0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan104 halaman

Dukungan Keluarga dan Motivasi Pasien Stroke

gfhgh

Diunggah oleh

putu merta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan104 halaman

Dukungan Keluarga dan Motivasi Pasien Stroke

gfhgh

Diunggah oleh

putu merta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

SKRIPSI

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN MOTIVASI


PASIEN DALAM PEMENUHAN ACTIVITIES OF DAILY
LIVING (ADL) PADA PASIEN PASCA STROKE
DI UNIT FISIOTERAPI RUMAH SAKIT
STELLA MARIS MAKASSAR

PENELITIAN NON EXPERIMENTAL

OLEH
MARIA DEWI ULI
NIM: C1314201028

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN DAN NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
STELLA MARIS MAKASSAR
2017
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN MOTIVASI


PASIEN DALAM PEMENUHAN ACTIVITIES OF DAILY
LIVING (ADL) PADA PASIEN PASCA STROKE
DI UNIT FISIOTERAPI RUMAH SAKIT
STELLA MARIS MAKASSAR

Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan Pada


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Stella Maris Makassar

PENELITIAN NON EXPERIMENTAL

OLEH
MARIA DEWI ULI
NIM: C1314201028

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN DAN NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
STELLA MARIS MAKASSAR
2017
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

PERNYATAAN ORISINALITAS

Yang bertanda tangan di bawah ini :


1. Nama : Maria Dewi Uli
Nim : C1314201028

Menyatakan dengan sungguh-sungguh bahwa proposal ini merupakan karya


kami sendiri dan bukan merupakan duplikasi atau plagiasi (jiplakan) dari hasil
penelitian orang lain.

Demikian surat pernyataan ini kami buat dengan sebenar-benarnya.

Makassar, 18 April 2017


Yang menyatakan,

(Maria Dewi Uli)


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI PENELITIAN

Yang Bertanda Tangan Di Bawah Ini:

Nama : 1. MARIA DEWI ULI (C1314201028)

Menyatakan menyetujui dan memberi kewenangan kepada STIK Stella Maris


Makassar untuk menyimpan, mengalih media/formatkan merawat dan
mempublikasikan skripsi ini untuk kepentingan pengembangan ilmu
pengetahuan.

Makassar, 18 April 2017

(Maria Dewi Uli)


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Hubungan
Dukungan Keluarga Dengan Motivasi Pasien Dalam Pemenuhan Activities of Daliy
Living (ADL) Pada Pasien Pasca Stroke Di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella maris
Makassar”.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan
pendidikan Sarjana Keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Stella Maris
Makassar. Penulis menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dalam
penulisan skripsi ini sebagai wujud ketidaksempurnaan manusia disebabkan
keterbatasan pengetahuan dan ilmu yang penulis miliki. Oleh karena itu, penulis
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan
skripsi ini.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis dihadapkan dengan berbagai
tantangan, namun karena bantuan baik berupa bimbingan, arahan serta dukungan
dari berbagai pihak sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
Oleh karena itu pada kesempatan ini, penulis dengan segala kerendahan hati
mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1. Siprianus Abdu, [Link]., [Link]., Ns., [Link] selaku Ketua STIK Stella Maris
Makassar dan selaku penguji. Terima kasih atas koreksi dan ilmu yang diberikan
kepada saya selama menuntut ilmu juga selama ujan proposal dan ujian skripsi
di STIK Stella Maris Makassar.
2. Henny Pongantung,[Link],Ns.,MSN selaku Wakil Ketua I Bidang Akademik STIK
Stella Maris Makassar
3. Sr. Anita Sampe, JMJ, [Link], Ns, MAN selaku bagian kemahasiswaan
4. Rosdewi [Link].,MSN selaku Wakil Ketua II Bidang Administrasi dan Keuangan
STIK Stella Maris Makassar
5. Fransiska Anita, [Link]., Ns., [Link]., Sp,KMB selaku Ketua Program Studi S1
dan selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan, motivasi serta
pengarahan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

6. Asrijal Bakri, [Link], Ns, [Link]. Selaku pembimbing akademik yang telah
memberikan kesempatan dan bimbingan selama penulis mengikuti
pembelajaran.
7. Fr. Blasius Perang, [Link] Selaku penguji yang telah memberikan
bantuan berupa masukan kritik dan saran kepada penulis selama menyelesaikan
skripsi ini.
8. Dr. Thomas Soeharto, MMR. Selaku Direktur Rumah Sakit Stella Maris Makassar
yang telah memberikan izin kepada penulis dalam melakukan penelitian.
9. Segenap dosen dan staf pegawai STIK Stella Maris Makassar yang telah
membimbing, mendidik dan memberi pengarahan selama penulis mengikuti
penelitian
10. Teristimewa kepada keluarga yang tercinta : Almarhum ayah saya
Burhanuddin Siregar dan ibu saya Marselina Limbong Massora serta kakakku
Armando, Aditya, dan Tyo yang senantiasa mendoakan, mengarahkan dan
memberikan semangat, dorongan, nasehat dan yang paling utama kasih
sayangnya serta bantuan berupa materi sehingga penulis dapat menyelesaikan
pendidikan ini.
11. Kepada Suster-suster, kakak pegawai dan seluruh teman-teman dari
Asrama Kampus Stella Maris yang telah membantu dan memberikan dukungan
kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
12. Seluruh sahabat-sahabat seperjuangan di STIK Stella Maris Makassar
angkatan 2013, khususnya dari kelas IVA S1 Keperawatan. Terima kasih atas
kebersamaannya selama ini dan terima kasih telah memberikan banyak bantuan
dan dukungannya.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Tuhan
memberkati.
Makassar, 27 Maret 2017

Penulis
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

ABSTRAK

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN MOTIVASI PASIEN


DALAM PEMENUHAN ACTIVITIES OF DAILY LIVING (ADL) PADA
PASIEN PASCA STROKE DI UNIT FISIOTERAPI RUMAH
SAKIT STELLA MARIS MAKASSAR
(Dibimbing oleh Fransiska Anita)

MARIA DEWI ULI


PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN & NERS STIK STELLA MARIS
(xvii + 65 hlmn +30 daftar pustaka +10 tabel +8 lampiran)

Pasien stroke pada umumnya akan mengalami kelemahan yang


mengakibatkan keterbatasan atau kehilangan kemampuan, sehingga akan
mengalami ketergantungan kepada orang lain terutama keluarga. Hal ini
akan berdampak pada motivasi pasien dimana pasien akan merasa
kehilangan semangat dan harapan untuk sembuh terutama dalam
pemenuhan Activities of Daily Living (ADL) secara mandiri sehingga
dibutuhkanlah dukungan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan motivasi pasien dalam
pemenuhan ADL pada pasien pasca stroke di Unit Fisioterapi Rumah
Sakit Stella Maris Makassar. Metode penelitian kuantitatif, menggunakan
desain Cross-Sectional study dengan jumlah responden 30 orang.
Populasi adalah semua pasien pasca stroke yang berobat jalan di Unit
Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Pengambilan sampel
secara nonprobability sampling dengan teknik Total sampling. Alat ukur
yang digunakan adalah kuesioner. Analisa data menggunakan uji Chi
Square dan dilanjutkan dengan penggabungan sel dan kemudian
dilanjutkan dengan uji alternative Fisher Exact test, dan diperoleh hasil p
value = 0,001 dan nilai α = 0,05. Berarti ρ < α yang berarti ada hubungan
dukungan keluarga dengan motivasi pasien dalam pemenuhan ADL pada
pasien pasca stroke. Adanya dukungan dari keluarga maka motivasi
pasien dalam pemenuhan ADL akan semakin baik sehingga dapat
memberikan kualitas hidup pada pasien pasca stroke dan pasien akan
termotivasi dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Kata kunci : Stroke, Dukungan Keluarga, Motivasi


Kepustakaan : 30 referensi (2008 - 2015)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

ABSTRACT

THE RELATIONSHIP BETWEEN FAMILY’S SUPPORT IN MOTIVATING


STROKE PATIENT IN THE FULFILLMENT ACTIVITIES OF DAILY LIVING
AMONG POST STROKE PATIENTS AT PHYSIOTHERAPY UNIT OF
STELLA MARIS HOSPITAL OF MAKASSAR

(In Guidance of FRANSISKA ANITA)

MARIA DEWI ULI


S1 STUDY PROGRAM NURSING & NURSES STIK STELLA MARIS
MAKASSAR
(xvii + 65 pages + 30 bibliographies + 10 tables + 8 attachments)

On generally, the stroke patients will feel the weakness that can cause
the limitation or lost their capability, and then will feel depedence for the
others, particularly for aspecially their family. The impact of them, made of
the patients will lose their spirit and hopefully to cure, partiallarly in fulfillment
in some Activities of Daily Living (ADL) as independently, that’s why it’s
needed the supporting of their family. The aim of this research is to know the
relationship between family’s support and motivation of post stroke patients
in fulfillment Activities of Daily Living (ADL) at physioterapy unit of Stella
Maris Hospital of Makassar. This research is quantitative with the type of
research is a cross sectional study. The population in this study it cane make
post stroke patients who is undergoing the treatment at physiotherapy unit of
Stella Maris Hospital of Makassar with 30 respondents, who were using
questionnaire. The data was analysis by using chi square statistical
inference and continued with Fisher Exact Test. The result showed that p
Value = 0,001 and α = 0,05. Which means p > α, for that reason, it can be
concluded that there is a relationship between family’s support and
motivation of patients in fulfillment Activities of Daily Living (ADL) with post
stroke patients. It’s showed the point role of family will be important thing.
Getting support of the family will be better the motivation of patients in
fulfillment in Activities of Daily Living. Because of that, it can be provided the
quality’s life for post stroke patients, and the patients will be motivated to
fulfill their daily activities indepedently.

Keywords : Family Support, Stroke, Motivation

References : 30 (2008-2015)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DEPAN ............................................................ i


HALAMAN SAMPUL DALAM........................................................... ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS.................................... iii
HALAMAN PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI ................................. iv
HALAMAN PENETAPAN PENGUJI ................................................ iv
HALAMAN PENGESAHAN............................................................... v
HALAMAN PENYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI................. vi
KATA PENGANTAR ....................................................................... vii
ABSTRAK ....................................................................................... vii
DAFTAR ISI.................................................................................... viii
DAFTAR TABEL ........................................................................... viiii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ x
DAFTAR ARTI LAMBANG, SINGKATAN DAN ISTILAH................ xi
BAB I PENDAHULUAN .................................................................... 1
A. LATAR BELAKANG ........................................................................ 1
B. RUMUSAN MASALAH .................................................................... 6
C. TUJUAN PENELITIAN .................................................................... 7
1. Tujuan umum ........................................................................... 7
2. Tujuan khusus .......................................................................... 7
D. MANFAAT PENELITIAN ................................................................. 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................... 9
A. Tinjauan Umum Tentang Stroke...................................................... 9
1. Definisi Stroke ..................................................................... 9
2. Klasifikasi Stroke ................................................................. 9
3. Etiologi Stroke ................................................................... 11
4. Patofisiologi ....................................................................... 11
5. Tanda Dan Gejala Stroke .................................................. 12
B. Tinjauan Umum Tentang Dukungan Keluarga............................... 14
1. Pengertian ......................................................................... 14
2. Tipe Keluarga .................................................................... 14
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

3. Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan ........................ 15


4. Bentuk-Bentuk Dukungan Keluarga................................... 16

C. Tujuan Umum Motivasi Pasien Dalam Pemenuhan


Activities Of Daily Living (Adl) Pada Pasien Pasca Stroke............. 18
1. Motivasi Pasien ................................................................. 18
a. Pengertian Motivasi................................................ 18
b. Macam-Macam Motivasi ........................................ 19
c. Teori-Teori Motivasi ............................................... 19
d. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi.......... 22
e. Cara Meningkatkan Motivasi .................................. 23
2. Activities Daily Living (Adl)................................................. 24
a. Definisi Activities Daily Living.................................. 24
b. Macam-Macam Activities ........................................ 24
c. Cara Pengukuran Activities Daily Living.................. 25
d. Indeks Barthel (IB) .................................................. 26
e. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Activities
Of Daily Living ........................................................ 27
3. Dampak Dukungan Keluarga Motivasi Pasien
Dalam Pemenuhan ADL ................................................... 27

BAB III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS ................. 29


A. Kerangka Konseptual .................................................................... 29
B. Hipotesis ....................................................................................... 30
C. Definisi Operasional ...................................................................... 31
BAB IV METODE PENELITIAN ...................................................... 33
A. Jenis Penelitian ............................................................................. 33
B. Tempat Penelitian Dan Waktu Penelitian ...................................... 33
C. Populasi Dan Sampel.................................................................... 33
D. Instrumen Penelitian ..................................................................... 34
E. Pengumpulan Data ....................................................................... 36
F. Pengolahan Dan Penyajian Data .................................................. 37
G. Analisa Data.................................................................................. 38
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.................................. 40
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

A. Hasil Penelitian............................................................................ 40
1. Pengantar................................................................................ 40
2. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ........................................ 41
3. Karakteristik Responden ........................................................ 42
4. Hasil Analisa Variabel Penelitian ............................................. 47
B. Pembahasan................................................................................ 50
C. Keterbatasan Penelitian.............................................................. 60
BAB VI PENUTUP ................................................................................... 61
A. Kesimpulan................................................................................ 61
B. Saran .................................................................................... 61
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1 Definisi Operasional ....................................................................31
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelompok Umur Pada
Pasien pasca Stroke di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris
Makassar ........................................................................................... 42
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pada
Pasien Pasca Stroke di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris
Makassar ........................................................................................... 43
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pada
Pasien Pasca Stroke di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris
Makassar ........................................................................................... 44
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan Pada Pasien
Pasca Stroke di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris Makassar
............................................................................................................. 45
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status Perkawinan
Pasien Pasca Stroke di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris
Makassar ............................................................................................ 46
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan Keluarga Pada
Pasien Pasca Stroke di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris
Makassar ........................................................................................... 47
Tabel 5.7 Distribusi Motivasi Pasien Dalam Pemenuhan Activities of Daily Living
(ADL) Pada Pasien Pasca Stroke di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella
Maris Makassar ................................................................................. 48
Tabel 5.8 Analisis Hubungan Dukungan Keluarga dengan Motivasi Pasien Dalam
Pemenuhan Activiities of Daily Living Pada Pasien Pasca Stroke di Unit
Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris Makassar............................... 49
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

DAFTAR GAMBAR

Hal.

Tabel 3.1. Skema kerangka konseptual ........................................... 30


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS
x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Lembar Permohonan Menjadi Responden


Lampiran 2 : Lembar Persetujuan Responden
Lampiran 3 : Lembar Kuesioner
Lampiran 4 : Lembar Konsul
Lampiran 5 : Master Tabel
Lampiran 6 : Hasil Analisis
Lampiran 7 : Jadwal Kegiatan
Lampiran 8 : Surat Izin Penelitian
Lampiran 9 : Surat Keterangan selesai melakukan penelitian
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN

