10
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Bab II akan mennguraikan teori yang sesuai dengan topik yang telah
dijabarkan pada Bab I. Penjelasan pada bab II akan fokus pada konsep bimbingan
dan konseling, berpikir kritis, dan metode socrates
A. Berpikir Kritis
1. Pengertian Berpikir Kritis
Kata kritis berasal dari bahasa Yunani, yaitu kritikos dan kriterion.
Menurut Paul Elder dan Bartel (dalam Suriadi, 2006), kritikos memiliki arti
“pertimbangan” sedangkan kriterion mengandung makna “ukuran baku” atau
“standar.” Secara etimologis, kritis berarti pertimbangan yang didasarkan
pada suatu ukuran baku (Lambertus, 2009). Berpikir kritis dapat diartikan
sebagai suatu kegiatan mental yang dilakukan oleh seseorang untuk dapat
memberi pertimbangan dengan menggunakan ukuran atau standar tertentu.
Beberapa ahli seperti Krulik dan Rudnik dalam Sumardyono dan Ashari
S. (2010:9), mengungkapkan definisi berpikir kritis sebagai berpikir yang
menguji, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek dari situasi
masalah. Dalam hal ini, maka berpikir kritis juga melibatkan kemampuan
untuk mengelompokkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisis
informasi. Sementara itu, Chafee (dalam Suriadi, 2006) menyatakan bahwa
berpikir kritis adalah berpikir untuk menyelidiki secara sistematis proses
berpikir itu sendiri. Hal ini merujuk pada kondisi berpikir yang menggunakan
bukti dan logika. Selanjutnya, Noris (dalam Fowler, 2004) mendefinisikan
berpikir kritis sebagai pengabilan keputusan secara rasional tentang apa yang
diyakini dan dikerjakan.
Berdasarkan dari tiga pengertian di atas, maka berpikrir kritis secara
sederhana dapat diartikan sebagai sebuah proses berpikir yang dilakukan
secara sistematis melalui pengelompokkan dan pengorganisasian informasi
untuk mengambil keputusan secara rasional yang didasarkan pada bukti dan
11
logika. Pada umumnya, definisi berpikir kritis paling sedikit memuat tiga hal,
yaitu; (1) berpikir kritis merupakan proses pemecahan masalah dalam suatu
konteks interaksi dengan diri sendiri, dunia orang lain, dan lingkungannya;
(2) berpikir kritis merupakan proses penalaran reflektif berdasarkan informasi
dan kesimpulan yang telah diterima sebelumnya; (3) berpikir kritis berakhir
pada keputusan apa yang diyakini dan dikerjakan (Lambertus, 2009).
2. Komponen Berpikir Kritis
Ennis dan Morris (dalam Nitko, 1996), mengungkapkan adanya dua
komponen penting dalam berpikir kritis, yaitu:
a. Komponen penguasaan pengetahuan atau keterampilan berpikir
kritis, yang terbagi dalam lima keterampilan, yaitu:
1) Klarifikasi elementer (elementary clarification), meliputi;
memfokuskan pertanyaan; menganalisa argumen; bertanya dan
menjawab pertanyaan yang membutuhkan penjelasan.
2) Dukungan dasar (basic support), meliputi; memprtimbangkan
kredibilitas sumber dan melakukan pertimbangan observasi.
3) Penarikan kesimpulan (inference) meliputi; melakukan dan
mempertimbangkan deduksi; melakukan dan
mempertimbangkan induksi; serta melakukan dan
mempertimbangkan nilai keputusan.
4) Klarifikasi lanjut (advanced clarification) meliputi;
mengidentifikasikan istilah dan mempertimbankan definisi;
serta mengidentifikasikan asumsi.
5) Strategi dan taktik (strategies and tactic) meliputi; menentukan
suatu tindakan dan berinteraksi dengan orang lain.
Sementara itu Ganirson, Anderson dan Archer (dalam Lambertus,
2009), membagi keterampilan berpikir kritis menjadi empat bagian
sebagai berikut; (a) trigger event, yaitu keterampilan
mengidentifikasikan atau mengenali suatu isu, masalah, dan dilema
dari pengalaman seseorang; (b) exploration, yaitu keterampilan
12
memikirkan ide personal dan sosial dalam rangka membuat
persiapan keputusan; (c) integration, yaitu keterampilan
mengkontruksi maksud atau arti dari suatu gagasan dan
mengintegrasikan informasi relevan yang telah ditentukan pada
tahap sebelumnya; (d) resolution, yaitu keterampilan mengusulkan
solusi secara hipotesis atau menerapkan solusi secara langsung
kepada isu, dilema, atau masalah, serta menguji gagasan dan
hipotesis.
b. Komponen disposisi yang sering dianggap sebagai sikap atau
motivasi (Lambertus, 2009). Disposisi adalah kecenderungan atau
kebiasan untuk berpikir dalam cara dan kondisi tertentu. Perkins,
Jay, dan Tishman (dalam Suriadi, 2006) mengajukan konsep
disposisi berpikir kritis yang disebut sebagai konsep triadic
disposition, yang meliputi tiga unsur yaitu kepekaan,
kecenderungan, dan kemampuan. Kepekaan adalah ketajaman
perhatian seseorang pada kesempatan untuk berpikir kritis.
