0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan22 halaman

Peningkatan Hasil Belajar dengan Snow Balling

kamis

Diunggah oleh

maulana2003
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan22 halaman

Peningkatan Hasil Belajar dengan Snow Balling

kamis

Diunggah oleh

maulana2003
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Deskripsi Hasil Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang berlangsung selama 2
(dua) siklus pembelajaran. Setiap tindakan dilaksanakan berdasarkan sistem
yang berlaku dan menghendaki adanya proses perubahan hingga mencapai
kriteria yang telah ditetapkan, dan permasalahannya difokuskan pada
peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju) Selama pelaksanaan penelitian
tindakan kelas ini pengamatan dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan
tindakan. Peneliti bertindak sebagai guru juga sebagai pengamat. Selain itu
peneliti juga dibantu oleh guru IPS yang sebenarnya mengajar pada kelas
tersebut untuk melakukan pengamatan terhadap cara mengajar peneliti dan
reaksi siswa yang mengikuti pelajaran. Sedangkan data hasil belajar siswa
diperoleh melalui pemberian tes tertulis. Kemudian setelah kegiatan
pembelajaran selesai, observer menyampaikan hasil pengamatan kegiatan
belajar mengajar dan daftar informasi balikan siswa, setelah itu peneliti dan
observer merefleksi kegiatan belajar mengajar.
1. Keadaan Awal
Hasil survey di lapangan, bahwa dalam masih terfokus pada guru.
Pembelajaran khususnya kelas XI IPS-1 SMAN 3 Kuala Kapuas Kab.
Kapuas, masih banyak didominasi oleh ceramah guru dengan menetap
disuatu tempat dan siswa hanya mendengarkan khususnya mata pelajran,
Perbankan, pokok materi, Memahami Uang dan Perbankan, dengan
kompetensi dasar, Mendeskripsikan konsep Perbankan Kondisi seperti ini
jelas sangat berkonsekwensi negatif terhadap hasil belajar siswa.
Pembelajaran sebagai intereaksi edukatif tidak nampak, keaktifan serta
kreativitas dan inovasi yang berasal dari siswa juga tidak ada. Siswa kurang
memiliki kemampuan memecahkan permasalahan yang ada, akibatnya hasil
belajar anak menjadi menurun, dan kondisi ini jelas tidak sesuai dengan
yang diharapkan oleh kurikulum sebagai standar proses pembelajaran.
Bertolak dari hasil observasi awal yang dilakukan peneliti, pada objek
dan subjek penelitian yang ada dengan jumlah siswa berjumlah 21 orang,
dalam pembelajaran yang ada, hanya 4 orang atau 19,05% siswa
mendapatkan nilai di atas angka 80, dan 17 orang atau 80,95% siswa
mendapatkan nilai dibawah angka 80 pada mata pelajaran dimaksud diatas.
Kenyataan ini, dapat dikatakan bahwa capaian nilai yang ada dilihat dari
besarnya nilai, sudah baik namun dilihat dari segi jumlah siswa yang
mencapai nilai tersebut masih dibawah standar ketuntasan yang diharapkan.
Penyebab hal tersebut diatas, oleh karena dalam proses pembelajaran belum
sepenuhnya menggunakan strategi Pengajaran yang benar. Selain itu,
ketuntasan belajar anak dalam mengikuti pelajaran belum terlaksana dalam
situasi yang terkendali.
Secara terperinci hasil kegiatan pada pra siklus sebagaimana
dijelaskan pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Kegiatan Siswa Pada Kegiatan Diskusi
pada Keadaan Awal

Kriteria Aspek
Siklus Kelompok Nilai
SB B C K SK
Kelompok 1 60 - - C - -
Kelompok 2 70 - B - - -
Satu
Kelompok 3 55 - - C - -
Kelompok 4 60 - - C - -
Jumlah 61,25 0 1 3 0 0
Persentase - 0 25 75 0 0
Sumber: Data Olahan

Dari tabel di atas, terlihat bahwa dari 5 aspek yang dinilai pada
kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar masih belum mencapai
indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Persentase secara total
didapatkan kriteria sangat baik (SB)0%, kriteria baik (B) 25%, sedangkan
kriteria cukup 75% dan kriteria kurang 0%.
Berdasarkan hasil pada kegiatan awal mengenai hasil belajar siswa
dapat dipaparkan sebagai berikut :
Tabel 4.2 Hasil Rekapitulasi Penilaian Hasil Belajar Siswa pada
Keadaan Awal

