0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan41 halaman

Axel dan Xandrian: Kisah Jodoh Mafia

Diunggah oleh

waritsaviky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan41 halaman

Axel dan Xandrian: Kisah Jodoh Mafia

Diunggah oleh

waritsaviky
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SIDE STORY

Axel pov.
Nama gue Axel, Axelvano Aelin Ananta, sementara ini gue jadi tangan
kanan ketua mafia keluarga Ananta, ya jadi gue tangan kanan bapak gue
sendiri, beda dari adek-adek gue yang kelihatan vibesnya, gue? gue kaya
badboy biasa, gue gak terlalu merhatiin fasion kaya Arsen, gue gak
mikirin pangkat kaya Garren, apa yang udah gue dapatin gue pertahanin
dan yap, gue bukan sekedar back story dari cerita adek-adek gue, gue
adalah tokoh utama di cerita gue.
Sesayang itu gue sama keluarga, gue bantu semua adek gue buat sampai
tujuan mereka, bahkan gue yang tega ngusulin kesembuhan Daren yang
berakibat numbalin adek sendiri, dan itu demi Azey, gue rela maju sendiri
buat acara perjodohan Arsen, gue yang dengan ke brengsekan nyulik Cleo
buat Garren, demi siapa demi adek gue, gue yang rela anter jemput si
cantik Talla, bahkan jadi guru kursusnya Elias semua demi mereka, dan
gue dapet apa? Hikmahnya doang, tapi gue gak peduli, karena semua
demi kebahagiaan mereka.
Gue manusia yang canggung jika di hadapkan dengan pasangan, tapi
bukan berarti gue gak punya ya, mungkin di mata orang lain gue itu
jomblo abadi, tapi nyatanya di mata orang tua gue, gue adalah seorang
pria dewasa dengan ratunya, gue punya pasangan? Ya gue punya walau
awalnya inisiatif dari pejodohan, tenang ini bukan kisah sesederhana
Arsen, atau serumit Garren, dan serusak Azey, ini cerita menyenangkan
yang hanya menjadi salingan saja, seorang anak bungsu dari mafia yang
jatuh hati pada pecundang kaya gue, perkenalkan namanya Xandrian
Zelkova Morigan, seorang anak mafia berhati dingin, sangat dingin beda
sama gue yang punya banyak alter ego, dia jelas Cuma punya dua sifat,
hangat pada semua orang kecuali gue. dan baik ke semua orang kecuali
ke gue.
Susah? Ya susah banget menyesuaikan diri, di keluarga gue, gue bisa
ngelakuin apapun semau gue, tapi gak di keluarga Morigan, awalnya gue
kira ini perjodohan bisnis, tapi waktu gue sadar, Papi dan om Azrael
jodohin kita karena kecocokan yang sama. Gue anak baik-baik tadinya,
setelah ketemu dia? Oh No. gue jadi cowok bangsat, dan bangsatnya lagi!
Papi sama om Azrael sering banget ngompr-ngomporin gue buat nyentuh
dia, dan! Rasain noh kalian punya cucu sebelum gue nikah! Gue Alpha
dominan biasa yang bisa khilaf kalau di adepin omega seksi dengan paras
rupawan kaya Xandrian, gue gak boong ya, wajah dia turun dari mama
dan tante-tantenya yang cantik, om Azrael emang Cuma dapet
hikmahnya doang.
Dan apa kesulitan gue? dua abangnya cok! Yang posessif sama adeknya1
bikin gue terpaksa kerja di tiga kubu sekaligus, kubu apa? Tentu aja
Morigan, Xavian dan Ananta, Fuck kata gue mah! Intinya dari intro kalian
udah tahu kan buat siapa cerita ini di buat?
Axel.
Axel yang hari-harinya hanya sibuk karena adiknya, sekarang ia harus
berhadapan dengan kolega bisnis sang ayah, tuan Azrael ketua mafia
Morigan, dengan istri dan salah satu anaknya, Axel merasa sangat malu
sekarang kalau saja sang ayah mengatakan apa adanya jika mereka harus
singgah di kediaman Morigan maka ia akan menggunakan pakaian yang
lebih pantas dan lagi tidak biasanya maminya akan ikut dalam acara
seperti ini, sangat langka.
“jadi ini Axelvano? Sulung keluarga Ananta?”. Tanya Kallia dengan senyum
ramahnya, Axel tersenyum menunduk sopan.
“panggil Abang aja biar tambah akrap”. Ucap Reagan, Kallia mengangguk
tersenyum.
“jadi ini pertama kalinya kita ketemu ya Bang?”. Tanya Kallia, Axel
tersenyum mengangguk.
“jadi gini Bang, papi sama om Azrael sepakat buat jodohin kamu sama
anak bungsu mereka Xandrian, dan karena tante Kallia pengen liat kamu
jadi Papi bawa kamu kesini sama Mami”. Kata Ahdzan dengan santainya,
Axel setengah kaget selebihnya diam.
“mami juga penasaran sama Xandrian sebenarnya”. Kata Reagan dengan
senyum manisnya, Axel melirik Kallia dan Reagan bergantian kemudian
Ahdzan dan Azrael bergantian, meminta penjelasan dan nyatanya mereka
hanya diam.
“intinya papa jodohi kamu sama Abang jadi buat dia suka sama kamu ok
cantik”. Kata Azrael pada akhirnya mengusap kepala pemuda di
sampingnya. Axel sedikit ngeri melihat omega satu ini, tatapannya pada
Axel sungguh mematikan.
“dia omega Pi?”. Bisik Axel, Ahdzan tersenyum melirik Azrael.
“mau di coba dulu gak bang?”. Tanya Azrael.
“hehh”. Ucap Reagan dan Kallia bersamaan, bahkan Xandrian juga kaget
di buatnya.
“om ini anak sendiri lho, masa nawarinnya kaya nawarin barang si, mana
bisa di coba-coba”. Kata Axel menatap Azrael, Azrael terkekeh kemudian
mengangguk.
“lah nyatanya papi kamu sama om udah nandatanganin surat perjodohan
ini jadi gak bisa di batalin gitu aja”. Kata Azrael, Axel dan Xandrian
langsung menengok.
“loh, kok gak bilang-bilang si, Mam kok Abang kaya lagi di bohongin
gini?”. Tanya Axel, Reagan tersenyum mengusap rambut anak sulungnya.
“sabar ya bang, Papi emang gitu kok”. Kata Reagan, Axel menengok ke
Kallia berharap omega itu bisa membantunya, Kallia tersenyum.
“Xandrian cantik lho bang”. Ucapnya, Axel menunduk menghela nafasnya,
jadi memang tidak bisa di batalkan ternyata.
Axel.
Xandrian menatap Axel dengan tatapan dinginya.
“bang, kita lagi mencoba akrab, tapi Abang malah main HP terus”. Kata
Xandrian menatap ketus Axel, Axel tersenyum meletakkan ponselnya.
“maaf ya, adek abang banyak mana berisik semua”. Kata Axel, Xandrian
merotasi bola matanya pelan kemudian mengangkat bahunya.
“bukannya Abang dua bersaudara doang ya”. Kata Xandrian, Axel
mengangguk pelan.
“secara biologis emang Cuma dua tapi secara marga jadinya enam
bersaudara, tiga Alpha dan tiga omega”. Kata Axel menjelaskan. Xandrian
mengangguk.
“abang sayang banget ya sama mereka?”. Tanyanya, Axel mengangguk.
“pokoknya setelah Mami itu keluarga”. Kata Axel Xandrian mengangguk
pelan kemudian menunduk pelan.
“makanya, abang pengen kamu cepet jadi keluarga abang biar bisa terus
bahagiain kamu”. Kata Axel meminum tehnya, Xandrian menengok
kemudian menunduk malu, pipinya terlihat memerah membuat Axel
gemas, Axel mengambil ponselnya, membuat Xandrian penasaran, Axel
yang peka langsung meletakkan ponselnya, Xandrian mengerutkan
dahinya.
“abang gak mau ngerahasiain apapun sama kamu”. Jelasnya, Xandrian
mengangguk melihat isi percakapan Axel.
Azey
Abang (-_-) adek baru di gempur Mas Daren
capek banget, sakit 🥺.
Bunuh aja Daren
mau obatin Abang atau Daren?
Abang di mana? 🥺
Abang lagi ikut Papi sma Mami
Kok adek gak di ajak? 😠
Tanya Mami dong, kan abang cmn di ajak.
kan adek lagi sama Daren.
Yah, kan malah sekongkol
Katanya capek, katanya sakit
kok masih marahin abang?
ke rumah kakak sana dek, main sama Ezio.
Gak mau, kakak pasti lagi enak”
nanti adek jadi nyamuk.
Ya udah, duet gih sama kakak
ajakin mas sama mba Denial juga.
“typingnya jorok banget sih, bang”. Tanya Xandrian, Axel menengok
kemudian tersenyum.
“abang mah blak-blakan aja, toh Azey gak protes”. Ucap Axel dengan
senyumnya.
“itu kemeja putih rambut blonde adek abang?”. Tanya Xandrian melihat
foto yang Azey kirimkan, Axel menggeleng pelan.
“bukan dia calon suaminya Azey namanya Daren, sementara ini sih, dia
teman kecil abang”. Ucap Axel dengan senyumnya, Xandrian
menganggukkan kepalanya.
“kok abang biasa aja sih waktu adek abang di gituin? Malah nyuruh duet
sama sepupu abang”. Tanya Xandrian, Axel tersenyum.
“ya mau gimana lagi, marahin Daren gak mungkin orang sekarang ngeluh
capek nanti udah ngadu bucin sama Daren lagi, toh kalau Azey gak mau
kan di pasti nolak di awal”. Kata Axel dengan santainya.
“kok kak Alastor sama kak Emiris enggak ya, bakal marah marah kalau
aku deket alpha selain mereka sama papa”. Kata Xandrian, Axel
tersenyum.
Alastor Caius Morigan dan Emiris Nevan Morigan, dua kakak Xandrian
yang bucin dan posessif banget sama adiknya, katanya Xandrian itu
copyannya Kallia jadi memang harus di jaga sebaik mungkin.
“cara setiap kakak beda-beda, itu artinya mereka sayang banget sama
kamu, iya kan?”. Tanya Axel menengok ke belakan Xandrian, Xandrian
menengok pelan, padahal hanya semak-semak di belakangnya, tunggu
dulu.
“kenapa tahu kita di sini sih?”. kata Alastor keluar dari persembunyiannya,
dan di ikuti oleh Emiris, Xandrian sedikit terkejut.
“kalau lo sentuh Xandrian, mati lo”. kata Emiris menatap tajam Axel, Axel
tersenyum.
“padahal tante Kallia aja bilang gak papa”. Ucapnya, membuat kedua itu
membuang muka sedikit tidak terima, Axel terkekeh pelan.
“yap, gue akan buat kalian percaya kalau gue pantas buat dapetin
Xandrian”. Ucap Axel lagi, keduanya merotasi bola matanya. Xandrian
menunduk.
“padahal abang tuh gak suka sama aku kan? Dan Cuma kepaksa doang
nerima”. Kata Xandrian, Axel tersenyum.
“gak suka bukan berarti di telantarkan bukan? Bagai manapun hasilnya
kita gak ada yang tahu, Abang Cuma mau mertahanin apa yang udah
abang dapat termasuk kamu, kan tugas kamu yang buat abang jatuh
cinta, tugas abang kan bertahan, selain bertahan sama kamu, ya
mempertahankan hubungan kita ini”. Kata Axel dengan yakin dan matap.
Axel.
Axel menghela nafas pelan, Azrael yang melihat ke khawatiran calon
menantunya itu langsung tersenyum miring kemudian melirik Ahdzan,
Ahdzan yang berpikiran sama dengan calon besannya itu langsung
mengangguk.
“kaya bosen baget kamu bang? Gak nyusul adek aja ke kamar?”. Tanya
Azrael, Axel menengok pelan kemudian mengangkat alisnya.
“om apaan sih, Xandrian kan baru pulang ya biarin dia istirahatlah, nanti
bisa marah kalau Abang gangguin”. Kata Axel jujur, Azrael terkekeh pelan.
“gak butuh ngecas kamu bang?”. Tanyanya, Axel yang mendengarnya
langsung menengok pelan agak gak waras mertuanya itu.
“malu kamu bang? Pergi sana udah di izinin sama papanya”. Kata Ahdzan
ikut mengompori, Axel melirik papanya.
“papi tuh! Bukanya harus seneng anaknya beda sendiri”. Kata Axel,
Ahdzan dan Azrael terkekeh pelan.
“justru khawatir kalau kamu beda sendiri”. Ucap mereka bersamaan.
“udah sana, papi mau pulang, jagain adek ya”. Kata Ahdzan dengan
santainya, sedikit kaget tapi itulah mereka, Axel melirik Azrael dan pria itu
mengangguk mengizinkan, Axel menghela nafas berat berjalan ke arah
kamar calon istrinya itu.
“Abang boleh masuk gak dek?”. Tanya Axel di depan pintu kamar Xadrian,
pintu terbuka menampakkan pemuda itu dengan tubuh balutan bathrobe
itu.
“masuk tinggal masuk aja kenapa repot sih”. ucap pemuda itu, Axel
mengangkat bahu berjalan masuk, Xandrian langsung mengunci pintu dan
Axel duduk di sofa yang ada di kamar pemuda itu, Xandrian ingat
perlakuan Azrael dan Ahdzan yang bilang tidak apa-apa jika ia berbuat
nakal pada kekasihnya itu karena Axel memang lemah iman, pemuda itu
tersenyum membuka tali bathrobnya, Axel menatap Xandrian dengan
mata yang tidak bisa berkedip, apaan coba maksud pemuda itu melepas
bathrobnya tepat di depan Axel, Xandrian yang merasakan tatapan Axel
langsung menengok.
“apa Bang? Mau sentuh tubuh aku gak? Butuh ngecas kan?”. Tanya
Xandrian justru menggoda Axel, Axel frustasi sekarang.
