Pengetahuan Keluarga dan Kejang Demam Anak
Pengetahuan Keluarga dan Kejang Demam Anak
Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Keluarga dalam Penanganan Kejang Demam pada
Anak: Literature Review
52
PENDAHULUAN
Kejang merupakan sebuah gejala yang disebabkan adanya perubahan secara mendadak
dari aktivitas listrik diotak dan adanya kontraksi otot yang berlebihan. Kejang demam (febris
convulsion/stuip/step) adalah kejang yang timbul pada waktu demam yang tidak disebabkan
oleh proses di dalam kepala (otak: seperti meningitis atau radang selaput otak, ensifilitis atau
radang otak) tetapi diluar kepala misalnya karena adanya infeksi di saluran pernafasan, telinga
atau infeksi di saluran pencernaan. Kejang demam terjadi pada masa bayi atau anak mengalami
demam tanpa infeksi sistem saraf pusat terjadi pada suhu lebih dari 38oC – 40oC. Kejang demam
pada anak jarang terjadi setelah anak usia 5 tahun. Salah satu faktor terjadi kejang demam
disebabkan tingginya suhu tubuh pada anak atau balita. Di Indonesia sering terjadi saatdemam
tidak ditangani dengan baik oleh keluarga, seperti tidak segera memberikan kompres pada anak
ketika terjadi kejang demam, dan sebagai keluarga justru membawa anaknya kedukun sehingga
sering terjadi keterlambatan bagi petugas dalam menangani yang berlanjut pada kejang demam.
Berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku keluarga dalam penanganan kejang demam
diantaranya pengetahuan (Wiharjo, 2019). Berdasarkan Tarunaji, & Fithriyani, (2018)
menunjukkan bahwa Pengetahuan keluarga masih belum tepat tentang penanganan kejang
demam pada anak dan perilaku keluarga yang belum tepat dalam penanganan kejang demam
pada anak. Keluarga harus diberi cukup informasi dalam upaya mencegah dan menghadapi
kejang demam.
Berdasarkan WHO ada lebih dari 21,65 juta penderita kejang demam dan lebih dari 216
ribu diantaranya meninggal. Selain itu di Kuwait dari 400 anak usia 1 bulan-13 tahun dengan
riwayat kejang, yang mengalami kejang demam sekitar 77% (Hasibuan, & Zahroh, 2018).
Menurut konsensus penatalaksanaan kejang demam dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
tahun 2016 kasus kejang demam di Indonesia ditemukan pada 2-4% anak berusia 6 bulan
hingga 5 tahun. Sekitar 30% pasien kejang demam mengalami kejadian kejang demamberulang
dan kemudian meningkat menjadi 50% jika kejang pertama terjadi pada usia kurang dari satu
tahun. Kejang demam paling sering ditemukan pada usia 1 hingga kurang dari 2 [Link] itu
anak laki – laki dengan kejang demam lebih banyak (66%) dibandingkan dengan anakperempuan
(34%) (Susanti & Wahyudi, 2020). Berdasarkan hasil penelitian Tarunaji, & Fithriyani., (2018)
yang dilakukan pada 35 responden, didapatkan hasil keluarga yang memiliki pengetahuan
belum tepat tentang penanganan kejang demam pada anak sebanyak 19 orang (54,3%) dan
keluarga yang memiliki pengetahuan yang tepat tentang penanganan kejang demam pada anak
sebanyak 16 (45,7%) responden, dan keluarga yang memiliki perilaku yang belum tepat dalam
penanganan kejang demam pada anak sebanyak 18 (51,4%), keluarga yangmemiliki perilaku
baik dalam penanganan kejang demam pada anak sebanyak 17 (48,6%).
Kejang demam berkaitan dengan demam, biasanya dipengaruhi oleh virus atau infeksi.
