0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan101 halaman

Fotokatalis MnO untuk Degradasi Biru Metilen

Msmsixjdnndjsmm

Diunggah oleh

Rehan Muffadillah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan101 halaman

Fotokatalis MnO untuk Degradasi Biru Metilen

Msmsixjdnndjsmm

Diunggah oleh

Rehan Muffadillah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

APLIKASI FOTOKATALIS MnO/KARBON AKTIF DAN

MnO/BENTONIT UNTUK DEGRADASI BIRU METILEN

SKRIPSI

OLEH:

ARDHEA SYAFITRI
NIM. 1603111196

PROGRAM STUDI S1 KIMIA


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2023
Aplikasi Fotokatalis MnO/Karbon Aktif dan MnO/Bentonit
Untuk Degradasi Biru Metilen

Disetujui oleh:

H
NIP.1

Pembimbing I
Diketahui oleh,
Ketua Jurusan Kimia

Prof. Dr. Amir Awaluddin, [Link]


NIP.19621217 198903 1 001

[Link] Anita, [Link]


NIP.19650420199103 2 005

i
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirabbil’alamin Puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu
Wata’ala karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan hasil
penelitian yang berjudul “Aplikasi Fotokatalis MnO/Karbon Aktif dan
MnO/Bentonit Untuk Degradasi Biru Metilen”. Skripsi ini disusun sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains di jurusan Kimia Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Skripsi ini tidak terlepas dari
do’a, dukungan dan bimbingan dari orang-orang terdekat serta berbagai pihak
yang turut serta dalam memberikan bantuan kepada penulis. Selanjutnya dengan
segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada :
1. Bapak Dr. Syamsudhuha, [Link] selaku Dekan FMIPA Universitas Riau.
2. Ibu Dr. Sofia Anita, [Link] selaku Ketua Jurusan Kimia FMIPA
Universitas Riau.
3. Ibu Yuana Nurulita, Ph.D selaku Koordinator Prodi S1 Jurusan Kimia
FMIPA Universitas Riau.
4. Ibu Halida Sophia, [Link] selaku Ketua Bidang Anorganik Jurusan Kimia
FMIPA Universitas Riau.
5. Bapak Prof. Dr. Amir Awaluddin, [Link] dan Ibu Halida Sophia, [Link]
selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, masukan
dan arahan dalam pelaksanaan dan penyusunan Skripsi ini.
6. Bapak Prof. Dr. Amir Awaluddin, [Link], Ibu Halida Sophia, [Link], Bapak
Dr. Emrizal Mahidin Tamboesai, [Link], M.H dan Ibu Pepi Helza Yanti,
[Link] selaku Dosen Pengajar Bidang Anorganik di Jurusan Kimia FMIPA
Universitas Riau dan juga selaku dosen penguji dari saat penulis seminar
literatur, seminar proposal dan seminar hasil yang telah memberikan ilmu
pengetahuan, wawasan, kritik dan saran baik saat seminar maupun selama
kuliah kepada penulis.

ii
7. Bapak Dr. Emrizal Mahidin Tamboesai, [Link], M.H selaku Penasehat
Akademis yang selalu memberikan nasihat dan motivasi.
8. Bapak Drs. Abu Hanifah, [Link] selaku dosen penguji yang telah
meluangkan waktu untuk menguji pada saat ujian sarjana serta
memberikan kritik dan saran dalam menyelesaikan Skripsi ini.
9. Bapak dan Ibu dosen dilingkungan FMIPA khusunya Dosen Jurusan
Kimia yang telah mendidik dan mengajar penulis semasa belajar, Staf
Laboran Jurusan Kimia FMIPA Universitas Riau, sera staff Karyawan
Jurusan Kimia yang telah membantu dalam penyelesaian penelitian ini.
10. Kak Riska Anggraini, [Link] sebagai kakak pembimbing bagi penulis
selama melakukan penelitian dan memberikan ilmu kepada penulis.
11. Orang tua penulis, Bapak Amiruddin Panjaitan dan ibunda Suherni atas
do’a, motivasi, pengertian, kasih sayang, kesabaran dan dukungan moril
maupun materil yang selalu diberikan kepada penulis. Ari Afriandi dan
Arinda Oktaviani [Link] selaku abang dan kakak dari penulis yang selalu
memberikan semangat, motivasi serta menghibur penulis dalam
menyelesaikan tugas akhir. Kakek dan nenek yang selalu mendo’akan
penulis.
12. Sahabat penulis, Riri Junita [Link] yang selalu ada menemani, memberikan
dukungan yang tidak pernah putus, bantuan serta menjadi penghibur bagi
penulis. Siska Ramadhani yang memberikan dukungan dan do’a kepada
penulis. “Chemis Family” (Indrik, Nurma dan Riyani) yang memberikan
bantuan dan dukungan kepada penulis. Serta Ella Mutiara Sari yang sama-
sama berjuang dalam menyelesaikan Sarjana.
13. Teman-teman seangkatan “Chemical Hazard” dan teman kelas
“Chemistry A” yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada
penulis.
14. Ardhea Syafitri, diri saya sendiri yang telah mampu bertahan dan
berjuang sampai ketitik ini, karena dengan sangat sadar semua perjalanan
perkuliahan hingga tahap akhir penyusunan Skripsi ini tidak lepas dari
niat, usaha dan kerja keras diri sendiri.

iii
15. Semua pihak yang telah terlibat dalam membantu penelitian dan
penyusunan Skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu,
penulis ucapkan terima kasih banyak dan semoga kelak Allah Subahanu
Wata’ala membalas kebaikan kalian semua dikemudian hari.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Skripsi ini masih banyak
kekurangan dan kesalahan, sehingga kritik dan saran yang sifatnya membangun
dari segala pihak sangat penulis harapkan yang nantinya bermanfaat dan
menambah pengetahuan untuk penulis dan pembaca.

Pekanbaru, Juli 2023


Hormat saya,

Ardhea Syafitri
NIM. 1603111196

iv
SUMMARY

Photocatalysis is one of the alternative methods for treatment of textile waste. The
waste from this industry causes majorenvironmental problem. One of the
synthetic dyes that is often used in the textile industry is methylene blue dye. The
coloring process in textiles uses synthetic dyes in large enough quantities and is
very stable so that it is difficult to degrade naturally. It is necessary to study the
degradation process with effective and efficient methods in degrading methylene
blue. The purpose of this investigation is to study the degradation methylene blue
using MnO/Activated Carbon and MnO/Bentonite by photocatalyst method. MnO
is a manganese oxide of manganite type and has not been intensively studied as a
catalyst for the degradation of methylene blue dye. Optimization of methylene
blue degradation was carried out with variations in pH, catalyst mass, and initial
concentration of methylene blue. As a control, the degradation process was also
carried out without using support and without irradiation. The photocatalytic
activity of MnO/activated carbon and MnO/bentonite composites has advantages
in the methylene blue degradation process both in acidic pH (3, 5.5 and 5.8),
neutral pH (7) and alkaline pH (9 and 11). Based on the research, it can be
concluded that the optimum condition of the MnO/Activated Carbon composite
for methylene blue degradation is at a catalyst mass of 35 mg, solution conditions
at pH 11 and a methylene blue concentration of 50 ppm, the maximum
degradation of methylene blue is 98.86%. The optimum condition of the
MnO/Bentonite composite for methylene blue degradation is at a catalyst mass of
25 mg, solution conditions at pH 11 and a methylene blue concentration of 12.5
ppm, the maximum degradation of methylene blue is 89.73%.

v
RINGKASAN

Fotokatalisis merupakan salah satu metode alternatif dalam pengolahan limbah


tekstil. Limbah dari industri ini menyebabkan masalah lingkungan yang besar.
Salah satu zat warna sintesis yang sering digunakan pada industri tekstil adalah
zat warna biru metilen. Proses pewarnaan pada tekstil menggunakan pewarna
sintesis dalam jumlah yang cukup besar dan sangat stabil sehingga sulit
terdegradasi secara alami. Perlu dilakukan kajian proses degradasi dengan metode
yang efektif dan efisien dalam mendegradasi biru metilen. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mempelajari degradasi biru metilen menggunakan MnO/Karbon
Aktif dan MnO/Bentonit dengan metode fotokatalis. MnO adalah oksida mangan
tipe manganosite dan belum dipelajari secara intensif sebagai katalis untuk
degradasi pewarna biru metilen. Optimasi degradasi biru metilen dilakukan
dengan variasi pH, massa katalis, dan konsentrasi awal biru metilen. Sebagai
kontrol, dilakukan pula proses degradasi tanpa menggunakan support dan tanpa
penyinaran. Aktivitas fotokatalitik komposit MnO/karbon aktif dan MnO/bentonit
memiliki keunggulan dalam proses degradasi biru metilen baik dalam keadaan pH
asam (3, 5,5 dan 5,8), pH netral(7) maupun pH basa (9 dan 11). Berdasarkan
penelitian dapat disimpulkan bahwa kondisi optimum komposit MnO/Karbon
Aktif untuk degradasi biru metilen adalah pada massa katalis 35 mg, kondisi
larutan pada pH 11 dan konsentrasi biru metilen 50 ppm diperoleh degradasi
maksimum biru metilen bernilai 98,86%. Kondisi optimum komposit
MnO/Bentonit untuk degradasi biru metilen adalah pada massa katalis 25 mg,
kondisi larutan pada pH 11 dan konsentrasi biru metilen 12.5 ppm diperoleh
degradasi maksimum biru metilen bernilai 89,73%.

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................................. i


KATA PENGANTAR............................................................................................ii
SUMMARY............................................................................................................v
RINGKASAN........................................................................................................vi
DAFTAR ISI...........................................................................................................v
DAFTAR GAMBAR............................................................................................vii
LAMPIRAN........................................................................................................viii
BAB 1 PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1 Latar Belakang..........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................3
1.3 Tujuan Penelitian.......................................................................................4
1.4 Tempat dan Waktu Penelitian...................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................5
2.1. Fotokatalis.................................................................................................5
2.2. Oksida Mangan..........................................................................................6
2.3. Karbon Aktif..............................................................................................7
2.4. Bentonit.....................................................................................................8
2.5. Biru Metilen............................................................................................10
2.6. Spektrofotometer UV-visible (UV-vis)...................................................11
BAB III METODE PENELITIAN.....................................................................13
3.1. Alat dan Bahan........................................................................................13
3.1.1 Alat...................................................................................................13
3.1.2. Bahan...............................................................................................13
3.2. Rancangan Penelitian..............................................................................13
3.3. Prosedur Penelitian..................................................................................13
3.3.1. Pembuatan Larutan Biru Metilen.....................................................13
3.4. Uji Aktivitas Komposit MnO/Karbon Aktif...........................................14
3.4.1. Menentukan waktu kesetimbangan..................................................14
3.4.2. Pengaruh pH terhadap degradasi MB..............................................15
3.4.3. Pengaruh massa komposit................................................................15

vii
3.4.4. Pengaruh konsentrasi biru metilen...................................................15
3.5. Perbandingan Kondisi Degradasi Biru Metilen Berdasarkan Pengaruh
Katalis......................................................................................................16
3.5.1. Degradasi Biru Metilen Dengan Katalis Mangan Oksida................16
3.5.2. Degradasi Biru Metilen Dengan MnO/Karbon Aktif......................16
3.6. Perbandingan Kondisi Degradasi Biru Metilen Berdasarkan Pengaruh
Penyinaran...............................................................................................16
3.6.1. Degradasi Biru Metilen dengan Penyinaran....................................16
3.6.2. Degradasi Biru Metilen Tanpa Penyinaran......................................17
3.7. Uji Aktivitas Komposit MnO/Bentonit...................................................17
3.7.1. Menentukan waktu kesetimbangan..................................................17
3.7.2. Pengaruh pH terhadap degradasi MB..............................................17
3.7.3. Pengaruh massa komposit................................................................18
3.7.4. Pengaruh konsentrasi MB................................................................18
3.8. Perbandingan Kondisi Degradasi Biru Metilen Berdasarkan Pengaruh
Katalis......................................................................................................19
3.8.1. Degradasi Biru Metilen dengan Katalis Mangan Oksida.................19
3.8.2. Degradasi Biru Metilen Dengan MnO/Bentonit..............................19
3.9. Perbandingan Kondisi Degradasi Biru Metilen Berdasarkan Pengaruh
Penyinaran...............................................................................................19
3.9.1. Degradasi Biru Metilen dengan Penyinaran....................................19
3.9.2. Degradasi Biru Metilen Tanpa Penyinaran......................................20
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.............................................................21
4.1 Hasil.........................................................................................................21
4.1.1. Hasil Pengujian Sebelum Proses Degradasi Biru Metilen...............21
4.1.2. Aplikasi MnO/Karbon Aktif untuk Degradasi Biru Metilen...........21
4.1.3. Aplikasi MnO/Bentonit untuk Degradasi Biru Metilen...................25
4.2. Pembahasan.............................................................................................29
4.2.1. Uji Fotodegradasi Komposit MnO/Karbon Aktif............................29
4.2.2. Uji Fotodegradasi Komposit MnO/Bentonit....................................33
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................36
5.1 Kesimpulan..............................................................................................36

viii
5.2 Saran........................................................................................................36
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................37
LAMPIRAN..........................................................................................................42

ix
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Oksida mangan manganosite...................................................10


Gambar 2.2. Struktur Biru Metilen (Tanasale et al., 2012)..........................12
Gambar 2.3. Ilustrasi proses fotokatalis........................................................15
Gambar 4.1. Waktu kesetimbangan MnO/Karbon Aktif..............................26
Gambar 4.2. Pengaruh pH terhadap degradasi MB.......................................27
Gambar 4.3. Pengaruh massa komposit terhadap degradasi MB..................28
Gambar 4.4. Pengaruh konsentrasi MB terhadap degradasi.........................28
Gambar 4.5. Pengaruh katalis terhadap degradasi MB.................................29
Gambar 4.6. Pengaruh penyinaran terhadap degradasi MB..........................30
Gambar 4.7. Waktu kesetimbangan MnO/Bentonit......................................31
Gambar 4.8. Pengaruh pH terhadap degradasi MB.......................................31
Gambar 4.9. Pengaruh massa komposit terhadap degradasi MB..................32
Gambar 4.10. Pengaruh konsentrasi MB terhadap degradasi.........................33
Gambar 4.11. Pengaruh katalis terhadap degradasi MB.................................33
Gambar 4.12. Pengaruh penyinaran terhadap degradasi MB..........................34

x
LAMPIRAN

Lampiran 1. Membuat Larutan MB................................................................42


Lampiran 2. Panjang Gelombang dan Kurva Kalibrasi..................................44
Lampiran 3. Menentukan Waktu Keseimbangan MnO/Karbon Aktif............45
Lampiran 4. Aplikasi Komposit MnO/Karbon Aktif Dalam Degradasi MB..46
Lampiran 5. Menentukan Waktu Keseimbangan MnO/Bentonit...................51
Lampiran 6. Aplikasi Komposit MnO/Bentonit Dalam Degradasi MB.........52
Lampiran 7. Perhitungan.................................................................................57
Lampiran 8. Panjang Gelombang Optimum dan Kurva Kalibrasi..................59
Lampiran 9. Uji Aktivitas Katalis untuk Degaradasi Biru Metilen
menggunakan komposit MnO/Karbon aktif..............................61
Lampiran 10. Uji Aktivitas Katalis untuk Degaradasi Biru Metilen
menggunakan komposit MnO/Bentonit...................................72
Lampiran 11. Standar Deviasi.........................................................................82
Lampiran 12. Contoh Perhitungan Persen Degradasi Biru Metilen...............83
Lampiran 13. Dokumentasi Penelitian............................................................84

xi
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Metode konvensional yang dilakukan untuk meminimalisir limbah zat
warna telah banyak dikaji, seperti penggunaan metode klorinasi, biodegradasi,
koagulasi, adsorpsi dan fotokatalis. Untuk pengolahan air limbah, metode
klorinasi membutuhkan biaya yang relatif tinggi sedangkan metode biodegradasi
membutuhkan waktu yang lama dalam proses pengolahannya sehingga kurang
efisien. Metode koagulasi merupakan metode kimia yang dapat digunakan untuk
menghilangkan polutan zat warna (Rusydi et al., 2017). Namun, pengolahan
limbah zat warna dengan metode ini dapat memunculkan masalah baru bagi
lingkungan karena menghasilkan sludge. Metode adsorpsi merupakan metode
yang banyak digunakan dalam penanganan limbah tekstil, namun metode ini
memiliki kekurangan yaitu zat warna tekstil yang diadsorpsi masih terakumulasi
didalam adsorben yang suatu saat nanti akan menimbulkan permasalah baru.
Metode fotokatalisis merupakan salah satu metode alternatif dalam
pengolahan limbah tekstil. Fotokatalisis merupakan proses dengan bantuan cahaya
(fotokimia) dan katalis. Pada fotokatalis berupa terjadinya loncatan elektron pada
pita valensi menuju pita konduksi pada logam semikonductor ketika disinari oleh
cahaya UV. Perpindahan elektron tersebut akan membentuk hole yang dapat
berinteraksi dengan pelarut membentuk suatu radikal. Radikal ini bersifat aktif
dan akan berinteraksi dengan polutan sehingga dapat menguraikan polutan
senyawa organik tersebut (Fatimah dan Karna, 2005). Salah satu faktor yang
menentukan kemampuan fotokatalis dalam mendegradasi adalah proses adsorpsi
yang merupakan step awal pada proses katalitik Kelebihan proses fotokatalis
dibandingkan dengan metode konvensial lain adalah hasil limbah menjadi tidak
berbahaya dan lebih hemat dalam pemakaian bahan kimia serta energi. Metode ini
menghasilkan produk akhir berupa CO2 dan H2O yang ramah terhadap
lingkungan.
Pada penelitian sebelumnya, degradasi limbah organik oleh katalis MnO
dilakukan dengan menggunakan reaksi Fenton (Karmila, 2017). Oksida mangan
salah satu material fotokatalisis yang banyak digunakan karena memiliki sifat

1
fotolitik yang tinggi. Oksida mangan manganosite belum banyak dikaji baik
sebagai katalis tunggal maupun dalam bentuk komposit. Katalis oksida mangan
dalam bentuk komposit memiliki keunggulan karena dapat mencegah terjadinya
aglomerasi sehingga mencegah terjadinya penurunan luas permukaan. Oksida
Mangan (MnO) sebagai fotokatalis mempunyai kemampuan adsorpsi yang rendah
sehingga dibutuhkan support untuk mengatasi kekurangan tersebut, support yang
digunakan yaitu karbon aktif dan bentonit.
Karbon aktif merupakan adsorben yang permukaannya sebagai tempat
terkonsentrasinya ion-ion atau molekul-molekul pada fase gas maupun cair
(Husnul, 2016). Terjadi perubahan sifat fisika dan kimia pada karbon aktif, karena
telah diberi perlakuan aktivasi dengan aktivator menggunakan bahan-bahan kimia
ataupun dengan cara pemanasan pada temperatur tinggi. Hal ini yang
menyebabkan daya serap pada karbon aktif tinggi dan luas permukaan partikel
pada karbon aktif yang besar. Luas permukaan karbon aktif yaitu lebih besar dari
600 m2/g. Menurut (Rasdiyansa, 2014) luas permukaan yang besar ini
disebabkan oleh adanya volume berpori sehingga karbon aktif memiliki sifat
sebagai adsorben. Bentonit banyak digunakan sebagai adsorben dalam proses
menghilangkan polutan zat pewarna dari air limbah, karena bentonit memiliki
kemampuan swelling yang cukup besar. Kemampuan swelling ini menjadikan
bentonit sebagai adsorben dengan kapasitas adsorpsi yang lebih besar dibanding
adsorben yang lainnya (Aviantari, 2008). Sifat lainnya yang dimiliki karbon aktif
dan bentonit adalah ramah lingkungan dan tidak beracun.
Industri tekstil terus berkembang dan dapat memberikan dampak negatif
terhadap lingkungan khususnya pada perairan. Proses pewarnaan pada tekstil
menggunakan pewarna sintesis dalam jumlah yang cukup besar dan sangat stabil
sehingga sulit terdegradasi secara alami. Zat warna sintetis antara lain: methylene
blue, rhodamine B, tartrazine, congo red, methanil yellow dan lain-lain. Limbah
zat warna sintetis sukar terdegradasi secara alami dilingkungan perairan dan
bersifat karsinogenik sehingga akan mengakibatkan penyebab kanker hati jika
masuk kedalam tubuh manusia. Selain itu juga, limbah zat warna dalam perairan
dapat menghambat masuknya sinar matahari kedalam air sehingga akan
mengganggu aktivitas fotosintesis mikroalga. Biru metilen dalam industri tekstil

