BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tujuan pembelajaran matematika dijenjang pendidikan dasar dan
pendidikan menengah adalah untuk mempersiapkan siswa agar sanggup
menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu
berkembang melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran logis, rasional,
kritis, cermat, jujur, efisien dan efektif, demikian menurut Puskur (dalam
Saragih, 2008: 1). Di samping itu, siswa diharapkan dapat menggunakan
matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai
ilmu pengetahuan yang penekanannya pada penataan nalar dan pembentukan
sikap siswa serta keterampilan dalam penerapan matematika.
Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan suasana belajar yang
mengajak siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran sehingga mereka
terbiasa untuk mengkomunikasikan dan memecahkan masalah-masalah yang
berkaitan dengan materi matematika yang dipelajari dan akhirnya dapat
berdampak pada hasil belajar yang baik pula.
Jika dilihat dari proses pembelajaran matematika yang terjadi ternyata
motivasi siswa masih rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari proses
pembelajaran yang terjadi, yaitu Guru memulai dengan penjelasan singkat
yang disertai tanya jawab dan penyajian contoh, serta dilanjutkan dengan
pengerjaan soal-soal latihan baik yang bersifat prosedural atau penggunaan
rumus tertentu. Pembelajaran masih didominasi oleh guru yang mempunyai
kecenderungan mengantarkan siswa ke tujuan, sehingga pembelajaran
matematika berlangsung secara mekanis. Paradigma pembelajaran seperti ini,
disebut sebagai paradigma mengajar. Hal ini berakibat buruk terhadap citra
matematika yaitu dianggap mata pelajaran yang sulit, membosankan, dan
sama sekali tidak menyenangkan.
Masalah di atas perlu kiranya dicarikan solusi. Sanjaya (2005: 146)
mengatakan bahwa, ”Guru harus memiliki kemampuan dalam
1
2
mengaplikasikan berbagai metodologi dan strategi pembelajaran”. Berkaitan
dengan hal tersebut, upaya yang bisa dilakukan adalah bagaimana seorang
guru mampu memimpin pembelajaran yang berpusat pada siswa, sehingga
siswa menjadi aktif, kreatif, dan saling berkomunikasi tentang materi yang
dipelajarinya. Alangkah baiknya jika materi pembelajaran dikaitkan dengan
masalah keseharian siswa sehingga timbul adanya kebutuhan untuk
mempelajari matematika, sehingga proses yang terjadi adalah motivasi siswa
dalam menemukan konsep matematika.
Seperti halnya kegiatan pembelajaran di tempat peneliti bertugas yaitu
di SMPN 3 Palangka Raya untuk mata pelajaran Matematika materi
mengidentifikasi sifat-sifat dua segitiga sebangun dan kongruen pada kelas
IX-4, peneliti menemukan hasil yang cukup rendah. Dari 27 siswa di kelas
IX-4 hanya 2 siswa (7,41%) saja yang mencapai tingkat penguasaan materi
85% ke atas atau yang mendapatkan nilai minimal sama dengan KKM sebesar
70, sedangkan 25 orang siswa (92,59%) dinyatakan belum tuntas karena
memperoleh nilai di bawah KKM, dengan perolehan rata-rata hasil belajar
secara klasikal sebesar 55,56.
Untuk itu guru perlu menggunakan beragam metode yang
menyediakan beragam pengalaman belajar melalui contoh dan bukti yang
kontekstual. Untuk menciptakan kegembiraan dalam proses pembelajaran,
mengurangi keabstrakan dan meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir
kritis maka harus diterapkan metode mengajar yang baik. Siswa akan lebih
mudah memahami suatu konsep jika dalam belajar siswa dapat
menggunakan sebanyak mungkin indera dan berinteraksi dengan isi
pembelajaran. Apalagi pembelajaran matematika merupakan mata pelajaran
yang sarat materi sehingga siswa dituntut memiliki pemahaman yang
holistik terhadap materi yang disampaikan guru.
Metode Pembelajaran Problem Solving merupakan salah satu
pendekatan pembelajaran motivasional yang diyakini mampu meningkatkan
kemampuan siswa untuk berpikir kritis terhadap berbagai persoalan karena
Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini
3
memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Dengan kata lain
kemampuan memecahkan masalah merupakan tujuan utama pendidikan.
Menindaklanjuti pembelajaran yang belum maksimal/belum dapat
meningkatkan hasil belajar membuat peneliti membuat rencana tindakan
kelas yang akan ditujukan untuk memperbaiki pembelajaran. Penelitian
Tindakan Kelas yang peneliti uji ini menggunakan penerapan metode
Problem Solving dalam pembelajaran matematika untuk meningkatkan
motivasi dan hasil belajar siswa.
Melalui pengamatan selama pembelajaran diketahui faktor yang
menyebabkan hasil belajar siswa yaitu kurang tepatnya metode pembelajaran
yang diterapkan oleh guru karena pada pembelajaran sebelumnya siswa
bersikap pasif dan menunjukkan ketidaktertarikannya. Salah satu alternatif
metode pembelajaran yang dapat dikembangkan adalah pembelajaran
matematika dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah (Problem
Solving).
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penulis tertarik
mengadakan penelitian terhadap penerapan metode Problem Solving untuk
meningkatkan hasil belajar siswa. Maka Penelitian ini berjudul
“Penerapan Metode Problem Solving untuk meningkatkan hasil belajar
siswa dalam pembelajaran matematika materi mengidentifikasi sifat-sifat
dua segitiga sebangun dan kongruen di kelas IX-4 SMPN 3 Palangka Raya
Tahun Pelajaran 2014/2015”.
