0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan21 halaman

Keprofesionalan Guru dalam Pendidikan

yyahajaj

Diunggah oleh

shifabagus201
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan21 halaman

Keprofesionalan Guru dalam Pendidikan

yyahajaj

Diunggah oleh

shifabagus201
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keberhasilan pendidikan dapat diukur dengan penguasaan siswa terhadap

materi yang telah disampaikan oleh guru di dalam kelas. Namun, operasionalnya

keberhasilan itu banyak pula ditentukan oleh manajemen pendidikan di samping

dipengaruhi oleh beberapa faktor pendidikan yang harus ada dan juga terkait di

dalamnya. Faktor tersebut adalah: (1) guru, (2) materi, dan (3) siswa.

Ketiga komponen utama dalam pengajaran tersebut saling berkaitan. Akan

tetapi, faktor guru merupakan faktor paling dominan dalam kegiatan belajar-

mengajar. Guru sebagai perencana sekaligus sebagai pelaksana pembelajaran serta

pemberi balikan untuk memotivasi siswa dalam melaksanakan tugas belajar. Hal

ini menunjukkan bahwa posisi guru dalam dunia pendidikan sangat penting.

Berdasarkan fungsi dan perannya yang sangat besar itu, maka idealnya seorang

guru harus memiliki keprofesionalan dalam menjalankan tugasnya. Dengan

memiliki keprofesionalan tersebut guru diharapkan dalam menjalankan tugasnya

dapat mencapai hasil dan tujuan yang optimal sebagaimana telah tertuang dalam

UU RI no. 20 Th. 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada BAB II pasal 3

yaitu:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan


membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada

1
2
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab1.

Guru merupakan profesi, maka untuk menjadi guru harus memiliki

sertifikasi dan etika profesi. Program sertifikasi dilakukan untuk meningkatkan

keprofesionalan guru seperti yang telah dilakukan oleh Direktorat Pembinaan

Perguruan Tinggi Agama Islam mlalui Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan

Dasar.

Sertifikasi kompetensi diberikan oleh penyelenggara pendidikan dan

lembaga pelatihan kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan

terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan yang diselenggarakan oleh

satuan pendidikan yang terakreditasi oleh lembaga sertifikasi.

Guru mempunyai kewajiban untuk mengawasi dan membantu murid

dalam kegiatan belajar mengajar. Sekaligus mereka dituntut agar meningkatkan

dirinya menjadi guru yang profesional sehingga guru harus memiliki kompetensi

dalan kegiatan belajar mengajar seperti menguasai bahan pelajaran sekolah,

menguasai proses belajar mengajar, menguasai penggunaan media dan sumber,

dapat mengevaluasi hasil belajar siswa, dapat memotivasi siswa dalam belajar dan

lain-lain.

Penelitian Suyono tahun 1998 tentang kualitas guru di berbagai jenjang


pendidikan menunjukkan bahwa : “(1) guru kurang mampu merefleksikan apa
yang pernah ada, (2) dalam pelaksanaan tugas, guru pada umumnya terpancing
untuk memenuhi target minimal, yaitu agar siswa mampu menjawab tes dengan
1
UURI, Sisdiknas, (Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm:7
3
baik, (3) para guru enggan beralih dari model mengajar yang sudah mereka yakini
tepat, (4) guru selalu mengeluh tentang kurang lengkap dan kurang banyaknya
buku paket. Mereka khawatir kalau yang diajarkan tidak sesuai dengan soal-soal
yang akan muncul dalam UUB, Ebta, dan Ebtanas, (5) kecenderungan guru dalam
melaksanakan tugas mengajar hanya memindahkan informasi dan ilmu
pengetahuan saja. Dimensi pengembangan kemampuan berpikir logis, kritis, dan
kreatif kurang mendapat perhatian2.”

Selanjutnya Pusat Informasi Data Balitbang Depdiknas tahun 2001

menunjukkan bahwa guru sekolah dasar yang layak mengajar (berpendidikan D2,

D3, dan S1) baru 38% atau baru 442.310 dari 1.141.168 orang guru sekolah dasar.

Oleh karena itu guru harus memiliki sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan

mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta mampu untuk mewujudkan tujuan

pendidikan nasional.