ADL : Activities of Daily Living


AKS : Aktivitas Kegiatan Sehari-hari
WHO : World Health Organization
Ha : Hipotesis Alternatif
Ho : Hipotesis Nol
NAKES : Tenaga Kesehatan
RISKESDAS : Riset Kesehatan Dasar
SPSS : Statistic Product and Service Solution
α : Derajat Kesamaan
p : Nilai Kemungkinan / Probality Continuity Correction
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penderita stroke memiliki permasalahan dari perawatan sampai
rehabilitasi. Keberhasilan penyembuhan dan pemulihan pada pasien pasca
stroke tergantung pada besarnya dukungan keluarga. Dukungan keluarga
sangat penting untuk menjaga pemulihan fisik dan kognitif pada pasien
pasca stroke sehingga dapat berpengaruh pada motivasi pasien untuk
sembuh terutama dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Bentuk
dukungan keluarga yang terus menerus dibutuhkan pasien karena pemulihan
stroke memerlukan waktu yang lama dan proses yang sulit. Pada umumnya
pasien stroke yang tidak mendapat dukungan keluarga akan mengalami
dampak negatif secara psikologis berupa depresi pasca stroke
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern, timbul
berbagai macam penyakit yang dapat membahayakan kesehatan manusia
seperti: hipertensi, penyakit jantung, diabetes melitus, obesitas dan
hiperkolesterolemia. Penyakit-penyakit tersebut disebabkan oleh gaya hidup
atau kebiasaan hidup sehari-hari yang salah. Gaya hidup tersebut seperti:
pola makan yang salah, kurangnya berolahraga, kebiasaan merokok dan
meminum alkohol. Apabila gaya hidup tersebut tidak segera diubah, maka
penyakit-penyakit yang disebabkan oleh gaya hidup yang salah tersebut
dapat mengakibatkan terjadinya stroke. Serangan stroke menimbulkan
kerusakan pada jaringan syaraf otak yang dapat mengakibatkan kecacatan,
antara lain berupa kelumpuhan pada separuh badan, terganggunya
penglihatan dan pendengaran, berkurangnya daya ingat, kemunduran
mental, menurunnya kemampuan berbicara dan berkomunikasi (Misbach,
2007).
Stroke merupakan penyebab kecacatan nomor satu di dunia dan
penyebab kematian nomor tiga di dunia. Menurut data statistic stroke
menyatakan sekitar 15 juta orang di seluruh dunia akan mengalami stroke
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

setiap tahun. Satu dari enam orang di seluruh dunia akan mengalami stroke
setiap tahun. Dua-pertiga dari kematian stroke terjadi di negara-negara
kurang berkembang (Stroke Association, 2013). WHO juga memperkirakan
7,6 juta kematian terjadi akibat stroke pada tahun 2020 mendatang (Junaidi,
2011). Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 penduduk
terkena serangan stroke, sekitar 2,5% atau 125.000 orang meninggal, dan
sisanya cacat ringan maupun berat. Berdasarkan data terbaru dan hasil
Riset Kesehatan Dasar 2013 (Riskesdas, 2013) stroke merupakan penyebab
kematian utama di Indonesia. Prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan
diagnosis tenaga kesehatan (nakes) sebesar 7,0 per mil dan yang
berdasarkan diagnosis nakes atau gejala sebesar 12,1 per mil. Jadi,
sebanyak 57,9% penyakit stroke telah terdiagnosis oleh nakes. Terjadi
peningkatan prevalensi stroke dari 8,3 per 1000 jiwa pada tahun 2007
menjadi 12,1 per 1000 jiwa pada tahun 2013.
Prevalensi stroke di Sulawesi Selatan pada tahun 2013 merupakan yang
paling tertinggi di antara semua provinsi-provinsi di Indonesia dengan jumlah
17,9% per 1000 penduduk di Indonesia (Riskesdas, 2013). Sedangkan
prevalensi stroke khususnya di kota Makassar pada tahun 2013 mencapai
jumlah 96 kasus per 1000 penduduk dan menjadi salah satu dari 10 jenis
penyakit penyebab utama kematian di kota Makassar (Azikin, 2013). Hal ini
berkaitan dengan gaya/perilaku hidup masyarakat Sulawesi Selatan. Ada
beberapa kabupaten di kota Makassar seperti Toraja, Palopo, Makassar,
Pinrang, Luwu yang kebiasaan sehari-hari sering mengkonsumsi daging, dan
mengkonsumsi buah-buahan seperti durian yang dapat memicu terjadinya
stroke. Prevalensi stroke di Rumah Sakit Stella Maris 3 Tahun terakhir yakni
pada tahun 2014 berjumlah 349 (2,1%) dari total 16.710 pasien, tahun 2015
berjumlah 339 (1,6%) dari total 21.277 pasien, dan pada tahun 2016
berjumlah 236 (1,3%) dari total 18.066 pasien (Rekam Medik Rumah Sakit
Stella Maris Makassar, 2016).
Pasien pasca stroke biasanya akan mengalami berbagai masalah yang
dapat menimbulkan perubahan atau ketidakseimbangan salah satunya
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari atau biasa dikenal activities of daily


living (ADL) secara mandiri. Kemandirian activities of daily living pada pasien
pasca stroke diartikan bahwa pasien pasca stroke dapat merawat diri sendiri
dan dapat melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS), baik tanpa
bantuan sama sekali maupun memerlukan bantuan. AKS seperti makan,
minum, berpakaian, BAB, BAK, dan bergerak atau berjalan (Bomer, 2011).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sari (2014) mengatakan bahwa
ketergantungan penderita stroke sebagian besar pada dependen sedang,
dimana aktivitas sehari-harinya dibantu sebagian oleh orang lain seperti
makan harus dipotong-potong dahulu, merawat diri/mandi dibantu sebagian,
naik turun tangga dibantu, berjalan, mengontrol BAB dan BAK itu bisa
mandiri. Selain itu,masalah yang paling umum dialami pasien pasca stroke
salah satunya ketidakmampuan bersosialisasi dengan orang lain, dimana
pada kondisi pasca stroke pasien akan merasa dirinya cacat, merasa tidak
mampu, jelek dan memalukan. Ketidakmampuan ini yang dialami pasien
pasca stroke mulai dari tiga bulan sampai satu tahun atau lebih (Siska,
2014). Sehingga dalam kehidupan sehari-hari pasien membutuhkan
dukungan dari keluarga.
Suhita (2010) dalam Ridwan, (2014) menyatakan bahwa keluarga
merupakan sumber family support karena dalam hubungan keluarga
tercipta hubungan saling mempercayai. Individu sebagai anggota keluarga
akan menjadikan keluarga sebagai kumpulan harapan, tempat bercerita,
tempat bertanya dan tempat mengeluarkan keluhan-keluhan bilamana
individu sedang mengalami permasalahan. Pemberian family support yang
baik dengan segala bentuk partisipasi yang diberikan pada keluarga yang
mengalami gangguan kesehatan untuk mengurangi beban yang diderita
akan menimbulkan norma-norma yang positif yang akan mendorong
kesembuhan keluarga yang sakit, berbagai faktor yang mempengaruhi
dukungan keluarga antara lain umur, pendidikan, pekerjaan dan jumlah
keluarga. Dukungan keluarga adalah perilaku melayani yang dilakukan oleh
keluarga, baik dalam bentuk dukungan emosional (perhatian, kasih sayang,
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

empati), dukungan penghargaan (menghargai, umpan balik), dukungan


informasi (saran, nasehat, informasi) maupun dalam bentuk dukungan
instrumental (bantuan tenaga, dana dan waktu). Dukungan keluarga adalah
sikap tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit
(Friedman, 2010). Menurut Ratna (2010) bahwa dukungan dari keluarga
merupakan faktor penting seseorang ketika menghadapi masalah
(kesehatan) dan sebagai strategi preventif untuk mengurangi stress dan
pandangan hidup.
Menurut penelitian Zumerli (2014) menjelaskan bahwa ada hubungan
antara dukungan keluarga dengan kualitas hidup pada pasien pasca stroke.
Faktor yang menimbulkan motivasi pada pasien pasca stroke dalam
memenuhi aktivitas kegiatan sehari-harinya salah satunya karena adanya
dukungan keluarga. Bagi pasien pasca stroke, dukungan yang positif dari
keluarga sangat dibutuhkan karena hal tersebut dapat lebih memotivasi
pasien dalam pemenuhan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti makan,
minum, berpakaian, BAB, BAK, berjalan atau bergerak.
Motivasi adalah suatu kumpulan kekuatan tenaga yang berasal dari
dalam maupun dari luar individu yang memulai sikap dan menetapkan
bentuk, arah, serta intensitasnya (Usmara, 2006). Menurut Sumidjo dalam
Subekti (2010), motivasi dalam pemenuhan aktivitas hidup sehari-hari
dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi sifat
kepribadian, pengetahuan, dan cita-cita, sedangkan faktor eksternal meliputi
lingkungan, pendidikan, agama, sosial ekonomi, kebudayaan dan keluarga.
Sesuai dengan teori Makmun (2005) dalam Mahwita (2012) menyatakan
bahwa motivasi yang dimiliki individu dapat menentukan kualitas perilaku
yang ditampilkannya baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam
kehidupan lainnnya. Motivasi merupakan keadaan psikologis yang
dimanifestasikan melalui tingkah laku, dimana tingkah laku dipengaruhi oleh
penguatan, baik positif maupun penguatan negatif (Sujanto, 2007). Dalam
hal ini dapat disimpulkan bahwa seseorang memiliki motivasi yang tinggi
karena adanya penguatan dari orang-orang terdekat yaitu khususnya
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

keluarga. Hasil penelitian ini juga didukung oleh hasil penelitian Ratna,
(2010) bahwa dukungan keluarga yang positif sangat bermanfaat bagi kedua
belah pihak dan akan saling membutuhkan dukungan, karena pada pasien
pasca stroke pada umumnya akan mengalami depresi dan stress. Oleh
karena itu, untuk membutuhkan motivasi dalam dalam diri pasien pasca
stroke dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari memerlukan dukungan yang
tinggi dari keluarga karena kekuatan dari dalam diri pasien pasca stroke
akan lebih meningkat jika didukung oleh kekuatan lain (dukungan keluarga)
dan dengan adanya rasa percaya diri dari dalam pasien itu sendiri.
Berdasarkan pengamatan awal yang dilakukan oleh peneliti pada pasien
pasca stroke yang ada di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris pada
tanggal 23 September 2016 melalui wawancara terhadap 6 orang pasien
pasca stroke, 2 orang mengatakan mendapat dukungan dari keluarga karena
merupakan tanggung jawab dari keluarga dalam membantu pasien dalam
pemenuhan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti makan, minum, BAB,
BAK berjalan atau bergerak, 2 orang lagi mengatakan tetap mendapat
dukungan dari keluarga tetapi dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari pasien
yang aktif atau berusaha melakukan sendiri secara mandiri seperti makan,
minum, berpakaian, BAB, BAK, berjalan atau bergerak. Keluarga hanya
berfungsi mengawasi segala aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh
pasien pasca stroke, dan 2 orang mengatakan kadang – kadang keluarga
mendukung kadang-kadang juga tidak karena mempunyai kesibukan masing
– masing.
Dari keenam pasien pasca stroke masing-masing dikelompokkan,
menjadi 3 kelompok yang terdiri dari dua pasien. Kelompok yang pertama
yaitu mendapat dukungan dari keluarga, akan tetapi dalam pemenuhan
aktivitas sehari-hari keluarga yang masih terlibat langsung sehingga pasien
belum secara mandiri dalam memenuhi aktivitas sehari-harinya. Kelompok
yang kedua yaitu mendapat dukungan penuh dari keluarga, akan tetapi
dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari pasien yang melakukan sendiri.
Keluarga hanya berfungsi mengawasi dan mendampingi pasien. Akibatnya
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

pasien bisa mandiri dalam memenuhi aktivitas sehari-harinya. Selain itu, juga
dibuktikan dengan keadaan pasien yang mulai membaik dimana pada
awalnya pasien menggunakan kursi roda tetapi karena ada dukungan dari
keluarga dan adanya kemandirian dari pasien itu sendiri sehingga pasien
mulai mampu berjalan walaupun masih menggunakan alat bantu seperti
tongkat. Sedangkan, kelompok yang ketiga yaitu tidak mendapat dukungan
dari keluarga karena keluarga sibuk dengan pekerjaan masing-masing
sehingga tidak ada dukungan dan perhatian dari keluarga. Akibatnya
keadaan pasien bukannya membaik tetapi memburuk, kejadian stroke
berulang kembali terjadi setelah satu tahun terjadi kejadian stroke yang
pertama. Ini juga dapat dilihat dari raut wajah pasien yang tampak sedih,
murung dan tidak memiliki semangat untuk hidup.
Selain itu, motivasi yang menurun ini dikaitkan dengan perubahan
kehidupan dari 6 pasien pasca stroke yang mengalami perubahan kecacatan
fisik, dimana mereka mengalami kelumpuhan (kekakuan) pada sebagian
anggota tubuh dengan tingkat pemulihan atau penyembuhan yang lama dan
membutuhkan biaya yang cukup besar sehingga hal ini bisa berdampak
pada penurunan kemampuan ekonomi keluarga dalam menunjang
pemenuhan aktivitas sehari-hari pada pasien pasca stroke akibatnya beban
ekonomi keluarga ikut meningkat.
Berdasarkan latar belakang masalah maka peneliti tertarik untuk meneliti
mengenai hubungan dukungan keluarga dengan motivasi pasien dalam
pemenuhan Activities of Daily Living (ADL) pada pasien pasca stroke.

B. Rumusan Masalah
Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis yang disebabkan oleh
gangguan pembuluh darah pada otak yang terjadi secara mendadak dan
menimbulkan kerusakan otak secara akut dengan tanda klinis yang terjadi
secara fokal atau global. Sehingga pada pasien pasca stroke biasanya akan
mengalami berbagai masalah yang dapat menimbulkan perubahan atau
ketidakseimbangan salah satunya dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

atau biasa dikenal Activities of Daily Living (ADL). Stroke dapat berulang
dan terjadi lebih dari satu kali menyebabkan motivasi pasien menurun
dikarenakan kecacatan yang semakin meningkat dan tingkat pemulihan
yang semakin lama sehingga dibutuhkan dukungan keluarga agar tetap
memberi perhatian dan semangat kepada pasien. Karena dengan adanya
dukungan dan perhatian dari keluarga dapat memberikan kualitas hidup
pada pasien pasca stroke sehingga pasien akan termotivasi dalam
pemenuhan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah, maka peneliti
merumuskan permasalahan sebagai berikut :”Apakah ada hubungan
Dukungan Keluarga Dengan Motivasi Pasien dalam Pemenuhan Activities of
Daily Living (ADL) Mandiri Pada Pasien Pasca Stroke?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan motivasi pasien
dalam pemenuhan Activities of Daily Living secara mandiri pada pasien
pasca stroke di Ruang Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris Makassar.
2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi dukungan keluarga pada pasien pasca stroke
b. Mengidentifikasi motivasi pasien dalam pemenuhan Activities of Daily
Living (ADL) pada pasien pasca stroke
c. Menganalisis hubungan antara dukungan keluarga dengan motivasi
pasien dalam pemenuhan Activities of Daily Living pada pasien pasca
stroke

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pelayanan Keperawatan
Penelitian ini bisa dijadikan sebagai bahan masukan bagi Rumah
Sakit untuk meningkatkan mutu pelayanan khususnya pada pasien stroke
yang mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari sehingga
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

kedepannya pasien pasca stroke dengan perawatan dan motivasi yang


baik mereka dapat memiliki tujuan hidup yang baik kedepannya dalam
memenuhi kebutuhan sehari-harinya sehingga mereka dapat lebih
mandiri.

2. Bagi Pihak Institusi STIIK Stella Maris Makassar


Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi
dosen dan mahasiswa dalam pengembangan pengetahuan khususnya
tentang teori ilmu keperawatan medikal bedah dan keperawatan
komunitas mengenai hubungan dukungan keluarga dengan motivasi
pasien dalam pemenuhan Activities of Daily Living (ADL) pada pasien
pasca stroke.
3. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan peneliti serta dapat mengembangkan kemampuan peneliti
dalam melakukan penelitian.
4. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini digunakan sebagai referensi untuk penelitian
berikutnya dan sebagai bahan acuan agar peneliti selanjutnya dapat
mengembangkan penelitian yang berhubungan dukungan keluarga
dengan motivasi pasien dalam pemenuhan activities of daily living mandiri
pada pasien pasca stroke dengan faktor-faktor lain yang belum pernah
ditelitih seperti kondisi ekonomi, kondisi kesehatan yang mungkin dapat
mempengaruhi motivasi pasien dalam pelaksanaan activities of daily
living.
5. Bagi Keluarga
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan untuk
memberikan support system kepada salah satu anggota keluarga yang
mengalami stroke agar dapat memenuhi Activities of Daily Living secara
mandiri. Selain itu, juga dapat memberikan informasi kepada keluarga
pasien bahwa ada banyak bentuk perhatian dan dukungan yang dapat
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

diberikan keluarga terhadap pasien pasca stroke yang dapat membuat


pasien termotivasi dalam pemenuhan Activities of daily living secara
mandiri.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Stroke


1. Defenisi Stroke
Dalam bahasa medis, stroke disebut CVA (Celebro-Vascular Accident)
yaitu gangguan saraf permanen akibat terganggunya peredaran darah ke
otak, yang terjadi sekitar 24 jam atau lebih. Sindrom klinis ini terjadi secara
mendadak serta bersifat progresif sehingga menimbulkan kerusakan otak
secara akut dengan tanda klinis yang terjadi secara fokal dan atau global
(Lingga, 2013).
Menurut Riskesdas (2015) stroke adalah penyakit pada otak berupa
munculnya mendadak, progresif dan cepat. Gangguan fungsi saraf pada
stroke disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non-traumatik.
Gangguan saraf tersebut menimbulkan gejala antara lain: kelumpuhan
wajah atau anggota badan, bicara tidak lancar, bicara tidak jelas (pelo),
mungkin disertai perubahan kesadaran, ganggun penglihatan, dan lain-
lain.
Jadi, dapat disimpulkan stroke adalah sindrom yang disebabkan oleh
gangguan peredaran darah otak dengan awitan waktu akut disertai
manifestasi klinis berupa defisit neurologis seperti; kelumpuhan wajah
atau anggota badan, bicara tidak lancar, bicara tidak jelas (pelo), mungkin
disertai perubahan kesadaran, gangguan penglihatan, dan lain-lain.

