0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan24 halaman

Perbankan Syariah: Konsep dan Sejarah

Perbankan syariah

Diunggah oleh

ramdanjaelani14
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan24 halaman

Perbankan Syariah: Konsep dan Sejarah

Perbankan syariah

Diunggah oleh

ramdanjaelani14
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERBANKAN SYARIAH

Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah


Pendidikan Agama Islam

Dosen Pengampu:
H. Isnen Munandar, [Link].

Oleh:
Kelompok Ustman Bin Affan

Anisa Putri Dzulfikar R 235509008


Asitah Nurul Inayah 235509009
Bunga Nurul Aulia 235509010
Dwi Risma Sari 235509002
Rivana Azzahra S 245509052
Zhafira Salsabilla 235509039

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MA’SOEM
2024
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan
rahmatnya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu tanpa ada halangan
yang berarti dan sesuai dengan harapan.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Bapak H. Isnen Munandar, [Link].
sebagai dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Agama Islam III yang telah membantu
memberikan arahan dan pemahaman dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan
karena keterbatasan kami. Maka dari itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan
saran untuk menyempurnakan makalah ini. Semoga apa yang ditulis dapat bermanfaat
bagi semua pihak yang membutuhkan.

Bandung, 29 Oktober 2024

Kelompok Utsman bin Affan

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
A. Latar Belakang ............................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 2
C. Tujuan ............................................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................... 3
A. Pengertian Perbankan Syariah ........................................................................ 3
B. Sejarah Perbankan Syariah di Dunia Internasional .......................................... 4
C. Sejarah Perbankan Syariah di Indonesia ......................................................... 6
D. Dasar Hukum Perbankan Syariah ................................................................... 8
E. Produk-produk Perbankan Islam ................................................................... 10
F. Lembaga Perbankan Syariah ........................................................................ 13
G. Perbedaan Perbankan Islam dan Perbankan Konvensional ............................ 15
BAB III PENUTUP ............................................................................................... 19
A. Kesimpulan .................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 20

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sehubungan dengan prinsip syari’ah mu’amalah, bahwa dalam pergaulan sesama
mahluk di dunia ini disandarkan pada etika Islam. Jadi segala bentuk mu’amalah dalam
segala aspeknya menjadikan al-Qur'an dan as-sunnah sebagai epistemologi utama
(Achsin, 2003: 2). Kepada umat Islam sangat dianjurkan agar senantiasa berkreasi dan
melakukan inovasi dalam segala hal, terutama dalam hal mu’amalah, sehingga segala
aktifitasnya senantiasa mendukung kepada pencapaian kesejahteraan/memenuhi
kebutuhan umat (a public need/hajjat an-nass) dan untuk mengatasi kesulitan yang
dihadapi (raf ‘ul al-haraj) (Kamali, 2000: 85). Hal inilah yang telah menjadikan
perbankan Islam mendapat sokongan untuk terus hidup dalam membantu umat dalam
interaksinya dengan aktifitas bisnis. Tetapi kemudian, kenyataan yang kita hadapi
sekarang adalah lembaga keuangan Islam masih lebih merupakan proyek idealis
daripada proyek komersial. Tujuannya lebih mengarah kepada usaha pelaksanaan
prinsip-prinsip syari'ah di bidang ekonomi, dan belum begitu didasarkan pada motif
ekonomi, yakni “mengejar keuntungan” dan pertumbuhan ekonomi yang merupakan
kepentingan masyarakat pada umumnya (improving the quality of services and in
enhancing social welfare) (Mooduto, 2003).
Kemudian yang masih menjadi kendala utama adalah interpretasi yang berlebih-
lebihan terhadap makna riba, sehingga dalam kontek kekinian hal ini menjadi kendala,
bagaimana mempertemukan antara teori dengan prakteknya. Kebutuhan yang paling
utama adalah melakukan perubahan bentuk dari mekanisme lama (klasik) menjadi
mekanisme modern (Saeed, 1996: 2-3). Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa dalam
hal ini, karena memang perkembangan perbankan Islam sendiri tidak lepas dari sejarah
awalnya.
Perbankan Islam merupakan suatu fenomena yang semakin mendapat perhatian
dewasa ini. Ide ini tercetus dari keinginan yang besar di kalangan umat Islam untuk
melaksanakan Islam dalam kehidupan. Dalam usaha merialisasikan keinginan ini,
mereka berpendapat bahawa Islam tidak mungkin dapat dilakukan melalui perubahan
1
secara total (inqilabi) yaitu dengan menegakkan khilafah sebaliknya melakukan
perubahan secara bertahap dan berangsur-angsur (islahi).

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian Perbankan Syariah?
2. Bagaimana sejarah Perbankan Syariah di dunia internasional?
3. Bagaimana sejarah Perbankan Syariah di Indonesia?
4. Bagaimana dasar-dasar hukum Perbankan Syariah?
5. Apa saja produk-produk Perbankan Syariah?
6. Apa saja lembaga-lembaga Perbankan Syariah?
7. Bagaimana perbedaan Perbankan Syariah dengan Perbankan Konvensional?

