Panduan Lengkap tentang Bekam dan Manfaatnya
Panduan Lengkap tentang Bekam dan Manfaatnya
Bekam Dalam bahasa melayu disebut bekam. Dalam bahasa Jawa disebut cantuk atau kop. Di
Sumbawa dan sekitarnya disebut tangkik atau batangkik. Dalam bahasa Arab disebut hijamah
الحجامة. Dalam bahasa Inggris disebut blood cupping atau blood letting atau cupping therapy
atau blood cupping therapy atau cupping therapeutic. Dalam bahasa Mandarin disebut pa hou
kuan. Di Indonesia [1] dikenal dengan sebutan Bekam
Bekam adalah metode pengobatan untuk mengeluarkan radikal bebas dan darah statis dari dalam
tubuh manusia dengan cara melakukan pemvakuman di kulit dan pengeluaran darah darinya.
Pengertian ini mencakup dua mekanisme pokok dari bekam, yaitu proses pemvakuman kulit dan
dilanjutkan dengan pengeluaran darah dari kulit yang divakum.
Daftar isi
1 Sejarah
2 Jenis bekam
3 Bekam Steril
4 Waktu berbekam
5 Cara bekam
6 Tips Memilih Praktik Bekam Yang Baik
7 Etika Seorang Pembekam
8 Riset dan Penelitian Tentang Bekam
9 Bekam di Dunia Barat
10 Referensi
Sejarah
Hijamah/bekam/cupping/Blood letting/kop/chantuk dan banyak istilah lainnya sudah dikenal
sejak zaman dulu, yaitu kerajaan Sumeria, kemudian terus berkembang sampai Babilonia, Mesir,
Saba, dan Persia. Pada zaman Rasulullah, beliau menggunakan kaca berupa cawan atau mangkuk
tinggi.
Pada zaman China kuno mereka menyebut hijamah sebagai “perawatan tanduk” karena tanduk
menggantikan kaca. Pada kurun abad ke-18 (abad ke-13 Hijriyah), orang-orang di Eropa
menggunakan lintah sebagai alat untuk hijamah. Pada satu masa, 40 juta lintah diimpor ke negara
Perancis untuk tujuan itu. Lintah-lintah itu dilaparkan tanpa diberi makan. Jadi bila disangkutkan
pada tubuh manusia, dia akan terus menghisap darah tadi dengan efektif. Setelah kenyang, ia
tidak berupaya lagi untuk bergerak dan terus jatuh lantas mengakhiri upacara hijamahnya.
Kini pengobatan ini dimodifikasi dengan sempurna dan mudah pemakaiannya sesuai dengan
kaidah-kaidah ilmiah dengan menggunakan suatu alat yang praktis dan [Link] oleh
Curtis N, J (2005), dalam artikel Management of Urinary tract Infections: historical perspective
and current strategies: Part 1-before antibiotics. Journal of Urology. 173(1):21-26, January 2005.
Bahwa catatan Textbook Kedokteran tertua Ebers Papyrus yang ditulis sekitar tahun 1550 SM di
Mesir kuno menyebutkan masalah Bekam. [2].
Hippocrates (460-377 SM), Celsus (53 SM-7 M), Aulus Cornelius Galen (200-300 M)
memopulerkan cara pembuangan secara langsung dari pembuluh darah untuk pengobatan di
zamannya. Dalam melakukan tehnik pengobatan tersebut, jumlah darah yang keluar cukup
banyak, sehingga tidak jarang pasien pingsan. Cara ini juga sering digunakan oleh orang
Romawi, Yunani, Byzantium dan Itali oleh para rahib yang meyakini akan keberhasilan dan
khasiatnya.
Tidak ada catatan resmi mengenai kapan metode ini masuk ke Indonesia, diduga kuat
pengobatan ini masuk seiring dengan masuknya para pedagang Gujarat dan Arab yang
menyebarkan agama Islam.
