0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan7 halaman

Karakteristik dan Manfaat Ultisol di Indonesia

Tinjauan permasalahan

Diunggah oleh

mmandalafitrisyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan7 halaman

Karakteristik dan Manfaat Ultisol di Indonesia

Tinjauan permasalahan

Diunggah oleh

mmandalafitrisyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

II.

TINJAUAN PUSTKA

2.1 Karakteristik ultisol


Ultisol merupakan tanah yang memiliki masalah keasaman tanah, bahan
organik rendah dan unsur hara makro rendah dan memiliki ketersediaan P sangat
rendah (Fitriatin et al., 2014). Ultisol mempunyai potensi yang tinggi untuk
pengembangan pertanian lahan kering di Indonesia karna sebaran luasannya
mencapai 45.794.000 ha atau sekitar 25% dari total luas daratan Indonesia
(Subagyo et al., 2000).
Ultisol adalah jenis tanah yang dapat berkembang dari berbagai bahan
induk, yang bersifat masam hingga basa, namun sebagian besar bahan induk tanah
ini adalah batuan sedimen masam. Ultisol memiliki kandungan hara yang rendah
dikarenakan aktifnya tanah ini mengalami pencucian basa, sementara proses
dekomposisi yang berjalan cepat dan bahan organik terbawa erosi membuat
Ultisol menjadi miskin akan bahan organik. Permasalahan yang menonjol pada
Ultisol adalah pH rendah, kapasitas tukar kation rendah, kejenuhan basa rendah,
kandungan hara seperti N, P, K, Ca, dan Mg rendah dan tidak tersedia serta
tingkat Al-dd yang tinggi, mengakibatkan tidak tersedianya unsur hara yang
cukup bagi pertumbuhan tanaman (Subagyo et al., 2000).
Umumnya Ultisol mempunyai nilai kejenuhan basa < 35%, memiliki reaksi
masam hingga sangat masam (pH 5−3,10), kecuali Ultisol dari batu gamping yang
mempunyai reaksi netral hingga agak masam (pH 6,80−6,50). Kapasitas tukar
kation pada Ultisol dari granit, sedimen, dan tufa tergolong rendah masing-masing
berkisar antara 90−7,50 cmol/kg, 6,11−13,68 cmol/kg, dan 6,10−6,80 cmol/kg,
sedangkan yang dari bahan volkan andesitik dan batu gamping tergolong tinggi
(>17 cmol/kg) (Prasetyo dan Suriadikarta, 2006).
Kandungan C-organik pada ultisol juga rendah yang disebabkan oleh
proses dekomposisi yang berjalan cepat dan bahan organik terbawa erosi
membuat ultisol menjadi miskin akan bahan organik. Anggraini, (2018)
kandungan C-organik pada ultisol yaitu 1,77% yang mana termasuk rendah.
Rendahnya kandungan organik ini sangat berpengaruh terhadap kesuburan tanah
sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan hasil produktivitas tanaman pada tanah
itu juga. Oleh karena itu, penambahan bahan organik melalui pupuk organik

6
sangat perlu dilakukan untuk memperbaiki produktivitas serta kesuburan tanah
Ultisol.

