“Beb!!!
Anka menolehkan kepalanya kea rah sumber suara. Perempuan itu celingukan ke kanan dan ke kiri,
kemudian matanya memicing untuk melihat seorang laki-laki Tengah berlari kecil kepadanya. Dia
mengembuskan napas lega dari dalam masker wajahnya lantas menyandarkan badannya ke tiang yang
ada di belakangnya. Akhirnya, ketemu juga, batinnya.
Laki-laki itu, Dean, langsung membuka kedua lengannya lebar-lebar tatkala jaraknya dengan Anka tinggal
lima langkah kaki. Tanpa berlama-lama, Anka langsung menubrukkan tubuhnya ke dalam dekapan pria
tersebut. Anka menyandarkan kepalanya dan membuka maskernya.
Perempuan itu menghirup dalam-dalam wangi pakaian dean, wangi yang ia rindukan.
Sementara itu, Dean mengusap-ngusap pelan punggung Anka, mengecup kening Anka, dan mengelus
sayang setiap helai rambut anka. Setiap Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh kesepuluh jarinya dipenuhi
oleh rasa rindu, sesak, dan cinta pada Perempuan yang berada di dalam dekapannya.
Kondisi bandara JFK yang ramai dan bising seolah-olah tidak menganggu aktivitas kedua insan tersebut.
Mereka menghiraukan orang-orang yang berlalu Lalang, suara tangis anak kecil di dekat mereka, riuh,
rendah speaker bandara, dan bisingnya kendaraan di jalur penurunan penumpang. Bagi Dean dan Anka,
selama beberapa menit, dunia berhenti dan hening. Semua hal bisu, menyisakan Dean dan Anka yang
Tengah sibuk menuntaskan rasa rindu.
“5 menit lagi ya?” pinta Dean.
Anka tertawa kecil, “Yes, little longer, please”
Pelukan itu berakhir pada durasi 8 menit 13 detik seusai keduanya melepaskan diri dan bertatapan satu
sama lain.
“Wait, dean? Kamu nangis?!” ujar Anka heboh.
Dean mengucek matanya dan terkekeh, “Apaan, enggak ya, ini kelilipan rambut sama debu pas meluk
kamu,” bantahnya.
Anka tersenyum simpul, lantas meledek Dean, “Ah masa??? Kayaknya enggak tuh?? Kamu sekangen itu
ya sama aku???”
“Enggak ya, udah ah, mana sini kopernya?” ujar Dean sembari mengambil alih 2 koper Anka yang
sebelumnya berada di samping Perempuan itu, lalu berjalan mendahului Anka.
“Ah masa??? Kok nunduk gitu sih??? Kok telinganya merah gitu sih??? Kok jalannya nunduk gitu sih??”
Anka berjalan sedikit lebih cepat, berusaha menyamai langkahnya dengan Dean. “Malu yaa ngaku
kangen aku??” ujarnya, rupanya Anka masih belum puas meledek Dean.
“Udah tau, ngapain masih pake nanya,” gumam Dean lumayan keras. Anka tertawa lalu mengaitkan
tangannya pada lengan Dean.
“Ya gapapa sih, berarti aku kangennya sendirian.” Sahut anka, “I miss you, Bang Toyib” sambungnya.
Dean menoleh cepat, “Ini jangan-jangan kontakku di kamu Namanya masih bang toyib lagi?” selidiknya.
Anka mengangguk polos, “Emang kenapa sih?”
Dean mengendikkan bahu, “Ya gapapa sih, aku juga masih namain kontak kamu Fangirl Dean”
Anka sontak langsung mendorong dean pelan, “Ih apaan sih, kenapa masih itu?!!!”
“Biarin terserah aku, ntar ajalah kalau dah nikah, diganti nama kontaknya,”
“Jadi apa nama kontaknya?”
“Istrinya Dean,” jawab Dean mantap, membuat Anka tersenyum lebar-lebar.
Hubungan Dean dan Anka saat ini memang telah memasuki jenjang yang serius. Mereka telah
bertunangan satu tahun yang lalu, tepat 3 bulan pasca Anka menyelesaikan studinya di Juilliard dan
kembali ke Indonesia untuk mengurus beberapa projek besar bersama Musisi Indonesia. Saat itu, Dean
pulang sebentar ke Indonesia secara mengejutkan dan bertandang ke rumah Anka bersama keluarganya
untuk melamar Anka sebagai istrinya di depan orang tua Anka. Dan bagi Anka yang tiba-tiba ditelepon
oleh ibunya yang berkata kalau Dean ada di rumahnya saat Anka masih berada di kantor, Anka tak bisa
tidak mengatakan iya pada lamaran tersebut.
Semenjak momen itu, keduanya resmi menjadi sepasang tunangan. Kini, selepas Anka kembali ke
Amerika Serikat karena urusan pekerjaannya telah selesai di Indonesia, niatnya di penghujung tahun
2024, mereka akan melangsungkan pernikahan di Amerika Serikat.
Beberapa menit kemudian, Dean dan Anka tiba di area parkir, dengan sigap Dean memasukkan kedua
koper Anka ke dalam bagasi. Kemudian, pria itu membuka pintu mobil untuk Anka.
“Princess treatment, huh?” ujar Anka
“Lebih kea rah Fangirl Treatment sih, kamu kan fans aku.” Balas Dean.
Anka langsung mengerang kesal. Tiga tahun menjalani hubungan secara luring dan daring tidak membuat
Dean serta merta lupa kalau Anka pernah sempat menjadi penggemar Dean semasa Dean masih menjadi
siswa SMA yang bergabung di suatu group band dengan posisi drummer. Dean mengetahui hal tersebut
Ketika ia tak sengaja melihat akun twitter Anka mengikuti suatu akun twitter fanbase Dean. Anka yang
terciduk akhirnya terpaksa mengaku bahwa ialah salah satu admin akun twitter tersebut dan memang
pernah menjadi penggemar group band-nya Dean.
“STOPPPP, AKU MALUUUU” ujar Anka seraya menutup kupingnya.
Dean tertawa, lantas ia menyalakan mesin mobilnya. “Oh iya, ekhem, beb, aku ada sesuatu buat kamu,”
katanya seraya mengambil suatu buket bunga di kursi mobil belakang.
Anka menoleh, “Hah, apaan?”
“Anggep aja ini hadiah kedatangan ya, ehm, maaf kalau buket bunganya jelek, ehm, itu bukan bunga asli
sih, aku ga beli bunga asli soalnya takut layu, ehm aduh apa lagi ya, kok aku jadi begini. Ini, kamu terima
ya,” kata dean gugup sembari menyerakhan satu buket bunga berisi lego bunga yang ia susun dari
kemarin malam dengan cepat.
“Okayy, wah, bagus banget, Dean, kamu yang bikin ini? My boyfriend is so talented!!! Oh my, ini lucu
banget, boleh aku upload di social media? “ balas Anka, ia memerhatikan detail dari buket bunga yang
diberikan Dean.
Namun, dean tak kunjung membalas pertanyaan Anka.
Anka mengalihkan tatapannya dari buket bunga kea rah dean, “Dean??? Halo??? Kenapa kamu nunduk?
Eh, telinga kamu merah? Oh my god? Dean, kamu malu??”
Dean perlahan mengangguk.
Tawa Anka meledak.
“Oh my god, ga berubah ya kamu! Masih aja malu, ini bagus kokkk, jangan malu yaa” ucap Anka.
“Beb, bukan gitu, aku gugup ngasih itu ke kamu, aduh, itu kan hadiah pertama dari aku setelah berbulan-
bulan kita ga ketemu, aku jadi ngerasa takut ga pantes ngasih lego bunga ke kamu, aduh mana kamu
cantik banget lagi”
Lagi-lagi Anka tersenyum mendengar ucapan Dean.
“Dean, enggak kok, ini pantes, aku suka banget sama hadiah kamu. Makasih banyak ya udah nungguin
aku, jemput aku, dan ngasih ini.” Balas Anka.
Lantas secara tiba-tiba, Anka mengecup bibir Dean, lantas berbisik. “Jangan gugup lagi ya, sayang.” Anka
kembali ke posisi duduknya semula.
Dean membeku selama beberapa detik sebelum mengeluarkan suara.
“Beb, boleh ga sih yang tadi di replay tapi durasinya dilamain?”
“Selamat datang kembali, Bebbbb” sambut Dean sembari membukakan pintu sebuah unit
apartmentnya. Anka tersenyum lebar. Dean mempersilahkan Anka untuk masuk duluan sebelum ia dan
dua koper milik anka masuk dan menutup pintu.
“Finally, our apartment” ujar Anka.