Laporan Badan PBB untuk Program Pembangunan tahun 2001 disebutkan

bahwa kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia berada diurutan ke-109 dari 174

negara. Hal ini kemungkinan besar tidak terlepas dari kenyataan bahwa guru-guru

di Indonesia belum memenuhi harapan bangsa, misalnya dari segi persyaratan

pendidikan, penguasaan ilmu, dan teknologi.

Glickman menjelaskan bahwa seorang akan bekerja secara profesional

bilamana seseorang tersebut mempunyai: (1) kemampuan (ability), dan (2)

motivasi (motivation). Maksudnya adalah seseorang akan bekerja secara

2
Hadiyanto, Mencari Sosok Desentralisasi Manajemen Pendidikan Indonesia, (Jakarta:
Rineka Cipta, 2004), hlm: 18-19
4
profesional apabila ia memiliki kemampuan kerja yang tinggi dan kesungguhan

hati untuk mengerjakan dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya,

seseorang tidak akan bekerja secara profesional bilamana hanya memiliki

salah satu diantara dua persyaratan di atas3.

Guru dapat dikatakan professional apabila memiliki kemampuan tinggi

dan motivasi kerja tinggi. Guru yang memiliki motivasi yang rendah biasanya

kurang memberikan perhatian kepada siswa, demikian pula waktu dan tenaga

yang dikeluarkan untuk meningkatkan mutu pembelajaran sangat sedikit.

Sebaliknya, guru yang memiliki motivasi tinggi biasanya tinggi sekali

perhatiannya kepada siswa, demikian pula waktu yang disediakan untuk

peningkatan mutu pendidikan sangat banyak.

Guru yang memahami kedudukan dan fungsinya sebagai pendidik yang

profesional selalu berkeinginan untuk tumbuh dan berkembang sebagai

perwujudan perasaan dan sikap tidak puas terhadap pendidikan yang telah

diterimanya dan sebagai pernyataan dan kesadaran terhadap perkembangan dan

kemajuan bidang tugasnya yang harus diikuti sejalan dengan kemajuan ilmu

pengetahuan dan teknologi, pengalaman profesional yang berharga mungkin

diperoleh oleh guru yang berani dan selalu bersedia mewujudkan ide atau gagasan

dan mengembangkan proses belajar mengajar di kelas dan di lingkungan sekitar.

3
Ibrahim Bafadal, Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2004), hlm: 5
5
Pembahasan tentang keprofesionalan guru saat ini masih banyak

dibicarakan orang dan masih saja dipertanyakan orang baik kalangan para pakar

maupun di luar kalangan para pakar pendidikan. Bahkan banyak yang cenderung

melecehkan posisi guru. Orang tua siswa pun kadang mencemoohkan dan

menuding guru kurang profesional, tidak berkualitas, ketika anaknya tidak dapat

menyelesaikan persoalan yang ia hadapi sendiri atau memiliki kemampuan yang

tidak sesuai dengan keinginannya.

Di SMK muhammadiyah 1 Metro sendiri perbandingan antara guru

pengajar yang PNS dengan swasta masih banyak sekali yang swasta, tetapi bukan

berarti guru yang swasta belum tarlalu prefesianal akan tetapi memang guru yang

PNS yang bertugas di SMK muahammadiyah 1 metro memang masa kerjanya

cenderung lebih banyak dibanding guru yang suwasta tetapi ada juga guru yang

swasta yang masa kerjanya juga lama terutama guru pendidikan agama islam.

Kurangnya guru prefesional di SMK Muhammadiyah 1 Metro tersebut

fenomena yang terjadi memang guru yang swasta tidak hanya mengajar di SMK

Muhammadiyah 1 Metro, akan tetapi di juga mengajar di luar sekolah juga. Dan

guru SMK Muhammadiyah 1 Metro juga banayak yang belum terlalu menguasai

dalam hal mengunakan ICT atau dalam penggunaan computer ataupun proyektor.

Guru swasta yang mengajar tidak hanya satu sekolahan saja di karenakan

mereka mengejar program sertifikasi yang harus mengajar lebih dari 24 jam.

