2.
4 Penulisan Kata
A. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
B. Kata Turunan
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
2. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan, atau akhiran, ditulis serangkai
dengan kata yang langsung mengikuti/mendahuluinya.
3. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus,
unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata
itu ditulis serangkai.
C. BentukUlang
Ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
D. Gabungan Kata
1. Gabungan kata biasa disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya
ditulis terpisah.
2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan
pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang
bersangkutan.
3. Gabungan kata berikut ditulis serangkai.
E. Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya
Ditulis serangkai dengan kata yang mendahului atau mengikutinya.
F. Kata Depan di, ke, dan dari
Apabila menunjuk kata tempat, ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
G. Partikel
1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulisserangkaidengan kata yang mendahuluinya.
2. Partikel pun ditulis terpisahdari kata yang mendahuluinya.
3. Partikel per yang berarti 'mulai', 'demi', dan 'tiap' ditulis terpisah dari bagian kalimat
yang mendahului/mengikutinya.
H. Tanda Petik
Tanda petik unggal ('...') digunakan untuk:
a. Mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
b. Mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing
2.5 PENULISAN KATA SERAPAN
Dalam penulisan unsur serapan dalam bahasa Indonesia, sebagian ahli bahasa
Indonesia menganggap belum stabil dan konsisten. Dikatakan demikian karena pemakai
bahasa Indonesia sering begitu saja menyerap unsur asing tanpa memperhatikan aturan,
situasi, dan kondisi yang ada. Pemakai bahasa seenaknya menggunakan kata asing tanpa
memproses sesuai dengan aturan yang telah diterapkan. Penulisan serapan yang benar
adalah tanpa adanya cetakan miring atau ditulis biasa saja sebagaimana tulisan bahasa
Indonesia yang lain. Namun jika itu bukan unsur serapan atau merupakan kata asing maka
harus ditulis dengan huruf miring.
Penyerapan unsur asing dalam pemakaian bahasa Indonesia dibenarkan, sepanjang:
Konsep yang terdapat dalam unsur asing itu tidak ada dalam bahasa Indonesia, dan
Unsur asing itu merupakan istilah teknis sehingga tidak ada yang layak mewakili dalam
bahasa Indonesia, akhirnya dibenarkan, diterima, atau di gunakan dalam bahasa Indonesia.
Sebaliknya, apabila dalam bahasa Indonesia sudah ada unsur yang mewakili konsep
tersebut, maka penyerapan unsur asing itu tidak perlu diterima.
Berdasarkan integritasnya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia dikelompokkan menjadi
2 bagian, yaitu:
1. Secara adapsi, yaitu apabila unsur asli diserap sepenuhnya secara utuh, baik tulisan
maupun ucapan, tidak mengalami perubahan. Contoh yang tergolong secara adopsi,
yaitu: editor, civitas, academica, de facto, bridge.
2. Secara adaptasi, yaitu apabila unsur asing itu sudah disesuaikan ke dalam kaidah
bahasa Indonesia, baik pengucapan maupun penulisannya. Salah satu contoh yang
tergolong secara adaptasi, yaitu: ekspor, material, sistem, atlet, manajemen,
koordinasi, fungsi.
2.6 SINGKATAN KATA DAN AKRONIM
1. Singkatan
Istilah singkatan ialah bentuk istilah yang tulisannya dipendekkan. Yang bermaksud
untuk mempermudah. Singkatan terbagi 4; yaitu:
1) Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda
[Link]: Dr. Bambang
2) Singkatan nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan,
badan/organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata
ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik. Contoh : DPR, PGRI
3) Singkatan umum yang terdiri dari tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
Tetapi, singkatan umum yang terdiri hanya dari dua huruf diberi tanda titik
setelah masing-masing huruf. Contoh :dll.
4) Lambang kimia, singkatan satuan ukur, takaran, timbangan, dan mata uang asing
tidak diikuti tanda titik. Contoh : Cu (kuprum)
2. Akronim
Istilah akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku
kata, ataupun gabungan kombinasi huruf dan suku kata dari deret kata yang
diperlakukan sebagai kata.
1) Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis
seluruhnya dengan huruf kapital. Contoh: ABRI (Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia)
2) Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan
suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital. Contoh: Akabri
(Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).
3) Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun
huruf dan suku kata dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kecil. Contoh:
pemilu (pemilihan umum)
Contoh lain dari akronim yaitu:
laser (light amplification by stimulated emission of radiation)
radar (radio detectiang and ranging)
sonar (sound navigation ranging)
tilang (bukti pelanggaran)
2.7. ANGKA DAN LAMBANG BILANGAN
1. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan
lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M
(1.000)
2. Angka digunakan untuk menyatakan:
(i) ukuran panjang, berat, luas, dan isi (ii) satuan waktu (iii) nilai uang, dan (iv)
kuantitas
Misalnya:
0,5 sentimeter
5 kilogram
4 meter persegi
10 liter
1) Bilangan utuh
Misalnya:
dua belas
dua puluh dua
dua ratus dua puluh dua 12
2) Bilangan pecahan
Misalnya:
setengah
tiga perempat
seperenam belas
tiga dua pertiga
seperseratus
satu persen
satu dua persepuluh 1/2
6. Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang berikut.
Misalnya:
Paku Buwono X
pada awal abad XX
dalam kehidupan pada abad ke-20 ini
lihat Bab II, Pasal 5
dalam bab ke-2 buku itu
di daerah tingkat II itu
di tingkat kedua gedung itu
7. Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti
Misalnya:
tahun '50-an
uang 5000-an
lima uang 1000-an
(tahun lima puluhan)
(uang lima ribuan)
(lima uang seribuan)
8. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan
huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, sperti dalam
perincian dan pemaparan.
Misalnya:
Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang
memberikan suara blangko.
Kendaraan yang ditempah untuk pengangkutan umum terdiri atas 50 bus, 100
helicak, 100 bemo.
9. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan
kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua
kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.
Bukan:
15 orang tewas dalam kecelakaan itu.
Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.
10. Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya
lebih mudah dibaca.
Misalnya:
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.
11. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di
dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Misalnya:
Kantor kami mempunya dua puluh orang pegawai.
DI lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.
Bukan:
Kantor kamu mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.
Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.
12. Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Misalnya:
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp999,75 (sembilan ratus sembilan puluh
sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan puluh
sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.