2
merupakan salah satu zat warna yang biasa digunakan karena harga yang murah
dan mudah didapat. Selain itu biru metilen merupakan zat warna dasar yang
sangat penting dalam pewarnaan. Biru metilen merupakan zat warna organik cair,
memiliki gugus aromatik yang sukar terurai bersifat resisten dan toksik sehingga
akan menyebabkan pencemaran lingkungan jika dibuang diperairan. Oleh karena
itu perlu dilakukan penanganan limbah tersebut sebelum dibuang keperairan
(Hamdaoui dan Chiha, 2006).
Peneliti sebelumnya Susila et al., (2021) melakukan degradasi biru metilen
oleh katalis MnO/Abu Layang dengan metode fotokatalis, mencapai degradasi
sebesar 99,74%. Auranda et al., (2022) melakukan degradasi MnO2/Bentonit
dengan menggunakan metode fotokatalis, mencapai degradasi sebesar 99.73%.
Aurora et al., (2021) melakukan degradasi biru metilen oleh katalis MnO/Karbon
Aktif dengan menggunakan reaksi fenton, mencapai degradasi sebesar 92%.
Erda et al.,(2021) melakukan degradasi biru metilen oleh katalis MnO/Bentonit
dengan menggunakan reaksi fenton, mencapai degradasi sebesar 92,97%.
Pada penelitian ini akan dikaji degradasi zat warna biru metilen dengan
fotokatalis MnO/Karbon aktif dan MnO/Bentonit. Penelitian ini menggunakan
komposit MnO/ Karbon aktif dari peneliti sebelumnya Aurora et al (2021) dan
MnO/Bentonit Erda et al.,(2021). Peneliti sebelumnya mengunakan metode fenton
like reaction dalam proses degradasi sedangkan pada penelitian ini menggunakan
metode fotokatalis dalam proses degradasi, yang mana belum banyak dikaji
kemampuan komposit MnO/Karbon aktif dan MnO/Bentonit untuk degradasi biru
metilen dengan metode fotokatalis.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah pH berpengaruh terhadap degradasi biru metilen?
2. Apakah massa katalis berpengaruh terhadap degradasi biru metilen?
3. Apakah konsentrasi biru metilen berpengaruh terhadap degradasi biru
metilen?

3
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menentukan pengaruh pH terhadap degradasi biru metilen
2. Menentukan pengaruh massa katalis terhadap degradasi biru metilen
3. Menentukan pengaruh konsentrasi biru metilen terhadap degradasi biru
metilen

1.4 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini telah dilakukan di Laboratorium Kimia Anorganik Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau selama ± 1 tahun.

4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Fotokatalis
Fotokatalisis adalah suatu reaksi perpaduan antara fotokimia dan katalis.
Proses reaksi fotokimia melibatkan suatu cahaya (foto). Katalis merupakan suatu
material yang mempengaruhi proses laju reaksi tanpa mengalami perubahan
kimia. Penambahan katalis pada suatu reaksi kimia bertujuan untuk mempercepat
reaksi. Di dalam industri, pemakaian katalis sangat penting karena akan
meningkatkan produk dan mengurangi biaya produksi. Fotokatalisis sendiri
adalah suatu proses yang dibantu oleh adanya cahaya dan material katalis.
Fotokatalis mengubah energi cahaya menjadi energi kimia dan dalam prosesnya
akan menghasilkan radikal hidroksil yang akan bereaksi redoks dengan senyawa
organik (polutan), sehingga air akan kembali jernih karena terpisahkan dari
limbah cair. Salah satu metode yang digunakan dalam penanganan limbah zat
warna tekstil adalah metode fotodegradasi dengan menggunakan bahan fotokatalis
dan radiasi sinar ultraviolet. Zat warna tekstil ditambahkan bahan fotokatalis dan
disinari sinar ultraviolet akan diuraikan menjadi komponen-komponen yang lebih
sederhana sehingga aman bagi lingkungan (Wijaya et,al. 2006).
Reaksi fotokatalis melibatkan pasangan elektron dan hole (e- dan h+) yang
berperan sebagai oksidasi dan reduksi dalam reaksi fotokatalis. Hole merupakan
lubang positif yang disebabkan oleh perpindahan elektron. Elektron dan hole
memanfaatkan cahaya untuk mengaktifkan katalis yang kemudian akan bereaksi
dengan senyawa kimia didekat ataupun dipermukaan katalis. Cahaya yang
digunakan harus memiliki energi lebih besar dari celah energi material katalis
(semikonduktor). Hal ini bertujuan agar material semikonduktor dapat
menghasilkan elektron dan hole yang kemudian mendegradasi senyawa-senyawa
berbahaya (Sutanto, 2005).

5
Gambar 2.1. Ilustrasi proses fotokatalis

Adapun proses fotokatalis sebagai berikut:


1. Jika katalis dikenai sinar dengan energi yang lebih besar, maka
elektron (e-) pada pita valensi bereksitasi menuju pita konduksi dan
akan meninggalkan hole (h+) pada pita valensi.
2. Elektron yang sudah berpindah ke pita konduksi akan bereaksi
dengan O2 yang berada pada permukaan katalis membentuk radikal
superoksida (•O2-) yang bersifat sebagai reduktor
3. Ketika elektron berpindah dari pita valensi ke pita konduksi, maka
tempat pita valensi menjadi kosong (empty orbital). Empty orbital
ini disebut hole. Hole (h+) akan berinteraksi dengan H2O dan OH-
yang berada pada permukaan katalis membentuk (•OH) yang
bersifat sebagai oksidator kuat
4. Oksidator dan reduktor tersebut menyerang zat warna biru metilen
sehingga menghasilkan CO2 dan H2O (Batista et al., 2010).

2.2. Oksida Mangan


Mineral oksida mangan telah digunakan selama ribuan tahun lalu,
digunakan untuk pigmen dan untuk pembuatan kaca, dan pada saat ini sebagai
bijih logam Mn, katalis, dan bahan baterai. Oksida mangan merupakan material
yang sangat menarik karena memiliki sifat struktural, optik, magnetik, dan
katalitik yang baik. Lebih dari 30 kristal mangan oksida yang berbeda ditemukan
dialam yang terurai secara spontan melalui air dan permukaan air tanah selama

6
pelapukan batuan beku dan batuan metamorf. Oksida mangan kompleks adalah
bahan yang sangat reaktif, berbutir halus dan memiliki potensi besar terhadap
berbagai aplikasi teknologi seperti sebagai katalis, pembuatan besi,disinfektan,
penjernih air dan antiseptik. Mangan oksida manganosite berbentuk padatan
kristal hijau yang dapat berubah menjadi coklat tua bila bereaksi dengan udara
(Ningsih, 2013).
Oksida mangan memiliki berbagai polimorfi struktur kristal, seperti β-
MnO2 (pyrolusite), α- MnO2 (cryptomelane), δ- MnO2 (birnessite) dan γ- MnO2
(nsutite) (Kimia et al., 2015). Material ini merupakan salah satu bahan yang
menarik untuk dikaji karena memiliki berbagai macam struktur dengan
permukaan yang luas. Oksida mangan digunakan sebagai katalis untuk degradasi
senyawa organik karena memiliki sifat penukar kation yang baik. Oksida mangan
merupakan oksidator yang efektif karena memiliki oksigen yang lebih mudah
dilepaskan pada proses oksidasi dibandingkan oksida logam lainya, sehingga
sangat baik dalam proses mengoksidasi biru metilen dalam larutan.

Gambar 2.2. Oksida mangan manganosite

2.3. Karbon Aktif


Karbon aktif merupakan golongan karbon amorf yang diproduksi dari
bahan dasar dengan senyawa yang mengandung 85-95 % karbon. Karbon aktif
banyak digunakan, baik di industri besar maupun kecil. Karbon aktif merupakan
adsorben yang permukaannya sebagai tempat terkonsentrasinya ion-ion atau
molekul-molekul pada fase gas maupun cair (Husnul, 2016). Terjadi perubahan
sifat fisika dan kimia pada karbon aktif, karena telah diberi perlakuan aktivasi
dengan aktivator menggunakan bahan-bahan kimia ataupun dengan cara
pemanasan pada temperatur tinggi. Hal ini yang menyebabkan daya serap pada

7
karbon aktif tinggi dan luas permukaan partikel pada karbon aktif yang besar.
Luas permukaan karbon aktif yaitu lebih besar dari 600 m 2/g. Menurut
Rasdiyansa (2014), luas permukaan yang besar ini disebabkan oleh adanya
volume berpori sehingga karbon aktif memiliki sifat sebagai adsorben.
Karbon aktif berasal dari tumbuh-tumbuhan, binatang maupun barang
tambang seperti berbagai jenis kayu, sekam padi, tulang binatang, batu bara, kulit
singkong, kulit biji kopi, kulit buah coklat,tempurung kelapa dan lain-lain. Karbon
aktif adalah suatu bahan padat yang berpori dan merupakan hasil dari proses
pembakaran dari bahan yang mengandung karbon melalui proses pemanasan
pirolisis. Sebagian pori-porinya masih tertutup hidrokarbon, tar dan senyawa
lainnya. Komponennya terdiri dari karbon terikat (fix karbon), uap air, abu,
nitrogen dan sulfur. (Kvech, et al, 1998). Karbon aktif bersifat hidrofobik, yaitu
molekul pada karbon aktif tidak bisa berinteraksi dengan molekul air.
Aplikasi karbon aktif komersil dapat digunakan sebagai penghilang bau
dan resin penyulingan bahan mentah, pemurnian air limbah, penjernih air, dan
dapat digunakan sebagai adsorben untuk mengadsorpsi bahan yang berasal dari
cairan maupun fasa gas. Daya serap karbon aktif itu sendiri ditentukan oleh luas
permukaan partikel dan kemampuan ini dapat menjadi lebih tinggi jika terhadap
karbon aktif dilakukan aktivasi dengan aktivator bahan-bahan kimia ataupun
dengan pemanasan pada temperatur tinggi. Dengan demikian, karbon aktif akan
mengalami perubahan sifat-sifat fisika dan kimia (Rifki, 2016).

2.4. Bentonit
Tanah lempung berdasarkan kandungan mineralnya dibedakan menjadi
bentonit (smektit), kaolinit, haloisit, klorit dan ilit. Bentonit adalah istilah yang
digunakan dalam dunia perdagangan untuk tanah lempung yang mengandung
80% montmorillonit. Fragmen sisa pada umumnya merupakan campuran dari
mineral-mineral pengotor seperti kuarsa, kristobalit, feldspar dan mineral-mineral
lainnya. Bentonit termasuk mineral yang memiliki gugus alumino silikat. Rumus
kimia umum bentonit adalah (OH)4Si8Al4O20.XH2O (Widihati, 2012).
Mineral montmorillonit merupakan mineral lempung yang penyebarannya
paling luas dan memiliki kemampuan mengembang (swelling), penukar kation
yang tinggi, dan dapat diinterkalasi. Dari Sifat tersebut membuat montmorillonit

8
dapat dimodifikasi untuk memperoleh produk senyawa alumino silikat yang
memiliki sifat-sifat kimia fisik yang lebih baik dari sebelumnya.
Berdasarkan tipenya bentonit dialam dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Natrium Bentonit (swelling bentonite)
Natrium bentonit memiliki kandungan ion Na + relatif lebih banyak
dibandingkan ion Ca2+ dan Mg2+. Apabila dicampurkan dalam air, natrium
bentonit memiliki daya mengembang delapan kali, dan akan tetap
terdispersi beberapa waktu didalam air. Dalam keadaan kering berwarna
putih, akan berwarna mengkilap jika dalam keadaan basah dan terkena
sinar matahari. Bentonit jenis natrium banyak digunakan sebagai
pencampur dalam pembuatan cat dan sebagai perekat pasir cetak dalam
industri pengecoran.
b. Calcium Bentonit (non-swelling bentonite)
Calcium bentonit memiliki kandungan ion Ca2+ dan Mg2+ relatif
lebih banyak dibandingkan ion Na+. Tipe bentonit ini apabila dicelupkan
didalam air maka kurang mengembang atau sedikit menyerap air, namun
tetap terdispersi didalam air dan memiliki sifat adsorpsi yang baik secara
alami atau setelah diaktifkan. Calcium bentonit dipergunakan sebagai
bahan pemucat warna pada proses pemurnian minyak goreng, katalis pada
industry kimia, zat pemutih, zat penyerap dan sebagai filler pada industri
kertas dan polimer (Karimah, 2006).
Bentonit banyak digunakan sebagai adsorben dalam proses menghilangkan
polutan zat pewarna dari air limbah, karena bentonit memiliki kemampuan
swelling yang cukup besar. Kemampuan swelling ini menjadikan bentonit sebagai
adsorben dengan kapasitas adsorpsi yang lebih besar dibanding adsorben yang
lainnya (Aviantari, 2008). Prinsip mengubah permukaan dan pori-pori bentonit
adalah dengan melarutkan logam – logam yang terdapat pada pori-pori sehingga
menjadi lebih luas. Bentonit merupakan mineral yang bermuatan negatif sehingga
mineral ini menyerap kation-kation yang ada disekelilingnya. Kation yang
terserap pada bentonit ini dapat dipertukar dengan kation lain. Sifat lainnya yang
dimiliki bentonit adalah ramah lingkungan, tidak beracun dan memiliki sifat fisika
dan kimia yang stabil (Ruskandi, 2020).

9
2.5. Biru Metilen
Biru metilen dengan rumus kimia C 16H18N3SCl merupakan zat warna yang
termasuk dalam golongan azo yang bersifat karsinogenik, beracun dan mutagenik.
biru metilen memiliki berat molekul 319,86 g mol-1, dengan titik lebur 105 °C,
berwarna biru, tidak berbau, stabil dalam udara serta mudah larut dalam air
(larutannya berwarna biru tua), kloroform, alkohol, dan daya larut sebesar
4,36x104 mg L-1 (Hawley, 1981) biru metilen memiliki indeks basic sebesar 5%
sebagai pewarna, sedangkan sisanya sebagai limbah yang dapat masuk ke dalam
lingkungan (Dewi dan Widayatno, 2019). biru metilen (MB) adalah zat warna
dasar yang sangat penting dan relatif murah dibandingkan dengan pewarna
lainnya. Zat warna ini sering digunakan dalam pewarnaan kapas, wol, sutra, kulit,
dan pelapis kertas karena menghasilkan warna yang terang, sehingga proses
pewarnaan menjadi cepat dan mudah diaplikasikan (Choi dan Yu, 2019; Nurhasni
dan Hendrawati, 2018). Beberapa efek yang ditimbulkan pada penggunaan biru
metilen, seperti iritasi saluran pencernaan jika tertelan, menimbulkan sianosis jika
terhirup, dan iritasi pada kulit jika tersentuh oleh kulit (Hamdaoui and Chiha,
2006).
Molekul zat warna merupakan gabungan dari zat organik tidak jenuh
dengan kromofor sebagai pembawa warna. Zat organik tidak jenuh yang
ditemukan dari pembentukan zat warna merupakan senyawa aromatik, seperti
senyawa hidrokarbon aromatik dan turunannya, fenol dan turunannya dan
senyawa hidrokarbon yang mengandung nitrogen. Gugus kromofor merupakan
gugus yang menyebabkan suatu molekul menjadi berwarna. Kromofor zat warna
merupakan golongan azo dan antrakuinon yang memiliki berat molekul relatif
kecil dan daya serap terhadap serat tidak besar, sehingga zat warna mudah
dihilangkan pada serat. Daya serap dan ketahanan zat warna terhadap asam dan
basa dipengaruhi oleh gugus-gugus penghubung, sehingga membuat zat warna
mudah bereaksi dengan serat kain. Pada umumnya agar reaksi terjadi dengan baik
maka diperlukan penambahan alkali atau asam sehingga mencapai pH tertentu
(Andriana, 2016).

10
Gambar 2.3. Struktur Biru Metilen (Tanasale et al., 2012)

2.6. Spektrofotometer UV-visible (UV-vis)


Spektrofotometri merupakan alat yang terdiri dari spektrometer dan
fotometer. Spekrofotometer berfungsi menghasilkan sinar dari spectrum dengan
panjang gelombang tertentu dan fotometer berfungsi sebagai alat pengukur
intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diadsorpsi. Jadi spektrofotometer
berfungsi mengukur energi jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan, atau
diemisikan sebagai fungsi panjang gelombang. Metode spektrofotometri sinar
tampak berdasarkan penyerapan sinar tampak dilakukan pada senyawa yang
berwarna. Hal ini dilakukan supaya zat di dalam larutan lebih mudah menyerap
energy cahaya yang diberikan. Senyawa yang tidak berwarna dibuat berwarna
dengan cara mereaksikan dengan pereaksi yang menghasilkan senyawa berwarna.
Sumber radiasi spektrofotometer UV-Vis adalah lampu tungsten. Cahaya
yang dipancarkan sumber radiasi adalah cahaya polikromatik. Cahaya
polikromatik UV akan melewati monokromator yaitu suatu alat yang paling
umum dipakai untuk menghasilkan berkas radiasi dengan satu panjang
gelombang. Wadah sampel pada spektrofotometer UV disebut sel/kuvet. Kuvet
yang terbuat dari kuarsa baik untuk spektrofotometer UV dan juga untuk
spektrofotometer sinar tampak. Kuvet plastik dapat digunakan untuk
spektrofotometer sinar tampak. Radiasi yang melewati sampel akan ditangkap
oleh detektor yang berguna untuk mendeteksi cahaya yang melewati sampel
tersebut. Cahaya yang melewati detektor diubah menjadi arus listrik yang dapat
dibaca melalui recorder dalam bentuk transmitansi absorbansi atau konsentrasi.
Panjang gelombang daerah UV dekat adalah 190 – 350 nm dan daerah
tampak atau visible adalah 350 – 800 nm (Omidi et al., 2017). Hubungan antara
absorbansi dan konsentrasi dalam analisis secara spektrometri UV-Vis dapat

11
dinyatakan dalam persamaan Lambert–Beer. Hukum Lambert menyatakan bahwa
berkas cahaya datang yang diserap oleh suatu medium/bahan tidak bergantung
pada intensitas berkas cahaya yang datang, karena apabila cahaya melewati
monokromatik suatu media, maka cahaya akan diserap, dipantulkan dan
dipancarkan.
A = ԑ .b . C
Keterangan:
A : absorbansi
ԑ : koefisien absorbsivitas molar (mol-1 dm3 cm-1)
b : tebal medium serapan (cm)
C : konsentrasi (mol dm-3) (Hendayana, 1994).
Dalam analisis ini menggunakan kurva kalibrasi dari hubungan konsentrasi
larutan untuk analisa suatu sampel baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
Untuk menentukan kurva kalibrasi, yaitu dengan cara membuat grafik absorbansi
versus kensentrasi. Melalui pengukuran absorbansi suatu sampel dan
menginterpolasikannya kekurva kalibrasi, maka konsentrasi sampel dapat
ditentukan. Analisis kualitatif dilakukan berdasarkan puncak-puncak hasil
spectrum dari unsur tertentu pada panjang gelombang tertentu. Sedangkan analisis
secara kuantitatif didasari oleh nilai absorbansi yang dihasilkan dari spektrum
dengan adanya senyawa pengompleks sesuai unsur yang dianalisis.

