Perbankan Syariah: Konsep dan Sejarah
Perbankan Syariah: Konsep dan Sejarah
Dosen Pengampu:
H. Isnen Munandar, [Link].
Oleh:
Kelompok Ustman Bin Affan
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan
rahmatnya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu tanpa ada halangan
yang berarti dan sesuai dengan harapan.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Bapak H. Isnen Munandar, [Link].
sebagai dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Agama Islam III yang telah membantu
memberikan arahan dan pemahaman dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan
karena keterbatasan kami. Maka dari itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan
saran untuk menyempurnakan makalah ini. Semoga apa yang ditulis dapat bermanfaat
bagi semua pihak yang membutuhkan.
i
DAFTAR ISI
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sehubungan dengan prinsip syari’ah mu’amalah, bahwa dalam pergaulan sesama
mahluk di dunia ini disandarkan pada etika Islam. Jadi segala bentuk mu’amalah dalam
segala aspeknya menjadikan al-Qur'an dan as-sunnah sebagai epistemologi utama
(Achsin, 2003: 2). Kepada umat Islam sangat dianjurkan agar senantiasa berkreasi dan
melakukan inovasi dalam segala hal, terutama dalam hal mu’amalah, sehingga segala
aktifitasnya senantiasa mendukung kepada pencapaian kesejahteraan/memenuhi
kebutuhan umat (a public need/hajjat an-nass) dan untuk mengatasi kesulitan yang
dihadapi (raf ‘ul al-haraj) (Kamali, 2000: 85). Hal inilah yang telah menjadikan
perbankan Islam mendapat sokongan untuk terus hidup dalam membantu umat dalam
interaksinya dengan aktifitas bisnis. Tetapi kemudian, kenyataan yang kita hadapi
sekarang adalah lembaga keuangan Islam masih lebih merupakan proyek idealis
daripada proyek komersial. Tujuannya lebih mengarah kepada usaha pelaksanaan
prinsip-prinsip syari'ah di bidang ekonomi, dan belum begitu didasarkan pada motif
ekonomi, yakni “mengejar keuntungan” dan pertumbuhan ekonomi yang merupakan
kepentingan masyarakat pada umumnya (improving the quality of services and in
enhancing social welfare) (Mooduto, 2003).
Kemudian yang masih menjadi kendala utama adalah interpretasi yang berlebih-
lebihan terhadap makna riba, sehingga dalam kontek kekinian hal ini menjadi kendala,
bagaimana mempertemukan antara teori dengan prakteknya. Kebutuhan yang paling
utama adalah melakukan perubahan bentuk dari mekanisme lama (klasik) menjadi
mekanisme modern (Saeed, 1996: 2-3). Kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa dalam
hal ini, karena memang perkembangan perbankan Islam sendiri tidak lepas dari sejarah
awalnya.
Perbankan Islam merupakan suatu fenomena yang semakin mendapat perhatian
dewasa ini. Ide ini tercetus dari keinginan yang besar di kalangan umat Islam untuk
melaksanakan Islam dalam kehidupan. Dalam usaha merialisasikan keinginan ini,
mereka berpendapat bahawa Islam tidak mungkin dapat dilakukan melalui perubahan
1
secara total (inqilabi) yaitu dengan menegakkan khilafah sebaliknya melakukan
perubahan secara bertahap dan berangsur-angsur (islahi).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian Perbankan Syariah?
