Model Berpikir Kritis Perawat Hipertensi
Model Berpikir Kritis Perawat Hipertensi
Disusun Oleh:
Dosen Pembimbing :
Zuraidah [Link].,Ns.,[Link]
TANJUNG PINANG
T.A 2023/2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
rahmatnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul
“Asuhan keperawatan berdasarkan gangguan sistem tubuh : Hipertensi.”
Makalah ini disusun dengan maksud agar mahasiswa/i dapat memperluas ilmu dan
pengetahuan mengenai proses keperawatan dan berpikir kritis.
3. Ibu Liza Wati, [Link]., Ns., [Link], selaku Ka. Prodi, dan
Kelompok menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh Karena itu, . kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun
selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini dari awal hingga akhir.
Penulis
i
DAFTAR ISI
ii
2.1.1 Pengkajian ......................................................................................... 11
4.2 Saran………………...................................................................................... 88
iii
4.2.1 Bagi Akademik ................................................................................... 88
iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah diatas nilai
normal. Menurut (Nurarif & Kusuma, 2015), hipertensi adalah
peningkatan tekanan darah sistolik sekitar 140 mmHg atau tekanan
diastolik sekitar 90 mmHg.
1
di Asia Tenggara dengan 1/3 populasinya menderita hipertensi
(Kemenkes, 2017).
2
1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Pelayanan kesehatan
Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan
dan masukkan bagi tenaga kerja kesehatan dalam mengetahui
mengenai asuhan keperawatan gangguan sistem tubuh : Hipertensi.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Teori Hipertensi
2.1.1 Definisi Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu
peningkatan tekanan darah didalam arteri, dimana hiper yang
artinya berlebihan dan tensi yang artinya tekanan/ tegangan, jadi
hipertenssi merupakan gangguan pada system peredaran darah
yang menyebabkan kenaikan tekanan darah diatas nilai normal
(Musakkar & djafar, 2021).
4
2) Hipertensi Sekunder
Disebabkan oleh penggunaan estrogen, penyakit ginjal,
sindrom cusing dan hipertensi yang berhubungan dengan
kehamilan. Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas:
5
antara jantung dan organ-organ. Arteriol mengatur jumlah darah
yaang mengalir ke masing masing organ. Vena mengembalikan
darah dari tingkat jaringan ke jantung. Pengaturan tekanan arteri
rerata bergantung pada kontrol dua pintu utamanya ke jantung.
Pengaturan tekanan atri rerata bergantung pada dua pintu utamanya
yaitu curah jantung dan retensi perifer total. Kontrol curah jantung
sebaiknya bergantung pada regulasi keepatan jantung dan isi
sekuncup,sementara resistensi perifer total terutama ditentukan
oleh derajat vasokontriksiateriol (Shewood, 2012).
Regulasi jangka pendek tekanan darah di tentukan oleh
reflek baroreseptor. Baroreseptor sinus karotis dan arteri aorta
secara terus-menerus memantau tekanan arteri rerata. Jika
mendekati penyimpangan dari normal maka kedua baroreseptor
akan memberi sinyal ke pusat kardiovaskuler medula yang
berespon dengan menyesuaikan sinyal otonom ke jantung, dan
pembuluh darah untuk memulihkan tekanan darah kembali normal.
Kontrol jangka panjang tekanan darah menimbulkan pemeliharaan
volume plasma yang sesuai melalui kontrol ginjal atas
keseimbangangaram dan air. Tekanan darah dapat meningkat
secara abnormal atau terlalu rendah (hipotensi) hipotensi yang berat
dan menetap yang meyebabkan kurang memadainya penyaluran
darah secara umum yang dikenal dengan syok sirkulasi (Shewood,
2012).
2.1.4 Manifestasi Klinis
Menurut Rokhaeni (2001) dalam Nurhidayat (2015)
manifestasi klinis pasien yang menderita hipertensi yaitu:
1) Mengeluh nyeri kepala, pusing
2) Rasa pegal dan tidak nyaman pada tengkuk
3) Lemas, kelelahan
4) Sesak nafas
5) Gelisah
6) Mual, muntah
Crowin (2000) dalam Aspiani (2014) menjelaskan bahwa
sebagian besar gejala klinis muncul setelah mengalami hipertensi
bertahun- tahun berupa:
1) Nyeri kepala, kadang- kadang disertai mual dan muntah akibat
peningkatan tekanan vaskuler serebral.