“kamu tuh! Abang lagi nahan diri malah di godain”. Kata Axel
memalingkan wajahnya yang sudah memerah.
“kalau mau ngomong aja gih bang, kenapa malu-malu si?”. kata Xandrian
mendekati Axel, Axel membuang wajah panik.
“Abang tuh Alpha normal yang bakal ke goda kalau di binalin gini dek,
jangan di godain mulu dong”. Kata Axel, Xandrian tersenyum justru duduk
di pangkuan Axel menarik dasi Axel.
“emang abang gak mau ngecas nih?”. Tanyanya, Axel membuang muka
pelan menutup mulutnya tidak bisa berkomentar, bahkan saat pemuda di
pangkuannya ini membuka kancing kemejanya dengan binal Axel hanya
bisa diam menahannya.
“abang gak tertarik nih sama omega nakal?”. Tanya Xandrian mengelus
dada bidang kekasihnya, refleks Axel merangkul pinggang Xandrian.
“adek ah, jangan gini dong, emang udah siap mau di tusuk?”. Kata Axel,
Xandrian tersenyum jahil menyandarkan tubuh telanjangnya di dada
bidang Axel menyentuh langsung kulit halus Axel membuat Axel semakin
memerah.
“kalau sama abang kenapa enggak?”. Tanya Xandrian, Axel berdecak
pelan mendengarnya ia terus membuang muka saat kulit halus Xandrian
menyentuh dadanya, tangannya yang halus mencoba merangsangnya.
“adek, abang pulang aja ya”. Kata Axel memegang tangan lentik
Xandrian, pemuda itu manyun masih menyandarkan tubuhnya.
“padahal abang udah keras banget lho”. Kata Xandrian, Axel menatap
pemuda itu tidak percaya, Axel semakin merangkul pinggang mulus
Xandrian.
“abang gak suka nih di manjain? Jarang lho adek manjain Abang”. Kata
Xandrian. Axel memeluk Xandrian pelan membuat Xandrian bingung.
“abang gak tahu harus ngapain kalau adek kaya gini, abang pengen
banget nyentuh adek tapi abang takut ngecewain adek suatu saat nanti”.
Kata Axel, Xandrian tersenyum.
“adek siap kok, kalau itu abang, adek gak keberatan kalau itu abang,
walau mungkin besok adek bakal marah-marah”. Kata Xandrian, Axel
menghela nafas berat melepas pelukannya, Xandrian tersenyum manis
dan sungguh Axel tidak tahan melihatnya, Xandrian menarik tangan Axel
membawanya ke ranjang Axel melebarkan matanya ‘serusan?’ batinnya,
Axel duduk di tepi ranjang sementara Xandrian duduk di pangkuannya
menghadap ke arahnya, Axel mencoba mengalihkan pandangannya tapi
tetap gagal fokus karena pandangan indah di depannya, pria itu menelan
ludahnya kasar membuat Xandrian tersenyum melihatnya, Xandrian
mencium bibir Axel pelan, Axel menutup matanya menggenggam rambut
Xandrian pelan menjaganya, sedang pemuda itu mengalungkan
tangannya di leher Axel, Axel memperdalam ciumannya mengaitkan
lidahnya dengan lidah Xandrian, memutar wajahnya mencoba mencari
tempat yang nyaman, setelah cukup ia menyudahinya membuat Xandrian
bernafas lega, Axel tersenyum miring merebahkan tubuh Xandrian degan
pelan, menunduk menciumi leher pemuda di bawahnya, Xandrian
menutup bibirnya, pipinya memerah, apalagi bibir lembut Axel yang
bergerak di lehernya, menciuminya bahkan membuat bekasnya.
“abanghh, hahh”. Panggilnya pelan menggenggam kemeja Axel dengan
pelan, Axel bangkit dengan pelan menyugar rambutnya nafasnya tak
beraturan sekarang.
“yakin udah siap? Wajahnya kaya khawatir tuh”. Godanya, Xandrian
memerah memalingkan wajahnya tidak ingin berkomentar, Azel kembali
menunduk menjelajahi tubuh Xandrian menggunakan bibirnya, membuat
Xandrian melenguh pelan. Tangannya meremas seprei saat Axel berhenti
di pusat dadanya menghisapnya, menggigitnya, dan memainkannya.
“abanghh enghh hahh”. Desahnya lembut, Axel bangkit dengan pelan,
tersenyum puas, memandang tubuh dan ekspresi indah dari calon istrinya
itu, tangannya bergerak mengangkat salah satu kaki Xandrian
menciuminya sampai pangkal paha, Xandrian menutup mulutnya pelan
kemudian.
“abanghh ahh”. Desahnya menatap perlakuan Axel, Axel tersenyum
melepas kemeja juga celananya, Xandrian melihat pemandangan indah di
depannya, tubuh indah yang Axel miliki, ia tidak menyangka dengan
wajah menggemaskan pria itu, Axel memiliki badan yang sangat indah
dengan urat-uratnya yang menonjol, namun lama ia melihatnya ia
semakin takut dengan perlakuan Axel, Axel menjilat pahanya sensual.
“abang”. Panggilnya lembut, ia merinding dan pipinya memerah
“abang masuk ya”. Izinnya, Xandrian mengangguk pelan, Axel tersenyum
membuka kaki pemuda itu lebih lebar memosisikan miliknya di depan anal
sang omega yang berkedut minta di jelajahi itu.
“abanghhh sakithh”. Keluhnya saat Axel mulai memasukkan miliknya
dengan pelan, tangannya menggenggam seprei dengan erat.
“maaf sayang”. Ucapnya kembali menarik miliknya, membuat Xandrian
sedikit kecewa dengan Alphanya.
“abang gak tega liat kamu kesakitan”. Ucap Axel menjelaskan, Xandrian
menggenggam lengan Axel kemudian menggelengkan kepalanya
meyakinkan kalu ia tidak apa-apa, Axel mengangguk pelan kembali di
posisi awal, kali ini tangan Xandrian di lengannya.
“abanghh”. Panggilnya dengan ringisan saat Axel kembali memasukkan
miliknya, kali ini ia tidak mendengarkan Xandrian, dan malah langsung
menyentaknya langsung, Xandrian yang kaget langsung menciut dan
merinding.
“enghh” desahnya lembut, Axel tersenyum.
“abang gerak ya sayang”. Tanya Axel, Xandrian mengangguk pelan
memegang pundak Axel dengan erat, Axel tersenyum merasakan miliknya
yang di sedot kuat oleh lubang kekasihnya, Xandrian memejamkan
matanya kala Axel memainkan miliknya di lubangnya.
“enghh.. abang..akhh.. be Gentle plishhh”. desahnya meminta, Axel
tersenyum memperlambat temponya namun menusuknya semakin
dalam, Xandrian menjerit nikmat saat sesuatu di dalamnya tersentuh
milik Axel, Axel tersenyum.
“di sana baby?”. Tanya Axel, Xandrian mengangguk lengkuhan nikmat
terdengar di bibirnya dan Axel menyukainya, ia mempercepat temponya
Xandrian melenguh.
“abang.. adek mau... nghh”. Ucapnya melirik ke bawah, Axel mengangguk
mengizinkan, Xandrian mengeluarkan muatannya, ia meraup oksigen
dengan rakus, ia kembali melenguh saat Axel kembali menggenjotnya,
panik ia panik sekarang.
“akhh hahh..hhahhhkh”
“Daddy.. slowly please hah ahh”
“hahh akhhh emphhh abang.. gak kuath hhahh”. Racaunya, Axel
tersenyum tidak mendengar keluhan kekasihnya.
“sebentar sayang, abang hampir sampai”. Kata Axel tetap
mempertahankan temponya bahkan mempercepatnya, Xandrian
memegang lengan Axel dengan erat, air matanya mengalir karena sakit,
pipinya memerah, dan salifanya meleber sampai dagunya, Axel
memandang kekasihnya dengan keringat yang mengalir dengan pelan
dari pelipisnya.
“akh..anghh khha.. Deddy hhh.. slowly plishh akhh”
“abanghhh akhkk banngghhh”. Pinta sang omega penuh harap, Axel
meringis.
“shhh sebentar sayanghh”. Ucapnya menatap wajah Xandrian, menarik
pinggulnya, salah satu tangannya menggenggam jemari pemuda itu,
Xandrian menggenggam jemari Axel dengan erat, menggigit bibirnya.
“abanghh ... adek.. ghak kuathh”. Keluhnya, Axel menggigit bibirnya
menyentak Xandrian sekali namun pemuda itu langsung membusungkan
dadanya merasakan hal di luar ekspetasinya, Axel menyemburkan
spermanya tepat di rahim kekasihnya.
“akhhh/ shhh”. Desah keduanya bersamaan, punggung Xander kembali
menyentuh ranyang, tangannya bergetar saat memegang pundak Axel.
“adek capek”. Ucapnya, Axel tersenyum miring, memangku pemuda itu
hadap depan tanpa melepas miliknya, membuat Xandrian merasakan
sangat penuh di bawahnya.
“akhhh .. abanghh ..hahhh”. desah Xandrian saat Axel mengocok
miliknya, Xandrian mencoba menyingkirkan tangan Axel, namun
tenaganya tidak mampu melawannya.
“unghh bang.. udah enghh”. Desahnya. Axel jahil memainkan dada
Xandrian sambil mengocok milik Xandrian membuat pemuda itu tidak
sanggup merasakan rangsangan dua arah itu, di tambah Axel yang
menciumi tengkuknya.
“abanghh.. jangan gini.. akh..emphh adek capek banghhh”
“udah plis... akhh enghhh abanghh”. Paniknya, bingung apa yang harus ia
lakukan, ia merasa tidak sanggup menerima rangsangan Axel.
“shh bentar sayang.. abang masih ngecas”. Ucap Axel tanpa dosa.
“adek keluar... bang mau ... keluar, udah plis enghh”. Ucapnya merasakan
miliknya yang semakin mengembung dengan cairan bening yang ingin
bocor dari sana.
“abanghhh enghhh”. Desahnya kala miliknya benar-benar bocor dan
mengeluarkan cairan bening itu yang keluar tak tentu arah karena Axel
terus mengocoknya, setelah selesai Xandrian menyandarkan punggung
telanjangnya di dada sang Alpha, nafasnya tidak beraturan.
“udah plis”. Pintanya lemah, Axel tahu kekasihnya benar-benar lelah
sekarang.
“sekali lagi ya, sekali lagi”. Ucap Axel merebahkan tubuh ramping
Xandrian di ranjang tanpa melepas miliknya, tanpa memperhatikan
jawaban kekasihnya Axel langsung melahap bibir Xandrian sambil
menggerakkan miliknya, Xandrian yang masih bergetar langsung
menggenggam punggung Axel erat.
“akkhh ... daddy hahh, slowly pliss ... don’t do this”. Pintanya dengan air
mata yang mengalir dengan deras.
“Daddy ... ahh ... akhhhh.. enghhh”.
“emhhphh .. Daddy hhahh .. akh ... Daddy”.
“stop pliss, akh ... hahh”. Seakan tuli Axel tidak mendengarkan Xandrian
dan tetap melakukan aktifitasnya
“Daddy”. Ucapnya sambil memeluk Axel dengan tubuh bergetar, Axel
tetap menyodok Xandrian tanpa mengurangi temponya bahkan
menambah kecepatannya.
“sshh, yes baby ... ahh”. Ucap Axel merasakan miliknya yang terasa di
genggam di bawah sana, ternyata benar-benar tidak buruk bercinta
dengan Xandrian, sekarang ia tahu kelemahan kekasihnya.
“akhh.. Deddy”. Panggil Xandrian saat untuk kedua kalinya Axel
mengeluarkan muatannya di dalam rahimnya, Axel meraup oksigen
dengan rakusnya, melepas miliknya pelan, menatap bawah Xandrian,
cairan yang ia keluarkan terlalu banyak sampai mengalir dari anal sang
omega dan di barengi dengan noda merah karena anal sang omega yang
lecet di buatnya.
“udah pliss, adek capek, sakit, adek gak kuat”. Kata Xandrian meraih dada
sang Alpha dengan bergetar, Axel tersenyum, menggenggam tangan itu
mencium punggung tangannya.
“iya udah, maaf abang kasar”. Kata Axel mencium jidat Xandrian dengan
lembut, pria itu berbaring di samping kekasihnya dengan pelan
merangkulnya, memberikan pelukan hangat untuknya, Xandrian sedikit
kaget dengan perlakuan Axel kemudian menatap wajah tampan
kekasihnya itu.
“i love you, please marry me, baby”. Kata Axel saat merasa di tatap
Xandrian begitu lama, Xandrian yang merasa itu terlalu mendadak,
wajahnya langsung memerah kemudian mengangguk dan
menenggelamkan wajahnya di dada bidan Axel, Axel tersenyum
mengusap punggung Xandrian dengan lembut.
Axel.
Pria itu berjalan pelan masuk ke dalam apartemen Garren dengan
membawa berbagai belanjaan ia kemudian melihat sekeliling.
“Ren!”. Panggilnya, tidak ada sahutan, jam segini pria itu pasti ada di
kantor Dicky, atau mungkin sedang bersama Arsen, walau sama-sama
bekerja Axel khawatir kalau Cleo di campakkan lagi.
dan benar saja saat Axel masuk ke kamarnya terlihat Cleo yang berbaring
lemah hanya kemeja besar milik Garren yang menutupi tubuh mungilnya,
bando kelinci terpasang di kepalanya serta kalung anjing di lehernya,
sextoy berserakan di mana-mana, Axel berdecak merasakan kemanusiaan
adiknya yang sudah hilang, ia langsung menghubungi adiknya itu.
“mas, di mana sekarang?”. Garren yang menerima panggilan langsung
panik karena kakaknya itu langsung menggunakan julukannya dengan
nada datar.
“di.. di luar bang”. Ucapnya jujur.
“balik sekarang atau Cleo abang bawa pulang”. Ucap Axel tegas.
