0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan21 halaman

Laporan RDS pada Bayi Prematur

Diunggah oleh

cgibranm60
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan21 halaman

Laporan RDS pada Bayi Prematur

Diunggah oleh

cgibranm60
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA BAYI DENGAN RESPIRATORY DISTRESS SINDROM

DI BANGSAL PERINATOLOGI, RUANG NICU. 2

RSUD SURADADI KABUPATEN TEGAL

Dosen pembimbing : Yessy Pramita Widodo, [Link]

Pembimbing Lahan : Sri Rejeki, [Link], Ns

Di susun oleh :

Chalil Gibran Maula (C1022063)

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI

TAHUN 2024
BAB I

TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI
Sindroma gagal nafas (respiratory distress sindrom, RDS) adalah istilah
yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. Gangguan ini
merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan
maturitas paru atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. (Marmi &
Rahardjo,2012).
Sindrom gawat napas RDS (Respiratory Distress Syndrom) adalah istilah
yang digunakan untuk disfungsi pernapasan pada neonatus. Gangguan ini
merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan
maturitas paru. (Surasmi, dkk, 2013).

B. ETIOLOGI
Menurut (Marmi & Rahardjo, 2012) penyebab RDS (Respiratory Distress
Syndrome) pada neonatus yaitu terdiri dari:
1. Faktor ibu Faktor ibu meliputi hipoksia pada ibu, usia ibu kurang dari 20
tahun atau lebih dari 35 tahun, gravida empat atau lebih, sosial ekonomi
rendah, maupun penyakit pembuluh darah ibu yang mengganggu
pertukaran gas janin seperti hipertensi, penyakit jantung, diabetes
melitus, dan lain-lain.
2. Faktor plasenta Faktor plasenta meliputi solusio plasenta, perdarahan
plasenta, plasenta kecil, plasenta tipis, plasenta tidak menempel pada
tempatnya.
3. Faktor janin Faktor janin atau neonatus meliputi tali pusat menumbung,
tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan
lahir,gemeli, prematur, kelainan kongenital pada neonatus dan lain-lain.
4. Faktor persalinan Faktor persalinan meliputi partus lama, partus dengan
tindakan dan lain-lain.
C. MANIFESTASI KLINIS
Penyakit membran hialin ini mungkin terjadi pada bayi prematur
dengan berat badan 100-2000 gram atau masa gestasi 30-36 minggu. Jarang
ditemukan pada bayi dengan berat badan lebih dari 2500 gram. Sering
disertai dengan riwayat asfiksia pada waktu lahir atau tanda gawat bayi pada
akhir kehamilan. Tanda gangguan pernapasan mulai tampak dalam 6-8 jam
pertama. Setelah lahir dan gejala yang karakteristik mulai terlihat pada umur
24-72 jam. Bila keadaan membaik, gejala akan menghilang pada akhir
minggu pertama.
Gangguan pernapasan pada bayi terutama disebabkan oleh atelektasis
dan perfusi paru yang menurun. Keadaan ini akan memperlihatkan gambaran
klinis seperti dispnea atau hiperpneu, sianosis karena saturasi O 2 yang
menurun dan karena pirau vena-arteri dalam paru atau jantung, retraksi
suprasternal, epigastrium, interkostal dan respiratory grunting. Selain tanda
gangguan pernapasan, ditemukan gejala lain misalnya bradikardia (sering
ditemukan pada penderita penyakit membran hialin berat), hipotensi,
kardiomegali, pitting oedema terutama di daerah dorsal tangan/kaki,
hipotermia, tonus otot yang menurun, gejala sentral dapat terlihat bila terjadi
komplikasi (Staf Pengajar IKA, FKUI, 1985).

