BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Stroke adalah penyakit pada otak berupa gangguan fungsi syaraf
lokal dan atau global, munculnya dapat secara mendadak, progesif, dan
sangat cepat. Gangguan fungsi syaraf pada stroke disebabkan oleh
gangguan perdarahan otak non traumatik (Depkes RI, 2013). Penyakit
ini menyebabkan kecacatan berupa kelumpuhan anggota gerak,
gangguan berbicara, gangguan berfikir, dan gangguan emosional
(Farida I & Amalia N, 2019). Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun
sekitar 500.000 penduduk terkena serangan stroke dan sekitar
125.000 orang meninggal dan sisanya mengalami cacat ringan atau
berat (Yastroki, 2021).
Angka kematian akibat penyakit Kardiovaskular berdasarkan usia
pada tahun 2017 adalah 219,4 per 100.0000. Rata- rata seseorang
meninggal karena cardiovascular disease (CVD) atau penyakit jantung
setiap 37 detik di AS adalah 2.353 kematian berdasarkan data tahun
2017. Seseorang yang mengalami stroke di AS setiap 40 detik sekitar
795.000. Berdasarkan data pada 2017 seseoraang meninggal karena
stroke setiap 3,59 menit adalah 401 setiap hari (American Heart
Associtation (AHA), 2020).
Menurut WHO (2023) stroke merupakan salah satu masalah
kesehatan utama di dunia. Stroke juga menjadi peringkat ketiga
penyebab utama kecacatan di seluruh dunia. Pada tahun 2021 terdapat
5,5 juta orang meninggal dan meningkat 12% pada tahun 2022 yaitu
sekitar 14 juta orang (Word Health
2
Organization, 2023). Di Indonesia dalam rentang 2009 hingga 2023
stroke menempati ranking pertama untuk angka kematian tertinggi,
yaitu 14,83%, yang menempatkan Indonesia ada di posisi ke tujuh
dunia dengan kasus stroke. Jumlah penderita stroke usia 45-54 sekitar
8%, kasus stroke tertinggi yang terdiagnosis tenaga kesehatan adalah
usia 75 tahun keatas (43,1%) dan terendah pada kelompok usia 15-24
tahun sebesar 0,2%. Prevalensi stroke berdasarkan jenis kelamin lebih
banyak laki-laki (7,1%) dibandingkan dengan perempuan (6,8%)
(Farida I & Amalia N, 2023).
Prevalensi stroke di Jawa Timur berdasarkan diagnosis dokter pada
penduduk usia >15 tahun menurut karakteristik Provinsi Kalimantan
Selatan adalah 12,4% sebanyak 75.490 penduduk. Berdasarkan
Riskesdas pada tahun 2019 prevalensi stroke di kota Banjarmasin
adalah 8% Sedangkan angka kejadian stroke yang tercatat di Dinas
Kesehatan kota Banjarmasin keseluruhan pada tahun 2023 adalah
sebesar 1073 kasus (Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, 2023).
Dari banyaknya kejadian stroke setiap tahunnya, perlu dilakukan
penanganan dengan segera, karena dampak dari stroke sangat
merugikan. Dampak stroke yang paling umum antara lain kelumpuhan
anggota gerak, wajah perot atau face drooping, gangguan penglihatan,
gangguan menelan, gangguan sensasi raba, dan gangguan bicara atau
afasia (Pinzon et al., 2020).
Masalah kesehatan yang muncul dari serangan penyakit stroke
bervariasi tergantung luas daerah otak yang mengalami infrak atau
kematian jaringan dan lokasi yang terkena (Kusumo & Sudi, 2019).
Bila stroke menyerang otak kiri dan mengenai pusat bicara,
kemungkinan pasien akan mengalami gangguan bicara atau afasia,
karena otak kiri berfungsi untuk menganalisis, pikiran logis, konsep,
dan memahami bahasa (Farida I & Amalia N, 2019). Secara umum
3
afasia dibagi menjadi 3 yaitu afasia motorik, afasia sensorik dan afasia
global.
Sesorang yang mengalami gangguan bicara atau afasia akan
mengalami kegagalan dalam berartikulasi. Artikulasi adalah proses
penyesuaian ruangan supraglottal yang berkaitan dengan bagian dari
saluran suara terletak diatas glotis yang dihasilkan di bagian saluran
vokal ini. Penyesuaian ruangan didaerah laring terjadi dengan
menaikkan dan menurunkan laring, akan mengatur jumlah transmisi
udara melalui rongga mulut dan rongga hidung melalui katup
velofaringeal dan merubah posisi mandibula (rahang bawah) dan lidah.
