0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan3 halaman

Teknik Sampling: Probability vs Non-Probability

Diunggah oleh

nurmila88773
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan3 halaman

Teknik Sampling: Probability vs Non-Probability

Diunggah oleh

nurmila88773
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Probability Sampling dan Non-Probability

Sampling: Apa Artinya?


Probability Sampling

Dalam artian bahasa inggris, probability merupakan “kemungkinan”. Ini artinya teknik
probability sampling adalah metode atau pengambilan sampel dengan cara acak sehingga semua
orang atau makhluk hidup di dalam populasi memiliki kemungkinan dijadikan sampel oleh
peneliti. Untuk melakukan metode acak, peneliti perlu menyiapkan sebuah prosedur agar setiap
anggota dalam populasi tersebut memiliki kesempatan yang sama dan mendapatkan peluang
yang sama pula.

jenis-Jenis Probability Sampling:

Teknik probability sampling memiliki jenis-jenisnya sendiri di mana setiap jenis tersebut
memiliki cara pemilihan acak yang berbeda-beda.

1. Simple Random Sampling (Sampel Acak Sederhana)

Seperti namanya, teknik simple random sampling merupakan metode yang paling sederhana.
Penggunaan simple random sampling biasa digunakan apabila populasinya adalah homogen
(sejenis). Dalam teknik ini, yang dilakukan oleh peneliti adalah memasukkan semua anggota ke
dalam daftar pemilihan sampel. Kemudian peneliti bisa memberikan tanda atau nomor kepada
setiap anggota dan peneliti memilih secara acak, bisa dilakukan oleh sendiri menggunakan
undian atau dibantu dengan menggunakan alat generator.

contoh: Penelitian akademik di universitas dengan 10.000 mahasiswa, di mana peneliti memilih 500
mahasiswa secara acak dari daftar mahasiswa. Hasil survei dari 500 mahasiswa ini akan memberikan
gambaran tentang kepuasan seluruh populasi mahasiswa.

2. Systematic Sampling (Sampel Sistematik)

Teknik systematic sampling merupakan pengambilan sampel dengan menggunakan jarak tertentu
atau interval. Contohnya, peneliti ingin meneliti populasi yang berjumlah 100 orang. Pertama
kali yang dilakukan oleh peneliti adalah menentukan angka bilangan bulat yang lebih kecil dari
jumlah populasi. Dalam kasus ini, anggap saja peneliti memilih angka 5. Kemudian peneliti
memilih angka sebagai jarak antar bilangan adalah 6. Jadi, orang yang dipilih oleh peneliti
adalah orang dengan urutan ke-5, 11, 17, 23, dan seterusnya. Oleh karena itu, nama teknik ini
dinamakan systematic sampling karena penentuan sampel yang berbentuk sistematis.

3. Stratified Sampling (Sampel Berstrata)


Starified sampling atau model sampel berstrata adalah teknik pengambilan sampel dengan cara
membagi populasi subjek ke dalam strata atau kelompok-kelompok yang sesuai jenisnya. Setelah
dikelompokkan, baru peneliti bisa mengambil sampel secara acak atau random dari tiap
kelompok tersebut. Biasanya populasi tersebut diklasifikasikan berdasarkan jenis kelamin,
kegemaran, daerah, pendapatan, dan lain-lain.

4. Cluster Sampling (Sampel Klaster)

Jenis pengambilan sampel ini juga merupakan teknik dengan cara membagi populasi ke dalam
kelompok, namun setiap kelompok tersebut harus mewakili objek penelitian. Biasanya cluster
sampling ini digunakan ketika populasi atau demografis yang terlalu luas jika peneliti
menggunakan simpel random sampling.

Non-Probability Sampling

Kebalikannya dari probability sampling, teknik non-probability sampling


merupakan pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang yang sama
kepada anggota populasi, dan penentuannya tidaklah acak. Pengambilan
sampel dari populasi bisa jadi karena kebetulan atau faktor penentu dari
peneliti.

Jenis-Jenis Non-Probability Sampling

1. Convenience/Accidental Sampling (Sampel Kebetulan)

Dalam pengertiannya, convenience sampling atau terkadang disebut juga


accidental sampling merupakan teknik sampel yang paling mudah dan
nyaman dilakukan (sesuai namanya) di antara jenis-jenis non probability
sampling karena peneliti mengambil sampel dari orang yang secara
kebetulan ada di tempat. Di sini, peneliti bisa ke tempat-tempat umum yang
menjadi lokasi penelitian seperti halte, sekolah, mall, café, universitas, atau
yang lainnya kemudian mengambil sampel dari orang-orang yang kebetulan
bertemu peneliti di sana.

2. Purposive Sampling (Sampel dengan Kriteria Tertentu)

Teknik yang satu ini merupakan cara pengambilan sampel dengan


karakteristik tertentu yang ditentukan oleh peneliti. Artinya, tidak semua
orang bisa dijadikan sampel oleh peneliti, namun hanya yang sesuai kriteria
saja. Umumnya teknik ini digunakan apabila peneliti ingin mengambil sampel
orang yang keahliannya sedikit atau tidak banyak, seperti dosen di
Universitas A yang bergelar profesor, mahasiswa jurusan X yang memiliki
nilai IPK 4, dan lain-lain.
3. Quota Sampling (Sampel Kuota)

Quota sampling hampir sama dengan stratified sampling, yaitu peneliti


mengelompokkan populasi terlebih dahulu. Bedanya adalah pengambilan
sampel dari setiap kelompok tidak bisa diambil secara acak, namun
berdasarkan keinginan peneliti yang seusai dengan ketentuan sebelumnya.
Jumlah sampel yang diambil itu dibatasi atau dijatah (quotum) dari setiap
grup yang sudah ditentukan juga.

4. Saturation Sampling (Sampel Jenuh)

Saturation sampling atau sampel jenuh merupakan pengambilan sampel


yang mengikutsertakan semua anggota populasi. Jenis teknik ini cocok
digunakan untuk populasi yang berjumlah kecil.

5. Snowball Sampling (Sampel Bola Salju)

Terkahir, snowball sampling merupakan sampel yang diambil secara


berantai, dari ukuran kecil hinga ukuran besar seperti gulungan bola salju.
Teknik ini digunakan apabila peneliti sulit menemukan subjek penelitian,
biasanya karena komunitas yang ingin diteliti dianggap tabu atau
kontroversial oleh masyarakat. Jadi ketika peneliti mendapatkan satu
narasumber, maka peneliti bisa mendapat rujukan anggota lainnya dari
narasumber tersebut. Itulah yang dinamakan dari ukuran kecil ke ukuran
besar.

Anda mungkin juga menyukai