D. KLASIFIKASI
Dibagi menjadi dua stadium, yaitu : [Link] Eksudatif Ditandai dengan
adanya perdarahan pada permukaan parenkim paru, edema interstisial atau
elveolar, penekanan pada bronkiolus terminalis, dan kerusakan pada sel
alveolar tipe I (Somantri, 2009). [Link] Fibroproliferatif Ditandai dengan
adanya kerusakan pada sel alveolar tipe II, peningkatan tekanan puncak
inspirasi, penurunan compliance paru, hipoksemia, penurunan 4 fungsi
kapasitas residual, fibrolisis interstisial, dan peningkatan ruang rugi
ventilasi(Somantri, 2009). Pada foto thorak menurut kriteria Bomsel ada 4
stadium RDS yaitu :
1. Stadium 1 Terdapat sedikit bercak retikulogranular dan sedikit
bronchogram udara
2. Stadium 2 Bercak retikulogranular homogen pada kedua lapangan paru
dan gambaran air broncogram udara terlihat lebih jelas dan meluas
sampai ke perifer menutupi bayangan jantung dengan penurunan aerasi
paru.
3. Stadium 3 Kumpulan alveoli yang kolaps bergabung sehingga kedua
lapangan paru terlihat lebih opaque (white lung) dan bayangan jantung
hampir tidak terlihat, bronchogram udara lebih luas.
4. Stadium 4 Seluruh thorak sangat opaque (white lung) sehingga jnatung
tidak dapat terlihat. (Warman, Waskito, & Romadhon, 2012).

E. PATOFISIOLOGI
RDS terjadi atelektasis yang sangat progresif, yang disebabkan
kurangnya zat yang disebut surfaktan. Surfaktan adalah zat aktif yang
diproduksi sel epitel saluran nafas disebut sel pnemosit tipe II. Zat ini mulai
dibentuk pada kehamilan 22-24 minggu dan mencapai max pada minggu ke
35. Zat ini terdiri dari fosfolipid (75%) dan protein (10%). Peranan surfaktan
ialah merendahkan tegangan permukaan alveolus sehingga tidak terjadi
kolaps dan mampu menahan sisa udara fungsional pada sisa akhir expirasi.
Kolaps paru ini akan menyebabkan terganggunya ventilasi sehingga terjadi
hipoksia, retensi CO2 dan asidosis. Hipoksia akan menyebabkan terjadinya :
1. Oksigenasi jaringan menurun>metabolisme anerobik dengan
penimbunan asam laktat asam organic>asidosis metabolic.
2. Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris>transudasi
kedalam alveoli>terbentuk fibrin>fibrin dan jaringan epitel yang
nekrotik>lapisan membrane hialin.

Asidosis dan atelektasis akan menyebabkan terganggunya jantun,


penurunan aliran darah keparum, dan mengakibatkan hambatan pembentukan
surfaktan, yang menyebabkan terjadinya atelektasis.
Sel tipe II ini sangat sensitive dan berkurang pada bayi dengan asfiksia
pada periode perinatal, dan kematangannya dipacu dengan adanya stress
intrauterine seperti hipertensi, IUGR dan kehamilan [Link] punctum
terjadi akibat penusukan benda tajam,sehingga menyebabkan contuiniutas
jaringan [Link] umumya respon tubuh terhadap trauma akan terjadi
proses peradangan atau [Link] hal ini adapeluang besar terjadinya
infeksi hebat.
F. PATHWAY

D.0003 Gangguan
D.0011 Risiko Pertukaran Gas
D.0032 Risiko Penurunan
Defisit Curah Jantung
Nutrisi