2.2 Manfaat kompos terhadap tanah dan tanaman


Kompos merupakan bahan organik yang telah didekomposisi dan didaur
ulang sehingga dapat berfungsi sebagai pupuk dan bahkan bahan pembenah tanah.
Kompos mengandung bahan nutrisi yang cukup tinggi yang dapat digunakan
dalam berbagai kegiatan seperti berkebun, landscaping, hortikultura dan pertanian
lainnya (Lumbanraja, 2014).
Pengomposan merupakan salah satu metode pengelolaan sampah organik
yang bertujuan mengurangi dan mengubah komposisi sampah menjadi produk
yang bermanfaat. Menurut Faatih, (2012) pengomposan merupakan salah satu
proses pengolahan limbah organik menjadi material baru seperti halnya humus.
Murbandono, (2004) penggunaan kompos sebagai pupuk sangat baik
karena kompos dapat menyediakan unsur hara mikro bagi tanaman,
menggemburkan tanah, memperbaiki tekstur tanah, meningkatkan porositas,
aerasi dan komposisi mikroorganisme tanah, meningkatkan daya ikat tanah
terhadap air, dan memudahkan pertumbuhan akar tanaman.
Yuniwati et al., (2012) manfaat kompos yaitu menyediakan unsur hara
mikro bagi tanaman, menggemburkan tanah, memperbaiki struktur dan tekstur
tanah, meningkatkan porositas, aerasi, dan komposisi mikroorganisme tanah,
meningkatkan daya ikat tanah terhadap air, memudahkan pertumbuhan akar
tanaman, menyimpan air tanah lebih lama, meningkatkan efisiensi pemakaian
pupuk kimia, dan bersifat multi lahan karena dapat digunakan di lahan pertanian,
perkebunan, reklamasi lahan kritis.
Pasang et al., (2019) Perlakuan pupuk kandang 10 ton/ha ditambah pupuk
kompos 5 ton/ha merupakan perlakuan paling berpengaruh nyata untuk
menurunkan kandungan Al-dd pada tanah ultisol, dan meningkatkan P tersedia,
pH, kejenuhan basa, kapasitas tukar kation, dan C-organik pada tanah Ultisol.
Menurut hasil penelitian Alibasyah, (2016) menunjukkan bahwa C-organik
tertinggi dijumpai pada perlakuan pemberian kompos 15 ton/ha, yang berbeda
nyata dengan perlakuan kompos 0 ton/ha (kontrol) namun tidak berbeda nyata
dengan perlakuan 5 ton/ha dan 10 ton/ha.

7
2.3 Kompos kotoran sapi
Pemupukan merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan unsur hara
didalam tanah untuk peningkatan pertumbuhan dan produksi tanaman. Pupuk
kandang sapi atau kotoran sapi merupakan salah satu pupuk organik yang sangat
baik untuk perkembangan tanah dan tanaman. Menurut (Risnawati, 2013) Kotoran
sapi adalah bahan yang banyak digunakan untuk pupuk tanaman, namun
penggunaan pupuk seperti ini proses penguraiannya agak lambat (Slow release)
sehingga perlu dilakukan fermentasi lebih dahulu baru kemudian dimanfaatkan
sebagai pupuk organik bagi tanaman, Pemanfaatan biogas selain sebagai sumber
energi penerangan dan sumber energi memasak, juga sebagai pupuk organik yang
bahan baku biogas seperti lumpur dari kotoran sapi merupakan bahan organik
yang mempunyai kandungan Nitrogen (N) yang ada masih tetap bertahan dalam
sisa bahan, yang akhirnya akan menjadi sumber N bagi pupuk organik.
Mustami et al., (2015) kotoran sapi memiliki karakteristik sebagai berikut :
kadar air memiliki nilai sebesar 84,75%, kandungan C-organik memiliki nilai
sebesar 10,142%, kandungan nitrogen total memiliki nilai sebesar 0,126% dan
kandungan phosphate memiliki nilai sebesar 0,021%.
Kotoran sapi diyakini dapat memperbaiki sifat fisika dan kimia tanah serta
menambah unsur unsur hara didalam tanah. Menurut hasil penelitian Afandi et al.,
(2015) pemberian bahan organik berupa kotoran sapi berpengaruh nyata terhadap
sifat kimia pada tanah, serapan N, P, K di tanaman dan umbi, serta pertumbuhan
dan produksi ubi jalar. Hasil uji analisis ragam pada penelitian nya menunjukkan
bahwa pemberian kotoran sapi pada dosis 5 dan 15 ton/ha menunjukkan hasil
rerata tertinggi dalam peningkatan N-total yaitu sebesar 0,27%.

2.4 Kompos serbuk gergaji


Serbuk gergaji sebenarnya merupakan bahan organik potensial yang dapat
dimanfaatkan sebagai media pertumbuhan karena disamping dapat menyokong
pertumbuhan akar, juga mengandung unsur-unsur hara yang diperlukan bagi
pertumbuhan tanaman (Sinaga dan Sanni, 2002).
Serbuk gergaji memiliki fungsi sebagai mulsa dan sebagai sumber bahan
organik dan meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah. Serbuk gergaji

8
mengandung komponen-komponen kimia seperti selulosa, hemiselulosa, lignin
dan zat ekstraktif (Tatogo, 2010).
Menurut penelitian yang telah dilakukan Setyorini et al., (2006), serbuk
gergaji merupakan salah satu sumber bahan kompos yang mengandung nirogen.
Kandungan nitrogen dalam serbuk gergaji berkisar 0,1%.
Pada hasil penelitian Pradini, (2019) penggunaan serbuk kayu campuran
sebagai bahan campuran kompos, menghasilkan waktu pengomposan lebih cepat,
karena serbuk kayu campuran bersifat bahan tambahan penggembur tanah. Fungsi
dari sifat bahan tambahan dari serbuk gergaji adalah mengatur kelembaban
dengan menyerap kelebihan air dalam bahan kompos dan memudahkan
pergerakan udara melewati campuran bahan. Hasil analisis serbuk kayu dengan C-
organik 58,16%, N 0,68%, C/N 85,05%, dan kadar air 8,01%, dapat mengimbangi
proses pengomposan sifat dan Kandungan Batuan Fosfat Alam.

