Arti Zainka dalam Codename: Anastasia
Arti Zainka dalam Codename: Anastasia
Rating: Explicit
Archive Warning: Creator Chose Not To Use Archive Warnings
Category: M/M
Fandoms: 코드네임 아나스타샤 | Codename: Anastasia (Webcomic), 코드네임
아나스타샤 - 보이시즌 | Codename Anastasia - Boyseason (Webnovel)
Relationships: Kwon Taekjoo/Zhenya, Kwon Taekjoo & Zhenya
Characters: Kwon Taekjoo, Zhenya (Codename Anastasia)
Additional Tags: Older Man/Younger Man, Power Bottom, Anal Sex, Humiliation, Dirty
Talk, Blow Jobs, Plot What Plot/Porn Without Plot, Praise Kink,
Barebacking, Jealousy, Gay Sex, Unsafe Sex, Ass to Mouth, Dating,
Canon Related
Language: Bahasa Indonesia
Collections: Anonymous
Stats: Published: 2024-09-12 Words: 3,125 Chapters: 1/1
CODE
by Anonymous
Summary
Sepertinya marah karena terlalu lama menunggu yang lebih tua pulang.
Taekjoo menggantung coatnya di tiang gantungan yang berada di dekatnya, setelah itu dia
menggaruk pelipisnya sendiri. Bingung dan tidak tahu, bagaimana cara
menghadapi bocah yang sedang merajuk. Sebab selama ini rotasi hidupnya hanya berputar
pada misi dan tugas, bunyi tembakan dan bunyi ledakan. Sehingga, saat sudah punya kekasih
dan kekasihnya tersebut sedang merajuk begini, Taekjoo tidak tahu harus melakukan apa,
selain,
"Maaf." Taekjoo lalu berjalan menghampiri Zhenya, dan saat sudah sampai di hadapan
kekasih besarnya itu, tubuh Taekjoo ditarik ke dalam pelukan Zhenya yang mengusel-uselkan
wajahnya di perut Taekjoo yang tertutup kemeja. Buaya Rusia itu mendongak, dengan
bibirnya yang cemberut dan ekspresi memelasnya yang sungguh, tidak sampai hati Taekjoo
tinju—mungkin kalau ini orang lain ditambah muka orang itu jelek, sudah habis orang itu
ditinju olehnya. Tapi ini Zhenya. Kekasihnya yang paling menawan di matanya, dan
kebetulan mukanya itu adalah kelemahan terbesar Taekjoo.
"Makanya aku nawarkan 'bantuan', biar misi kamu cepat selesai dan kamu bisa pulang lebih
awal. Tapi kamu malah nolak," ucap Zhenya dengan bahasa Rusia, yang terdengar sangat
manja di telinga Taekjoo.
"Maaf, aegi," Taekjoo meminta maaf sekali lagi, kali ini juga sekalian dia memberikan
kecupan yang manis di kening lelakinya itu, dengan tubuh yang membungkuk.
Kedua mata Zhenya membulat, pupil matanya yang biru itu membesar. Menggemaskan
sekali untuk ukuran seseorang yang pernah mengancam akan merudal tempat di mana
Taekjoo sedang melakukan misi—kalau Taekjoo tidak kunjung juga pulang dan betah
membuatnya merasa kesepian dan menggila karena kerinduan.
"Aegi ... ae-gi? Apa artinya itu—?" Zhenya bertanya-tanya dengan raut yang seolah
memindai keseluruhan isi kepala Taekjoo; mencoba memancing keluar makna 'panggilan
baru' kekasihnya itu teruntuknya. Karena biasanya, panggilan Taekjoo tidak jauh-jauh dari
kata "bajingan", "brengsek", atau "sinting".
Taekjoo tampak diam dan menyentuhkan pelan telunjuknya di ujung hidung mancung si
Psycho Bogdanov yang dulunya sangat meresahkan itu. "Bukan apa-apa, kamu udah
makan?"
