Langkah-Langkah Problem Solving Industri
Langkah-Langkah Problem Solving Industri
Problem solving dalam industri merujuk pada proses identifikasi, analisis, dan pemecahan masalah
yang terjadi di dalam lingkungan industri, dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas,
serta mengurangi biaya atau risiko. Proses ini sangat penting karena dalam industri, masalah bisa
terjadi di berbagai aspek, mulai dari produksi, kualitas produk, hingga manajemen operasional.
Berikut adalah langkah-langkah dalam problem solving yang umum diterapkan dalam konteks
industri:
1. Identifikasi Masalah
Langkah pertama adalah mengenali adanya masalah atau ketidaksesuaian yang terjadi dalam proses
atau sistem. Hal ini bisa terkait dengan kualitas produk, kecepatan produksi, biaya yang terlalu tinggi,
kecelakaan kerja, atau masalah lainnya yang mempengaruhi kinerja industri.
Setelah masalah diidentifikasi, data yang relevan dikumpulkan untuk menganalisis akar penyebabnya.
Pengumpulan data bisa melibatkan observasi langsung, wawancara dengan staf, atau analisis laporan
dan dokumen. Penggunaan alat seperti diagram sebab-akibat (fishbone diagram) atau analisis Pareto
sering digunakan untuk mengidentifikasi faktor penyebab utama.
Menggunakan data yang telah dikumpulkan, langkah berikutnya adalah menentukan penyebab
utama dari masalah yang ada. Teknik seperti "5 Whys" (menanyakan "Mengapa?" secara berulang)
atau Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dapat digunakan untuk menggali lebih dalam ke akar
masalah. Ini penting untuk memastikan bahwa solusi yang diterapkan akan efektif dan tidak hanya
menyelesaikan gejalanya.
4. Pengembangan Solusi
Setelah penyebab utama ditemukan, langkah selanjutnya adalah mengembangkan solusi untuk
mengatasi masalah tersebut. Solusi dapat berupa perubahan dalam proses, penggunaan teknologi
baru, peningkatan keterampilan karyawan, atau modifikasi dalam alur kerja. Penting untuk
melibatkan tim lintas fungsi (seperti teknisi, operator, dan manajer) dalam proses ini untuk
menghasilkan solusi yang lebih komprehensif.
5. Implementasi Solusi
Setelah solusi disepakati, implementasi dapat dimulai. Ini mungkin melibatkan perubahan prosedur
operasional standar (SOP), pelatihan karyawan, pembelian peralatan baru, atau perubahan lainnya
dalam sistem. Pada tahap ini, pengawasan yang ketat diperlukan untuk memastikan bahwa solusi
diterapkan dengan benar dan tidak menimbulkan masalah baru.\
6. Evaluasi dan Pemantauan
Setelah solusi diterapkan, tahap selanjutnya adalah evaluasi untuk memeriksa apakah masalah
tersebut benar-benar teratasi. Pemantauan terus-menerus diperlukan untuk memastikan bahwa
perbaikan yang diterapkan efektif dalam jangka panjang. Ini bisa melibatkan pengukuran kinerja,
audit kualitas, atau feedback dari karyawan.
Jika solusi berhasil, langkah terakhir adalah standarisasi proses baru tersebut dan memastikan bahwa
perbaikan ini menjadi bagian dari budaya perusahaan. Konsep continuous improvement (perbaikan
berkelanjutan), seperti yang diterapkan dalam metodologi Lean atau Six Sigma, sangat penting untuk
mencegah masalah serupa muncul di masa depan dan untuk meningkatkan sistem secara terus-
menerus.
Berikut adalah beberapa metode problem solving yang umum digunakan dalam berbagai bidang,
termasuk industri:
Metode ini adalah siklus manajemen yang digunakan untuk perbaikan berkelanjutan. PDCA
dirancang untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi dengan cara yang sistematis dan terstruktur.
Plan (Rencanakan): Pada tahap ini, masalah diidentifikasi, tujuan ditentukan, dan rencana
untuk mencapai tujuan tersebut dibuat. Ini termasuk merencanakan langkah-langkah yang
diperlukan untuk mengatasi masalah.