C. Tujuan
1. Memahami pengertian Perbankan Syariah.
2. Mengetahui sejarah Perbankan Syariah di dunia internasional.
3. Mengetahui sejarah Perbankan Syariah di Indonesia.
4. Memahami berbagai dasar hukum Perbankan Syariah.
5. Mengetahui berbagai produk-produk Perbankan Syariah.
6. Mengetahui berbagai lembaga-lembaga Perbankan Syariah.
7. Memahami perbedaan Perbankan Syariah dengan Perbankan Konvensional.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Perbankan Syariah


Secara etimologis, kata "bank" berakar dari kata Italia "banco" yang mengacu
pada meja. Penggunaan istilah ini merefleksikan praktik historis di mana segala
aktivitas perbankan, mulai dari transaksi sederhana hingga pengelolaan aset, dilakukan
di atas permukaan datar seperti meja. Dalam konteks bahasa Arab, konsep yang setara
dengan bank diwakili oleh kata "mashrof" yang merujuk pada lokasi di mana berbagai
jenis transaksi keuangan berlangsung.
Menurut UU Republik Indonesia No. 10 Tahun 1998, tentang perubahan atas
UU No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan yang menjelaskan bahwa bank umum pada
dasarnya menjalankan bisnis perbankan secara konvensional, yaitu dengan cara-cara
yang umum dilakukan oleh bank pada umumnya. Bank ini memberikan layanan seperti
menerima dan mentransfer uang. Sedangkan Bank syariah adalah jenis bank khusus
yang beroperasi berdasarkan hukum Islam. Semua kegiatan yang dilakukan bank
syariah harus sesuai dengan aturan agama Islam. Menurut seorang ahli bernama
Karnaen Purwaatmadja, bank syariah menjalankan bisnisnya dengan mengikuti semua
aturan Islam. Salah satu hal yang sangat penting dalam Islam, dan oleh karena itu juga
dalam perbankan syariah, adalah menghindari praktik riba. Riba itu sendiri adalah
praktik mendapatkan keuntungan dari uang dengan cara yang tidak adil, seperti
memberikan pinjaman dengan bunga yang sangat tinggi.
Secara umum, lembaga keuangan yang dikenal sebagai Bank Syariah adalah
institusi yang menyediakan layanan pembiayaan dan transaksi keuangan dengan
berpedoman pada prinsip-prinsip agama Islam. Berbeda dengan bank konvensional,
bank syariah beroperasi berdasarkan ketentuan Al-Qur'an dan hadis, sehingga segala
aktivitasnya ditujukan untuk menghindari praktik-praktik yang bertentangan dengan
syariat Islam, seperti riba atau bunga. Konsep dasar yang membedakan bank syariah
dengan bank konvensional terletak pada sistem operasionalnya. Bank syariah tidak
menerapkan sistem bunga dalam segala bentuk transaksinya, melainkan mengadopsi
mekanisme bagi hasil atau profit sharing. Prinsip ini mengimplikasikan adanya
3
hubungan kemitraan yang kuat antara bank dan nasabah, di mana keuntungan dan risiko
bisnis ditanggung bersama.
Dengan berdirinya bank syariah, diharapkan dapat terwujudnya sistem ekonomi
Islam yang menjadi cita-cita banyak negara berpenduduk mayoritas muslim. Selain itu,
keberadaan bank syariah juga menawarkan pilihan baru bagi masyarakat yang
menginginkan layanan perbankan yang bebas dari praktik riba.

B. Sejarah Perbankan Syariah di Dunia Internasional


Dalam kancah Internasional, Mesir selain tempat berdirinya Bank Islam pertama
kali juga sebagai pelopor perkembangan Perbankan Islam pertama kali, yang memang
sebelumnya tercetus dari konsep para pemikir-pemikir Islam yaitu Anwar Qureshi
(1946), Naiem Siddiqi (1948) dan Mahmud Ahmad (1952), dengan menawarkan sistem
bagi hasil untuk perbankan. Yang kemudian dibuat gagasan pendahuluan oleh ulama
besar Pakistan Abal A’la Al Mawdudi (1961) dan Muhammad Hamidullah (1962).
Perintisan penerapan sistem profit and loss sharing, sebagai inti bisnis lembaga
keuangan yang berbasis syari’ah, tercatat telah ada sejak tahun 1940-an, yaitu upaya
dalam mengelola dana jama’ah haji secara non konvensional di Pakistan dan Malaysia.
Barulah kemudian dalam konsep kelembagaan dari perwujudan perbankkan syari’ah
mendirikan Islamic Rural Bank di daerah Mit Ghamr pada tahun 1963, yang tercatat
sebagai bank Islam pertama kali, atas binaan dari Prof. Dr. Abdul Aziz El-Nagar yang
dalam hal pendanaannya mendapatkan bantuan dari Raja Faisal pada tahun 1963 hingga
1967 di Kairo Mesir.
Selain itu Bank Islam pertama ini dianggap berhasil mendapatkan prestasi
dengan memadukan manajemen perbankkan Jerman dengan prinsip muamalah Islam
dengan menerjemahkannya dalam produk-produk bank yang sesuai untuk daerah
pedesaan yang sebagian besar orientasinya adalah industri pertanian, akan tetapi pada
tahun 1975 bank ini di tutup karena persoalan politik saat itu. Kemudian seiring
pembentukan konsepsikonsepsi perbankan Islam dalam dunia internasional Mesir
kembali berhasil mendirikan bank Islam dengan nama Nasser Social yang lebih
cenderung bersifat sosial dibanding komersil.