2.5 Karakteristik dan manfaat Batuan Fosfat Alam (BFA)


Produksi batuan fosfat alam (BFA) di Indonesia sebanyak 1.000 t atau
<0,1% produksi dunia. Indonesia memiliki sebaran batuan fosfat alam yang
banyak dijumpai di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya atau Papua. Hasil Survei
Explorasi tahun 1968-1985 oleh Direktorat Geologi dan Mineral, Departemen
Pertambangan telah ditemukan cadangan fosfat alam yang diperkirakan sebesar
895.000 t yang tersebar di Pulau Jawa (66%), Sumatera Barat (17%), Kalimantan
(8%), Sulawesi (5%), dan sekitar 4% tersebar di Papua, Aceh, Sumatera Utara,
dan Nusa Tenggara. Perkiraan cadangan deposit fosfat alam terbesar terdapat di
Jawa Timur (Kasno et al., 2009).
Wahyuningsih, (2012) Fosfat dalam tanah sebagian besar berasal dari
pelapukan batuan dan mineral yang mengandung P dalam kerak bumi. Deposit
fosfat dibagi dalam tiga golongan besar yaitu: (1) Fe-Al-fosfat, (2) Ca-Fe-
AlFosfat dan (3) Ca-fosfat. Di antara ketiganya, Ca-fosfat (apatit) paling mudah
melapuk dan dikenal sebagai batuan fosfat. Apatit merupakan kristal kecil dalam
batuan, yang setelah batuan dan mineral apatit melapuk, fosfat akan larut dan
tersedia bagi tanaman. Mineral ini merupakan persenyawaaan karbonat, fluor, klor

9
atau hidroksi apatit yang mempunyai kadar P2O5 berkisar antara 15-30% dan tidak
larut dalam air.
Di alam terdapat sekitar 150 jenis mineral fosfat dengan kandungan P
sekitar 1-38% P2O5. Sebagian batuan fosfat alam ditemukan dalam bentuk apatit.
Umumnya batuan fosfat alam berasal dari batuan sedimen dalam bentuk karbonat
fluorapatit yang disebut francolite, sedangkan yang lain berasal dari batuan beku
dan metamorfik biasanya dalam bentuk fluorapatit dan hidroksi apatit. Adapun
batuan yang berasal dari ekskresi burung dan kelelawar (guano) umumnya
ditemukan dalam bentuk karbonat hidroksi. Mineral lain seperti kuarsa, kalsit, dan
dolomit umumnya juga ditemukan dalam mineral apatit sebagai secondary
mineral (Kasno et al., 2009).
Batuan fosfat alam merupakan pupuk P alam yang berpotensi sebagai
penyedia unsur hara P pada tanah-tanah masam. Selain mengandung hara P,
batuan fosfat alam memiliki kandungan hara lain seperti Ca, Mg, S, Cu, Zn, Mo
dan B yang relatif tinggi dibanding pupuk buatan. Dengan demikian pupuk P-
alam dapat mempunyai fungsi sebagai bahan untuk memperbaiki kesuburan tanah.
Batuan fosfat alam merupakan pupuk yang mengandung P dan Ca cukup tinggi,
tidak cepat larut dalam air, sehingga bersifat lambat tersedia (slow release) dalam
penyediaan hara P, namun mempunyai pengaruh residu lama. Batuan fosfat alam
dengan kandungan Ca setara CaO yang cukup tinggi (>40%) umumnya
mempunyai reaktivitas yang tinggi sehingga sesuai digunakan untuk tanah-tanah
masam (Rochayati et al., 2009).
Hasil penelitian Wahyuningsi, (2012) menegaskan bahwa batuan fosfat
adalah pupuk P alam yang berpotensi sebagai penyedia hara P di tanah masam.
Namun dalam aplikasinya perlu memperhatikan sifat kimia dari tanah tersebut
untuk mengoptimalkan efektivitas penggunaanya, antara lain pH tanah, kapasitas
tukar kation, kejenuhan basa dan kejenuhan unsur Al. Sedangkan pemilihan
batuan fosfat sebagai pupuk P alam didasarkan pada kadar P-total, kadar karbonat
bebas dan ukuran butir. Penggunaan batuan fosfat sebagai pupuk P alam pada
usaha pertanaman skala luas dan berdaur panjang di tanah masam lebih
menguntungkan dari pada penggunaan pupuk P kimia.

