Asuhan Keperawatan Penyakit Jantung Koroner
Asuhan Keperawatan Penyakit Jantung Koroner
JANTUNG KORONER
Disusun oleh:
Kelompok 13
Dosen Pembimbing:
T.A 2022/2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusunan sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
rahmat-nya penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah “ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT TROPIS
DEGENARATIF’’. Penyusun mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang
telah membantu menyelesaikan makalah ini dengan baik dan lancar.
Penyusunan menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu,
segala kritikan dan saran yang membangun akan kami terima dengan lapang dada
sebagai wujud koreksi atas diri tim penyusun yang masih belajar. Akhir kata, semoga
makalah ini bermanfaat bagi kitra semua.
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................... v
DAFTAR ISI ....................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL.................................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xi
BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 3
1.3.1 Tujuan Umum ............................................................................................ 3
1.3.2 Tujuan Khusus ........................................................................................... 3
1.4 Manfaat Karya Tulis Ilmiah ..................................................................... 4
1.5 Metoda Penulisan ..................................................................................... 5
1.5.1 Metoda ....................................................................................................... 5
1.5.2 Tehnik pengumpulan data .......................................................................... 5
1.5.3 Sumber data ............................................................................................... 6
1.5.4 Sistematika Penulisan ................................................................................ 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 7
2.1 Konsep Penyakit Jantung Koroner ........................................................... 7
2.1.1 Definisi ....................................................................................................... 7
2.1.2 Etiologi ....................................................................................................... 7
2.1.3 Patofisiologis.............................................................................................. 8
2.1.4 Manifestasi Kliniks .................................................................................. 10
2.1.5 Pemeriksaan Penunjang ........................................................................... 11
2. 2 Prosedur Pemasangan DCA ................................................................... 14
BAB 3 TINJAUAN KASUS................................................................................ 24
3.1 Pengkajian Keperawatan ......................................................................... 25
3.1.1 Identitas .................................................................................................... 25
3.1.2 Riwayat Kesehatan .................................................................................. 25
3.1.3 Observasi dan Pemeriksaan Umum ......................................................... 26
3.1.4 Pemeriksaan Penunjang ........................................................................... 28
3.2 Analisa Data ............................................................................................ 30
3.3 Intervensi Keperawatan .......................................................................... 31
3.4 Implementasi dan Evaluasi Keperawatan ............................................... 33
BAB 4 PEMBAHASAN ...................................................................................... 35
4.1 Pengkajian .............................................................................................. 35
4.2 Pemeriksaan Fisik................................................................................... 36
4.3 Diagnosa Keperawatan ........................................................................... 40
4.4 Intervensi ................................................................................................ 41
4.5 Implemntasi Keperawatan ...................................................................... 42
4.6 Evaluasi Keperawatan ............................................................................ 43
BAB 5 PENUTUP ................................................................................................ 45
viii
5.1 Simpulan ................................................................................................. 45
5.2 Saran ....................................................................................................... 47
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………...49
BAB I
PENDAHULUAN
Jantung sanggup berkontraksi tanpa henti berkat adanya suplai bahan-bahan energi
secara terus menerus. Suplai bahan energi berupa oksigen dan nutrisi ini mengalir
melalui suatu pembuluh darah yang disebut pembuluh koroner. Apabila pembuluh
darah menyempit atau tersumbat proses transportasi bahan-bahan energy akan
terganggu. Akibatnya sel-sel jantung melemah dan bahkan bisa mati. Gangguan pada
pembuluh koroner ini yang disebut penyakit jantung koroner (Yahya, 2021).
Penggunaan obat yang tidak tepat, tidak efektif dan tidak aman, telah menjadi
masalah tersendiri dalam pelayanan kesehatan. Penggunaan obat dinilai tidak tepat
jika indikasi tidak jelas, pemilihan obat tidak sesuai, cara penggunaan obat tidak
sesuai, kondisi pasien tidak dinilai, reaksi yang tidak dikehendaki, polifarmasi,
penggunaan obat tidak sesuai dan lain-lain. Maka dari itu perlu dilaksanakan evaluasi
ketepatan obat, untuk mencapai pengobatan yang efektif, aman dan ekonomis
(Anonim, 2020).
Adanya keterkaitan penyakit jantung koroner dengan faktor resiko dan penyakit
penyerta lain seperti diabetes melitus dan hipertensi, serta adanya kemungkinan
perkembangan iskemik menjadi infark menyebabkan kompleksnya terapi yang
diberikan. Oleh karena itu, pemilihan jenis obat akan sangat menentukan kualitas
pengguanan obat dalam pemilihan terapi. Obat berperan sangat penting dalam
pelayanan kesehatan. Berbagai pilihan obat saat ini tersedia, sehingga diperlukan
pertimbangan-pertimbangan yang cermat dalam memilih obat untuk suatu
[Link] banyaknya jenis obat yang tersedia dapat memberikan masalah
tersendiri dalam praktik, terutama menyangkut pemilihan dan penggunaan obat secara
benar dan aman.