4
Secara kolektif gagasan awal berdirinya bank syari’ah di tingkat internasional,
muncul pertama kali dalam konfrensi negara-negara Islam se-dunia di Kuala Lumpur
Malaysia pada bulan april 1969, yang di ikuti 19 negara peserta. Dari hasil konferensi
tersebut lahir beberapa hal, diantaranya:
1. Tiap keuntungan haruslah tunduk kepada hukum untung dan rugi, jika tidak ia
termasuk riba dan riba itu sedikit/banyak haram hukumnya.
2. Diusulkan supaya dibentuk suatu bank syari’ah yang bersih dari sistem riba dalam
waktu secepat mungkin.
3. Sementara waktu menunggu berdirinya bank syari’ah, bank-bank yang menerapkan
bunga diperbolehkan beroprasi, namun jika benarbenar dalam keadaan darurat.
Kemudian untuk melebarkan kiprah Perbankan Islam di dunia Internasioanl
pemerintah Mesir dalam hal ini terwakili oleh menteri luar negeri mengajukan proposal
tentang studi pendirian bank Islam internasional untuk pembangunan dan perdagangan
serta pengajuan proposal pendirian fedrasi bank Islam dalam rapat menteri luar negeri
Negara-negara Organisasi Konfrensi Islam (OKI) yang saat itu di Karchi Pakistan,
bulan Desember 1970.
Dalam persetujuan pengesahan proposal itu juga memberikan beberapa usulan
tambahan yaitu pembentukan badan infestasi dan pembangunan Negara-negara Islam,
serta pembentukan asosiasi bank-bank Islam sebagai badan konsultatif masalah-masalah
ekonomi dan perbankkan Islam. Kemudian dalam follow up-nya pada sidang menteri
luar negeri OKI di Benghazi Libya bulan maret 1973 rencana tersebut kembali
diagendakan dengan menghasilkan beberapa kesimpulan, sampai pada berikutnya pada
bulan Juli 1973 diadakan pertemuan komite ahli, perwakilan dari Negaranegara Islam
penghasil minyak yang bertemu di Jeddah dengan pembahasan agenda yang sama
(pendirian bank Islam). Kemudian dalam follow up-nya yang kedua pertemuan antara
menteri-menteri luar negeri OKI di Jeddah menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan
IDB (Islamic Defloment Bank) yang bermodalkan awal 20 Milyar Dinar atau ekuivalen
2 Milyar SDR (Special Drawing Right) IMF dengan beranggotakan semua Negara OKI.
Kemudian dalam dekade awal 1980-an setelah resmi didirikannya IDB dalam
hasil kesepakatn pertemuan beberpa menteri luar negeri OKI di Jeddah, tumbuh
beberapa Bank- Bank Islam lainnya yaitu Dubai Islamic Bank pada tahun 1975 yang
5
dalam kedudukannya adalah sebagai Bank Islam swasta pertama kali, Faysal Islamic
Bank yang berdiri di Mesir dan Jedah pada tahun 1977, Kuwait Fenance House pada
tahun 1975, Jordan Islamic Bank for Finance and Investment, Bahrain Islamic Bank
dan Islamic International Bank for Finance and Development atau lembaga investasi
dengan bentuk international holding companies, seperti Daar Al-Maal Al-Islami
(Geneva), Islamic Investment Company of the Gulf, Islamic Investment Company
(Bahama), Islamic Investment Company (Sudan), Bahrain Islamic Investment Bank
(Manama) dan Islamic Investment House (Amman).
Dalam perkembangan berikutnya, sistem perbankan syari’ah mendapatkan
sambutan baik di mata internasional terbukti pada bulan Agustus 1998 tercatat ada 200
buah, di antaranya 160 berupa bank, dan sisanya adalah lembaga keuangan non bank,
ini semua memang terpengaruh dari sistem menejemen syari’ah yang berorientasi pada
etika bisnis yang sehat. Tak hanya itu perkembangan perbankkan Islam juga merambah
pada negara-negara non Islam yang jumlahnya pun juga relatif besar. Lain dari itu atas
prestasinya dalam menggaet perhatian internasional kedudukan bank syariah berhasil
menjalin kerjasama dengan bank konvensional untuk menawarkan produk-produk bank
syar’iah. Hal tersebut terlihat dari tindakan beberapa bank konvensional yang membuka
sistem tertentu di dalam masing-masing bank dalam menawarkan produk bank syari’ah,
misalnya Islamic Windows di Malaysia, The Islamic Transaction di cabang Bank Mesir,
dan The Islamic Services di cabang-cabang bank perdagangan Arab Saudi. Produk-
produk investment banking yang islami juga di tawarkan oleh Fund Manager
Konfensional.

C. Sejarah Perbankan Syariah di Indonesia


Perkembangan institusi keuangan syariah secara informal telah dimulai sebelum
dikeluarkannya kerangka hukum formal sebagai landasan operasional perbankan di
Indonesia. Beberapa badan usaha pembiayaan non- Bank telah didirikan sebelum tahun
1992 yang telah menerapkan konsep bagi hasil dalam kegiatan operasionalnya. Hal
tersebut menunjukkan kebutuhan masyarakat akan hadirnya institusi-institusi keuangan
yang dapat memberikan jasa keuangan yang sesuai dengan syariah.