2) Penglihatan menjadi kabur karena kerusakan retina karena
hipertensi
3) Kerusakan susunan saraf pusat
4) Nokturia terjadi karena peningkatan aliran darah ginjal dan
filtrasi glomerulus
5) Edema dan pembengkakan karena peningkatan tekanan kapiler
6
2.1.5 Komplikasi Hipertensi
Hipertensi yang tidak di tanggulangi lama-kelamaan akan
menyebabkan rusaknya arteri didalam tubuh dan rusaknya organ
yangmendapat suplai darah dari arteri tersebut. Wijaya &Putri
(2014) menyimpulkan komplikasi hipertensi terjadi pada organ-
organ tubuh, diantanya :
1). Jantung
Hipertensi dapat menyebabkan timbulnya gagal jantung
dan penyakit koroner. Individu yang menderita hipertensi,
beban kerja jantung akan meningkat, otot jantung akan
mengendor dan berkurang elastisitasnya yang disebut
dekompensasi. Sehingga mengakibatkan jantung tidak lagi
mampu memompa sehingga banyaknya cairan yang tertahan di
paru dan jaringan tubuh yang menyebabkan sesak napas atau
odema. Keadaan ini disebut gagal jantung.
2) Otak
Komplikasi hipertensi pada bagian otak dapat
mengakibatkan resiko stroke, apabila tidak diobati resiko
terkena stroke 7 kali lebih besar.
3) Ginjal
Hipertensi dapat menyebabkan rusaknya ginjal,
sehingga menyebabkan kerusakan system penyaringan didalam
ginjal karena lambat laun ginjal tidak mampu membuang zat-
zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh yang masuk melalui aliran
darah dan terjadi penumpukan dalam tubuh.
4) Mata
Hipertensi dapat menyebabkan terjadinya retinopati
hipertensi dandapat menyebabkan kebutaan
1) Pemeriksaan laboratorium
a. Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap
volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor
resiko seperti hipokoagulabilitas dan anemia.
7
b. BUN/kreatinin : memberikan informasi tentang
perfusi/fungsi ginjal.
c. Glukosa : hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi)
dapat diakibatkan oleh .
d. Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi
ginjal dan ada DM.
2) CT Scan : mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati
3) EKG : dapat menunjukkan pola regangan, dimana luas,
peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit
jantung hipertensi.
4) IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti : batu
ginjal, perbaikan ginjal.
5) Photo dada : menunjukkan destruksi klasifikasi pada area katup,
pembesaran jantung.
2.1.7 Penatalaksanaan
1) Pengaturan diet
Beberapa diet yang dianjurkan: Rendah garam, diet
rendah garam mampu menurunkan tekanan darah pada klien
hipertensi. Pengurangan konsumsi garam dapat mengurangi
stimulasi system renin-angiotensin sehingga sangat berpotensi
sebagai anti hipertensi. Jumlah masukan sodium yang diajurkan
adalah 50-100 mmol atau sama dengan 3-6 gram garam perhari
8
sehingga dapat menggurangi beban kerja jantung
(Chaturvedi, 2009 dalam Nathalia, 2017).
c. Diet rendah kolesterol sebagai pencegah terjadinya jantung
koroner.
2.2.1 Penurunan Berat Badan
Penurunan berat badan dapat mengurangi tekanan
darah, karena mengurangi beban kerja jantung dan volume
sekuncup juga berkurang.
2.3.1 Olahraga
Olahraga teratur seperti berjalan, lari, berenang,
bersepedah, bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah dan
memperbaiki keadaan jantung. Olahraga teratur selama 30
menit sebanyak 3-4 kali dalam satu minggu sangat dianjurkan
untuk menurunkan tekanan darah. Olahraga meningkatkan
kadar HDR, yang dapat mengurangi pembentukan
arterosklerosis karena hipertensi.
Penatalaksanaan Medis
9
2) Penyekat saluran kalsium dapat menurunkan kontraksi otot polos
jantung atau arteri.
Sebagian penyekat saluran kalsium bersifat lebih spesifik untuk
saluran lambat kalsium otot jantung,sedangkan sebagian yang lain lebih
spesifik untuk saluran kalsium otot polos vascular. Dengan demikian,
berbagai penyekat kalsium memiliki kemampuan yang berbeda-beda
dalam menurunkan kecepatan denyut jantung, volume sekuncup, dan TPR.
10
gerontik adalah indefendent (mandiri), interdependent (kolaborasi),
2.1.1 Pengkajian
(Ernawati 2012 )
b. Pengumpulan data
1) Biodata
11
2) Riwayat kesehatan sekarang
ditusuk-tusuk
derajat beratnya.
12
1) Riwayat kesehatan dahulu
3) Pemeriksaan fisik
perkusi danauskultasi.
a) Tanda-tanda vital
13
b) Sistem pengindraan (penglihatan)
c) Sistem pernafasan
d) Sistem kardiovaskuler
e) Sistem gastrointestinal
f) Sistem integument
g) Sistem musculoskeletal
kebas.
14
h) Sistem genitourinaria
i) Sistem neurologi
penggerak ototrahang.