1.3 Tujuan
TINJAUAN TEORITIS
2.2.1 Defenisi
Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah gangguan fungsi jantung karena adanya
sumbatan atau penyempitan pada pembuluh darah koroner sehingga otot jantung tidak
mendapatkan suplai makanan dan oksigen. Pada saat jantung akan bekerja lebih keras
terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan dan asupan oksigen, hal ini yang
menyebabkan nyeri dada. Jika pembuliuh darah mengalami sumbatan, pemasokan
darah ke jantung akan terhenti dan kejadian inilah yang disebut dengan serangan
jantung. Adanya ketidakseimbangan antara ketersediaan oksigen dan kebutuhan
jantung memicu timbulnya PJK (Wijaya, 2019).
Menurut Riset Kesehatan Dasar (Wijaya, 2019), Penyakit Jantung Koroner (PJK)
adalah gangguan fungsi jantung akibat otot jantung kekurangan darah karena adanya
penyempitan pembuluh darah koroner. Secara klinis, ditandai dengan nyeri dada atau
dada gerasa tertekan berat ketika sedang mendaki/ kerja berat ataupun berjalan
terburu-buru pada saat berjalan di jalan datar atau berjalan jauh. Penyakit Jantung
Koroner terdiri dari penyakit jantng koroner stabil tanpa gejala, angina pectoris stabil,
dan Sindrom Koroner Akut (SKA). Penyakit jantung koroner stabil tanpa gejala
biasanya diketahui dari skrining, sedangkan angina apektoris stabil didapatkan gejala
nyeri dada bila melakukan aktivitas yang melebihi aktivitas sehari-hari.
2.2.2 Anatomi dan Fisiologi
1. Anatomi Jantung
[Link]
a. Aorta merupakan pembuluh darah arteri yang paling besar yang keluar dari
ventrikel sinistra.
b. Atrium kanan berfungsi untuk menampung darah miskin oksigen dari tubuh
c. Atrium kiri berfungsi untuk menerima darah kaya oksigen dari paru melalui
d. Ventrikel kanan berupa pompa otot, menampung darah dari atrium kanan dan
darah kaya oksigen dari paru melalui atrium kiri dan memompanya ke dalam
(pulmo).
i. Vena kava superior dan vena inferior mengalirkan darah ke atrium dekstra
2. Fisiologi Jantung
a. Siklus jantung
Siklus jantung merupakan kejadian yang terjadi dalam jantung selama
peredaran darah. Gerakan jantung terdiri dari dua jenis yaitu konstriksi
(sistole) dan pengendoran (diastole).
b. Siklus konduski
Sistem konduksi otot jantung merupakan rangsangan yang ritmik dan
sinkron. Sistem ini mempunyai jalur konduksi yang khusus di dalam
miokardium.
Jaringan konduksi ini memiliki sifat sebagai berikut:
1) Otomatisasi: Kemampuan mendapat impuls secara spontan.
2) Ritmisasi: Pembangkitan impuls untuk teratur.
3) Kondiktifitas: Kemampuan untuk mengalirkan impuls.
4) Daya Rangsangan: Kemampuan untuk menanggapi impuls
Impuls jantung terdiri dari Nodus Sinoatrial (SA) sebagai pemacu
alami jantung. SA terletak di dalam atrium kanan dekat muara vena kava
superior. Sinyal listrik yang dimulai dari SA kemudian di hantarkan melalui
jalur berkas lalu ke Atrioventrikular (AV) di atas Septum Interventrikel,
kemudian setelah di AV menuju berkas yang ada disebelah kanan septum
interventrikuler, setelah ini berakhir di jaringan yang kompleks yaitu System
purkinje, yang menghantarkan ke seluruh permukaan dalam ke dalam
ventrikel.
2.2.3 Etiologi
Etiologi penyakit jantung koroner adalah adanya pemyempitan, penyumbatan, atau
kelainan pembuluh arteri koroner. Penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah
tersebut dapat menghentikan aliran darah ke otot jantung yang sering ditandai dengan
nyeri. Kondisi yang parah, kemampuan jantung memompa darah dapat hilang. Hal ini
dapat merusak system pengontrol irama jantung dan berakhir pada kematian (Wijaya,
2019).
Menurut (Wijaya, 2019) penyebab terjadinya penyakit jantung koroner pada
prinsipnya disebabkan oleh dua faktor utama yaitu:
[Link]
Aterosklerosis paling sering ditemukan sebagai sebab terjadinya penyakit arteri
koronaria. Salah satu yang diakibatkan steroskerosis adalah penimbunan jaringan
fibrosa atau lipid didalam arteri koronaria, sehingga mempersempit lumen pembuluh
darah secara progresif. Akan membehayakan aliran darah miokardium jika lumen
menyempit karena resistensi terhadap aliran darah meningkat.
2. Trombosis
Pada fase awal infark miokard terjadi pelepasan katekolamin yang meningkatkan
stimulasi simpasis sehingga terjadi vasokontriksi pembuluh darah perifer sehingga
kulit menjadi lembab, dingin dan berkeringat
4. Pusing
Merupakan salah satu tanda dimana jantung tidak bisa memompa darah ke otak
sehingga suplain oksigen ke otak berkurang.
