0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan14 halaman

Meningkatkan Motivasi Belajar IPS Kelas 2

Diunggah oleh

Febri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan14 halaman

Meningkatkan Motivasi Belajar IPS Kelas 2

Diunggah oleh

Febri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SISTEMATIKA PROPOSAL PTK

MATA KULIAH – PENELITIAN TINDAKAN KELAS

UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA


DALAM PEMBELAJARAN IPS MELALUI PENERAPAN
METODE PROBLEM SOLVING PADA SISWA KELAS 2 SDN
MUMBULSARI 02 JEMBER

Tutor:

NANANG KUSWOYO, [Link]

Oleh:

DWI FEBRIANTO PRAWIRO DIHARJO

NIM 858914524

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS TERBUKA
UPBJJ JEMBER
2024.1

114
JUDUL PENELITIAN

Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran IPS Melalui


Penerapan Metode Problem Solving Pada Siswa Kelas 2 UPTD SATDIK SDN
Mumbulsari 02 Jember

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan ini, kita senantiasa berhadapan dengan berbagai masalah
dan pilihan sehingga dituntut untuk mampu berpikir secara kritis dan kreatif dalam
menyelesaikan suatu masalah. Itulah sebabnya mengapa siswa perlu dibiasakan
untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. IPS sebagai salah satu
mata pelajaran yang dipelajari di sekolah sangat penting dalam rangka
pembentukan manusia yang kreatif, kritis dan inovatif, serta menghargai nilai -nilai
perjuangan bangsa yang sasarannya lebih ditekankan pada pembentukan
pemahaman, kesadaran dan wawasan para siswa sebagai bekal kehidupan di masa
mendatang.
Melalui penerapan Metode Problem Solving dalam pembelajaran IPS, siswa
diharapkan dapat terlibat secara langsung dalam mencari dan menemukan masalah
serta memiliki kemampuan yang optimal dalam memecahkan masalah-masalah
yang ada.
Dalam kehidupan ini, kita senantiasa berhadapan dengan berbagai masalah
dan pilihan sehingga dituntut untuk mampu berpikir kritis dan kreatif. Itulah
sebabnya mengapa siswa perlu dibiasakan untuk mengembangkan kemampuan
tersebut, sehingga nantinya memudahkan siswa dalam memikirkan dan mencari
jalan keluar bagi masalah tersebut sebagai suatu proses penyelesaian akan suatu
masalah.
Kebanyakan kegiatan pembelajaran geografi dibangku sekolah dalam hal ini
kelas 2 SDN Mumbulsari 02 dirasakan siswa sebagai pelajaran yang sangat membosankan
dimana pelajaran geografi hanyalah pelajaran yang menceritakan kejadian-kejadian yang
tidak akan terjadi lagi yang biasanya menerangkan suatu tempat/ruang, waktu/tahun dan
nama-nama tokoh/pelaku yang harus diingat dan dihafal oleh siswa Selain itu
materi dalam pelajaran sejarah juga menerangkan tentang sejarah perkembangan
bangsa Indonesia yang berisikan banyak konsep - konsep, tahun penemuan, tempat
penemuan, pola hidup, hasil-hasil kebudayaannya, membuat peta persebarannya dan
mendeskripsikan perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia pada masa itu. Bahkan
ada sebagian siswa yang menganggap bahwa pelajaran IPS hanya pelajaran tambahan
yang tidak disertakan dalam Ujian Sekolah (US).
Berawal dari kondisi tersebut penelitian ini dilakukan, selain untuk
memperbaiki pola pembelajaran, juga diharapkan siswa dapat terlibat secara aktif
dan interaktif dalam proses pembelajaran geografi. Dengan demikian guru
diharapkan memiliki kemampuan dalam memilih, menentukan, dan menggunakan
metode pembelajaran yang mampu menciptakan situasi yang kondusif, sehingga
siswa dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran IPS. Dalam hal ini guru
memiliki peranan penting dalam rangka meningkatkan kemampuan siswa dalam
belajar.
Dengan demikian seorang guru diharapkan memiliki kemampuan untuk
menggunakan berbagai strategi dan pendekatan dalam kegiatan pembelajaran