4) Pengkajia psikososial
15
a) Aspek sosial
b) Identifikasi masalah
emosional
Pertanyaan tahap I :
Pertanyaan tahap II :
terakhir?
terakhir?
16
masalahemosional postitif (+).
5) Pengkajian spiritual
6) Pemeriksaan penunjang
aritma
darah lengkap.
7) Pengkajian Fungsional
a) Katz Indeks
17
kehidupan sehari-hari secara mandiri. Pcencntuan
dkk, 2012).
Tabel. 2.1
Pengkajian Fungsional Klien Dengan
MenggunakanKatz Indeks
18
(2) KATZ Indeks E : Kemandirian dalam semua aktivitas
tersebut di atas
Status Exam (MMSE). Intruksi : ajukan pertanyaan 1-10 pada daftar ini dan
SPSMQ
19
Tabel 2.2
20
10) Pengkajian Aspek Kognitif dan fungsi Mental
Tabel 2.3
Format Pengkajian (Mini Mental Status Exam) MMSE
21
4. MENGINGAT
Minta klien untuk mengulang 3 obyek diatas
1. Apel
2. uang
3. meja
5. BAHASA
Penamaan
Tunjukkan 2 benda minta klien menyebutkan
:
1. jam tangan
2. pensil
Pengulangan
Minta klien mengulangi tiga kalimat berikut
“Tak ada jika, dan, atau tetapi “
perintah tiga langkah
1. Ambil kertas ! 3
2. Lipat dua
3. Taruh dilantai !
Turuti hal berikut
1. Tutup mata 3
2. Tulis satu kalimat
3. Salin gambar
Jumlah 28 1
Analisis hasil : tidak terdapat kerusakan kognitif
Nilai < 21 : Kerusakan kognitif
22
11). Pengkajian APGAR keluarga
Tabel 2.4
Kadang- Tidak
Selalu
NO ITEMS PENILAIAN kadang pernah
(2)
(1) (0)
1. A: Adaptasi
keluarga (teman-teman)
waktu sesuatu
menyusahkan saya.
2. P: Partnership
mengungkapkan masalah
saya.
3. G: Growth
23
menerima dan mendukung
arah baru.
4. A: Afek
mencintai.
5. R: Resolve
bersama- sama
berespon
Penilaian:
24
12). Pengkajian TUG test
Tabel 2.5
Interpretasi:
Score:
Tabel 2.6
No Pertanyaan Jawaban
anda?
25
3. Apakah anda merasa hidup anda kosong? Ya Tidak
setiap saat?
waktu?
berdaya?
11. Apakah anda pikir bahwa hidup anak sekarang ini Ya Tidak
menyenangkan?
kondisi sekarang?
kondisi sekarang?
15. Apakah anda pikir bahwa orang lain lebih baik Ya Tidak
26
Skor: hitung jumlah jawaban yang bercetak tebal
<5 : normal
- Perubahan irama
1. Subjektif: Penurunan
jantung
curah jantung
1. Perubahan irama
- Perubahan frekuensi
jantung
jantung
- Palpitasi - Perubahan
kontraktilitas
2. Perubahan preload
- Perubahan preload
- Lelah
- Perubahan afterload
3. Perubahan afterload
- Dipsnea
4. Perubahan
kontraktilitas
- Paroxymal noctural
dyspnea (PND)
- Ortopnea
- Batuk
27
Objektif:
1. Perubahan irama
jantung
- Bradikardia/takikardia
- Gambaran EKG
konduksi
2. Perubahan preload
- Edema
- Hepatomegali
2. Perubahan afterload
- Tekanan darah
meningkat/ menurun
lemah
detik
- Oliguria
28
- Warna kulit pucat dan/
sianosis
4. Perubahan
kontraktilitas
- Terdengar suara
jantung s3 dan S4
<2 tahun
Objektif: -
- Riwayat jatuh
prostesis
- Penggunaan alat
bantu berjalan
- Penurunan tingkat
kesadaran
- Perubahan fungsi
kognitif
- Lingkungan tidak
aman
- Perubahan kadar
29
glukosa darah
- Anemia
- Gangguan otot
menurun
- Gangguan
pendengaran
- Gangguan
keseimbangan
- Gangguan
penglihatan
- Neuropati
- Efek agen
farmokologis
pengetahuan kognitif
1. Menanyakan masalah
- Gangguan fungsi
yang dihadapi
kognitif
Objektif
- Kekeliruan
- Menunjukkan mengikuti
- Menunjukkan informasi
terhadap masalah
30
- Menjalani dalam belajar
- Menunjukkan - Ketidaktahuan
sumber informasi
aktivitas mbangan
1. Mengeluh lelah
antara
2. Dispnea saat/setelah
suplai dan
aktivitas
kebutuhan
baring
4. Merasa lemah
- Kelemahan
Objektif:
- Imobilitas
- Tekanan darah
kondisi istirahat
31
- Gambaran EKG
menunjukkan
aritmia saat/setelah
aktivitas
- Gambaran EKG
menunjukkan
iskemia
- Sianosis
fisiologis (mis.