Selain itu juga para guru swasta tidak hanya semgajar dalam satu sekolahhan

karena untuk mencukupi kebutuhan keluaraga , karena biala guru tersebut hanya
6
mengajar dalam satiu sekolahan saja maka penghasilan guru tersebut akan sangat

minim untuk mencukupi keluarganya.

Bukti lain kelemahan sebagian guru juga ditunjukkan oleh hasil penelitian

psikologi yang melibatkan responden sebanyak 1975 siswa SD negeri dan swasta

di Jakarta. Penelitian untuk disertasi Dr. Fakultas Psikologi UI itu menghasilkan

kesimpulan bahwa guru di sekolah-sekolah dasar tersebut tidak mampu

mengidentifikasi siswa berbakat4.

Setiap siswa memiliki perbedaan yang unik, mereka memiliki kekuatan,

kelemahan, minat, dan perhatian yang berbeda-beda. Latar belakang keluarga,

latar belakang sosial, ekonomi, dan lingkungan membuat peserta didik berbeda

dalam aktivitas, kreatifitas, intelegensi, dan kompetensinya. Guru seharusnya

dapat mengidentifikasi perbedaan individual peserta didik dan menetapkan

karakteristik umum yang menjadi ciri kelasnya, dari ciri-ciri individual yang

menjadi karakteristik umumlah seharusnya guru memulai pembelajaran. Dalam

hal ini, guru harus memahami ciri-ciri peserta didik yang harus dikembangkan dan

yang harus diarahkan kembali.

Permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat terhadap profesi guru kurang

berkenan berbeda dengan pengakuan profesi dokter atau hakim . Apabila ukuran

tinggi rendahnya pengakuan keprofesionalan tersebut adalah keahlian dan tingkat

4
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dalam Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2004), hlm: 222
7
pendidikan yang ditempuhnya, gurupun ada yang setingkat dengan profesi lain

dan bahkan ada yang lebih baik.

Faktor lain yang mengakibatkan rendahnya pengakuan masyarakat

terhadap profesi guru adalah kelemahan yang terdapat pada guru itu sendiri seperti

rendahnya keprofesionalan guru, penguasaan guru dalam memotivasi belajar

siswa serta kemampuan-kemamuan lain yang belum optimal.

Berdasarkan fenomena dari latar belakang di atas, maka penulis ingin

membahas permasalahan tersebut dalam skripsi yang berjudul “Peningkatan

Propesionalitas Guru Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas X

Semester Ganjil Di SMK muhammadiyah 1 Metro”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalah sebagai

berikut:

1. Apakah ada peningkatan profesionalitas guru Pendidikan Agama Islam kelas

X semester ganjil di SMK Muhammadiyah 1 Metro?

2. Upaya apa yang dilakukan oleh SMK Muhammadiyah 1 Metro dalam

peningkatan profesionalitas guru Pendidikan Agama Islam kelas X semester

ganjil?
8
C. Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah untuk memperjelas tujuan yang

hendak dicapai oleh penulis. Maka penulis membatasi penelitian ini hanya ruang

lingkup SMK Muhammadiyah 1 Metro. Salah satunya yaitu Kepala sekolah dan

guru Pendidikan Agama Islam

[Link] Penelitian

Dengan berpijak pada permasalahan di atas, maka tujuan yang hendak

dicapai dalam penelitian nanti adalah:

1. Untuk mendeskripsikan profesionalitas guru dalam pembelajaran Pendidikan

Agama Islam kelas X semester ganjil di SMK Muhammadiyah 1 Metro

2. Untuk mendeskripsikan kendala yang dihadapi dalam peningkatan

profesionalitas guru Pendidikan Agama Islam kelas X semester ganjil di SMK

Muhammadiyah 1 Metro

3. Untuk mendeskripsikan upaya yang dilakukan oleh SMK Muhammadiyah 1

Metro dalam peningkatan profesionalitas guru Pendidikan Agama Islam kelas

X semester ganjil.

E. Kegunaan Penelitian

Dengan melihat tujuan di atas, maka diharapkan penelitian ini dapat

bermanfaat:
9
1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumbangan

pengembangan hasanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam manajemen

Pendidikan Islam.

2. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan bermanfaat bagi:

a. Peneliti, diharapkan menambah pengalaman dan wawasan yang nantinya

diharapkan kalau peneliti sudah menjadi guru dapat memberikan fungsi

guru yang baik.

b. Sekolah, diharapkan menjadi bahan rujukan dalam pengelolaan

pembelajaran

c. Guru PAI, diharapkan dapat dijadikan umpan balik untuk menilai

profesionalitas yang dimiliki guru dalam melaksanakan pembelajaran

Pendidikan Agama Islam. Disamping itu dapat dijadikan bahan

pertimbangan untuk meningkatkan keprofesionalan yang telah dimiliki

guru-guru pada sekolah yang bersangkutan.

d. Sebagai peneliti berguna untuk mewujudkan sikap dan sebagai salah satu

syarat untuk mencapai gelar [Link].I.

F. Metode Penelitian

1. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penlitian dengan pendekatan

deskriptif kualitatif. Pendekatan deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang

didasarkan pada data alamiah yang berupa kata-kata dalam mendeskripsikan

obyek yang diteliti. Pendekatan deskriptif kualitatif berusaha mengungkapkan


10
gejala secara holistik-kontekstual (secara utuh sesuai dengan konteks) melalui

kegiatan pengumpulan data dari latar yang alami.

Metode kualitatif “adalah metode penelitian yang digunakan untuk

meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, di mana peneliti adalah sebagai

instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, analisis

data bersifat induktif, dan hasil kualitatif lebih menekankan makna pada

generalisasi”5.

Sesuai dengan pendekatan kualitatif, maka hasil data penelitian akan

diinformasikan secara deskriptif dan tidak menguji suatu hipotesa serta tidak

mengkorelasi variable.

Penelitian deskriptif “adalah penelitian yang bersifat menggambarkan,

menguraikan suatu hal menurut apa adanya. Maksudnya adalah data yang

dikumpulkan berupa kata-kata atau penlaran, gambar, dan bukan angka-angka.

Hal ini disebabkan oleh adanya penerapan kualitatif”6.

Berdasarkan definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa penelitian

yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-

orang atau perilaku yang dapat diamati dan hasil penemuannya bukan dengan

jalan pengukuran angka-angka atau statistik. Penelitian kualitatif disebut juga

Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabta, 2005), hlm: 1

6
Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung; Remaja Rosdakarya,
2002), hlm: 6
11
penelitian naturalistik yang dalam proses pelaksanaannya memiliki ciri-ciri

sebagai berikut:

1) latar alamiah.

2) manusia sebagai alat instrument.

3) metode kualitatif.

4) analisa data secara induktif.

5) teori dari dasar.

6) deskriptif.

7) lebih mementingkan proses dari pada hasil.

8) adanya batas yang ditentukan oleh focus.

9) adanya kriteria khusus untuk keabsahan data.

10) desain yang bersifat sementara.

11) hasil penelitian dirundingkan dan disepakati bersama7.

2. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif sebagai prosedur

penelitian yang menghasilkan data deskriptif dan berupa kata-kata tertulis.

Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk

memberikan gambaran penyajian laporan tersebut8.

7
Lexy J Moleong, OpCit, hlm: 4-8
8
Arif Furqon, Pengantar penelitian dalam Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional,
1982), hlm: 415
12
Pendekatan deskriptif kualitatif sebagai prosedur penelitian karena dalam

penelitian ini peneliti hanya mendeskripsikan, menjelaskan, memaparkan,

menuliskan serta melaporkan suatu keadaan obyek atau data yang telah diperoleh

dari sumber data. Tujuan pendekatan penelitian ini adalah untuk melukiskan

variabel atau kondisi yang ada dalam suatu situasi.

3. Data dan Sumber Data

Jenis data yang berupa data verbal dalam penelitian kualitatif hanya

berwujud kata-kata bukan angka. Data kualitatif merupakan sumber deskripsi

yang luas dan berlandasan kokoh, serta memuat penjelasan tentang proses-proses

yang terjadi dalam lingkup tertentu.

