Laporan RDS pada Bayi Prematur
Laporan RDS pada Bayi Prematur
Di susun oleh :
TAHUN 2024
BAB I
TINJAUAN TEORI
A. DEFINISI
Sindroma gagal nafas (respiratory distress sindrom, RDS) adalah istilah
yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. Gangguan ini
merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan
maturitas paru atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. (Marmi &
Rahardjo,2012).
Sindrom gawat napas RDS (Respiratory Distress Syndrom) adalah istilah
yang digunakan untuk disfungsi pernapasan pada neonatus. Gangguan ini
merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan
maturitas paru. (Surasmi, dkk, 2013).
B. ETIOLOGI
Menurut (Marmi & Rahardjo, 2012) penyebab RDS (Respiratory Distress
Syndrome) pada neonatus yaitu terdiri dari:
1. Faktor ibu Faktor ibu meliputi hipoksia pada ibu, usia ibu kurang dari 20
tahun atau lebih dari 35 tahun, gravida empat atau lebih, sosial ekonomi
rendah, maupun penyakit pembuluh darah ibu yang mengganggu
pertukaran gas janin seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes
melitus, dan lain-lain.
2. Faktor plasenta Faktor plasenta meliputi solusio plasenta, perdarahan
plasenta, plasenta kecil, plasenta tipis, plasenta tidak menempel pada
tempatnya.
3. Faktor janin Faktor janin atau neonatus meliputi tali pusat menumbung,
tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan
lahir,gemeli, prematur, kelainan kongenital pada neonatus dan lain-lain.
4. Faktor persalinan Faktor persalinan meliputi partus lama, partus dengan
tindakan dan lain-lain.
C. MANIFESTASI KLINIS
Penyakit membran hialin ini mungkin terjadi pada bayi prematur
dengan berat badan 100-2000 gram atau masa gestasi 30-36 minggu. Jarang
ditemukan pada bayi dengan berat badan lebih dari 2500 gram. Sering
disertai dengan riwayat asfiksia pada waktu lahir atau tanda gawat bayi pada
akhir kehamilan. Tanda gangguan pernapasan mulai tampak dalam 6-8 jam
pertama. Setelah lahir dan gejala yang karakteristik mulai terlihat pada umur
24-72 jam. Bila keadaan membaik, gejala akan menghilang pada akhir
minggu pertama.
Gangguan pernapasan pada bayi terutama disebabkan oleh atelektasis
dan perfusi paru yang menurun. Keadaan ini akan memperlihatkan gambaran
klinis seperti dispnea atau hiperpneu, sianosis karena saturasi O 2 yang
menurun dan karena pirau vena-arteri dalam paru atau jantung, retraksi
suprasternal, epigastrium, interkostal dan respiratory grunting. Selain tanda
gangguan pernapasan, ditemukan gejala lain misalnya bradikardia (sering
ditemukan pada penderita penyakit membran hialin berat), hipotensi,
kardiomegali, pitting oedema terutama di daerah dorsal tangan/kaki,
hipotermia, tonus otot yang menurun, gejala sentral dapat terlihat bila terjadi
komplikasi (Staf Pengajar IKA, FKUI, 1985).
D. KLASIFIKASI
Dibagi menjadi dua stadium, yaitu : [Link] Eksudatif Ditandai dengan
adanya perdarahan pada permukaan parenkim paru, edema interstisial atau
elveolar, penekanan pada bronkiolus terminalis, dan kerusakan pada sel
alveolar tipe I (Somantri, 2009). [Link] Fibroproliferatif Ditandai dengan
adanya kerusakan pada sel alveolar tipe II, peningkatan tekanan puncak
inspirasi, penurunan compliance paru, hipoksemia, penurunan 4 fungsi
kapasitas residual, fibrolisis interstisial, dan peningkatan ruang rugi
ventilasi(Somantri, 2009). Pada foto thorak menurut kriteria Bomsel ada 4
stadium RDS yaitu :
1. Stadium 1 Terdapat sedikit bercak retikulogranular dan sedikit
bronchogram udara
2. Stadium 2 Bercak retikulogranular homogen pada kedua lapangan paru
dan gambaran air broncogram udara terlihat lebih jelas dan meluas
sampai ke perifer menutupi bayangan jantung dengan penurunan aerasi
paru.
3. Stadium 3 Kumpulan alveoli yang kolaps bergabung sehingga kedua
lapangan paru terlihat lebih opaque (white lung) dan bayangan jantung
hampir tidak terlihat, bronchogram udara lebih luas.