12
BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Alat dan Bahan

3.1.1 Alat
Adapun alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah gelas ukur,
labu ukur, labu ukur, gelas beaker, batang pengaduk, kaca arloji, magnetic stirrer,
pH meter, neraca analitik (Mettler AE 200), oven (Memmert), hot plate stirrer
(Kenko 79-1), spektrofotometer visible (Optima SP-300), dan sentrifuge

3.1.2. Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Komposit MnO/Karbon Aktif, MnO/ Bentonit, biru metilen (Merck), aluminium
foil, lampu UV A (panjang gelombang=365 nm) dan aqua DM.

3.2. Rancangan Penelitian


Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap diantaranya adalah sebagai
berikut :
1. Pembuatan larutan biru metilen
2. Menentukan uji aktivitas fotokatalitik MnO/Karbon Aktif terhadap
degradasi biru metilen
3. Menentukan uji aktivitas fotokatalitik MnO/Bentonit terhadap degradasi
biru metilen

3.3. Prosedur Penelitian


3.3.1. Pembuatan Larutan Biru Metilen
[Link]. Pembuatan larutan induk MB
Pembuatan larutan induk biru metilen 1000 ppm dapat dilakukan dengan
cara melarutkan 1 gram bubuk biru metilen di gelas ukur dan dimasukkan
kedalam labu ukur 1000 ml. Kemudian, aqua DM ditambahkan sampai garis batas
dan dihomogenkan.
[Link]. Pembuatan larutan intermediet MB 100 ppm
Larutan induk biru metilen 1000 ppm diambil sebanyak 50 ml dimasukkan
kedalam labu ukur 500 ml menggunakan pipet volume, kemudian ditambahkan
aqua DM sampai tanda batas dan dihomogenkan.

13
[Link]. Pembuatan panjang gelombang optimum
Penentuan panjang gelombang optimum larutan biru metilen yang akan
dipakai, ditentukan dengan cara larutan intermediet diambil dan diencerkan
dengan aqua DM hingga konsentrasi 3 ppm kemudian diukur serapan maksimum
dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 500-
700 nm, dengan akua DM sebagai blanko.

[Link]. Penentuan kurva kalibrasi MB


Larutan biru metilen dibuat dari larutan intermediet yang diencerkan
secara bertingkat dengan konsentrasi 1, 2, 3, 4, dan 5 ppm. Serapannya diatur
hingga nol dengan menggunakan aquades sebagai blanko, kemudian diukur
absorbansinya pada panjang gelombang 660 nm. Kemudian kurva kalibrasi dibuat
antara konsentrasi biru metilen terhadap absorbansi.

3.4. Uji Aktivitas Komposit MnO/Karbon Aktif

3.4.1. Menentukan waktu kesetimbangan


Larutan biru metilen 40 ppm sebanyak 100 mL diambil menggunakan
pipet volume dan dimasukkan kedalam Beaker gelas 250 mL. Larutan biru
metilen ditambahkan komposit sebanyak 35 mg dan diaduk dengan magnetic
stirrer diruang gelap. Setiap pengadukan 10 menit sampai terjadi kesetimbangan
larutan diambil 5 mL dan sentrifugasi dengan kecepatan 2000 rpm selama 10
menit. Selanjutnya konsentrasi larutan biru metilen diukur dengan menggunakan
spektrofotometer visible pada panjang gelombang 660 nm. Konsentrasi biru
metilen diperoleh dengan memasukkan nilai absorbansi ke dalam persamaan

regresi linear dari larutan biru metilen. Persentase degradasi diperoleh dengan

memasukkan konsentrasi dari biru metilen ke dalam rumus persentase degradasi

(%D), yang dirumuskan sebagai berikut :

Persentase Degradasi (%D) = Co- Ct x 100% (3.1)


Co
Keterangan :

Co = konsentrasi awal dari biru metilen


Ct = konsentrasi biru metilen setelah degradasi

14
3.4.2. Pengaruh pH terhadap degradasi MB
Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL diambil menggunkan pipet
volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL. Larutan diatur pada pH 3,
7, 9, 11 dan tanpa pengaturan pH. Pengaturan larutan pH 3 dibuat dengan
menambahkan HCl 1 M. Sedangkan untuk pH 7, 9 dan 11 larutan sampel
ditambahkan NaOH 1 M. Selanjutnya larutan sampel yang sudah diatur pH-nya
ditambahkan dengan MnO/Karbon Aktif sebanyak 35 mg dan diaduk dengan
magnetic stirrer selama 60 menit. Penyinaran dilakukan pada menit ke 61. Setiap
penyinaran 10, 20, 30, 40, 50, 60, 90, 100, 110 dan 120 menit larutan diambil
sebanyak 5 mL dan disentrifugasi dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit.
Selanjutnya konsentrasi larutan MB yang tersisa diukur dengan menggunakan
spektrofotometer visible pada panjang gelombang 660 nm.

3.4.3. Pengaruh massa komposit


Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL diambil menggunkan pipet
volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL, pada kondisi pH optimum
(pH=11). Kemudian ditambahkan dengan MnO/Karbon Aktif 35 mg dan diaduk
dengan magnetic stirrer selama 60 menit. Penyinaran dilakukan pada menit ke 61
menggunakan lampu UV. Setiap penyinaran 10, 20, 30, 40, 50, 60, 90, 100, 110
dan 120 menit larutan diambil sebanyak 5 mL dan sentrifugasi dengan kecepatan
2000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya konsentrasi larutan MB yang tersisa
diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang gelombang
660 nm. Perlakuan yang sama dilakukan pada massa komposit sebesar 0, 25, 30,
dan 40 mg.

3.4.4. Pengaruh konsentrasi biru metilen


Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL diambil menggunkan pipet
volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL, larutan pada kondisi pH
optimum (pH=11). Kemudian ditambahkan dengan MnO/Karbon Aktif sebanyak
35 mg dan diaduk dengan magnetic stirrer selama 60 menit. Penyinaran dilakukan
pada menit ke 61 menggunakan lampu UV. Setiap penyinaran 10, 20, 30, 40, 50,
60, 90, 10, 110 dan 120 menit larutan diambil sebanyak 5 mL dan sentrifugasi
dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya konsentrasi larutan MB

15
yang tersisa diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang
gelombang 660 nm. Perlakuan yang sama dilakukan pada larutan biru metilen 60
dan 70 ppm.

3.5. Perbandingan Kondisi Degradasi Biru Metilen Berdasarkan


Pengaruh Katalis

3.5.1. Degradasi Biru Metilen Dengan Katalis Mangan Oksida


Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL diambil menggunkan pipet
volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL, larutan pada kondisi pH
optimum (pH=11). Kemudian ditambahkan dengan MnO sebanyak 35 mg dan
diaduk dengan magnetic stirrer selama 60 menit. Penyinaran dilakukan pada
menit ke 61 menggunakan lampu UV. Setiap penyinaran 10, 20, 30, 40, 50, 60,
90, 10, 110 dan 120 menit larutan diambil sebanyak 5 mL dan sentrifugasi dengan
kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya konsentrasi larutan MB yang
tersisa diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang
gelombang 660 nm.

3.5.2. Degradasi Biru Metilen Dengan MnO/Karbon Aktif


Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL diambil menggunkan pipet
volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL, larutan pada kondisi pH
optimum (pH=11). Kemudian ditambahkan dengan MnO/ Karbon Aktif sebanyak
35 mg dan diaduk dengan magnetic stirrer selama 60 menit. Penyinaran dilakukan
pada menit ke 61 menggunakan lampu UV. Setiap penyinaran 10, 20, 30, 40, 50,
60, 90, 10, 110 dan 120 menit larutan diambil sebanyak 5 mL dan sentrifugasi
dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya konsentrasi larutan MB
yang tersisa diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang
gelombang 660 nm.

3.6. Perbandingan Kondisi Degradasi Biru Metilen Berdasarkan


Pengaruh Penyinaran
3.6.1. Degradasi Biru Metilen dengan Penyinaran
Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL diambil menggunkan pipet
volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL, larutan pada kondisi tanpa
pengaturan pH. Kemudian ditambahkan dengan MnO/ Karbon Aktif sebanyak 35

16
mg dan diaduk dengan magnetic stirrer selama 60 menit. Penyinaran dilakukan
pada menit ke 61 menggunakan lampu UV. Setiap penyinaran 10, 20, 30, 40, 50,
60, 90, 10, 110 dan 120 menit larutan diambil sebanyak 5 mL dan sentrifugasi
dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya konsentrasi larutan MB
yang tersisa diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang
gelombang 660 nm

3.6.2. Degradasi Biru Metilen Tanpa Penyinaran


Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL diambil menggunkan pipet
volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL, larutan pada kondisi tanpa
pengaturan pH. Kemudian ditambahkan dengan MnO/ Karbon Aktif sebanyak 35
mg dan diaduk dengan magnetic stirrer selama 60 menit. Dilakukan tanpa
penyinaran lampu UV. Larutan diambil 5 mL setiap 10 menit dan sentrifugasi
dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya konsentrasi larutan MB
yang tersisa diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang
gelombang 660 nm.

3.7. Uji Aktivitas Komposit MnO/Bentonit

3.7.1. Menentukan waktu kesetimbangan


Larutan biru metilen 12.5 ppm sebanyak 100 mL diambil menggunakan
pipet volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL. Larutan biru metilen
ditambahkan komposit MnO/Bentonit sebanyak 25 mg dan diaduk dengan
magnetic stirrer diruang gelap. Setiap pengadukan 10 menit sampai terjadi
kesetimbangan larutan diambil 5 mL dan sentrifugasi dengan kecepatan 2000 rpm
selama 10 menit. Selanjutnya konsentrasi larutan MB diukur dengan
menggunakan spektrofotometer visible pada panjang gelombang 660 nm.

3.7.2. Pengaruh pH terhadap degradasi MB


Larutan biru metilen 12,5 ppm sebanyak 100 mL diambil menggunkan
pipet volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL. Larutan diatur pada
pH 3, 7, 9, 11 dan tanpa pengaturan pH. Untuk pH 3 larutan ditambah dengan HCl
1 M. Sedangkan untuk pH 7, 9 dan 11 larutan sampel ditambahkan NaOH 1 M.
Selanjutnya larutan sampel yang sudah diatur pH-nya ditambahkan dengan
MnO/Bentonit sebanyak 25 mg dan diaduk dengan magnetic stirrer selama 70

17
menit. Penyinaran dilakukan pada menit ke 71. Setiap penyinaran 10, 20, 30, 40,
50, 60, 90, 100, 110 dan 120 menit larutan diambil sebanyak 5 mL dan
disentrifugasi dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya
konsentrasi larutan MB yang tersisa diukur dengan menggunakan
spektrofotometer visible pada panjang gelombang 660 nm.

3.7.3. Pengaruh massa komposit


Larutan biru metilen 12,5 ppm diambil sebanyak 100 mL diambil
menggunkan pipet volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL, larutan
pada kondisi pH optimum (pH=11). Kemudian ditambahkan dengan
MnO/Bentonit 25 mg dan diaduk dengan magnetic stirrer selama 70 menit.
Penyinaran dilakukan pada menit ke 71 menggunakan lampu UV. Setiap
penyinaran 10, 20, 30, 40, 50, 60, 90, 100, 110 dan 120 menit larutan diambil
sebanyak 5 mL dan sentrifugasi dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit.
Selanjutnya konsentrasi larutan MB yang tersisa diukur dengan menggunakan
spektrofotometer visible pada panjang gelombang 660 nm. Perlakuan yang sama
dilakukan pada massa komposit sebesar 0, 20 dan 30 mg.

3.7.4. Pengaruh konsentrasi MB


Larutan biru metilen 12,5 ppm diambil sebanyak 100 mL diambil
menggunkan pipet volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL, larutan
pada kondisi pH optimum (pH=11). Kemudian ditambahkan dengan
MnO/Bentonit sebanyak 25 mg dan diaduk dengan magnetic stirrer selama 70
menit. Penyinaran dilakukan pada menit ke 71 menggunakan lampu UV. Setiap
penyinaran 10, 20, 30, 40, 50, 60, 90, 100, 110 dan 120 menit larutan diambil
sebanyak 5 mL dan sentrifugasi dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit.
Selanjutnya konsentrasi larutan MB yang tersisa diukur dengan menggunakan
spektrofotometer visible pada panjang gelombang 660 nm. Perlakuan yang sama
dilakukan pada larutan biru metilen 20 dan 30 ppm.

18
3.8. Perbandingan Kondisi Degradasi Biru Metilen Berdasarkan
Pengaruh Katalis

3.8.1. Degradasi Biru Metilen dengan Katalis Mangan Oksida


Larutan biru metilen 12,5 ppm sebanyak 100 mL diambil menggunkan
pipet volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL, larutan pada kondisi
pH optimum (pH=11). Kemudian ditambahkan dengan MnO sebanyak 25 mg dan
diaduk dengan magnetic stirrer selama 70 menit. Penyinaran dilakukan pada
menit ke 71 menggunakan lampu UV. Setiap penyinaran 10, 20, 30, 40, 50, 60,
90, 10, 110 dan 120 menit larutan diambil sebanyak 5 mL dan sentrifugasi dengan
kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya konsentrasi larutan MB yang
tersisa diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang
gelombang 660 nm.

3.8.2. Degradasi Biru Metilen Dengan MnO/Bentonit


Larutan biru metilen 12,5 ppm sebanyak 100 mL diambil menggunkan
pipet volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL, larutan pada kondisi
pH 11. Kemudian ditambahkan dengan MnO/Bentonit sebanyak 25 mg dan
diaduk dengan magnetic stirrer selama 70 menit. Penyinaran dilakukan pada
menit ke 71 menggunakan lampu UV. Setiap penyinaran 10, 20, 30, 40, 50, 60,
90, 10, 110 dan 120 menit larutan diambil sebanyak 5 mL dan sentrifugasi dengan
kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya konsentrasi larutan MB yang
tersisa diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang
gelombang 660 nm.

3.9. Perbandingan Kondisi Degradasi Biru Metilen Berdasarkan


Pengaruh Penyinaran
3.9.1. Degradasi Biru Metilen dengan Penyinaran
Larutan biru metilen 12,5 ppm sebanyak 100 mL diambil menggunkan
pipet volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL, larutan pada kondisi
tanpa pengaturan pH. Kemudian ditambahkan dengan MnO/Bentonit sebanyak 25
mg dan diaduk dengan magnetic stirrer selama 70 menit. Penyinaran dilakukan
pada menit ke 71 menggunakan lampu UV. Setiap penyinaran 10, 20, 30, 40, 50,
60, 90, 10, 110 dan 120 menit larutan diambil sebanyak 5 mL dan sentrifugasi

19
dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya konsentrasi larutan MB
yang tersisa diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang
gelombang 660 nm.

3.9.2. Degradasi Biru Metilen Tanpa Penyinaran


Larutan biru metilen 12,5 ppm sebanyak 100 mL diambil menggunkan
pipet volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL, larutan pada kondisi
tanpa pengaturan pH. Kemudian ditambahkan dengan MnO/Bentonit sebanyak 35
mg dan diaduk dengan magnetic stirrer selama 70 menit. Dilakukan tanpa
penyinaran lampu UV. Larutan diambil 5 mL setiap 10 menit dan sentrifugasi
dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya konsentrasi larutan MB
yang tersisa diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang
gelombang 660 nm.

20
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1. Hasil Pengujian Sebelum Proses Degradasi Biru Metilen
[Link]. Penentuan Panjang Gelombang Optimum
Panjang gelombang digunakan untuk pengukuran absorbansi sampel pada
proses degradasi biru metilen. Dari hasil penelitian ini diperoleh panjang
gelombang optimum biru metilen adalah 660 nm. Data absorbansi pada panjang
gelombang 500-700 nm dapat dilihat pada Lampiran 8.1.
[Link]. Pembuatan Kurva Kalibrasi
Kurva kalibrasi dibuat dengan memplotkan antara konsentrasi larutan
standar biru metilen sebagai sumbu X dengan absorbansi sebagai sumbu Y pada
panjang gelombang optimum 660 nm, kemudian berdasarkan kurva kalibrasi
maka akan didapatkan persamaan regresi yaitu y = 0,1378 x. Persamaan regresi
ini digunakan untuk menentukan konsentrasi dari larutan biru metilen. Kurva
kalibrasi persamaan regresi dapat dilihat pada Lampiran 8.2.

4.1.2. Aplikasi MnO/Karbon Aktif untuk Degradasi Biru Metilen


[Link]. Waktu Kesetimbangan Reaksi
Waktu kesetimbangan digunakan untuk mengetahui lamanya proses
pengadukan tanpa penyinaran atau disebut proses adsorpsi. Waktu kesetimbangan
bertujuan untuk menentukan waktu sempurnanya reaksi dan stabilnya reaksi yang
ditunjukkan dengan tidak adanya penurunan absorbansi
100
Degradasi (%)

95

90

85
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)

Gambar 4.1. Waktu kesetimbangan MnO/Karbon Aktif

21
Berdasarkan Gambar 4.1. waktu kesetimbangan terjadi pada menit ke-60,
maka proses adsorpsi akan berlangsung selama 60 menit.
[Link]. Pengaruh pH terhadap Degradasi MB
Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL diatur pada pH 3, tanpa
pengaturan pH (5,8), 7, 9 dan 11. Kemudian komposit sebanyak 35 mg
ditambahkan dan diaduk selama 60 menit. Penyinaran dilakukan selama 120
menit dan setiap 10 menit larutan diambil sebanyak 5 ml. Grafik dibuat antara
waktu pengadukan dan penyinaran terhadap persen degradasi.

100

95
Degradasi (%)

90

85

80

75

70
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
pH 3 pH 5,8 pH 7 pH 9 pH 11

Gambar 4.2. Pengaruh pH terhadap degradasi MB


Berdasarkan Gambar 4.2, diperoleh hasil penelitian komposit
MnO/Karbon Aktif dapat mendegradasi biru metilen dalam semua kondisi, baik
asam, basa dan netral. Kondisi pH optimum dari hasil penelitian yaitu pada pH 11
dengan persen degradasi sebesar 98,86% dapat dilihat pada Lampiran 9.17.
[Link]. Pengaruh massa komposit terhadap degradasi MB
Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL dengan pH 11
ditambahkan komposit MnO/Karbon Aktif sebanyak 35 mg dan diaduk selama 60
menit. Penyinaran dilakukan selama 120 menit dan setiap 10 menit larutan
diambil sebanyak 5 ml. Hal yang sama juga dilakukan pada massa komposit 0,
25,30 dan 40 mg.

22
100
85

Degradasi (%)
70
55
40
25
10
0 20 40 60 80 100 120

Waktu (menit)
Massa 0 mg Massa 25 mg Massa 30 mg
Massa 35 mg Massa 40 mg
Gambar 4.3. Pengaruh massa komposit terhadap degradasi MB (Konsentrasi MB
50 ppm dengan pH 11).
Berdasarkan Gambar 4.3, diperoleh hasil penelitian bahwa tanpa
komposit (0 mg) persen degradasi maksimum didapatkan sebesar 14,72%,
sedangkan massa optimum untuk degradasi biru metilen ditunjukkan pada massa
35 mg dengan persen degradasi maksimum sebesar 98,86% dapat dilihat
Lampiran 9.18.

