0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan49 halaman

Asuhan Keperawatan Penyakit Jantung Koroner

Diunggah oleh

k4y8cp9j2f
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan49 halaman

Asuhan Keperawatan Penyakit Jantung Koroner

Diunggah oleh

k4y8cp9j2f
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT TROPIS DEGENARATIF

“ KONSEP DAN ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT ”

JANTUNG KORONER

Disusun oleh:

Kelompok 13

FENITA OKTA SYAKILA 152111020

SILVIA PITALOKA SAMOSIR 152111039

VIOLA ANDRIANA 152111047

Dosen Pembimbing:

Zakiah rahma [Link].N,s [Link]

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANGTUAH TANJUNGPINANG

T.A 2022/2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusunan sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
rahmat-nya penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah “ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT TROPIS
DEGENARATIF’’. Penyusun mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang
telah membantu menyelesaikan makalah ini dengan baik dan lancar.

Tujuan suatu pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,, membentuk


sumber daya manusia yang handal dan berdaya saing, membentuk watak dan jiwa
sosial, berbudaya, berakhlak dan berbudi luhur, serta berwawasan pengetahuan yang
luas dan menguasai teknologi. Makalah ini dibuat oleh penulis untuk membantu
memahami materi tersebut. Mudah-mudahan makalah ini memberikan manfaat dalam
segala bentuk kegiatan belajar, sehingga dapat memperlancar dan mempermudah
proses pencapaian yang telah direncanakan.

Penyusunan menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu,
segala kritikan dan saran yang membangun akan kami terima dengan lapang dada
sebagai wujud koreksi atas diri tim penyusun yang masih belajar. Akhir kata, semoga
makalah ini bermanfaat bagi kitra semua.

Tanjung Pinang, 12 juni 2023

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................... v
DAFTAR ISI ....................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL.................................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xi
BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 3
1.3.1 Tujuan Umum ............................................................................................ 3
1.3.2 Tujuan Khusus ........................................................................................... 3
1.4 Manfaat Karya Tulis Ilmiah ..................................................................... 4
1.5 Metoda Penulisan ..................................................................................... 5
1.5.1 Metoda ....................................................................................................... 5
1.5.2 Tehnik pengumpulan data .......................................................................... 5
1.5.3 Sumber data ............................................................................................... 6
1.5.4 Sistematika Penulisan ................................................................................ 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 7
2.1 Konsep Penyakit Jantung Koroner ........................................................... 7
2.1.1 Definisi ....................................................................................................... 7
2.1.2 Etiologi ....................................................................................................... 7
2.1.3 Patofisiologis.............................................................................................. 8
2.1.4 Manifestasi Kliniks .................................................................................. 10
2.1.5 Pemeriksaan Penunjang ........................................................................... 11
2. 2 Prosedur Pemasangan DCA ................................................................... 14
BAB 3 TINJAUAN KASUS................................................................................ 24
3.1 Pengkajian Keperawatan ......................................................................... 25
3.1.1 Identitas .................................................................................................... 25
3.1.2 Riwayat Kesehatan .................................................................................. 25
3.1.3 Observasi dan Pemeriksaan Umum ......................................................... 26
3.1.4 Pemeriksaan Penunjang ........................................................................... 28
3.2 Analisa Data ............................................................................................ 30
3.3 Intervensi Keperawatan .......................................................................... 31
3.4 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan ............................................... 33
BAB 4 PEMBAHASAN ...................................................................................... 35
4.1 Pengkajian .............................................................................................. 35
4.2 Pemeriksaan Fisik................................................................................... 36
4.3 Diagnosa Keperawatan ........................................................................... 40
4.4 Intervensi ................................................................................................ 41
4.5 Implemntasi Keperawatan ...................................................................... 42
4.6 Evaluasi Keperawatan ............................................................................ 43
BAB 5 PENUTUP ................................................................................................ 45
viii
5.1 Simpulan ................................................................................................. 45
5.2 Saran ....................................................................................................... 47
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………...49
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Latar Belakang Penyakit Jantung Koroner (PJK) atau penyakit kardiovaskular saat
ini merupakan salah satu penyebab utama dan pertama kematian di negara maju dan
berkembang, termasuk Indonesia. Pada tahun 2021, secara global penyakit ini akan
menjadi penyebab kematian pertama di negara berkembang, menggantikan kematian
akibat infeksi. Diperkirakan bahwa diseluruh dunia, PJK pada tahun 2022 menjadi
pembunuh pertama tersering yakni sebesar 36% dari seluruh kematian, angka ini dua
kali lebih tinggi dari angka kematian akibat kanker (Yahya, 2021).

Di Indonesia dilaporkan PJK (yang dikelompokkan menjadi penyakit sistem


sirkulasi) merupakan penyebab utama dan pertama dari seluruh kematian, yakni
sebesar 26,4%, angka ini empat kali lebih tinggi dari angka kematian yang disebabkan
oleh kanker (6%). Dengan kata lain, lebih kurang satu diantara empat orang yang
meninggal di Indonesia adalah akibat PJK. Berbagai faktor risiko mempunyai peran
penting timbulnya PJK mulai dari aspek metabolik, hemostasis, imunologi, infeksi,
dan banyak faktor lain yang saling terkait (Anonim, 2020).

Jantung sanggup berkontraksi tanpa henti berkat adanya suplai bahan-bahan energi
secara terus menerus. Suplai bahan energi berupa oksigen dan nutrisi ini mengalir
melalui suatu pembuluh darah yang disebut pembuluh koroner. Apabila pembuluh
darah menyempit atau tersumbat proses transportasi bahan-bahan energy akan
terganggu. Akibatnya sel-sel jantung melemah dan bahkan bisa mati. Gangguan pada
pembuluh koroner ini yang disebut penyakit jantung koroner (Yahya, 2021).

Pengobatan penyakit jantung koroner dimaksudkan tidak sekedar menggurangi atau


bahkan menghilangkan keluhan. Yang paling penting adalah memelihara fungsi
jantung sehingga harapan hidup akan meningkat (Yahya, 2021). Sebagian besar
bentuk penyakit jantung adalah kronis, pemberian obat umumnya berjangka panjang,
meskipun obat-obat itu berguna tetapi juga memberikan efek samping (Soeharto,
2019). Hal yang perlu diperhatikan dalam pengobatan ada beberapa obat, meskipun
memulihkan keadaan, tidak selalu membuat lebih baik, penggunaan obat harus secara
teratur. Penghentian penggobatan tanpa konsultasi dengan dokter dapat menimbulkan
masalah baru (Soeharto, 2019).

Penggunaan obat yang tidak tepat, tidak efektif dan tidak aman, telah menjadi
masalah tersendiri dalam pelayanan kesehatan. Penggunaan obat dinilai tidak tepat
jika indikasi tidak jelas, pemilihan obat tidak sesuai, cara penggunaan obat tidak
sesuai, kondisi pasien tidak dinilai, reaksi yang tidak dikehendaki, polifarmasi,
penggunaan obat tidak sesuai dan lain-lain. Maka dari itu perlu dilaksanakan evaluasi
ketepatan obat, untuk mencapai pengobatan yang efektif, aman dan ekonomis
(Anonim, 2020).
Adanya keterkaitan penyakit jantung koroner dengan faktor resiko dan penyakit
penyerta lain seperti diabetes melitus dan hipertensi, serta adanya kemungkinan
perkembangan iskemik menjadi infark menyebabkan kompleksnya terapi yang
diberikan. Oleh karena itu, pemilihan jenis obat akan sangat menentukan kualitas
pengguanan obat dalam pemilihan terapi. Obat berperan sangat penting dalam
pelayanan kesehatan. Berbagai pilihan obat saat ini tersedia, sehingga diperlukan
pertimbangan-pertimbangan yang cermat dalam memilih obat untuk suatu
[Link] banyaknya jenis obat yang tersedia dapat memberikan masalah
tersendiri dalam praktik, terutama menyangkut pemilihan dan penggunaan obat secara
benar dan aman.

1.2 Rumus Masalah


1. Bagaimana askep pada pasien penyakit jantung coroner (PJK) ?
2. Bagaimana konsep penyakit coroner (PJK) ?
3. Bagaimana konsep askep penyakit jantung coroner (PJK) ?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui askep pada pasien penyakit jantung koroner (PJK) ?


2. Untuk mengetahui konsep penyakit jantung koroner (JPK)?
3. Untuk mengetahui konsep askep penyakit jantung koroner (PJK) ?
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.2 Konsep Dasar Teori

2.2.1 Defenisi
Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah gangguan fungsi jantung karena adanya
sumbatan atau penyempitan pada pembuluh darah koroner sehingga otot jantung tidak
mendapatkan suplai makanan dan oksigen. Pada saat jantung akan bekerja lebih keras
terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan oksigen, hal ini yang
menyebabkan nyeri dada. Jika pembuliuh darah mengalami sumbatan, pemasokan
darah ke jantung akan terhenti dan kejadian inilah yang disebut dengan serangan
jantung. Adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan oksigen dan kebutuhan
jantung memicu timbulnya PJK (Wijaya, 2019).

