0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan17 halaman

Kewajiban Menuntut Ilmu dalam Islam

Diunggah oleh

Ihsan 123
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan17 halaman

Kewajiban Menuntut Ilmu dalam Islam

Diunggah oleh

Ihsan 123
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Kewajiban Menuntut Ilmu, Mengembangkan dan
Mengamalkannya”.

Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas


mata kuliah AIKA V. Adapun isi dari makalah yaitu menjelaskan perintah
menuntut ilmu, keutamaan orang yang berilmu, dan kedudukan ulama dalam
islam.

Kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu secara
langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran


bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi kami sehingga tujuan yang
diharapkan dapat tercapai, Aamiin.

Tangerang, 01 Oktober 2018

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, Islam adalah
agama yang mengangkat derajat dan martabat manusia. Islam adalah agama yang
sangat perduli terhadap ilmu pengetahuan, bahkan pada awal ayat pertama kali
yang turun adalah ayat tentang pendidikan, agama Islam tidak bisa di lepaskan
dengan ilmu pengetahuan, karena islam sendiri berasal dari kata aslama, yang
memiliki arti tunduk dan patuh terhadap kehendak Allah, seperti firman Allah
pada surat Ali-Imron, ayat 83 :
“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal
kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan
suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (QS.
Ali Imron :83)
Ayat tersebut menerangkan bahwa Seluruh langit dan bumi dalam keadaan
islam, artinya tunduk dan patuh kepada Allah, bagaimana bisa manusia dibumi
dapat melaksanan perintah Allah dengan baik dan benar jika manusia tidak
memiliki ilmu, Bahkan dalam suatu istilah mengatakan tidurnya orang yang alim
itu lebih berharga dari pada ibadahnya orang yang bodoh, itu menandakan
Urgensi ilmu sangat penting dalam agama islam. Islam adalah agama ilmu
pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan pasangan yang tidak terpisahkan dari
kemodernan yang semula dimaksudkan sebagai satu model bagaimana manusia
mampu mengelola alam dan mengaturnya demi untuk kemakmuran dengan tema:
“Manusia harus menjalankan seluruh aktifitas hidupnya hanya untuk beribadah
dan tidak lebih daripada itu”. Dalam era globalisasi di areal informasi seperti
sekarang ini persoalan pokok yang dihadapi adalah bagaimana cara menyiapkan
SDM yang modern yang bermuatan religius yang mampu bersaing dan tidak
tersesat dalam menghadapi kehidupan yang diwarnai oleh budaya IPTEK. Ilmu
dalam agama islam bukan hanya sebagai pengetahuan tapi Ilmu dalam islam juga

1
membahas pengamalan. Islam sangat menekankan kewajiban menuntut ilmu, Al-
qur‟an dan hadis pun banyak sekali dalil yang menerangkan tentang kewajiban
menuntut ilmu.

B. Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, antara lain:
1. Apa hukum menuntut ilmu dalam islam?
2. Apa keutamaan orang berilmu?
3. Bagaimana adab dalam menuntut ilmu?
4. Apa kedudukan ulama dalam islam?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini, antara lain:
1. Mengetahui hukum menuntut ilmu dalam islam.
2. Mengetahui apa saja keutamaan orang berilmu.
3. Mengetahui bagaimana adab dalam menuntut ilmu.
4. Mengetahui kedudukan ulama dalam islam.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Perintah Menuntut Ilmu


Ilmu secara bahasa berarti kebalikan dari kebodohan, yaitu
mengetahui sesuatu sebagai mana mestinya dengan pengetahuan yang
sempurna.
Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu syariat yaitu ilmu yang
diturunkan oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW, yang berupa
penjelasan dan petunjuk-petunjuk-Nya. Rasulullah SAW bersabda
“Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, niscaya dia akan
menjadikan paham (mengerti) dalam urusan agama.” [HR. Bukhori dan
Muslim].
Rasulullah SAW juga bersabda “Sesungguhnya para nabi tidak
mewariskan uang dinar ataupun dirham, akan tetapi sesungguhnya mereka
mewariskan ilmu. Barang siapa yang dapat mengambilnya, maka ia telah
mengambil untung yang sangat besar.” [HR. Abu Daud]. Yang
diwariskan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya adalah ilmu syariat,
bukan harta atau yang lainnya. Namun tidak dipungkiri kalau ilmu-ilmu
duniawi juga banyak mendatangkan faedah. Ilmu duniawi memberikan
banyak faedah jika memiliki dua kriteria, yaitu :
1. Jika ilmu tersebut untuk ketaatan kepada Allah
2. Membantu dalam menolong agama Allah serta dapat dinikmati
oleh hamba-hamba Allah SWT.

