0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan15 halaman

Program K3 UPTD Labkesda Soppeng

Diunggah oleh

fatmawati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan15 halaman

Program K3 UPTD Labkesda Soppeng

Diunggah oleh

fatmawati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

PROGRAM KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

UPTD LABORATORIUM KESEHATAN DAERAH KABUPATEN SOPPENG

A. PENDAHULUAN

Kesehatan dan Keselamatan Kerja yakni ialah kondisi dan

faktor yang mempengaruhi keselamatan dan kesehatan pekerja serta

orang-orang yang berada di tempat kerja tersebut.

Menurut Kepmenaker nomor 463/MEN/1993, kesehatan dan

keselamatan Kerja yakni upaya perlindungan yang ditujukan agar

pekerja dan orang lainnya yang berada di ditempat kerja/perusahaan

atau di suatu instansi selalu dalam keadaan selamat dan sehat, selain

itu juga agar setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman

dan efisien.

Beberapa aspek Keselamatan Kesehatan Kerja yang perlu

diperhatikan antara lain : a. Lingkungan kerja yaitu adalah tempat

dimana seseorang atau karyawan dalam beraktifitas bekerja. Adapun

lingkungan kerja ini menyangkut kondisi kerja, seperti ventilasi, suhu,

penerangan dan situasi kerja, b. Alat kerja & bahan yakni peralatan

dan bahan yang harus digunakan oleh para pekerja dalam melakukan

kegiatan, Cara melakukan pekerjaan seperti menggunakan peralatan

yang telah tersedia dan pelindung diri dan mematuhi peraturan-

peraturan penggunaan peralatan tersebut dan memahami cara

mengoperasionalkan mesin.

Berikut ini merupakan beberapa faktor yang dapat

mempengaruhi Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( K3 ) ialah :

pertama beban kerja, yakni maksudnya berupa beban fisik, mental dan

sosial sehingga upaya penempatan pekerja yang sesuai dengan

kemampuannya harus diperhatikan, kedua kapasitas kerja yakni ialah

Program Pendidikan dan Pelatihan UPTD Labkesda Kabupaten Soppeng


2

hal yang banyak tergantung pada pendidikan keterampilan, kesegaran

jasmani, bentuk tubuh, keadaan gizi dan lainnya, ketiga lingkungan

kerja yang berupa faktor fisik, biologik, ergonomik, psikososial dan

kimia.

Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) laboratorium merupakan

bagian dari pengelolaan laboratorium secara keseluruhan.

Laboratorium melakukan berbagai tindakan dan kegiatan terutama

berhubungan dengan spesimen yang berasal dari manusia maupun

bukan manusia. Bagi petugas laboratorium yang selalu kontak dengan

spesimen, maka berpotensi terinfeksi kuman patogen. Potensi infeksi

juga dapat terjadi dari petugas ke petugas lainnya, atau keluarganya

dan ke masyarakat. Untuk mengurangi bahaya yang terjadi, perlu

adanya kebijakan yang ketat. Petugas harus memahami keamanan

laboratorium dan tingkatannya, mempunyai sikap dan kemampuan

untuk melakukan pengamanan sehubungan dengan pekerjaannya

sesuai SOP, serta mengontrol bahan/spesimen secara baik menurut

praktik laboratorium yang benar.

Untuk meningkatkan menjamin kesehatan dan keselamatan

kerja di UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda)

Kabupaten Soppeng dibutuhkan program yang dapat mengatur dan

mengelola kesehatan dan keselamatan kerja pegawai UPTD

Labkesda dalam melakukan kegiatan pelayanan laboratorium

kesehatan .

Berdasarkan hal tersebut perlu disusun suatu program

Kesehatan dan keselamatan kerja yang dapat dijadikan acuan dalam

melaksanakan kegiatan pelayanan agar kecelakaan kerja dapat

teratasi dengan baik.