Sementara kecenderungan adalah dorongan yang dirasakan oleh
seseorang untuk melakukan suatu tingkah laku tertentu ketika
berpikir kritis. Sedangkan kemampuan adalah keterampilan yang
diperlukan untuk berpikir kritis.
3. Manfaat Berpikir Kritis
Berpikir kritis menjadi sebuah keterampilan yang penting untuk
dikuasai oleh peserta didik. Selain dapat membantu peserta didik
meningkatkan prestasi akademik karena adanya upaya peningkatan
pemahaman terhadap materi-materi yang disampaikan di kelas, keterampilan
berpikir kritis uga akan membantu peserta didik untuk mengambil keputusan
secara sistematis terhadap berbagai permasalahan yang mereka hadapi di luar
lingkungan sekolah. Menurut Ruland (2003:1-3), berpikir kritis harus selalu
mengacu pada ukuran baku yang disebut sebagai universal intelektual
standar, yaitu standarisasi yang harus diaplikasikan dalam berpikir yang
13
digunakan untuk mengecek kualitas pemikiran dalam merumuskan
permasalahan, isu-isu, atau situasi-situasi tertentu. Universal intelektual
standar meliputi delapan hal yang mencakup; kejelasan (clarity), keakuratan,
ketelitian, keseksamaan (accuracy). Ketepatan (precision), relevansi,
keterkaitan (relavance), dan kedalaman (depth).
Selain untuk meningkatkan efisiensi peserta didik untuk memahami
materi yang bersifat akademik dan membantu dalam proses pengambilan
keputusan, Zamroni dan Mahfudz (2009:23-29), mengemukakan enam
argumen yang menjadi alasan pentingnya keterampilan berpikir kritis
dikuasai oleh peserta didik, yaitu sebagai berikut:
a. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat
akan menyebabkan informasi yang diterima peserta didik menjadi
lebih beragam;
b. Peserta didik merupakan kekuatan yang berdaya tekan tinggi maka
mereka perlu dibekali dengan kemampuan berpikir yang memadai;
c. Peserta didik adalah masyarakat yang kini hingga kelakakan
menjalani kehidupan semakin kompleks, sehingga hal ini menuntut
mereka memiliki keterampilan berpikir kritis dan kemampuan untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapinya secara kritis;
d. Berpikir kritis adalah kunci menuju berkembangnya kreativitas;
e. Banyak lapangan pekerjaan yang, baik langsung maupun tidak,
membutuhkan kemampuan berpikir kritis;
f. Setiap saat, peserta didik sebagai bagian dari makhluk sosial selalu
dihadapkan pada pengambilan keputusan yang pasti akan
memerlukan kemampuan berpikir kritis.
Sementara itu, Cotrell dalam Yunarti (2011:32), menjabarkan beberapa
keuntungan yang dapat diperoleh melalui pengembangan keterampilan
berpikir kritis, antara lain yaitu; (1) dapat meningkatkan perhatian dan
pengamatan; (2) lebih fokus berpikir dalam membaca; (3) dapat
14
meningkatkan pengetahuan untuk mengidentifikasi penting atau tidaknya
sebuah informasi; (4) meningkatkan kemampuan untuk merespon sebuah
informasi; dan (5) memiliki kemampuan untuk menganalisa sebuah objek
dengan lebih baik. Keterampilan berpikir kritis dipandang sebagai sesuatu
yang krusial. Menurut Tilaar, (2011:19) dalam bidang pendidikan,
kemampuan ini menjadi suatu hal yang penting karena beberapa
pertimbangan, antara lain:
a. Mengembangkan berpikir kritis dalam pendidikan berarti
memberikan penghargaan kepada peserta didik sebagai pribadi
(respect a person). Hal ini akan memberikan kesempatan kepada
perkembangan pribadi peserta didik sepenuhnya karena mereka
merasa diberikan kesempatan dan dihormati akan hak-haknya dalam
berkembang.
b. Berpikir kritis merupakan tujuan yang ideal di dalam pendidikan
karena mempersiapkan peserta didik untuk kehidupan
kedewasaannya.
c. Perkembangan berpikir kritis dalam proses pendidikan merupakan
suatu cita-cita tradisional, seperti apa yang ingin dicapai melalui
pelajaran ilmu-ilmu, eksata, dan kealaman, serta pelajaran lainnya
yang secara tradisional dianggap sebagai mengembangkan berpikir
kritis.
d. Berpikir kritis merupakan suatu hal yang sangan dibutuhkan dalam
suatu kehidupan yang demokratis. Demokrasi hanya berkembang
apabila warga negaranya dapat berpikir kritis di dalam masalah-
masala politik, sosial, dan ekonomi.
4. Strategi Pengembangan Keterampilan Berpikir Kritis
Pengembangan keterampilan berpikir kritis, tentu memerlukan beberapa
strategi khusus. Fisher (dalam Launch, 2011), mengemukakan tiga strategi
yang saling berkaitan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis,
yaitu:
15
a. Strategi afektif, yaitu kemampuan untuk berpikir bebas dari yang
lain, termasuk dalam hal ini adalah mengambil pandangan orang
lain;
b. Kemampuan makro, yaitu kemampuan untuk memanfaatkan dan
mempunyai pemahaman mekanis atau keterampilan lain yang
sedang digunakan untuk sebarang tugas;
c. Keterampilan mikro, yaitu kemampuan yang menekankan belajar
tentang bagaimana cara bertanya, kapan untuk bertanya, serta
belajar bagaimana cara memberi alasan, kapan untuk memberikan
alasan, dan metode apa yang digunakan.