2. Bagaimana sejarah Perbankan Syariah di dunia internasional?
3. Bagaimana sejarah Perbankan Syariah di Indonesia?
4. Bagaimana dasar-dasar hukum Perbankan Syariah?
5. Apa saja produk-produk Perbankan Syariah?
6. Apa saja lembaga-lembaga Perbankan Syariah?
7. Bagaimana perbedaan Perbankan Syariah dengan Perbankan Konvensional?
C. Tujuan
1. Memahami pengertian Perbankan Syariah.
2. Mengetahui sejarah Perbankan Syariah di dunia internasional.
3. Mengetahui sejarah Perbankan Syariah di Indonesia.
4. Memahami berbagai dasar hukum Perbankan Syariah.
5. Mengetahui berbagai produk-produk Perbankan Syariah.
6. Mengetahui berbagai lembaga-lembaga Perbankan Syariah.
7. Memahami perbedaan Perbankan Syariah dengan Perbankan Konvensional.
2
BAB II
PEMBAHASAN
4
Secara kolektif gagasan awal berdirinya bank syari’ah di tingkat internasional,
muncul pertama kali dalam konfrensi negara-negara Islam se-dunia di Kuala Lumpur
Malaysia pada bulan april 1969, yang di ikuti 19 negara peserta. Dari hasil konferensi
tersebut lahir beberapa hal, diantaranya:
1. Tiap keuntungan haruslah tunduk kepada hukum untung dan rugi, jika tidak ia
termasuk riba dan riba itu sedikit/banyak haram hukumnya.
2. Diusulkan supaya dibentuk suatu bank syari’ah yang bersih dari sistem riba dalam
waktu secepat mungkin.
3. Sementara waktu menunggu berdirinya bank syari’ah, bank-bank yang menerapkan
bunga diperbolehkan beroprasi, namun jika benarbenar dalam keadaan darurat.
Kemudian untuk melebarkan kiprah Perbankan Islam di dunia Internasioanl
pemerintah Mesir dalam hal ini terwakili oleh menteri luar negeri mengajukan proposal
tentang studi pendirian bank Islam internasional untuk pembangunan dan perdagangan
serta pengajuan proposal pendirian fedrasi bank Islam dalam rapat menteri luar negeri
Negara-negara Organisasi Konfrensi Islam (OKI) yang saat itu di Karchi Pakistan,
bulan Desember 1970.
Dalam persetujuan pengesahan proposal itu juga memberikan beberapa usulan
tambahan yaitu pembentukan badan infestasi dan pembangunan Negara-negara Islam,
serta pembentukan asosiasi bank-bank Islam sebagai badan konsultatif masalah-masalah
ekonomi dan perbankkan Islam. Kemudian dalam follow up-nya pada sidang menteri
luar negeri OKI di Benghazi Libya bulan maret 1973 rencana tersebut kembali
diagendakan dengan menghasilkan beberapa kesimpulan, sampai pada berikutnya pada
bulan Juli 1973 diadakan pertemuan komite ahli, perwakilan dari Negaranegara Islam
penghasil minyak yang bertemu di Jeddah dengan pembahasan agenda yang sama
(pendirian bank Islam). Kemudian dalam follow up-nya yang kedua pertemuan antara
menteri-menteri luar negeri OKI di Jeddah menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan
IDB (Islamic Defloment Bank) yang bermodalkan awal 20 Milyar Dinar atau ekuivalen
2 Milyar SDR (Special Drawing Right) IMF dengan beranggotakan semua Negara OKI.
Kemudian dalam dekade awal 1980-an setelah resmi didirikannya IDB dalam
hasil kesepakatn pertemuan beberpa menteri luar negeri OKI di Jeddah, tumbuh
beberapa Bank- Bank Islam lainnya yaitu Dubai Islamic Bank pada tahun 1975 yang
5
dalam kedudukannya adalah sebagai Bank Islam swasta pertama kali, Faysal Islamic
Bank yang berdiri di Mesir dan Jedah pada tahun 1977, Kuwait Fenance House pada
tahun 1975, Jordan Islamic Bank for Finance and Investment, Bahrain Islamic Bank
dan Islamic International Bank for Finance and Development atau lembaga investasi
dengan bentuk international holding companies, seperti Daar Al-Maal Al-Islami
(Geneva), Islamic Investment Company of the Gulf, Islamic Investment Company
(Bahama), Islamic Investment Company (Sudan), Bahrain Islamic Investment Bank
(Manama) dan Islamic Investment House (Amman).