Ketuntasan
No Nama Siswa Nilai Ket
T B
1 Angga Pramandani M 60 - B
2 Dewi Sartika 50 - B
3 Dian Astuti 60 - B
4 Dwi Priyatna Combi 60 - B
5 Firman Sawitra 60 - B
6 Irma Susanty 80 T -
7 Irna Yulaika 80 T -
8 Kelvin Yubilate Akob 50 - B
9 Krista Tri Karuniani 70 - B
10 Mahmudah 70 - B
11 Milawati 80 T -
12 Muhammad Rizal 70 - B
13 Noor Asiah 70 - B
14 Nornaimah 80 T -
15 Pratama Rifai Arief 70 - B
16 Rahmah 60 - B
17 Rini Agustya Putri 70 - B
18 Ris Jayadi Rantiano 70 - B
19 Sarisna 60 - B
20 Sutrisno 70 - B
21 Tri Kartika 60 - B
Jumlah 1400,00 4 17
Rata-rata 66,67 19,05 80,95
Daya Serap 66,67
Sumber: Data Olahan

Dalam pelaksanaan pembelajaran pada kondisi awal ini hasil belajar


siswa menunjukkan nilai rata-rata 66,67, dengan jumlah siswa tuntas
sebanyak 4 siswa atau 19,05% dan daya serap materi sebesar 66,67%.
Sehingga dipandang perlu untuk melakukan penelitian untuk memperbaiki
kondisi sebagaimana tersebut di atas dengan harapan siswa dapat
dinyatakan tuntas belajar apabila 80% dari jumlah siswa memperoleh nilai
80 ke atas.
2. Siklus I
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, data yang diperoleh berupa: rencana
pelaksanaan perbaikan pembelajaran (RPPP) yang di dalamnya tercakup
komponen skenario pembelajaran yang akan diimplementasikan;
seperangkat instrumen yang akan digunakan untuk pengumpulan data;
dan data pendukung pembelajaran berupa lembar kerja siswa (LKS).
Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah
menyampaikan seluruh tujuan dalam pembelajaran dan memotivasi
siswa, menyajikan informasi tentang materi pembelajaran siswa,
memberikan informasi kepada siswa tentang prosedur pelaksanaan
pembelajaran snowball throwing, dan membagi siswa ke dalam
kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari 5-6 orang siswa
b. Tindakan
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus I dengan dimulai
dengan membentuk kelompok siswa, ketua kelompok mempersiapkan
anggotanya, untuk membuat pertanyaan, kertas yang berisi pertanyaan
tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari siswa satu ke siswa yang
lain, siswa mendapat satu bola atau satu pertanyaan diberi
kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis
dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian dengan urutan
tahapan sebagai berikut.
1) Memanggil ketua kelompok dan menjelaskan materi serta
pembagian tugas kelompok
2) Meminta ketua kelompok kembali ke kelompok masing-masing
untuk mendiskusikan tugas yang diberikan guru dengan anggota
kelompok
3) Memberikan selembar kertas kepada setiap kelompok dan meminta
kelompok tersebut menulis pertanyaan sesuai dengan materi yang
dijelaskan guru
4) Meminta setiap kelompok untuk menggulung dan melemparkan
pertanyaan yang telah ditulis pada kertas kepada kelompok lain
5) Meminta setiap kelompok menuliskan jawaban atas pertanyaan
yang didapatkan dari kelompok lain pada kertas kerja tersebut
c. Observasi
1) Hasil Observasi Kegiatan Pembelajaran oleh Guru
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung ada 14 (empat
belas) aspek kegiatan guru yang diamati. Pengamatan terhadap
kegiatan guru dalam proses pembelajaran juga dapat dilihat pada tabel
berikut ini.
Tabel 4.3. Hasil Pengamatan Kegiatan Guru Pada Siklus I

Kriteria Penilaian
No Aspek yang dinilai
SB B C K SK
Mengelola ruang, waktu dan
I.
fasilitas belajar
1 Sumber belajar √
2 Pengaturan waktu √
Pengaturan kelas, mengatur siswa
3 √
dalam kelompok
II. Strategi pembelajaran
1 Pengusaan materi √
2 Penyampaian materi √
3 Penggunaan metode pembelajaran √
Ketrampilan dalam mengadakan
4 √
variasi mengajar
5 Pemberian bimbingan √
6 Kemampuan mengkoordinasi kelas √
7 Memotivasi siswa √
8 Mengaktifkan siswa √
9 Merespon pertanyaan √
10 Memberikan kesimpulan √
11 Memberikan reward √
Jumlah Skor 0 12 24 6 0
Total Skor 42,00
Nilai Ideal 70
Nilai 60,00
Kriteria Nilai C
Sumber: Data Olahan

Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa terdapat 14 (empat


belas) aspek yang dinilai dari kegiatan guru, meskipun terdapat 1
(satu) kegiatan dinilai sangat baik (SB) dengan persentase 7,14% dan
8 (delapan) dengan kriteria baik (B) persentase 57,14%, namun masih
terdapat 5 (lima) kegiatan guru dengan kriteria cukup (C) atau
35,72%.
Pada pengamatan siklus I dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju) ini dijumpai
beberapa kekurangan sebagai berikut:
a) Pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling
(Bola Salju).
1) Mengelola waktu, ruang dan fasilitas belajar dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snow
Balling (Bola Salju)
2) Sumber belajar, dalam hal ini artikel yang dibagikan kepada
siswa sudah baik.
3) Pengaturan waktu dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju) cukup efisien.
4) Pengaturan kelas dan pembagian kelompok dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snow
Balling (Bola Salju) agar siswa leluasa dalam diskusi sudah
baik.
b) Menggunakan strategi pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju)
1) Penguasaan materi pelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju) sangat
baik.
2) Penyampaian materi pelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju) baik.
3) Penggunaan metode pembelajaran dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju)
baik.
4) Ketrampilan dalam mengadakan variasi mengajar dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snow
Balling (Bola Salju) sudah baik.
5) Kemampuan pemberian bimbingan dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju)
secara keseluruhan terhadap siswa yang mengalami kesulitan
belajar sudah baik.
6) Kemampuan mengkoordinasi kelas dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju)
cukup.
7) Guru dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe Snow Balling (Bola Salju) sudah baik dalam memotivasi
siswa.
8) Guru dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
Snow Balling (Bola Salju) cukup dalam mengaktifkan siswa.
9) Guru dalam merespons pertanyaan siswa dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju)
sudah baik.
10) Dalam memberikan kesimpulan dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju) sudah
baik.
11) Guru dalam menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
Snow Balling (Bola Salju) tidak memberikan reward kepada
siswa yg bisa menjawab pertanyaan guru.
2) Pengamatan terhadap kegiatan diskusi.
Dari pengamatan yang dilakukan terhadap kegiatan siswa
selama proses pembelajaran berlangsung terdapat kekurangan-
kekurangan sebagai berikut:
a) Sikap siswa dalam menerima pendapat dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju)
masih kurang.
b) Sikap siswa dalam menerima kritikan dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju)
kurang kondusif.
c) Kesopanan dalam memberikan kritikan kepada siswa lain dalam
mengikuti pelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju) belum tercermin dalam
sikap anak.
d) Kemauan untuk membantu teman yang lain yang mengalami
kesulitan dalam mengemukakan pendapat dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola
Salju)Belum merata.
e) Kesabaran untuk mendengarkan usul teman dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju)
masih kurang. Sama halnya dengan kegiatan guru, kegiatan siswa
dalam kegiatan pembelajaran dinilai dengan taraf pembelajaran
sangat baik (SB), baik (B), cukup (C) dan kurang (K).

Tabel 4.4 Hasil Pengamatan Kegiatan Siswa Pada Kegiatan


Diskusi

Kriteria Aspek
Siklus Kelompok Nilai
SB B C K SK
Kelompok 1 60 - - C - -
Kelompok 2 70 - B - - -
Satu
Kelompok 3 55 - - C - -
Kelompok 4 60 - - C - -
Jumlah 61,25 0 1 3 0 0
Persentase - 0 25 75 0 0
Sumber: Data Olahan