Sumber data dalam penelitian ini adalah subyek dimana data diperoleh.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan kuesioner atau wawancara dalam

pengumpulan datanya, maka sumber data disebut responden yaitu orang-orang

yang merespon dan menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti. Yang menjadi

sumber data dalam penelitian ini adalah:

a) Kepala Sekolah

b) Guru Pendidikan Agama Islam

Selain menggunkan wawancara dalam pengumpulan datanya juga

menggunakan observasi dan dokumentasi. Dengan menggunakan teknik

observasi, maka yang diobservasi dalam penelitian ini adalah gerak atau proses

peningkatan keprofesionlan guru sebagai sumber data. Sedangkan sumber data

dari dokumentasi adalah catatan latar belakang pendidikan guru.


13

4. Instrumen Penelitian

Kedudukan peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai instrumen. Selain

itu peneliti juga sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis,

penafsir data, dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya. Dalam

penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai

instrumen penelitian utama. Alasannya ialah bahwa, segala sesuatunya belum

mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian,

hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semuanya tidak dapat

ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu

dikembangkan sepanjang penelitian.

Selama dalam penelitian, peneliti sebagai alat satu-satunya yang dapat

mencapainya dan kehadiran peneliti semakin memudahkan dalam menggali

informasi sebanyak-banyaknya.

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

observasi, dokumentasi dan wawancara.

a) Observasi
14
Observasi “adalah metode yang menggunakan cara pengamatan dan

pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang

diselidiki”[Link] yang berarti mengamati bertujuan untuk mendapat data

tentang suatu masalah sehingga diperoleh pemahaman atau sebagai alat

pembuktian atau keterangan yang diperoleh sebelumnya.

Tujuan penggunaan metode ini adalah untuk memperoleh data secara

obyektif melalui pengamatan secara langsung di lokasi penelitian tentang segala

sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan penelitian.

b) Wawancara

Menurut Lexy J Moleong, “wawancara adalah percakapan dengan maksud

tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang

mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas

pertanyaan itu”10.

Wawancara ini digunakan untuk mengumpulkan data dengan jalan tanya

jawab sepihak dengan sumber data, yang dikerjakan dengan sistematik dan

berlandaskan pada tujuan penelitian. Dengan menggunakan metode ini akan dapat

dikumpulkan data representatif dari seluruh pihak yang terkait mengenai

peningkatan keprofesionalan guru dalam pembelajaran di SMK Muhammadiyah 1

Metro..

c) Dokumentasi

9
Sutrisno Hadi, Metodologi Penelitian Research II, (Yogyakarta: Andi Offset, 1990),
hlm: 136

10
Lexy Moleong, OpCit, hlm: 135
15
Menurut Suharsimi Arikunto, “metode dokumentasi adalah mencari data

mengenai hal-hal yang variable yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar,

majalah, prasasti, notulen rapat, leger, agenda dan sebagainya”11.

Berdasarkan pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa metode

dokumentasi adalah pengumpulan data dengan meneliti catatan-catatan penting

yang sangat erat hubungannya dengan obyek penelitian.

Dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh data mengenai keadaan

dan kondisi guru, baik ditinjau dari segi pengalaman pendidikan yang ditempuh

maupun darni segi penggunaan sarana dan prasarana pendidikan serta penerapan

pembelajaran.

6. Triangulasi

Pengecakan kebenaran data atau informasi kegiatan ini disebut triangulasi

yakni usaha mengecek kebenaran data atau informasi yang telah dikumpulkan.

Usaha pertama yang dapat dilakukan yaitu membacakan kembali catatan jawaban

untuk didengar oleh nara sumber. Usaha ini dilakukan pada saat akan mengakhiri

kegiatan wawancara.

11
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka
Cipta, 1998), hlm: 188
16
Triangulasi sangat diperlukan apabila terdapat data yang bertentangan atau

berbeda mengenai hal yang sama, dari dua atau lebih sumber data. Untuk itu harus

dilakukan kegiatan menelusuri setiap data yang ditemui sampai tuntas. Kegiatan

pengecekan dilakukan pada data yang tidak jelas, meragukan dan bahkan tidak

dapat diterima kebenarannya oleh akal atau dirasa kurang wajar dan tidak

mungkin triangulasi dilakukan dengan menambah sumber data dan mungkin pula

melakukan wawancara dan observasi ulang pada sumber data yang sama.

