Puisi Lama :
Mantra :
Bunga kembang siang hari,
Siapa menyentuh hatiku ini,
Dengan cinta datang kembali,
Ikatan jiwa takkan pergi.
Pantun :
Jalan-jalan ke pasar pagi,
Membeli buah mangga yang ranum.
Kalau ingin hati berseri,
Berbuat baik sepanjang umur.
Karmina :
Hati-hati main layangan,
Salah tarik jadi buangan.
Gurindam :
Barang siapa suka menunda,
Jangan berharap hidup mulia.
Seloka :
Orang tamak selalu ingin,
Harta dunia dikejar-kejar.
Namun akhirnya ia sedih,
Hidup kosong penuh hambar.
Syair :
Hidup sejahtera dalam kesederhanaan,
Tak perlu harta menumpuk berlebihan,
Yang utama adalah kedamaian,
Hati tenteram penuh keimanan.
Talibun :
Pergi ke hutan membawa parang,
Mencari kayu di pagi hari.
Burung berkicau terbang ke sana.
Jika hidup ingin tenang,
Belajar ikhlas penuh hati,
Saling menyayangi sesama kita.
Puisi Modern :
Balada :
"Di tepi hutan, di bawah bulan,
Sang pahlawan bertemu ajal,
Pertarungan antara hidup dan mati,
Demi membela kaum kecil dan lemah."
Himne :
"Tanah airku, tempat tumpah darah,
Dalam damai dan kasih bersemayam,
Kepada-Mu, kami haturkan doa,
Agar selamanya engkau berjaya."
Ode :
"Oh cahaya pagi yang menawan,
Menyinari bumi dengan penuh kasih,
Menghangatkan hati dan jiwa,
Kau keindahan yang abadi."
Epigram :
"Waktu berlari cepat tak henti,
Gunakanlah dengan hati-hati."
Romansa :
"Matamu adalah cermin hatiku,
Senyummu menghapus gelisahku,
Dalam pelukmu kutemukan,
Kedamaian dan cinta abadi."
Elegi :
"Bunga mekar kini telah layu,
Angin membawa pergi harumnya,
Engkau yang kukasihi telah tiada,
Tinggal kenangan yang mengiringi."
Satire :
"Negeri ini kaya dan indah,
Namun kerakusan membuatnya lelah,
Pemimpin duduk berpangku tangan,
Rakyat kecil ditinggal kesusahan."
Distikon :
"Hidup adalah perjalanan singkat,
Waktu berlalu tanpa dapat diulang."
Terzina :
"Malam sunyi tanpa suara,
Hanya bintang menemani,
Jiwa tenang tanpa duka."
Kuatrain :
"Langit biru luas terbentang,
Awan putih menghias indah,
Angin lembut berbisik tenang,
Alam penuh damai tak berubah."
Kuint :
"Di tepi pantai kumenanti,
Ombak bergulung riuh rendah,
Angin membelai tanpa henti,
Membawa rinduku yang membuncah,
Pada yang jauh di seberang."
Sektet :
"Di hutan yang hijau menawan,
Kicau burung merdu bersahutan,
Daun-daun menari diterpa angin,
Menyambut pagi yang segar datang,
Alunan alam begitu damai,
Tenangkan hati yang penuh resah."
Septime :
"Pagi datang membawa harapan,
Cahaya matahari tembus kabut,
Di ujung cakrawala terlihat jelas,
Dunia terbuka bagi siapa pun,
Menjemput impian yang tersembunyi,
Membawa langkah lebih dekat,
Ke tujuan yang didamba."
Oktaf :
"Mentari bersinar dari ufuk timur,
Memberi cahaya pada yang gelap,
Embun di daun segera luruh,
Menghidupkan bumi dengan sejuknya.
Hari baru menjanjikan mimpi,
Pada tiap insan yang berani,
Menantang hidup dengan tegar,
Menggapai cita dalam langkah."
Soneta :
"Mentari pagi bersinar terang,
Alam tenang dalam keheningan,
Burung berkicau riang,
Menyambut hari penuh keindahan.
Namun hati tetap merasa sepi,
Meski dunia terasa ramai,
Mengingat dirimu yang jauh di sana,
Tak terobati segala luka.
Pagi berlalu datang senja,
Langit merah tanda perpisahan,
Harapan akan datangnya bahagia,
Menanti di hari yang tak pasti."