Dean merangkul bahu Anka, Perempuan itu menyandarkan bahunya pada lengan Dean. “Mau langsung
istirahat atau mau jalan-jalan malam?”
Anka tersenyum Lelah, “Istirahat deh, aku jet lag banget nih kayaknya.”
Dean mengangguk singkat, “Oke deh, aku rapihin koper kamu. Kamu mandi ya, masih tau kan ya, kamar
mandinya dimana?”
Anka mendengus, “Ya tau lah, aku kan pernah tinggal disini hamper setahun pas masih kuliah dulu,”
Dean tertawa, “Iya juga ya, lupa aku.”
Keduanya berjalan berlawanan arah. Anka menuju kamar mandi yang letaknya di dekat dapur, sebab
seingatnya terakhir kali alat mandinya yang belum terpakai saat zaman kuliah masih ada di sana,
sementara itu Dean kea rah kamar utama, hendak membereskan bawaan Anka.
Dean dan Anka memang pernah tinggal bersama selama mereka berkuliah, tepatnya Ketika mereka
berdua berada di tahun akhir kuliah di Juilliard. Saat itu mereka memutuskan untuk tinggal bersama
lantaran jangka waktu Anka menyewa apartemennya telah habis dan apabila Anka menyewa kembali,
harus menyewa dengan waktu minimal 3 tahun. Anka jelas keberatan dan saat itu sedang sibuk-sibuknya
masa recital untuk kelulusan, jadi ia tidak sempat untuk mencari-cari apartemen yang dapat disewa
dengan jangka waktu pendek, ia juga tidak bisa menyewa kamar asrama dikarenakan kamar asrama telah
penuh. Hotel? Maaf-maaf saja, kualitas hotel permalam yang paling murah di New York di sekitar
kampus Anka, sangat tidak bisa dihuni oleh manusia sangking jeleknya.
Namun, Dean yang mendengar permasalahan tersebut memberikan kepada Anka untuk tinggal di
apartementnya. Anka setuju dan orang tua anka pun setuju saat diberitahu oleh Anka kalau ia tinggal
bersama Dean melalui vidcall, bersamaan dengan Anka yang memberi tahu Dean kalau Dean adalah
pacarnya. Walaupun persetujuan tersebut didapatkan dari interogasi ketat oleh orang tua anka kepada
Dean dan Anka. Keduanya tinggal bersama selama 10 bulan sampai Anka ditugaskan oleh perusahaannya
untuk berdinas di Indonesia, mengurusi beberapa projek besar dari artis Indonesia yang berlabel di
bawah Perusahaan tersebut.
“Ini udah mau jam delapan malam, kamu mau kemana?” ujar Anka keluar dari kamar mandi Ketika
melihat Dean sedang menyelamprikan tasnya di Pundak di dekat sofa ruang tamu.
“Latihan orkestra beb, kan 1 bulan lagi akua da orkestra, aku pernah bilang ke kamu kayaknya di vidcall”
jawab Dean, membuat Anka kontan mengingat sesi video call mereka dua minggu yang lalu, dimana
Dean bercerita kalau group orkestranya akan mengadakan pertunjukan dalam waktu dekat.
Anka meringis, “Oh iya ya, lupa sori, kayaknya aku kecapekan.”
Dean mengangguk, “Iya gapapa, istirahat ya? Itu di bar dapur ada makanan, udah aku buat, aku udah
makan juga punyaku, tinggal kamu, habis itu tidur ya?”
“Iya, kamu hati-hati ya,”
Dean melebarkan kedua lengannya lagi, Anka segera masuk ke dalam pelukan Dean. “Ugh, nyaman
banget, bisa ga sih kita pelukan aja? ” kata Dean.
Anka tertawa, “Jangan ngaco,”
Selepas berpelukan, Dean pun pergi, keluar dari apartement.
Anka beralih ke meja makan yang selanjutnya ia menemukan sebuah kotak berukuran sedang dengan
sebuah surat di samping sepiring nasi ayam geprek dan segelas air putih.
Maaf aku ga sempet bikin pesta perayaan kamu kembali beb, akhir-akhir ini projek orkestra banyak
banget, recital lah, bikin soundtrack lah, apalah, pusing☹(( maaf ga bisa nemenin makan, GARA GARA
KONDUKTORNYA NIH, harusnya kemarin aku Latihan, dan hari ini bebas, tapi Sir. Jeff baru bisa hari ini
jam 6 sore tadi, tapi aku izin skip soalnya jemput kamu, jadi aku harus dating bgt ke sesi 2 latihan, jam 8
malem ini. MFF. Ini ada nasi ayam geprek, hebat kan aku, makanan favorit kamu tuh aku bikinin. Tapi
ntar ada bayarannya ya, ga ada yang gratis di dunia ini, muehehe, tapi bukan duit, ada lah, ntar aku
minta. Terusss, ini juga ada kotak kecil, buka ya, terus kamu lanjut bac aini.
Anka membuka kotak kecil itu, berisi dua buah jepitan rambut bernuansa galaksi. Anka lanjut membaca
surat itu.
Iya, itu jepitan rambut, apay a aku tuh pernah lihat di fyp IG, kalau ada jepitan herkules gitu yang kuat,
terus aku keinget kamu pernah ngeluh jepitan kamu rusak pas kita vidcall, jadi ini yaa, buat kamu, aku
nemu ada toko aksesori gitu baru buka, 6 blok dari sini, Taunya pas aku lagi jalan ke tempat recital, terus
nemu ini, terus aku beli deh, katanya sih kuat walaupun dibanting dari lantai 1000. Yaudah beb, itu aja,
makan ya, nangis ya soalnya sambal gepreknya pedes, soalnya tadi aku nangis jg, ngapain ya bikin
sambal pedes-pedes? Dadah, aku sayang kamu.
Anka tersenyum menanggapi secarik surat tersebut. Lantas secara perlahan memakan makanan
malamnya.
###
“Bebbbb, ayooo bangunn, mau nemenin aku olahraga?”
Malam harinya, saat jarum jam menunjukkan pukul 12 malam lebih 35 menit, Dean mengendap-
ngendap masuk ke kamar utama, berusaha menimbulkan suara agar Anka tidak terbangun. Ia tersenyum
Ketika melihat Anka tertidur nyenyak, kemudian memutuskan untuk menjatuhkan kecupan di pelipis
Anka sebelum berbaring di Kasur bagiannya.
Sementara itu, Anka sedikit terbangun lantaran pintu kamar utama mengeluarkan suara cukup keras
Ketika terbuka lalu secepat mungkin menyadari bahwa Dean telah pulang. Anka juga sadar bahwa Dean
mencium pelipisnya.
Namun, sayangnya, Anka juga sadar kalau selepas ciuman di pelipis tersebut, tidak hangat hawa hangat
Dean memeluknya dari belakang.
“Selamat datang kembali, Bebbbb” sambut Dean sembari membukakan pintu sebuah unit
apartmentnya. Anka tersenyum lebar. Dean mempersilahkan Anka untuk masuk duluan sebelum ia dan
dua koper milik anka masuk dan menutup pintu.
“Finally, our apartment” ujar Anka.
Dean merangkul bahu Anka, perempuan itu menyandarkan bahunya pada lengan Dean. “Mau langsung
istirahat atau mau jalan-jalan malam?”
Anka tersenyum Lelah, “Istirahat deh, aku jet lag banget nih kayaknya.”
Dean mengangguk singkat, “Oke deh, aku rapihin koper kamu. Kamu mandi ya, masih tau kan ya, kamar
mandinya dimana?”
Anka mendengus, “Ya tau lah, aku kan pernah tinggal disini hampir setahun,”
Dean tertawa, “Iya juga ya, lupa aku.”
Keduanya berjalan berlawanan arah. Anka menuju kamar mandi yang letaknya di dekat dapur, sebab
seingatnya terakhir kali alat mandinya yang belum terpakai saat zaman kuliah masih ada di sana,
sementara itu Dean ke arah kamar utama, hendak membereskan bawaan Anka.
Dean dan Anka memang pernah tinggal bersama selama mereka berkuliah, tepatnya ketika mereka
berdua berada di tahun akhir kuliah di Juilliard. Saat itu mereka memutuskan untuk tinggal bersama
lantaran jangka waktu Anka menyewa apartemennya telah habis dan apabila Anka menyewa kembali,
harus menyewa dengan waktu minimal 3 tahun. Anka jelas keberatan dan saat itu sedang sibuk-sibuknya
masa recital untuk kelulusan, jadi ia tidak sempat untuk mencari-cari apartemen yang dapat disewa
dengan jangka waktu pendek, ia juga tidak bisa menyewa kamar asrama dikarenakan kamar asrama telah
penuh. Hotel? Maaf-maaf saja, kualitas hotel permalam yang paling murah di New York di sekitar
kampus Anka, sangat tidak bisa dihuni oleh manusia sangking jeleknya.