Program Pendidikan dan Pelatihan UPTD Labkesda Kabupaten Soppeng


3

Program Kesehatan dan keselamatan kerja ini diharapkan

menambah pengetahuan dan kesiapan petugas apabila terjadi

kecelakaan kerja dalam melaksanakan kegiatan pelayanan di UPTD

Labkesda Kabupaten Soppeng.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Mencegah terjadinya kecelakaan dan sakit akibat kerja, dan

juga memberikan perlindungan pada peralatan laboratorium

sehingga bisa meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.

2. Tujuan Khusus

a. Melindungi petugas atas hak dan keselamatannya dalam

melakukan pekerjaannya untuk kesejahteraaan dan

meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.

b. Menjamin keselamatan orang-orang yang bekerja dan berada di

UPTD Labkesda.

c. Agar peralatan laboratorium dipelihara serta dipergunakan

secara aman & efisien.

C. SASARAN

Sasaran kegiatan dalam program Kesehatan dan keselamatan

kerja ini adalah :

1. Pegawai/petugas laboratorium

2. Pasien/pelanggan

3. Orang yang berada di laboratorium

D. KEGIATAN

1. Petugas/Tim K3 Laboratorium Pengamanan kerja di laboratorium.

Petugas/Tim K3 Pengamanan kerja di laboratorium pada

dasarnya menjadi tanggung jawab setiap petugas terutama yang

berhubungan langsung dengan proses pengambilan spescimen,

Program Pendidikan dan Pelatihan UPTD Labkesda Kabupaten Soppeng


4

bahan, reagen pemeriksaan. Untuk mengkoordinasikan,

menginformasikan, memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan

keamanan laboratorium, terutama untuk laboratorium yang

melakukan berbagai jenis pelayanan dan kegiatan pada satu

sarana, diperlukan suatu Tim fungsional keamanan laboratorium.

Kepala UPTD Labkesda merupakan penanggung jawab tertinggi

dalam pelaksanaan K3 laboratorium yang dalam pelaksanaannya

menunjuk seorang petugas atau membentuk tim K3 laboratorium.

Petugas atau tim K3 laboratorium mempunyai kewajiban

merencanakan dan memantau pelaksanaan K3 yang telah

dilakukan oleh setiap petugas laboratorium, mencakup :

a. Melakukan pemeriksaan dan pengarahan secara berkala

terhadap metode/prosedur dan pelaksanaannya, bahan habis

pakai dan peralatan kerja, termasuk untuk kegiatan penelitian.

b. Memastikan semua petugas laboratorium memahami dan

dapat menghindari bahaya infeksi.

c. Melakukan penyelidikan semua kecelakaan di dalam

laboratorium yang memungkinkan terjadinya

pelepasan/kebocoran/penyebaran bahan infektif.

d. Melakukan pengawasan dan memastikan semua tindakan

dekontaminasi yang telah dilakukan jika ada

tumpahan/percikan bahan infektif.

e. Memastikan bahwa tindakan desinfeksi telah dilakukan

terhadap peralatan laboratorium yang akan diservis atau

diperbaiki.

f. Menyediakan kepustakaan/rujukan K3 yang sesuai dan

informasi untuk petugas laboratorium tentang perubahan

Program Pendidikan dan Pelatihan UPTD Labkesda Kabupaten Soppeng


5

prosedur, metode, petunjuk teknis dan pengenalan pada alat

yang baru.

g. Menyusun jadwal kegiatan pemeliharaan kesehatan bagi

petugas laboratorium.

h. Memantau petugas laboratorium yang sakit atau absen yang

mungkin berhubungan dengan pekerjaan di laboratorium

dan melaporkannya pada pimpinan laboratorium.

i. Memastikan bahwa bahan bekas pakai dan limbah infektif

dibuang secara aman setelah melalui proses dekontaminasi

sebelumnya.

j. Mengembangkan sistem pencatatan, yaitu tanda terima,

pencatatan perjalanan dan pembuangan bahan patogenik

serta mengembangkan prosedur untuk pemberitahuan kepada

petugas laboratorium tentang adanya bahan infektif yang baru

di dalam laboratorium.

