudah jelas, mudah diingat, dan
sesuai dengan tugas pokok dan fungsi
3. Dalam jangka waktu 1 s/d 5 tahun Dinas Sosial memiliki tujuan
yang sudah jelas, selaras dengan visi misi, menjadi dasar utama
pembuatan target dan indikator kinerja pada pelaksanaan aktivitas
4. Dinas Sosial memiliki informasi finansial tersedia dengan lengkap
untuk digunakan sebagai perencanaan anggaran
Anggaran 5. Rapat penyusunan rencana kinerja anggaran dilaksanakan sebelum
Berbasis penyusunan anggaran Dinas
Kinerja
(X) B. Ratifikasi
6. Pengesahan anggaran dilakukan karena anggaran tersebut telah
sesuai dengan skala prioritas yang proporsional
7. Ketepatan waktu pengesahan telah sesuai dengan rencana
implementasi anggaran
8. Alasan yang disampaikan pimpinan dalam pengesahan anggaran
telah sesuai dengan perencanaan pembuatan anggaran untuk
pelaksanaan kegiatan
C. Implementasi
9. Penganggaran di Dinas Sosial telah dilaksanakan secara transparansi
145
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…
147
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…
Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas merupakan metode untuk mengukur suatu jawaban pernyataan, suatu
kuesioner dikatakan reliabel jika jawaban terhadap pernyataan adalah konsisten.
Pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan metode belah dua (Split Half
Method) Spearman Brown. Dalam melakukan uji reliabilitas, penulis menggunakan
alat bantu software SPSS 19.0 Hasil perhitungan dapat diketahui bahwa reliabilitas
untuk Anggaran Berbasis Kinerja sebesar 0,801. Sedangkan reliabilitas untuk
Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah sebesar 0,854. Karena nilai koefisien
reliabilitasnya lebih besar dari 0,7 maka dapat dikatakan bahwa item-item
pernyataan tentang Anggaran Berbasis Kinerja dan Kinerja Aparatur Pemerintah
Daerah adalah reliabel.
Pengujian Hipotesis
Hasil penelitian mengenai pengaruh anggaran berbasis kinerja terhadap aparatur
pemerintah daerah diperoleh dengan melakukan pengujian hipotesis. Pengujian
hipotesis dilakukan dengan menggunakan korelasi Rank Spearman, dengan langkah-
langkah sebagai berikut:
a. Penetapan Hipotesis Penelitian
Perumusan Ho dan Ha adalah sebagai berikut:
Ho: Tidak terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara anggaran
berbasis kinerja terhadap kinerja aparatur pemerintah daerah
Ha: Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara anggaran berbasis
kinerja terhadap kinerja aparatur pemerintah daerah
Dengan kriteria sebagai berikut:
Jika t hitung < t tabel (df = n-2) maka Ho diterima
Jika t hitung > t tabel (df = n-2) maka Ho ditolak
148
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016
b. Pengujian Statistik
Hasil pengolahan kuesioner dianalisis dengan menggunakan korelasi Rank
Spearman, yaitu dengan cara masing-masing jawaban diberi bobot nilai dan
kemudian dijumlahkan sehingga diperoleh variabel X dan variabel Y.
46 71 96 26,5 25,5 1 1
47 75 94 43 23 20 400
48 75 95 43 24 19 361
49 68 105 17,5 52 -34,5 1190,25
50 75 93 43 21,5 21,5 462,25
51 66 99 8,5 35,5 -27 729
52 75 99 43 35,5 7,5 56,25
53 79 106 53,5 54,5 -1 1
54 79 107 53,5 56 -2,5 6,25
55 77 106 50 54,5 -4,5 20,25
56 78 104 51,5 49,5 2 4
Total 8839
Sumber: Hasil Pengolahan Data
150
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016
151
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…
Karena terdapat nilai yang sama maka nilai koefisien Korelasi Rank Spearman
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
152
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengolahan kuesioner yang kemudian telah diuji melalui
pengujian hipotesis dengan uji statistik yang sesuai serta dengan mempelajari buku-
buku dan literatur yang berkaitan dengan penelitian, maka dapat dijelaskan bahwa
anggaran berbasis kinerja berpengaruh terhadap kinerja aparatur pemerintah daerah.