Namun, Dean yang mendengar permasalahan tersebut memberikan kepada Anka untuk tinggal di
apartementnya. Anka setuju dan orang tua anka pun setuju saat diberitahu oleh Anka kalau ia tinggal
bersama Dean melalui video call, bersamaan dengan Anka yang memberi tahu Dean kalau Dean adalah
pacarnya. Walaupun persetujuan tersebut didapatkan dari interogasi ketat oleh orang tua Anka.
Keduanya tinggal bersama selama 10 bulan sampai Anka ditugaskan oleh perusahaannya untuk berdinas
di Indonesia, mengurusi beberapa projek besar dari artis Indonesia yang berlabel di bawah Perusahaan
tersebut.
“Ini udah mau jam delapan malam, kamu mau kemana?” ujar Anka keluar dari kamar mandi Ketika
melihat Dean sedang menyelamprikan tasnya di pundak di dekat sofa ruang tamu.
“Latihan orkestra beb, kan 1 bulan lagi aku ada orkestra, aku pernah bilang ke kamu kayaknya di vidcall”
jawab Dean, membuat Anka kontan mengingat sesi video call mereka dua minggu yang lalu, dimana
Dean bercerita kalau group orkestranya akan mengadakan pertunjukan dalam waktu dekat.
Anka meringis, “Oh iya ya, lupa sori, kayaknya aku kecapekan.”
Dean mengangguk, “Iya gapapa, istirahat ya? Itu di bar dapur ada makanan, udah aku buat, aku udah
makan juga punyaku, tinggal kamu, habis itu tidur ya?”
“Iya, kamu hati-hati ya,”
Dean melebarkan kedua lengannya lagi, Anka segera masuk ke dalam pelukan Dean. “Ugh, nyaman
banget, bisa ga sih kita pelukan aja, aku ga usah ke tempat latihan?” kata Dean.
Anka tertawa, “Jangan ngaco,”
Selepas berpelukan, Dean pun pergi, keluar dari apartement.
Anka beralih ke meja makan yang selanjutnya ia menemukan sebuah kotak berukuran sedang dengan
sebuah surat di samping sepiring nasi ayam geprek dan segelas air putih.
Maaf aku ga sempet bikin pesta perayaan kamu kembali beb, akhir-akhir ini projek orkestra banyak
banget, recital lah, bikin soundtrack lah, apalah, pusing
:((( maaf ga bisa nemenin makan, GARA GARA KONDUKTORNYA NIH, harusnya kemarin aku latihan, dan
hari ini bebas, tapi Sir Jeff baru bisa hari ini jam 6 sore tadi, tapi aku izin skip soalnya jemput kamu, jadi
aku harus datang bgt ke sesi 2 latihan, jam 8 malem ini. MFF. Ini ada nasi ayam geprek, hebat kan aku,
makanan favorit kamu tuh aku bikinin. Tapi ntar ada bayarannya ya, ga ada yang gratis di dunia ini,
muehehe, tapi bukan duit, ada lah, ntar aku minta. Terusss, ini juga ada kotak kecil, buka ya, terus kamu
lanjut baca ini.
Anka membuka kotak kecil itu, berisi dua buah jepitan rambut bernuansa galaksi. Anka lanjut membaca
surat itu.
Iya, itu jepitan rambut, apa ya aku tuh pernah lihat di fyp IG, kalau ada jepitan herkules gitu yang kuat,
terus aku keinget kamu pernah ngeluh jepitan kamu rusak pas kita vidcall, jadi ini yaa, buat kamu, aku
nemu ada toko aksesori gitu baru buka, 6 blok dari sini, Taunya pas aku lagi jalan ke tempat recital, terus
nemu ini, terus aku beli deh, katanya sih kuat walaupun dibanting dari lantai 1000. Yaudah beb, itu aja,
makan ya, nangis ya soalnya sambal gepreknya pedes, soalnya tadi aku nangis jg, ngapain ya aku bikin
sambal pedes-pedes? Dadah, aku sayang kamu.
Anka tersenyum menanggapi secarik surat tersebut. Lantas secara perlahan memakan makanan
malamnya.
==
Tak terasa, Anka telah menetap di New York hampir 4 bulan. Selama empat bulan ini, Anka dan Dean
sama-sama sibuk mengurusi pekerjaan masing-masing, Anka dengan projek musiknya dan Dean dengan
pertunjukan orkestranya. Namun, keduanya tetap meluangkan waktu untuk satu sama lain. Contohnya
sekarang-sekarang ini, Anka tengah berada di dalam taksi kuning menuju David Geffen Hall, tempat New
York Philharmonic, kelompok orkestra Dean akan bermain. Yah, walaupun sejujurnya untuk menonton
pertunjukan orkestra Dean, ada harga yang harus dibayar Anka.
Selama satu minggu sebelumnya, Anka harus mengebut menyelesaikan pekerjaannya. Seringkali ia
pulang jam 12 malam, bahkan terlihat sibuk dari Dean. Tetapi, Anka rela-rela saja untuk membiarkan
dirinya bekerja keras demi waktu yang bisa ia pakai tuk menonton Dean. Sebab Anka tahu, Dean telah
mencurahkan dengan sepenuh hati tenaga dan konsentrasinya untuk menjadi perkusi timpani di New
York Philharmonic. Sebab Anka tahu, betapa berharganya passion Dean di bidang music klasik. Sebab
Anka tahu, betapa cerahnya senyuman Dean Ketika ia melihat Anka menontonnya tampil.
Dean dan kegigihannya dalam menekuni passionnya di perkusi itulah yang membuat Anka jatuh pada
Dean. Dean dengan dunia perkusinya itu menarik Anka untuk tinggal. Pertunjukan orkestra seperti ini
sudah berkali-kali Anka pergi. Sebelum pindah ke Indonesia sebentar, Anka mendatangi resital Dean
kapanpun ia bisa. Anka pernah bertanya, kenapa Dean mengundangnya, padahal tiket itu bisa ia jual.
Namun, Dean beralasan, “Supaya kamu tahu duniaku, kayak kamu yang suka ngajakin aku nonton projek
musik popmu itu,”
Dean dan Anka memang berbeda aliran music meskipun sama-sama berkuliah di Juilliard. Anka berfokus
pada muski populer di setiap projeknya dan Dean bersama perkusinya dalam music klasik. Berkat sering
diundang Dean menonton pertunjukan orkesnya, Anka sedikit paham cara kerja orkestra.
Pertunjukan orkestra dimulai pada jam Sembilan malam dan berlangsung selama 2 jam. Kali ini, New
York Philaharmonic memainkan The Rite of Spring sesuai dengan musim diadakannya pertunjukkan
orkestra. Anka tak jenuh-jenuh tersenyum, bahkan terkadang merekam video Dean memainkan
timpaninya di bagian belakang.
Disisi lain, Dean fokus memukul timpaninya agar sesuai dengan nada di sheet musicnya. Namun, tatkala
timpaninya berada di notasi diam, Dean segera mengalihkan tatapannya dan berusaha mencari Anka di
barisan terdepan penonton. Bibirnya melebarkan senyum tatkala ia melihat Anka melambaikan tangan
ke arahnya.
Setelah itu, sebagaimana pertunjukan-pertunjukan orkestra biasanya, akan ada after party atau makan
malam bersama sebagai wujud syukur atas kesuksesan pertunjukan orkestra. Di acara makan malam
bersama itu, tak hanya pemain, tetapi juga tamu undangan seperti keluarga, kekasih, dan teman terdekat
pemain orkestra ikut merayakan suksesnya orkestra. Oleh karena itu, disnilah Anka berdiri di tengah-
tengah ball room yang memiliki lampu gemerlap yang amat besar.
Di sisi samping kanan-kiri terdapat buffet-buffet makanan, dimulai dari makanan pembuka sampai
penutup. Sementara itu, di tengah-tengah ball room, sebagian areanya dibuat menjadi tempat meja
makan dan kursi bulat dan di area lainnya dijadikan tempat dansa dengan alunan musik bertempo
lambat.
Anka masih sibuk dengan dessert yang ia habiskan sembari berdiri lantaran meja dan kursi-kursi yang
tersedia telah penuh, Ketika sebuah tangan dengan kokoh melingkari pinggangnya.
“Hei, beb.” Sapa Dean.
Anka mengalihkan tatapannya dari piring dessertnya, seraya tersenyum. “Hai, selamat ya, sukses tuh tadi
orkes nya.”
