LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO BUNUH DIRI (RBD)
A. Pengertian
Bunuh diri adalah suatu keadaan di mana individu mengalami risiko untuk
menyakiti diri sendiri atau tindakan yang dapat mengancam jiwa (Stuart dan
Sundeen, 2005 dalam Fitria, 2019). Bunuh diri merupakan tindakan aagresif yang
merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri mungkin
merupakan keputusan terakhir individu untuk memecakna masalah yang di hadapi
individu( Keliat 2008). Bunuh diri adalah suatu upaya yang disadari dan
bertujuan untuk mengakhiri kehidupan, individu secara sadar berhasrat dan
berupaya untuk mewujudkan hasratnya untuk mati. Perilaku bbunuh diri ini
meliputi isyarat-isyarat, percobaan atau ancaman verbal, yang akan
mengakibatkan kematian, luka, atau menyakiti diri sendiri (Clinton, 2005 dalam
Yosep, 2020).
B. Faktor Predisposisi
Lima factor predisposisi yang penunjang pemahaman perilaku destruktif diri
sepanjang siklus kehidupan (Fitria, 2019):
1. Diagnosa Psikiatrik. Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya
dengan bunuh diri mempunyai ganggguan jiwa (ganggan afektif, penyalagunaan
zat, dan skizofrenia).
2. Sifat Kepribadian. Tiga kepribadian yang erat hubungannya dengan risiko
bunuh diri adalah antipasti, impulsive, dan depresi.
3. Lingkungan Psikososial. Diantaranya adalah pengalaman kehilangan,
kehilangan dukungan social, kejadian-kkejadian negative dalam hidup, penyakit
kronis, perpisahan, atau bahkan perceraian.
4. Riwayat Keluarga. Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri
merupakan faktor penting yang dpaat menyebabkan seseorang melakukan
tinfdakan bunuh diri
5. Faktor Biokimia. Data menunjukkan bahwa pada klien dengan risiko bunuh diri
terdapat peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak seperti serotonin,
adrenalin, dan dopamine yang dapat dilihat dengan EEG.
C. Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif dapat ditimbulkan oleh stress yang berlebihan yang dialami
oleh individu. Pencetusnya seringkali kejadian hidup yang memalukan, melihat
atau membaca melalui media tentang orang yang melakukan bunuh diri ataupun
percobaan bunuh diri (Fitria, 2019).
D. Jenis-jenis Bunuh Diri
Menurut Durkheim, bunuh diri dibagi menjadi tiga jenis, yaitu
1. Bunuh diri egoistic (faktor dalam diri seseorang)
Individu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat, ini disebabkan oleh
kondisi kebudayaan atau karena masyarakat yang menjadikan individu itu
seolah-olah tidak berkepribadian. Kegagalan integrasi dalam keluarga dapat
menerangkan mengapa mereka tidak menikah lebih rentan untuk
melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan mereka yang menikah.
2. Bunuh diri altruistic (terkait kehormatan seseorang)
Individu terkait pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia cenderung untuk
bunuh diri karena indentifikasi terlalu kuat dengan suatu kelompok, ia merasa
kelompok tersebut sangat mengharapkannya.
3. Bunuh diri anomik (faktor lingkungan dan tekanan)
Hal ini terjadi bila terdapat gangguan keseimbangan integrasi antara
individu dan masyarakat,sehingga individu tersebut meninggalkan norma-
norma kelakuan yang biasa. Individu kehilangan pegangan dan tujuan.
Masyarakat atau kelompoknya tidak memberikan kepuasan padanya karena
tidak ada pengaturan atau pengawasan terhadap kebutuhan-kebutuhannya
E. Fase-fase Bunuh Diri
Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh klien untuk
mengakhiri kehidupannya. Berdasarkan besarnya kemungkinan klien melakukan
bunuh diri, ada tiga macam perilaku bunuh diri yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Isyarat bunuh diri.
Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak langsung
ingin bunuh diri, misalnya dengan mengatakan :”Tolong jaga anak-anak
karena saya akan pergi jauh!” atau “Segala sesuatu akan lebih baik tanpa
saya.”Pada kondisi ini klien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri
hidupnya, namun tidak disertai dengan ancaman dan percobaan bunuh diri.