Proses diatas yang akan menghasilkan bunyi dasar dalam berbicara
(Yanti, 2022).
Afasia/ gangguan bicara memberikan dampak pada berbagai aspek
kehidupan. Terutama pada kesejahteraan pasien, kemandirian,
partisipasi sosial, dan kualitas hidup pasien. Dampak ini muncul
diakibatkan komunikasi yang tidak adekuat antara pasien dan
lingkungan. Afasia/ gangguan bicara merusak kemampuan pasien
untuk berkomunikasi, baik dalam memahami apa yang dikatakan dan
dalam kemampuan mengeskresikan diri sendiri (Bare et al., 2018).
Stressor tersebut menyebabkan hilangnya peran hidup yang dimiliki
penderita stroke hingga terjadinya gangguan persepsi akan konsep
diri yang
bersangkutan dan dengan sendirinya mengurangi kualitas hidup pasien
stroke (Hayulita & Sari, 2023). Kondisi mortilitas yang tinggi dan
kemampuan fungsional yang rendah pada pasien afasia dapat terjadi
karena pasien tidak mampu mengungkapkan apa yang pasien inginkan,
tidak mampu menjawab per-tanyaan atau berpartisipasi dalam
percakapan. Ketidakmampuan ini menyebabkan pasien men-jadi
frustasi, marah, kehilangan harga diri, dan emosi pasien menjadi labil
4
yang pada akhirnya dapat menyebabkan pasien menjadi depresi
(Mulyatsih & Ahmad, 2020).
Salah satu bentuk terapi rehabilitasi gangguan afasia adalah dengan
memberikan terapi wicara (Wiwit, 2020). Terapi wicara merupakan
tindakan yang diberikan kepada individu yang mengalami gangguan
komunikasi, gangguan berbahasa bicara, gangguan menelan. Salah satu
terapi wicara yang dapat diberikan untuk pasien stroke dengan
gangguan berbicara adalah terapi AIUEO (Wiwit, 2020).Terapi
AIUEO bertujuan untuk memperbaiki ucapan supaya dapat dipahami
oleh orang lain. Orang yang mengalami gangguan bicara atau afasia
akan mengalami kegagalan dalam berartikulasi. Artikulasi merupakan
proses penyesuaian ruangan supraglottal. Penyesuain ruangan didaerah
laring terjadi dengan menaikkan dan menurunkan laring, yang akan
mengatur jumlah transmisi udara melalui rongga mulut dan rongga
hidung melalui katup velofaringeal dan merubah posisi mandibula
(rahang bawah) dan lidah. Proses diatas yang akan menghasilkan bunyi
dasar dalam berbicara (Yanti, 2022).
Terapi AIUEO merupakan terapi yang bertujuan untuk
memperbaiki ucapan supaya dapat dipahami oleh orang lain dengan
cara menggerakan lidah, bibir,
otot wajah, dan mengucapkan kata-kata (Wiwit, 2020). Metode yang
digunakan dalam terapi AIUEO yaitu dengan metode imitasi, di mana
setiap pergerakan organ bicara dan suara yang dihasilkan perawat
diikuti oleh pasien (Gunawan, 2018).
Penelitian Astriani, dkk tahun 2019 di RSU Kerta Usada terhadap
kemampuan berbicara (afasia motorik) pada pasien stroke sebanyak 28
responden menunjukkan distribusi frekuensi pasien berdasarkan usia
ditemukan bahwa pasien paling banyak berada pada usia manula.
Berdasarkan jenis kelamin didapatkan pasien mayoritas adalah laki-
5
laki. Dari hasil uji yang dilakukan dengan menggunakan uji paired t-
test menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pemberian terapi AIUEO
terhadap kemampuan berbicara (afasia motorik) oada pasien stroke di
RSU Kertha Usada.
Penelitian yang dilakukan (Wahyu et al., 2019) di RSUD
Tungurejo Semarang tehadap kemampuan bicara pada pasien stroke
yang mengalami afasia motorik sebanyak 21 responden menunjukkan
kemampuan bicara sebelum mendapatkan terapi AIUEO berada pada
kategori gangguan bicara berat sebesar 4 responden, gangguan bicara
sedang sebesar 14 responden, dan gangguan bicara ringan sebesar 3
responden. Kemampuan bicara setelah diberikan terapi AIUEO berada
pada kategori gangguan bicara sedang sebesar
2 responden, gangguan bicara ringan sebesar 14 responden, dan tidak
mengalami gangguan bicara yaitu sebesar 5 responden. Dari hasil uji
yang dilakukan menggunakan one group pre- post test design ada
pengaruh terapi AIUEO terhadap kemampuan bicara pasien stroke
yang mengalami afasia motorik.