Kejang yang terjadi biasanya jinak, tetapi sangat menakutkan bagi keluarga. Bagaimanapun
juga kejang demam dapat menjadi tanda bahaya infeksi yang menyebabkan kejang seperti
meningitis atau sepsis. Kejang demam pada anak perlu diwaspadai, karena kejang yang lebih
dari 15 menit dapat menyebabkan kecacatan sistem saraf otak bahkan bisa terjadi kematian
(Hasibuan, & Zahroh, 2018). Kejang demam adalah tipe kejang yang paling sering di jumpai
pada balita dan anak-anak. Kejang demam biasanya sering terjadi pada anak dibawah 5 tahun,
dengan insiden puncak pada usia antara 14 dan 18 bulan. Sebagian besar keluarga masih
memiliki pengetahuan dan perilaku yang belum tepat dalam penanganan kejang demam pada
anak. Berbagai faktor yang mempengaruhi perilaku keluarga dalam penanganan kejang demam
diantaranya pengetahuan, kemampuan keluarga dalam penanganan kejang demam harus
didasari pengetahuan yang tepat tentang kejang demam (Wiharjo, 2019). Dampak dari perilaku
keluarga yang belum tepat membuat terlambatnya penanganan pada anak dan anak bisa saja
mengalami hal dari kejang demam dapat merusak sistem saraf otak seperti epilepsi, kelainan
anatomis otak, mengalami kecacatan atau kelainan neurologis dan kemungkinan mengalami
kematian dan dampak positif apabila keluarga memiliki pengetahuan dan perilaku yang tepat
maka anak dapat tertangani dengan cepat dan terselamatkan.
Peran perawat sangat dibutuhkan dalam penanganan kejang demam pada anak, upaya
yang dilakukan perawat yaitu dalam upaya promotif yaitu dengan memberikan penyuluhan
kesehatan kepada keluarga tentang penanganan kejang demam pada anak dan juga dimana
53
perawat melibatkan peran keluarga dalam penanganan kejang demam. Penanganan pertama
yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kejang pada anak demam adalah segera
memberi obat penurun demam, kompres air hangat, diletakan di ketiak, dahi dan lipatan paha.
Berikan anak minum, makan–makanan berkuah atau buah–buahan yang banyak mengandung
air, berupa jus, susu, teh dan minuman lainnya. Jangan selimuti anak dengan selimut yang tebal
karena dapat menghalangi penguapan (Hasibuan, & Zahroh, 2018). Penelitian ini diperlukan
karena jika keluarga tidak mengetahui cara penanganan kejang demam dapat menyebabkan
kerusakan otak dan mengganggu perkembangan anak, namun jika pengetahuan keluarga baik
maka keluarga dapat mencegah terjadinya kejang demam pada anak. Tujuan penelitian yaitu
untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan perilaku keluarga dalam penanganan kejang
demam pada anak.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian pada penelitian ini menggunakan literature review. Strategi yang
digunakan untuk mencari literature dalam penelitian ini adalah menggunakan PICOS framework
dengan kriteria inklusi yaitu jurnal nasional dan internasional yang berhubungan dengan topik
penelitian yaitu hubungan pengetahuan dengan perilaku keluarga dalam penanganan kejang
demam pada anak, tidak ada intervensi, tidak ada komparasi, kemudian hasil artikel/jurnal yang
menyajikan data tentang adanya hubungan pengetahuan dengan perilaku keluarga dalam
penanganan kejang demam pada anak, study design dengan Cross Sectional,yang terpublikasi
dari tahun 2017 hingga 2021, serta berbahasa Indonesia. Seleksi literatur menggunakan
database Google Scholar, Mendeley Search, Portal Garuda, DOAJ, dan Science Direct dengan
menggunakan kata kunci “Pengetahuan” AND “Perilaku Keluarga” AND “Penanganan Kejang
Demam Pada Anak”, yang kemudian diidentifikasi, di screening serta diuji kelayakannya dan
diperoleh 6 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi.