Eomma maksudnya. Tapi karena buaya kecilnya itu belum terlalu fasih berbahasa Korea, jadi
lidahnya sering terlilit dan terdengar cadel saat mencoba mengucapkan bahasa Korea.
Taekjoo mengusap sayang rambut blonde Zhenya yang terasa seperti adonan kue paling
lembut di dunia itu. "Makan apa?"
Bukan salah Taekjoo, kalau setelahnya dia menggeplak kepala kekasihnya itu.
Rasa pantat? Memang apa yang diberikan ibunya kepada bule sinting yang satu ini?
"Bajingan." Taekjoo mendengus dan terlihat tidak mengasihani Zhenya lagi, tatkala duta
Rusia itu mengerutkan kedua alisnya dan bibirnya tertekuk semakin dalam.
Tubuh Taekjoo lalu dengan mudah diangkat oleh Zhenya, dan belum sampai Taekjoo
bersikap defensif seperti biasanya. Zhenya sudah membantingnya ke atas sofa dan
mengungkungnya dalam dominasi lelaki itu.
Hanya sebuah hal yang bisa mengubah lelaki yang tadinya tampak polos dan menggemaskan
itu, mendadak menjadi seorang terminator ganas yang siap membunuh siapa saja lawan yang
menghalanginya. Yaitu; saat si bajingan ini sedang horny, dan orang yang selalu membuatnya
horny setiap saat adalah target yang harus dilumpuhkannya.
Dalam sudut pandang Zhenya sekarang; kekasihnya sangatlah lezat untuk ia makan.
Dari dulu, sejak awal pertama kali mereka bertemu, dia selalu kesal
dan benci kenapa musuh yang akan dibunuhnya nanti harus punya wajah setampan ini?
Rahang tegas dan bibir yang mengkilap di bawah cahaya itu benar-benar menyingkirkan
seluruh keindahan di muka bumi ke dalam lautan yang paling dalam; sebab di atas daratan
sini, Taekjoonya lah yang menjadi penguasa keindahan paling kekal di muka bumi ini.
Tampan, kuat, gagah, dan sulit dikalahkan.
"Come here then, Zhenya," Taekjoo membuka satu-persatu kancing kemeja di tubuhnya,
sebelah tangan yang tidak digunakan untuk mempreteli kancing kemeja—diangkatnya untuk
meraih wajah Zhenya yang langsung menggenggam cepat tangannya itu.
Lidah Zhenya menjilat-jilat telapak tangan Taekjoo yang berada di depan pipinya, matanya
yang tajam dan bibirnya yang menyunggingkan seringai itu terus tertuju kepada Taekjoo
yang mulai bereaksi; menggigit bibir bawahnya dan tergesa melepaskan seluruh kancing,
hingga terlepas semua, dan membuat bagian favorit Zhenya itu terlihat; dada Kwon Taekjoo.
Bidang, berisi, berwarna kecoklatan yang terlihat seperti karamel manis yang meleleh di
lidahnya.
Bagian privasi Zhenya menggembung di balik bahan celana chino berwarna creamnya. Dia
bawa tangan yang lebih tua itu ke bagian privasinya, meremas dirinya sendiri menggunakan
tangan kekasihnya hingga helaan napas terhempas.
Zhenya melepaskan tangan Taekjoo yang secara mandiri meremas-remas miliknya, lalu
menunduk untuk menyatukan bibir ke permukaan dada Taekjoo; memberikan dua kali
kecupan, sebelum bibir itu menyeret langkah—mengulum halus nipple yang mencuat itu,
menggigiti pelan dan menghisapnya kencang. Desahan keras terlempar dari mulut Taekjoo
yang mendongak, dan berupaya menahan kontrol diri dengan memejamkan kedua matanya.
Tangan Taekjoo semakin meremas dan menekan-nekan benda keras yang telah ereksi di balik
celana si yang lebih muda.