“Makasih ya kamu udah sempetin nonton, padahal lagi sibuk-sibuknya di kantor.” Ujar dean.
“Anytime, babe.” Balas Anka. “Ini kayak kondangan banget ya? Perasaan pas aku belum balik ke indo,
banter-banter cuma makan bersama di resto abis orkes. Kalau yang ini, bedanya ga ada pengantin aja, ya
ga sih?” kekehnya.
Dean ikut tertawa kecil, “Ya kan, aku juga bilang apa dichat. Aku juga pas gabung new York philharmonic
juga kaget. Group orkes besar tuh mungkin emang gini kali ya adatnya, ”
Mereka berdua berbincang-bincang mesra dan agak lama sampai Dean memutus obrolan itu. “Babe,
aku lapar banget abis mukul timpani, aku ambil makan dulu ya,” ia menunjuk salah satu buffet. “Kamu
mau makan juga ga? Sekalian aku ambilin?”
Anka mengangguk, “Iya, ambilin dong sekalian, aku nyari tempat duduk ya.” Lantas keduanya pun
berpisah.
Saat berhasil tempat duduk, Anka tak sengaja mendengar bisik-bisik dua orang wanita yang kebetulan
berada di dekatnya.
“How cute they are!” bisik wanita pertama.
“Yeah, Dean and Nirvana always be my dream couple,” balas wanita kedua.
“Unfortunately, I hear Dean hasn’t make Nirvana as his girlfriend yet.”
“Whattt?”
“I don’t know, I just hear that from Will that Dean and Nirvana have no relationship”
“What? But they are so fit to be together! Look how Dean laugh with Nirvana.”
Awalnya, saat mendengar bisikan itu, Anka tidak mau menoleh dan berusaha untuk berpikiran positif,
tetapi saat ia mendengar kalimat terakhir dari percakapan kedua wanita asing di dekatnya, dia
memaksakan dirinya untuk melihat ke arah pria yang dibicarakan kedua wanita tersebut.
Disana.
Pemandangan aneh yang entah kenapa menyesakkan hadir di depan mata Anka.
Di dekat buffet makanan, Dean sedang tertawa bersama rekan-rekannya.
Seharusnya hal itu normal, tetapi tidak Ketika Anka mengetahui bahwa diantara lelaki yang tengah seru
mengobrol tentang apapun itu, ada sesosok wanita Anggun dengan spaghetti strap dress nya berada
diantara para lelaki, di dekat Dean. Sedangkan Dean entah bagaimana tidak terganggu sama sekali
dengan eksistensi wanita itu.
Nirvana.
Nama wanita itu, nama yang telah Anka kubur dalam-dalam di relung hatinya, nama yang ia takuti akan
menganggu hubungannya dengan Dean.
Nirvana adalah pacar pertama sekaligus cinta pertama Dean sebelum Dean bertemu dengan Anka.
Nirvana dan Dean telah menjalin hubungan dari keduanya berada di sekolah menengah pertama hingga
tahun kedua berkuliah. Nirvana dan Dean sama-sama berkuliah di Juilliard, bedanya Nirvana
berkonsentrasi di instrument piano seperti Anka dan Dean di jurusan perkusi. Nirvana adalah satu-
satunya sumber rasa rendah diri Anka dalam hubungannya dengan Dean.
Tak hanya Anggun dan cantik, Nirvana juga merupakan teman dekat Dean. Ia telah mengetahui dan
mengenal Dean lebih lama dari Anka. Ia juga menjadi alasan kenapa Dean sulit berdamai dengan
kenyataan bahwa Dean dan Nirvana tak lagi menjadi satu. Alasan keduanya putus sangatlah biasa,
keduanya sibuk. Nirvana memutuskan Dean sepihak tanpa adanya persetujuan dari Dean. Barangkali
itulah yang membuat Dean menghabiskan waktu satu tahun untuk meingkhlaskan Nirvana, sebelum
akhirnya bertemu Anka.
Mendadak, Anka merasa ball room tempatnya ia berada terasa sangat dingin dan asing. Ia tak kenal
siapa-siapa disini. Ia baru pertama kali datang ke orkestra New York Philharmonic, sebelum-sebelumnya
kelompok orkestra Dean bukanlah New York Philharmonic. Anka terdiam membatu di tempat duduknya.
“Beb? Kok bengong” suara Dean memecah lamunan Anka.
Anka tersenyum tipis, “Oh, hai. Makasih ya udah ngambil makanan punyaku.”
“Gapapa, maaf lama, tadi ngobrol sama temen.” Balas Dean sembari menaruh piring Anka dan ia di meja
makan.
“Siapa aja temennya? Aku belum kenal siapa-siapa di group kamu yang baru. “ tanya Anka.
“Bukan siapa-siapa kok,” jawab Dean seraya menarik kursi dan duduk.
Anka ber oh ria. Sejujurnya, jawaban Dean membuatnya bertanya-tanya dalam hati. Memangnya Dean
tidak inginkah memperkenalkan Anka sebagai tunangannya di depan teman-temannya. Anka ingin sekali
menunjukkan kalau Dean ini sudah punya tunangan dan orang itu bukanlah Nirvana.
Keduanya makan dengan diam, hanya suara garpu dan pisau berdenting di piring. Anka memecah
keheningan itu, “Tadi… aku lihat, ada Nirvana?” tanyanya hati-hati.
Dean mengangguk, “Iya, dia segroup orkes sama aku, tadi ga perform cuman ikut dating ke after party,”
“Gapapa kok beb, aku sama dia kan Cuma rekanan, teman, kebetulan aja dia orang Indonesia kayak aku
disini jadinya kita kadang-kadang satu lingkaran pertemanan.” sambungnya.
“Beneran ya cuma kolega aja?”
“iya, cuma kolega, jangan khawatir ya, beb, yuk itu makanannya dihabiskan dulu.” Balas Dean.
Kemudian, Anka menelan suapan makanan selanjutnya dengan perasaan tak menentu.
Sebenarnya, saat bertemu Anka pun, Dean masih stuck berada di halamannya bersama Nirvana. Namun,
seiring waktu berjalan, seiring jalinan pertemanan dengan Anka yang makin erat, akhirnya Dean
merelakan Nirvana dan siap membuka lembaran baru.
Anka masih mengingat bagaimana terkejutnya ia saat Dean menghampiri apartemennya Ketika hujan
deras sedang mengguyur kota New York. “An, boleh tidak aku pendekatan sama kamu?” tanya Dean saat
Anka menyuguhkan coklat panas di ruang tamu apartemen.
“Maksudnya?” Anka bingung, sebab sepengertiannya hubungannya dengan Dean sejauh saat itu
hanyalah pertemanan akibat keduanya tak sengaja bertemu di perpustakaan dan membutuhkan buku
teori music yang sama. Anka pun tahu kalau saat itu Dean masih belum melaju meninggalkan
halamannya dengan Nirvana, jadi pertanyaan Dean membuatnya tercengang. Apalagi Anka saat itu
belum memiliki perasaan dengan Dean.
“Aku ga mau jadi teman kamu,” ujar Dean.
“Terus?”
“Aku mau kita bisa lebih dari ini.”
“Wait…konteksnya lebih dari ini tuh pacar?” tanya Anka.
Dean menganggukkan kepalanya, “Yaa, semacam itu.”
“Sebenarnya gapapa sih, go ahead, tapi aku mau mastiin sesuatu.” Balas Anka.
“Oke silahkan,” balas Dean.
“Kamu nanya kayak gitu, ga ada intensi jadiin aku pelarian kan? ”
Dean menggeleng, “Ga ada.”
“Kamu udah move on dari Nirvana?”
“Iya,” jawab Dean.
“Ceritain gimana kamu move on, and I’ll accept your request.” Tuntut Anka.
“Aku ga tau harus mulai darimana, tapi beberapa bulan lalu, aku tiba-tiba aja gitu tersadar kalau ternyata
aku gapapa gitu, aku tiba-tiba mikir, perginya di aitu keputusannya sendiri, dan aku ga berhak untuk
menahan dia, aku harusnya menghargai itu, dan lagi aku baik-baik aja, aku masih hidup walaupun dia ga
ada, aku masih bisa nonton film komedi romantis tanpa dia. Aku masih ketemu orang-orang baik, kayak
kamu.”
“Oke, masuk akal,” Anka manggut-manggut. “Aku kasih waktu kamu untuk bikin aku jatuh sama kamu,
pdkt, whatever. Waktunya ga nentu, sampe aku yakin kalau kamu orangnya.”
Dean mengangguk, “Oke, tapi aku boleh minta satu lagi ga?”