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Wijaya, 2019), Penyakit Jantung Koroner (PJK)
adalah gangguan fungsi jantung akibat otot jantung kekurangan darah karena adanya
penyempitan pembuluh darah koroner. Secara klinis, ditandai dengan nyeri dada atau
dada gerasa tertekan berat ketika sedang mendaki/ kerja berat ataupun berjalan
terburu-buru pada saat berjalan di jalan datar atau berjalan jauh. Penyakit Jantung
Koroner terdiri dari penyakit jantng koroner stabil tanpa gejala, angina pectoris stabil,
dan Sindrom Koroner Akut (SKA). Penyakit jantung koroner stabil tanpa gejala
biasanya diketahui dari skrining, sedangkan angina apektoris stabil didapatkan gejala
nyeri dada bila melakukan aktivitas yang melebihi aktivitas sehari-hari.
2.2.2 Anatomi dan Fisiologi
1. Anatomi Jantung

Gambar 1.1 Anatomi jantung

[Link]

Berdasarkan gambar diatas, terdapat beberapa bagian jantung (secara anatomis)


diantaranya yaitu :

a. Aorta merupakan pembuluh darah arteri yang paling besar yang keluar dari

ventrikel sinistra.

b. Atrium kanan berfungsi untuk menampung darah miskin oksigen dari tubuh

melalui vena kava superior dan inferior.

c. Atrium kiri berfungsi untuk menerima darah kaya oksigen dari paru melalui

keempat vena pulmoner. Darah kemudian mengalir ke ventrikel kiri.

d. Ventrikel kanan berupa pompa otot, menampung darah dari atrium kanan dan

memompanya ke paru melalui arteri pulmoner.


e. Ventrikel kiri merupakan bilik paling besar, dan paling berotot, menerima

darah kaya oksigen dari paru melalui atrium kiri dan memompanya ke dalam

system sirkulasi melalui aorta.

f. Arteri pulmonaris membawa darah dari ventrikel dekstra masuk ke paru-paru

(pulmo).

g. Katup trikuspidalis, terdapat di antara atrium dekstra dengan ventrikel desktra

yang terdiri dari 3 katup.

h. Katup bikuspidalis, terdapat di antara atrium sinistra dengan ventrikel sinistra

yang terdiri dari 2 katup.

i. Vena kava superior dan vena inferior mengalirkan darah ke atrium dekstra

yang datang dari seluruh tubuh (Syaifuddin, 2018).

2. Fisiologi Jantung

a. Siklus jantung
Siklus jantung merupakan kejadian yang terjadi dalam jantung selama
peredaran darah. Gerakan jantung terdiri dari dua jenis yaitu konstriksi
(sistole) dan pengendoran (diastole).
b. Siklus konduski
Sistem konduksi otot jantung merupakan rangsangan yang ritmik dan
sinkron. Sistem ini mempunyai jalur konduksi yang khusus di dalam
miokardium.
Jaringan konduksi ini memiliki sifat sebagai berikut:
1) Otomatisasi: Kemampuan mendapat impuls secara spontan.
2) Ritmisasi: Pembangkitan impuls untuk teratur.
3) Kondiktifitas: Kemampuan untuk mengalirkan impuls.
4) Daya Rangsangan: Kemampuan untuk menanggapi impuls
Impuls jantung terdiri dari Nodus Sinoatrial (SA) sebagai pemacu
alami jantung. SA terletak di dalam atrium kanan dekat muara vena kava
superior. Sinyal listrik yang dimulai dari SA kemudian di hantarkan melalui
jalur berkas lalu ke Atrioventrikular (AV) di atas Septum Interventrikel,
kemudian setelah di AV menuju berkas yang ada disebelah kanan septum
interventrikuler, setelah ini berakhir di jaringan yang kompleks yaitu System
purkinje, yang menghantarkan ke seluruh permukaan dalam ke dalam
ventrikel.

2.2.3 Etiologi
Etiologi penyakit jantung koroner adalah adanya pemyempitan, penyumbatan, atau
kelainan pembuluh arteri koroner. Penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah
tersebut dapat menghentikan aliran darah ke otot jantung yang sering ditandai dengan
nyeri. Kondisi yang parah, kemampuan jantung memompa darah dapat hilang. Hal ini
dapat merusak system pengontrol irama jantung dan berakhir pada kematian (Wijaya,
2019).
Menurut (Wijaya, 2019) penyebab terjadinya penyakit jantung koroner pada
prinsipnya disebabkan oleh dua faktor utama yaitu:
[Link]
Aterosklerosis paling sering ditemukan sebagai sebab terjadinya penyakit arteri
koronaria. Salah satu yang diakibatkan steroskerosis adalah penimbunan jaringan
fibrosa atau lipid didalam arteri koronaria, sehingga mempersempit lumen pembuluh
darah secara progresif. Akan membehayakan aliran darah miokardium jika lumen
menyempit karena resistensi terhadap aliran darah meningkat.

2. Trombosis

Gumpalan darah pada mulanya berguna untuk pencegah pendarahan berkelanjutan


pada saat terjadi luka karena merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh.
Lama kelamaan dinding pembuluh darah akan robek akibat dari pengerasan pembuluh
darah yang terganggu dam endapan lemak. Berkumpulnya gumpalan darah dobagian
robek tersebut yang bersatu dengan kepingankepingan darah menjadi trombus.
Trombus dapat menyebabkan serangan jantung mendadak dan stroke.

2.2.4 Manifestasi Klinis


Meskipun kebanyakan penderita PJK mempunyai masalah pokok yang sama, yaitu
penyempitan arteri koronia, namun gejala yang timbul tidak sama. Gejala-gejala
penyakit jantung koroner antara lain (Nurhidayat S, 2020):
1. Nyeri dada
Nyeri dada yang tiba-tiba berlangsung dan berlangsung terus menerus, terletak
dibagian bawah sternum dan perut atas, adalah gejala utama yang biasanya muncul.
Nyeri akan terasa sangat berat sampai tidak tertahankan. Rasa nyeri yang tajam dan
berat, bisa menyebar kebahu dan lengan biasnaya lengan kiri. Tidak seperti nyeri
angina, nyeri muncul secara spontan danmenetap selama beberapa jam sampai hari
dan tidak akan hilang dengan istirahat.
2. Sesak napas
Keluhan ini timbuh sebagai tanda mulai gagal jantung dimana jantung tidak mampu
memompa darah ke paru-paru sehingga oksigen di paru-paru juga kurang.
3. Diaphoresis

Pada fase awal infark miokard terjadi pelepasan katekolamin yang meningkatkan
stimulasi simpasis sehingga terjadi vasokontriksi pembuluh darah perifer sehingga
kulit menjadi lembab, dingin dan berkeringat

4. Pusing

Merupakan salah satu tanda dimana jantung tidak bisa memompa darah ke otak
sehingga suplain oksigen ke otak berkurang.

5. Kelelahan

Disebabkan karena jantung kekurangan oksigen akibat penyemoitan pembuluh


darah.

6. Mual dan muntah

Nyeri yang dirasakan pada pasien dengan penyakit jantung koroner adalah dada dan
daerah perut khususnya ulu hati tergantunga bagian jantng mana yang bermasalah.
Nyeri pada ulu hati bisa merangsang pusat muntah. Area infark merangsang
refleksvasovegal.

2.2.5 Klasifikasi

Pada PJK klasifikasi dapat dibedakan menjadi empat (Wijaya, 2019):

1. Asimtomatik (silent myocardial ischemia) yang tidak pernah mengeluh nyeri

dada baik saat istirahat atau beraktivitas

2. Angina pectoris stabil (STEMI) yaitu nyeriyang berlangsung 1-5 menit dan

hilang timbul dan biasanya terdapat depresi segmen ST pada pengukuran

EKG.
3. Angina pectoris tidak stabil (NSTEMI) yaitu nyeri dada yang berlangsung

bisa lebih dari 5 menit dan terjadi bisa pada saat istirahat biasanya akan

terdapat deviasi segmen ST pada rekaman hasil EKG.

4. Infark miokard yaitu nyeri dada yang terasa ditekan, diremas berlangsung

selama 30 menit atau bahkan lebih biasanya hasil rekanan EKG terdapat

elevasi segmen ST.

2.2.6 Patofisiologi

Menurut (Anggraini, 2022), Penyakit jantung koroner biasanya disebabkan oleh


faktor resiko yang tidak bisa dirubah (umur, jenis kelamin, dan riwayat keluarga)dan
faktor resiko yang bisa dirubah (hipertensi, hyperlipidemia, diabetes mellitus,
merokok, obesitas, stress, dan kurang aktivitas fisik). Paling utama penyebab penyakit
jantung koroner adalah ateroklerosis. Ateroklerosis disebabkan oleh faktor pemicu
yang tidak diketahui yang dapat menyebabkan jaringan fibrosa dan lipoprotein
menunmpuk di dinding arteri. Pada aliran darah lemak diangkut dengan menempel
pada protein yang disebut apoprotein. Keadaan hiperlipedemia dapat merusak
endothelium arteri. Mekanisme potensial lain cedera pembuluh darah mencakup
kelebihan tekanan darah dalam system arteri. Kerusakan endotel itu sendiri dapat
meningkatkan pelekatan dan agregasi trombosit serta menarik leukosit ke area
tersebut. Hal ini meningkatkan LDL (Low Densitiy Lipoprotein) atau biasanya disebut
dengan lemak jahat yang ada dalam darah. Semakin banyak LDL yang menumpuk
maka akan mengalami proses oksidasi.

Plak dapat mengurangi ukuran lumen yang terdapat pada arteri yang terangsang dan
menggangu aliran darah. Plak juga dapat menyebabkan ulkus penyebab terbentuknya
trombus, trombus akan terbentuk pada permukaan plak, dan penimbunan lipid terus
menerus yang dapat menyumbat pembulug darah.