D.0136
D.0005 Pola Napas Tidak D.0149 Termoregulasi Risiko
Efektif Tidak Efektif Cedera
G. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan medik tindakan yang perlu dilakukan
a. Memberikan lingkungan yang optimal, suhu tubuh bayi harus selalu
diusahakan agar tetap dalam batas normal (36,5 o-37oC) dengan cara
meletakkan bayi dalam inkubator. Kelembaban ruangan juga harus
adekuat (70-80%).
b. Pemberian oksigen. Pemberian oksigen harus dilakukan dengan hati-
hati karena berpengaruh kompleks terhadap bayi prematur. Pemberian
O2 yang terlalu banyak dapat menimbulkan komplikasi seperti :
fibrosis paru, kerusakan retina (fibroplasias retrolental), dll.
c. Pemberian cairan dan elektrolit sangat perlut untuk mempertahankan
homeostasis dan menghindarkan dehidrasi. Pada permulaan diberikan
glukosa 5-10% dengan jumlah yang disesuaikan dengan umur dan
berat badan ialah 60-125 ml/kg BB/hari. asidosis metabolik yang
selalu dijumpai harus segera dikoreksi dengan memberikan NaHCO 3
secara intravena.
d. Pemberian antibiotik. Bayi dengan PMH perlu mendapatkan
antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder. Dapat diberikan penisilin
dengan dosis 50.000-100.000 u/kg BB/hari atau ampisilin 100 mg/kg
BB/hari, dengan atau tanpa gentamisin 3-5 mg/kg BB/hari.
e. Kemajuan terakhir dalam pengobatan pasien PMH adalah pemberian
surfaktan eksogen (surfaktan dari luar), obat ini sangat efektif, namun
harganya amat mahal.
2. Penatalaksanaan keperawatan
Bayi dengan PMH adalah bayi prematur kecil, pada umumnya
dengan berat badan lahir 1000-2000 gram dan masa kehamilan kurang
dari 36 minggu. Oleh karena itu, bayi ini tergolong bayi berisiko tinggi.
Apabila menerima bayi baru lahir yang demikian harus selalu waspada
bahaya yang dapat timbul. Masalah yang perlu diperhatikan ialah bahaya
kedinginan (dapat terjadi cold injury), risiko terjadi gangguan
pernapasna, kesuakran dalam pemberian makanan, risiko terjadi infeksi,
kebutuhan rasa aman dan nyaman (kebutuhan psikologik) (Ngastiyah,
2005).

H. KOMPLIKASI
1. Pneumotoraks / pneumomediastinum
2. Pulmonary interstitial dysplasia
3. Patent ductus arteriosus (PDA)
4. Hipotensi
5. Asidosis
6. Hiponatermi / hipernatremi
7. Hipokalemi
8. Hipoglikemi
9. Intraventricular hemorrhage
10. Retinopathy pada prematur
11. Infeksi sekunder
(Suriadi dan Yuliani, 2006).

I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Gambaran radiologis
Diagnosis yang tepat hanya dapat dibuat dengan pemeriksaan foto
rontgen toraks. Pemeriksaan ini juga sangat penting untuk menyingkirkan
kemungkinan penyakit lain yang diobati dan mempunyai gejala yang
mirip penyakit membran hialin, misalnya pneumotoraks, hernia
diafragmatika dan lain-lain. Gambaran klasik yang ditemukan pada foto
rontgen paru ialah adanya bercak difus berupa infiltrate retikulogranuler
ini, makin buruk prognosis bayi. Beberapa sarjana berpendapat bahwa
pemeriksaan radiologis ini dapat dipakai untuk mendiagnosis dini
penyakit membran hialin, walaupun manifestasi klinis belum jelas.
2. Gambaran laboratorium
Kelainan yang ditemukan pada pemeriksaan laboratorium diantaranya
adalah :
a. Pemeriksaan darah
Kadar asam laktat dalam darah meninggi dan bila kadarnya
lebih dari 45 mg%, prognosis lebih buruk, kadar bilirubin lebih tinggi
bila dibandingkan dengan bayi normal dengan berat badan yang sama.
Kadar PaO2 menurun disebabkan kurangnya oksigenasi di dalam paru
dan karena adanya pirau arteri-vena. Kadar PaO2 meninggi, karena
gangguan ventilasi dan pengeluaran CO2 sebagai akibat atelektasis
paru. pH darah menurun dan defisit biasa meningkat akibat adanya
asidosis respiratorik dan metabolik dalam tubuh.
b. Pemeriksaan fungsi paru
Pemeriksaan ini membutuhkan alat yang lengkap dan pelik,
frekuensi pernapasan yang meninggi pada penyakit ini akan
memperhatikan pula perubahan pada fungsi paru lainnya seperti ‘tidal
volume’ menurun, ‘lung compliance’ berkurang, functional residual
capacity’ merendah disertai ‘vital capacity’ yang terbatas. Demikian
pula fungsi ventilasi dan perfusi paru akan terganggu.
c. Pemeriksaan fungsi kardiovaskuler
Penyelidikan dengan kateterisasi jantung memperhatikan
beberapa perubahan dalam fungsi kardiovaskuler berupa duktus
arteriosus paten, pirau dari kiri ke kanan atau pirau kanan ke kiri
(bergantung pada lanjutnya penyakit), menurunnya tekanan arteri paru
dan sistemik.
3. Gambaran patologi/histopatologi
Pada otopsi, gambaran dalam paru menunjukkan adanya atelektasis
dan membran hialin di dalam alveolus dan duktus alveolaris. Di samping
itu terdapat pula bagian paru yang mengalami enfisema. Membran hialin
yang ditemukan yang terdiri dari fibrin dan sel eosinofilik yang mungkin
berasal dari darah atau sel epitel ductus yang nekrotik.
BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN

1. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai
respons klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang
dialaminya baik yang berlangsung actual maupun potensial. Diagnosis
keperawatan bertujuan untuk mengidentifikasi respons klien individu,
keluarga dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan dengan kesehatan
(Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017). Berdasarkan pathways yang ada, maka
diagnosa keperawatan yang dapat diambil yaitu :
1. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membran alveolus kapiler
(D.0003)
2. Pola nafas tidak efektif b.d penurunaan energi/ kelelahan, keterbatasan
pengembangan otot (D.0005)
3. Termoregulasi Tidak Efektif b.d Ketidakadekuatan suplai lemak subkutan
(D.0149)
4. Risiko Penurunan Curah Jantung b.d gangguan ventilasi pulmonal (D.0011)
5. Resiko Cedera b.d Hipoksia jaringan (D.0136)
6. Resiko Defisit Nutrisi b.d Ketidakmampuan menghisap dan penurunan
mobilitas usus (D. 0019)

2. INTERVENSI KEPERAWATAN
Menurut SIKI, (2018) Intervensi keperawatan adalah segala treatment
yang dikerjakan oleh perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan
penilaian klinis untuk mencapai luaran (outcome) yang diharapkan. Intervensi
keperawatan aktivitas menggunakan pendekatan SIKI (Standar Intervensi
Keperawatan Indonesia). Sedangkan buku SLKI (Standar Luaran
Keperawatan Indonesia) diguanakan penulis untuk merumuskan tujuan dan
kriteria hasil asuhan keperawatan.
SDKI SLKI SIKI
Gangguan Setelah dilakukan Pemantauan Respirasi SIKI
pertukaran gas tindakan (I.010114)
berhubungan keperawatan selama Observasi
dengan 1x7 jam diharapkan  Monitor frekuensi,
perubahan oksigenasi atau irama, kedalaman dan
membran elimasi upaya nafas
alveolarkapiler karbodioksida pada  Monitor pola nafas
(D.0003) membran eveolus (seperti bradipnea,
kafiler dalam batas takipnea,
normal dengan hiperventilasi,
kriteria hasil: kussmaul, cheyne-
1. Dyspnea menurun stokes
2. Penggunaan otot bantu  Moniitor kemampuan
napas menurun batuk efektif
3. Pernapasan cuping  Monitor adanya
hidung menurun sputum
4. Bunyi nafas tambahan  Monitor adanya
menurun sumbatan jalan nafas
5. Pengliatan kabur  Palpasi kesimestrisan
menurun paru
 Akultasi bunyi nafas
 Monitor saturasi
oksigen
 Monitor nilai AGD
 Monitor hasil x-ray
toraks
Terapeutik
 Atur interval
pemantauan respirasi
sesuai kondisi pasien
 Dokumentasi hasil
pemantauan
Edukasi
 Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan
 Informasikan hasil
pemantauan
Pola nafas Setelah dilakukan Manajemen jalan napas SIKI
tidak efektif tindakan (I.01011)
b.d penurunaan keperawatan selama Observasi
energi/ 1x7 jam diharapkan  Monitor pola napas
kelelahan, pola napas efektif (frekuensi, kedalaman,
keterbatasan dengan kriteria hasil: usaha napas)
pengembangan 1. Dyspnea menurun  Monitor bunyi napas
otot (D.0005) 2. Penggunaan otot bantu tambahan (mis.
napas menurun gurgling, mengi,
3. Ortopnea menurun wheezing, ronkhi
4. Pernapasan pursed-lip kering)
menurun  Monitor sputum
5. Pernapasan cuping (jumlah, warna, aroma)
hidung menurun Terapeutik
6. Frekuensi napas  Pertahankan kepatenan
membaik jalan napas dengan
7. Kedalaman napas head-tilt (jaw-thrust
membaik jika curiga trauma
servikal)
 Posisikan semi-Fowler
atau Fowler
 Lakukan fisioterapi
dada, jika perlu
 Lakukan penghisapan
lendir kurang dari 15
detik
 Lakukan