6
Kebutuhan masyarakat tersebut telah terjawab dengan terwujudnya sistem
perbankan yang sesuai syariah. Pemerintah telah memasukkan kemungkinan tersebut
dalam undang-undang yang baru. Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan
secara implisit telah membuka peluang kegiatan usaha perbankan yang memiliki dasar
operasional bagi hasil yang secara rinci dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No. 72
Tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan Prinsip Bagi Hasil. Ketentuan tersebut telah
dijadikan sebagai dasar hukum beroperasinya Bank syariah di Indonesia. Periode 1992
sampai 1998, hanya terdapat satu Bank Umum Syariah dan 78 Bank Perkreditan Rakyat
Syariah (BPRS) yang telah beroperasi.
Tahun 1998 muncul UU No. 10 tahun 1998 tentang perubahan UU No 7 Tahun
1992 tentang perbankan. Perubahan UU tersebut menimbulkan beberapa perubahan
yang memberikan peluang yang lebih besar bagi pengembangan Bank syariah. Undang-
undang tesebut telah mengatur secara rinci landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang
dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh Bank syariah. Undang-undang tersebut
juga memberikan arahan bagi Bank konvensional untuk membuka cabang syariah atau
bahkan mengkonversi diri secara total menjadi Bank syariah.
Akhir tahun 1999, bersamaan dengan dikeluarkannya UU perbankan maka
munculah bank-bank syariah umum dan Bank umum yang membuka unit usaha syariah.
Sejak beroperasinya Bank Muamalat Indonesia (BMI), sebagai Bank syariah yang
pertama pada tahun 1992, data Bank Indonesia per 30 Mei 2007 menunjukkan bahwa
saat ini perbankan syariah nasional telah tumbuh cepat, ketika pelakunya terdiri atas 3
Bank Umum Syariah (BUS) antara lain: Bank Muamalat, Bank syariah Mandiri, 23 Unit
Usaha Syariah (UUS), dan 106 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), sedangkan
asset kelolaan perbankan syariah nasional per Mei 2007 telah berjumlah Rp. 29 triliyun.
Perkembangan Bank umum syariah dan Bank konvensional yang membuka cabang
syariah juga didukung dengan tetap bertahannya Bank syariah pada saat perbankan
nasional mengalami krisis cukup parah pada tahun 1998.
Sistem bagi hasil perbankan syariah yang diterapkan dalam produk-produk Bank
Muamalat menjadikan bank tersebut relatif lebih mampu mempertahankan kinerjanya
dan tidak bergantung pada tingkat suku bunga simpanan yang melonjak sehingga, beban
operasionalnya lebih rendah dari bank konvensional.
7
D. Dasar Hukum Perbankan Syariah
Hukum bank syariah dengan bank konvensional sangat berbeda. Undang-undang
yang berlaku saat ini merupakan dasar hukum bagi Perbankan Syariah. Hal ini sesuai
dengan prinsip yang diterapkan dalam menjalankan peran bank syariah yaitu berasaskan
syariah, disamping itu juga mengacu pada demokrasi ekonomi serta prinsip kehati-
hatian. Demokrasi ekonomi itu sendiri merupakan aktivitas ekonomi yang menganut
nilai keadilan, kebersamaan, pemerataan dana kemanfaatan. Prinsip kehati-hatian dalam
dasar hukum Perbankan Syariah dimaknai sebagai pengelolaan yang sehat, kuat dan
efisien serta mengacu pada aturan perundang-undangan.
Di Indonesia, secara hierarki terdapat 2 dasar hukum perbankan syariah yaitu
umum dan khusus. Secara umum meliputi:
1. UUD 1945 dalam ketentuan yang mengatur Perekonomian Negara dan Prinsip
Demokrasi Ekonomi.
2. UU RI No. 7/1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU RI No.
10/1998 tentang Perbankan.
3. UU RI No. 23/1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UU
RI No. 3/2004 tentang Bank Indonesia.
4. UU RI No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas.
5. UU RI No. 21/2008 tentang Perbankan Syariah.
6. UU RI No. 21/2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.
7. Peraturan BI dan Peraturan OJK sebagai peraturan pelaksanaan UU.
Selanjutnya, hierarki secara khusus dasar hukum perbankan syariah meliputi:
1. UU No. 21/2008 tentang Perbankan Syariah.
2. Peraturan BI dan Peraturan OJK sebagai peraturan pelaksanaan UU.
Landasan hukum bank syariah telah mengalami perubahan, hal ini dapat terjadi
disebabkan adanya pembaharuan dalam hukum yang menyesuaikan dengan kondisi
yang ada. Begitu juga dengan perubahan dasar hukum bank syariah. Berikut 3 garis
besar dasar hukum bank syariah:
1. UU No. 7 tahun 1992. Merupakan dasar hukum pertama yang muncul dalam
sejarah bank syariah di Indonesia. Pada saat UU ini berlaku, bank yang mengadopsi

8
hukum Islam masih dalam bentuk Bank Perkreditan Rakyat dalam skema bagi
hasil.
2. UU No. 10 tahun 1998. UU ini terbentuk dari kompleksnya kegiatan perekonomian
sehingga dilakukan pembaharuan. Dalam UU ini mengelaborasi terkait pengertian
serta prinsip bank syariah.
3. UU No.21 tahun 2008. Pembahasan terkait bank syariah sudah sangat jelas
membahas mengenai perbankan syariah hingga meliputi jenis usaha, penyaluran
dana, kelayakan usaha, hingga resiko yang mungkin muncul dalam Perbankan
Syariah.

Sebagaimana Allah Swt. melalui wahyu-Nya al-Qur’an dan Hadits telah


menjelaskan prinsip-prinsip syariah dalam setiap transaksi yang dilakukan hamba-Nya,
berfungsi sebagai rambu-rambu manusia dalam setiap transaksinya sehingga dapat
terhindar dari praktek yang syubhat dan yang diharamkan Allah Swt. Sebagaimana
firman Allah, QS. Al-Nisa (4) : 29 :

ٍ ‫ٰٰۤيـاَيُّ َها الَّ ِذيْنَ ٰا َمنُ ْوا ََل تَأْ ُكلُ ٰۤ ْوا اَ ْم َوا لَـ ُك ْم بَ ْينَ ُك ْم ِبا ْلبَا ِط ِل ا َّ َِٰۤل اَ ْن تَ ُك ْونَ تِ َجا َرة ً َع ْن تَ َرا‬
‫ض‬
‫ّٰللا َكا نَ بِ ُك ْم َر ِح ْي ًما‬
َ ‫س ُك ْم ۗ ا َِّن ه‬ َ ُ‫ِم ْن ُك ْم ۗ َو ََل تَ ْقتُلُ ٰۤ ْوا اَ ْنـف‬
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dengan jalan perdagangan yang
berlaku atas dasar suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh
dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu".
Dalam hal ini Rasululullah di dalam haditsnya yang diriwayatkan Abu Hurairah
Rǎdiyallahu ‘Anhu bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu masa, di mana orang
tidak lagi peduli tentang apa dan bagaimana sesuatu yang diperolehnya, apakah dari
yang halal ataukah dari yang haram” (HR. Bukhari). Penjelasan dari Al-Qur’an dan
Hadits tersebut mengisyaratkan pentingnya kehati-hatian dalam melakukan berbagai
transaksi dan pentingnya mengetahui hukum dan prinsip syariah pada setiap transaksi

9
baik dalam skala makro ataupun mikro. Karena setiap transaksi yang salah dan haram
akan berimplikasi kepada tidak sahnya sebuah akad dan ketika sebuah akad tidak sah,
akan mendapat dosa yang harus ditanggung pelakunya dan menyebabkan kerugian dan
kesengsaraan dunia dan akhirat.