“i iya bang, ini gue mau balik”. Kata Garren terdengar pria itu langsung
berlarian panik.
“sepuluh menit”. Ucap Axel memberi waktu, langsung mematikan
panggilan secara sepihak, ia duduk sofa ruang tamu, dan kurang dari
sepuluh menit Garren sudah sampai, melihat tatapan Axel yang menusuk
pria itu langsung ciut.
“udah berapa kali gue ngomong, kalau punya simpanan di jaga, di juga
manusia bangsat”. Ucao Axel, Garren menunduk kemudian
menggenggam tangannya.
“jangan sok sedih kalau gak ada perubahannya”. Ucap Axel, Garren
semakin menunduk.
“habis dari mana lo?”. tanya Axel lagi, Garren menengok singkat.
“sama Danial”. Ucapnya jujur, Axel menghela nafas memang keterlaluan
pria ini, Axel menunjuk belanjaan yang ia bawa.
“masak sekarang kasih makan Cleo”. Kata Axel, Garren mengangguk
cepat berjalan ke dapur, Axel menyusulnya dengan pelan membantu
Garren yang terlihat panik.
“jadi sebenarnya lo apa gue sih yang di ancam? Jangan sampai gue liat
Cleo kaya gini lagi! Seenggaknya waktu gue sampai ada yang nyapa,
‘abang tumben datang’ atau ‘abang mau makan apa’ atau lagi ‘abang,
kemari Cleo di ajak ke rumah, di kenalin sama papa Dicky”. Kata Axel
membantu Garren dengan cekatan, Garren menunduk memegang pisau
dengan gemetaran, ia tidak pernah merasa setakut ini pada kaka
sepupunya ini.
“maaf”. Ucap Garren menunduk air matanya mengalir, Axel meliriknya ia
tidak pernah melihat adiknya selemah ini.
“abang ambil semua mainan kamu, jangan coba-coba jadiin Cleo mainan
lagi”. Kata Axel, Garren mengangguk.
“denger gak?”. Tanya Axel, Garren mengangguk pelan, setelah makanan
selesai Garren membawanya ke kamar, Axel masih menunggu di ruang
keluarga sampai ada pesan dari Arsen.
Bang tolongin.
gue panik sekarang.
Gue lagi sama Garren, kenapa?
Ini (send a picture)
Whoi babi! Lo ngapain anjir!
Cuma gue tiduri kok bang
Mata lo, Cuma! Benerinnya gimana?
Gak tahu makanya gue minta tolong.
Minta tolong Daren sana, gue lgi sama Garren.
Bang!!
Apa kak, abang lgi sama mas.
Nanti kalau udah abang ke tempat kakak
Gak jadi, thanks.
“udah?”. Tanya Axel saat Garren kembali membawa kotak besar, Garren
mengangguk.
“boleh telfon dokter gak bang? Keknya Cle sakit deh, dia gak mau makan,
katanya mual”. Kata Garren, Axel mengangguk menelfon dokter
kepercayaannya.
Axel ada di apartemen Garren sampai malam, setelah dokter pergi Axel
menatap Garren dengan garangnya, pria itu menunduk dalam-dalam tahu
ia akan habis di tangan abangnya.
“lo ngerti batesan gak mas? Abang bela-belain nyembunyiin kelakuan lo,
abang bela-belain pulang pergi ke sana kemari buat kalian, bukannya lo
ngeringanin pekerjaan abang lo malah tambah beban abang! Sekarang
gimana coba”. Kata Axel garang Garren menunduk pelan, Axel menghela
nafas mengendalikan emosinya.
“maaf”. Ucapnya penuh penyesalan.
“simpen maaf lo ke Cleo, sekarang gimana ngomong ke papa? Gimana
ngomong ke mama? Gimana ngomongnya ke ayahnya Cleo kalau lo
hamilin anak dia, gimana lo jelasin ke Danial?”. Tanya Axel, Garren
menunduk.,
Axel
Arsen membuka pintu dengan pelan tahu siapa yang datang dan benar
saja dugaannya itu Axel, Axel yang matanya sudah merah karena marah,
Arsen masuk dengan pelan.
“Ezio sini, abang mau ngomong”. Kata Axel justru memanggil omega
menggemaskan itu, Ezio duduk di dekat Axel.
“maafin kelakuan Arsen ya, kamu boleh ngomong sama tante Kanaya kok,
panggil ke pengadilan aja sekalian abang udah gak butuh adek kata Arsen
sama Garren kok”. Kata Axel lembut tapi mampu menusuk hati Arsen,
Arsen mendekat namun Axel mengkode untuk tetap di tempatnya.
“jadi gini, abang mau serius kak, kalian udah gak bisa keluar dari masalah
ini, cepat lambat, Ayah bakal tahu, gak mungkin kakak gak di hakimi
sama Ayah, dan abang gak jamin bakal nolongin kamu, ini masalah kamu,
ingat! Masalah kamu bukan kalian!”. Kata Axel, Arsen menunduk paham
kalau Abangnya benar-benar sedang lelah.
“abang, maaf”. Kata Arsen, Axel menghela nafas ternyata sama saja.
“simpan maaf lo buat Ezio, abang gak butuh kata-kata doang soalnya”.
Ucapnya, Arsen semakin menunduk merasa bersalah.
“jangan ngerasa bersalah sekarang, kenapa gak dari kemarin
ngomongnya ha! Abang jadi gak ngelampiasin emosi abang ke kakak!”.
Kata Axel, Arsen menunduk.
“maaf ngerepotin abang terus maaf malah jadi beban abang, maaf gak
guna ajdi adek, kakak emang salah, semua ini kemauan kakak, gak ada
sangkut pautnya sama abang, kakak maaf kalau selalu nyibukin abang
Cuma gara-gara kesenangan kakak doang, sekarangpun saat punya
masalah kakak selalu lari ke abang, kakak minta maaf”. Kata Arsen, Axel
menghela nafas meminta pria itu duduk di depannya, Axel menatap
adiknya.
“mau jadi bapak kok nangis, cengeng”. Kata Axel mengelus rambut coklat
Arsen yang lebat itu, ia menggelengkan kepalanya atas tingkah adiknya
ini.
“udah lah, jangan gini, gue gak jadi pulang nanti”. Kata Axel, Arsen
mengusap air matanya pelan memeluk Ezio.
“jangan bawa balik Ezio ya bang”. Kata Arsen, Axel menggeleng pelan,
setelah memastikan semuanya ia langsung pulang, kali ini ia benar-benar
pulang ke rumahnya, karena di apartemennya ada Azey dan Daren, lebih
tepatnya menjadi tempat Daren menyekap adiknya.
“loh bang kok mukanya lesu gitu?”. Tanya Reagan menatap putra
sulungnya, Axel duduk menyandarkan tubuhnya dengan pelan di sofa
ruang keluarga.
“gak papa, biasa banyak adek banyak masalah”. Kata Axel dengan
santainya, Reagan menggelengkan kepalanya terkekeh pelan.
“loh pulang bang? Padahal papi mau enak-enakkan sama mami”. Kata
Ahdzan menengok putranya, Axel melirik ayahnya sadis.
“lah emang abang peduli? Abang kan Cuma mau pulang ketemu mami”.
Kata Axel merebahkan tubuhnya di sofa, Reagan menghela nafas
tersenyum lembut.
“bangun bang, mandi dulu, mami siapin air hangatnya dulu ya, jangan
dengerin papi”. Kata Reagan, Axel menghela nafas mengikuti ibunya,
melirik Ahdzan sadis, Ahdzan ingin membuang saingan pertamanya itu
sekarang, namun ia tahu anaknya sedang banyak masalah.
“anaknya kenapa sih mam?”. Tanya Ahdzan pada istrinya, Axel sedang
merendam dirinya di bathtub.
“gak tahu, banyak masalah mungkin”. Katanya, Ahdzan mengangguk.
“bang gak di kasih jatah sama Xandrian ya”. Tanya Ahdzan jahil
mengganggu anaknya.
“mam, suaminya nih! Boleh abang jual aja gak?”. Teriak Axel membuat
Reagan terkekeh pelan.
“papi, biarin abang istirahat dulu ah”. kata Reagan menarik Ahdzan keluar
dari kamar anaknya, sedang di kamar mandi Axel merendam dirinya
menikmati hangatnya air yang merendamnya.
kenapa ia harus marah, padahal mereka yang menanggung semuanya,
kenapa Axel marah padahal Axel juga melakukannya, padahal dia lebih
parah.
“ini salah Papi sama Om Azrael pokoknya” monolognya, benarkan, kalau
saja tidak di izinkan Axel tidak akan melakukannya, jika saja kedua
kakaknya tidak mengizinkan Axel tidak akan menyentuh Xandrian.
“bukan salah gue, sumpah bukan salah gue, Xandrian juga gak sampai
hamil, gue ngelakuinnya juga sekali, itu juga Xandrian yang goda duluan,
pokoknya bukan salah gue”. monolognya lagi, ia berdecak memikirkan
Arsen dan Garren, melirik ponselnya, ia tidak ingin mendengar kabar ke
tiga kalinya apalagi dari adik kandungnya.
“tala sama Elias kan omega baik kan ya, mereka gak binal kaya Azey
aman bang jangan pikirin”. Monolognya terus. Ia menghela nafas
pundaknya menurun merendam seluruh badannya di air hangat, ia pasti
hanya capek kan setelah bekerja satu minggu, setelah lembur dua hari,
ya dia butuh istirahat, tiba-tiba saja ia teringat badan mulus Xandrian
yang sangat seksi itu, Axel langsung menggelengkan kepalanya
mengusap rambutnya.
“abang, jangan bangsat-bangsat ok! Kalau gak di izinin jangan kalau gak
di ajak jangan minta, tahan diri, Xandrian masih sekolah, jangan kebelet
nikah, kasian”. Pikirnya pada diri sendiri kemudian memejamkan matanya
menikmati air hangat yang Reagan siapkan.
Axel.
Pria itu merebahkan tubuhnya pelan, bahkan dia masih menggunakan
bathrobenya sehabis berendam, akhirnya bisa santai di rumahnya tanpa
gangguan sang adik lagi, baru saja ia bernafas lega langsung ada
panggilan di ponselnya, ia langsung terduduk begitu melihat siapa
penelfonnya.
“iya Mama, ini Axel”. Kata Axel menjawab panggilan dari calon
mertuanya.
“abang boleh dateng gak? Mama minta bantuannya”. Kata Kallia dengan
lembut, Axel mengerutkan dahinya pelan.
“kalau boleh tahu ada apa ya mama?”. Kata Axel berusaha sopan,
terdengar helaan dari seberang.
“adek panas, terus manggil nama kamu terus”. Kata Kallia, Axel langsung
terduduk.
“kayanya adek lagi heat pertamanya, Mama minta tolong sama kamu
soalnya kamu yang bakal jadi suaminya kan?”. Kata Kallia, Axel langsung
terdiam.
“tapi Mama”. Kata Axel sedikit sungkan heat pertama itu kan.
“Mama udah ngomong sama Papa kok, Alastor sama Emilis juga udah
izinin, Mama minta tolong ya, Mama kasihan sama adek soalnya”. Kaya
Kallia, Axel menghela nafas, harus senang atau sedih? Entahlah.
“sebentar ya Ma, Abang berangkat sekarang”. Kata Axel berdiri dengan
pelan, setelahnya Kallia menutup panggilan, Axel bahkan lupa kalau ia
belum memakai pakaiannya, ia langsung memakai pakaiannya dengan
cepat baru kemudian keluar kamarnya.
“udah malam mau ke mana bang? Besok kerja!” teriak Ahdzan, Axel yang
masih berusaha memakai sepatunya langsung menengok Papinya yang
sedang santai dengan sang istri tercinta.
“biasa Pi ke rumah Xandrian”. Ucapnya, Reagan yang mendengarnya
langsung terkejut.
“heh mau ngapain kalian! Udah malam ini!”. Ucapnya khawatir.
“menyangkut harga diri Alpha Mam, tenang aja abang di suruh Mama
Kallia kok”. Kata Axel sambil keluar rumah secepat kilat, Reagan sedikit
melongo mendengarnya, ternyata sama saja.
“udah dewasa banget manusia itu”. Kata Ahdzan mendengar suara mobil
keluar, Reagan menggelengkan kepalanya pelan.
“anak kamu tuh”. Ucapnya, Ahdzan mengangguk terkekeh pelan, setelah
menempuh perjalanan yang lumayan panjang Axel sampai di kediaman
Morigan, pria itu sudah di sambut oleh Kallia dan Azrael di depan pintu.
“maaf ganggu kamu malam-malam ya”. Kata Kallia, Axel menggelengkan
kepalnya pelan.
“enggak kok Ma”. Ucapnya, Azrael tersenyum pelan.
“seneng tuh orangnya mam”. Kata Azrael Kallia menyenggol suaminya.
“tapi Pa, ini kan”. Kata Axel menunduk.
“kamu udah sepakat buat nikahin adek kan bang? Udah di tentuin kan
tanggalnya”. Kata Azrael tenang-tenang saja dengan pemuda itu, setelah
beberapa percakapan Axel menarik nafas dalam-dalam masuk ke kamar
pemuda manis itu, ia kaget dengan penglihatannya, pemuda itu hanya
mengenakan kemejanya tanpa mengenakan bawahan apa pun.
“A Abang”. Panggilnya menarik selimutnya menunduk malu, Axel
tersenyum mengunci pintu mendekat ke arah pemuda itu.
“mau Abang bantu?”. Tanya Axel, Xandrian menengok kemudian
mengangguk malu, Axel tersenyum pelan melepas jaketnya, Xandrian
mendekat ke arah Axel duduk di pangkuannya dengan pelan.
“panas banget ya?”. Tanya Axel mencium pangkal lehernya, Xandrian
melenguh pelan mengangguk memegang pudak Axel, ia ingin bertanya
bagai mana pria ini tahu tapi ia urungkan. Axel menyusupkan tangannya
di pinggang sang omega dengan pelan.
