Asuhan Keperawatan Vertigo dan Anatomi Kepala
Asuhan Keperawatan Vertigo dan Anatomi Kepala
Di Susun Oleh :
NIM : 152111032
Ruangan : Dahlia
TANJUNG PINANG
TAHUN 2024/2025
KONSEP DASAR VERTIGO
A. Definisi
Vertigo (gangguan keseimbangan) merupakan suatu istilah yang berasal dari bahasa latin
vertere yang berarti memutar. Vertigo seringkali dinyatakan sebagai pusing,
sempoyongan, rasa melayang, badan atau dunia sekelilingnya berputa-putar (Pulunga,
2018). Vertigo merupakan suatu ilusi gerakan, biassanya berupa sensai berputar yang akan
meningkat dengan peerubahan posisi kepala (Kusumastui & Sutarni, 2018).
B. Anatomi Fisiologi
Kepala memiliki area anatomi yang kompleks dari seluruh tubuh. Kepala terdiri dari
beberapa bagian compartements (kavum) yang meliputi tulang dan jaringan lunak (soft
tissue) yaitu kavum kranial, dua rongga telinga, dua rongga mata, dua rongga hidung dan
satu rongga mulut. Kavum kranial merupakan kavum terbesar berisi otak dan sistem
membrans (meningens). Rongga telinga merupakan sistem pendengaran yang sangat
diperlukan bagi manusia. Rongga hidung merupakan bagian atas dari saluran pernapasan
dan berada diantara rongga mata. Dalam rongga hidung berisi udara (sinus paranasal)
diantaranta sinus frontalis, sinus edmoidalis, sinus sphinoidalis dan sinus maksilaris.
Rongga mulut merupakan awal dari sistem pencernaan (Grays, 2018).
Tulang kepala atau tengkorak merupakan tulang kerangka dari kepala yang tersusun
menjadi dua bagian yaitu kranium dan kerangka wajah. Tulang kepala bertumpu pada
bagian superior kolumna vertebralis. Rongga tengkorak mempunyai permukaan atas yang
dikenal sebagai kubah tengkorak, licin pada permukaan luar dan pada permukaan dalam
ditandai dengan gili-gili dan lekukan agar dapat sesuai dengan otak dan pembuluh darah.
Permukaan bawah dari rongga tengkorak dikenal sebagai dasar tengkorak atau basis
kranii yang mempunyai banyak lubang agar dapat dilalui serabut saraf dan pembuluh
darah.
Tulang kepala terdiri dari 8 tulang yaitu tulang occipital (tulang belakang), 2 tulang
parietal (tulang ubun-ubun), 1 tulang frontal (tulanbg dahi), 2 tulang temporal (tulang
pelipis), 1 tulang ethmoid (tulang tapis), dan 1 tulang sphenoid (tulang baji).
Kepala merupakan bagian terpenting dari tubuh yang terdiri dari tulang tengkorak
(Cranium), otak (serebral), dan organ-organ penting sperti mata, telinga,hidung dan mulut
(Hansen, 2019).
a. Tulang tengkorak (cranium). Tulang tengkorak terdiri atas dua bagian yaitu tulang otak
dan tulang wajah (Hansen, 2019).
1) Gubah tulang kepala, yang terdiri atas os frontal (bagian depan, os parietal (bagian
tengah), dan os occipital (bagian belakang).
2) Dasar tulang kepala terdiri atas os sphenoidalis yang berada ditengah dasar
tengkorak dan os ethmoidalis disebelah depan os sphenoidalis diantara lekuk mata.
3) Samping tulang kepala, dibentuk oleh tulang pelipis, sebagian tulang dahi, tulang
ubun-ubun, dan tulang baji.