Do (Lakukan): Implementasi dari rencana yang telah dibuat dilakukan pada skala kecil
terlebih dahulu. Di sini, solusi diuji untuk mengetahui apakah langkah-langkah tersebut
bekerja sesuai harapan.
Check (Periksa): Setelah solusi diimplementasikan, tahap ini melibatkan pengukuran dan
analisis hasil. Apakah solusi yang diterapkan efektif? Apakah ada masalah yang belum
teratasi?
Act (Tindak lanjuti): Berdasarkan hasil evaluasi, langkah-langkah lebih lanjut diambil. Jika
solusi bekerja dengan baik, prosedur yang diperbarui distandarisasi dan diterapkan secara
lebih luas. Jika tidak, maka perubahan atau perbaikan lebih lanjut dilakukan.
Metode ini lebih khusus diterapkan dalam Six Sigma, sebuah metodologi yang digunakan untuk
mengurangi variabilitas dan meningkatkan kualitas.
Define (Tentukan): Tentukan masalah atau tantangan yang ingin diselesaikan. Pada tahap ini,
tim harus memahami tujuan dari proyek dan apa yang ingin dicapai.
Measure (Ukur): Mengumpulkan data untuk memetakan proses yang ada dan untuk
mengukur performa saat ini. Ini membantu tim memahami seberapa besar masalahnya dan
di mana perbaikan diperlukan.
Analyze (Analisis): Menganalisis data untuk menemukan akar penyebab dari masalah. Di sini,
alat analisis seperti diagram sebab-akibat (fishbone diagram), histogram, atau analisis Pareto
digunakan untuk menggali penyebab utama.
Improve (Perbaiki): Mengembangkan solusi untuk mengatasi akar penyebab yang telah
ditemukan. Solusi ini kemudian diuji dan diimplementasikan pada proses.
Control (Kontrol): Setelah solusi diterapkan, kontrol dilakukan untuk memastikan bahwa
perubahan tersebut efektif dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Pengawasan dan
pemantauan terus dilakukan untuk menjaga hasil perbaikan.
3. Metode 5 Whys
Metode ini adalah teknik sederhana namun efektif untuk menggali akar penyebab dari suatu
masalah dengan bertanya "Mengapa?" secara berulang.
Dimulai dengan pertanyaan pertama: "Mengapa masalah ini terjadi?". Setiap jawaban yang
diberikan menjadi dasar untuk pertanyaan selanjutnya, yaitu, "Mengapa hal itu terjadi?".
Proses ini terus berlanjut hingga mencapai akar penyebab yang sebenarnya (biasanya setelah
lima kali pertanyaan). Teknik ini sangat berguna untuk masalah yang sifatnya kompleks atau
tidak langsung terlihat penyebabnya.
Root Cause Analysis adalah pendekatan sistematis untuk menggali dan menganalisis penyebab
utama dari suatu masalah, bukan hanya gejalanya. Teknik ini melibatkan beberapa metode yang lebih
spesifik, seperti diagram sebab-akibat atau analisis FMEA.
FMEA (Failure Mode and Effects Analysis): Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi
potensi kegagalan dalam suatu proses atau produk, menganalisis dampaknya, dan
mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko tersebut.
Metode ini dikembangkan oleh Edward de Bono dan digunakan untuk membantu individu atau
kelompok melihat suatu masalah dari berbagai perspektif. Dalam metode ini, ada enam topi berpikir
yang masing-masing mewakili cara berpikir yang berbeda:
Topi Hitam: Berpikir kritis dan mempertimbangkan potensi masalah atau risiko.
Topi Kuning: Berpikir positif dan optimis, mencari manfaat dan keuntungan dari solusi.
Topi Biru: Mengelola proses berpikir dan memastikan bahwa diskusi tetap terfokus.
Metode ini sangat berguna dalam brainstorming untuk menemukan solusi kreatif dan menghindari
bias dalam pengambilan keputusan.
6. Brainstorming
Brainstorming adalah teknik problem solving yang digunakan untuk menghasilkan ide-ide sebanyak
mungkin dalam waktu singkat. Proses ini melibatkan diskusi kelompok yang bebas untuk menemukan
solusi inovatif tanpa menghakimi ide-ide yang muncul.
Selama sesi brainstorming, semua ide diterima, tidak ada yang dianggap "gila" atau tidak
berguna. Setelah itu, ide-ide tersebut disaring dan dianalisis untuk menemukan solusi
terbaik.