“abangh”. Panggil Xandrian pelan, Axel tersenyum menatap pemuda itu,
Xandrian mencium bibirnya dengan pelan pipinya memerah tomat, Axel
mengangkat wajahnya dengan pelan menatap Xandrian, pemuda itu
menggenggam baju yang Axel pakai dengan erat, Axel tersenyum
membaringkan pemuda itu dengan pelan di kasurnya, Xandrian menatap
wajah Axel yang semakin terlihat tampan itu.
“Abang”. Panggilnya pelan, Axel menengok kemudian tersenyum.
“kenapa sayang?”. Tanya Axel, Xandrian memegang tangan Axel dengan
pelan, Axel tersenyum mencium punggung tangannya dengan pelan,
Xandrian memegang pipi Axel dengan pelan, ia menatap pria itu dengan
senyumnya seakan sedang mengumpulkan keberaniannya, Axel
tersenyum menggenggam tangan itu.
“Abang gak kasar kok, tenang aja”. Kata Axel, Xandrian mengangguk
pelan membuka kemejanya mempersilakan Axel, Axel tersenyum
menunduk mencium tubuh manis kekasihnya, Axel mencium aroma yang
sangat wangi itu, ia menatap Xandrian yang pipinya semakin merah
karena perlakuannya, Axel terkekeh saat melihat reaksi pemuda itu,
tangannya bergerak dengan lincah di tubuh sang omega.
“abangh”. Panggil Xandrian pelan memegang pundak Axel dengan pelan,
Axel terkekeh pelan menunduk menciumi tubuh kekasihnya dengan pelan,
Xandrian menutup mulutnya dengan pelan menatap perlakuan Axel yang
termat lembut itu seakan Xandrian sangat rapuh Xandrian mendongakkan
kepalanya dan memejamkan matanya, Axel melepas bajunya pelan
kemudian mengangkat sebelah kaki Xandrian menciumnya pelan dan
tertata, ia juga membuat bekasnya di sana, Xandrian merinding ia tahu
sebentar lagi Axel akan melakukannya, Axel tersenyum membalik tubuh
Xandrian menariknya membuat pemuda itu bersimpuh seksi, Xandrian
berhah tidak percaya.
“abang.. akhhh”. Desahnya saat Axel memasukkan miliknya ke anal sang
omega, tangan Xandrian bergetar menahan tubuhnya, Axel
menyangganya dengan pelan, ia mulai menggerakkan miliknya di anal
sang Omega
“Abanghh hahh nghhhh”
“be gentle please”. Desah Xandrian, Axel tersenyum mempercepat
pergerakannya membuat Xandrian melebarkan matanya.
“anghh, abang.. Gantle please”. Pintanya, Axel tersenyum memainkan
niple kekasihnya membuatnya tambah merinding.
“nope, call me Daddy Baby”. Ucapnya, Xandrian menunduk melihat
rangsangan Axel yang behkan membuatnya tidak bisa berbicara.
“nghh Da Daddy.... slowly please, be ... gantle”. Ucapnya, Xandrian
menangis air matanya mengalir.
“but, kamu terlihat menikmatinya sayang”. Ucap Axel tepat di telinga
Xandrian, Xandrian mengangguk sesaat namun langsung menggelengkan
kepalanya merasa sedikit tidak nyaman.
“i can’t do this, adek gak kuath”. Ucapnya, Xandrian menggenggam
spreinya, Axel tersenyum memasukkan dua jarinya ke mulut sang kekasih,
membuat pemuda itu mengeluh, Axel mempercepat tempo gerakkannya
dan mengenai titik manis milik kekasihnya, Xandrian melebarkan matanya
ia menggelengkan kepalnya pelan, ia menangis sambil mendesah seksi,
sementara dua jarinya tangan kanannya memainkan lidah Xandrian,
tangan kirinya tetap memainkan niple kekasihnya, ia juga tidak
melambatkan ritme sodokkannya, Xandrian menggeleng sesegukan,
merasakan miliknya semakin di jepit kuat, ia lebih cepat menggerakkan
miliknya, feromon pemuda itu langsung menyeruak wangi, Axel
tersenyum menggigit tengkuk kekasihnya, Xandrian mendelik dan
miliknya langsung mengeluarkan muatannya dengan deras hanya karena
rangsangan itu, Axel tersenyum pelan tangannya semakin nakal
memainkan niple Xandrian pemuda itu menggeleng pelan, Axel
mengeluarkan tangannya dari mulut Xandrian membuat pemuda itu
langsung menjerit.
“akhh, Deddy!”. Ia menunduk keringatnya mengalir deras bahkan sampai
menetes di sepreinya, Axel tersenyum kedua tangannya terus di gunakan
untuk menjahili tubuh Xandrian.
“Deddy, cukup Deddy, adek, adek gak kuat, akhhh mau keluar lagihh”.
Ucapnya, Axel tersenyum.
“you need my body baby, make you sure all this moment”. Bisik Axel
sensual, Xandrian melenguh lagi, merasakan analnya yang sangat penuh
dengan milik Axel, bahkan sepertinya ada yang ingin keluar darinya.
“apologize me please, i am sorry daddy”. Pintanya, Axel tersenyum
menambah kecepatannya.
“hnggh daddy please”.
“akhh deddy hahh”
“akhh hahhh anghhh”
“Daddy!”. Teriaknya saat Axel menyemburkan miliknya dengan deras di
anal omeganya, Xandrian sampai merinding saat ejakulasi sang Alpha
tidak kunjung selesai, Axel membalikkan tubuh Xandrian pelan membuat
pemuda itu melebarkan kakinya, Axel menunduk menggigit dan
menghisap niple omeganya membuat Xandrian melenguh seksi, tidak bisa
ia jelaskan bagai mana rasanya, tapi ia menyukainya, namun ia langsung
mendelik kaget saat Axel memasukkan miliknya lebih dalam kembali
menggenjotnya.
“unghh.... aahhh”. Desahnya ia merasakan Axel yang semakin ganas di
malam mereka, Xandrian kembali mengeluarkan muatanya deras, Axel
tersenyum pelan menikmati permainannya.
“De deddy, s stoph, daddy akhh aahh Daddy”
“de deddy, please daddy akhh”. Jerit Xandrian panik saat Axel semakin
lihai ia menggeleng tidak siap, entah kenapa miliknya kembali
mengeluarkan muatanya.
“akk Deddy s stop, please”.
“unghh Daddy... anghhh”
“Akhh ... Daddy, Dad Daddyyyhh emphh”. Desahnya yang langsung
terpotong karena Axel melahap bibirnya memberi sentuhan di mulutnya,
lidah Axel menari-nari sampai Xandrian tidak bisa mengimbanginya, ia
menggeleng merasa tidak lagi sanggup, ia bahkan memukul pinggang
Axel.
“mpphh ...enghhh
“nggh hhh”. Kepalanya menggeleng kemudian ia memeluk erat Axel saat
ia kembali mengeluarkan cairannya, Axel memandang Xandrian yang
sangat menggemaskan dan indah, namun ia tidak sampai di situ saya, ia
kembali menggenjot pemuda itu saat dia belum tuntas mengeluarkan
muatannya.
“abanghh, akhhh!!”. Jeritannya, bahkan ranjang Xandrian berderit saking
kuatnya tenaga Axel, pemuda itu juga tersentak-sentak hebat, ia
menggelengkan kepalnya tanda tidak sanggup tapi Axel tidak
memedulikannya, Xandrian membusungkan dadanya saat Axel kembali
sampai ke pelepasannya, sekarang rahim Xandrian benar-benar penuh
bahkan sampai meluap, Axel terengah, sejak tadi ia menahan desahan
dan erangannya, ia menatap Xandrian dengan senyumnya, ia mencabut
miliknya pelan, membuat sang omega bernafas lega, namun ia masih
sedikit takut saat Axel masih membungkuk di atasnya.
“udah nyaman kan?”. Tanya Axel mengusap peluhnya sendiri, Xandrian
diam mengangguk tapi perutnya keram sekarang.
“sakit gak?”. Tanya Axel lagi, Xandrian menggelengkan kepalnya pelan
namun sedetik kemudian ia langsung menangis lagi.
“what’s wrong baby?”. Tanya Axel berbaring di sampingnya membawa
Xandrian langsung ke atas tubuhnya, Xandrian langsung memukul dada
Axel.
“gak sakit, tapi adek takut, Abang kasar”. Ucapnya, Axel tersenyum
membiarkan pemuda itu tenggelam di dadanya, sebenarnya ia tidak ingin
kasar, tapi tenaga Xandrian memang sedang sangat banyak, dia dalam
stamina bagusnya, jadi Axel hanya menghabiskan tenaga pemuda itu
untuk membantunya.
Di pagi harinya, Xandrian bangun dari tidurnya, wajahnya langsung
murung begitu tahu Axel tidak ada di kamarnya, pintu terbuka dan
Xandrian langsung tersenyum begitu melihat ternyata itu Axel, Axel
tersenyum melihat Xandrian yang tetap terlihat cantik walau baru bangun
tidur.
“aku kira abang udah pulang”. Kata Xandrian, Axel tersenyum tangannya
membawa makanan untuk kekasihnya itu.
“mama nyuruh abang mandi sama sarapan dulu sambil nunggu kamu
bangun, jadinya abang minjem baju Alastor dulu barusan”. Kata Axel
duduk di tepi ranjang, Xandrian mengangguk pelan.
“abang bantu ke kamar mandi ya, habis itu sarapan dulu, mama udah
nyiapin buat kamu, mama bilang kamu gak mau makan dari kemarin,
abang gak suka kalau kamu gak makan”. Kata Axel pada pemuda itu,
Xandrian mengangguk bangkit dengan pelan, Axel tersenyum
menggendongnya ke arah kamar mandi walau sebenarnya Xandrian malu
saat di gendong Axel dalam keadaan telanjang.
“mama juga udah nyiapin air hangat soalanya abang gak bisa”. Kata Axel
meletakkan Xandrian di dalam bathtub, Xandrian mengangguk pelan, Axel
memijat pundak Xandrian pelan, Xandrian menengok ke arah prianya.
“abang”. Panggilnya, Axel berhem untuk menjawabnya, Xandrian
memegang pipi Axel dengan pelan.
“terima kasih”. Kata pemuda itu, mencium bibir Axel dengan pelan dan
singkat membuat wajah pria itu langsung memerah, pria itu mengangguk
tersenyum.
Alastor
Alastor membanting Elias dengan keras ke ranjangnya, pemuda itu
menatap Alastor dengan wajah paniknya, ia menggenggam seprei yang
menjadi alas ranjang pria itu.
“your body so sexy, and everybody wanna tasse”. Kata Alastor menatap
Elias ganas, Elias menatap mata itu.
“but i am the one, aku orang pertama yang akan merasakannya”. Ucap
Alastor lagi, Elias menggelengkan kepalanya pelan, ia bergerak mundur
takut, namun Alastor menggenggam kakinya.
“Deddy, jangan gini, Eli takut”. Kata pemuda itu, Alastor tersenyum miring
menunduk di atas pemuda itu, Elias menggelengkan kepalanya.
“semua menginginkanmu sayang, mereka berniat buruk padamu, tapi
akulah orang pertama yang akan melakukannya, kau hanya milikku, tidak
ada yang bisa mendapatkanmu selain aku”. Kata Alastor, Elias
menggelengkan kepalanya pelan.
“aku di dalam rutku, dan kamu di dalam heatmu, dan itu kabar bagus
untukku”. Kata Alastor, Elias menggelengkan kepalanya takut.
“Deddy!”. Teriak Elias saat pria di atasnya menyingkap kaus pemuda itu.
“berikan aku segalanya sayang”. Ucap Alastor tepat di telinga Elias,
pemuda itu menggeleng pelan dan berakibat bibirnya langsung di lahap
Alastor, pemuda itu melebarkan matanya kaget, ia menggenggam kemeja
Alastor dengan erat, tangan Alastor langsung mengerjai tubuhnya, ia
mengusapnya dengan pelan membuat Elias memeluk leher Alastor, ia
bergetar dan Alastor malah memperdalam ciumannya, lidahnya menari di
dalam mulut Elias dengan lincahnya, Elias merasa kehabisan nafas ia
memukul dada Alastor pelan membuat pria itu mengangkat wajahnya,
menatap Elias yang tampak seksi dengan lelehan saliva yang mengalir ke
dagunya.
“Deddy”. Panggilnya pelan, Alastor tersenyum karena tangan Elias masih
merangkul lehernya, pria itu langsung menciumi leher kekasihnya
membuat pemuda itu langsung mendesah dengan manisnya.
“hnghh ah ah Deddy, jangan”. Pintanya, namun langsung di tolak sang
Alpha dengan memberi bekasnya di lehernya, pipi Elias langsung
memerah ia menggenggam punggung Alphanya dengan erat.
“apa yang kita lakukan, apa yang Deddy lakukan”. Ucapnya terbata, ia
menunduk pelan menggenggam rambut Alastor saat tangan pria itu
memainkan pusat dadanya meremas-remasnya, Elias mendesah dengan
seksi.
“Deddy .. Deddy jangan Deddy, udah please udah”. Pintanya Alastor
tersenyum pelan, ia bangkit dengan pelan, Elias mengira mereka sudah
selesai namun pria itu justru merobek kausnya dengan kasar membuat
pemuda itu menggeleng pelan dan Alastor kembali menunduk menciumi
tubuh Elias, Elias menggeleng menggenggam rambut Alastor.
“Deddy ah Deddy udah, udah Deddy, ja jangan gini”. Pintanya dengan
lembut, Alator menggelengkan kepalanya pelan ia menatap pemuda di
bawahnya dengan tatapan tajamnya, Elias menggelengkan kepalanya
tanda tidak sanggup, namun Alastor semakin liar dengan hal itu, ia
melucuti semua yang di pakai kekasihnya, Elias menggelengkan
kepalanya menggenggam lengan Alastor dengan erat, Alastor
mengangkat sebelah kaki Elias menandainya.