4) Tulang wajah, terdapat rongga-rongga yang membentuk rongga mulut (cavum oris),
rongga hidung (cavum nasi), dan rongga mata (cavum orbita). Tulang wajah terdiri
dari dua bagian yaitu :
a) Bagian hidung. Terdiri dari os lacrimal (tulang mata), os nasal (tulang karang
hidung), dan septum nasi (sekat rongga hidung).
b) Bagian rahang. Terdiri dari os maxillaris (tulang rahang atas), os zygomaticum
(tulang pipi kanan dan kiri), os palatum (tulang langit-langit kanan dan kiri), dan
os mandibularis (tulang rahang bawah). Tulang-tulang kepala dihubungkan satu
dengan lainnya oleh tulang bergerigi yang disebut sutura, diantaranya sutura
coronalis yang menghubungkan os frontal dan os parietal, sutura sagitalis yang
menghubungkan os parietalis kiri dan kanan, serta sutura lambdoidea yang
menghubungkan os parietal dan os occipital. Tulang kepala berfungsi sebagai
pelindung otak atau serebral dibagi atas 2 bagian yaitu calvarium (tutup kepala)
dan base (dasar kepala) (Hansen, 2019).
b. Serebral (otak) Menurut (sherwood,2019), serebral atau otak merupakan struktur pusat
pengaturan yang memiliki volume sekitar 1.350 cc terdiri atas 100 juta sel saraf atau
neuron. Serebral mengatur dan mengkoordinir sebagian besar gerakan, perilaku, dan
fungsi tubuh seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan
suhu tubuh. Serebral terdiri dari dua bagian utama yaitu serebrum (otak besar),
serebellum (otak kecil) dan batang otak (Sherwood,2019)
1) Serebrum Serebrum adalah bagian terbesar otak manusia, dibagi menjadi dua bagian
yang sama yaitu hemisfer serebri kiri dan kanan. Keduanya saling berhubungan
melalui corpus callosum dimana suatu pita tebal yang diperkirakan terdiri dari 300
juta akson neuron yang berjalan diantara kedua hemisfer. Corpus callosum adalah
jalan layang informasi tubuh. Kedua hemisfer berkomunikasi dan saling bekerjasama
melalui pertukaran informasi instan lewat koneksi saraf ini (Sherwood, 2011).
Berdasarkan sistem fungsionalnya, serebrum dibagi kedalam lobus-lobus yang
dinamakan berdasarkan letak anatomisnya dengan tulang cranium. Masing-masing
lobus memiliki fungsional kerja diantaranya (Sherwood,2019):
a) Lobus Occipitalis yang terletak di posterior (dikepala belakang) bertugas
melaksanakan pemrosesan awal masuk penglihatan.
b) Lobus temporalis yang terletak di bagian lateral (dikepala samping) bertugas
mempresepsikan sensai suara.
c) Lobus Parietalis yang terletak di belakang sulcuc centralis dimasing-masing sisi.
Lobus ini berfungsi dalam menerima dan memproses masukan sensorik.
d) Lobus Frontalis yang terletak di kepala bagian depan yang memiliki tiga fungsi
utama yaitu aktivitas motorik volunter, kemampuan berbicara, dan elaborasi pikiran.
2) Serebellum Serebellum terletak pada bagian paling bawah dan belakang tengkorak,
dipisahkan oleh serebrum dengan fisura trans versalis dibelakangi oleh pons varoli di
atas medulla oblongata (Hansen, 2019). Fungsi otak kecil yaitu:
a) Arkhiocerebellum, berfungsi untuk keseimbangan dan rangsangan pendengaran
otak.
b) Paleacerebellum, berfungsi sebagai pusat penerima impuls dan nervus vagus
kelopak mata, rahang atas, rahang bawah, dan otot pengunyah.
c) Neocerebellum, berfungsi menerima informasi gerakan yang sedang dan yang akan
dikerjakan serta mengatur gerakan sisi badan
3) Batang Otak (Trunkuc serebri) Batang otak terdiri dari tiga bagian (Sherwood,2019):
a) Diensepalon Bagian batang otak paling atas, terdapat diantaranya serebellum dan
mesensepalon. Berfungsi sebagai vaso kontruktor (mengecilkan pembuluh darah),
respiratori membantu proses persarafan, mengontrol kegiatan reflek dan membantu
pekerjaan jantung.
b) Mesensepalon Atap dari mesensepalon terdiri dari empat bagian yang menonjol
keatas. Berfungsi membantu pergerakan mata dan kelopak mata.
c) Pons varoli Terletak di depan serebellum diantara otak tengah dan medula
oblongata. Berfungsi sebagai penghubung kedua serebellum dan medula oblongata,
serebellum dan otak besar, juga sebagai pusat saraf nervus trigeminus.