Metode ini dulu banyak dipraktekkan oleh para kyai dan santri yang mempelajarinya dari “kitab
kuning” dengan tehnik yang sangat sederhana yakni menggunakan api dari kain/kapas/kertas
yang dibakar untuk kemudian ditutup secepatnya dengan gelas/bekas botol. Waktu itu banyak
dimanfaatkan untuk mengobati keluhan sakit/pegal-pega di badan, dan sakit kepala atau yang
dikenal dengan istilah “masuk angin”.
Tren pengobatan ini kembali berkembang pesat di Indonesia sejak tahun 90-an terutama dibawa
oleh para mahasiswa/pekerja Indonesia yang pernah belajar di Malaysia, India dan Timur
Tengah. Kini pengobatan ini dimodifikasi dengan sempurna dan mudah pemakaiannya sesuai
dengan kaidah-kaidah ilmiah dengan menggunakan suatu alat yang higienis, praktis dan efektif.
Berikut ini kutipan dari Buku Pedoman Sertifikasi Asosiasi Bekam Indonesia
Berdirinya Asosiasi Bekam Indonesia (ABI) adalah suatu keharusan yang wajib didukung oleh
setiap warga Indonesia apapun status sosialnya yang telah didirikan pada 10 Nopember 2007
dengan proses perjuangan yang cukup melelahkan dan kesabaran yang tinggi, dan pada tanggal
20 Juni 2008 ABI telah dikukuhkan dengan Akte Notaris Ummu Imamah, SH. No.2.
ABI merupakan wadah para praktisi dan pengobatan bekam dari berbagai pelosok bumi
Nusantara yang mandiri dan telah berperan aktif untuk menyehatkan bangsa, ini sejalan dengan
Visi Departemen Kesehatan “Masyarakat mandiri untuk hidup sehat“ dengan Misi “Membuat
Rakyat Sehat“ maka tentunya apabila Asosiasi Bekam Indonesia dijadikan pilihan handal dalam
mensukseskan program pemerintah, adalah suatu hal yang tidak mustahil “Indonesia sehat 2020”
insya Allah akan dapat dicapai sebelum tahun 2020.
Jenis bekam
Bekam kering atau bekam angin (Hijamah Jaaffah), yaitu menghisap permukaan kulit
dan memijat tempat sekitarnya tanpa mengeluarkan darah kotor. Bekam kering ini
berkhasiat untuk melegakan sakit secara darurat atau digunakan untuk meringankan
kenyerian urat-urat punggung karena sakit rheumatik, juga penyakit-penyakit penyebab
kenyerian punggung. Bekam kering baik bagi orang yang tidak tahan suntikan jarum dan
takut melihat darah. Kulit yang dibekam akan tampak merah kehitam-hitaman selama 3
hari. Prinsip dasar penggunaan bekam kering menurut TCM teknik sedasi/pelemahan dan
pengeluaran pathogen yang berlebih/ekses. Unsur yang dikeluarkan dalam bekam kering
adalah: Qi/energy , angin, panas dan Api. Teknik ini sangat bagus untuk menangani
sindrom Re/Panas tipe Defisien.[4]
Bekam basah (Hijamah Rathbah), yaitu pertama kita melakukan bekam kering, kemudian
kita melukai permukaan kulit dengan jarum tajam (lancet), lalu di sekitarnya dihisap
dengan alat cupping set dan hand pump untuk mengeluarkan darah kotor dari dalam
tubuh. Lamanya setiap hisapan 3 sampai 5 menit, dan maksimal 9 menit, lalu dibuang
darah kotornya. Penghisapan tidak lebih dari 7 kali hisapan. Darah kotor berupa darah
merah pekat dan berbuih. Dan selama 3 jam setelah di-bekam, kulit yang lebam itu tidak
boleh disiram air. Jarak waktu pengulangan bekam pada tempat yang sama adalah 3
minggu sahaja. Menurut Tradisional Chinese Medicine (TCM) Bekam basah adalah
teknik sedasi/pelemahan dan pengeluaran pathogen yang berlebih/ekses. Unsur yang
dikeluarkan dalam bekam basah adalah: Qi/energy, Xue/darah , Angin, panas dan Api.