“Deddy... udah. Eli gak kuat”. Ucap sang omega, Alastor tersenyum
miring.
“memintalah sesukamu tapi aku tidak akan menghentikan perbuatanku”.
Kata Alastor dengan senyum miringnya.
“Deddy, engh udah Deddy, Eli janji gak nakal, Deddy Eli janji”. Ucapnya
sambil menggenggam seprei yang menjadi alas mereka, Alastor
menggeleng pelan.
“tidak sayang, tidak ini hukumanmu”. Ucapnya menatap Elias, Elias
menggelengkan kepalanya, ia merasa tidak siap dengan apa yang akan
Alastor lakukan padanya.
“Deddy.. jangan”. Pintanya sambil menggelengkan kepalanya, Alastor
justru menyiapkan miliknya tepat di depan anal sang omega, Elias
menggeleng tegang, namun perlahan tapi pasti batangan daging sekeras
batu itu masuk ke dalam analnya.
“Deddy.. sakit, akh... Deddy”
“hiks .., sakith Deddy hh”
“keluarin Deddy, ini sakit nghh”. Ucapya, Alastor mengerutkan dahinya
merasa miliknya yang tersedot milik sang omega, sesak dan hangat.
“rileks sayang, jangan tegang, aku akan membuatmu nyaman”. Kata
Alastor, Elias menggelengkan kepalnya dengan pelan.
“tarik nafas Elias”. Ucap Alastor, Elias menarik nafas pelan menggenggam
seprei dengan erat, Alastor menyentak Elias dalam satu entakkan
membuat omega itu langsung bergidik merinding, air matanya terus
mengalir, bersamaan dengan cairan merah mengalir dari analnya.
“Deddy... angh sakit”. Ucapnya dengan pelan, Alastor berdesir ngilu,
lubang perawan Elias benar sesak, tapi ia merasa puas karena benar
dugaannya kalau pemuda itu masih perawan.
“rileks sayang, tarik nafasmu”. Kata Alastor menuntun Elias, Elias menurut
mencoba tenang, saat merasa omeganya mulai tenang Alastor mulai
menggerakkan miliknya dengan pelan namun Elias langsung merintih
kesakitan begitu analnya bergesekan dengan milik Alastor.
“ini sakit.. Deddy udah”. Ucapnya dengan pelan, Alastor menambah
kecepatannya menyentuh sesuatu di dalam Elias membuat pemuda itu
melenguh pelan, pipinya memerah dengan pelan Elias menggelengkan
kepalnya saat Alastor terus menggagahinya.
“Daddy...hngg”. ucapnya saat merasakan sesuatu di dalamnya tersentuh
Alastor, Pria itu tersenyum miring.
“di sana Baby?”. Tanyanya, dengan polosnya Elias mengangguk membuat
Alastor semakin kejam dalam memainkannya, Elias menahan
lengkuhannya dengan menggigit bibirnya, bahkan sampai bibirnya
berdarah karena menahan lengkuhan dan jeritan kesakitannya secara
bersamaan.
“kenapa di tahan sayang?”. Tanya Alastor, Elias menggelengkan
kepalanya ia merasa harus menahan suaranya, namun ia tetap tidak bisa,
ia kembali melenguh.
“Deddy stop, Eli gak kuat”. Kata Elias dengan pelan Alastor tersenyum
pelan ia menggelengkan kepalanya.
“a, ada yang, mau ke luarngh”. Ucapnya menggenggam seprei dengan
erat, Alastor menganggukkan kepalanya.
“keluarin aja sayang”. Ucapnya, Elias mengatupkan giginya merasa benar-
benar tidak sanggup menahannya. Ia mengeluarkan muatannya yang
langsung mengenai perutnya, Alastor tatap menggerakkan miliknya
menambah rangsangan saat sang kekasih masih mengeluarkan
cairannya, membuat Elias menahan nafasnya menunduk dengan pipi
merahnya, air matanya masih mengalir.
“Deddy hh.. nghhh Daddy... akhh”. Ucapnya saat merasakan Alastor yang
sangat kasar namun mampu mengenai titik manisnya.
“Deddy... ahh nghhh, Alastor Deddyy hhhh”. Panggilnya membuat Alastor
tersenyum miring, ia menunduk menciumi tubuh Elias dengan pelan, Elias
menahan nafasnya.
“hnggh Deddyyy... stop...Eli.. Eli gak kuat”. Ucapnya terbata, Alastor tetap
menciumi Elias dengan pelan bahkan membuat bekasnya dengan
semangat, Elias menggelengkan kepalanya.
“Daddy.. sakit.. ja jangan digigit”.
“ni niple Eli jangan di gigit angghh”
“Deddy ... Eli ma.. mau lagih, mau keluar lagih”. Ucapnya saat Alastoer
menggigit niplenya, pria itu justru mengerjai Elias dengan memainkan
salah satu niplanya sementara yang lain ia hisap dan gigit.
“Deddy! Nghhh”. Teriaknya sambil mengeluarkan muatannya, Alastor
tersenyum pelan bangkit menatap omeganya setelah dia berhasil
mengeluarkan muatannya, nafasnya memburu, keringat dipelipisnya
mengalir dengan pelan.
“Deddy!”. Teriaknya saat Alastor mengangkat tubuhnya membuatnya
terduduk di pangkuan Alastor dengan milik pria itu masih di dalamnya,
membuat analnya semakin penuh dan sesak.
“saatnya menandaimu sayang”. Bisik Alastor, Elias merinding dibuatnya,
matanya kembali mengembun tangan Alastor bergerak dengan pelan
sedang bibirnya menjelajahi lehernya.
“hahh... Daddy, nghh ke keluarin dulu”. Pintanya merasakan feromon
Alastor yang menyeruak dan bercampur dengan feromonnya.
“Deddy masih mau lagi sayang”. Bisiknya menggigit telinga Elias
membuat pemuda itu refleks memeluk sang Alpha.
“Deddy... hnghhh mphhh hahh hahh”. Desahnya saat Alastor terus
mengerjai tubuhnya, tubuhnya bergetar memeluk Alastor, dan Alastor
justru menggunakan kesempatan itu untuk menggigit tengkuk omeganya
menandainya pelan, membuat feromon di ruangan itu menjadi dominan
feromon Alastor, dan justru membuat suhu tubuh Elias semakin panas dan
kepalanya menjadi pusing.
“Deddy, panas..ahhh”. keluhnya, Alastor mengangguk pelan kembali
membaringkan pemuda itu dengan pelan.
“kau harus membuat Deddy nyaman sayang”. Ucap Alastor, Elias berhah
bingung, ia terlanjur merasa pusing dan tidak mendengar jelas perkataan
Alastor, pria itu kembali membuat Elias terguncang di atas ranjangnya,
Elias memeluk leher Alastor saat pria itu mencium bibirnya, Elias menutup
matanya, mengepalkan tangannya saat Alastor menggerakkan miliknya
dengan cepat, Elias tidak sengaja menggigit bibir prianya meluapkan rasa
sakitnya.
“emphh.. Deddy.. pelan.. slowly Deddy”.
“Deddy pelan.. Eli gak kuat”
“hnghh Deddy... maaf.. udah cukup”
“hiks Deddy sa sakit hngg De Deddyy hh”.
“Deddy hngg enghhh please udah”. Ucapnya menggenggam lengan
Alastor namun Alastor tidak mendengarkannya, Elias menutup matanya
merasakan sesak.
“Deddy.. jangan ... hukum Eli lagih.. Eli minta maaf... Deddy udah.... akhhh
Deddy gak kuathhh”. Ucap Elias degan desahannya, Alastor memandang
kekasihnya.
“buka matamu sayang, pandang Deddy”. Ucapnya Elias terpaksa
membuka matanya dan terkejut saat bibir prianya mengalirkan darah,
apakah itu karenanya, ia kembali memejamkan matanya saat Alastor
kembali mengerakkan miliknya.
“pandang Deddy sayang, pandang aku”. Ucap Alastor lembut, Elias
mengerutkan dahinya, tangannya bergetar memegang lengan Alastor.
“sa sakit Deddy”. Ucapnya memandang Alastor, air matanya kembali
mengalir dengan pelan, ia melenguh dengan seksinya, membuat Alastor
semakin tidak tahan.
“Deddy ... engh terlalu..chepath.. angh.. Eli, Eli tidak kuath”. Ucapnya
mencoba terus memandang Alastor, pria itu tersenyum.
“maaf sayang, Deddy belum puas”. Ucapnya pelan, Elias mengerutkan
dahinya memejamkan matanya rapat, menahan rasa sakit dan sesaknya.
“ta tapi, Eli.. udah .. gak kuat”. Ucapnya tertahan, Alastor tersenyum,
mengangkat wajah kekasihnya.
“padang Deddy sayang, jangan tutup matamu”. Ucap Alastor lirih, Elias
mencoba membuka matanya namun rangsangan Alastor membuatnya
kembali menutup matanya.
“hngg Deddy.. Eli, minta maaf... Eli gak akan nakal lagih.. udah ..Eli
mohon”. Ucapnya dengan pelan. Alastor menganggukkan kepalanya.
“sebentar sayang, sebentar”. Kata Alastor pelan, mempercepat
gerakannya, Elias menggenggam seprei dengan erat, sementara salah
satu tangannya di genggam Alastor dengan erat.
“hahhh hhahh Deddy hhh, udah Eli, Eli nghhh Deddy hh”. Ucapnya
merasakan sesuatu yang aneh mengalir di analnya, bahkan mengisi
rahimnya, ia merinding merasakannya, Elias membusungkan dadanya
dengan pelan menggenggam erat jemari Alastor, pria itu mengeluarkan
cairannya tepat di rahim omeganya, ia tersenyum miring.
“Elias”. Panggilnya dengan pelan, punggung Elias kembali menyentuh
kasur, nafasnya memburu merasakannya, apakah Alastor puas? Apakah ia
sudah menyelesaikannya, apakah dia akan menghentikan hukumannya?
Tentu tidak seperti itu setelah ia menyelesaikan ejakulasinya di rahim
Elias, ia kembali menggempur pemuda itu, membuat omeganya terus
merintih, menangis, mendesah, dan menjerit secara bersamaan, pemuda
itu menggenggam jemari Alastor dengan kuat sedang salah satu
tangannya menggenggam pundak Alastor.
“Deddy udah.. Deddy”. Panggilnya sambil mengatupkan giginya, pusing,
ia merasa pusing sekarang, perutnya terasa keram dan penuh, ia
menggeleng merasakan Alastor yang terus menggempurnya tanpa
ampun.
“Deddy. Jangan .. lagi”. ucap Elias terbata, ia tersentak-sentak karena
perbuatan Alastor, pria itu belum puas melakukannya, ia terus mengerjai
tubuh kekasihnya, membuat Elias tidak bisa berbuat apa-apa. Sampai
tengah malam Elias terus saja di buat kewalahan oleh prianya,
punggungnya langsung menyentuh kasur, setelah pria itu menyelesaikan
pelepasannya, setelah itu entah apa yang di lakukan prianya, ia tidak
merasakannya lagi, ia pingsan dan tidak bisa meladeni Alastor lagi,
Alastor yang tadinya panik langsung tersenyum miring menatap
omeganya.
Pagi harinya Elias membuka matanya menengok ke kanan kiri, tidak ada
Alastor di sampingnya, dan ia sudah tidak di kamar pria itu, dan itu
membuat Elias sedih dan menangis.
“Eli gak bakal nakal lagi, tapi Deddy gak ada, Deddy udah pergi lagi”.
monolognya, berharap bisa menemukan Alastor di sampingnya bahkan
tangan mungilnya meraih-raih udara ingin menjangkau pria itu, pintu
terbuka menampakkan Alastor yang membawa makanan untuk
kekasihnya.
“hey, kenapa menangis hm?”. tanya Alastor panik saat melihat Elias
menangis, pemuda itu menengok kemudian sesegukkan memandang
Alastor.
“kenapa Deddy pergi, Deddy ninggalin Eli, Eli gak akan nakal lagi”. kata
Elias mencoba menghampiri Alastor namun tubuhnya menolaknya, ia
langsung terjungkal dan untung saja Alastor langsung menangkapnya
dengan pelan.
“jangan paksakan dirimu, kau terlalu lelah”. Ucap Alastor duduk dengan
pelan menyangga tubuh kekasihnya.
“Deddy tidak pergi sayang, Deddy hanya keluar sebentar”. Katanya
mengusap lembut rambut kekasihnya.
“maaf Deddy meninggalkanmu”. Katanya pelan, Elias menyandarkan
tubuhnya dengan pelan ke dada bidang pria itu.
“Eli gak nakal lagi, Eli gak akan ninggalin Deddy lagi, Deddy jangan
pergi”. Ucapnya pelan Alastor tersenyum mengusap rambut Elias dengan
pelan.
“jangan hukum Eli lagi, Eli takut, Eli takut kalau Deddy marah”. Kata Elias
mengusap air matanya, Alastor tersenyum mengusap lengan kekasihnya.

Prolog.
Axelvano.
Mata biru omeganya, senyum manis dengan lesung di pipinya, dan
tatapannya mengartikan banyak hal, namanya Xandrian, omega cantik
yang lahir di keluarga Mafia, omega cantik yang sekarang udah jadi istri
seorang Axelvano, seorang wakil pemimpin sekaligus penerus mafia
keluarga Ananta, kisah ini sedikit membosankan dan sederhana dengan
seorang yang akrab di panggil Abang, ini hanya Side story dari kisah
percintaan gak masuk akal dari pasangan lainnya.
Dan itu gue, Axelvano Aelin Ananta, seorang abang yang punya beban
lima adik yang merepotkan, gue cerdas di mata orang yang tepat, gue
sadis di hadapan musuh, namun hati gue seluas samudra yang bakal
ngelakuin apapun demi adek-adek gue dan dia.