1. Mengeluh nyeri
Inflamasi, iskemia,
Objektif:
neoplasma).
meningkat terpotong,
- Proses berpikir
32
terganggu berlebihan).
- Menarik diri
sendiri
- Diaforesis
tidur lingkungan
1. Mengeluh sulit tidur
- Kurang kontrol
2. Mengeluh sering
tidur
terjaga
- Kurang privasi
tidur
4. Mengeluh pola tidur
- Tidak familiar
berubah
dengan peralatan
5. Mengeluh isirahat
tidur
tidak cukup
[Link] kemampuan
beraktivitas menurun
33
2.1.3 Diagnosa Keperawatan
Indonesia Indonesia
(SLKI)
(SDKI) (SIKI)
34
- Monitor suhu
Penyebab: 2. CRT
tubuh
- Perubahan 3. Palpitasi
- Monitor
irama jantung
4. Distensi vena jugularis oksimetri nadi
- Perubahan
- Monitor tekanan
5. Gambaran EKG
frekuensi
nadi
aritmia
jantung
- Identifikasi
- Perubahan 6. Lelah
penyebab
kontraktilitas
perubahan tanda
- Perubahan
vital
preload
Terapeutik:
- Perubahan
pemantauan
Gejala dan Tanda
sesuai kondisi
Mayor
pasien
Subjektif:
- Dokumentasikan
jantung pemantauan
- Palpitasi Edukasi:
dan prosedur
- Lelah
pemantauan
3. Perubahan afterload
- Informasikan
35
hasil
- Dipsnea
pemantauan
4. Perubahan
kontraktilitas
- Paroxymal noctural
dyspnea (PND)
- Ortopnea
- Batuk
Objektif:
1. Perubahan irama
jantung
Bradikardia/takikardia
- Gambaran EKG
konduksi
2. Perubahan preload
- Edema
- Distensi vena
jugularis
- Central venous
36
pressure (CVP)
meningkat/menurun
- Hepatomegali
2. Perubahan afterload
- Tekanan darah
meningkat/ menurun
lemah
>3 detik
- Oliguria
dan/ sianosis
4. Perubahan
kontraktilitas
- Terdengar suara
jantung s3 dan S4
- Ejection fraction
(EF) menurun
37
2. Nyeri Akut (D.0077) Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri
- Identifikasi
- Agen 6. Frekuensi nadi
faktor yang
pencedera
memperberat
fisiologis (mis.
dan
Inflamasi,
memperingan
iskemia,
nyeri
neoplasma).
- Identifikasi
- Agen
pengetahuan dan
pencedera
keyakinan
kimiawi (mis.
38
Terbakar, tentang nyeri
iritan) pengaruh
terpotong, hidup
mengangkat - Monitor
operasi, terapi
berlebihan). diberikan
- Moonitor efek
Gejala dan Tanda
samping
Mayor:
penggunaan
Subjektif:
analgetik
1. Mengeluh nyeri
Terapeutik:
Objektif:
- Berikan teknik
- Tampak non
meringis farmakologis
39
- Bersikap untuk
- Gelisah nyeri
rasa nyeri
Subjektif:
- Fasilitasi
-
istirahat dan
Objektif: tidur
- Pertimbangkan
- Tekanan darah
jenis dan sumber
meningkat
nyeri dalam
- Pola napas
pemilihan
berubah
strategi
- Nafsu makan
meredakan nyeri
berubah
terganggu
- Jelaskan
- Menarik diri
penyebab,
- Berfokus pada
periode, dan
diri sendiri
pemicu nyeri
- Diaforesis
- Jelaskan strategi
meredakan nyeri
40
- Anjurkan
memonitor nyeri
secara mandiri
- Anjurkan
menggunakan
analgetik secara
repat
- Ajarkan teknik
nonfarmakolohis
untuk
mengurangi rasa
nyeri
Kolaborasi:
- Kolaborasi
pemberian
analgetik, jika
perlu
(D.0056)
Tujuan: Setelah Observasi:
41
sehari-hari. kriteria hasil: mengakibatkan
kelelahan
Penyebab: 1. Frekuensi nadi
- Monitor
- Ketidakseimba 2. Keluhan lelah
kelelahan fisik
ngan antara
3. Dispnea saat aktivitas dan emosional
suplai dan
- Monitor pola
4. Dipsnea setelah
kebutuhan
dan jam tidur
aktifitas
oksigen
- Monitor lokasi
- Tirah baring 5. Tekanan darah
dan
- Kelemahan
ketidaknyamana
- Imobilitas
n selama
- Gaya hidup
melakukan
monoton
aktivitas
rendah stimulus
Objektif:
- Lakukan latihan
- Frekuensi
rentang gerak
jantung
