0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan19 halaman

Minat dan Hasil Belajar Siswa

20. Dibawah ini yang merupakan faktor obyektif bersifat internal dan menjadi latarbelakang Muhammadiyah didirikan adalah

Diunggah oleh

maulana2003
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan19 halaman

Minat dan Hasil Belajar Siswa

20. Dibawah ini yang merupakan faktor obyektif bersifat internal dan menjadi latarbelakang Muhammadiyah didirikan adalah

Diunggah oleh

maulana2003
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Minat Belajar
Hurlock (1993:18) menjelaskan bahwa minat adalah sumber
motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan apa yang ingin
dilakukan ketika bebas memilih. Ketika seseorang menilai bahwa sesuatu
akan bermanfaat, maka akan menjadi berminat, kemudian hal tersebut
akan mendatangkan kepuasan. Ketika kepuasan menurun maka minatnya
juga akan menurun. Sehingga minat tidak bersifat permanen, tetapi minat
bersifat sementara atau dapat berubah-ubah.
Crow & Crow (1984:64) menjabarkan bahwa minat dapat
menunjukkan kemampuan untuk memperhatikan seseorang, Sesuatu
barang atau kegiatan atau sesuatu yang dapat memberi pengaruh terhadap
pengalaman yang telah distimuli oleh kegiatan itu sendiri. Minat dapat
menjadi sebab sesuatu kegiatan dan hasil dari turut sertanya dalam
kegiatan tersebut. Lebih lanjut, Crow and Crow menyebutkan bahwa
minat mempunyai hubungan yang erat dengan dorongan-dorongan, motif-
motif dan respon-respon emosional. Hal senada juga dikemukakan oleh
Sandjaja (2005 :78) bahwa suatu aktivitas akan dilakukan atau tidak sangat
tergantung sekali oleh minat seseorang terhadap aktivitas tersebut, disini
nampak bahwa minat merupakan motivator yang kuat untuk melakukan
suatu aktivitas. Aiken (Ginting, 2005) mengungkapkan definisi minat
sebagai kesukaan terhadap kegiatan melebihi kegiatan lainnya. Ini berarti
minat berhubungan dengan nilai-nilai yang membuat seseorang
mempunyai pilihan dalam hidupnya, hal tersebut diungkapkan oleh
Anastasia dan Urbina (Ginting, 2005).
2. Hasil Belajar
Hasil belajar dibagi menjadi tiga macam hasil belajar yaitu :
(a). Keterampilan dan kebiasaan; (b). Pengetahuan dan pengertian; (c).
Sikap dan cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan

6
7

bahan yang ada pada kurikulum sekolah, (Nana Sudjana, 2004:22).


Faktor-faktor yang mempengaruhi Hasil belajar yaitu :
a. Faktor Internal (dari dalam individu yang belajar).
Faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini lebih
ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar. Adapun
faktor yang mempengaruhi kegiatan tersebut adalah faktor
psikologis, antara lain yaitu : motivasi, perhatian, pengamatan,
tanggapan dan lain sebagainya.
b. Faktor Eksternal (dari luar individu yang belajar).
Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem
lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan
faktor dari luar siswa. Adapun faktor yang mempengaruhi adalah
mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, dan
pembentukan sikap. Hasil belajar yang diperoleh siswa adalah
sebagai akibat dari proses belajar yang dilakukan oleh siswa,
harus semakin tinggi hasil belajar yang diperoleh siswa. Proses
belajar merupakan penunjang hasil belajar yang dicapai siswa,
(Nana Sudjana, 1989:111).
Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
hasil belajar adalah suatu penilaian akhir dari proses dan pengenalan
yang telah dilakukan berulang-ulang. Dengan hasil belajar akan
mengubah kepribasian siswa.
Sebagai seorang pendidik kita harus mengetahui keberhasilan
proses pembelajaran. Salah satu keberhasilan proses pembelajaran dapat
dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Oleh karena itu hasil
belajar sangatlah tergantung pada proses belajar mengajar, karena hasil
pembeljaran dapat dilihat setelah diberikan perlakuan pada proses belajar
yang dianggap sebagai proses pemberian pengalaman belajar. Hasil
belajar diharapkan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa,
karena belajar merupakan aktivitas yang mengharapkan perubahan
tingkah laku pada individu belajar.
8

Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang


untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya (Slameto,2003:2 ).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya
proses belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku secara
keseluruhan baik yang menyangkut segi kognitif, afektif maupun
psikomotor. Proses perubahan dapat terjadi dari yang paling sederhana
sampai pada yang paling kompleks yang bersifat pemecahan masalah,
dan pentingnya peranan kepribadian dalam proses serta hasil belajar.
Dengan demikian hasil belajar merupakan salah satu ciri kemampuan
seseorang yang telah mengikuti proses belajar. Dan dapat pula
dikatakan bahwa hasil belajar merupakan tingkat keberhasilan siswa
setelah mengikuti suatu kegiatan belajar yang diyampilkan dalam
beberapa bentuk hasil belajar.
Menurut Usman (2002:4) hasil belajar merupakan perubahan
perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar.
Hasil belajar juga merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah
melalui kegiatan belajar (Nashar, 2004: 77). Hasil belajar adalah
terjadinya perubahan dari hasil masukan pribadi berupa motivasi dan
harapan untuk berhasil dan masukan dari lingkungan berupa rancangan
dan pengelolaan motivasional tidak berpengaruh terdadap besarnya usaha
yang dicurahkan oleh siswa untuk mencapai tujuan belajar (Keller dalam
Nashar, 2004: 77). Seseorang dapat dikatakan telah belajar sesuatu
apabila dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan, akan tetapi tidak
semua perubahan yang terjadi. Jadi hasil belajar merupakan pencapaian
tujuan belajar dan hasil belajar sebagai produk dari proses belajar, maka
didapat hasil belajar.
Sebagai seorang pendidik kita harus mengetahui keberhasilan
proses pembelajaran. Salah satu keberhasilan proses pembelajaran dapat
dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Oleh karena itu hasil
9

belajar sangatlah tergantung pada proses belajar mengajar, karena hasil


pembeljaran dapat dilihat setelah diberikan perlakuan pada proses belajar
yang dianggap sebagai proses pemberian pengalaman belajar. Hasil
belajar diharapkan terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa,
karena belajar merupakan aktivitas yang mengharapkan perubahan
tingkah laku pada individu belajar. Belajar ialah suatu proses usaha
yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto,2003:2 ).
Sedangkan hasil belajar yaitu hasil belajar merupakan hal yang
dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan dari sisi guru.
Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat perkembangan mental
yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat
perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif,
afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar
merupakan saat terselesikannya bahan pelajaran (Dimyati dan
Mudjiono,1999 : 250). Menurut Bloom (dalam Mulyono, dkk, 2006)
mengemukakan tiga ranah hasil belajar yaitu kognitif, afektif, dan
psikomotor.
1) Ranah Kognitif
Ranah kognitif mengacu pada 7 tingkatan yaitu: 1).
Pengetahuan; 2) pemahaman; 3) pengertian; 4) aplikasi; 5) analisis;
6) sintesa: 7) avaluasi.
2) Ranah Afektif
Ranah afektif yaitu mengenai sikap, emosi, dan nilai dengan
klasifikasi terbagi atas 6 kategori yaitu: 1) penerimaan; 2)
pemberitauan; 3) respon; 4) penilaian; 5) pengorganisasian; 6)
karateristik
3) Ranah Psikomotor
10

Ranah psikomotor yaitu perilaku keterampilan dengan klasifikasi


tujuan psikomotorik yaitu peniruan, manifulasi, keterampilan,
artikulasi, dan pengalaman ilmiah.
3. Hakikat Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Pada hakikatnya pembelajaran merupakan suatu proses. Guru dan
siswa bersama-samamenciptakan situasi yang baik, sehingga tercipta
kegiatan mengajar yang berdaya guna. Pembelajaran dapat juga
diartikan sebagai suatu kombinasi yang tersusun dan meliputi unsur-
unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang
saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Beberapa
komponen dalam pembelajaran merupakan suatu kesatuan yang harus
ada dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang disusun dan
diimplementasikan pada suatu rencana pembelajaran. Pembelajaran
yang berhasil akan bergantung pada rencana pembelajaran yang
disusun oleh guru. Implementasi pembelajaran yang dilaksanakan
harus berdasarkan pada rencana pembelajaran yang ditetapkan. Selain
itu, hal tersebut harus sejalan pula dengan pilar-pilar pembelajaran
(pendidikan) yang dicanangkan oleh UNESCO, yaitu : belajar
mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learning to do),
belajar menjadi diri sendiri (learning to be), dan belajar hidup dalam
kebersamaan yang damai (learning to live together). Oleh karena itu,
penerapan pembelajaran harus dikelola secara fleksibel, efektif, dan efisien
yang mengacu kepada empat pilar tersebut dan konsisten dengan desain
pembelajaran.
Pembelajaran matematika di Sekolah Dasar sebagai bagian dari
sistem pendidikan nasional, menurut kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP), bertujuan antara lain agar siswa memiliki
kemampuan menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan
manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti,
atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. Hal ini
mengisyaratkan bahwa pelajaran matematika pada dasarnya sangatlah
11