Dia orang yang mencintai gue karena perjodohan, dia yang dingin di luar
namun hangat di dalam, dia sadis di depan namun penyayang di
belakang, dan dia segalanya bagi gue, masalah? Oh tidak! Gak ada kata
menyedihkan itu di kisah gue, sewajarnya banyak yang bakal terberbeni
sama status perjodohan, tapi gak buat gue, apapun yang gue dapat gue
pertahanin bahkan perjuangin, dan dia benar-benar takdir gue.
Xandrian Zelkova Morigan, dia milik gue dan gue milik dia, gak ada yang
bisa ambil dia dari gue dan gak ada yang bisa ngalihin perhatian gue dari
dia, dia yang berpendidikan, dia yang punya tanggung jawab besar.
Hahaha kapan lagi dapat istri omega yang jumlahnya langka di dunia?
Dan ternyata dia lahir di keluarga yang cukup keras, itu dia.
Dia, dia dan dia, gak bakal habis walau gue ceritain hal yang menarik dari
dia, dan dia istri gue isrti Axelfano, pretty boy but ugly inside, seorang
robot pembantai dan seorang kakak yang rela ngelakuin apapun demi
orang yang di sayang.
Alastor.
Gak perlu banyak basa basi, gue manusia anti sosial yang di lahirkan
menjadi sulung di keluarga pembunuh, Mama yang baik hati dan cerdas
seorang penerus keluarga mafia, dan istri dari seorang pemimpin mafia
juga, kisah cinta mereka sedikit merepotkan tentunya terutama
perjuangannya mertahanin gue sampai sedewasa ini sama kehidupan,
gue kakak dari Emiris si Alpha yang mirib sigma itu, dia penyendiri kaya
mama, tapi keras kaya papa, dan Xandrian omega cantik yang memang
copyan dari mama, dan gue? gue mewerisi sepenuhnya sifat papa,
seorang pembunuh berdarah dingin namun penuh kasih sayang di dalam,
siapa dia? Dia yang bakal gue ceritain? Namanya Elias Halden Ananta.
Sesuai namanya di lahir dari keluarga Ananta, dengan artian dia sepupu
Axel, kenapa dia? Kenapa dia yang gue pilih dari tiga omega yang ada di
sana? Tentu aja karena kepolosannya, kepolosannya? Dia pendiam dan
banyak pesona di sisi lain dia bakal ngelakuin apapun buat orang yang dia
sayang walaupun merugikan dirinya sendiri, tambahan karena saking
polosnya di jadi banyak pacar, itu sebelum ketemu gue tentunya.
Siapa yang tahu hubungan gue sama omega gemesin itu? Cuma kakaknya
yang psycopat, Axel yang posessifnya kebangetan dan Emiris adek yang
gue ancam bakal bocorin hubungan terlarangnya sama bodyguard dia
sendiri, kenapa gue sembunyiin kebohongan ini sebelum akhirnya gue
terang terangan ngelamar dia di acara pertemuan antara Morigan dan
Ananta? Karena kepolosan Elias juga, semua gue lakuin demi dia,
Gimana gue ketemu sama dia? Dari Axel tentunya, gue yang posessif ke
Xandrian berdua sama Emiris ngikutin semua kegiatan harian Axel dan
salah satunya adalah les Axel sama Elias, Axel ngajarin banyak hal
penting dan dalam sekejap cowok gemesin itu paham, dan waktu Axel
ngajarin hal di luar study justru gak ada yang nyangkut di otak dia,
awalnya gue gemes banget sama hal itu karena menyangkut reproduksi
alpha omega, cara bertahan dari tindakan yang bisa mempengaruhi
kehidupannya dan sebagainya dan bener aja gak ada yang nyangkut di
kepalanya termasuk waktu gue sengaja nglecehin bibir dia dan dia b ajah
sial! Dan gimana sama pacarnya yang lain? Diputusin? Oh tidak ini
pertarungan, entah gue yang dia pilih atau salah satu dari pacar lamanya.

1. Pertemuan.
Bulan bersinar dengan gagahnya, terdengar tembakan bertubi-tubi di
dalam hutan, begitu juga derap langkah yang bersahutan, mata berwarna
merah itu menatap targetnya yang melarikan diri itu, targetnya? Dia tidak
seceroboh itu bisa membiarkan targetnya kabur, tentu saja itu bukan
kesalahannya, itu kesalahan salah satu adiknya yang mementingkan
simpanannya dari pada misinya.
“gue maju”. Kata Pria itu, ia langsung menyiapkan senjata apinya.
“gue serahin ke lo bang”. Ucapnya menyarungkan pisaunya, berjalan
mundur membiarkan kakaknya yang mengejar satu buronan itu. Matanya
tajam mengarahkan pistolnya kemudian menembakkannya beberapa kali,
dan hal itu gagal, dan tidak mengenai target.
“sejauh apa kita lari?”. Tanyanya pada salah seorang bodyguard yang
membantunya.
“sekitar satu kilo meter”. Katanya, pria itu tersenyum miring meraih
dahan yang ada di sampingnya, melompat menggunakan dahan itu
berguling degan cepat.
“kata-kata terakhir pak tua”. Katanya dengan senyum miring, ia
menembakkan beberapa peluru, satu peluru menembus kakinya
membuat targetnya terguling kesakitan, salah satu peluru mengenai tepat
di jantungnya dan peluru terakhir langsung menembus tengkorak dan
mengenai otaknya, pria itu tersenyum menghela nafasnya kemudian
berdiri dengan pelan.
“misi selesai, tidak ada korban jiwa lain”. Katanya kembali ke arah adiknya
lari tadi, kemudian tersenyum menyakukan pistolnya, pria itu terlihat
menyeramkan dengan mata merahnya namun menawan dengan rupanya.
“urus sisanya”. Katanya menepuk pundak sang adik, pria itu
mengangguk, matanya yang merah juga terlihat menyeramkan.
Perkenalkan sulung dari keluarga Ananta, Axelvano Aelin Ananta, seorang
pembunuh yang sadis seorang pewaris organisasi mafia dan sekarang
menjadi wakil dari sang Ayah. Pria itu kembali ke rumahnya bersama sang
bodyguard dan langsung menuju ruangan sang ayahnya.
“gimana? Selesai?”. Tanya seorang pria yang santai duduk di depan meja
kerjanya, Axel mengangguk pelan, pria itu duduk dengan santai di sofa di
ruangan itu.
“kamu kotor hei!” teriak salah satu pria yang masuk membawa teh
hangat untuk suaminya dan anaknya itu.
“maaf Mami”. Ucapnya langsung berdiri, omega cantik itu menggeleng
pelan setelah meletakkan teh itu ia melepas jas anaknya kemudian
menatap anak sulungnya itu.
“mandi dulu gih, bau”. Kata Reagan menatap putranya, walau kali ini pria
itu tidak berlumur darah tetap saja di bau lumut karena berlarian di hutan.
“kamu tuh, sebelumnya udah di bilangin mandi dulu baru ketemu Papi
malah gak di dengerin”. Kata Reagan berjalan keluar ruangan, Ahdzan
yang melihatnya langsung terkekeh menggeleng pelan.
“maaf Mami”. Katanya tampak tidak niat, Ahdzan mendekat duduk di sofa
menatap anak sulungnya.
“udah tahu Mami bakal marah juga, kasian gak bisa tidur di pangkuan
Mami”, kata Ahdan meminum tehnya dengan santai, Axel merotasi bola
matanya.
“namanya juga lupa, maklum udah tua”. Kata Axel tanpa berdosanya,
Ahdzan ber hemm melirik anaknya itu.
“setua apa sih, Alpha muka omega kek kamu?”. Tanya Ahdzan membuat
Axel merotasi bola matanya kembali duduk dengan pelan.
“gimana hubungan adek sama Daren? Lebih tepatnya gimana
perkembangan Daren?”. Tanya Ahdzan, Axel menunduk kemudian
menggeleng pelan.
“masih belum, kata dokter pemulihannya emang sedikit lebih lama karena
secara mental Daren terlalu lemah”. Kata Axel jujur, Ahdzan mengangguk
paham.
“terus gimana sama Adek? Gak gepeng kah? Gak pincang tiap hari kah?”.
Tanya Ahdzan, Axel merotasi bola matanya, kemudian meringis
mendekatkan kepalanya pada Ahdzan.
“parah! Daren mainnya pro banget adek sampe gak bisa jalan tiga hari
kemarin”. Kata Axel, Ahdzan terkekeh kemudian menggelengkan
kepalanya.
“itu namanya belum pro, kalau Mami tahu pasti bakal marah tuh”. Kata
Ahdzan, Axel mengangguk dengan senyumnya, meminum teh yang di
buat Reagan dan rasanya sangat menenangkan.
“kamu sendiri gimana Bang? Gak ada kah yang tertarik sama kamu?”.
Tanya Ahdzan membuat Axel tersedak dan membuat teh yang ia minum
keluar dari hidungnya, Ahdzan tertawa kali ini.
“Papi tuh nyeselin sumpah!”. Katanya sambil mengambil tisu mengelap
hidungnya.
“banyak yang mau sih sama abang, tapi abang yang gak mau”. Jawabnya,
Ahdzan mengangguk mengerti perasaan putranya itu.
“papi takutnya kamu bakal jadi perjaka tua aja sih, ke duluan sama adek
yang baru lulus SMA kemarin”. Kata Ahdzan jujur, Axel menghela nafas.
“buat bahagiain adek sendiri aja udah repot apalagi kalau ngadepin yang
lain? Kebanyakan cewek itu berisik, ngerepotin banget, gak kaya adek tiga
yang kalem sama gemesin”. Kata Axel jujur, Ahdzan tersenyum miring.
“jadi seleranya yang Omega nih? Yang kaya siapa? Barbar kaya dek Azey,
apa slow kaya dek Talla? Apa yang polos kaya dek Elias? Apa malah yang
binal?”. Tanya Ahdzan, Axel tersenyum miring.
“kalau bisa semuanya kenapa harus satu?”. Ucapnya dengan santainya,
Ahdzan menggelengkan kepalanya pelan.
“tapi yang menantang kaya Mami atau bunda juga boleh jangan se bar-
bar mama tapi, omega bar-bar ngeselin Azey contohnya”. Kata Axel
membayangkan pasangan yang ia impikan.
“jatuh cinta nih sama Mami, sama Bunda? Ingat loh mami punya papi,
Bunda punya Ayah”. Kata Ahdzan, Axel berdecak.
“siapa juga yang mau ambil mami dari suami yang garang posessif kaya
Papi, siapa yang mau ambil Bunda dari suami yang ganteng dan bucinnya
kebangetan kaya Ayah, mana sanggup Abang bersaing”. Kata Axel jujur,
Ahdzan mengangguk pelan.
“tapi kalau bisa dapat yang kaya mereka abang udah bersukur banget”.
Kata Axel, Ahdzan mengangguk pelan.
“abang mandi dulu ini udah Mami siapin”. Teriak Reagan dari luar, Axel
langsung tersenyum berjalan keluar.
“dada abang mau manja-manjaan sama Mami”. Kata Axel menggoda
Ahdzan, Ahdzan langsung melirik anak sulungnya.
“heh! gak boleh! Mami Cuma milik Papi!”. Kata Ahdzan mengejar
putranya, Axel terkekeh berlari ke arah Reagan, Reagan mengerutkan
dahinya.
“kenapa nih? Pasti abis ngomongin Mami”. Kata Reagan melihat putranya
yang bersembunyi di balik tubuh kecilnya, Ahdzan melirik Axel dengan
tatapan marah.
“gini nih, definisi menciptakan saingan sendiri”. Ucapnya, Axel
menjulurkan lidahnya membuat Ahdzan semakin geram.
“nih pasti abis ngajarin sesuatu yang gak pantes di ajarin”. Kata Reagan
memandang suaminya, Ahdzan langsung menggeleng pelan.
“abang sendiri ya, yang mancing Papi buat ngomongin”. Kata Ahdzan
membela diri, Axel menggeleng.
‘boong, enggak! Itu sebagian laporan kok”. Kata Axel, Reagan yang
merasa jengah langsung menarik Axel ke kamar mandi.
“gak usah laporin yang enggak-enggak, mandi sana! Mami mau ke kamar
adek”. Kata Reagan mendorong Axel masuk ke kamarnya, Axel langsung
merengut mendengarnya.
“saingan Papi kebanyakan!”. Katanya sebelum Reagan menutup pintu,
Ahdzan hanya menggelengkan kepalanya.
“udah gede juga Abang”. Kata Ahdzan, Reagan melirik suaminya.
“Papi udah bicarain kan sama Abang?”. Tanya Reagan, Ahdzan
menggeleng pelan menatap istrinya.
“biar jadi kejutan buat Abang, dia anak baik soalnya”. Kata Ahdzan,
Reagan mengangkat sebelah alisnya.
“iya gak kaya Papinya yang ngajarin aneh-aneh sama anak-anaknya”.
Ucap Reagan seenaknya, Ahdzan terkekeh pelan
“gak ada tuh Papi ngajarin aneh-aneh sama Abang, apalagi Adek”. Kata
Ahdzan membela diri.
“heh! Siapa bilang! Anak Mami sampe jalan pincang itu kalau bukan gara-
gara kalian jodohin ke Daren itu apa?”. Tanya Reagan, Ahdzan terkekeh
pelan.
“kalau itu di luar sepengetahuan papi ya”. Kata Ahdzan lagi-lagi membela
diri, Reagan hanya menggeleng pelan berjalan ke arah kamar anak
bungsunya, sementara di kamar mandi, Axel merendam dirinya di air
hangat.
“setua itu sampai Papi nanya tentang itu?”. Monolognya, ia
menggelengkan kepalanya merendam dirinya dengan pelan memejamkan
matanya berusaha tidak memikirkannya.
🪴🪴🪴
Axel berjalan ke arah pintu apartemenya saat ketukan berisik itu
mengganggu kesunyian malamnya yang tenang, sudah pasti dia? Siapa.
“Abang! Cepetan!”. Teriak suara cempreng dari luar, Axel membuka pintu
langsung pemuda berwajah polos itu masuk ke dalam Apartemenya dan
menutup pintu dengan keras, Axel menyugar rambutnya yang
berantakan.