k. Memberitahu kepala labkesda mengenai adanya

mikroorganisme yang harus dilaporkan kepada pejabat

kesehatan setempat.

l. Membuat sistem panggil untuk keadaan darurat yang timbul

di luar jam kerja.

m. Membuat rencana dan melaksanakan pelatihan K3

laboratorium bagi seluruh petugas laboratorium.

n. Mencatat secara rinci setiap kecelakaan kerja yang terjadi di

laboratorium dan melaporkannya kepada kepala labkesda,

membuat pokok-pokok K3 laboratorium yang penting dan

ditempatkan di lokasi yang mudah dibaca oleh setiap petugas

laboratorium.

Program Pendidikan dan Pelatihan UPTD Labkesda Kabupaten Soppeng


6

2. Kesehatan Petugas Laboratorium

Pada setiap calon petugas laboratorium harus dilakukan

pemeriksaan kesehatan lengkap termasuk foto toraks. Keadaan

kesehatan petugas laboratorium harus memenuhi standar

kesehatan yang telah ditentukan di laboratorium.

Untuk menjamin kesehatan para petugas laboratorium harus

dilakukan hal-hal sebagai berikut :

a. Pemberian imunisasi Setiap laboratorium harus mempunyai

program imunisasi, terutama bagi petugas yang bekerja di

laboratorium tingkat keamanan biologis 2, 3 dan 4. Vaksinasi

yang diberikan: - Vaksinasi Hepatitis B untuk semua petugas

laboratorium. - Vaksinasi Rubella untuk petugas wanita usia

reproduksi. Pada wanita hamil dilarang bekerja dengan TORCH

(Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes virus).

b. Perlindungan terhadap sinar Ultra Violet Petugas laboratorium

yang bekerja dengan sinar ultra violet harus menggunakan

pakaian pelindung khusus dan alat pelindung mata.

c. Pemantauan kesehatan Kesehatan setiap petugas laboratorium

harus selalu dipantau, untuk itu setiap petugas harus

mempunyai kartu kesehatan yang selalu dibawa setiap saat dan

diperlihatkan kepada dokter bila petugas tersebut sakit. Minimal

setiap tahun dilaksanakan pemeriksaan kesehatan rutin

termasuk pemeriksaan laboratorium. Bila petugas laboratorium

sakit lebih dari 3 hari tanpa keterangan yang jelas tentang

penyakitnya, maka petugas yang bertanggung jawab terhadap

K3 laboratorium harus melapor pada kepala labkesda tentang

kemungkinan terjadinya pajanan yang diperoleh dari

laboratorium dan menyelidikinya.

Program Pendidikan dan Pelatihan UPTD Labkesda Kabupaten Soppeng


7

3. Sarana dan prasarana K3 laboratorium

Untuk UPTD Labkesda yang perlu disiapkan di laboratorium

adalah :

a. Jas laboratorium sesuai standar.

b. Sarung tangan.

c. Masker.

d. Alas kaki/sepatu tertutup.

e. Wastafel yang dilengkapi dengan sabun (skin disinfectant) dan

air mengalir.

g. Pipetting aid, rubber bulb.

h. Kontainer khusus untuk insenerasi jarum, lanset.

i. Pemancur air (emergency shower)

j. Kabinet keamanan biologis kelas II

k. Kacamata goggle,

l. Tutup kepala plastik.

4. Pengamanan pada keadaan darurat

a. Sistem tanda bahaya.

b. Sistem evakuasi.

c. Perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).

d. Alat komunikasi darurat baik di dalam atau ke luar laboratorium

e. Sistem informasi darurat.

f. Pelatihan khusus berkala tentang penanganan keadaan darurat.

g. Alat pemadam kebakaran, masker, pasir dan sumber air terletak

pada lokasi yang mudah dicapai.

h. Alat seperti kampak, palu, obeng, tangga dan tali.

i. Nomor telepon ambulan, pemadam kebakaran dan polisi di

setiap ruang laboratorium.