2. Etiologi Stroke
a. Kurangnya suplai oksigen yang menuju otak
b. Pecahnya pembuluh darah di otak karena kerapuhan pembuluh darah
otak
c. Adanya sumbatan bekuan darah di otak
(Baticaca, 2008)
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Adapun faktor-faktor lainnya yang dapat menyebabkan stroke


1) Yang tidak dapat diubah (predisposisi) (Baticaca, 2008)
a) Usia
b) Jenis kelamin
c) Ras/bangsa
d) Riwayat keluarga
2) Yang dapat diubah (presipitasi) (Muttaqin, 2008).
a) Hipertensi merupakan faktor resiko utama, pengendalian
hipertensi adalah kunci untuk mencegah stroke.
b) Penyakit kardiovaskuler : arteria koronia, gagal jantung
kongestif, fibriliasi natrium, penyakit jantung kongestif.
c) Kolesterol
d) Obesitas
e) Merokok
f) Peningkatan hematokrit (resiko infark serebral)

3. Klasifikasi Stroke
Menurut Satyanegara, (1998) yang dikutip oleh Ariani, (2014)
menyatakan bahwa gangguan peredaran darah otak atau stroke dapat
diklasifikasikan menjadi dua yaitu stroke non-hemoragi/iskemik/infark dan
stroke hemoragi.
a. Stroke Non-hemoragi/iskemik/infark
Tipe stroke ini terjadi karena aliran darah tersumbat atau berkurang
ke daerah otak, penyumbatan ini dapat terjadi karena aterosklerosis
atau penyumbatan aliran darah (Kowalak, 2011).
Menurut Satyanegara (1998) yang dikutip oleh Ariani (2014),
menurut perjalanan klinisnya stroke non-hemoragi dapat
dikelompokkan menjadi 4 bagian yaitu:
1) Serangan Iskemik Sepintas (Transient Ischemic Attack-TIA)
TIA merupakan tampilan peristiwa berupa episode-episode
serangan sesaat dari suatu disfungsi serebral fokal akibat
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

gangguan vaskular dengan lama serangan sekitar 2-15 menit


sampai paling lama 24 jam.
2) Defisit Neurologis Iskemik Sepintas (Reversible Ischemic Neurology
Deficit- RIND)
Gejala dan tanda gangguan neurologis yang berlangsung lebih
lama dari 24 jam dan kemudian pulih kembali dalam jangka waktu
kurang dari tiga minggu.
3) In Evolutional atau Progressing Stroke
Gejala gangguan neurologis yang progresif dalam waktu 6 jam
atau lebih.
4) Stroke Komplet (Completed Stroke/Permanent Stroke)
Gejala ganguan neurologis dengan lesi-lesi yang stabil selama
periode waktu 18-24 jam, tanpa adanya progresivitas lanjut.
b. Stroke Hemoragi
Menurut Junaidi (2012), stroke hemoragi yaitu stroke yang terjadi
karena pecahnya pembuluh darah di otak sehingga aliran darah
menjadi tidak normal dan darah yang keluar merembes masuk
kedalam suatu daerah di otak dan merusaknya. Stroke hemoragi
dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
1) Perdarahan subaraknoid (PSA), yaitu perdarahan yang masuk ke
selaput otak.
2) Perdarahan intraserebral (PIS), yaitu perdarahan yang masuk ke
dalam struktur atau jaringan otak.

4. Tanda dan Gejala Stroke


Menurut Smeltzer & Bare (2013), stroke dapat menyebabkan berbagai
defisit neurologik yang bergantung pada lokasi lesi, ukuran area yang
perfusinya tidak adekuat, dan jumlah aliran darah kolateral. Berikut defisit
neurologik dan manifestasi klinik yang dapat timbul pada pasien stroke :
a. Defisit Lapang Pandang
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Manifestasi yang dapat timbul adalah himonimus hemianopsia,


kehilangan penglihatan perifer, dan diplopia.
b. Defisit Motorik
Manifestasi klinik yang dapat timbul adalah hemiparesis, ataksia,
disartia, dan disfagia.
c. Defisit Sensori
Manifestasi klinik yang dapat timbul adalah paratesia.
d. Defisit Verbal
Manifestasi klinik yang dapat timbul adalah afasia ekspresif dan afasia
reseptif.
e. Defisit kognitif
Manifestasi klinik yang dapat timbul adalah kehilangan memori,
penurunan lapang pandang, kerusakan kemampuan berkonsentrasi,
dan perubahan penilaian.
f. Defisit Emosional
Manifestasi klinik yang dapat timbul adalah kehilangan kontrol diri,
labilitas emosional, penurunan toleransi pada stres, depresi, menarik
diri, rasa takut dan marah, serta perasaan isolasi
Menurut Price & Wilson (2012) gangguan pasokan darah otak dapat
terjadi di mana saja di dalam arteri-arteri yang membentuk sirkulasi Willisi.
Secara umum, apabila aliran darah ke jaringan otak terputus selama 15
sampai 20 menit, maka akan terjadi infrak atau kematian jaringan. Perlu
diingat bahwa oklusi di suatu arteri tidak selalu menyebabkan infrak di
daerah otak yang diperdarahi oleh arteri tersebut. Alasannya adalah
karena terdapat sirkulasi kolateral yang memadai ke daerah tersebut.
Proses patologik yang mendasarinya merupakan salah satu dari berbagai
proses yang terjadi di dalam pembuluh darah yang memperdarahi otak.
Keadaan patologik dapat berupa :
a. Keadaan penyakit pembuluh darah itu sendiri, seperti pada
arterosklerosis dan trombosis, robeknya dinding pembuluh darah, atau
peradangan.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

b. Berkurangnya perfusi akibat gangguan status aliran darah, misalnya


syok atau hiperviskositas darah.
c. Gangguan aliran darah akibat bekuan atau embulus infeksi yang
berasal dari jantung atau pembuluh ekstranium.
d. Ruptur vaskular didalam jaringan otak atau ruang subaraknoid.

5. Patofisiologi Stroke
Menurut Price & Wilson (2012) gangguan pasokan darah otak dapat
terjadi di mana saja di dalam arteri-arteri yang membentuk sirkulasi Willisi.
Secara umum, apabila aliran darah ke jaringan otak terputus selama 15
sampai 20 menit, maka akan terjadi infrak atau kematian jaringan. Perlu
diingat bahwa oklusi di suatu arteri tidak selalu menyebabkan infrak di
daerah otak yang diperdarahi oleh arteri tersebut. Alasannya adalah
karena terdapat sirkulasi kolateral yang memadai ke daerah tersebut.
Proses patologik yang mendasarinya merupakan salah satu dari berbagai
proses yang terjadi di dalam pembuluh darah yang memperdarahi otak.
Keadaan patologik dapat berupa :
e. Keadaan penyakit pembuluh darah itu sendiri, seperti pada
arterosklerosis dan trombosis, robeknya dinding pembuluh darah, atau
peradangan.
f. Berkurangnya perfusi akibat gangguan status aliran darah, misalnya
syok atau hiperviskositas darah.
g. Gangguan aliran darah akibat bekuan atau embulus infeksi yang
berasal dari jantung atau pembuluh ekstranium.
h. Ruptur vaskular didalam jaringan otak atau ruang subaraknoid.

6. Penilaian Tingkat Kemampuan Pasien Stroke


Penilaian tingkat kemampuan stroke berdasarkan keseimbangan terbagi
atas 3 yaitu :
a. Pasien tidak mampu menjaga keseimbangan (tidak seimbang) ketika
pasien berbaring
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

1) Level 1 (baring)
Pasien mampu merebahkan diri, tetapi tidak dapat menyeimbangkan
kepala dan aktivitas sangat minim
2) Level 2 (baring)
Pasien mampu merebahkan diri, dapat menyeimbangkan kepala dan
melakukan aktifitas
b. Keseimbangan sedang ketika pasien duduk (keseimbangan medium)
1) Level 3 (duduk)
Pasien mampu duduk, tetapi tidak dapat melakukan kegiatan
sedikitpun (tidak dapat melakukan 2 hal kegiatan secara
bersamaan).
2) Level 4 (duduk)
Pasien mampu duduk dan melakukan aktivitas sedang.
3) Level 5 (duduk)
Pasien sudah mampu duduk dan sudah aktif dalam melakukan
aktivitas.
c. Keseimbangan penuh ketika pasien mulai mampu berdiri
(keseimbangan penuh
1) Level 6 (berdiri)
Pasien sudah mampu berdiri tetapi hanya mampu melakukan sedikit
aktivitas.
2) Level 7 (berdiri)
Pasien mampu berdiri dan mulai aktif beraktivitas atau melakukan
kegiatan.

B. Tinjauan Umum Tentang Dukungan Keluarga


1. Pengertian
Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung
karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan
mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

didalamnya peran masing-masing menciptakan serta mempertahankan


kebudayaan (Friedman, 2010).
Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaaan keluarga
terhadap anggotanya. Anggota keluarga dipandang sebagai bagian yang
tidak terpisahkan dalam lingkungan keluarga. Anggota keluarga
memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap
memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan (Murniasih, 2012).

2. Tipe Keluarga
Dukungan keluarga terhadap seseorang dapat dipengaruhi oleh tipe
keluarga. Menurut Suprajitno (2012), pembagian tipe keluarga tergantung
pada konteks keilmuan dan orang yang mengelompokkan. Secara
tradisional tipe keluarga dapat dibagi menjadi dua yaitu :
a. Keluarga inti (nuclear family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu
dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau keduanya.
b. Keluarga besar (extended family) adalah keluarga inti ditambah
anggota keluarga lain yang masih memiliki hubungan darah seperti
kakek, nenek, paman dan bibi.
Tipe keluarga yang dianut oleh masyarakat di Indonesia adalah tipe
keluarga tradisional. Menurut Allender & Spradley (2001) dalam Achjar
(2010). Tipe keluarga tradisional dapat dikelompokkan menjadi:
1) Keluarga inti (nuclear family), yaitu keluarga yang terdiri dari suami,
istri dan anak (anak kandung atau anak angkat).
2) Keluarga besar (extended family), yaitu keluarga inti ditambah dengan
keluarga lain yang masih mempunyai hubungan darah, misalnya
kakek, nenek, paman dan bibi.
3) Keluarga dyad yaitu keluarga yang terdiri dari suami istri tanpa anak.
4) Single parent yaitu keluarga yang terdiri dari satu orang tua dengan
anak kandung atau anak angkat.
5) Keluarga usia lanjut yaitu keluarga yang terdiri dari suami istri yang
berusia lanjut.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

3. Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan


Friedman (1998) dikutip dari Setiadi (2009) membagi 5 tugas keluarga
dalam bidang kesehatan yang harus dilakukan yaitu:
a. Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya. Kesehatan
merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena
tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti dan karena
kesehatanlah kadang seluruh kekuatan sumber daya dan dana
keluarga habis.
b. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan kesehatan yang tepat
bagi keluarga. Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk
mencari pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga,
dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai
kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga.
c. Memberikan keperawatan anggota keluarga yang sakit atau yang tidak
dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang terlalu
muda. Perawatan ini dapat dilakukan di rumah apabila keluarga
memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk memperoleh tindakan
lanjutan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi.
d. Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan kesehatan dan
perkembangan kepribadian anggota keluarga. Keluarga memainkan
peran yang bersifat mendukung anggota keluarga yang sakit.
e. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga
kesehatan (pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada).

4. Bentuk-Bentuk Dukungan Keluarga


Keluarga memiliki beberapa bentuk dukungan (Friedman, 2010) yaitu:
a. Dukungan Penilaian
Dukungan ini meliputi pertolongan pada individu untuk memahami
kejadian depresi dengan baik dan juga sumber depresi serta strategi
koping yang dapat digunakan untuk menghadapi stressor. Dukungan ini
juga merupakan dukungan yang terjadi bila ada ekspresi penilaian yang
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

positif terhadap individu. Individu mempunyai seseorang yang dapat


diajak bicara tentang masalah mereka. Terjadi melalui ekspresi
pengharapan positif individu kepada individu lain, penyemangat,
persetujuan terhadap ide-ide atau perasaan seseorang dan
perbandingan positif seseorang dengan orang lain, misalnya orang
yang kurang mampu. Dukungan keluarga dapat membantu
meningkatkan strategi koping individu dengan strategi-strategi alternatif
berdasarkan pengalaman yang berfokus pada aspek-aspek yang
positif. Selain itu, dalam dukungan penilaian keluarga bertindak sebagai
sebuah bimbingan dan menengahi pemecahan masalah serta sebagai
sumber dan validator identitas keluarga, diantaranya adalah
memberikan support, penghargaan dan perhatian.
b. Dukungan Instrumental
Dukungan ini meliputi penyediaan dukungan jasmaniah seperti
pelayanan, bantuan finansial dan material berupa bantuan nyata
(instrumental support material support), suatu kondisi dimana benda
atau jasa akan membantu memecahkan masalah praktis , termasuk di
dalamnya bantuan langsung seperti saat seseorang memberi atau
meminjamkan uang, membantu pekerjaan sehari-hari, menyampaikan
pesan, menyediakan transportasi, menjaga dan merawat saat sakit
ataupun mengalami depresi yang dapat membantu memecahkan
masalah. Dukungan nyata paling efektif bila dihargai oleh individu dan
mengurangi depresi individu. Pada dukungan nyata keluarga sebagai
sumber untuk mencapai tujuan praktis dan tujuan nyata.
c. Dukungan Informasional
Jenis dukungan ini meliputi jaringan komunikasi dan tanggung
jawab bersama, termasuk didalamnya memberikan solusi dari masalah,
memberikan nasehat, pengarahan, saran atau umpan balik tentang apa
yang dilakukan seseorang. Keluarga dapat menyediakan informasi
dengan menyarankan tentang dokter, terapi yang baik bagi dirinya dan
tindakan spesifik bagi individu untuk melawan stresor. Individu yang
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

mengalami depresi dapat keluar dari masalahnya dengan dukungan


dari keluarga dengan menyediakan feed back. Pada dukungan
informasi ini keluarga sebagai penghimpun informasi dan pemberi
informasi, sehingga diharapkan bantuan informasi yang disediakan
keluarga dapat digunakan oleh individu dalam mengatasi persoalan-
persoalan yang dihadapi.
d. Dukungan Emosional
Selama depresi berlangsung, individu sering menderita secara
emosional, sedih, cemas dan kehilangan harga diri. Jika depresi
mengurangi perasaan seseorang akan hal yang dimiliki dan dicintai.
Dukungan emosional memberikan individu perasaan nyaman, merasa
dicintai saat mengalami depresi, bantuan dalam bentuk semangat,
empati, rasa percaya, perhatian sehingga individu yang menerimanya
merasa berharga. Pada dukungan emosional ini keluarga sebagai
tempat yang aman dan damai untuk berisitirahat dan juga
menenangkan pikiran. Setiap orang pasti membutuhkan bantuan dari
keluarga. Individu yang menghadapi persoalan atau masalah akan
merasa terbantu kalau ada keluarga yang mau mendengarkan dan
memperhatikan masalah yang sedang dihadapi.

C. Tinjauan Umum Motivasi Pasien Dalam Pemenuhan Activities of Daily


Living (ADL) Pada Pasien Pasca Stroke
1. Motivasi Pasien
a. Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari kata motif. Motif dalam bahasa Inggris disebut
motive, yang berasal dari kata motion artinya “gerakan” atau sesuatu
yang bergerak. Dalam arti yang lebih luas motif berarti rangsangan,
dorongan, atau penggerak terjadinya suatu tingkah laku. Motivasi
adalah sesuatu yang mendorong, atau pendorong seseorang
bertingkah laku untuk mencapai tujuan tertentu ( (Zulfan & Sri, 2012).
Tingkah laku termotivasi dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Kebutuhan tersebut diarahkan pada pencapaian tujuan tertentu.