4) Selaput Otak (Meningen) Selaput otak berfungsi membungkus otak dan sumsum
tulang belakang, melindungi struktur saraf halus yang membawa pembuluh darah dan
cairan sekresi (cairan cerebro spinalis). Selain itu berfungsi untuk memperkecil
benturan atau gerakan yang terdiri dari tiga lapis yaitu durameter (lapisan terluar),
arakhnoid (lapisan tengah), dan piameter (lapisan terdalam).
5) Ventrikel Otak Ventrikel merupakan rangkaian dari empat rongga dalam otak yang
saling berhubungan dan dibatasi oleh epidema, semacam sel epitel yang membatasi
semua rongga otak dan medulla spinalis, serta mengandung CSF (Cerebrospinal
Fluid). Ventrikel terdiri dari ventrikel lateral, ketiga dan keempat (Hansen, 2019).
6) Cairan serebrospinal Cairan serebrospinal adalah hasil sekresi plexus khoroid ke dalam
ventrikel-ventrikel yang ada dalam otak. Cairan tersebut masuk ke dalam kanalis
sentralis sumsum tulang belakang dan juga kedalam ruang subarachnoid melalui
celah-celah yag terdapat pada ventrikel ke empat. Jumlah cairan serebropsinal dlam
ventrikel dan ruang subarahnoid berkisar antara 120 ml - 180 ml pada orang dewasa,
100 ml - 140 ml pada anak, dan 40 ml – 60 ml pada bayi
C. Etiologi
Tubuh merasakan posisi dan mengendalikan keseimbangan melalui organ
keseimbangan yang terdapat di telinga bagian dalam. Organ ini memiliki saraf yang
berhubungan dengan area tertentu di otak. Vetigo bisa disebabkan oleh kelainan di
dalam telinga, di dalam saraf yang menghubungkan telinga dengan otak dan di dalam
otaknya sendiri. Vertigo juga bisa berhubungan dengan kelainan penglihatan atau
perubahan tekanan darah yang terjadi secara tibatiba.
Penyebab umum dari vertigo: (Israr, 2018)
1. Keadaan lingkungan : Motion sickness (mabuk darat, mabuk laut)
2. Obat-obatan : Alkohol, Gentamisin
3. Kelainan sirkulasi : Transient ischemic attack (gangguan fungsi otak sementara
karena berkurangnya aliran darah ke salah satu bagian otak) pada arteri vertebral
dan arteri basiler
4. Kelainan di telinga : Endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis di
dalam telinga bagian dalam (menyebabkan benign paroxysmal positional vertigo)
a) Infeksi telinga bagian dalam karena bakteri
b) Herpes zoster
c) Labirintitis (infeksi labirin di dalam telinga)
d) Peradangan saraf vestibuler
e) Penyakit Meniere
D. Klasifikasi
Vertigo diklasifikasikan menjadi dua kategori berdasarkan saluran vestibular dan non
vestibular yang mengalami kerusakan, yaitu vertigo perifer dan vertigo sentral. Vertigo
dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1. Vertigo Vestibular
Vestibular adalah salah satu organ bagian dalam telinga yang senantiasa mengirimkan
informasi tentang posisi tubuh ke otak untuk menjaga keseimbangan. Vertigo timbul
pada gangguan sistem vestibular, yang menimbulkan sensasi berputar, timbulnya
episodic, diprovokasi oleh gerakan kepala, dan bias disertai rasa mual muntah
(Sutarni Rusdi & Abdul, 2019).