Klien umumnya mengungkapkan perasaan seperti rasa bersalah/ sedih/ marah/
putus asa/ tidak berdaya. Klien juga mengungkapkan hal-hal negatif tentang
diri sendiri yang menggambarkan harga diri rendah.
2. Ancaman bunuh diri.
Ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh klien, berisi keinginan untuk
mati disertai dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan dan persiapan alat
untuk melaksanakan rencana tersebut. Secara aktif klien telah memikirkan rencana
bunuh diri, namun tidak disertai dengan percobaan bunuh [Link] dalam
kondisi ini klien belum pernah mencoba bunuh diri, pengawasan ketat harus
dilaksanakan. Kesempatan sedikit saja dapat dimanfaatkan klien untuk
melaksanakan rencana bunuh dirinya.
3. Percobaan bunuh diri
Percobaan bunuh diri merupakan tindakan klien mencederai atau melukai
diri untuk mengakhiri kehidupannya. Pada kondisi ini, klien aktif mencoba bunuh
diri dengan cara gantung diri, minum racun, memotong urat nadi, atau
menjatuhkan diri dari tempat tinggi
F. Perilaku Bunuh Diri
Menurut (Stuart dan Sundeen, 2005. Dikutip Fitria, Nita, 2019) dibagi menjadi tig
kategori yang sebagai berikut.
1. Upaya bunuh diri (scucide attempt)
Yaitu sengaja kegiatan itu sampai tuntas akan menyebabkan kematian. Kondisi
ini terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau diabaikan. Orang yang hany
berniat melakukan upaya bunuh diri dan tidak benar-benar ingin mati mungki akan
mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya
2. Isyarat bunuh diri (suicide gesture)
Yaitu bunuh diri yang direncanakan untuk usaha mempengaruhi perilaku orang
lain.
3. Ancaman bunuh diri (suicide threat)
Yaitu suatu peringatan baik secara langsung verbal atau nonverbal bahw
seseorang sedang mengupayakan bunuh diri. Orang tersebut mungkin
menunjukkan secara verbal bahwa dia tidak akan ada di sekitar kita lagi atau jug
mengungkapkan secara nonverbal berupa pemberian hadiah, wasiat, da sebagainya.
Kurangnya respon positif dari orang sekitar dapat dipersepsikar sebagai dukungan
untuk melakukan tindakan bunuh diri
G. Manifestasi Klinis
Tanda dan Gejala menurut Fitria, Nita (2019):
1. Mempunyai ide untuk bunuh diri.
2. Mengungkapkan keinginan untuk mati.
3. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.
4. Impulsif.
5. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh).
6. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri.
7. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang obat dosis
mematikan).
8. Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panic, marah dan
mengasingkan diri).
9. Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang depresi, psikosis
dan menyalahgunakan alcohol).
H. Rentang Respon
Rentang respon protektif diri
Keterangan:
1. Peningkatan diri yaitu seorang individu yang mempunyai pengharapan, yakin, dan
kesadaran diri meningkat.
2. Pertumbuhan-peningkatan berisiko, yaitu merupakan posisi pada rentang yang
masih normal dialami individu yang mengalami perkembangan perilaku.
3. Perilaku destruktif diri tak langsung, yaitu setiap aktivitas yang merusak
kesejahteraan fisik individu dan dapat mengarah kepada kematian, seperti perilaku
merusak, mengebut, berjudi, tindakan kriminal, terlibat dalam rekreasi yang
berisiko tinggi, penyalahgunaan zat, perilaku yang menyimpang secara sosial, dan
perilaku yang menimbulkan stres.
4. Pencederaan diri, yaitu suatu tindakan yang membahayakan diri sendiri yang
dilakukan dengan sengaja. Pencederaan dilakukan terhadap diri sendiri, tanpa
bantuan orang lain, dan cedera tersebut cukup parah untuk melukai tubuh. Bentuk
umum perilaku pencederaan diri termasuk melukai dan membakar kulit,
membenturkan kepala atau anggota tubuh, melukai tubuhnya sedikit demi sedikit,
dan menggigit jari.
5. Bunuh diri, yaitu tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri untuk
mengakhiri kehidupan.
I. Mekanisme Koping
Seorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping yang
berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial, rasionalization, regression,
dan magical thingking. Mekanisme pertahanan diri yang ada seharusnya tidak
ditentang tanpa memberikan koping alternative.