HASIL PENELITIAN
Dari hasil penelitian dari 6 artikel yang dilakukan dengan metode lierature review yang
didapatkan yaitu responden penelitian yang ditemukan adalah anggota keluarga yang anaknya
mengalami kejang demam berada di dalam lingkungan Rumah Sakit, Puskesmas. Jumlah
responden dalam artikel bervariasi, jumlah responden terbanyak yaitu 94 responden dan paling
sedikit sebanyak 35 responden. Rata-rata usia responden yaitu 20 – 40 tahun, dengan jenis
kelamin responden didominasi oleh perempuan dengan tingkat pengetahuan terbanyak
Sekolah Menengah Atas (SMA) dan pekerjaan responden dominasi Ibu Rumah Tangga.
Didapatkan hasil dari 6 artikel terkait bahwa pengetahuan dominan dalam kategori baik dan
perilaku keluarga dalam penanganan kejang demam pada anak dominan dalam kategori baik.
Hasil analisis penelitian semua menunjukkan adanya hubungan pengetahuan dengan perilaku
keluarga dalam penanganan kejang demam pada anak dengan p-value <0,05.
54
pengetahuan baik
(45,7%).
2. Sebanyak 18
responden (51,4%)
ibu memiliki perilaku
kurang baik, sebanyak
17 responden (48,6%)
ibu memiliki perilaku
baik.
3. Berdasarkan uji
statistik didapatkan
nilai p-value 0,000
(<0,05). Sehingga
hasil analisis bivariat
ada hubungan
pengetahuan dengan
perilaku pencegahan
kejang demam
berulang p-value
(0,000).
2. Nuryani, RSU Cross Sebanyak 40 1. Berdasarkan hasil
Ririn Muhammadiyah Sectional responden di penelitian dengan 40
Nasriati, Ponorogo RSU responden
Metti Muhammadiyah didapatkan sebanyak
20 responden (50%)
Verawati Ponorogo keluarga memiliki
(2020) pengetahuan baik,
sebanyak 10
responden (25%)
keluarga memiliki
pengetahuan cukup,
dan sebanyak 10
responden (25%)
keluarga memiliki
pengetahuan kurang.
2. Sebanyak 27
responden (67,5%)
keluarga memiliki
perilaku yang positif,
dan sebanyak 13
responden (32,5%)
keluarga memiliki
perilaku yang negatif.
3. Berdasarkan hasil uji
chi square diperoleh
nilai ɑ = 0,05.
Sehingga Ha diterima
maka dapat diartikan
ada hubungan antara
pengetahuan keluarga
tentang kejang
demam dengan
perilaku penanganan
kejang demam
sebelum dibawa ke
55
rumah sakit ruang
anak RSU
Muhammadiyah
Ponorogo.
3. Evis Puskesmas Cross 94 responden 1. Berdasarkan hasil
Ritawani Rawat Inap Sectional penelitian dengan 94
Hasibuan, Tenayan Raya responden, sebanyak
Maizatuz Kota 58 responden (61,7%)
memiliki pengetahuan
Zahroh Pekanbaru baik, sebanyak 32
(2018) responden (34,05%)
memiliki pengetahuan
cukup, dan sebanyak
4 responden (4,25%)
memiliki pengetahuan
kurang.
2. Sebanyak 62
responden (66%)
orang tua dengan
penanganan benar,
dan sebanyak 32
responden (34%)
dengan penanganan
salah.
3. Hasil penelitian
menunjukkan chi
square dengan tingkat
p-value < 0,02. Maka
Ho ditolak, yang
berarti bahwa ada
hubungan antara
pengetahuan ibu
dengan penanganan
pertama pada balita
kejang demam.
4. Andrianus Posyandu Cross 45 responden 1. Berdasarkan hasil
Langging, Anggrek Sectional penelitian dengan 45
Tavip Dwi Tlogomas responden, sebanyak
Wahyuni, Wilayah Kerja 27 responden (60,0%)
ibu memiliki
Ani Puskesmas
pengetahuan cukup,
Sutriningsih Dinoyo Kota sebanyak 13
(2018) Malang responden (28,9%)
ibu memiliki
pengetahuan baik,
sebanyak 5
responden (11,1%)
ibu memiliki
pengetahuan kurang.