abstrak, sehingga diperlukan metode atau strategi dalam menyampaikan


materi matematika yang abstrak tersebut menjadi konkret, selanjutnya
dari permasalahan yang konkret tesebut baru dialihkan kebentuk konsep-
konsep matematika yang abstrak. Untuk mengawali penyampaian materi
matematika yang abstrak melalui konkret itu dapat berpedoman teori
belajar. (Ruseffendi, 1992 : 89)
Menurut Mulyono (1990:566), matematika diartikan sebagai “ilmu
tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur
operasional yang digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai
bilangan”. Namun, sampai sekarang di antara para ahli matematika belum
ada kesepakatan yang bulat untuk memberikan jawaban definisi tentang
matematika secara baku
Matematika merupakan salah satu jenis dari enam materi ilmu
yaitu matematika , fisika, biologi, psikologi, ilmu-ilmu sosial dan
linguistik. Didasarkan pada pandangan konstruktivisme, hakikat
matematika yakni anak yang belajar matematika dihadapkan pada masalah
tertentu berdasarkan konstruksi pengetahuan yang diperolehnya ketika
belajar dan anak berusaha memecahkannya (Hamzah, 2007:126-132).
“Ciri utama matematika adalah penalaran deduktif yaitu kebenaran suatu
konsep atau pernyataan yang diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran
sebelumnya. Namun demikian, dalam pembelajaran pemahaman konsep
sering diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata. Proses
induktif-deduktif dapat digunakan untuk mempelajari konsep
matematika”. Selama mempelajari matematika di kelas, aplikasi hasil
rumus atau sifat yang diperoleh dari penalaran deduktif maupun induktif
sering ditemukan meskipun tidak secara formal hal ini disebut dengan
belajar bernalar (Depdiknas, 2003:5-6).
Sedangkan “Pembelajaran ialah proses yang diselenggarakan oleh
guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar bagaimana belajar
memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan, dan sikap”
(Mudjiono, 2002:157).
12

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran


matematika adalah suatu proses yang diselengarakan oleh guru untuk
membelajarkan siswa guna memperoleh ilmu pengetahuan dan
keterampilan matematika. Suatu proses pembelajaran yang dimaksud
adalah suatu kegiatan yang dilakukan guru untuk menciptakan situasi agar
siswa belajar dengan menggunakan model pembelajaran penemuan
terbimbing.
Tujuan pembelajaran matematika itu sendiri adalah terbentuknya
kemampuan bernalar pada diri siswa yang tercermin melalui kemampuan
berpikir kritis, logis, sistimatis dan memiliki sifat obyektif, jujur, disiplin
dalam memecahkan suatu permasalahan baik dalam bidang matematika,
bidang lain, maupun dalam kehidupan sehari-hari (Wardani, 2004:1).
4. Belajar Matematika
Istilah matematika diambil dari Bahasa Yunani mathema yang
berarti “relating to learning”, istilah ini mempunyai akar kata mathema
yang berarti pengetahuan atau ilmu (knowledge science). Kata
matematika berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar.
Matematika lebih menekankan aktivitas dalam dunia rasio (penalaran).
Begitu pula menurut Ruseffendi (1991 : 148) matematika terbentuk
sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide,
proses dan penalaran. Arti dan definsi yang tepat dari matematika
tidak dapat diterapkan secara eksak (pasti) dan singkat.
Definisi dari matematika makin lama makin bertambah, dan
makin bercampur satu sama lain (Ruseffendi, 1991 : 42). Yang dimaksud
matematika dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah
matematika sekolah. Matematika sekolah adalah matematika yang
diajarkan di sekolah, yaitu matematika yang diajarkan pada
pendidikan dasar (SD dan SMP) dan pendidikan menengah (SMA
dan SMK). Sedangkan pendidikan matematika Sekolah Dasar adalah
matematika yang diajarkan di Sekolah Dasar. Materi matematika SD
itu terdiri atas bagian matematika yang dipilih, disaring, dan
13