Selanjutnya, Fisher (dalam Lambertus, 2009) menerangkan beberapa
indikator keterampilan berpikir kritis yang penting, meliputi; (1) mengatakan
kebenaran pertanyaan atau pernyataan; (2) menganalisis pertanyaan atau
pernyataan; (3) mengurutkan, misalnya secara temporal, secara logis, atay
secara sebab-akibat; (4) berpikir logis; (5) mengklasifikasikan gagasan-
gagasan atau objek; (6) memutuskan dengan mempertimbangkan bukti; (7)
memprediksi dan membenarkan prediksi; (8) berteori; dan (9) memahami
dirinya serta orang lain.
5. Tahapan Berpikir Kritis
Berpikir kritis sangat diperlukan oleh individu untuk meningkatkan
pemahaman atas lingkungannyaserta menyikapi berbagai masalah dalam
kehidupan nyata. Elder dan Paul (2008) menjelaskan beberapa tahapan
berpikir kritis antara lain sebagai berikut:
a. Berpikir yang Tidak Direfleksikan (Unreflective Thinking)
Hal ini pemikir tidak menyadari peran berpikir dalam
kehidupannya, kurang mampu menilai pemikirannya, dan
mengembangkan beragam kemampuan berpikir tanpa
menyadarinya. Akibatnya adalah adanya kegagalan untuk
menghargai berpikir sebagai aktivitas yang melibatkan elemen
16
bernalar. Mereka tidak menyadari standar yang tepat untuk
penilaian berpikir yang meliputi kejelasan, ketepatan, ketelitian,
relevansi, dan kelogisan.
b. Berpikir yang Menantang (Challenged Thinking)
Pemikir menyadari peran berpikir dalam kehidupan, menyadari
berpikir berkualitas membutuhkan berpikir reflektif yang disengaja,
dan menyadari berpikir yang dilakukan masihlah kurang tetapi tidak
dapat mengidentifikasikan dimana kekurangannya. Pemikir pada
tingkat ini memiliki kemampuan berpikir yang terbatas.
c. Berpikir Permulaan (Beginning Thinking)
Pemikir mulai melakukan modifikasi terhadap kemampuan
berpikirnya, tetapi masih memiliki wawasan yang terbatas. Mereka
kurang memiliki perencanaan yang sistematis untuk meningkatkan
kemampuan berpikirnya.
d. Berpikir Latihan (Practicing Thinking)
Pemikir menganalisis pemikirannya secara aktif dalam sejumlah
bidang namun mereka masih mempunyai wawasan terbatas dalam
tingkatan berpikir yang lebih mendalam.
e. Berpikir Lanjut (Advanced Thinking)
Pemikir aktif menganalisis pemikirannya, memiliki pengetahuan
yang penting tentang masalah pada tingkat berpikir yang lebih
mendalam. Namun, mereka belum mampu berpikir pada tingkatan
yang lebih tinggi secara konsisten pada semua dimensi
kehidupannya.
f. Berpikir yang Unggul (Accomplished Thinking)
Pemikir menginternalisasikan kemampuan dasar berpikir secara
mendalam, berpikir kritis dilakukan secara sadar dan menggunakan
intuisi yang tinggi. Mereka menilai pikiran dalam hal kejelasan,
ketepatan, ketelitian, relevansi, dan kelogisan secara intuitif.
17
6. Cara Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kritis
Berpikir kritis merupakan sebuah ketrampilan yang bisa dilatih dan
dikembangkan. Penner dalam Kowiyah (2012) menyatakan bahwa keterampilan
berpikir kritis ini sama dengan keterampilan motorik. Sehigga salah satu
pendekatan terbaik untuk mengembangkannya adalah dengan memberikan
pertanyaan-pertanyaan sambil membimbing peserta didik untuk mengaitkan
konsep yang telah dipelajari dengan pertanyaan yang diajukan. Sementara itu,
menurut Bonnie dan Potts dalam Kowiyah (2012) terdapat tiga cara yang dapat
menstimulasi kemampuan berpikir peserta didik, meliputi; (1) bulding categories
atau membuat klasifikasi; (2) finding problem yang berarti menemukan masalah;
dan (3) enhancing the environtment atau mengkondusikfkan lingkungan.
Disebutkan pula bahwa ciri khas dari mengajar keterampilan kritis meliputi hal-
hal sebagai berikut:
a. Meningkatkan interaksi di antara para peserta didik;
b. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat open-ended;
c. Memberikan waktu yang memadai bagi peserta didik untuk
memberikan refleksi terhadap pertanyaan yang diajukan atau masalah-
masalah yang diberikan;
d. Teaching for transfer, yang berarti mengajar untuk dapat
menggunakan kemampuan yang baru saja diperoleh terhadap situasi-
situasi lain dan terhadap pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik.
Lebih jauh lagi, Prihandoko (Prihandoko, 2006) menyatakan bahwa sarana
lain yang dapat melatih keterampilan berpikir kritis peserta didik adalah
dengan mengerjakan soal cerita. Pada umumnya untuk dapat menyelesaikan
soal cerita peserta didik harus menggunakan penalaran deduktif dengan
menggunakan konsep yang telah dimiliki untuk kemudian melakukan
interpretasi guna mencari jawaban dari soal. Hal ini secara tidak langsung
akan mendorong peserta didik melakukan proses berpikir yang lebih kritis.