[Link]. Pengaruh konsentrasi MB terhadap degradasi MB


Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL dengan pH 11
ditambahkan komposit MnO/Karbon Aktif sebanyak 35 mg dan diaduk selama 60
menit. Penyinaran dilakukan selama 120 menit dan setiap 10 menit larutan
diambil sebanyak 5 ml. Hal yang sama juga dilakukan pada konsentrasi biru
metilen 60 dan 70 ppm.
100

90
Degradasi (%)

80

70

60

50
0 20 40 60 80 100 120

Waktu (menit)
50 ppm 60 ppm 70 ppm

Gambar 4.4. Pengaruh konsentrasi MB terhadap degradasi ( konsentrasi 50 ppm,


pH 11 dan massa katalis 35 mg).

23
Berdasarkan Gambar 4.4, diperoleh hasil penelitian bahwa semakin kecil
konsentrasi biru metilen maka semakin baik proses degradasinya, yaitu pada
konsentrasi 50 ppm persen degradasi paling tinggi sebesar 98,86%, sedangkan
pada konsentrasi 60 dan 70 ppm masing-masing memiliki persen degradasi paling
tinggi sebesar 74,38% dan 61,30% dapat dilihat pada Lampiran 9.19.

[Link]. Pengaruh katalis terhadap degradasi MB


Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL dengan pH 11
ditambahkan katalis sebanyak 35 mg dan diaduk selama 60 menit. Penyinaran
dilakukan selama 120 menit dan setiap 10 menit larutan diambil sebanyak 5 mL.
Pengaruh katalis tehadap degradasi biru metilen dilihat dengan membandingkan
MnO tunggal dengan komposit MnO/Karbon Aktif.

100
90
80
Degradasi (%)

70
60
50
40
30
20
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
Katalis MnO Katalis MnO/KA
Gambar 4.5. Pengaruh katalis terhadap degradasi MB (Konsentrasi MB 50 ppm,
pH 11 dan massa katalis 35 mg).
Berdasarkan Gambar 4.5, diperoleh hasil penelitian bahwa penambahan
karbon aktif sebagai support sangat mempengaruhi aktivitas fotokatalitik. Hal ini
dibuktikan MnO tanpa support memiliki persen degradasi lebih rendah yaitu
sebesar 38,66% dapat dilihat pada Lampiran 9.20., sedangkan MnO yang
dicampurkan support atau MnO/Karbon Aktif memiliki persen degradasi lebih
tinggi yaitu sebesar 98,86% .

24
[Link]. Pengaruh penyinaran terhadap degradasi MB

Pengaruh penyinaran dilakukan dengan membandingkan proses degradasi


menggunakan sinar UV dan tanpa sinar UV. Massa komposit sebesar 35 mg
dengan konsentrasi biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL tanpa pengaturan pH.
Degradasi (%)
95

90

85

80
0 20 40 60 80 100 120

Waktu (menit)
Tanpa Penyinaran Penyinaran

Gambar 4.6. Pengaruh penyinaran terhadap degradasi MB ( Konsentrasi MB 50


ppm, tanpa pengaturan pH dan massa katalis 35 mg.
Berdasarkan Gambar 4.6. diperoleh hasil penelitian bahwa penyinaran
dengan UV sangat mempengaruhi aktivitas fotokatalitik. Hal ini dibuktikan
dengan meningkatnya persen degradasi biru metilen dengan sinar UV
dibandingkan tanpa adanya sinar UV, yaitu dari 89,16% menjadi 92,54% dapat
dilihat pada Lampiran 9.21.

4.1.3. Aplikasi MnO/Bentonit untuk Degradasi Biru Metilen


[Link]. Waktu Kesetimbangan Reaksi
Waktu kesetimbangan digunakan untuk mengetahui lamanya proses
pengadukan tanpa penyinaran atau disebut proses adsorpsi. Waktu kesetimbangan
dapat dilihat dari pengaruh waktu terhadap penurunan konsentrasi biru metilen.

25
90

Degradasi (%)
80

70

60
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)

Gambar 4.7. Waktu kesetimbangan MnO/Bentonit.


Berdasarkan Gambar 4.7. waktu kesetimbangan terjadi pada menit ke-70,
maka proses adsorpsi akan berlangsung selama 70 menit.
[Link]. Pengaruh pH terhada Degradasi MB
Larutan biru metilen 12,5 ppm sebanyak 100 mL diatur pada pH 3, tanpa
pengaturan pH (5,8), 7, 9 dan 11. Kemudian komposit sebanyak 25 mg
ditambahkan dan diaduk selama 70 menit. Penyinaran dilakukan selama 120
menit dan setiap 10 menit larutan diambil sebanyak 5 ml. Grafik dibuat antara
waktu pengadukan dan penyinaran terhadap persen degradasi.
Degradasi (%)

90
85
80
75
70
65
60
0 20 40 60 80 100 120

Waktu (menit)

Gambar 4.8. Pengaruh pH terhadap degradasi MB.

Berdasarkan Gambar 4.8, diperoleh hasil penelitian komposit


MnO/Bentonit dapat mendegradasi biru metilen dalam semua kondisi, baik asam,
basa dan netral. Kondisi pH optimum dari hasil penelitian yaitu pada pH 11
dengan persen degradasi sebesar 89,73% dapat dilihat pada Lampiran 10.16.
[Link]. Pengaruh massa komposit terhadap degradasi MB
Larutan biru metilen 12,5 ppm sebanyak 100 mL dengan pH 11
ditambahkan komposit MnO/Bentonit sebanyak 25 mg dan diaduk selama 70
menit. Penyinaran dilakukan selama 120 menit dan setiap 10 menit larutan

26
diambil sebanyak 5 ml. Hal yang sama juga dilakukan pada massa komposit 0,
20,dan 30 mg.

90
Degradasi (%) 70
50
30
10
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
Massa 0 mg Massa 20 mg
Massa 25 mg
Massa 30 mg
Gambar 4.9. Pengaruh massa komposit terhadap degradasi MB (Konsentrasi MB
12,5 ppm dengan pH 11).
Berdasarkan Gambar 4.9, diperoleh hasil penelitian bahwa tanpa
komposit (0 mg) persen degradasi maksimum didapatkan sebesar 32,06%,
sedangkan massa optimum untuk degradasi biru metilen ditunjukkan pada massa
25 mg dengan persen degradasi maksimum sebesar 89,73% dapat dilihat
Lampiran 10.17..

[Link]. Pengaruh konsentrasi MB terhadap degradasi MB


Larutan biru metilen 12,5 ppm sebanyak 100 mL dengan pH 11
ditambahkan komposit MnO/Bentonit sebanyak 25 mg dan diaduk selama 70
menit. Penyinaran dilakukan selama 120 menit dan setiap 10 menit larutan
diambil sebanyak 5 ml. Hal yang sama juga dilakukan pada konsentrasi biru
metilen 20 dan 30 ppm.
90
Degradasi (%)

80
70
60
50
40
0 20 40 60 80 100 120

Waktu (menit)
12,5 ppm 20 ppm 30 ppm

Gambar 4.10. Pengaruh konsentrasi MB terhadap degradasi ( konsentrasi 12,5


ppm, pH 11 dan massa katalis 25 mg).

27
Berdasarkan Gambar 4.10. diperoleh hasil penelitian bahwa semakin
kecil konsentrasi biru metilen maka semakin baik proses degradasinya, yaitu pada
konsentrasi 12,5 ppm persen degradasi paling tinggi sebesar 89,73%, sedangkan
pada konsentrasi 20 dan 30 ppm masing-masing memiliki persen degradasi paling
tinggi sebesar 63,64% dan 54,71% dapat dilihat pada Lampiran 10.18.
[Link]. Pengaruh katalis terhadap degradasi MB
Larutan biru metilen 12.5 ppm sebanyak 100 mL dengan pH 11
ditambahkan katalis sebanyak 25 mg dan diaduk selama 70 menit. Penyinaran
dilakukan selama 120 menit dan setiap 10 menit larutan diambil sebanyak 5 mL.
Pengaruh katalis tehadap degradasi biru metilen dilihat dengan membandingkan
MnO tunggal dengan komposit MnO/Bentonit
100
90
Degradasi (%)

80
70
60
50
40
30
20
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
Katalis MnO Katalis MnO/Bentonit
Gambar 4.11. Pengaruh katalis terhadap degradasi MB (Konsentrasi MB 12,5
ppm, pH 11 dan massa katalis 25 mg).
Berdasarkan Gambar 4.11. diperoleh hasil penelitian bahwa penambahan
karbon aktif sebagai support sangat mempengaruhi aktivitas fotokatalitik. Hal ini
dibuktikan MnO tunggal memiliki persen degradasi lebih rendah yaitu sebesar
43,31% dapat dilihat pada Lampiran 10.19. sedangkan MnO/Bentonit memiliki
persen degradasi lebih tinggi yaitu sebesar 89,73%.

[Link]. Pengaruh penyinaran terhadap degradasi MB


Pengaruh penyinaran dilakukan dengan membandingkan proses degradasi
menggunakan sinar UV dan tanpa sinar UV. Massa komposit sebesar 25 mg
dengan konsentrasi biru metilen 12.5 ppm sebanyak 100 mL tanpa pengaturan pH.

28
Degradasi (%)
80
75
70
65
60
55
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)

Gambar 4.12. Pengaruh penyinaran terhadap degradasi MB ( Konsentrasi MB


12,5 ppm, tanpa pengaturan pH dan massa katalis 25 mg).
Berdasarkan Gambar 4.12. diperoleh hasil penelitian bahwa penyinaran
dengan UV sangat mempengaruhi aktivitas fotokatalitik. Hal ini dibuktikan
dengan meningkatnya persen degradasi biru metilen dengan sinar UV
dibandingkan tanpa adanya sinar UV, yaitu dari 64,33% menjadi 76,05% dapat
dilihat pada Lampiran 10.20.

4.2. Pembahasan
4.2.1. Uji Fotodegradasi Komposit MnO/Karbon Aktif
Uji aktivitas katalis MnO/Karbon Aktif dilakukan pada penelitian ini
untuk mengetahui kemampuan katalis dalam mendegradasi biru metilen. Oksida
mangan (MnO) memiliki kemampuan adsorpsi yang rendah sehingga
dikombinasikan dengan karbon aktif, yang bertujuan untuk meningkatkan
aktivitas fotodegradasi MnO serta untuk mecegah terjadinya aglomerasi partikel-
partikel pada permukaan MnO. Aktivitas katalitik dilakukan dengan beberapa
paramenter yaitu pengaruh pH, pengaruh massa katalis, pengaruh konsentrasi MB,
pengaruh katalis dan pengaruh penyinaran. Berdasarkan parameter tersebut akan
didapatkan kondisi optimum komposit MnO/Karbon Aktif dalam mendegradasi
biru metilen. Dalam proses degradasi biru metilen dilakukan penentuan waktu
kesetimbangan MnO/Karbon Aktif. Pada penelitian ini waktu kesetimbangan
MnO/Karbon Aktif adalah 60 menit dapat dilihat pada Gambar 4.1. waktu
kesetimbangan dilakukan untuk mengetahui lamanya pengadukan tanpa
penyinaran atau disebut adsorpsi.
pH merupakan salah satu parameter penting dalam proses degradasi
larutan MB, karena pH mempengaruhi pembentukan radikal OH yang berfungsi

29
untuk terjadinya proses degradasi biru metilen. Penentuan pH optimum dalam
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh derajat
keasaman terhadap degradasi biru metilen. Penelitian (Susila et al,2020)
menunjukkan bahwa semakin tinggi pH maka kemampuan degradasi biru metilen
naik dari 99,37% hingga 99,88%, pH yang digunakan adalah 3, tanpa pengaturan
pH, 7, 9 dan 11. Penggunaan variasi ini dilakukan untuk mengetahui kondisi
optimum dalam proses penjerapan MB sehingga hasilnya lebih efektif dan
maksimal. Pengaruh pH pada penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.2. dan
Lampiran 9.17., dapat diketahui persen degradasi pada pH 11 sebesar 98,86% ,
pH 9 sebesar 97,04%, pH 7 sebesar 95,93%, tanpa pengaturan pH sebesar
92,54%, dan pH 3 sebesar 81,85%. Hal ini membuktikan metode fotokatalis
memiliki keunggulan dalam proses degradasi biru metilen baik dalam keadaan pH
asam, netral maupun basa. Semakin tinggi pH yang digunakan maka semakin
tinggi pula laju degradasi zat warna biru metilen. Menurut (Sapawe et al., 2013)
penurunan laju degradasi pada pH asam disebabkan karena kelebihan ion H + yang
akan menghambat biru metilen yang terserap, sehingga pada kondisi asam dapat
mengurangi jumlah muatan positif pada permukaan katalis, yang menghasilkan
pembentukan OH radikal dari katalis. pH optimum dalam penelitian ini adalah pH
11. Dimana pada kondisi basa, permukaan katalis bermuatan negatif sedangkan
zat warna biru metilen merupakan zat warna kationik (bermuatan positif) sehingga
akan meningkatkan efektifitas fotodegradasi (Qodri et al, 2011). Selain itu, OH-
yang meningkat maka akan meningkat pula jumlah OH radikal yang dihasilkan,
sehingga proses degradasi akan lebih optimal.
Uji aktivitas selanjutnya yaitu pengaruh massa katalis dengan variasi
massa yaitu 0, 25, 30,35 dan 40 mg menggunakan pH optimum (11). Pada
Gambar 4.3. dan Lampiran 9.18. menunjukkan persen degradasi berturut-turut
yaitu 14,72%, 83,86%, 89,67%, 98,86% dan 99,31%. Berdasarkan penelitian ini
membuktikan bahwa semakin banyak massa katalis maka semakin banyak sisi
aktif dari fotokatalis sehingga menghasilkan OH radikal yang lebih banyak,
dengan jumlah OH radikal yang semakin banyak maka proses degradasi biru
metilen juga berjalan lebih sempurna. Pada penelitian ini massa 40 mg memiliki
persen degradasi sebesar 99,31% sedangkan massa 35 mg memiliki persen

30
degradasi sebesar 98,86%, namun pada kondisi massa 40 mg persen degradasi
tidak meningkat secara signifikan, berdasarkan Lampiran 9.18. menit ke 70
menunjukkan hasil degradasi tertinggi dan setelahnya mengalami penurunan,
menurut (Qourzal et al., 2009) penambahan katalis yang berlebih dapat
menurunkan aktivitas katalis dalam membentuk OH radikal. Pada Lampiran 11
massa 35 mg diperoleh nilai rata-rata adalah 97,33 ± 0,023 dan massa 40 mg
diperoleh nilai rata-rata adalah 97,9 ± 1,004, dapat disimpulkan bahwa tidak
terjadi perbedaan yang signifikan, sehingga pada penelitian ini massa 35 mg
adalah massa optimumnya, yang memiliki komposisi yang sesuai atau tidak
terlalu banyak, dan mengalami kenaikan signifikan 20 menit pertama dan
selanjutnya stabil hingga 120 menit. Selain itu penggunaan komposit yang lebih
kecil (35 mg) dinilai lebih efektif, karena dalam prosesnya tidak menghabiskan
jumlah komposit yang lebih banyak, sehingga dinilai lebih ekonomis.
Konsentrasi biru metilen pada proses degradasi sangat mempengaruhi laju
degradasi. Berdasarkan Gambar 4.4. dan Lampiran 9.19. menggunakan pH
optimum (11) dan massa optimum (35) konsentrasi biru metilen 50 ppm adalah
konsentrasi dengan persen degradasi yang paling optimum dengan nilai persen
degradasi sebesar 98,86%. Sedangkan pada konsentrasi 60 ppm dan 70 ppm
mengalami penurunan persen degradasi yaitu 74,38% dan 66,75% . Konsentrasi
zat warna biru metilen berpengaruh terhadap pengisian sisi aktif pada katalis.
Pada konsentrasi zat warna yang rendah yaitu 50 ppm, sisi aktif katalis cukup atau
sebanding untuk mendegradasi sejumlah kecil molekul zat warna biru metilen.
Sebaliknya, pada konsentrasi zat warna yang tinggi yaitu 60 dan 70 ppm, jumlah
situs aktif katalis tidak mampu meningkatkan jumlah penghilangan molekul zat
warna, sehingga molekul zat warna yang tersisa dalam larutan meningkat, yang
mengarah pada penurunan kapasitas penyerapan zat warna. (Hevira et al., 2020)
menjelaskan bahwa jika konsentrasi zat warna diatas konsentrasi optimum, maka
interaksi antara zat warna dengan permukaan katalis menjadi terganggu. Hal
tersebut disebabkan karena sisi aktif katalis menjadi jenuh sehingga tidak ada lagi
sisi aktif yang mampu berinteraksi dengan zat warna.
Katalis sangat berperan penting untuk mendegradasi zat warna biru
metilen. Berdasarkan pada penelitian ini membandingkan support dalam proses

31
degradasi biru metilen. Pada Gambar 4.5. dan Lampiran 9.20. persen degradasi
katalis MnO sebesar 38,66% dan katalis MnO/Karbon Aktif menghasilkan persen
degradasi sebesar 98,86%. Dapat disimpulkan bahwa komposit dengan support
karbon aktif memiliki persen degradasi tertinggi. Karbon aktif yang dicampurkan
pada katalis MnO memberikan dampak yang besar untuk mempercepat proses
degradasi. Karbon aktif berfungsi mentransfer molekul zat warna biru metilen ke
permukaan katalis MnO sehingga degradasi menjadi lebih optimal (Wismayanti,
et al, 2015). Karbon aktif menyediakan luas permukaan yang cukup besar untuk
penyerapan zat warna biru metilen, sehingga zat warna tersebut lebih
terkonsentrasi pada permukaan fotokatalis MnO. Hal ini mengakibatkan zat warna
lebih mudah dan lebih cepat didegradasi oleh radikal hidroksi yang terdapat pada
permukaan fotokatalis MnO.
Tahap selanjutnya adalah membandingkan kondisi degradasi dengan
penyinaran UV dan tanpa penyinaran UV. Perlakuan tanpa sinar UV dilakukan
pada kondisi gelap dan tetap ditambahkan komposit MnO/Karbon Aktif. Persen
biru metilen yang terdegrasi dengan penyinaran UV sebesar 76,05% dan tanpa
penyinaran UV sebesar 64,33% dapat dilihat pada Gambar 4.6. dan Lampiran
9.21. Dengan adanya sinar UV yang terpapar pada larutan biru metilen maka
proses degradasi akan berlangsung lebih optimal. Penyinaran yang dilakukan
terhadap biru metilen akan menyebabkan terjadinya interaksi antara fotokatalis
dengan cahaya dan kontak antara biru metilen dengan OH radikal. Dengan
dilakukan penyinaran maka semakin banyak energi foton yang diserap oleh
fotokatalis, sehingga OH radikal yang terbentuk pada permukaan katalis semakin
banyak yang berfungsi untuk menguraikan biru metilen
Prinsip fotokatalis adalah adanya loncatan elektron dari pita valensi ke pita
konduksi yang dikenai foton. Loncatan elektron ini menyebabkan timbulnya hole
yang dapat berinteraksi dengan pelarut (air) membentuk radikal OH·. Radikal ini
bersifat aktif dan dapat mendegradasi biru metilen menjadi CO2 dan H2O.
Mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut (Gnanaprakasam et al., 2015)
MnO + hv h+ +e- (4.2)
H+ + OH- ·OH (4.3)
e- + O2 ·O2- (4.4)

32
·OH atau ·O2- + MB CO2 +H2O (4.5)
Radikal OH bereaksi dengan zat warna biru metilen menghasilkan produk
akhir HCl, H2SO4 , HNO3 , CO2 dan H2O sebagaimana reaksi berikut ini:
C16H18N3SCl + 51/2O2 HCl + H2SO4 + 3HNO3 + 16CO2 + 6H2O (4.6)

