LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN
RISIKO BUNUH DIRI DI RSPDM JERUK LEGI CILACAP
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktik Early Exposure Keperawatan Psikiatri
Dosen Pembimbing : Ns. Siti Nurjanah, [Link]., M,Kep., [Link].J
Di susun Oleh :
DANAR JATI MULIANTO
2211020214
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN S1
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2024/2025
A. Masalah Utama
Risiko Bunuh Diri
B. Proses terjadinya masalah
a. Definisi
Bunuh diri adalah fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh banyak
faktor, di mana individu terlibat dalam perilaku yang dimaksudkan untuk melukai
diri mereka sendiri dengan tujuan akhir mengakhiri hidup mereka sendiri.
Berbagai faktor berkontribusi terhadapperilaku bunuh diri, dengan Rutter dan
Behrendt mengidentifikasi empat faktor risiko psikososial yang signifikan untuk
bunuh diri pada remaja: ketidakberdayaan, permusuhan, konsep diri negatif, dan
isolasi (Ramadhani et al., 2020). Mengingat kemungkinan seorang pasien terlibat
dalam menyakiti diri sendiri yang menyebabkan kematian, sangat penting untuk
mengakui tiga manifestasi perilaku bunuh diri yang berbeda, khususnya pikiran untuk
bunuh diri, ancaman bunuh diri, upaya bunuh diri, dan bunuh diri. Ide bunuh
diri mengacu pada kontemplasi atau keasyikan individu dengan kemungkinan sengaja
mengakhiri hidup mereka sendiri. Manifestasi ide bunuh diri merupakan indikasi
eksplisit atau implisit oleh individu niat mereka untuk mengakhiri hidup mereka
sendiri. Upaya bunuh diri mengacu pada tindakan individu yang disengaja
diarahkan pada diri sendiri, dengan potensi mengakibatkan kematian jika
intervensi tidak dilaksanakan(Ramadhani et al., 2020).
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan pada tahun 2017 di Asia Tenggara
khususnya di Indonesia angka bunuh diri mencapai 7.355 atau 0,44 persen dari total kematian
yang ada. Tiga dari seratus ribu kematian dikatakan akibat dari kejadian bunuh diri dan
membuat Indonesia berada di peringkat 172 di dunia (Harian Nasional, 2018). Bunuh diri
dilakukan oleh mereka yang memiliki usia produktif, 15-29 tahun. Umumnya individu yang
memiliki keinginan untuk bunuh diri memiliki permasalahan yang tidak dapat ia selesaikan
dengan baik. Alasan untuk melakukan usaha bunuh diri ini didasari oleh beberapa faktor
seperti semakin tingginya penduduk yang berusia produktif memungkinkan persaingan hidup
yang begitu kekat dan erat hubungannya dengan permasalahan ekonomi. Terjebak dalam rasa
sakit emosional merupakan salah satu gejala pada individu yang memiliki keinginan bunuh
diri, dan ini menjadi target utama intervensi yang perlu diperhatikan (Litaqia & Permana,
2019).
b. Faktor predisposisi
Lima faktor predisposisi yang menunjang pada pemahaman perilaku destruktif-diri
sepanjang siklus kehidupan adalah sebagai berikut:
Sifat Kepribadian
a. Diagnosis Psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri
mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu
berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri adalah gangguan afektif, penyalahgunaan
zat, dan skizofrenia.
b. Tiga kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya resiko bunuh diri adalah
antipati, impulsif, dan depresi.
Lingkungan Psikososial
c. Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya adalah pengalaman
kehilangan, kehilangan dukungan sosial, kejadian-kejadian negatif dalam hidup, penyakit
kronis, perpisahan, atau bahkan perceraian. Kekuatan dukungan sosial sangat penting
dalam menciptakan intervensi yang terapeutik, dengan terlebih dahulu mengetahui
penyebab maslah, respon seseorang dalam menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.
d. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor penting yang
dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh diri.
e. Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh diri terjadi peningkatan zat-zat
kimia yang terdapat di dalam otak seperti serotinin dan dopamine. Peningkatan zat
tersebut dapat dilihat melalui rekaman gelombang otak Electro Encephalo Graph(EEG).
2. Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang dialami oleh
individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang memalukan. Faktor lain yang
dapat menjadi pencetus adalah melihat atau membaca melalui media mengenai orang yang
melakukan bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil,
hal tersebut menjadi sangat rentan.
c. Tanda dan Gejala
a. Mempunyai ide untuk bunuh diri.
b. Mengungkapkan keinginan untuk mati.
c. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusan.
d. Impulsif.
e. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh).
f. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri.
g. Verbal terselubung(berbicara tentang kematian, menanyakan tentang obat dosis
mematikan).
h. Status emosional(harapan, penolakan, cemas meningkat, panik, marah dan
mengasingkan diri).
i. Kesehatan mental(secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang depresi, psikosis dan
menyalahgunakan alkohol).
j. Kesehatan fisik(biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau terminal0.
k. Pengangguran(tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami kegagalan dalam
karier).
l. Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun.
m. Status perkawinan(mengalami kegagalan dalam perkawinan).
n. Pekerjaan.
o. Konflik interpersonal.
q. Latar belakang keluarga.
r. Orientasi seksual.
s. Sumber-sumber personal.
t. Sumber-sumber sosial.
u. Menjadikan korban perilaku kekerasan saat kecil.
Dasar Penetapan Masalah Klien
a. Pohon masalah
Resiko perilaku kekerasan
Resiko Bunuh Diri Akibat
Isolasi Sosial
Penyebab
Harga Diri Rendah
b. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI
Masalah keperawatan
1. Risiko bunuh diri
2. Keputus asaan
3. Ketidakberdayaan
4. Gangguan konsep diri
5. Kecemasan
6. Berduka fungsional
7. Koping individu tidak efektif
8. Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif
9. Koping keluarga tidak efektif Data yang perlu dikaji Data subjektif:
10. Mengungkapkan keinginan bunuh diri
11. Mengungkapkan keinginan untuk mati
12. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
13. Ada riwayat berulang percobaan bunuh diri sebelumnya dari keluarga
14. Berbicara tentang kematian, menanyakan tentang dosis obat yang mematikan
15. Mengungkapkan adanyanya konflik interpersonal
16. Mengungkapkan telah menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil Data objektif:
Impulsif
17. Mennjukkan perilaku yang mencurigakan(biasaya menjadi sangat patuh)
18. Ada riwayat penyakit mental (depresi, psikosis, dan penyalahgunaan alkohol)
19. Ada riwayat penyakit fisik (penyakit kronis atau penyakit terminal)
20. Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau kegagalan dalam karier)
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resiko bunuh diri
D. Rencana tindakan keperawatan
Intervensi
1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :
a. sapa pasien dengan nama baik verbal maupun non verbal
b. Perkenalkan nama, nama panggilan dan tujuan perawat berkenalan
c. Tanyakan nama lengkap dan nama penggilan yang disukai pasien
d. Buat kontrak yang jelas
e. Tunjukan sikap jujur dan menepati janji setiap kali berinteraksi
f. Tunjukan sikap empati dan menerima apa adanya
g. Beri perhatian kepada pasien dan masalalı yang dihadapi pasien
h. Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan pasien
2. Bantu pasien mengungkapkan perasaan yang menyebabkan pasien mempunyai ide serta
melakukan percobaan bunuh diri
a. Motivasi pasien untuk menceritakan penyebab pasien mempunyai ide bunuh diri
[Link] tanpa menyela atau memberi penilaian setiap ungkapan perasaan pasien
3. Bantu pasien mengungkapkan tanda tanda perilaku bunuh diri yang dialami
a. Motivasi pasien menceritakan kondisi emosionalnya
b. Motivasi pasien menceritakan kondisi sosialnya
Daftar Pustaka
Litaqia, W., & Permana, I. (2019). Peran Spiritualitas dalam Mempengaruhi Resiko Perilaku Bunuh
Diri: A Literature Review. Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta, 6(2), 615.
[Link]
Ramadhani, J., Hardinata, P., & Masfufah, U. (2020). Faktor risiko terjadinya perilaku bunuh diri pada
remaja: Sebuah kajian literatur. Jurnal Flourishing, 3(7), 286–292.
[Link]