hiperoksigenasi
sebelum penghisapan
endotrakeal
 Keluarkan sumbatan
benda padat dengan
forsep McGill
 Berikan oksigen, jika
perlu
Edukasi
 Anjurkan asupan cairan
2000 ml/hari, jika tidak
kontraindikasi
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian
bronkodilator,
ekspektoran, mukolitik,
jika perlu.
Termoregulasi Setelah di lakukan tindakan Regulasi Temperatur (I.14578)
Tidak Efektif keperawatan selama 1x7 Observasi
b.d jam di harapkan  Monitor suhu tubuh
Ketidakadekua termoregulasi membaik bayi sampai stabil (36,5
tan suplai dengan kriteria hasil : – 37,5°C)
lemak 1. Menggigil menurun  Monitor suhu tubuh
subkutan 2. Suhu tubuh membaik anak tiap 2 jam, jika
(D.0149) 3. Suhu kulit membaik perlu
 Monitor tekanan darah,
frekuensi pernapasan
dan nadi
 Monitor warna dan
suhu kulit
 Monitor dan catat tanda
dan gejala hipotermia
atau hipertermia
Terapeutik
 Pasang alat pemantau
suhu kontinu, jika perlu
 Tingkatkan asupan
cairan dan nutrisi yang
adekuat
 Bedong bayi segera
setelah lahir untuk
mencegah kehilangan
panas
 Masukkan bayi BBLR
ke dalam plastic segera
setelah lahir (mis:
bahan polyethylene,
polyurethane)
 Gunakan topi bayi
untuk mencegah
kehilangan panas pada
bayi baru lahir
 Tempatkan bayi baru
lahir di bawah radiant
warmer
 Pertahankan
kelembaban incubator
50% atau lebih untuk
mengurangi kehilangan
panas karena proses
evaporasi
 Atur suhu incubator
sesuai kebutuhan
 Hangatkan terlebih
dahulu bahan-bahan
yang akan kontak
dengan bayi (mis:
selimut, kain bedongan,
stetoskop)
Edukasi
 Jelaskan cara
pencegahan heat
exhaustion dan heat
stroke
 Jelaskan cara
pencegahan hipotermi
karena terpapar udara
dingin
 Demonstrasikan Teknik
perawatan metode
kanguru (PMK) untuk
bayi BBLR
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian
antipiretik, jika perlu

Risiko Setelah di lakukan tindakan Perawatan Jantung (I.02075)


Penurunan keperawatan selama 1x7 Observasi
Curah Jantung jam di harapkan Curah  Identifikasi tanda/gejala
b.d gangguan jantung meningkat dengan primer penurunan curah
ventilasi kriteria hasil : jantung (meliputi:
pulmonal 1. Kekuatan nadi perifer dispnea, kelelahan,
(D.0011) meningkat edema, ortopnea, PND,
2. Ejection fraction (EF) peningkatan CVP).
meningkat  Identifikasi tanda/gejala
3. Palpitasi menurun sekunder penurunan
4. Bradikardia menurun curah jantung
5. Takikardia menurun (meliputi: peningkatan
6. Gambaran EKG berat badan,
Aritmia menurun hepatomegaly, distensi
7. Lelah menurun vena jugularis,
palpitasi, ronkhi basah,
oliguria, batuk, kulit
pucat)
 Monitor tekanan darah
(termasuk tekanan
darah ortostatik, jika
perlu)
 Monitor intake dan
output cairan
 Monitor berat badan
setiap hari pada waktu
yang sama
 Monitor saturasi
oksigen
Terapeutik
 Posisikan pasien semi-
fowler atau fowler
dengan kaki ke bawah
atau posisi nyaman
 Berikan diet jantung
yang sesuai (mis: batasi
asupan kafein, natrium,
kolesterol, dan
makanan tinggi lemak)
 Gunakan stocking
elastis atau pneumatik
intermitten, sesuai
indikasi
 Fasilitasi pasien dan
keluarga untuk
modifikasi gaya hidup
sehat
 Berikan oksigen untuk
mempertahankan
saturasi oksigen > 94%
Edukasi
 Ajarkan pasien dan
keluarga mengukur
berat badan harian
 Ajarkan pasien dan
keluarga mengukur
intake dan output cairan
harian
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian
antiaritmia, jika perlu
 Rujuk ke program
rehabilitasi jantung