7. A3 Problem Solving
A3 Problem Solving adalah metode yang digunakan dalam manajemen Lean untuk
mendokumentasikan dan memecahkan masalah secara sistematis dalam format yang ringkas dan
mudah dipahami (berkisar pada selembar kertas A3). Metode ini melibatkan lima langkah utama:
Definisi masalah
Analisis penyebab
Pengembangan solusi
Implementasi solusi
Metode A3 sangat populer dalam lingkungan manufaktur dan industri karena membantu
mengkomunikasikan masalah secara jelas dan sistematis.
Secara umum, metode yang paling efektif bergantung pada jenis masalah dan konteks industri Anda.
Namun, jika kita harus memilih yang paling fleksibel dan dapat diterapkan dalam berbagai situasi,
PDCA dan DMAIC adalah dua metode yang sering dianggap sangat efektif di banyak industri.
PDCA adalah pilihan yang sangat baik untuk perbaikan berkelanjutan dan masalah yang lebih
sistematis di berbagai sektor.
DMAIC lebih cocok untuk industri yang sangat fokus pada kualitas dan membutuhkan
perbaikan yang berbasis data serta terstruktur.
Jika Anda menghadapi masalah yang lebih sederhana dan membutuhkan solusi cepat, 5 Whys atau
Brainstorming bisa menjadi metode yang lebih efisien.
CONTOH PENERAPAN METODE PROBLEM SOLVING
[Link]
Metode PDCA (Plan-Do-Check-Act) dapat diterapkan pada mesin untuk meningkatkan kinerja dan
efisiensinya. Berikut contoh ringkas penerapannya:
1. Plan (Perencanaan): Identifikasi masalah atau area yang perlu perbaikan pada mesin, seperti
mengurangi downtime atau meningkatkan kecepatan produksi. Rencanakan langkah-langkah
perbaikan, seperti penggantian komponen tertentu atau pemrograman ulang mesin.
3. Check (Pemeriksaan): Monitor hasil setelah penerapan perubahan. Periksa apakah ada
peningkatan dalam kinerja mesin, seperti penurunan waktu henti atau peningkatan produksi.
4. Act (Tindakan): Jika hasilnya positif, standardisasi perubahan tersebut dan terapkan di
seluruh mesin serupa. Jika belum berhasil, identifikasi masalah lebih lanjut dan ulangi siklus
PDCA.
2. DMAIC
Metode DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) dapat diterapkan pada mesin untuk
meningkatkan kinerja atau efisiensinya. Berikut contoh ringkas penerapannya:
1. Define (Tentukan masalah): Identifikasi masalah pada mesin, misalnya tingkat kegagalan
komponen yang tinggi atau efisiensi produksi yang rendah.
2. Measure (Ukuran): Kumpulkan data tentang kinerja mesin, seperti waktu henti, jumlah
kegagalan, atau kecepatan produksi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran yang
jelas tentang masalah yang ada.
3. Analyze (Analisis): Analisis data untuk menemukan akar penyebab masalah, misalnya apakah
kerusakan sering terjadi pada komponen tertentu atau apakah ada faktor lain yang
mempengaruhi kinerja mesin.
4. Improve (Perbaikan): Terapkan solusi untuk memperbaiki masalah yang ditemukan, seperti
mengganti komponen yang rusak, mengoptimalkan pengaturan mesin, atau meningkatkan
pelatihan operator.
5. Control (Kontrol): Tetapkan prosedur untuk memonitor kinerja mesin secara berkala,
pastikan perbaikan tetap efektif, dan lakukan tindakan korektif jika diperlukan agar masalah
tidak terulang.
3. 5 whys
Metode 5 Whys digunakan untuk mencari akar penyebab masalah dengan bertanya "mengapa"
secara berulang. Berikut contoh penerapannya pada mesin:
Solusi: Terapkan jadwal pemeliharaan rutin untuk mengganti komponen yang sudah aus agar mesin
tetap beroperasi dengan baik.
[Link]
Metode Root Cause Analysis (RCA) digunakan untuk mengidentifikasi akar penyebab masalah secara
sistematis. Berikut contoh penerapannya pada mesin:
2. Pengumpulan Data: Catat frekuensi downtime, jenis kerusakan, dan komponen yang terlibat.
Lakukan wawancara dengan operator dan periksa catatan pemeliharaan.