Contoh: tingkah laku tertentu (misalnya hadir kuliah karena adanya
kebutuhan memperoleh ilmu pengetahuan atau keterampilan tertentu,
dengan tujuan akhir memperoleh sarjana).
Motivasi adalah karakterisitik psikologi manusia yang memberi
kontribusi pada tingkat komitmen seseorang. Hal ini termasuk faktor-
faktor yang menyebabkan, menyalurkan dan mempertahankan tingkah
laku manusia dalam arah tekad tertentu (Nursalam, 2008).
Pada kalangan para ahli muncul berbagai pendapat tentang
motivasi. Meskipun demikian, ada juga semacam kesamaan pendapat
yang dapat ditarik mengenai pengertian motivasi yaitu dorongan dari
dalam diri seseorang yang menyebabkan seseorang tersebut
melakukan kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. Yang dapat
diamati adalah kegiatan atau mungkin alasan-alasan tindakan tersebut
(Notoadmojo, 2010).

b. Macam-Macam Motivasi
Ditinjau dari pihak yang menggerakkan motivasi digolongkan menjadi
dua golongan, yaitu:
1. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang telah berfungsi dengan
sendirinya yang berasal dari dalam diri orang tersebut tanpa adanya
dorongan atau rangsangan dari pihak luar. Misalnya seorang
mahasiswa belajar dengan kesadaran sendiri tanpa suruhan orang
lain. Individu yang bersangkutan memperoleh kepuasan dengan
proses belajar itu sendiri.
2. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berfungsi karena adanya
dorongan dari pihak luar atau orang lain. Misalnya seseorang selalu
diperhatikan dan disiapkan agar minum obat secara teratur. Motivasi
dari orang lain ini dapat dilakukan dengan harapan pada suatu saat
orang yang bersangkutan tanpa dorongan orang lain sudah bisa
belajar atau minum obat secara teratur (Zulfan & Sri, 2012).
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

c. Teori-Teori Motivasi
a. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow
Teori motivasi yang paling dikenal mungkin adalah Teori Hierarki
Kebutuhan Abraham Maslow. Maslow adalah psikolog humanistik
yang berpendapat bahwa pada diri tiap orang terdapat hierarki lima
kebutuhan.
1) Kebutuhan fisik: makanan, minuman, tempat tinggal, kepuasan
seksual, dan kbutuhan fisik lain.
2) Kebutuhan keamanan: keamanan dan perlindungan dari
gangguan fisik dan emosi dan juga kepastian bahwa kebutuhan
fisik akan terus terpenuhi.
3) Kebutuhan sosial: kasih sayang, menjadi bagian dari
kelompoknya, diterima oleh teman-teman, dan persahabatan.
4) Kebutuhan harga diri: faktor harga diri internal, seperti
penghargaan diri, otonomi, pencapaian prestasi dan harga diri
eksternal seperti status, pengakuan, dan perhatian.
5) Kebutuhan aktualisasi diri: pertumbuhan, pencapaian potensi
seseorang, dan pemenuhan diri sendiri; dorongan untuk menjadi
apa yang dia mampu capai.
Menurut Maslow, jika ingin memotivasi seseorang kita perlu
memahami ditingkat mana keberadaan orang itu dalam hierarki
dan perlu berfokus pada pemuasan kebutuhan pada atau diatas
tingkat itu (Robbins & Culter, 2007).
b. Teori Kebutuhan untuk Berprestasi
Teori kebutuhan untuk berprestasi dipelopori oleh Mc Celland.
Kebutuhan untuk berprestasi (need for achievement) atau disingkat
N. Ach adalah daya mental manusia untuk melakukan suatu kegiatan
yang lebih baik dan mencapai hasil yang lebih baik pula, yang
disebabkan oleh virus mental. Virus mental adalah adanya suatu
daya, kekuatan (power) dalam diri orang tersebut sehingga ia
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

mempunyai dorongan yang luar biasa untuk melakukan suatu


kegiatan untuk mencapai hasil yang lebih baik.
Motivasi berperilaku adalah ciri-ciri perilaku yang mengarah pada
pencapaian sukses, prestasi, atau kinerja yang lebih baik daripada
orang lain dan mencoba menyelesaikan kegiatan tersebut secara
unik.
c. Teori Motivasi Dua Faktor
Teori ini dipelopori oleh Frederick Herzberg. Ia mengatakan
bahwa ada dua kebutuhan yang memuaskan manusia yaitu
kebutuhan yang berkaitan dengan dengan kepuasan kerja dan
kebutuhan yang berkaitan dengan ketidakpuasan kerja. Faktor-faktor
yang mempengaruhi kepuasan kerja disebut motivator yang terdiri
dari penghargaan, prestasi, tanggung jawab, promosi dan
pengembangan diri. Jika aspek-aspek motivator tersebut dianggap
baik atau positif oleh karyawan, maka cenderung terjadi kepuasan
kerja sebaliknya, jika motivator tersebut tidak muncul dalam kondisi
dan suasana kerja maka terjadi ketidakpuasan karyawan.
Faktor-faktor yang berakitan dengan ketidakpuasan disebut
pemeliharaan (manitenance) atau kesehatan (hygiene) kerja.
Pemeliharaan atau kesehatan kerja meliputi: gaji, keselamatan kerja,
kondisi kerja, pengawasan dan kebijakan organisasi.
d. Teori Harapan Vroom
Teori harapan (Expectancy Theory) adalah orang akan
termotivasi bila adanya harapan akan hasil tertentu, harapan
tersebut mempunyai nilai positif bagi yang bersangkutan, dan hasil
tersebut diperoleh melalui usaha tertentu.
Teori harapan dipelopori oleh Vrom (1998) dalam Hamalik
(2010) mengemukakan ada tiga asumsi dasar teori harapan yaitu:
1. Setiap individu dipercaya bahwa ia berperilaku tertentu karena
ada harapan untuk memperoleh hasil tertentu. Hal ini disebakan
harapan hasil (outcome expectancy). Contoh ada harapan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

memperoleh skor yang bagus sehingga lulus ujian calon PNS.


Jadi, harapan hasil adalah keyakinan atau penilaian subyektif
seseorang atas kemungkinan hasil atas tingkah laku/kegiatan
yang dilakukan.
2. Setiap hasil mempunyai daya tarik tertentu bagi seseorang yang
disebut dengan valensi (valence). Contoh valensi seperti gelar,
keterampilan, dan sertfikat. Daya tarik tersebut merupakan nialai
yang bersifat subjektif.
3. Setiap hasil berkaitan dengan persepsi mengenai seberapa besar
usaha untuk mencapai hasil tersebut. Hal ini disebabkan harapan
usaha (effort expectancy). Contoh seseorang mempersepsi jika
menguasai 60% materi kuliah tentu lulus dalam ujian. Ia
menargetkan untuk menguasai paling sedikit 75% bahan kuliah.

d. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Motivasi


Menurut Handoko (2008) dan Windayatun (2009), ada dua faktor yang
mempengaruhi motivasi yaitu faktor internal dan faktor eksternal
a. Faktor internal
Faktor internal adalah motivasi yang berasal dari dalam diri
manusia, biasanya rimbul dari perilaku yang dapat memenuhi
kebutuhan sehingga menjadi puas. Faktor internal meliputi:
1) Faktor fisik
Faktor fisik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan
kondisi fisik misal status kesehatan pasien. Fisik yang kurang
sehat dan cacat tidak dapat disembuhkan berbahaya bagi
penyesuaian pribadi dan sosial. Pasien yang mempunyai
hambatan fisik karena kesehatannya buruk sebagai akibat mereka
selalu frustasi terhadap kesehatannya.
2) Faktor proses mental
Motivasi merupakan suatu proses yang tidak terjadi begitu
saja, tapi ada kebutuhan yang mendasari munculnya motivasi
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

tersebut. Pasien dengan fungsi mental yang normal akan


menyebabkan bias yang positif terhadap diri. Seperti halnya
adanya kemampuan untuk mengontrol kejadian-kejadian dalam
hidup yang harus dihadapi, keadaan pemikiran dan pandangan
hidup yang positif dari diri pasien dalam reaksi terhadap perawatn
akan meningkatkan penerimaan diri serta keyakinan diri sehingga
mampu mengatasi kecemasan dan selalu berpikir optimis untuk
kesembuhannya.
3) Faktor herediter
Bahwa manusia diciptakan dengan berbagai macam tipe
kepribadian yang secara herediter dibawa sejak lahir. Ada tipe
kepribadian tertentu yang mudah termotivasi atau sebaliknya.
Orang yang mudah sekali tergerak perasaannya, setiap kejadian
menimbulkan reaksi penasaran padanya. Sebaliknya ada yang
hanya bereaksi apabila mengahdapi kejadian-kejadian yang
memang sungguh penting.
4) Keinginan dalam diri sendiri
Misalnya keinginan untuk lepas dari keadaan sakit yang
mengganggu aktivitasnya sehari-hari, masih ingin menikmati
prestasi yang masih dipuncak karir, merasa belum sepenuhnya
mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki.
5) Kematangan usia
Kematangan usia akan mempengaruhi pada proses berfikir
dan pengambilan keputusan dalam melakukan pengobatan yang
menunjang kesembuhan pasien.
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor motivasi yang berasal dari luar diri
seseorang yang merupakan pengaruh dari orang lain atau lingkungan.
Faktor eksternal meliputi:
1) Faktor lingkungan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Lingkungan adalah suatu yang berada disekitar pasien baik


fisik, psikologi, maupun sosial (Notoadmojo, 2010). Lingkungan
sangat berpengaruh terhadap motivasi pasien dalam melakukan
aktivitas sehari-hari secara mandiri.
2) Dukungan sosial
Dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosional dari
anggota keluarga yang lain, teman, waktu dan uang merupakan
faktor-faktor penting dalam kepatuhan tehadap program medis
(Niven, 2010).
3) Fasilitas (sarana dan prasarana)
Ketersediaan fasilitas yang menunjang kesembuhan pasien
tersedia, mudah terjangkau menjadi motivasi pasien untuk sembuh.
Termasuk dalam fasilitas adanya pembebasan biaya berobat untuk
pasien stroke.

e. Cara Meningkatkan Motivasi


a. Memotivasi dengan kekerasan (motivating by force yaitu cara
memotivasi dengan ancaman hukuman atau kekerasan dasar yang
dimotivasi sehingga dapat melakukan apa yang harus dilakukan).
b. Memotivasi dengan bujukan (motivating by enticement, yaitu cara
memotivasi dengan bujukan atau memberi hadiah agar dapat
melakukan sesuatu harapan yang memberikan motivasi.
c. Memotivasi dengan identifikasi (motivating by identification ), yaitu
cara memotivasi dengan menanamkan kesadaran (Sunaryo, 2009).

2. Activities Daily Living (ADL)


a. Defenisi Activities Daily Living (ADL)
ADL adalah keterampilan dasar dan tugas okupasional yang harus
dimiliki seseorang untuk merawat dirinya secara mandiri yang
dikerjakan seseorang sehari-harinya dengan tujuan untuk
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

memenuhi/berhubungan dengan perannya sebagai pribadi dalam


keluarga dan masyarakat (Sugiarto, 2005).
Aktivitas sehari-hari berhubungan erat dengan kebutuhan dasar
manusia yang merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia
dalam mempertahankan keseimbangan fisiologis maupun psikologis,
yang tentunya bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan
kesehatan (Hidayat, 2007).

b. Macam-Macam Activities Of Daily Living


a. Activities Of Daily Living dasar, sering disebut ADL saja, yaitu
keterampilan dasar yang harus dimiliki seseorang untuk merawat
dirinya meliputi berpakaian, makan & minum, toileting, mandi,
berhias. Ada juga yang memasukkan kontinensi buang air besar dan
buang air kecil dalam kategori ADL dasar ini. Dalam kepustakaan
lain juga disertakan kemampuan mobilitas (Sugiarto, 2005).
b. Activities Of Daily living instrumental, yaitu ADL yang berhubungan
dengan penggunaan alat atau benda penunjang kehidupan sehari-
hari seperti menyiapkan makanan, menggunakan telefon, menulis,
mengetik, mengelola uang kertas ADL dasar, sering disebut ADL
saja, yaitu ketrampilan dasar yang harus dimiliki seseorang untuk
merawat dirinya meliputi berpakaian, makan & minum, toileting,
mandi, berhias. Ada juga yang memasukkan kontinensi buang air
besar dan buang air kecil dalam kategori ADL dasar ini. Dalam
kepustakaan lain juga disertakan kemampuan mobilitas (Sugiarto,
2005).
c. Activities Of Daily Living vokasional, yaitu ADL yang berhubungan
dengan pekerjaan atau kegiatan sekolah.
d. ADL non vokasional, yaitu ADL yang bersifat rekreasional, hobi, dan
mengisi waktu luang.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

a. Cara Pengukuran Activities Of Daily Living


Pengkajian Activities Daily living penting untuk mengetahui tingkat
ketergantungan atau besarnya bantuan yang diperlukan dalam
kehidupan sehari-hari. Pengukuran kemandirian ADL akan lebih mudah
dinilai dan dievaluasi secara kuantitatif dengan sistem skor yang sudah
banyak dikemukakan oleh berbagai penulis ADL dasar, sering disebut
ADL saja, yaitu ketrampilan dasar yang harus dimiliki seseorang untuk
merawat dirinya

b. Indeks Barthel (IB)


Indeks Barthel merupakan suatu instrument pengkajian yang
berfungsi untuk mengukur kemandirian fungsiona dalam hal perawatan
diri dan mobilitas serta dapat juga digunakan sebagai kriteria dalam
menilai kemampuan fungsional bagi pasien - pasien yang mengalami
gangguan keseimbangan dengan menggunakan 10 indikator, yaitu:

Tabel 2. Indeks Bhartel

No Item yang dinilai Dibantu Mandiri

1. Makan(bila makanan harus 5 10


dipotong-potong dulu=dibantu)
2. transfer dari kursi roda ke tempat 5-10 15
tidur dan kembali (termasuk duduk
di bed)
3. Higieni personal (cuci muka, 0 5
menyisir, bercukur jenggot, gosok
gigi)
4. Naik & turun kloset/ WC 5 10
(melepas/memakai pakaian, cawik,
menyiram WC)
5. Mandi 0 5

6. Berjalan di permukaaan datar 10 15


(atau bila tidak dapat berjalan, 0 5
dapat mengayuh kursi roda
sendiri)
7. Naik & turun tangga 5 10
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

8. Berpakaian(termasuk memakai tali 5 10


sepatu, menutup resleting)
9. Mengontrol anus 5 10

10. Mengontrol kandung kemih 5 10

Sumber : Sugiarto,2005.

e. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Activities of Daily Living


Menurut Hadiwynoto (2009) faktor yang mempengaruhi
penurunan Activities Of Daily Living adalah:
a. Kondisi fisik misalnya penyakit menahun, gangguan mata dan
telinga.
b. Kapasitas mental
c. Status mental seperti kesedihan dan depresi
d. Penerimaan terhadap fungsi anggota tubuhnya
e. Dukungan anggota keluarga

f. Dampak Dukungan Keluarga Terhadap Motivasi Pasien Dalam


Pemenuhan ADL
Pasien yang menderita stroke tidak dapat menjalankan
aktivitasnya sehari-hari. Adanya keterbatasan fisik dan mental
mengharuskan pasien pasca stroke menjadi bergantung pada orang
lain, setidaknya untuk sementara waktu hingga kondisi fisik dan
mentalnya membaik (Lingga, 2013). Pada umumnya penderita stroke
akan mengalami gangguan motorik, gangguan komunikasi, gangguan
persepsi dan gangguan fungsi kognitif sehingga hal ini akan
berpengaruh pada ADL penderita stroke yang cenderung akan
mengalami ketergantungan. Tetapi tingkat ketergantungan dari
masing-masing penderita pasca stroke akan bebeda, tergantung pada
kondisi yang dialami oleh pasien (Padila, 2012).
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Dari hasil penelitian yang dilakukan Reni (2014) menyatakan


bahwa ketergantungan pada penderita stroke sebagian besar pada
dependen sedang, dimana akitvitas sehari-harinya dibantu sebagian
oleh orang lain seperti makan harus dipotong-potong dulu, merawat
diri/mandi dibantu sebagian, naik/turun tangga dibantu, berjalan
dipermukaan yang datar itu bisa dilakukan secara mandiri, mengontrol
BAK dan BAB bisa mandiri. Dengan adanya keterbatasan fisik
sebagian keadaan tubuh pasien stroke akan mengalami hemiparese
sehingga mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitasnya sehari-
hari. Hal ini akan berpengaruh pada motivasi pasien dimana pasien
akan merasa depresi dan kehilangan semangat sehingga
dibutuhkanlah dukungan keluarga untuk dapat membangkitkan
kembali semangat dan keyakinan yang ada pada diri pasien stroke
untuk dapat sembuh. Semakin tinggi dukungan dari keluarga maka
motivasi pasien untuk sembuh semakin baik (Siska, 2014).
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

A. Kerangka Konseptual
Berdasarkan tinjauan kepustakaan diperoleh bahwa sejumlah pasien
paska serangan stroke akan mengalami permasalahan yang berhubungan
dengan gangguan neurologis, yaitu kecacatan karena mengalami
kelumpuan/hemiparise anggota gerak, gangguan bicara atau
afasia/disfasia dan gangguan kognitif sehingga hal ini berpengaruh pada
ADL pasien pasca stroke yang cenderung akan mengalami
ketergantungan. Selain itu penderita pasca stroke akan mengalami
masalah psikologis berupa depresi yang diakibatkan karena kurangnya
perhatian dari keluarga.
Dukungan keluarga merupakan suatu bentuk hubungan interpersonal
yang meliputi sikap, tindakan dan penerimaan terhadap anggota keluarga,
sehingga anggota keluarga merasa ada yang memperhatikan. Pasien
pasca stroke yang menerima perhatian dan pertolongan dari seseorang
atau keluarga akan memberikan harapan untuk sembuh dari penyakitnya.
Dukungan keluarga sebagai pendukung utama dalam meningkatkan
motivasi pasien dalam pemenuhan aktivitas kebutuhan sehari-hari.
Semakin tinggi dukungan keluarga maka motivasi pasien dalam
pemenuhan kebutuhan aktivitas sehari-hari akan semakin baik.
Secara singkat, uraian diatas dapat ditampilkan dalam kerangka
konsep di bawah ini:
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Tabel 3.1. Skema kerangka konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Dukungan Keluarga Motivasi Pasien


dalam
 Dukungan emosional
pemenuhan ADL
 Dukungan penghargaan
 Motivasi intrinsik
 Dukungan informasional
 Motivasi eksrinsik
 Dukungan instrumental

Keterangan :
: Variabel Independen

: Variabel Dependen

: Penghubung Variabels

B. Hipotesis
Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka konsep diatas maka
dapat dirumuskan hipotesis penelitian yaitu Ada Hubungan Dukungan
Keluarga Dengan Motivasi Pasien Dalam Pemenuhan Activities of
Daily Living (ADL) Pada pasien Pasca Stroke di Ruang Fisioterapi
Rumah Sakit Stella Maris Makassar.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

C. Definisi Operasional
N Variabel Defenisi Parameter Cara Skala Skor
o Penelitian Operasional Ukur Ukur
1. Variabel Bentuk  Dukungan kuesion Ordin Menduk
independen perhatian emosional er al ung:
: dari keluarga  Dukungan Total
Dukungan yang dapat pengharga jawaban
keluarga dirasakan an responde
oleh pasien  Dukungan n 33-48
sehingga instrumenta
dapat l Cukup
memotivasi  Dukungan menduk
pasien dalam informasi ung:
pemenuhan Total
ADL secara jawaban
mandiri responde
n 17-32

Tidak
menduk
ung:
Total
jawaban
responde
n 0-16
2. Dependen: Suatu Motivasi Kuesio ordina - Motiva
Motivasi dorongan ekstrinsik ner l si baik
pasien yang timbul Motivasi jika
selain dari ekstrinsik total
dalam pasien nilai
juga berasal jawaba
dari luar diri n
pasien untuk respon
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

mencapai den
kemandirian 16-20
dalam - Motiva
pemenuhan si
Activities of kurang
Daily Living baik
(ADL) jika
nilai
jawaba
n
respon
den
10-15
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian
ini adalah penelitian observasional analitik, dengan menggunakan cross
sectional study yaitu dimana desain penelitian yang digunakan untuk
mengukur data variabel independen dan variabel dependen pada waktu
yang bersamaan (Nursalam, 2013) dengan maksud untuk melihat
hubungan dukungan keluarga dengan motivasi pasien dalam pemenuhan
Activities of Daily Living pada pasien pasca stroke.