10
2.6 Peranan abu boiler sebagai bahan tambahan kompos
Abu boiler merupakan hasil pembakaran tandan kosong kelapa sawit,
cangkang dan serat sawit dalam ketel dengan suhu yang sangat tinggi yaitu 800 –
900oC (Lada dan Pombos, 2019). Abu boiler merupakan bahan amelioran, yang
mana bahan ini dikenal baik sebagai bahan yang dapat memperbaiki sifat fisik dan
kimia tanah. Abu boiler dapat digunakan untuk menetralkan tanah masam dan
meningkatkan kandungan hara tanah.
Abu boiler dapat dapat meningkatkan pH tanah, P-tersedia dan K-tukar
serta serapan P tanaman. Abu boiler mengandung oksida-oksida dalam jumlah
yang cukup tinggi. Peningkatan nilai pH tanah disebabkan oleh karena yang
diaplikasikan, merupakan bahan basa dengan pH 9,9. Kadar P tersedia tanah
meningkat. Peningkatan kadar P-tersedia tanah disebabkan oleh adanya
peningkatan pH, karena dengan semakin tinggi nilai pH maka kelarutan logam
dalam tanah menurun, sehingga unsur P dapat lepas dari ikatan logam dan tersedia
pada tanah (Elia et al., 2015). Aplikasi abu boiler dapat meningkatkan K tukar
pada tanah hal ini disebabkan oleh abu boiler memiliki kandungan K yang cukup
tinggi yaitu K2O 0,7% (Hidayati dan Indrayanti, 2016). Hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan Elia et al., (2015) Abu boiler mampu meningkatkan
kadar K-tukar tanah.
Sitorus et al., (2014) menyatakan bahwa abu boiler yang merupakan
limbah padat hasil samping pengolahan pabrik kelapa sawit (PKS) mengandung
kalium hingga 30% yang cukup untuk pertumbuhan diameter batang. Abu boiler
juga dapat digunakan sebagai sumber unsur nitrogen dan fosfor bagi tanaman.
Pada pemberian abu boiler sampai pada dosis 300 g/polybag dapat mencukupi
ketersediaan nitogen, fosfor dan kalium pada tanah, sehingga berpengaruh
terhadap pertambahan luas daun tanaman.

2.7 Syarat tumbuh tanaman kedelai


Kedelai merupakan tanaman semusim yang dapat tumbuh dengan baik
pada berbagai tanah dengan syarat drainase tanah cukup baik, serta ketersediaan
air yang cukup selama pertumbuhan tanaman. Pertumbuhannya dapat lebih baik
pada struktur tanah yang subur (Suprapto, 2004).

11
Kedelai adalah tanaman beriklim tropik, tanaman kedelai akan tumbuh
subur di daerah yang berhawa panas, apalagi di tempat yang terbuka tidak
terlindung oleh tanaman lain. Kedelai dapat tumbuh baik di tempat terbuka
dengan curah hujan 100–400 ml/bulan. Oleh karena itu, kedelai kebanyakan
ditanam di daerah yang terletak kurang dari 400 m di atas permukaan laut.
Kedelai merupakan tanaman hari pendek, yakni apabila penyinaran terlalu lama
melebihi 12 jam, tanaman tidak akan berbunga. Hampir semua varietas tanaman
kedelai berbunga dari umur 30–60 hari (Suprapto, 2004).
Kedelai umumnya dapat beradaptasi terhadap berbagai jenis tanah, dan
menyukai tanah yang bertekstur ringan hingga sedang, dan berdrainase baik, akan
tetapi peka terhadap salinitas. Kebutuhan pH yang baik sebagai syarat tumbuh
tanaman kedelai yaitu antara 5,8–7, namun pada tanah dengan pH 4,5 pun kedelai
masih dapat tumbuh baik. Tanah yang cocok yaitu alluvial, regosol, grumosol,
latosol dan andosol (Adisarwanto, 2006).

12

Anda mungkin juga menyukai