2. Vertigo non vestibular
Vertigo sistemik adalah keluhan vertigo yang disebabkan oleh penyakit tertentu
misalnya diabetes militus, hipertensi dan jantung. Sementara itu, vertigo neurologik
adalah gangguan vertigo yang disebabkan oleh gangguan saraf. Keluhan vertigo yang
disebabkan oleh gangguan mata atau berkurangnya daya penglihatan disebut vertigo
ophtamologis, sedangkan vertigo yang disebabkan oleh berkurangnya fungsi alat
pendengaran disebut vertigo otolaringologis. Selain penyebab dari segi fisik penyebab
lain munculnya vertigo adalah pola hidup yang tidak teratur, seperti kurang tidur atau
terlalu memikirkan suatu masalah hingga stres. Vetigo yang disebabkan oleh stres
atau tekanan emosional disebut psikogenik. Perbedaan vertigo vestibur dan non
vestibular sebagai berikut (Sutarni , Rusdi & Abdul, 2019).
E. Patofisiologi
1. Anatomi Vertigo
Jaringan saraf yang terkait dalam proses timbulnya sindrom vertigo:
a. Reseptor alat keseimbangan tubuh yang berperan dalam proses transduksi yaitu
mengubah rangsangan menjadi bioelektrokimia: Reseptor mekanis divestibulum,
Resptor cahaya diretina, Resptor mekanis dikulit, otot dan persendian (propioseptik).
b. Saraf aferen, berperan dalam transmisi menghantarkan impuls ke pusat
keseimbangan di otak: Saraf vestibularis, Saraf optikus, Saraf
spinovestibulosrebelaris.
c. Pusat-pusat keseimbangan, berperan dalam proses modulasi, komparasi,
integrasi/koordinasi dan persepsi: inti vestibularis, serebelum, kortex serebri,
hypotalamusi, inti akulomotorius, formarsio retikularis.
2. Patofisiologi Vertigo
Dalam kondisi fisiologi/ normal, informasi yang tiba dipusat integrasi alat
keseimbangan tubuh yang berasal dari resptor vestibular, visual dan propioseptik
kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya sinkron dan wajar akan diproses
lebih lanjut secara wajar untuk direspon. Respon yang muncul beberapa penyesuaian
dari otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Di samping itu
orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitarya. Tidak
ada tanda dan gojala kegawatan (alarm reaction) dalam bentuk vertigo dan gejala dari
jaringan otonomik (Bashiruddin, J., & Soetirto, I. (2019)
Namun jika kondisi tidak normal/ tidak fisiologis dari fungsi alat keseimbangan tubuh
dibagian tepi atau sentral maupun rangsangan gerakan yang aneh atau berlebihan,
maka proses pengolahan informasi yang wajar lidak berlangsung dan muncul tanda-
tanda kegawatan dalam bentuk vertigo dan gejala dari jaringan otonomik. Di samping
itu respon penyesuaian otot-otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan
abnormal dari mata disebut nistagnus.
F. Pathway
G. Manifestasi Klinis
Menurut (Sutarni, Rusdi & Abdul, 2019 ) gejala klinis yang menonjol, vertigo dapat pula
dibagi menjadi kelompok, yaitu :
1) Vertigo Proksimal
Ciri Khas : serangan mendadak, berlangsung beberapa menit atau hari, menghilang
sempurna, suatu ketika muncul lagi dan di antara serangan penderita bebas dari
keluhan. Berdasarkan gejala penyertanya di bagi :
a. Dengan keluhan telinga, tuli atau telinga berdenging, sindrom menire,
b. arakhnoiditis pontoserebelaris, TIA vertebrobasilar, kelainan ontogeny, tumor fossa
poaterior.
c. Tanpa keluhan telinga: TIA vertebrobasilar, epilepsi, migrain, vertigo anak.
d. Timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi: posisional proksimal benigna
(Sutarni, Rusdi & Abdul, 2019).