“kenapa lagi sih?’. tanyanya sengit, baru saja ia bertanya suara ketukan
yang lebih tidak mausiawi itu terdengar keras, Azey menggeleng pelan.
“Darrel?”. Tanyanya, Azey mengangguk, Axel menghela nafas mengambil
pistolnya yang tergeletak di meja, menyakukan tangannya.
“Axel, keluarin jalang itu atau gue bunuh lo sekalian”. Teriak dari luar, Axel
mengepalkan tangannya.
“jangan salahin gue kalau gue main kasar”. Kata suara itu lagi, Axel
menghela nafas menengok adiknya, pemuda menggemaskan itu langsung
bersembunyi di dapur, Axel membuka pintu kemudian datanglah pria
berambut pirang dengan mata merah menyala, Axel menatapnya tajam.
“berisik bego!”. Ucapnya namun pria itu langsung mencengkram leher
Axel dengan erat, Axel mengernyit.
“di mana lo sembunyiin jalang sialan itu ha!”. Tanya Daren dengan sosok
keduanya.
“jalang? Pacar lo itu?”. Tanya Axel bingung ada masalah apa lagi sampai
membuat pria di depannya marah.
“pacar! Dia pergi sama orang lain bangsat!”. Kata Daren menatap Axel
dengan mata merahnya, Axel balas menatapnya. Melepaskan
cengkeramanya.
“jalang? Bangsat? Lo yang bangsat Anjing!”. Ucap Axel keras menendang
Daren dengan kuat membuat pria itu langsung menabrak pintu masuk,
Axel menodong Daren dengan pistolnya
“sekali lagi lo panggil adek gue jalang, jangan salah kalau gue masak
daging busuk lo”. kata Axel menendang kepala pria itu dengan keras
sampai membuat Darren mimisan. Pria itu menunduk kemudian
mengusap darah yang mengalir menggunakan kemeja yang ia pakai.
“sakit bego!”. Ucap Daren mencak-mencak, Axel menghela nafas akhirnya
kembali juga sosok itu, Axel berdecak.
“lo ngomong Adek gue Jalang bangsat! Lo juga ngejar dia sampai sini, gak
sadar kan lo lagi di rumah siapa?”. Tanya Axel dengan tatapannya yang
lebih tajam dari sebelumnya.
“hah! Enggak sumpah!”. Kata Daren membela diri, Axel tersenyum miring.
“sumpah bawa mati bego! Terus ngapain lo dateng marah-marah sambil
ngatain adek gue jalang?”. Tanya Axel, Daren menggeleng pelan merasa
tidak melakukannya, ia langsung berkedip.
“jangan-jangan barusan gue?”. ucap Daren mengambang, Axel merotasi
bola matanya.
“masih nanya anjir”. Kata Axel menengok Azey yang sedang mengintip,
pemuda itu mendekat dengan pelan.
“kakak gak papa?”. Tanyanya mengusap darah di hidung Daren, Axel
merotasi bola matanya.
“jelasin ke dia kenapa kamu jalan sama orang lain!”. Ucap Axel, Azey
menggelengkan kepalanya.
“itu bukan orang lain, itu kak Arsen, yang jemput adek di rumah Ezio”.
Kata Azey jujur, Axel melirik Daren, Daren menunduk.
“jangan marah sebelum ada kejelasan, udah tahu ‘dia’ punya sifat
pemarah masih lo tanggepin”. Kata Axel, Daren mengangguk.
“padahal gue udah nyuruh Azey buat mukul gue kalau jadi ‘dia”. Kata
Daren, Axel merotasi bola matanya.
“adek gue mana bisa mukul lo bangsat! Sebelum dia mukul lo, lo udah
buat dia tepar dulu”. Kata Axel jujur, Daren menunduk merasa bersalah,
kemudian menengok Azey, Azey ikut menunduk, Axel merotasi bola
matanya malas, kemudian merasakan kalau ponselnya bergetar, ia
langsung menjaga jarak mengangkat panggilan itu, sekaligus memberi
waktu untuk Azey dan Daren berbicara.
setelah mengangakat panggilan ia menengok adiknya, Azey enatap
kakaknya dengan wajah semerah tomat.
“abang, pinjem kamar ya”. Katanya Axel melongo kemudian menepuk
kepalnya pelan.
“main nakal lagi nih?”. Tanyanya, Azey hanya menunduk sungkan
menjawab, Axel menghela nafas kemudian berjalan ke arah kamarnya.
“pakai semau kalian, Abang mau berangkat kerja”. Katanya masuk ke
kamar, membuat Azey tersenyum mengangguk, setelah selesai bersiap ia
langsung keluar dari kamarnya berjalan keluar menuju besmen, menaiki
mobilnya untuk sampai ke rumahnya, di sana Reagan sudah tersenyum
menatapnya.
“ganti baju dulu gih kak”. Kata Reagan mendorong putranya ke dalam
kamar, di sana ia sudah menyiapkan pakaian untuk anaknya.
“ganti baju? Emang kita mau kemana sih Mam?”. Tanyanya, Reagan
tersenyum.
“udah ikut Papi aja nanti juga kamu tahu”. Kata Reagan, Axel mengangkat
bahu kemudian menuruti perintahnya, tak lama kemudian ia keluar
dengan memakai pakaian kasual, dengan dasi namun tetap saja Axel, Pria
dewasa yang tidak pernah mementingkan penampilan membuat Reagan
menggelengkan kepalanya pelan.
“ayo berangkat”. Kata Ahdzan menggandeng tangan Reagan membiarkan
anaknya tertinggal di belakang, Axel melipat tangannya di dada kemudian
menghela nafas pelan.
“kita mau ke mana sih Pi? Sampai bawa bodyguard segala?’. Tanya Axel
melihat mobil bodyguard di depan dan belakang mereka.
“udah ikut aja, Papi mau tumbalin kamu biar Papi gak punya saingan lagi”.
Kata Ahdzan seenaknya, Axel mengangkat bahunya singkat.
“oh ya, adek kamu gimana?”. Tanya Reagan, Axel mengerutkan dahinya.
“adek yang mana? Elias udah selesai lesnya, Talla udah abang jemput
habis les, Garren ada meeting di kantor, Arsen biasalah dia bantuin Ayah”.
Kata Axel, Reagan menghela nafasnya berat.
“adek Azey bang, dia gak ke apart kamu emang?”. Tanya Reagan, Axel
langsung terdiam ia tidak mungkin melaporkan sedang apa adiknyakan?.
“ya, dia di apart, abang minta dia jaga apart sama Daren”. Kata Axel pada
akhirnya, Reagan mengerukan dahinya kemudian menengok ke arah Axel
singkat.
“abang ninggalin adek sama Alpha sendirian?”. Tanya Reagan, Axel
menengok keluar jendela.
“gak sendiri juga sih mam, kan ada meng, ada putih, ada suki juga”. Kata
Axel mengingat dua kucing dan satu anjingnya.
“kayanya Mami mau cari bodyguard baru buat adek deh, biar dia gak
beduaan terus sama Daren, iya kalau Daren lah kalau sewaktu-waktu itu
Darrel gimana?”. Kata Reagan, Axel hanya meringis pelan, Ahdzan
menggelengkan kepalanya pelan, selama di perjalanan ia mengamati
sekeliling sampai mereka tiba di sebuah mension besar yang indah, Axel
menghela nafas pelan jadi acara bisnis ya, Axel sangat mengenali pemilik
mension ini, mereka bekerja sama dalam urusan dunia gelap, mereka
masuk ke dalam sementara bodyguard mereka berjalan di belakang.
“Ahdzan apa kabar?”. Tanya si pemilik rumah pada Ahdzan, pria itu
tersenyum menjabat tangan Ahdzan, Ahdzan ikut tersenyum.
“baik, masih sepi aja nih rumah”. Kata Ahdzan melihat sekeliling, Axel
yang merotasi bola matanya Papinya kira mau seramai apa rumah mafia?
Sebesar bayangan Axel? Gak mungkin kan.
“dan ini nyonya Reagan?”. Tanya si pemilik rumah, Reagan tersenyum
mengangguk menjabat tangan pria itu.
“senang bertemu tuan Azrael”. Kata Reagan ramah, Ahdzan tersenyum
menengok pria di samping Azrael.
“dan nyonya Kallia benar?”. Tanya Ahdzan, Kallia mengangguk menjabat
tangan Ahdzan dan Reagan, sementara itu di belakang keduanya Axel
hanya dia merotasi bola matanya malas, mereka, kalau ada urusan
berempat kenapa ngajakin dia sih!
“Axel! Kenapa muka kamu hm?”. tanya Ahdzan, Reagan mengkode agar
pria itu tetap sopan, Axel yang gelagapan langsung menunduk sopan.
“malam om, tante”. Kata Axel dengan senyumnya, mereka mengangguk
masuk ke dalam, lagi-lagi Axel merasa tidak nyaman duduk di tengah
kedua orang tuanya, dan tambah tidak menyenangkan lagi ternyata
Reagan memiliki sifat seperti Kallia, jadilah asyik berdua membuat suami
mereka menatap gemas sementara Axel! Ya Axel! Hanya diam bingung
dengan apa yang sedang ia alami.
“loh mana si adek?”. Tanya Azrael pada istrinya, Kallia bangkit kemudian
mencari anaknya, Axel menghela nafas, ia ingin sekali meraih ponselnya,
sekedar bermain game untuk menghilangkan bosannya.
“maniak game, gak ngegame bang?”. Tanya Azrael, Axel menengok
kemudian tersenyum merogoh kantong celananya.
“boleh kan om?”. Tanyanya, Azrael tersenyum mengangguk sementara
kedua orang tuanya hanya menggeleng pelan.
“selain ngegame sibuk apa aja bang?”. Tanya Azrael dengan santai, Axel
berpikir pelan kemudian tersenyum.
“Cuma iseng jagain adek doang si om, selebihnya ya pekerjaan biasa
doang”. Kata Axel dengan santainya, Azrael mengangguk melirik Ahdzan,
Ahdzan mengangguk tersenyum.
“kalau di tambah satu kesibukan lagi repot gak?”. Tanya Azrael, Axel
menengok kemudian berpikir pelan kemudian menggeleng pelan.
“kayanya luang banget, iya kan bang?”. Tanya Reagan, Axel mengangguk
pelan kemudian tersenyum.
“sekolah sarjana Ph.D bener? Semuda ini?”. Tanya Azrael, Axel melirik
ketua mafia di depannya.
“saya seumuran anak tertua om lho, dia juga sarjana Ph.D”. Kata Axel
dengan lirikannya, Ahdzan dan Azrael terkekeh bersamaan.
“kalian berdua sama aja”. Kata Azrael dengan santainya, Axel
menggelengkan kepalnya pelan, memainkan gamenya fokus, tidak lama
setelah itu dua orang datang, Axel hanya melirik singkat, dan Reagan lah
yang berbinar melihatnya.
“kita ketemu lagi Xandrian?”. Tanya Ahdzan pemuda itu tersenyum
mengangguk pada pria itu, Reagan tersenyum.
“ini tante Rea, istrinya om Ahdzan”. kata Azrael mengenalkan putranya
pada Reagan, Reagan tersenyum.
“dan yang lagi main game itu Axelfano, panggil aja Axel”. Kata Azrael,
Ahdzan mengangguk pelan.
“panggil aja Abang, biar tambah akrab, dia anak om yang bakal om
jodohin sama kamu, oh ya, jangan ketipu sama mukanya, dia udah tua”.
Kata Ahdzan blak-blakan, bukan hanya pemuda itu yang kaget, Axel juga
kaget sebenarnya mendengarnya.
“tunggu dulu! Ulang-ulang”. Kata Axel melirik Ahdzan, Ahdzan
mengangkat bahunya singkat.
“jadi gini bang, Papi sama om Azrael sepakat mau jodohin kamu sama
anak sulungnya, karena tante Kallia penasaran sama kamu Mami juga
pengen liat dia secara langsung, jadi sekalian aja Papi bawa kalian kesini”.
Kata Ahdzan dengan santainya, Axel menyimpan ponselnya ia tahu
sekarang maksud dari sang ayah untuk menumbalkannya agar tidak ada
yang mengganggu Reagan, dan maksudnya adalah perjodohan? Fine,
memang begini kalau Axel jadi perjaka tua yang gak senakal Alpha
dominan yang lainnya tapi, ini terlalu tiba-tiba bukan?.
“ini anak tante yang terakhir, namanya Xandrian dia cantikkan?”. Kata
Kallia dengan senyumnya sedang yang sedang di perkenalkan seakan
ingin merajuk segera memukul papanya yang lancang menjodohkannya
tanpa mengetahui calonnya.
“dan sayangnya udah gak bisa di batalin, om udah menanda tangani
suratnya soalnya, jadi Xandrian udah sah jadi tunangan kamu, walau kita
belum ngadain acaranya”. Kata Azrael, Axel tambah melongo
mendengarnya, bagaimana tidak ini sudah sangat serius.
“dia omega Mam?”. Bisik Axel pada Reagan, Reagan terkekeh kemudian
mengangguk.
“mau di coba dulu gak biar percaya?”. Tanya Azrael dengan santainya
membuat Reagan dan Kallia langsung melirik pria itu, Axel berdecak
pelan.
“ini anak om loh, masa nawarinnya kaya barang sih, mana bisa di coba-
coba gitu, akalan doangkan?”. Kata Axel, Azrael terkekeh pelan melirik
anaknya.
“ya gimana lagi udah gak bisa di batalin kan? Ya berarti udah boleh
mungkin? Gitukan pikiran Alpha dominan?”. Karta Azrael dengan
senyumnya, Axel menghela nafas pelan, semudah inikah acara
perjodohan sebenarnya?
“kok merasa di bohongin ya? Kirain mau ada acara apa”. Kata Axel jujur,
Regan terkekeh pelan.