18
B. Metode Socrates
1. Pengertian Metode Socrates
Metode socrates merupakan salah satu metode pembelajaran yang
dikenal secara meluas di dunia pendidikan. Metode ini melibatkan aktivitas
tanyajawab yang dapat memberikan stimulus kepada peserta didik untuk
berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi. Jones, Bagword dan Walen dalam
Yunarti, (2011:47), memberikan definisi metode socrates sebagai sebuah
proses diskusi yang dipimpin oleh guru untuk membuat peserta didik
mempertanyakan validitas penalarannya atau untuk mencapai sebuah
kesimpulan. Menurut Hatta (1964), metode socrates merupakan suatu metode
pembelajaran yang dilakukan dengan percakapan, perdebatan oleh dua orang
atau lebih yang saling berdiskusi dan dihadapkan pada suatu deretan
pertanyaan-pertanyaan, yang dari serangkaian pertanyaan-pertanyaan itu
diharapkan peserta didik mampu menemukan jawabannya, saling membantu
dalam menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan yang sulit. Sementara
Johnson dan Johnson dalam Khairuntika (2016), menyatakan bahwa metode
Socrates diajarkan dengan cara bertanya jawab untuk membimbing dan
memperdalam tingkat pemahaman yang berkaitan dengan materi yang
diajarkan sehingga peserta didik mendapatkan pemikirannya sendiri dari hasil
konflik kognitif yang terpecahkan. Dari ketiga pengertian yang telah
dijabarkan di atas, dapat disimpulkan bawah metode socrates, secara
sederhana merupakan sebuah metode pembelajran yang dilakukan dengan
memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membuat peserta didik
melakukan refleksi terhadap pemikirannya serta mendorong mereka untuk
saling berdiskusi satu sama lain. Dalam hal ini dapat dilihat, bahwa metode
pembelajran socrates tidak dilakukan dengan cara menjelaskan, akan tetapi
dengan cara mengajukan pertanyaan yang dapat menguji validitas jawaban,
sehingga peserta didik akan terlatih untuk memperjelas pemikiran dan
mendefinisikan konsep yang mereka maksud secara lebih detail.
Nama socrates dalam metode pembelajaran ini digunakan sebagai
bentuk penghargaanbagi penciptanya, yang tak lain adalah Socrates itu
19
sendiri (Maxwell dalam Yunarti, 2011, 46). Socrates (470 SM – 399 SM)
adalah filsuf dari Athena, Yunani dan merupakan salah satu figur dari filosofi
Barat yang penting. Sebagai salah satu pengajar, Socrates dikenal karena
keahliannya dalam berbicara dan kepandaiannya. Terdapat dua hal pokok
yang membedakan metode socartes dengan metode tanya jawab lainnya
(Jones, Bagford, dan Walen dalam Yunarti, 2011), yaitu:
a. Metode Socrates dibangun dengan anggapan bahwa pengetahuan
sudah berada dalam diri peserta didik dan pertanyaan-pertanyaan
atau komentar-komentar yang tepat dapat menyebabkan pengethaun
tersebut muncul ke permukaan.
b. Pertanyaan-pertanyaan dalam metode socrates digunakan untuk
menguji validitas keyakinan peserta didik secara mendalam.
2. Implementasi Metode Socrates
Terdapat beragam teori yang berusaha untuk memberikan penjelasan
terkait dengan penggunaan metode socrates dalam pengembangan
keterampilan berpikir kritis peserta didik. Secara umum, penerapan metode
socrates ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu; socratic questioning dan
socratic seminars dalam Jensen (2015:8). Socratic questioning melibatkan
penggunaan pertanyaan untuk melihat jalan pemikiran dari peserta didik
secara keseluruhan. Terdapat tiga jenis pertanyaan dalam socratic
questioning; yaitu (Richard Paul dan L. Elder, 2008):
a. Spontaneous, merupakan jenis pertanyaan yang diberikan secara
spontan oleh guru kepada peserta didik untuk mengukur
pengetahuan tentang konsep yang sedang dipealajari. Pertanyaan
jenis ini tidak dipersiapkan terlebih dahulu oleh guru melainkan
muncul secara tiba-tiba dalam proses belajar dan mengajar.
b. Exploratory, yaitu tipe pertanyaan yang melibatkan pengaktivan
pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik pada sesi
sebelumnya. Tujuannya adalah untuk mengeksplorasi pikiran
20
peserta didik agar dapat diketahui sejauh mana mereka menguasai
konsep yang telah diberikan.
c. Focused, merupakan jenis pertanyaan yang melihat secara spesifik
terhadap suatu konsep atau topik dan mengivestigasikannya.
Pertanyaan jenis ini telah direncanakan oleh guru sebelumnya dan
menstimulus peserta didik agar mampu memikirkan konsep atau
ide yang telah diberikan pada level pemikiran yang lebih tinggi.