2. Sebanyak 28
responden (62,2%)
ibu dengan
penanganan cukup,
sebanyak 11
responden (24,4%)
56
ibu dengan
penanganan baik. Dan
sebanyak 6
responden (13,4%)
ibu dengan
penanganan kurang.
3. Hasil analisis uji
korelasi dengan
signifikansi p-value
0,001, maka hipotesis
Ha diterima yaitu
terdapat korelasi atau
hubungan antara
pengetahuan ibu
dengan
penatalaksanaan
kejang demam.
57
6. Ami Ruang Aster Cross 35 responden 1. Berdasarkan hasil
Oetamiati RSUD Kota Sectional penelitian pada 35
Wiharjo Bogor responden, sebanyak
21 responden (60,0%)
(2019)
orang tua memiliki
pengetahuan baik,
sebanyak 8
responden (22,9%)
orang tua memiliki
pengetahuan cukup,
dan sebanyak 6
responden (17,1%)
orang tua memiliki
pengetahuan kurang.
2. Sebanyak 22
responden (62,9%)
orang tua dengan
penanganan positif,
dan sebanyak 13
responden (37,1%)
orang tua dengan
penanganan negatif.
3. Hasil analisa bivariat
menggunakan uji
analisis chi square
diperoleh nilai p-value
0,002 < 0,05 (alpha),
artinya Ha diterima
dan Ho ditolak.
Sehingga
menunjukkan adanya
hubungan tingkat
pengetahuan orang
tua dengan
pertolongan pertama
kejang demam pada
anak usia balita di
ruang Aster RSUD
kota bogor.
PEMBAHASAN
1. Identifikasi Pengetahuan Keluarga Dalam Penanganan Kejang Demam Pada Anak.
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan dari 6 artikel penelitian terdahulu yang
berhasil didapatkan dan dianalisis oleh peneliti maka peneliti menemukan hubungan dari setiap
artikel yang ada. Berdasarkan hasil penelitian Tarunaji, & Fithriyani, (2018) didapatkan bahwa
sebagian besar responden yaitu sebanyak 35 responden memiliki pengetahuan kurang tepat
dalam penanganan kejang demam pada anak di RSUD Mattaher Jambi. Adapun responden
yang memiliki pengetahuan dalam kategori rendah sebanyak 19 responden (54,3%), responden
yang memiliki pengetahuan tinggi sebanyak 16 responden (45,7%). Didukung dengan
penelitian Budi, Munzaemah & Listyarini, (2021) dengan jumlah 50 responden ada yang
memiliki pengetahuan dalam kategori yang kurang baik sebanyak 34 orang (68,0%), responden
yang memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 16 orang (32,0%). Berdasarkan hasil penelitian
Nuryani, Nasriati & Verawati, (2020) dari 40 responden penelitian didapatkan tingkat
58
pengetahuan keluarga dalam kategori baik sebanyak 20 responden (50%), pengetahuan
keluarga cukup sebanyak 10 responden (25%), dan pengetahuan keluarga kurang sebanyak
10 responden (25%). Didukung dengan penelitian Hasibuan & Zahroh, (2018) dengan 94
responden dalam penelitian ini didapatkan keluarga yang memiliki pengetahuan dalam kategori
yang baik sebanyak 58 responden (61,7%), keluarga yang memiliki pengetahuan yang cukup
sebanyak 32 responden (34,05%), dan keluarga yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak
4 responden (4,25%). Sejalan dengan penelitian Wiharjo, (2019) dengan total responden 35
orang, dengan hasil keluarga yang memiliki pengetahuan dalam kategori baik sebanyak 21
orang (60,0%), keluarga yang memiliki pengetahuan yang cukup sebanyak 8 orang (22,9%),
dan keluarga yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 6 orang (17,1%). Dari penelitian
Langging, Wahyuni & Sutriningsih., (2018) dengan 45 responden sebagian besar responden
memiliki pengetahuan dalam kategori yang cukup sebanyak 27 orang (60,0%), responden yang
memiliki pengetahuan baik sebanyak 13 orang (28,9%) dan responden yang memiliki
pengetahuan yang kurang sebanyak 5 orang (11,1%).