Teknik ini sangat bagus untuk menangani sindrom Re / Panas Ekses.
Bekam Api (Fire Cupping), yaitu teknik membekam menggunakan api sebagai media
pemvakum/membekam. Bekam api menggunakan gelas khusus bekam api yang terbuat
dari kaca tebal. Bekam Api berkembang luas di CIna sebagai teknik pengobatan yang
banyak sekali digunakan selain akupuntur. Konsep TCM menyatakan bahwa bekam api
digunakan untuk mengeluarkan patogen angin dan dingin. Bagi tipikal pasien yang
mengalami sindrom panas dan kering (Sindrom Re)tidak dianjurkan menggunakan
bekam api.[5]
Catatan kecil : Dengan perkembangan bekam yang begitu fenomenal di Indonesia dan di
Dunia,dari pembelajaran Ustadz H. Galih Gumelar, ST, [Link] salah satu penggelut bekam
terkemuka di Indonesia menyatakan bahwa Jenis bekam kini menjadi lima,diantaranya :
Bekam Kering
Bekam Basah
Bekam Seluncur
Bekam Agresif
Bekam Illahi
Bahkan dari situs pendidikan yang menjadikan Ustadz H. Galih Gumelar adalah sumber
pembalajaran menyatakan bahwa menurut Ustadz. H. Galih Gumelar, " bekam kini memiliki
banyak teknik/metoda dalam membekam, ada lebih dari sepuluh teknik/metoda membekam.
Sehingga bila disimpulkan kini pengobatan bekam menjadi kaya akan teknik dan metodanya
dalam menerapi pasien atau penderita penyakit.
Bekam Steril
Bekam steril adalah pengobatan bekam yang memenuhi semua standar operasional prosedur
steril yang berkaitan dengan alat dan instrumen bekam, perlengkapan bekam, sarana prasarana,
antisepsi, disinfeksi, sterilisasi, alat pelindung diri, pencegahan dan Pengendalian infeksi (PPI),
tindakan dan perilaku saat membekam, hingga ke sistem pemusnahan limbah bekam.[6]
Penerapan standar steril dalam pengobatan bekam dari awal hingga akhir proses merupakan
perkara yang sangat urgen dan tidak bisa dikurangi, karena dalam pengobatan bekam ada
tindakan pelukaan jaringan kulit dan insisi serta pengeluaran darah, yang jika tidak berhati-hati
dalam hal ini akan mendatangkan efek negatif yang banyak.
Yang paling dirugikan dari tindakan bekam yang tidak steril ini adalah pasien bekam. Bahkan
pasien bekam dapat tertular penyakit dari pasien lain, dari yang ringan hingga kemungkinan
tertular virus yang mematikan seperti hepatitis dan HIV. Seperti yang lazim terjadi di sistem
pengobatan apa pun, dalam praktik pengobatan bekam juga dapat terjadi kemungkinan
malpraktik. Yang paling menonjol ialah dalam hal penerapan standar steril.
Waktu berbekam
Sebaiknya berbekam dilakukan pada pertengahan bulan, karena darah kotor berhimpun dan lebih
terangsang (darah sedang pada puncak gejolak). Anas bin Malik radhiallaahu 'anhu menceritakan
bahwa : "Rasulullah SAW biasa melakukan hijamah pada pelipis dan pundaknya. Ia
melakukannya pada hari ketujuhbelas, kesembilanbelas atau keduapuluhsatu." (Diriwayatkan
oleh Ahmad).
Pemilihan waktu bekam adalah sebagai tindakan preventif untuk menjaga kesehatan dan
penjagaan diri terhadap penyakit. Adapun untuk pengobatan penyakit, maka harus dilakukan
kapan pun pada saat dibutuhkan. Dalam hal ini Imam Ahmad melakukan bekam pada hari apa
saja ketika diperlukan.