Lesi yang kaya lipid biasanya tidak stabil dan cendrung robek serta terbuka. Apabila
fibrosa pembungkus plak pecah (rupture plak), maka akan menyebabkan debris lipid
terhanyut dalam aliran darah dan dapat menyumbat arteri serta kapilerdi sebelah distal
plak yang pecah. Akibatnya otot jantung pada daerah tersebut mengalami gangguan
aliran darah dan bisa menimbulkan aliran oksigen ke otot jantung berkurang.
Peristiwa tersebut mengakibatkan sel miokardium menjadi iskemik sehingga hipoksia.
Mengakibatkan proses miokardium berpindah ke metabolism anaerob yang
menghasilkan asam laktat sehingga merangsang ujungsaraf otot yang menyebabkan
nyeri.

Jaringan menjadiiskemik dan akhirnya mati (infark) disebabkan karena suplai darah
ke area miokardium terganggu. Ketika sel miokardium mati, sel hancur dan
melepaskan berbagai iso enzim jantung kedalam sirkulasi. Kenaikan kadar kreatinin
kinase (creatinine kinase), serum dan troponin spesifik jantung adalah indikator infark
miokardium.

2.2.7 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan diagnostic meliputi pemeriksaan EKG 12 lead yang dikerjakan waktu


istirahat pemeriksaan radiologis, pemeriksaan laboratorium terutama untuk
menemukan faktor risiko, pemeriksaan ekocardiografi dan radio nuclide miokardial
imaging (RNMI) waktu istirahat dan stress fisis ataupun obat-obatan, sampai
ateriografi koroner dan angiografi ventrikel kiri (Wijaya, 2019). Pemeriksaan
penunjang yang dilakukan selama terjadinya episode nyeri adalah, pantau takikardi
atau disritmia dengan saturasi, rekam EKG lengkapT inverted, ST elevasi atau depresi
dan Q patologis, pemeriksaan laboratorium kadar enzim jantung Creatinin Kinase
(CK), Creatinin Kinase M-B (CKMB), laktat dehydrogenase (LDH), fungsi hati serum
glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) dan serum glutamic pyrivate transaminase
(SGPT), profil lipid Low Desinty Lipoprotein (LDL) dan High Desinty Lipoprotein
(HDL), foto thorax, echocardiografi, kateterisasi jantung (Wijaya, 2013).

2.2.8 Penatalaksanaan

Prinsip penatalaksanaan sebaiknya dilihat secara keseluruhan (holistic) dan


diperlakukan individual mengingat PJK adalah penyakit multi faktor dengan
manifestasi yang bermacam- macam, secara umum klien perlu diberikan penjelasan
mengenai penyakitnya, penjelasan terkait hal-hal yang mempengaruhi keseimbangan
oksigen mioardium, pengendalian faktor risiko, pemberian pencegahan aterosklerosis
pada penbuluh darah lainnya biasanya diberikan Aspirin 375 mg, pemberian oksigen.
Terapi medikantosa difokuskan pada penanganan angina pectoris yaitu, nitrat
diberikan secara parenteral, sublingual, buccal, oral preparatnya (Wijaya, 2019).
2.2.9 Komplikasi

Komplikasi penyakit jantung koroner merupakan segala gangguan medis lainnya yang
diakibatkan karena seseorang mengidap penyakit jantung koroner, dari beberapa
komplikasi yang terjadi bisa disebut bahwa komplikasi penyakit jantung koroner
semuanya memang sangat berbahaya dan bisa menjadi sangat mematikan oleh
karnanya bagi penderita penyakit jantung koroner harus benar-benar mendapatkan
pertolongan medis yang intensif jika dimungkinkan dapat mencoba obat herbal
jantung koroner yang telah terbukti banyak membantu atau menyembuhkan
penderitaan penyakit jantung koroner.

Penyakit komplikasi merupakan penyakit yang timbul dari adanya suatu penyakit
pada tubuh kita dan menimbulkan penyakit-penyakit baru seperti penyakit maag yang
menimbulkan penyakit liver atau hati kemudian berubah menjadi sirosid atau kolestrol
yang tinggi yang bisa menyebabkan penyakit jantung dan lain” atau contoh lain darah
tinggi yang kemudian berubah menjadi stroke dll.
PATHWAY

Ketika kerja jantung meningkat

Arteri koroner tak mampu berdilatasi

Kontraksi jantung Tidak mampu mengalirkan darah dan


menurun O2 tidak adekuat ke jantung

Jantung kekurangan O2
Penurunan curah
jantung

Iskemia otot jantung

Perubahan perfusi
jaringan perifer Proses anerob

Asam laktat

Nyeri b.d iskemia


PH Miocard Ekspansi paru

Perlu menghindari Nyeri Akut O2 tidak seimbang


komplikasi

Pola napas tidak efektif


Kebutuhan energy
Diperlukan pengetahuan sel menurun
tinggi Intoleransi aktivitas

O2 kembali adekuat
Kurang pengetahuan b.d Hambatan mobilitas fisik
devicit knowladge
Sel-sel otot kembali
Asam laktat menghilang
keproses fosforilisasi
Sumber: [Link] oksidatif

Nyeri angina mereda


dengan cepat
2.3 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan adalah metode sistemik untuk mengkaji respon manusia terhadap masalah-
masalah dan membuat rencana keperawatan bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
Masalah-masalah kesehatan dapat berhubungan dengan klien keluarga juga orang terdekat atau
masyarakat. Proses keperawatan adalah suatu proses dalam merencanakan suatu asuhan keperawatan
yang terdiri dari 5 tahap, yaitu pengkajian, diagnose, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Bararh
& Jauhar, 2018).

2.3.1 Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dalam pengumpulan data dan
mengidentifikasi status kesehatan klien. Dalam proses pengkajian ada 2 tahap, yaitu pengumpulan data
dan Analisa data.

a. Pengumpulan Data

Pada tahap ini merupakan kegiatan dalam menghimpun informasi (data-data) dari klien yang
komprehensif secara lengkap dan relavan untuk mengenai klien agar dapat memberi tindakan
keperawatan.

b. Analisa Data

Pada tahap ini merupakan metode yang dilakukan untuk mengaitkan data klien serta
menghubungkan data tersebut dengan konsep relevan keperawatan untuk membuat kesimpulan dalam
menentukan masalah kesehatan pasien dan keperawatan pasien.

1. Identitas

Nama klien, nama panggilan, jenis kelamin,usia. Biasanya usia > 40 tahun beresiko terkena penyakit
jantung koroner (PJK), jumlah saudara, alamat, Bahasa yang digunakan, kebanyakan Penyakit Jantung
Koroner yang sering mengenai lansia atau usia tua dan tidak terdapat perbedaan jenis kelamin.

2. Riwayat Sakit dan Sehat

a. Keluhan utama: Keluhan yang paling sering dijadikan alasan klien merasa nyeri pada dada,

jantung berdebar-debar bahkan sampai sesak nafas.


b. Riwayat Penyakit saat ini: riwayat penyakit sekarang dikaji dimulai dari keluhan yang

dirasakan klien, kemudian dilakukan pengkajian. Pada klien dengan penyakit jantung koroner

biasanya didapatlan adanya keluhan seperti nyeri pada dada. Keluhan nyeri dikaji menggunkan

PQRST sebagai berikut:

Prococatif: nyeri timbul pada saat beraktivitas

Quality: nyeri dirasakan seperti ditekan, rasa terbakar, ditindih benda berat seperti ditusuk, rasa

diperas dan dipelintir

Regional: nyeri dirasakan didada dan bisa menyebar ke bahu

Severity: skla nyeri diukur dengan rentang nyeri 1-10 atau bisa dilihat dari ekspresi wajah

Timing: nyeri timbul secara tiba-tiba dengan durasi kurang lebih 30 menit

c. Riwayat penyakit dahulu : px mengatakan sebelumnya mempunyai penyakit Hipertensi dan

Diabetes Melitus

d. Riwayat penyakit keluarga: adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang

mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang. Yaitu riwayat keluarga dengan

hipertensi dan diabetes mellitus.

e. Riwayat Lingkup Hidup. Meliputi: tipe tempat tinggal, jumlah kamar, jumlah orang yang

tinggal di rumah, derajat privasi, alamat, dan nomor telpon.

f. Riwayat Rekreasi. Meliputi: hoby/minat, keanggotaan organisasi, dan liburan

g. Sumber/ Sistem Pendukung: Sumber pendukung adalah anggota atau staf pelayanan kesehatan

seperti dokter, perawat atau klinik

h. Deksripsi Harian Khusus Kebiasaan Ritual Tidur: Menjelaskan kegiatan yang dilakukan

sebelum tidur. Pada pasien lansia dengan PJK mengalami sulit tidur sehingga dilakukan ritual

ataupun aktivitas sebelum tidur.


i. Obat-Obatan: Menjelaskan obat yang telah dikonsumsi, bagaimana cara mengonsumsinya, atas

nama dokter siapa yang menginstruksikan dan tanggal resep.

j. Nutrisi: Menilai apakah ada perubahan nutrisi dalam makan dan minum, pola konsumsi

makanan dan riwayat peningkatan berat badan. Biasanya pasien dengan PJK perlu memenuhi

kandungan nutrisi seperti karbohidrat, protein, mineral, air, lemak, dan serat. Tetapi diet

rendah garam juga berfungsi untuk mengontrol tekanan darah pada klien.

k. Pengkajian psiko-sosio-spritual: perubahan kepribadian dan perilaku klien, perubahan mental,

kesulitan mengambil keputusan, kecemasan dan ketakutan dan adanya perubahan peran.

3. Pemeriksaan Fisik (ROS: Review Of System)

a. Pernapasan B1 (Breathing)

Bentuk dada normal, pola napas teratur, suara napas normal, tidak sesak napas dan tidak

batuk, tidak ada retraksi dada, tidak ada otot bantu napas.

b. Kardiovaskuler B2 (Blooding) Irama jantung regular, akral dingin, brakikardi, tekanan darah

meningkat

c. Persyarafan B3 (Brain)

Penglihatan (mata): tidak ada penurunan penglihatan, bentuk mata simetris, tidak strabismus,

pupil isokor.