dirancang dari pedoman “resmi” disesuaikan dengan kondisi,


kemampuan, dan kebutuhan sekolah. Siswa SD diharapkan
berkembang secara optimal serta tidak terlepas dari perkembangan
pendidikan matematika di dunia sekarang. Selain itu agar siswa tidak
terlalu mendapat kesukaran dalam mengaitkan konsep-konsep
matematika dengan kebutuhan praktis sehari-hari, maupun untuk
kebutuhan melanjutkan pendidikan pada jenjang selanjutnya.
Belajar sebagaimana sesuatu yang dipandang sebagai proses
perubahan yang diakibatkan oleh minat, apresiasi, menempatkan manusia
yang belajar tidak hanya pada proses teknis, tetapi juga pada proses
normatif. Hal ini penting dipahami agar perkembangan kepribadian bisa
dipelajari dan kemampuan belajar siswa dapat meningkat secara harmonis
dan optimal. Demikian juga dengan belajar matematika, yang secara
umum dan khusus menuntut adanya sikap, minat dan apresiasi siswanya.
Jerome Brunner seperti dikutip Hudoyo (1997 : 18) menyatakan “
Belajar Matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur
Matematika yang terdapat dalam materi yang dipelajari serta menjalankan
hubungan antara konsep-konsep dan struktur itu. Lain dari itu peserta
didik lebih mudah mengingat matematika itu bila yang dipelajari
merupakan pola yang terstruktur”. (Hudoyo, 1997 : 56).
Pembelajaran matematika yang berpusat pada siswa adalah
pembelajaran matematika yang melibatkan siswa aktif belajar matematika
guru sebagai fasilitator, pembantu dan pembimbing siswa dalam belajar
matematika. Belajar matematika yang berkaitan dengan pembelajaran,
Bruner mengemukakan tiga tahap perkembangan intelektual, yaitu
enaktif, ikonik dan simbolik. Pada tahap enaktif, jika siswa belajar tentang
dunia melalui tindakan pada obyek-obyek fisik. Pada tahap ikonik, jika
siswa belajar menggunakan model-model atau gambar-gambar. Pada
tahap simbolik, jika siswa mengembangkan kemampuan berpikir dalam
istilah-istilah yang abstrak. Bruner merekomendasikan menggunakan
kombinasi benda-benda konkret dan piktorik dan kemudian melakukan
14

kegiatan simbolik. Bruner berpendapat bahwa pembelajaran dengan


memperhatikan atau melibatkan ketiga tahap tersebut dipandang lebih
efektif.
Tujuan mata pelajaran matematika dalam Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) adalah melatih cara berpikir dan bernalar
dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan,
eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten,
dan inkonsistensi. Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan
imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran
divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi, dan dugaan
serta mencoba-coba. Dalam kerangka pemikiran tersebut, proses
pembelajaran matematika tentu dapat diupayakan agar mengarah
kepada pembelajaran yang efektif, menjadikan siswa kreatif, kritis, dan
yakin akan kemampuannya.
Pembelajaran matematika di sekolah dasar tidak terlepas dari
sifat-sifat matematika yang abstrak dan sifat perkembangan intelektual
siswa yang kita hadapi. Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan
beberapa sifat atau karakteristik pembelajaran matematika di sekolah
dasar tersebut. Beberapa karakteristik pembelajaran matematika di
sekolah dasar adalah sebagai berikut :
a. Pembelajaran matematika adalah bertahap, yaitu mulai dari hal
yang konkrit ke hal yang abstrak, dari sederhana kepada yang
kompleks, atau dari konsep yang mudah menuju konsep yang lebih
sukar.
b. Pembelajaran matematika mengikuti metode spiral yaitu
memperkenalkan konsep/bahan yang baru dengan memperhatikan
konsep/bahan yang telah dipelajari siswa sebelumnya. Konsep baru
selalu dikatakan dengan konsep/bahan yang telah dipelajari dan
sekaligus mengikatnya kembali. Metode spiral ini harus ada
peningkatan, atau spiral harus spiral naik bukan spiral turun.
15

