MAKALAH
MENGANALISIS PUISI DENGAN MEMPERHATIKAN STRUKTUR FISIK DAN STRUKTUR
BATIN PUISI
●
●
●
●
●
●
Nama: 1. Aisyah Latifa Zahrah
2. Neza Fariska
3. Eko Dewi Cahyani
4. Nelsa
5. Muh. Afghan Panji Yudo Hasan Wiridin
Kelas: 10 Mipa 5
Sekolah : SMA 1 KULISUSU
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT atas segala Taufik dan hidayah–nya,
sehingga makalah menganalisis puisi dengan memperhatikan struktur fisik dan
struktur batin puisi ini dapat diselesaikan sesuai waktu yang ditentukan.
Makalah tentang menganalisis puisi dengan memperhatikan struktur fisik dan struktur
batin puisi ini merupakan hasil penyusunan saya dan teman-teman saya yang telah
memberikan bahan sehingga karya tulisan ini dapat diselesaikan dengan baik manfaat
dari penulisan makalah tentang menganalisis puisi dengan memperhatikan struktur
fisik dan struktur batin puisi ini adalah sebagai pemberi definisi tentang menganalisis
puisi dengan memperhatikan struktur fisik dan struktur batin puisi
DAFTAR ISI
JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI....
BAB 1 PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
BAB 2 PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN PUISI
B. Unsur -unsur puisi
BAB 3 PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diskusi adalah sebuah kegiatan yang memang hampir dilakukan oleh semua
orang yang ada di dunia ini. Mereka berdiskusi untuk membahas suatu hal
yang tentunya mereka anggap penting. Dalam kegiatan tersebut 2 orang atau
lebih memberi pendapatnya masing-masing untuk dapat diketahui oleh pihak
lain dan kemudian pihak lain memberikan tanggapan atau respon terhadap
apa yang diutarakan begitu sebaliknya.
Sebagai seorang siswa, tentu tidak akan terlepas dengan namanya berdiskusi
membahas suatu hal bersama untuk dipecahkan. Apalagi kurikulum sekarang
ini lebih memprioritaskan pada pembahasan besar bersama antara siswa baru
kemudian kesimpulan dari hasil diskusi tersebut.
BAB 2
PEMBAHASAN
A. Pengertian Puisi
Puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh rima, irama, metrum serta
penyusunan larik dan bait. Puisi merupakan ide, pikiran, dan perasaan seseorang
mengenai suatu hal yang diungkapkan melalui rangkaian kata-kata yang indah.
B. Unsur– unsur puisi
Sebenarnya dalam materi sastra, selain ada unsur-unsur puisi, masih ada materi lain yang
serupa tapi tak sama, yaitu unsur intrinsik-ekstrinsik cerpen dan ada
pula materi unsur drama. Masing-masing memiliki kesamaan dan perbedaan unsur yang
membangunnya.
Unsur-unsur puisi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu fisik dan batin.
1. Struktur Fisik Puisi
Struktur fisik puisi adalah unsur pembangun puisi yang bersifat fisik atau nampak dalam bentuk
susunan kata-katanya. Struktur fisik puisi terdiri dari beberapa macam, yaitu:
(1) Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi
kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai
dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan
pemaknaan terhadap puisi.
(2) Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi
adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka
kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya
dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
(3) Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi,
seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji
suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat
mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang
dialami penyair.
(4) Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan
munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret
“salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret “rawa-
rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.
(5) Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek
dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis,
artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Bahasa figuratif disebut juga
majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi,
sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks,
satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks. Secara lengkap dapat dibaca pada
tulisan "Jenis-Jenis Majas dan Contohnya Lengkap: Perbandingan,
Pertentangan, Sindiran, Penegasan".
(6) Verifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum.
Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris
puisi. Rima mencakup:
1. Onomatope adalah kata tiruan bunyi, msl "kokok" merupakan tiruan bunyi ayam,
"cicit" merupakan tiruan bunyi tikus.
