BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Aset perusahaan yang paling bernilai ialah sumber daya manusia, yang
berfungsi sebagai pendorong utama untuk semua aktivitasnya. Pandangan
Bintaro & Daryanto (2019), manajamen sumber daya manusia ialah ilmu
ataupun metode untuk mengelola interelasi dan fungsi sumber daya (tenaga
kerja) yang dipunyai oleh orang-orang sehingga dapat dimanfaatkan sebaik-
baiknya untuk mencapai tujuan bersama. Agar bisnis dapat menjalankan
operasinya dan mencapai tujuannya, diperlukan manajemen yang efektif,
terutama sumber daya manusianya, yang merupakan aset paling berharga
perusahaan dalam hal perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan
pemindahan elemen-elemennya.
Premis paling mendasar dari manajemen sumber daya manusia strategis
adalah bahwa keberhasilan kinerja perusahaan ditentukan oleh tindakan dan
tanggung jawab perusahaan atau organisasi dalam pengelolaan sumber daya
manusia. Tanpa dukungan penuh dari rekan kerja dan bawahan mereka,
strategi manajer, terlepas dari seberapa efektif mereka, tidak akan membantu
atau berharga bagi perusahaan. Sumber daya manusia (SDM) ialah salah satu
aspek bernilai dari setiap organisasi, institusi atau bisnis. SDM juga menjadi
faktor penentu pertumbuhan sebuah perusahaan. SDM ialah individu yang
diperkerjakan dalam sebuah perusahaan selaku pendorong, pemikir dan
pencipta guna memenuhi misi bisis. Salah satu pilar pertumbuhan perusahaan
1
2
adalah kompetensi sumber daya manusianya. Sehingga diperlukan
pengerjaan SDM yang unggul dengan menjaga dan mencapai kesetaraan
antara kebutuhan pegawai dengan kebutuhan organisasi.
Luthans (2020) kepuasan kerja adalah suatu keadaan emosi seseorang
yang positif atau menyenangkan dari suatu pekerjaan. Sedangkan menurut
Handoko (2020) kepuasan kerja (job satisfaction) adalah keadaan emosional
yang menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi para karyawan dalam
memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan perasaan
seseorang terhadap pekerjaannya, yang nampak dalam sikap positif karyawan
terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan
pekerjaanya.
Hasibuan (2020) menyatakan seseorang cenderung bekerja dengan
penuh semangat apabila kepuasan dapat diperolehnya dari pekerjaannya dan
kepuasan kerja karyawan merupakan kunci pendorong moral, kedisiplinan,
dan prestasi kerja karyawan dalam mendukung terwujudnya tujuan
perusahaan As’ad (1995:103) mengutip perkataan Louis A Allen tentang
pentingnya kepuasan kerja dalam kalimat: “betapapun sempurnanya rencana-
rencana organisasi dan pengawasan serta penelitiannya, bila mereka tidak
dapat menjalankan tugasnya dengan minat dan gembira, maka suatu
perusahaan tidak akan mencapai hasil sebanyak yang sebenarnya dapat
dicapainya.” Dari kalimat tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor manusia
cukup berperan dalam pencapaian tujuan perusahaan. Karena karyawan yang
puas akan bekerja dengan lebih baik dan produktif, sehingga perusahaan pada
akhirnya akan dapat mencapai keunggulan bersaing. Sedangkan Robbins
3
menjabarkan bahwa seorang pekerja yang bahagia adalah seorang pekerja
yang produktif, menurut Robbins, kepuasan kerja memiliki hubungan yang
negatif dengan kemangkiran dan tingkat keluarnya karyawan (Robbins 2020).
Kepuasan karyawan sangatlah diperlukan didalam melakukan suatu
pekerjaan yang memerlukan tanggung jawab dari tugas dan wewenang yang
telah diberikan kepada setiap anggota perusahaan.
Kepuasan karyawan sangat penting bagi perusahaan, terutama pada
perusahaan PT. Tirta Investama yang merupakan salah satu produsen dan
distributor air minum dalam kemasan (AMDK) terkemuka di Indonesia yang
memproduksi dan mendistribusikan Aqua dalam bentuk gelas, botol dan
galon. Perusaan saat ini banyak menghadapi tantangan karena hadirnya
produk lain yang sejenis, meskipun demikian PT. Tirta Investama telah
menjadi market leader dan mempunyai kepercayaan di mata masyarakat.
Meningkatnya penjualan dan pemasaran produk Indonesia, maka PT. Tirta
Investama mengoperasikan 14 pabrik yang memproduksi Aqua di Indonesia
dengan mempunyai beberapa lokasi sumber mata air Aqua yaitu: Sumatera
Utara (Brastagi), Lampung (Jabung dan Umbul Cancau), Mekarsari
(Kubang), Subung (Cipondoh), Wonosobo (Mangli), Klaten (Sigedang),
Pandaan, Kebon Candi, Bali (Mambal) dan Manado (Airmadidi). PT. Tirta
Investama Mambal di Kabupaten Badung adalah salah satu pabrik yang
memproduksi Aqua untuk area pelayanan Bali dan Nusa Tenggara.
Mendukung aktivitas usahanya, adapun jumlah karyawan pada tahun 2022
adalah sebanyak 238 karyawan, dengan jumlah karyawan terbanyak adalah
karyawan bagian produksi yaitu 89 orang. Melihat tingginya jumlah
4
karyawan pada bagian produksi maka penelitian ini dibatasi pada karyawan
bagian produksi. Pentingnya peranan karyawan bagian produksi dalam
menentukan tercapai tidaknya tujuan perusahaan, maka perlu diperhatikan
kepuasan kerja karyawan.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap beberapa karyawan bagian
produksi, salah satu permasalahan utama yang sedang dihadapi oleh PT. Tirta
Investama Mambal saat ini adalah gaya kepemimpinan yang diterapkan
kurang sesuai sehingga menyebabkan karyawan kurang nyaman dalam
melakukan pekerjaan, kompensasi yang diterima belum sesuai dengan beban
kerja pegawai mengakibatkan karyawan tidak bergairah dalam melaksanakan
tugasnya, selain itu lingkungan yang kurang kondusif, dimana jalan yang
dilalui oleh truck masih banyak yang rusak, kawasan yang dekat dengan pasar
tradisonal sehingga menciptakan suara bising yang mengganggu karyawan
saat bekerja hal ini menyebabkan absensi dan turnover karyawan. Secara
teoritis kepuasan kerja karyawan tercermin dari tingkat absensi (Robbins dan
Judge, 2019). Dimana dapat dilihat dari adanya data karyawan keluar dan
masuk selama 3 tahun terakhir diketahui bahwa jumlah karyawan resign terus
meningkat sejak 2020 hingga 2022 dari perusahaan yang dapat dilihat dari
tabel 1.1 data turnover karyawan PT. Tirta Investama Mambal berikut:
5
Tabel 1.1
Data Karyawan Berhenti di PT. Tirta Investma Mambal
Tahun 2020 s/d 2022
Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah %
Tahun Karyawan Karyawan Karyawan Karyawan Turnover
awal yang yang Akhir
tahun keluar masuk tahun
2020 91 5 1 87 14,7%
2021 87 4 9 92 13,3%
2022 92 7 4 89 20%
Sumber: PT. Tirta Investama Mambal (202)
Dari tabel di atas pada tahun 2020 sampai 2022 bisa terlihat jumlah
karyawan yang berhenti bekerja sebanyak 16 orang selama 3 (tiga) tahun. Hal
ini menunjukkan bahwa adanya penurunan jumlah karyawan yang
berpengaruh terhadap kepuasan kerja. Pada tahun 2020 tingkat turnover
karyawan sebesar 14,7%, di tahun 2021 menurun menjadi 13,3% dan puncak
tertinggi terdapat pada tahun 2022 dimana tingkat persentase meningkat
sampai 20%. Hasil ini dikatakan tinggi karena menurut Putra dan Utama
(2021) standar turnover karyawan dalam suatu perusahaan yang dikatakan
normal adalah 10%, pernyataan itu juga didukung oleh Satwari (2020) yang
mengatakan umumnya turnover intention yang dinyatakan dalam satu tahun
tidak boleh melebihi dari 10%.
