Fotokatalis MnO untuk Degradasi Biru Metilen
Fotokatalis MnO untuk Degradasi Biru Metilen
SKRIPSI
OLEH:
ARDHEA SYAFITRI
NIM. 1603111196
Disetujui oleh:
H
NIP.1
Pembimbing I
Diketahui oleh,
Ketua Jurusan Kimia
i
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirabbil’alamin Puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu
Wata’ala karena atas berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan hasil
penelitian yang berjudul “Aplikasi Fotokatalis MnO/Karbon Aktif dan
MnO/Bentonit Untuk Degradasi Biru Metilen”. Skripsi ini disusun sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains di jurusan Kimia Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Skripsi ini tidak terlepas dari
do’a, dukungan dan bimbingan dari orang-orang terdekat serta berbagai pihak
yang turut serta dalam memberikan bantuan kepada penulis. Selanjutnya dengan
segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada :
1. Bapak Dr. Syamsudhuha, [Link] selaku Dekan FMIPA Universitas Riau.
2. Ibu Dr. Sofia Anita, [Link] selaku Ketua Jurusan Kimia FMIPA
Universitas Riau.
3. Ibu Yuana Nurulita, Ph.D selaku Koordinator Prodi S1 Jurusan Kimia
FMIPA Universitas Riau.
4. Ibu Halida Sophia, [Link] selaku Ketua Bidang Anorganik Jurusan Kimia
FMIPA Universitas Riau.
5. Bapak Prof. Dr. Amir Awaluddin, [Link] dan Ibu Halida Sophia, [Link]
selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, masukan
dan arahan dalam pelaksanaan dan penyusunan Skripsi ini.
6. Bapak Prof. Dr. Amir Awaluddin, [Link], Ibu Halida Sophia, [Link], Bapak
Dr. Emrizal Mahidin Tamboesai, [Link], M.H dan Ibu Pepi Helza Yanti,
[Link] selaku Dosen Pengajar Bidang Anorganik di Jurusan Kimia FMIPA
Universitas Riau dan juga selaku dosen penguji dari saat penulis seminar
literatur, seminar proposal dan seminar hasil yang telah memberikan ilmu
pengetahuan, wawasan, kritik dan saran baik saat seminar maupun selama
kuliah kepada penulis.
ii
7. Bapak Dr. Emrizal Mahidin Tamboesai, [Link], M.H selaku Penasehat
Akademis yang selalu memberikan nasihat dan motivasi.
8. Bapak Drs. Abu Hanifah, [Link] selaku dosen penguji yang telah
meluangkan waktu untuk menguji pada saat ujian sarjana serta
memberikan kritik dan saran dalam menyelesaikan Skripsi ini.
9. Bapak dan Ibu dosen dilingkungan FMIPA khusunya Dosen Jurusan
Kimia yang telah mendidik dan mengajar penulis semasa belajar, Staf
Laboran Jurusan Kimia FMIPA Universitas Riau, sera staff Karyawan
Jurusan Kimia yang telah membantu dalam penyelesaian penelitian ini.
10. Kak Riska Anggraini, [Link] sebagai kakak pembimbing bagi penulis
selama melakukan penelitian dan memberikan ilmu kepada penulis.
11. Orang tua penulis, Bapak Amiruddin Panjaitan dan ibunda Suherni atas
do’a, motivasi, pengertian, kasih sayang, kesabaran dan dukungan moril
maupun materil yang selalu diberikan kepada penulis. Ari Afriandi dan
Arinda Oktaviani [Link] selaku abang dan kakak dari penulis yang selalu
memberikan semangat, motivasi serta menghibur penulis dalam
menyelesaikan tugas akhir. Kakek dan nenek yang selalu mendo’akan
penulis.
12. Sahabat penulis, Riri Junita [Link] yang selalu ada menemani, memberikan
dukungan yang tidak pernah putus, bantuan serta menjadi penghibur bagi
penulis. Siska Ramadhani yang memberikan dukungan dan do’a kepada
penulis. “Chemis Family” (Indrik, Nurma dan Riyani) yang memberikan
bantuan dan dukungan kepada penulis. Serta Ella Mutiara Sari yang sama-
sama berjuang dalam menyelesaikan Sarjana.
13. Teman-teman seangkatan “Chemical Hazard” dan teman kelas
“Chemistry A” yang telah memberikan dukungan dan bantuan kepada
penulis.
14. Ardhea Syafitri, diri saya sendiri yang telah mampu bertahan dan
berjuang sampai ketitik ini, karena dengan sangat sadar semua perjalanan
perkuliahan hingga tahap akhir penyusunan Skripsi ini tidak lepas dari
niat, usaha dan kerja keras diri sendiri.
iii
15. Semua pihak yang telah terlibat dalam membantu penelitian dan
penyusunan Skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu,
penulis ucapkan terima kasih banyak dan semoga kelak Allah Subahanu
Wata’ala membalas kebaikan kalian semua dikemudian hari.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Skripsi ini masih banyak
kekurangan dan kesalahan, sehingga kritik dan saran yang sifatnya membangun
dari segala pihak sangat penulis harapkan yang nantinya bermanfaat dan
menambah pengetahuan untuk penulis dan pembaca.
Ardhea Syafitri
NIM. 1603111196
iv
SUMMARY
Photocatalysis is one of the alternative methods for treatment of textile waste. The
waste from this industry causes majorenvironmental problem. One of the
synthetic dyes that is often used in the textile industry is methylene blue dye. The
coloring process in textiles uses synthetic dyes in large enough quantities and is
very stable so that it is difficult to degrade naturally. It is necessary to study the
degradation process with effective and efficient methods in degrading methylene
blue. The purpose of this investigation is to study the degradation methylene blue
using MnO/Activated Carbon and MnO/Bentonite by photocatalyst method. MnO
is a manganese oxide of manganite type and has not been intensively studied as a
catalyst for the degradation of methylene blue dye. Optimization of methylene
blue degradation was carried out with variations in pH, catalyst mass, and initial
concentration of methylene blue. As a control, the degradation process was also
carried out without using support and without irradiation. The photocatalytic
activity of MnO/activated carbon and MnO/bentonite composites has advantages
in the methylene blue degradation process both in acidic pH (3, 5.5 and 5.8),
neutral pH (7) and alkaline pH (9 and 11). Based on the research, it can be
concluded that the optimum condition of the MnO/Activated Carbon composite
for methylene blue degradation is at a catalyst mass of 35 mg, solution conditions
at pH 11 and a methylene blue concentration of 50 ppm, the maximum
degradation of methylene blue is 98.86%. The optimum condition of the
MnO/Bentonite composite for methylene blue degradation is at a catalyst mass of
25 mg, solution conditions at pH 11 and a methylene blue concentration of 12.5
ppm, the maximum degradation of methylene blue is 89.73%.
v
RINGKASAN
vi
DAFTAR ISI
vii
3.4.4. Pengaruh konsentrasi biru metilen...................................................15
3.5. Perbandingan Kondisi Degradasi Biru Metilen Berdasarkan Pengaruh
Katalis......................................................................................................16
3.5.1. Degradasi Biru Metilen Dengan Katalis Mangan Oksida................16
3.5.2. Degradasi Biru Metilen Dengan MnO/Karbon Aktif......................16
3.6. Perbandingan Kondisi Degradasi Biru Metilen Berdasarkan Pengaruh
Penyinaran...............................................................................................16
3.6.1. Degradasi Biru Metilen dengan Penyinaran....................................16
3.6.2. Degradasi Biru Metilen Tanpa Penyinaran......................................17
3.7. Uji Aktivitas Komposit MnO/Bentonit...................................................17
3.7.1. Menentukan waktu kesetimbangan..................................................17
3.7.2. Pengaruh pH terhadap degradasi MB..............................................17
3.7.3. Pengaruh massa komposit................................................................18
3.7.4. Pengaruh konsentrasi MB................................................................18
3.8. Perbandingan Kondisi Degradasi Biru Metilen Berdasarkan Pengaruh
Katalis......................................................................................................19
3.8.1. Degradasi Biru Metilen dengan Katalis Mangan Oksida.................19
3.8.2. Degradasi Biru Metilen Dengan MnO/Bentonit..............................19
3.9. Perbandingan Kondisi Degradasi Biru Metilen Berdasarkan Pengaruh
Penyinaran...............................................................................................19
3.9.1. Degradasi Biru Metilen dengan Penyinaran....................................19
3.9.2. Degradasi Biru Metilen Tanpa Penyinaran......................................20
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.............................................................21
4.1 Hasil.........................................................................................................21
4.1.1. Hasil Pengujian Sebelum Proses Degradasi Biru Metilen...............21
4.1.2. Aplikasi MnO/Karbon Aktif untuk Degradasi Biru Metilen...........21
4.1.3. Aplikasi MnO/Bentonit untuk Degradasi Biru Metilen...................25
4.2. Pembahasan.............................................................................................29
4.2.1. Uji Fotodegradasi Komposit MnO/Karbon Aktif............................29
4.2.2. Uji Fotodegradasi Komposit MnO/Bentonit....................................33
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...............................................................36
5.1 Kesimpulan..............................................................................................36
viii
5.2 Saran........................................................................................................36
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................37
LAMPIRAN..........................................................................................................42
ix
DAFTAR GAMBAR
x
LAMPIRAN
xi
BAB 1 PENDAHULUAN
1
fotolitik yang tinggi. Oksida mangan manganosite belum banyak dikaji baik
sebagai katalis tunggal maupun dalam bentuk komposit. Katalis oksida mangan
dalam bentuk komposit memiliki keunggulan karena dapat mencegah terjadinya
aglomerasi sehingga mencegah terjadinya penurunan luas permukaan. Oksida
Mangan (MnO) sebagai fotokatalis mempunyai kemampuan adsorpsi yang rendah
sehingga dibutuhkan support untuk mengatasi kekurangan tersebut, support yang
digunakan yaitu karbon aktif dan bentonit.