Dalam perkembangan berikutnya, sistem perbankan syari’ah mendapatkan
sambutan baik di mata internasional terbukti pada bulan Agustus 1998 tercatat ada 200
buah, di antaranya 160 berupa bank, dan sisanya adalah lembaga keuangan non bank,
ini semua memang terpengaruh dari sistem menejemen syari’ah yang berorientasi pada
etika bisnis yang sehat. Tak hanya itu perkembangan perbankkan Islam juga merambah
pada negara-negara non Islam yang jumlahnya pun juga relatif besar. Lain dari itu atas
prestasinya dalam menggaet perhatian internasional kedudukan bank syariah berhasil
menjalin kerjasama dengan bank konvensional untuk menawarkan produk-produk bank
syar’iah. Hal tersebut terlihat dari tindakan beberapa bank konvensional yang membuka
sistem tertentu di dalam masing-masing bank dalam menawarkan produk bank syari’ah,
misalnya Islamic Windows di Malaysia, The Islamic Transaction di cabang Bank Mesir,
dan The Islamic Services di cabang-cabang bank perdagangan Arab Saudi. Produk-
produk investment banking yang islami juga di tawarkan oleh Fund Manager
Konfensional.
6
Kebutuhan masyarakat tersebut telah terjawab dengan terwujudnya sistem
perbankan yang sesuai syariah. Pemerintah telah memasukkan kemungkinan tersebut
dalam undang-undang yang baru. Undang-Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan
secara implisit telah membuka peluang kegiatan usaha perbankan yang memiliki dasar
operasional bagi hasil yang secara rinci dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah No. 72
Tahun 1992 tentang Bank Berdasarkan Prinsip Bagi Hasil. Ketentuan tersebut telah
dijadikan sebagai dasar hukum beroperasinya Bank syariah di Indonesia. Periode 1992
sampai 1998, hanya terdapat satu Bank Umum Syariah dan 78 Bank Perkreditan Rakyat
Syariah (BPRS) yang telah beroperasi.
Tahun 1998 muncul UU No. 10 tahun 1998 tentang perubahan UU No 7 Tahun
1992 tentang perbankan. Perubahan UU tersebut menimbulkan beberapa perubahan
yang memberikan peluang yang lebih besar bagi pengembangan Bank syariah. Undang-
undang tesebut telah mengatur secara rinci landasan hukum serta jenis-jenis usaha yang
dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh Bank syariah. Undang-undang tersebut
juga memberikan arahan bagi Bank konvensional untuk membuka cabang syariah atau
bahkan mengkonversi diri secara total menjadi Bank syariah.
Akhir tahun 1999, bersamaan dengan dikeluarkannya UU perbankan maka
munculah bank-bank syariah umum dan Bank umum yang membuka unit usaha syariah.
Sejak beroperasinya Bank Muamalat Indonesia (BMI), sebagai Bank syariah yang
pertama pada tahun 1992, data Bank Indonesia per 30 Mei 2007 menunjukkan bahwa
saat ini perbankan syariah nasional telah tumbuh cepat, ketika pelakunya terdiri atas 3
Bank Umum Syariah (BUS) antara lain: Bank Muamalat, Bank syariah Mandiri, 23 Unit
Usaha Syariah (UUS), dan 106 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), sedangkan
asset kelolaan perbankan syariah nasional per Mei 2007 telah berjumlah Rp. 29 triliyun.
Perkembangan Bank umum syariah dan Bank konvensional yang membuka cabang
syariah juga didukung dengan tetap bertahannya Bank syariah pada saat perbankan
nasional mengalami krisis cukup parah pada tahun 1998.
Sistem bagi hasil perbankan syariah yang diterapkan dalam produk-produk Bank
Muamalat menjadikan bank tersebut relatif lebih mampu mempertahankan kinerjanya
dan tidak bergantung pada tingkat suku bunga simpanan yang melonjak sehingga, beban
operasionalnya lebih rendah dari bank konvensional.
7
D. Dasar Hukum Perbankan Syariah
Hukum bank syariah dengan bank konvensional sangat berbeda. Undang-undang
yang berlaku saat ini merupakan dasar hukum bagi Perbankan Syariah. Hal ini sesuai
dengan prinsip yang diterapkan dalam menjalankan peran bank syariah yaitu berasaskan
syariah, disamping itu juga mengacu pada demokrasi ekonomi serta prinsip kehati-
hatian. Demokrasi ekonomi itu sendiri merupakan aktivitas ekonomi yang menganut
nilai keadilan, kebersamaan, pemerataan dana kemanfaatan. Prinsip kehati-hatian dalam
dasar hukum Perbankan Syariah dimaknai sebagai pengelolaan yang sehat, kuat dan
efisien serta mengacu pada aturan perundang-undangan.