B. Tempat Penelitian dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian dilakukan di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella
Maris Makassar. Alasan peneliti mengambil lokasi ini karena melalui
pengamatan awal yang dilakukan peneliti didapatkan banyak pasien
stroke yang rawat jalan sehingga mudah dijangkau oleh peneliti dan
juga lokasinya dekat dengn tempat tinggal peneliti.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 27 Januari 2017 sampai
dengan 11 Februari 2017.

C. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien pasca stroke
yang berobat jalan di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella maris
Makassar yang berjumlah 30 pasien.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

2. Sampel
Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara Non
Probality Sampling dengan menggunakan teknik Total Sampling yakni
suatu cara pengambilan sampel yang dilakukan dengan mengambil
semua anggota populasi sebagai sampel. Dalam hal ini peneliti
mengambil sampel yaitu semua pasien pasca stroke yang menjalani
rawat jalan di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris Makassar
yang berjumlah 30 pasien dengan kriteria yang telah ditentukan oleh
peneliti sebagai berikut:
a. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah karakteristik sampel yang dapat
dimsukkan untuk yang layak diteliti, antara lain:
1) Bersedia menjadi responden
2) Bisa membaca
b. Kriteria Ekslusi
Kriteria ekslusi adalah karakteristik sampel yang tidak dapat
dimasukkan atau tidak layak diteliti, antara lain:
1) Afasia brocha, afasia global

D. Instrumen Penelitian
Untuk melakukan pengumpulan data peneliti membuat instrument
sebagai pedoman pengumpulan data berupa:
1. Kuesioner A
Kuesioner A untuk identitas responden dan petunjuk pengisian
kuesioner
Kuesioner identitas responden berisi insial, umur, jenis kelamin
pekerjaan, pendidikan, status perkawinan, lama sakit, dan alamat
tempat tinggal.
2. Kuesioner B
Kuesioner B untuk menilai dukungan keluarga dengan berupa
lembaran cheklist yang berisi pertanyaan tertutup dengan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

menggunakan skala Likert yaitu skala pengukuran yang digunakan


untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang terhadap
fenomena sosial. Pernyataan terdiri dari 16 pernyataan yang terbagi
dalam tiga kategori “ sangat mendukung” jika total jawaban responden
33-48, kategori “cukup mendukung” jika total jawaban responden 0-30,
dan kategori “tidak mendukung” jika tota jawaban responden 0-16.
Ada 16 pernyataan yang berisi tentang pernyataan positif (favorable)
dan pernyataan negatif (unfavorable). Pernyataan positif untuk
dukungan keluarga yaitu dukungan emosional pada pernyataan nomor
1, 2, 3 dan 4 ; dukungan informasional pada pernyataan nomor 5, 6
dan 8 ; dukungan instrumental nomor 9, 11 dan 12 ; dan untuk
pernyataan dukungan penghargaan pada pernyataan nomor 14, 15,
dan 16. Sedangkan, pernyataan negatif dukungan keluarga pada
pernyataan nomor 7, 10 dan 13. Nilai masing-masing jawaban pada
variabel dukungan keluarga baik untuk pernyataan positif maupun
pernyataan negatif dapat dilihat pada tabel 4.1

Tabel 4.1
Nilai jawaban pernyataan variabel dukungan keluarga
Alternatif jawaban Nilai Pernyataan Nilai Pernyataan
Positif Negatif

Selalu (SL) 3 0

Sering (SR) 2 1

Kadang-kadang (KK) 1 2

Tidak pernah (TP) 0 3

3. Kuesioner C
Kuesioner C untuk menilai motivasi pasien dalam pemenuhan
Activities of Daily Living (ADL) dengan berupa lembaran cheklist yang
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

berisi pernyataan tertutup dengan menggunakan skala Guttmant.


Pernyataan tertutup ada 10, dan terbagi atas 2 kategori yaitu : kategori
“baik” jika total jawaban responden 16-20, dan kategori “kurang baik”
jika total jawaban responden 10-15. Terdapat 10 pernyataan, dimana
dari ke 10 penyataan tersebut diambil dari unsur ekstrinsik untuk
motivasi pasien dalam pemenuhan ADL.
Nilai masing-masing jawaban pada variabel motivasi pasien dalam
pemenuhan ADL dapat dilihat pada tabel 4.2

Tabel 4.2
Nilai jawaban pernyataan variabel motivasi pasien dalam pemenuhan
ADL
Alternatif Jawaban Nilai Pernyataan

Ya (Y) 2

Tidak (T) 1

E. Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini data yang dikumpulkan melalui beberapa
prosedur. Adapun prosedur yang dilakukan dalam pengumpulan data,
yaitu perlu adanya rekomendasi dari pihak institusi STIK Stella Maris
Makassar atas pihak lain dengan mengajukan permohonan izin kepada
instansi tempat penelitian dalam hal ini Ruang Fisioterapi Rumah Sakit
Stella Maris Makassar. Setelah mendapat persetujuan barulah peneliti
akan melakukan penelitian. Langkah pertama adalah responden diberi
informasi tentang penelitian yang meliputi tujuan, efek dan dampak yang
timbul dari penelitian. Setelah responden paham dan setuju untuk
berpartisipasi dalam penelitian barulah dilakukan penelitian dengan etika
penelitian sebagai berikut:
a. Informed consent
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan


diteliti yang memenuhi kriteria inklusi dan disertai jadwal penelitian dan
manfaat penelitian. Bila subjek menolak maka peneliti tidak akan
memaksa dan tetap menghormati hak-haknya.
b. Anonimity
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan
nama responden tetapi lembaran tersebut diisi dengan inisial atau
kode.
c. Confidentiality
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti dan hanya
kelompok data tertentu akan dilaporkan sebagai hasil penelitian. Data
yang telah dikumpulkan disimpan dalam disk dan hanya bisa diakses
oleh peneliti dan pembimbing.
d. Data – data yang dikumpulkan berupa:
a. Data primer
Merupakan teknik pengumpula data yang diperoleh langsung ke
lokasi penelitian. Dalam penelitian ini data primer berasal dari
kuesioner yang dibuat peneliti dan diberikan kepada responden
untuk memperoleh informasi yang ingi diketahui sesuai dengan
tujuan penelitian.
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang telah tersedia yang merupakan
hasil pengumpulan data untuk keperluan tertentu yang dapat
digunakan sebagian atau keseluruhan sebagai sumber data
penelitian. Data sekunder yang diperoleh oleh peneliti yaitu diperoleh
melalui informasi yang diberikan oleh petugas fisioterapi, identitas
responden dan data rekam medik dari Rumah Sakit Stella Maris
Makassar.

F. Pengolahan dan Penyajian Data


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Analisa data merupakan bagian dari suatu penelitian dimana tujuan dari
analisa data ini adalah agar diperoleh suatu kesimpulan masalah yang
diteliti. Data yang telah terkumpul akan diolah dan dianalisa dengan
menggunakan program komputer.
Adapun langkah-langkah data pengolahan data menurut Hidayat (2009)
meliputi:
a. Editing
Editing dilakukan untuk memeriksa ulang jumlah dan meneliti
kelengkapan pengisian kuesioner, apakah setiap pertanyaan sudah
dijawab dengan benar.
b. Coding
Coding dilakukan untuk memudahkan pengelolahan data dan semua
data perlu disederhanakan dengan cara memberikan simbol-simbol
tertentu untuk setiap jawaban.
c. Entry data
Dilakukan dengan memasukkan data ke dalam komputer dengan
menggunakan aplikasi komputer.
d. Tabulating
Setelah data terkumpul dan tersusun selanjutnya data dikelompokkan
dalam suatu tabel menurut sifat-sifat yang dimiliki sesuai dengan tujuan
penelitian.

G. Analisa Data
Data yang terkumpul dianalisis secara analitik dan diinterprestasi dengan
mengguankan uji statisitik yaitu dengan menggunakan metode komputer
program SPSS versi20 windows.
1. Analisa Univariat
Analisa univariat dilakukan terhadap setiap variabel dari setiap
penelitian. Analisa ini menghasilkan disitribusi dan persentasi dari
setiap variabel yang diteliti.
2. Analisa Bivariat
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel independen dan


variabel dependen sesuai dengan tujuan penelitian maka analisa
bivariat ini meliputi hubungan dukungan keluarga dengan motivasi
pasien dalam pemenuhan Activities of Daily Living. Analisis bivariat
dilakukan terhadap tiap variabel untuk melihat adanya hubungan
dengan menggunakan uji Chi Square dan tingkat kemaknaan 5 % (α =
0,05).
Interprestasi berdasarkan nilai p value:
a) Apabila nilai p<α, maka Ha diterima dan Ho ditolak, artinya ada
hubungan dukungan keluarga dengan motivasi pasien dalam
pemenuhan Activities of Daily Living (ADL) pada pasien pasca
stroke.
b) Apabila nilai p≥α, maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya tidak ada
hubungan dukungan keluarga dengan motivasi pasien dalam
pemenuhan Activities of Daily Living (ADL) pada pasien pasca
stroke.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

BAB V
PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Pengantar
Bab ini menjelaskan hasil penelitian tentang “Hubungan dukungan
keluarga dengan motivasi pasien dalam pemenuhan activity daily living
(ADL) pada pasien pasca stroke di unit fisioterapi Rumah Sakit Stella
Maris Makassar”. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental
dengan menggunakan desain penelitian observasional analitik dimana
rancangan penelitian ini bertujuan mencari hubungan antara variabel
independen yaitu dukungan keluarga dan variabel dependen yaitu
motivasi pasien dalam pemenuhan Activity Daily Living (ADL) pada
pasien pasca stroke.
Penelitian ini mulai dilaksanakan pada tanggal 27 Januari sampai
11 Februari 2017. Pengumpulan data menggunakan kuesioner sebagai
alat ukurnya dengan pendekatan cross sectional study dimana
pengukuran dan pengamatan variabel independen dan variabel
dependen dilakukan pada saat bersamaan atau hanya satu kali pada
saat tertentu, terhadap 30 responden yang memenuhi kriteria penelitian.
Untuk pengolahan data menggunakan komputer program SPSS for
windows versi 20.0. data yang telah terkumpul selanjutnya dianalisis
dengan menggunakan uji statistik chi-square tabel 3X2 dilanjutkan
dengan penggabungan sel tabel 2X2. Adapun ketentuan terhadap besar
kekuatan hubungan jika nilai p ≤ 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak
yang artinya ada hubungan dukungan keluarga dengan motivasi pasien
dalam pemenuhan activity daily living (ADL) pada pasien pasca stroke.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

2. Gambaran Umum Lokasi Penelitian


Rumah Sakit Stella Maris Makassar didirikan pada tanggal 08
Desember 1983, kemudian diresmikan pada tanggal 22 Desember 1939
dan kegiatan dimulai pada tanggal 07 Januari 1940. Rumah Sakit Stella
Maris merupakan salah satu Rumah Sakit Swasta Katolik tertua di
Makassar. Rumah Sakit ini berada di Jl. Somba Opu No. 237, Kelurahan
Losari, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi
Selatan.
Terbentuknya Rumah Sakit Stella Maris Makassar bermula dari
nilai kasih yang tulus dan membuahkan cita-cita luhur yang membuat
keprihatinan dan kepedulian akan penderitaan orang-orang kecil yang
kurang mampu. Oleh karena itu, sekelompok suster-suster JMJ
Komunitas Stella Maris Makassar mewujudkan kasih dan cita-cita
tersebut ke dalam suatu rencana untuk membangun sebuah Rumah
Sakit Katolik yang berpedoman pada nilai-nilai injil dan masih terus
berkembang dan berinovasi sampasi saat ini untuk menjadi rumah sakit
yang lebih berkualitas.
Penelitian ini dilaksanakan di unit fisioterapi Rumah Sakit Stella
Maris Makassar dengan kapasitas 6 tempat tidur dan 1 tempat tidur
untuk traksi, dengan jumlah tenaga 5 orang.
Rumah Sakit Stella Maris memiliki visi dan misi tersendiri. Dalam
penyusunan visi dan misi pihak Rumah Sakit Stella Maris mengacu pada
misi PT. Citra Ratna Nirmala sebagai pemilik Rumah Sakit Nirmala
sebagai pemilik Rumah Sakit Stella Maris Makassar.
Adapun visi dan misi Rumah Sakit Stella Maris Makassar adalah
sebagai berikut:
a. Visi
Menjadi Rumah Sakit terbaik di Sulawesi Selatan, khususnya dibidang
keperawatan dengan semangat cinta kasih Kristus pada sesama.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

b. Misi
1) Tetap memperhatikan golongan masyarakat lemah (option for the
poor).
2) Pelayanan dengan mutu keperawatan prima.
3) Pelayanan kesehatan dengan standar peralatan kedokteran yang
mutakhir dan komprehensif
4) Peningkatan kesejahteraan karyawan dan kinerjanya
3. Karakteristik Responden
a. Kelompok Umur
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelompok
Umur Pada Pasien Pasca Stroke di Unit Fisioterapi
Rumah Sakit Stella Maris Makassar

Kelompok Umur Presentase (%)


Frekuensi (f)
(Tahun)
40-46 4 13,3
47-53 8 26,7
54-60 4 13,3
61-67 7 23,3
68-74 4 13,3
75-81 3 10

Total 30 100

Sumber : data primer 2017

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti di


unit fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris Makassar, dari 30 responden
kelompok umur paling banyak berada pada rentan umur 47-53 tahun
sebanyak 8 (26,7%) responden dan umur terkecil berada pada rentan
umur 75-81 tahun sebanyak 3 (10%) responden.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

b. Jenis kelamin
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Berdasrkan Jenis Kelamin Pada
Pasien Pasca Stroke di Unit Fisioterapi Rumah
Sakit Stella Maris Makassar

Jenis kelamin Frekuensi (f) Presentase(%)

Perempuan 12 40

Laki-laki 18 60

Total 30 100

Sumber: Data Primer 2017


Dari peneitian yang dilaksanakan di unit fisioterapi Rumah Sakit
Stella Maris Makassar, dari 30 responden diperoleh data jumlah
responden terbanyak adalah laki-laki dengan 18 (60%) responden dan
responden terkecil adalah perempuan dengan jumlah 12 (40%)
responden.

c. Tingkat pendidikan
Tabel 5.3
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat


Pendidikan pada Pasien Pasca Stroke di Unit
Fisioterapi RS. Stella Maris Makassar

Pendidikan Frekuensi (f) Presentase (%)

SD 7 23,3
SMP 4 13,3
SMA 11 36,7
PT 8 26,7

TOTAL 30 100

Sumber:Data Primer 2017


Hasil penelitian yang dilaksanakan di unit fisioterapi Rumah Sakit
Stella Maris Makassar, dari 30 responden data jumlah pendidikan
terakhir responden paling banyak adalah SMA sebanyak 11 (36,7%)
responden dan jumlah pendidikan terakhir responden dengan jumlah
terkecil adalah SMP sebanyak 4 (13,3%) responden.

d. Pekerjaan
Tabel 5.4
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan pada


Pasien Pasca Stroke di Unit Fisioterapi Rumah Sakit
Stella Maris Makassar

Pekerjaan Frekuensi (f) Presentase (%)

Petani 4 13,2
IRT 7 23,3
Pensiunan 9 30,3
Wiraswasta 6 20,0
PNS 4 13,2

Total 30 100

Sumber: Data Primer 2017


Dari hasil penelitian berdasarkan pekerjaan yang dilaksanakan di
unit fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris Makassar, didapati bahwa
dari 30 responden jumlah pekerjaan terbesar berada pada status
pekerjaan Pensiunan sebanyak 9 (30,3%) responden dan jumlah
terkecil pada status PNS dan Petani yaitu masing - masing 4 (13,2%)
responden.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

e. Status Perkawinan
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Status
Perkawinan pada Pasien Pasca Stroke di Unit
Fisioterapi Rumah Sakit Stella
Maris Makassar

Status Perkawinan Frekuensi (f) Presentase (%)

Menikah 27 90
Tidak Menikah 3 10

Total 30 100

Sumber data: primer 2017


Dari hasil penelitian di unit fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris
Makassar, didapati bahwa dari 30 responden berdasarkan satus
perkawinan paling besar jumlahnya pada status menikah sebanyak 27
(90%) responden dan jumlah terkecil pada status tidak menikah
sebanyak 3 (10%).
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