pasif/aktif
meningkat
- Berikan aktivitas
>20% dari
distraksi yang
kondisi
42
istirahat menenangkakn
- Fasilitasi duduk
Gejala dan Tanda
disisi tempat
Minor
tidur, jika tidak
Subjektif:
dapat berpindah
aktivitas
Edukasi:
2. Merasa tidak
- Anjurkan tirah
nyaman setelah
baring
beraktivitas
- Anjurkan
aktivitas secara
Objektif:
bertahap
- Tekanan darah
- Anjurkan
berubah >20%
menghubungi
dari kondisi
perawat jika
istirahat
tanda dam gejala
- Gambaran
kelelahan tidak
EKG
berkurang
menunjukkan
- Ajarkan strategi
aritmia
koping untuk
saat/setelah
mengurangi
aktivitas
kelelahan
- Gambaran
43
EKG
Kolaborasi:
menunjukkan
- Kolaborasi
iskemia
dengan ahli gizi
- Sianosis
tentang cara
meningkatkan
asupan makanan
Tidur
Tujuan: Setelah Observasi:
44
dengan dikonsumsi
peralatan tidur
Terapeutik:
tidur siang
1. Mengeluh sulit tidur
- Fasilitasi
2. Mengeluh sering
menghilangkan
terjaga
stres sebelum
tidur rutin
4. Mengeluh pola tidur
- Lakukan
berubah
prosedur untuk
5. Mengeluh isirahat
meningkatkan
tidak cukup
kenyamanan
Minor jadwal
menunjang
siklus tidur-
45
terjaga
Edukasi:
- Jelaskan
pentingnya tidur
cukup selama
sakit
- Anjurkan
menepati
kebiasaan waktu
tidur
- Anjurkan
menghindari
makanan/minum
an yang
mengganggu
tidur
- Anjurkan
penggunaan obat
mengandung
supresor
terhadap tidur
- Ajarkan faktor-
46
faktor yang
berkontribusi
terhadap
gangguan pola
tidur
- Ajarkan teknik
cara non
farmakologi
lainnya
Kesehatan
Definisi: Berisiko Tujuan: Setelah
Lingkungan
mengalami kerusakan dilakukan tindakan
prostesis
- Hilangkan
- Penggunaan
47
alat bantu bahaya
berjalan keselamatan
- Penurunan lingkungan
tingkat - Modifikasi
kesadaran lingkungan
- Perubahan untuk
- Perubahan lingkungan
darah perangkat
- Anemia pelindung
menurun berwenang
pendengaran komunitas
- Gangguan - Fasilitasi
keseimbangan relokasi ke
- Gangguan lingkungan
penglihatan aman
- Neuropati - Laukakan
48
- Efek agen program
lingkungan
Edukasi:
- Ajarkan
individu,
keluarga dan
keloompok
resiko tinggi
bahaya
lingkungan
1. Kemampuan - Identifikasi
- Keteratasan
menjelaskan pengetahuan faktor-faktor
kognitif
tentang suatu topik yang dapat
- Gangguan
meningkatkan
fungsi kognitif 2. Kemampuan
49
- Kekeliruan menggambarkan dan menurunkan
Objektif mempengaruhi
kesehatan
- Menunjukkan
- Ajarkan perilaku
50
perilaku tidak hidup bersih dan
masalah meningkatkan
perilaku hidup
Gejala dan Tanda
bersih dan sehat
Minor
Objektif:
- Menjalani
pemeriksaan
yang tidak
tepat
- Menunjukkan
perilaku
berlebihan
51
kesehatan dan lainnya untuk mencegah masalah keperawatan yang muncul.
rencana keperawatan yang baru. Perlu diketahui juga evaluasi yang dilakukan
52
O: adalah hal-hal yang di temui oleh perawat secara objektif setelah di
A : adalah analisa dari hasil yang telah dicapai dengan mengacu pada
P : adalah perencanaan yang akan dating setelah melihat respon dari klien
E : Yaitu berupa tafsiran dari efek tindakan yang telah di ambil untuk
b. Evaluasi Sumatif
Evaluasi akhir yang bertujuan untuk menilai secara keseluruhan,system
53
BAB III
TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN
3.1.1 Pengkajian
di desa Jati
1. Identitas klien
Nama : Ny. Y
Agama : Islam
54
3. Lingkungan tempat tinggal
menggunakan lampu
dialirkan ke selokan
4. Riwayat kesehatan
52
mengkonsumsi obat yang
diberikandokter.