3. Analisis Penyebab:
5. Solusi:
6. Tindak Lanjut: Monitor kinerja mesin setelah perbaikan untuk memastikan masalah tidak
terulang.
Dengan RCA, penyebab utama masalah dapat ditemukan dan diatasi, sehingga mencegah masalah
serupa di masa depan.
5. 6 Thinking Hats
Metode 6 Thinking Hats digunakan untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Berikut
contoh penerapannya pada mesin:
Mungkin perlu mengganti motor dengan model yang lebih tahan lama.
3. Solusi:
Dengan 6 Thinking Hats, tim dapat memandang masalah mesin dari berbagai perspektif,
menghasilkan solusi yang lebih holistik dan efektif.
6. Brainstorming
Metode Brainstorming digunakan untuk menghasilkan ide-ide solusi secara kreatif dalam kelompok.
Berikut contoh penerapannya pada mesin:
2. Langkah-langkah Brainstorming:
o Langkah 1: Kumpulkan tim yang terdiri dari operator mesin, teknisi, dan manajer
produksi.
Ganti komponen yang sering rusak dengan yang lebih tahan lama.
3. Solusi:
Dengan Brainstorming, ide-ide kreatif dapat dihasilkan secara bebas dan beragam, lalu disaring
untuk mencari solusi terbaik terhadap masalah mesin.
7. A3 Problem Solving
Metode A3 Problem Solving adalah pendekatan sistematis untuk menyelesaikan masalah, biasanya
dalam format A3 (seukuran kertas), yang memuat analisis dan solusi. Berikut contoh penerapannya
pada mesin:
1. Masalah: Mesin produksi sering mengalami downtime yang berdampak pada target
produksi.
o Current Condition: Analisis kondisi saat ini, seperti "Mesin sering mengalami
kerusakan pada komponen Y yang menyebabkan downtime."
o Goal: Tentukan tujuan yang ingin dicapai, misalnya "Mengurangi downtime mesin
sebesar 50% dalam 3 bulan."
o Root Cause Analysis: Gunakan metode seperti 5 Whys atau diagram fishbone untuk
mengidentifikasi akar penyebab, seperti "Komponen Y aus karena kurangnya
pemeliharaan preventif."
3. Solusi:
Dengan metode A3 Problem Solving, masalah mesin dianalisis secara mendalam dan solusi
diimplementasikan dengan langkah-langkah yang terstruktur untuk mengatasi akar penyebabnya
Root Cause Analysis (RCA) adalah sebuah metode analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi
dan menganalisis akar penyebab suatu permasalahan atau penyebab utama dari suatu problem atau
kejadian yang tidak di inginkan. Metode ini membantu memahami faktor – faktor yang berkontribusi
pada terjadinya masalah, bukan hanya menangani gejala atau efek yang tampak. RCA digunakan
dalam berbagai bidang, seperti industri, teknologi, kesehatan dan bisnis, untuk memahami penyebab
utama masalah secara sistematis dan menghindari masalah atau kejadian serupa di masa depan.
RCA ini tidak hanya membantu perusahaan memecahkan masalah, tetapi juga membantu
mengidentifikasi ancaman dan risiko yang mungkin akan membantu perusahaan mencapai tujuan.
Beberapa manfaat penggunaan RCA ini adalah sebagai berikut:
b. Manajemen resiko
c. Mengidentifikasi, analisis dan mengurangi kesenjangan antara keadaan saat ini dan
kehandalan mesin operational
1. Indetifikasi Masalah
Untuk mengidentifikasi masalah yang terjadi pada saat ini maka pekerja harus mampu
mengidentifikasikan terlebih dahulu masalah apa yang sedang terjadi, Jelaskan terlebih dahulu
somptom secara spesifik yang menandakan adanya massalah.
2. Pengumpulan Data
Langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah pengumpulan data, perusahaan juga perlu
mengumpulkan data yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi. Kumpulkan juga data data
yang berisi akibat yang ditimbulkan dari permasalahan tersebut.
Perusahaan harus mengidentifikasi sebanyak mungkin elemen yang dapat menyebabkan masalah.