115
geografi sehingga peranan guru dapat lebih maksimal dalam mencapai tujuan
pendidikan.
Berdasarkan latar belakang di atas peneliti berkeinginan untuk menerapkan
metode problem solving dalam upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis
siswa pada pembelajaran geografi.
B. Rumusan Masalah
Metode problem solving untuk meningkatkan motivasi siswa dalam
pembelajaran IPS merupakan masalah pokok dalam penulisan penelitian ini. Untuk
memfokuskan permasalahan, peneliti merumuskan dalam pertanyaan berikut ini :
1. Langkah-langkah apa saja yang diambil dalam mengembangkan perencanaan
metode problem solving dalam pembelajaran IPS di kelas 2 SDN Mumbulsari 02
2. Bagaimana pelaksanaan metode problem solving dalam meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran IPS di kelas 2 SDN
Mumbulsari 02.
3. Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa dalam metode problem solving
untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran
IPS di kelas 2 SDN Mumbulsari 02 Kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam
mengembangkan metode problem solving sebagai upaya peningkatan kemampuan
berpikir kritis siswa dalam pembelajaran IPS di kelas 2 SDN Mumbulsari 02
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang diharapkan dari penelitian ini adalah untuk
memperoleh gambaran dan mendapatkan sejumlah data-informasi mengenai
penerapan metode problem solving dalam pembelajaran IPS. Sedangkan tujuan
khususnya adalah sebagai berikut:
1. Menyusun serangkaian langkah-langkah yang diperlukan dalam
pengembangan perencanaan metode problem solving pada pembelajaran IPS
di kelas 2 SDN Mumbulsari 02.
2. Memperoleh gambaran peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dalam
pembelajaran IPS melalui penerapan metode problem solving di kelas 2 SDN
Mumbulsari 02.
3. Mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dalam penerapan metode problem
solving untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada mata pelajaran
IPS di kelas 2 SDN Mumbulsari 02.
4. Mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi dalam mengembangkan
metode problem soving dalam pembelajaran IPS di kelas 2 SDN Mumbulsari 02.
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Problem Solving
Metode mengajar adalah cara yang digunakan dalam mengimplementasikan
rencana yang sudah disusun untuk mencapai tujuan pengajaran secara optimal dan
diharapkan melalui metode yang baik akan tercipta suatu interaksi yang edukatif
antara guru dengan siswa. Menurut Sudjana dan Abdorrakhman, bahwa metode
mengajar yang baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan siswa untuk
belajar dan disinilah tugas dan tanggungjawab guru dalam memilih dan
menggunakan metode pengajaran yang tepat.
Menurut Sudirman dkk (1987:146)
Metode problem Solving adalaah cara penyajian bahan pelajaran dengan
menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan
disintesis dalam usaha mencari pemecahan masalah atau jawabannya oleh

116
siswa. Permasalahan itu diajukan diberikan kepada siswa, dari siswa bersama
guru, atau dari siswa sendiri, yang kemudian dijadikan pembahasan dan
dicari pemecahannya sebagai kegiatan pembelajaran siswa. Metode
pemecahan ini sering disebut pula problem solving method, reƒiective
thingking mehod, atau scientiƒic method.
Seperti yang dikemukakan oleh Killen dalam Lilis Sumini (2005), bahwa:
Masalah bisa juga diartikan sebagai situasi dimana terdapat beberapa
informasi yang diketahui dan informasi lain yang tidak diketahui dan
mengandung keraguan, ketidakpastian atau sesuatu yang sulit dimengerti.
Menurut Hayes, proses pemecahan masalah terdiri dari dua langkah, yaitu
memahami kesenjangan dan mencari jalan untuk menjembatani kesenjangan
tersebut (Hayes dalam Helgenson S.I 1992, dalam Habullah, 2000:10). Demikian
halnya mengenai pemecahan masalah dikemukakan Bell (1978), yang menyatakan
bahwa suatu situasi kesenjangan itu memerlukan tindakan, dan tindakan tersebut
dengan segera dapat menemukan pemecahannya.
B. Perencanaan dan Pedoman Metode Problem Solving
Belajar menggunakan metode problem solving merupakan sebuah cara belajar
yang menggunakan masalah sebagai inti pembelajaran. Belajar tidak lagi
dipandang sebagai proses menerima informasi untuk disimpan di memori siswa
yang diperoleh melalui pengulangan praktek (latihan) dan penguatan saja. Namun
siswa belajar dengan mendekati setiap persoalan/tugas baru dengan pengetahuan
dan kemampuan yang telah ia miliki, dimana dalam penerapan metode problem
solving terlebih dahulu harus di buat perencanaan.
Polya dalam Lilis Sumini menyatakan ada 4 tahap yang harus dilakukan
untuk memecahkan masalah yaitu : 1) Memahami permasalahan 2) Membuat
perencanaan pelaksanaan 3) Melakukan suatu tindakan sesuai rencana yang di buat
dan 4) Memeriksa kembali hasil yang telah diperoleh.
C. Keunggulan dan Kelemahan Metode Problem Solving
Penggunaan metode problem solving dalam pelaksanaannya memiliki
kelebihan dan kekurangan, seperti yang diungkapkan oleh Syaiful Bahri.H dan
Aswan Zain (2006 : 92) yang diantaranya:
1. Kelebihan Metode Problem Solving
a. Metode ini dapat membuat pendidikan yang diperoleh siswa di sekolah
mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata, khususnya dunia kerja.
b. Proses belajar mengajar melalui pemecahan masalah dapat membiasakan
para siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil, apabila
menghadapi permasalahan di dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat,
dan bekerja kelak sebagai suatu kemampuan yang sangat bermakna dalam
kehidupan manusia.
c. Metode ini merangsang pengembangan kemampuan berpikir siswa secara
kreatif dan menyeluruh, karena dalam proses belajarnya siswa banyak
melakukan mental dengan menyoroti permasalahan dari berbagai segi dalam
rangka mencari pemecahannya.
2. Kekurangan Metode Problem Solving
a. Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat
berpikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan dan
pengenalan yang telah dimiliki siswa, sangat memerlukan keterampilan
guru.
b. Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode ini sering
memerlukan waktu yang cukup lama atau banyak dan sering terpaksa
mengambil waktu pelajaran lain.
117
c. Mengubah kebiasaan siswa belajar yang awalnya hanya sebatas
mendengarkan dan mencari informasi dari guru berubah menjadi belajar
dengan banyak berpikir dan memecahkan permasalahan sendiri atau
kelompok, yang kadang-kadang memerlukan berbagai sumber belajar, hal
inilah yang merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa.
D. Langkah-langkah Metode Problem Solving
Dalam pelaksanaannya metode problem solving ini harus sesuai dengan
tahapan ataupun langkah-langkah yang telah ditentukan, agar lebih efektif dan
tepat tujuan.
Ada beberapa langkah yang dilakukan yang dikemukakan oleh beberapa ahli
dalam menggunakan metode problem solving diantaranya :
Menurut Dewey dalam W. Gulo (2002:115) dimana menurut model ini
penyelesaian masalah dilakukan dalam enam tahap yaitu:
1. Merumuskan permasalahan
Siswa diharapkan mampu untuk mengetahui dan merumuskan masalah
secara jelas
2. Menelaah permasalahan
Siswa diharapkan mampu menggunakan pengetahuan untuk memperinci
dan menganalisis masalah dari berbagai sudut
3. Merumuskan hipotesis
Siswa diharapkan mampu untuk berimajinasi dan menghayati ruang
lingkup, sebab-akibat dan alternatif penyelesaian
4. Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuatan
hipotesis
Siswa diharapkan mampu memiliki kecakapan dalam mencari dan
menyusun data serta mampu menyajikan data dalam bentuk
diagram,gambar, tabel
5. Pembuktian hipotesis
Siswa diharapkan mampu memiliki kecakapan dalam menelaah dan
membahas data, kecakapan dalam menghubung-hubungkan dan
menghitung serta terampil dalam mengambil keputusan dan membuat
kesimpulan
6. Menentukan pilihan penyelesaian masalah
Siswa diharapkan mampu memiliki kecakapan dalam membuat alternatif
penyelesaian dan kecakapan menilai pilihan denganmemperhitungkan
akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan
E. Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis
1. Pengertian Berpikir Kritis
Setiap proses pembelajaran hendaknya mampu melatih aspek intelektual,
emosional dan keterampilan bagi siswa. Salah satu potensi tersebut adalah
kemampuan berpikir kritis yang harus dikembangkan oleh guru pada saat
pembelajaran. Menurut Sapriya dan Winataputra (2003: 196) berpikir kritis adalah
suatu proses berpikir yang mengemukakan penilaian dengan menerapkan norma
dan standar yang benar.
Sedangkan Zaleha Izhab (2003: 84) mengartikan bahwa:
Berpikir kritis adalah keterampilan yang menggunakan proses berpikir dasar
untuk menganalisis argument, memunculkan wawasan dan interpretasi ke
dalam pola penalaran yang logis, memahami asumsi dan bias yang mendasari
setiap posisi, memberikan model persentasi yang ringkas dan meyakinkan.