E. Produk-produk Perbankan Islam


Produk penyaluran dana pada bank konvensional disebut dengan kredit, Menurut
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 dijelaskan bahwa kredit adalah penyediaan
uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain, yang mewajibkan pihak
peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian
bunga. Sedangkan produk penyaluran dana pada bank syariah disebut dengan
pembiayaan.
Adapun produk-produk pembiayaan yang ada pada bank syariah yaitu
pembiayaan berdasarkan akad jual beli, pembiayaan berdasarkan akad sewa-menyewa,
pembiayaan berdasarkan akad bagi hasil, dan pembiayaan berdasarkan akad
pinjammeminjam yang bersifat sosial.
1. Pembiayaan berdasarkan akad jual beli:
a. Akad Murabahah. Akad murabahah adalah akad pembiayaan suatu barang
dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya
dengan harga yang lebih sebagai keuntungan yang disepakati.
b. Salam. Akad salam adalah akad pembiayaan suatu barang dengan cara
pemesanan dan pembayaran harga yang dilakukan terlebih dahulu.
c. Istishna’. Akad istishna’ adalah akad pembiayaan barang dalam bentuk
pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu
yang disepakati antara pemesan atau pembeli (mustashni’) dan penjual atau
pembuat (shani’).
2. Pembiayaan berdasarkan akad sewa-menyewa:
a. Akad ijarah adalah akad penyediaan dana dalam rangka memindahkan hak guna
atau manfaat dari suatu barang atau jasa berdasarkan transaksi sewa, tanpa
diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.
10
b. Akad ijarah muntahiya bittamlik adalah akad penyediaan dana dalam rangka
memindahkan hak guna atau manfaat dari suatu barang atau jasa berdasarkan
transaksi sewa dengan opsi pemindahan kepemilikan barang.
3. Pembiayaan berdasarkan akad bagi hasil:
a. Mudharabah, Akad mudharabah dalam pembiayaan adalah akad kerja sama
suatu usaha antara pihak pertama (malik, shahibul mal, atau bank syariah) yang
menyediakan seluruh modal dan pihak kedua (‘amil, mudharib, atau nasabah)
yang bertindak selaku pengelola dana dengan membagi keuntungan usaha
sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan dalam akad.
b. Akad musyarakah, adalah akad kerja sama di antara dua pihak atau lebih untuk
suatu usaha tertentu yang masing-masing pihak memberikan porsi dana dengan
ketentuan bahwa keuntungan akan dibagi sesuai dengan kesepakatan,
sedangkan kerugian ditanggung sesuai dengan porsi dana masingmasing.
4. Pembiayaan berdasarkan akad pinjam-meminjam yang bersifat sosial, Islam
sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin menganjurkan pemeluknya, di samping
melakukan usaha produktif untuk mencari karunia Illahi, juga mengemban misi
sosial sebagaimana terlihat dalam produk-produknya yang disalurkan kepada
masyarakat.
Sedangkan pada dasarnya, bentuk-bentuk produk pelayanan jasa perbankan yang
ada pada bank konvensional maupun bank syariah adalah sama. Menurut (Kasmir,
2012):
1. Kiriman uang (transfer), merupakan jasa pengiriman uang melalui bank.
Pengiriman uang dapat dilakukan pada bank yang sama atau bank yang berlainan.
2. Kliring, merupakan penagihan surat berharga, seperti cek, yang berasal dari dalam
kota.
3. Inkaso, merupakan penagihan surat berharga, seperti cek, yang berasal dari luar
kota atau luar negeri.
4. Safe deposit box, merupakan layanan jasa penyewaan kotak tempat menyimpan
surat-surat berharga milik nasabah.
5. Kartu kredit, merupakan layanan yang memudahkan nasabah untuk tidak perlu
membawa uang tunai saat bepergian.
11
6. Bank notes, merupakan jasa penukaran valuta asing. Dalam jual beli bank notes,
bank menggunakan kurs.
7. Bank garansi, merupakan jaminan bank yang diberikan kepada nasabah dalam
rangka membiayai suatu usaha.
8. Bank draft, merupakan wesel yang dapat diperjual-belikan.
9. Letter of Credit (L/C), suatu kredit yang diberikan yang digunakan untuk
melakukan pembayaran atas transaksi ekspor-impor.
Adapun bentuk-bentuk produk pelayanan jasa perbankan yang ada pada bank
syariah yaitu:
1. Hiwalah adalah pengalihan utang dari orang yang berutang kepada orang lain yang
wajib menanggungnya. Rukun hiwalah yaitu:
a. Muhil, yakni orang yang berutang dan sekaligus berpiutang.
b. Muhal yakni orang berpiutang kepada muhil.
c. Muhal ‘alaih, yakni orang yang berhutang kepada muhil dan wajib membayar
utang kepada muhal.
d. Muhal bih, yakni utang muhil kepada muhal.
e. Sighat (ijab qabul).
2. Akad kafalah adalah akad pemberian jaminan yang diberikan satu pihak kepada
pihak lain, dimana pemberi jaminan (kafil) bertanggung jawab atas pembayaran
kembali utang yang menjadi hak penerima jaminan (makful). Pernyataan ijab dan
qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka
dalam mengadakan kontrak (akad). Produk bank syariah, yaitu:
a. Kafalah bi nafsi, yaitu jaminan dari diri peminjam.
b. Kafalah bil maal, yaitu jaminan pembayaran utang atau pelunasan utang.
Aplikasinya dalam perbankan dapat berbentuk jaminan uang muka.
c. Kafalah muallaqah, yaitu jaminan mutlak yang dibatasi oleh kurunt
3. Akad wakalah adalah akad pemberian kuasa kepada penerima kuasa untuk
melaksanakan suatu tugas atas nama pemberi kuasa. Wakalah ada tiga macam,
yaitu:
a. Wakalah al mutlaqah, yaitu mewakilkan secara mutlak tanpa batasan waktu dan
untuk segala urusan.
12
b. Wakalah al muqayyadah, yaitu penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya
dalam urusan-urusan tertentu.
c. Wakalah al ammah, yaitu perwakilan yang lebih luas dari al muqayyadah, tetapi
lebih sederhana dari al mutlaqah.
4. Rahn, Menurut syariah, rahn adalah menahan sesuatu dengan cara yang dibenarkan
yang memungkinkan ditarik kembali. Dengan kata lain, rahn adalah akad berupa
menggadaikan barang dari satu pihak kepada pihak lain dengan utang sebagai
gantinya. Bank tidak boleh menarik manfaat apapun kecuali biaya pemeliharaan
atau keamanan barang yang digadaikan tersebut. Murtahin (penerima barang)
mempunyai hak untuk menahan marhun (barang) sampai semua hutang rahin (yang
menyerahkan barang) dilunasi. Bank tidak boleh menarik manfaat apapun kecuali
biaya pemeliharaan atau keamanan barang yang digadaikan tersebut. Murtahin
(penerima barang) mempunyai hak untuk menahan marhun (barang) sampai semua
hutang rahin (yang menyerahkan barang) dilunasi.
5. Sharf diartikan sebagai penambahan, penukaran, penghindaran, pemalingan, atau
transaksi jual beli. Secara istilah, sharf adalah perjanjian jual beli suatu valuta
dengan valuta lainnya. Transaksi jual beli mata uang pada prinsipnya boleh, dengan
ketentuan sebagai berikut:
a. Tidak untuk spekulasi (untung-untungan).
b. Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan).
c. Apabila berlainan jenis, maka harus dilakukan dengan nilai tukar (kurs) yang
berlaku pada saat transaksi dilakukan dan secara tunai.
Akad sharf dipraktikkan oleh bank syariah dalam produk jasa berupa tukar-
menukar mata uang asing dengan mendasarkan pada kurs jual dan kurs beli suatu
mata uang.