Imam asy-Syuyuthi menukil pendapat Ibnu Umar, bahwa berbekam dalam keadaan perut kosong
itu adalah paling baik karena dalam hal itu terdapat kesembuhan. Maka disarankan bagi yang
hendak berbekam untuk tidak makan-makanan berat 2-3 jam sebelumnya.
Sesungguhnya sebaik-baik bekam yang kalian lakukan adalah hari ke-17, ke-19, dan pada hari
ke-21.” (Shahih Sunan at-Tirmidzi, Syaikh al-Albani (II/204))
1. Dari Anas bin Malik radhiallaahu 'anhu, dia bercerita: ” Rasulullah Shallallaahu 'alaihi
wasallam biasa berbekam di bagian urat merih (jugular vein) dan punggung. Ia biasa
berbekam pada hari ke-17, ke-19, dan ke-21.” (HR, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah,
Ahmad, sanad shahih)
2. Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: “Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
‘Berbekamlah pada hari ke-17 dan ke-21, sehingga darah tidak akan mengalami
hipertensi yang dapat membunuh kalian’.” (Kitab Kasyful Astaar ‘an Zawaa-idil Bazar,
karya al-Haitsami (III/388))
Ibnu Sina di dalam kitabnya Al-Qaanun mengatakan : “Diperintahkan untuk tidak berbekam di
awal bulan karena cairan-cairan tubuh kurang aktif bergerak dan tidak normal, dan tidak diakhir
bulan karena bisa jadi cairan-cairan tubuh mengalami pengurangan. Oleh karena itu
diperintahkan melakukan bekam pada pertengahan bulan ketika cairan-cairan tubuh bergolak
keras dan mencapai puncak penambahannya karena bertambahnya cahaya di bulan”.
Cara bekam
Cara melakukan Bekam :
1. Mempersiapkan semua peralatan yang sudah disterilkan dengan alat sterilisator standar.
2. Mulai dengan do’a dan mensterilkan bagian tubuh yang akan dibekam dengan
desinfektan (misalnya. Iodin)
3. Dilanjutkan dengan penghisapan kulit menggunakan “kop/gelas” bekam, kekuatan
penghisapan pada setiap pasien berbeda-beda. Lama penghisapan selama 5 menit,
tindakan ini sekaligus berfungsi sebagai Anestesi (pembiusan) lokal. Diutamakan
mendahulukan bagian tubuh sebelah kanan dan jangan melakukan penghisapan lebih dari
4 titik bekam sekaligus.
4. Dengan menggunakan pisau bedah standar kemudian dilakukan syartoh /penyayatan
(jumlah sayatan 5-15 untuk satu titik tergantung diameter kop yang dipakai, panjang
sayatan 0,3-0,5 cm, tipis dan tidak boleh terlalu dalam, dilakukan sejajar dengan garis
tubuh). Salahsatu tanda bahwa sayatannya baik adalah sesaat setelah disayat, kulit tidak
mengeluarkan darah akan tetapi setelah disedot dengan alat maka darahnya baru keluar.
5. Lakukan penghisapan kembali dan biarkan “darah kotor” mengalir di dalam kop selama 5
menit.
6. Bersihkan dan buang darah yang tertampung dalam kop dan jika perlu bisa lakukan
penghisapan ulang seperti tadi. Tidak boleh dilakukan pengulangan sayatan.
7. Bersihkan bekas luka dan oleskan minyak habbatus sauda yang steril. Umumnya bekas
bekam akan hilang setelah 2-5 hari.
8. Ucapkan Alhamdulillah dan rasakan keajaiban “mukjizat” medis bekam.
9. Setiap pasien dianjurkan untuk memiliki alat bekam sendiri. Kop/alat bekam tidak boleh
digunakan untuk pasien lain pada penderita hepatitis, ODHA, dan penyakit menular
lainnya.