118
Menurut R. Swarz dan D.N. Perkins (1990) dalam Zaleha (2007: 86) berpikir
kritis berarti :
a. Bertujuan untuk mencapai penilaian yang kritis terhadap apa yang akan
kita terima aatau apa yang akan kita lakukan dengan alasan yang logis.
b. Memakai standar penilaian sebagai hasil dari berpikir kritis dalam
membuat keputusan.
c. Menerapkan berbagai strategi yang tersusun dan memberikan alasan untuk
menentukan dan menerapkan standar tersebut.
d. Mencari dan menghimpun informasi yang dapat dipercaya untuk dipakai
sebagai bukti yang dapat mendukung suatu penilaian.
2. Cara meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis
Seperti telah diungkapkan sebelumnya bahwa keterampilan berpikir itu dapat
dilatih dan dikembangkan. [Link] dalam Zaleha (2002: 95) mengemukakan
beberapa cara dan strategi dalam melatih siswa berpikir kritis diantaranya:
a. Membaca dengan kritis. Untuk berpikir kritis seseorang harus
membaca secara dengan kritis pula.
b. Meningkatkan daya analisis
c. Mengembangkan kemampuan observasi
d. Meningkatkan rasa ingin tahu, kemampuan bertanya dan refleksi
e. Metakognisi/memahami cara berpikir sendiri.
f. Mengamati model dalam berpikir kritis
g. Diskusi yang kaya
3. Ciri-ciri Berpikir Kritis
Untuk mengevaluasi apakah seseorang telah berpikir kritis sebenarnya sangat
sulit untuk diketahui karena berpikir kritis merupakan sesuatu yang abstrak.
Namun demikian untuk menilai kemampuan berpikir kritis siswa dapat dilihat
dalam diskusi dan berinteraksi dengan temannya.
Berikut ini ukuran dan kriteria seseorang dikatakan berpikir kritis menurut
L.M. Sartolli, (1989) dalam Zaleha,
a. Menghadapi tantangan demi tantangan dengan alasan-alasan
b. Memberikan contoh-contoh dan argumen yang berbeda dari yang sudah ada.
c. Mencari dan memaparkan hubungan antara masalah atau pengalaman lain
yang relevan
d. Menghubungkan masalah khusus yang menjadi subjek diskusi dengan
prinsip yang lebih bersifat umum
e. Menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang relevan dan beraturan
f. Meminta klarifikasi
g. Menanyakan sumber informasi
h. Berusaha untuk memahami
i. Mendengarkan dengan hati-hati
j. Mendengarkan agar pikiran terbuka
k. Berbicara dengan bebas
l. Bersikap sopan
m. Mencari dan memberikan ide dan pilihan variasi
4. Tujuan Pembelajaran IPS
Seperti yang dikemukakan oleh Isjoni (April 2007 : 41,85) bahwa tujuan
pembelajaran IPS pada satuan pendidikan adalah:
a. Memiliki kemampuan