2) Vertigo kronis
Ciri khas: vertigo menetap lama, keluhan konstan tidak membentuk serangan-
serangan akut. Berdasarkan gejala penyertanya dibagi:
a. Keluhan telinga: otitis media kronis, tumor serebelopontin, meningitis TB,
labirinitis kronis, lues serebri.
b. Tanpa keluhan telinga: konstusio serebri, hipoglikemia, ensefalitis pontis, kelainan
okuler, kardiovaskular dan psikologis, posttraumatic sindrom, intoksikasi, kelainan
endokrin.
c. Timbulnya dipengaruhi oleh perubahan posisi: hipotensi orthostatic, vertigo
servikalis (Sutarni, Rusdi & Abdul, 2019).
3) Vertigo akut
Berdasarkan gejala penyertanya dibagi:
a. Ada pada keluhan telinga: neuritis N. VIIII, trauma labirin, perdarahan labirin,
herpes zoster otikus.
b. Tidak ada pada keluhan telinga: neuritis vestibularis,
sclerosis multiple, oklusi arteri serebeli inferior posterior, ensefalitis vestibularis,
sclerosis multiple, hematobulbi (Sutarni, Rusdi & Abdul, 2019).
Menurut Fransisca (2020) ada beberapa tanda vertigo:
1. Vertigo Epileptica yaitu pusing yang mengiringi atau terjadi sesudah serangan ayan
2. Vertigo laringea yaitu pusing karena serangan batuk
3. Vertigo nocturna yaitu rasa seolah-olah akan terjatuh pada permulaan tidur
4. Vertigo ocularis yaitu pusing karena penyakit mata khususnya karena kelumpuhan
atau kesimbangan kegiatan otot-otot boila mata
5. Vertigo rotatoria yaitu pusing seolah-olah semua disekitar badan berputar-putar
H. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
Pemeriksaan laboatorium digunakan untuk menyigkirkan kemungkinan penyakit
lainnya seperti anemia, kehamilan, dan akondisi ketidak seimbangan metabolik?
(hiperglikemia, hipoglikemia, dll)
b. Pencitraan
Pemeriksaan fossa posterior penting dilakukan jika terdapat adanya vertigo sentral
- MRI adalah pencitraan terpilih, terutama untuk mendiagnosis infark, perdarahan,
tomur, dan lesi substansi alba seperti sklerosis mutiple.
- CT scan dengan potongan hingga ke fossa posterior dapat digunakan jika tidak
tersedia MRI. CT scan terbatas karenaresolusi yang Ibeih buruk dan adanya artifar
tulang.
I. Penatalaksanaan
1. Vertigo posisional Benigna (VPB) Utami, N., & Sucipto. (2020)
- Latihan : latihan posisional dapat membantu mempercepat remisi pada sebagian
besar penderita VPB. Latihan ini dilakukan pada pagi hari dan merupakan kagiatan
yang pertama pada hari itu. Penderita duduk dipinggir tempat tidur, kemudian ia
merebahkan dirinya pada posisinya untuk membangkitkan vertigo posisionalnya.
Setelah vertigo mereda ia kembali keposisi duduk Isemula. Gerakan ini diulang
kembali sampai vertigo melemah atau mereda. Biasanya sampai 2 atau 3 kali sehari,
tiap hari sampai tidak didapatkan lagi respon vertigo.
- Obat-obatan : obat anti vertigo seperti miklisin, betahistin atau fenergen dapat
digunakan sebagai terapi simtomatis sewaktu melakukan latihan atau jika muncul
eksaserbasi atau serangan akut. Obat ini menekan rasa enek (nausea) dan rasa pusing.
Namun ada penderita yang merasa efek samping obat lebih buruk dari vertigonya
sendiri. Jika dokter menyakinkan pasien bahwa kelainan ini tidak berbahaya dan dapat
mereda sendiri maka dengan membatasi perubahan posisi kepala dapat mengurangi
gangguan.