F. Lembaga Perbankan Syariah


Label syari'ah pada aktivitas suatu bisnis, dimaksudkan untuk memberikan
penekanan adanya penghindaran yang optimal terhadap unsur ribawiyyah yang
semestinya harus dielakkan baik dalam operasionalisasinya, produk-produknya,
maupun dalam teknis pengelolaannya.
13
Oleh sebab itulah untuk menjamin bahwa bank Islam dalam pengoperasiannya
tidak menyimpang dari tuntunan syari'ah, maka pada setiap bank Islam hanya diangkat
manajer dan pimpinan bank yang sedikit banyak menguasai prinsip muamalah Islam.
Selain daripada itu di bank ini dibentuk Dewan Pengawas Syari’ah (kalau
internasionalnya ada “The Higher Shariah Supervisory Council”) yang
bertugas mengawasi operasional bank dari sudut syari'ahnya.
Tahun 1963, muncul eksperimen pertama untuk merealisasi gagasan bank Islam
dalam praktek, yakni dengan didirikannya bank Islam Mit Ghamr di Mesir dengan
permodalan dibantu oleh Raja Faisal (Arab Saudi). Pada saat itu, umumnya penduduk
pedesaan di Mesir tidak bersedia berhubungan dengan bank, karena masih dianggap
mengembangkan riba dengan jalan membungakan uang. Kemudian dengan operasional
bank Islam Mit Ghamr yang tanpa bunga ini, ternyata disambut oleh masyarakat dengan
sangat antusias dan berhasil.
Keberhasilan operasional Bank Islam Mit Ghamr ditandai dengan pembukaan
sembilan cabang dalam waktu empat tahun dengan jumlah nasabah satu juta orang.
Namun pada tahun 1967 karena persoalan politik tertentu, bank ini ditutup pada tahun
1967, bank ini dan kesembilan cabangnya kemudian pengoperasinya diambil alih oleh
Bank Nasional Mesir dengan berdasarkan bunga.
Secara garis besar, lembaga-lembaga keuangan Islam dapat dimasukkan ke
dalam dua ketegori. Pertama, bank Islam komersial (Islamic Comercial Bank). Kedua,
lembaga investasi dalam bentuk International Holding Companies. Kemudian tahun
1971 didirikan Bank Social Nasser di Kairo Mesir, mulai beroperasi tahun 1972, bank
ini merupakan lembaga swasta yang memiliki otonomi sendiri. Kegiatanya terutama
dalam bidang sosial seperti memberikan pinjaman keuangan bebas bunga untuk proyek-
proyek kecil atas dasar bagi untung dan membantu kaum miskin.
Sedangkan bank Islam komersial (Islamic Comersial Bank) pertama kali
didirikan adalah Dubai Islamic Bank yang didirikan pada bulan Maret 1975. Berikutnya
tahun 1975 berdiri bank Islam Dubai merupakan usaha swasta terbatas dengan modal
awal 50-an juta dirham. Pemerintah Kuwait memberikan kontribusi sebesar 20% dari
modal total. Sejak itu, bank-bank Islam banyak didirikan di berbagai negara. Pada tahun
1984 terdapat sekitar 38 bank Islam di dunia, serta sekitar 20 lembaga keuangan dan
14
investasi Islam yang menyelenggarakan kegiatannya berdasarkan syari'at Islam.
Lembaga Perbankan Islam yang ada di dunia antara lain:
1. Bank Al Rajhi: Bank Islam terbesar di dunia yang berpusat di Arab Saudi.
2. IDB (Islamic Development Bank): Didirikan di Jeddah pada tahun 1975.
3. Dubai Islamic Bank: Didirikan pada tahun 1975.
4. Faisal Islamic Bank: Didirikan di Sudan pada tahun 1975.
5. Kuwait Finance House: Didirikan di Kuwait pada tahun 1977.
6. Jordan Islamic Bank: Didirikan di Jordan.
7. Bahrain Islamic Bank: Didirikan di Bahrain.
8. Iran Islamic Bank: Didirikan di Iran.
9. Islamic International Bank: Didirikan di Cairo.
10. Dar-al-Mal al-Islami: Didirikan di Switzerland.
Sedangkan lembaga Perbankan Islam yang ada di Indonesia meliputi:
1. Bank Muamalat Indonesia: Bank Islam pertama di Indonesia yang didirikan pada 1
November 1991.
2. Bank Syariah Indonesia (BSI): Bank syariah terbesar di Indonesia yang merupakan
hasil merger dari PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank
Syariah Mandiri.
3. PT BPRS AlMasoem: Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.
4. PT BPRS Harta Insan Karimah Bekasi: Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.
5. PT BPRS Mulia Berkah Abadi: Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