Penelitian yang dilakukan Wahyu, dkk tahun 2019 di RSUD Raja
Ahmad Thabib Tanjungpinang terhadap kemampuan bicara pasien
stroke yang mengalami afasia motorik sebanyak 9 responden
kemampuan bicara kelompok perlakuan sebelum dan sesudah
diberikan terapi AIUEO pada pasien stroke yang mengalami afasia
motorik di RSUD Ahmad Thabib Tanjungpinang selama satu bulan
didapatkan responden sebagian besar yang memiliki kemampuan
bicara baik. Kemampuan bicara kelompok kontrol sebelum dan
sesudah terapi AIUEO pada pasien stroke yang mengalami afasia
motorik di RSUD Ahmad Thabib Tanjungpinang didapatkan terjadi
peningkatan kemampuan bicara saat diberikan post test. Dari hasil uji
statistik Wilcoxon Test didapatkan danya pengaruh kemampuan bicara
6
pasien stroke dengan afasia motorik sebelum dan sesudah terapi
AIUEO pada kelompok perlakuan di RSUD Ahmad Thabib
Tanjungpinang. Diketahui adanya pengaruh kemampuan bicara pasien
stroke dengan afasia motorik sebelum dan sesudah terapi AIUEO pada
kelompok kontrol di RSUD Ahmad Thabib Tanjungpinang. Diketahui
adanya pengaruh terapi AIUEO terhadap kemampuan bicara pasien
stroke dengan afasia motorik pada kelompok perlakuan dan kelompok
kontrol.
Di RSUD dr H Moch Anshari Saleh Banjarmasin didapatkan
pasien stroke dengan gangguan wicara tidak pernah mendapatkan
penanganan khusus dari keluarga. Pasien stroke yang mengalami
gangguan wicara sebelumnya belum pernah mendapatkan terapi wicara
AIUEO.
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk
menyusun karya tulis ilmiah yang berjudul “Analisis Asuhan
Keperawatan pada pasien Stroke yang mengalami afasia dengan
inovasi keperawatan pemberian terapi wicara AIUEO di RSUD dr H
Moch Anshari Saleh Banjarmasin tahun 2024”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat
dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut “Bagaimanakah
Analisis Asuhan Keperawatan pada pasien Stroke yang mengalami
afasia dengan inovasi keperawatan pemberian terapi wicara AIUEO di
RSUD dr H Moch Anshari Saleh Banjarmasin tahun 2024?.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini menggambarkan
pelaksanaan terapi wicara AIUEO terhadap kemampuan bicara
pada pasien stroke yang mengalami afasia.
7
1.3.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus penulisan karya tulis ini yaitu
penulis mampu:
[Link] Melakukan pengkajian Asuhan Keperawatan pada pasien
dengan stroke melalui penerapan intervesi terapi wicara
AIUEO
[Link] Merumuskan diagnosa Asuhan Keperawatan pada pasien
dengan stroke melalui penerapan intervesi terapi wicara
AIUEO
[Link] Melakukan Intervensi Keperawatan pada pasien dengan
stroke melalui penerapan intervesi terapi wicara AIUEO
[Link] Melakukan Implementasi Keperawatan pada pasien
dengan stroke melalui penerapan intervesi terapi wicara
AIUEO
[Link] Melakukan Evaluasi Asuhan Keperawatan pada pasien
dengan stroke melalui penerapan intervesi terapi wicara
AIUEO
[Link] Menganalisis hasil penerapan Asuhan Keperawatan pada
pasien dengan stroke melalui penerapan intervesi terapi
wicara AIUEO.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
[Link] Sebagai motivasi untuk meningkatkan pengetahuan terkait pe
nerapan intervesi Terapi wicara AIUEO untuk mengatasi
Afasia pada pasien stroke
[Link] Sebagai evidence base nursing dalam melaksanakan asuhan k
eperawatan pada pasien dengan stroke melalui penerapan
intervesi terapi wicara AIUEO.
[Link] Karya ilmiah ini dapat dikembangkan untuk penelitian selanj
utnya terkait inovasi pasien dengan stroke melalui penerapan
8
intervesi terapi wicara AIUEO
1.4.2 Manfaat Aplikatif
[Link] Sebagai acuan bagi perawat dalam melaksanakan asuhan kep
erawatan pasien dengan stroke melalui penerapan intervesi
terapi wicara AIUEO
[Link] Sebagai sumber informasi dan acuan bagi pasien dengan
stroke melalui penerapan intervesi terapi wicara AIUEO