4. Hasil Analisa Variabel Penelitian


a. Analisa Univariat
1) Dukungan Keluarga

Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan
Keluarga pada Pasien Pasca Stroke di Unit
Fisioterapi Rumah Sakit Stella
Maris Makassar

Dukungan Presentase (%)


Frekuensi (f)
Keluarga
Mendukung 16 53,3
Cukup Mendukung 10 33,3
Tidak Mendukung 4 13,4

Total 30 100

Sumber: Data Primer 2017


Hasil penelitian yang telah dilaksanakan di unit fisioterapi
Rumah Sakit Stella Maris Makassar dari 30 responden diperoleh
Mendukung sebanyak 16 (53,3%), responden yang mendapat
dukungan cukup sebanyak 10 (33,3%), dan responden yang tidak
mendapat dukungan dari keluarga yaitu sebanyak 4 (13,4%).
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

2). Motivasi Pasien Dalam Pemenuhan Activity Daily Living


Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Motivasi Pasien
Dalam Pemenuhan Activity Daily Living pada Pasien
Pasca Stroke di Rumah Sakit Stella Maris
Makassar
Motivasi Pasien Dalam Frekuensi (f) Presentase
Pemenuhan ADL (%)

Baik 20 66,7
Kurang 10 33,3

Total 30 100

Sumber data: primer 2017


Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan di unit
fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris Makassar, dari 30 responden
diperoleh 20 (66,7%) dengan motivasi pasien yang baik dan 10
(33,3%) dengan motivasi pasien yang kurang.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

b. Analisa Bivariat
Tabel 5.8
Analisis Hubungan Dukungan Keluarga dengan Motivasi Pasien
Dalalm Pemenuhan Activity Daily Living pada Pasien Pasca
Stroke di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris
Makassar

Motivasi pasien dalam P


Total Value
pemenuhan ADL
Dukungan
keluarga Baik Kurang Baik
f % f % n %

Mendukung 15 50 1 3,3 16 53,3

Tidak 0,001
Mendukung 5 16,7 9 30 14 46,7

Total 20 66,7 10 33,3 30 100


Sumber:Data primer 2017

Dalam penelitian ini, analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui


hubungan dukungan keluarga dengan motivasi pasien dalam
pemenuhan activity daily living (ADL) pada pasien pasca stroke yang
masih melakukan rawat jalan di unit fisioterapi Rumah Sakit Stella
Maris Makassar. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan
di unit fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris Makassar, diperoleh dari
30 responden didapatkan dukungan keluarga yang mendukung
dengan motivasi baik dalam pemenuhan actvitiies of daily living (ADL)
sebanyak 15 (50%) responden, dukungan keluarga yang mendukung
dengan motivasi pasien kurang dalam pemenuhan activity daily living
(ADL) sebanyak 1 (3,3%) responden, dukungan keluarga yang tidak
mendukung dengan motivasi pasien baik dalam pemenuhan activity
daily living (ADL) sebanyak 5 (16,7%) responden, dukungan keluarga
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

yang tidak mendukung dengan motivasi kurang dalam pemenuhan


activities of daily living (ADL) sebanyak 9 (30%) responden.
Analisa dengan menggunakan uji statistik Chi Square,
dilanjutkan dengan penggabungan sel dan dilanjutkan dengan
menggunakan uji fisher. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,001
dimana nilai α= 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa p<α. Hal ini
menunjukkan bahwa hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis
nol (Ho) di tolak, berarti ada hubungan dukungan keluarga dengan
motivasi pasien dalam pemenuhan activity daily living (ADL) pada
pasien pasca stroke di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris
Makassar.

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Unit Fisioterapi
Rumah Sakit Stella Maris Makassar, terdapat 15 (50%) responden yang
mendapat dukungan dari keluarga dengan kategori mendukung dengan
motivasi pasien dalam pemenuhan Activities of Daily Living (ADL)
kategori baik. Hal ini sesuai dengan teori WHO tahun 2007 yang terus
berkembang yang mengatakan motivasi pasien dalam pemenuhan
Activity of Daily Living (ADL) sangat berkaitan dengan beberapa aspek
penting salah satunya yaitu dukungan keluarga. Terjadinya stroke pada
seseorang dapat menyebabkan kecacatan antara lain berupa
kelumpuhan pada separuh badan, terganggunya penglihatan dan
pendengaran, berkurangnya daya ingat, kemunduran mental, dan
menurunnya kemampuan berbicara dan berkomunikasi (Misbach,
2011). Dengan adanya keterbatasan fisik sebagian keadaan tubuh
pasien stroke mengalami hemiparese sehingga mereka dalam
melakukan aktivitas sehari-hari akan merasa kesulitan. Hal ini akan
berpengaruh pada motivasi pasien dimana pasien akan merasa depresi
dan kehilangan semangat sehingga dibutuhkanlah dukungan keluarga
untuk dapat membangkitkan kembali semangat dan keyakinan yang
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

ada pada diri pasien pasca stroke untuk dapat sembuh. Selain itu pada
penelitian sebelumnya menyatakan bahwa dukungan keluarga bagi
pasien stroke sangat penting untuk membantu dalam proses
penyembuhan dan rehabilitasi pasien yang seringkali membutuhkan
waktu yang lama (Wurtiningsih, 2012).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Endrayani (2011)
mengenai hubungan dukungan keluarga dengan kemandirian activity
daily living pasien post stroke di RSU KPU Muhammadiyah Bantul yang
menyatakan bahwa dukungan keluarga dapat mempengaruhi
kemandirian activity daily living (ADL) pada pasien post stroke karena
semakin ada dukungan dari keluarga maka kemandirian pasien dalam
pemenuhan activities of daily living (ADL) akan semakin baik. Pasien
dalam memenuhi aktivitas sehari-harinya akan semakin mandiri,
karena pasien merasa bahwa tetap ada yang memberikan perhatian,
kasih sayang atau ada yang peduli kepadanya walaupun sedang sakit.
Dukungan keluarga yang dapat diberikan seperti dukungan
informasional sehubungan dengan mengenai penyakit stroke itu sendiri,
dukungan emosional yaitu memberi perhatian dan motivasi, dukungan
instrumental yaitu bagaimana keluarga memberikan bantuan dan
fasilitas untuk membantu pasien selama perawatan seperti penyediaan
dana kesehatan dan kesediaan keluarga menggantikan pekerjaan
rumah yang biasa dilakukan penderita sebelum sakit, serta dukungan
penghargaan yang merupakan hal penting dalam keluarga dimana
dengan dukungan penghargaan seseorang menyatakan penghargaan
dan penilaian positif bagi orang lain.
Dalam hal ini peneliti berasumsi bahwa dukungan keluarga
memegang peranan penting dalam menentukan proses penyembuhan
seseorang termasuk memotivasi pasien dalam pemenuhan activities of
daily living (ADL) pada pasien pasca stroke. Keluarga merupakan
orang yang terdekat, terpercaya, keterikatan fisik dan emosional
sehingga dapat memberikan dukungan berupa sikap, tindakan dan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

perhatian yang menentukan status kesehatan sehingga mempengaruhi


motivasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Dengan adanya perhatian, kasih sayang dalam mendampingi pasien
pasca stroke, pasien merasa lebih nyaman, optimis dan termotivasi
untuk sembuh sehingga aktivitas sehari-harinya dapat dilakukan secara
mandiri. Fungsi dukungan keluarga, mempengaruhi baik dan kurangnya
dukungan yang diberikan. Apabila salah satu dari fungsi atau bentuk
dukungan keluarga kurang diberikan maka akan mempengaruhi proses
pemulihan pasien pasca stroke itu sendiri.
Hasil penelitian menunjukkan ada 1 (3,3%) responden yang
memiliki dukungan keluarga mendukung, namun memiliki motivasi
dalam pemenuhan Acttivities of Daily Living kurang baik. Hal ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Sumidjo dalam Subekti (2010),
yang menyatakan bahwa motivasi pasien stroke dalam pemenuhan
aktivitas hidup sehari-harinya dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor
instrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor instrinsik yaitu faktor atau
motivasi yang telah berfungsi dengan sendirinya tanpa adanya
dorongan atau rangsangan dari luar sedangkan faktor ekstrinsik yaitu
faktor atau motivasi yang berfungsi karena adanya dorongan dari pihak
luar atau orang lain.
Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Aprilia (2014) mengenai hubungan dukungan keluarga dengan motivasi
pada pasien pasca stroke untuk menjalani fisioterapi di RSUD Wilayah
Kabupaten Semarang yang menyatakan bahwa motivasi pasien rendah
bukan hanya dipengaruhi oleh faktor dari dalam dan luar diri pasien itu
sendiri, tetapi ada juga faktor yang ikut mempengaruhi seperti umur,
pekerjaan dan jenis kelamin. Berdasarkan umur penderita stroke
didapatkan bahwa sebagian besar responden berumur 46-65 tahun.
Usia 46-65 tahun merupakan usia produktif dan usia seseorang mulai
memasuki masa pensiun sehingga seseorang akan merasa stres
karena akan kehilangan pekerjaan atau karir. Selain itu, berdasarkan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

hasil penelitian didapatkan sebagian besar responden berjenis kelamin


laki-laki dengan pekerjaan pensiunan. Hal ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor salah satunya, yaitu gaya hidup seperti ; kebiasaan
merokok, mengkonsumsi minuman alkohol dan faktor stres yang sering
terjadi pada laki-laki.
Sesuai dengan teori diatas peneliti mengasumsi bahwa
responden yang mendapat dukungan keluarga mendukung namun
memiliki motivasi dalam pemenuhan Activities of Daily Living kurang
baik dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ; umur, jenis kelamin dan
pekerjaan. Berdasarkan penelitian didapatkan sebagian besar
responden berjenis kelamin laki-laki berumur 46-68 tahun. Hal ini
berkaitan dengan gaya hidup pada laki-laki seperti ; kebiasaan
merokok, mengkonsumsi minuman alkohol dan faktor stres karena
seseorang akan kehilangan pekerjaan atau karirnya sehingga hal
tersebut dapat mempengaruhi motivasi seseorang dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Berdasarkan hasil penelitian terdapat 5 (6,7%) responden
memiliki dukungan keluarga kategori tidak mendukung dengan
motivasi pasien dalam pemenuhan Activities of Daily Living (ADL) baik.
Motivasi adalah daya atau kekuatan yang berasal dari dalam diri
individu atau penderita yang mendorong, membangkitkan,
menggerakkan, menjalankan dan mengontrol seseorang serta
mengarahkan pada tindakan penyembuhan atau pulih kembali serta
bebas dari suatu penyakit yang dideritanya selama beberapa waktu,
yang pada akhirnya membentuk keadaan sejahtera baik dari badan,
jiwa, dan sosial yang memungkinkan seseorang menjadi produktif
secara sosial dan ekonomi (Syahra, 2012).
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Rasajati (2015)
mengenai hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan menjalani
fisioterapi pada pasien pasca stroke di Ruang Fisioterapi RSUD Genuk
Semarang yang menyatakan bahwa dari hasil penelitian menunjukkan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

bahwa 47,4% motivasi responden baik meskipun dukungan dari


keluarga kurang. Hal ini disebabkan karena pasien sendiri yakin bahwa
penyakitnya dapat sembuh jika pasien dapat rutin datang berobat di
Rumah Sakit dan mengikuti semua anjuran yang diberikan oleh dokter.
Hal ini tampak dari keseriusan pasien datang untuk melakukan
Fisioterapi meskipun tidak didampingi oleh keluarga. Karena pasien
yakin bahwa dengan pasien rutin datang melakukan fisioterapi maka
secara perlahan kekuatan ototnya dapat kembali dan pasien dapat
melakukan aktivitas kegiatan sehari-harinya secara mandiri. Selain itu,
pasien juga seringkali mencari informasi melalui sosial media dan
melakukan konsultasi dengan dokter terkait dengan penyakit yang
dialaminya dan bagaimana cara menyembuhkannya.
Menurut asumsi peneliti responden yang tidak mendapat
dukungan dari keluarga tetapi tetap memiliki motivasi yang baik dalam
pemenuhan Activities of Daily Living (ADL) hal ini disebabkan karena
selain faktor ekstrinsik, faktor instrinsik yaitu keinginan dari dalam diri
sendiri merupakan faktor yang sangat memegang peran penting yang
dapat mendorong pasien untuk dapat memiliki sebuah harapan,
motivasi atau semangat yang tinggi dari dirinya sendiri agar dapat pulih
dari kelumpuhan atau penyakitnya sehingga responden akan berusaha
untuk dapat memenuhi aktivitas hidup sehari-harinya secara mandiri
tanpa bergantung penuh terhadap orang lain. Selain untuk sembuh
pasien juga masih memiliki harapan agar dapat bekerja lagi, ingin tetap
diharga pasangannya sehingga bisa mandiri dan tidak merepotkan
orang lain.
Berdasarkan hasil penelitian terdapat 9 (30%) responden
memiliki dukungan keluarga kategori tidak mendukung dengan motivasi
pasien dalam pemenuhan Activities of Daily Living (ADL) kurang baik.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Zumerlii (2012) tentang hubungan dukungan keluarga dengan motivasi
penderita gagal ginjal kronik (GGK) dalam menjalani terapi hemodialisa
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

di RSUD [Link] Sumarso Wonogiri. Dimana dijelaskan bahwa


dukungan yang diberikan dari keluarga dapat menumbuhkan rasa
percaya diri dan meningkatkan motivasi pasien gagal ginjal kronik untuk
melakukan hemodialisa. Dukungan dari keluarga merupakan unsur
terpenting dalam membantu individu menyelesaikan suatu masalah.
Apabila ada dukungan dari keluarga rasa percaya diri akan bertambah
dan motivasi untuk mengatasi masalah yang terjadi akan semakin
meningkat begitupun sebaliknya apabila tidak ada dukungan keluarga
maka motivasi seseorang untuk dapat menyelesaikan suatu masalah
kesehatan atau motivasi pasien untuk sembuh akan berkurang.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian Kossay
(2011) tentang Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan
menjalani fisioterapi pada klien pasca stroke di Instalasi Rehabilitas
Medik RSED Sleman Yogyakarta, dimana yang mendapatkan
dukungan keluarga sebesar (55,0%) dukungan keluarga dengan
kategori tidak mendukung disebabkan karena keluarga memiliki
hambatan dengan berbagai faktor, seperti; sibuk bekerja sehingga tidak
mempunyai atau sedikit waktu yang dimiliki untuk bersama dengan
keluarganya yang terkena stroke. Kesibukan keluarga dalam bekerja
juga mempengaruhi dukungan keluarga terhadap anggota keluarga
lainnya. Kesibukan seseorang akan menyebabkan orang tersebut tidak
memperhatikan dan memotivasi anggota keluarganya yang pasca
stroke agar dapat berusaha memenuhi aktivitas hidup sehari-harinya
secara mandiri. Kurangnya informasi yang diterima keluarga akan
menyebabkan keluarga tidak menyadari dan tidak tahu betapa
pentingnya dukungan keluarga untuk memberikan motivasi akan
kesembuhan pasien dari kelumpuhan atau penyakitnya, kemudian jarak
rumah dengan Rumah Sakitpun cukup jauh sehingga membuat
keluarga pasien kadangkala malas untuk mebawa responden ke
Rumah Sakit. Akibatnya, pasien akan merasa depresi dan kehilangan
semangat hidup karena tidak ada keluarga yang memperhatikan dan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

menaruh kasih sayang terhadapnya sehingga motivasi pasien untuk


sembuh dan dapat mampu memenuhi aktivitas hidup sehari-harinya
menjadi kurang baik bahkan tidak ada.
Menurut asumsi peneliti dukungan keluarga dengan kategori
tidak mendukung disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya
disebabkan karena keluarga memiliki kesibukan masing-masing
sehinggga keluarga kadangkala tidak mempunyai atau meluangkan
sedikit waktu untuk memperhatikan dan memotivasi anggota keluarga
yang sedang sakit. Akibatnya pasien akan merasa kurang mendapat
perhatian dan kasih sayang dari anggota keluarganya sendiri. Selain
itu, kurangnya informasi yang diterima keluarga tentang pentingnya
dukungan keluarga yang diberikan pada pasien stroke dan jarak antara
rumah dan rumah sakitpun kadangkala menjadi faktor yang dapat
mempengaruhi motivasi pasien dalam pemenuhan aktivitas sehari-hari.
Dimana keluarga biasanya malas membawa anggota keluarganya ke
Rumah Sakit untuk berobat karena jarak antara rumah dan Rumah
Sakit yang cukup jauh.
Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi-
square dilanjutkan dengan penggabungan sel. Hasil uji statistic
diperoleh nilai p=0,001 dimana nilai α=0,05, maka dapat disimpulkan
bahwa p<α. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis alternatif (Ha)
diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak, berarti ada hubungan dukungan
keluarga dengan motivasi pasien dalam pemenuhan Activities of Daily
Living (ADL) pada pasien pasca stroke di Unit Fisioterapi Rumah Sakit
Stella Maris Makassar.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Pratiwi (2012), hasil uji statistik didapatkan nilai ρvalue = 0,002 < α 0,05
maka dapat disimpulkan ada hubungan antara dukungan keluarga
dengan motivasi sembuh pasien dalam mengikuti program Dots di
Wilayah BBPKM Magelang. Dimana dari hasil penelitian ini dijelaskan
bahwa motivasi sembuh pasien didapatkan karena adanya dukungan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