Resiko Cedera Setelah di lakukan tindakan Manajemen Keselamatan


berhubungan keperawatan selama 1x7 Lingkungan (I.14513)
dengan jam di harapkan tingkat Observasi
Hipoksia cedera menurun dengan  Identifikasi kebutuhan
jaringan kriteria hasil : keselamatan (mis:
(D.0136) 1. Kejadian cedera kondisi fisik, fungsi
menurun kognitif, dan Riwayat
2. Luka/lecet menurun perilaku)
 Monitor perubahan
status keselamatan
lingkungan
Terapeutik
 Hilangkan bahaya
keselamatan
lingkungan (mis: fisik,
biologi, kimia), jika
memungkinkan
 Modifikasi lingkungan
untuk meminimalkan
bahaya dan risiko
Edukasi
 Ajarkan individu,
keluarga, dan kelompok
risiko tinggi bahaya
lingkungan

Resiko Defisit Setelah di lakukan tindakan Manajemen Nutrisi (I.03119)


Nutrisi b.d keperawatan selama 1x7 Observasi
Ketidakmampu jam di harapkan Status  Identifikasi status
an menghisap nutrisi membaik dengan nutrisi
dan penurunan kriteria hasil :  Identifikasi alergi dan
mobilitas usus 1. Porsi makan yang intoleransi makanan
(D. 0019) dihabiskan meningkat  Identifikasi kebutuhan
2. Berat badan membaik kalori dan jenis nutrien
3. Indeks massa tubuh  Identifikasi perlunya
(IMT) membaik penggunaan selang
nasogastrik
 Monitor asupan
makanan
 Monitor berat badan
 Monitor hasil
pemeriksaan
laboratorium
Terapeutik
 Lakukan oral hygiene
sebelum makan, jika
perlu
 Berikan makanan tinggi
serat untuk mencegah
konstipasi
 Berikan makanan tinggi
kalori dan tinggi
protein
 Berikan suplemen
makanan, jika perlu
 Hentikan pemberian
makan melalui selang
nasogastik jika asupan
oral dapat ditoleransi
Edukasi
 Ajarkan posisi duduk,
jika mampu
 Ajarkan diet yang
diprogramkan
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian
medikasi sebelum
makan (mis: Pereda
nyeri, antiemetik), jika
perlu
 Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk menentukan
jumlah kalori dan jenis
nutrien yang
dibutuhkan, jika perlu
DAFTAR PUSTAKA

Suminto, Silvia. "Peranan surfaktan eksogen pada tatalaksana respiratory


distress syndrome bayi prematur." Cermin Dunia Kedokteran 44.8 (2017):
568- 571.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2017), Standar Diagnosis Keperawatan


Indonesia (SDKI),Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia

Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi keperawatan Indonesia
(SIKI),Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.

Tim pokja SLKI DPP PPNI (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia
(SLKI) Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia.

Wijanarti, Putu Dipta Pramita. Gambaran Asuhan Keperawatan Pada Bayi


Respiratory Distress Syndrome (RDS) Dengan Gangguan Pertukaran Gas
di Ruang Perinatologi RSUD Wangaya Tahun 2020. Diss. Poltekkes
Denpasar Jurusan Keperawatan, 2020.

Anda mungkin juga menyukai