Ada sekitar 12 titik utama yang disebutkan dalam hadits, selebihnya merupakan pengembangan
dari itu. Beberapa ahli bekam juga menggunakan titik akupuntur untuk dilakukan pembekaman
sedangkan yang lainnya menggunakan pendekatan anatomi organ tubuh dan patofisiologis suatu
penyakit.
Bagian tubuh yang dibekam di antaranya adalah Titik di kepala (Ummu Mughits, Qomahduwah,
Yafukh, Hammah, dzuqn, udzun), Leher dan punggung (Kaahil, al-akhda’ain, alkatifain,
naqroh,munkib), kaki (Wirk, Fakhd, Zhohrul qodam, iltiwa’) dan lain sebagainya. [7]
Thomas W. Anderson telah menulis sebuah buku berjudul 100 Diseases Treated by Cupping
Methode. Beberapa di antara penyakit yang berespon cukup baik dengan Terapi bekam adalah
Hipertensi, hiperuricemia (Gout/Pirai), hiperkolesterolemia, stroke , parkinson, epilepsy,
migrain, vertigo, gagal ginjal, varises, wasir (hemoroid), dan semua keluhan sakit (rematik,
ischialgia/sciatica, nyeri pinggang bawah), penyakit darah (leukemia, thalasemia), tinnitus, asma,
alergi, penyakit sistem imun (SLE, HIV), infeksi (Hepatitis, elefantiasis), Glaukoma, Insomnia,
enuresis/mengompol, mania, skizofren dan trans (gangguan sihir/jin), dll. Begitu juga bekam
untuk kesuburan (fertilitas) dan kecantikan (menghilangkan jerawat, komedo, vitiligo,
menurunkan berat badan, dll)
Apakah terdapat kontraindikasi efek samping yang terjadi akibat bekam? Orang dalam
kondisi seperti apa yang tidak boleh dibekam?
Pada beberapa kasus dimana syarat pembekaman kurang terpenuhi, kadang-kadang muncul efek
samping berupa mual/muntah (jika terlalu dekat jaraknya dengan makan/<2jam setelah makan),
lemas (jika pembekaman terlalu banyak titik), keluarnya bula/gelembung (jika pembekaman
terlalu lama dan kekuatan pompa terlalu kuat). Adapun jika dilakukan sesuai “aturan main” maka
efek samping tersebut jarang sekali terjadi.
Orang yang ditunda pembekamannya adalah : Wanita hamil (pada daerah perut dan punggung
bawah), wanita menstruasi dan nifas, orang yang sedang mengkonsumsi obat pengencer darah,
sedang cuci darah, baru melakukan donor darah, penderita dengan kondisi yang sangat lemah
dan tekanan darah sangat rendah, serta orang yang sedang kelaparan/kenyang/gugup (fobia).
Semua orang bisa dibekam pada kisaran umur 4 tahun keatas, yang penting pasiennya bisa
kooperatif. Pada orang tua yang sudah renta, ibu hamil dan anak-anak pembekaman dilakukan
dengan hati-hati, dengan sayatan yang tipis, tekanan kop yang ringan dan titik bekam yang
terbatas.[8]
1. Pilihlah griya bekam yang sudah memiliki STPT dari Dinas Kesehatan setempat. STPT
ini menjadi acuan bahwa griya bekam itu sudah memenuhi standar baku yang ditetapkan
pemerintah RI.
2. Yakinkan bahwa pembekam memiliki pengetahuan tentang anatomi, fisiologi dan
patologi serta pengetahuan medis.
3. Lebih baik pilihlah griya bekam yang memiliki standar minimal tempat layanan bekam,
yang terdiri dari ruang penerimaan, ruang konsultasi, ruang tindakan bekam. Lebih dari
itu akan menjadi lebih baik, seperti ketersediaan toilet dan wastafel.