2. Bentuk intern pola bunyi yang terdiri dari aliterasi, asonansi, persamaan akhir,
persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi
(kata), dan sebagainya.
3. Pengulangan kata/ungkapan.
Ritma (ritme; irama) adalah alunan yg terjadi krn perulangan dan pergantian
kesatuan bunyi dl arus panjang pendek bunyi, keras lembut tekanan, dan tinggi
rendah nada; ritme
Metrum adalah ukuran irama yg ditentukan oleh jumlah dan panjang tekanan suku
kata dl setiap baris; pergantian naik turun suara secara teratur, dng pembagian
suku kata yg ditentukan oleh golongan sintaksis
2. Struktur Batin Puisi
Struktur batin puisi adalah unsur pembangun puisi yang tidak tampak langsung dalam penulisan
kata-katanya. Struktur batin puisi dapat dikelompokkan sebagai berikut:
(1) Tema/makna (sense)
Tema adalah pokok pikiran; dasar cerita (yg dipercakapkan, dipakai sbg dasar mengarang,
menggubah/mengarang sajak, dsb). Media puisi adalah bahasa. Maka puisi harus bermakna,
baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
(2) Rasa (feeling)
Rasa yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya.
Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair,
misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam
masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman
pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada
kemampuan penyair memilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih
banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk
oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
(3) Nada (tone),
Nada yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan
rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama
dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada
pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.
(4) Amanat/tujuan/maksud (itention)
Amanat adalah gagasan yg mendasari karya sastra; pesan yg ingin disampaikan pengarang kpd
pembaca atau pendengar. Sadar ataupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair
menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun
dapat
Menganalisis puisi apalagi dari unsur fisik dan batinnya memang tidak mudah. Meski demikian,
berikut adalah contoh singkat analisis puisi dari unsur fisik dan batinnya semoga bisa membantu
memahaminya lebih baik.
1) Analisis Unsur Fisik
Tipografi
Bentuk wajah yang ditampilkan pada puisi tersebut cukup menarik. Penulisannya
rata kiri. Bagian kanan tulisan terlihat tidak teratur. Terkesan singkat dan indah
karena tiap baris puisi hanya disusun oleh beberapa kata saja. Bahkan ada yang
satu baris hanya terdiri satu kata. Jadi, baris-baris dalam puisi itu tidak panjang-
panjang, melainkan pendek. Selain itu, setiap baris tidak diawali dengan huruf
kapital. Beberapa baris diawali huruf kapital dan lainnya diawwali huruf kecil.
Diksi
Diksi yang digunakan penyair adalah kata-kata yang bernada ragu, lemah,
bimbang, dan rapuh. Sebagai contoh pengarang menggunakan kata-kata “Dalam
termenung”, “Biar susah sungguh”, “Aku hilang bentuk”, “Remuk”.
Imaji
Imaji yang muncul dalam puisi tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.
Imaji penglihatan terdapat pada kata-kata “tinggal kerdip lilin di kelam sunyi”.
Penyair mengajak pembaca melihat seberkas cahaya kecil walau hanya sebuah
perumpamaan.
Imaji pendengaran terdapat pada “aku masih menyebut namaMu”. Pembaca
diajak seolah-plah mendengar ucapan tokoh aku dalam menyebut nama Tuhan .
Imaji sentuh atau rasa terdapat pada kata-kata “cahaya-mu panas suci”. Penyair
menyampaikan kepada pembaca nikmatnya sinar suci Tuhan sehingga pembaca
seolah-olah merasakannya.
Kata Konkrit
Kata-kata konkrit yang dipakai pengarang diantaranya sebagai berikut.
Kata “termangu”, untuk mengkonkritkan bahwa penyair mengalami krisis iman
yang membuanya sering ragu terhadap Tuhan.
Kata-kata “tinggal kerdip lilin dikelam sunyi”, untuk mengkonkritkan bahwa
penyair mengalami krisis iman.