Keinginan untuk melakukan turnover dapat disebabkan oleh berbagai
faktor oleh karena itu, peneliti melakukan wawancara kepada salah satu
karyawan yang resign di PT. Tirta Investama Mambal. Wawancara yang
dilakukan kepada pihak tersebut mengaku alasan utama untuk memilih
meninggalkan perusahaan adalah lelah fisik dan mental yang di alami setiap
hari yang membuat tidak puas akan pekerjaannya dan memilih untuk keluar
dari perusahaan selain itu beberapa alasan karyawan keluar dari perusahaan
6
yaitu karyawan diterima kerja di perusahaan yang lain, karyawan merasa
tidak ada penghargaan yang diberikan kepadanya, prestasi karyawan yang
menurun, dan karir yang dirasakan tidak berkembang. Hal tersebut terjadi
karena adanya keluh kesah dari karyawan mengenai gaya kepemimpinan
yang kurang, seperti kurangnya kebebasan karyawan dalam menyampaikan
kritik dan saran. Adanya indikasi kurangnya pemberian kompensasi sesuai
beban kerja karyawan, selain itu lingkungan kerja yang kurang nyaman
menyebabkan karyawan tidak betah bekerja dan hal tersebut membuat
karyawan tidak semangat bekerja sehingga menpengaruhi kepuasan kerja
pada karyawan.
Wibowo (2020) menyatakan bahwa setiap orang yang bekerja
mengharapkan memperoleh kepuasan dari tempatnya bekerja, dan kepuasan
kerja akan mempengaruhi produktivitas yang sangat diharapkan manajer.
Untuk itu, manajer perlu memahami apa yang harus dilakukan untuk
menciptakan kepuasan kerja karyawannya. Sementara itu, Vecchino (2020)
berpendapat bahwa kepuasan kerja adalah pemikiran, perasaan, dan
kecenderungan tindakan seseorang yang merupakan sikap seseorang terhadap
pekerjaan. Artinya kepuasan kerja juga amatlah berkaitan dengan
keseluruhan proses mental dan tindakan yang akan dilakukan oleh karyawan
atau personel. Dengan kata lain sikap ini akan mempengaruhi kinerja dan
proses psikis mereka terhadap pekerjaan yang akan mereka lakukan.
Gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan
untuk memengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat pula
dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang
7
disukai dan sering diterapkan oleh seorang pemimpin (Rivai, 2019). Untuk
mencapai sebuah keberhasilan organisasi maka pemimpin perlu memikirkan
dan memperhatikan gaya kepemimpinan yang akan diterapkan kepada
karyawannya. Faktanya pemimpin dapat mempengaruhi moral, kepuasan
kerja, keamanan kualitas kerja dan terutama pada tingkat prestasi suatu
organisasi. Pemimpin menjadi salah satu faktor keberhasilan sebuah
organisasi. Penjelasan itu juga didukung oleh penelitian yang menyatakan
bahwa kepemimpinan berpengaruh terhadap kepuasan kerja, seperti
penelitian yang dilakukan oleh Syamsuriadi, et al (2021) menyatakan bahwa
gaya kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja
pegawai kemudian didukung penelitian yang dilakukan oleh Siti, et al (2020)
menunjukkan bahwa kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja pegawai.
Terdapat perbedaan hasil dengan penelitian yang dilakukan oleh (Siagian &
Khair, 2020) bahwa gaya kepemimpinan berpengaruh tidak signifikan
terhadap kinerja pegawai begitu pula dengan penelitian yang dilakukan
Bernhard & Clinton (2020) menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan tidak
berpengaruh terhadap kinerja pegawai.
Wursanto (2021) karyawan juga membutuhkan lingkungan kerja yang
dapat memberikan kepuasan psikologis, seperti memiliki hubungan yang
harmonis. Lingkungan kerja yang kondusif mendorong karyawan untuk
memiliki produktivitas yang tinggi. Produktivitas karyawan dipengaruhi
tidak hanya oleh cara pekerjaan dirancang dan bagaimana mereka diberikan
imbalan secara ekonomis, tetapi juga oleh faktor sosial dan faktor psikologis.
Temuan ini merupakan yang pertama mengindikasikan bahwa faktor sosial di
8
dalam suatu lingkungan kerja dapat mempunyai dampak signifikan atas
produktivitas para karyawan. Produktivitas berkaitan secara langsung dengan
intensitas kerja sama dan kerja tim kelompok. Pada intinya, organisasi para
karyawan disikapi sebagai sebuah sistem sosial.
Darmandi (2020), lingkungan kerja terdiri dari faktor-faktor yang
memengaruhi performa seorang staf terhadap tugas yang diberikan, seperti
penyejuk ruangan dan penerangan yang memadai. Menurut Wibowo (2019),
keterhubungan antar lingkungan kerja dan kinerja pegawai berpendapat
bahwa lingkungan kerja atau kondisi kerja yang nyaman nantinya
meningkatkan kepuasan pegawai. Sertakan bagaimana interaksi manusia
organisasi terstruktur, baik antara bos dan bawahan dan di antara rekan kerja.
Hal ini menunjukkan bahwa individu memiliki tugas yang signifikan untuk
meningkatkan kinerjanya. Kepuasan karyawan dan kesesuaian dengan
kebijakan perusahaan merupakan indikasi lingkungan kerja yang
menyenangkan. Jika karyawan menikmati lingkungan kerjanya, dia akan
merasa nyaman dalam pekerjaannya, yang akan menghasilkan penggunaan
waktu kerja yang lebih efisien dan, diharapkan, tingkat kinerja kerja yang
tinggi. Selain lingkungan fisik di mana karyawan melakukan tugasnya,
lingkungan kerja juga terdiri dari hubungan interpersonal antara rekan kerja
dan antara bawahan dan atasan.
Pernyataan ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Yantika et al.,
(2020) menunjukkan bahwa lingkungan kerja berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kinerja pegawai, didukung dengan penyataan yang
dikemukakan oleh Faraby (2019) bahwa lingkungan kerja berpengaruh
9
positif terhadap kinerja pegawai. Namun, terdapat hasil penelitian yang
berbeda dari penelitian yang dilakukan oleh Candana et al., (2020)
menyatakan bahwa tidak ada pengaruh positif yang signifikan lingkungan
kerja terhadap kinerja pegawai.
Menurunnya kepuasan bisa juga dari faktor kompensasi. Kompensasi
adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang langsung dan tidak
langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan
kepada perusahaan (Hasibuan, 2019). Kompensasi merupakan salah satu
dorongan utama untuk meningkatkan semangat kerja kayawan. Kompensasi
ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara pengusaha dan karyawan, di
dalam kompensasi terdapat sistem gaji, insentif yang menghubungkan dengan
kinerja tertentu. Banyak organisasi yang mengalami kurangnya kepuasan
kerja pada karyawan yang disebabkan oleh gaji atau kompensasi yang
menurutnya tidak sesuai. Jadi apabila karyawan merasa puas dengan apa yang
telah di dapat, maka kinerja yang akan diberikan atau disalurkan dalam
melaksanakan tugasnya akan dengan perasaan yang senang dan bahagia
begitu juga akan tercermin pada karyawan terhadap pekerjannya. Penjelasan
tersebut tentunya didukung oleh penelitian yang menyatakan bahwa
kompensasi berpengaruh terhadap kepuasan kerja, seperti dari hasil penelitian
Nugraha dan Surya (2020) dengan judul”Pengaruh kompensasi, lingkungan
kerja dan promosi jabatan terhadap kepuasan kerja” yang menyatakan bahwa
kompensasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja
karyawan pada PT. [Link] oleh penelitian yang dilakukan
Arifudin (2019) menyatakan bahwa kompensasi berpengaruh signifikan
10
terhadap kinerja pegawai. Namun, ditemukan perbedaan pada penelitian
Hasibuan (2021) menyatakan bahwa kompensasi tidak memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap kepuasan pegawai.
1.2 Perumusan Masalah
Berlandaskan ulasan latar belakang masalah tersebut, dengan demikian
bisa diformulakan persoalan yang hendak diujikan diantaranya:
1) Apakah gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap kepuasan kerja
karyawan di PT. Tirta Investama Mambal Kabupaten Badung?