yang tinggi dari orang terdekatnya terutama keluarga. Dalam hal ini
keluarga harus menjalankan ke empat bentuk dukungan yang diberikan
kepada pasien meliputi ; dukungan emosional (perhatian, kasih sayang,
empati), dukungan penghargaan (menghargai, umpan balik), dukungan
informasi ( saran, nasehat, informasi terkait kesehatan dan penyakit
pasien), dan dukungan instrumental (bantuan tenaga, dana dan waktu).
Dukungan adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga
terhadap anggotanya. Anggota keluarga memandang bahwa orang
bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan
jika diperlukan (Murniasih, 2012). Namun kadangkala pada pasien
pasca stroke sering juga terjadi penurunan motivasi dalam pemenuhan
aktivitas kebutuhan sehari-hari seperti makan, minum, berpakaian,
berjalan, toileting dan sebagainya. Hal tersebut dikaitkan dengan
perubahan kehidupan dari pasien pasca stroke yang mengalami
perubahan kecacatan fisik, sehingga mereka mengalami kelumpuhan
(kekakuan) pada sebagian anggota tubuh dan mengalami tingkat
kecacatan yang semakin meningkat dengan tingkat pemulihan atau
penyembuhan yang lama dan membutuhkan biaya yang cukup besar.
Hal ini bisa berdampak pada penurunan kemampuan ekonomi keluarga
dalam menunjang pemenuhan aktivitas sehari-hari pada pasien pasca
stroke akibatnya beban ekonomi keluarga ikut meningkat.
Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Ratna (2010) yang menyatakan bahwa dukungan keluarga yang positif
sangat bermanfaat bagi kedua belah pihak dan akan saling
membutuhkan dukungan. Karena dari pengalaman dan penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh Fenny (2015) mengatakan bahwa
adanya dukungan dari keluarga sangat penting bagi pasien stroke
karena hal tersebut dapat memberikan motivasi pasien pasca stroke
dalam memenuhi aktivitas kebutuhan hidupnya sehari-hari secara
mandiri. Sejalan dengan teori tersebut maka peneliti berasumsi bahwa
dukungan keluarga sangat berhubungan dengan motivasi pasien dalam
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

pemenuhan kebutuhan sehari-hari secara mandiri pada pasien pasca


stroke. Karena untuk menumbuhkan motivasi dalam diri pasien pasca
stroke dalam memenuhi aktivitas keutuhan hidupnya sehari-hari
memerlukan dukungan yang tinggi dari keluarga. Kekuatan dari dalam
diri pasien pasca stroke akan lebih meningkat jika didukung oleh
kekuatan lain (dukungan keluarga) dan dengan adanya rasa percaya
diri dari dalam diri pasien itu sendiri. Dukungan keluarga merupakan
faktor eksternal untuk dapat mempengaruhi motivasi seseorang, tetapi
dukungan keluarga sangat berperan bagi mereka yang sedang
menghadapi atau menderita suatu penyakit khususnya pada pasien
pasca stroke, karena hal ini dapat membantu dan mempercepat proses
penyembuhan bagi pasien pasca stroke (Arlija, 2009).
Menurut asumsi peneliti bahwa terdapat hubungan yang
signifikan antara dukungan keluarga dengan motivasi pasien dalam
pemenuhan Activities of Daily Living (ADL). Hal ini disebabkan karena
peran dan dukungan keluarga dalam proses penyembuhan sangatlah
penting sehingga mereka termotivasi untuk sembuh, hal ini diperkuat
oleh tingginya dukungan dari keluarga, maka akan semakin baik pula
motivasi pasien dalam pemenuhan Activities of Daliy iving (ADL)
sehingga mempercepat proses perbaikan saraf dan dapat membantu
proses penyembuhan bagi pasien pasca stroke. Dengan demikian,
pasien pasca stroke dapat memenuhi aktivitas sehari-harinya secara
mandiri.
Selain itu, faktor instrinsik juga yang merupakan keinginan dari
dalam diri pasien sendiri menjadi salah satu faktor pendukung yang
dapat mendorong pasien agar memiliki motivasi, semangat dan
keyakinan untuk dapat pulih dari penyakitnya sehingga dalam
pemenuhan Activities of Daily Living (ADL) pasien dapat mandiri. Maka
dapat disimpulkan bahwa motivasi pasien dalam pemenuhan Activities
of Daily Liiving (ADL) pada pasien pasca stroke di Unit Fisioterapi
Rumah Sakit Stella Maris Makassar berada pada motivasi baik.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

C. Keterbatasan Penelitian
Sebagaimana peneliti yang lain, peneliti ini tidak terlepas dari
keterbatasan dalam proses penyusunan proposal, pelaksanaan
proposal, pelaksanaan penelitian sampai pada penyusunan laporan
hasil penelitian. Adapun keterbatasan yang peneliti alami diantaranya:
pengalaman peneliti masih sangat kurang karena belum pernah
melakukan penelitian sebelumnya, pengumpulan data dilakukan
dengan menggunakan kuesioner bersifat subjektif sehingga kebenaran
data tergantung pada kejujuran responden dalam mengisi kuesioner
yang diberikan serta keterbatasan dalam jumlah responden karena
sebagian besar responden tidak memenuhi kriteria untuk dijadikan
sampel.
Selain itu penelitian ini belum bisa mengendalikan semua
faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi, ini tidak terlepas dari
keterbatasan, dimana peneliti hanya meneliti tentang hubungan
dukungan keluarga dengan motivasi pasien dalam pemenuhan
Activities of Daily Living (ADL) pada pasien pasca stroke. Sementara
secara teori ada banyak faktor yang mempengaruhi motivasi selain
dukungan keluarga yang menyebabkan bias dalam penelitian ini
seperti lama menderita stroke,lingkungan, sarana dan fasilitas
kesehatan serta keadaan sosial ekonomi.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengumpulan dan pengolahan data penelitian
yang telah dilakukan terhadap 30 responden dari tanggal 27 Januari-11
Februari 2017, maka disimpulkan bahwa:
1. Pasien pasca stroke di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris
Makassar memiliki dukungan keluarga yang dominan pada kategori
mendukung.
2. Pasien pasca stroke di Unit Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris
Makassar memiliki motivasi dalam pemenuhan Activity Daily Living
(ADL) yang dominan pada kategori baik.
3. Ada hubungan dukungan keluarga dengan motivasi pasien dalam
pemenuhan Activity Daily Living (ADL) pada pasien pasca stroke di Unit
Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris makassar.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dan mengingat
keterbatasan peneliti dalam penelitian ini, maka ada beberapa saran yang
akan disampaikan.
1. Bagi pengembangan Ilmu Pengetahuan dan teknologi
Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan
masukan dan tambahan informasi bagi perkembangan ilmu
pengetahuan khususnya dalam hal meminimalkan penurunan motivasi
pasien dalam pemenuhan Activity Daily Living (ADL) pada pasien
stroke karena kurangnya dukungan keluarga.
2. Bagi Pelayanan Keperawatan
Penelitian ini diharapkan dapat sebagai tambahan informasi dan
masukan bagi rumah sakit untuk meningkatkan mutu pelayanan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

sehingga perawat diharapkan dapat memberikan perawatan yang


optimal terhadap pasien pasca stroke, selain itu perawat juga dapat
memberikan edukasi pada keluarga tentang penyakit stroke dan
perannya dalam memberikan motivasi pada pasien pasca stroke agar
pasien dapat mandiri dalam pemenuhan aktivitas sehari-harinya
sehingga tidak bergantung lagi pada orang lain.
3. Bagi Pihak Institusi STIK Stella Maris Makassar
Diharapkan agar menambah referensi terbaru tentang dukungan
keluarga dengan motivasi pasien dalam pemenuhan Activities of Daily
Living (ADL) untuk menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa
atau mahasisiwi. Hasil peneltian ini dapat jadi bahan masukan untuk
pengembangan ilmu pengetahuan mahasiswa/mahasiswi dan dapat
dijadikan sebagai bahan bacaan.
4. Bagi Pasien dan Keluarga
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan informasi bagi
pasien dan keluarga yang merawat pasien yang menderita pasca
stroke untuk memiliki kesabaran yang ekstra dimana keluarga harus
selalu mendampingi pasien supaya pasien tidak merasa kesepian atau
hidupnya tidak berarti. Karena dengan adanya dukungan dan perhatian
dari keluarga dapat memberikan kualitas hidup pada pasien pasca
stroke sehingga pasien akan termotivasi dalam pemenuhan aktivitas
sehari-hari secara mandiri.
5. Bagi Peneliti dan Penelitian Selanjutnya
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi pedoman dalam
melakukan penelitian selanjutnya dengan memperluas variabel
independen dan dependen.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku:
Arlija. (2009). Fisioterapi Bagi Insan Stroke. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Ariani, T. A. (2014). Sistem Neurobehavior. Jakarta: Salemba Medika.

Baticaca, F. (2008). Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan


Sistem Persyarafan. Jakarta: Salemba Medik.

Dahlan, M. S. (2013). Besar sampel dan cara pengambilan sampel . Jakarta:


Salemba Medika.

Friedman, M. M. (2010). Buku Ajar Keperawata Keluarga: Riset, Teori dan


Praktek Edisi 5. Jakarta: EGC.

Hidayat, A. A. (2009). Metode Penelitian Keperawatan Teknik Analisa Data.


Jakarta: Salemba Medika.

Junaidi, I. (2012). Stroke: Waspadai Ancamannya. Yogyakarta: ANDI.

Lingga, L. (2013). All about stroke. Hidup sebelum dan pasca stroke. Jakarta:
Elex Media Komputindo.

Misbach, J. (2011). Stroke: Aspek Diagnostik, Patofisiologi, Manajemen.


Jakarta: Badan Penerbit FKUI.

Murniasih. (2012). Keperawatan Keluarga, Konsep Teori, Proses dan Praktik


Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Mutaqqin, A. (2008). Pengantar Asuhan Keperawatan Klien Dengan


Gangguan system persyarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Niven, N. (2010). Psikologi Kesehatan: Pengantar Untuk Perawat . Jakarta:


EGC.

Notoatmodjo. (2010). Metodolgi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Nursalam. (2013). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu


Keperawatan; Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian
Keperawatan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.

Padila. (2012). Buku Ajar Keperawatan keluarga. Jogjakarta: Nuha Medika.


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Price, S. A., & Wilson, M. (2012). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit Vol 2. Jakarta: EGC.

Rekam Medik Rumah Sakit Stella Maris Makassar (2016).

Satyanegara. (2010). Ilmu Bedah Syaraf. Jakarta: Pt. Gramedia Pustaka


Utama.

Setiadi. (2009). Konsep & Proses Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Graha


Ilmu.

Smeltzer, & Bare. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Brunner &
Suddarth) Edisi 8 Vol 1. Jakarta: EGC.

Sunaryo. (2009). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Grafindo.

Suprajitno. (2012). Asuhan Keperawatan Keluarga Aplikasi Dalam Praktik.


Jakarta: EGC.

Jurnal:
Aprilia, Y., 2014. Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Motivasi Pada
Pasien Pasca Stroke Untuk Menjalani Fisioterapi di RSUD Wilayah
Kabupaten Semarang. Universitas Sebelas Maret Surakarta.
[Link] diakses tanggal 15 Februari 2017

Arlija, D., 2009. Hubungan dukungan keluarga dengan kuaitas hidup pasien
stroke di poliklinik saraf Rumah Sakit Umum Daerah DR. Zainoel Abidin
Banda Aceh. Universitas Syiah Kuala. Universitas Muhamadiyah
Purwokerto.
[Link]
diakses pada tanggal 2 Februari 2017

Hasil RISKESDAS., 2015. Badan penelitian dan pengembangan kesehatan


kementrian kesehatan RI.
[Link]
as%[Link] diakses pada tanggal 12 September 2016

Kossay, M., 2011. Hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan


menjalani fisioterapi pada klien pasca stroke di Instalasi Rehabilitas
Medik RSED Sleman Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Universitas
Respati. Diakses pada tanggal 17 Februari 2017

Pratiwi, E., 2012. Hubungan Antara Dukungan Keluarga dengan Motivasi


Sembuh Pasien Dalam mengikuti program DOTS di Wilayah BBPKM
Magelang. Skripsi . Surabaya: Universitas Airlangga. Diakses tanggal
20 Januari 2017.
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Sugiarto, Andi. 2005. Penilaian Keseimbangan Dengan Aktivitas Kehidupan


Sehari-Hari Pada Lansia Dip Anti Werdha Pelkris Elim Semarang
Dengan Menggunakan Berg Balance Scale Dan Indeks Barthel.
Semarang : UNDIP. Diakses tanggal 21 September 2016

Sari, R.K., 2014. Kemandirian Pemenuhan kebutuhan Activity Daily Living


(ADL) pada penderita stroke di Poli Saraf Rumah Sakit Abdoer Rahem
Situbondo. [Link] diakses pada
tanggal 17 September 2016

The Barthel Indeks. [Link]


content/uploads/2011/08/[Link] diakses tanggal 10 oktober 2016
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada Yth
Saudara/saudari Calon Responden
Di –
Tempat

Dengan hormat,
Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama : Maria Dewi Uli
Alamat : Jl. Maipa No.19 Makassar
Adalah mahasiswa program studi S1 Keperawatan Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Stella Maris Makassar yang akan mengadakan penelitian
tentang “Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Motivasi Pasien Dalam
Pemenuhan Activities Of Daily Living Pada Pasien Pasca Stroke Di Unit
Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris Makassar”.
Kami sangat mengharapkan partisipasi saudara/saudari dalam
penelitian ini demi kelancaran pelaksanaan penelitian.
Kami menjamin kerahasiaan dan segala bentuk informasi yang
Bapak/Ibu berikan dan apabila ada hal-hal yang masih ingin ditanyakan,
kami memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya untuk meminta
penjelasaan dari penelitian.
Demikian penyampaian dari kami, atas perhatian dan kerja sama kami
mengucapkan terima kasih.

Peneliti

(Maria Dewi Uli)


LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Judul Penelitian : Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Motivasi Pasien


Dalam Pemenuhan Activities Of Daily Living (ADL) Pada
Pasien Pasca Stroke Di Unit Fisioterapi Rumah Sakit
Stella Maris Makassar

Peneliti : Maria Dewi Uli


Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama (inisial) :
Umur :
Jenis Kelamin :

Menyatakan bahwa saya telah mendapat penjelasan dari peneliti


tentang tujuan dari penelitian, bersedia secara sukarela dan tanpa paksaan
dari siapapun untuk berperan serta dalam penelitan yang berjudul
“Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Motivasi Pasien Dalam
Pemenuhan Activities Of Daily Living Pada Pasien Pasca Stroke Di Unit
Fisioterapi Rumah Sakit Stella Maris Makassar”,yang dilaksanakan oleh
Maria Dewi Uli, dengan mengisi kuesioner yang diberikan.
Saya mengerti bahwa penelitian ini tidak membahayakan fisik
maupun jiwa saya dan jawaban yang saya berikan terjamin kerahasiaannya
serta berguna untuk pengembagan ilmu keperawatan.

Makassar, Januari 2017

(Tanda Tangan Responden)


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

KUESIONER PENELITIAN

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN MOTIVASI PASIEN


DALAM PEMENUHAN ACTIVITIY DAILY LIVING (ADL) PADA
PASIEN PASCA STROKE DI UNIT FISIOTERAPY
RUMAH SAKIT STELLA MARIS MAKASSAR

A. Identitas Responden

Nama/Inisial :
Umur :
Jenis kelamin :
Pekerjaan :
Pendidikan :
Status Perkawinan :
Serangan stroke yang ke- :
Serangan stroke pertama pada :
Lama menderita stroke :
Alamat :

Petunjuk Pengisian Kuesioner


1. Bacalah pertanyaan dibawah dengan cermat dan isilah jawaban sesuai
dengan pendapat dan kenyataan yang anda temukan.
2. Tanyakan jika ada hal yang kurang jelas.
3. Beri tanda (√) pada pilihan yang anda anggap sesuai, dengan
keterangan sebagai berikut:
SL : Selalu
SR : Sering
KK : Kadang-kadang
TP : Tidak Pernah
4. Mohon kesediaanya untuk menjawab semua pertanyaan yang ada
5. Kerahasiaan jawaban anda berikan terjamin dan tidak akan tersebar
pada orang lain.