Triangulasi bermaksud juga mewujudkan prinsip penelitian kualitatif dalam

mengumpulkan data sampai tuntas atau sampai pada tingkat jenuh redundancy.

7. Analisis Data

Data yang diperoleh kemudian dianalisa dengan metode deduktif

kwalitatif, analisa dalam penelitian ini akan dilakukan sejak dan setelah proses

pengumpulan data.

Hasil dari wawancara dan catatan lapangan akan dipaparkan secara tertulis

sesuai dengan kategorisasi yang telah ditetapkan dan kemudian dianalisa. Dalam

analisa pengumpulan data ini peneliti menggunakan:

a) Observasi Terus Menerus

Observasi terus menerus yaitu mengadakan observasi terus menerus terhadap

subyek penelitian untuk memahami gejala lebih mendalam pada proses yang

terjadi di SMK Muhammadiyah 1 Metro

b) Reduksi Data
17
Reduksi data yaitu laporan atau rangkuman yang telah diperoleh dari analisis

data selama pengumpulan data reduksi, dipilih hal-hal yang pokok,

difokuskan, dicari tema atau polanya dan disusun lebih sistematis untuk

memperoleh gambaran yang lebih tajam dan lebih sederhana tentang hasil

pengamatan.

c) Penyajian Data

Data yang direduksi, diklasifikasikan berdasarkan kelompok-kelompok

masalah yang diteliti, sehingga memungkinkan adanya penarikan kesimpulan

atau verivikasi. Data yang disusun secara sistematis dikelompokkan

berdasarkan permasalahannya, sehingga peneliti dapat mengambil kesimpulan

terhadap peningkatan keprofesionalan guru dalam pembelajaran Pendidikan

Agama Islam di SMK Muhammadiyah 1 Metro.

d) Triangulasi

Triangulasi yaitu mengecek data tentang keabsahannya dengan memanfaatkan

berbagai sumber di luar data sebagai perbandingan.

Triangulasi dalam penelitian ini peneliti gunakan untuk: (1) membandingkan

pengamatan peningkatan keprofesionalan guru dalam pembelajaran dengan

hasil wawancara, kemudian membandingkan dengan dokumen-dokumen yang

ada pada sekolah, (2) mendiskusikan data yang teleh terkumpul dengan pihak-

pihak yang memiliki pengetahuan dan keahlian yang relevan, khususnya

dengan dosen pembimbing.


18
e) Mengambil kesimpulan

Peneliti pada tahap ini menarik kesimpulan berdasarkan tema untuk

menemukan makana dari data yang dikumpulkan. Kesimpulan ini kemudian

diverivikasi selama penelitian berlangsung hingga mencapai kesimpulan yang

lebih mendalam.

Beberapa komponen analisa tersebut dalam proses dan saling berkaitan,

sehingga menentukan hasil akhir dari penelitian data yang disajikan secara

sistematis berdasarkan tema-tema yang dirumuskan. Jadi, tugas peneliti

berikutnya setelah data terkumpul, yaitu melakukan pelacakan terhadap

transkip-ranskip hasil wawancara, observasi, dan dokumen sehingga dapat

diketahui dan ditelaah mana yang harus ditampilkan dan mana yang tidak perlu

ditampilkan sehingga dapat ditetapkan suatu kesimpulan.

G. Definisi Istilah
Agar pembahasan dalam skripsi ini lebih mengarah dan terfokus pada

permasalahan yang akan dibahas, sekaligus untuk menghindari terjadinya persepsi

lain mengenai istilah-istilah yang ada, maka perlu adanya penjelasan mengenai

definisi istilah . Hal ini sangat diperlukan agar tidak terjadi kesamaan penafsiran

dan terhindar dari kesalahan pengertian pada pokok pembahasan ini.

Definisi istilah yang berkaitan dengan judul dalan penulisan skiripsi ini

adalah sebagai berikut:

Profesionalitas :Pekerjaan yang dipersiapkan melalui proses

pendidikan dan pelatihan.


19
Guru :Orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya,

profesinya) mengajar dan mendidik.

Pembelajaran :Proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan

sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Pendidikan Agama Islam :”Suatu usaha untuk membina dan mengasuh

peserta didik agar senantiasa dapat memahami

ajaran Islam secara menyeluruh lalu menghayati

tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan

serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.”