Kata-kata “aku hilang bentuk/remuk”, untuk mengkonkritkan gambaran bahwa
penyair telah dilumuri dosa-dosa
Kata-kata “dipintumu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling” , untuk
mengkonkritkan bahwa tekad penyair yang bulat untuk kembali ke jalan Tuhan”
Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang muncul didominasi oleh majas hiperbola, yaitu melebih-
lebihkan. Sebagai contoh kata-kata “Biar susah sungguh / mengingat kau penuh
seluruh” atau kata-kata “Tuhanku / aku hlang bentuk / remuk”
Verifikasi
Untuk rima akhirnya mempunyai pola yang tidak beraturan. Sebagai contoh, bait
ke-1 hanya terdiri satu baris yang berarti mempunyai rima akhir a. untuk bait ke-2
terdiri dari tiga baris dengan rima akhir a-a-a. Begitu pula untuk bait ke-3 dan ke-
4 mempunyai rima akhir a-a, a-a. Untuk bait-bait salanjutnya tidak menentu rima
akhirnya.
(2) Analisis Struktur Batin
Tema
Tema puisi tersebut adalah ketuhanan. Hal itu karena diksi yang digunakan
sangat kental dengan kata-kata yang bermakna ketuhanan.
Perasaan
Perasaan dalam puisi tersebut adalah perasaan terharu dan rindu. Perasaan
tersebut tergambar dari diksi yang digunakan antara lain: termenung, menyebut
nama-Mu, aku hilang bentuk, remuk, aku tak bisa berpaling.
Nada
Nada dalam puisi tersebut adalah mengajak (ajakan) agar pembaca menyadari
bahwa hidup ini tidak bisa berpaling dari ketentuan Tuhan. Karena itu,
dekatkanlah diri kita dengan Tuhan.
Amanat
Amanat yang dapat kita ambil dari puisi tersebut diantaranya adalah agar kita
(pembaca) bisa menghayati hidup dan selalu merasa dekat dengan Tuhan. Agar
kita bisa merenung (termenung) seperti yang dicontohkan penyair.
B. Cara Memahami Isi Puisi
Memahami puisi memang tidak mudah. Bahasa puisi berbeda dengan bahasa
yang kita gunakan sehari-hari. Penyair sengaja memilih kata-kata yang indah,
yang dapat menimbulkan kemerduann bunyi dan sekaligus dapat
menggambarkan ide yang ingin disampaikan dengan tepat. cara
menyampaikannya pun tidak secara langsung, melainkan melalui simbol-simbol,
perbandingan, perbandingan, dan kiasan-kiasan. Selain itu, kata-kata dalam puisi
amat terbatas, karena penyair "membuang" kata-kata yang tidak terlalu penting.
Berkaitan dengan hal itu, berikut langkah-langkah cara memahami puisi.
(1) Kita mencoba "mengembalikan" kata-kata dan tanda baca yang "dibuang"
oleh penyair. Dengan kata lain, kita menambahkan kata-kata lain untuk
melengkapi atau memperjelas kata-kata dalam puisi. Kita tambahkan tanda baca
untuk memperjelas hubungan makna antar kata-kata.
(2) Kita berusaha memahami kata-kata tertentu yang digunakan sebagai simbol,
perbandingan, atau kiasan yang masih belum jelas maknanya.
BAB 3
PENUTUP
1. Kesimpulan
Puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh Irama,
matra, rima serta penyusunan larik dan bait.
Tujuan diskusi adalah mencari kesepakatan atau kesepahaman
gagasan atau pendapat. Diskusi yang melibatkan beberapa orang
disebut diskusi kelompok. Dalam diskusi kelompok dibutuhkan
seorang pemimpin yang disebut ketua diskusi.
Tugas ketua diskusi adalah membuka dan menutup diskusi,
membangkitkan minat anggota untuk menyampaikan gagasan,
mengenai anggota yang berdebat, serta menyimpulkan hasil
diskusi.
1. Saran
Saran yang dapat diberikan adalah hendaknya ilmu
pengetahuan selalu digali dan dipelajari serta diterapkan,
khususnya tentang menganalisis puisi dengan
memperhatikan struktur fisik dan struktur batin puisi oleh
para pelajar.