5. Kelelahan
Nyeri yang dirasakan pada pasien dengan penyakit jantung koroner adalah dada dan
daerah perut khususnya ulu hati tergantunga bagian jantng mana yang bermasalah.
Nyeri pada ulu hati bisa merangsang pusat muntah. Area infark merangsang
refleksvasovegal.
2.2.5 Klasifikasi
2. Angina pectoris stabil (STEMI) yaitu nyeriyang berlangsung 1-5 menit dan
EKG.
3. Angina pectoris tidak stabil (NSTEMI) yaitu nyeri dada yang berlangsung
bisa lebih dari 5 menit dan terjadi bisa pada saat istirahat biasanya akan
4. Infark miokard yaitu nyeri dada yang terasa ditekan, diremas berlangsung
selama 30 menit atau bahkan lebih biasanya hasil rekanan EKG terdapat
2.2.6 Patofisiologi
Plak dapat mengurangi ukuran lumen yang terdapat pada arteri yang terangsang dan
menggangu aliran darah. Plak juga dapat menyebabkan ulkus penyebab terbentuknya
trombus, trombus akan terbentuk pada permukaan plak, dan penimbunan lipid terus
menerus yang dapat menyumbat pembulug darah.
Lesi yang kaya lipid biasanya tidak stabil dan cendrung robek serta terbuka. Apabila
fibrosa pembungkus plak pecah (rupture plak), maka akan menyebabkan debris lipid
terhanyut dalam aliran darah dan dapat menyumbat arteri serta kapilerdi sebelah distal
plak yang pecah. Akibatnya otot jantung pada daerah tersebut mengalami gangguan
aliran darah dan bisa menimbulkan aliran oksigen ke otot jantung berkurang.
Peristiwa tersebut mengakibatkan sel miokardium menjadi iskemik sehingga hipoksia.
Mengakibatkan proses miokardium berpindah ke metabolism anaerob yang
menghasilkan asam laktat sehingga merangsang ujungsaraf otot yang menyebabkan
nyeri.
Jaringan menjadiiskemik dan akhirnya mati (infark) disebabkan karena suplai darah
ke area miokardium terganggu. Ketika sel miokardium mati, sel hancur dan
melepaskan berbagai iso enzim jantung kedalam sirkulasi. Kenaikan kadar kreatinin
kinase (creatinine kinase), serum dan troponin spesifik jantung adalah indikator infark
miokardium.
2.2.8 Penatalaksanaan
Komplikasi penyakit jantung koroner merupakan segala gangguan medis lainnya yang
diakibatkan karena seseorang mengidap penyakit jantung koroner, dari beberapa
komplikasi yang terjadi bisa disebut bahwa komplikasi penyakit jantung koroner
semuanya memang sangat berbahaya dan bisa menjadi sangat mematikan oleh
karnanya bagi penderita penyakit jantung koroner harus benar-benar mendapatkan
pertolongan medis yang intensif jika dimungkinkan dapat mencoba obat herbal
jantung koroner yang telah terbukti banyak membantu atau menyembuhkan
penderitaan penyakit jantung koroner.
Penyakit komplikasi merupakan penyakit yang timbul dari adanya suatu penyakit
pada tubuh kita dan menimbulkan penyakit-penyakit baru seperti penyakit maag yang
menimbulkan penyakit liver atau hati kemudian berubah menjadi sirosid atau kolestrol
yang tinggi yang bisa menyebabkan penyakit jantung dan lain” atau contoh lain darah
tinggi yang kemudian berubah menjadi stroke dll.
PATHWAY
Jantung kekurangan O2
Penurunan curah
jantung
Perubahan perfusi
jaringan perifer Proses anerob
Asam laktat
O2 kembali adekuat
Kurang pengetahuan b.d Hambatan mobilitas fisik
devicit knowladge
Sel-sel otot kembali
Asam laktat menghilang
keproses fosforilisasi
Sumber: [Link] oksidatif
2.3.1 Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dalam pengumpulan data dan
mengidentifikasi status kesehatan klien. Dalam proses pengkajian ada 2 tahap, yaitu pengumpulan data
dan Analisa data.
a. Pengumpulan Data
Pada tahap ini merupakan kegiatan dalam menghimpun informasi (data-data) dari klien yang
komprehensif secara lengkap dan relavan untuk mengenai klien agar dapat memberi tindakan
keperawatan.
b. Analisa Data
Pada tahap ini merupakan metode yang dilakukan untuk mengaitkan data klien serta
menghubungkan data tersebut dengan konsep relevan keperawatan untuk membuat kesimpulan dalam
menentukan masalah kesehatan pasien dan keperawatan pasien.