mengalami kecelakaan
6. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama
Lelah
53
S:-
melakukan
aktivitas
hipertensi
e. Genogram
Keterangan:
: Perempuan
: Klien
: Laki-laki
54
: Serumah
a. Pemeliharaan kesehatan
b. Nutrisi metabolic
55
c. Pola eliminasi
Sehat
No Jenis
0 1 2 3 4
1. Mandi
2. Berpakaian
3. Eliminasi
5. Berpindah
6. Berjalan
7. Berbelanja
8. Memasak
9. Naik tangga
10 Pemeliharaan rumah/ruangan
56
Keterangan:
0 : Mandiri
1 : Alat bantu
4. : Tergantung
mandiri
mandiri
57
pertanyaan dengan baik dari pengkaji
- Bahasa : Bahasa yang digunakan klien sehari-hari untuk
baik
2 hari 1 hari
No Jenis
sebelumnya sebelumnya
1. Tidur siang
keluhan keluhan
2. Tidur malam
keluhan keluhan
58
g. Pola konsep diri
Klien seorang nenek dari 2 cucu, setiap hari klien ada dirumah
posyandu lansia
59
Klien mempunyai 1 orang anak perempuan dan sudah berkeluarga,
hubungan sex
60
Pengkajian APGAR Keluarga
Kadang- Tidak
Selalu
NO ITEMS PENILAIAN kadang pernah
(2)
(1) (0)
1. A: Adaptasi
keluarga (teman-teman)
waktu sesuatu
menyusahkan saya.
2. P: Partnership
mengungkapkan masalah
saya.
3. G: Growth
61
melakukan aktifitas atau
arah baru.
4. A: Afek
mencintai.
5. R: Resolve
bersama- sama
berespon
Penilaian:
62
Pengkajian TUG Test
Langkah
Interpretasi:
Score:
Hasil pemeriksaan:
Dari hasil pemeriksaan klien berjalan 10 langkah dengan 8 detik (low risk
of falling)
No Pertanyaan Jawaban
anda?
63
5. Apakah anda dalam keadaan semangat yang baik Ya Tidak
setiap saat?
waktu?
berdaya?
11. Apakah anda pikir bahwa hidup anak sekarang ini Ya Tidak
menyenangkan?
kondisi sekarang?
kondisi sekarang?
15. Apakah anda pikir bahwa orang lain lebih baik Ya Tidak
Jumlah 4: Normal
64
Skor: hitung jumlah jawaban yang bercetak tebal
<5 : normal
65
3 Ke Kamar Kecil
Mandiri :
Masuk dan keluar dari kamar kecil kemudian
membersihkan genetalia sendiri
Tergantung :
Menerima bantuan untuk masuk ke kamar
kecil dan menggunakan pispot
4 Berpindah
Mandiri :
Berpindah ke dan dari tempat tidur untuk
duduk, bangkit dari kursi sendiri
Bergantung :
Bantuan dalam naik atau turun dari tempat
tidur atau kursi, tidak melakukan satu, atau
lebih perpindahan
5 Kontinen
Mandiri :
BAK dan BAB seluruhnya dikontrol sendiri
Tergantung :
Inkontinensia parsial atau total; penggunaan
kateter,pispot, enema dan pembalut ( pampers
)
6 Makan
Mandiri :
Mengambil makanan dari piring dan
menyuapinya sendiri
Bergantung :
Bantuan dalam hal mengambil makanan dari
piring dan menyuapinya, tidak makan sama
sekali, dan makan parenteral ( NGT )
Jumlah Nilai A
66
Keterangan :
Beri tanda ( v ) pada point yang sesuai kondisi klien
Analisis Hasil :
Nilai A :Kemandirian dalam hal makan, kontinen
67
13. Meja
3 PERHATIAN DAN KALKULASI
Minta klien mengeja 5 kata dari
belakang, misal” BAPAK “
14. K
15. A
16. P
17. A
18. B
4 MENGINGAT
Minta klien untuk mengulang 3 obyek
Diatas
19. Gelas
20. Kursi
21. Meja
5 BAHASA
a. Penamaan
Tunjukkan 2 benda minta klien
menyebutkan :
22. Jam tangan
23. Pensil
b. Pengulangan
Minta klien mengulangi tiga kalimat
Berikut
24. “Tak ada jika, dan, atau tetapi “
c. Perintah tiga langkah
25. Ambil kertas !
26. Lipat dua !
27. Taruh dilantai !
d. Turuti hal berikut
28. Tutup mata
29. Tulis satu kalimat
30. Salin gambar
JUMLAH 29
Analisis hasil :
Nilai < 21 : Kerusakan kognitif
68
Pengkajian Fungsi Kognitif
( SPMSQ )
Analisis Hasil :
Skore Salah : 0-2 : Fungsi intelektual utuh
Skore Salah : 3-4 : Kerusakan intelektual Ringan
Skore Salah : 5-7 : Kerusakan intelektual Sedang
Skore Salah :8-10 : Kerusakan intelektual Berat
69
3.1.2 Analisa Data
ringan.