Selain itu, Richard Paul telah berusaha menyusun enam jenis pertanyaan
socrates dan memberi tanya, yang meliputi klarifikasi, asumsi penyelidikan,
alasan dan bukti penyelidikan, titik pandang dan persepsi, implikasi dan
konsekuensi penyelidikan, serta pertanyaan tentang pertanyaan (Yunarti,
2011). Keenam jenis pertanyaan tersebut terakum dalam tabel berikut:
Tabel 2.1 Jenis-Jenis Pertanyaan Socrates
No Tipe Pertanyaan Contoh Pertanyaan Kemampuan Berpikir
Kritis yang Mungkin
Muncul
1. Klarifikasi - Apa yang dimaksud Interpretasi, analisis, dan
dengan....? evaluasi
- Dapatkah dengan cara
lain?
- Dapatkah Anda
memberikan contoh?
2. Asumsi penyelidikan - Apa yang Anda Interpretasi, analisis,
asumsikan? evaluasi, pengambilan
- Bagaimana Anda bisa keputusan
memilih asumsi-asumsi
tersebut?
3. Alasan dan bukti - Bagaimana Anda bisa Evaluasi, analisis
penyelidikan tahu?
- Mengapa Anda berpikir
bahwa itu benar?
- Apa yang dapat
mengubah pikiran Anda?
4. Titik pandang dan - Apa yang Anda Analisis, evaluasi
persepsi bayangkan dengan hal
tersebut?
- Efek apa yang dapat
diperoleh?
- Apa alternatifnya?
5. Implikasi dan - Bagaimana Anda dapat Analisis
konsekuensi menemukannya?
21
penyelidikan - Apa isu pentingnya?
- Generalisasi apa yang
dapat Anda buat?
6. Pertanyaan tentang - Apa maksudnya? Interpretasi, analisis,
pertanyaan - Apa yang menjadi poin pengambilan keputusan
dari pertanyaan ini?
- Mengapa Anda berpikir
saya bisa menjawab
pertanyaan ini?
Sumber: Permalink dalam Yunarti, 2011, “Pengaruh Metode Socrates terhadap Kemampuan
dan Disposisi Berpikir Kritis Matematis Peserta didik SMA. Disertasi UPI, hal. 48.
Socratic seminars dikenal juga sebagai socratic circles atau lingkaran
socrates, yaitu implementasi metode socrates yang melibatkan diskusi antar
peserta didik terkait dengan konsep yang telah mereka pelajari dalam Jensen
(2015:9). Tergantung pada jumlah peserta didik di dalam kelas, akan tetapi
socratic seminars biasanya dilakukan dengan membagi kelas menjadi dua
kelompok. Peserta didik dikondisikan untuk duduk melingkar membentuk
dua lingkaran yang secara tidak langsung merepresentasikan dua kelompok.
Setiap kelompok akan akan diberikan waktu untuk saling berdiskusi dan
melemparkan pertanyaa, sehingga penguasaan materi oleh masing-masing
peserta didik menjadi suatu hal yang krusial.
3. Ciri-ciri Metode Socrates
Qosyim dalam Nurjanah (2014:2), menjelaskan bahwa tujuan dari
metode socrates ini adalah untuk memberikan rangsangan bagi peserta didik
agar mampu menganalisis suatu masalah dengan sebuah analogi serta berpikir
lebih kritis terhadap suatu argumen. Penggunaan metode ini menuntut peserta
didik untuk mempertanyakan kembali pemikiran mereka sehingga argumen
yang mereka buat akan lebih valid dengan dukungan bukti dan logika yang
kuat. Ciri-ciri dari metode socrates ini antara lain adalah sebagai berikut
(Qosyim dalam Ningsih, 2011:17):
a. Dialektik, artinya bahwa metode tersebut dilakukan oleh dua orang
atau lebih yang pro dan kontra, atau yang memiliki perbedaan
pendapat;
22
b. Konfersasi, artinya bahwa metode yang dilakukan dalam bentuk
percakapan atau komunikasi lisan;
c. Tentatif, artinya kebenaran yang dicari bersifat sementara, tidak
mutlak, dan merupakan alternatif-alternatif yang terbuka bagi semua
kemungkinan;
d. Empiris dan induktif, artinya segala sesuatu yang dibicarakan dan
cara penyelesaiannya harus bersumber pada hal-hal yang bersifat
empiris;
e. Konsepsional, artinya metode yang ditujukan untuk tercapainya
pengetahuan, pengertian, dan konsep yang telah pasti daripada
sebelumnya.
4. Langkah-langkah Metode Socrates
Menurut Maxwell dalam Yunarti (2011:59), terdapat beberapa sikap
dari guru yang harus diaplikasikan agar pembelajaran dengan metode socrates
ini mengalami keberhasilan, antara lain adalah; (1) sikap terbuka guru dalam
menerima kesalahan dan kekurangan diri sendiri; (2) sikap tidak menerima
begitu saja jawaban dari peserta didik; (3) sikap rasa ingin tahu yang tinggi;
dan (4) sikap tekun dan fokus dalam penyelidikan. Selain itu, guru juga dapat
menerapkan beberapa strategi, antara lain adalah; (1) menyusun pertanyaan
sebelum pembelajaran dimulai; (2) menyatakan pertanyaan dengan jelas dan
tepat; (3) memberi waktu tunggu; (4) menjaga diskusi agar tetap fokus pada
permasalahn utama; (4) menindaklanjuti respon yang diberikan oleh peserta
didik; (5) melibatkan semua peserta didik dalam proses diskusi; serta (6)
memberikan pertanyaan yang sesuai dengan tingkat kemampuan peserta
didik.