1. Identitas
Nama klien, nama panggilan, jenis kelamin,usia. Biasanya usia > 40 tahun beresiko terkena penyakit
jantung koroner (PJK), jumlah saudara, alamat, Bahasa yang digunakan, kebanyakan Penyakit Jantung
Koroner yang sering mengenai lansia atau usia tua dan tidak terdapat perbedaan jenis kelamin.
a. Keluhan utama: Keluhan yang paling sering dijadikan alasan klien merasa nyeri pada dada,
dirasakan klien, kemudian dilakukan pengkajian. Pada klien dengan penyakit jantung koroner
biasanya didapatlan adanya keluhan seperti nyeri pada dada. Keluhan nyeri dikaji menggunkan
Quality: nyeri dirasakan seperti ditekan, rasa terbakar, ditindih benda berat seperti ditusuk, rasa
Severity: skla nyeri diukur dengan rentang nyeri 1-10 atau bisa dilihat dari ekspresi wajah
Timing: nyeri timbul secara tiba-tiba dengan durasi kurang lebih 30 menit
Diabetes Melitus
d. Riwayat penyakit keluarga: adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang
mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang. Yaitu riwayat keluarga dengan
e. Riwayat Lingkup Hidup. Meliputi: tipe tempat tinggal, jumlah kamar, jumlah orang yang
g. Sumber/ Sistem Pendukung: Sumber pendukung adalah anggota atau staf pelayanan kesehatan
h. Deksripsi Harian Khusus Kebiasaan Ritual Tidur: Menjelaskan kegiatan yang dilakukan
sebelum tidur. Pada pasien lansia dengan PJK mengalami sulit tidur sehingga dilakukan ritual
j. Nutrisi: Menilai apakah ada perubahan nutrisi dalam makan dan minum, pola konsumsi
makanan dan riwayat peningkatan berat badan. Biasanya pasien dengan PJK perlu memenuhi
kandungan nutrisi seperti karbohidrat, protein, mineral, air, lemak, dan serat. Tetapi diet
rendah garam juga berfungsi untuk mengontrol tekanan darah pada klien.
kesulitan mengambil keputusan, kecemasan dan ketakutan dan adanya perubahan peran.
a. Pernapasan B1 (Breathing)
Bentuk dada normal, pola napas teratur, suara napas normal, tidak sesak napas dan tidak
batuk, tidak ada retraksi dada, tidak ada otot bantu napas.
b. Kardiovaskuler B2 (Blooding) Irama jantung regular, akral dingin, brakikardi, tekanan darah
meningkat
c. Persyarafan B3 (Brain)
Penglihatan (mata): tidak ada penurunan penglihatan, bentuk mata simetris, tidak strabismus,
pupil isokor.
Pendengaran (telinga): bentuk simetris, telinga bersih tidak ada serum, tidak menggunakan alat
bantu dengar.
Penciuman (hidung): bentuk hidung simetris, tidak ada polip, tidak ada kelainan, dapat
merasakan bau.
e. Pencernaan B5 (Bowel) Nafsu makan menurun, porsi makan setengah, pasien mengatakan
Diagnosa keperawatan merupakan cara memutuskan masalah kesehatan actual atau potensial sebagai
dasar untuk menyeleksi respon individu klien atau masyarakat tentang intervensi keperawatan dalam
mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan (Wahyuni, 2016). Diagnosa yang
muncul pada klien dengan penyakit jantung koroner (PJK) yaitu:
1. Nyeri akut berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai darah dan oksigen ke miokardium.
miokardium berkurang.
miokard.
8. Ansietas berhubungan dengan rasa ketakutan akan, ancaman, dan perubahan kesehatan atau
kematian.
2.3.3 Perencanaan
1. Diagnosa keperawatan 1:
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan nyeri pasien berkurang/ hilang.
Kriteria Hasil: keluhan nyeri menurun/ hilang, pasien tidak tampak menyeringai menahan
Rasional: Dengan mengidentifikasi dapat membantu perawat untuk berfokus pada penyebab
2. Identifikasi skala nyeri Rasional: Dengan mengetahui skala nyeri pasien dapat membantu
kecemasan nyeri.
Rasional: Menjelaskan penyebab nyeri dapat mengurangi kecemasan pasien terhadap nyeri
yang dialami.
2. Diagnosa Keperawatan 2:
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan penurunan curah jantung teratasi.
Kriteria Hasil: Tidak ada sianosis, Edema menurun, Pernafasan normal, Tidak oliguria.
Rasional: Dengan mengidentifikasi dapat membantu perawat untuk berfokus pada penyebab
Rasional: dengan memonitoring tekanan darah dapat membantu perawat untuk berfokus pada
Rasional: Ginjal berespon terhadap penurunan curah jantung dengan mereabsobsi natrium dan
cairan, output urin biasanya menurun selama tiga hari karena perpindahan cairan ke jaringan
tetapi dapat meningkat pada malam hari sehingga cairan berpindah kembali ke sirkulasi bila
klien tidur.
Rasional: Memberikan diet pada pasien dapat membantu mengoptimalkan nutrisi yang benar
pada klien.
Tujuan: setelah dilakukan asuhan keperawatan jam diharapkan hambatan mobilitas fisik
berkurang/ membaik.
Kriteria Hasil: kemudahan dalam melakukan aktivitas sehari-hari meningkat, keluhan lelah
Rasional: Dengan mengidentifikasi dapat membantu perawat untuk berfokus pada penyebab
kelemanan pergerakan.
