BAB II
GAMBARAN UMUM
2.1 Gambaran Umum Kota Semarang
Kota Semarang yang menjadi Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah terletak di
bagian Utara Jawa Tengah. Kota Semarang telah berdiri sejak 5 Mei 1547.
Luas wilayah yang dimiliki 373,7 km2 atau seluas 37.369,568 hektar dengan
posisi secara geografis berada di 6 o50’-7o10’ Lintang Selatan dan 109o35’-
110o50’ Bujur Timur. Kota Semarang berbatasan langsung dengan kota
maupun kabupaten lainnya, di sebelah Barat berbatasan langsung dengan
Kabupaten Kendal, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Demak,
sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Semarang dan sebelah Utara
berbatasan dengan Laut Jawa yang memiliki panjang garis pantai 13,6
km2(Indri, 2018). Kondisi Geografis Kota Semarang dapat digambarkan
melalui Gambar 2.1:
Gambar 2.1
Peta Kota Semarang
Sumber : (Bappeda, 2018)
48
Berdasarkan RPJMD Kota Semarang tahun 2016-2021, Kota Semarang
memiliki Visi yaitu “Semarang Kota Metropolitan yang Religius, Tertib
dan Berbudaya”. Kota Semarang memiliki visi sebagai berikut :
1. Mewujudkan Kehidupan Masyarakat yang Berbudaya dan Berkualitas.
2. Mewujudkan Pemerintahan yang Semakin Handal untuk Meningkatkan
Pelayanan Publik.
3. Mewujudkan Kota Metropolitan yang Dinamis dan Berwawasan.
4. Memperkuat Ekonomi Kerakyatan Berbasis Keunggulan Lokal.
2.1.1 Letak Geografis Kota Semarang
Kota Semarang memiliki letak geografis yang strategis dengan
berada di jalur lalu lintas ekonomi di Pulau Jawa. Hal ini dapat terlihat
dari dijadikannya Kota Semarang sebagai pondasi pembangunan di Jawa
Tengah dan terdiri dari empat simpul pintu gerbang yaitu koridor panta
utara, koridor timur, koridor selatan, dan koridor barat. Suhu udara yang
ada di Kota Semarang berkisar antara 20-30oC dengan suhu rata – rata
27oC (Indri, 2018). Kota Semarang memiliki ketinggian antara 0,75-
359,000 meter diatas permukaan air laut. Kota semarang juga memiliki
dataran tinggi dan dataran rendah. Dataran tinggi terletak di sebelah
selatan Kota Semarang atau biasa dikenal dengan sebutan Semarang
Atas. Semarang Atas memiliki ketinggian berkisar antara 90-359 meter
diatas permukaan air laut. Sebutan lainnya untuk dataran rendah yaitu
Semarang Bawah dengan ketinggian 0,75-3,5 meter diatas permukaan
air laut (Indri, 2018). Berdasarkan letak geografisnya, maka dapat
digambarkan melalui tabel berikut :
Tabel 2.1
Letak Geografis Kota Semarang
Uraian Letak Bujur-Lintang Batas Wilayah
Sebelah Utara 6050‘ LS Laut Jawa
Sebelah Selatan 7010‘ LS Kab. Semarang
49
Sebelah Barat 109050‘ BT Kab. Kendal
Sebelah Timur 110035‘ BT Kab. Demak
Sumber : (BPS, 2020)
2.1.2 Kondisi Demografis Kota Semarang
Pada tahun 2020, secara administratif, Kota Semarang meiliki 16
kecamatan dan 177 kelurahan. Luas wilayah kecamatan dan kelurahan
tersebut tentunya berbeda – beda. Kecamatan dengan luas wilayah
terbesar yaitu Kecamatan Mijen dengan persentase 15,5% dari seluruh
luas wilayah Kota Semarang, sedangkan luas wilayah kecamatan yang
tersempit yaitu Kecamatan Semarang Selatan dengan persentase
mencapai 1,64% (Dispendukcapil, 2019). Berdasarkan kondisi demografi,
melalui Data Dinas Kependudukan dan Pencatatan sipil Kota Semarang,
jumlah penduduk Kota Semarang megalami peningkatan setiap tahunnya.