4. Stadium 4 Seluruh thorak sangat opaque (white lung) sehingga jnatung
tidak dapat terlihat. (Warman, Waskito, & Romadhon, 2012).
E. PATOFISIOLOGI
RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan
kurangnya zat yang disebut surfaktan. Surfaktan adalah zat aktif yang
diproduksi sel epitel saluran nafas disebut sel pnemosit tipe II. Zat ini mulai
dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai max pada minggu ke
35. Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%) dan protein (10%). Peranan surfaktan
ialah merendahkan tegangan permukaan alveolus sehingga tidak terjadi
kolaps dan mampu menahan sisa udara fungsional pada sisa akhir expirasi.
Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya ventilasi sehingga terjadi
hipoksia, retensi CO2 dan asidosis. Hipoksia akan menyebabkan terjadinya :
1. Oksigenasi jaringan menurun>metabolisme anerobik dengan
penimbunan asam laktat asam organic>asidosis metabolic.
2. Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris>transudasi
kedalam alveoli>terbentuk fibrin>fibrin dan jaringan epitel yang
nekrotik>lapisan membrane hialin.
D.0003 Gangguan
D.0011 Risiko Pertukaran Gas
D.0032 Risiko Penurunan
Defisit Curah Jantung
Nutrisi
D.0136
D.0005 Pola Napas Tidak D.0149 Termoregulasi Risiko
Efektif Tidak Efektif Cedera
G. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan medik tindakan yang perlu dilakukan
a. Memberikan lingkungan yang optimal, suhu tubuh bayi harus selalu
diusahakan agar tetap dalam batas normal (36,5 o-37oC) dengan cara
meletakkan bayi dalam inkubator. Kelembaban ruangan juga harus
adekuat (70-80%).
b. Pemberian oksigen. Pemberian oksigen harus dilakukan dengan hati-
hati karena berpengaruh kompleks terhadap bayi prematur. Pemberian
O2 yang terlalu banyak dapat menimbulkan komplikasi seperti :
fibrosis paru, kerusakan retina (fibroplasias retrolental), dll.
c. Pemberian cairan dan elektrolit sangat perlut untuk mempertahankan
homeostasis dan menghindarkan dehidrasi. Pada permulaan diberikan
glukosa 5-10% dengan jumlah yang disesuaikan dengan umur dan
berat badan ialah 60-125 ml/kg BB/hari. asidosis metabolik yang
selalu dijumpai harus segera dikoreksi dengan memberikan NaHCO 3
secara intravena.
d. Pemberian antibiotik. Bayi dengan PMH perlu mendapatkan
antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder. Dapat diberikan penisilin
dengan dosis 50.000-100.000 u/kg BB/hari atau ampisilin 100 mg/kg
BB/hari, dengan atau tanpa gentamisin 3-5 mg/kg BB/hari.
e. Kemajuan terakhir dalam pengobatan pasien PMH adalah pemberian
surfaktan eksogen (surfaktan dari luar), obat ini sangat efektif, namun
harganya amat mahal.
2. Penatalaksanaan keperawatan
Bayi dengan PMH adalah bayi prematur kecil, pada umumnya
dengan berat badan lahir 1000-2000 gram dan masa kehamilan kurang
dari 36 minggu. Oleh karena itu, bayi ini tergolong bayi berisiko tinggi.
Apabila menerima bayi baru lahir yang demikian harus selalu waspada
bahaya yang dapat timbul. Masalah yang perlu diperhatikan ialah bahaya
kedinginan (dapat terjadi cold injury), risiko terjadi gangguan
pernapasna, kesuakran dalam pemberian makanan, risiko terjadi infeksi,
kebutuhan rasa aman dan nyaman (kebutuhan psikologik) (Ngastiyah,
2005).
H. KOMPLIKASI
1. Pneumotoraks / pneumomediastinum
2. Pulmonary interstitial dysplasia
3. Patent ductus arteriosus (PDA)
4. Hipotensi
5. Asidosis
6. Hiponatermi / hipernatremi
7. Hipokalemi
8. Hipoglikemi
9. Intraventricular hemorrhage
10. Retinopathy pada prematur
11. Infeksi sekunder
(Suriadi dan Yuliani, 2006).