Karbon aktif merupakan adsorben yang permukaannya sebagai tempat
terkonsentrasinya ion-ion atau molekul-molekul pada fase gas maupun cair
(Husnul, 2016). Terjadi perubahan sifat fisika dan kimia pada karbon aktif, karena
telah diberi perlakuan aktivasi dengan aktivator menggunakan bahan-bahan kimia
ataupun dengan cara pemanasan pada temperatur tinggi. Hal ini yang
menyebabkan daya serap pada karbon aktif tinggi dan luas permukaan partikel
pada karbon aktif yang besar. Luas permukaan karbon aktif yaitu lebih besar dari
600 m2/g. Menurut (Rasdiyansa, 2014) luas permukaan yang besar ini
disebabkan oleh adanya volume berpori sehingga karbon aktif memiliki sifat
sebagai adsorben. Bentonit banyak digunakan sebagai adsorben dalam proses
menghilangkan polutan zat pewarna dari air limbah, karena bentonit memiliki
kemampuan swelling yang cukup besar. Kemampuan swelling ini menjadikan
bentonit sebagai adsorben dengan kapasitas adsorpsi yang lebih besar dibanding
adsorben yang lainnya (Aviantari, 2008). Sifat lainnya yang dimiliki karbon aktif
dan bentonit adalah ramah lingkungan dan tidak beracun.
Industri tekstil terus berkembang dan dapat memberikan dampak negatif
terhadap lingkungan khususnya pada perairan. Proses pewarnaan pada tekstil
menggunakan pewarna sintesis dalam jumlah yang cukup besar dan sangat stabil
sehingga sulit terdegradasi secara alami. Zat warna sintetis antara lain: methylene
blue, rhodamine B, tartrazine, congo red, methanil yellow dan lain-lain. Limbah
zat warna sintetis sukar terdegradasi secara alami dilingkungan perairan dan
bersifat karsinogenik sehingga akan mengakibatkan penyebab kanker hati jika
masuk kedalam tubuh manusia. Selain itu juga, limbah zat warna dalam perairan
dapat menghambat masuknya sinar matahari kedalam air sehingga akan
mengganggu aktivitas fotosintesis mikroalga. Biru metilen dalam industri tekstil
2
merupakan salah satu zat warna yang biasa digunakan karena harga yang murah
dan mudah didapat. Selain itu biru metilen merupakan zat warna dasar yang
sangat penting dalam pewarnaan. Biru metilen merupakan zat warna organik cair,
memiliki gugus aromatik yang sukar terurai bersifat resisten dan toksik sehingga
akan menyebabkan pencemaran lingkungan jika dibuang diperairan. Oleh karena
itu perlu dilakukan penanganan limbah tersebut sebelum dibuang keperairan
(Hamdaoui dan Chiha, 2006).
Peneliti sebelumnya Susila et al., (2021) melakukan degradasi biru metilen
oleh katalis MnO/Abu Layang dengan metode fotokatalis, mencapai degradasi
sebesar 99,74%. Auranda et al., (2022) melakukan degradasi MnO2/Bentonit
dengan menggunakan metode fotokatalis, mencapai degradasi sebesar 99.73%.
Aurora et al., (2021) melakukan degradasi biru metilen oleh katalis MnO/Karbon
Aktif dengan menggunakan reaksi fenton, mencapai degradasi sebesar 92%.
Erda et al.,(2021) melakukan degradasi biru metilen oleh katalis MnO/Bentonit
dengan menggunakan reaksi fenton, mencapai degradasi sebesar 92,97%.
Pada penelitian ini akan dikaji degradasi zat warna biru metilen dengan
fotokatalis MnO/Karbon aktif dan MnO/Bentonit. Penelitian ini menggunakan
komposit MnO/ Karbon aktif dari peneliti sebelumnya Aurora et al (2021) dan
MnO/Bentonit Erda et al.,(2021). Peneliti sebelumnya mengunakan metode fenton
like reaction dalam proses degradasi sedangkan pada penelitian ini menggunakan
metode fotokatalis dalam proses degradasi, yang mana belum banyak dikaji
kemampuan komposit MnO/Karbon aktif dan MnO/Bentonit untuk degradasi biru
metilen dengan metode fotokatalis.
3
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menentukan pengaruh pH terhadap degradasi biru metilen
2. Menentukan pengaruh massa katalis terhadap degradasi biru metilen
3. Menentukan pengaruh konsentrasi biru metilen terhadap degradasi biru
metilen
4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Fotokatalis
Fotokatalisis adalah suatu reaksi perpaduan antara fotokimia dan katalis.
Proses reaksi fotokimia melibatkan suatu cahaya (foto). Katalis merupakan suatu
material yang mempengaruhi proses laju reaksi tanpa mengalami perubahan
kimia. Penambahan katalis pada suatu reaksi kimia bertujuan untuk mempercepat
reaksi. Di dalam industri, pemakaian katalis sangat penting karena akan
meningkatkan produk dan mengurangi biaya produksi. Fotokatalisis sendiri
adalah suatu proses yang dibantu oleh adanya cahaya dan material katalis.
Fotokatalis mengubah energi cahaya menjadi energi kimia dan dalam prosesnya
akan menghasilkan radikal hidroksil yang akan bereaksi redoks dengan senyawa
organik (polutan), sehingga air akan kembali jernih karena terpisahkan dari
limbah cair. Salah satu metode yang digunakan dalam penanganan limbah zat
warna tekstil adalah metode fotodegradasi dengan menggunakan bahan fotokatalis
dan radiasi sinar ultraviolet. Zat warna tekstil ditambahkan bahan fotokatalis dan
disinari sinar ultraviolet akan diuraikan menjadi komponen-komponen yang lebih
sederhana sehingga aman bagi lingkungan (Wijaya et,al. 2006).
Reaksi fotokatalis melibatkan pasangan elektron dan hole (e- dan h+) yang
berperan sebagai oksidasi dan reduksi dalam reaksi fotokatalis. Hole merupakan
lubang positif yang disebabkan oleh perpindahan elektron. Elektron dan hole
memanfaatkan cahaya untuk mengaktifkan katalis yang kemudian akan bereaksi
dengan senyawa kimia didekat ataupun dipermukaan katalis. Cahaya yang
digunakan harus memiliki energi lebih besar dari celah energi material katalis
(semikonduktor). Hal ini bertujuan agar material semikonduktor dapat
menghasilkan elektron dan hole yang kemudian mendegradasi senyawa-senyawa
berbahaya (Sutanto, 2005).
5
Gambar 2.1. Ilustrasi proses fotokatalis
6
pelapukan batuan beku dan batuan metamorf. Oksida mangan kompleks adalah
bahan yang sangat reaktif, berbutir halus dan memiliki potensi besar terhadap
berbagai aplikasi teknologi seperti sebagai katalis, pembuatan besi,disinfektan,
penjernih air dan antiseptik. Mangan oksida manganosite berbentuk padatan
kristal hijau yang dapat berubah menjadi coklat tua bila bereaksi dengan udara
(Ningsih, 2013).
Oksida mangan memiliki berbagai polimorfi struktur kristal, seperti β-
MnO2 (pyrolusite), α- MnO2 (cryptomelane), δ- MnO2 (birnessite) dan γ- MnO2
(nsutite) (Kimia et al., 2015). Material ini merupakan salah satu bahan yang
menarik untuk dikaji karena memiliki berbagai macam struktur dengan
permukaan yang luas. Oksida mangan digunakan sebagai katalis untuk degradasi
senyawa organik karena memiliki sifat penukar kation yang baik. Oksida mangan
merupakan oksidator yang efektif karena memiliki oksigen yang lebih mudah
dilepaskan pada proses oksidasi dibandingkan oksida logam lainya, sehingga
sangat baik dalam proses mengoksidasi biru metilen dalam larutan.
7
karbon aktif tinggi dan luas permukaan partikel pada karbon aktif yang besar.
Luas permukaan karbon aktif yaitu lebih besar dari 600 m 2/g. Menurut
Rasdiyansa (2014), luas permukaan yang besar ini disebabkan oleh adanya
volume berpori sehingga karbon aktif memiliki sifat sebagai adsorben.
Karbon aktif berasal dari tumbuh-tumbuhan, binatang maupun barang
tambang seperti berbagai jenis kayu, sekam padi, tulang binatang, batu bara, kulit
singkong, kulit biji kopi, kulit buah coklat,tempurung kelapa dan lain-lain. Karbon
aktif adalah suatu bahan padat yang berpori dan merupakan hasil dari proses
pembakaran dari bahan yang mengandung karbon melalui proses pemanasan
pirolisis. Sebagian pori-porinya masih tertutup hidrokarbon, tar dan senyawa
lainnya. Komponennya terdiri dari karbon terikat (fix karbon), uap air, abu,
nitrogen dan sulfur. (Kvech, et al, 1998). Karbon aktif bersifat hidrofobik, yaitu
molekul pada karbon aktif tidak bisa berinteraksi dengan molekul air.