Hidung Zhenya merambat naik, setelah memutus saliva dari puting Taekjoo yang kini basah
oleh air liurnya. Dia mendekati leher Taekjoo yang menguarkan aroma oud yang tajam
namun juga hangat, menghirup dalam-dalam aroma tersebut, lalu membuka mulut untuk
menjilat dan menghisap lembut kulit di dekat buah jakun berada.
Zhenya menikmati semua ini, tapi dia juga tak kuasa menahan cemburu. Membayangkan
musuh atau lawan Taekjoo, menghirup aroma tubuh yang sama dengannya, membuat
rahangnya mengeras dan reflek; menggigit kencang leher kelincinya, membuat Taekjoo
terkejut dengan erang kesakitan yang mewarnai bibirnya.
"Lepas, sinting," Taekjoo menghentikan remasannya pada milik Zhenya di bawah sana,
mendorong tubuh yang sebesar kapal perang itu menjauh darinya. Zhenya yang terdorong,
sedikit terkejut. Dia patuh untuk mundur, sebelum Taekjoo benar-benar memukulnya mundur
secara paksa.
Taekjoo memegang lehernya, mata bulatnya menyipit ke arah Zhenya yang hanya memasang
tampang tak berdosanya, seperti balita yang kebingungan.
Zhenya mengangkat sebelah alisnya, melipat tangan di depan dada seraya memiringkan
kepalanya kecil. "Engga mau," katanya.
"Yevgeny."
"Nah, Zhenya."
Tapi agaknya, menyuruh-nyuruh Zhenya bukanlah perkara mudah. Meski orang itu terkadang
bisa menjadi sangat penurut dan sangat manja kepadanya, Zhenya tetaplah si iblis yang
pantang diperintah.
Namun, karena ini Kwon Taekjoo. Zhenya sedikit memberi kelonggaran, walau rautnya tidak
ramah sama sekali, "aku lakukan, asal pantatmu ... duduk di mukaku."
Zhenya memperhatikan melalui sorot retina birunya yang dalam dan pandai mengasah
rasionalitasnya. Meski sisi binatangnya sangat ingin memberontak keluar, dan melakukan
hal-hal biasa yang ia lakukan saat nafsu menguasai diri. Yang berujung memaksa dan
menyakiti Taekjoo—meski ada sisi baiknya; kekasihnya jadi terlambat melaksanakan misi
dan terpaksa harus meminta bantuannya agar cepat selesai. Licik? Memang. Selain buaya,
setengah dalam dirinya lagi adalah seekor rubah yang picik akal.
Dia mau seluruh waktu Taekjoo hanya dihabiskan untuknya. Tidak ke mana-mana dan
berpelukan saja seharian di atas sofa dengan perapian yang menyala. Tapi Taekjoo yang
terlampau workaholic sampai-sampai tidak punya waktu quality time untuk dirinya sendiri
itu suka berlarut-larut dalam pekerjaannya, dan seperti menganggap pekerjaannya adalah
dunianya. Padahal ... Taekjoo sudah punya dirinya.
Setelah Zhenya lihat celana milik kekasihnya yang selalu sibuk itu sudah terbuka, tanpa
pandang-bulu, dia langsung menarik tubuh Taekjoo padanya—dengan Zhenya yang
berbaring dan pantat Taekjoo yang duduk di atas wajahnya.
"Zhenya—!" Taekjoo sedikit menolehkan kepalanya ke belakang, tapi Zhenya dengan mudah
nembuatnya menindih tubuh itu sepenuhnya; dan berhadapan langsung dengan kain yang
membentuk tenda berisikan rudal milik lelaki itu yang siap meluncurkan ledakannya; di
wajah dan mulutnya.
"Aku suka makanan yang dikasih mama kamu, tapi aku gak tau nama makanannya apa
... Should I call it Kwon Taekjoo's ass?"
"Fuck, Zhenya." Taekjoo merintihkan nama kekasihnya itu dikarenakan tekstur bibir yang
menyentuh kerutan lubangnya, hanya menempel dan berbicara. Dia sepertinya harus
mewanti-wanti ibunya, untuk tidak memberikan makanan sembarangan lagi kepada bocah
Bogdanov itu.