2) Apakah lingkungan kerja berpengaruh terhadap kepuasan kerja
karyawan di PT. Tirta Investama Mambal Kabupaten Badung?
3) Apakah kompensasi berpengaruh terhadap kepuasan kerja karyawan di
PT. Tirta Investama Mambal Kabupaten Badung?
1.3 Tujuan Penelitian
Berlandaskan pokok permasalahan diatas, yang menjadi tujuan studi ini
diantaranya:
1) Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kepuasan
kerja karyawan di PT. Tirta Investama Mambal Kabupaten Badung.
2) Untuk mengetahui pengaruh lingkungan kerja terhadap kepuasan kerja
karyawan di PT. Tirta Investama Mambal Kabupaten Badung.
3) Untuk mengetahui pengaruh kompensasi terhadap kepuasan kerja
karyawan di PT. Tirta Investama Mambal Kabupaten Badung.
1.4 Manfaat Penelitian
Terdapat sejumlah kegunaan yang diperoleh melalui studi ini
diantaranya:
11
1.4.1 Manfaat Teoritis
Studi ini diharap mampu memperluas wawasan ilmu pengetahuan dan
pemahaman berkaitan pengaruh gaya kepemimpinan, lingkungan kerja,
dan kompensasi bagi kepuasan kerja karyawan di PT. Tirta Investama
Mambal.
1.4.2 Manfaat Praktis
1) Bagi Mahasiswa
Mampu meningkatkan dan memperluas ilmu yang dimiliki secara
teoritis yang didapatkan pada bangku kuliah, serta dapat
memberikan kontribusi dalam pengembangan teori mengenai gaya
kepemimpinan, lingkungan kerja, kompensasi dan kepuasan kerja
karyawan.
2) Bagi Universitas
Bisa dipergunakan sebagai tambahan panduan refrensi atau acuan
untuk mahasiswa yang hendak mengujikan studi berkaitan topik
masalah sejenis.
3) Bagi Pemerintah
Mampu dipergunakan selaku acuan dalam memecahkan
permasalahan yang dialami dan juga bisa dipergunakan selaku acuan
untuk menetapkan kebijakan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Dua Faktor (Two factor theory)
Teori Dua Faktor juga dikenal sebagai teori motivasi Herzberg atau
teori hygiene-motivator. Teori ini dikembangkan oleh Herzberg (1923-2000),
seorang psikolog asal Amerika Serikat. Ia dianggap sebagai salah satu
pemikir besar dalam bidang manajemen dan teori motivasi. Herzberg
mengemukakan teori motivasi berdasar teori dua faktor yaitu faktor hygiene
dan motivator serta membagi kebutuhan Maslow menjadi dua bagian yaitu
kebutuhan tingkat rendah (fisik, rasa aman, dan sosial) dan kebutuhan tingkat
tinggi (prestise dan aktualisasi diri) serta mengemukakan bahwa cara terbaik
untuk memotivasi individu adalah dengan memenuhi kebutuhan tingkat
tingginya.
Teori ini menghubungkan faktor-faktor instrinsik dengan kepuasan
kerja dan mengaitkan faktor-faktor ekstrinsik dengan kepuasan kerja. Faktor-
faktor ekstrinsik meliputi upah, jaminan pekerjaan,kondisi kerja, status,
prosedur pekerjaan, kualitas pengawasan dan hubungan antar pribadi diantara
rekan kerja, atasan dan bawahan. Sedangkan faktor-faktor instrinsik antara
lain prestasi (achievement), pengakuan (recognition), tanggung jawab
(responsibility), kemajuan (advancement), pekerjaan itu sendiri dan
kemungkinan untuk berkembang.
12
13
Teori dua faktor Herzberg pada penelitian ini menjelaskan bahwa
kepuasan kerja pada karyawan menjadi salah satu faktor penting agar
karyawan semakin giat bekerja sehingga produktivitas kerja karyawan
meningkat, Gaya Kepemimpinan berpengaruh pada kepuasan kerja karyawan
apabila atasan mampu menerapkan gaya kepemimpinan yang baik kepada
karyawan maka karyawan akan merasa nyaman dan menjadi lebih giat dalam
bekerja dan dapat meminimalisir miss comunication dalam bekerja.
Lingkungan kerja yang baik sangat berpengaruh pada kepuasan kerja pada
karyawan, lingkungan kerja yang aman dan nyaman akan memberikan rasa
puas pada setiap karyawan. Pemberian kompensasi sangat berpengaruh
terhadap kepuasan kerja karyawan, pemberian kompensasi yang sesuai
dengan tugas atau jam lembur karyawan akan memberikan rasa puas pada
karyawan tersebut.
2.1.2 Kepuasan Kerja
1. Konsep Kepuasan Kerja
Rivai (2020), kepuasan kerja pada dasarnya bersifat individual. Setiap
individu mempunyai tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan
sistem nilai yang berlaku dalam dirinya. Makin tinggi penilaian terhadap
kegiatan dirasakan sesuai dengan keinginan individu, maka makin tinggi
kepuasannya terhadap kegiatan tersebut. Dengan kata lain, kepuasan
merupakan evaluasi yang menggambarkan seseorang atas perasaan sikapnya
senang atau tidak senang, puas atau tidak puas dalam bekerja. Hal yang
hampir sama juga dikemukakan oleh Kotler (2020) dimana kepuasan kerja
diartikan sebagai perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul
setelah membandingkan antara persepsi/kerjanya terhadap kinerja suatu
produk dan harapanharapannya. Anaroga (2019), kepuasan kerja adalah
perasaan seseorang terhadap pekerjaanya. Sedangkan definisi lain dari
kepuasan kerja menurut As’ad (2021) adalah suatu sikap positif yang
menyangkut penyesuaian diri yang sehat dari para karyawan terhadap kondisi
dan situasi kerja, termasuk didalamnya masalah upah, kondisi kerja, kondisi
sosial, kondisi fisik, dan psikologis. Kepuasan kerja merupakan penilaian dari
para pekerja, yaitu seberapa jauh pekerjaan dapat memenuhi kebutuhan.
2. Indikator Kepuasan Kerja
Robbins (2020) indikator dari kepuasan kerja terdiri dari:
1) Kepuasan terhadap pekerjaan itu sendiri
Tingkat dimana sebuah pekerjaan menyediakan tugas yang
menyenangkan, kesempatan belajar dan kesempatan untuk mendapatkan
tanggung jawab. Hal ini menjadi sumber mayoritas kepuasan kerja.
2) Kepuasan terhadap Gaji
Kepuasan kerja merupakan fungsi dari jumlah absolute dari gaji yang
diterima derajat sejauh mana gaji memenuhi harapan-harapan tenaga
kerja dan bagaimana gaji diberikan. Upah dan gaji diakui merupakan
faktor yang signifikan terhadap kepuasan kerja.
3) Kepuasan terhadap Kesempatan atau Promosi
Karyawan memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri dan
memperluas pengalaman kerja dengan terbukanya kesempatan untuk
kenaikan jabatan.
4) Kepuasan terhadap Supervisor
15
Kemampuan supervisor untuk menyediakan bantuan teknis dan perilaku
dukungan. Menurut Locke, hubungan fungsional dan hubungan
keseluruhan yang positif memberikan tingkat kepuasan kerja yang paling
besar dengan atasan.
5) Kepuasan terhadap Rekan Kerja
Kebutuhan dasar manusia untuk melakukan hubungan sosial akan
terpenuhi dengan adanya rekan kerja yang mendukung karyawan. Jika
terjadi konflik dengan rekan kerja maka akan berpengaruh pada tingkat
kepuasan karyawan terhadap pekerjaan.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja
Gilmer dalam As’ad (2020: 114), faktor kepuasan kerja antara lain:
maju, yaitu ada atau tidak adanya kesempatan dari perusahaan. Kesempatan
untuk usaha untuk memperoleh pengalaman dan peningkatan kemampuan
selama kerja.
1) Kesempatan untuk maju
Ada atau tidaknya kesempatan dari perusahaan untuk memperoleh
pengalaman dan peningkatan kemampuan selama kerja
2) Keamanan kerja
Keadaan yang aman akan sangat memengaruhi perasaan karyawan
selama bekerja.