119
1) Memiliki pengetahuan dan pemahaman peristiwa fenomena IPS yang
terjadi dilingkungan sekitar.
2) Memiliki kemampuan berpikir secara kritis yang dapat digunakan
untuk menguji dan memamfaatkan pengetahuan tentang sifat bumi,
menganalisi gejala alam dan penduduk.
3) Memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dapat digunakan untuk
mengkaji berbagai informasi yang sampai kepadanya guna menentukan
keabsahan informasi tersebut.
4) Memahami dan mengkaji setiap perubahan fenomena alam yang terjadi
dalam masyarakat di lingkungan sekitarnya serta digunakan dalam
mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
b. Memiliki kesadaran secara geografi dalam arti:
1) Memiliki kesadaran akan penting dan berharganya waktu untuk
dimanfaatkan sebaik-baiknya.
2) Kesadaran akan terjadinya perubahan fenomena geografi terus
menerus sepanjang kehidupan umat manusia serta lingkungannya.
3) Memiliki kemampuan mengidentifikasi gejala alam, dan penduduk
serta mempelajari corak khas kehidupan di bumi yang terkandung
dalam suatu peristiwa secara geografi.
4) Memiliki kemampuan keterampilan untuk mengamati tentang
lingkungan fisik, lingkungan social dan lingkungan binaan yang
terkandung di dalam pelajaran geografi.
5) Memiliki kemampuan kesadaran untuk menumbuhkan kesadaran
manusia terhadap fenomena geografi yang terjadi dilingkungan
mengembangkan rasa kepekaan terhadap permasalahan dalam
pemanfaatan kekayaan alam, serta mewujudkan rasa cinta tanah air.
6) Memiliki kemampuan dan kesadaran untuk tidak mengulangi lagi atau
menghindari dan meniadakan hal-hal yang bersifat negatif dalam
peristiwa fenomena alam yang terjadi dilingkungan sekitar.
c. Memiliki wawasan IPS (Geografi) dalam arti:
1) Memiliki wawasan wilayah tentang kelangsungan dan perubahan
(continuity and change) dalam geografi sebagai satu kesatuan tiga
dimensi waktu, masa yang lalu, masa sekarang, dan masa yang akan
datang.
2) Memiliki wawasan tentang aspek sebagai rangkaian kausalitas
sejarah.
3) Memiliki kemampuan belajar dari segi aspek keterampilan dan
pengetahuan tentang perubahan fenomena geografi dilingkungan
disekitar , melihat kenyataan sekarang dan mengutamakan pandangan
masa depan yang lebih maju dan bermutu baik.

METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti dalam
mengumpulkan data penelitiannya (Suharsimi Arikunto, 1997:15). Sedangkan
metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas
(PTK). Penelitian ini diharapkan dapat melihat dan memperbaiki proses
pembelajaran yang biasa digunakan guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
Wardani mengungkapkan bahwa: Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah
penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelas sendiri melalui refleksi diri
11
10
dengan tujuan memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa
dapat menjadi meningkat (2000:14).
B. Lokasi dan Subjek Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Tempat yang menjadi lokasi penelitian adalah kelas 2 SDN Mumbulsari
02
2. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa-siswi kelas 2 SDN
Mumbulsari 02, yang berjumlah 28 orang, yang terdiri dari 11 orang siswa laki-laki
dan 17 orang siswa perempuan.
C. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian dimulai dari tahap persiapan yang merupakan kegiatan -
kegiatan sebelum dimulainya penelitian dan dilanjutkan dengan tahap pelaksanaan
yang merupakan kegiatan-kegiatan pada saat penelitian berlangsung. Penelitian
dilakukan oleh peneliti bersama guru mitra.
Prosedur yang digunakan dalam penelitian ini mengembangkan sebagaimana
lazimnya salah satu bentuk penelitian dalam penelitian tindakan kelas yang
berbentuk siklus. Penelitian ini tidak hanya dilakukan dalam satu kali tetapi
dilakukan beberapa kali sehingga diperoleh data konkrit sebelum melangkah pada
siklus selanjutnya. Sebelum tahap-tahap suatu siklus dilaksanakan, terlebih dahulu
dilakukan observasi awal sebagai pendahuluan dengan tujuan untuk
mengidentifikasi masalah dan ide yang tepat dalam mengembangkan proses
pembelajaran di kelas.
D. Proses Pelaksanaan Penelitian
Penelitian berlangsung selama empat siklus, dimana dalam melakukan
penelitian digunakan beberapa instrumen yang berbeda dikarenakan masalah yang
diukur dalam penelitian juga berbeda. Setiap siklus merupakan kelanjutan dari
siklus sebelumnya. Kecuali siklus pertama dimana tindakan yang dilakukan dari
siklus tersebut berdasarkan data yang diperoleh dari hasil orientasi. Siklus terakhir
berakhir pada sebuah rekomendasi bagaimana penanganan selanjutnya dalam
memecahkan masalah yang terjadi di kelas.
E. Instrumen Penelitian
Keberhasilan penelitian tindakan banyak ditentukan oleh instrumen yang
digunakan, sebab data yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian
diperoleh melalui instrumen (Nana Sudjana dan Ibrahim, 1989:97).
Adapun instrumen penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Pedoman Observasi
Dalam melaksanakan observasi, penulis berpedoman pada pedoman
observasi yang telah disusun sebelum turun ke lapangan. Observasi dilakukan
sesuai dengan tindakan yang dilaksanakan dibantu oleh rekan penelitian.
Observasi dilakukan baik terhadap kegiatan siswa secara kelompok maupun
secara individu.
2. Pedoman Wawancara
Wawancara merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam
memperoleh informasi yang dapat diolah menjadi data-data. Wawancara
dilakukan terhadap beberapa siswa yang dipilih secara acak berdasar pada latar
belakang murid, sikap terhadap sesuatu, prestasi yang diraih.
3. Tes
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif dalam bentuk
esai dengan jumlah 3-4 butir yang dilakukan sesudah materi diberikan, tes
dilakukan tidak di setiap akhir pertemuan. Tujuan diadakan tes adalah untuk
120
mengetahui tingkat pencapaian siswa dalam memahami materi yang
disampaikan.
F. Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif
dan kuantitatif.
Dalam pengolahan dan analisis data, peneliti mengacu pada pola pengolahan
data dari Hopkins (1993:59), yang dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut:
1. Pengumpulan Data
Tahap ini merupakan tahap pengumpulan data mentah, dari data mentah
yang diperoeh melalui hasil wawancara, observasi, dan tes hasil belajar siswa.
Data yang diperoleh kemudian di olah dan diinterpretasikan.
2. Validasi Data
Dalam tahap ini dilakukan pengolahan data, agar data yang diperoleh
menjadi data yang valid. Validasi data berarti data yang diperoeh sesuai dengan
penelitian tindakan kelas sehingga memudahkan dalam penafsiran dan
pemahaman akan data yang diperoleh.
3. Interpretasi
Merupakan bentuk penafsiran peneliti terhadap data-data yang diperoleh
dari hasil observasi dengan berpedoman pada pengalaman masa lampau,
teori,nilai, dan kepercayaan yang dimiliki sebelumnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN


A. Deskripsi Umum Sekolah
Penelitian yang dilakukan terhadap siswa kelas 2 SDN Mumbulsari 02, ditujukan
untuk mendapatkan serangkaian data mengenai perkembangan yang dialami siswa
dalam pembelajaran sejarah. Pelaksanaan penelitian ini diawali dengan melakukan
orientasi situasi di Kelas 2 SDN Mumbulsari 02, dimana kegiatan ini bertujuan untuk
mengetahui situasi dan kondisi di dalam lingkungan sekolah yang diteliti. Dilihat dari
kondisi sekolah, keadaan Kelas 2 SDN Mumbulsari 02 sebagai tempat berlangsungnya
penelitian sangat menunjang bagi pengembangan kreativitas siswa di sekolah tersebut
karena didukung dengan adanya lahan sekolah yang cukup luas dimana terdapat
lapangan yang biasa digunakan untuk olahraga, upacara, dan kegiatan siswa lainnya.
Kelas 2 SDN Mumbulsari 02 merupakan kelas dengan jumlah siswa 28 orang,
dimana ruangan tersebut bersebelahan dengan kelas 1 yang menghadap ke arah timur.
Sebelum dilakukan penelitian, guru telah membagi siswa menjadi 4 kelompok yang
masing-masing kelompok berjumlah 6 orang, dimana posisi duduk maupun penempatan
siswa pada setiap kelompok ditentukan berdasarkan kriteria penilaian guru sejarah,
kemudian kelompok tersebut diberi nomor urut 1 sampai 4. Kelompok satu berada paling
kanan, kelompok dua berada di belakang kelompok satu, sedangkan kelompok tiga
berada di samping kelompok satu dan kelompok empat berada di belakang kelompok
tiga.
B. Analisis Hasil Penelitian
1. Langkah-langkah Metode Problem Solving dalam Pelajaran IPS di Kelas 2
SDN Mumbulsari 02.
Penerapan berbagai strategi dalam kegiatan belajar mengajar sangat
diperlukan dengan maksud menciptakan situasi belajar di dalam kelas yang
menyenangkan. Penerapan metode problem solving merupakan salah satu usaha
agar kegiatan belajar mengajar di kelas menyenangkan, selain itu tentunya
bertujuan meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa diajak untuk
memahami materi tentang Konsep wilayah dan pewilayah dengan menggunakan