Karena tampaknya, Zhenya menjadi terobsesi kepada makanan tersebut; dan bisa-bisanya
pantatnya yang dijadikan pelampiasannya.
"Lubang kelinci ini sangat ketat," Zhenya meremas pantat Taekjoo, membelah kedua bagian
sampai terpisah saat menatap tertarik lubang Taekjoo yang semakin berkerut karena
merasakan sensitif dari terpaan napas panasnya.
"Ba—jingan," Taekjoo menekan siku-sikunya di atas perut keras Zhenya yang menjadi
sanggaan, "jangan ngomong yang aneh-aneh!" bentaknya.
Bentakan darinya hanya angin lalu bagi Zhenya yang kepalang lapar—ingin memakan
lubang kelinci ini segera. Terhitung; ini kali kedua Zhenya melakukan rimming pada Taekjoo,
dan dua-duanya sama terasa menakjubkannya.
Tetapi, ketika lidah Zhenya mulai menjilat pintu lubang itu dan menerobos masuk ke dalam
dinding lembutnya yang berkedut—menerima benda lunak yang asing—Zhenya melebarkan
matanya, karena Taekjoo terasa sudah 'merenggang'. Apa ini? Siapa yang ...!
"I'm fingering myself. Tau, kalau aku akan pulang telat lagi, dan ... aku sudah mempersiapkan
diri untuk kasih kamu 'hadiah', karena aku tau ... you're always waiting for me. To go home,
you. My home."
My home... mereka sejatinya sama-sama pribadi yang kaku dalam hubungan asmara. Sangat
sulit untuk menunjukkan perasaan masing-masing secara terang-terangan, apalagi dengan
kata-kata. Zhenya tidak tahu bagaimana cara melakukannya, begitupun Taekjoo yang merasa
tidak perlu untuk mengatakannya—karena cukup yang lebih muda tahu bagaimana dia sangat
menyukainya, lewat tindakan-tindakannya saja sudah cukup.
Tapi malam ini, Taekjoo ... untuk pertama kali, mengumumkan hal-hal manis berupa gula
cinta di ucapannya yang menyebut Zhenya 'rumah'nya.
"Taekjoo... kelinciku."
Tanpa aba-aba, Zhenya mengubah posisi; dia mendudukkan Taekjoo di pinggir sofa,
sementara ia sendiri berjongkok di lantai. Seperti di awal yang Taekjoo mau, berlutut.
Zhenya melakukannya.
Jika kelemahan Taekjoo adalah wajah Zhenya, maka kelemahan Zhenya adalah ucapan
manis sosok itu. Bahkan walaupun terkadang hanya caci-maki yang keluar darinya, Zhenya
tetap merasa apabila Taekjoo menyukainya lewat kata-katanya. Jadi, hanya hal sesederhana
itulah yang mampu meruntuhkan ego dan pride si Psikh Bogdanov itu.
Sampai mau berlutut sebegini rendah di bawah Taekjoo, demi membalas perasaan mereka
yang saling berbalas.
"Huh?" Reaksi Taekjoo yang melihat kekasih sombong dan bajingannya itu yang sekarang
seperti anak kucing penurut di antara kedua kakinya adalah kesinisan, sekaligus kasih
sayang. Zhenya memang haus afeksi kata, dan Taekjoo pikir ... dia sudah menjadikan lelaki
itu tawanannya, selamanya. Bisa dia perintah semau hati dan menunduk kapanpun dia minta.
Namun, dari semua itu. Wajah bajingannya lah yang paling menyebalkan. Karena ...
bagaimana bisa saat lelaki itu mulai membuka mulut dan menjilat-jilat glans penisnya; malah
ekspresi polos khas bocahnya yang justru keluar? Tanpa ekspresi, tapi begitu intens
menatapnya.
Sialan anak ini. Taekjoo merasa bersalah, seolah dia yang menjadi penjahatnya sekarang.