Dari tabel di atas, terlihat bahwa dari 5 aspek yang dinilai pada
kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar masih belum mencapai
indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Persentase secara total
didapatkan kriteria sangat baik (SB) 0%, kriteria baik (B) 25%,
sedangkan kriteria cukup 75% dan kriteria kurang 0%.
3) Hasil Belajar
Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I, hasil belajar siswa
dapat dipaparkan sebagai berikut :
Tabel 4.5 Hasil Rekapitulasi Penilaian Hasil Belajar Siswa pada
Keadaan Siklus Pertama
Ketuntasan
No Nama Siswa Nilai Ket
T B
1 Angga Pramandani M 70 - B
2 Dewi Sartika 60 - B
3 Dian Astuti 70 - B
4 Dwi Priyatna Combi 70 - B
5 Firman Sawitra 70 - B
6 Irma Susanty 90 T -
7 Irna Yulaika 90 T -
8 Kelvin Yubilate Akob 60 - B
9 Krista Tri Karuniani 80 T -
10 Mahmudah 80 T -
11 Milawati 90 T -
12 Muhammad Rizal 80 T -
13 Noor Asiah 80 T -
14 Nornaimah 90 T -
15 Pratama Rifai Arief 80 T -
16 Rahmah 70 - B
17 Rini Agustya Putri 80 T -
18 Ris Jayadi Rantiano 80 T -
19 Sarisna 70 - B
20 Sutrisno 80 T -
21 Tri Kartika 70 - B
Jumlah 1610,00 12 9
Rata-rata 76,67 57,14 42,86
Daya Serap 76,67%
Sumber: Data Olahan

Dalam pelaksanaan pembelajaran pada siklus I ini hasil belajar


siswa mengalami peningkatan dari hasil belajar pada observasi awal.
Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa
dari observasi awal dengan nilai rata-rata 66,67 dimana dari 21 orang
jumlah siswa hanya 19,05% atau 4 siswa yang mendapatkan nilai di
atas 80 meningkat menjadi rata-rata 76,67 pada siklus I, yakni dari
jumlah siswa 21 orang yang memiliki nilai di atas 80 ada 12 siswa
atau mencapai 57,14%. Sedangkan siswa yang belum mencapai
standar 80 masih ada 9 orang siswa atau 42,86% dengan peningkatan
daya serap terhadap materi pembelajaran sebesar 76,67%. Sehingga
dipandang perlu untuk melakukan penelitian kembali pada siklus II
karena hasil belajar siswa pada siklus I belum mencapai indikator
yang diharapkan yakni siswa dikatakan tuntas belajar apabila minimal
80% dari jumlah siswa memperoleh nilai 80 ke atas.
d. Refleksi
Setelah diadakan tindakan atau proses pembelajaran selesai,
selanjutnya peneliti dan guru mitra mengadakan diskusi tentang hasil
pelaksanaan tindakan. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kekurangan-
kekurangan pada pelaksanaan tindakan serta menilai apakah masih
diperlukan siklus berikutnya. Apabila terdapat kekurangan dalam
pelaksanaan tindakan maka peneliti merencanakan kembali tindakan
perbaikan. Hal-hal yang perlu direfleksi adalah yang berkaitan dengan
hasil pemantauan selama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar baik
terhadap guru maupun terhadap siswa dan hasil belajar siswa.
Adapun hasil refleksi dan tindakan perbaikan dari pelaksanaan
tindakan pada siklus I adalah sebagai berikut:
1. Mengatur waktu sebelum memulai pelajaran dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju),
mempersiapkan pokok bahasan yang akan diajarkan agar waktu yang
digunakan efektif dan efisien.
2. Siswa belum aktif selama kegiatan pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola
Salju). Oleh karena itu, guru harus membuat suasana lebih nyaman
dengan strategi paikem agar siswa berani mengemukakan pendapat,
berani bertanya serta dapat berpikir kritis.
3. Peneliti terus memotivasi keaktifan siswa dan memberi reward berupa
hadiah bagi siswa yang telah berpartisipasi dan meningkatkan rasa
ingin tahu siswa selama proses belajar.
4. Guru memberikan bimbingan secara individual bagi anak dalam
kelompok yang belum memahami tugasnya selama pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snow
Balling (Bola Salju) berlangsung.
5. Siswa diminta untuk berbagi tugas dalam bekerja kelompok dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola
Salju) dan mengingatkan bahwa aspek ini akan dinilai terus menerus.
Tugas anggota kelompok diperjelas dan kelompok diupayakan lebih
kompak. Berdasarkan kelemahan-kelemahan yang telah disebutkan
sebelumnya yang menyebabkan hasil belajar siswa belum sesuai
dengan yang diharapkan sesuai dengan standar yang ditetapkan, maka
perlu adanya tindakan perbaikan atau tindak lanjut pada siklus II
untuk mencapai atau memperoleh hasil yang optimal. Dalam arti,
perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya yaitu siklus II.
3. Siklus II
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, data yang diperoleh berupa: rencana
pelaksanaan perbaikan pembelajaran (RPPP) yang di dalamnya tercakup
komponen skenario pembelajaran yang akan diimplementasikan;
seperangkat instrumen yang akan digunakan untuk pengumpulan data;
dan data pendukung pembelajaran berupa lembar kerja siswa (LKS).
Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan adalah
menyampaikan seluruh tujuan dalam pembelajaran dan memotivasi
siswa, menyajikan informasi tentang materi pembelajaran siswa,
memberikan informasi kepada siswa tentang prosedur pelaksanaan
pembelajaran snowball throwing, dan membagi siswa ke dalam
kelompok-kelompok belajar yang terdiri dari 4-5 orang siswa
berdasarkan hasil refleksi dari pelaksanaan pembelajaran siklus pertama.
b. Tindakan
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus I dengan dimulai
dengan membentuk kelompok siswa, ketua kelompok mempersiapkan
anggotanya, untuk membuat pertanyaan, kertas yang berisi pertanyaan
tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari siswa satu ke siswa yang
lain, siswa mendapat satu bola atau satu pertanyaan diberi
kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis
dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian dengan urutan
tahapan sebagai berikut.
1) Memanggil ketua kelompok dan menjelaskan materi serta
pembagian tugas kelompok
2) Meminta ketua kelompok kembali ke kelompok masing-masing
untuk mendiskusikan tugas yang diberikan guru dengan anggota
kelompok
3) Memberikan selembar kertas kepada setiap kelompok dan meminta
kelompok tersebut menulis pertanyaan sesuai dengan materi yang
dijelaskan guru
4) Meminta setiap kelompok untuk menggulung dan melemparkan
pertanyaan yang telah ditulis pada kertas kepada kelompok lain
5) Meminta setiap kelompok menuliskan jawaban atas pertanyaan
yang didapatkan dari kelompok lain pada kertas kerja tersebut
c. Observasi
1) Hasil Observasi Kegiatan Belajar Mengajar
Pada siklus II ini lebih ditekankan pada tindakan perbaikan
siklus I, yaitu faktor apa saja yang kurang diperhatikan pada siklus I,
dimaksimalkan pada siklus II seperti pemberian pengelolaan waktu,
motivasi dan pemberian reward. Selain itu, agar pembelajaran lebih
efektif, setiap kelompok dianjurkan untuk berusaha memahami teks
yang ada pada modul dan LKS, siswa diperbolehkan membawa
referensi buku apapun asal terkait dengan pembahasan. Guru bertugas
mengontrol secara keseluruhan kelompok dan membantu apabila ada
kelompok yang mengalami kesulitan dalam memahami pembahasan.
Pada siklus II ini, kegiatan guru selama kegiatan pembelajaran
berlangsung mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini terlihat
pada hasil pemantauan kegiatan belajar mengajar pada 14 aspek yang
dinilai.
Untuk melihat hasil pengamatan kegiatan belajar mengajar dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.6 Hasil Pengamatan Kegiatan Guru Pada Siklus II