4.2.2. Uji Fotodegradasi Komposit MnO/Bentonit


Parameter pH mempengaruhi proses degradasi zat warna biru metilen pada
permukaan fotokatalis MnO/Bentonit. Proses ini merupakan tahapan yang penting
untuk degradasi. Gambar 4.8. dan Lampiran 10.16. pada variasi pH 3, tanpa
pengaturan pH, pH 7, pH 9 dan pH 11 menghasilkan persen degradasi berturut-
turut 88,03 %, 76,05%, 81,53%, 83,69% dan 89,73%. Berdasarkan penelitian
diperoleh persen degradasi yang tinggi pada pH 11 dan 3. Penelitian (Auranda et
al., 2022) pada pH 3 mengasilkan degradasi biru metilen yang tinggi dikarenkan
pada pH asam, semakin banyak jumlah ion H + yang akan bereaksi dengan O2
maka akan semakin banyak pula H2O2 yang terbentuk dan akan menghasilkan OH
radikal yang banyak. Berdasarkan Gambar 4.8 dari tanpa pengaturan pH (5.5)
hingga pH 11 mengalami kenaikan degradasi. Hal ini terjadi karena kenaikan nilai
pH larutan menyebabkan konsentrasi OH- semakin meningkat sehingga OH- yang
bereaksi dengan hole pada pita valensi membentuk OH radikal yang semakin
banyak. Semakin banyak OH radikal yang terbentuk maka semakin banyak biru
metilen yang terdegradasi (Qourzal et al., 2009).
Berdasarkan hasil penelitian pada Gambar 4.9. dan Lampiran 10.17.
menunjukkan variasi massa yaitu 0, 20, 25 dan 30 mg dengan persen degradasi
berturut-turut 32,06%, 63,84%, 89,73% dan 86,90%. Dari hasil tersebut
memperlihatkan bahwa persen degradasi biru metilen semakin meningkat dengan
penambahan katalis. Hal ini dikarenakan dengan penambahan katalis maka jumlah
sisi aktif katalis juga akan semakin meningkat sehingga jumlah OH radikal yang
terbentuk semakin banyak (Ilmi, 2020). Namun, ketika massa katalis ditambah
menjadi 30 mg, persen degradasi mengalami penurunan, hal ini dikarenakan
dengan penambahan massa yang melebihi kondisi optimum menjadi tidak efektif
dalam membentuk radikal hidroksil karena fotokatalis tidak mendapatkan
penyinaran UV sepenuhnya yang menyebabkan semakin banyak fotokatalis yang
tersuspensi. Ketika ditambahkan massa katalis yang berlebih maka permukaan

33
katalis tertutup oleh molekul zat warna yang menyebabkan penyerapan radiasi UV
pada permukaan katalis menurun. Pada massa 0 mg terjadi proses fotolisis,
dimana setiap senyawa kimia yang berinteraksi dengan foto dapat terjadi reaksi
karena adanya energi yang dihasilkan dari foto (cahaya) , sehingga tetap
didapatkan persen degradasi yaitu sebesar 32,06%. Dapat disimpulkan bahwa
massa katalis MnO/Bentonit optimum yaitu pada massa 25 mg dengan persen
degradasi 89,73%.
Konsentrasi optimum adalah kondisi konsentrasi maksimal larutan yang
mampu diserap oleh suatu adsorben. Dalam proses adsorpsi, kemampuan
penjerapan suatu polutan selain dipengaruhi oleh pH tapi juga dipengaruhi oleh
konsentrasi larutan yang digunakan. Berdasarkan Gambar 4.10. dan Lampiran
10.18. menggunakah pH optimum (11) dan massa optimum (25 mg) dengan
konsentrasi 12,5 ppm dihasilkan persen degradasi sebesar 89,73%, 20 ppm persen
degradasi 63,64% dan 30 ppm persen degradasi 50,47 %. Berdasarkan penelitian
ini dapat disimpulkan bahwa konsentrasi dari reaktan biru metilen sangat
mempengaruhi proses fotokatalitik, semakin rendah konsentrasi biru metilen
maka aktifitas fotodegradasi akan lebih optimal karena sisi aktif dari katalis
banyak yang bereaksi dengan reaktan. Ketika sisi aktif katalis semakin banyak
bereaksi dengan biru metilen maka akan semakin cepat terbentuknya OH radikal,
sehingga proses degradasi akan terjadi lebih optimal. Disisi lain semakin tinggi
konsentrasi biru metilen maka akan mengakibatkan jumlah foton yang sampai
pada permukaan zat warna semakin menurun, karena sisi aktif yang dimiliki
komposit tidak cukup banyak untuk mengadsorpsi biru metilen pada konsentrasi
yang semakin besar, sehingga akan menyebabkan kurangnya pembentukan OH
radikal yang berfungsi dalam proses degradasi biru metilen.
Selain parameter pH, massa katalis dan konsentrasi biru metilen, katalis
merupakan salah satu parameter penting dalam proses degradasi biru metilen.
Pada Gambar 4.11. dan Lampiran 10.19. didapatkan persen degradasi MnO
bernilai 43,31% dan MnO/Bentonit bernilai 89,73%, dapat disimpulkan bahwa
komposit MnO/Bentonit memiliki persen degradasi yang besar. Hal ini
dikarenakan katalis bentonit memiliki kapasitas adsorpsi yang baik dan memiliki
kemampuan untuk mendegradasi zat warna melalui proses fotokatalis (Fisli,

34
2008). Sisi aktif katalis dapat diperbanyak dengan penambahan support pada
katalis tersebut, yang berfungsi untuk menghasilkan OH radikal, sehingga proses
degradasi akan berlangsung lebih optimal.
Tahap terakhir yaitu membandingkan proses degradasi dengan penyinaran
dan tanpa penyinaran, pada Gambar 4.12. dan Lampiran 10.20. dengan
penyinaran UV dihasilkan persen degradasi sebesar 76,05% dan tanpa penyinaran
UV persen degradasi sebesar 64,33%. Berdasarkan hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa dengan penyinaran UV proses degradasi lebih meningkat
daripada tanya penyinaran UV. Peningkatan degradasi ini disebabkan adanya
energi foton dari sinar UV yang menyebabkan eksitasi elektron sehingga akan
membentuk pasangan hole dan elektron, yang mana elektron akan bereaksi
dengan oksigen dan air untuk menghasilkan ion OH -. Ion OH- akan bereaksi
dengan hole membentuk OH radikal yang akan mendegradasi biru metilen.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Rahman et al., 2014) bahwa proses
fotokatalisis tidak terjadi dalam kondisi gelap karena terbentuk rekombinasi antara
elektron (e- ) dan hole (h+ ) yang dapat terjadi di dalam atau di permukaan partikel
fotokatalis sehingga menyebabkan berkurangnya aktivitas fotokatalitik. Selain itu,
dalam kondisi gelap fotokatalis tidak menyerap foton untuk mengeksitasi elektron
ke pita konduksi sehingga tidak dihasilkan hole dalam sistem fotokatalis dan pada
fotokatalis hanya bertindak sebagai absorben (Wardhani et al., 2016).

35
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai
berikut:
1. pH mempengaruhi degradasi biru metilen, persen degradasi menggunakan
komposit MnO/Karbon Aktif pada pH 3 yaitu 81,85 %, tanpa pengaturan
pH 92,54%, pH 7 95,93%, pH 9 97,04% dan pH 11 98,86%. Persen
degradasi menggunakan komposit MnO/Bentonit pada pH 3 yaitu 87,75
%, tanpa pengaturan pH 76,05%, pH 7 81,53%, pH 9 83,69% dan pH 11
89,73%. Dapat disimpulkan pH optimum yang diperoleh dari
fotodegradasi adalah pH 11.
2. Massa katalis mempengaruhi degradasi biru metilen, persen degradasi
menggunakan komposit MnO/Karbon Aktif pada massa 0 mg yaitu 14,72
%, massa 25 mg 83,86%, massa 30 mg 89,67%, massa 35mg 98,86% dan
massa 40 mg 99,31%. Persen degradasi menggunakan komposit
MnO/Bentonit pada massa 0 mg yaitu 32,06 %, massa 20 mg 63,84%,
massa 25 mg 89,73%, dan massa 30 mg 86,90%.
3. Konsentrasi degradasi mempengaruhi degradasi biru metilen, persen
degradasi menggunakan komposit MnO/Karbon Aktif pada 50 ppm yaitu
98,86%, 60 ppm 74,38% dan 70 ppm 41,26%. Persen degradasi
menggunakan komposit MnO/Bentonit pada 12,5 ppm yaitu 89,73 %, 20
ppm 63,64% dan 30 ppm 50,47%.

5.2 Saran
Peneliti menyarankan untuk penelitian lebih lanjut dilakukan penggunaan
kembali (reusability) komposit MnO/Karbon aktif dan MnO/Bentonit untuk
mendegradasi zat warna biru metilen dan perlu dilakukan degradasi dengan
menggunakan jenis zat warna lain.

36
DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Saad Saber, Madzlan Aziz, Wan Rosemaria Wan Baharom, Wan
Zuraidah Wan Mahmud. Structure of SnO2 nanoparticles by sol–gel
method. Materials Letters, 2012, 74, 62–64.
Andriana,N .2016. Pemanfaatan silika gel berbasis abu terbang (fly ash) batubara
PLTU paitin-probolinggo sebagai adsorben zat warna metilen biru.
Skripsi. [Link] jember.
Auranda, L. 2022. Sintesis komposit MnO2/bentonit dengan metode
pengendapan untuk degradasi metilen biru. Skripsi. Pekanbaru.
Universitas Riau.
Awaluddin, A., Erwin, A., Aurora, SD., Siti, S. S., Riska, A. 2021. The
influence of crystal structure of manganese oxides on the degradation of
methylene blue. Journal of Physics:1-13.
Batista, A. P. L., Carvalho, H. W., Luz, G. H. P., Martins, P. F. Q.,
Goncalves. M., Oliveira, L. C. A.O. 2010. Preparation of CuO/SiO2 and
photocatalytic activity by degradation of methylene blue. Environ Chem
Lett. (8), 63-67.
Chawla, K.K. 2012. Composite materials: Science And Engineering. Springer
Science & Business Media.
Cheng, G., Yu, L., Lin, T., Yang, R., Sun, M., Lan, B., Yang, L., & Deng, F.
2014. A facile one-pot hydrothermal synthesis of β- MnO2 nanopincers
and their catalytic degradation of methylene blue. Journal of Solid State
Chemistry, 217, 57–63.
Chung, Y.C., Chen, Y.C. 2009. Degradation of azo dye reactive violet 5 by
TiO2 photocatalysis. Environ Chem Lett , (7), 347-352.
Erda, Z., Nurhayati., Erwin, A., Riska, A., Siti, S.S., Amir, A.. 2021.
Influencing parameters for degradation of methtlene blue using the
catalyst bentonite supported manganosite MnO synthesized via faciles,
one-pot sol gel route. Journal of Physics:1-7.
Fatimah, Is, Sugiharto, E., Wijaya, K., Tahir, I., dan Kamalia. 2006. Titan

37
Dioksida Terdispersi Pada Zeolit Alam (TiO 2/Zeolit) dan Aplikasinya
untuk Fotodegradasi Congo Red, Indo. J. Chem., 6 (1) : 38–42.
Fatimah, Is., Karna, W. 2005. Sintesis TIO2/zeolit sebagai fotokatalis pada
pengolahan limbah cair industri tapioka secara adsorpsi-fotodegradasi.
Teknoin. 10 (4), 257-267.
Fauziyati, M, R. 2019. Uji adsorpsi bentonit teraktivasi koh terhadap logam
berat Cu(II). Skripsi. Semarang. Universitas Islam Negeri Walisongo.
Fisli Adel. 2008. Adsorben Nanokomposit Oksida Besi-Bentonit untuk
Pengolahan Limbah Nuklir dan Non-Nuklir. Pusat Teknologi Bahan
Industri Nuklir BATAN.
Gnanaprakasam, A., Sivakumar, V.M., and Thirumarimurugan, M. 2015.
Influencing parameters in the photocatalytic degradation of organic
effluent via nanometal oxide catalyst: A Review. Indian J. Mater. Sci., 3,
1-16.
Hamdaoui, O., and Chiha, M., 2006, Removal of methylene blue from
aqueous solution by wheat bran. Acta Chimica Slovenia, 54 (2), 407-418.
Handayani L., Wuri., Rawayati Indah., Ratnani R., Dewi., 2015, Adsorpsi
pewarna metilen biru menggunakan senyawa xanthat pulpa kopi,
Momentum, 1 (1). 19-23.
Hanum, F., Gultom J. R., Simanjuntak Maradona., 2017. Adsorpsi zat warna
metilen biru dengan karbon aktif dari kulit durian menggunakan koh dan
naoh sebagai aktivator, Jurnal Teknik Kimia, 1 (6), 49-55.
Ilmi, D. R. 2020. Fotodegradasi zat warna Metil Jingga menggunakan fotokatalis
TiO2-N/Zeolit yang disintesis dengan metode sonikasi [Skripsi]. Malang:
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Hawley. 1981. Condensed Chemical Dictionary. Eleventh ed. Van Nortrand
Reinhold, New York.
Hevira, l., Zilfa., Rahmayeni., Joshua. O. I., Rahmiana. Z. 2020. Biosorption
of indigo carmine from aqueous solution by Terminalia catappa shell.
Journal of Environmental Chemical Engineering, 8 (5).
Husnul, K. R. 2016, Pembuatan dan karakterisasi karbon aktif dari tempurung

38
kelapa (cocous nucifera l.) sebagai adsorben zat warna metilen biru,
Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Lampung, Bandar Lampung.
Jiang, C., Lee, K.Y., Parlett, C.M.A., Bayazit, M.K., Lau, C.C., Ruan, Q.,
Moniz, S.J.A., Lee, A.F., and Tang, J. 2015. Size-controlled TiO2
nanoparticles on porous hosts for enhanced photocatalystic hydrogen
production. App. Catal. A: General, 1-3.
Karimah, K. N. 2006. Kapasitas adsorpsi bentonit terhadap logam Cr(iii) pada
kondisi optimum. Skripsi. Semarang : FMIPA UNNES.
Khilya, A. 2014. Sintesis arang aktif alang-alang(imperata cylindrica) dan
optimasi aplikasinya dalam menurunkan kadar Cd2+ pada larutan. Skripsi.
Semarang : FMIPA UNNES.
Kvech., Steve and Erika, T. 1998. Activated carbon. Departement of civil and
environmental engineering. United States of [Link] Tech
University.
Lestari, M.W. 2013. Sintesis dan karakterisasi nanokatalis CuO/TiO2 yang
diaplikasikan pada proses degradasi limbah fenol. Indo. J. Chem, 2.
Ningsih, S. K. W. 2013. Pengaruh aditif pada sintesis nanopartikel Mn2O3
melalui proses sol-gel. Jurnal Kimia. Vol. 7, no. 1.
Noppianti, F. 2021. Sintesis fotokatalis komposit MnO2-bentonit dengan metode
sol gel untuk degradasi lombah cair pabrik kelapa sawit. Skripsi.
Pekanbaru. Universitas Riau.
Qodri, A. A. 2011. Fotodegradasi zat warna remazol yellow fg dengan fotokatalis
komposit TiO2/SiO2. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Sebelas
Maret, Surakarta.
Qourzal,S.,Tamimi,M.,Assabane.A, and Ait-Ichou, Y., 2009. Photodegradation
of – 2 naphtol using Nanocrystalline TiO 2, M. J. CONDENSED MATER,
11 : 55-59.
Radiansyah, D., Supardan M. D., 2014, Optimasi proses pembuatan karbon
aktif dari ampas bubuk kopi menggunakan aktivator ZnCl 2, Jurnal
Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia, 3 (6): 1-5.
Rahayu, S., Netti, H., Mohammad, W. 2020. Sintesis nanopartikel mangan

39
oksida dengan metode sol gel dan uji aktivitas katalitik terhadap degradasi
zat warna rhodamin B. Jurnal Chemical. 21 (2) : 190-199.
Rahman, T. (2014). Sintesis titanium dioksida nanopartikel. Jurnal Integrasi
Proses. 5(1), 15-29.
Reza, S. 2012. Preparasi dan karakterisasi bentonit tapanuli terinterkalasi
surfaktan kationik ODTMABr dan aplikasinya sebagai adsorben para-
klorofenol. Skripsi. Jakarta. Universitas Indonesia.
Risna. 2020. Karbon aktif limbah serat sagu (metroxylon sago) sebagai adsorben
metilen biru . Skripsi. Palopo. Universitas Cokroaminoto Palopo.
Ruskandi, C. Ari, S. [Link]. 2020. Karakterisasi fisik dan kimiawi bentonite
untuk membedakan natural sodium bentonite dengan sodium bentonite
hasil aktivasi. Jurnal Polimesin. 18 (1).
Rusydi, A. F., Suherman, D ., & Sumawijaya, N. 2017. Pengolahan air limbah
tekstil melalui metode koagulasi-flokulasi dengan menggunakan lempung
sebagai penyumbang partikel tersuspensi. Arena Tekstil. 2(31). 105-114.
Sapawe, N., Jalil A.A., dam triwahyono S., 2013, Cost-effective microwave
rapid synthesis of zeolit naa for removal ofmethylene blue, Journal pf
chemical engineering, 388-398.
Soejima, T., Nishizawa, K., & Isoda, R. 2018. Monodisperse manganese oxide
nanoparticles: Synthesis, characterization, and chemical reactivity. Journal
of Colloid and Interface Science, 510, 272–279.
Susila, A, A. 2021. Uji aktivitas fotokatalitik komposit MnO2/abu layang dalam
mendegradasi zat warna metilen biru. Skripsi. Pekanbaru. Universitas
Riau.
Tanasale,M.F.J.D.P.,Killay, A., dan Laratmase, M. S.2012. Kitosan dan
limbah kulit kepiting rajungan sebagai adsorben zat warna biru metilena.
Jurnal Natur Indonesia. Vol 1492);155-171.
Underwood, A,L & R.A. Day, Jr. 1989. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta:
Erlangga.
Wang, Y. H., Rahman, K. H., Wu, C. C., & Chen, K. C. 2020. A review on the

40
pathways of the improved structural characteristics and photocatalytic
performance of titanium dioxide (TiO2) thin films fabricated by the
magnetron-sputtering technique. Catalysts, 10(6).
Wardhani, S., Bahari, A., & Misbah Khunur, M. 2016. Aktivitas Fotokatalitik
Beads TiO2-N/Zeolit-Kitosan pada Fotodegradasi Metilen Biru (Kajian
Pengembanan, Sumber Sinar, dan Lama Penyinaran). Journal of
Enviromental Engineering and Sustainable Technology, 3(2), 78–84.
Wardhani, S., Farid Rahman, M. F., Purwonugroho, D., Triandi Tjahjanto,
R., Adi Damayanti, C., & Oktavia Wulandari, I. 2016. Photocatalytic
Degradation of Methylene Blue Using TiO2-Natural Zeolite as a
Photocatalyst. The Journal of Pure and Applied Chemistry Research, 5(1),
19–27.
Wijaya, K ., Sugiharto, E., Fatimah, I., Sudiono, S., Kurniaysih, D. 2006.
Utilisasi TiO2-Zeolit dan sinar Uv untuk Foto Degradasi Zat Warna Congo
Red. Tenoin, 11(3), 199-209.
Wismayanti, D, A., Diantariani, N, P., Santi, S, R., 2015, Pembuatan Komposit
ZnO/KA Sebagai Fotokatalis Untuk Mendegradasi Zat Warna Metilen
Biru, Jurnal Kimia, 9(1) : 109-116.
Zakir, M., Botahala, L., Ramang, M., Fauziah, S., & Abdussamad, B. 2013.
Elektrodeposisi logam Mn pada permukaan karbon aktif sekam padi
dengan iradiasi ultrasonik. Indonesia Chimica Acta, 6(2), 9-18.
Zsolt, P. 2011. Synthesis, morpho-structural characterization and enveronmental
aplication of titania photocatalysts obtained by rapid crystallization. Ph.D
Dissertation. University of Szeged, Babes-Bolyai University. Szaged,
Hungary, Cluj-Napoca, Romania.