“ya kaya gak tahu sifat Papi kamu”. Ucapnya dengan santai, Axel
menatap pemuda bernama Xandrian itu, ya dia terlihat seperti ibunya
yang kalem, tapi tidak tahu sifat sebenarnya.
“cantikkan anak tante?”. Kata Kallia, Axel reflek mengangguk emang
cantik omega satu itu, Axel melirik singkat kemudian menghela nafas
pelan.
“Xandrian kan cantik bang? Kenapa kerasa di bohongin?”. Tanya Azrael,
Axel berdecak pelan.
“ya harusnya gak semendadak gini kan? Gimana kalau anak om itu udah
punya pilihan sendiri? Gimana kalau yang anak om suka itu lebih dari
Abang?”. Tanya Axel, Azrael menengok anak bungsunya, tersenyum
menatapnya.
“ada yang adek suka? Sehebat bang Axel gak? Dia seumuran kak Alastor
tapi cakep banget kan? Gak ada garang-garangnya kan? Sifatnya hampir
sama kaya Kak Alastor tapi di baik kok”. Kata Azrael, Xandrian menunduk
pelan kemudian menggelengkan kepalanya.
“tapi kan Papa bisa kompromi dulu sama kak Axelnya”. Kata Xandrian
pelan, Ahdzan tersenyum pelan, menengok istrinya.
“mau ya sama anak tante? Kasian dia kelamaan sendiri”. Kata Reagan
dengan senyumnya, Xandrian menengok kemudian tersenyum lembut.
“tapi Xandrian masih sekolah tante, masih SMA emang gak papa kak Axel
ngurusin bocil kaya Axel”. Kata Xandrian, Reagan meirik anaknya yang
terlihat sangat setres itu, kemudian tersenyum.
“bang?”. Tanyanya, Axel menghela nafas pelan kemudian mengangguk
pelan.
“ya udah nikah aja yuk”. Katanya membuat semua orang kaget, Azrael
dan Ahdzan langsung tersenyum.
“sabar bang nunggu Xandrian lulus sekolah dulu ya”. Kata Ahdzan, Axel
mengangguk tersenyum menatap calon istrinya itu, padahal Axel baru
kenal nama depannya saja kan? Ia belum tahu siapa dia sebenarnya, yang
penting apa yang ia dapatkan sekarang tidak akan ia lepaskan, dan akan
terus iya pertahankan.
Di suatu tempat terlihat dua orang mengamatinya dengan tatapan seakan
ingin membunuhnya, mata mereka terlihat menyala menatap Axel,
sedang pemuda itu tidak menyadarinya dan duduk santai di hadapan
calon istri dan calon mertuanya.
2. Beban Axel.
Matahari bersinar dengan terang Axel membuka matanya dengan pelan,
ia menghela nafas ternyata ia tertidur di rumahnya, ya ia baru ingat
setelah menjalankan tugas ia langsung pulang entah keadaan adik-
adiknya sekarang Axel menghela nafas pelan duduk melihat kanan dan
kirinya mencari benda kotak itu, ia menghela nafas sepertinya tidak ada
masalah, ia berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci mukanya.
“abang udah bangun?”. Tanya sebuah suara dari luar kamarnya, Axel
menghela nafas pelan.
“udah mam”. Ucapnya sambil membuka pintu kamarnya.
“agenda hari ini ngapain?”. Tanya Regan menatap anaknya dengan
senyumnya, Axel mengerutkan dahinya pelan.
“gak tahu, hari ini libur kan? ya abang gak tahu mau ngapain”. Kara Axel
dengan santainya, Regan mengangguk pelan.
“kenapa gak ke rumah Xandrian aja? Dia pati di rumah juga kan?”. ucap
Reagan, Axel mengangkat sebelah alisnya.
“lah ngapain ke rumah dia, gangguin weekend orang Mami”. Kata Axel
menengok ke arah Regan, Regan menghela nafas pelan.
“kamu loh bang, udah jadi tunangan orang tapi kamu gak pernah
pendekatan sama orangnya”. Kata Regan, Axelmenghela nafas pelan.
“bukan abang gak mau deketin Xandrian, tapi Abang punya banyak adek,
kalau tiba-tiba mereka minta bantuan Abang bingung mau jawab apa”.
Kata Axel, Regan menganggukkan kepalanya pelan dia memang susah di
pisahkan dengan adik-adiknya, Regan paham bagai mana Axel
menyayangi mereka.
“udah gih sarapan, Mami mau manggil adek sama Papi dulu”. Kata
Reagan, Axel menengok kemudian menganggukkan kepalanya pelan, ia
mengambil ponselnya kemudian baru berjalan ke arah ruang makan,
memanggil papi, itu artinya ia memang harus mengunjungi Xandrian, Axel
menghela nafasnya duduk di depan meja makan pelayan di sana
langsung menyajikan makanan di depannya.
“minumnya kopi atau susu tuan?”. Tanyanya, Axel tersenyum.
“Kopi aja, biar gak ngantuk”. Kata Axel pelayan itu mengangguk pelan,
tidak lama setelah itu adiknya datang.
“lhoh Abang kok di sini?”. Tanya Azey pada sang kakak, Axel menghela
nafas.
“Abang juga punya hak untuk duduk di sini Zey, seharusnya Abang yang
tanya kenapa kamu sampai di rumah? Di anter sama siapa?”. Tanya Axel
melirik adiknya.
“Darren yang nganterin tengah malam, Papi kira dia mau nginap tapi
ternyata Cuma nganterin Adek doang”. Kata Ahdzan yang datang tiba-
tiba.
“jadi ada masalah apa sama Darren, bukanya Abang udah nganterin kamu
ke sana?”. Tanya Axel melirik adiknya, Azey tersenyum.
“tiba-tiba aja ada panggilan dari atasannya, ada dinas katanya, pulang
minggu besok, jadi Azey bisa bebas main sama Abang”. Kata Aey dengan
senyumnya.
“enggak! Abang abis sarapan harus kerja, mainnya besok-vesoknya aja”.
Kata Ahdzan duduk santai meminta kopi pada istrinya.
“loh, ini kan hari minggu, masa kerja juda”. Kata Azey menatap Ahdan,
Reagan tersenyum.
“Abang ada urusan, adek main sama Mami aja, kita jalan-jalan bertiga
sama Papi”. Kata Reagan, Azey menghela nafas.
“abang kasian kerja sendiri, sama kak Arsen?”. Tanya Aey, Axel
menggelengkan kepalanya.
“sama bodyguard”. Kata Axel mengikuti permainan sang ayah, Azey
mengangguk pelan mengangkat bahunya pelan.
“bang, mas kok udah lama gak main sama Abang?”. Tanya Azey membuat
Axel melirik adiknya, ah ia lupa adiknya yang satu itu ada bersama
‘peliharaannya’.
“lah, kapan Abang main sama Garren? Kerja terus perasaan, lagian
tanggaan kenapa harus main sama dia”. Kata Axel melirik Azey, Azey
mengangkat bahunya singkat.
“Papa selalu bilang kan kalau mas mirip sama papi, emang bener?”. Tanya
Azey melirik Reagan, Regan terkekeh pelan.
“persis kayaknya, dia tuh suka menyimpan apapun buat dirinya, gak ada
yang boleh ambil, pokoknya apa yang dia mau harus dia dapetin, persis
kaya Papi kan?”. tanya Axel, melirik Regan, Regan terkekeh mengangguk
pelan meletakkan kopi untuk suami dan anaknya itu.
“bedanya, Papi kamu banyak mantanya, kalau Garren pacaran aja gak
pernah”. Kata Regan dengan senyumnya, membuat Ahdzan langsung
tersedak.
“nih orang satu ekornya udah gede, masih aja ganjen sama istri orang”.
Kata Azey melirik Ahdzan membuat pria itu mengerutkan alisnya.
“loh, papi yang kena?”. Tanya Ahdzan, ketiganya mengangkat bahu
bersamaan.
“sebelum berangkat ke ruangan papi dulu ya bang”. Kata Ahdzan melirik
anak sulungnya, Axel mengangguk, setelah sarapan ia benar-benar
menemui Ahdzan di ruang kerja pria itu.
“kamu serius kan nerima perjodohan Papi?”. Tanya Ahdzan, Axel
menengok kemudian mengerutkan dahinya.
“kenapa Papi nanyain itu?”. Tanyanya, Ahdzan menghela nafas pelan
menatap putranya.
“Xel, kamu udah dewasa gak perlu Papi ingetin lagikan? Kamu memang di
jodohin tapi papi mau kamu menerimanya dengan benar”. Kata Ahdzan,
Axel menghela nafas, kalau pria ini sudah memanggil nama, pasti Axel
harus menurut padanya.
“Axel emang belum bisa nerima hal itu, mungkin Xandrian juga, tapi Axel
tetap Axel yang gak bakal ngelepas apa yang udah di dapat, Axel gak
setengah-setengah kok, tapi kalau secepat ini jatuh hati, kayanya belum
bisa, Axel udah bilang sama om Azrael kan? kalau Xandrian yang harus
buat Axel jatuh cinta”. Kata Axel, Ahdzan mengangguk tersenyum.
“terus karena gak ada tujuan buat pergi, kamu di sana mau ngapain?”.
Tanya Ahdzan, Axel diam benar juga, apa yang ia lakukan di rumah
Xandrian kalau begitu.
“yang penting gak ngelakuin yang enak-enak”. Ucap Axel asal, Ahdzan
terkekeh pelan, sedikit gak normal Alpha satu ini.
“bener gak tuh?”. Tanya Ahdzan menatap anaknya, Axel berdecak pelan.
“Mam! Ini suaminya ngajarin yang aneh-aneh sama abang!”. Teriak Axel
berharap Regan mendengarnya, Ahdzan terkekeh pelan.
“padahal nanya doang, bener salahanya yang rugi juga kamu, ya bakalan
rugi semua sih”. ucap Ahdzan santai, Axel bersiap teriak lagi sebelum
Regan masuk membuat suara Axel tercekat.
“belum berangkat! Sana berangkat!”. Kata Reagan melirik anaknya,
Ahdzan terkekeh mengangguk meminta Axel menuruti Regan.
“Xel, hati-hati”. Ucap Ahdzan sebelum pemuda itu pergi, Axel melirik
Ahdzan singkat kemudian menganggukkan kepalanya, sepertinya ada arti
di balik perkataan sang Papi, Axel menggelengkan kepalanya, ia akan
memikirkannya saat ada di jalan, mungkin ada maksud tertentu Ahdzan
memintanya pergi ke rumah Xandrian.
Axel menghela nafas pelan ia berjalan ke arah mobilnya yang sudah di
siapkan, sepertinya ia memang tidak tahu ingin berbuat apa setelah di
sana, entah Xandrian juga akan seperti apa, tapi Axel mungkin akan
sedikit beruntung kalau Azrael yang menemuinya bukan Xandrian,
masalahnya yang ada di pikirannya sekarang, mereka satu tipe, jadi Axel
memang harus siap sendainya ia memang harus bertemu tunangannya
itu. Setelah perjalanan yang sedikit panjang Axel sampai juga di rumah
besar itu, beda dengan rumah utamanya yang berada di pinggiran kota,
rumah keluarga Morigan berada di dalam hutan, walau memang itu hutan
pribadi, tapi tetap saja sedikit mengerikan karena tiga kilometer di
sekitarnya tidak ada apa-apa selain hutan pinus, cengkeh dan gingseng,
bahkan di bagian lain hanya ada kebun padi yang berhektar-hektar milik
keluarga ini.
“permisi”. Ucap Axel keluar dari mobilnya, beberapa bodyguard di sana
memperhatikannya, sudah pasti mereka harus berhati-hati kan?
“Abang, tumben kesini”. Tanya seorang omega cantik dan itu adalah
Kallia.
“iya Ma, di suruh Papi sih”. kata Axel berusaha tetap sopan pada calon
mertuanya.
“mau ketemu Xandrian ya, dia lagi latihan nembak di belakang sama
kakak-kakaknya”. Kata Kallia, Axel hanya tersenyum mengangguk.
“masuk dulu yuk”. Kata Kallia meminta Axel masuk ke kediaman mereka,
Axel menurut saja, toh sudah sampai sini dan ia bingung ingin melakukan
apa sebenarnya.
“Phonix tolong panggilkan Tuan Azrael”. Kata Kallia, pelayan yang di
maksudkan langsung mengangguk berjalan entah ke mana, Axel duduk
dengan pelan setelah di persilahkan.
“Hubby, tolong buatkan minuman untuk Axel, camilan yang aku buat juga
jangan lupa”. Ucap si nyonya rumah pada pelayannya yang lain, pelayan
itu mengangguk pelan tersenyum berjalan di belakang, rumah ini,
sungguh tidak mengenakkan bukan karena apa-apa tapi Axel tahu
kejadian silam yang menimpa keluarga ini. Axel menghela nafas
menunggu Azrael setelah minuman dan camilan datang, ia langsung
mencicipnya dengan pelan, menghela nafas karena bingung sendiri.
“tante tinggal dulu ya, mau lanjutin nyiram tanaman, nanti Tuan Azrael
sama Xandrian datang kok”. Ucap Kallia berjalan pergi, Axel mengangguk
memilih memainkan gamenya sambil menunggu Azrael datang,
menyesap minuman di depannya dengan santai mulai menganggapnya
sebagai rumah sendiri.
“lho Bang, gak di temenin Xandrian?”. Tanya Azrael yang datang tiba-tiba,
Axel menengok singkat kemudian tersenyum mengangguk singkat.
“kata tante Kallia lagi latian nembak sama kakak-kakaknya”. Ucap Axel,
Azrael mengangguk pelan, menghela nafas menengok ke arah seorang
pelayan di rumahnya, tanpa mengatakan apapun pelayan itu
mengangguk dan berjalan pergi.
“tumben kesini?”. Tanyanya, Axel menengok singkat kemudian
mengangguk pelan.
“iya, di suruh Papi, tadinya gak mau takut gangguin”. Ucap Axel jujur,
Azrael mengangguk tersenyum memandang pemuda itu.

Anda mungkin juga menyukai