2. neurotis vestibular
Terapi farmokologi dapat berupa terapi spesifik misalnya pemberian anti biotika dan
terapi simtomatik. Nistagmus perifer pada neurinitis vestibuler lebih meningkat bila
pandangan diarahkan menjauhi telinga yang terkena dan nigtagmus akan berkurang
jika dilakukan fiksasi visual pada suatu tempat atau benda.
4. Presbiastaksis (Disekuilibrium pada usia lanjut) Mayasari, D., & Wati, G. A. (2021)
Rasa tidak setabil serta gangguan keseimbangan dapat dibantu obat supresan
vestibular dengan dosis rendah dengan tujuan meningkatkan mobilisasi.
Misanya Dramamine, prometazin, diazepam, pada enderita ini latihan vertibuler dan
latihan gerak dapat membantu. Bila perlu beri tongkat agar rasa percaya diri
meningkat dan kemungkinan jatuh dikurangi.
1. Pengkajian
a. Keluhan
Keluhan yang dirasakan pasien pada saat dilakukan pengkajian
b. Riwayat Kesehatan sekarang
Riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah sakit. Pada pasien
vertigo tanyakan adakah pengaruh sikap atau perubahan sikap terhadap
munculnya vertigo, posisi mana yang dapat memicu vertigo
c. Riwayat kesehatan yang lalu
Adakah riwayat trauma kepala, penyakit infeksi dan inflamasi dan penyakit
tumor otak.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah riwayat penyakit yang samaa diderita oleh anggota keluarga lain atau
penyakit lain.
e. Aktivitas / Istirahat
1) Letih, Lemah , malaise
2) Keterbatasan gerak
3) Ketegtangan mata, kesulitan membaca
4) Insomnia , bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala
5) Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau
karena perubahan cuaca
f. Sirkulasi
1) Riwayat hipertensi
2) Denyutan vaskuler, misal daerah temporal
3) Pucat, wajah, tampak kemerahan
g. Intergritas Ego
1) Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
2) Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan , ketidak berdayaan depresi
3) Kekhawatiran, ansietas, peka rangasangan selama sakit kepala
4) Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik )\
h. Makanan dan cairan
1) Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang,keju,
alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus,hotdog, MSG
(pada migrain).
2) Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)
3) Penurunan berat badans.
i. Neuros ensoris
1) Pening, disorientasi (selama sakit kepala)
2) Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.
3) Aura; fasialis, olfaktorius, tinitus.
4) Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis.
5) Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
6) Perubahan pada pola bicara/pola pikir
7) Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.
8) Penurunan refleks tendon dalam
9) Papiledema.
j. Nyeri/ kenyamanan
1) Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal
migrain,ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.
2) Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah.
3) Fokus menyempit
4) Fokus pada diri sendiri
5) Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.
6) Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
k. Keamanan
1) Riwayat alergi atau reaksi alergi
2) Demam (sakit kepala)
3) Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis
4) Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus).
i. Interaksi sosial
Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan
dengan penyakit.
m. Penyuluhan / pembelajaran
n. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
Pemeriksaan
Persistem
1) Sistem persepsi sensori
Adakah rasa tidak stabil, disrientasi, osilopsia yaitu suatu ilusi bahwa benda
yang diam tampak bergerak maju mundur.
2) Sistem Persarafan
Adakah nistagmus berdasarkan beberapa pemeriksaan baik manual maupun
dengan alat.
3)Sistem Pernafasan
4) Sistem Kardiovaskuler
Adakah terjadi gangguan jantung.