Respon Adaptif Respon Maladaptif
Peningkatan Berisiko Destruktif diri Pencederaan Bunuh diri
diri destruktif tidak langsung diri
Perilaku bunuh diri menunjukkan kegagalan mekanisme koping. Ancaman bunuh diri
mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan agar dapat
mengatasi masalah. Bunuh diri yang terjadi merupakan kegagalan koping dan
mekanisme adaptif pada diri seseorang.
Rentang Respons, YoseP, Iyus (2019)
1. Peningkatan diri.
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar
terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Sebagai contoh seseorang
mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda mengenai loyalitas terhadap
pimpinan ditempat kerjanya.
2. Beresiko destruktif.
Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku destruktif
atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat
mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah semangat bekerja ketika
dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal sudah melakukan
pekerjaan secara optimal.
3. Destruktif diri tidak langsung.
Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptif) terhadap
situasi yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri. Misalnya, karena
pandangan pimpinan terhadap kerjanya yang tidak loyal, maka seorang karyawan
menjadi tidak masuk kantor atau bekerja seenaknya dan tidak optimal
4. Pencederaan diri.
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri akibat
hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.
5. Bunuh diri.
Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan nyawanya hilang
J. Akibat
Resiko yang mungkin terjadi pada klien yang mengalami krisis bunuh diri adalah
mencederai diri dan lingkungan dengan tujuan mengakhiri hidup. Perilaku yang
muncul meliputi isyarat, percobaan atau ancaman verbal untuk melakukan tindakan
yang mengakibatkan kematian perlukaan atau nyeri pada diri sendiri.
K. Penatalaksanaan
Pertolongan pertama biasanya dilakukan secara darurat atau dikamar pertolongan
darurat di RS, dibagian penyakit dalam atau bagian bedah. Dilakukan pengobatan
terhadap luka-luka atau keadaan keracunan, kesadaran penderita tidak selalu
menentukan urgensi suatu tindakan medis. Penentuan perawatan tidak tergantung
pada faktor sosial tetapi berhubungan erat dengan kriteria yang mencerminkan
besarnya kemungkinan bunuh diri. Bila keadaan keracunan atau terluka sudah dapat
diatasi maka dapat dilakukan evaluasi psikiatri. Tidak adanya hubungan
beratnyagangguan badaniah dengan gangguan psikologik. Penting sekali dalam
pengobatannya untuk menangani juga gangguan mentalnya. Untuk pasien dengan
depresi dapat diberikan terapi elektro konvulsi, obat obat terutama anti depresan dan
psikoterapi.
I. Penjabaran masalah
A. Pohon Masalah Resiko Bunuh Diri
B. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji
1. Identitas klien
Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, tanggal
MRS (masuk rumah sakit), informan, tanggal pengkajian, No Rumah Sakit dan
alamat klien.
2. Keluhan utama
Tanyakan pada keluarga/klien hal yang menyebabkan klien dan keluarga datang
ke rumah sakit. Yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi masalah, dan
perkembangan yang dicapai.
3. Faktor predisposisi
Tanyakan pada klien/keluarga, apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa
pada masa lalu, pernah melakukan atau mengalami penganiayaan fisik, seksual,
penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan criminal. Dan
pengkajiannya meliputi psikologis, biologis, dan social budaya.
4. Aspek fisik/biologis
Hasil pengukuran tanda-tanda vital (TD, Nadi, Suhu, Pernafasan, TB, BB) dan
keluhan fisik yang dialami oleh klien.
5. Aspek psikososial
a. Genogram yang menggambarkan tiga generasi
b. Konsep diri
c. Hubungan social dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan, kelompok,
yang diikuti dalam masyarakat
d. Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah
6. Status mental
Nilai klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien, aktivitas motorik klien,
afek klien, interaksi selama wawancara, persepsi, proses pikir, isi pikir, tingkat
kesadaran, memori, tingkat konsentrasi, dan berhitung.
7. Kebutuhan persiapan pulang
a. Kemampuan makan klien dan menyiapkan serta merapikan lat makan kembali.
b. Kemampuan BAB, BAK, menggunakan dan membersihkan serta WC
membersihkan dan merapikan pakaian.
c. Mandi dan cara berpakaian klien tampak rapi.
d. Istirahat tidur kilien, aktivitas didalam dan diluar rumah.
e. Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksinya setelah diminum.