Kriteria Penilaian
No Aspek yang dinilai
SB B C K SK
Mengelola ruang, waktu dan
I.
fasilitas belajar
1 Sumber belajar √
2 Pengaturan waktu √
Pengaturan kelas, mengatur siswa
3 √
dalam kelompok
II. Strategi pembelajaran
1 Pengusaan materi √
2 Penyampaian materi √
3 Penggunaan metode pembelajaran √
Ketrampilan dalam mengadakan
4 √
variasi mengajar
5 Pemberian bimbingan √
6 Kemampuan mengkoordinasi kelas √
7 Memotivasi siswa √
8 Mengaktifkan siswa √
9 Merespon pertanyaan √
10 Memberikan kesimpulan √
11 Memberikan reward √
Jumlah Skor 15 44 0 0 0
Total Skor 59,00
Nilai Ideal 70
Nilai 84,29
Kriteria Nilai SB
Sumber: Data Olahan

Dari tabel di atas dapat dikatakan bahwa proses belajar


mengajar khususnya kegiatan guru telah dilaksanakan secara
maksimal. Dimana dari 14 (empat belas) aspek kegiatan guru yang
diamati tidak ada lagi kegiatan yang termasuk dalam klasifikasi cukup
dan kurang. 3 (tiga) aspek masuk pada kategori sangat baik yaitu
21,43% dan 11 aspek masuk pada kategori baik atau 78,57%.
2) Hasil Observasi Kegiatan Siswa
Sedangkan hasil observasi kegiatan siswa dapat dilihat pada
tabel berikut ini.
Tabel 4.7 Hasil Pengamatan Kegiatan Siswa dalam Diskusi Pada
Siklus II