“Apa?”
“Boleh gak dalam waktu pdkt dan mungkin pacaran nanti, kita bisa luangin waktu satu sama lain
walaupun sibuk? Belajar dari pengalamanku, kayaknya kesalahannya ada di situ, terlalu sibuk.”
Anka mengangguk setuju. Di saat itu, Anka berujar dalam hati.
‘Tenang aja, aku bukan Nirvana yang sibuk. Aku bukan Nirvana dan ga bakal pernah bisa kayak Nirvana.
Jadi, jangan patahin hati aku nanti, Dean’
Kilas balik adegan apartement itu terputar di memori kepala Anka. Mendadak, Anka
==
“Hei, guys, how long have you been waiting?” sapa Dean kepada teman-temannya.
Saat ini, Dean dengan Anka tengah berada di salah satu cabang restoran fast food shake and shack,
tempat Anka akan bertemu dengan teman-teman Dean.
“Not really long, actually.” Salah satu pria dengan gaya rambut hair comma menyahut yang diikuti oleh
teman lainnya. “And… who are the girl you bring with?” tanya pria itu.
“Oh, this is my fiancée, Will. Will and Bram, this is Anka, and Anka, this is my friend, Will, pianist, and
Bram, player of double bass.” Ucap Dean memperkenalkan tunngannya dan teman-temannya. Anka
mengulurkan tangan untuk bersaliman. “Harusnya ada Sam, tapi dia ga bisa datang, ada acara lain.” Bisik
Dean. “Mereka ini yang ngobrol sama aku kemarin, yang kamu lihat itu.”
“Nice to meet you,” kata Bram yang dibalas senyuman tipis oleh Anka. “Dean never talked about you, I
was surprised that you are his fiancée” sambungnya.
“Dean, why would you never talk about Anka?” tanya Will.
“It’s his privacy, why would he share his privacy life to you?” balas Bram yang diangguki oleh Dean.
“Atleast he confirm that he has a fiancée so the people won’t talk about Dean and Nirvana,” Will
menggerutu kecil, hampir menggumam malah.
“I’m sorry, what did you say, Will?” rupanya Anka mendengar gumaman Will, tetapi ia ingin memastikan
kalau ia tidak salah dengar.
Will tersenyum salah tingkah, “Oh, nothing.”
“Guys, I think I wanna order some meals, do you wana?” tawar Dean, ia bangkit dari kursinya. “Beb,
kamu mau apa, burger sama milkshake?” Anka mengangguk. Bram memesan segelas cola dingin lagi,
sementara Will memesan semangkok Sunday Ice cream. Lantas Dean pun berlalu meninggalkan Anka
bersama kedua temannya. “Ngobrol yaa sama mereka,” ucap Dean pada Anka seraya berjalan.
Kemudian, Bram dan Will pun mulai mengobrol dengan Anka, walaupun kadang-kadang mereka terlihat
asik dengan pembicaraan mereka sendiri dan Anka menjadi merasa kalau ia bukan bagian dari circle
mereka. Tetapi, secara keseluruhan, Anka nilai Bram dan dan Will adalah orang-orang yang seru.
Seharusnya pertemuan itu berjalan baik-baik aja, tetapi baru setengah jam Anka berada di situ, ia merasa
ingin cepat-cepat pergi. Alasannya tak lain dan tak bukan karena datangnya Nirvana secara tiba-tiba.
Nirvana mendadak hadir diantara Bram, Will, Anka dan Dean yang baru saja duduk seusai membawa
pesanan makanan mereka. Setelah bertukar sapa, Nirvana berkata kalau Will lah yang mengundangnya
ke shake and shack.
“Kamu Anka kan ya, tunangannya Dean? Kata Dean, kamu ngambil piano juga di Juilliard, tapi kenapa aku
ga pernah lihat kamu ya?” sapa Nirvana.
Anka tidak mau memikirkan bagaimana Dean bisa-bisanya mengobrol dan memberitahu Nirvana kalau
Anka mengambil konsentrasi piano. Perihal tunangan, yah, Nirvana pasti tahu Dean bertunangan dengan
Anka, secara keluarganya dan keluarga Dean cukup dekat lantaran bertetangga.
“Kita beda tiga tahun, kalian tahun terakhir, aku baru masuk. Mungkin karena itu?” jawab Anka kalem.
“Oh iya ya, bisa jadi. Oh iya, ntar nikah undang aku gak nih? Dean, undang aku ya, masa temen dari kecil
ga diundang,” ujar Nirvana.
“Ya keluarga kamu kan aku undang, berarti kan kamu kuundang juga,” balas Dean.
“Wah asik, semoga langgeng ya, oh iya, jangan sibuk-sibuk hahahahah, kan ga lucu ntar cerai alesannya
karena sibuk. Kalau pacaran putus karena sibuk kayak aku sama Dean dulu mah gapapa,” Nirvana
terkekeh.
Anka tahu itu hanyalah bercandaan tetapi rasanya keterlaluan. Parahnya, Dean justru mengangguk-
angguk seolah setuju dan ikut terkekeh kecil,
Anka memaksakan senyumnya. “Iya.”
Selanjutnya, konversasi dan perhatian Bram dan Will hanya berorientasi pada Nirvana. Dean seolah-olah
tidak terganggu dengan keberadaan Nirvana dan asik saja memakan makananannya. Entah sadar atau
tidak, Dean bahkan tidak repot-repot mengajak temannya untuk melibatkan Anka dalam percakapan.
Anka gerah.
Anka memutuskan kabur dengan undur diri ke toilet.
Tak lama, Anka kembali, tetapi dari kejauhan dia melihat Dean tidak ada di meja tempatnya makan,
hanya ada Bram, Will, dan Nirvana. Sayup-sayup, Anka mendengar obrolan mereka.
“I thought you and Dean was something,” komen Bram.
“Unfortunately not, in college, we was, but right now Anka is his fiancée.” Balas Nirvana.
“But you and Dean look close, you even went to his apartment, like few months ago, in January?” tanya
Will.
Anka mengingat dalam hati. Januari adalah dua bulan sebelum Anka tiba. Anka tiba di New York saat
Maret, saat musim semi. Saat ini adalah awal dari musim panas, bulan Juni.
“Yeah, what did you do in his apartment?” tanya Will lagi.
Nirvana tertawa karir. “Only doors and windows know.”
Anka tidak tahu Dean dimana.
Anka cuma tahu ia ingin segera pergi dari shake and shack. Oleh karena itu, ia segera mengirimkan Dean
pesan. Lantas pergi diam-diam dari Shake and Shack tanpa berpamitan dengan Bram, Will, dan Will
nirvana.
===
“Lembur begini pulangnya malam banget? Kerjaannya belum selesai kah dari kemarin?” tanya Dean
Ketika melihat pintu apartement terbuka dari sofa di ruang tamu.
“Dean, maaf, jangan banyak tanya dulu ya, I’m really tired.” Balas Anka yang membuat Dean
mengerutkan alisnya.
Tak biasanya Anka begini.
Yah, kecuali, kalau ada masalah di kantor atau masalah di hubungan mereka.
Tetapi menurut Dean, dia dan Anka sejauh ini baik-baik saja. Lantas kenapa Anka bisa bertingkah
demikian?
Dean menggeleng, ia memberikan Anka jeda waktu sejenak untuk membersihkan dirinya di kamar
mandi. Dean menunggu Anka keluar dari kamar mandi di dalam kamar mereka untuk kemudian
menanyakan lagi ada apa dengan Anka.
Namun, setelah setengah jam, Anka tidak-tidak keluar-keluar dari kamar mereka. Dean berdecak, lantas
ia mematikan televisi dan berjalan menuju kamarnya.
Dean membuka pintu kamar secara perlahan. Ia melihat Anka yang tengah rebahan dengan rambut yang
basah dan telah memakai baju tidur. Hawa dingin dari pendingin ruangan menerpa Anka dan Dean tetapi
Anka sama sekali tidak tergerak untuk memakaikan selimut di badannya, justru ia malah menindih
selimut itu dan berbaring di Kasur.
Dean ikut-ikutan berbaring di Kasur dan berusaha memeluk badan Anka dari belakang sehingga posisi
keduanya spooning. Namun, Dean terkejut kala Anka secara pelan menguraikan jalinan tangan Dean di
pinganggnya.
“Ga pelukan?”
“Gerah,” Anka beralasan.
“Tapi kan dingin disini?”
“Hatiku yang gerah,”
Dean langsung terduduk begitu mendengar jawaban Anka. “Lho kenapa? An, ada apa?”
“Aku boleh tanya sesuatu?” balas Anka.
“Iya.” balas Dean.