4. Utamakan pilihan pada griya bekam yang sudah memiliki sistem rekam medik untuk
pasien secara tertulis, lebih baik lagi jika sudah memiliki sistem yang terintegrasi dengan
komputer.
5. Utamakan praktik bekam yang memiliki pengetahuan diagnosa penyakit dan hindarkan
praktik bekam yang tidak melakukan diagnosa penyakit.
6. Pilihlah pembekam yang sudah memiliki keahlian dan pernah mengikuti pelatihan bekam
di Lembaga kursus dan pelatihan (LKP) yang legal dan berizin dari Diknas, atau sudah
menjadi anggota resmi asosiasi yang menjadi mitra pemerintah, yang dalam hal ini hanya
Asosiasi Bekam Indonesia (ABI). Semua kriteria dii atas (nomer 2 sampai nomer 6)
menjadi persyaratan pengurusan STPT di Dinkes RI di samping syarat-syarat yang lain.
7. Pilihlah griya bekam yang memiliki sterilizer dan hindarilah griya bekam yang tidak
memiliki sterilizer.
8. Berhati-hatilah dan waspadalah jika Anda dibekam bersamaan dengan pasien lain.
Jikalau perlu tolaklah secara tegas.
9. Lebih baik hindarilah praktik bekam yang menggunakan tissu jenis apa pun untuk
membersihkan kulit dan mengelap darah karena efek carsinogenic untuk jangka panjang,
tapi pilihlah griya bekam yang menggunakan kssa steril untuk fungsi di atas.
10. Waspadalah jika pembekam menyuruh Anda untuk membawa dan memusnahkan sendiri
limbah bekam.
11. Pilihlah praktik bekam yang pembekamnya mengenakan alat-alat pelindung diri seperti
handscoen dan facemask.
12. Pilihlah praktik bekam yang memiliki peralatan yang lengkap dan yang terbuat dari
bahan steinless steel, seperti korentang untuk mengambil alat-alat yang steril, nierbeken
untuk wadah kop yang sudah terpakai dan terkena darah, rak instrumen untuk meletakkan
semua alat bekam.
13. Pilihlah pembekam yang sejenis, laki-laki dengan laki-laki, wanita dengan wanita.
14. Berhati-hatilah terhadap pembekam yang memiliki kecenderungan kepada praktik
perdukunan atau sejenisnya.
15. Walau terlihat sepele dan remeh, pilihlah griya bekam yang plastik penampung
limbahnya berwarna kuning. Karena logika warna ini dapat berimplikasi kepada hal-hal
lain.
16. Waspadalah terhadap praktik bekam yang mendatangi langsung ke tempat pasien
(inhouse), kecuali jika satu pasien dilayani dengan satu set alat bekam, tanpa yang lain.
17. Berhati-hatilah terhadap praktik bekam yang titiknya terlalu banyak secara sekaligus,
karena cara ini berpotensi mengakibatkan demam, pingsan, badan lemas dan munculnya
blister di kulit.
18. Pilihlah Terapis bekam yang bersertifikat dan diutamakan memiliki
pendidikan/pengetahuan medis yang cukup.[9]
19. Pastikan Terapis tersebut memiliki peralatan standar sterilisasi (sterilisator) yang
memadai.
20. Menggunakan peralatan medis standar (hanscon, masker, pisau bedah, kassa steril, dll)
Hindari penggunaan silet, cutter, kaca, tissue gulung, kapas, atau kop berupa tanduk,
bambu dan gelas biasa. Dalam prakteknya Rosulullah menggunakan metode syartoh
(sayatan) ketika berbekam.