Di Indonesia, secara hierarki terdapat 2 dasar hukum perbankan syariah yaitu
umum dan khusus. Secara umum meliputi:
1. UUD 1945 dalam ketentuan yang mengatur Perekonomian Negara dan Prinsip
Demokrasi Ekonomi.
2. UU RI No. 7/1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan UU RI No.
10/1998 tentang Perbankan.
3. UU RI No. 23/1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UU
RI No. 3/2004 tentang Bank Indonesia.
4. UU RI No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas.
5. UU RI No. 21/2008 tentang Perbankan Syariah.
6. UU RI No. 21/2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.
7. Peraturan BI dan Peraturan OJK sebagai peraturan pelaksanaan UU.
Selanjutnya, hierarki secara khusus dasar hukum perbankan syariah meliputi:
1. UU No. 21/2008 tentang Perbankan Syariah.
2. Peraturan BI dan Peraturan OJK sebagai peraturan pelaksanaan UU.
Landasan hukum bank syariah telah mengalami perubahan, hal ini dapat terjadi
disebabkan adanya pembaharuan dalam hukum yang menyesuaikan dengan kondisi
yang ada. Begitu juga dengan perubahan dasar hukum bank syariah. Berikut 3 garis
besar dasar hukum bank syariah:
1. UU No. 7 tahun 1992. Merupakan dasar hukum pertama yang muncul dalam
sejarah bank syariah di Indonesia. Pada saat UU ini berlaku, bank yang mengadopsi
8
hukum Islam masih dalam bentuk Bank Perkreditan Rakyat dalam skema bagi
hasil.
2. UU No. 10 tahun 1998. UU ini terbentuk dari kompleksnya kegiatan perekonomian
sehingga dilakukan pembaharuan. Dalam UU ini mengelaborasi terkait pengertian
serta prinsip bank syariah.
3. UU No.21 tahun 2008. Pembahasan terkait bank syariah sudah sangat jelas
membahas mengenai perbankan syariah hingga meliputi jenis usaha, penyaluran
dana, kelayakan usaha, hingga resiko yang mungkin muncul dalam Perbankan
Syariah.
ٍ ٰٰۤيـاَيُّ َها الَّ ِذيْنَ ٰا َمنُ ْوا ََل تَأْ ُكلُ ٰۤ ْوا اَ ْم َوا لَـ ُك ْم بَ ْينَ ُك ْم ِبا ْلبَا ِط ِل ا َّ َِٰۤل اَ ْن تَ ُك ْونَ تِ َجا َرة ً َع ْن تَ َرا
ض
ّٰللا َكا نَ بِ ُك ْم َر ِح ْي ًما
َ س ُك ْم ۗ ا َِّن ه َ ُِم ْن ُك ْم ۗ َو ََل تَ ْقتُلُ ٰۤ ْوا اَ ْنـف
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dengan jalan perdagangan yang
berlaku atas dasar suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh
dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu".
Dalam hal ini Rasululullah di dalam haditsnya yang diriwayatkan Abu Hurairah
Rǎdiyallahu ‘Anhu bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu masa, di mana orang
tidak lagi peduli tentang apa dan bagaimana sesuatu yang diperolehnya, apakah dari
yang halal ataukah dari yang haram” (HR. Bukhari). Penjelasan dari Al-Qur’an dan
Hadits tersebut mengisyaratkan pentingnya kehati-hatian dalam melakukan berbagai
transaksi dan pentingnya mengetahui hukum dan prinsip syariah pada setiap transaksi
9
baik dalam skala makro ataupun mikro. Karena setiap transaksi yang salah dan haram
akan berimplikasi kepada tidak sahnya sebuah akad dan ketika sebuah akad tidak sah,
akan mendapat dosa yang harus ditanggung pelakunya dan menyebabkan kerugian dan
kesengsaraan dunia dan akhirat.