Proses pembelajaran yang menerapkan metode socrates dibangun
dengan memberikan serangkaian pertanyaan yang dapat meningkatkan
pemahaman peserta didik terhadap suatu metode tertentu. Menurut Johnson
dan Johnson dalam Pahlevi (2014:9), prosedur dalam melaksanakan metode
socrates adalah sebagai berikut:
23
a. Menyiapkan deretan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan
kepada peserta didik dengan memberikan tanda atau kode-kode
tertentu yang diperlukan.
b. Guru mengajukan pertanyaan kepada peserta didik dan peserta didik
diharapkan dapat menemukan jawaban yang benar.
c. Guru mengajarkan mengenai esensi pengetahuan dan mengapa
pengetahuan tersebut dapat diaplikasikan untuk memecahkan
masalah.
d. Guru harus menuntun eksplorasi peserta didik, yang dalam proses
pemecahan masalah guru dapat berperan untuk:
1) Membiarkan eksplorasi peserta didik tak terintangi sehingga
merekadapat berpartisipasi secara aktif;
2) Membantu peserta didik dalam menghubungkan pengetahuan
baru dan pengetahuan terdahulu;
3) Membantu peserta didik membantu dan menghayati masalah
atau tugas;
4) Membantu peserta didik mengidentifikasi persamaan antara
masalah baru dan pengalaman yang lalu yang berisikan masalah
yang serupa.
e. Memberikan umpan balik mengenai benar atau salahnya jalan
pikiran dan jalur pemecahan masalah. Penekanan teknik bertanya
dengan metode socrates adalah cara penjelasan konsep dan gagasan
melalui penggunaan pertanyaan-pertanyaan rangsangan. Sebagai
sebuah teknik pembelajaran, maka metode socrates harus dipikirkan
dan ditatar dengan baik.
f. Jika pertanyaan yang diajukan tersebut terjawab oleh peserta didik,
maka guru dapat melanjutkan ke pertanyaan berikutnya hingga
semua soal dapat terjawab oleh peserta didik.
g. Jika pada setiap soal pertanyaan yang diajukan ternyata belum
memenuhi tujuan, maka guru hendaknya mengulang kembali
pertanyaan tersebut.
24
Langkah-langkah dalam penerapan metode socrates tersebut dapat diringkas
dalam “Panduan Pengembangan Keterampilan Berpikir Kritis dengan
Menggunakan Metode Socrates,” sebagai berikut:
a. Menanamkan esensi pengetahuan dan mengapa pengetahuan
tersebut dapat diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah;
b. Menyusun deretan pertanyaan yang akan diajukan kepada peserta
didik;
c. Mengajukan pertanyaan kepada peserta didik untuk memberikan
stimulus terhadap pengetahuan yang telah mereka miliki;
d. Membimbing eksplorasi peserta didik untuk menggunakan
pengetahuan dalam proses penyelesaian masalah;
e. Memberikan umpan balik kepada peserta didik mengenai benar
atau salahnya jalan pemikiran dan jalur penyelesaian masalah;
f. Membimbing peserta didik dalam mengambil kesimpulan dan
menetapkan keputusan.
5. Kelebihan dan Kekurangan Metode Socrates
Kelebihan yang dimiliki metode socrates dalam proses pembelajaran
seperti yang diungkapkan oleh Lammendola dalam Fisher (Pahlevi, 2014:10)
antara lain adalah sebagai berikut:
1. Stimulates critical thinking, artinya membimbing peserta didik
untuk berpikir lebih rasional dan ilmiah;
2. Mendorong peserta didik untuk aktif belajar dan menguasai ilustrasi
pengetahuan;
3. Memupuk rasa percaya diri pada peserta didik
4. Meningkatkan partisipasi peserta didik dalam belajar, sehingga
dapat menumbuhkan persaingan sehat yang dinamis;
5. Meningkatkan kedisiplinan.
Dalam Pahlevi (2014:10-11), kelemahan dari metode ini, antara lain adalah
sebagai berikut:
25
1. Dalam pelaksanaannya, metode socrates akan sulit untuk
diaplikasikan dalam sekolah yang jenjangnya rendah, karena peserta
didik belum mampu berpikir secara mandiri;
2. Metode socrates terlalu bersifat mekanis, yang mana peserta didik
dipandang sebagai sebuah mesin yang selalu siap untuk digerakkan;
3. Metode ini juga lebih menekankan segi efektif daripada segi
kognitifnya;
4. Kadang-kadang tidak semua guru selalu siap untuk memakai
metode socrates, karena teknik ini menuntut partisipasi aktif tidak
hanya dari peserta didik akan tetapu juga dari guru dalam upaya
menguasai suatu materi atau pengetahuan.
C. Pengembangan Keterampilan Berpikir Kritis dengan Metode Socrates
Pengembangan keterampilan berpikir kritis bagi peserta didik Sekolah
Menengah Atas dengan menggunakan metode socrates perlu dilaksanakan dengan
proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Hal ini mengindikasikan
bahwa dalam proses pembelajaran, peserta didik harus memiliki kebebasan untuk
mengkonstruksi pengetahuannya sendiri berdasarkan pengalaman dan
pengetahuan yang telah dimiliki serta atas bimbingan dan bantuan dari guru.