Pendengaran (telinga): bentuk simetris, telinga bersih tidak ada serum, tidak menggunakan alat

bantu dengar.

Penciuman (hidung): bentuk hidung simetris, tidak ada polip, tidak ada kelainan, dapat

merasakan bau.

Pengecapan (lidah): dapat merasakan sensai.


d. Perkemihan B4 (Bladder) Tidak ada nyeri saat BAK, Warna urin kuning jernih.

e. Pencernaan B5 (Bowel) Nafsu makan menurun, porsi makan setengah, pasien mengatakan

mual ketika akan makan.

f. Muskuloskletal/ Integument B6 (Bone) Kemampuan pergerakan sendi terbatas, adanya

kelemahan otot, adanya oedema, tidak ada fraktur.

2.3.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan merupakan cara memutuskan masalah kesehatan actual atau potensial sebagai
dasar untuk menyeleksi respon individu klien atau masyarakat tentang intervensi keperawatan dalam
mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan (Wahyuni, 2016). Diagnosa yang
muncul pada klien dengan penyakit jantung koroner (PJK) yaitu:

1. Nyeri akut berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai darah dan oksigen ke miokardium.

2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas miokardium.

3. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kebutuhan oksigen ke

miokardium berkurang.

4. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan proses asidosis respiratorik.

5. Kelebihan valome cairan berhubungan denganpeningkatan natrium dan air.

6. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot.

7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai darah dan oksigen ke

miokard.

8. Ansietas berhubungan dengan rasa ketakutan akan, ancaman, dan perubahan kesehatan atau

kematian.
2.3.3 Perencanaan

Intervensi menurut SLKI dan SIKI

1. Diagnosa keperawatan 1:

Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisiologi

Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan nyeri pasien berkurang/ hilang.

Kriteria Hasil: keluhan nyeri menurun/ hilang, pasien tidak tampak menyeringai menahan

nyeri, pasien tampak rileks.

Intervensi (SIKI 1.08066 Hal.201):

1. Identifikasi lokasi, karakterisktik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri

Rasional: Dengan mengidentifikasi dapat membantu perawat untuk berfokus pada penyebab

nyeri dan manajemennya.

2. Identifikasi skala nyeri Rasional: Dengan mengetahui skala nyeri pasien dapat membantu

perawat untuk mengetahui tingkat nyeri pasien.

3. Berikan teknik nonfamakologi untuk mengurangi nyeri : relaksasi/kompres

Rasional: Pemberian teknik nonfarmakologi dapat membantu pasien dalam mengurangi

kecemasan nyeri.

4. Kontrol lingkungan yang memperberat nyeri : posisi nyaman pasien

Rasional: untuk mengetahui seberapa jauh pasien mampu mengontrol nyeri.

5. Jelaskan penyebab nyeri

Rasional: Menjelaskan penyebab nyeri dapat mengurangi kecemasan pasien terhadap nyeri

yang dialami.
2. Diagnosa Keperawatan 2:

Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan afterload.

Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan penurunan curah jantung teratasi.

Kriteria Hasil: Tidak ada sianosis, Edema menurun, Pernafasan normal, Tidak oliguria.

Intervensi (SIKI 1.02075 Hal.317)

1. Identifikasi tanda-gejala penurunan curah jantung

Rasional: Dengan mengidentifikasi dapat membantu perawat untuk berfokus pada penyebab

penurunan curah jantung.

2. Monitor tekanan darah

Rasional: dengan memonitoring tekanan darah dapat membantu perawat untuk berfokus pada

nilai tekanan darah.

3. Monitor intake-output cairan

Rasional: Ginjal berespon terhadap penurunan curah jantung dengan mereabsobsi natrium dan

cairan, output urin biasanya menurun selama tiga hari karena perpindahan cairan ke jaringan

tetapi dapat meningkat pada malam hari sehingga cairan berpindah kembali ke sirkulasi bila

klien tidur.

3. Berikan diet jantung yang sesuai

Rasional: Memberikan diet pada pasien dapat membantu mengoptimalkan nutrisi yang benar

pada klien.

4. Berikan terapi relaksasi untuk mengurangi stress

Rasional: terapi relaksasi yang diberikan dapat mengurangi kecemasan klien.

5. Anjurkan beraktivitas fisik sesuai toleransi

Rasional: Dapat membantu meningkatkan kualitas istirahat pasien.


3. Diagnosa Keperawatan 3:

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot

Tujuan: setelah dilakukan asuhan keperawatan jam diharapkan hambatan mobilitas fisik

berkurang/ membaik.

Kriteria Hasil: kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, keluhan lelah

berkurang, tekanan darah dalam batas normal.

Intervensi (SIKI 0.05173 Hal.30)

1. Identifikasi adanya nyeri atau kelainan fisik yang lain

Rasional: Dengan mengidentifikasi dapat membantu perawat untuk berfokus pada penyebab

nyeri dan adanya kelainan fisik.

2. Identifikasi toleransi fisik melakukan pergerakan

Rasional: Dengan mengidentifikasi dapat membantu perawat untuk mengetahui adanya

kelemanan pergerakan.

3. Monitor vital sign dan kondisi

Rasional: Dengan memonitoring TTV dapat membantu perawat untuk berfokus pada nilai

TTV pasien.

4. Fasilitasi mobilisasi dengan alat bantu

Rasional: Dengan fasilitas mobilisasi dapat membantu pasien dalam melakukan mobilisasi.

5. Libatkan keluarga untuk membantu pasien dalam meningkatkan pergerakan

Rasional: Keluarga dapat berperan penting dalam proses penyembuhan pasien.

2.3.4 Implementasi

Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang telah dibuat oleh
untuk mencapai hasil yang efektif dalam pelaksanaan implementasi keperawatan, penguasaan dan
keterampilan dan pengetahuan harus dimiliki oleh setiap perawat sehingga pelayanan yang diberikan
baik mutunya. Dengan demikian rencana yang telah ditentukan tercapai (Wahyuni, 2016).
2.3.5 Evaluasi

Evaluasi adalah penilaian hasil dan proses. Penilaian hasil menentukan seberapa jauh keberhasilan
yang dicapai sebagai keluaran dari tindakan. Dilakukan dengan cara bersinambungan dengan
melibatkan klien, keluarga, dan tenaga kesehatan. Tujuan dari evaluasi yaitu untuk mengetahui
kemampuan klien dalam mencapai tujuan yang telah direncanakan dengan kriteria hasil pada tahap
perencanaan (Wahyuni, 2016).
BAB III

TINJAUAN KASUS
Untuk mendapatkan gambaran nyata tentang pelaksanaan asukan

kegerawatan gawat darurat pada pasien dengan penyakit jantung koroner (PJK) +

Post DCA, maka penulis menyajikan studi kasus yang diamati mulai tanggal 22

Juni 2021, dengan data pengkajian pada tanggal 22 Juni 2021 pukul 12.30 akan

ditampilkan hasil pengkajian, analisa data, intervensi, prioritas masalah,

implementasi dan evaluasi pada Tn. D dengan diagnosa medis penyakit jantung

koroner (PJK) + post DCA. Pasien MRS tanggal 22 Juni 2021 pukul 07.00 WIB.

Anamnesa diperoleh dari pasien dan data pada SIM RS sebagai berikut :

3.1 Pengkajian Keperawatan

3.1.1 Identitas

Pasien adalah seorang laki – laki bernama Tn.D berusia 77 tahun beragama

kristen, bahasa yang sering digunakan adalah bahasa Indonesia. Pasien adalah

seorang pensiunan PNS guru di Surabaya, yang memiliki 4 orang anak yang saat

ini tinggal bersama pasien. Tn. D MRS pada tanggal 22 Juni 2021 pukul 07.00

WIB diruang ICCU – CPU RSPAL Dr. Ramelan Surabaya.

3.1.2 Riwayat Kesehatan

1. Keluhan utama : klien mengatakan merasa nyeri dan kebas dikaki

sebelahkanan

2. Riwayat Penyakit Sekarang :

Pada tahun 2019 pasien mengatakan pernah MRS di RSU Haji dengan

keluhan nyeri dada, pada tahun 2021 bulan februari pasien mengatakan merasa

apek saat beraktifitas yang kemudian melakukan pemeriksaan di RS Mitra lalu


26

dilakukan treadmil dan mendapatkan rujukan ke RSAL untuk dilakukan

tindakan pemasangan DCA. Pasien datang ke RSPAL pada tanggal 22 juni 2021

dan MRS di ruang CPU pada pukul 07.00 wib pasien persipan untuk melakukan

tindakan DCA, 09.30 wib pasien masuk keruangan tindakan kateterisasi jantung

dan selesai pukul 10.15 wib.

3. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien mengatakan memiliki riwayat hipertensi dimulai dari kapan pasien

lupa dan bilang sudah lama, pasien mengatakan pernah MRS di RSU Haji dengan

keluhan nyeri dada. Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat DM.

4. Riwayat Alergi

Tn. D mengatakan tidak memiliki riwat alergi makanan ataupun obata

tertentu

3.1.3 Observasi dan Pemeriksaan Umum

1. Keadaan Umum

Keadaan umum baik, status kesadaran compos metis, berat badan : 70kg,

tinggi badan 165 cm, nadi 6ox permenit, RR : 20x/menit, tekanan darah : 160/67

mmHg, suhu 36,3 C lokasi aksila, dan GCS E : 4 V : 5 M : 6 total 15. Skala nyeri

P (Provoke) : post pemasangan DCA, Q (Quality) nyeri seperti ditusuk – tusuk, R

(Region) pangkal paha kanan, S (Scale) 3 (S : 1 – 5), T (Time) hilang timbul,

belum pernah mengalami nyeri seperti ini kare prosedur pembedahan.