Aplikasi karbon aktif komersil dapat digunakan sebagai penghilang bau
dan resin penyulingan bahan mentah, pemurnian air limbah, penjernih air, dan
dapat digunakan sebagai adsorben untuk mengadsorpsi bahan yang berasal dari
cairan maupun fasa gas. Daya serap karbon aktif itu sendiri ditentukan oleh luas
permukaan partikel dan kemampuan ini dapat menjadi lebih tinggi jika terhadap
karbon aktif dilakukan aktivasi dengan aktivator bahan-bahan kimia ataupun
dengan pemanasan pada temperatur tinggi. Dengan demikian, karbon aktif akan
mengalami perubahan sifat-sifat fisika dan kimia (Rifki, 2016).
2.4. Bentonit
Tanah lempung berdasarkan kandungan mineralnya dibedakan menjadi
bentonit (smektit), kaolinit, haloisit, klorit dan ilit. Bentonit adalah istilah yang
digunakan dalam dunia perdagangan untuk tanah lempung yang mengandung
80% montmorillonit. Fragmen sisa pada umumnya merupakan campuran dari
mineral-mineral pengotor seperti kuarsa, kristobalit, feldspar dan mineral-mineral
lainnya. Bentonit termasuk mineral yang memiliki gugus alumino silikat. Rumus
kimia umum bentonit adalah (OH)4Si8Al4O20.XH2O (Widihati, 2012).
Mineral montmorillonit merupakan mineral lempung yang penyebarannya
paling luas dan memiliki kemampuan mengembang (swelling), penukar kation
yang tinggi, dan dapat diinterkalasi. Dari Sifat tersebut membuat montmorillonit
8
dapat dimodifikasi untuk memperoleh produk senyawa alumino silikat yang
memiliki sifat-sifat kimia fisik yang lebih baik dari sebelumnya.
Berdasarkan tipenya bentonit dialam dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Natrium Bentonit (swelling bentonite)
Natrium bentonit memiliki kandungan ion Na + relatif lebih banyak
dibandingkan ion Ca2+ dan Mg2+. Apabila dicampurkan dalam air, natrium
bentonit memiliki daya mengembang delapan kali, dan akan tetap
terdispersi beberapa waktu didalam air. Dalam keadaan kering berwarna
putih, akan berwarna mengkilap jika dalam keadaan basah dan terkena
sinar matahari. Bentonit jenis natrium banyak digunakan sebagai
pencampur dalam pembuatan cat dan sebagai perekat pasir cetak dalam
industri pengecoran.
b. Calcium Bentonit (non-swelling bentonite)
Calcium bentonit memiliki kandungan ion Ca2+ dan Mg2+ relatif
lebih banyak dibandingkan ion Na+. Tipe bentonit ini apabila dicelupkan
didalam air maka kurang mengembang atau sedikit menyerap air, namun
tetap terdispersi didalam air dan memiliki sifat adsorpsi yang baik secara
alami atau setelah diaktifkan. Calcium bentonit dipergunakan sebagai
bahan pemucat warna pada proses pemurnian minyak goreng, katalis pada
industry kimia, zat pemutih, zat penyerap dan sebagai filler pada industri
kertas dan polimer (Karimah, 2006).
Bentonit banyak digunakan sebagai adsorben dalam proses menghilangkan
polutan zat pewarna dari air limbah, karena bentonit memiliki kemampuan
swelling yang cukup besar. Kemampuan swelling ini menjadikan bentonit sebagai
adsorben dengan kapasitas adsorpsi yang lebih besar dibanding adsorben yang
lainnya (Aviantari, 2008). Prinsip mengubah permukaan dan pori-pori bentonit
adalah dengan melarutkan logam – logam yang terdapat pada pori-pori sehingga
menjadi lebih luas. Bentonit merupakan mineral yang bermuatan negatif sehingga
mineral ini menyerap kation-kation yang ada disekelilingnya. Kation yang
terserap pada bentonit ini dapat dipertukar dengan kation lain. Sifat lainnya yang
dimiliki bentonit adalah ramah lingkungan, tidak beracun dan memiliki sifat fisika
dan kimia yang stabil (Ruskandi, 2020).
9
2.5. Biru Metilen
Biru metilen dengan rumus kimia C 16H18N3SCl merupakan zat warna yang
termasuk dalam golongan azo yang bersifat karsinogenik, beracun dan mutagenik.
biru metilen memiliki berat molekul 319,86 g mol-1, dengan titik lebur 105 °C,
berwarna biru, tidak berbau, stabil dalam udara serta mudah larut dalam air
(larutannya berwarna biru tua), kloroform, alkohol, dan daya larut sebesar
4,36x104 mg L-1 (Hawley, 1981) biru metilen memiliki indeks basic sebesar 5%
sebagai pewarna, sedangkan sisanya sebagai limbah yang dapat masuk ke dalam
lingkungan (Dewi dan Widayatno, 2019). biru metilen (MB) adalah zat warna
dasar yang sangat penting dan relatif murah dibandingkan dengan pewarna
lainnya. Zat warna ini sering digunakan dalam pewarnaan kapas, wol, sutra, kulit,
dan pelapis kertas karena menghasilkan warna yang terang, sehingga proses
pewarnaan menjadi cepat dan mudah diaplikasikan (Choi dan Yu, 2019; Nurhasni
dan Hendrawati, 2018). Beberapa efek yang ditimbulkan pada penggunaan biru
metilen, seperti iritasi saluran pencernaan jika tertelan, menimbulkan sianosis jika
terhirup, dan iritasi pada kulit jika tersentuh oleh kulit (Hamdaoui and Chiha,
2006).
Molekul zat warna merupakan gabungan dari zat organik tidak jenuh
dengan kromofor sebagai pembawa warna. Zat organik tidak jenuh yang
ditemukan dari pembentukan zat warna merupakan senyawa aromatik, seperti
senyawa hidrokarbon aromatik dan turunannya, fenol dan turunannya dan
senyawa hidrokarbon yang mengandung nitrogen. Gugus kromofor merupakan
gugus yang menyebabkan suatu molekul menjadi berwarna. Kromofor zat warna
merupakan golongan azo dan antrakuinon yang memiliki berat molekul relatif
kecil dan daya serap terhadap serat tidak besar, sehingga zat warna mudah
dihilangkan pada serat. Daya serap dan ketahanan zat warna terhadap asam dan
basa dipengaruhi oleh gugus-gugus penghubung, sehingga membuat zat warna
mudah bereaksi dengan serat kain. Pada umumnya agar reaksi terjadi dengan baik
maka diperlukan penambahan alkali atau asam sehingga mencapai pH tertentu
(Andriana, 2016).
10
Gambar 2.3. Struktur Biru Metilen (Tanasale et al., 2012)
11
dinyatakan dalam persamaan Lambert–Beer. Hukum Lambert menyatakan bahwa
berkas cahaya datang yang diserap oleh suatu medium/bahan tidak bergantung
pada intensitas berkas cahaya yang datang, karena apabila cahaya melewati
monokromatik suatu media, maka cahaya akan diserap, dipantulkan dan
dipancarkan.
A = ԑ .b . C
Keterangan:
A : absorbansi
ԑ : koefisien absorbsivitas molar (mol-1 dm3 cm-1)
b : tebal medium serapan (cm)
C : konsentrasi (mol dm-3) (Hendayana, 1994).
Dalam analisis ini menggunakan kurva kalibrasi dari hubungan konsentrasi
larutan untuk analisa suatu sampel baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
Untuk menentukan kurva kalibrasi, yaitu dengan cara membuat grafik absorbansi
versus kensentrasi. Melalui pengukuran absorbansi suatu sampel dan
menginterpolasikannya kekurva kalibrasi, maka konsentrasi sampel dapat
ditentukan. Analisis kualitatif dilakukan berdasarkan puncak-puncak hasil
spectrum dari unsur tertentu pada panjang gelombang tertentu. Sedangkan analisis
secara kuantitatif didasari oleh nilai absorbansi yang dihasilkan dari spektrum
dengan adanya senyawa pengompleks sesuai unsur yang dianalisis.
12
BAB III METODE PENELITIAN
3.1.1 Alat
Adapun alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah gelas ukur,
labu ukur, labu ukur, gelas beaker, batang pengaduk, kaca arloji, magnetic stirrer,
pH meter, neraca analitik (Mettler AE 200), oven (Memmert), hot plate stirrer
(Kenko 79-1), spektrofotometer visible (Optima SP-300), dan sentrifuge
3.1.2. Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Komposit MnO/Karbon Aktif, MnO/ Bentonit, biru metilen (Merck), aluminium
foil, lampu UV A (panjang gelombang=365 nm) dan aqua DM.
13
[Link]. Pembuatan panjang gelombang optimum
Penentuan panjang gelombang optimum larutan biru metilen yang akan
dipakai, ditentukan dengan cara larutan intermediet diambil dan diencerkan
dengan aqua DM hingga konsentrasi 3 ppm kemudian diukur serapan maksimum
dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 500-
700 nm, dengan akua DM sebagai blanko.
regresi linear dari larutan biru metilen. Persentase degradasi diperoleh dengan
14
3.4.2. Pengaruh pH terhadap degradasi MB
Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL diambil menggunkan pipet
volume dan dimasukkan kedalam beaker gelas 250 mL. Larutan diatur pada pH 3,
7, 9, 11 dan tanpa pengaturan pH. Pengaturan larutan pH 3 dibuat dengan
menambahkan HCl 1 M. Sedangkan untuk pH 7, 9 dan 11 larutan sampel
ditambahkan NaOH 1 M. Selanjutnya larutan sampel yang sudah diatur pH-nya
ditambahkan dengan MnO/Karbon Aktif sebanyak 35 mg dan diaduk dengan
magnetic stirrer selama 60 menit. Penyinaran dilakukan pada menit ke 61. Setiap
penyinaran 10, 20, 30, 40, 50, 60, 90, 100, 110 dan 120 menit larutan diambil
sebanyak 5 mL dan disentrifugasi dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit.