3) Gaji
Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan jarang orang
mengekspresikan kepuasan kerjanya dengan sejumlah uang yang
diperolehnya. Jika gaji diberikan secara adil didasarkan pada tingkat
keterampilan, tuntutan pekerjaan, serta standar gaji untuk pekerjaan
tertentu, maka akan ada kepuasaan kerja.
4) Perusahaan dan manajemen
Perusahaan dan manajemen yang baik adalah yang mampu memberikan
situasi dan kondisi kerja yang stabil. Faktor ini menentukan kepuasan
kerja karyawan.
5) Pengawasan (supervisi)
Bagi karyawan, supevisor adalah seseorang yang diposisikan atau
dianggap sebagai figur ayah dan sekaligus atasan. Supervisi yang baik
dapat berakibat absensi dan turnover.
6) Faktor intrinsik dari pekerjaan
Atribut yang ada dalam pekerjaan mensyaratkan keterampilan tertentu.
Sulit dan mudahnya serta kebanggan atas tugas, akan meningkatkan
ataupun mengurangi kepuasan kerja.
7) Kondisi kerja
Kondisi kerja adalah keadaan dari lingkungan kerja, yaitu kondisi
tempat, ventilasi, penyinaran, kantin, dan tempat parkir.
8) Aspek sosial dalam pekerjaan
Keadaan sosial yang mengacu pada salah satu sikap dalam pekerjaan
yang dipandang sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak puas
dalam bekerja.
9) Komunitas
Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak manajemen
banyak digunakan sebagai alasan untuk menyukai jabatannya. Dalam hal
17
ini adanya kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar, memahami,
dan mengakui pendapat ataupun prestasi karyawan sangat berperan
dalam menciptakan rasa puas terhadap kerja.
10) Fasilitas
Fasilitas yang dimaksud adalah fasilitas penunjang dalam meningkatkan
kesejahteraan karyawan meliputi fasilitas kesehatan, cuti, dan pensiun,
atau perumahan yang merupakan standar suatu jabatan dan apabila dapat
dipenuhi akan menimbulkan rasa puas.
2.1.3 Gaya Kepemimpinan
1. Konsep Gaya Kepemimpinan
Gaya Kepemimpinan akan mempengaruhi kepuasan kerja karyawan
karena Gaya Kepemimpinan merupakan faktor eksternal yang dapat
mempengaruhi kinerja karyawan (Ananto, 2019). Perlakuan yang dapat
memotivasi, berkomunikasi baik dan dapat memberikan pengertian terhadap
bawahan merupakan aspek-aspek yang dapat memberikan kepuasan bagi
karyawan dalam melaksanakan ekerjaannya. Demikian sebaliknya apabila
pemimpin tidak dapat bersikap baik, otoriter, dan memberikan perintah yang
tidak sesuai dengan kondisi maka akan menumbuhkan ketidakpuasan dalam
bekerja. Pemimpin yang efektif dalam menerapkan gaya tertentu dalam
kepemimpinannya terlebih dahulu harus memahami siapa bawahan yang
dipimpinnya, mengerti kekuatan dan kelemahan bawahannya, dan mengerti
bagaimana cara memanfaatkan kekuatan bawahan untuk mengimbangi
kelemahan yang mereka miliki (Mariam, 2020).
Sebaliknya Gaya Kepemimpinan yang tidak disesuaikan dengan
karakteristik karyawan dan tugas yang ada, dapat mendorong karyawan
merasa kurang bersemangat dalam bekerja atau bahkan kehilangan semangat
kerja, sehingga menyebabkan karyawan tidak bersungguh sungguh dalam
bekerja dan perhatian yang tidak terpusat pada pekerjaan. Keadaan seperti ini
berpengaruh terhadap hasil pekerjaan yang tidak optimal, juga terabaikannya
kualitas dan kuantitas produksi. Tentu saja hal ini perlu mendapat perhatian
khusus, karena dapat mengganggu kelancaran kegiatan perusahaan.
Sedangkan Rivai (2019) menyatakan Gaya Kepemimpinan adalah
sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk memengaruhi bawahan agar
sasaran organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa gaya
kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang disukai dan sering
diterapkan oleh seorang pemimpin. Gaya kepemimpinan yang menunjukkan,
secara langsung maupun tidak langsung, tentang keyakinan seorang pimpinan
terhadap kemampuan [Link] gaya kepemimpinan adalah
perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan,
sifat, sikap, yang sering diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba
memengaruhi kinerja bawahannya.
2. Jenis-Jenis Gaya Kepemimpinan
Zulkifli (2019) mengidentifikasi empat jenis gaya kepemimpinan,
antara lain:
1) Gaya Kepemimpinan Kharismatik
Para karyawan terpacu kemampuan kepemimpinan yang heroic atau
yang luar biasa ketika mereka mengamati perilaku-perilaku tertentu
19
pemimpin mereka. Terdapat lima karakteristiK pokok pemimpin
kharismatik:
a) Visi dan artikulasi, seseorang memiliki visi ditujukan dengan sasarn
ideal yang mampu mengklarifikasi pentingnya visi yang dapat
dipahami orang lain.
b) Rasio personal, pemimpin kharismatik bersedia menempuh resiko
personal tinggi, menanggung biaya besar, dan terlibat ke dalam
pengorbanan diri untuk meraih visi.
c) Peka terhadap lingkungan, mereka mampu menilai secara realistis
kendala lingkungan dan sumber daya yang dibutuhkan untuk
membuat perubahan.
d) Kepekaan terhadap kebutuhan karyawan, pemimpin kharismatik
perseptif (sangat pengertian) terhadap kemampuan orang lain dan
responsive terhadap kebutuhan dan perasaan mereka.
e) Perilaku tidak konvensional, pemimpin kharismatik terlibat dalam
perilaku yang dianggap baru dan berlawanan dengan norma.
2) Gaya Kepemimpinan Transaksional
Pemimpin transaksional merupakan pemimpin yang memandu atau
memotivasi para karyawan mereka menuju sasaran yang ditetapkan
dengan memperjelas persyaratan peran dan tugas. Gaya kepemimpinan
transaksional lebih berfokus pada hubungan pemimpinbawahan tanpa
adanya usaha untuk menciptakan perubahan bagi bawahannya. Terdapat
empat karakteristik pemimpin transaksional:
a) Imbalan Kontigen
Kontrak pertukaran imbalan atas upaya yang dilakukan, menjanjikan
imbalan atas kinerja baik, mengakui pencapaian.
b) Manajemen berdasar pengecualian (aktif)
Melihat dan mencari penyimpangan dari aturan dan standar,
menempuh tindakan perbaikan.
c) Manajemen berdasar pengecualian (pasif)
Mengintervensi hanya jika standar tidak dipenuhi.
d) Laissez-Faire
Melepas tanggung jawab, menghindari pembuatan keputusan.
3) Gaya Kepemimpinan Transformasional
Pemimpin transformasional mengubah kesadaran para karyawan akan
persoalan- persoalan dengan membantu mereka memandang masalah
lama dengan cara - cara baru dan mereka mampu menggairahkan,
membangkitkan, dan mengilhami para karyawan untuk mengeluarkan
upaya ekstra demi mencapai sasaran kelompok. Terdapat empat
karakteristik pemimpin transformasional:
a) Kharisma: memberikan visi dan rasa atas misi, menanamkan
kebanggaan, meraih penghormatan dan kepercayaan.
b) Inspirasi: mengkomunikasikan harapan tinggi, menggunakan simbol
untuk memfokuskan pada usaha, menggambarkan maksud penting
secara sederhana.
c) Stimulasi intelektual: mendorong intelegensia, rasionalitas, dan
pemecahan masalah secara hati-hati.
21
d) Pertimbangan individual: memberikan perhatian pribadi, melayani
karyawan secara pribadi, melatih, dan menasehati.