Pengetahuan menurut Budiman dan Riyanto, (2013) adalah sesuatu hal yang
diketahui/dimengerti berkaitan dengan proses pembelajaran. Pengetahuan sebagai suatu
pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi
karena adanya pemahaman – pemahaman baru. Pengetahuan menurut Notoatmodjo, (2012)
adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu
objek tertentu. Penginderaan berjalan melalui sistem indra manusia, mulai dari indra
penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan perabaan. Sebagian besar pengetahuan
manusia di peroleh melalui sistem penglihatan dan pendengaran. Dapat disimpulkan bahwa
pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui oleh seseorang berdasarkan pengalaman dan
penelitian atau terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek yang
proses pembentukannya secara terus menerus karedna adanya pemahaman – pemahaman
baru. Faktor- faktor yang mempengaruhi pengetahuan secara umum adalah faktor internal yang
didalamnya terdapat pendidikan, pekerjaan, dan umur. Dari artikel Wiharjo, (2019)
menyebutkan faktor pengetahuan juga mempengaruhi kemampuan ibu dalam penanganan
kejang demam. Pengetahuan tersebut memerlukan pembelajaran melalui pendidikan baik
formal maupan non formal, melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan anak yang kejang
demam un pengalaman yang didapat dari orang lain. Pendidikan suatu proses belajar yang
terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan kearah lebih dewasa, lebih baik,
serta lebih matang pada individu, kelompok atau masyarakat. Jadi semakin tinggi seseorang
mendapat pendidikan semakin baik pengetahuan seseorang, semakin mudah untuk memahami
suatu hal yang baru, dan begitu juga sebaliknya bahwa pendidikan yang rendah atau tidak
pernah menempuh pendidikan mempengaruhi seseorang untuk menerima informasi.
Berdasarkan fakta dan teori diatas terdapat kesamaan hasil bahwa yang mempengaruhi
pengetahuan itu adalah pendidikan dan umur dimana rata-rata pendidikan responden yang
didapat adalah dengan tingkat pendidikan SMA sehingga tingkat pengetahuan mereka lebih
baik dan yang berkaitan juga yaitu umur, rata – rata umur yang didapat yaitu 20 – 40 tahun
dimana umur responden sudah termasuk dalam kategori matang. Tingkat pendidikan sangat
mempengaruhi pengetahuan seseorang dalam mengetahui masalah termasuk penanganan
kejang demam pada anak ini dan juga umur mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir
seseorang terhadap informasi yang diberikan tetapi dengan semakin tinggi pengetahuan
keluarga maka semakin paham dan mengerti ketika dalam penanganan kejang demam pada
anak. Dengan adanya pengetahuan baik dari keluarga tentang penanganan kejang demam
pada anak maka dapat dipastikan bahwa kemungkinan terjadinya resiko kejang demam pada
anak lebih kecil ketika anak mengalami demam.