c. Pembelajaran matematika menekankan pola pikir deduktif, yaitu


matematika tersusun secara deduktif aksiomatik, akurat, abstrak, dan
ketat.
d. Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi.
Kebenaran-kebenaran dalam matematika pada dasarnya merupakan
konsistensi, tidak ada pertentangan antara kebenaran suatu konsep
dengan yang lainnya. Suatu pernyataan dianggap benar bila
didasarkan atas pernyataan-pernyataan terdahulu yang telah
diterima kebenarannya. Kebenaran konsistensi tersebut mempunyai
nilai didik yang sangat tinggi dan sangat penting untuk
pembinaan sumber daya manusia dalam kehidupan sehari-hari.
5. Alat Peraga Pembelajaran
a. Pengertian Alat Peraga
Suryo Subroto (Sumantri & Permana, 1998 : 176)
mengungkapkan, bahwa terdapat tiga macam sarana pendidikan,
yaitu “alat pelajaran, alat peraga dan media pengajaran”.
Kemudian sudah pasti usaha untuk menunjang pencapaian tujuan
pendidikan dibantu oleh alat bantu pendidikan yang tepat dan sesuai
karakteristik komponen penggunaanya. “Yang dimaksud alat bantu
pendidikan adalah alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam
menyampaikan bahan pendidikan atau pengajaran. Alat bantu ini
lebih sering disebut alat peraga karena berfungsi untuk membantu
dan meragakan sesuatu dalam proses pendidikan pengajaran”. (Ian,
2010:88).
Sumantri & Permana (1998:176), Alat peraga merupakan
“alat pembantu pengajaran yang mudah memberi pengertian
kepada peserta didik”. Pendapat lain juga menyebutkan, Alat peraga
adalah saluran komunikasi atau perantara yang digunakan untuk
membawa atau menyampaikan suatu pesan guna mencapai tujuan
pengajaran . Alat peraga merupakan alat bantu atau penunjang
16

yang digunakan oleh guru untuk menunjang proses belajar mengajar


pada siswa. (Suyanto, 1997:17).
b. Fungsi Alat Peraga
Alat peraga memberikan fungsi sebagai berikut : Diungkapkan
oleh Suyanto (1997:21), fungsi alat peraga adalah sebagai berikut :
1) Membantu meningkatkan persepsi.
2) Membantu meningkatkan transfer belajar.
3) Membantu meningkatkan pemahaman.
4) Memberikan penguatan atau pengetahuan tentang hasil yang
diperoleh.
Pendapat lain juga dikemukakan bahwa fungsi alat peraga
adalah sebagai berikut:
1) Sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar
yang efektif.
2) Salah satu unsur yang harus dikembangkan oleh guru karena
merupakan bagian yang integral dari situasi mengajar.
3) Penggunaannya integral dengan tujuan dan isi pelajaran.
4) Penggunaannya bukan semata-mata alat hiburan (pelengkap).
5) Untuk mempercepat proses pembelajaran (menangkap pengertian)
6) Untuk mempertinggi mutu pembelajaran.
c. Manfaat Alat Peraga
Dalam pembahasan latar belakang telah tersurat dengan jelas
bahwa manfaat alat peraga sebagai media yang memperlancar
proses dan pencapaian keberhasilan pendidikan. MKBMP (2001:
203) manfaat alat peraga dalam matematika :
1) Proses belajar mengajar termotivasi. Baik siswa maupun guru
dan terutama siswa, minatnya akan timbul. Ia akan senang,
terangsang, tertarik dan karena itu akan bersikap positif
terhadap pengajaran matematika.
17