Tabel 2.2
Jumlah Penduduk Kota Semarang
Jumlah Penduduk
No Tahun Pertumbuhan
Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 2019 828,848 845,510 1,678,358 0,58%
2 2018 825,964 842,614 1,668,578 0,60%
3 2017 823,173 835,379 1,658,552 0,62%
Sumber : Data Diolah Pada 2020
Berdasarkan data jumlah penduduk tersebut terjadi peningkatan
jumlah penduduk setiap tahunnya, dengan persentase pertumbuhan
terbesar terjadi pada tahun 2017 dengan persentase 0,62%. Pada tahun
berikutnya, 2018 mengalami penurunan persentase sebanyak 0,02%
menjadi 0,60%. Penurunan persentase pertumbuhan penduduk juga
terjadi pada 2019 menjadi 0,58% (Dispendukcapil, 2019).
2.2 Gambaran Umum Kota Lama Semarang
Kawasan Kota Lama Semarang berada di Keluraha Bandarharjo,
Kecamatan Semarang Utara dengan luas kawasan ±72,358 hektar (Semarang,
50
2016). Kawasan ini merupakan kawasan dengan ciri khas khusus yaitu
bentuknya yang menyerupai sebuah kota tersendiri. Kota Lama Semarang
memiliki batas yaitu sebelah barat oleh Kali Semarang, sebelah utara dengan
Jalan Stasiun Tawang, disebelah timur berbatasan dengan Jalan
Ronggowarsito, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Jalan Agus Salim.
Pada tahun 1824, Kota Lama Semarang masih dilingkungi benteng berbentuk
segi 5 dan merupakan kawasan dengan kepadatan tertinggi (Galang, 2017).
Letaknya yang sangat strategis membuat Kawasan Kota Lama Semarang
dulunya merupakan pusat kota dan merupakan kawasan pemukiman Belanda
yang terencana dengan baik dan lengkap dengan berbagai sarana dan
prasarana yang dimiliki. Struktur yang unik juga menjadi nilai tambah di
kawasan Kota Lama Semarang. Pola yang dimiliki kawasan ini merupakan
gabungan antara Kota Barat (Belanda) dengan budaya lokal. Pada dasarnya
pola yang terbentuk menjadikan kawasan ini menjadi pusat kegiatan dan arus
pergerakan yang pada masanya terbagi menjadi 2 bagian sumbu.
Pertama sumbu (straat) mainstreet yang pada jaman Daendeles
merupakan jalan pos, dan sumbu lainnya disebut dengan sumbu melintang.
Sumbu melintang yang berada di Jala Suari (Kerk Straat) yang menuju arah
gereja, dimana disini menjadi penghubung kegiatan utama di sepanjang
mainstreet. Pada lokasi ini dulunya terdapat gereja, tempat parade, toko serba
ada, toko perhiasa, kantor, pengadilan, dan lain sebagainya (Galang, 2017).
Berdasarkan perkembangannya sejak 1705, arsitektur Kota Lama
memiliki ciri yang beragam, dari kolonial sejak abad ke-18 dan pada abad ke-
19 menjadi bagunan bertingkat, schouwburg, dan indische hingga pergantian
abad ini. Pada arsitektur kolonial contoh bangunannya adalah Pengadilan
Negeri, dan pada abad ke-19 contoh bangunannya PTP, Gedung Jiwasraya,
hingga Rajawali Nusindo.
2.2.1 Sejarah Kota Lama Semarang
Kota Semarang dulunya merupakan kota yang memiliki
pelabuhan dengan basis ekonomi perdagangan yang dimilikinya.
51
Hal ini membuat Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC)
memiliki keingan untuk menguasai wilayah Kota Semarang.