Minimnya informasi dan kurangnya wawasan dalam Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi
(IPTEK), maka tak sedikit orang menganggap penyakit merupakan ulah makhluk halus atau ruh
jahat yang sengaja mengganggu kehidupan manusia. Maka banyaklah orang yang merasa perlu
melakukan upacara, sajian - sajian, bacaan – bacaan/ isim atau azimat tertentu untuk mengusir
atau menghindari pengaruh makhluk jahat tersebut. Cara-cara ini biasanya dilakukan oleh orang-
orang yang dianggap dapat berhubungan dengan makhluk halus, yang banyak kita sebut dengan
“Mbah dukun, orang pintar” dan lain sebagainya. Bagi ummat Islam hal ini tidak dibenarkan dan
dilarang sebagai mana sabda Nabi Muhammad SAW:
“Siapapun yang datang kepada seorang dukun menayakan sesuatu perkara lalu membenarkan
ucapannya itu, kufurlah ia terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan barang siapa
datang sambil tidak membenarkannya, tiada diterima sholatnya selama empat puluh hari” ( HR.
Ath-Thabrani).
Dr. Saad A. Al-Saedi, Hubungan antara fungsi Imun pada pasien dengan infeksi Hepatitis C
Kronik
Ringkasan Penelitiannya :
¡In the periodic report submitted for this study, results comparing HCV patients undergoing
repeated cupping with control persons were presented to demonstrate the effect of cupping on
CBC, liver functions and immune response. However, in this part of the study the objectives
have been achieved by studying the effect of repeated cupping on the same measures as well as
measuring the effect of cupping on MDA, IL-1ß, and cAMP. The results of this study showed
significant improvement in liver enzymes (namely ALT) following repeated cupping, and also in
reducing the free radical MDA as well as cAMP, both of which are incriminated in pathological
liver changes accompanying HCV infection. On the other hand, results showed the effect of
repeated cupping on increasing IL-1ß which triggers the cascade of immunostimulation
secondary to inflammations, by activating T-lymphocytes and B-cells together with activating
adhesion molecules and other cytokines. Results showed also continued increase in platelet count
upon repeated cupping. Although no significant change in WBC count was observed,
lymphocytic count was increased even above control levels, which might reflect improved
immune system secondary to the observed reduction in viral load. Cupping also increased
hemoglobin levels around the control values. And, lastly, repeated cupping was associated with
significant reduction in viral load of HCV RNA using PCR technique. Taken together, the
present results showed a significant increase in the immune response after repeated cupping and
subsequently a significant reduction in virus replication in the blood samples taken from these
patients. Terjemah dari kalimat cetak miring : Diambil secara bersamaan (dari penelitian tersebut
), kondisi yang ada menunjukkan peningkatan secara signifikan dalam respon kekebalan tubuh
setelah pembekaman berulang dan kemudian pengurangan secara signifikan dalam replikasi
virus dalam contoh darah yang diambil dari pasien-pasien[11]
Evaluation of wet-cupping therapy for persistent non-specific low back pain: a randomised,
waiting-list controlled, open-label, parallel-group pilot trial
Peneliti : Jong-In Kim1,2†, Tae-Hun Kim1,2†, Myeong Soo Lee1, Jung Won Kang1,2, Kun
Hyung Kim1,2, Jun-Yong Choi1,3, Kyung-Won Kang1, Ae-Ran Kim1, Mi-Suk Shin1, So-
Young Jung1 and Sun-mi Choi1* The result of this study implies that wet-cupping may have a
potential effect to reduce current pain associated with PNSLBP. However, it is difficult to firmly
concludethat wet-cupping is a meaningful intervention for functional recovery from PNSLBP. A
large scale sham cupping-controlled trial would be necessary for evaluating the efficacy of wet-
cupping therapy for PNSLBP in the future. Terjemahan bebas dari tulisan cetak miring : Hasil
dari studi ini menmplikasikan bahwa Bekam Basah mungkin memiliki efek potensial dalam
mengurangi sakit berkaitan dengan Sakit Punggung bagian bawah persisten. Bagaimanapun juga
masih sulit untuk menyimpulkan secara kuat bahwa bekam basah adalah sebuah intervensi yang
berarti dalam pemulihan fungsional dari sakit punggung bagian bawah. PNSLBP = persistent
non-specific low back pain