RCA sendiri menangani semua masalah, bukan hanya hal tertentu. Ada sejumlah pendekatan yang
dapat digunakan, seperti:
5 Whys: Tanyakan “Mengapa?” berulang kali hingga Anda menemukan jawaban yang paling
tepat atas penyebab suatu masalah
Drill Down: Membagi masalah menjadi bagian-bagian kecil yang lebih detail untuk
memahami gambaran besarnya
Diagram Fishbone: Menggunakan bagan yang menerangkan semua variabel yang mungkin
berkontribusi pada munculnya masalah pertama kali
Setelah mengumpulkan berbagai faktor yang mungkin menyebabkan masalah, organisasi harus
mengidentifikasi faktor utama yang menyebabkan masalah tersebut. Dengan mengetahui penyebab
utamanya, organisasi dapat mencari solusi yang tepat dengan cepat.
Selain itu, perusahaan harus mencari solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut
segera. Dengan menemukan solusi, perusahaan dapat menghindari masalah serupa di masa
mendatang. Temukan sebanyak mungkin solusi dan ketahui mana yang menguntungkan perusahaan.
Kemudian, gunakan solusi tersebut untuk menyelesaikan masalah segera.
Berikut ini adalah beberapa instrumen yang ada pada pembuatan root cause analysis:
1. 5 Whys
Teknik ini melibatkan pertanyaan “apa penyebabnya?” sebanyak 5 kali untuk menemukan akar
penyebab masalah
Diagram ini membantu dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya
masalah
3. Pareto Analysis
Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang paling signifikan dalam menentukan
akar penyebab masalah
Diagram ini membantu dalam mengidentifikasi hubungan antara penyebab dan efek dalam masalah
Diagram ini membantu dalam mengidentifikasi proses yang berkontribusi terhadap terjadinya
masalah
RCA membantu tim menemukan akar penyebab masalah, bukan hanya menangani gejala atau efek
yang tampak
Dengan menemukan akar penyebab, tim dapat mengatasi masalah secara efektif dan mencegah
masalah berulang
RCA membantu memahami faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya masalah, sehingga
dapat meningkatkan kualitas sistem secara keseluruhan
Dengan menggunakan RCA, tim dapat meningkatkan kemampuan dalam mengatasi masalah dan
mencegah masalah berulang
5. Meningkatkan Kesadara
Dengan menemukan akar penyebab, tim dapat meningkatkan kesadaran tentang bagaimana masalah
terjadi dan bagaimana mengatasi masalah tersebut
contoh penerapan RCA di kehidupan nyata
Pada kasus kecelakaan ini korban bernama hendry. Korban telah bekerja pada perusahaan ini selama
2 tahun. Kronologis kejadian kecelakaan adalah sebagai berikut, pada saat yang bersangkutan
melaksanakan pekerjaan perbaikan kantor bengkel dengan menggunakan tangga besi perancah
dengan berat kira kira sekitar 100 kg, secara tiba – tiba tangga tersebut meluncur kebawah ketika
yang bersangkutan berada diatas tangga, sehingga tangga tersebut terjatuh mengenai kaki kanan
yang bersangkutan. Kejadian ini mengakibatkan ibu jari kaki kanan korban mengalami retak. Berikut
adalah tabel diagram Fish Bone nya
1. Identifikasi Masalah: Banyak produk yang cacat dan tidak memenuhi standar kualitas.
2. Pengumpulan Data: Data produksi menunjukkan bahwa jumlah produk cacat meningkat
secara signifikan dalam satu minggu terakhir.
Mengapa tidak lolos uji kualitas? → Karena produk tidak sesuai dengan dimensi yang
diinginkan.
Mengapa produk tidak sesuai dengan dimensi yang diinginkan? → Karena mesin
pemotong tidak berfungsi dengan baik.
Mengapa mesin pemotong tidak berfungsi dengan baik? → Karena mesin tidak
mendapat perawatan rutin.
Mengapa mesin tidak mendapat perawatan rutin? → Karena jadwal pemeliharaan
mesin tidak dijalankan dengan konsisten.
5. Tindakan Perbaikan: Membuat jadwal pemeliharaan mesin yang lebih teratur dan
memastikan tim teknis mematuhi jadwal tersebut.