16
3. Bisnis dan Usaha yang Dibiayai
Bisnis dan usaha yang dilaksanakan Bank Syariah, tidak terlepas dari kriteria
syariah. Hal tersebut menyebabkan Bank Syariah tidak akan mungkin membiayai
usaha yang mengandung unsur-unsur yang diharamkan. Terdapat sejumlah batasan
dalam hal pembiayaan. Tidak semua proyek atau objek pembiayaan dapat didanai
melalui dana Bank Syariah, namun harus sesuai dengan kaidah-kaidah syariah.
4. Lingkungan dan Budaya Kerja
Sebuah Bank Syariah selayaknya memiliki lingkungan kerja yang sejalan dengan
syariah. Dalam hal etika, misalnya sifat amânah dan shiddiq, harus melandasi setiap
karyawan sehingga tercermin integritas eksekutif muslim yang baik, selain itu
karyawan Bank Syariah harus profesional (fathanah), dan mampu melakukan tugas
secara team-work dimana informasi merata diseluruh fungsional organisasi
(tabligh). Dalam hal reward dan punishment, diperlukan prinsip keadilan yang
sesuai dengan syariah.
Selain hal diatas, terdapat pula beberapa hal mengenai perbedaan antara Bank
Syariah dengan Bank Konvensional, sebagai berikut:
1. Perbedaan Falsafah
Perbedaan pokok antara Bank Konvensional dengan Bank Syariah terletak
pada landasan falsafah yang dianutnya. Bank Syariah tidak melaksanakan sistem
bunga dalam seluruh aktivitasnya sedangkan bank konvensional justru
kebalikannya. Hal inilah yang menjadi perbedaan yang sangat mendalam terhadap
produk-produk yang dikembangkan oleh Bank Syariah, dimana untuk menghindari
sistem bunga maka sistem yang dikembangkan adalah jual beli serta kemitraan
yang dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil. Dengan demikian sebenarnya semua
jenis transaksi perniagaan melalui Bank Syariah diperbolehkan asalkan tidak
mengandung unsur bunga (riba). Riba secara sederhana berarti sistem bunga
berbunga yang dalam semua prosesnya bisa mengakibatkan membengkaknya
kewajiban salah satu pihak. Riba, sangat berpotensi untuk mengakibatkan
keuntungan besar di suatu pihak namun kerugian besar di pihak lain, atau malah ke
dua-duanya.
17
2. Kewajiban Mengelola Zakat, Infak dan Sedekah
Bank Syariah diwajibkan menjadi pengelola zakat yaitu dalam arti wajib
membayar zakat, menghimpun, dan mendistribusikannya. Hal ini merupakan fungsi
dan peran yang melekat pada Bank Syariah untuk penggunaan dana-dana sosial
(zakat, infak, sedekah). Sebagaimana yang tercantum dalam UU No.21 Tahun 2008
Pasal 4 Ayat (2) : Bank Syariah dan UUS dapat menjalankan fungsi sosial dalam
bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak,
sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada organisasi
pengelola zakat.
3. Produk
Bank Syariah tidak memberikan pinjaman dalam bentuk uang tunai, tetapi
bekerja sama atas dasar kemitraan, seperti prinsip bagi hasil (mudhârabah ), prinsip
penyertaan modal (musyârakah), prinsip jual beli (murâbahah), dan prinsip sewa
(ijarah). Sedangkan pada Bank Konvensional terdapat deposito, pinjaman uang
tunai berbunga.
4. Tujuan dan Fungsi
Sistem Perbankan Syariah, seperti halnya aspek-aspek lain dari pandangan
hidup islam, merupakan sarana pendukung untuk mewujudkan tujuan dari sistem
sosial dan ekonomi islam. Beberapa tujuan dan fungsi penting yang dari sistem
Perbankan Syariah adalah:
a. Kemakmuran ekonomi yang meluas dengan tingkat kerja yang penuh dan
tingkat pertumbuhan ekonomi yang optimum (economic well-being with full
employment and optimum rate of economic growth).
b. Keadilan sosial-ekonomi, distribusi pendapatan dan kekayaan yang merata
(socioeconomic justice and equitable distribution of income and wealth).
c. Stabilitas nilai uang untuk memungkinkan alat tukar tersebut menjadi suatu unit
perhitungan yang terpercaya, standar pembayaran yang adil dan nilai simpanan
yang stabil (stability in the value of money).