“What the freak happened between you and Nirvana?”
Dean mengerutkan alisnya, “Maksud kamu apa?”
Anka memutar kedua netranya, “Ga usah pura-pura ga ngerti.”
“Ya karen aku emang ga ngerti maksud pertanyaan kamu apa,”
Anka beranjak dari posisinya yang berbaring, “I heard it.”
“Dengar apa?”
“I heard that Nirvana went to this apartment, three times. THREE TIMES, DEAN, AND YOU STILL
UNDERSTAND WHAT DID I ASK?” balas Anka berang. Suaranya meninggi.
Dean terperangah sejenak sebelum berbicara, “Kamu tau itu dari mana?”
Anka menghela napas kasar, “From will, I eavesdropping him after I go back from the toilet, when you
was not in the table. “
“An…”
“Jawab pertanyaanku, Dean! Kamu ada apa sama Nirvana? Dan kenapa aku ga tau?!” Anka berteriak
dengan suara bergetar.
Dean berusaha menggapai tangan Anka, berusaha menggenggamnya tetapi Anka menepisnya. Dean
merundukkan kepalanya, “Aku sama dia Cuma rekan, teman, atau kolega, Anka. Aku ga ada apa-apa
sama dia. Aku udah selesai sama dia. Aku ga cerita sama kamu karena menurutku itu ga penting,”
Anka berujar lirih, tatapannya terasa menusuk hati Dean. “Aku udah pernah bilang kan , Dean, kalau
tentang kamu, sekecil apapun, itu penting bagi aku. Kita udah sama-sama janji kan untuk melibatkan kita
di dunia masing-masing? Aku sama pianoku dan kamu sama perkusi kamu. Tapi… kenapa beberapa bulan
ini, aku ngerasa aku ga kenal kamu lagi? Kenapa aku ngerasa kamu udah enggak ngelibatin aku sama
dunia kamu? Aku bahkan hampir ga tau teman-teman kamu di New York Philharmonic siapa aja, kalau
semisal aku ga maksa untuk dikenalin. Padahal udah beberapa bulan kamu gabung New York
Philharmonic?”
“Anka….”
Anka berusaha menegarkan suaranya, “Dan kamu… ka-kamu tahu kalau Nirvana, adalah pemicu rasa
insecureku di hubungan ini, dia yang kenal kamu lebih lama, akrab sama kamu, cinta pertama kamu, dan
pacar pertama kamu, yang hubungannya lebih lama dibandingkan aku sama kamu. Kenapa kamu ga
cerita, Dean? Kamu takut aku marah? Bukannya dengan nyembunyiin begini malah justru jadi bom
waktu?”
Dean merunduk, suaranya ikut-ikutan melirih. “Karena ga penting, Anka.”
Anka diam, dia mempersilahkan Dean untuk menjelaskan apapun padanya. “Selama dua tahun ini kamu
sibuk. Iya, kamu memang nyempetin untuk video call. Tapi, setiap kita facetime, aku ngelihat kamu udah
lelah. Kamu emang bilang gak capek atau gak apa-apa, biasalah orang kerja mukanya begini setiap aku
tanya kamu capek atau enggak. Tapi muka dan mata kamu bilang sebaliknya. Aku tahu kamu kerja keras
dua tahun biar bisa pindah ke sini dengan cepat. Aku tahu beban kerja kamu berat. Aku ga mau cerita-
cerita hal-hal yang bikin beban kamu tambah berat. Aku cuma mau cerita hal-hal menyenangkan disini,
biar seenggaknya rasa lelah kamu berkurang, kamu bisa tersenyum.”
“Kenapa kamu ga bilang itu ke aku begitu aku udah ada disini? Kenapa kamu ga cerita-cerita tentang
Nirvana yang dateng ke apartement ini tiga kali, di bulan Januari?”
Dean menghela napas, “An, kamu tau kita sama-sama sibuk saat itu. Iya kita ngeluangin waktu, tapi
ngomongin hal itu gak bisa semenit dua menit. Aku juga mau ngejelasin itu, tapi waktunya gak pernah
tepat. Entah kamu yang pulang kemaleman atau aku yang nginep di studio. “
“Sesibuk apapun, If you wants, you will find a way to explain it to me. Tapi kamu kayaknya ga ada niatan
buat jelasin ke aku?”
Dean menarik napas, “An, tolong percaya aku, aku mau jelasin, tapi waktunya ga pernah tepat.”
“Yaudah, jelasin aja sekarang,” tuntut Anka.
Dean menghela napas untuk ke sekian kalinya, “Kali pertama dia datang ke apartementku, karena aku
nemuin dia lagi mabuk dan hampir dijahatin sama orang. Dia mabuk di klub di dekat apartement ini.
Kedua, pas orangtuanya datang ke sini, kamu tau kalau keluargaku sama dia dekat, jadi orangtuanya
datang ke sini sekalian berkunjung ke apartementku, orangtuanya udah nganggep aku anaknya,
begitupun orangtuaku dengan dia. Ketiga, pas aku sama dia abis datang ke pesta ulang tahun salah satu
temen kita di New York Philharmonic.”
Anka menatap Dean dengan tatapan menyelidik, “Terus? Kenapa yang kali ketiga kamu ga jelasin secara
rinci?”
Dean mengambil napas lagi, “Aku sama dia mabuk. Aku ga bisa ninggalin dia sendiri diantara cowok-
cowok, yang aku pikirin saat itu, dia harus dibawa ke tempat yang lebih aman dibanding klub tempat
temen kita ngerayain ulang tahunnya. Aku…. Bawa dia ke apartemen ini.”
“Samar-samar, seingatku, aku sama dia cuma ngelakuin aktivitas normal, kita gentian gunain kamar
mandi. Baju dia kena muntahan dan dia ga bawa baju ganti, aku terpaksa minjemin sweaterku, aku gak
punya pilihan lain, Anka. Kamu tau orangtuanya percaya sama aku. Aku gak tahu harus gimana, kalau
missal orangtuanya tau misal dia kenapa-kenapa karena mabuk. Tapi…”
“Tapi apa?” tanya Anka.
“Aku ga tau gimana, aku lupa, ingatanku samar-samar saat itu, entah ngantuk atau pengaruh alkohol, pas
pagi, aku bangun sambil meluk dia.”
Anka berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh.
“Ada lagi? Ada lagi yang belum kamu ceritain? Soalnya Dean, sebelum terlalu jauh, akum au kita penuh
keterbukaan, entah ujungnya apa nanti.” Balas Anka. “Kamu belum ceritain kenapa bisa orang-orang di
New York Philharmonic talked about you and Nirvana like you both are the fucking dream couple and fit
to be together.”
Dean menelan salivanya. “Yah, Ak-aku ga tau kenapa mereka bicarain itu. Aku udah bilang di chat, aku ga
tau. Di New York Philharmonic memang aku sama Nirvana yang orang Indonesia aja, jadinya kita sering
ngobrol atau interaksi dan lingkaran pertemanan kita beririsan. Nirvana memang pernah cerita latar
belakangnya sama aku saat acara thanksgiving tahun lalu juga soal keluarganya dan aku yang dekat. Aku
ga tau kalau hal itu malah bikin mereka berasumsi macam-macam. Aku ga pernah bantah soalnya aku
pikir semakin aku hiraukan mereka, justru yang ada malah makin ramai. Maaf Anka…”
Anka tersenyum pedih, “Kamu bilang kamu dan dia sering ngobrol dan lingkaran pertemanan kamu dan
dia beririsan. Aku mau nanya, apa kamu dan dia sering hang out bareng atau tiba-tiba aja dia nimbrung
kayak di Shake Shack kemarin?”
“An, aku keluar sama dia hanya dalam konteks kalau teman-teman ngajak kita keluar, Anka. “
“Dan itu sering?” tanya Anka sinis.
Dean terdiam.
“Berarti sering,” simpul Anka dari diamnya Dean.
“Tapi aku keluar sama dia kalau Cuma ada teman-teman yang lain. Ga pernah lebih dari itu, aku sama
Nirvana.”
“Tapi kamu gak ngasih tau akua tau cerita-cerita sama aku.”
“Ya karena ga penting, Anka.”
Anka berjengit dari Kasur, “Udah berapa kali sih aku bilang, Dean, tolong cerita, mungkin buat kamu ga
penting tapi bagi aku penting!” ucapnya. “Kamu nyadar gak sih, dengan kamu interaksi sama dia, ngobrol
sama dia, itu ngasih dia celah, harapan untuk balik ke kamu?!” sambungnya.