G. Perbedaan Perbankan Islam dan Perbankan Konvensional


Bank Konvensional dan Bank Syariah dalam beberapa hal memiliki persamaan,
terutama dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi komputer
yang digunakan, persyaratan umum pembiayaan, dan lain sebagainya. Perbedaan antara
Bank Konvensional dan Bank Syariah menyangkut aspek legal, struktur organisasi,
usaha yang dibiayai, dan lingkungan kerja.
1. Akad dan Aspek Legal
Akad yang dilakukan dalam Bank Syariah memiliki konsekuensi duniawi dan
ukhrawi karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum Islam. Nasabah seringkali
15
berani melanggar kesepakatan/perjanjian yang telah dilakukan bila hukum itu
hanya berdasarkan hukum positif belaka, tapi tidak demikian bila perjanjian
tersebut memiliki pertanggungjawaban hingga yaumil qiyamah nanti. Setiap akad
dalam perbankan syariah, baik dalam hal barang, pelaku transaksi, maupun
ketentuan lainnya harus memenuhi ketentuan akad.
2. Struktur Organisasi
Bank Syariah dapat memiliki struktur yang sama dengan Bank Konvensional,
misalnya dalam hal komisaris dan direksi, tetapi unsur yang amat membedakan
antara Bank Syariah dan Bank Konvensional adalah keharusan adanya Dewan
Pengawas Syariah yang berfungsi mengawasi operasional bank dan produk-
produknya agar tidak bertentangan dengan syariah (Bank Indonesia, 1999:20).
Dewan Pengawas Syariah biasanya diletakkan pada posisi setingkat Dewan
Komisaris pada setiap bank. Hal ini untuk menjamin efektivitas dari setiap opini
yang diberikan oleh Dewan Pengawas Syariah. Karena itu biasanya penetapan
anggota Dewan Pengawas Syariah dilakukan oleh Rapat Umum Pemegang Saham,
setelah para anggota Dewan Pengawas Syariah itu mendapat rekomendasi dari
Dewan Syariah Nasional. Adapun struktur organisasi Bank Syariah dapat dilihat
pada gambar berikut:

16
3. Bisnis dan Usaha yang Dibiayai
Bisnis dan usaha yang dilaksanakan Bank Syariah, tidak terlepas dari kriteria
syariah. Hal tersebut menyebabkan Bank Syariah tidak akan mungkin membiayai
usaha yang mengandung unsur-unsur yang diharamkan. Terdapat sejumlah batasan
dalam hal pembiayaan. Tidak semua proyek atau objek pembiayaan dapat didanai
melalui dana Bank Syariah, namun harus sesuai dengan kaidah-kaidah syariah.
4. Lingkungan dan Budaya Kerja
Sebuah Bank Syariah selayaknya memiliki lingkungan kerja yang sejalan dengan
syariah. Dalam hal etika, misalnya sifat amânah dan shiddiq, harus melandasi setiap
karyawan sehingga tercermin integritas eksekutif muslim yang baik, selain itu
karyawan Bank Syariah harus profesional (fathanah), dan mampu melakukan tugas
secara team-work dimana informasi merata diseluruh fungsional organisasi
(tabligh). Dalam hal reward dan punishment, diperlukan prinsip keadilan yang
sesuai dengan syariah.
Selain hal diatas, terdapat pula beberapa hal mengenai perbedaan antara Bank
Syariah dengan Bank Konvensional, sebagai berikut:
1. Perbedaan Falsafah
Perbedaan pokok antara Bank Konvensional dengan Bank Syariah terletak
pada landasan falsafah yang dianutnya. Bank Syariah tidak melaksanakan sistem
bunga dalam seluruh aktivitasnya sedangkan bank konvensional justru
kebalikannya. Hal inilah yang menjadi perbedaan yang sangat mendalam terhadap
produk-produk yang dikembangkan oleh Bank Syariah, dimana untuk menghindari
sistem bunga maka sistem yang dikembangkan adalah jual beli serta kemitraan
yang dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil. Dengan demikian sebenarnya semua
jenis transaksi perniagaan melalui Bank Syariah diperbolehkan asalkan tidak
mengandung unsur bunga (riba). Riba secara sederhana berarti sistem bunga
berbunga yang dalam semua prosesnya bisa mengakibatkan membengkaknya
kewajiban salah satu pihak. Riba, sangat berpotensi untuk mengakibatkan
keuntungan besar di suatu pihak namun kerugian besar di pihak lain, atau malah ke
dua-duanya.