Rasional: Dengan memonitoring TTV dapat membantu perawat untuk berfokus pada nilai
TTV pasien.
Rasional: Dengan fasilitas mobilisasi dapat membantu pasien dalam melakukan mobilisasi.
2.3.4 Implementasi
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang telah dibuat oleh
untuk mencapai hasil yang efektif dalam pelaksanaan implementasi keperawatan, penguasaan dan
keterampilan dan pengetahuan harus dimiliki oleh setiap perawat sehingga pelayanan yang diberikan
baik mutunya. Dengan demikian rencana yang telah ditentukan tercapai (Wahyuni, 2016).
2.3.5 Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian hasil dan proses. Penilaian hasil menentukan seberapa jauh keberhasilan
yang dicapai sebagai keluaran dari tindakan. Dilakukan dengan cara bersinambungan dengan
melibatkan klien, keluarga, dan tenaga kesehatan. Tujuan dari evaluasi yaitu untuk mengetahui
kemampuan klien dalam mencapai tujuan yang telah direncanakan dengan kriteria hasil pada tahap
perencanaan (Wahyuni, 2016).
BAB III
TINJAUAN KASUS
Untuk mendapatkan gambaran nyata tentang pelaksanaan asukan
kegerawatan gawat darurat pada pasien dengan penyakit jantung koroner (PJK) +
Post DCA, maka penulis menyajikan studi kasus yang diamati mulai tanggal 22
Juni 2021, dengan data pengkajian pada tanggal 22 Juni 2021 pukul 12.30 akan
implementasi dan evaluasi pada Tn. D dengan diagnosa medis penyakit jantung
koroner (PJK) + post DCA. Pasien MRS tanggal 22 Juni 2021 pukul 07.00 WIB.
Anamnesa diperoleh dari pasien dan data pada SIM RS sebagai berikut :
3.1.1 Identitas
Pasien adalah seorang laki – laki bernama Tn.D berusia 77 tahun beragama
kristen, bahasa yang sering digunakan adalah bahasa Indonesia. Pasien adalah
seorang pensiunan PNS guru di Surabaya, yang memiliki 4 orang anak yang saat
ini tinggal bersama pasien. Tn. D MRS pada tanggal 22 Juni 2021 pukul 07.00
sebelahkanan
Pada tahun 2019 pasien mengatakan pernah MRS di RSU Haji dengan
keluhan nyeri dada, pada tahun 2021 bulan februari pasien mengatakan merasa
tindakan pemasangan DCA. Pasien datang ke RSPAL pada tanggal 22 juni 2021
dan MRS di ruang CPU pada pukul 07.00 wib pasien persipan untuk melakukan
tindakan DCA, 09.30 wib pasien masuk keruangan tindakan kateterisasi jantung
lupa dan bilang sudah lama, pasien mengatakan pernah MRS di RSU Haji dengan
4. Riwayat Alergi
tertentu
1. Keadaan Umum
Keadaan umum baik, status kesadaran compos metis, berat badan : 70kg,
tinggi badan 165 cm, nadi 6ox permenit, RR : 20x/menit, tekanan darah : 160/67
mmHg, suhu 36,3 C lokasi aksila, dan GCS E : 4 V : 5 M : 6 total 15. Skala nyeri
2. B1 (Pernapasan)
Bentuk dada normochest, pergerakan simetris, tidak ada otot bantu nafas,
irama nafas reguler, pola nafas : eupnea, taktik atau vocal fremitus tidak ada,
27
suara nafas vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan, tidak ada batuk, tidak ada
3. B2 (Kardiovaskular)
Ictus cordis teraba di ICS 5 midclavicula line sinistra, Nyeri dada tidak ada,
Irama jantung regular, Bunyi jantung S1 S2 tunggal, CRT < 2 detik. Akral hangat,
Tekanan darah : 160/67 mmHg, nadi : 60 x/menit, lain – lain terpasang infus NS
ditangan kiri 7 tpm. Manifestasi klinik yang biasa terjadi pada kasus penyakit
jantung koroner
4. B3 ( Neurologi )
Kesadaran composmetis, tidak ada pusing, tidak ada disorientasi, GCS 456
total 15, reflek fisiologis : bisep (+/+) trisep (+/+) patella (-/+) achilles (+/+),
reflek patologis : kaku kuduk (-) brudzinki (-) nervus karnial I sampai XII tidak
ada kelainan atau normal, bentuk hidung simetris, septum ditengah, tidak ada
kelainan diindra penciuman, polip tidak ada, wajah dan penglihatan : mata
simetris pupil isokor, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, lapang
pandang kesegala arah, pendengara : telinga simetris, bersih, tidak ada gangguan
pendengaran, lidah : bersih, tidak ada kesulitan untuk menelan dan berbicara.