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Gambaran radiologis
Diagnosis yang tepat hanya dapat dibuat dengan pemeriksaan foto
rontgen toraks. Pemeriksaan ini juga sangat penting untuk menyingkirkan
kemungkinan penyakit lain yang diobati dan mempunyai gejala yang
mirip penyakit membran hialin, misalnya pneumotoraks, hernia
diafragmatika dan lain-lain. Gambaran klasik yang ditemukan pada foto
rontgen paru ialah adanya bercak difus berupa infiltrate retikulogranuler
ini, makin buruk prognosis bayi. Beberapa sarjana berpendapat bahwa
pemeriksaan radiologis ini dapat dipakai untuk mendiagnosis dini
penyakit membran hialin, walaupun manifestasi klinis belum jelas.
2. Gambaran laboratorium
Kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan laboratorium diantaranya
adalah :
a. Pemeriksaan darah
Kadar asam laktat dalam darah meninggi dan bila kadarnya
lebih dari 45 mg%, prognosis lebih buruk, kadar bilirubin lebih tinggi
bila dibandingkan dengan bayi normal dengan berat badan yang sama.
Kadar PaO2 menurun disebabkan kurangnya oksigenasi di dalam paru
dan karena adanya pirau arteri-vena. Kadar PaO2 meninggi, karena
gangguan ventilasi dan pengeluaran CO2 sebagai akibat atelektasis
paru. pH darah menurun dan defisit biasa meningkat akibat adanya
asidosis respiratorik dan metabolik dalam tubuh.
b. Pemeriksaan fungsi paru
Pemeriksaan ini membutuhkan alat yang lengkap dan pelik,
frekuensi pernapasan yang meninggi pada penyakit ini akan
memperhatikan pula perubahan pada fungsi paru lainnya seperti ‘tidal
volume’ menurun, ‘lung compliance’ berkurang, functional residual
capacity’ merendah disertai ‘vital capacity’ yang terbatas. Demikian
pula fungsi ventilasi dan perfusi paru akan terganggu.
c. Pemeriksaan fungsi kardiovaskuler
Penyelidikan dengan kateterisasi jantung memperhatikan
beberapa perubahan dalam fungsi kardiovaskuler berupa duktus
arteriosus paten, pirau dari kiri ke kanan atau pirau kanan ke kiri
(bergantung pada lanjutnya penyakit), menurunnya tekanan arteri paru
dan sistemik.
3. Gambaran patologi/histopatologi
Pada otopsi, gambaran dalam paru menunjukkan adanya atelektasis
dan membran hialin di dalam alveolus dan duktus alveolaris. Di samping
itu terdapat pula bagian paru yang mengalami enfisema. Membran hialin
yang ditemukan yang terdiri dari fibrin dan sel eosinofilik yang mungkin
berasal dari darah atau sel epitel ductus yang nekrotik.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai
respons klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang
dialaminya baik yang berlangsung actual maupun potensial. Diagnosis
keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi respons klien individu,
keluarga dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan dengan kesehatan
(Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017). Berdasarkan pathways yang ada, maka
diagnosa keperawatan yang dapat diambil yaitu :
1. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membran alveolus kapiler
(D.0003)
2. Pola nafas tidak efektif b.d penurunaan energi/ kelelahan, keterbatasan
pengembangan otot (D.0005)
3. Termoregulasi Tidak Efektif b.d Ketidakadekuatan suplai lemak subkutan
(D.0149)
4. Risiko Penurunan Curah Jantung b.d gangguan ventilasi pulmonal (D.0011)
5. Resiko Cedera b.d Hipoksia jaringan (D.0136)
6. Resiko Defisit Nutrisi b.d Ketidakmampuan menghisap dan penurunan
mobilitas usus (D. 0019)
2. INTERVENSI KEPERAWATAN
Menurut SIKI, (2018) Intervensi keperawatan adalah segala treatment
yang dikerjakan oleh perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan
penilaian klinis untuk mencapai luaran (outcome) yang diharapkan. Intervensi
keperawatan aktivitas menggunakan pendekatan SIKI (Standar Intervensi
Keperawatan Indonesia). Sedangkan buku SLKI (Standar Luaran
Keperawatan Indonesia) diguanakan penulis untuk merumuskan tujuan dan
kriteria hasil asuhan keperawatan.