Kenginan ini diperkuat dengan tujuan VOC untuk menguasi
pelabuhan – pelabuhan yang ada di pesisir Utara Jawa. Alasan lain
yang memperkuat keinginan menguasai Kota Semarang yaitu
Kota Semarang memiliki jalan penghubung dengan Kartasura dan
perjalanan menuju kerajaan Mataran hanya menempuh waktu 3
hari dengan jalur darat, sedangkan jika melalui Jepara, perjalanan
dapat ditempuh hingga satu minggu (Yuliati, 2019).
Upaya VOC untuk menguasai pelabuhan Semarang dan
daerah lainnya berhasil didapatkan setelah VOC melakukan
intervensi terhada urusan Kerajaan Mataram. Intervensi ini
berhasil membuat adanya perjanjian dengan Amangkurat II pada
19-20 Oktober 1677 dan 15 Januari 1678, dimana VOC diberikan
izin untuk mendirikan kawasan koloni di lokasi yang dekat
dengan rumah bupati di tepi Kali Semarang (Yuliati, 2019). VOC
juga memiliki hak untuk menguasai pendapatan dari pelabuhan,
melakukan monopoli pembelian beras dan gula, memegang
monopoli atas import tekstil dan opium, pembebasan pajak,
menguasai pantai Utara Jawa, dan menguasai seluruh wilayah
Kota Semarang. Hal ini membuat VOC mengubah kedudukan
kantornya yang sebelumnya berada di Jepara menjadi di
Semarang.
Pada abad ke-18 Kota Semarang secara geografis merupakan
salah satu kota pantai di Jawa yang terbesar. Bupati Semarang
pada masanya memiliki rumah besar yang terbuat dari batu dan
untuk menuju rumahnya harus melalui jembatan besar dan tinggi
yang melintasi sungai. Wilayah sekitar kediaman bupati
Semaeang juga terdapat pasar yang besar dimana pada masanya
semua kebutuhan dapat dibeli di pasar tersebut. Kota Semarang
juga memiliki jalan ke pedalaman dari Utara ke Selatan, yang
52
digunakan oleh para utusan penguasa pantai Utara – Timur Jawa
ke Susuhunan di Mataram. Wilayanh ini juga yang menjadi
tempat tinggal para VOC.
Gambar 2.2
Kali Semarang
Sumber : (Yuliati, 2019)
Berdasarkan sejarah perkembangan Kota Lama dibagi
menjadi beberapa fase, dimana fase I berlangsung sekitar tahun
1677-1741. Pada fase ini VOC memiliki sejumlah prajurit dan
pembantu yang ditugaskan dalam melakukan perdagangan. Pada
fase ini, Kota Semarang memiliki wilayah pemukiman yang
sangat luas, berbentuk segi lima yang dipagari dengan palisade
(deretan rapat tonggak-tonggak runcing) serta dinding papan
dengan lima sudut yaitu Raamsdonk, Bunschoten, Zeeland,
Amsterdam, dan Utrecht.
53
Gambar 2.3
Peta Kota Lama Semarng pada Fase I
Sumber : (Yuliati, 2019)
Fase ini berlangsung hingga 1741, dikarenakan pada periode
1741-1756 atau fase II, kawasan Kota Lama dilakukan
pembangunan dengan perluasan benteng permukiman Eropa.
Pembangunan ini dilakukan karena melihat perkembangan kota
yang begitu pesat. Pembangunan dimulai dengan membongkar
benteng De Vijfhoek dan membangun benteng baru yang
mengelilingi seluruh kawasan Kota Lama. Pembangunan ini
berlangsung hingga tahun 1756 atau 15 tahun masa pembangunan.
Pembangunan ini berhasil membuat kawasan Kota Lama
Semarang disebut mirip dengan kota di negeri Belanda, maka dari
itu mendapat julukan Little Netherland.
Benteng – benteng besar dan kanal yang mengelilinginya
membuat kawasan Kota Lama Semarang semakin kental dengan
nuansa Belanda dan biasa disebut miniature Belanda yang ada di
Kota Semarang. Sebagai kawasan pemukiman Eropa, maka
dibangunlah jalan – jalan penghubung di dalam benteng dengan
jalan utama bernama de Herenstraart atau Jalan Letjend Suprapto
sekarang ini. Jalan ini memudahkan akses keluar masuk bagi
54
warga Eropa dan termasuk jalan raya pos (postweg) sepanjang
1000 km yang membentang sepanjang Anyer-Panarukan (Yuliati,
2019).