2. B1 (Pernapasan)

Bentuk dada normochest, pergerakan simetris, tidak ada otot bantu nafas,

irama nafas reguler, pola nafas : eupnea, taktik atau vocal fremitus tidak ada,
27

suara nafas vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan, tidak ada batuk, tidak ada

sianosis dan sputum.

3. B2 (Kardiovaskular)

Ictus cordis teraba di ICS 5 midclavicula line sinistra, Nyeri dada tidak ada,

Irama jantung regular, Bunyi jantung S1 S2 tunggal, CRT < 2 detik. Akral hangat,

kering, merah, Pembesaran kelenjar getah bening tidak teraba pembesaran.

Tekanan darah : 160/67 mmHg, nadi : 60 x/menit, lain – lain terpasang infus NS

ditangan kiri 7 tpm. Manifestasi klinik yang biasa terjadi pada kasus penyakit

jantung koroner

4. B3 ( Neurologi )

Kesadaran composmetis, tidak ada pusing, tidak ada disorientasi, GCS 456

total 15, reflek fisiologis : bisep (+/+) trisep (+/+) patella (-/+) achilles (+/+),

reflek patologis : kaku kuduk (-) brudzinki (-) nervus karnial I sampai XII tidak

ada kelainan atau normal, bentuk hidung simetris, septum ditengah, tidak ada

kelainan diindra penciuman, polip tidak ada, wajah dan penglihatan : mata

simetris pupil isokor, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, lapang

pandang kesegala arah, pendengara : telinga simetris, bersih, tidak ada gangguan

pendengaran, lidah : bersih, tidak ada kesulitan untuk menelan dan berbicara.

5. B4 ( Bladder )

Kandung kemih : tidak ada pembesaran dan nyeri tekan, bersih, tidak

menggunakan alat bantu (BAK menggunakan pispot UP spontan 500cc), warna

kuning jernih, tidak ada gangguan dalam buang air kecil.

6. B5 ( Bowel )
28

Mulut pasien bersih, membran mukosa lembab, tidak menggunakan gigi

palsu, faring normal, tidak ada mual dan muntah, tidak ada hilang nafsu makan,

makan 1 porsi habis, minum 200cc.

7. B6 (Bone)

Warna kulit pasien sawo matang, kuku bersih, turgor kulit elastis, ROM

bebas terbatas, kekuatan otot baik, tidak ada fraktur,tidak ada dislokasi dan luka

bakar, ADL dibantu, px sementara bedrest selama 6jam post – DCA, terpasang

bebat tekan pada pangkal paha kanan. Skala nyeri P (Provoke) : post pemasangan

DCA, Q (Quality) nyeri seperti ditusuk – tusuk, R (Region) pangkal paha kanan, S

(Scale) 3 (S : 1 – 5), T (Time) hilang timbul, belum pernah mengalami nyeri

seperti ini kare prosedur pembedahan.

3.1.4 Pemeriksaan Penunjang

Gambar 3.1 Pemeriksaan Penunjang Pasien Tn.D Dengan Diangnosis Penyakit


Jantung Koroner (PJK) + Post DCA Di Ruang ICCU – CPU
RSPAL Dr. Ramelan Surabaya.
29
30

Hari/Tanggal Medikasi Dosis Indikasi

Selasa, 22 juni Remipiril 5 mg 1-0-0 untuk mengobati


2021 hipertensi (tekanan
darah tinggi),
nefropati diabetik,
dan beberapa jenis
gagal jantung
kronis.
atorvastatin 20 mg 0-0-1 Untuk menurunkan
kolestrol

Concor 2,5 0-1-0 obat untuk


mengobati tekanan
darah tinggi
(hipertensi) dengan
kandungan utama
bisoprolol.

3.2 Analisa Data

Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan diagnosa keperawatan yang telah

disesuaikan dengan (SDKI, 2017) sebagai berikut :

Data Etiologi Problem


No
1. DS : Agen pecedera Nyeri Akut
P : post pemasangan DCA atau fisik : prosedur
kateterisasi jantung. operasi
Q : nyeri seperti ditusuk-tusuk
R : pangkal paha kanan
S : 3 ( S : 1-5)
T : hilang timbul, belum pernah
mengalami nyeri seperti ini
karea prosedur pembedahan

DO :
- Terdapat bebat dipangkal
paha sebelah kanan
31

- Bersikap protektif
- TD : 160/60 mmhg
2. DS : pasien mengatakan merasa Program Gangguan mobilitas
kebas di kaki kanan dan pembatasan fisik
menanyakan apakah tidak bisa gerak
mika/miki.

DO :
- Pasien dalam posisi
supinasi
- Terdapat bebat
dipangkal paha sebelah
kanan
- Gerakan terbatas
Tabel 3.2 Analisa Data Pasien Tn.D Dengan Diangnosis Penyakit Jantung
Koroner (PJK) + Post DCA Di Ruang ICCU – CPU RSPAL Dr.
Ramelan Surabaya.

3.3 Intervensi Keperawatan

Berdasarkan diagnosis keperawatan tersebut, penulis menyimpulkan

beberapa luaran keperawatan berdasarkan (SLKI, 2019) dan intervensi

keperawatan berdasarkan (SIKI, 2018) antara lain :

No Masalah Tujuan Kriteria Hasil Intervensi

1. Nyeri Akut Setelah 1. Keluhan 1. Identifikasi


dilakukan nyeri lokasi,
tindakan menurun karakteristik,
keperawatan 2. Meringis durasi,
selama 1x 24 menurun frekuensi,
jam 3. Gelisah kualitas,
diharapkan Menurun intensitas nyeri
tingkat nyeri 2. Identifikasi skala
menurun. nyeri
3. Identifikasi
respons nyeri
non verbal
Terapeutik
4. Berikan teknik
nonfarmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri seperti
tarik napas dalam
Edukasi
32

5. Jelaskan penyebab
nyeri
6. jelaskan strategi
meredakan nyeri
Kolaborasi
7. Kolaborasi
pemberian analgesic
2. Gangguan Setelah 1. Pergerakan Observasi
mobilitas dilakukan ekstremitas 1. Identifikasi kepatuhan
fisik Tindakan meningkat menjalani program
Keperawatan 2. Kekuatan otot pengobatan
selama 1x 24 dari meningkat Terapeutik
jam 3. Rentang gerak 2. Buat komitmen
Diharapkan meningkat menjalani program
Mobilitas 4. Gerakan pengobatan dengan baik
Fisik terbatas 3. Buat jadwal
meningkat. menurun pendampingan keluarga
untuk bergantian
menemani pasien
selama menjalani
program pengobatan,
jika perlu
4. Libatkan keluarga untuk
mendukung program
pengobatan yang
dijalani
Edukasi
5. Informasikan program
pengobatan yang harus
dijalani : mika-miki
minimal 6 jam
6. Informasikan manfaat
yang akan diperoleh jika
teratur menjalani
program pengobatan
7. Anjurkan keluarag
pasien untuk
mendampingi dan
merawat pasien selama
menjalani program
pengobatan
Tabel 3.3 Intervensi Pasien Tn.D Dengan Diangnosis Penyakit Jantung
Koroner (PJK) + Post DCA Di Ruang ICCU – CPU RSPAL Dr.
Ramelan Surabaya.
33

3.4 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan

Berdasarkan intervensi yang telah disusun dan telah dilakukan implementasi beserta evaluasi di dapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 3.4 Intervensi Pasien Tn.D Dengan Diangnosis Penyakit Jantung Koroner (PJK) + Post DCA Di Ruang ICCU – CPU RSPAL Dr.
Ramelan Surabaya.

Hari/Tgl No Waktu Implementasi Paraf waktu Evaluasi formatif SOAPIE


DX / Catatan perkembangan paraf
Selasa /22 1,2 11.30 - Mengkaji nyeri : £ 13.00 DX 1
Juni 2021 P : post pemasangan DCA
Q : ditusuk - tusuk S: £
R : pangkal paha kanan
1,2 £ - Pasien mengatakan nyeri
S:2
berkurang, tapi kaki terasa kebas
1,2 T : hilang timbul
P : post pemasangan DCA
- Menjelaskan penyebab nyeri :
1,2 £ Q : ditusuk - tusuk
akibat post pemasangan DCA
R : pangkal paha kanan
- Menganjurkan untuk teknik
12.05 S:2
non-farmakologis : tarik nafas
T : hilang timbul
dalam £
- Menjelaskan strategi O:
1 13.15 meredakan nyeri : memberikan £
lingkungan yang kondusif - Pasien kooperatif
yang dapat mempengaruhi - Sikap protektif berkurang
nyeri bertambah : cahaya, suhu - TD : 160/60 mmhg
ruangan A : masalah teratasi, nyeri berkurang
2 15.10 - Mengidentifikasi kepatuhan
pasien dalam menjalani anjuran P:
34

2 untuk bedrest sementara 15.00 - Anjurkan dengan tarik nafas


- Mengedukasi program dalam
15.30 pengobatan yang harus dijalani - Pertahankan lingkungan yang
: nyaman dan kondusif yang
a. latihan mika miki jam 16.00 dapat menambah nyeri
wib DX 2 £
b. latihan tekuk kaki pukul
16.30 wib S:
c. latihan duduk 17.00 wib Pasien mengatakan kaki terasa kebas
d. aff bebat tekan besok pagi
dan capek berbaring terus menerus
jam 06.00
e. latihan jalan 06.30 wib O:
2 15.40 - menjelaskan manfaat yang
diperoleh setelah melakukan - terpasang bebat tekan pada
latihan yabf telah dijalani. pangkal paha kanan.
- Melakukan timbang terima A : masalah teratasi sebagian.
1,2 16.00
dengan sihft malam
P:
- latihan mika miki jam 16.00 wib
- latihan tekuk kaki pukul 16.30
wib
- latihan duduk 17.00 wib
- aff bebat tekan besok pagi jam
06.00
- latihan jalan 06.30 wib
BAB 4

PEMBAHASAN

Dalam pembahasan ini penulis akan menguraikan tentang kesenjangan

yang terjadi antara tinjauan kasus dalam asuhan keperawtaan pada pasien dengan

penyakit jantung koroner (PJK) + post DCA ruang ICCU-CPU RSPAL Dr.