4) Gaya Kepemimpinan Visioner
Kemampuan menciptakan dan mengartikulasikan visi yang realistis,
kredibel, dan menarik mengenai masa depan organisasi atau unit
organisasi yang tengah tumbuh dan membaik disbanding saat ini. Visi ini
jika diseleksi dan diimplementasikan secara tepat, mempunyai kekuatan
besar sehingga bisa mengakibatkan terjadinya lompatan awal ke masa
depan dengan membangkitkan ketrampilan, bakat, dan sumber daya
untuk mewujudkannya. Indikator Gaya Kepemimpinan Menurut Likret
(1961) memiliki empat indikator yaitu:
a) Pelaksanaan tugas
Pemimpin memerintah bawahannya untuk melaksanakan tugas dan
membuat semua keputusan yang berhubungan dengan kerja.
b) Memberi dukungan
Pemimpin memberi dukungan dengan memperhatikan kondisi kerja
bawahannya serta menciptakan situasi kerja yang nyaman bagi
bawahannya.
c) Mengutamakan hasil dari pada proses
Pemimpin menetapkan tujuan dan memberikan perintah setelah hal
itu di diskusikan terlebih dahulu dengan bawahan. Bawahan dapat
membuat keputusan-keputusan mereka sendiri tentang cara
pelaksanaan tugas.
d) Memberi petunjuk
Pemimpin memberikan petunjuk kepada bawahan untuk
menyelesaikan pekerjaannya. Pemimpin memberi bawahan berbagai
fleksibilitas untuk melaksanakan tugas-tugas mereka dalam batas-
batasdan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan.
3. Indikator Gaya Kepemimpinan
Indikator Gaya Kepemimpinan menurut Likret (1961) memiliki empat
indikator yaitu:
1) Pelaksanaan tugas
Pemimpin memerintah bawahannya untuk melaksanakan tugas dan
membuat semua keputusan yang berhubungan dengan kerja.
2) Memberi dukungan
Pemimpin memberi dukungan dengan memperhatikan kondisi kerja
bawahannya serta menciptakan situasi kerja yang nyaman bagi
bawahannya.
3) Mengutamakan hasil dari pada proses
Pemimpin menetapkan tujuan dan memberikan perintah setelah hal itu di
diskusikan terlebih dahulu dengan bawahan. Bawahan dapat membuat
keputusan-keputusan mereka sendiri tentang cara pelaksanaan tugas.
4) Memberi petunjuk
Pemimpin memberikan petunjuk kepada bawahan untuk menyelesaikan
pekerjaannya. Pemimpin memberi bawahan berbagai fleksibilitas untuk
melaksanakan tugas mereka dalam batas-batasdan prosedur -prosedur
yang telah ditetapkan.
23
4. Hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kepuasan kerja
Waworundeng et al., (2021) gaya kepemimpinan merupakan sifat atau
karakter yang dimiliki pemimpin untuk menggapai sasaran perusahaan.
Dalam sebuah perusahaan maupun organisasi, kepemimpinan dianggap
penting untuk memengaruhi bawahan agar mau berperilaku seperti apa yang
diinginkan oleh pemimpin, sehingga tujuan perusahaan dapat mudah tercapai.
Peran seorang pemimpin menjadi penting karena keefektifan organisasi
bergantung pada penerapan pola seorang pemimpin dalam memimpin
pegawainya. Pemimpin yang dapat konsisten dalam mempengaruhi pegawai
serta dapat menjadi teladan, maka dengan mudah pegawai akan
menyelesaikan tugas yang diberikan pemimpin, (Clinton et al, 2019). Selain
kemampuan pemimpin dalam mempengaruhi pegawai terdapat pola
pemimpin yang diterapkan, semakin baik pola dalam mengatur organisasi
maka kepuasan pegawai yang akan dihasilkan akan meningkat. Dapat
disimpulkan bahwa, apabila gaya kepemimpinan yang dihasilkan meningkat
maka kepuasan pegawai akan mengalami peningkatan.
2.1.4 Lingkungan Kerja
1. Konsep Lingkungan Kerja
Sudaryo (2019), lingkungan kerja ialah keseluruhan perkakas ataupun
benda-benda guna bekerja yang disambangi pada lingkungan sekeliling yang
mana pegawai tersebut bekerja. yang didapati, lingkungan sekeliling tempat
seorang individu bekerja, praktik kerjanya dan pengaturan kerja mau solo
ataupun kelompok. Handoko et al., (2021) lingkungan kerja adalah
lingkungan dimana karyawan melaksanakan pekerjannya. Lingkungan kerja
kondusif akan memberikan rasa kenyamanan bagi para karyawan yang
sedang bekerja. Hal ini memungkinkan para pekerja bisa bekerja secara
optimal.
Menurut Luthans (2019) lingkungan kerja adalah lingkungan di mana
pegawai melakukan pekerjaannya sehari-hari. Lingkungan kerja yang
kondusif memberikan rasa aman dan memungkinkan para pegawai untuk
dapat berkerja optimal. Lingkungan kerja dapat mempengaruhi emosi
pegawai. Jika pegawai menyenangi lingkungan kerja di mana dia bekerja,
maka pegawai tersebut akan bertahan di tempat kerjanya untuk melakukan
aktivitas sehingga. waktu kerja dipergunakan secara efektif dan optimas
prestasi kerja pegawai juga tinggi. Lingkungan kerja tersebut mencakup
hubungan kerja yang terbentuk antara sesama pegawai dan hubungan kerjaan
antara bawahan dan atasan serta lingkungan fisik tempat pegawai bekerja.
Penulis dapat menyimpulkan bahwa lingkungan kerja merupakan
segala sesuatu yang berada disekitar karyawan pada saat mereka bekerja, baik
berbentuk fisik maupun non fisik, secara langsung maupun tidak langsung,
yang dapat memengaruhi diri seorang karyawan dan pekerjaan mereka pada
saat bekerja. Dengan demikian, lingkungan kerja menjadi suatu hal yang
sangat penting untuk diperhatikan oleh perusahaan. Lingkungan kerja yang
tidak memadai akan dapat menurunkan kepuasan kerja, dan sebaliknya
lingkungan kerja yang baik dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawan.
2. Indikator Lingkungan Kerja
Indikator-indikator lingkungan kerja mengacu pada teori Afandi
(2020), yakni:
25
1) Pencahayaan
Karyawan akan lebih produktif jika cahaya yang dipancarkan cukup
tepat, sebab mereka akan bisa bekerja makin laju, membuat makin dikit
kekeliruan serta tidak mengalami kelelahan mata.
2) Warna
Warna adalah salah satu faktor yang paling signifikan guna memajukan
produktivitas kerja pekerja, terkhusus karena memengaruhi kondisi
mental pekerja. Melalui memanfaatkan warna yang sesuai di dinding dan
instrumen lainnya, kebahagiaan serta kedamaian lingkungan kerja
pegawai dapat terjaga.
3) Udara
Terkait aspek udara ini, berapa rata-rata suhu udara dan kandungan uap
air.
4) Suara
Untuk mengatasi kebisingan, penting untuk menempatkan alat-alat
dengan suara keras, seperti mesin tik telepon dan parkir sepeda motor. Di
ruangan tersendiri agar tidak mengganggu tugas karyawan lainnya.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Lingkungan Kerja
Aspek-aspek yang mampu memberikan sumbangan bagi keadaan
lingkungan kerja mengacu pada Sedarmayanti (2020) diantaranya:
1) Pencahayaan
Cahaya atau penerangan sangat penting untuk keselamatan dan
produktivitas karyawan. Oleh karena itu, penting untuk memastikan
adanya iluminasi (cahaya) yang terang namun tidak menyilaukan.
2) Temperatur atau suhu udara
Kondisi normal mendikte bahwa setiap bagian tubuh manusia memiliki
suhu yang bervariasi. Tubuh manusia selalu berusaha untuk menjaga
kondisi yang teratur dan sistem tubuh yang sempurna sehingga dapat
menyesuaikan diri dengan perubahan eksternal.
3) Kelembaban
Karena mekanisme penguapan, keadaan yang ditandai dengan suhu
udara yang sangat panas dan kelembaban yang tinggi akan
mengakibatkan penurunan suhu tubuh yang cukup besar. Dampak
lainnya adalah detak jantung yang lebih cepat sebagai akibat dari
peningkatan sirkulasi darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen tubuh,
dan tubuh manusia selalu berusaha untuk menjaga keseimbangan antara
panas tubuh dan suhu lingkungan.