121
metode problem solving dimana siswa lebih aktif ikut di dalam proses belajar
mengajar, tidak hanya selalu mendengarkan penjelasan dari guru.
Metode problem solving merupakan salah satu metode dalam pembelajaran
dimana dalam langkah ini siswa dituntut untuk dapat terlibat secara langsung dan
lebih aktif dalam proses pembelajaran, siswa pun di ajak untuk memahami materi
tidak hanya mendengarkan berbagai penjelasan dari guru saja tetapi juga
mempraktekan berbagai penjelasan dari guru atau pemahaman yang siswa ketahui
tentang Konsep wilayah dan pewilayah. Selain itu sesama siswa juga
diperbolehkan untuk berdiskusi dalam memecahkan suatu permasalahan atau
mencari suatu jawaban. Guru sangat berperan penting dalam upaya berhasilnya
suatu tindakan. Peneliti yang juga guru terlibat langsung dalam penilaian untuk
perbaikan proses belajar mengajar selanjutnya.
Metode problem solving merupakan salah satu metode dalam pelaksanaan
penelitian tindakan kelas yang dapat mengembangkan kemampuan siswa dalam
proses pembelajaran, sedangkan pengertian penelitian tindakan kelas itu sendiri
menurut Hopkins dalam Rochiati adalah sebagai berikut: Penelitian tindakan kelas
adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedr penelitian dengan tindakan
subtrantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha
seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlihat dalam s ebuah
proses perbaikan dan perubahan(2007:11).
Menurut Rochiati:
Penelitian tindakan kelas adalah bagaimana sekelompok guru dapat
mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari
pengalaman mereka sendiri. Mereka dapat mencoba suatu gagasan perbaikan
dalam praktek pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh nyata dari upaya itu
(2007:13).
Berdasarkan berbagai pendapat di atas, penelitian tindakan kelas merupakan
setiap tindakan yang dilakukan oleh guru yang juga peneliti dalam upaya
meningkatkan prestasi belajar siswa di dalam kegiatan belajar mengajar yang
tersusun melalui serangkaian persiapan atau rencana, tindakan atau aksi,
pengamatan atau observasi, dan cerminan atau refleksi, merupakan sebuah
penelitian tindakan kelas.
Penyusunan silabus dan rencana pengajaran disesuaikan dengan waktu yang
tersedia dan kondisi kelas. Pengadaan sarana atau media belajar diusahakan
selengkap mungkin agar dapat membantu terlaksananya penelitian dengan lancar.
Pengadaan buku baik untuk siswa maupun untuk guru diusahakan selengkap
mungkin agar terdapat banyak sumber bagi kegiatan belajar di kelas.
Pokok bahasan materi yang dibahas dalam tindakan penelitian adalah Konsep
wilayah dan pewilayah. Hasil yang diperoleh dari penelitian tindakan kelas adalah
lebih mengarah pada kualitaif, dimana objektifitas dari prestasi siswa dalam
kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi data hasil penelitian tindakan. Selain
itu penellitian yang bersifat kualitatif berlangsung dalam latar alamiah, tempat
kejadian dan perilaku manusia berlangsung. Selain itu peneliti merupakan salah
satu instrumen utama penelitian dalam pengumpulan data (Rochiati, 2007:10).
Dalam pelakasanaannya penerapan metode problem solving dalam pelajaran
Geografi, peneliti melakukan penelitian bersama guru mitra yang merupakan guru
mata pelajaran geografi di sekolah tempat penelitian berlangsung. Peneliti
bertindak sebagai Observer bertugas mengamati dan mencatat aktivitas guru dan
siswa selama proses pembelajaran berlangsung peneliti bersama guru mitra
mendiskusikan permasalahan yang ada pada tindakan yang baru dilaksanakan juga
solusi dari permasalahan yang ada pada tindakan yang baru dilaksanakan juga

122
solusi dari permasalahan yang muncul. Diskusi dan konsultasi yang dilakukan
dengan observer terus dilakukan sampai pelaksanaan penelitian berakhir.
Sementara itu dalam pelaksanaan tindakan siswa akan mendapat kesempatan yang
luas dalam kegiatan yang mengarahkan siswa akan mendapat kesempatan yang
luas dalam kegiatan yang mengarahkan siswa agar lebih paham terhadap materi
Konsep wilayah dan pewilayah, mampu menemukan dan memecahkan masalah
serta memilih alternatif permasalahan, tentunya semua itu tetap dalam pengarahan
atau petunjuk yang diberikan guru.
Penilaian yang digunakan dalam penerapan metode problem solving di kelas
2 SDN Mumbulsari 02 terdiri dari dua jenis yaitu penilaian pengamatan dan penilaian
hasil berlajar. Penilaian pengamatan diberikan terhadap aktivitas siswa selama
kegiatan belajar berlangsung baik menyimak, bertanya, menjawab, menyanggah,
mengidentifikasi masalah, membuat hipotesis sederhana dan lain - lain sedangkan
penilaian hasil belajar diambil dari nilai tes siswa dan tugas ya ng dilakukan siswa itu
sendiri.
Dalam proses penerapan metode problem solving, guru telah terlebih dahulu
mempersiapka meteri-materi yang diperlukan untuk memecahkan masalah baik
secara individu maupun kelompok. Masalah-masalah yang muncul dalam kegiatan
belajar mengajar yang diwujudkan diantaranya dengan pemberian tugas siswa
dimana siswa diminta mencari berbagai jawaban dari permasalahan yang
ditemukan siswa.
Sumber yang diperlukan dalam pemecahan masalah antara lain buku-buku
pelajaran dan artikel. Guru dibantu siswa mencari jalan keluar agar buku dan alat
bantu lainnya tersedia, cara yang diambil guru ini dipahami siswa dengan berusaha
untuk mengadakan buku sumber dan buku lainnya baik itu milik pribadi,
meminjamkan dari kakak kelasnya atau teman-temannya yang berbeda sekolah,
meminjam ke perpustakaan, dan sebagainya.
Dalam proses pengidentifikasian dan perumusan masalah, siswa selalu diberi
kesempatan oleh guru dalam setiap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan.
Identifikasi masalah yang salah satu kegiatan rutinnya adalah dengan memberi
tugas siswa untuk merumuskan masalah, memecahkan masalah dan menjawab
berbagai pertanyaan yang diberikan oleh guru maupun siswa. Siswa pun diminta
agar mampu menyampaikan hasil temuannya atau suatu kesimpulan sendiri
berdasarkan pemahamannya sendiri, hal ini merupakan suatu bentuk keterlibatan
yang akan diberikan kepada siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Pendekatan peranan yang melibatkan siswa dalam proses pemecahan masalah
selalu mengadakan tanya jawab setelah pembahasan suatu materi, jawaban -
jawaban dari siswa disertai penguatan dari guru diharapkan mampu meningkatkan
motivasi dalam memecahkan suatu masalah, sementara ini proses yang dilakukan
siswa dalam pencarian solusi ini masih tetap dalam pengarahan guru, sehingga
terlihat siswa mampu memecahkan masalah-masalah yang muncul atau mencari
jawaban dari berbagai pertanyaan yang telah direncanakan sebelumnya.
2. Hasil Belajar Siswa setelah Penerapan Metode problem solving Dalam
Pelajaran IPS di Kelas 2 SDN Mumbulsari 02.
Penerapan metode problem solving dalam pelajaran IPS di kelas 2 SDN
Mumbulsari 02, telah memperlihatkan peningkatan yang diraih siswa baik secara
prestasi belajar maupun dalam keaktifan dalam kegiatan belajar mengajar. Perolehan nilai
yang diraih siswa dalam kegiatan individu memperlihatkan peningkatan prestasi
belajar yang diraih siswa dalam setiap tindakan.