Kawasan pemukiman Eropa ini disebut dengan De Oude
Stand (Kota Lama) atau Europeeschebuurt (Kampung Eropa).
Pemberian nama ini merupakan simbol bawasannya kawasan ini
merupakan kawasan pertama bagi orang Belanda dan Eropa yang
ada di Semarang dan memiliki kegiatan perdagangan atau bisnis.
Julukan lainnya bagi Kota Lama pada masa itu adalah de
Europeeshe Buurt. Hal ini sesuai dengan konsep tata uang kota
yang disesuakan dengan kawasan di Eropa baik secara struktur
maupun arsitektur. Pusat dari konsep tata ruang ini adalah Gereja
Blenduk dan gedung pemerintahan.
Pada masa VOC dan kolonial Belanda, kawasan Kota Lama
Semrang dijadikan sebagai pusat pemerintahan, industri, hingga
perdagangan. Hal ini berlangsung hingga tahun 1824, dimana
dinding yang mengelilingi Kota Lama pada tahun tersebut
dibongkar. Pembongkaran ini dikarenakan kawasan benteng telah
dilalui oleh jalan raya “Daendels” sehingga membuat orang Eropa
yang tinggal didalamnya jjuga keluar dari wilayang benteng
(Yuliati, 2019). Meskipun dinding keliling Kota Lama telah tidak
ada, namun batas koloni VOC masih dapat dilacak, dikarenakan
tidak ada perubahan struktur kawasan. Kawasan kota lama juga
dibagi menjadi dua zona yaitu Zona Inti dan Zona Penyangga.
2.2.2 Identifikasi Kawasan Kota Lama Semarang (Zona Inti dan
Zona Penyangga)
Kawasan yang dulunya dibatasi oleh Benteng de Vijfhoek ini
memiliki luas ±72,358 yang lebih dikenal dengan kawasan inti.
Selain kawasan inti, ada pula kawasan pengaruh atau kawasan
penyangga. Kawasan Pengaruh ini merupakan kawasan yang
mendapatkan pengaruh dari Kawasan Kota Lama. Kawasan
55
penyangga atau pengaruh ini memiliki luas ±47,081 hektar dan
batasnya telah ditetapkan dalan Peraturan Daerah Kota Semarang
Nomor 2 Tahun 2020 tentang Rencana Tata Bagunan dan
Lingkungan (RTBL) Kawasan Kota Lama (Semarang, 2020).
Batas sebelah Utara adalah Jalan Merak, sebelah Selatan adalah
Jalan Sendowo, sebelah Barat berbatasan dengan Kali Semarang,
dan sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Cendrawasih. Adapun
gambar batas – batas zona inti dan zona penyangga, sebagai
berikut:
Gambar 2.4
Peta Batas Zona Inti dan Zona Penyangga
Sumber : (Galang, 2017)
2.2.3 Upaya Pengembangan Kota Lama Sebagai Aset Pariwisata
Budaya
Kota Lama Semarang memiliki nilai historis yang tinggi
dengan bangunan – bagunan yang dimiliki beserta kemegahan dan
56
nilai keindahan yang mengudang banyak pihak untuk
memberdayakannya sebagai aset pariwisata budaya. Amanat ini
sesuai dengan Undang – Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang
Cagar Budaya. Adapun pada akhir abad ke-20, Sutrisno Suharto
selaku Walikota Semarang tahu 1990-2000 telah merumuskan
cara untuk melakukan perlindungan dan pengelolaan kawasan dan
bagunan yang ada Kawasan Kota Lama Semarang, dengan
melakukan:
1. Pemanfaatan kawasan/bagunan sebagai aset pariwisata yang
ditujukan untuk kesejahteraan masyaakat luas melalui cara
penataan kawasan dengan tetap memperhatikan budaya
“Semarangan”.