4) Sirkulasi
Udara di sekitarnya dianggap tercemar jika kandungan oksigennya
berkurang dan mengandung polutan atau aroma yang berbahaya bagi
kesehatan manusia. Sumber utama udara segar di tempat kerja adalah
keberadaan tanaman. Merasa sejuk dan segar di tempat kerja dapat
membantu tubuh pulih dari kelelahan lebih cepat setelah bekerja.
5) Kebisingan
Kebisingan, yang merupakan suara yang tidak diinginkan, adalah salah
satu jenis polusi yang paling sulit dilawan oleh para profesional.
Pekerjaan menuntut fokus; dengan demikian, kebisingan harus
27
diminimalkan supaya pekerjaan bisa dilaksanakan secara manjur dan
produksi pekerjaan bisa tumbuh.
6) Getaran mekanis
Getaran mekanis mengacu pada getaran yang disebabkan oleh peralatan
mekanis, beberapa di antaranya mungkin memiliki konsekuensi negatif
pada karyawan.
7) Bau tidak sedap
Kehadiran aroma di tempat kerja dapat dianggap polusi karena fakta
bahwa hal itu dapat mengganggu perhatian dan bau yang terus-menerus
dapat merusak sensitivitas penciuman. Menggunakan "penyejuk udara"
yang tepat adalah salah satu metode untuk menghilangkan aroma yang
tidak sedap di tempat kerja.
8) Tata warna
Pada kenyataannya, skema warna dan tata letak dekorasi tidak dapat
dipisahkan. Sifat dan pengaruh warna kadang-kadang dapat
menimbulkan perasaan bahagia, sedih, dll., karena fakta bahwa warna
memiliki kapasitas untuk memicu emosi manusia.
9) Dekorasi
Dekorasi harus berurusan dengan perencanaan warna; Oleh karena itu,
dekorasi tidak hanya terkait dengan hasil kerja, tetapi juga bagaimana
tata letak, tata warna, peralatan, dan elemen lainnya diatur untuk
memudahkan pekerjaan.
10) Musik
Pendapat kaum ahli, musik lembut yang cocok akan lingkungan, waktu
dan lokasi bisa menginspirasi serta memotivasi orang agar bekerja.
11) Keamanan
Untuk menjaga lokasi dan keadaan tempat kerja dalam keadaan aman,
maka wajib memperhatikan keberadaannya. Satuan Petugas Pengamanan
dapat digunakan sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan tempat
kerja (SATPAM).
4. Hubungan antara lingkungan kerja dengan kepuasan kerja
Batilmurik (2020) bahwa lingkungan kerja mempunyai hubungan
terhadap kepuasan kerja karyawan. Hal ini berarti bahwa lingkungan kerja
yang baik, nyaman, kondusif, dan tepat akan meningkatkan atau memberikan
kepuasan kerja bagi karyawan. Lingkungan kerja itu sendiri bukan hanya dari
segi tempat kerja, kondisi suara atau biasa disbut lingkungan fisik melainkan
juga dapat berupa lingkungan kerja non fisik yaitu komunikasi antar
karyawan dimana apakah karyawan merasa nyaman berhubungan dan
berkomunikasi dengan karyawan yang atasan maupun karyawan yang lain
dan sebagainya.
2.1.5 Kompensasi
1. Konsep Kompensasi
Kompenasai dalam penelitian yang dilakukan Pasaribu et al., (2020)
menyatakan bahwa kompensasi merupakan segala bentuk pembayaran yang
diberikan kepada pegawai dalam bentuk langung seperti uang atau tidak
langsung dapat berupa tunjangan. Dalam pemberian kompensasi harus
29
memiliki prinsip keadilan, kewajaran, dan kesetaraan kepada seluruh pegawai
yang berhak mendapatkannya.
Syamsuriadi et al., (2021) kompensasi adalah segala pemasukkan
yang berupa uang, barang langsung atau tidak langsung bertujuan sebagai
imbal jasa yang diberikan kepada pegawai atas semua yang telah dilakukan
untuk perusahaan.
Penulis dapat menyimpulkan bahwa kompensasi adalah sesuatu yang
diterima pegawai sebagai pengganti kontribusi jasa pada organisasi dapat
berupa penghargaan pula atas melakukan tugas keorganisasian. Sehingga
pada dasarnya kompensasi merupakan imbal jasa yang diberikan organisasi
atas waktu, usaha, tenaga yang sudah pegawai berikan kepada organisasi yang
dapat berupa uang, barang langsung ataupun tidak langsung.
2. Bentuk-Bentuk Kompensasi
Nawawi (2020) Kompensasi dalam hal ini dapat dikategorikan kedalam
dua golongan besar yaitu:
a) Kompensasi langsung artinya adalah suatu balas jasa yang diberikan
perusahaan kedapa karyawan karena telah memberikan prestasinya demi
kepentingan perusahaan. kompasi ini diberikan, karena berkaitan secara
langsung dengan pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan tersebut.
Contohnya: upah/gaji, insentif/bonus, tunjangan jabatan.
b) Kompensasi tidak langsung adalah pemberian kompensasi kepada
karyawan sebagai tambahan yang didasarkan kepada kebijakan pimpinan
dalam rangka upaya meningkan kesejahteraan karyawan. Tentunya
kompensasi ini tidak secara langsung berkaitan dengan pekerjaan yang
dilakukan oleh karyawan tersebut. Contoh: tunjangan hari raya,
tunjangan kesehatan dan lain lain.
3. Faktor Yang Mempengaruhi Kompensasi
Faktor yang mempengaruhi kebijakan kompensasi menurut Hasibuan
(2019) antara lain:
a) Permintaan Dan Penawaran
Dalam prakteknya, hukum permintaan dan penawaran menghasilkan
upah yang ada. Apabila ada sesuatu yang mengakibatkan peningkatan
permintaan pengusaha terhadap karyawan maka akan terjadi
kecenderungan penigkatan kompensasi dan sebaliknya.
b) Serikat-Serikat Buruh
Meningkatkan serikat buruh sebagian dikarenakan kenyataan bahwa
pentingnya para karyawan belum mendapatkan perhatian yang sama
dengan yang diberikan kepada komponen lain dari perusahaan.
c) Kemampuan Untuk Membayar
Jika perusahaan makmur dan mampu membayar maka akan ada
kecenderungan untuk menawarkan harga yang lebih tinggi pada tenaga
kerja secara keseluruhan.
d) Produktivitas
Menggunakan indeks produktivitas yang tersebar luas sebagai
pemecahan dalam kompensasi.
e) Biaya Hidup
Penyesuaian kompensasi dengan biaya hidup bukan penyelesaian
fundamental untuk kompensasi yang wajar.
31
f) Pemerintah
Pemerintah menetapkan undang-undang standar perburuhan yang
menentukan gaji minimum dan hasil kerja standar untuk semua
perusahaan.
4. Indikator Kompensasi
Dalam pemberian kompensasi kepada karyawan, perusahaan harus
memperhatikan indikator dari kompensasi tersebut. Adapun indikator dari
kompensasi menurut Martoyo (2020) adalah:
a) Kebenaran dan Keadilan
Hal ini mengandung pengertian bahwa pemberian kompensasi kepada
masing-masing karyawan atau kelompok karyawan harus sesuai dengan
kemampuan, kecakapan, pendidikan dan jasa yang telah ditunjukkan
kepada organisasi. Dengan demikian tiap karyawan merasakan bahwa
organisasi telah menghargai jasanya.
b) Dana Organisasi
Kemampuan organisasi untuk memberikan kompensasi baik berupa
financial atau nonfinancial amat tergantung kepada dana yang terhimpun
untuk keperluan tersebut. Terhimpunnya dana tersebut tentunya juga
sebagai akibat prestasi-prestasi kerja yang telah ditunjukkan oleh
karyawan-karyawannya. Makin besar prestasi kerja, makin besar
keuntungan organisasi/perusahaan, makin besar dana yang terhimpun
untuk kompensasi maka makin baik pelaksanaan kompensasi dan begitu
pula sebaliknya.
c) Serikat Karyawan
Para karyawan yang tergabung dalam suatu serikat karyawan dapat juga
memperngaruhi pelaksanaan ataupun penetapan kompensasi dalam
organisasi, sebab suatu serikat karyawan dapat berupa simbol kekuatan
karyawan dalam menuntut perbaikan kesejahteraan/nasib yang perlu
mendapat perhatian atau perlu diperhitungkan oleh pihak manajemen/
pemimpin organisasi.
d) Produktivitas Kerja
Produktivitas kerja karyawan merupakan faktor yang mempengaruhi
penilaian atas kinerja kerja karyawan. Sedang kinerja kerja karyawan
merupakan faktor yang diperhitungkan dalam penetapan kompensasi.