H. Sistematika Pembahasan

Laporan ini pembahasannya akan dibagi menjadi lima bab dimana masing-

masing bab berisi sebagai berikut:

BAB I Pendahuan

Dalam bab pendahuluan diterangkan mengenai latar belakang masalah,

rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian

dan sistematika pembahasan.

BAB II Kajian Teori

Dalam bab ini dikemukakan tentang pengertian profesi guru, syarat-syarat

profesi guru, kode etik guru, undang-undang tentang guru, pengertian

pembelajaran Pendidikan Agama Islam, hambatan-hambatan keprofesionalan guru

dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.


20
Dan upaya-upaya keprofesionalan guru dalam pembelajaran Pendidikan Agama

Islam kelas X semester ganjil.

BAB III Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Dalam bab ini dikemukakan tentang lokasi sekolah, kondisi sekolah, dan

sejarah sekolah dan data-data lain tentang sekolah yang berkaitan dengan

penelitian.

BAB IV Hasil Penelitian

Dalam bab ini dikemukakan tentang keprofesionalan guru dalam

pembelajaran Pendidikan Agama Islam, hambatan-hamabatan yang dihadapi

dalam meningkatkan keprofesionalan guru dalam pembelajaran Pendidikan

Agama Islam, dan upaya-upaya yang dilakukan oleh SMK Muhammadiyah 1

Metro dalam peningkatan keprofesionalan guru dalam pembelajaran Pendidikan

Agama Islam kelas X semester ganjil.

BAB V Penutup

Dalam bab penutup berisi tentang kasimpulan dari hasil tulisan dan saran.

Daftar Pustaka

Lampiran
21

Common questions

Didukung oleh AI

Teacher professionalism is considered vital for achieving educational goals because it enhances a teacher's ability to effectively plan, execute, and motivate students, thereby optimizing learning outcomes. This professionalism aligns with the national education system's goal of developing competent and responsible citizens as stipulated in Indonesian legislation .

According to the research, teachers face challenges such as a tendency to stick with traditional teaching methods they believe are effective, prioritizing minimal student performance targets over comprehensive learning, and inadequacies in resources like textbooks. Additionally, there is a lack of focus on developing students' logical, critical, and creative thinking skills .

The key components involved in determining the success of education are the teacher, the material, and the students. Among these, the teacher is considered the most dominant factor in the learning process as they are responsible for planning, executing, and providing feedback to motivate students .

The document highlights that teacher certification is crucial for improving educational quality as it is an acknowledgment of a teacher's competence and professionalism. Certification programs aim to ensure that teachers possess the necessary qualifications and skills to meet educational standards and objectives .

The document describes using qualitative research to assess teacher professional development programs by focusing on descriptive data, including interviews and observations that provide insights into teachers' experiences and the impacts of these programs. This approach helps identify challenges and successes in professionalization efforts, emphasizing the process over the outcomes .

Data triangulation plays a critical role in ensuring the reliability and validity of research findings on teacher professionalism. It involves cross-verifying data collected from different sources or through various means, such as interviews, documentation, and observations, to confirm the consistency of the findings and eliminate biases .

The document indicates that SMK Muhammadiyah 1 Metro is attempting to improve teacher professionalism by promoting certification and requiring teachers to enhance their ICT skills. Professional development is also motivated by the need to support family income, leading teachers to work multiple roles .

Teachers face challenges such as lacking motivation when it comes to improving their teaching skills and dedicating time and effort to student engagement. This lack of motivation can lead to insufficient attention paid to students and limited time allocated for enhancing teaching quality, hindering professional growth .

The main barriers to teacher professionalism identified in the document for teachers in SMK Muhammadiyah 1 Metro include inadequate mastery of ICT, the necessity for private teachers to work multiple jobs to support their income, and the issue of teachers not having enough time to focus solely on professional development due to their workloads .

The document proposes that teachers should be able to identify individual differences among students, such as strengths, weaknesses, and interests. By understanding these unique characteristics, teachers can tailor their instructional methods to suit different learning needs and enhance the classroom learning experience .

Anda mungkin juga menyukai