8. Mekanisme koping
9. Malas beraktivitas, sulit percaya dengan orang lain dan asyik dengan stimulus
internal, menjelaskan suatu perubahan persepsi dengan mengalihkan tanggung
jawab kepada orang lain.
10. Masalah psikososial dan lingkungan Masalah berkenaan dengan ekonomi,
dukungan kelompok, lingkungan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, dan
pelayanan kesehatan.
11. Pengetahuan Didapat dengan wawancara klien dan disimpulkan dalam masalah.
12. Aspek medic Diagnosa medis yang telah dirumuskan dokter, therapy
farmakologi, psikomotor, okopasional, TAK dan rehabilitas.
13. Daftar masalah keperawatan
a. Risiko bunuh diri.
b. Bunuh diri.
c. Isolasi sosial.
d. Harga diri rendah. (Fitria, 2019).
C. Analisis Data
Data Subjektif Data Objektif
1. Klien mengatakan tidak ada 1. Klien tampak gelisah
harapan hidup lagi 2. Klien tampak sedih
2. Klien merasa tidak berguna lagi 3. Kontak mata kurang
3. Klien selalu mengatakan tentang 4. Klien nampak putus asa
kematian dirinya
4. Klien kadang menunjukkan secara
verbal tentang rencana bunuh diri
II. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat ditarik dari pohon masalah tersebut adalah : Resiko
bunuh diri
III. Rencana Tindakan Keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Pasien tetap aman dan Setelah ...x pertemuan, pasien SP I
selamat mampu: - Identifikasi benda-benda
- Mengidentifikasi benda- yang dapat
benda yang dapat membahayakan pasien
membahayakan pasien - Amankan benda-benda
- Mengendalikan dorongan yang dapat
bunuh diri membahayakan pasien
- Lakukan kontrak
treatment
- Ajarkan cara
mengendalikan dorongan
bunuh diri
- Latih cara mengendalikan
dorongan bunuh diri
Setelah ...x pertemuan, pasien SP 2
mampu:
- Identifikasi aspek positif
Mengidentifikasi aspek pasien
positif dan mampu
- Dorong pasien untuk
menghargai diri sebagai
individu yang berharga berpikir lebih positif
terhadap diri
- Dorong pasien untuk
menghargai diri sebagai
individu yang berharga
Setelah ...x pertemuan, pasien SP 3
mampu:
- Identifikasi pola koping
Mengidentifikasi pola koping yang biasa diterapkan
yang konstruktif dan mampu
pasien
menerapkannya
- Nilai pola koping yang
biasa dilakukan
- Identifikasi pola koping
konstruktif
- Dorong pasien memilih
pola koping yang
konstruktif
- Anjurkan pasien
menerapkan pola koping
yang konstruktif dalam
kegiatan harian
Setelah ...x pertemuan, pasien SP 4
mampu:
- Buat rencana masa depan
Membuat rencana masa yang realistis bersama
depan yang realistis dan
pasien
mampu melakukan kegiatan
- Identifikasi cara
mencapai rencana masa
depan yang realistis
- Beri dorongan pasien
melakukan kegiatan
dalam rangka meraih
masa depan yang realistis
Keluarga mampu: Setelah ...x pertemuan, SP 1
keluarga mampu:
Merawat pasien dengan - Diskusikan masalah yang
risiko bunuh diri Merawat pasien dan mampu dirasakan keluarga dalam
menjelaskan pengertian,
tanda dan gejala serta jenis merawat pasien
perilaku bunuh diri
- Jelaskan pengertian,
tanda dan gejala resiko
bunuh diri dan jenis
perilaku bunuh diri yang
dialami serta proses
terjadinya
- Jelaskan cara-cara
merawat pasien resiko
bunuh diri
Setelah ...x pertemuan, SP 2
keluarga mampu:
- Latih keluarga
Merawat pasien dan mampu mempraktekan cara
melakukan langsung cara
merawat pasien dengan
merawat pasien
risiko bunuh diri
- Latih keluarga
melakukan cara
merarawat langsung
kepada pasien risiko
bunuh diri
Setelah ...x pertemuan, SP 3
keluarga mampu:
- Bantu keluarga
Membuat jadwal aktivitas membuat jadwal
dirumah dan mampu
aktivitas dirumah
melakukan follow up
termasuk minum obat
- Jelaskan follow up
pasien setelah pulang