Jika demikian ilmu itu menjadi suatu kebaikan dan mempelajarinya


pun wajib dalam kondisi tertentu sesuai dengan perintah Allah, seperti
dalam firman-Nya “Oleh karena itu, siap siagalah kepada mereka dengan
segala kekuatan yang ada padamu, seperti pasukan berkuda guna
menimbulkan rasa takut kepada musuh Allah, musuhmu, dan musuh lain

3
lagi yang belum kamu ketahui, tetapi Allah sudah mengetahui. Apa saja
yang kamu belanjakan untuk kepentingan fi sabilillah, maka kepadamu
akan diberi ganti sepenuhnya dan sedikitpun kamu tidak akan dianiaya.” [
Al- Anfaal: 60]

Kewajiban menuntut ilmu merupakan salah satu hal utama di dalam


agama islam, islam memandang menuntut ilmu sebagai bagian dari ibadah
yang diharuskan bagi segenap kaum muslimin dimanapun mereka berada.
Banyak sekali hikmah yang bisa kita petik dalam menuntut ilmu.
Contoh terkecil dalam menuntut ilmu, seseorang secara tidak langsung
harus keluar dari tempat tinggalnya guna mencari ilmu, maka selama
perjalanan pasti akan mendapati pelajaran dan pengalaman yang tidak
akan didapatkan apabila hanya berdiam diri di rumah. Belajar untuk
mencari ilmu hukumnya bisa wajib dan mustahan (sunnah). Yang bersifat
wajib adalah mempelajari segala hal yang dibebankan kepada setiap insan.
Setiap insan dituntut untuk beramal (beribadah) untuk menghamba kepada
Allah SWT, sedangkan ibadah yang dilakukan diatas kebodohan, maka
tidaklah diterima.

Dalil Al-Qur'an :

‫َّللاُ نَ ُك ْم ۖ َوإِ َراقِي َم‬


َّ ‫ح‬ ِ ‫س‬ َ ‫س ُحىا يَ ْف‬ َ ‫س فَا ْف‬ ِ ِ‫س ُحىا فِي ا ْن َم َجان‬ َّ َ‫يَا أَيُّ َها انَّ ِزيهَ آ َمىُىا إِ َرا قِي َم نَ ُك ْم تَف‬
‫ـىنَ ََـِِ ْيـش‬ ْ ُ‫ت َوَّللاُ بِ َما تَ ْعـ َمه‬ٍ ‫شضُوا يَ ْشفَ ِعاهلل ان ِزيْهَ ا َمىُىا ِمىـْ ُك ْم َوانّ ِزيْهَ اُوتُى ا ْن ِع ْه َم َد َس َجـ‬
ُ ‫شضُوافَا ْو‬
ُ ‫ا ْو‬
Artinya :
"Wahai orang-orang yang beriman!Apabila dikatakan kepadamu,"Berilah
kelapangan didalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya Allah
akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan
berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat
derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang
berilmu beberapa derajat". Q.S Al-Mujadalah ayat 11

4
‫َو َما َكـانَ ِمهَ ا ْن ُمؤْ ِمىُ ْىنَ نِيَ ْىفِ ُش َكافّةً فَهَ ْىالَوَفَ َش ِمهْ ُك ِّم فَ ِشقَ ٍة ِم ْى ُه ْم طَائِفَةً نِيَتَفَقّ ُهىأ فِى ان ّذ ْي ِه َونِيُ ْى ِز ُس ْوا‬
َ‫قَ ْى ُم ُه ْم اِرأ َس َج ُع ْى اِنَ ْي ِه ْم نَ َعهّ ُه ْم يَ ْح َز ُس ْون‬
Artinya ;

"Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi kemedan


perang, mengapa sebagian diantara mereka tidak pergi untuk
memperdalam ilmu pengetahuan agama mereka dan untuk memberi
peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka
dapat menjaga dirinya " QS. At-Taubah ayat :122

Dari ayat 1 tersebut diatas, maka jelaslah bahwa menuntut ilmu


adalah merupakan perintah lansung dari Allah. karena orang yang
menuntut ilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah beberapa derajat,
sedangkan ayat yang ke2 menjelaskan bahwa diwajibkan untuk menuntut
ilmu agama dan kedudukan orang yang menuntut ilmu harus mampu
menjadi pengingat bagi orang yang tidak tau masalah agama serta mampu
menjaga diri dari hal-hal yang bisa menjerumuskan kedalam lembah
kenistaan.

Dalil Hadits :

Banyak hadits yang menjelaskan perintah kewajiban menuntut ilmu


diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

ْ ‫ضةً عَهى ُك ّم ُم‬


‫سهِ ٍم‬ َ ‫ب ا ْن ِع ْهم فَ ْش ْي‬ َ ‫س ْىل َّللا صهى َّللا عهيه وسهـم‬
ُ َ‫طه‬ ُ ‫س اِبْهُ َمانِ ٍك قَ َم قَا َل َس‬ ٍ َ‫عْهْ اَو‬
‫َب‬ َّ ‫ض ًع ان ِع ْه ِم ِع ْى َذ َغ ْي ُشأ ْههِ ِه َك ُمقِهِّ ِذ ا ْن َخىَا ِص ْي ِش ْن َج ْى َه َشونَهؤْ نُ َؤ َو‬
َ ‫انزه‬ ِ ‫وو‬
Artinya :
"Dari Anas bin Malik ia berkata, Rasulullah saw, bersabda: Mencari ilmu
itu wajib bagi setiap muslim, memberikan ilmu kepada orang yang bukan
ahlinya seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara,
atau emas" [Link] Majah.

5
Dari hadits tersebut diatas mengandung pengertian, bahwa mencari
ilmu itu wajib bagi setiap muslim, kewajiban itu berlaku bagi laki-laki
maupun perempuan, anak-anak maupun orang dewasa dan tidak ada alasan
untuk malas mencari ilmu. Ilmu yang wajib diketahui oleh settiap muslim
adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tata cara peribadatan kepada
Allah SWT. Sedangkan ibadah tanpa ilmu akan mengakibatkan kesalahan-
kesalahan dan ibadah yang salah tidak akan dapat diterima oleh Allah.
Sedangkan orang yang mengajarkan ilmu kepada orang yang tidak
mengetahui atau tidak paham maka akan sia-sia. Maksudnya, ilmu itu
harus disampaikan sesuai dengan taraf berfikir si penerima ilmu,
memberikan ilmu secara tidak tepat diibaratkan mengalungkan perhiasan
pada babi, meskipun babi diberikan perhiasan kalung emas maka babi
tetap kotor dan menjijikkan.

B. Kemuliaan dan Keutamaan Orang Berilmu


Ketahuilah bahwa Allah SWT menjanjikan akan mengangkat derajat
orang-orang berilmudan beriman kepada-Nya, hal ini senada dengan surat
Al Mujaadilah ayat 11.
Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Betapa banyak manusia yang tergiur atau terlena dengan harta,
meraihnya tanpa puas. Ketika seseorang merasa kekurangan, maka ia akan
mencarinya dan setelah tercukupi ia akan menuntutnya sampai tiba
ajalnya. Begitulah karakter dari sebuah kehidupan dunia yang menawarkan
kegemerlapan dan kemewahan yang tak berujung kepuasan. Ada sebuah
doa yang indah “Ya Allah aku berlindung dari (mengikuti) ajakan nafsu
yang sejatinya tidak akan pernah memuaskan.”
Harta benda yang selalu ditumpuk oleh seseorang, pasti akan
meninggalkannya cepat atau lambat dan membiarkan pemiliknya masuk
ke dalam liang lahat. Sedangkan para pencari ilmu, ia akan selalu di jalan