“Maksud kamu apa, Anka? Ngasih harapan? Aku interaksi sama dia sewajarnya aja antar teman yang dari
Indonesia. Aku juga udah berapa kali bilang sama kamu kalau aku sama Nirvana Cuma temenan!”
akhirnya suara Dean ikut meninggi.
“Don’t you see how close you are when you and Nirvana in front of my eyes when we was in Shack
Shake and the after party?! And how she vaguely told Will and Bram about herself visit this apartment!”
Anka berucap murka.
Raut muka Dean terkesiap, “Anka, jangan bilang kamu cemburu karena itu? Aku konfirmasi ke kamu, aku
gak ada apa-apa sama Nirvana. Ga ada yang perlu dicemburuin.”
“Ini bukan masalah cemburu atau gak cemburu!” kata Anka. “Ini masalah kamu yang enggak terbuka
sama aku tentang apapun dari awal tahun ini, sementara aku mati-matian buat mempertahanin
hubungan ini!”
“Aku selalu cerita sama kamu, Anka.”
“Iya, tapi kamu ga pernah cerita soal Nirvana dan New York Philharmonicmu itu,” desis Anka. “Dan
sekarang, makin lama, aku gak tahu, entah menurutmu kedua hal itu gak penting diceritain atau akunya
udah gak lagi penting jadi kamu gak mau repot-repot cerita sama aku.”
Dean membuang napas kasar, “Kamu tau, Anka? Percakapan ini gak bakal kemana-mana, dan akan selalu
berhenti di bagian kamu nyalahin aku dan kamu gak paham posisi aku. Lebih baik kita udahin aja
percakapan ini dan kamu tidur.” Dean beranjak dari Kasur lantas membalikkan badan ke arah pintu
kamar.
“Gak paham posisi kamu gimana? Kamu juga gak paham posisi aku! Emangnya setelah aku tidur, masalah
ini akan selesai?!” balas Anka.
Dean tidak menjawab melainkan terus berjalan menuju pintu kamar.
Dean lelah.
Dean sungguh lelah.
Hari ini Latihan orkestra sangat menguras tenaganya, belum lagi ada projek mengisi OST film pendek dari
salah seorang kenalannya. Seusai pulang dari pekerjaannya, Dean berharap akan menemukan Anka yang
tengah duduk di sofa seraya menonton serial F.R.I.E.N.D.S dengan secangkir coklat hangat dan
menyambutnya dengan senyum hangatnya sembari menawarkan Dean apakah ingin cokelat hangat.
Lantas malam akan dihabiskan dengan aktivitas-aktivitas sederhana yang menjadi momen gemas dalam
memori.
Namun sayangnya, ekspektasi Dean tak terwujud. Alih-alih berbagi kasih dengan Anka di malam hari,
Dean dan Anka justru terlibat perdebatan tentang hal yang sama sekali tidak pernah Dean pikirkan.
Oke, baik, Dean memang pernah keluar dengan Nirvana. Tetapi hanya dalam konteks keluar bersama
teman-teman lain, tidak lebih. Ia juga tahu kalau Nirvana adalah sumber rasa rendah diri Anka dalam
hubungan ini, oleh karenanya ia tidak mau bercerita hal tersebut kepada Anka di saat mereka tengah
menjalani hubungan jarak jauh.
==
Anka pulang dijemput oleh Dean dengan jalan kaki. Pria itu benar-benar menghampiri Anka yang tengah
melamun di kursi cafe di dekat kaca pembatas antara dunia luar dengan café. Mata Anka langsung
menyala murka ketika dia melihat Dean.
Anka tidak ingat apa-apa.
Anka Cuma ingat, entah dia atau Dean yang memulai. Sepanjang perjalanan, mereka berdebat. Begitu
sampai apartement, perdebatan keduanya makin memanas. Nada-nada, suara-suara, dan teriakan
penuh frustrasi mengisi ruang kosong di antara mereka.
“Anka, jangan buat aku emosi, udah aku bilang kalau aku sama Nirvana gak ada apa-apa!” balas Dean
seraya membuka pintu apartement, mempersilahkan Anka untuk masuk terlebih dahulu.
Anka masuk duluan ke dalam apartement, lantas menggantungkan cardigannya. “Tapi buktinya apa?!
Kamu sadar gak sih, interaksi kamu sama Nirvana selama ini tuh memberi celah, memberi dia harapan!
Apanya yang gak ada apa-apa? Bullshit!”
“Kamu bilang kamu mau jelasin kan tentang apapun antara kamu dan Nirvana? Tapi kamu daritadi, dari
kamu jemput aku di café sampe kita nyampe apartement, kamu cuma ngomel tentang aku yang kata
kamu gak dewasa dan gak seharusnya kabur dari pesta. Tapi kamu gak sekalipun bisa memosisikan diri
kalau kamu jadi aku di saat itu!” sambung Anka.
Anka membuang pandangannya kea rah dinding, jendela, dan pintu apartment. Entah kenapa,
mendadak semuanya terasa memuakkan. Ia membayangkan dinding, jendela, dan pintu apartment
menjadi saksi atas apa yang terjadi antara Dean dan Nirvana. Rasanya benda-benda mati itu seakan-akan
menyoraki Anka tentang ketidaktahuannya mengenai Dean dan Nirvana. Di kepala Anka tiba-tiba
terputar suara Nirvana yang ia dengan di Shake and Shack.
Only door and window know what happened between Dean and Nirvana. Sementara Anka di Jakarta
seperti orang tolol yang memercayai tunangannya, Dean.
Mendadak Anka merasa tak nyaman dan ingin kabur dari apartment.
“Bukan gitu, Anka. Aku paham kamu gak betah atau karena ada Nirvana, tapi tolong, lain kali hampiri aku
dulu sebelum pergi. Seenggaknya jangan tinggalin aku dengan keadaan gak tau apa-apa, Anka. Aku panik
kamu gak ada di pesta.”
“Gak, kamu gak paham! Nirvana di sana ngoceh selama tiga puluh menit, dan kamu tahu dia bicara apa?
Dia bicara tentang kamu! Kamu yang nyobain kopi espresso buatan dia, ikut agenda joggingnya.
Sekarang, kamu jadi aku, dan aku harus dengerin cerita dia. Bisa paham gak betapa pengennya aku kabur
dari situ. Kenapa? Karena aku gak kuat, Dean. Aku gak kuat menghadapi sumber rasa insecureku di
hubungan ini, aku gak kuat untuk enggak mikir hal aneh-aneh. Dan kamu, bukannya memperjelas hal-hal
rantara kamu dan Nirvana, kamu malah ngomongin hal lain. Bisa bayangin gak jadi aku? Gak kan?” Anka
berbicara Panjang lebar yang diakhirinya dengan gerutuan, “Kamu juga nyari aku karena takut aku hilang
kan, takut Papa-Mama aku nanyain aku tapi kamu gak bisa jawab. Am I wrong?”
Dean mendelik, “Apaan sih, An. Kenapa kamu ngomong gitu? Aku nyari kamu karena kamu orang
kesayanganku, aku takut kenapa-kenapa. Oke, aku paham posisi kamu. Oke kamu kabur, tapi bisa kan
chat aku? Ponsel kamu masih berfungsi kan?” balasnya. “ Oke aku jelasin, An, aku nerima kopi itu,
soalnya teman-teman yang lain juga nerima, dan Nirvana juga ada di situ. Gak mungkin kan setelah
Nirvana cerita kalau dia berusaha keras buat kopi itu, aku nolak kopinya karena gak suka yang pahit-
pahit. Dan agenda jogging itupun bareng sama teman-teman. Aku sama dia interaksi Cuma sebatas itu,
An. Udah sampai disitu aja, sudah gak ada apa-apa lagi yang aku tutupi. Aku jujur.“
Anka tertawa pedih, “Oh jadi dia, alasan kamu tiba-tiba suka kopi, kamu yang tiba- tiba rajin ngelakuin
aktivitas olahraga outdoor kayak jogging padahal sebelum-sebelumnya kamu cuma suka teh atau
olahraga di gym di bawah apartement? Kamu cerita kamu suka kopi dan jogging di video call kita, tapi
kamu gak pernah ceritain alasan kamu apa ke aku!”
Dean berdecak, “An, aku udah berkali-kali bilang sama kamu, aku gak mau ngebebanin kamu, aku takut
kamu kepikiran.”
Anka menatap dean dengan lara tersimpan di pelupuk netranya, “Udah berapa juga sih, Dean, aku bilang
ke kamu, kalau cerita, tolong cerita, tolong terbuka. Kamu paham gak sih, interaksi kamu sama dia itu
ngasih harapan yang lebih ke diaKamu paham gak sih?! Aku udah bilang berkali-kali!” ucapnya.