Karena itu produktivitas kerja karyawan memberikan kontribusi besar
dalam penentuan pemberian kompensasi.
e) Biaya Hidup
Penyesuaian besarnya kompensasi terutama yang berupa upah/gaji
dengan biaya hidup karyawan beserta keluarganya sehari-hari harus
mendapatkan perhatian pimpinan organisasi/perusahaan. Namun
demikian cukup sulit pula dalam pelaksanaannya karena biaya hidup
seseorang sehari-hari sangat relatif sifatnya karena tidak ada ukuran yang
pasti seberapa besar hidup yang layak itu.
f) Pemerintah
Fungsi pemerintah untuk melindungi warganya dari tindak
sewenangwenang pimpinan organisasi ataupun perusahaan PT. Tirta
Investama Aqua Mambal dalam pemberian balas jasa karyawan, jelas
33
berpengaruh terhadap penetapan kompensasi. Karena pemerintah yang
ikut menentukan upah minimum ataupun jumlah jam kerja karywan baik
karyawan pria ataupun wanita, dewasa ataupun anak-anak pada batasan.
5. Hubungan Kompensasi Terhadap Kepuasan Kerja
Pasaribu et al., (2020) menyatakan bahwa kompensasi merupakan
segala bentuk pembayaran yang diberikan kepada pegawai dalam bentuk
langung seperti uang atau tidak langsung dapat berupa tunjangan. Dalam
pemberian kompensasi harus memiliki prinsip keadilan, kewajaran, dan
kesetaraan kepada seluruh pegawai yang berhak mendapatkannya. Selain itu,
kompensasi adalah sesuatu yang diterima pegawai sebagai pengganti
kontribusi jasa pada organisasi dapat berupa penghargaan pula atas
melakukan tugas keorganisasian. Sehingga pada dasarnya kompensasi
merupakan imbal jasa yang diberikan organisasi atas waktu, usaha, tenaga
yang sudah pegawai berikan kepada organisasi yang dapat berupa uang,
barang langsung ataupun tidak langsung. Adanya kompensasi yang diberikan
suatu organisasi terhadap pegawai suatu bentuk dari menghargai prestasi
kerja, selain itu juga dapat berpengaruh terhadap kepuasan pegawai dengan
mendapatkan kompensasi yang memadai serta sesuai dengan beban kerja
yang diberikan.
2.2 Penelitian Sebelumnya
2.2.1 Pengaruh Gaya Kepemimpinan Terhadap Kepuasan Kerja
Syamsuriadi et al., (2021) meneliti tentang Pengaruh Gaya
Kepemimpinan, Lingkungan Kerja Dan Kompensasi Terhadap Kinerja
Dosen Tetap Universitas Tomakaka Mamuju. Metode penelitian
menggunakan metode total sampling dan jenis penelitian kuantitatif. Sampel
yang digunakan berjumlah 119 responden. Hasil penelitian mengungkapkan
bahwa gaya kepemimpinan memiliki pengaruh poitif terhadap kinerja
pegawai, lingkungan kerja memiliki pengaruh positif terhadap kinerja
pegawai serta kompensasi juga memiliki pengaruh positif terhadap kinerja
pegawai Dosen Tetap Universitas Tomakaka Mamuju.
Tanjung et al., (2021) meneliti Pengaruh Gaya Kepemimpinan,
Lingkungan Kerja, Beban Kerja Dan Kompensasi Terhadap Kinerja
Karyawan Lamoist Layer Cake. Metode penelitian ini termasuk penelitian
kuantitatif deskriptif dengan sampel 65 responden serta menggunakan
metode sampling total. Hasil penelitian mengungkapkan varibel gaya
kepemimpinan memiliki pengaruh positif signifikan terhadap kinerja,
lingkungan kerja berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja, dan
kompensasi berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja karyawan
Karyawan Lamoist Layer Cake.
Sadariah (2019). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh
gaya kepemimpinan terhadap kepuasan kerja karyawan dan kinerja karyawan
pada Perusahaan Kargo Bandara Internasional Hasanuddin Makassar.
Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis SEM
(Structural Equation Modeling) dengan bantuan program AMOS 18.0
(Analisis Struktural Momen). Jumlah sampel dalam penelitian sebanyak 162
hasil dan analisis sampel juga terdapat kata “minimal tercapai”. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa: gaya kepemimpinan berpengaruh
signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan, gaya kepemimpinan
35
berpengaruh Tidak signifikan terhadap kinerja karyawan dan kepuasan kerja
karyawan signifikan terhadap kinerja karyawan businees di Cargo Bandara
Internasional Hasanuddin Makassar.
Asrori et al., (2020). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
pengaruh langsung dan tidak langsung gaya kepemimpinan transformasional
terhadap kepuasan kerja. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
pegawai Kantor Setda Pasuruan Indonesia yang berjumlah 170 orang. Sebuah
kuesioner dibagikan kepada populasi ini, dan 151 kuesioner dikembalikan,
sehingga menghasilkan tingkat tanggapan sebesar 88,82%. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa: 1) Ada pengaruh langsung, positif dan signifikan gaya
kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja; 2) Ada pengaruh
langsung, positif dan signifikan gaya kepemimpinan transformasional
terhadap trust-inleader; 3) Terdapat pengaruh langsung, positif dan signifikan
trust-inleader terhadap kepuasan kerja; 4) Trust-in-leader memediasi
pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap kepuasan kerja.
Mengingat semua temuan ini, penelitian ini tidak hanya memiliki implikasi
yang baik pada praktik tetapi juga literatur tentang pengaruh gaya
kepemimpinan transformasional dan kepercayaan-in-pemimpin terhadap
kepuasan kerja. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi
yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh Kantor Setda Kota Pasuruan
Indonesia dalam memutuskan untuk meningkatkan kepuasan kerja karyawan.
Penelitian Adnyani (2020) yang berjudul “Pengaruh Gaya
Kepemimpinan dan Budaya Organisasi terhadap Kepuasan kerja karyawan”
Pada Slippery Restaurant and Bar. Variabel yang digunakan adalah variable
independent: Gaya Kepemimpinan, dan Budaya Organisasi, variabel
dependen: Kepuasan Kerja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gaya
kepemimpinan berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja karyawan.
2.2.2 Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kepuasan Kerja
Siagian & Khair, (2018) meneliti Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan
Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan dengan Kepuasan Kerja
sebagai Variabel Intervening Pada PT. PLN (Persero) Unit Induk
Pembangunan Sumatera Utara. Metode penelitian ini termasuk penelitian
kuantitatif yang bersifat korelasi dengan sampel 103 responden serta
menggunakan metode sampel jenuh. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa
gaya kepemimpinan berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan serta
lingkungan kerja juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja
karyawan PT. PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Utara.