Selanjutnya konsentrasi larutan MB yang tersisa diukur dengan menggunakan
spektrofotometer visible pada panjang gelombang 660 nm.
15
yang tersisa diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang
gelombang 660 nm. Perlakuan yang sama dilakukan pada larutan biru metilen 60
dan 70 ppm.
16
mg dan diaduk dengan magnetic stirrer selama 60 menit. Penyinaran dilakukan
pada menit ke 61 menggunakan lampu UV. Setiap penyinaran 10, 20, 30, 40, 50,
60, 90, 10, 110 dan 120 menit larutan diambil sebanyak 5 mL dan sentrifugasi
dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya konsentrasi larutan MB
yang tersisa diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang
gelombang 660 nm
17
menit. Penyinaran dilakukan pada menit ke 71. Setiap penyinaran 10, 20, 30, 40,
50, 60, 90, 100, 110 dan 120 menit larutan diambil sebanyak 5 mL dan
disentrifugasi dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya
konsentrasi larutan MB yang tersisa diukur dengan menggunakan
spektrofotometer visible pada panjang gelombang 660 nm.
18
3.8. Perbandingan Kondisi Degradasi Biru Metilen Berdasarkan
Pengaruh Katalis
19
dengan kecepatan 2000 rpm selama 10 menit. Selanjutnya konsentrasi larutan MB
yang tersisa diukur dengan menggunakan spektrofotometer visible pada panjang
gelombang 660 nm.
20
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1. Hasil Pengujian Sebelum Proses Degradasi Biru Metilen
[Link]. Penentuan Panjang Gelombang Optimum
Panjang gelombang digunakan untuk pengukuran absorbansi sampel pada
proses degradasi biru metilen. Dari hasil penelitian ini diperoleh panjang
gelombang optimum biru metilen adalah 660 nm. Data absorbansi pada panjang
gelombang 500-700 nm dapat dilihat pada Lampiran 8.1.
[Link]. Pembuatan Kurva Kalibrasi
Kurva kalibrasi dibuat dengan memplotkan antara konsentrasi larutan
standar biru metilen sebagai sumbu X dengan absorbansi sebagai sumbu Y pada
panjang gelombang optimum 660 nm, kemudian berdasarkan kurva kalibrasi
maka akan didapatkan persamaan regresi yaitu y = 0,1378 x. Persamaan regresi
ini digunakan untuk menentukan konsentrasi dari larutan biru metilen. Kurva
kalibrasi persamaan regresi dapat dilihat pada Lampiran 8.2.
95
90
85
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
21
Berdasarkan Gambar 4.1. waktu kesetimbangan terjadi pada menit ke-60,
maka proses adsorpsi akan berlangsung selama 60 menit.
[Link]. Pengaruh pH terhadap Degradasi MB
Larutan biru metilen 50 ppm sebanyak 100 mL diatur pada pH 3, tanpa
pengaturan pH (5,8), 7, 9 dan 11. Kemudian komposit sebanyak 35 mg
ditambahkan dan diaduk selama 60 menit. Penyinaran dilakukan selama 120
menit dan setiap 10 menit larutan diambil sebanyak 5 ml. Grafik dibuat antara
waktu pengadukan dan penyinaran terhadap persen degradasi.
100
95
Degradasi (%)
90
85
80
75
70
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
pH 3 pH 5,8 pH 7 pH 9 pH 11
22
100
85
Degradasi (%)
70
55
40
25
10
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
Massa 0 mg Massa 25 mg Massa 30 mg
Massa 35 mg Massa 40 mg
Gambar 4.3. Pengaruh massa komposit terhadap degradasi MB (Konsentrasi MB
50 ppm dengan pH 11).
Berdasarkan Gambar 4.3, diperoleh hasil penelitian bahwa tanpa
komposit (0 mg) persen degradasi maksimum didapatkan sebesar 14,72%,
sedangkan massa optimum untuk degradasi biru metilen ditunjukkan pada massa
35 mg dengan persen degradasi maksimum sebesar 98,86% dapat dilihat
Lampiran 9.18.
90
Degradasi (%)
80
70
60
50
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
50 ppm 60 ppm 70 ppm
23
Berdasarkan Gambar 4.4, diperoleh hasil penelitian bahwa semakin kecil
konsentrasi biru metilen maka semakin baik proses degradasinya, yaitu pada
konsentrasi 50 ppm persen degradasi paling tinggi sebesar 98,86%, sedangkan
pada konsentrasi 60 dan 70 ppm masing-masing memiliki persen degradasi paling
tinggi sebesar 74,38% dan 61,30% dapat dilihat pada Lampiran 9.19.
100
90
80
Degradasi (%)
70
60
50
40
30
20
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
Katalis MnO Katalis MnO/KA
Gambar 4.5. Pengaruh katalis terhadap degradasi MB (Konsentrasi MB 50 ppm,
pH 11 dan massa katalis 35 mg).
Berdasarkan Gambar 4.5, diperoleh hasil penelitian bahwa penambahan
karbon aktif sebagai support sangat mempengaruhi aktivitas fotokatalitik. Hal ini
dibuktikan MnO tanpa support memiliki persen degradasi lebih rendah yaitu
sebesar 38,66% dapat dilihat pada Lampiran 9.20., sedangkan MnO yang
dicampurkan support atau MnO/Karbon Aktif memiliki persen degradasi lebih
tinggi yaitu sebesar 98,86% .
24
[Link]. Pengaruh penyinaran terhadap degradasi MB
90
85
80
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
Tanpa Penyinaran Penyinaran
25
90
Degradasi (%)
80
70
60
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
90
85
80
75
70
65
60
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
26
diambil sebanyak 5 ml. Hal yang sama juga dilakukan pada massa komposit 0,
20,dan 30 mg.
90
Degradasi (%) 70
50
30
10
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
Massa 0 mg Massa 20 mg
Massa 25 mg
Massa 30 mg
Gambar 4.9. Pengaruh massa komposit terhadap degradasi MB (Konsentrasi MB
12,5 ppm dengan pH 11).
Berdasarkan Gambar 4.9, diperoleh hasil penelitian bahwa tanpa
komposit (0 mg) persen degradasi maksimum didapatkan sebesar 32,06%,
sedangkan massa optimum untuk degradasi biru metilen ditunjukkan pada massa
25 mg dengan persen degradasi maksimum sebesar 89,73% dapat dilihat
Lampiran 10.17..
80
70
60
50
40
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
12,5 ppm 20 ppm 30 ppm
27
Berdasarkan Gambar 4.10. diperoleh hasil penelitian bahwa semakin
kecil konsentrasi biru metilen maka semakin baik proses degradasinya, yaitu pada
konsentrasi 12,5 ppm persen degradasi paling tinggi sebesar 89,73%, sedangkan
pada konsentrasi 20 dan 30 ppm masing-masing memiliki persen degradasi paling
tinggi sebesar 63,64% dan 54,71% dapat dilihat pada Lampiran 10.18.
[Link]. Pengaruh katalis terhadap degradasi MB
Larutan biru metilen 12.5 ppm sebanyak 100 mL dengan pH 11
ditambahkan katalis sebanyak 25 mg dan diaduk selama 70 menit. Penyinaran
dilakukan selama 120 menit dan setiap 10 menit larutan diambil sebanyak 5 mL.
Pengaruh katalis tehadap degradasi biru metilen dilihat dengan membandingkan
MnO tunggal dengan komposit MnO/Bentonit
100
90
Degradasi (%)
80
70
60
50
40
30
20
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
Katalis MnO Katalis MnO/Bentonit
Gambar 4.11. Pengaruh katalis terhadap degradasi MB (Konsentrasi MB 12,5
ppm, pH 11 dan massa katalis 25 mg).
Berdasarkan Gambar 4.11. diperoleh hasil penelitian bahwa penambahan
karbon aktif sebagai support sangat mempengaruhi aktivitas fotokatalitik. Hal ini
dibuktikan MnO tunggal memiliki persen degradasi lebih rendah yaitu sebesar
43,31% dapat dilihat pada Lampiran 10.19. sedangkan MnO/Bentonit memiliki
persen degradasi lebih tinggi yaitu sebesar 89,73%.