Dalam hal ini, maka guru harus memberikan kebebasan berpikir dan keleluasaan
bertindak kepada peserta didik dalam memahami pengetahuan dan memecahkan
masalah. Peran guru mengalami perubahan, tidak lagi sekedar menyampaikan
materi kepada peserta didik, akan tetapi juga harus mampu menjadi mediator dan
fasilitator (Lambertus, 2009).
Hadi (2005) menjabarkan fungsi guru sebagai mediator dan fasilitator
dalam beberapa tugas, yaitu sebagai berikut:
1. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik
bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses, dan penelitian;
26
2. Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang
keinginan peserta didik dan membantu mereka untuk mengekspresikan
gagasan-gagasannua serta mengkomunikasikan ide ilmiah mereka;
3. Menyediakan sarana yang merangsang peserta didik berpikir secara
produktif yang dapat dilakukan dengan cara menyediakan kesempatan
dan pengalaman yang paling mendukung proses belajar peserta didik,
menyemangati mereka, dan menyediakan pengalaman konflik;
4. Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan bagaimana proses
pemikiran peserta didik berjalan. Dalam hal ini, guru perlu
menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan yang telah
dikonstruksi oleh peserta didik berlaku untuk menghadapi persoalan
baru yang berkaitan.
Dalam proses pembelajaran yang melibatkan metode socrates untuk
mengembangkan keterampilan berpikir kritis peserta didik akan memungkinkan
terjadinya diskusi. Diskusi yang dihasilkan dari penerapan metode socrates
merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan keterampilan
berpikir kritis. Hal ini disebebkan oleh beberapa hal, antara lain (Lambertus,
2009):
1. Melalui diskusi, peserta didik berbagai pendapat, berpikir perspektif,
dan mendapatkan pengalaman;
2. Melalui diskusi, peserta didik dapat mempertimbangkan, menolak, atau
menerima pendapatnya sendiri maupun pendapat peserta didik lain
agar sesuai dengan jawaban atau pendapat kelompok;
3. Melalui diskusi pula, peserta didik dapat melakukan penyesuaia atau
mengurangi hambatan-hambatan antara dirinya dengan peserta didik
lainnya sehingga ia bebas berpikir dan bertindak.
Interaksi yang terjadi antara sesama peserta didik atau antara peserta didik dengan
guru akan sangat berengaruh terhadap tumbuh dan berkembangaya disposisi
berpikir kritis peserta didik (Lambertus, 2009).
27
D. Keterkaitan Metode Socrates dengan Berpikir Kritis
Maxwell (2014) mengemukakan bahwa bekerjanya metode socrates untuk
mengembangkan keterampilan berpikir kritis meliputi dua area dampak, yaitu:
1. The Safety Factor
Prinsip dasar dari metode socrates adalah memungkinkan peserta didik
memiliki rasa percaya diri dengan pengalaman bertanya mengenai
segala sesuatu, termasuk ide-ide dan keyakinannya sendiri. Peserta
didik tidak dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis tanpa
adanya kemampuan untuk bertanya. Maka dari itu, faktor keselamatan
ini haruslah menjadi hal yang diperhatikan oleh guru. Ketika
menjawab atau mengajukan pertanyaan, peserta didik harus memiliki
rasa aman dan nyaman yang dijamin oleh guru. Dengan demikian
peserta didik dapat mengalami proses belajar tanpa merasa
terintimidasi oleh jawaban atau pertanyaan yang mereka ajukan.
2. The Preference Factor
Seseorang dapat membangun kapasitas yang luar biasa untuk tetap
berpikir kritis jika isu, konsep, atau ide yang dibicarakan merupakan
sesuatu yang mereka sukai atau mereka kenal baik. Untuk itu, guru
harus mampu menyusun pertanyaan yang memuat isu atau kejadian
yang dikenal baik oleh peserta didik.
Kedua faktor tersebut mempengaruhi kesehatan psikologi manusia yang
terkait dengan keterampilan berpikir kritis (Khairuntika, 2016).
E. Hasil Penelitian yang Relevan
Terdapat beberapa hasil penelitian yang dijadikan acuan dalam penelitian
dan pengembangan keterampilan peserta didik dengan menggunakan metode
socrates ini, salah satunya adalah tesis yang ditulis oleh Roger D. Jensen, yang
berjudul The Effectiveness of the Socratic Method in Developing Critical Thinking
Skills in English Language Learners. Dalam penelitiannya tersebut, Roger
berhasil mengungkapkan korelasi yang poitif antara penggunaan metode socrates
28
dengan pengembangan keterampilan berpikir kritis. Roger menggunakan metode
penelitian tindakan kelas yang melibatkan peserta didik kelas tujuh di salah satu
Sekolah Menengah Pertama di Nebraska. Jumlah populasi dari penelitian tersebut
adalah 1260 peserta didik dan diambil 15 persen dari keseluruhan populasi
sebagai sampelnya. Penelitian dilaksanakan selama lima minggu dan hasilnya
menunjukkan bahwa level keterampilan berpikir kritis dari 188 peserta didik yang
dijadikan sampel mengalami kenaikan secara terus menerus.
Hasil penelitian selanjutnya yang dijadikan acuan adalah jurnal artikel
yang ditulis oleh Pezhman Zare dan Jayakaran Mukundan yang berjudul The Use
of Socratic Method as Teaching/Learning Tool to Develop Students’ Critical
Thinking: a Review Literature. Jurnal artikel ini membahas beberapa penelitian
yang telah berhasil membuktikan bahwa metode socrates adalah metode yang
tepat untuk digunakan dalam upaya pengembangan keterampilan berpikir kritis.