6
Allah SWT dan menemaninya kedalam kubur serta membawanya kepada
tempat yang dirindukan yaitu surga.
Manusia diciptakan dengan segala kesempurnaannya, dan Allah telah
memberikan akal yang sehat pada manusia untuk membedakannya dengan
makhluk hidup lainnya dan dengan akal tersebut manusia diwajibkan
untuk mencari ilmu pengetahuan dan memiliki ilmu pengetahuan dalam
segala hal agar tidak tersesat dalam menjalani kehidupan. Ilmu
pengetahuan ibarat sebuah cahaya yang akan menuntun manusia hingga
mencapai tujuan penciptaan manusia menurut Islam.
Ilmu pengetahuan merupakan salah satu bekal abadi bagi manusia
untuk mencapai sukses dunia akhirat menurut [Link] adalah
pengetahuan atau kepandaian yang dimiliki seseorang, baik mengenai soal
duniawi, akhirat, lahir, batin dan lainnya. Memillilki ilmu pengetahuan
sesungguhnya sangatlah penting bagi manusia, karena tanpa ilmu
pengetahuan hidup seseorang akan seperti tanpa arah dan berada dalam
kegelapan atau kejahiliyahan.
Hukum menuntut ilmu dalam Islam adalah wajib. Seperti yang
dikatakan dalam sebuah hadits:
“Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim (baik muslimin ataupun
muslimah).” (HR. Ibnu Majah)
Bagi seorang muslim ilmu pengetahuan sangatlah penting, karena di
dalam Islam, orang yang berilmu akan diangkat derajatnya dan
dihormati. Ada beberapa keutamaan berilmu dalam Islam yang perlu di
ketahui oleh seorang muslim. Diantara keutamaan manusia berilmu sesuai
dengan petunjuk Al-Qur‟an dan Sunnah, yaitu:
1. Orang berilmu akan dimudahkan jalan menuju surga
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW. bersabda :
“Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka
akan Allah mudahkan jalannya menuju surga.”(HR. Muslim)

7
Maksud dari hadits tersebut adalah, orang-orang muslim yang berilmu
akan dimudahkan oleh Allah dalam menuju surga dikarenakan dengan
Ilmu orang muslim dapat beribadah dengan benar dan sesuai dasar
hukum Islam. Dari hadits tersebut dapat kita lihat, bahwa ilmu
sangatlah penting bagi umat muslim dan memiliki manfaat dalam
kehidupan dunia akhirat.
2. Orang berilmu akan memiliki pahala yang mengalir
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW. bersabda :
“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya,
kecuali tiga [Link] jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do‟a anak
yang sholeh atau sholehah.”(HR. Muslim)
Maksud dari hadits tersebut adalah, ilmu yang mengandung kebaikan
yang diajarkan oleh seseorang kepada orang lain, kelak ilmu itu akan
memberikan pahala yang mengalir kepada orang yang mengajarkan
ketika ia sudah meninggal dunia.
3. Orang yang paling takut kepada Allah SWT adalah orang yang
berilmu
Dalam (QS. Fathir : 28), Allah berfirman :
“Dan demikian pula diantara manusia, makhluk bergerak yang
bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam
warnanya dan [Link] antara hamba-hamba Allah yang takut
kepada-Nya hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa,
Maha Pengampun.”
Yang dimaksud ulama dalam ayat tersebut adalah mereka yang
mengetahui dan mengakui kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya.
Dengan ilmu seseorang akan lebih memahami hakikat diciptakannya
kehidupan ini dan dari pengetahuan tersebut seseorang akan melihat
kuasa dan kebesaran Allah sebagai zat yang maha pencipta,, dan orang
berilmu akan merasa takut karena dia memiliki pengetahuan akan
kuasa dan kebesaran Allah SWT.