28
Degradasi (%)
80
75
70
65
60
55
0 20 40 60 80 100 120
Waktu (menit)
4.2. Pembahasan
4.2.1. Uji Fotodegradasi Komposit MnO/Karbon Aktif
Uji aktivitas katalis MnO/Karbon Aktif dilakukan pada penelitian ini
untuk mengetahui kemampuan katalis dalam mendegradasi biru metilen. Oksida
mangan (MnO) memiliki kemampuan adsorpsi yang rendah sehingga
dikombinasikan dengan karbon aktif, yang bertujuan untuk meningkatkan
aktivitas fotodegradasi MnO serta untuk mecegah terjadinya aglomerasi partikel-
partikel pada permukaan MnO. Aktivitas katalitik dilakukan dengan beberapa
paramenter yaitu pengaruh pH, pengaruh massa katalis, pengaruh konsentrasi MB,
pengaruh katalis dan pengaruh penyinaran. Berdasarkan parameter tersebut akan
didapatkan kondisi optimum komposit MnO/Karbon Aktif dalam mendegradasi
biru metilen. Dalam proses degradasi biru metilen dilakukan penentuan waktu
kesetimbangan MnO/Karbon Aktif. Pada penelitian ini waktu kesetimbangan
MnO/Karbon Aktif adalah 60 menit dapat dilihat pada Gambar 4.1. waktu
kesetimbangan dilakukan untuk mengetahui lamanya pengadukan tanpa
penyinaran atau disebut adsorpsi.
pH merupakan salah satu parameter penting dalam proses degradasi
larutan MB, karena pH mempengaruhi pembentukan radikal OH yang berfungsi
29
untuk terjadinya proses degradasi biru metilen. Penentuan pH optimum dalam
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh derajat
keasaman terhadap degradasi biru metilen. Penelitian (Susila et al,2020)
menunjukkan bahwa semakin tinggi pH maka kemampuan degradasi biru metilen
naik dari 99,37% hingga 99,88%, pH yang digunakan adalah 3, tanpa pengaturan
pH, 7, 9 dan 11. Penggunaan variasi ini dilakukan untuk mengetahui kondisi
optimum dalam proses penjerapan MB sehingga hasilnya lebih efektif dan
maksimal. Pengaruh pH pada penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.2. dan
Lampiran 9.17., dapat diketahui persen degradasi pada pH 11 sebesar 98,86% ,
pH 9 sebesar 97,04%, pH 7 sebesar 95,93%, tanpa pengaturan pH sebesar
92,54%, dan pH 3 sebesar 81,85%. Hal ini membuktikan metode fotokatalis
memiliki keunggulan dalam proses degradasi biru metilen baik dalam keadaan pH
asam, netral maupun basa. Semakin tinggi pH yang digunakan maka semakin
tinggi pula laju degradasi zat warna biru metilen. Menurut (Sapawe et al., 2013)
penurunan laju degradasi pada pH asam disebabkan karena kelebihan ion H + yang
akan menghambat biru metilen yang terserap, sehingga pada kondisi asam dapat
mengurangi jumlah muatan positif pada permukaan katalis, yang menghasilkan
pembentukan OH radikal dari katalis. pH optimum dalam penelitian ini adalah pH
11. Dimana pada kondisi basa, permukaan katalis bermuatan negatif sedangkan
zat warna biru metilen merupakan zat warna kationik (bermuatan positif) sehingga
akan meningkatkan efektifitas fotodegradasi (Qodri et al, 2011). Selain itu, OH-
yang meningkat maka akan meningkat pula jumlah OH radikal yang dihasilkan,
sehingga proses degradasi akan lebih optimal.
Uji aktivitas selanjutnya yaitu pengaruh massa katalis dengan variasi
massa yaitu 0, 25, 30,35 dan 40 mg menggunakan pH optimum (11). Pada
Gambar 4.3. dan Lampiran 9.18. menunjukkan persen degradasi berturut-turut
yaitu 14,72%, 83,86%, 89,67%, 98,86% dan 99,31%. Berdasarkan penelitian ini
membuktikan bahwa semakin banyak massa katalis maka semakin banyak sisi
aktif dari fotokatalis sehingga menghasilkan OH radikal yang lebih banyak,
dengan jumlah OH radikal yang semakin banyak maka proses degradasi biru
metilen juga berjalan lebih sempurna. Pada penelitian ini massa 40 mg memiliki
persen degradasi sebesar 99,31% sedangkan massa 35 mg memiliki persen
30
degradasi sebesar 98,86%, namun pada kondisi massa 40 mg persen degradasi
tidak meningkat secara signifikan, berdasarkan Lampiran 9.18. menit ke 70
menunjukkan hasil degradasi tertinggi dan setelahnya mengalami penurunan,
menurut (Qourzal et al., 2009) penambahan katalis yang berlebih dapat
menurunkan aktivitas katalis dalam membentuk OH radikal. Pada Lampiran 11
massa 35 mg diperoleh nilai rata-rata adalah 97,33 ± 0,023 dan massa 40 mg
diperoleh nilai rata-rata adalah 97,9 ± 1,004, dapat disimpulkan bahwa tidak
terjadi perbedaan yang signifikan, sehingga pada penelitian ini massa 35 mg
adalah massa optimumnya, yang memiliki komposisi yang sesuai atau tidak
terlalu banyak, dan mengalami kenaikan signifikan 20 menit pertama dan
selanjutnya stabil hingga 120 menit. Selain itu penggunaan komposit yang lebih
kecil (35 mg) dinilai lebih efektif, karena dalam prosesnya tidak menghabiskan
jumlah komposit yang lebih banyak, sehingga dinilai lebih ekonomis.
Konsentrasi biru metilen pada proses degradasi sangat mempengaruhi laju
degradasi. Berdasarkan Gambar 4.4. dan Lampiran 9.19. menggunakan pH
optimum (11) dan massa optimum (35) konsentrasi biru metilen 50 ppm adalah
konsentrasi dengan persen degradasi yang paling optimum dengan nilai persen
degradasi sebesar 98,86%. Sedangkan pada konsentrasi 60 ppm dan 70 ppm
mengalami penurunan persen degradasi yaitu 74,38% dan 66,75% . Konsentrasi
zat warna biru metilen berpengaruh terhadap pengisian sisi aktif pada katalis.
Pada konsentrasi zat warna yang rendah yaitu 50 ppm, sisi aktif katalis cukup atau
sebanding untuk mendegradasi sejumlah kecil molekul zat warna biru metilen.
Sebaliknya, pada konsentrasi zat warna yang tinggi yaitu 60 dan 70 ppm, jumlah
situs aktif katalis tidak mampu meningkatkan jumlah penghilangan molekul zat
warna, sehingga molekul zat warna yang tersisa dalam larutan meningkat, yang
mengarah pada penurunan kapasitas penyerapan zat warna. (Hevira et al., 2020)
menjelaskan bahwa jika konsentrasi zat warna diatas konsentrasi optimum, maka
interaksi antara zat warna dengan permukaan katalis menjadi terganggu. Hal
tersebut disebabkan karena sisi aktif katalis menjadi jenuh sehingga tidak ada lagi
sisi aktif yang mampu berinteraksi dengan zat warna.
Katalis sangat berperan penting untuk mendegradasi zat warna biru
metilen. Berdasarkan pada penelitian ini membandingkan support dalam proses
31
degradasi biru metilen. Pada Gambar 4.5. dan Lampiran 9.20. persen degradasi
katalis MnO sebesar 38,66% dan katalis MnO/Karbon Aktif menghasilkan persen
degradasi sebesar 98,86%. Dapat disimpulkan bahwa komposit dengan support
karbon aktif memiliki persen degradasi tertinggi. Karbon aktif yang dicampurkan
pada katalis MnO memberikan dampak yang besar untuk mempercepat proses
degradasi. Karbon aktif berfungsi mentransfer molekul zat warna biru metilen ke
permukaan katalis MnO sehingga degradasi menjadi lebih optimal (Wismayanti,
et al, 2015). Karbon aktif menyediakan luas permukaan yang cukup besar untuk
penyerapan zat warna biru metilen, sehingga zat warna tersebut lebih
terkonsentrasi pada permukaan fotokatalis MnO. Hal ini mengakibatkan zat warna
lebih mudah dan lebih cepat didegradasi oleh radikal hidroksi yang terdapat pada
permukaan fotokatalis MnO.
Tahap selanjutnya adalah membandingkan kondisi degradasi dengan
penyinaran UV dan tanpa penyinaran UV. Perlakuan tanpa sinar UV dilakukan
pada kondisi gelap dan tetap ditambahkan komposit MnO/Karbon Aktif. Persen
biru metilen yang terdegrasi dengan penyinaran UV sebesar 76,05% dan tanpa
penyinaran UV sebesar 64,33% dapat dilihat pada Gambar 4.6. dan Lampiran
9.21. Dengan adanya sinar UV yang terpapar pada larutan biru metilen maka
proses degradasi akan berlangsung lebih optimal. Penyinaran yang dilakukan
terhadap biru metilen akan menyebabkan terjadinya interaksi antara fotokatalis
dengan cahaya dan kontak antara biru metilen dengan OH radikal. Dengan
dilakukan penyinaran maka semakin banyak energi foton yang diserap oleh
fotokatalis, sehingga OH radikal yang terbentuk pada permukaan katalis semakin
banyak yang berfungsi untuk menguraikan biru metilen
Prinsip fotokatalis adalah adanya loncatan elektron dari pita valensi ke pita
konduksi yang dikenai foton. Loncatan elektron ini menyebabkan timbulnya hole
yang dapat berinteraksi dengan pelarut (air) membentuk radikal OH·. Radikal ini
bersifat aktif dan dapat mendegradasi biru metilen menjadi CO2 dan H2O.
Mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut (Gnanaprakasam et al., 2015)
MnO + hv h+ +e- (4.2)
H+ + OH- ·OH (4.3)
e- + O2 ·O2- (4.4)
32
·OH atau ·O2- + MB CO2 +H2O (4.5)
Radikal OH bereaksi dengan zat warna biru metilen menghasilkan produk
akhir HCl, H2SO4 , HNO3 , CO2 dan H2O sebagaimana reaksi berikut ini:
C16H18N3SCl + 51/2O2 HCl + H2SO4 + 3HNO3 + 16CO2 + 6H2O (4.6)
33
katalis tertutup oleh molekul zat warna yang menyebabkan penyerapan radiasi UV
pada permukaan katalis menurun. Pada massa 0 mg terjadi proses fotolisis,
dimana setiap senyawa kimia yang berinteraksi dengan foto dapat terjadi reaksi
karena adanya energi yang dihasilkan dari foto (cahaya) , sehingga tetap
didapatkan persen degradasi yaitu sebesar 32,06%. Dapat disimpulkan bahwa
massa katalis MnO/Bentonit optimum yaitu pada massa 25 mg dengan persen
degradasi 89,73%.
Konsentrasi optimum adalah kondisi konsentrasi maksimal larutan yang
mampu diserap oleh suatu adsorben. Dalam proses adsorpsi, kemampuan
penjerapan suatu polutan selain dipengaruhi oleh pH tapi juga dipengaruhi oleh
konsentrasi larutan yang digunakan. Berdasarkan Gambar 4.10. dan Lampiran
10.18. menggunakah pH optimum (11) dan massa optimum (25 mg) dengan
konsentrasi 12,5 ppm dihasilkan persen degradasi sebesar 89,73%, 20 ppm persen
degradasi 63,64% dan 30 ppm persen degradasi 50,47 %. Berdasarkan penelitian
ini dapat disimpulkan bahwa konsentrasi dari reaktan biru metilen sangat
mempengaruhi proses fotokatalitik, semakin rendah konsentrasi biru metilen
maka aktifitas fotodegradasi akan lebih optimal karena sisi aktif dari katalis
banyak yang bereaksi dengan reaktan. Ketika sisi aktif katalis semakin banyak
bereaksi dengan biru metilen maka akan semakin cepat terbentuknya OH radikal,
sehingga proses degradasi akan terjadi lebih optimal. Disisi lain semakin tinggi
konsentrasi biru metilen maka akan mengakibatkan jumlah foton yang sampai
pada permukaan zat warna semakin menurun, karena sisi aktif yang dimiliki
komposit tidak cukup banyak untuk mengadsorpsi biru metilen pada konsentrasi
yang semakin besar, sehingga akan menyebabkan kurangnya pembentukan OH
radikal yang berfungsi dalam proses degradasi biru metilen.
Selain parameter pH, massa katalis dan konsentrasi biru metilen, katalis
merupakan salah satu parameter penting dalam proses degradasi biru metilen.
Pada Gambar 4.11. dan Lampiran 10.19. didapatkan persen degradasi MnO
bernilai 43,31% dan MnO/Bentonit bernilai 89,73%, dapat disimpulkan bahwa
komposit MnO/Bentonit memiliki persen degradasi yang besar. Hal ini
dikarenakan katalis bentonit memiliki kapasitas adsorpsi yang baik dan memiliki
kemampuan untuk mendegradasi zat warna melalui proses fotokatalis (Fisli,
34
2008). Sisi aktif katalis dapat diperbanyak dengan penambahan support pada
katalis tersebut, yang berfungsi untuk menghasilkan OH radikal, sehingga proses
degradasi akan berlangsung lebih optimal.
Tahap terakhir yaitu membandingkan proses degradasi dengan penyinaran
dan tanpa penyinaran, pada Gambar 4.12. dan Lampiran 10.20. dengan
penyinaran UV dihasilkan persen degradasi sebesar 76,05% dan tanpa penyinaran
UV persen degradasi sebesar 64,33%. Berdasarkan hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa dengan penyinaran UV proses degradasi lebih meningkat
daripada tanya penyinaran UV. Peningkatan degradasi ini disebabkan adanya
energi foton dari sinar UV yang menyebabkan eksitasi elektron sehingga akan
membentuk pasangan hole dan elektron, yang mana elektron akan bereaksi
dengan oksigen dan air untuk menghasilkan ion OH -. Ion OH- akan bereaksi
dengan hole membentuk OH radikal yang akan mendegradasi biru metilen.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Rahman et al., 2014) bahwa proses
fotokatalisis tidak terjadi dalam kondisi gelap karena terbentuk rekombinasi antara
elektron (e- ) dan hole (h+ ) yang dapat terjadi di dalam atau di permukaan partikel
fotokatalis sehingga menyebabkan berkurangnya aktivitas fotokatalitik. Selain itu,
dalam kondisi gelap fotokatalis tidak menyerap foton untuk mengeksitasi elektron
ke pita konduksi sehingga tidak dihasilkan hole dalam sistem fotokatalis dan pada
fotokatalis hanya bertindak sebagai absorben (Wardhani et al., 2016).
35
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai
berikut:
1. pH mempengaruhi degradasi biru metilen, persen degradasi menggunakan
komposit MnO/Karbon Aktif pada pH 3 yaitu 81,85 %, tanpa pengaturan
pH 92,54%, pH 7 95,93%, pH 9 97,04% dan pH 11 98,86%. Persen
degradasi menggunakan komposit MnO/Bentonit pada pH 3 yaitu 87,75
%, tanpa pengaturan pH 76,05%, pH 7 81,53%, pH 9 83,69% dan pH 11
89,73%. Dapat disimpulkan pH optimum yang diperoleh dari
fotodegradasi adalah pH 11.
2. Massa katalis mempengaruhi degradasi biru metilen, persen degradasi
menggunakan komposit MnO/Karbon Aktif pada massa 0 mg yaitu 14,72
%, massa 25 mg 83,86%, massa 30 mg 89,67%, massa 35mg 98,86% dan
massa 40 mg 99,31%. Persen degradasi menggunakan komposit
MnO/Bentonit pada massa 0 mg yaitu 32,06 %, massa 20 mg 63,84%,
massa 25 mg 89,73%, dan massa 30 mg 86,90%.
3. Konsentrasi degradasi mempengaruhi degradasi biru metilen, persen
degradasi menggunakan komposit MnO/Karbon Aktif pada 50 ppm yaitu
98,86%, 60 ppm 74,38% dan 70 ppm 41,26%. Persen degradasi
menggunakan komposit MnO/Bentonit pada 12,5 ppm yaitu 89,73 %, 20
ppm 63,64% dan 30 ppm 50,47%.
5.2 Saran
Peneliti menyarankan untuk penelitian lebih lanjut dilakukan penggunaan
kembali (reusability) komposit MnO/Karbon aktif dan MnO/Bentonit untuk
mendegradasi zat warna biru metilen dan perlu dilakukan degradasi dengan
menggunakan jenis zat warna lain.
36
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, Saad Saber, Madzlan Aziz, Wan Rosemaria Wan Baharom, Wan
Zuraidah Wan Mahmud. Structure of SnO2 nanoparticles by sol–gel
method. Materials Letters, 2012, 74, 62–64.
Andriana,N .2016. Pemanfaatan silika gel berbasis abu terbang (fly ash) batubara
PLTU paitin-probolinggo sebagai adsorben zat warna metilen biru.
Skripsi. [Link] jember.
Auranda, L. 2022. Sintesis komposit MnO2/bentonit dengan metode
pengendapan untuk degradasi metilen biru. Skripsi. Pekanbaru.
Universitas Riau.
Awaluddin, A., Erwin, A., Aurora, SD., Siti, S. S., Riska, A. 2021. The
influence of crystal structure of manganese oxides on the degradation of
methylene blue. Journal of Physics:1-13.
Batista, A. P. L., Carvalho, H. W., Luz, G. H. P., Martins, P. F. Q.,
Goncalves. M., Oliveira, L. C. A.O. 2010. Preparation of CuO/SiO2 and
photocatalytic activity by degradation of methylene blue. Environ Chem
Lett. (8), 63-67.
Chawla, K.K. 2012. Composite materials: Science And Engineering. Springer
Science & Business Media.
Cheng, G., Yu, L., Lin, T., Yang, R., Sun, M., Lan, B., Yang, L., & Deng, F.
2014. A facile one-pot hydrothermal synthesis of β- MnO2 nanopincers
and their catalytic degradation of methylene blue. Journal of Solid State
Chemistry, 217, 57–63.
Chung, Y.C., Chen, Y.C. 2009. Degradation of azo dye reactive violet 5 by
TiO2 photocatalysis. Environ Chem Lett , (7), 347-352.
Erda, Z., Nurhayati., Erwin, A., Riska, A., Siti, S.S., Amir, A.. 2021.
Influencing parameters for degradation of methtlene blue using the
catalyst bentonite supported manganosite MnO synthesized via faciles,
one-pot sol gel route. Journal of Physics:1-7.
Fatimah, Is, Sugiharto, E., Wijaya, K., Tahir, I., dan Kamalia. 2006. Titan
37
Dioksida Terdispersi Pada Zeolit Alam (TiO 2/Zeolit) dan Aplikasinya
untuk Fotodegradasi Congo Red, Indo. J. Chem., 6 (1) : 38–42.
Fatimah, Is., Karna, W. 2005. Sintesis TIO2/zeolit sebagai fotokatalis pada
pengolahan limbah cair industri tapioka secara adsorpsi-fotodegradasi.
Teknoin. 10 (4), 257-267.
Fauziyati, M, R. 2019. Uji adsorpsi bentonit teraktivasi koh terhadap logam
berat Cu(II). Skripsi. Semarang. Universitas Islam Negeri Walisongo.