Kriteria Aspek
Siklus Kelompok Nilai
SB B C K SK
Kelompok 1 85 SB - - - -
Kelompok 2 95 - B - - -
Awal
Kelompok 3 80 - B - - -
Kelompok 4 85 SB - - - -
Jumlah 86,25 2 2 0 0 0
Persentase - 50 50 0 0 0

Untuk kegiatan siswa pada tabel di atas, meskipun terdapat 0%


kegiatan siswa dalam kriteria cukup (C), namun kriteria sangat baik
(SB) 50% dan 50% dengan kriteria baik (B). Hal ini dapat dikatakan
bahwa pada siklus II ini kegiatan belajar siswa dinilai telah berhasil.
3) Hasil Belajar
Dari hasil post test pada siklus II dapat diketahui bahwa
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola
Salju) terdapat peningkatan prestasi belajar siswa yang semula pada
observasi awal nilai rata-rata 61,25 dari jumlah 20 orang siswa hanya
40% mendapatkan kriteria tuntas belajar, meningkat 72,40 pada siklus
I dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 85,10. Untuk nilai hasil
belajar ini selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.8 Hasil Rekapitulasi Penilaian Hasil Belajar Siswa pada
Keadaan Siklus Kedua

Ketuntasan
No Nama Siswa Nilai Ket
T B
1 Angga Pramandani M 80 T -
2 Dewi Sartika 70 - B
3 Dian Astuti 80 T -
Ketuntasan
No Nama Siswa Nilai Ket
T B
4 Dwi Priyatna Combi 80 T -
5 Firman Sawitra 80 T -
6 Irma Susanty 100 T -
7 Irna Yulaika 100 T -
8 Kelvin Yubilate Akob 70 - B
9 Krista Tri Karuniani 90 T -
10 Mahmudah 90 T -
11 Milawati 100 T -
12 Muhammad Rizal 90 T -
13 Noor Asiah 90 T -
14 Nornaimah 100 T -
15 Pratama Rifai Arief 90 T -
16 Rahmah 80 T -
17 Rini Agustya Putri 90 T -
18 Ris Jayadi Rantiano 90 T -
19 Sarisna 80 T -
20 Sutrisno 90 T -
21 Tri Kartika 80 T -
Jumlah 1820,00 19 2
Rata-rata 86,67 90,48 9,52
Sumber: Data Olahan