Program Pendidikan dan Pelatihan UPTD Labkesda Kabupaten Soppeng


8

5. Memperhatikan tindakan pencegahan terhadap hal-hal sebagai

berikut :

a. Mencegah penyebaran bahan infeksi, misalnya :

1) Menggunakan peralatan standar. Misal lingkaran sengkelit

ose harus jenuh dan panjang tangkai maksimum 6 cm.

2) Menempatkan sisa spesimen dan media biakan yang akan

disterilisasi dalam wadah yang tahan bocor.

4) Melakukan dekontaminasi permukaan meja kerja dengan

disinfektan yang sesuai setiap kali habis bekerja.

b. Mencegah bahan infeksi tertelan atau terkena kulit serta mata

Selama bekerja, partikel dan droplet (diameter > 5 µm) akan

terlepas ke udara dan menempel pada permukaan meja serta

tangan petugas laboratorium, untuk itu dianjurkan untuk

mengikuti hal-hal di bawah ini :

1) Mencuci tangan dengan sabun/disinfektan sebelum dan

sesudah bekerja. Jangan menyentuh mulut dan mata

selama bekerja

2) Tidak makan, minum, merokok, mengunyah permen atau

menyimpan makanan/ minuman dalam laboratorium

3) Tidak memakai kosmetik ketika berada dalam laboratorium

4) Menggunakan alat pelindung mata/muka jika terdapat risiko

percikan bahan infeksi saat bekerja

c. Mencegah infeksi melalui tusukan Jarum suntik, pipet Pasteur

kaca dan pecahan kaca obyek dapat menyebabkan luka tusuk.

Untuk itu dapat dihindari dengan bekerja dengan hati-hati dan

memilih pipet pasteur yang terbuat dari plastik.

Program Pendidikan dan Pelatihan UPTD Labkesda Kabupaten Soppeng


9

d. Menggunakan pipet dan alat bantu pipet

1) Tidak memipet dengan mulut, tetapi gunakan alat bantu

pipet

2) Tidak meniupkan udara maupun mencampur bahan

terinfeksi dengan cara menghisap dan meniup cairan lewat

pipet

3) Tidak keluarkan cairan dari dalam pipet secara paksa

4) Disinfeksi segera meja kerja yang terkena tetesan

cairan/bahan infeksi dari pipet dengan kapas yang dibasahi

disinfektan. Kapas di otoklaf setelah selesai digunakan.

5) Gunakan pipet ukur karena cairan tidak perlu dikeluarkan

sampai tetes terakhir

6) Rendam pipet habis pakai dalam wadah berisi disinfektan.

Biarkan selama 18-24 jam sebelum disterilisasi

7) Tidak menggunakan semprit dengan atau tanpa jarum suntik

untuk memipet.

e. Menggunakan sentrifus/alat pemusing

1) Lakukan sentrifugasi sesuai instruksi pabrik.

2) Sentrifus harus diletakkan pada ketinggian tertentu

sehingga petugas laboratorium dapat melihat ke dalam

alat dan menempatkan tabung sentrifus dengan mudah.

3) Periksa rotor sentrifus dan selonsong (bucket) sebelum

dipakai atau secara berkala untuk melihat tanda korosi dan

keretakan.

4) Selongsong berisi tabung sentrifus harus seimbang

5) Gunakan air untuk menyeimbangkan selongsong. Jangan

gunakan larutan NaCI atau hipoklorit karena bersifat korosif.

Program Pendidikan dan Pelatihan UPTD Labkesda Kabupaten Soppeng


10

6) Setelah dipakai, simpan selongsong dalam posisi

terbalik agar cairan penyeimbang dapat mengalir keluar.

7) Melakukan sentrifugasi dengan cara yang benar yaitu

tabung harus tertutup rapat dan selongsong yang terkunci,

untuk melindungi petugas laboratorium terhadap aerosol

dan sebaran partikel dari mikroorganisme.