Ramelan Surabaya yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaa,

pelaksanaan dan evaluasi.

4.1 Pengkajian

Penulis melakukan pengkajian pada Tn.D dengan melakukan anamnesa

pada pasien dan SIM RS, melakukan pemeriksaan dan mendapatkan data dari

pemeriksaan penunjang medis. Pembahasan akan dimulai dari ;

1. Identitas

Data yang didapatkan, Tn.D berjenis kelamin laki – laki berusia 77 tahun,

pekerjaan pensiunan PNS. Faktor – faktor resiko penyebab dari penyakit jantung

koroner disebutkan bahwa penderita penyakit jantung koroner banyak pada terjadi

pada laki – laki hal dibandingkan perempuan itu sesuai dengan penelitian yang

telah dilakukan oleh (Susilo, 2015)

Faktor resiko selain jenis kelamin usia seseorang juga dapat mempengauri

resiko terkena penyakit jantung korer hal itu juga dijelaskan dalam penelitian

(Pratiwi, Sari & Mirwanti, 2018) yang menjelaskan bahwa bertambahnya usia

akan menyebabkan meningkat pula penderita PJK, karena pembuluh darah

mengalami perubahan progresif dan berlangsung secara terus menerus dalam

jangka waktu yang lama. Perubahan yang paling dini dimulai pada usia 20 tahun

35
36

pada pembuluh arteri koroner. Arteri lain mulai bermodifikasi hanya

setelah usia 40 tahun .

Data pengkajian yang telah penulis lakukan terbukti bahwa ada hubungan

yang aktual pada Tn.D, dan berpendapat kondisi ini bila tidak didukung dengan

pola hidup yang sehat resiko kekambuhan akan sangat mungkin terjadi

2. Keluhan dan Riwayat Penyakit

Keluhan utama pada Tn.D yakni pasien mengatakan merasa nyeri dan

kebas di kaki sebelah kanan yang disebabkan post tindakan invasif pemasangan

DCA, prosedur DCA tersebut yang bertujuan untuk mengvisualisasikan anatomi

untuk mengetahui kondisi dari pembuluh darah arteri koroner. Setelah tindakan

pemasangan DCA di paha kanan pasien dianjurkan untuk bedrest minimal selama

6 jam (Airlangga, 2017)

Riwayat penyakit dahulu, sebelum MRS di RPAL Dr. Ramelan Surabaya

pasien mengatakan pernah mengalami nyeri dada kiri pada tahun 2019 sehingga

harus MRS, sesudahnya pasien melakukan pemeriksaan di salah satu RS swasta di

Surabaya dan di rujuk ke RSPAL Dr. Ramelan selain keluhan nyeri pada dada kiri

yang pernah dialami pasien, pasien mengeluhkan merasa apek saat beraktifitas.

Dari pengkajian yang penulis lakukan dapat terbukti aktual sesuai dengan

penelitian (Rahayu & Amrin, 2016) yang menjukkan bahwa pada pasien dengan

diangnosa penyakit jantung koroner mengeluhkan nyeri dada sebelah kiri.

4.2 Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik didapatkan beberapa masalah yang dapat digunakan

sebagai acuan dala dalam menegakkan diagnosa keperawatan baik risiko maupun
37

aktual. Pemeriksaan fisik dilakukan berdasarkan pengkajian persistem seperti

dibawah ini :

1. B1 (sistem pernapasan )

Pemeriksaan fisik pada B1 didapatkan hasil Bentuk dada normochest,

pergerakan dada yang simetris, tidak terdapat otot bantu nafas, irama nafas yang

reguler, pola nafas : eupnea, taktik atau vocal fremitus tidak ada, suara nafas

vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan, tidak ada batuk, tidak ada sianosis,

sputum dan saturasi oksigen 100% . penyakit jantung koroner disebabkan karena

adanya penyempitan pembuluh dara arteri koroner yang menyebabkan penurunan

aliran darah ke jantung dan cardiac output yang menyebabkan kompensasi

ventrikel kiri dan sekresi pulmonal menurun sehingga muncul masalah

keperawatan ketidakefektifan pola nafas (Putra, 2018) yang ditandai dengan

saturasi oksigen turun, pasien merasa sesak. Dalam pengkajian sistem pernapasan

tidak terdapat masalah keperawatan karena tidak didapatkan gangguan pada

sistem pernapasan pada saat penulis melakukan pengkajian. Penulis perpendapat

kondisi yang dialami oleh pasien yang menunjukkan tidak ada keluhan atau

masalah karena faktor risiko yang dapat diubah, pasien telah melakukan dengan

memodifikasi kebiasan hidup dengan mengkonsumsi makan- makanan sehat dan

berolahraga.

2. B2 (sistem kardiovaskular )

Sistem kardiovaskuler tidak didapatkan adanya kelainan pada suara bunyi

jantung, Ictus cordis teraba di ICS 5 midclavicula line sinistra, Nyeri dada tidak

ada, Irama jantung regular, Bunyi jantung S1 S2 tunggal, CRT < 2 detik. Akral

hangat, kering, merah, Pembesaran kelenjar getah bening tidak teraba


38

pembesaran. Tekanan darah : 160/67 mmHg, nadi : 60 x/menit, lain – lain

terpasang infus NS ditangan kiri 7 tpm.

Adanya tekanan darah yang meningkat hal itu bisa disebabkan karena pasien

sebelumnya sudah memiliki riwayat hipertensi, komplikasi dari hiperten dapat

menyebabkan penyakit jantung salah satunya penyakit jantung koroner hal itu

didukung oleh penelitian (Bangsawan, 2013) yang menunjukkan bahwa hipertensi

memiliki komplikasi yakni penyakit jantung, namun pada penelitian tersebut tidak

menunjukkan hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan hipertensi yang

terkontrol mempercepat terjadinya penyakit jantung.

3. B3 (sistem persyarafan )

Kesadaran composmetis, tidak ada pusing, tidak ada disorientasi, GCS 456

total 15, reflek fisiologis : bisep (+/+) trisep (+/+) patella (-/+) achilles (+/+),

reflek patologis : kaku kuduk (-) brudzinki (-) nervus karnial I sampai XII tidak

ada kelainan atau normal, bentuk hidung simetris, septum ditengah, tidak ada

kelainan diindra penciuman, polip tidak ada, wajah dan penglihatan : mata

simetris pupil isokor, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, lapang

pandang kesegala arah, pendengara : telinga simetris, bersih, tidak ada gangguan

pendengaran, lidah : bersih, tidak ada kesulitan untuk menelan dan berbicara.

Gangguan pada sistem neurologi pada pasien penyakit jantung koroner karena ada

penyempitan pembuluh darah arteri yang menjadi suplai darah pada jantung

berkurang sehingga terjadi ketidakseimbangan suplai O2 mempengaruhi

metabolisme anaerob meningkatnya asam laktat (Putra, 2018) Penulis

berpendapat dari hasil pengkajian yang telah dilakukan di dapatkan pada pasien

Tn.D bahwa tidak terdapat gejala atau gangguan pada sistem persyarafan dan
39

menunjukkan bahwa tidak ada masalah keperawatan yang muncul pada sistem

persyarafan.

4. B4 (sistem perkemihan )

Kandung kemih : tidak ada pembesaran dan nyeri tekan, bersih, tidak

menggunakan alat bantu (BAK menggunakan pispot UP spontan 500cc), warna

kuning jernih, tidak ada gangguan dalam buang air kecil. Penyempitan pembuluh

darah arteri yang terjadi pada penyakit jantung koronen menyebabkan suplai

darah pada jantung berkurang sehingga terjadi ketidakseimbangan suplai O2,

perfusi jaringan menurun yang dapat menyebabkan perfusi ginjal menurun dan

produksi urin menurun muncul masalah retensi urin dan resiko ketidakefektifan

perfusi jaringan (Wicaksono, 2020) Penulis berpendapat bahwa pasien setelah

dilakukan pengkajian output/BAK atau gangguan sistem perkemihan tidak terjadi

gangguan sehingga masalah keperawatan tidak muncul pada sistem perkemihan.

5. B5 ( sistem pencernaan)

Mulut pasien bersih, membran mukosa lembab, tidak menggunakan gigi

palsu, faring normal, tidak ada mual dan muntah, tidak ada hilang nafsu makan,

makan 1 porsi habis, minum 200cc. Penulis berpendapat bahwa tidak ada masalah

keperawatan yang muncul pada sistem pencernaan.