2) Konsep abstrak matematika tersajikan dalam bentuk konkrit


dan karena itu lebih dapat dipahami dan dimengerti dan dapat
ditanamkan pada tingkat-tingkat yang lebih rendah.
3) Hubungan antar konsep abstrak matematika dengan benda-
benda dialam sekitar akan lebih dapat dipahami.
4) Konsep-konsep abstrak yang tersajikan dalam bentuk konkrit yaitu
dalam bentuk model matematik yang dapat dipakai sebagai
objek penelitian maupun sebagai alat untuk meneliti ide-ide baru
dan relasi baru menjadi bertambah banyak.
Terdapat pendapat lain juga mengenai manfaat alat peraga yaitu :
1) Menimbulkan minat sasaran pendidikan.
2) Mencapai sasaran yang lebih banyak.
3) Membantu mengatasi hambatan bahasa.
4) Merangsang sasaran pendidikan untuk melaksanakan pesan-
pesan kesehatan.
5) Membantu sasaran pendidikan untuk belajar lebih banyak dan
cepat.
6) Merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-pesan
yang diterima kepada orang lain.
7) Mempermudah penyampaian bahan pendidikan / informasi
oleh para pendidik pelaku pendidikan.
8) Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran pendidikan.
Seperti diuraikan di atas bahwa pengetahuan yang ada pada
seseorang diterima melalui indera. Menurut penelitian para ahli
indera, yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke dalam otak
adalah mata kurang lebih 75% sampai 87% dari pengetahuan manusia
diperoleh / disalurkan melalui mata. Sedangkan 13% sampai 25%
lainnya tersalur melalui indera yang lain.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa alat-alat visual lebih
mempermudah cara penyampaian dan penerimaan informasi atau
bahan pendidikan, yaitu :
18

1) Mendorong keinginan orang untuk mengetahui kemudian lebih


mendalami dan akhirnya memberikan pengertian yang lebih
baik. Orang yang melihat sesuatu yang memang diperlukan
akan menimbulkan perhatiaannya. Dan apa yang dilihat dengan
penuh perhatian akan memberikan pengertian baru baginya yang
merupakan pendorong untuk melakukan / memakai sesuatu yang
baru tersebut.
2) Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh. Didalam
menerima sesuatu yang baru, manusia mempunyai
kecenderungan untuk melupakan atau lupa. Untuk mengatasi hal
tersebut, AVA akan membantu menegakkan pengetahuan-
pengetahuan yang telah diterima oleh manusia sehingga apa
yang diterima akan lebih lama tinggal / disimpan didalam
ingatan.
6. Alat Peraga Matematika
a. Pengertian Alat Peraga
Dalam proses belajar mengajar alat peraga mempunyai
kedudukan yang sama pentingnya dengan komponen-komponen
lainnya, karena pada dasarnya alat peraga berperan untuk
meningkatkan hasil belajar siswa. Menurut Hamalik (Marlina,
2004:22) alat, metode dan teknik dapat mengefektifkan komunikasi dan
interaksi antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.
Dari pernyataan tersebut media dapat berbentuk alat, metode ataupun
teknik mengajar yang dapat membawa suatu pesan pembelajaran.
Alat Peraga atau media pembelajaran adalah suatu atau
seperangkat alat yang merupakan saluran atau jembatan yang
berfungsi untuk menyampaikan suatu pesan atau informasi dari
sumber pesan ke penerima. Tujuan penggunaan media pembelajaran
adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses belajar
mengajar sehingga diharapkan siswa mampu lebih mengembangkan
daya imajinasi, nalar dan kreativitasnya.
19

Gagne (Widiyarni, 2008:22) menyatakan bahwa media pembelajaran


adalah berbagai jenis komponen pembelajaran yang terdapat
dilingkungan peserta didik untuk belajar. Selanjutnya Brown
(Widiyarni, 2008:22) memandang bahwa media pembelajaran
digunakan untuk mempengaruhi afektivitas program pembelajaran.
Oleh karena itu kedudukan media pembelajaran sangat penting
sebagai fasilitas bagi peserta didik dalam memahami sesuatu atau
sejumlah konsep yang mereka pelajari. Sementara posisi guru dalam
kegiatan belajar mengajar hanya sebagai fasilitator. Penggunaan alat
peraga atau media pengajaran dapat membantu siswa untuk belajar
sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai secara efektif dan
optimal.
Belajar anak akan meningkat bila ada motivasi. Karena itu dalam
pengajaran diperlukan faktor-faktor yang dapat memotivasi anak belajar,
bahkan untuk pengajar. Misalnya : pengajarabn supaya menarik, dapat
menimbulkan minat, sikap guru dan penilaian baik; suasana sekolah bagi
guru menyenangkan, ada imbalan bagi guru yang baik, dan lain – lain.
Karena itulah, dlm pembelajaran matematika kita sering
menggunakan alat peraga. Dengan menggunakan alat peraga maka :
1) Proses belajar mengajar termotivasi. Baik siswa maupun guru, dan
terutama siswa, minatnya akan timbul. Ia akan senang, terangsang,
tertarik, dan karena itu akan bersikap positif terhadap pengajaran
matematika.
2) Konsep abstrak matematika tersajikan dalam bentuk kongkrit dan
karena itu lebih dapat dipahami dan dimengerti, dan dapat
ditanamkan pada tingkat – tingkat yang lebih rendah.
3) Hubungan antara konsep abstrak matematika dengan benda – benda
di alam sekitar akan dapat dipahami.
4) Konsep-konsep abstrak yang tersajikan dalam bentuk konkrit yaitu
dalam bentuk model matematik yang dapat dipakai sbg objek
20