2. Pemberian penghargaan kepada yang berjasa untuk
melakukan pelestarian dan perlindungan terhadap
kawasan/bagunan kuno yang ada di Kawasan Kota Lama
Semarang, serta memberikan sanksi bagi yang menelantarkan
atau merusak.
3. Arahan untuk segera menerbitkan Peraturan Daerah agar
memiliki kekuatan mengikat bagi semua pihak.
4. Peraturan Daerah tersebut mencakup aspek hukum,
ekonomis, sosial-budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi,
hingga partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dan
perlindungan kawasan serta bagunan di Kawasan Kota Lama
Semarang
5. Membuat lembaga yang bertanggungjawab dalam mengelola
kawasan atau bangunan di ligkungan Kota Lama Semarang
dengan tujuan pegelolaan kawasan tersebut lebih memiliki
daya guna (Yuliati, 2019).
Pemikiran – pemikiran mengenai pengelolaan dan
pelestarian kawasan Kota Lama Semarang tersebut disahkan
secara hukum melalui Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah
57
Tingkat II Semarang No.646/50/1992 tentang Konservasi
Bangunan Kuno/Bersejarah di wilayah Kodya Dati II Semarang.
Peraturan tersebut diperkuat dengan diterbitkannya Peraturan
Daerah Kota Semarang Nomor 8 Tahun 2003 tentang Rencana
Tata Bagunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Kota Lama
Semarang.
Peraturan daerah ini telah diperbarui kembali pada tahun
2020, dimana diterbitkannya Peraturan Daerah Kota Semarang
Nomor 2 Tahun 2020 tentang Rencana Tata Bagunan dan
Lingkungan Situs Kota Lama. Pada peratuan terbaru tersebut,
disebutkan tujuan adanya RTBL Situs Kota Lama yaitu digunakan
sebagai pengendali pembangunan, pelindung kekayaan historik
dan budaya, mengembangkan situs, mencapai pemanfaatan ruang,
hingga mengembangkan kesadaran dan peranserta pemerintah,
swasta, dan masyarakat dalam melakukan pengelolaan dan
pelestarian kawasan Kota Lama Semarang.
Berbagai peraturan yang telah dibuat tersebut nyataya pada
awalnya belum berhasil menjaga dan melestarikan bahkan
melakukan pengelolaan Kawasan Kota Lama Semarang.
Penghambat upaya revitalisasi ini dikarenakan adanya beberapa
kendala, seperti: 1) kepemilikan bangunan yang mayoritas milik
individu, dan 2) kebutuhan dana yang tinggi. Hambatan ini
mampu ditangani melaui komitmen yang kuat dari Hendrar
Prihadi selaku pemimpin dengan penandatanganan Piagam
Komitmen Kota Pusaka tahun 2012 sebagai komitmen awal untuk
melakukan revitalisasi kawasan Kota Lama Semarang hingga
akhirnya sekarang ini mampu mengusulkan kawasan Kota Lama
sebagai warisan dunia ke UNESCO.
Perkembangan kawasan Kota Lama Semarang tidak hanya
dilihat dari pengusulan sebagai situs warisan dunia, namun suja
terdapat energi pariwisata di Kota Lama Semarang. Pada kawasan
58
ini telah ada berbagai investor yang membuka bisnis seperti
restoran, cafe, toko souvenir, hingga hotel. Salah satu cafe yang
ada dan telah melakukan renovasi pada bagunan kota lama yaitu
gedung [Link]. Gedung Spiegel dulunya merupakan toko yang
menjual berbagai barang seperti alat-alat tulis, mesin ketik, alat
olahraga, furniture, hingga peralatan rumah tangga. Cafe, resto,
hingga hotel tersebut tentunya mampu menarik wisatawan untuk
berpariwisata karena cafe, resto, dan hotel tersebut menempati
gedung – gedung tua yang masih kokoh dengan arsitektur yang
unik.
59