DO:
- N: 56x/ mnt
- RR: 20x/mnt
- Pasien tampak
lelah
pandangannya buram
DO:
- Terdapat gangguan
penglihatan
70
. pengetahuan informasi
- Klien mengatakan
penyakitnya
- Klien bertanya
tentang enyakitnya
- Klien bertanya
tentang cara
menurunkan
tekanan darah
DO:
- Menunjukkan
perilaku tidak
sesuai anjuran
(Menyukai ikan
asin)
informasi
71
3.1.4 Intervensi Keperawatan
ketidaknyamanan selama
melakukan aktivitas
Terapeutik
- Sediakan lingkungan
stimulus
- Berikan aktivitas
distraksi yang
menenangkan
Edukasi
- Anjurkan melakukan
72
aktivitas secara bertahap
untuk mengurangi
kelelahan
diharapkan resiko
Observasi
jatuh menurun:
- Identifikasi kebutuhan
- Jatuh saat berjalan
keselamatan
menurun
- Monitor perubahan
status keselamatan
lingkungan
Terapeutik
- Hilangkan bahaya
keselamatan lingkungan
- Modifikasi lingkungan
dan risiko
keamanan lingkungan
- Lakukan skrinning
73
bahaya lingkungan
Edukasi
Ajarkan individu,
lingkungan
kesehatan
- Perilaku sesuai dengan
kesehatan sesuai
- Pertanyaan tentang
kesepakatan
masalah yang dihadapi
74
- Persepsi yang keliru - Berikan kesempatan
Edukasi
dapat mempengaruhi
kesehatan
keperawatan
ketidaknyamanan selama
- TD: 170/90 mmHg
melakukan aktivitas
- N: 56x/mnt
4. Mengajarkan strategi
-RR: 20x/mnt
koping untuk
75
P: Pertahankan
intervensi
mudah dijangkau
O:
3. Menjelaskan alas an
TD: 170/90mmhg
pencegahan jatuh pada
N: 56x/mnt
pasien dan keluarga
A: Resiko jatuh
P:
- Identifikasi factor
lingkungan yang
meningkatkan risiko
licin, penerangan
kurang)
- Anjurkan
menggunakan alas
76
kaki yang tidak licin
2. Mengidentifikasi hipertensi
P: Lanjutkan
3. Jadwalkan pendidikan
intervensi
kesehatan sesuai
kesepakatan (kontrak
77
3. Memonitor lokasi dan TD: 160/80
ketidaknyamanan selama
N: 66x/mnt
melakukan aktivitas
A: Intoleransi aktivitas
4. Mengajarkan
P: Pertahankan
strategi koping untuk
intervensi
mengurangi
kelelahan
- Klien dapat
2. Menyediakan
menjawab pertanyaan
materi dan media
pendidikan A: Defisit
menurunkan
P: Hentikan intervensi
hipertensi
3. Memberikan
penyuluhan kesehatan
4. Memberikan
78
kesempatan untuk
bertanya
5. Mengajarkan perilaku
hidup sehat
12.30 O:
TD: 160/80mmHg
N: 66x/mnt
A: Intoleransi aktivitas
P: Pertahakan intervensi
I:
- Menganjurkan melakukan
rutin
79
Pukul O: Klien dapat menjawab
pertanyaan
12.30
A: deficit pengetahuan
P: Hentikan intervensi
3.2 Pembahasan
penulis tidak ada kesulitan dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien,
dialami klien. Maka dari itu, penulis akan membahas fakta dilapangan mengenai
3.2.1 Pengkajian
saat pengkajian klien dan keluarga tampak kooperatif terhadap penulis sehingga
dalam proses pengkajian klien dan keluarga tampak kooperatif terhadap penulis
bahwa Ny. Y berusia 66 tahun menderita hipertensi. Hipertensi yang diderita oleh
Ny. Y berasalh dari gaya hidup dimana Ny. Y mempunyai kebiasaan memakan
80
makanan yang mengganduk garam seperti ikan asin. Hal itu dilakukan karena NY.