Padahal tidak terhitung berapa kali Zhenya mau membunuhnya selama ini, tapi semua itu
langsung dikalahkan oleh wajah polosnya yang sangat—amat menipu itu. Bukan hanya
dirinya, melainkan ibu dan teman-temannya pun terkadan tertipu kalau lelaki ini lelaki baik-
baik yang hanya minta disayangi oleh dirinya setelah seharian menunggu di rumah
sewaannya.
Padahal ... Zhenya adalah iblis seks yang paling licik, menggodanya terang-terangan saat
lidah brengseknya itu menari-nari di sepanjang penisnya; membasahi dan melumuri salivanya
sendiri. Sebelum—masih menyatukan kontak mata mereka—memasukkan ujung kepala
penisnya ke mulut yang langsung menghisap dan kepala yang bergerak maju-mundur itu.
Luar biasa.
Zhenya tidak tersedak, meski mulutnya penuh dan air mata mengaliri turun di sudut matanya
yang tetap menatap Taekjoo—dengan ekspresinya yang sulit terbaca itu. Kedua pipi Zhenya
yang kembung terlihat merona, memerah seperti pantat bayi.
"Good boy," Taekjoo menyugar rambut pirang itu ke belakang, dan menggerakkan kepala
Zhenya untuk menghisap miliknya, "my good boyfriend—ah."
Zhenya sepertinya suka dipuji, perlahan bisa Taekjoo saksikan kedua pupil mata Zhenya
bergetar dan mulutnya semakin rakus memberikan hisapan-hisapan pada penisnya.
"Baby Zhenya likes to be praised, huh?" Taekjoo menyeka air mata di salah satu sudut mata
Zhenya yang menganggukan kepalanya sebagai balasan dari pertanyaannya.
"Zhenya, my pretty baby," kedua telapak tangannya kini menangkup pipi yang mengembang
sesak itu, mengusap-usapnya lembut. Bulu mata panjang yang cantik itu terlihat sangat indah
saat empunya berkedip, "do you want to make me proud of you?"
"Nhhkyes," mulut yang penuh tersumpal penisnya itu dipaksanya berbicara; alhasil suara
yang keluar juga tidak terlalu jelas. Tapi Taekjoo tetap paham apa yang diucapkan oleh
kekasihnya.
Dia menepuk-nepuk pelan kepala itu, lalu mendorong bagian belakang Zhenya untuk maju;
menghantam tanpa ampun kerongkongan itu, dan kali ini ... Zhenya dibuat benar-benar
tercekik, hidungnya terkubur dalam dan ujung bibirnya sobek, matanya terbalik sampai
memutih dan disaat detik-detik Zhenya pikir dia akan terbunuh di tangan kekasihnya sendiri
—Taekjoo mendorong kepalanya mundur, sampai penis yang memuncratkan sperma itu
terlepas dari mulutnya masih hampa menganga.
Taekjoo berdiri dari duduknya, dan mengocok penisnya sendiri; diarahkannya ujung
pistolnya ke tubuh lelakinya yang ditutupi oleh sweater hangat lengan panjang itu—yang
dibelikan oleh Taekjoo saat musim dingin datang—cairannya menembak bagian bahu lelaki
itu, sampai terciprat srdikit ke tulang selangka Zhenya yang luput dari perlindungin
sweaternya. Cairan putih miliknya terlihat mencolok karena warna hitam yang dikenakan
Zhenya.
Ini semakin mempertegas, kalau dia baru saja menghajar habis si tengik yang satu ini.
"You make me feel so proud of you, baby," Taekjoo mengusap lembut bibir Zhenya yang
masih terbuka; lidah di dalam rongga mulut itu mengikuti usapan Taekjoo, menjilat ke
manapun jari tersebut pergi.