Fisli Adel. 2008. Adsorben Nanokomposit Oksida Besi-Bentonit untuk
Pengolahan Limbah Nuklir dan Non-Nuklir. Pusat Teknologi Bahan
Industri Nuklir BATAN.
Gnanaprakasam, A., Sivakumar, V.M., and Thirumarimurugan, M. 2015.
Influencing parameters in the photocatalytic degradation of organic
effluent via nanometal oxide catalyst: A Review. Indian J. Mater. Sci., 3,
1-16.
Hamdaoui, O., and Chiha, M., 2006, Removal of methylene blue from
aqueous solution by wheat bran. Acta Chimica Slovenia, 54 (2), 407-418.
Handayani L., Wuri., Rawayati Indah., Ratnani R., Dewi., 2015, Adsorpsi
pewarna metilen biru menggunakan senyawa xanthat pulpa kopi,
Momentum, 1 (1). 19-23.
Hanum, F., Gultom J. R., Simanjuntak Maradona., 2017. Adsorpsi zat warna
metilen biru dengan karbon aktif dari kulit durian menggunakan koh dan
naoh sebagai aktivator, Jurnal Teknik Kimia, 1 (6), 49-55.
Ilmi, D. R. 2020. Fotodegradasi zat warna Metil Jingga menggunakan fotokatalis
TiO2-N/Zeolit yang disintesis dengan metode sonikasi [Skripsi]. Malang:
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Hawley. 1981. Condensed Chemical Dictionary. Eleventh ed. Van Nortrand
Reinhold, New York.
Hevira, l., Zilfa., Rahmayeni., Joshua. O. I., Rahmiana. Z. 2020. Biosorption
of indigo carmine from aqueous solution by Terminalia catappa shell.
Journal of Environmental Chemical Engineering, 8 (5).
Husnul, K. R. 2016, Pembuatan dan karakterisasi karbon aktif dari tempurung
38
kelapa (cocous nucifera l.) sebagai adsorben zat warna metilen biru,
Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Lampung, Bandar Lampung.
Jiang, C., Lee, K.Y., Parlett, C.M.A., Bayazit, M.K., Lau, C.C., Ruan, Q.,
Moniz, S.J.A., Lee, A.F., and Tang, J. 2015. Size-controlled TiO2
nanoparticles on porous hosts for enhanced photocatalystic hydrogen
production. App. Catal. A: General, 1-3.
Karimah, K. N. 2006. Kapasitas adsorpsi bentonit terhadap logam Cr(iii) pada
kondisi optimum. Skripsi. Semarang : FMIPA UNNES.
Khilya, A. 2014. Sintesis arang aktif alang-alang(imperata cylindrica) dan
optimasi aplikasinya dalam menurunkan kadar Cd2+ pada larutan. Skripsi.
Semarang : FMIPA UNNES.
Kvech., Steve and Erika, T. 1998. Activated carbon. Departement of civil and
environmental engineering. United States of [Link] Tech
University.
Lestari, M.W. 2013. Sintesis dan karakterisasi nanokatalis CuO/TiO2 yang
diaplikasikan pada proses degradasi limbah fenol. Indo. J. Chem, 2.
Ningsih, S. K. W. 2013. Pengaruh aditif pada sintesis nanopartikel Mn2O3
melalui proses sol-gel. Jurnal Kimia. Vol. 7, no. 1.
Noppianti, F. 2021. Sintesis fotokatalis komposit MnO2-bentonit dengan metode
sol gel untuk degradasi lombah cair pabrik kelapa sawit. Skripsi.
Pekanbaru. Universitas Riau.
Qodri, A. A. 2011. Fotodegradasi zat warna remazol yellow fg dengan fotokatalis
komposit TiO2/SiO2. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Sebelas
Maret, Surakarta.
Qourzal,S.,Tamimi,M.,Assabane.A, and Ait-Ichou, Y., 2009. Photodegradation
of – 2 naphtol using Nanocrystalline TiO 2, M. J. CONDENSED MATER,
11 : 55-59.
Radiansyah, D., Supardan M. D., 2014, Optimasi proses pembuatan karbon
aktif dari ampas bubuk kopi menggunakan aktivator ZnCl 2, Jurnal
Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia, 3 (6): 1-5.
Rahayu, S., Netti, H., Mohammad, W. 2020. Sintesis nanopartikel mangan
39
oksida dengan metode sol gel dan uji aktivitas katalitik terhadap degradasi
zat warna rhodamin B. Jurnal Chemical. 21 (2) : 190-199.
Rahman, T. (2014). Sintesis titanium dioksida nanopartikel. Jurnal Integrasi
Proses. 5(1), 15-29.
Reza, S. 2012. Preparasi dan karakterisasi bentonit tapanuli terinterkalasi
surfaktan kationik ODTMABr dan aplikasinya sebagai adsorben para-
klorofenol. Skripsi. Jakarta. Universitas Indonesia.
Risna. 2020. Karbon aktif limbah serat sagu (metroxylon sago) sebagai adsorben
metilen biru . Skripsi. Palopo. Universitas Cokroaminoto Palopo.
Ruskandi, C. Ari, S. [Link]. 2020. Karakterisasi fisik dan kimiawi bentonite
untuk membedakan natural sodium bentonite dengan sodium bentonite
hasil aktivasi. Jurnal Polimesin. 18 (1).
Rusydi, A. F., Suherman, D ., & Sumawijaya, N. 2017. Pengolahan air limbah
tekstil melalui metode koagulasi-flokulasi dengan menggunakan lempung
sebagai penyumbang partikel tersuspensi. Arena Tekstil. 2(31). 105-114.
Sapawe, N., Jalil A.A., dam triwahyono S., 2013, Cost-effective microwave
rapid synthesis of zeolit naa for removal ofmethylene blue, Journal pf
chemical engineering, 388-398.
Soejima, T., Nishizawa, K., & Isoda, R. 2018. Monodisperse manganese oxide
nanoparticles: Synthesis, characterization, and chemical reactivity. Journal
of Colloid and Interface Science, 510, 272–279.
Susila, A, A. 2021. Uji aktivitas fotokatalitik komposit MnO2/abu layang dalam
mendegradasi zat warna metilen biru. Skripsi. Pekanbaru. Universitas
Riau.
Tanasale,M.F.J.D.P.,Killay, A., dan Laratmase, M. S.2012. Kitosan dan
limbah kulit kepiting rajungan sebagai adsorben zat warna biru metilena.
Jurnal Natur Indonesia. Vol 1492);155-171.
Underwood, A,L & R.A. Day, Jr. 1989. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta:
Erlangga.
Wang, Y. H., Rahman, K. H., Wu, C. C., & Chen, K. C. 2020. A review on the
40
pathways of the improved structural characteristics and photocatalytic
performance of titanium dioxide (TiO2) thin films fabricated by the
magnetron-sputtering technique. Catalysts, 10(6).
Wardhani, S., Bahari, A., & Misbah Khunur, M. 2016. Aktivitas Fotokatalitik
Beads TiO2-N/Zeolit-Kitosan pada Fotodegradasi Metilen Biru (Kajian
Pengembanan, Sumber Sinar, dan Lama Penyinaran). Journal of
Enviromental Engineering and Sustainable Technology, 3(2), 78–84.
Wardhani, S., Farid Rahman, M. F., Purwonugroho, D., Triandi Tjahjanto,
R., Adi Damayanti, C., & Oktavia Wulandari, I. 2016. Photocatalytic
Degradation of Methylene Blue Using TiO2-Natural Zeolite as a
Photocatalyst. The Journal of Pure and Applied Chemistry Research, 5(1),
19–27.
Wijaya, K ., Sugiharto, E., Fatimah, I., Sudiono, S., Kurniaysih, D. 2006.
Utilisasi TiO2-Zeolit dan sinar Uv untuk Foto Degradasi Zat Warna Congo
Red. Tenoin, 11(3), 199-209.
Wismayanti, D, A., Diantariani, N, P., Santi, S, R., 2015, Pembuatan Komposit
ZnO/KA Sebagai Fotokatalis Untuk Mendegradasi Zat Warna Metilen
Biru, Jurnal Kimia, 9(1) : 109-116.
Zakir, M., Botahala, L., Ramang, M., Fauziah, S., & Abdussamad, B. 2013.
Elektrodeposisi logam Mn pada permukaan karbon aktif sekam padi
dengan iradiasi ultrasonik. Indonesia Chimica Acta, 6(2), 9-18.
Zsolt, P. 2011. Synthesis, morpho-structural characterization and enveronmental
aplication of titania photocatalysts obtained by rapid crystallization. Ph.D
Dissertation. University of Szeged, Babes-Bolyai University. Szaged,
Hungary, Cluj-Napoca, Romania.