8
4. Allah SWT akan mengangkat derajat orang yang berilmu
Di dalam (QS. Al-Mujadilah[11] : 58), Allah SWT. berfirman :
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu,
“Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah,
niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan
mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha
Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Allah telah menjanjikan akan
meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang
berilmu. Dan derajat orang yang berilmu akan terangkat, baik di
hadapan Allah SWT. ataupun dimata manusia.
5. Orang yang berilmu adalah orang yang diberi kebaikan dan
karunia oleh Allah
Dalam (HR. Bukhari dan Muslim) dari Mu‟awiyah, Rasulullah SAW.
bersabda :
“Barang siapa yang Allah kehendaki mendapatkan semua kebaikan,
niscaya Allah akan memahamkan dia tentang ilmu agama.”
Dan dalam (QS. Al-Baqarah[2] : 269), Allah SWT. berfirman :
“Allah berikan Al-Hikmah (Ilmu pengetahuan, hukum, filsafat dan
kearifan) kepada siapa saja yang dia kehendaki. Dan barang siapa
yang di anugerahi Al-Hikmah itu, sungguh ia telah dianugerahi
karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat
mengambil pelajaran(berdzikir) dari firman-firman Allah.”
6. Orang berilmu mewarisi kekayaan Nabi
Dalam Shahihul Jam Al Albani dikatakan :“Ilmu adalah warisan para
Nabi, dan para Nabi tidaklah mewariskan dirham ataupun emas, akan
tetapi mereka mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya
maka ia telah mengambil bagian yang banyak.”

9
Maksudnya adalah, ilmu merupakan warisan Nabi dan barang siapa
yang mencari ilmu dan menjadi orang yang berilmu maka kita telah
mewarisi apa yang para Nabi berikan.
7. Orang yang berilmu disejajarkan dengan para Malaikat
Dalam (QS. Ali Imran : 18), Allah berfirman :
“Allah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) melainkan Dia, Yang menegakan [Link] malaikat
dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).”
Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa kedudukan orang yang
berilmu setara dengan para Malaikat yang bersaksi bahwa tiada Tuhan
yang layak disembah selain Allah SWT.
8. Orang yang berilmu berbeda dengan orang yang tidak berilmu
Dalam (QS. Az-Zumar : 9), Allah berfirman :
“Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung ataukah orang
yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena
takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat
Tuhannya?Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui
dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” sebenarnya hanya
orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.
9. Menjadi juru bicara untuk membantah para pendosa
Kemudian Allah menghinakan mereka di hari kiamat, dan berfirman:
“Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu (yang karena membelanya) kamu
selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang mukmin)?”
berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu:[2] “Sesengguhnya
kehinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang
kafir”,(QS: An Nahl ayat 27)
“dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang
berdosa; “Mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat
(saja)”. Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari
kebenaran). Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
dan keimanan (kepada orang kafir): “Seseungguhnya kamu telah

10
berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari
terbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya).” (QS: Ar
Ruum ayat 55-56).
10. Dibukakan pikiran dan mata hati
“Dan orang-orang yang berusaha untuk (menentang) ayat-ayat kami
dengan anggapan mereka dapat melemahkan (menggagalkan azab
kami), mereka itu memperoleh azab, yaitu (jenis) azab yang pedih.
Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli kitab) berpendapat bahwa
wahyu yang diturunkan kepadamu dari tuhanmu itulah yang benar
dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa
lagi Maha Terpuji. (QS: Saba‟ ayat 5-6)

Dari beberapa dalil diatas dapat disimpulkan bahwa Islam dan ilmu
pengetahuan memiliki keterkaitan dan Islam menyuruh umatnya untuk
menuntut ilmu untuk semakin taat kepada Allah SWT.

C. Adab dalam Menuntut Ilmu


Agar proses belajar berjalan dengan baik sehingga kita
mampu mendapatkan ilmu yang bermamfaat dan mampu mengantarkan
kita menjadi orang yang sukses didunia dan selamat diakhirat kelak, ada
beberapa hal yang harus kita perhatikan antara lain :
a. Meluruskan Niat
Ketulusan niat bagi orang yang menuntut ilmu akan mengantarkan
seseorang berhasil dan sukses dalam menjalani kehidupannya nanti,
karena segala sesuatu yang bernilai ibadah itu tergantung dari niat dan
tujuannya. Adapun niat dan tujuan yang seharusnya dimiliki para
penuntut ilmu dalam proses menuntut ilmu adalah :
 Melaksanakan perintah Allah SWT dan Rasulullah saw.
 Memerangi kebodohan agar tidak dibodohi oleh orang lain
 Mempersiapkan masa depan yang lebih cerah dan terarah