“Apanya yang ngasih harapan sih, An? Aku juga enggak berhubungan sama dia di luar jam kerja, gak
sering. Mau kamu apa, An?” kata Dean.
Anka menatap Dean nyalang, “Mau aku? Putusin semua hubungan sama Nirvana, gak usah ada interaksi-
interaksi nonsense itu lagi. Bisa gak kamu?”
Dean membatu. Lantas berujar, “An, kamu tau itu gak mungkin kan. Aku satu tempat kerja sama dia dan
beberapa bulan ini orang tuanya sering nanyain aku lewat WhatsApp tentang kabar Nirvana. Kalau
Nirvana kenapa-kenapa dan orangtuanya tau, gimana, An?”
“She’s an adult, Dean! Kenapa orangtuanya harus ngerepotin kamu?! Kenapa kamu harus keseret-seret
antara dia dan orangtuanya?!” Anka hampir berteriak.
“Karena aku yang deket sama dia, An! Cuma aku yang deket sama dia dari kecil, aku juga gak mau keseret
begini. Tolong pahami aku, An.”
Anka tertawa kesal, “You know what, Dean? Kita, aku dan kamu, hubungan ini, gak akan works, kita gak
akan berhasil. Aku punya insecure dengan Nirvana dan kamu yang terus-terusan interaksi sama dia
dengan alasan dia rekan kerja kamu cuma bakal memperburuk rasa insecureku, yang ada ngebuat aku
trust issue sama kamu dan bikin hubungan ini gak sehat. Lebih baik… kita udahin aja.” Ujarnya.
Dean tercekat, kata-kata sulit keluar dari tenggorokannya, ia susah payah menelan salivanya. “An…”
Mata Anka memerah karena menahan tangis, “Udah ya, Dean. Kita selesai di sini aja, kalau kita lanjutin,
yang ada Cuma perdebatan.” Sahutnya. ““Let’s break up, we cannot continue this relationshit”
“Apa… apa ga ada hal yang bis akita pertahanin dari hubungan ini, An?”
Anka tertawa dan air matanya mulai berlarian menuruni wajahnya. “Apa? Apa yang bisa di pertahanin?
Kamu yang terus berteman sama dia dengan alasan Cuma rekan dan aku sama rasa insecure ku? Itu yang
mau dipertahanin? Aku gak tahu Dean, apa selama interaksi kamu sama dia, apa hati kamu ikut berubah,
dan kembali mencintai dia?”
Dean memelas. “An, tolong, aku mau sama kamu, An. Nirvana Cuma teman. Aku cinta kamu, Ankaza
Kirana.”
“Bullshit, kalau emang faktanya kamu cinta sama aku, why would you not tell me about everything when
I arrive in new York or during our LDR? Why would you LET HER TO COME IN TO OUR APARTMENT?
Why? Why?” tuntut Anka.
Dean lagi-lagi terdiam. Sekeras apapun dia bicara bahwa ia tidak ingin membebani Anka dengan
ceritanya itu, Anka tidak pernah paham.
Anka berkata, “Kamu ga bisa jawab kan? Dean, my position in your heart has no guarantee, kapanpun
posisiku bisa kamu replace sama dia, yang udah nemenin kamu jauh sebelum aku. Kamu udah pasang
boundaries sebagai teman, iya, but you cross it, you cross whenever there is a possibility right? You once
hug her when you was drunk, while I’m in Jakarta, freaking tried to move to US, for our this fucking
relationship.”
“Let’s break up, my fiancée” sambungnya.
“Oke, aku putusin hubungan sama Nirvana, aku gak akan ngomong sama dia, kalau kamu mau aku keluar
dari New York Philharmonic, oke aku keluar. Aku akan terbuka, aku nurutin mau kamu. Jangan tinggalin
aku ya, Anka? Sayang? ” ucap Dean bersikeras, ia berusaha memertahankan hubungannya dengan Anka.
Sampai-sampai ia bersimpuh di depan Anka.
Anka menyejajarkan badannya dengan Dean, ia ikut bersimpuh, Ia mengusap pipi Dean pelan dan
lembut, “Dean, sayang, dengerin aku, gak kayak gitu. Aku gak mau kamu ngelakuin itu dengan terpaksa.
Aku udah gak bisa jalanin hubungan ini lagi. Ak-aku udah gak kuat, Dean. Tolong lepasin aku ya?”
Dean tertawa sedih, “Jadi, emang ga ada yang bisa kita pertahanin ya? Terus gimana, An?”
“Gimana sama mimpi kita, sama anjing yg mau kita adopsi, sama mimpi kita buat tinggal di rumah, kamu
jadi istriku?” sambungnya.
“Wujudin mimpi kamu sama Nirvana ya? Sama Perempuan lain yang mungkin kuat sama kamu, yang
percaya sama kamu, bukan sama aku.“ ucap Anka sembari berdiri sebelum beralih menuju kamar.
===
Anka merapihkan baju-baju dan barang-barangnya. Ia mengeluarkan tiga koper dari walk in closet di
dalam kamarnya dengan Dean. Lantas memuat barang-barangnya di situ. Beberapa jam kemudian, saat
malam menjemput, Anka mengeluarkan tiga koper dari kamar utama. Dua koper miliknya, satu koper
milik Dean.
Dean menatap Anka dengan tatapan terkejutnya, “Kamu mau pergi kemana?”
“Ke hotel, mungkin.” Jawab Anka.
“An, kamu masih bisa tinggal di sini.”
“Gak, aku udah bukan lagi tunangan kamu. Lagipula aku butuh ruang sendiri.”
Dean berdiri dari sofa di ruang televisi, “Aku antar ke hotel kalau begitu,”
“Gak perlu, udah aku bilang kan kalau aku butuh ruang sendiri? Aku udah booking kamar hotel, aku juga
udah info papa terkait kita selesai, nanti aku saja yang jelasin ke keluarga aku, dan kamu ke keluarga
kamu.” balas Anka.
Anka berbalik arah, hendak meraih kenop pintu, tetapi terhenti, dan berkata, seraya menoleh dengan
mata yang berkaca-kaca. “Dean, you have to know, that I don’t want this either but this is what we need.
Probably in another life, another time, another universe, our dream came true. But in this timeline,
nNrvana, will be the mother, the wife. Well, I’m sure she will, beautifully and sweetly. “
Lalu Anka keluar dari apartment itu menyisakan Dean sendirian dengan tatapan tak percayanya.
Ia mengingkari janjinya.
Ia gagal.
Ia tak bisa mempertahankan Anka sekeras apapun ia berusaha.
Anka ga menjawab, melainkan kembali ke kamar, dan beberes barang-barangnya. 3 koper selesai.
“Kamu mau pergi kemana?”
“Ke hotel, mungkin,”
“Aku antar”
“Ga perlu, aku butuh ruang sendiri, this relationship has aging me,
Anka berbalik arah, hendak meraih kenop pintu, tetapi terhenti, dan berkata, seraya menoleh,
“Dean, you have to know, that I don’t want this either but this is what we need. Probably in another
life, another time, another universe, our dream came true. But in this timeline, nirvana, will be the
mother, the wife. Well, I’m sure she will, beautifully and sweetly. “
“Maaf.”
“Maaf aku gak terbuka sama kamu.”
“Maaf aku gak cerita tentang Nirvana sama kamu.”
“Maaf aku gak bantah orang-orang di New York Philharmonic.”
“Aku harus apa untuk menerima maaf kamu, An?”
Tangis Anka pecah.
Dean memeluk Anka dan tangis Perempuan itu semakin kencang.
“Ja-jangan gitu lagi. “
“Iya, maaf, Anka.”
Two years is short but why is there so much change of you? You become talkactive, giving me so many
gifts, kisses, and touch, gak kayak sebelum-sebelumnya, sebelum aku tinggal kamu ke Indonesia. Is it
because her? Or is it because your guilty because doing wrong in my back?
. “ Jadi dia? Dia alasan kamu tiba-tiba suka minuman kopi? Kamu yang tiba-tiba jadi aktif buat ngelakuin
olahraga outdoor kayak jogging? Kenapa sih Dean, kamu gak pernah cerita sama aku di video call selama
ini?”
“An, aku juga udah bilang, aku takut ngebebanin kamu. Tolong pahami aku juga.”
Two years is short but why is there so much change of you? Kamu yang tiba-tiba tertutup, suka ngasih
hadiah, suka ngasih aku cium, gak kayak sebelum-sebelumnya, sebelum aku tinggal kamu ke Indonesia. Is
it because her? Or is it because your guilty because doing wrong in my back? “
Dean terdiam, ia kehabisan kata-kata.