Pezhman Zare dan Jayakaran Mukundan menerangkan beberapa studi tentang
metode socrates dan keterampilan berpikir kritis diantaranya, penelitian yang
dilaksanakan oleh Hong dan Jacob (2012) di Malaysia dengan mengaplikasikan
metode socrates dalam diskusi online telah berhasil mengembangkan
keterampilan berpikir kritis peserta didik yang tergabung forum tersebut.
Penelitian melibatkan 60 mahasiswa S1 dari Swinburne University of Technology
di Sarawak dan hasilnya mengindikasikan adanya perkembangan kemampuan
berpikir kritis meskipun tidak terlalu signifikan. Berikutnya penelitian yang
dilaksanakan oleh Shahsavar, Tan, Yap, dan Bahaman (2013) menunjukkan hasil
yang cukup berbeda dengan penelitian Hog dan Jacob. Dengan menerapkan sesi
diskusi socratic terhadap 40 mahasiswa S1 selama 14 minggu, secara signifikan
mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis bagi mereka yang terlibat
diskusi tersebut secara rutin.
Selanjutnya penelitian ini juga mengacu pada artikel jurnal yang ditulis
oleh Mansoor Fahim dan Mohammad B. Bagheri dengan judul Fostering Critical
Thinking through Socrates’ Questioning in Iranian Language Institutes. Melalui
penelitian yang dilakukan oleh Fahim dan Bagheri disimpulkan bahwa beberapa
29
institusi Iran perlu mengembangkan metode socrates untuk mengembangkan
keterampilan dalam proses pembelajaran bahasa. Sehingga dalam hal ini, dapat
dilihat adanya korelasi yang positif antara metode socrates dengan keterampilan
berpikir kritis.
F. Kerangka Berpikir
Berdasarkan kajian teori yang telah dipaparkan, maka dapat disusn
kerangka berpikir bahwa penggunaan metode socrates dapat dilakukan untuk
mengembangkan keterampilan berpikir kritis dari peserta didik. Berpikir kritis
dapat diartikan berpikir yang menguji, menghubungkan, dan mengevaluasi semua
aspek dari situasi masalah. Dalam hal ini, maka berpikir kritis juga melibatkan
kemampuan untuk mengelompokkan, mengorganisir, mengingat, dan
menganalisis informasi. Peserta didik di Sekolah Menengah Atas di wilayah
Surakarta, berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan, menyatakan
bahwa keterampilan ini merupakan salah satu aspek yang penting dan dibutuhkan.
Berkaitan dengan pengembangan keterampilan berpikir kritis, metode
socrates menjadi salah satu pilihan metode yang sangat cocok untuk diterapkan.
Meningkatkan keterampilan berpikir kritis ini dapat didukung dengan metode
socrates. Metode socrates menekankan pada adanya pertanyaan yang
memungkinkan peserta didik untuk menganalisis pemahaman mereka sendiri.
Dengan adanya pertanyaan stimulan yang tepat, peserta didik akan menerapkan
kemampuan berpikir kritis mereka guna menggali kebenaran dari pemahaman
tentang suatu konsep yang telah mereka miliki. Sehingga, melalui latihan dengan
menjawab pertanyaan-pertanyaan socrates, peserta didik lambat laun akan terbiasa
untuk menggunakan keterampilan berpikir kritis mereka baik dalam bidang sosial
maupun akademis. Maka dari itu, kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat
digambarkan dalam bagan berikut ini:
30
Komponen Berpikir Kritis: Langkah Metode Socrates:
1. trigger event, yaitu 1. Menanamkan esensi
keterampilan pengetahuan dan mengapa
mengidentifikasikan atau pengetahuan tersebut dapat
mengenali suatu isu, masalah, diaplikasikan untuk
dan dilema dari pengalaman menyelesaikan masalah.
seseorang 2. Menyusun deretan pertanyaan
2. exploration, yaitu yang akan diajukan kepada
keterampilan memikirkan ide peserta didik.
personal dan sosial dalam
3. Mengajukan pertanyaan kepada
rangka membuat persiapan
peserta didik untuk memberikan
keputusan
stimulus terhadap pengetahuan
3. integration, yaitu
yang telah mereka miliki.
keterampilan mengkontruksi
maksud atau arti dari suatu
4. Membimbing eksplorasi peserta
didik untuk menggunakan
gagasan dan mengintegrasikan
pengetahuan dalam proses
informasi relevan yang telah
penyelesaian masalah.
ditentukan pada tahap
sebelumnya 5. Memberikan umpan balik kepada
4. resolution, yaitu keterampilan peserta didik mengenai benar
mengusulkan solusi secara atau salahnya jalan pemikiran
hipotesis atau menerapkan dan jalur penyelesaian masalah.
solusi secara langsung kepada 6. Membimbing peserta didik
isu, dilema, atau masalah, dalam mengambil kesimpulan
serta menguji gagasan dan dan menetapkan keputusan.
hipotesis.
Panduan Keterampilan Berpikir Kritis
dengan Metode Socrates
Bagan 2.1 Kerangka Berpikir Pengembangan Keterampilan Berpikir Kritis
dengan Menggunakan Metode Socrates