5. B4 ( Bladder )
Kandung kemih : tidak ada pembesaran dan nyeri tekan, bersih, tidak
6. B5 ( Bowel )
28
palsu, faring normal, tidak ada mual dan muntah, tidak ada hilang nafsu makan,
7. B6 (Bone)
Warna kulit pasien sawo matang, kuku bersih, turgor kulit elastis, ROM
bebas terbatas, kekuatan otot baik, tidak ada fraktur,tidak ada dislokasi dan luka
bakar, ADL dibantu, px sementara bedrest selama 6jam post – DCA, terpasang
bebat tekan pada pangkal paha kanan. Skala nyeri P (Provoke) : post pemasangan
DCA, Q (Quality) nyeri seperti ditusuk – tusuk, R (Region) pangkal paha kanan, S
DO :
- Terdapat bebat dipangkal
paha sebelah kanan
31
- Bersikap protektif
- TD : 160/60 mmhg
2. DS : pasien mengatakan merasa Program Gangguan mobilitas
kebas di kaki kanan dan pembatasan fisik
menanyakan apakah tidak bisa gerak
mika/miki.
DO :
- Pasien dalam posisi
supinasi
- Terdapat bebat
dipangkal paha sebelah
kanan
- Gerakan terbatas
Tabel 3.2 Analisa Data Pasien Tn.D Dengan Diangnosis Penyakit Jantung
Koroner (PJK) + Post DCA Di Ruang ICCU – CPU RSPAL Dr.
Ramelan Surabaya.
5. Jelaskan penyebab
nyeri
6. jelaskan strategi
meredakan nyeri
Kolaborasi
7. Kolaborasi
pemberian analgesic
2. Gangguan Setelah 1. Pergerakan Observasi
mobilitas dilakukan ekstremitas 1. Identifikasi kepatuhan
fisik Tindakan meningkat menjalani program
Keperawatan 2. Kekuatan otot pengobatan
selama 1x 24 dari meningkat Terapeutik
jam 3. Rentang gerak 2. Buat komitmen
Diharapkan meningkat menjalani program
Mobilitas 4. Gerakan pengobatan dengan baik
Fisik terbatas 3. Buat jadwal
meningkat. menurun pendampingan keluarga
untuk bergantian
menemani pasien
selama menjalani
program pengobatan,
jika perlu
4. Libatkan keluarga untuk
mendukung program
pengobatan yang
dijalani
Edukasi
5. Informasikan program
pengobatan yang harus
dijalani : mika-miki
minimal 6 jam
6. Informasikan manfaat
yang akan diperoleh jika
teratur menjalani
program pengobatan
7. Anjurkan keluarag
pasien untuk
mendampingi dan
merawat pasien selama
menjalani program
pengobatan
Tabel 3.3 Intervensi Pasien Tn.D Dengan Diangnosis Penyakit Jantung
Koroner (PJK) + Post DCA Di Ruang ICCU – CPU RSPAL Dr.
Ramelan Surabaya.
33
Berdasarkan intervensi yang telah disusun dan telah dilakukan implementasi beserta evaluasi di dapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 3.4 Intervensi Pasien Tn.D Dengan Diangnosis Penyakit Jantung Koroner (PJK) + Post DCA Di Ruang ICCU – CPU RSPAL Dr.
Ramelan Surabaya.
PEMBAHASAN
yang terjadi antara tinjauan kasus dalam asuhan keperawtaan pada pasien dengan
penyakit jantung koroner (PJK) + post DCA ruang ICCU-CPU RSPAL Dr.
4.1 Pengkajian
pada pasien dan SIM RS, melakukan pemeriksaan dan mendapatkan data dari
1. Identitas
Data yang didapatkan, Tn.D berjenis kelamin laki – laki berusia 77 tahun,
pekerjaan pensiunan PNS. Faktor – faktor resiko penyebab dari penyakit jantung
koroner disebutkan bahwa penderita penyakit jantung koroner banyak pada terjadi
pada laki – laki hal dibandingkan perempuan itu sesuai dengan penelitian yang
Faktor resiko selain jenis kelamin usia seseorang juga dapat mempengauri
resiko terkena penyakit jantung korer hal itu juga dijelaskan dalam penelitian
(Pratiwi, Sari & Mirwanti, 2018) yang menjelaskan bahwa bertambahnya usia
jangka waktu yang lama. Perubahan yang paling dini dimulai pada usia 20 tahun
35
36
Data pengkajian yang telah penulis lakukan terbukti bahwa ada hubungan
yang aktual pada Tn.D, dan berpendapat kondisi ini bila tidak didukung dengan
pola hidup yang sehat resiko kekambuhan akan sangat mungkin terjadi
Keluhan utama pada Tn.D yakni pasien mengatakan merasa nyeri dan
kebas di kaki sebelah kanan yang disebabkan post tindakan invasif pemasangan
untuk mengetahui kondisi dari pembuluh darah arteri koroner. Setelah tindakan
pemasangan DCA di paha kanan pasien dianjurkan untuk bedrest minimal selama
pasien mengatakan pernah mengalami nyeri dada kiri pada tahun 2019 sehingga
Surabaya dan di rujuk ke RSPAL Dr. Ramelan selain keluhan nyeri pada dada kiri
yang pernah dialami pasien, pasien mengeluhkan merasa apek saat beraktifitas.