Zhenya kacau, rambutnya berantakan, kedua mata basah kuyup, dan pipi yang bersemu
penuh, bibirnya juga telah dirusak sedemikian rupa, dan Taekjoo semakin yakin; bahwa
dalam keadaan atau kondisi apapun, wajah itu tetap dan terus terlihat menawan di matanya.
Cantik sekali, dan Taekjoo kesulitan berpaling dari Zhenya yang kini mendoring dan
menindihnya lagi di atas sofa.
Kedua kakinya ditekuk oleh lelaki itu dan Zhenya melepaskan pengait celananya. Penisnya
meloncat keluar dari dalam sarangnya, tegak dan keras; menantang wajah Taekjoo yang kini
dipenuhi siluet benda mengerikan milik lelaki itu.
Dengan santai, Zhenya mencolek sperma Taekjoo yang ada di kain pakaian bagian bahunya,
dia mengurut penisnya menggunakan cairan milik kelincinya tersebut. Setelah penisnya
semakin mengacung tinggi dan memompa keras aliran darah, Zhenya menghentikan
pergerakkannya. Dia membuka bajunya dengan perlahan, sampai Taekjoo satu-demi-satu
menyaksikan otot-otot perut kekasihnya, dan perlahan torso putihnya yang mengkilat, lalu
tatto sayap hitam besar berlambangkan huruf B dibold—di tengah-tengah dadanya—yang
diambil dari nama keluarganya.
Panas dan berkuasa, itulah kesan pertama yang Taekjoo uraikan di dalam kepalanya setelah
berulang kali melihat tubuh atas telanjang milik kekasihnya itu.
"Aku nunggu-nunggu."
Taekjoo kembali menatap ke arah wajah Zhenya yang bibirnya melengkungkan segaris
senyuman. Taekjoo bertanya lewat raut mukanya tentang apa yang Zhenya tunggu.
"I'm a mercenary then." Zhenya menyeringai, tiba-tiba mengangkat kedua tangan Taekjoo ke
atas kepala; menahan dengan cengkraman dari satu tangannya yang menguasai dengan
mudah kedua tangan pria gila kerjanya itu. "Yang harus diburu kamu seumur hidup," —
Zhenya menghentakan pinggulnya; memasukan penisnya ke dalam lubang Taekjoo yang
meski melonggar, tapi bagian itu masih kering dan belum sepenuhnya siap.
"A—fuck! Fu—ck." Taekjoo menggigit bibir bawahnya, kedua mata menatap sengit wajah
nakal sang kekasih yang terlihat sangat senang sekali itu sekarang. "Sa—akh—kit, bah—ji—
ngan!"
Bukan, Zhenya bukan tentara pembunuh bayaran seperti yang diklaim. Dia adalah seorang
pemangsa lubang yang tidak manusiawi, kejam dan hobby membuat lecet lubang orang lain.
Dasar bajingan sinting!
Ini sakit sekali ... Taekjoo tidak tahan, desisan perih terus keluar dari bibirnya.
Berbeda dengan Zhenya, rautnya tampak sangat menikmati pemandangan ini; Taekjoo yang
kesakitan di bawahnya dan bagaimana lubang itu mengetat keras karena ditumbuk oleh alat
perang yang paling kuat—penisnya—itu.
"Rileks, Zainka," bisik Zhenya, mengangkat dagu kekasihnya dan mengajaknya berciuman.
Larut, dalam, dan kasar. Taekjoo menggigiti bibir Zhenya yang mengulum lembut belah
bibirnya yang terbuka.
"Ak—!" Taekjoo tercekik, lehernya terasa diikat oleh tali tambang yang bernafsu ingin
memutus leher dari tubuhnya, saat Zhenya langsung menghentakan keseluruhan penisnya
yang bajingan itu. "Zhe, Zhenya ... fuck—fucking bastard!" Taekjoo melepaskan paksa
ciuman mereka dan fokus pada rasa sakit yang dirasakanny berkumpul di bawah sana.
"Aku kangen kamu," setelah ciuman mereka terlepas, Zhenya berbisik menggunakan bahasa
Rusia di dekat semburat merah pipi Taekjoo—dengan suaranya yang lembut dan dalam.