123
3. Kendala-Kendala yang Dihadapi oleh Guru dalam Penerapan Metode
Problem Solving pada Mata Pelajaran IPS di Kelas 2 SDN Mumbulsari 02.
Kendala-kendala yang dihadapi dalam penerapan metode problem solving
pada setiap tindakan terlepas dari kondisi yang ada di kelas baik itu dari kondisi
sekolah sebagai penyelenggara kegiatan belajar mengajar yang menyediakan
sarana belajar, kondisi guru dengan segala keterbatasannya sebagai pengelola
kelas, maupun dari siswanya sendiri sebagai subjek dalam kegiatan belajar
mengajar. Berbagai kendala yang dihadapi dalam kegiatan belajar di kelas
merupakan tantangan yang harus dihadapi dalam penerapan metode problem
solving dengan baik.
Keberhasilan dalam mengatasi berbagai kendala meskipun tidak seluruhnya,
merupakan suatu prestasi baik bagi guru maupun bagi siswa meskipun
keberhasilan yang diperoleh harus disesuaikan dengan kondisi kelas dimana
penelitian tindakan kelas berlangsung, karena kendala yang dihadapi di sekolah
tempat berlangsungnya penelitian belum tentu merupakan kendala di sekolah lain.
Kendala-kendala yang muncul dalam penerapan metode problem solving
dalam setiap tindakan adalah jumlah siswa kurang dari 28 orang. Sarana yang
terbatas seperti buku pegangan baik buku yang dimiliki siswa maupun yang ada di
perpustakaan, keterbatasan ini membuat pengerjaan tugas menjadi terhambat
karena siswa harus sering bergiliran dalam memeakai buku yang diinginkannya.
Begitu juga artikel yang sangat sulit ditemukan. Alokasi waktu yang sedikit hanya
40 menit dalam 1 jam pelajaran, belum dipotong oleh kegiatan awal pelajaran
seperti absensi kelas membuat kegiatan belajar mengajar sering melampaui jam
pelajaran yang tersedia. Alokasi waktu yang terbatas membuat guru terlihat
terburu-buru dalam melaksanakan tindakan yang telah direncanakan.
Pembentukan kelompok siswa pada tindakan I yang terdiri dari 4 orang tiap
kelompoknya belum mampu dijalankan dengan baik dalam pelaksanaannya karena
selain buku sumber yang terbatas dalam setiap kelompoknya, siswa juga belum
terbiasa dengan kerja kelompok yang efektif membuat kegiatan kelompok tidak
berjalan. Siswa yang mengerjakan tugas dalam kelompoknya banyak yang
mengeluh kerena ada siswa yang tidak bekerja sementara siswa lainnya sibuk
mengerjakan tugas kelompok.
Guru merasa kesulitan dalam membangkitkan keberanian siswa agar memiliki
kemauan dan kemampua untuk memberikan pendapat yang mengarah pada suatu
sanggahan baik dari pendapat siswa lain dan dari guru. Siswa merasa kesulitan
dengan hal itu karena tidak terbiasa dengan hal ini hampir pada semua mata
pelajaran, juga karena setiap sanggahan harus memberikan alasan-alasan yang
lebih tepat atau akurat, sementara kebanyakan siswa tidak terbiasa membaca
berbagai sumber buku untuk memahami satu masalah. Meskipun demikian pada
tindakan II dan IV ada siswa yang berani mengeluarkan sanggahan, meskipun
dengan jawaban yang masih sederhana.
4. Tanggapan Siswa Terhadap II SDN Mumbulsari 02
Tanggapan siswa terhadap penerapan metode problem solving dalam kegiatan
belajar mengajar di kelas hampir keseluruhan siswa yang diwawancarai
menyatakan kukungannya terhadap cara pembelajaran yang baru dilaksanakan.
Mereka senang dengan metode problem solving karena siswa diberi kesempatan
yang lebih besar dalam menyelesaikan suatu permasalahan meskipun tenaga dan
pikiran yang dikeluarkan lebih banyak.
Dari 28 siswa yang mengisi lembar wawancara hanya 6 orang (8,75%) siswa
yang tidak mendukung penerapan metode problem solving untuk dilanjutkan pada