59
2. Identifikasi Perilaku Keluarga Dalam Penanganan Kejang Demam Pada Anak.
Berdasarkan hasil penelitian Tarunaji, & Fithriyani, (2018), dengan 35 responden
didapatkan ibu yang memiliki perilaku kurang tepat mengenai pencegahan kejang demam yaitu
sebanyak 18 responden (51,4%), ibu yang memiliki perilaku baik sebanyak 17 responden
(48,6%). Berdasarkan hasil penelitian Langging, Wahyuni & Sutriningsih., (2018) pada 45
responden, sebanyak 28 responden (62,2%) ibu dengan penanganan cukup pada anak kejang
demam, sebanyak 11 responden (24,4%) ibu dengan penanganan baik pada anak kejang
demam, dan sebanyak 6 responden (13,4%) ibu dengan penanganan kurang pada anak kejang
demam. Sejalan dengan penelitian Nuryani, Nasriati & Verawati, (2020) dengan 40 responden
didapatkan perilaku keluarga yang positif sebanyak 27 responden (67,5%), perilaku keluarga
yang negatif sebanyak 13 responden (32,5%). Sejalan dengan penelitian Zahroh, (2018)
dengan 94 responden, sebanyak 62 responden (66%) orang tua dengan penanganan benar
pada kejang demam, sebanyak 32 responden (34%) orang tua dengan penanganan salah pada
kejang demam. Sejalan dengan penelitian Budi, Munzaemah & Listyarini, (2021) pada 50
responden, sebanyak 27 responden (54,0%) ibu dengan penanganan baik pada kejang demam,
dan sebanyak 23 responden (46,0%) ibu dengan penanganan kurang pada anak kejang
demam. Didukung dengan penelitian Wiharjo, (2019) pada 35 responden, sebanyak 22
responden (62,9%) orang tua dengan penanganan baik pada anak kejang demam, dan
sebanyak 13 responden (37,1%) orang tuang dengan penanganan kurang tepat pada anak
kejang demam.
Perilaku merupakan hasil daripada segala macam pengalaman serta interaksi manusia
dengan lingkunganya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku
merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun
dari dalam dirinya (Notoatmodjo, 2010). Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku yang
mencakup pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai. Pengetahuan apabila
penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses yang didasari oleh pengetahuan,
kesadaran dan sikap yang positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting)
daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Perilaku manusia selalu berubah
sebagian perubahan itu disebabkan karena kejadian alamiah. Apabila dalam masyarakat
sekitar terjadi suatu perubahan lingkungan fisik atau sosial, budaya dan ekonomi maka anggota
masyarakat didalamnya yang akan mengalami perubahan.
Berdasarkan fakta dan teori diatas terdapat kesamaan bahwa yang mempengaruhi
perilaku yaitu salah satunya adalah umur, didapatkan hasil bahwa perilaku dalam kategori baik
lebih banyak dibandingkan dengan perilaku yang kurang baik. Dengan umur responden rata –
rata yaitu 20 – 40 tahun dimana umur tersebut sudah masuk dalam kategori matang. Perilaku
iyalah suatu bentuk tindakan yang dilakukan oleh seseorang dimana perilaku tersebut sangat
dipengaruhi oleh suatu faktor yang mendasar yaitu umur. Semakin tinggi umur seseorang maka
akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam penanganan kejang demam pada anak maka
akan semakin baik perilaku karena sudah mendapatkan berbagai pengalaman dalam
penanganan kejang demam pada anak seiring bertambahnya usia.
60
value = 0,05. Dapat diartikan bahwa ada hubungan antara pengetahun keluarga tentang kejang
demam dengan perilaku penanganan kejang demam sebelum dibawa ke rumah sakit di ruang
anak RSU Muhmmadiyah Ponorogo. Sejalan penelitian Hasibuan & Zahroh, (2018) dengan uji
statistik diperoleh nilai hasil uji statistik chi kuadrat p-value = 0,02. Maka berdasarkan nilai p
menunjukkan terdapat hubungan antara pengetahuan dengan penanganan pertama pada balita
yang mengalami kejang demam. Sejalan dengan hasil penelitian Langging, Wahyuni &
Sutriningsih, (2018) didapatkan nilai dengan signifkansi sebesar 0,001. Nilai signifikan lebih
kecil dari alpha (0,001 < 0,050), maka hipotesis Ha diterima yaitu terdapat korelasi atau
hubungan antara pengetahuan ibu dengan penatalaksanaan kejang demam pada balita di
posyandu anggrak tlogomas wilayah kerja puskesmas diyono kota malang. Sejalan dengan
penelitian Wiharjo, (2019) didapatkan adanya hubungan signifat dengan menggunakan
komputerisasi didapatkan p value 0,002 ≤ 0,05 (alpha), artinya Ha diterima dan Ho ditolak. Dari
nilai tersebut maka hasil analisis menyatakan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan
orang tua dengan pertolongan pertama kejang demam pada anak usia balita di ruang Astr
RSUD Kota Bogor. Didukung berdasarkan hasil penelitian Budi, Munzaemah & Listyarini, (2021)
dengan uji chi square didapatkan p-value = 0,041 yang lebih kecil dari nilai alpa (0,05) dapat
disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat diartikan bahwa ada hubungan
antara pengetahuan ibu dengan penanganan kejang demam berulang di Rumah Sakit Islam
Sunan Kudus.