Untuk hasil belajar siswa, seperti pada tabel 9 diatas, dari total 20
(dua puluh) siswa ada 1 8 (delapan belas) siswa yang memperoleh
nilai di atas 80 atau 90%, sedangkan yang memperoleh nilai di bawah
80 hanya 2 (dua) siswa saja atau 10%, nilai rata-rata 85,10 dengan
daya serap 85,10%. Artinya, hasil belajar siswa sudah meningkat,
mencapai target seperti pada indikator kinerja yang telah ditetapkan,
yaitu secara klasikal siswa dikatakan tuntas belajar apabila minimal
80% dari jumlah siswa telah memperoleh nilai 80 ke atas.
d. Refleksi
Kelebihan yang ditemukan selama pelaksanaan tindakan
pembelajaran di siklus II adalah sebagai berikut:
1) Prestasi belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju) meningkat.
2) Siswa semakin aktif selama proses pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola
Salju).
3) Selama kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju) siswa
mengikuti dengan serius dan gembira.
4) Siswa menjadi lebih komunikatif dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju).
5) Siswa berlomba untuk mendapatkan nilai terbaik pada saat
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe Snow Balling (Bola Salju) setiap ada keberhasilan peneliti selalu
memberi reward).
6) Peneliti telah menerapkan dan mengembangkan kelebihan-kelebihan
yang ditemukan di siklus I pada siklus II ini.
7) Semua rencana perbaikan tindakan berdasarkan hasil refleksi siklus I
telah dilaksanakan di siklus II ini dengan baik.
8) Kinerja guru dalam melaksanakan dan mengelola pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Snow
Balling (Bola Salju) semakin mantap, hal ini dapat dilihat dari tahapan
pembelajaran yang dilaksanakan.
9) Tindakan peneliti konsisten, yaitu mengacu kepada rencana
pembelajaran yang telah disusun sesuai dengan strategi yang dipilih
(pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola Salju)
Dari hasil pengamatan yang dilakukan dari siklus I dan siklus II telah
terjadi peningkatan baik penilaian terhadap aktifitas guru, kegiatan siswa
dan hasil belajar siswa. Dengan mempertimbangkan hal tesebut maka
pemberian tindakan dihentikan pada siklus II karena sudah mencapai
indikator yang ditetapkan.
B. Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan sebanyak 2 (dua) siklus. Dalam observasi
awal dan pre test, kegiatan belajar mengajar di kelas XI pada mata pelajaran
IPS masih menggunakan metode pembelajaran konvensional, yaitu metode
ceramah dan tanya jawab. Adapun tujuan diadakan observasi awal dan pre
test adalah untuk mengetahui bagaimana kondisi kelas selama kegiatan
pembelajaran dengan menggunakan metode konvensional. Berdasarkan
hasil observasi awal tersebut dapat diketahui bahwa prestasi belajar siswa
nampak dengan nilai rata-rata 61,25%, dimana hanya 40% siswa dengan
kriteria belajar tuntas sedangkan sisanya yakni 60% masih berada dibawah
standar ketuntasan minimal. Hasil observasi pada siklus I ini menunjukkan
adanya peningkatan prestasi belajar siswa namun belum memuaskan. Hal
ini disebabkan siswa belum terbiasa belajar kelompok dengan model Snow
Balling (Bola Salju) sehingga siswa terlihat masih pasif, malu bertanya
dalam mengemukakan pendapatnya. Kekurangan-kekurangan pada siklus I
kemudian direfleksi dengan mengadakan perbaikan pada siklus II agar
mendapat hasil yang maksimal. Dari hasil perbaikan strategi pembelajaran
tersebut, maka pada siklus II telah terjadi perubahanperubahan peningkatan
kegiatan guru, kegiatan siswa dalam diskusi dan peningkatan hasil belajar
siswa.
Perubahan kegiatan guru dalam proses pembelajaran dari siklus I ke
siklus II dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4.9 Perkembangan Kegiatan Guru dalam Proses Belajar
Mengajar
Pra Siklus Siklus I Siklus II
Kriteria Nilai
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Sangat Baik 0 0,00 0 0,00 3 21,43
Baik 0 0,00 3 21,43 11 78,57
Cukup 0 0,00 8 57,14 0 0,00
Kurang 9 64,29 3 21,43 0 0,00
Sangat Kurang 5 35,71 0 0,00 0 0,00
Jumlah 14 100 14 100 14 100
Sumber: Data Olahan

Dari tabel di atas, jelas terjadi peningkatan yang signifikan dari


kegiatan guru dalam proses pembelajaran dari kondisi awal, siklus I ke
siklus II. Pada kondisi awal dari 14 aspek yang dinilai dari kegiatan guru
kualifikasi sangat baik tidak teramati atau 0%, kualifikasi baik 0 aspek
(0%) dan kualifikasi cukup 0 aspek dengan persentase 0% yang ada hanya
aspek kurang sebesar 64,29% dan sangat kurang sebesar 35,71%. Pada
siklus I dari hasil pengamatan, dari 14 aspek yang dinilai dari kegiatan guru
kualifikasi sangat baik belum muncul atau 0%, kualifikasi baik 3 aspek
(21,43%) dan kualifikasi cukup 8 aspek dengan persentase 57,14% dan
kurang sebesar 21,43% atau hanya 3 aspek. Sedangkan pada siklus II, sudah
tidak ada lagi kualifikasi cukup. Hal ini terlihat pada pengamatan terhadap
kegiatan guru dari 14 aspek yang diamati diperoleh kualifikasi sangat baik
menjadi 3 aspek atau 21,43% dan kualifikasi baik 11 aspek atau 75,57%.
Secara lebih jelas dalam bentuk diagram batang sebagaimana dijelaskan
di bawah ini.