11
 Membekali kehidupan akhirat agar bisa selamat dan khusnul
khatimah
b. Hormat dan Santun terhadap Guru
Memiliki rasa hormat dan bersikap santun terhadap guru adalah
prilaku yang harus dimiliki dalam menuntut ilmu. Guru adalah orang
yang memberikan kita ilmu, yang dengan ilmu itu kita akan menjadi
orang mulia baik didunia maupun diakhirat. Dan salah satu cara untuk
memuliakan guru adalah bersikap hormat dan santun kepadanya
sebagai cerimanan sikap kerendahan hati. Sebagai mana sabda
Rasulullah :

"Belajarlah kalian ilmu untuk ketentraman dan ketenangan serta


rendah hatilah pada orang yang kamu belajar darinya". [Link]-
Tabrani.

c. Mengawali dan Mengakhiri dengan Do'a


Untuk mengawali sesuatu yang baik termasuk dalam hal ini menuntut
ilmu maka kita harus berdoa'a minimal dengan membaca basmalah dan
mengahiri dengan hamdalah. Rasulullah saw bersabda :
"Setiap perkataan atau perkara yang mempunyai nilai kebaikan, tetapi
tidak dibuka dengan menyebut nama Allah, maka perkara itu akan
menjadi sia-sia " ([Link])

Dan doa yang sangat bangus untuk mengawali proses belajar adalah:

َ ‫اسصُ ْقىِىفَ ْه ًمانىَِِّيِّ ْيىَ َى َحفِظَا ْن ُم ْش‬


َ‫سهِ ْيى َىاِ ْن َها َما ْن َم ََلئِ َك ِة ُمقَ ّشبِيْه‬ ْ ‫اَنهّ َه ّم‬
Artinya :
" Ya Allah berikanlah aku rezki berupa pemahaman seperti
pemahamannya para nabi, hafalan seperti hafalannya para Rasul dan
ilham seperti para ilhamnya para Malaikat Mukarrabin "

12
Adapun doa yang kita baca setelah selesai kita belajar adalah :

ْ َ‫اسصُ ْقى‬
ُ‫ااجتِىَابَه‬ ِ َِ‫ق َحقّا ً َو ْس ُص ْقىَا انتَِِّا َع ُه َىاَ ِسوَأ ا ْن‬
ْ ‫اط َم با َ ِطَلً َو‬ َّ ‫اَنهّ َه ّم اَ ِسنَ ا ْن َح‬
Artinya :
" Ya Allah perlihatkanlah kebenaran kepada kami, dan berikanlah
kami kekuatan untuk bisa mengikutinya, perlihatkanlah kepada kami
kebathilan dan berikanlah kepada kami untuk menjauhinya"

D. Kedudukan Ulama dalam Islam


Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, ulama adalah orang yang
ahli dalam hal atau dalam pengetahuan agama islam. Kata ulama berasal
dari bahasa Arab, bentuk jamak dari kata „aalim. „Aalim adalah isim fa‟il
dari kata dasar „ilmu. Jadi „aalim adalah orang yang berilmu dan ulama
adalah orang-orang yang punya ilmu.
Ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas
untuk mengayomi, membina dan membimbing umat islam baik dalam
masalah-masalah agama maupun masalah sehari-hari yang diperlukan baik
dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Makna sebenarnya
dalam Bahasa Arab adalah ilmuwan atau penelitian, kemudian arti ulama
tersebut berubah ketika diserap kedalam Bahasa Indonesia, yang
maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam agama islam.
Dengan demikian, pengertian ulama secara harfiyah adalah “Orang-
orang yang memiliki ilmu”. Pengertian ulama secara harfiyah ini sejalan
dengan beberapa pendapat ulama sendiri :
 Menurut Asy-Syaikh Ibnu „Utsaimin yaitu “Ulama adalah orang
yang ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada
Allah”.
 Menurut Badruddin Al-Kinani yaitu “Mereka (para ulama) adalah
orang-orang yang menjelaskan segala apa yang dihalalkan dan
diharamkan, dan mengajak kepada kebaikan serta menafikan
segala bentuk kemudharatan”.