153
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…
154
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016
Pada indikator efektivitas, skor yang dapat dicapai adalah sebesar 943 atau
84,20% dari skor maksimal 1120. Persentase tersebut berada pada kategori
baik. Hal ini menggambarkan bahwa program dan kegiatan yang
dijalankan oleh setiap aparatur telah sesuai dengan tujuan dan sasaran yang
telah ditetapkan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat sehingga dapat
dikatakan bahwa kinerja setiap aparatur telah berjalan efektif. Untuk lebih
jelasnya terkait dengan pelaksanaan kegiatan program dapat dilihat pada
lampiran 11.
c. Pertumbuhan Pegawai
Pada indikator pertumbuhan pegawai yang terdiri dari faktor kemampuan,
kesempatan berprestasi dan faktor motivasi, skor yang dapat dicapai adalah
sebesar 2340 atau 83,57% dari skor maksimal 2800. Persentase tersebut
berada pada kategori baik. Ini menggambarkan bahwa keadaan aparatur
Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat telah memadai baik segi kualitas maupun
kuantitas. Dalam hal meningkatkan kemampuan pegawai, Dinas Sosial
mengadakan program sebagai berikut:
1. Penanaman sikap mental, disiplin, dan jiwa korsa
2. Diklat Jabatan Fungsional yang diadakan oleh BKD dan Kementrian
3. Pembekalan peningkatan motivasi kerja yang diadakan oleh PSD
Pemerintah Provinsi Jawa Barat
4. Pembekalan kecerdasan sosial yang diadakan oleh PSD Pemerintah
Provinsi Jawa Barat
5. Pembekalan kewirausahaan PNS Purna Bakti bagi pegawai yang akan
pensiun
6. Orientasi CPNS dan PNS yang diadakan oleh BKD dan Pusdik
d. Kepuasan Pelanggan
Pada indikator kepuasan pelanggan skor yang dapat dicapai adalah sebesar
1156 atau 82,57% dari skor maksimal 1400. Persentase tersebut berada
pada kategori baik. Hal ini menggambarkan bahwa kualitas layanan publik
terhadap kepuasan masyarakat telah sesuai yang diharapkan, dimana
pemberian jasa layanan dilaksanakan dengan tepat dan cepat sesuai dengan
keinginan masyarakat, juga didukung oleh fasilitas memadai. Kompetensi
(competency), kesopanan (courtesy), dan kredibilitas (credibility) setiap
aparatur sangat diperlukan dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat. Kepuasan masyarakat juga dapat dilihat dari berkurangnya
jumlah pengaduan dari masyarakat. Hal ini disebabkan karena
penyelenggaraan jasa terhadap publik telah terpenuhi dengan baik.
155
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa besarnya hubungan Anggaran Berbasis
Kinerja (X) Terhadap Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah (Y) adalah 0,6956.
Hubungan ini termasuk kategori hubungan yang kuat. Hasil pengujian dengan
statistik t didapat nilai t hitung (7,1150) > t tabel (1,6707). Hal tersebut mengindikasikan
penolakan Ho yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif Anggaran
Berbasis Kinerja (X) Terhadap Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah (Y). Semakin
tinggi penerapan Anggaran Berbasis Kinerja, maka akan semakin tinggi pula
Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah.
Untuk melihat besarnya pengaruh Anggaran Berbasis Kinerja (X) terhadap
Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah (Y) digunakan koefisien determinasi. Hal ini
memberikan pengertian Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah dipengaruhi oleh
Anggaran Berbasis Kinerja sebesar 48,39%, sedangkan sisanya 51,61% merupakan
kontribusi variabel lain selain Anggaran Berbasis Kinerja.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat
disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh anggaran berbasis kinerja
terhadap kinerja aparatur pemerintah daerah pada Dinas Sosial Provinsi Jawa
Barat. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, didapat t hitung > t tabel. Anggaran
berbasis kinerja memiliki hubungan positif yang kuat dan searah, artnya jika
anggaran berbasis kinerja diterapkan dengan baik maka efektivitas
pengendalian akan meningkat, sebaliknya apabila anggaran berbasis kinerja
tidak diterapkan dengan baik maka efektivitas pengendalian tidak akan berjalan
dengan baik (lemah). Adapun besarnya pengaruh penerapan anggaran berbasis
kinerja terhadap kinerja aparatur pemerinah daerah pada Dinas Sosial Provinsi
Jawa Barat sebesar 48,39% dan sisanya sebesar 51,61% dipengaruhi oleh
variabel lain yang tidak diikutsertakan dalam penelitian ini seperti audit
internal, pengawasan intern, dan sebagainya.
2. Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja pada Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat
telah dilaksanakan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari indikator: (a)
Persiapan anggaran berbasis kinerja di Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat telah
selaras dengan visi, misi, dan tujuan serta didukung oleh ketersediaan informasi
finansial yang lengkap sehingga dapat digunakan sebagai perencanaan anggaran
156
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016
pada dinas tersebut; (b) Ratifikasi anggaran berbasis kinerja telah dilaksanakan
tepat waktu sesuai dengan rencana pelaksanaan anggaran; (c) Implementasi
penganggaran berbasis kinerja di Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat telah
dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip anggaran berbasis kinerja yaitu
transparansi dan akuntabilitas anggaran, disiplin anggaran, keadilan anggaran,
serta efisiensi dan efektivitas anggaran. Selain itu implementasi anggaran di
Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat lebih berorientasi kepada pendayagunaan
anggaran yang tersedia untuk mencapai hasil yang optimal dari setiap program
dan kegiatan yang dilaksanakan; dan (d) Laporan dan Evaluasi penganggaran
berbasis kinerja dapat digunakan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat selain
sebagai alat pertanggungjawaban pencapaian kinerja tetapi juga sebagai alat
yang dapat memotivasi pegawai di dinas tersebut untuk bekerja lebih baik
dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
3. Kinerja Aparatur Pemerintah Daerah pada Dinas Provinsi Jawa Barat telah
dilaksanakan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari indikator: (a) Efisiensi,
setiap aparatur pada Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat telah melaksanakan
program dan kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang sekecil mungkin
dan setiap kegiatan, program, dan kebijakan tersebut dilakukan evaluasi dengan
menilai efisiensi biaya sehingga dapat mencegah pemborosan; (b) Efektivitas,
program dan kegiatan yang dijalankan oleh setiap aparatur telah sesuai dengan
tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat
sehingga dapat dikatakan bahwa kinerja setiap aparatur telah berjalan efektif;
(c) Pertumbuhan Pegawai, keadaan aparatur Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat
telah memadai baik segi kualitas maupun kuantitas; dan (d) Kepuasan
Pelanggan, kualitas layanan publik terhadap kepuasan masyarakat telah sesuai
yang diharapkan, dimana pemberian jasa layanan dilaksanakan dengan tepat
dan cepat sesuai dengan keinginan masyarakat, juga didukung oleh fasilitas
memadai.
SARAN
Gambaran yang akan diperoleh lebih luas lagi mengenai pengaruh anggaran
berbasis kinerja terhadap kinerja aparatur bila penelitian dilakukan terhadap
beberapa dinas sekaligus atau pemerintah provinsi Jawa Barat atau Kota/Kabupaten
lainnya. Karena tingkat pengaruh anggaran berbasis kinerja pada salah satu dinas
belum tentu sama dengan tingkat pengaruh anggaran berbasis kinerja pada dinas
lainnya.
Diharapkan Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat hendaknya lebih meningkatkan
lagi penerapan anggaran berbasis kinerja, karena peningkatan penerapan anggara
berbasis kinerja ini dapat digunakan sebagai alat bantu bagi Dinas Sosial Provinsi
Jawa Barat untuk mencapai efektivitas pengendalian, juga terus meningkatkan lagi
kualitas pelayanan dan anggaran yang direncanakan lebih mengarah pada
masyarakat luas agar masyarakat merasa lebih puas dengan pelayanan yang telah
diberikan.
157
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…
DAFTAR PUSTAKA
Bastian, Indra. 2001. Akuntansi Sektor Publik di Indonesia. Yogyakarta:
[Link] Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). 2005.
Pedoman penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja (Revisi). Direktorat
Pengawasan Penyelenggaraan Keuangan Daerah Wilayah 3. Jakarta,
Indonesia.