Perubahan perilaku seseorang terjadi didahului oleh pengalaman, sedangkan
pengalaman itu sendiri adalah pengertian belajar dapat berupa pengalaman fisik, psikis, dan
sosial. Emosi adalah suatu proses berkaitan dengan makna perasaan seseorang, dan otak
manusia menyimpan aspek - aspek yang berbeda di bagian-bagian yang berbeda pula beragam
pengalaman manusia sendiri. Emosi seseorang muncul bisa dari pengalaman seseorang dan
salah satu jenis emosi yaitu rasa takut yang meliputi cemas, bingung, gugup, rasa khawatir,
merasa takut, dan panik. Jadi dari proses pengalaman seseorang bisa berperilaku positif
dikarenakan pengalaman itu sendiri adalah proses belajar yang alami yang akan mudah diingat.
Berdasarkan penelitian Tarunaji, & Fithriyani, (2018), menyatakan adanya hubungan yang
signifikan/bermakna antara pengetahuan dengan perilaku pencegahan kejang demam berulang
pada balita usia 1-5 tahun di ruang anak RSUD Raden Mattaher Jambi tahun 2017, dengan uji
statistic didapatkan p-value 0,000 (<0,05), didukung dengan penelitian Nuryani, Nasriati &
Verawati, (2020) menyatakan ada nya hubungan antara pengetahun keluarga tentang kejang
demam dengan perilaku penanganan kejang demam sebelum dibawa ke rumah sakit di ruang
anak RSU Muhmmadiyah Ponorogo, perhitungan penelitian ini menggunakan uji chi square
diperoleh p-value = 0,05.
Berdasarkan fakta dan teori terdapat kesamaan karena hasil uji statistik menunjukkan
adanya hubungan pengetahuan dengan perilaku keluarga dalam penanganan kejang demam
pada anak. Berdasarkan hasil analisis literature review 6 artikel. Bahwa yang mempengaruhi
pengetahuan yaitu pendidikan dan umur, sedangkan perilaku dipengaruhi oleh faktor
pengetahuan itu. Pengetahuan sangat menentukan setiap individu sehingga akan
mempengaruhi perilaku keluarga dalam penanganan kejang demam pada anak. Hal ini
dikarenakan semakin tinggi tingkat pengetahuan keluarga maka semakin paham tentang
penanganan kejang demam pada anak. Perilaku iyalah suatu bentuk tindakan yang dilakukan
oleh seseorang dimana perilaku tersebut sangat dipengaruhi oleh suatu faktor yang mendasar
yaitu umur, maka pengetahuan yang baik mempengaruhi perilaku keluarga itu sendiri dalam
penanganan kejang demam pada anak. Upaya yang dapat dilakukan supaya pengetahuan dan
perilaku keluarga tentang penanganan kejang demam pada anak menjadi lebih baik yaitu
diperlukan peran perawat dalam hal preventif dan promotif yaitu dengan memberikan
61
penyuluhan kesehatan terkait penanganan kejang demam pada anak, sehingga apa yang
belum diketahui oleh keluarga dalam penanganan kejang demam pada anak dapat
tersampaikan dengan adanya penyuluhan yang dilakukan, diharapkan dari hasil penelitian ini
dapat memberikan dampak positif bagi keluarga agar meningkatkan pengetahuan dalam
penanganan kejang demam pada anak sehingga tidak terjadi gangguang perkembangan pada
otak anak.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dari ke 6 artikel diatas terdapat berbagai macam presentasi hasil dari