17
2. Kewajiban Mengelola Zakat, Infak dan Sedekah
Bank Syariah diwajibkan menjadi pengelola zakat yaitu dalam arti wajib
membayar zakat, menghimpun, dan mendistribusikannya. Hal ini merupakan fungsi
dan peran yang melekat pada Bank Syariah untuk penggunaan dana-dana sosial
(zakat, infak, sedekah). Sebagaimana yang tercantum dalam UU No.21 Tahun 2008
Pasal 4 Ayat (2) : Bank Syariah dan UUS dapat menjalankan fungsi sosial dalam
bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak,
sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada organisasi
pengelola zakat.
3. Produk
Bank Syariah tidak memberikan pinjaman dalam bentuk uang tunai, tetapi
bekerja sama atas dasar kemitraan, seperti prinsip bagi hasil (mudhârabah ), prinsip
penyertaan modal (musyârakah), prinsip jual beli (murâbahah), dan prinsip sewa
(ijarah). Sedangkan pada Bank Konvensional terdapat deposito, pinjaman uang
tunai berbunga.
4. Tujuan dan Fungsi
Sistem Perbankan Syariah, seperti halnya aspek-aspek lain dari pandangan
hidup islam, merupakan sarana pendukung untuk mewujudkan tujuan dari sistem
sosial dan ekonomi islam. Beberapa tujuan dan fungsi penting yang dari sistem
Perbankan Syariah adalah:
a. Kemakmuran ekonomi yang meluas dengan tingkat kerja yang penuh dan
tingkat pertumbuhan ekonomi yang optimum (economic well-being with full
employment and optimum rate of economic growth).
b. Keadilan sosial-ekonomi, distribusi pendapatan dan kekayaan yang merata
(socioeconomic justice and equitable distribution of income and wealth).
c. Stabilitas nilai uang untuk memungkinkan alat tukar tersebut menjadi suatu unit
perhitungan yang terpercaya, standar pembayaran yang adil dan nilai simpanan
yang stabil (stability in the value of money).

18
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bank syariah beroperasi tanpa bunga (riba) dan lebih menekankan pada
kemitraan, pembagian risiko, dan investasi berbasis aset. Model ini menarik bagi
berbagai kalangan, tidak hanya umat Muslim, karena pendekatannya yang etis dan adil
dalam transaksi keuangan. Di banyak negara, bank syariah telah diakui dan diatur secara
resmi, memungkinkan mereka untuk beroperasi sejajar dengan bank konvensional.
Selain itu, bank syariah juga telah menunjukkan ketahanan yang kuat selama krisis
keuangan akibat model bisnisnya yang berbeda. Meskipun masih menghadapi tantangan
seperti kurangnya pemahaman dan akses di beberapa wilayah, industri perbankan
syariah terus tumbuh dan berinovasi untuk memenuhi kebutuhan pasar global yang
beragam.

19
DAFTAR PUSTAKA

Achsien, Iggi H. (2003). Investasi Syari’ah di Pasar Modal. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Arief, Abd. Salam. (2000). Bank Islam: Suatu Alternatif Pemberdayaan Ekonomi
Umat. Yogyakarta: Jurnal Ilmu Syari'ah Asy-Syir'ah, No. 7.
Devid F. A. S, Selamet. H. (2020). SEJARAH PERBANKAN SYARIAH (DARI
KONSEPTUAL HINGGA INSTITUSIONAL). Journal of Islamic Banking.
Djazuli, A & Djazuli dan Yanuari, Y. (2001). Lembaga-lembaga Perekonomian Umat.
Jakarta: Rajawali Press.
Fatriani, R. (2018). Bentuk-bentuk Produk Bank Konvensional dan Bank Syariah di
Indonesia. Ensiklopedia of Journal, 1(1).
Harahap. M. G, Evriyenni, dkk. (2023). Perbankan Syariah: Teori, Konsep &
Implementasi. Sada Kurnia Pustaka.
Kamali, Muhammad Hashim. (2000). Islamic Commercial Law: An Analysis of Futures
and Options. Cambridge : The Islamic Texts Society.
Kamsil, C.S. T, dkk. (2002). Pokok-pokok Pengetahuan Hukum Dagang Indonesia.
Jakarta: Sinar Grafika.
Mairijani. (2012). Analisis SWOT Perkembangan Bank Syariah. Jurnal Hukum Islam
10(1), 201-220.
Mooduto, M. Arie. (2003). Mengenal lebih jauh Sistem dan Instrumen Manajemen
Resiko Lembaga Keuangan Islam. Seminar Nasional Shariah Economic Forum
Universitas Gajah Mada.
Muhammad F, N, H, dkk. (2005). Konsep dan Implementasi Bank Syariah. Jakarta:
Renaisan.
Muhith, A. (2012). SEJARAH PERBANKAN SYARIAH. Jurnal Kajian Keislaman dan
Pendidikan Vol. 1.
Najib, M, A. (2017). PENGUATAN PRINSIP SYARIAH PADA PRODUK BANK
SYARIAH. Jurnal Jurisprudence 7(1), 15-28. [online]. Diakses dari:
[Link]

20
Nuhyatia, I. (2013). Penerapan dan Aplikasi Akad Wakalah pada Produk Jasa Bank
Syariah. Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, 3(2), 23.
Saeed, Abdullah. (1996). Islamic Banking and Interest: A Study of The Prohibition of
Riba and Its Contemporery Interpretation. Leiden: New York: Koln: Brill.
Sobarna, N. (2021). Analisis Perbedaan Perbankan Syariah dengan Perbankan
Konvensional. Eco-Iqtishodi: Jurnal Ilmiah Ekonomi Dan Keuangan Syariah,
3(1), 51-62.

21

Anda mungkin juga menyukai