Dari pengkajian yang penulis lakukan dapat terbukti aktual sesuai dengan
penelitian (Rahayu & Amrin, 2016) yang menjukkan bahwa pada pasien dengan
sebagai acuan dala dalam menegakkan diagnosa keperawatan baik risiko maupun
37
dibawah ini :
1. B1 (sistem pernapasan )
pergerakan dada yang simetris, tidak terdapat otot bantu nafas, irama nafas yang
reguler, pola nafas : eupnea, taktik atau vocal fremitus tidak ada, suara nafas
vesikuler, tidak ada suara nafas tambahan, tidak ada batuk, tidak ada sianosis,
sputum dan saturasi oksigen 100% . penyakit jantung koroner disebabkan karena
saturasi oksigen turun, pasien merasa sesak. Dalam pengkajian sistem pernapasan
kondisi yang dialami oleh pasien yang menunjukkan tidak ada keluhan atau
masalah karena faktor risiko yang dapat diubah, pasien telah melakukan dengan
berolahraga.
2. B2 (sistem kardiovaskular )
jantung, Ictus cordis teraba di ICS 5 midclavicula line sinistra, Nyeri dada tidak
ada, Irama jantung regular, Bunyi jantung S1 S2 tunggal, CRT < 2 detik. Akral
Adanya tekanan darah yang meningkat hal itu bisa disebabkan karena pasien
menyebabkan penyakit jantung salah satunya penyakit jantung koroner hal itu
memiliki komplikasi yakni penyakit jantung, namun pada penelitian tersebut tidak
menunjukkan hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan hipertensi yang
3. B3 (sistem persyarafan )
Kesadaran composmetis, tidak ada pusing, tidak ada disorientasi, GCS 456
total 15, reflek fisiologis : bisep (+/+) trisep (+/+) patella (-/+) achilles (+/+),
reflek patologis : kaku kuduk (-) brudzinki (-) nervus karnial I sampai XII tidak
ada kelainan atau normal, bentuk hidung simetris, septum ditengah, tidak ada
kelainan diindra penciuman, polip tidak ada, wajah dan penglihatan : mata
simetris pupil isokor, konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, lapang
pandang kesegala arah, pendengara : telinga simetris, bersih, tidak ada gangguan
pendengaran, lidah : bersih, tidak ada kesulitan untuk menelan dan berbicara.
Gangguan pada sistem neurologi pada pasien penyakit jantung koroner karena ada
penyempitan pembuluh darah arteri yang menjadi suplai darah pada jantung
berpendapat dari hasil pengkajian yang telah dilakukan di dapatkan pada pasien
Tn.D bahwa tidak terdapat gejala atau gangguan pada sistem persyarafan dan
39
menunjukkan bahwa tidak ada masalah keperawatan yang muncul pada sistem
persyarafan.
4. B4 (sistem perkemihan )
Kandung kemih : tidak ada pembesaran dan nyeri tekan, bersih, tidak
kuning jernih, tidak ada gangguan dalam buang air kecil. Penyempitan pembuluh
darah arteri yang terjadi pada penyakit jantung koronen menyebabkan suplai
perfusi jaringan menurun yang dapat menyebabkan perfusi ginjal menurun dan
produksi urin menurun muncul masalah retensi urin dan resiko ketidakefektifan
5. B5 ( sistem pencernaan)
palsu, faring normal, tidak ada mual dan muntah, tidak ada hilang nafsu makan,
makan 1 porsi habis, minum 200cc. Penulis berpendapat bahwa tidak ada masalah
Warna kulit pasien sawo matang, kuku bersih, turgor kulit elastis, ROM
bebas terbatas, kekuatan otot baik, tidak ada fraktur,tidak ada dislokasi dan luka
bakar, ADL dibantu, px sementara bedrest selama 6jam post – DCA, terpasang
bebat tekan pada pangkal paha kanan. Skala nyeri P (Provoke) : post pemasangan
DCA, Q (Quality) nyeri seperti ditusuk – tusuk, R (Region) pangkal paha kanan, S
40
seperti ini kare prosedur pembedahan. Nyeri yang dialami oleh pasien sesuai
dengan temuan yang telah dilakukan oleh (Khordiyati, 2016). Dari hasil
keperawatan yakni nyeri, nyeri yang dialami oleh pasien disebabkan dari tindakan
infasif DCA yang memberikan efek nyeri. Selain itu post prosedur DCA mobilitas
fisik pasien terganggu sehingga pasien dianjurkan untuk bedrest minimal 6 jam
post DCA.