"Yeah," Taekjoo menyahut malas, rasa sakitnya memang berkurang dan dia menjadi lebih
tenang saat meneguk ludah satu-dua kali, sembari menetralkan pacu jantungnya.
Dari situ, Zhenya mulai bergerak. Si sinting sialan itu jelas tidak bermain lembut, ia
menumbuk kasar lubang Taekjoo yang sekarang menerima keluar-masuk benda
menyeramkan itu. Seperti terbiasa, Taekjoo juga mulai menikmati rasa sakit sekaligus nikmat
yang ditawarkan. Mereka berciuman lagi, kali ini lidah bertemu lidah, saling memutar di
dalam mulut masing-masing dan menyatukan saliva dalam irama yang cepat. Tenggelam
dalam kenikmatan bersama, dan sama-sama mendesah puas saat pelepasan tercapai di
penghujung pergumulan.
Tapi, Zhenya tidak akan berhenti—apalagi dia hanya mendapat satu kali klimaks. Malam itu,
dia terus menghantam Taekjoo berkali-kali, di manapun di segala sudut rumah ini, sampai
besoknya; Taekjoo gagal tepat waktu lagi dalam memulai pekerjaannya.
Sedikit yang Zhenya tahu, dia diberi jatah libur satu minggu, karena berhasil menyelesaikan
seluruh pekerjaannya tanpa tenggat waktu yang sudah ditentukan.
Besok paginya, dia terbangun dalam keadaan sudah berbusana dan tanpa adanya Zhenya di
sisinya. Padahal malam tadi, kekasihnya itu mengurungnya erat-erat dalam pelukannya. Tapi
pagi ini, ke mana perginya ia?
Sampai satu pemberitahuan masuk di bilah notifikasi ponselnya yang menyala, saat Taekjoo
mengambil dan membaca siapa yang baru saja mengiriminya pesan.
Itu Olga, adik perempuan Zhenya.
'Orang itu dipaksa pulang ke Rusia untuk mengurus soal pertunangannya ... tapi, orang
itu dan tunangannya ternyata punya kepribadian yang sama. Mereka tidak bisa berdiskusi
dengan damai. Sekarang Zhenya terkena ledakan bom yang dilemparkan oleh
tunangannya sendiri, hanya karena mereka membenci satu sama lain dan tidak betah
berlama-lama berada di dalam ruangan yang sama. Zhenya dan tunangannya sama-sama
menolak pertunangan ini, dan mereka ... terus berkelahi.
Taekjoo, tolong aku.'
Zhenya ada dua orang? Terlebih lagi, Zhenya versi perempuan? Taekjoo tidak bisa
membayangkan akan seberapa menakutkannya kalau Zhenya ada dua begini; hanya dari
pesan yang dikirimkan oleh Olga kepadanya.
Tapi ... pertunangan. Zhenya tidak pernah mengatakan akan menolak atau menerima
pertunangan tersebut secara gamblang, namun hari ini, Taekjoo sudah menemukan
jawabannya;
Zhenya sedang berusaha mati-matian menolak pertunangan yang diatur oleh keluarganya
tersebut, begitupun juga tunangannya yang menolak ditunangkan dengan Zhenya.
Taekjoo pun menghela napasnya saat mengunci ponselnya kembali, dia terpejam sejenak
sebelum membuka kedua matanya; mengangkat kepalanya, mengulas satu senyuman lebar
yang menunjukkan gigi-gigi putihnya.
Jatah liburnya sepertinya akan digunakan untuk menjinakkan bom peledak dan menengahi
perseteruan kedua orang yang saling membenci itu.
Baiklah, dia akan berangkat untuk memesan tiket pesawat terbang menuju negara Rusia.
Negara kekasihnya, si Koshchei yang menyembunyikan kelemahannya di Korea. Kwon
Taekjoo.
Please drop by the Archive and comment to let the creator know if you enjoyed their work!