Rini Astuti et al.,(2019). Tujuan penulis melakukan penelitian untuk
pengaruh kepemimpinan dan lingkungan kerja terhadap kepuasan kerja
karyawan pada PT. Sarana Agro Nusantara Medan. Sampel penelitian ini
sebanyak 45 responden yang merupakan karyawan dari PT. Sarana Agro
Nusantara Medan. Data penelitian ini dikumpulkan melalui kuesioner yang
diproses dan dianalisis dengan menggunakan Regresi Berganda. Metode
pengambilan sampel penelitian ini menggunakan metode sampling jenuh. Uji
kualitas data yang digunakan adalah uji validitas dengan menggunakan
Corrected Item Total dan uji reabilitas menggunakan Cronbach Alpha. Untuk
uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji t, uji F dan uji determinasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif variabel
37
kepemimpinan terhadap kepuasan kerja karyawan yang ditunjukkan thitung
6.716 > ttabel 1,68 10 dengan nilai signifikan 0,000 < 0,05, terdapat pengaruh
positif variabel lingkungan kerja terhadap variabel kepuasan kerja karyawan
yang ditunjukkan thitung 2.071 < ttabel 1,68 dengan nilai signifikan 0,045 <
0,05, dan untuk kepemimpinan dan lingkungan kerja mempunyai pengaruh
signifikan terhadap kepuasan kerja karyawan dengan nilai Fhitung (88.919)
> Ftabel (3.20) dengan tingkat signifikasi 0.000. Selanjutnya nilai R Square
yaitu sebesar 0,800 atau 80% yang artinya pengaruh kepemimpinan dan
lingkungan kerja terhadap kepuasan kerja karyawan.
Kusumadewi et al., (2020). Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan
menganalisis hubungan antara gaya kepemimpinan, lingkungan kerja,
kepuasan kerja dan kinerja karyawan. Penelitian ini dilakukan di PT. Khrisna
Multi Lintas Cemerlang dengan populasi penelitian adalah seluruh karyawan
yang bekerja di perusahaan. Semua data yang diperoleh dari kuesioner layak
untuk digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, lingkungan
kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, gaya
kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja,
lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan. berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kepuasan kerja dan kepuasan kerja terhadap kinerja
karyawan.
Studi yang dilaksanakan Firmansyah (2019) dengan judul ”Pengaruh
Lingkungan Kerja, Kompensasi dan Kepemimpinan terhadap Kepuasan
Kerja Guru dan Karyawan di SMA Wachid Hasyim Surabaya”. Variabel yang
digunakan adalah Lingkungan Kerja, Kompensasi, Kepemimpinan, dan
Kepuasan Kerja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara bersama-
sama variabel lingkungan kerja, kompensasi dan kepemimpinan mempunyai
pengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja guru dan karyawan yang
ditunjukkan oleh nilai F hitung sebesar 52,062 dengan tingkat signifikan
sebesar 0.000 yang berarti bahwa kepuasan guru dan karyawan dipengaruhi
oleh lingkungan kerja, kompensasi dan kepemimpinan.
Penelitian yang dilakukan oleh Sudiarditha (2020) yang berjudul
”Pengaruh Lingkungan Kerja, Kompensasi dan Komitmen Organisasi
terhadap Kepuasan Kerja Karyawan di RS.X”. Variabel dalam penelitian ini
adalah Lingkungan Kerja, Kompensasi, Komitmen Organisasi dan Kepuasan
Kerja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Lingkungan Kerja,
Kompensasi dan Komitmen Organisasi berpengaruh positif terhadap
Kepuasan Kerja Karyawan.
Penelitian yang dilakukan oleh Fauziah (2019), dengan judul
“Hubungan Lingkungan Kerja dan Motivasi Terhadap Kepuasan Kerja Guru
di SMK Negeri 1 Yogyakarta”. Responden dalam penelitian ini adalah
seluruh guru SMK Negeri 1 Yogyakarta yang berjumlah 54 orang guru. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa: 1) terdapat hubungan positif antara
lingkungan kerja guru dengan kepuasan kerja guru di SMK Negeri 1
Yogyakarta yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0,559 dan r
parsial sebesar 0,377, 2) Terdapat hubungan positif antara motivasi kerja
dengan kepuasan kerja guru di SMK Negeri 1 Yogyakarta yang ditunjukkan
dengan koefisien korelasi sebesar 0,609 dan r parsial sebesar 0,459, 3)
39
Terdapat hubungan positif antara lingkungan kerja dan motivasi secara 32
bersama-sama terhadap kepuasan kerja guru di SMK Negeri 1 Yogyakarta
yang dibuktikan dari nilai koefisien korelasi (R) 0,700 dan koefisien
determinasi (R2 ) 0,490. Variabel lingkungan kerja dan motivasi kerja
mempunyai hubungan positif terhadap kepuasan kerja guru. Berdasarkan
hubungan positif tersebut menginformasikan bahwa makin baik lingkungan
kerja dan motivasi kerja guru menjadikan kepuasan kerja guru.
2.2.3 Pengaruh Kompensasi Terhadap Kepuasan Kerja
Pasaribu et al., (2020) meneliti Pengaruh Gaya Kepemimpinan,
Disiplin Kerja Dan Kompensasi Terhadap Kinerja Pegawai Kelurahan
Pisangan Ciputat. Metode penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif
dengan metode pengambilan sampel jenuh, serta jumlah responden sebanyak
50 responden. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa variabel gaya
kepemimpinan dan kompensasi berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai
Kelurahan Pisangan Ciputat.
Review penelitian pertama yang dilakukan oleh Yulianita (2019)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompensasin terhadap
kepuasan kerja karyawan pada PT. Gemilang Utama Ideal Palembang.
Populasi adalah seluruh karyawan perusahan yang bekerja pada PT.
Gemilang utama Ideal Palembang, sampel diambil dengan menggunakan
metode purposive sampling dnegan jumlah sampel sebanyak 50.. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kompensasi yang
signifikan terhadap kepuasan kerja pada PT. Gemilang Utama Ideal Palemban
dengan signifikansi 0,070 dan variabel yang paling dominan mempengaruhi
nilai perusahaan adalah variabel kompensasi.
Calvin et al., (2019). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menyelidiki dampak kompensasi, tunjangan pada kepuasan kerja di antara
staf akademik di lembaga pendidikan yang lebih tinggi dalam konteks Afrika
Selatan. Terdapat kekurangan dalam penelitian yang secara khusus
menyelidiki hubungan antara kompensasi, tunjangan dan kepuasan kerja
dalam institusi pendidikan tinggi secara nasional. Bahan dan Metode:
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif untuk menyelidiki
pengaruh penghargaan terhadap daya tarik dan retensi bakat. Pendekatan
menghasilkan hipotesis penjelas digunakan dan desain survei digunakan
untuk mengumpulkan data melalui kuesioner semi-terstruktur. Sampel
sebanyak 279 staf akademik, yang merupakan total populasi peserta dipilih
untuk penelitian ini. Hasil: Kompensasi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kepuasan kerja (p = 0,263). Selain itu, tidak terdapat pengaruh yang
signifikan antara manfaat dan kepuasan kerja. Oleh karena itu, hanya
kompensasi yang secara signifikan memprediksi kepuasan kerja di antara staf
akademik.
Mahendrawan et al., (2019). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh beban kerja dan kompensasi terhadap kepuasan kerja.
Penelitian ini mengambil lokasi di PT. Panca Dewata Denpasar dengan
jumlah responden sebanyak 47 orang karyawan. Teknik analisis data yang
digunakan untuk menguji hipotesis adalah analisis regresi linear berganda
untuk mengetahui pengaruh variabel beban kerja dan kompensasi terhadap
41
variabel kepuasan kerja. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa
variabel beban kerja berpengaruh negatif terhadap kepuasan kerja karyawan
PT. Panca Dewata sedangkan variabel kompensasi berpengaruh positif
terhadap kepuasan kerja PT. Panca Dewata dan juga menghasilkan bahwa
variabel kompensasi memberi pengaruh yang lebih besar dibandingkan
dengan variabel beban kerja.
Studi yang dilakukan Surya et al.,(2020) yang berjudul ”Pengaruh
kompensasi, lingkungan kerja dan promosi jabatan terhadap kepuasan kerja”.
Variabel yang digunakan variabel independen: Kompensasi, lingkungan kerja
dan promosi Variable dependen: Kepuasan kerja. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kompensasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kepuasan kerja karyawan pada PT. Telkom.
Studi yang dilaksanakan oleh Indrawati (2019) yang berjudul
“Pengaruh beban kerja dan kompensasi terhadap kepuasan kerja pada PT.
pancan Dewata Denpasar”. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah variabel independen: Beban kerja dan kompensasi Variable dependen:
Kepuasan kerja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beban kerja
berpengaruh negatif terhadap kepuasan kerja dan kompensasi berpengaruh
positif terhadap kepuasan kerja.