8) Pastikan sentrifuse tertutup selama dijalankan.

f. Menggunakan alat homogenisasi, alat pengguncang dan alat

sonikasi

1) Tidak menggunakan alat homogenisasi yang dipakai dalam

rumah tangga, karena dapat bocor dan menimbulkan

aerosol. Gunakan blender khusus untuk laboratorium

2) Mangkuk, botol dan tutupnya harus dalam keadaan baik

dan tidak cacat. Tutup botol harus pas.

3) Aerosol yang mengandung bahan infeksi dapat keluar dari

celah antara tutup dan tabung alat homogenisasi, alat

pengguncang (shaker) dan alat sonikasi. Dapat dicegah

dengan menggunakan tabung yang terbuat dari

politetrafluoretilen (PTFE), karena tabung dari gelas dapat

pecah.

4) Gunakan alat pelindung telinga saat melakukan sonikasi.

g. Menggunakan lemari pendingin dan lemari pembeku

1) Membersihkan lemari pendingin (refrigerator), lemari

pembeku (freezer) dan tabung es kering (dry-Ice),

melakukan defrost secara teratur

2) Membuang ampul, tabung, botol dan wadah lain yang

pecah. Menggunakan alat pelindung muka dan sarung

tangan karet tebal saat bekerja. Setelah dibersihkan,

Program Pendidikan dan Pelatihan UPTD Labkesda Kabupaten Soppeng


11

permukaan dalam lemari pendingin dan lemari pembeku

harus didisinfeksi dengan disinfektan yang tidak korosif

3) Memberi label wadah yang berisi nama bahan, tanggal

disimpan dan nama orang yang menyimpan. Wadah yang

tidak berlabel dan bahan yang sudah kadaluwarsa harus

dimusnahkan.

4) Tidak menyimpan cairan yang mudah terbakar.

h. Membuka ampul berisi bahan infeksi yang diliofilisasi Ampul

berisi bahan infeksi yang disimpan dalam bentuk liofilisat harus

dibuka dengan hati-hati. Bahan di dalam ampul berada dalam

tekanan yang rendah, sehingga bila ampul dibuka dengan

tiba-tiba, maka sebagian isinya dapat menyebar ke udara.

Ampul harus selalu dibuka dalam kabinet keamanan biologis.

Dianjurkan untuk mengikuti petunjuk di bawah ini saat

membuka ampul :

1) Dekontaminasi permukaan luar ampul.

2) Beri tanda pada bagian ampul dekat sumbat kapas atau

selulose.

3) Pegang ampul dalam keadaaan terbungkus kapas.

4) Lepaskan bagian atas ampul dengan perlahan dan

perlakukan sebagai bahan yang terkontaminasi.

5) Jika sumbat masih ada di atas bahan, lepaskan dengan

forsep steril.

6) Tambahkan cairan perlahan-lahan untuk melarutkan

kembali bahan dalam ampul dan mencegah timbulnya

busa/gelembung cairan.

Program Pendidikan dan Pelatihan UPTD Labkesda Kabupaten Soppeng


12

6. Disinfeksi, Sterilisasi dan Dekontaminasi Disinfeksi cara kimia

a. Natrium hipoklorit

1) Bersifat oksidatif kuat, korosif dan aktif terhadap semua

mikro organisme.

2) Konsentrasi larutan natrium hipoklorit yang digunakan untuk

keperluan laboratorium adalah 5,25 %, yang mengandung

50 g/l (50.000 ppm) zat klor aktif.

3) Konsentrasi desinfeksi adalah 1 g/l (1000 ppm) zat klor aktif.

Konsentrasi 10 g/l (10.000 ppm) zat klor aktif digunakan bila

ada tumpahan darah atau bahan biologis yang banyak.

Kekuatan di dalam larutan makin lama makin menurun,

untuk itu perlu dibuat larutan baru setiap minggu.

4) Tablet atau butiran kalsium hipoklorit (kaporit) mengandung

70 % zat klor aktif. Larutan kalsium hipoklorit dengan

konsentrasi 0,7-1,4 dan 7 g/l masing-masing akan

mengandung 500-1000 dan 5000 ppm zat klor aktif.