Tanda dan gejala yang diraakan oleh Ny. Y pada saat pengkajian yaitu Ny.
bahwa hipertensi pada Ny. Y berada pada kategori hipertensi grade II.
pada klien. Berikut rumusan diagnose keperawatan yang muncul pada klien:
a. Intoleransi aktivitas
sejak tahun 2016 dan pada saat pengkajian ditemukan klien mengeluh lelah saat
beraktivitas ringan.
b. Resiko jatuh
c. Defisit pengetahuan
tidak mengetahui dampak yang terjadi dari penyakit yang dideritanya serta klien
81
mengangkat masalah keperawatan defisit pengetahuan.
Pada saat intervensi, penulis menemukan kesulitan dan hambatan hal ini
dikarenakan diagnose keperawatan yang ada pada teori sebagian tidak muncul
pada kasus ini, sehingga perencanaan yang sudah terdapat pada teori tidak bias
perencanaan tidak sesuai dengan masalah yang dialami klien maka rencana
tersebut tidak akan memperbaiki kondisi yang dialami oleh klien secara optimal.
d. Intoleransi aktivitas
* Manajemen Energi
Observasi
82
Terapeutik
Edukasi
e. Resiko jatuh
Observasi
Terapeutik
Edukasi
83
f. Defisit pengetahuan
* Edukasi Kesehatan
Observasi
Terapeutik
Edukasi
mengguanakan keterampilan yang dimiliki oleh penulis dan sumber daya klien,
maka dari itu penulis telah disusun, semua tindakan tersebut tidak sempurna,
implementasi keperawatan.
84
tubuh yang mengakibatkan kelelahan, monitor kelelahan fisik dan emosional,
kaki yang tidak licin dan anjurkan berkonsentrasi untuk menjaga keseimbangan
tubuh.
telah ditetapkan dalam merumuskan masalah keperawatan yang ada pada klien.
85
hipertensi sejak 6 tahun yang lalu dan diagnose utama yang muncul yaitu
Diagnose kedua yaitu resiko jatuh ditandai dengan mengeluh lapang pandang
pemberian jus mentimun dan intervensi tersebut sudah berbasis bukti atau
mentimun. Instrumen yang digunakan berupa mentimun 100 gr, air mineral
pada jam 08.00 WIB dan malam jam 20.00 WIB (Lebalado, Mulyati 2014).
airnya yang tinggi sehingga membantu menurunkan tekanan darah tinggi. Hal
ini juga sejalan dengan hasil penelitan dari (Ekanto, Istiqomah, Anisa 2015)
satunya mentimun yang buahnya mudah didapat dan murah yang banyak
masalah keperawatan yang muncul pada klien ini di batasi oleh waktu dan
86
tempat, pemberian intervensi yang seharusnya diberika selama 5 hari namun
dilakukan sebanyak 3 hari. Hal ini dikarenakan ada faktor yang menjadi
keterbatasan yaitu adanya issu vaksinasi dimana pada saat dilakukan studi
kasus sedang terjadi wabah covid-19. Oleh karena itu, ada beberapa warga
87
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari study kasus yang dilakukan pada Ny. Y yang menderita Hipertensi
meningkatkan keluhan lelah saat beraktivitas ringan dengan hasil evaluasi setelah
4.2 Saran
88
dapat mengaplikasikan terapi pemberian jus mentimun untuk meningkatkan
energy.
89
DAFTAR PUSTAKA
Devi, M. S., & Wibowo, T. A. (2018). Hubungan konsumsi sayur dan buah
dengan perubahan tekanan darah pada mahasiswa ilmu keperawatan di
Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Universitas
Muhammadiyah Kalimantan Timur.
Dewi, E. U., Bakri, M. H., & Dari, Y. (2017). The relatio of knowledge and
life style with hipertension at puskesmas depok 2 condong catur sleman.
Journal of Health.
Ivana, T., Martini, M., & Christine, M. (2021). Pengaruh pemberian jus
mentimun terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi di PSTW Sinta
Rangkang . Jurnal Keperawatan Suaka Insan.
Kharisna, D., Dewi, W. N., & Lestari, W. (2012). Efektifitas konsumsi jus
mentimun terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi.
Jurnal Ners Indonesia.
Kusnul, Z., & Munir, Z. (2012). Efek pemberian jus mentimun terhadap
penurunan tekanan darah. Prosiding Seminas.
Ridwan, E. S., & Nurwanti, E. (2016). Gaya hidup dan hipertensi pada
lanjut usia di Kecamatan Kasihan Bantul Yogyakarta. Jurnal Ners dan
Kebidanan Indonesia.
Sinubu, R. B., Rondonuwu, R., & Onibala, F. (2015). Hubungan beban kerja
dengan kejadian hipertensi pada tenaga pengajar di SMAN 1 Amurang
Kabupaten Minahasa Selatan. Jurnal Keperawatan.
90
Sundari, L., & Bangsawan, M. (2017). Faktor- faktor yang berhubungan
dengan kejadian hipertensi. Jurnal Ilmiah Keperawatan.
91