dan berhati – hati, tekanan darah 160/60 mmHg. Dalam SDKI (PPNI,
2016) gejala dan tanda mayor nyeri : pasien mengeluh nyeri, pasien
meningkat, sulit tidur. penulis berpendaat gejala dan tanda nyeri yang
pasien post DCA dikarenakan adala luka bekas tindakan invasif dan
mengatakan merasa kebas di kaki kanan dan menyakan apakah tidak bisa
miring kanan dan miring kekiri, penyebab dari gangguan mobilitas fisik
gerak pada pasien karena post tindakan DCA dan terdapat bebat dipangkal
paha sebelah kanan, pasien dalam posisi supinasi selama minimal 6 jam,
4.4 Intervensi
1. Nyeri akut Nyeri akut berhubungan dengan agen pecedera fisik: prosedur
kenyamanan D.0077 hal : 172 Tujuan dan kriteria hasil : setelah dilakukan
dengan teknik tarik nafas dalam hal itu dapat membantu pasien lebih rileks
miring kiri minimal 6 jam post DCA, informasikan manfaan yang akan
22 juni 2021. Implementasi yang dilakukan pada tanggal 22 juni 2021 pada
pangkal paha kanan, Scale 2, Time hilang timbul, 13.00 wib menjelaskan
melakukan tek nik non- farmakologis : tarik nafas dalam, 16.00 wib
didasari dengan resep terapi yang diberikan oleh dokter tidak ada terapi
anti nyeri dan keterbatasan waktu sehingga penulis tidak dapat menggali
sementara.
a. Evaluasi Keperawatan
(SDKI, 2017)
44
Tn, D dengan PJK + Post DCA, dilakukan evaluasi keperawatan pada tanggal 22
mengatakan nyeri berkurang dengan skala nyeri turun menjadi 2, tapi kaki terasa
kebas. Hasil pemeriksaan tanda - tanda vital, Tekanan Darah : 160/60 mmHg.
Dari data tersebut membuktikan masalah teratasi sebagaian oleh karena itu
(SDKI, 2017)
Tn, D dengan PJK + Post DCA, dilakukan evaluasi keperawatan pada tanggal 22
mengatakan kaki terasa kebas dan capek berbaring terus menerus. Dari data
tersebut membuktikan masalah belum teratasi oleh karena itu perawat tetap
PENUTUP
pada Tn. D dengan diagnosa penyakit jantung koroner + post DCA Ruang ICCU –
5.1 Simpulan
dikeluhkan oleh pasien, nyeri dan kebas di kaki kanan pasien nampak ada
jam dan beberapa kali pasien menanyakan apakah sudah bisa utuk miring
dengan pasien yang tidak dianjurkan untuk miring kanan – kiri minimal 6
45
46
meredakan nyeri.
mobilitas secara bertahap seperti miring kanan –kiri terlebih dahulu, yang
5.2 Saran
1. Bagi Pasien
yang baik dan keterlibatan dari pasien itu sendiri serta dibantu tim
2. Bagi Mahasiswa
3. Bagi Perawat
Diharapkan hasil studi kasus ini dapat menjadi acuan bagi rumah sakit
hubungan yang baik antara tim kesehatan maupun dengan pasien, sehingga
Coronary Angiography).
DAFTAR PUSTAKA
Ppni, Tim Pokja S. D. (2018b) Standar Luaran Keperawatan Indonesia. 2nd Edn.
Jakarta Selatan: Ppni.
Pratiwi, S. H., Sari, E. A. And Mirwanti, R. (2018) „Faktor Risiko Penyakit
Jantung Koroner Pada Masyarakat Pangandaran‟, Jurnal Keperawatan Bsi,
6(2), Pp. 176–183. Available At:
Http://[Link]/Ejurnal/[Link]/Jk/Article/View/3840.
Putra, O. (2018) „Web Of Causation‟. Available At:
Https://[Link]/Document/375256596/Woc-Pjk-Docx.
Rahayu, S. And Amrin, A. (2016) „Pengaruh Intervensi Nonfarmakologi Dan
Farmakologi Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pada Pasien Penyakit
Jantung Koroner Di Ruang Iccu Rsu Kota Langsa Tahun 2012‟, (Jkg)
Jurnal Keperawatan Global, 1(1), Pp. 11–15. Doi: 10.37341/Jkg.V1i1.9.
Sdki, P. (2017) Standar Asuhan Keperawatan Indonesia. 1st Edn. Edited By D.
Ppni. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional
Indonesia.
Siki, P. (2018) Standart Intervensi Keperawatan Indonesia. 1st Edn. Edited By Tim
Pokja S. D. Ppni. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.
Slki, P. (2019) Standar Luaran Keperawatan Indonesia : Definisi Dan Kriteria Hasil
Keperawatan. 1st Edn. Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat
Nasional Indonesia.
Suherwin (2018) „Hubungan Usia, Jenis Kelamin Dan Riwayat Penyakit Dengan
Miokard Pada Penyakit Jantung Koroner (Pjk) Di Ruang Iccu Rsd Dr. Soebandi
Jember‟, The Indonesian Journal Of Health Science, 6(1), Pp. 1– 7.
Wicaksono, S. (2020) „Faktor Risiko Penyakit Jantung Koroner (Pjk) Pada Pasien
Rawat Inap Di Intensive Cardiovascular Care Unit (Iccu) Rsud Dr M Yunus
Bengkulu‟, Kesmas Indonesia, 12(1), P. 26. Doi: 10.20884/[Link].2020.12.1.1662.
Sumber: [Link]
Sumber: [Link]