1. Identifikasi Masalah
Berdasarkan hal tersebut, peneliti meminta bantuan supervisor,
kepala sekolah, dan teman sejawat untuk membantu mengidentifikasi
kekurangan dari pembelajaran yang dilaksanakan. Dari hasil diskusi
terungkap beberapa masalah yang terjadi dalam pembelajaran yaitu :
a. Rendahnya minat belajar siswa
b. Rendahnya keaktifan siswa terhadap materi pembelajaran matematika
yang berdampak hasil belajar rendah.
4
c. Kurangnya perhatian siswa saat pembelajaran berlangsung sehingga
tidak terjadi dialog yang efektif, aktif dan kreatif pada saat proses
pembelajaran berlangsung.
d. Rendahnya minat belajar siswa.
e. Rendahnya hasil belajar siswa.
2. Analisis Masalah
Analisis masalah ditempuh dengan cara melakukan refleksi dari
kinerja yang telah dilakukan, mengkaji literatur serta diskusi dengan
kepala sekolah dan teman sejawat. Berdasarkan hasil analisis masalah
dapat diketahui bahwa kemungkinan yang menjadi faktor penyebab
rendahnya hasil belajar, minat, dan kemampuan siswa dalam mengerjakan
tugas, terjadi karena hal-hal sebagai berikut:
a. Metode pembelajaran yang diambil tidak tepat dan penjelasan materi
terlalu cepat, sehingga berakibat pada berkurangnya minat belajar
siswa terhadap materi pembelajaran.
b. Guru tidak melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran
dan penemuan informasi
c. Guru tidak mampu mengembangkan model dialog yang efektif, aktif
dan kreatif.
d. Guru tidak mampu menciptakan suasana pembelajaran yang dapat
membuat siswa jauh lebih aktif.
Melihat kondisi tersebut di atas, maka peneliti berusaha untuk
mengatasi masalah-masalah yang timbul agar proses pembelajaran dapat
berjalan dengan baik sehingga prestasi belajar siswa dapat tercapai
menggunakan penerapan metode problem solving.
Adapun prioritas masalah dalam pelaksanaan perbaikan proses
pembelajaran adalah :
1. Meningkatkan keaktifan belajar siswa pada pembelajaran matematika
materi mengidentifikasi sifat-sifat dua segitiga sebangun dan kongruen
menggunakan penerapan metode problem solving
5
2. Meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika
materi mengidentifikasi sifat-sifat dua segitiga sebangun dan kongruen
menggunakan penerapan metode problem solving.
Sebagai upaya tindak lanjut, peneliti merasa perlu untuk melakukan
upaya perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas pada
pembelajaran Matematika materi mengidentifikasi sifat-sifat dua segitiga
sebangun dan kongruen dengan menerapkan metode problem solving pada
siswa kelas IX-4 SMPN 3 Palangka Raya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan,
permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimana penerapan metode problem
solving terhadap motivasi dan hasil belajar siswa. Peneliti akan berusaha
menjawab rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah penerapan metode Problem Solving dapat meningkatkan
motivasi belajar siswa kelas IX-4 SMPN 3 Palangka Raya?
2. Apakah penerapan metode Problem Solving dapat meningkatkan hasil
belajar siswa kelas IX-4 SMPN 3 Palangka Raya?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang
dilaksanakan melalui pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini adalah :
a. Untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa kelas IX-4 SMPN
3 Palangka Raya setelah menerapkan metode problem solving.
b. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas IX-4 SMPN 3
Palangka Raya setelah menerapkan metode problem solving.
D. Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini diharapkan mendatangkan manfaat bagi semua
pihak, adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat bagi siswa
6
a. Menumbuhkan kemampuan memecahkan masalah, kemampuan
bekerja sama, dan kemampuan berkomunikasi serta mengembangkan
keterampilan berfikir siswa.
b. Meningkatkan motivasi dalam belajar matematika sehingga dapat
menumbuhkan minat belajar yang pada gilirannya akan membawa
pengaruh yang positif yaitu terjadinya peningkatan hasil belajar
yang baik serta penguasaan konsep dan keterampilan yang
lainnya. Potensi siswa dapat lebih ditumbuhkembangkan agar
menjadi baik.
c. Sebagai tambahan ilmu mengenai metode dalam pendidikan,
sehingga mereka mengetahui bahwa dalam pendidikan mereka
bukan hanya dijadikan sebagai obyek, melainkan perlu juga
dijadikan sebagai subyek dan mereka mampu mengungkapkan
pendapat dan tentu saja memperbaiki hasil belajar siswa.
2. Manfaat bagi guru
a. Mendapat pengalaman langsung melakukan penelitian tindakan
kelas (PTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan
mengembangkan profesi guru.
b. Sebagai alat tolak ukur bagi metode yang telah disampaikan oleh
guru dalam kegiatan belajar mengajar dikelas, sehingga guru dapat
menggunakan metode yang lebih baik dalam kegiatan belajar
mengajar. guna mencapai berbagai tujuan yang diinginkan.
c. Mengetahui strategi pembelajaran yang bervariasi yang dapat
memperbaiki dan meningkatkan sistem pembelajaran di kelas,
sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan untuk
mengatasi rasa kebosanan siswa dalam belajar matematika.
3. Bagi Sekolah
Sebagai penambah sumber keilmuan yang baru bagi sekolah,
sehingga sekolah tersebut lebih sering menggunakan metode problem
solving sebagai upaya memperbaiki metode pembelajaran.