124
materi lainnya, hal ini selain karena keterbatasan sumber yang bisa digunakan
dalam membantu penerapan cara tersebut, siswa juga harus dituntut lebih banyak
dalam menyelesaikan tugas yang diberikan. Siswa-siswa ini sudah terbiasa dengan
penyelesaian setiap masalah oleh guru sehingga merasa terbebani dengan
penerapan metode problem solving. Mereka merasa tugas-tugas yang diberikan
terlalu banyak sementara waktu dan buku-buku yang tersedia terbatas, sehingga
membuat mereka kesulitan dalam menemukan jawaban.
Sementara 28 orang (91,25%) yang setuju dengan penerapan metode problem
solving. Selain itu pada pertemuan selanjutnya merasa senang dengan cara ini
karena dalam pelaksanaannya siswa mendapat kesempatan lebih besar dalam
menyelesaikan suatu permasalahan. Siswa menjadi bertambah wawasannya
bagaimana menyelesaikan suatu masalah mulai dari mencari, menemukan, dan
mengkomunikasikan suatu jawaban kepada teman-temannya. Dampaknya siswa
menjadi lebih mendalami materi yang sedang dibahas, siswa juga merasa mereka
memiliki peran yang besar dalam penyelesaian masalah yang dihadapinya, karena
siswa terlibat langsung dalam penyelesaia masalah sehingga berperan dalam
perubahan yang mereka alami.

PENUTUP
A. Kesimpulan
Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dengan menerapkan metode
problem solving melalui Penelitian Tindakan Kelas 2 terlihat cukup baik dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menyadari akan adanya suatu permasalahan, dimana siswa didorong untuk
menemukan kesenjangan dari berbagai fenomena yang terjadi dalam
kehidupan masyarakat.
2. Merumuskan masalah-masalah yang diperoleh pada langkah pertama secara
jelas dan spesifik yang kemudian dianalisis untuk dicari penyebabnya.
3. Merumuskan hipotesis dimana siswa diharapkan mampu menentukan sebab-
akibat dari masalah yang ingin diselesaikan walaupun pada PTK I terlihat
siswa belum mampu merumuskan hipotesis secara sederhana.
4. Mengumpulkan dan mengelompokkan data-data yang relevan dengan
permasalahan yang dimaksud untuk kemudian disajikan dalam tampilan
yang mudah dipahami.
5. Pembuktian atau menguji hipotesis berdasarkan data-data yang telah
dikumpulkan sehingga siswa dapat menentukan mana hipotesis yang ditolak
maupun yang diterima serta membuat suatu kesimpulan.
6. Menentukan alternatif atau pilihan penyelesaian masalah dan diharapkan
siswa dapat memperhitungkan segala kemungkinan maupun akibat yang
terjadi pada setiap pilihan penyelesaian.
B. Saran
Penerapan metode problem solving pada mata pelajaran IPS terhadap
peningkatan ketrampilan berpikir kritis siswa ini semoga dapat memberikan
manfaat bagi yang akan mengembangkan metode problem solving dalam proses
pembelajaran, terutama bagi guru yang akan mengembangkan metode tersebut.
Dalam Penelitian ini dimuat beberapa langkah-langkah yang bisa dijadikan
pedoman dalam mengembangkan metode problem solving serta bagaimana
memperoleh gambaran langkah-langkah pengembangan perencanaan penerapan
metode problem solving sehingga dapat memudahkan pelaksanaannya, serta
mengetahui gambaran peningkatan ketrampilan berpikir kritis siswa.

125
Penelitian ini juga diharapkan dapat membantu mengembangkan mutu
pendidikan terutama dalam pembelajaran IPS, sehingga mata pelajaran geografi
bukan lagi merupakan pelajaran yang membosankan bagi siswa, tetapi menjadi
pelajaran yang menyenangkan. Dengan mengajak siswa untuk mencari,
menemukan dan memecahkan masalah yang ada dalam materi yang disajikan
sehingga siswa lebih merasa tertantang. Bagi guru hasil penelitian ini dapat
digunakan menjadi suatu metode pembelajaran dalam meningkatkan ketrampilan
berpikir kritis terhadap pertanyaan-pertanyaan maupun masalah yang ada pada
semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

Djajadisastra, Y. 1982. Metode-metode Mengajar, Jilid I dan II, Bandung: Angkasa.


Hamalik, Oemar. 1990. Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar. Bandung:
Tarsito
Ibrahim R, Syaodih S Nana. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Joyce Bruce. Et al. 2000. Models oƒ Teaching. 6th Ed. Allyn & Bacon: London
Mansour Fakih dan Robert Chamber. 2002. Anak-anak Membangun Kesadaran
Kritis. Yogyakarta:Read Book.
Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Proƒesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatiƒ dan
Menyenangkan. Bandung:Rosda.
Nasution. S. 2005. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar.
Jakarta: Bumi Aksara.
Roem Topatimasang,dkk. 2005. Pendidikan Popular: Membangun Kesadaran Kritis .
Yogyakarta:Insist Press.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Media Prenada
Sudjana, Nana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktiƒ dalam Proses Belajar Mengajar.
Bandung: Sinar Baru.
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Suwarma A.M. 1991. Pengembangan keterampilan berpikir dan nilai dalam
pendidikan ilmu pengetahuan sosial: Suatu studi sosial budaya
pendidikan. Disertasi tidak diterbitkan. Bandung: FPS-IKIP Bandung.
Uno, B. Hamzah. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Yamin, Martinis. 2006. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi . Jakarta: Gaung
Persada Press.

126

Anda mungkin juga menyukai