Mahmudi. 2005. Manajemen Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi.
Muljarijadi, Bagdja. 2006. Penyusunan APBD Berbasis Kinerja, Jurnal Governance
(Sinergi Masyarakat, Swasta, dan Pemerintah yang Berkeadilan), Vol. 2.
Bandung: Universitas Padjajaran.
Nazir, Moh. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Noerdiawan, Deddi. 2006. Akuntansi Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.
Sardjito, Bambang dan Muthaher, Osmad. 2007. Pengaruh Partisipasi Penyusunan
Terhadap Kinerja Aparat Pemerintah Daerah: Budaya Organisasi dan
Komitmen Organisasi sebagai Variabel Moderating. Simposium Nasional
Akuntansi X. Makassar.
Sitepu, Nirwanan SK. 1994. Analisis Korelasi. Unit Pelayanan Statistika Jurusan
Statistika UNPAD Bandung.
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung:
[Link].
Tuwu, Alimmudin. 2006. Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: UI-Press.
158
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016
Item-Total Statistics
Corrected Item- Squared Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance Total Multiple Alpha if Item
Item Deleted if Item Deleted Correlation Correlation Deleted
pert1 66.95 19.033 .446 .562 .787
pert2 67.16 19.592 .413 .529 .790
pert3 67.21 18.899 .342 .623 .796
pert4 67.14 18.670 .536 .630 .781
pert5 67.11 19.806 .329 .421 .795
pert6 67.09 19.356 .362 .543 .793
pert7 67.27 19.800 .335 .409 .795
pert8 67.21 18.462 .463 .404 .786
pert9 67.04 19.053 .405 .688 .790
pert10 67.18 20.004 .323 .428 .795
pert11 66.98 19.072 .483 .782 .785
pert12 67.18 19.531 .497 .577 .787
pert13 67.14 18.706 .409 .517 .790
pert14 67.23 19.381 .403 .555 .790
pert15 67.20 19.688 .290 .344 .798
pert16 67.18 19.386 .399 .510 .791
pert17 67.16 19.919 .273 .450 .799
159
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…
Item-Total Statistics
Corrected Item- Squared Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance Total Multiple Alpha if Item
Item Deleted if Item Deleted Correlation Correlation Deleted
pert18 91.86 37.579 .323 . .852
pert19 91.91 37.719 .349 . .851
pert20 91.93 37.122 .365 . .850
pert21 91.95 38.015 .315 . .852
pert22 91.98 36.018 .468 . .846
pert23 91.91 35.283 .635 . .840
pert24 92.09 37.901 .253 . .854
pert25 91.93 37.013 .381 . .850
pert26 91.98 36.127 .453 . .847
pert27 91.98 37.509 .329 . .851
pert28 91.96 36.399 .409 . .849
pert29 91.84 36.028 .563 . .843
pert30 91.95 36.343 .572 . .844
pert31 91.96 38.108 .348 . .851
pert32 91.96 37.962 .335 . .851
pert33 92.00 35.673 .498 . .845
pert34 92.07 36.686 .452 . .847
pert35 92.11 36.861 .312 . .853
pert36 91.98 37.218 .348 . .851
pert37 92.00 35.636 .598 . .842
160
Jurnal Manajemen, Vol.15, No.2, Mei 2016
Correlations
Anggaran_ Kinerja_Aparatur_
Berbasis_Kinerja Pemerintah_Daerah
Spearman's rho Anggaran_Berbasis_Kinerja Correlation Coefficient 1,000 ,223
Sig. (2-tailed) . ,390
N 17 17
Kinerja_Aparatur_ Correlation Coefficient ,223 1,000
Pemerintah_Daerah Sig. (2-tailed) ,390 .
N 17 23
161
Pengaruh Anggaran Berbasis… Febrina…
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha Part 1 Value 1,000
N of Items 1a
Part 2 Value 1,000
b
N of Items 1
Total N of Items 2
Correlation Between Forms ,355
Spearman-Brown Coefficient Equal Length ,524
Unequal Length ,524
Guttman Split-Half Coefficient ,518
a. The items are: Anggaran_Berbasis_Kinerja
b. The items are: Kinerja_Aparatur_Pemerintah_Daerah
162