41
LAMPIRAN

Lampiran 1. Membuat Larutan MB

1.1. Larutan Induk Biru Metilen 1000 ppm

Bubuk biru metilen sebanyak 1 g ditimbang


menggunakan timbangan analitik

Bubuk biru metilen dimasukkan kedalam gelas


ukur, kemudian diaduk dan dimasukkan kedalam
labu ukur1000 mL

Akua DM ditambahkan kedalam labu ukur sampai


tanda batas dan dihomogenkan

1.2. Larutan Intermediet MB 100 ppm

Larutan induk 1000 ppm diambil 50 mL


menggunakan pipet volume dan dimasukkan
kedalam labu ukur 500 mL

Aqua DM ditambahkan kedalam labu ukur sampai


tanda batas

Campuran dihomogenkan

42
1.3. Pembuatan Larutan Biru Metilen 1,2,3,4 dan 5 ppm

Larutan intermediet biru metilen 100 ppm diambil


50 mL dan dilarutkan dalam 100 mL akua DM
(larutan MB 50 ppm)

Larutan biru metilen 50 ppm diambil sebanyak 20


mL dan dilarutkan dalam 100 ml aqua DM (larutan
MB 10 ppm)

Larutan biru metilen 10 ppm diambil sebanyak 25


mL dan dilarutkan dalam 50 mL aqua DM (larutan
MB 5 ppm)

Larutan biru metilen 5 ppm diambil dengan volume


masing-masing 2, 4, 6, dan 8 dan untuk konsentrasi
biru metilen 1, 2, 3, dan 4 dilarutkan dalam 10 mL
aqua DM

43
Lampiran 2. Panjang Gelombang dan Kurva Kalibrasi

2.1. Panjang Gelombang Optimum Biru Metilen

Larutan intermediet diencerkan dengan aqua DM


hingga konsentrasi 3 ppm

Larutan diukur serapan maksimumnya menggunakan


spektrofotometer UV-Vis

Panjang gelombang yang digunakan adalah 500-700


nm dengan aquades sebagai blanko

2.2. Kurva Kalibrasi Biru Metilen

Larutan intermediet 100 ppm diencerkan dengan


aqua DM secara bertingkat

Pengenceran dilakukan hingga konsentrasi 1,2,3,4


dan 5 ppm

Larutan diukur absorbansinya pada panjang


gelombang optimum

44
Lampiran 3. Menentukan Waktu Keseimbangan MnO/Karbon Aktif

Larutan MB 40 ppm sebanyak 100 mL diambil dan


dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL

Komposit sebanyak 35 mg dicampurkan kedalam


larutan MB dan diaduk di ruang gelap

Setiap pengadukan 10 menit sampai terjadi


kesetimbangan larutan diambil 5 mL dan
disentrifugasi dengan kecepatan 2000 rpm selama 10
menit

Konsentrasi larutan diukur dengan menggunakan


spektrofotometer visible pada panjang gelombang
660 nm

45
Lampiran 4. Aplikasi Komposit MnO/Karbon Aktif Dalam Degradasi MB

4.1. Pengaruh pH Terhadap Degradasi MB


Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL
dibuat dalam kondisi pH 3 ditambahkan 35 mg
komposit MnO/Karbon Aktif diaduk selama 60
menit

Campuran disinari menggunakan UV

Penyinaran dilakukan di menit 61 sambil terus


diaduk

Larutan diambil sebanyak 5 mL pada penyinaran


menit ke 10, 20, 30, 40, 50, 60, 90,100,110 dan 120
menit

larutan disentrifugasi selama 10 menit dengan


kecepatan 2000 rpm

konsentrasi larutan diukur dengan menggunakan


spektrofotometer visible pada panjang gelombang
660 nm

Perlakuan yang sama dilakukan pada pH 7, 9, 11 dan


tanpa pengaturan pH

46
4.2. Pengaruh Massa Komposit

Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL


dalam kondisi pH 11 ditambahkan 35 mg komposit
MnO/Karbon Aktif

Diaduk selama 60 menit

Campuran disinari menggunakan UV

Penyinaran dilakukan di menit 61 sambil terus


diaduk

Larutan diambil sebanyak 5 mL pada penyinaran


menit ke 10, 20, 30, 40, 50, 60, 90,100,110 dan 120
menit

larutan disentrifugasi selama 10 menit dengan


kecepatan 2000 rpm

konsentrasi larutan diukur dengan menggunakan


spektrofotometer visible pada panjang gelombang
660 nm

Perlakuan yang sama diberikan pada massa komposit


0, 25, 30, 35 dan 40 mg

47
4.3. Pengaruh Konsentrasi MB

Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL


dalam kondisi pH 11 ditambahkan 35 mg komposit
MnO/Karbon Aktif

Diaduk selama 60 menit

Campuran disinari menggunakan UV

Penyinaran dilakukan di menit 61 sambil terus


diaduk

Larutan diambil sebanyak 5 mL pada penyinaran


menit ke 10, 20, 30, 40, 50, 60, 90, 100,110 dan
120 menit

larutan disentrifugasi selama 10 menit dengan


kecepatan 2000 rpm

konsentrasi larutan diukur dengan menggunakan


spektrofotometer visible pada panjang gelombang
660 nm

Perlakuan yang sama diberikan pada larutan MB


60 dan 70 ppm

48
4.4. Pengaruh Katalis (Komposit MnO/Karbon Aktif dan MnO)

Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL


dalam kondisi pH 11 ditambahkan 35 mg komposit
MnO/Karbon Aktif

Campuran disinari UV

Penyinaran dilakukan di menit 61 sambil terus


diaduk

Larutan diambil sebanyak 5 mL pada penyinaran


menit ke 10, 20, 30, 40, 50, 60, 90, 100, 110 dan
120 menit

larutan disentrifugasi selama 10 menit dengan


kecepatan 2000 rpm

konsentrasi larutan diukur dengan menggunakan


spektrofotometer visible pada panjang gelombang
660 nm

Perlakuan yang sama dilakukan pada katalis MnO

49
4.5. Pengaruh Penyinaran dan Tanpa Penyinaran

Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL


ditambahkan 35 mg komposit MnO/Karbon Aktif

Tanpa penyinaran dengan UV larutan diaduk selama


120 menit

Larutan diambil 5 mL setiap 10 menit

larutan disentrifugasi selama 10 menit dengan


kecepatan 2000 rpm

konsentrasi larutan diukur dengan menggunakan


spektrofotometer visible pada panjang gelombang
660 nm

Perlakuan yang sama dilakukan dengan penyinaran


UV

50
Lampiran 5. Menentukan Waktu Keseimbangan MnO/Bentonit

Larutan MB 40 ppm sebanyak 100 mL diambil dan


dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL

Komposit sebanyak 25 mg dicampurkan kedalam


larutan MB dan diaduk diruang gelap

Setiap pengadukan 10 menit sampai terjadi


kesetimbangan larutan diambil 5 mL dan
disentrifugasi dengan kecepatan 2000 rpm selama
10 menit

Konsentrasi larutan diukur dengan menggunakan


spektrofotometer visible pada panjang gelombang
660 nm

51
Lampiran 6. Aplikasi Komposit MnO/Bentonit Dalam Degradasi MB

6.1. Pengaruh pH Terhadap Degradasi MB

Larutan biru metilen 12,5 ppm sebanyak 100 mL


dibuat dalam kondisi pH 3 ditambahkan 25 mg
komposit MnO/Bentonit diaduk selama 70 menit

Campuran disinari menggunakan UV

Penyinaran dilakukan di menit 71 sambil terus


diaduk

Larutan diambil sebanyak 5 mL pada penyinaran


menit ke 10, 20, 30, 40, 50, 60, 90,100,110 dan 120
menit

larutan disentrifugasi selama 10 menit dengan


kecepatan 2000 rpm

konsentrasi larutan diukur dengan menggunakan


spektrofotometer visible pada panjang gelombang
660 nm

Perlakuan yang sama dilakukan pada pH 7, 9, 11 dan


tanpa pengaturan pH

52
6.2. Pengaruh Massa Komposit

Larutan biru metilen 12,5 ppm sebanyak 100 mL


dalam kondisi pH 11 ditambahkan 25 mg komposit
MnO/Bentonit

Diaduk selama 70 menit

Campuran disinari menggunakan UV

Penyinaran dilakukan di menit 71 sambil terus


diaduk

Larutan diambil sebanyak 5 mL pada penyinaran


menit ke 10, 20, 30, 40, 50, 60, 90,100,110 dan 120
menit

larutan disentrifugasi selama 10 menit dengan


kecepatan 2000 rpm

konsentrasi larutan diukur dengan menggunakan


spektrofotometer visible pada panjang gelombang
660 nm

Perlakuan yang sama diberikan pada massa komposit


0, 20, dan 30

53
6.3. Pengaruh Konsentrasi MB

Larutan biru metilen 12,5 ppm sebanyak 100 mL


dalam kondisi pH 11 ditambahkan 25 mg komposit
MnO/Bentonit

Diaduk selama 70 menit

Campuran disinari menggunakan UV

Penyinaran dilakukan di menit 71 sambil terus


diaduk

Larutan diambil sebanyak 5 mL pada penyinaran


menit ke 10, 20, 30, 40, 50, 60, 90,100,110 dan 120
menit

larutan disentrifugasi selama 10 menit dengan


kecepatan 2000 rpm

konsentrasi larutan diukur dengan menggunakan


spektrofotometer visible pada panjang gelombang
600 nm

Perlakuan yang sama diberikan pada larutan MB 20


dan 30 ppm

54
6.4. Pengaruh Katalis (Komposit MnO/Bentonit)

Larutan biru metilen 12,5 ppm sebanyak 100 mL


dalam kondisi pH 11 ditambahkan 25 mg komposit
MnO/Bentonit

Campuran disinari UV

Penyinaran dilakukan dimenit 61 sambil terus


diaduk

Larutan diambil sebanyak 5 mL pada penyinaran


menit ke 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90, 100, 110
dan 120 menit

Larutan disentrifugasi selama 10 menit dengan


kecepatan 2000 rpm

Konsentrasi larutan diukur dengan menggunakan


spektrofotometer visible pada panjang gelombang
660 nm

Perlakuan yang sama dilakukan pada katalis MnO

55
6.5. Pengaruh Penyinaran dan Tanpa Penyinaran

Larutan biru metilen 12,5 ppm sebanyak 100 mL


ditambahkan 25 mg komposit MnO/Bentonit

Tanpa penyinaran dengan UV larutan diambil


selama 120 menit

Larutan diambil 5 mL setiap 10 menit

Larutan disentrifugasi selama 10 menit dengan


kecepatan 2000 rpm

Konsentrasi larutan diukur dengan menggunakan


spektrofotomrter visible pada panjang gelombang
660 nm

Perlakuan yang sama dilakukan dengan penyinaran


UV

56
Lampiran 7. Perhitungan

1. Larutan induk biru metilen 1000 ppm

1000 ppm = x mg
1 Liter
x mg = 1000 ppm × 1 Liter
x mg = 1000 mg
=1g
2. Larutan Intermediet biru metilen 100 ppm
V1.ppm1 = V2 . ppm2
V1.1000 ppm = 500 mL.100 ppm
V1 = 50 mL
3. Larutan 50 ppm biru metilen
V1.ppm1 = V2 . ppm2
V1.100 ppm = 100 mL.50 ppm
V1 = 50 mL
4. Larutan 10 ppm biru metilen
V1.ppm1 = V2 . ppm2
V1.50 ppm = 100 mL.10 ppm
V1 = 20 mL
5. Larutan 5 ppm biru metilen dari 10 ppm biru metilen
V1.ppm1 = V2 . ppm2
V1.10 ppm = 50 mL.5ppm
V1 = 25 mL
6. Larutan 4 ppm biru metilen dari 5 ppm biru metilen
V1.ppm1 = V2 . ppm2
V1.5 ppm = 10 mL.4 ppm
V1 = 8 mL
7. Larutan 3 ppm biru metilen dari 5 ppm biru metilen
V1.ppm1 = V2 . ppm2
V1.5 ppm = 10 mL.3 ppm
V1 = 6 mL

57
8. Larutan 2 ppm biru metilen dari 5 ppm biru metilen
V1.ppm1 = V2 . ppm2
V1.5 ppm = 10 mL.2 ppm
V1 = 4 mL

9. Larutan 1 ppm biru metilen dari 5 ppm biru metilen


V1.ppm1 = V2 . ppm2
V1.5 ppm = 10 mL.1 ppm
V1 = 2 mL

58
Lampiran 8. Panjang Gelombang Optimum dan Kurva Kalibrasi

8.1 Penentuan Panjang Gelombang Biru Metilen

Panjang Gelombang Absorbansi


500 0,03
510 0,031
520 0,043
530 0,055
540 0,072
550 0,097
560 0,117
570 0,149
580 0,182
590 0,223
600 0,264
610 0,302
620 0,336
630 0,371
640 0,412
650 0,448
660 0,455
662 0,441
664 0,438
666 0,421
668 0,407
670 0,389
680 0,273
690 0,171
700 0,096

0.5

0.4
Absorbansi (A)

0.3

0.2

0.1

0
450 500 550 600 650 700 750
Panjang Gelombang (nm)

59
8.2. Kurva Kalibrasi

Konsentrasi Absorbansi
0 0
1 0,179
2 0,331
3 0,455
4 0,585
5 0,696

Kurva Kalibrasi
0.8

0.6 f(x) = 0.137771428571429 x + 0.029904761904762


Absorbansi (A)

R² = 0.992979637064114
0.4

0.2

0
0 1 2 3 4 5 6
Konsentrasi (ppm)

60
Lampiran 9. Uji Aktivitas Katalis untuk Degaradasi Biru Metilen
menggunakan komposit MnO/Karbon aktif

9.1. Menentukan Waktu Kesetimbangan ( Massa katalis 35 mg dan MB 40


ppm)
T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB sisa Degrada
(menit) tersisa tersisa rata- si rata-
1 (%) 1 (%) rata (%) rata (%)

10 0,547 0,535 0,541 40,784 9,73 9,52 9,63 90,37


20 0,434 0,447 0,451 40,784 7,72 7,95 8,02 92,10
30 0,339 0,338 0,331 40,784 6,03 6,01 5,89 94,02
40 0,297 0,309 0,293 40,784 5,28 5,50 5,21 94,67
50 0,24 0,261 0,253 40,784 4,27 4,64 4,50 95,53
60 0,237 0,231 0,247 40,784 4,22 4,11 4,39 95,76
70 0,237 0,230 0,248 40,784 4,22 4,09 4,41 95,76
80 0,17 0,199 0,183 40,784 3,02 3,54 3,26 96,73
90 0,171 0,187 0,179 40,784 3,04 3,33 3,19 96,81
100 0,142 0,136 0,125 40,784 2,53 2,42 2,22 97,61
110 0,091 0,096 0,091 40,784 1,62 1,71 1,62 98,35
120 0,084 0,094 0,097 40,784 1,49 1,67 1,73 98,37

9.2. Komposit MnO/karbon Aktif (pH 3, massa katalis 35 mg, MB 50 ppm),


dilakukan pengenceran 5 kali
T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB sisa Degrada
(menit) tersisa tersisa rata- si rata-
1 (%) 1 (%) rata (%) rata (%)

10 0,35 0,373 0,367 50,508 25,14 26,80 26,10 73,90


20 0,308 0,335 0,311 50,508 22,13 24,07 22,84 77,16
30 0,301 0,323 0,297 50,508 21,62 23,20 22,05 77,95
40 0,287 0,302 0,313 50,508 20,62 21,70 21,60 78,40
50 0,287 0,295 0,291 50,508 20,62 21,19 20,91 79,09
60 0,288 0,288 0,291 50,508 20,69 20,69 20,76 79,24
70 0,273 0,283 0,287 50,508 19,61 20,33 20,19 79,81
80 0,261 0,274 0,269 50,508 18,75 19,68 19,25 80,75
90 0,26 0,267 0,262 50,508 18,68 19,18 18,89 81,11
100 0,254 0,253 0,257 50,508 18,25 18,18 18,30 81,70
110 0,253 0,251 0,254 50,508 18,18 18,03 18,15 81,85
120 0,275 0,277 0,279 50,508 19,76 19,90 19,90 80,10

61
9.3. Komposit MnO/karbon Aktif (tanpa pengaturan pH, massa katalis 35
mg, MB 50 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,677 0,684 0,682 50,653 9,70 9,80 9,77 90,24


20 0,651 0,677 0,679 50,653 9,33 9,70 9,73 90,42
30 0,651 0,674 0,668 50,653 9,33 9,66 9,57 90,48
40 0,639 0,643 0,638 50,653 9,15 9,21 9,14 90,83
50 0,617 0,622 0,621 50,653 8,84 8,91 8,90 91,12
60 0,628 0,614 0,625 50,653 9,00 8,80 8,95 91,08
70 0,591 0,595 0,603 50,653 8,47 8,52 8,64 91,46
80 0,573 0,589 0,576 50,653 8,21 8,44 8,25 91,70
90 0,568 0,563 0,567 50,653 8,14 8,07 8,12 91,89
100 0,557 0,549 0,552 50,653 7,98 7,87 7,91 92,08
110 0,536 0,510 0,517 50,653 7,68 7,31 7,41 92,54
120 0,642 0,638 0,645 50,653 9,20 9,14 9,24 90,81

9.4. Komposit MnO/karbon Aktif (pH 7, massa katalis 35 mg, MB 50 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,48 0,492 0,487 50,725 6,87 7,04 6,97 93,04


20 0,446 0,437 0,444 50,725 6,38 6,25 6,35 93,67
30 0,414 0,407 0,413 50,725 5,92 5,82 5,91 94,12
40 0,372 0,375 0,362 50,725 5,06 5,36 5,18 94,80
50 0,418 0,421 0,416 50,725 5,98 6,02 5,95 94,02
60 0,411 0,417 0,415 50,725 5,88 5,97 5,94 94,07
70 0,398 0,391 0,383 50,725 5,69 5,59 5,48 94,41
80 0,352 0,348 0,353 50,725 5,04 4,98 5,05 94,98
90 0,328 0,323 0,320 50,725 4,69 4,62 4,58 95,37
100 0,319 0,311 0,307 50,725 4,56 4,45 4,39 95,53
110 0,283 0,288 0,282 50,725 4,05 4,12 4,03 95,93
120 0,31 0,315 0,321 50,725 4,43 4,51 4,59 95,49

62
9.5. Komposit MnO/karbon Aktif (pH 9, massa katalis 35 mg, MB 50 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,389 0,376 0,384 50,870 5,55 5,36 5,48 94,54


20 0,375 0,347 0,369 50,870 5,35 4,95 5,26 94,81
30 0,355 0,337 0,342 50,870 5,06 4,81 4,88 95,08
40 0,301 0,316 0,317 50,870 4,29 3,21 4,52 95,99
50 0,257 0,262 0,271 50,870 3,67 3,74 3,87 96,24
60 0,247 0,239 0,241 50,870 3,52 3,41 3,44 96,54
70 0,231 0,234 0,239 50,870 3,30 3,34 3,41 96,65
80 0,228 0,221 0,221 50,870 3,25 3,15 3,15 96,81
90 0,215 0,216 0,214 50,870 3,07 3,08 3,05 96,93
100 0,211 0,217 0,219 50,870 3,01 3,10 3,12 96,92
110 0,209 0,209 0,205 50,870 2,98 2,98 2,92 97,04
120 0,219 0,221 0,214 50,870 3,12 3,15 3,05 96,89