13
 Menurut M. Quraish Shihab yaitu “Ulama ialah orang-orang yang
mempunyai pengetahuan tentang ayat-ayat Allah, baik yang
bersifat kauniyah maupun quraniyah, dan mengantarnya kepada
pengetahuan tentang kebenaran Allah, takwa, dan khasysyah
(takut) kepada-Nya.”

Keutamaan dan Kedudukan Para Ulama

Al-Qur‟an memberikan gambaran tentang ketinggian derajat para ulama:

“Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang


yang diberikan ilmu (ulama) beberapa derajat.”(QS Al-Mujadalah: 11)

Selain ketinggian derajat para ulama, Al-Qur‟an juga menyebutkan dari


sisi jiwa dan karakteristik, bahwa para ulama adalah orang-orang yang
takut kepada Allah. Sebagaimana disebutkan di dalam salah satu ayat:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya,


hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha
Pengampun.” (QS. Fathir:28)

Sedangkan di dalam hadist nabi, disebutkan bahwa para ulama adalah


orang-orang yang dijadikan peninggalan dan warisan oleh para nabi:

“Dan para ulama adalah warisan (peninggalan) para nabi. Para nabi
tidak meninggalkan warisan berupa dinar (emas), dirham (perak). Tetapi
mereka meninggalkan warisan berupa ilmu. “(HR Ibnu Hibban)

Di dalam kitab Ihya‟ Ulumud-din karya Al- Imam Al-Ghazali,


disebutkan bahwa manusia yang paling dekat martabatnya dengan
martabat para nabi adalah ahlul-ilmi (ulama) dan ahlul jihad (mujahidin).
Karena ulama adalah orang yang menunjukkan manusia kepada ajaran
yang dibawa para rasul, sedangkan mujahid adalah orang yang berjuang
dengan pedangnya untuk membela apa yang diajarkan oleh para Rasul.

14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dengan mununtut ilmu kita dapat mengetahui mana yang benar
dan mana yang salah, mana yang haram dan mana yang halal, sehingga
menjadi bekal kita di akherat. Dunia bagaikan ladang. Yang hasilnya akan
kita petik di akherat kelak. disunahkan mengajarkan ilmu dan menyusun
kitab-kitab yang bermanfaat. Itulah diantara ilmu nafi‟ (yang bermanfaat)
yang pahalanya tetap berlangsung sepanjang zaman. Anjuran untuk
mendidik anak dan mengajari mereka perkara yang fardhu dan sunnah,
serta adab sopan santun agar mereka menjadi orang-orang shalih.
Kita tidak boleh zhalim terhadap diri sendiri dengan menyia-
nyiakan waktu, usia dan kehidupan kita. Jangan sampai kita salah langkah
dalam menghabiskan usia. Jangan sampai kita lebih suka bersenang-senag
dan bermalas-malasan, melalaikan sesuatu yang lebih mulia dan berharga.
Setiap kali usaha bertambah, tanggung jawab setiap kita juga bertambah.
Hubungan dan relasi bertambah, waktu berkurang dan kekuatan melemah.
Waktu yang kita miliki di usia tua menjadi semakin sempit, tubuh
melemah dan kesehatan berkurang. Ketika kita mulai tidak berdaya
kesibukan yang dimiliki semakin bertambah.
Dalam penerapan menuntut ilmu dan menghargai waktu itu saling
berkaitan seharusnya waktu luang digunakan untuk hal-hal yang
bermanfaat seperti setiap waktu luang digunakan untuk mengkaji
pengetahuan, digunakan untuk berdzikir, dan melakukan hal-hal yang
bermanfaat demi kepentingan bersama. Dalam penerapan ilmu bila
seseorang mempunyai ilmu maka harus mengamalkan ilmunya kepada
orang yang masih kurang pengathuannya maka bila ilmu semakin sering di
manfaatkan akan bertambah pula pengetahuan yang diperoleh.

15
16

Anda mungkin juga menyukai