7. Sterilisasi

a. Sterilisasi Cara Fisik

1) Sterilisasi basah

a) Cara ini dipakai untuk mensterilkan bahan-bahan yang

mengandung cairan atau perbenihan-perbenihan yang

tidak tahan panas sampai 100°C;

b) Dilakukan dengan uap panas pada tekanan tertentu

misalnya pada otoklaf, atau dengan cara mendidihkan.

Sterilisasi dengan otoklaf paling efesien karena suhu

yang dicapai melebihi titik didih air yaitu 121°C dan

lama sterilisasi pada umumnya 20 menit. Lama

sterilisasi dihitung mulai dari saat suhu mencapai

Program Pendidikan dan Pelatihan UPTD Labkesda Kabupaten Soppeng


13

121°C. Untuk bahan seperti kain kasa dan kapas, lama

sterilisasi 30 menit;

c) Jika dididihkan dengan air, lama sterilisasi adalah 15

menit (setelah air mendidih). Jika di kukus (dengan uap

air), lama sterilisasi adalah 30 menit. Kedua cara ini

tidak dapat membunuh spora;

d) Sterilisasi cairan atau setengah padat yang mudah rusak

oleh panas, dapat dilakukan dengan cara Tyndalisasi

yaitu pemanasan basah pada suhu 80°C selama 30

menit yang dilakukan semala 3 hari berturut-turut; e)

Untuk mengawasi kualitas sterilisasi basah digunakan

spora tahan panas misalnya spora Bacillus

stearothermophilus.

b. Sterilisasi kering

1) Cara ini dipakai untuk mensterilkan alat-alat gelas seperti

erlenmeyer, petridish, tabung reaksi, labu takar, gelas takar

dan lain-lain.

2) Dilakukan di dalam oven.

3) Membutuhkan suhu yang lebih tinggi yaitu umumnya

antara 150-170°C dan waktu yang lebih lama daripada

otoklaf.

4) Digunakan terbatas untuk alat gelas dan bahan minyak, gel

atau bubuk yang rusak dengan uap.

5) Untuk mematikan spora dibutuhkan waktu 2 jam pada suhu

180°C. Pada keadaan darurat dan saat bekerja dengan

mikroorganisme kelompok risiko empat, digunakan

konsentrasi 4-5 g/l (4000-5000 ppm) zat klor aktif.

Program Pendidikan dan Pelatihan UPTD Labkesda Kabupaten Soppeng


14

E. ANGGARAN

Anggaran yang dibutuhkan dalam program keselamatan dan

kesehatan kerja ini dari anggaran Dana Alokaso Umum (DAU)

Kabupaten Soppeng.

F. EVALUASI

Evaluasi program kegiatan ini dilakukan dengan menilai bahwa

apakah program ini dipahami oleg semua petugas, dapat dilaksanakan

upaya-upaya pencegahannya dan kemampuan petugas

mengendalikan situasi dan menangangani pada saaat terjadi kejadian

kecelakaan kerja.

Program Pendidikan dan Pelatihan UPTD Labkesda Kabupaten Soppeng


15

Lampiran

CEKLIST EVALUASI PROGRAM

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

NO. URAIAN YA TIDAK KETERANGAN

1. Semua petugas memahami


program keselamatan dan
kesehatan kerja.
2.
Petugas mengetahui dan mampu
melakukan penyelamatan bila
terjadi kecelakaan kerja.

3. Peralatan K3 ada dan lengkap,


(Kotak P3K, Spill Kit, Eye Shower,
Emergency Shower)

4. Petugas telah dilatih BHD

Catatan :

…………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………………………

Watansoppeng, 1 Agustus 2023

Kepala UPTD Labkesda,

Sariana Saad, SKM, M.M


Nip. 19691222 199203 2 008

Program Pendidikan dan Pelatihan UPTD Labkesda Kabupaten Soppeng

Anda mungkin juga menyukai