9.6. Komposit MnO/karbon Aktif (pH 11, massa katalis 35 mg, MB 50 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,286 0,298 0,291 50,435 4,12 4,29 4,19 95,80


20 0,273 0,286 0,283 50,435 3,93 4,12 4,07 95,96
30 0,212 0,221 0,219 50,435 3,05 3,18 3,15 96,87
40 0,208 0,211 0,203 50,435 2,99 3,04 2,92 97,02
50 0,192 0,196 0,201 50,435 2,76 2,82 2,89 97,18
60 0,191 0,192 0,197 50,435 2,75 2,76 2,83 97,22
70 0,183 0,188 0,185 50,435 2,63 2,71 2,66 97,33
80 0,167 0,161 0,179 50,435 2,40 2,32 2,58 97,57
90 0,156 0,152 0,151 50,435 2,24 2,19 2,17 97,80
100 0,135 0,141 0,137 50,435 1,94 2,03 1,97 98,02
110 0,112 0,110 0,119 50,435 1,61 1,58 1,71 98,36
120 0,085 0,081 0,072 50,435 1,22 1,17 1,04 98,86

63
9.7. Komposit MnO/karbon Aktif (Massa katalis 0 mg, pH 11, MB 50 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,613 0,617 0,611 50,943 87,32 87,89 87,04 12,58


20 0,611 0,616 0,609 50,943 87,04 87,75 86,75 12,82
30 0,61 0,613 0,601 50,943 86,90 87,32 85,61 13,39
40 0,609 0,607 0,604 50,943 86,75 86,47 86,04 13,58
50 0,608 0,609 0,603 50,943 86,61 86,75 85,90 13,58
60 0,605 0,604 0,605 50,943 86,18 86,04 86,18 13,86
70 0,603 0,601 0,601 50,943 85,90 85,61 85,61 14,29
80 0,603 0,596 0,597 50,943 85,90 84,90 85,04 14,72
90 0,615 0,618 0,611 50,943 87,61 88,03 87,04 12,44
100 0,629 0,627 0,631 50,943 89,60 89,32 89,89 10,40
110 0,621 0,627 0,624 50,943 88,46 89,32 88,89 11,11
120 0,62 0,625 0,621 50,943 88,32 89,03 88,46 11,40

9.8. Komposit MnO/karbon Aktif (Massa katalis 25 mg, pH 11, MB 50 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,295 0,298 0,297 50,217 21,32 21,53 21,46 78,56


20 0,287 0,286 0,283 50,217 20,74 20,67 20,45 79,38
30 0,275 0,273 0,277 50,217 19,87 19,73 20,01 80,13
40 0,268 0,267 0,265 50,217 19,36 19,29 19,15 80,73
50 0,253 0,258 0,256 50,217 18,28 18,64 18,50 81,53
60 0,251 0,250 0,254 50,217 18,14 18,06 18,35 81,82
70 0,247 0,246 0,247 50,217 17,85 17,77 17,85 82,18
80 0,239 0,237 0,239 50,217 17,27 17,12 17,27 82,78
90 0,236 0,233 0,234 50,217 17,05 16,84 16,91 83,07
100 0,233 0,229 0,227 50,217 16,84 16,55 16,40 83,41
110 0,227 0,228 0,226 50,217 16,40 16,47 16,33 83,60
120 0,225 0,224 0,221 50,217 16,26 16,19 15,97 83,86

64
9.9. Komposit MnO/karbon Aktif (Massa katalis 30 mg, pH 11, MB 50 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,225 0,228 0,221 50,217 16,26 16,47 15,97 83,77


20 0,217 0,207 0,209 50,217 15,68 14,96 15,10 84,75
30 0,192 0,203 0,197 50,217 13,87 14,67 14,23 85,74
40 0,204 0,207 0,208 50,217 14,74 14,96 15,03 85,09
50 0,207 0,206 0,201 50,217 14,96 14,88 14,52 85,21
60 0,142 0,148 0,139 50,217 10,26 10,69 10,04 89,67
70 0,172 0,169 0,178 50,217 12,43 12,21 12,86 87,50
80 0,164 0,165 0,178 50,217 11,85 11,92 12,86 87,79
90 0,157 0,154 0,172 50,217 11,34 11,13 12,43 88,37
100 0,164 0,167 0,172 50,217 11,85 12,07 12,43 87,89
110 0,167 0,169 0,170 50,217 12,07 12,21 12,28 87,81
120 0,178 0,171 0,176 50,217 12,86 12,36 12,72 87,36

9.10. Komposit MnO/karbon Aktif (Massa katalis 40 mg, pH 11, MB 50 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,097 0,099 0,094 50,290 1,40 1,43 1,36 98,61


20 0,081 0,074 0,071 50,290 1,17 1,07 1,02 98,91
30 0,077 0,071 0,069 50,290 1,11 1,02 1,00 98,96
40 0,067 0,065 0,067 50,290 0,97 0,94 0,97 99,04
50 0,064 0,061 0,063 50,290 0,92 0,88 0,91 99,10
60 0,062 0,058 0,061 50,290 0,89 0,84 0,88 99,13
70 0,051 0,045 0,048 50,290 0,74 0,65 0,69 99,31
80 0,056 0,051 0,050 50,290 0,81 0,74 0,72 99,24
90 0,058 0,054 0,057 50,290 0,84 0,78 0,82 99,19
100 0,058 0,053 0,055 50,290 0,84 0,76 0,79 99,20
110 0,054 0,053 0,054 50,290 0,78 0,76 0,78 99,23
120 0,054 0,052 0,054 50,290 0,78 0,75 0,78 99,23

65
9.11. Komposit MnO/karbon Aktif (MB 60 ppm, pH 11, massa katalis 35 mg)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,525 0,529 0,522 60,812 31,32 31,56 31,15 68,66


20 0,52 0,523 0,519 60,812 31,03 31,21 30,97 68,93
30 0,519 0,52 0,525 60,812 30,97 29,00 31,32 69,57
40 0,527 0,523 0,521 60,812 31,44 31,21 32,28 68,36
50 0,477 0,475 0,469 60,812 28,46 28,34 27,98 71,74
60 0,477 0,471 0,467 60,812 28,46 28,10 27,86 71,86
70 0,425 0,434 0,429 60,812 25,36 25,90 25,60 74,38
80 0,432 0,449 0,437 60,812 25,78 26,79 26,07 73,79
90 0,454 0,451 0,456 60,812 27,09 26,91 27,21 72,93
100 0,476 0,468 0,471 60,812 28,40 27,92 28,10 71,86
110 0,491 0,483 0,485 60,812 29,30 28,82 28,94 70,98
120 0,493 0,48 0,481 60,812 29,42 28,64 28,70 71,08

9.12. Komposit MnO/karbon Aktif (MB 70 ppm, pH 11, massa katalis 35 mg)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,694 0,691 0,695 70,972 35,48 35,33 35,53 64,55


20 0,691 0,691 0,693 70,972 35,33 35,33 35,43 64,64
30 0,688 0,686 0,69 70,972 35,17 35,07 35,28 64,83
40 0,683 0,685 0,687 70,972 34,92 35,02 35,12 64,98
50 0,682 0,680 0,681 70,972 34,87 34,77 34,82 65,18
60 0,677 0,675 0.678 70,972 34,61 34,51 34,66 65,41
70 0,673 0,674 0,672 70,972 34,41 34,46 34,36 65,59
80 0,662 0,669 0,664 70,972 33,84 34,20 33,95 66,00
90 0,661 0,666 0,657 70,972 33,79 34,05 33,59 66,19
100 0,657 0,651 0,655 70,972 33,59 33,28 33,49 66,55
110 0,656 0,648 0,651 70,972 33,54 33,13 33,28 66,68
120 0,654 0,648 0,649 70,972 33,44 33,13 33,18 66,75

66
9.13. Katalis MnO (pH 11, massa katalis 35 mg, MB 50 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,481 0,467 0,478 50,870 68,62 66,62 68,19 32,19


20 0,476 0,471 0,476 50,870 67,90 67,19 67,90 32,33
30 0,461 0,464 0,468 50,870 65,76 66,19 66,76 33,76
40 0,471 0,467 0,465 50,870 67,19 66,62 66,33 33,29
50 0,467 0,457 0,463 50,870 66,62 65,19 66,05 34,05
60 0,448 0,451 0,457 50,870 63,91 64,34 65,19 35,52
70 0,441 0,447 0,456 50,870 62,91 63,77 65,05 36,09
80 0,456 0,458 0,461 50,870 65,05 65,34 65,76 34,62
90 0,442 0,450 0,452 50,870 63,05 64,19 64,48 36,09
100 0,429 0,439 0,443 50,870 61,20 62,62 63,20 37,66
110 0,421 0,431 0,438 50,870 60,06 61,48 62,48 38,66
120 0,427 0,433 0,436 50,870 60,91 61,77 62,20 38,37

9.14. Komposit MnO/karbon Aktif (pH 11, massa katalis 35 mg, MB 50 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,286 0,298 0,291 50,435 4,12 4,29 4,19 95,80


20 0,273 0,286 0,283 50,435 3,93 4,12 4,07 95,96
30 0,212 0,221 0,219 50,435 3,05 3,18 3,15 96,87
40 0,208 0,211 0,203 50,435 2,99 3,04 2,92 97,02
50 0,192 0,196 0,201 50,435 2,76 2,82 2,89 97,18
60 0,191 0,192 0,197 50,435 2,75 2,76 2,83 97,22
70 0,183 0,188 0,185 50,435 2,63 2,71 2,66 97,33
80 0,167 0,161 0,179 50,435 2,40 2,32 2,58 97,57
90 0,156 0,152 0,151 50,435 2,24 2,19 2,17 97,80
100 0,135 0,141 0,137 50,435 1,94 2,03 1,97 98,02
110 0,112 0,110 0,119 50,435 1,61 1,58 1,71 98,36
120 0,085 0,081 0,072 50,435 1,22 1,17 1,04 98,86

67
9.15. Komposit MnO/karbon Aktif tanpa Penyinaran (Tanpa pengaturan
pH, massa katalis 35 mg, MB 50 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,279 0,268 0,271 50,435 20,07 19,28 19,50 80,38


20 0,253 0,261 0,247 50,435 18,20 18,78 17,77 81,75
30 0,191 0,199 0,203 50,435 13,74 14,32 14,60 85,78
40 0,19 0,198 0,201 50,435 13,67 14,24 14,46 85,88
50 0,186 0,189 0,188 50,435 13,38 13,60 13,53 86,50
60 0,188 0,182 0,186 50,435 13,53 13,09 13,38 86,67
70 0,171 0,174 0,169 50,435 12,30 12,52 12,16 87,67
80 0,165 0,169 0,167 50,435 11,87 12,16 12,01 87,99
90 0,163 0,162 0,161 50,435 11,73 11,65 11,58 88,35
100 0,156 0,157 0,159 50,435 11,22 11,30 11,44 88,68
110 0,15 0,147 0,155 50,435 10,79 10,58 11,15 89,16
120 0,164 0,166 0,165 50,435 11,80 11,94 11,87 88,13

9.16. Komposit MnO/karbon Aktif dengan Penyinaran (Tanpa pengaturan


pH, massa katalis 35 mg, MB 50 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,677 0,684 0,682 50,653 9,70 9,80 9,77 90,24


20 0,651 0,677 0,679 50,653 9,33 9,70 9,73 90,42
30 0,651 0,674 0,668 50,653 9,33 9,66 9,57 90,48
40 0,639 0,643 0,638 50,653 9,15 9,21 9,14 90,83
50 0,617 0,622 0,621 50,653 8,84 8,91 8,90 91,12
60 0,628 0,614 0,625 50,653 9,00 8,80 8,95 91,08
70 0,591 0,595 0,603 50,653 8,47 8,52 8,64 91,46
80 0,573 0,589 0,576 50,653 8,21 8,44 8,25 91,70
90 0,568 0,563 0,567 50,653 8,14 8,07 8,12 91,89
100 0,557 0,549 0,552 50,653 7,98 7,87 7,91 92,08
110 0,536 0,510 0,517 50,653 7,68 7,31 7,41 92,54
120 0,642 0,638 0,645 50,653 9,20 9,14 9,24 90,81

68
9.17. Pengaruh pH terhadap degradasi MB dengan menggunakan komposit
MnO/Karbon Aktif

t (menit) pH 3 Tanpa pengaturan pH pH 7 pH 9 pH 11


(5.8)
10 73,90 90,24 93,04 94,54 95,80
20 77,16 90,42 93,67 94,81 95,96
30 77,95 90,48 94,12 95,08 96,87
40 78,40 90,83 94,80 95,99 97,02
50 79,09 91,12 94,02 96,24 97,18
60 79,24 91,08 94,07 96,54 97,22
70 79,81 91,46 94,41 96,65 97,33
80 80,75 91,70 94,98 96,81 97,57
90 81,11 91,89 95,37 96,93 97,80
100 81,70 92,08 95,53 96,92 98,02
110 81,85 92,54 95,93 97,04 98,36
120 80,10 90,81 95,49 96,89 98,86

9.18. Pengaruh massa terhadap degradasi MB dengan menggunakan


komposit MnO/Karbon Aktif

t (menit) 0 mg 25 mg 30 mg 35 mg 40 mg
10 12,58 78,56 83,77 95,80 98,61
20 12,82 79,38 84,75 95,96 98,91
30 13,39 80,13 85,74 96,87 98,96
40 13,58 80,73 85,09 97,02 99,04
50 13,58 81,53 85,21 97,18 99,10
60 13,86 81,82 89,67 97,22 99,13
70 14,29 82,18 87,50 97,33 99,31
80 14,72 82,78 87,79 97,57 99,24
90 12,44 83,07 88,37 97,80 99,19
100 10,40 83,41 87,89 98,02 99,20
110 11,11 83,60 87,81 98,36 99,23
120 11,40 83,86 87,36 98,86 99,23

69
9.19. Pengaruh konsentrasi MB dengan menggunakan komposit
MnO/Karbon Aktif

t (menit) 50 ppm 60 ppm 70 ppm


10 95,80 68,66 64,55
20 95,96 68,93 64,64
30 96,87 69,57 64,83
40 97,02 68,36 64,98
50 97,18 71,74 65,18
60 97,22 71,86 65,41
70 97,33 74,38 65,59
80 97,57 73,79 66,00
90 97,80 72,93 66,19
100 98,02 71,89 66,55
110 98,36 70,98 66,68
120 98,86 71,08 66,75

9.20. Pengaruh katalis terhadap degradasi MB dengan menggunakan


komposit MnO/Karbon Aktif

t (menit) MnO MnO/Karbon Aktif


10 32,19 95,80
20 32,33 95,96
30 33,76 96,87
40 33,29 97,02
50 34,05 97,18
60 35,52 97,22
70 36,09 97,33
80 34,62 97,57
90 36,09 97,80
100 37,66 98,02
110 38,66 98,36
120 38,37 98,86

70
9.21. Pengaruh penyinaran terhadap degradasi MB dengan menggunakan
komposit MnO/Karbon Aktif

t (menit) penyinaran tanpa penyinaran


10 90,24 80,38
20 90,42 81,75
30 90,48 85,78
40 90,83 85,88
50 91,12 86,50
60 91,08 86,67
70 91,46 87,67
80 91,70 87,99
90 91,89 88,35
100 92,08 88,68
110 92,54 89,16
120 90,81 88,13

71
Lampiran 10. Uji Aktivitas Katalis untuk Degaradasi Biru Metilen
menggunakan komposit MnO/Bentonit

10.1. Menentukan Waktu Kesetimbangan ( Massa katalis 25 mg dan MB 12,5


ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,668 0,674 0,665 12,544 38,64 38,99 38,47 61,30


20 0,661 0,667 0,657 12,544 38,24 38,59 38,01 61,72
30 0,504 0,523 0,512 12,544 29,16 30,26 29,62 70,32
40 0,433 0,441 0,448 12,544 25,05 25,51 25,92 74,51
50 0,403 0,412 0,409 12,544 23,31 23,83 23,66 76,40
60 0,339 0,321 0,332 12,544 19,61 18,57 19,21 80,87
70 0,301 0,298 0,308 12,544 17,41 17,24 17,82 82,51
80 0,301 0,297 0,310 12,544 17,41 17,18 17,93 82,49
90 0,307 0,310 0,312 12,544 17,76 17,93 18,05 82,09
100 0,31 0,314 0,312 12,544 17,93 18,17 18,05 81,95
110 0,315 0,314 0,316 12,544 18,22 18,17 18,28 81,78
120 0,317 0,318 0,316 12,544 18,34 18,40 18,28 81,66

10.2. Komposit MnO/bentonit (pH 3, massa katalis 25 mg, MB 12,5 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,265 0,253 0,261 12,554 15,32 14,62 15,09 84,99


20 0,261 0,256 0,258 12,554 15,09 14,80 14,91 85,07
30 0,258 0,252 0,257 12,554 14,91 14,57 14,86 85,22
40 0,255 0,251 0,254 12,554 14,74 14,51 14,68 85,36
50 0,249 0,246 0,243 12,554 14,39 14,22 14,05 85,78
60 0,245 0,241 0,242 12,554 14,16 13,93 13,99 85,97
70 0,227 0,221 0,225 12,554 13,12 12,78 13,01 87,03
80 0,221 0,218 0,225 12,554 12,78 12,60 13,01 87,21
90 0,22 0,215 0,223 12,554 12,72 12,43 12,89 87,32
100 0,217 0,213 0,221 12,554 12,54 12,31 12,78 87,46
110 0,211 0,207 0,218 12,554 12,20 11,97 12,60 87,75
120 0,205 0,201 0,215 12,554 11,85 11,62 12,43 88,03

72
10.3. Komposit MnO/bentonit (Tanpa pengaturan pH, massa katalis 25 mg,
MB 12,5 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,617 0,627 0,621 12,554 35,67 36,24 35,90 64,06


20 0,606 0,62 0,617 12,554 35,03 35,84 35,67 64,49
30 0,601 0,612 0,608 12,554 34,74 35,38 35,15 64,91
40 0,536 0,61 0,567 12,554 30,98 35,26 32,78 66,99
50 0,565 0,614 0,543 12,554 32,66 35,49 31,39 66,82
60 0,561 0,576 0,541 12,554 32,43 33,30 31,27 67,67
70 0,536 0,568 0,526 12,554 30,98 32,83 30,41 68,59
80 0,466 0,521 0,473 12,554 26,94 30,12 27,34 71,87
90 0,461 0,495 0,469 12,554 26,65 28,61 27,11 72,54
100 0,456 0,485 0,461 12,554 26,36 18,84 26,65 76,05
110 0,46 0,481 0,470 12,554 26,59 27,80 27,17 72,81
120 0,471 0,482 0,474 12,554 27,23 27,86 27,40 72,50

10.4. Komposit MnO/bentonit (pH 7, massa katalis 25 mg, MB 12,5 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,429 0,429 0,438 12,482 24,94 24,94 25,46 74,88


20 0,428 0,419 0,415 12,482 24,88 24,36 24,13 75,54
30 0,422 0,411 0,409 12,482 24,53 23,90 23,78 75,93
40 0,407 0,393 0,392 12,482 23,66 22,85 22,79 76,90
50 0,368 0,352 0,387 12,482 21,40 20,46 22,50 78,55
60 0,361 0,353 0,363 12,482 20,99 20,52 21,10 79,13
70 0,389 0,347 0,354 12,482 22,62 20,17 20,58 78,88
80 0,373 0,332 0,329 12,482 21,69 19,30 19,13 79,96
90 0,342 0,331 0,317 12,482 19,88 19,24 18,43 80,81
100 0,339 0.326 0,311 12,482 19,71 18,95 18,08 81,09
110 0,33 0,321 0,302 12,482 19,19 18,66 17,56 81,53
120 0,335 0,341 0,301 12,482 19,48 19,83 17,50 81,07