penelitian maupun sebgai alat untuk meneliti ide – ide baru dan relasi
baru menjadi bertambah banyak.
Selain dari fungsi atau faedah tersebut diatas, penggunaan alat peraga
itu dapat dikaitkan dan dihubungakan dengan salah satu atau beberapa
dari :
1) Pembentukan konsep
2) Pemahaman konsep
3) Latihan dan penguatan
4) Pelayanan terhadap perbedaan individual; termasuk pelayanan
terhadap anak lemah dan anak berbakat
5) Pengukuran; alat peraga dipakai sbg alat ukur
6) Pengamatan dan penemuan sendiri ide – ide dan relasi baru serta
penyimpulannya secara umum; alat peraga sbg obyek penelitian
maupun sbg alat untuk meneliti.
7) Pemecahan masalah pada umumnya.
8) Pengundangan untuk berfikir
9) Pengundangan untuk berdiskusi
10) Pengundangan partisipasi aktif
Alat peraga itu dapat berupa benda riil, gambarnya atau diagramnya.
Keuntungan alat peraga benda riil adalah benda- benda itu dapat
dipindah-pindahkan (dimanipulasikan), sedangkan kelemahannya tdk
dapat disajikan dalam buku (tulisan). Oleh karena itu untuk bentuk
tulisannya kita buat gambarnya atua diagramnya, tetapi kelemahannya
ialah tdk dapat dimanipulasikan. Bila anda membuat alat peraga, supaya
diperhatikan agar alat peraga itu :
1) Tahan lama (dibuat dari bahan – bahan yang cukup kuat)
2) Bentuk dan warnanya menarik
3) Sederhana dan mudah dilola (tdk rumit)
4) Ukurannya sesuai (seimbang) dengan ukuran fisik anak
5) Dapat menyajikan (dalam bentuk riil, gambar atau diagram) konsep
matematika
21

6) Sesuai dengan konsep (catatan : bila anda membuat alat peraga


seperti : sgitiga berdaerah atua bola massif, mungkin anak
beranggapan segitiga itu bukan hanya rusuk-rusuknya saja tetapi
berdaerah, bahwa bola itu massif, bukan hanya kulitnya saja; jelas ini
tdk susuai dengan konsep segitiga dan konsep bola).
7) Dapat menunjukkan konsep matematika dengan jelas
8) Peragaan itu supaya merupakan dasar bagi tumbuhnya konsep
abstrak
9) Bila kita juga mengharapkan agar siswa belajar aktif (sendiri atau
berkelompok) alat peraga itu supaya dapat dimanipulasikan, yaitu
dapat diraba, dipegang, dipindahkan dan diutak-atik, atau
dipasangkan dan dicopot, dan lain-lain.
10) Bila mungkin dapat berfaedah lipat (banyak).
Dengan demikian, penggunaan alat peraga itu gagal bila misalnya :
generalisasi konsep abstrak dari representasi kongkrit itu tdk tercapai,
hanya sekedar sajian yang tdk memiliki nilai-nilai (konsep-konsep)
maematika, tdk disajikan pada saat yang tepat, memboroskan waktu,
diberikan kepada anak yang sebenarnya tidak memerlukannya, tidak
menarik, rumit, sedikit terganggu menjadi rusak, dan lain-lain.
b. Desain Alat Peraga
Alat peraga merupakan alat pembantu pengajaran yang mudah
memberi pengertian kepada peserta didik. Adapun bahan dan cara
pembuatannya adalah sebagai berikut :
1) Sediakan sebuah papan kayu yang lebarnya 5 cm dan
panjangnya 100 cm.
2) Papan kayu di cat warna agar lebih menarik bagi siswa
3) Setiap jarak 2 cm diberi tanda angka bilangan sesuai dengan
garis bilangan bulat.
4) Buatlah rel dengan cara memahat papan kayu
5) Siapkan boneka mungil atau mobil-mobil mainan untuk di pasang di
atas papan kayu
22