Gambar 4.1 Perkembangan Kegiatan Guru dalam Proses Belajar


Mengajar pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II

Adapun penjelasan mengenai hasil pengamaran kegiatan siswa pada


kondisi awal, siklus I dan siklus II sebagaiamana dijelaskan pada tabel di
bawah ini.
Tabel 4.10 Rekapitulasi Hasil Pengamatan Kegiatan Siswa dalam
Diskusi Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
Pra Siklus Siklus I Siklus II
Kriteria Nilai
Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Sangat Baik 0 0,00 0 0,00 2 50,00
Baik 0 0,00 1 25,00 2 50,00
Cukup 1 25,00 3 75,00 0 0,00
Kurang 3 75,00 0 0,00 0 0,00
Sangat Kurang 0 0,00 0 0,00 0 0,00
Jumlah 4 100 4 100 4 100
Sedangkan kegiatan siswa dari 5 aspek yang diamati secara kelompok
diperoleh persentase kriteria aspek secara total dari kondisi awal sangat baik
0%, baik 0%, cukup 25% dan kurang 75%, siklus I sangat baik 0%, baik
25%, cukup 72% dan kurang 0%. Pada siklus II meningkat menjadi sangat
baik 50%, baik 50% dan cukup serta kurang 0%. Prestasi belajar siswa pun
mengalami peningkatan di siklus II.
Secara lebih jelas dalam bentuk diagram batang sebagaimana dijelaskan
di bawah ini.

Gambar 4.2 Peningkatan Hasil Pengamatan Kegiatan Siswa dalam


Diskusi Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II

Peningkatan daya serap siswa terhadap materi pembelajaran siswa


dapat diamati pada tabel berikut ini:
Tabel 4.11. Peningkatan Siswa Dalam Menyerap Materi
Pembelajaran Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II

Capaian Nilai
Nilai
Pra Siklus Siklus I Siklus II
50 100 0 0
60 420 120 0
70 560 490 140
80 320 640 560
90 0 360 720
100 0 0 400
Jumlah 1400 1610 1820
Nilai Ideal 2100
Daya Serap 66,67 76,67 86,67
Sumber: Data Olahan
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui gambaran peningkatan daya
serap siswa selama proses pembelajaran. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa pada siklus I, rata-rata persentase daya serap terhadap materi
pelajaran yaitu sebesar 76,67% dari 66,67% pada kondisi awal. Rata-rata
persentase daya serap siswa terhadap materi pelajaran pada siklus II
mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan siklus I, yaitu sebesar
86,67%.
Secara lebih jelas dalam bentuk diagram batang sebagaimana dijelaskan
di bawah ini.

Gambar 4.3 Peningkatan Siswa Dalam Menyerap Materi


Pembelajaran Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II

Sedangkan hasil analisis data tentang ketuntasan belajar siswa pada


setiap siklus pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat dijelaskan secara
rinci pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.12 Peningkatan Ketuntasan Belajar Berdasarkan Nilai Tes


Formatif Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II

Kriteria Nilai Pra Siklus Siklus I Siklus II


Nilai 80 keatas 4 19,05 12 57,14 19 90,48
Nilai di bawah 80 17 80,95 9 42,86 2 9,52
Siswa Tuntas Belajar 4 19,05 12 57,14 19 90,48
Sumber: Data Olahan
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui gambaran pertumbuhan hasil
belajar siswa selama proses pembelajaran. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa pada kondisi awal jumlah siswa yang mendapat nilai di atas 80
(siswa tuntas belajarnyanya) sebesar 4 siswa atau 19,05%, pada siklus I,
meningkata menjadi sebesar 57,14% atau 12 siswa dan pada siklus terakhir
menjadi 19 siswa atau 90,48%.
Secara lebih jelas dalam bentuk diagram batang sebagaimana dijelaskan
di bawah ini.

Gambar 4.4 Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa Pada Kondisi


Awal, Siklus I dan Siklus II

Peningkatan prestasi belajar siswa pada siklus I dan II ini disebabkan


pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling
(Bola Salju) merupakan hal baru bagi siswa, yang sebelumnya didominasi
oleh metode ceramah. Kurangnya aktivitas siswa dalam proses
pembelajaran akan berdampak pada hasil belajarnya, baik kognitif, afektif
maupun psikomotorik. Hal ini menunjukkan telah terjadi perubahan pada
siswa ke arah yang lebih baik, karena siswa telah mengalami suatu proses
belajar sehingga prestasi belajar siswa meningkat. Adanya peningkatan
persentase daya serap siswa terhadap materi pelajaran menunjukkan bahwa
dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Snow Balling (Bola
Salju) dalam pembelajaran IPS Ekonomi pada materi pelajaran Perbankan,
pokok bahasan Memahami Uang dan Perbankan, dengan kompetensi dasar,
Mendeskripsikan konsep Perbankan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Adanya peningkatan persentase daya serap siswa terhadap materi pelajaran
tersebut menunjukkan bahwa indikator kinerja atau indikator keberhasilan
dalam penelitian ini telah tercapai.

Anda mungkin juga menyukai