SDKI SLKI SIKI
Gangguan Setelah dilakukan Pemantauan Respirasi SIKI
pertukaran gas tindakan (I.010114)
berhubungan keperawatan selama Observasi
dengan 1x7 jam diharapkan Monitor frekuensi,
perubahan oksigenasi atau irama, kedalaman dan
membran elimasi upaya nafas
alveolarkapiler karbodioksida pada Monitor pola nafas
(D.0003) membran eveolus (seperti bradipnea,
kafiler dalam batas takipnea,
normal dengan hiperventilasi,
kriteria hasil: kussmaul, cheyne-
1. Dyspnea menurun stokes
2. Penggunaan otot bantu Moniitor kemampuan
napas menurun batuk efektif
3. Pernapasan cuping Monitor adanya
hidung menurun sputum
4. Bunyi nafas tambahan Monitor adanya
menurun sumbatan jalan nafas
5. Pengliatan kabur Palpasi kesimestrisan
menurun paru
Akultasi bunyi nafas
Monitor saturasi
oksigen
Monitor nilai AGD
Monitor hasil x-ray
toraks
Terapeutik
Atur interval
pemantauan respirasi
sesuai kondisi pasien
Dokumentasi hasil
pemantauan
Edukasi
Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
Informasikan hasil
pemantauan
Pola nafas Setelah dilakukan Manajemen jalan napas SIKI
tidak efektif tindakan (I.01011)
b.d penurunaan keperawatan selama Observasi
energi/ 1x7 jam diharapkan Monitor pola napas
kelelahan, pola napas efektif (frekuensi, kedalaman,
keterbatasan dengan kriteria hasil: usaha napas)
pengembangan 1. Dyspnea menurun Monitor bunyi napas
otot (D.0005) 2. Penggunaan otot bantu tambahan (mis.
napas menurun gurgling, mengi,
3. Ortopnea menurun wheezing, ronkhi
4. Pernapasan pursed-lip kering)
menurun Monitor sputum
5. Pernapasan cuping (jumlah, warna, aroma)
hidung menurun Terapeutik
6. Frekuensi napas Pertahankan kepatenan
membaik jalan napas dengan
7. Kedalaman napas head-tilt (jaw-thrust
membaik jika curiga trauma
servikal)
Posisikan semi-Fowler
atau Fowler
Lakukan fisioterapi
dada, jika perlu
Lakukan penghisapan
lendir kurang dari 15
detik
Lakukan
hiperoksigenasi
sebelum penghisapan
endotrakeal
Keluarkan sumbatan
benda padat dengan
forsep McGill
Berikan oksigen, jika
perlu
Edukasi
Anjurkan asupan cairan
2000 ml/hari, jika tidak
kontraindikasi
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian
bronkodilator,
ekspektoran, mukolitik,
jika perlu.
Termoregulasi Setelah di lakukan tindakan Regulasi Temperatur (I.14578)
Tidak Efektif keperawatan selama 1x7 Observasi
b.d jam di harapkan Monitor suhu tubuh
Ketidakadekua termoregulasi membaik bayi sampai stabil (36,5
tan suplai dengan kriteria hasil : – 37,5°C)
lemak 1. Menggigil menurun Monitor suhu tubuh
subkutan 2. Suhu tubuh membaik anak tiap 2 jam, jika
(D.0149) 3. Suhu kulit membaik perlu
Monitor tekanan darah,
frekuensi pernapasan
dan nadi
Monitor warna dan
suhu kulit
Monitor dan catat tanda
dan gejala hipotermia
atau hipertermia
Terapeutik
Pasang alat pemantau
suhu kontinu, jika perlu
Tingkatkan asupan
cairan dan nutrisi yang
adekuat
Bedong bayi segera
setelah lahir untuk
mencegah kehilangan
panas
Masukkan bayi BBLR
ke dalam plastic segera
setelah lahir (mis:
bahan polyethylene,
polyurethane)
Gunakan topi bayi
untuk mencegah
kehilangan panas pada
bayi baru lahir
Tempatkan bayi baru
lahir di bawah radiant
warmer
Pertahankan
kelembaban incubator
50% atau lebih untuk
mengurangi kehilangan
panas karena proses
evaporasi
Atur suhu incubator
sesuai kebutuhan
Hangatkan terlebih
dahulu bahan-bahan
yang akan kontak
dengan bayi (mis:
selimut, kain bedongan,
stetoskop)
Edukasi
Jelaskan cara
pencegahan heat
exhaustion dan heat
stroke
Jelaskan cara
pencegahan hipotermi
karena terpapar udara
dingin
Demonstrasikan Teknik
perawatan metode
kanguru (PMK) untuk
bayi BBLR
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian
antipiretik, jika perlu
Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi keperawatan Indonesia
(SIKI),Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.
Tim pokja SLKI DPP PPNI (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia
(SLKI) Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.