6. B6 (integumen dan muskuloskeletal)

Warna kulit pasien sawo matang, kuku bersih, turgor kulit elastis, ROM

bebas terbatas, kekuatan otot baik, tidak ada fraktur,tidak ada dislokasi dan luka

bakar, ADL dibantu, px sementara bedrest selama 6jam post – DCA, terpasang

bebat tekan pada pangkal paha kanan. Skala nyeri P (Provoke) : post pemasangan

DCA, Q (Quality) nyeri seperti ditusuk – tusuk, R (Region) pangkal paha kanan, S
40

(Scale) 2 (S : 1 – 5), T (Time) hilang timbul, belum pernah mengalami nyeri

seperti ini kare prosedur pembedahan. Nyeri yang dialami oleh pasien sesuai

dengan temuan yang telah dilakukan oleh (Khordiyati, 2016). Dari hasil

pengkajian yang telah dilakukan oleh penulis berpendapat adanya masalah

keperawatan yakni nyeri, nyeri yang dialami oleh pasien disebabkan dari tindakan

infasif DCA yang memberikan efek nyeri. Selain itu post prosedur DCA mobilitas

fisik pasien terganggu sehingga pasien dianjurkan untuk bedrest minimal 6 jam

post DCA.

4.3 Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pecedera fisik: prosedur operasi

(SDKI, 2017) Hasil pengkajian yang diperoleh data subjektif meliputi

Skala nyeri P(Provoke) : post pemasangan DCA, Q (Quality) nyeri

seperti ditusuk – tusuk, R (Region) pangkal paha kanan, S (Scale) 3

(S : 1 – 5), T (Time) hilang timbul, belum pernah mengalami nyeri

seperti ini karena prosedur pembedahan. Yang ditandai dengan data

objektif terdapat bebat dipangkal paha kanan, pasien bersikap posesif

dan berhati – hati, tekanan darah 160/60 mmHg. Dalam SDKI (PPNI,

2016) gejala dan tanda mayor nyeri : pasien mengeluh nyeri, pasien

tampak meringis, bersikap protektif, gelisah, frekuensi nadi

meningkat, sulit tidur. penulis berpendaat gejala dan tanda nyeri yang

dialami pasien telah sesuai, dari hasil pengkajian : pasien mengeluh

nyeri, pasien bersikap protektifdan meringis. Nyeri yang terjadi pada

pasien post DCA dikarenakan adala luka bekas tindakan invasif dan

bebat dipangkal paha (Khordiyati, 2016)


41

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan program pembatasan gerak

(SDKI, 2017),Keterbatasan dalam gerakan fisik dari satu atau lebih

ekstermitas. Hasil pengkajian yang diperoleh ditandai dengan pasien

mengatakan merasa kebas di kaki kanan dan menyakan apakah tidak bisa

miring kanan dan miring kekiri, penyebab dari gangguan mobilitas fisik

pada pasien disebabkan program pembatasan gerak. Program pembatasan

gerak pada pasien karena post tindakan DCA dan terdapat bebat dipangkal

paha sebelah kanan, pasien dalam posisi supinasi selama minimal 6 jam,

gerakan terbatas. Gangguan imobilisasi pada pasien karen dilakukan

pembebatan pada daerah tindakan untuk mencegah perdarahan yang harus

dilakukan sela 6 jam post tindakan (Khordiyati, 2016)

4.4 Intervensi

1. Nyeri akut Nyeri akut berhubungan dengan agen pecedera fisik: prosedur

operasi (SDKI, 2017) kategori psikologis subkategori nyeri dan

kenyamanan D.0077 hal : 172 Tujuan dan kriteria hasil : setelah dilakukan

tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan tingat nyeri menurun

dengan kriteria hasil : keluhan nyeri menurun, meringis menurun, gelisah

menurun (SLKI, 2019). Rencana tindakan keperawatan, manajemen nyeri

(I.08238) observasi : identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,

kualitas, intensitas nyeri, Identifikasi skala nyeri, Identifikasi respons nyeri

non verbal, terapeutik : berikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi

rasa nyeri seperti tarik nafas dalam, edukasi : dengan memberikan

penjelasan penyebab nyeri, jelaskan strategi meredakan nyeri, kolaborasi

pemberian analgesic (jika perlu). Intervensi nyeri bisa dilakukan


42

dengan teknik tarik nafas dalam hal itu dapat membantu pasien lebih rileks

dan dapat mengurangi rasa nyeri itu sendiri (Utomo, 2020)

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan program pembatasan gerak

(SDKI, 2017) kategori fisiologis subkategori aktivitas/istirahat D.0054 hal

124 Tujuan dan kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan

selama 1x24 jam diharapkan mobilitas fisik meningkat dengan kriteria

hasil pergerakan ekstermitas meningkat kekuatan otot meningkat, rentang

gerak meningkat, dan gerakanterbatas menurun. Tindakan keperawatan

dengan dukungan kepatuhan program pengobatan : observasi dengan

mengidentifikasi kepatuhan menjalani program pengobatan, buat

komitmen menjali program pengobatan dengan baik, buat jadwal

pendampingan keluarga untuk bergantian menemani pasien selama

menjalani program pengobatan, jika perlu libatkan keluarga untuk

mendukung program pengobatan yang dijalani, edukasi : informasikan

program pengobatan yang harus dijalani : tidak boleh miring kanan –

miring kiri minimal 6 jam post DCA, informasikan manfaan yang akan

diperoleh jika mematuhi program pengobatan (SIKI, 2018)

4.5 Implemntasi Keperawatan

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pecedera fisik: prosedur operasi

(SDKI, 2017) Pelaksanaan rencana yang telah diimplementasikan pada

pasien sesuai dengan kondisi pasien, implementasi dilakukan sejak tanggal

22 juni 2021. Implementasi yang dilakukan pada tanggal 22 juni 2021 pada

pukul 11.30 wib. melakukan observasi tanda-tanda vital pasien : TD

160/60 mmHg, HR 60x/menit,


43

RR 20x/menit, T 36.3 C,: makan dan minum siang, mengkaji nyeri :

provoke post pemasangan DCA, Quality seperti ditusuk- tusuk, Region

pangkal paha kanan, Scale 2, Time hilang timbul, 13.00 wib menjelaskan

penyebab nyeri : akibat post pemasangan DCA, 13.15 menganjurkan untuk

melakukan tek nik non- farmakologis : tarik nafas dalam, 16.00 wib

melakukan timbang terima dengan shift malam . Dalam pelaksanaan atau

implementasi keperawatan yang telah penulis lakukan perencanaan

keperawatan kolaborasi dengan pemberian analgesik tidak terlaksana yang

didasari dengan resep terapi yang diberikan oleh dokter tidak ada terapi

anti nyeri dan keterbatasan waktu sehingga penulis tidak dapat menggali

data lebih dalam.

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan program pembatasan gerak

(SDKI, 2017) Pelaksanaan rencana yang telah diimplementasikan pada

pasien sesuai dengan kondisi pasien, implementasi dilakukan sejak tanggal

22 juni 2021. Implementasi yang dilakukan pada tanggal 22 juni 2021

pada pukul 15.10 memberikan lingkungan yang kondusif yang dapat

mempengaruhi nyeri bertambah : cahaya, suhu ruangan. Pukul 16.10

mengidentifikasi kepatuhan pasien dalam menjalani anjuran untuk bedrest

sementara.

a. Evaluasi Keperawatan

Setelah diberikan intervensi dan implementasi pada pasien Tn.D dengan

PJK + post DCA , penulis melakukan evaluasi selama proses keperawatan

tersebut sebagai berikut:

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pecedera fisik: prosedur operasi

(SDKI, 2017)
44

Setelah dilakukan intervensi dan implementasi keperawatan pada pasien

Tn, D dengan PJK + Post DCA, dilakukan evaluasi keperawatan pada tanggal 22

Juni 2021, didapatkan masalah teratasi sebagian ditandai dengan pasien

mengatakan nyeri berkurang dengan skala nyeri turun menjadi 2, tapi kaki terasa

kebas. Hasil pemeriksaan tanda - tanda vital, Tekanan Darah : 160/60 mmHg.

Dari data tersebut membuktikan masalah teratasi sebagaian oleh karena itu

perawat memberikan planning untuk tetap mempertahankan skala nyeri

berkurang, pasien tidak mengeluh nyeri.

2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan program pembatasan gerak

(SDKI, 2017)

Setelah dilakukan intervensi dan implementasi keperawatan pada pasien

Tn, D dengan PJK + Post DCA, dilakukan evaluasi keperawatan pada tanggal 22

Juni 2021, didapatkan masalah teratasi sebagian ditandai dengan pasien

mengatakan kaki terasa kebas dan capek berbaring terus menerus. Dari data

tersebut membuktikan masalah belum teratasi oleh karena itu perawat tetap

mempertahankan tindakan keperawatan. Rencana tindakan yang dilakukan adalah

lanjutkan intervensi 1,2,3,4 dan 5.


BAB 5

PENUTUP

Setelah penulis melakukan pengamatan dan melakukan asuhan keperawatan

pada Tn. D dengan diagnosa penyakit jantung koroner + post DCA Ruang ICCU –

CPU RSPAL Dr. Ramelan Surabaya, sebagai penulis didapatkan menarik

beberapa kesimpulan sekaligus saran yang dapat meningkatkan mutu asuhan

keperawatan pasien dengan diagnosa penyakit jantung koroner + post DCA.

5.1 Simpulan

1. Pengkajian yang diperoleh dari Tn. D berfokus pada nyeri yang

dikeluhkan oleh pasien, nyeri dan kebas di kaki kanan pasien nampak ada

bebat post DCA yang menyebabkan pembatasan gerak minimal selama 6

jam dan beberapa kali pasien menanyakan apakah sudah bisa utuk miring

kanan dan kiri karena sudah tidak tahan.