5) Sistem Gastrointestinal
Adakah Nausea dan muntah
6) Sistem integumen
7) Sistem Reproduksi
8) Sistem Perkemihan
9) Pola Fungsi Kesehatan
a) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Adakah keemasan yang dia lihatkan oleh kurangnya pemahaman pasien
dan keluarga mengenai penyakit, pengobatan dan prognosa.
b) Pola aktivitas dan latihan
Adakah pengaruh sikap atau perubahan sikap terhadap munculnya
vertigo, posisi yang dapat memicu vertigo.
c) Pola nutrisi metabolisme
Adakah nausea dan muntah
d) Pola eliminasi
e) Pola tidur dan istirahat
f) Pola Kognitif dan perseptua
g) Adakah disorientasi dan asilopsia
h) Persepsi diri atau konsep diri
i) Pola toleransi dan koping stress
j) Pola sexual reproduksi
k) Pola Hubungan dan peran
l) Pola nilai dan keyakinan
2. Diagnosa Keperawatan
c. Defisit Nutrisi b.d intake nutrisi tidak adekuat d.d BB menurun, nafsu makan
menurun, mual muntah, dan kelemahan(D.0019)
d. Ansietas b.d rasa khawatir berlebih d.d sulit berkonsentrasi, gelisah, dan sulit
tidur (D.0080)
3. Intervensi Keperawatan
3. Implementasi Keperawatan
Implementasi penanganan vertigo dimulai dengan melakukan diagnosis komprehensif
melalui anamnesis lengkap yang mencakup karakteristik pusing, durasi serangan, faktor
pencetus, dan gejala penyerta, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik meliputi tanda vital,
pemeriksaan THT, tes keseimbangan (Romberg test, tandem gait), pemeriksaan
nistagmus, dan Dix-Hallpike test untuk BPPV, kemudian dilakukan pengelompokan jenis
vertigo (perifer atau sentral) untuk menentukan tatalaksana yang tepat baik secara
farmakologis menggunakan antivertigo, antiemetik, dan sedatif vestibular bila diperlukan,
maupun non-farmakologis seperti manuver Epley untuk BPPV, vestibular rehabilitation
therapy, modifikasi gaya hidup, serta edukasi pasien mengenai kondisi dan penanganan
penyakitnya (Bhattacharyya et al., 2017; Strupp & Brandt, 2018).
4. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi penanganan vertigo dilakukan secara sistematis dengan memperhatikan
parameter klinis seperti frekuensi, intensitas, dan durasi serangan serta dampaknya pada
aktivitas sehari-hari, menggunakan instrumen evaluasi standar seperti Dizziness
Handicap Inventory (DHI) dan Visual Analog Scale (VAS) yang dilakukan pada timeline
tertentu (evaluasi awal 1-2 minggu pertama, evaluasi berkala setiap bulan, dan evaluasi
jangka panjang 6-12 bulan), dengan kriteria keberhasilan meliputi pengurangan frekuensi
serangan >50%, perbaikan skor DHI minimal 18 poin, peningkatan kemampuan aktivitas
sehari-hari, tidak adanya komplikasi pengobatan, serta kemampuan pasien untuk kembali
bekerja/beraktivitas normal, sambil tetap memperhatikan berbagai hambatan yang
mungkin timbul seperti kepatuhan pasien, keterbatasan akses layanan kesehatan, biaya
pengobatan, dan faktor psikososial (Hall et al., 2016; Whitney et al., 2019).
DAFTAR PUSTAKA
Utami, N., & Sucipto. (2020). Tatalaksana Terkini Vertigo Perifer. Jurnal Kedokteran Universitas
Lampung, 4(1), 182-189.
Ardianto, A., & Permana, K. (2019). Pendekatan Diagnosis dan Tata Laksana Vertigo di Layanan
Primer. Jurnal Kedokteran Meditek, 25(3), 98-106.
Mayasari, D., & Wati, G. A. (2021). Penatalaksanaan BPPV (Benign Paroxysmal Positional
Vertigo) dengan Manuver Epley. Jurnal Kesehatan Indonesia, 12(1), 45-52.
Suryanti, B., & Hendarto, A. (2022). Tata Laksana Penyakit Meniere: Update Terkini. Jurnal
Kedokteran dan Kesehatan Indonesia, 13(2), 77-85.
Setiawan, R. D., & Purwanto, B. (2023). Panduan Praktis Diagnosis dan Tatalaksana Vertigo.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.