18
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bank syariah beroperasi tanpa bunga (riba) dan lebih menekankan pada
kemitraan, pembagian risiko, dan investasi berbasis aset. Model ini menarik bagi
berbagai kalangan, tidak hanya umat Muslim, karena pendekatannya yang etis dan adil
dalam transaksi keuangan. Di banyak negara, bank syariah telah diakui dan diatur secara
resmi, memungkinkan mereka untuk beroperasi sejajar dengan bank konvensional.
Selain itu, bank syariah juga telah menunjukkan ketahanan yang kuat selama krisis
keuangan akibat model bisnisnya yang berbeda. Meskipun masih menghadapi tantangan
seperti kurangnya pemahaman dan akses di beberapa wilayah, industri perbankan
syariah terus tumbuh dan berinovasi untuk memenuhi kebutuhan pasar global yang
beragam.
19
DAFTAR PUSTAKA
Achsien, Iggi H. (2003). Investasi Syari’ah di Pasar Modal. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.
Arief, Abd. Salam. (2000). Bank Islam: Suatu Alternatif Pemberdayaan Ekonomi
Umat. Yogyakarta: Jurnal Ilmu Syari'ah Asy-Syir'ah, No. 7.
Devid F. A. S, Selamet. H. (2020). SEJARAH PERBANKAN SYARIAH (DARI
KONSEPTUAL HINGGA INSTITUSIONAL). Journal of Islamic Banking.
Djazuli, A & Djazuli dan Yanuari, Y. (2001). Lembaga-lembaga Perekonomian Umat.
Jakarta: Rajawali Press.
Fatriani, R. (2018). Bentuk-bentuk Produk Bank Konvensional dan Bank Syariah di
Indonesia. Ensiklopedia of Journal, 1(1).
Harahap. M. G, Evriyenni, dkk. (2023). Perbankan Syariah: Teori, Konsep &
Implementasi. Sada Kurnia Pustaka.
Kamali, Muhammad Hashim. (2000). Islamic Commercial Law: An Analysis of Futures
and Options. Cambridge : The Islamic Texts Society.
Kamsil, C.S. T, dkk. (2002). Pokok-pokok Pengetahuan Hukum Dagang Indonesia.
Jakarta: Sinar Grafika.
Mairijani. (2012). Analisis SWOT Perkembangan Bank Syariah. Jurnal Hukum Islam
10(1), 201-220.
Mooduto, M. Arie. (2003). Mengenal lebih jauh Sistem dan Instrumen Manajemen
Resiko Lembaga Keuangan Islam. Seminar Nasional Shariah Economic Forum
Universitas Gajah Mada.
Muhammad F, N, H, dkk. (2005). Konsep dan Implementasi Bank Syariah. Jakarta:
Renaisan.
Muhith, A. (2012). SEJARAH PERBANKAN SYARIAH. Jurnal Kajian Keislaman dan
Pendidikan Vol. 1.
Najib, M, A. (2017). PENGUATAN PRINSIP SYARIAH PADA PRODUK BANK
SYARIAH. Jurnal Jurisprudence 7(1), 15-28. [online]. Diakses dari:
[Link]
20
Nuhyatia, I. (2013). Penerapan dan Aplikasi Akad Wakalah pada Produk Jasa Bank
Syariah. Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, 3(2), 23.
Saeed, Abdullah. (1996). Islamic Banking and Interest: A Study of The Prohibition of
Riba and Its Contemporery Interpretation. Leiden: New York: Koln: Brill.
Sobarna, N. (2021). Analisis Perbedaan Perbankan Syariah dengan Perbankan
Konvensional. Eco-Iqtishodi: Jurnal Ilmiah Ekonomi Dan Keuangan Syariah,
3(1), 51-62.
21