2. Diagnosa keperawatan pada Tn. D adalah nyeri akut berhubungan dengan

agen pecedera fisiologis : prosedur ivasif karena pasien mengeluh akan

nyeri post DCA yang ditandai dengan pasientampak protektif, tekanan

darah meningkat dandiagnosa keperawatan kedua yakni gangguan

mobilitas fisik berhubungan dengan pembatasan gerak hal itu ditandai

dengan pasien yang tidak dianjurkan untuk miring kanan – kiri minimal 6

jam post DCA.

3. Perencanaan disesuaikan dengan intervensi utama dan pendukung pada

setiap diagnosis yang diangkat: Nyeri akut Nyeri akut berhubungan

dengan agen pecedera fisik: prosedur operasi (SDKI, 2017) kategori

psikologis subkategori nyeri dan kenyamanan. Tujuan dan kriteria hasil :

45
46

setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan

tingat nyeri menurun dengan kriteria hasil : keluhan nyeri menurun,

meringis menurun, gelisah menurun (SLKI, 2019). Rencana tindakan

keperawatan, manajemen nyeri observasi : identifikasi lokasi,

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri, Identifikasi skala

nyeri, Identifikasi respons nyeri non verbal, terapeutik : berikan teknik

non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri seperti tarik nafas dalam,

edukasi : dengan memberikan penjelasan penyebab nyeri, jelaskan strategi

meredakan nyeri.

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan program pembatasan gerak

(SDKI, 2017) kategori fisiologis subkategori aktivitas/istiraha. Tujuan dan

kriteria hasil : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam

diharapkan mobilitas fisik meningkat dengan kriteria hasil pergerakan

ekstermitas meningkat kekuatan otot meningkat, rentang gerak meningkat,

dan gerakanterbatas menurun. Tindakan keperawatan dengan dukungan

kepatuhan program pengobatan : observasi dengan mengidentifikasi

kepatuhan menjalani program pengobatan, buat komitmen menjali

program pengobatan dengan baik, buat jadwal pendampingan keluarga

untuk bergantian menemani pasien selama menjalani program pengobatan,

jika perlu libatkan keluarga untuk mendukung program pengobatan yang

dijalani, edukasi : informasikan program pengobatan yang harus dijalani :

tidak boleh miring kanan – miring kiri minimal 6 jam.

4. Pelaksanaan tindakan yang dilakukan yaitu melakukan observasi nyeri

pasien, memberikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri,


47

menjelaskan penyebab nyeri. Selain itu, dalam meningkatkan mobilitas

fisik pelaksanaan tindakan yaitu : membuat komitmen program

pembatasan gerak, menganjurkan pasien untuk bedrest minimal 6 jam,

latihan miring kanan – kiri untuk melatih mobilitas.

5. Evaluasi yang diperoleh setelah dilakukan asuhan keperawatan pasien

mengatakan nyeri berkurang, dan pasien diajarkan bagaimana cara untuk

menangani nyeri dengan cara non-farmakologis : tarik nafas dalam, dan

untuk diagnosa kedua evaluasi yang didapatkan pasien diedukasi untuk

mobilitas secara bertahap seperti miring kanan –kiri terlebih dahulu, yang

dilanjutkan dengan belajar duduk, belajar berjalan.

5.2 Saran

1. Bagi Pasien

Untuk mencapai hasil keperawatan yang diharapkan diperlukan hubungan

yang baik dan keterlibatan dari pasien itu sendiri serta dibantu tim

kesehatan lainnya dalam memberikan asuhan keperawatan.

2. Bagi Mahasiswa

Diharapkan mahasiswa dapat lebih meningkatkan ilmu pengetahuan,

keterampilan dan mempelajari perkembangan evidance base yang dapat

bermanfaat dimasa yang akan datang dalam memberikan asuhan

keperawatan pada pasien.

3. Bagi Perawat

Dalam meningkatkan mutu asuhan keperawatan yang profesional, perawat

diharapkan tetap menerapkan caring dan komunikasi terapeutik dalam


48

memwujudkan pemberian asuhan keperawatan secara holistik terhadap

pasien serta pelaksanaan tindakan keperawatan.

4. Bagi Rumah Sakit

Diharapkan hasil studi kasus ini dapat menjadi acuan bagi rumah sakit

untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan dan mempertahankan

hubungan yang baik antara tim kesehatan maupun dengan pasien, sehingga

dapat meningkatkan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang opotimal

terutama pasien dengan penyakit jantung koroner + post DCA (Diagnostic

Coronary Angiography).
DAFTAR PUSTAKA

Airlangga, U. (2017) Layanan Laboratorium Kateterisasi (Cathlab) Rs Univ.


Airlangga Surabaya. Available At:
Https://[Link]/Website/Cath-Lab/.

Bangsawan, M. (2013) „Faktor Risiko Yang Mempercepat Terjadinya Komplikasi


Gagal Jantung Pada Klien Hipertensi Merah‟, Ix(2), Pp. 145–150.
Cahyani, F. And Handayani, S. (2016) „Hubungan Karakteristik Dengan Gejala
Penyakit Jantung Koroner‟.
Dursun, P. (2012) „Konsep Penyakit Jantung‟, Keperawatan, 66(December), Pp.
37–39.
Kemenkes Ri (2014) „Situasi Kesehatan Jantung‟, Pusat Data Dan Informasi
Kementerian Kesehatan Ri, P. 3. Doi: 10.1017/Cbo9781107415324.004.

Khordiyati, N. S. (2016) „Efektifitas Kombinasi Terapi Musik Dan Teknik


Relaksasi Nafas Dalam Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pada Pasien
Post Kateterisasi Jantung Di Rsup [Link] Yogyakarta‟, 6(1), Pp. 50–65.
Mandagi, I. V., Sudirman, S. And Yani, A. (2019) „Penyakit Jantung Koroner‟,
(147), Pp. 5–9. Doi: 10.31227/[Link]/Stwk5.
Nurhastuti (2019) „Asuhan Keperawatan Kebutuhan Rasa Aman Nyaman Pada
Ny. I. F. L. Dengan Diagnosa Coronary Artery Disease (Cad) Di Ruang
Iccu Rsud Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang Oleh‟.
Padila (2013) Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Yogyakarta: Nuha Medika.
Ppni, Tim Pokja S. D. (2016) Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. 1st

Edn. Jakarta Selatan: Ppni.


Ppni, Tim Pokja S. D. (2018a) Stabdar Intervensi Keperawatan Indonesia. 2nd Edn.
Jakarta Selatan: Ppni.

Ppni, Tim Pokja S. D. (2018b) Standar Luaran Keperawatan Indonesia. 2nd Edn.
Jakarta Selatan: Ppni.
Pratiwi, S. H., Sari, E. A. And Mirwanti, R. (2018) „Faktor Risiko Penyakit
Jantung Koroner Pada Masyarakat Pangandaran‟, Jurnal Keperawatan Bsi,
6(2), Pp. 176–183. Available At:
Http://[Link]/Ejurnal/[Link]/Jk/Article/View/3840.
Putra, O. (2018) „Web Of Causation‟. Available At:
Https://[Link]/Document/375256596/Woc-Pjk-Docx.
Rahayu, S. And Amrin, A. (2016) „Pengaruh Intervensi Nonfarmakologi Dan
Farmakologi Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pada Pasien Penyakit
Jantung Koroner Di Ruang Iccu Rsu Kota Langsa Tahun 2012‟, (Jkg)
Jurnal Keperawatan Global, 1(1), Pp. 11–15. Doi: 10.37341/Jkg.V1i1.9.
Sdki, P. (2017) Standar Asuhan Keperawatan Indonesia. 1st Edn. Edited By D.
Ppni. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia.

Siki, P. (2018) Standart Intervensi Keperawatan Indonesia. 1st Edn. Edited By Tim
Pokja S. D. Ppni. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.
Slki, P. (2019) Standar Luaran Keperawatan Indonesia : Definisi Dan Kriteria Hasil
Keperawatan. 1st Edn. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.

Suherwin (2018) „Hubungan Usia, Jenis Kelamin Dan Riwayat Penyakit Dengan

Kejadian Penyakit Jantung Koroner Di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Tk


Ii Dr. Ak. Gani Palembang Tahun 2016‟, Aisyiyah Medika, 1, Pp. 89–97.
Susilo, C. (2015) „Identifikasi Faktor Usia, Jenis Kelamin Dengan Luas Infark

Miokard Pada Penyakit Jantung Koroner (Pjk) Di Ruang Iccu Rsd Dr. Soebandi
Jember‟, The Indonesian Journal Of Health Science, 6(1), Pp. 1– 7.

Utomo, C. S. (2020) „Penerapan Teknik Relaksasi Nafas Dalam Guna


Menurunkan Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Apendiktomi Di Rumah Sakit
Umum Daerah Dr.R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga‟, Journal Of Nursing
And Health, 5(2), Pp. 84–94. Doi: 10.52488/Jnh.V5i2.121.

Wicaksono, S. (2020) „Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner (Pjk) Pada Pasien
Rawat Inap Di Intensive Cardiovascular Care Unit (Iccu) Rsud Dr M Yunus
Bengkulu‟, Kesmas Indonesia, 12(1), P. 26. Doi: 10.20884/[Link].2020.12.1.1662.

Sumber: [Link]

Sumber: [Link]

Wiruh, R. A. (2016). Family Nursing in The ICU: The Sistematic Literature


Review. School of Health Care and Social Work Degree Programe in Nursing.

Oktavianus, & Rahmawati, A. (2014). Patofisiologi Kardiovaskular. Graha Ilmu.

Majid, A. (2017). Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem


Kardiovaskular. Pustaka Baru Press.

Anda mungkin juga menyukai