6) Boneka di pasang pada rel dengan mengunakan paku kecil agar bisa
berjalan leluasa dan bisa digunakan sebagai alat peraga.
c. Garis Bilangan
Secara geometris, sistem bilangan real {R} dapat digambarkan
dengan garis lurus. Buat garis yang dimulai dari sembarang titik
yang dianggap dan ditandai sebagai titik 0. Titik ini dinamakan titik
asal (origin), ditulis dengan O. Pada kedua sisi dari O dibuat bagian
sama besar (segmen) dengan kesepakatan arah positif disebelah
kanan O sedangkan arah negatif disebelah kiri O. Selanjutnya,
tuliskan bilangan-bilangan bulat positif 1, 2, 3, … pada masing-masing
titik di kanan O dan bilangan-bilangan -1, -2,- 3, … pada titik-titik
di sebelah kiri O. Dengan membagi setiap segmen, maka dapat
ditentukan lokasi untuk bilangan-bilangan bulat tersebut. Oleh karena itu
setiap bilangan real merupakan tepat satu titik pada garis lurus
dansebaliknya setiap titik pada garis lurus merupakan satu bilangan real,
sehingga garis lurus sering disebut pula Garis Bilangan.
B. Kerangka Pikir
Berhasil tidaknya siswa dalam belajar salah satunya dipengaruhi oleh
kemampuan guru dalam menyajikan materi, maka dibutuhkan evaluasi
tentang metode pembelajaran yang tepat, sehingga peserta didik menjadi
tertarik dengan materi yang mereka pelajari dan tujuan pembelajaran dapat
tercapai. Dengan menggunakan alat peraga, guru dapat memberikan
kesamaan dalam pengamatan. Pengamatan seseorang terhadap sesuatu
biasanya berbeda beda, tergantung pada pengalamannya masing-masing.
Dengan bantuan alat peraga, guru dapat memberikan persepsi yang sama
terhadap suatu benda atau peristiwa tertentu kepada para siswa. Kemudian
persepsi yang sama akan menimbulkan pengertian dan pengalaman yang
sama. Dengan alat peraga, guru juga dapat mengatasi keterbatasan waktu,
tempat dan tenaga. Dan yang terpenting alat peraga juga dapat meningkatkan
dan mengarahkan perhatian siswa sehingga dapat menimbulkam motivasi
belajar, interaksi yang lebih langsung antara siswa dan lingkungannya, dan
23

menanamkan konsep yang benar kepada siswa. Alat peraga garis bilangan
sebagai media pembelajaran yang menempatkan anak sebagai pusat dari
proses pembelajaran diindikasikan mampu memberikan semangat dan
motivasi belajar siswa, serta memberikan penanaman konsep yang benar
kepada siswa. Berdasarkan anggapan ini diduga bahwa siswa yang diajar
dengan menggunakan alat peraga mobil garis bilangan mempunyai
pemahaman konsep matematika yang lebih baik dibandingkan dengan siswa
yang tidak diajar dengan menggunakan alat peraga garis bilangan.
Dengan media garis bilangan dapat meningkatkan peran
serta siswa dalam pembelajaran dan membantu
memudahkan siswa dalam memahami konsep yang diajarkan,
sehingga dengan penggunaan media ini akan meningkatkan
perolehan belajar dan pembelajaran akan semakin
memberikan peningkatan minat dan prestasi prestasi belajar
siswa. Penjelasan mengenai kerangka berpikir penelitian tindakan kelas ini
adalah sebagai berikut :
24

Gambar 2.1. Kerangka Berpikir Penelitian Tindakan Kelas


C. Hipotesis Tindakan
Untuk mengetahui apakah mungkin rencana tindakan tersebut
dilaksanakan maka dibuat hipotesis tindakan sebagai berikut : diduga
penggunaan alat peraga garis bilangan pada pembelajaran matematika materi
mengurutkan dan menentukan letak bilangan dapat meningkatkan proses
pembelajaran, minat dan hasil belajar siswa kelas III SDN Surusunda 02
Semester 1 Tahun Pelajaran 2017/2018.

Anda mungkin juga menyukai