41
LAMPIRAN
Campuran dihomogenkan
42
1.3. Pembuatan Larutan Biru Metilen 1,2,3,4 dan 5 ppm
43
Lampiran 2. Panjang Gelombang dan Kurva Kalibrasi
44
Lampiran 3. Menentukan Waktu Keseimbangan MnO/Karbon Aktif
45
Lampiran 4. Aplikasi Komposit MnO/Karbon Aktif Dalam Degradasi MB
46
4.2. Pengaruh Massa Komposit
47
4.3. Pengaruh Konsentrasi MB
48
4.4. Pengaruh Katalis (Komposit MnO/Karbon Aktif dan MnO)
Campuran disinari UV
49
4.5. Pengaruh Penyinaran dan Tanpa Penyinaran
50
Lampiran 5. Menentukan Waktu Keseimbangan MnO/Bentonit
51
Lampiran 6. Aplikasi Komposit MnO/Bentonit Dalam Degradasi MB
52
6.2. Pengaruh Massa Komposit
53
6.3. Pengaruh Konsentrasi MB
54
6.4. Pengaruh Katalis (Komposit MnO/Bentonit)
Campuran disinari UV
55
6.5. Pengaruh Penyinaran dan Tanpa Penyinaran
56
Lampiran 7. Perhitungan
1000 ppm = x mg
1 Liter
x mg = 1000 ppm × 1 Liter
x mg = 1000 mg
=1g
2. Larutan Intermediet biru metilen 100 ppm
V1.ppm1 = V2 . ppm2
V1.1000 ppm = 500 mL.100 ppm
V1 = 50 mL
3. Larutan 50 ppm biru metilen
V1.ppm1 = V2 . ppm2
V1.100 ppm = 100 mL.50 ppm
V1 = 50 mL
4. Larutan 10 ppm biru metilen
V1.ppm1 = V2 . ppm2
V1.50 ppm = 100 mL.10 ppm
V1 = 20 mL
5. Larutan 5 ppm biru metilen dari 10 ppm biru metilen
V1.ppm1 = V2 . ppm2
V1.10 ppm = 50 mL.5ppm
V1 = 25 mL
6. Larutan 4 ppm biru metilen dari 5 ppm biru metilen
V1.ppm1 = V2 . ppm2
V1.5 ppm = 10 mL.4 ppm
V1 = 8 mL
7. Larutan 3 ppm biru metilen dari 5 ppm biru metilen
V1.ppm1 = V2 . ppm2
V1.5 ppm = 10 mL.3 ppm
V1 = 6 mL
57
8. Larutan 2 ppm biru metilen dari 5 ppm biru metilen
V1.ppm1 = V2 . ppm2
V1.5 ppm = 10 mL.2 ppm
V1 = 4 mL
58
Lampiran 8. Panjang Gelombang Optimum dan Kurva Kalibrasi
0.5
0.4
Absorbansi (A)
0.3
0.2
0.1
0
450 500 550 600 650 700 750
Panjang Gelombang (nm)
59
8.2. Kurva Kalibrasi
Konsentrasi Absorbansi
0 0
1 0,179
2 0,331
3 0,455
4 0,585
5 0,696
Kurva Kalibrasi
0.8
R² = 0.992979637064114
0.4
0.2
0
0 1 2 3 4 5 6
Konsentrasi (ppm)
60
Lampiran 9. Uji Aktivitas Katalis untuk Degaradasi Biru Metilen
menggunakan komposit MnO/Karbon aktif
61
9.3. Komposit MnO/karbon Aktif (tanpa pengaturan pH, massa katalis 35
mg, MB 50 ppm)
62
9.5. Komposit MnO/karbon Aktif (pH 9, massa katalis 35 mg, MB 50 ppm)
9.6. Komposit MnO/karbon Aktif (pH 11, massa katalis 35 mg, MB 50 ppm)
63
9.7. Komposit MnO/karbon Aktif (Massa katalis 0 mg, pH 11, MB 50 ppm)
64
9.9. Komposit MnO/karbon Aktif (Massa katalis 30 mg, pH 11, MB 50 ppm)
65
9.11. Komposit MnO/karbon Aktif (MB 60 ppm, pH 11, massa katalis 35 mg)
9.12. Komposit MnO/karbon Aktif (MB 70 ppm, pH 11, massa katalis 35 mg)
66
9.13. Katalis MnO (pH 11, massa katalis 35 mg, MB 50 ppm)
9.14. Komposit MnO/karbon Aktif (pH 11, massa katalis 35 mg, MB 50 ppm)
67
9.15. Komposit MnO/karbon Aktif tanpa Penyinaran (Tanpa pengaturan
pH, massa katalis 35 mg, MB 50 ppm)
68
9.17. Pengaruh pH terhadap degradasi MB dengan menggunakan komposit
MnO/Karbon Aktif
t (menit) 0 mg 25 mg 30 mg 35 mg 40 mg
10 12,58 78,56 83,77 95,80 98,61
20 12,82 79,38 84,75 95,96 98,91
30 13,39 80,13 85,74 96,87 98,96
40 13,58 80,73 85,09 97,02 99,04
50 13,58 81,53 85,21 97,18 99,10
60 13,86 81,82 89,67 97,22 99,13
70 14,29 82,18 87,50 97,33 99,31
80 14,72 82,78 87,79 97,57 99,24
90 12,44 83,07 88,37 97,80 99,19
100 10,40 83,41 87,89 98,02 99,20
110 11,11 83,60 87,81 98,36 99,23
120 11,40 83,86 87,36 98,86 99,23
69
9.19. Pengaruh konsentrasi MB dengan menggunakan komposit
MnO/Karbon Aktif
70
9.21. Pengaruh penyinaran terhadap degradasi MB dengan menggunakan
komposit MnO/Karbon Aktif
71
Lampiran 10. Uji Aktivitas Katalis untuk Degaradasi Biru Metilen
menggunakan komposit MnO/Bentonit
72
10.3. Komposit MnO/bentonit (Tanpa pengaturan pH, massa katalis 25 mg,
MB 12,5 ppm)
73
10.5. Komposit MnO/bentonit (pH 9, massa katalis 25 mg, MB 12,5 ppm)
10.6. Komposit MnO/bentonit (pH 11, massa katalis 25 mg, MB 12,5 ppm)
74
10.7. Komposit MnO/bentonit (Massa katalis 0 mg, pH 11, MB 12,5 ppm)
75
10.9. Komposit MnO/bentonit (Massa katalis 30 mg, pH 11, MB 12,5 ppm)
76
10.11. Komposit MnO/bentonit (MB 30 ppm, pH 11, massa katalis 25 mg)
10.12. Katalis MnO (pH 11, massa katalis 25 mg, MB 12,5 ppm)
77
10.13. Komposit MnO/bentonit (pH 11, massa katalis 25 mg, MB 12,5 ppm)
78
T Abs 1 Abs 2 Abs 3 Co MB MB MB MB Degradasi
(menit) tersisa tersisa tersisa rata-rata
1 (%) 1 (%) 1 (%) (%)
79
t (menit) 0 mg 20 mg 25 mg 30 mg
10 18,43 59,59 84,04 80,60
20 22,45 59,88 84,94 81,71
30 24,51 60,14 85,54 81,83
40 25,59 60,23 85,88 81,81
50 27,45 60,37 86,00 82,70
60 29,02 60,45 87,22 83,20
70 25,88 61,55 88,56 83,76
80 27,84 61,45 88,75 85,12
90 28,33 61,84 89,06 86,90
100 29,71 62,79 89,27 85,70
110 31,47 63,37 89,46 86,13
120 32,06 63,84 89,73 86,09
80
10 31,20 84,04
20 31,30 84,94
30 33,43 85,54
40 34,50 85,88
50 36,14 86,00
60 37,02 87,22
70 38,57 88,56
80 39,54 88,75
90 41,28 89,06
100 43,31 89,27
110 41,86 89,46
120 39,44 89,73
t
Degradas
(menit Degradas Degradas
i 2 (%)
) i 1(%) i 3(%)
10 95,88 95,71 95,81
20 96,07 95,88 95,93
30 96,95 96,82 96,85
40 97,01 96,96 97,08 Lampiran 11. Standar Deviasi
50 97,24 97,18 97,11
a. Massa katalis 35 mg, pH 11
60 97,25 97,24 97,17
70 97,37 97,29 97,34 dan konsentrasi MB 50 ppm
80 97,60 97,68 97,42
90 97,76 97,81 97,83
100 98,06 97,97 98,03
110 81
98,39 98,42 98,29
120 98,78 98,83 98,96
Rata-
Rata 97,36 97,32 97,32
b. Massa katalis 40 mg, pH 11 dan konsentrasi MB 50 ppm
82
1. Sebanyak 1 mL larutan biru metilen 50 ppm diambil dan diencerkan dalam labu
takar 10 mL. Diketahuilah absorbansi larutan biru metilen 0.695. Jadi untuk
menghitung konsentrasi larutan :
y = 0.1378 x
0.695 = 0.1378 x
x = 0.695
0.1378
x1 = 50.435 (karena dilakukan 10 kali pengenceran maka, 5.0435 × 10 = 50.435)
yang merupakan konsentrasi awal dari larutan MB.
2. Pengambilan larutan setiap interval waktu 10, 20, 30, 40, 50, 60, 90 sampai 120
menit penyinaran diambil misalnya larutan di waktu 120 menit dengan absorbansi
sebesar 0.079. Sehingga :
y = 0.1378 x
0.079 = 0.1378 x
x = 0.079
0.1378
x2 = 0.573
3. Persen degradasinya
% degradasi = 𝑥1−𝑥2 x 100 %
𝑥1
= 98,86%
83
Larutan MB 50 ppm Adasorpsi Penyinaran sinar Uv
84
Hasil akhir degradasi pH 11 Hasil akhir degradasi 0 mg
85
Hasil akhir degradasi 50 ppm Hasil akhir degradasi 60 ppm
86
Hasil akhir degradasi dengan penyinaran
87
Hasil akhir degradasi pH 11 Hasil akhir degradasi 0 mg
88
Hasil akhir degradasi 20 ppm Hasil akhir degradasi 30 ppm
89