73
10.5. Komposit MnO/bentonit (pH 9, massa katalis 25 mg, MB 12,5 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,397 0,414 0,42 12,699 22,69 23,66 24,00 76,55


20 0,384 0,409 0,415 12,699 21,94 23,37 23,72 76,99
30 0,389 0,401 0,397 12,699 22,23 22,92 22,69 77,39
40 0,368 0,381 0,392 12,699 21,03 21,77 22,40 78,27
50 0,373 0,374 0,387 12,699 21,32 21,37 22,12 78,40
60 0,373 0,359 0,363 12,699 21,32 20,52 20,74 79,14
70 0,317 0,341 0,354 12,699 18,12 19,49 20,23 80,72
80 0,315 0,337 0,329 12,699 18,00 19,26 18,80 81,31
90 0,304 0,304 0,317 12,699 17,37 17,37 18,12 82,38
100 0,304 0,279 0,311 12,699 17,37 15,94 17,77 82,97
110 0,302 0,269 0,285 12,699 17,26 15,37 16,29 83,69
120 0,301 0,284 0,282 12,699 17,20 16,23 16,12 83,48

10.6. Komposit MnO/bentonit (pH 11, massa katalis 25 mg, MB 12,5 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,274 0,273 0,286 12,626 15,75 15,69 16,44 84,04


20 0,261 0,258 0,267 12,626 15,00 14,83 15,35 84,94
30 0,243 0,251 0,261 12,626 13,97 14,43 15,00 85,54
40 0,243 0,249 0,245 12,626 13,97 14,31 14,08 85,88
50 0,24 0,250 0,241 12,626 13,79 14,37 13,85 86,00
60 0,206 0,232 0,229 12,626 11,84 13,33 13,16 87,22
70 0,183 0,211 0,203 12,626 10,52 12,13 11,67 88,56
80 0,189 0,197 0,201 12,626 10,86 11,32 11,55 88,75
90 0,188 0,191 0,192 12,626 10,81 10,98 11,04 89,06
100 0,186 0,187 0,187 12,626 10,69 10,75 10,75 89,27
110 0,176 0,185 0,189 12,626 10,12 10,63 10,86 89,46
120 0,179 0,181 0,176 12,626 10,29 10,40 10,12 89,73

74
10.7. Komposit MnO/bentonit (Massa katalis 0 mg, pH 11, MB 12,5 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,278 0,281 0,273 12,337 81,76 82,65 80,29 18,43


20 0,269 0,265 0,257 12,337 79,12 77,94 75,59 22,45
30 0,261 0,256 0,253 12,337 76,76 75,29 74,41 24,51
40 0,254 0,255 0,25 12,337 74,70 75,00 73,53 25,59
50 0,254 0,245 0,241 12,337 74,70 72,06 70,88 27,45
60 0,248 0,237 0,239 12,337 72,94 69,70 70,29 29,02
70 0,257 0,252 0,247 12,337 75,59 74,12 72,65 25,88
80 0,243 0,251 0,242 12,337 71,47 73,82 71,17 27,84
90 0,241 0,249 0,241 12,337 70,88 73,23 70,88 28,33
100 0,238 0,244 0,235 12,337 70,00 71,76 69,12 29,71
110 0,231 0,237 0,231 12,337 67,94 69,70 67,94 31,47
120 0,228 0,233 0,232 12,337 67,06 68,53 68,23 32,06

10.8. Komposit MnO/bentonit (Massa katalis 20 mg pH 11, MB 12,5 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,692 0,699 0,694 12,482 40,23 40,64 40,35 59,59


20 0,69 0,693 0,687 12,482 40,12 40,29 39,94 59,88
30 0,689 0,686 0,682 12,482 40,06 39,88 39,65 60,14
40 0,687 0,685 0,68 12,482 39,94 39,83 39,53 60,23
50 0,687 0,683 0,675 12,482 39,94 39,71 39,24 60,37
60 0,686 0,683 0,672 12,482 39,88 39,71 39,07 60,45
70 0,651 0,664 0,669 12,482 37,85 38,60 38,89 61,55
80 0,661 0,667 0,661 12,482 38,43 38,78 38,43 61,45
90 0,659 0,658 0,652 12,482 38,31 38,26 37,91 61,84
100 0,634 0,637 0,649 12,482 36,86 37,03 37,73 62,79
110 0,634 0,627 0,629 12,482 36,86 36,45 36,57 63,37
120 0,62 0,617 0,629 12,482 36,05 35,87 36,57 63,84

75
10.9. Komposit MnO/bentonit (Massa katalis 30 mg, pH 11, MB 12,5 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,329 0,341 0,337 12,554 19,02 19,71 19,48 80,60


20 0,303 0,325 0,321 12,554 17,52 18,79 18,56 81,71
30 0,303 0,321 0,319 12,554 17,52 18,56 18,44 81,83
40 0,317 0,316 0,311 12,554 18,32 18,27 17,98 81,81
50 0,291 0,308 0,299 12,554 16,82 17,80 17,28 82,70
60 0,275 0,297 0,300 12,554 15,90 17,17 17,34 83,20
70 0,275 0,267 0,301 12,554 15,90 15,43 17,40 83,76
80 0,257 0,243 0,272 12,554 14,86 14,05 15,72 85,12
90 0,212 0,227 0,241 12,554 12,25 13,12 13,93 86,90
100 0,25 0,238 0,254 12,554 14,45 13,76 14,68 85,70
110 0,231 0,241 0,248 12,554 13,35 13,93 14,34 86,13
120 0,231 0,242 0,249 12,554 13,35 13,99 14,39 86,09

10.10. Komposit MnO/bentonit (MB 20 ppm, pH 11, massa katalis 25 mg)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,251 0,273 0,286 19,956 45,64 49,64 52,00 50,91


20 0,26 0,258 0,267 19,956 47,27 46,91 48,55 52,42
30 0,259 0,251 0,261 19,956 47,09 45,64 47,46 53,27
40 0,258 0,249 0,245 19,956 46,91 45,27 44,55 54,42
50 0,256 0,250 0,241 19,956 46,55 45,46 43,82 54,73
60 0,251 0,232 0,229 19,956 45,64 42,18 41,64 56,85
70 0,247 0,211 0,203 19,956 44,91 38,36 36,91 59,94
80 0,247 0,197 0,201 19,956 44,91 35,82 36,55 60,91
90 0,246 0,191 0,192 19,956 44,73 34,73 34,91 61,88
100 0,245 0,187 0,187 19,956 44,55 34,00 34,00 62,48
110 0,242 0,185 0,189 19,956 44,00 33,64 34,36 62,67
120 0,243 0,181 0,176 19,956 44,18 32,91 32,00 63,64

76
10.11. Komposit MnO/bentonit (MB 30 ppm, pH 11, massa katalis 25 mg)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,491 0,484 0,472 30,842 57,76 56,94 55,53 43,26


20 0,489 0,478 0,467 30,842 57,53 56,23 54,94 43,77
30 0,48 0,481 0,47 30,842 56,47 56,59 55,29 43,88
40 0,476 0,469 0,465 30,842 56,00 55,18 54,71 44,71
50 0,471 0,461 0,463 30,842 55,41 54,23 54,47 45,29
60 0,465 0,457 0,459 30,842 54,71 53,76 54,00 45,84
70 0,403 0,421 0,439 30,842 47,41 49,53 51,65 50,47
80 0,46 0,455 0,461 30,842 54,12 53,53 54,23 46,04
90 0,458 0,462 0,465 30,842 53,88 54,35 54,71 45,69
100 0,457 0,458 0,452 30,842 53,76 53,88 53,18 46,39
110 0,456 0,451 0,453 30,842 53,65 53,06 53,29 46,67
120 0,456 0,449 0,451 30,842 53,65 52,82 53,06 46,82

10.12. Katalis MnO (pH 11, massa katalis 25 mg, MB 12,5 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,231 0,242 0,237 12,482 67,15 70,35 68,89 31,20


20 0,234 0,236 0,239 12,482 68,02 68,60 69,48 31,30
30 0,229 0,231 0,227 12,482 66,57 67,15 65,99 33,43
40 0,223 0,225 0,228 12,482 64,82 65,41 66,28 34,50
50 0,215 0,217 0,227 12,482 62,50 63,08 65,99 36,14
60 0,209 0,219 0,222 12,482 60,76 63,66 64,53 37,02
70 0,197 0,211 0,226 12,482 57,27 61,34 65,70 38,57
80 0,204 0,202 0,218 12,482 59,30 58,72 63,37 39,54
90 0,201 0,193 0,212 12,482 58,43 56,10 61,63 41,28
100 0,183 0,195 0,207 12,482 53,20 56,69 60,17 43,31
110 0,197 0,195 0,208 12,482 57,27 56,69 60,46 41,86
120 0,205 0,214 0,206 12,482 59,59 62,21 59,88 39,44

77
10.13. Komposit MnO/bentonit (pH 11, massa katalis 25 mg, MB 12,5 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,274 0,273 0,286 12,626 15,75 15,69 16,44 84,04


20 0,261 0,258 0,267 12,626 15,00 14,83 15,35 84,94
30 0,243 0,251 0,261 12,626 13,97 14,43 15,00 85,54
40 0,243 0,249 0,245 12,626 13,97 14,31 14,08 85,88
50 0,24 0,250 0,241 12,626 13,79 14,37 13,85 86,00
60 0,206 0,232 0,229 12,626 11,84 13,33 13,16 87,22
70 0,183 0,211 0,203 12,626 10,52 12,13 11,67 88,56
80 0,189 0,197 0,201 12,626 10,86 11,32 11,55 88,75
90 0,188 0,191 0,192 12,626 10,81 10,98 11,04 89,06
100 0,186 0,187 0,187 12,626 10,69 10,75 10,75 89,27
110 0,176 0,185 0,189 12,626 10,12 10,63 10,86 89,46
120 0,179 0,181 0,176 12,626 10,29 10,40 10,12 89,73

10.14. Komposit MnO/bentonit tanpa penyinaran (Tanpa pengaturan pH,


massa katalis 25 mg, MB 12,5 ppm)

T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi


(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,694 0,687 0,692 12,626 39,89 39,49 39,77 60,28


20 0,692 0,681 0,697 12,626 39,77 39,14 40,06 60,34
30 0,687 0,685 0,682 12,626 39,49 39,37 39,20 60,65
40 0,682 0,678 0,676 12,626 39,20 38,97 38,85 60,99
50 0,663 0,666 0,681 12,626 38,11 38,28 39,14 61,49
60 0,657 0,668 0,678 12,626 37,76 38,39 38,97 61,63
70 0,647 0,659 0,672 12,626 37,19 37,88 38,62 62,10
80 0,633 0,653 0,659 12,626 36,38 37,53 37,88 62,74
90 0,632 0,647 0,643 12,626 36,32 37,19 36,96 63,18
100 0,621 0,633 0,637 12,626 35,69 36,38 36,61 63,77
110 0,619 0,631 0,631 12,626 35,58 36,27 36,27 63,96
120 0,614 0,627 0,621 12,626 35,29 36,04 35,69 64,33

10.15. Komposit MnO/bentonit dengan penyinaran (Tanpa pengaturan pH,


massa katalis 25 mg, MB 12,5 ppm)

78
T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi
(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)

10 0,617 0,627 0,621 12,554 35,67 36,24 35,90 64,06


20 0,606 0,62 0,617 12,554 35,03 35,84 35,67 64,49
30 0,601 0,612 0,608 12,554 34,74 35,38 35,15 64,91
40 0,536 0,61 0,567 12,554 30,98 35,26 32,78 66,99
50 0,565 0,614 0,543 12,554 32,66 35,49 31,39 66,82
60 0,561 0,576 0,541 12,554 32,43 33,30 31,27 67,67
70 0,536 0,568 0,526 12,554 30,98 32,83 30,41 68,59
80 0,466 0,521 0,473 12,554 26,94 30,12 27,34 71,87
90 0,461 0,495 0,469 12,554 26,65 28,61 27,11 72,54
100 0,456 0,485 0,461 12,554 26,36 18,84 26,65 76,05
110 0,46 0,481 0,470 12,554 26,59 27,80 27,17 72,81
120 0,471 0,482 0,474 12,554 27,23 27,86 27,40 72,50

10.16. Pengaruh pH terhadap degradasi MB dengan menggunakan komposit


MnO/Bentonit

t (menit) pH 3 Tanpa pengaturan pH pH 7 pH 9 pH 11


(5.5)
10 84,99 64,06 74,88 76,55 84,04
20 85,07 64,49 75,54 76,99 84,94
30 85,22 64,91 75,93 77,39 85,54
40 85,36 66,99 76,90 78,27 85,88
50 85,78 66,82 78,55 78,40 86,00
60 85,97 67,67 79,13 79,14 87,22
70 87,03 68,59 78,88 80,72 88,56
80 87,21 71,87 79,96 81,31 88,75
90 87,32 72,54 80,81 82,38 89,06
100 87,46 76,05 81,09 82,97 89,27
110 87,75 72,81 81,53 83,69 89,46
120 88,03 72,50 81,07 83,48 89,73

10.17. Pengaruh massa terhadap degradasi MB dengan menggunakan


komposit MnO/Bentonit

79
t (menit) 0 mg 20 mg 25 mg 30 mg
10 18,43 59,59 84,04 80,60
20 22,45 59,88 84,94 81,71
30 24,51 60,14 85,54 81,83
40 25,59 60,23 85,88 81,81
50 27,45 60,37 86,00 82,70
60 29,02 60,45 87,22 83,20
70 25,88 61,55 88,56 83,76
80 27,84 61,45 88,75 85,12
90 28,33 61,84 89,06 86,90
100 29,71 62,79 89,27 85,70
110 31,47 63,37 89,46 86,13
120 32,06 63,84 89,73 86,09

10.18. Pengaruh konsentrasi MB dengan menggunakan komposit


MnO/Bentonit

t (menit) 12.5 ppm 20 ppm 30 ppm


10 84,04 50,91 43,26
20 84,94 52,42 43,77
30 85,54 53,27 43,88
40 85,88 54,42 44,71
50 86,00 54,73 45,29
60 87,22 56,85 45,84
70 88,56 59,94 50,47
80 88,75 60,61 46,04
90 89,06 61,88 45,69
100 89,27 62,48 46,39
110 89,46 62,67 46,67
120 89,73 63,64 46,82

10.19. Pengaruh katalis terhadap degradasi MB dengan menggunakan


komposit MnO/Bentonit

t (menit) MnO MnO/Bentonit

80
10 31,20 84,04
20 31,30 84,94
30 33,43 85,54
40 34,50 85,88
50 36,14 86,00
60 37,02 87,22
70 38,57 88,56
80 39,54 88,75
90 41,28 89,06
100 43,31 89,27
110 41,86 89,46
120 39,44 89,73

10.20. Pengaruh penyinaran terhadap degradasi MB dengan menggunakan


komposit MnO/Bentonit

t (menit) penyinaran tanpa penyinaran


10 64,06 60,28
20 64,49 60,34
30 64,91 60,65
40 64,99 60,99
50 66,82 61,49
60 67,67 61,63
70 68,59 62,10
80 71,87 62,74
90 72,54 63,18
100 76,05 63,77
110 72,81 63,96
120 72,50 64,33

t
Degradas
(menit Degradas Degradas
i 2 (%)
) i 1(%) i 3(%)
10 95,88 95,71 95,81
20 96,07 95,88 95,93
30 96,95 96,82 96,85
40 97,01 96,96 97,08 Lampiran 11. Standar Deviasi
50 97,24 97,18 97,11
a. Massa katalis 35 mg, pH 11
60 97,25 97,24 97,17
70 97,37 97,29 97,34 dan konsentrasi MB 50 ppm
80 97,60 97,68 97,42
90 97,76 97,81 97,83
100 98,06 97,97 98,03
110 81
98,39 98,42 98,29
120 98,78 98,83 98,96
Rata-
Rata 97,36 97,32 97,32
b. Massa katalis 40 mg, pH 11 dan konsentrasi MB 50 ppm

t Degradasi Degradasi Degradasi Pengulanga %Degradas


(menit) 1(%) 2 (%) 3(%) n i
10 98,60 98,57 98,64 1 99,06
20 98,83 98,93 98,98 2 97,32
30 98,89 98,98 99,00 3 97,32
40 99,03 99,06 99,03 Rata-Rata 97,9
50 99,08 99,12 99,09 Standar
60 99,11 99,16 99,12 Deviasi 1,004
70 99,26 99,35 99,31
80 99,19 99,26 99,28
90 99,16 99,22 99,18
100 99,16 99,24 99,21
110 99,22 99,24 99,22
120 99,22 99,25 99,22
Rata-
Rata 99,06 99,11 99,11

Lampiran 12. Contoh Perhitungan Persen Degradasi Biru Metilen


Berdasarkan kurva standar larutan biru metilen didapat persamaan regresi y =
0.1378 x. Sehingga :

82
1. Sebanyak 1 mL larutan biru metilen 50 ppm diambil dan diencerkan dalam labu
takar 10 mL. Diketahuilah absorbansi larutan biru metilen 0.695. Jadi untuk
menghitung konsentrasi larutan :
y = 0.1378 x
0.695 = 0.1378 x
x = 0.695
0.1378
x1 = 50.435 (karena dilakukan 10 kali pengenceran maka, 5.0435 × 10 = 50.435)
yang merupakan konsentrasi awal dari larutan MB.
2. Pengambilan larutan setiap interval waktu 10, 20, 30, 40, 50, 60, 90 sampai 120
menit penyinaran diambil misalnya larutan di waktu 120 menit dengan absorbansi
sebesar 0.079. Sehingga :
y = 0.1378 x
0.079 = 0.1378 x
x = 0.079
0.1378
x2 = 0.573
3. Persen degradasinya
% degradasi = 𝑥1−𝑥2 x 100 %
𝑥1
= 98,86%

Lampiran 13. Dokumentasi Penelitian


13.1. Uji Aktivitas Komposit MnO/Karbon Aktif terhadap MB

83
Larutan MB 50 ppm Adasorpsi Penyinaran sinar Uv

Hasil akhir degradasi tanpa pengaturan


Hasil akhir degradasi pH 3
pH

Hasil akhir degradasi pH 7 Hasil akhir degradasi pH 9

84
Hasil akhir degradasi pH 11 Hasil akhir degradasi 0 mg

Hasil akhir degradasi 25 mg Hasil akhir degradasi 30 mg

Hasil akhir degradasi 35 mg Hasil akhir degradasi 40 mg

85
Hasil akhir degradasi 50 ppm Hasil akhir degradasi 60 ppm

Hasil akhir degradasi 70 ppm Hasil akhir degradasi katalis MnO

Hasil akhir degradasi katalis Hasil akhir degradasi tanpa penyinaran


MnO/Karbon Aktif

86
Hasil akhir degradasi dengan penyinaran

13.2. Uji Aktivitas Komposit MnO/Bentonit terhadap MB

Hasil akhir degradasi pH 3 Hasil akhir degradasi tanpa pengaturan


pH

Hasil akhir degradasi pH 7 Hasil akhir degradasi pH 9

87
Hasil akhir degradasi pH 11 Hasil akhir degradasi 0 mg

Hasil akhir degradasi 20 mg Hasil akhir degradasi 25 mg

Hasil akhir degradasi 30 mg Hasil akhir degradasi 12.5 ppm

88
Hasil akhir degradasi 20 ppm Hasil akhir degradasi 30 ppm

Hasil akhir degradasi katalis MnO Hasil akhir degradasi katalis


MnO/Bentonit

Hasil akhir degradasi tanpa penyinaran Hasil akhir degradasi dengan


penyinaran

89

Anda mungkin juga menyukai