pengetahuan dan perilaku. Adapun presentasi dari 6 artikel rata-rata dengan pengetahuan baik,
dan perilaku baik. Berdasarkan fakta dan teori terdapat kesamaan karena hasil uji statistik
menunjukkan adanya hubungan pengetahuan dengan perilaku keluarga dalam penanganan
kejang demam pada anak yang dibuktikan dengan p-value 0,000 (< 0,05). Berdasarkan hasil
analisis literature review 6 artikel, peneliti berasumsi bahwa pengetahuan sangat menentukan
setiap individu sehingga akan mempengaruhi perilaku keluarga dalam penanganan kejang
demam pada anak. Hal ini dikarenakan semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka
semakin paham tentang suatu hal termasuk penyakit kejang demam ini. Sama halnya dengan
perilaku yang dapat menjadi suatu faktor pencetus cara bagaimana seseorang itu melakukan
pekerjaannya, maka pengetahuan yang baik mempengaruhi perilaku keluarga itu sendiri dalam
penanganan kejang demam pada anak.
REFERENSI
Budi, I. S., Munzaemah, S., & Listyarini, A. D. (2021). Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan
Penanganan Kejang Demam Berulang Di Ruang Anak Rumah Sakit Islam Sunan Kudus.
Jurnal Profesi Keperawatan (JPK), 8(1), 1–10. Available on:
[Link]
Budiman, & Riyanto, A. (2013). Kapita Selekta Kuesioner: Pengetahuan Dan Sikap Dalam
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.
Hasibuan, E. R., & Zahroh, M. (2018). Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Penanganan
Pertama Pada Balita Kejang Demam. Al-Insyirah Midwifery: Jurnal Ilmu Kebidanan
(Journal of Midwifery Sciences), 7(2), 7-11.
Langging, A., Wahyuni, T. D., & Sutriningsih, A. (2018). Hubungan Antara Pengetahuan Ibu
dengan Penatalaksanaan Kejang Demam Pada Balita di Posyandu Anggrek Tlogomas
Wilayah Kerja Puskesmas Dinoyo Kota Malang. Nursing News: Jurnal Ilmiah
Keperawatan, 3(1), 643–652. Available on:
[Link]
Notoatmodjo, S. (2010). Promosi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nuryani, N., Nasriati, R., & Verawati, M. (2020). Hubungan Pengetahuan Keluarga Tentang
Kejang Demam Dengan Perilaku Penanganan Kejang Demam Sebelum Dibawa Ke
Rumah Sakit. Health Sciences Journal, 4(1), 44-59. doi: 10.24269/hsj.v4i1.403
Susanti, Y. E., & Wahyudi, T. (2020). Karakteristik Klinis Pasien Kejang Demam Yang Dirawat
Di Rumah Sakit Baptis Batu. Damianus Journal of Medicine, 19(2), 91-98. doi:
10.25170/djm.v19i2.1265
Tarunaji, U., & Fithriyani, F. (2018). Hubungan Pengetahuan, Sikap Dan Motivasi Ibu Dengan
Perilaku Pencegahan Kejang Demam Berulang Pada Balita Usia 1-5 Tahun Di Rsud
Raden Mattaher Jambi. Jurnal Akademika Baiturrahim Jambi, 7(2), 165-171. doi:
10.36565/jab.v7i2.79
Wiharjo, A. A. O. (2019). The Relationship Between the Knowledge of Parents on Evening Fever
in Toddler at RSUD Kota Bogor: Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang tua Pertolongan
Pertama Kejang Demam Pada Anak Usia Balita Di Ruang Aster RSUD Kota Bogor. Jurnal
Ilmiah Wijaya, 11(2), 59-70. doi: 10.46508/jiw.v11i2.57
62