B. Kuesioner Dukungan Keluarga


Keterangan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Selalu (SL) :Jika bapak/ibu setiap kali melakukan sesuai dengan


isi pernyataan
Sering (SR) :Jika bapak/ibu lebih banyak melakukan isi pernyataan
dibanding tidak melakukannya
Kadang (KK) :Jika bapak/ibu lebih banyak tidak melakukan isi
pernyataan dibandingkan melakukannya
Tidak pernah (TP) :Jika bapak/ibu sama sekali tidak melakukannya
No Pernyataan Selalu Sering Kadang- Tidak
(SL) (SR) kadang pernah
(KK) (TP)

Dukungan
Emosional
1. Keluarga
mendampingi dan
membantu saya
dalam memenuhi
aktivitas sehari-hari
seperti makan,
minum, berjalan,
berpakaian
2. Keluarga memberi
pujian dan
perhatian kepada
saya ketika saya
mampu melakukan
kegiatan rumah
3. Keluarga tetap
mencintai dan
memperhatikan
keadaan saya
selama saya sakit
4. Keluarga merawat
saya dengan penuh
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

kasih sayang
Dukungan
Informasional

5. Keluarga mencari
informasi melalui
media massa
ataupun elektronik
terkait kesehatan
saya agar saya
dapat mampu
memenuhi kegiatan
sehari-hari secara
mandiri
6. Keluarga
menganjurkan saya
untuk memakan
makanan yang
sesuai dengan
anjuran Rumah
Sakit
7. Keluarga tidak
menginformasikan
kepada saya terkait
dengan kondisi
yang saya alami
8. Keluarga
mengingatkan saya
tentang pentingnya
merawat diri seperti
mandi, menyisir
rambut agar
penampilan saya
terlihat menarik
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Dukungan
Instrumental
9. Keluarga
menyediakan dana
khusus untuk biaya
berobat dan
pemeriksaan
kesehatan saya
10. Keluarga tidak
meluangkan waktu
untuk menjaga dan
merawat saya
dirumah
11. Keluarga
menyiapkan alat
bantu yang saya
butuhkan seperti
kursi roda, tongkat
yang dapat
membantu saya
dalam memenuhi
aktivitas sehari-hari
12. Keluarga
mendampingi saya
dalam melakukan
kontrol ulang

Dukungan
Penghargaan

13. Keluarga tidak


melibatkan saya
dalam kegiatan
sehari-hari
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

14. Keluarga masih


menghormati dan
melibatkan saya
apabila ada
musyawarah dalam
keluarga

15. Keluarga
memberikan
semangat ketika
saya merasa tidak
diterima di
lingkungan sekitar
16 Keluarga
menghargai
keinginan serta
harapan saya untuk
sembuh

Sumber: Nursalam, 2013 dimodifikasi

C. Kuesioner Motivasi Pasien Dalam Pemenuhan ADL Mandiri

Ya Tidak
No Pernyataan (2) (1)

Keluarga menyiapkan makanan


yang saya suka dan bergizi
1.
sehingga menambah nafsu makan
saya
Keluarga meneydiakan alat bantu
berupa kursi roda dan tongkat
sehingga membuat saya merasa
2. senang karena dapat dengan
bebas bergerak dan melakukan
sesuatu tanpa bergantung pada
orang lain
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Keluarga menginformasikan saya


tentang manfaat menjaga
3. kebersihan diri sehingga membuat
saya lebih rajin untuk mandi 2x
sehari
Keluarga menyediakan
transportasi dan biaya pengobatan
saya sehingga membuat saya
4.
lebih bersemangat untuk
melakukan kontrol ulang secara
teratur
Keluarga memberi perhatian dan
dukungan kepada saya selama
sakit dan sehingga saya memiliki
5.
harapan untuk sembuh dan dapat
memenuhi aktivitas sehari-hari
secara mandiri
Saya merasa tetap dihormati di
dalam keluarga walaupun saya
sedang sakit karena keluarga
6. masih melibatkan saya apabila
ada musyawarah dan itu membuat
saya merasa senang dan bebas
dalam mengeluarkan pendapat
Saya merasa bergairah ketika
makan karena keluarga selalu
mendampingi dan kadangkala
7. menyuapi saya sehingga saya
selalu menghabiskan makanan
sesuai dengan porsi yang sudah
ditentukan
Keluarga menyiapkan baju yang
mudah saya gunakan sehingga
8. membuat saya berusaha untuk
dapat memakainya sendiri tanpa
bantuan orang lain
Keluarga selalu mengingatkan dan
menyemangati saya untuk terus
9. berlatih berjalan sehingga
membuat saya bersemangat dan
lebih sering dalam berlatih
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Keluarga membantu saya dalam


berhias diri seperti menyisir
rambut, memakai bedak,
menggunakan minyak rambut dan
itu membuat saya merasa senang
10.
dan kemudian membangkitkan
semangat saya untuk lebih mandiri
dan lebih sering memperhatikan
penampilan diri saya sehingga
lebih kelihatan menarik
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

STATUS DUKUNGAN KELUARGA JUM MOTIVASI PASIEN DALAM PEMENUHAN ADL JUM
NO INISIAL UMUR KO JK KO PENDIDIKAN KO PEKERJAAN KO KO KETERANGAN KO KETERANGAN KO
PERKAWINAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 `15 16 LAH 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 LAH
1 N 49 2 P 1 SMA 3 IRT 2 KAWIN 2 1 3 3 3 2 3 3 2 2 2 3 3 0 3 3 3 39 MENDUKUNG 3 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 19 BAIK 2
s A 55 3 L 2 SMA 3 WIRASWASTA 4 KAWIN 2 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 0 3 2 3 0 3 40 MENDUKUNG 3 2 1 2 2 2 2 1 2 2 1 17 BAIK 2
3 I 53 2 L 2 SMP 2 PENSIUNAN 3 KAWIN 2 3 3 3 3 1 3 0 3 0 0 3 1 2 2 2 3 32 CUKUP MENDUKUNG 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 19 BAIK 2
4 F 63 4 P 1 SMA 3 IRT 2 KAWIN 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 2 2 1 3 43 MENDUKUNG 3 2 2 2 2 2 1 2 1 2 2 18 BAIK 2
5 N 70 5 P 1 SMA 3 IRT 2 KAWIN 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 1 3 3 2 3 0 3 40 MENDUKUNG 3 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 19 BAIK 2
6 T 65 4 P 1 SD 1 PETANI 1 TIDAK KAWIN 1 3 3 3 3 0 3 0 3 0 0 3 3 0 3 3 3 33 MENDUKUNG 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 20 BAIK 2
7 H 73 5 L 2 SD 1 PENSIUNAN 3 KAWIN 2 3 3 3 3 1 3 2 3 3 2 3 3 1 1 2 3 39 MENDUKUNG 3 2 2 1 1 2 2 2 1 2 2 17 BAIK 2
8 I 40 1 P 1 SMA 3 IRT 2 KAWIN 2 2 2 3 3 1 3 2 3 3 2 3 2 2 2 3 3 39 MENDUKUNG 3 2 2 1 2 2 2 2 1 1 2 17 BAIK 2
9 J 53 2 L 2 PT 4 WIRASWASTA 4 TIDAK KAWIN 1 0 0 2 2 0 1 3 0 0 3 0 0 2 2 1 0 16 TIDAK MENDUKUNG 1 1 1 1 1 2 2 2 1 2 2 15 KURANG 1
10 S 65 4 L 2 SMA 3 PENSIUNAN 3 KAWIN 2 1 0 2 2 1 0 1 2 3 1 3 1 3 2 2 3 27 CUKUP MENDUKUNG 2 1 1 1 2 2 2 1 1 2 2 15 KURANG 1
11 R 78 6 L 2 PT 4 PENSIUNAN 3 KAWIN 2 1 1 3 3 3 0 2 2 3 2 0 1 1 1 3 2 28 CUKUP MENDUKUNG 2 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 13 KURANG 1
12 E 45 1 P 1 SMP 2 IRT 2 KAWIN 2 3 3 3 3 3 1 0 3 3 3 3 3 3 3 3 3 43 MENDUKUNG 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 20 BAIK 2
13 L 62 4 L 2 SMA 3 WIRASWASTA 4 KAWIN 2 0 0 0 0 0 1 3 3 0 0 3 3 1 2 3 3 22 CUKUP MENDUKUNG 2 1 2 2 2 1 1 1 2 1 1 14 KURANG 1
14 N 62 4 L 2 SD 1 WIRASWASTA 4 KAWIN 2 0 0 1 1 0 0 3 0 0 3 0 0 1 2 0 2 13 TIDAK MENDUKUNG 1 1 1 1 2 2 2 1 1 2 1 14 KURANG 1
15 M 52 2 L 2 PT 4 PNS 5 KAWIN 2 2 2 3 3 0 3 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 40 MENDUKUNG 3 2 2 2 2 1 1 1 2 2 1 16 BAIK 2
16 N 48 2 P 1 SMA 3 IRT 2 KAWIN 2 2 1 3 3 1 1 1 3 1 3 3 1 2 2 2 3 32 CUKUP MENDUKUNG 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 19 BAIK 2
17 Y 74 5 P 1 PT 4 PNS 5 TIDAK KAWIN 1 1 1 3 3 2 1 2 2 3 1 1 0 0 3 3 2 28 CUKUP MENDUKUNG 2 1 1 2 1 2 1 2 2 1 2 15 KURANG 1
18 M 57 3 P 1 PT 4 PENSIUNAN 3 KAWIN 2 2 2 3 3 3 0 3 3 3 3 2 3 3 3 1 0 37 MENDUKUNG 3 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 18 BAIK 2
19 P 53 2 L 2 SD 1 WIRASWASTA 4 KAWIN 2 2 3 3 3 0 1 1 2 3 2 3 3 3 3 2 3 37 MENDUKUNG 3 2 2 1 2 2 2 1 1 2 2 17 BAIK 2
20 J 53 2 L 2 PT 4 WIRASWASTA 4 KAWIN 2 0 0 3 3 2 0 1 3 3 2 3 1 2 2 3 3 31 CUKUP MENDUKUNG 2 1 2 1 2 2 2 1 1 1 1 14 KURANG 1
21 S 78 6 L 2 SD 1 PETANI 1 KAWIN 2 2 3 2 3 1 2 3 3 3 3 0 3 0 3 3 3 37 MENDUKUNG 3 2 1 2 2 2 2 2 1 2 1 17 BAIK 2
22 M 62 4 L 2 SMP 2 PETANI 1 KAWIN 2 3 2 3 3 1 2 2 2 2 0 3 3 2 2 2 2 34 MENDUKUNG 3 2 1 2 2 2 2 2 1 2 1 17 BAIK 2
23 L 49 2 P 1 PT 4 PNS 5 KAWIN 2 3 2 3 3 1 3 2 3 2 3 2 3 0 2 3 3 38 MENDUKUNG 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 20 BAIK 2
24 P 57 3 P 1 PT 4 PNS 5 KAWIN 2 2 1 3 3 2 1 3 2 3 2 3 2 1 3 2 3 36 MENDUKUNG 3 2 2 1 1 2 1 1 2 2 1 15 KURANG 1
25 H 46 1 L 2 SD 1 PETANI 1 KAWIN 2 0 2 3 2 0 2 2 2 0 0 0 0 2 3 3 3 24 CUKUP MENDUKUNG 2 2 1 2 2 2 2 1 2 2 1 17 BAIK 2
26 S 73 5 L 2 SMA 3 PENSIUNAN 3 KAWIN 2 2 1 3 3 1 3 3 2 2 2 0 3 3 3 3 3 37 MENDUKUNG 3 2 1 2 2 2 2 1 2 1 2 17 BAIK 2
27 E 65 4 L 2 SMA 3 PENSIUNAN 3 KAWIN 2 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 2 0 0 3 1 9 TIDAK MENDUKUNG 1 2 1 1 1 1 1 2 1 1 1 12 KURANG 1
28 R 45 1 L 2 SMA 3 PENSIUNAN 3 KAWIN 2 0 1 3 3 3 3 3 1 0 0 2 0 3 3 3 3 31 CUKUP MENDUKUNG 2 2 1 2 2 2 2 2 1 1 1 16 BAIK 2
29 P 78 6 L 2 SD 1 PENSIUNAN 3 KAWIN 2 2 2 1 1 0 0 0 0 0 0 0 2 2 3 2 1 16 TIDAK MENDUKUNG 1 2 1 1 1 2 1 1 2 2 1 14 KURANG 1
30 L 54 3 P 1 SMP 2 IRT 2 KAWIN 2 2 2 1 2 3 0 2 2 3 0 1 0 2 2 2 2 26 CUKUP MENDUKUNG 2 2 1 2 2 2 1 2 1 2 2 17 BAIK 2
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS
Frequencies
Statistics

MOTIVASIPASIEN
DUKUANGAN DALAMPEMENUH
UMUR JK PENDIDIKAN PEKERJAAN KELUARGA ANADL

N Valid 30 30 30 30 30 30

Missing 0 0 0 0 0 0

Frequency Table

UMUR

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 40-46 4 13.3 13.3 13.3

47-53 8 26.7 26.7 40.0

54-60 4 13.3 13.3 53.3


61-67 7 23.3 23.3 76.7

68-74 4 13.3 13.3 90.0

75-81 3 10.0 10.0 100.0

Total 30 100.0 100.0

JK

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid P 12 40.0 40.0 40.0

L 18 60.0 60.0 100.0

Total 30 100.0 100.0


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS
PENDIDIKAN

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid SD 7 23.3 23.3 23.3

SMP 4 13.3 13.3 36.7

SMA 11 36.7 36.7 73.3

PT 8 26.7 26.7 100.0

Total 30 100.0 100.0

PEKERJAAN

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid PETANI 4 13.3 13.3 13.3

IRT 7 23.3 23.3 36.7

PENSIUNAN 9 30.0 30.0 66.7

WIRASWASTA 6 20.0 20.0 86.7

PNS 4 13.3 13.3 100.0

Total 30 100.0 100.0

DUKUANGAN KELUARGA

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid TIDAK MENDUKUNG 3 10.0 10.0 10.0

CUKUP MENDUKUNG 10 33.3 33.3 43.3

MENDUKUNG 17 56.7 56.7 100.0

Total 30 100.0 100.0

MOTIVASIPASIENDALAMPEMENUHANADL

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid KURANG 9 30.0 30.0 30.0

BAIK 21 70.0 70.0 100.0

Total 30 100.0 100.0


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS
Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent

DK *
MOTIVASIPASIENDALAMPEME 30 100.0% 0 .0% 30 100.0%
NUHANADL

DK * MOTIVASIPASIENDALAMPEMENUHANADL Crosstabulation

MOTIVASIPASIENDALAMPEMENUHA
NADL

KURANG BAIK Total

DK 1 Count 8 5 13

Expected Count 3.9 9.1 13.0

% within DK 61.5% 38.5% 100.0%

% within
MOTIVASIPASIENDALAMPEME 88.9% 23.8% 43.3%
NUHANADL

% of Total 26.7% 16.7% 43.3%

3 Count 1 16 17

Expected Count 5.1 11.9 17.0

% within DK 5.9% 94.1% 100.0%

% within
MOTIVASIPASIENDALAMPEME 11.1% 76.2% 56.7%
NUHANADL

% of Total 3.3% 53.3% 56.7%


Total Count 9 21 30

Expected Count 9.0 21.0 30.0

% within DK 30.0% 70.0% 100.0%

% within
MOTIVASIPASIENDALAMPEME 100.0% 100.0% 100.0%
NUHANADL

% of Total 30.0% 70.0% 100.0%


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS

Symmetric Measures

Value Approx. Sig.

Nominal by Nominal Contingency Coefficient .516 .001


N of Valid Cases 30

Case Processing Summary

Cases

Valid Missing Total

N Percent N Percent N Percent


DK2 * MOTIVASIPASIEN 30 100.0% 0 .0% 30 100.0%

DK2 * MOTIVASIPASIEN Crosstabulation

MOTIVASIPASIEN

KURANG BAIK Total

DK2 1 Count 9 5 14

Expected Count 4.7 9.3 14.0

% within DK2 64.3% 35.7% 100.0%

% within MOTIVASIPASIEN 90.0% 25.0% 46.7%

% of Total 30.0% 16.7% 46.7%

3 Count 1 15 16

Expected Count 5.3 10.7 16.0

% within DK2 6.3% 93.8% 100.0%

% within MOTIVASIPASIEN 10.0% 75.0% 53.3%


% of Total 3.3% 50.0% 53.3%
Total Count 10 20 30

Expected Count 10.0 20.0 30.0

% within DK2 33.3% 66.7% 100.0%

% within MOTIVASIPASIEN 100.0% 100.0% 100.0%

% of Total 33.3% 66.7% 100.0%


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STELLA MARIS
d
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2- Exact Sig. (2- Exact Sig. (1-


Value df sided) sided) sided) Point Probability
a
Pearson Chi-Square 11.317 1 .001 .001 .001
b
Continuity Correction 8.856 1 .003
Likelihood Ratio 12.460 1 .000 .001 .001
Fisher's Exact Test .001 .001
c
Linear-by-Linear Association 10.940 1 .001 .001 .001 .001
N of Valid Cases 30

a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.67.
b. Computed only for a 2x2 table
c. The standardized statistic is 3.308.
d. For 2x2 crosstabulation, exact results are provided instead of Monte Carlo results.

Symmetric Measures

Monte Carlo Sig.

95% Confidence Interval

Value Approx. Sig. Sig. Lower Bound Upper Bound


a
Nominal by Nominal Contingency Coefficient .523 .001 .001 .000 .002
N of Valid Cases 30

a. Based on 10000 sampled tables with starting seed 334431365.


LEMBAR JADWAL KEGIATAN

WAKTU DALAM BULAN


NO URAIAN KEGIATAN Sep Okt. Nov. Des. Jan. Feb. Mar. Apr. Mei.
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pengajuan Judul
2 ACC Judul
3 Menyusun Proposal
4 Ujian proposal
5 Perbaikan Proposal
6 Pelaksanaan Penelitian
7 Pengolahan dan Analisa
data
8 Menyusun Laporan dari
hasil penelitian
9 Ujian Hasil
10 Perbaikan Skripsi
11 Pengumpulan

Anda mungkin juga menyukai