0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan15 halaman

Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Kinerja Guru

Diunggah oleh

Abdul Moela
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan15 halaman

Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Kinerja Guru

Diunggah oleh

Abdul Moela
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Kepemimpinan Kepala Sekolah

Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang

berperan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kepala sekolah

adalah komponen yang dituntut untuk melakukan pengembangan

pendidikan secara terarah dan terencana untuk meningkatkan kualitas

pendidikan. Kepala sekolah adalah seorang guru (jabatan fungsional) yang

diangkat untuk menduduki jabatan struktural (kepala sekolah) di sekolah.

13
Kepala sekolah sebagai tenaga fungsional guru yang diberi tugas

untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar

mengajar, atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi

pelajaran dan murid sebagai penerima pelajaran.14

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan

bahwa kepemimpinan kepala sekolah sejatinya adalah kemampuan dalam

pengambilan keputusan dan memimpin warga sekolah dalam proses

pembelajaran yang di dalamnya terjadi interaksi antara guru dan murid.

Kepala sekolah adalah tenaga fungsional di sekolah yang bertugas untuk

memimpin warga sekolah dengan segala interaksi yang terjadi di

13 Rahman. 2006. Peran Strategis Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu


Pendidikan. Sumedang: Alqaprint Jatinangor. Hal.106.
14 Wahyusumidjo. 1999. Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan
Permasalahannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Hal.83.

18
19

dalamnya. Akan tetapi, sekolah tidak hanya sekadar memimpin, kepala

sekolah adalah komponen utama dalam manajemen pendidikan pada

lingkup sekolah. Seiring dengan keutamaan kepemimpinan kepala sekolah

dalam manajemen pendidikan, maka kepala sekolah menjadi bagian yang

sangat penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

Kedudukan kepala sekolah sebagai pemimpin di sekolah

merupakan tanggung jawab besar bagi siapapun yang menjabatnya.

Kepala sekolah merupakan pemimpin yang melakukan manajemen

pendidikan di setiap sekolah agar dapat meningkatkan kualitas pendidikan.

Sejalan dengan hal itu, kepala sekolah hendaknya memiliki jiwa

kepemimpinan yang mampu mengarahkan, memotivasi, dan

membangkitkan semangat guru, karyawan, dan siswanya. Kepala sekolah

sebagai leader harus memiliki karakter khusus yaitu kepribadian, keahlian

dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional, serta pengetahuan

administrasi. Kemampuan yang harus dimiliki dalam kepemimpinan

kepala sekolah adalah sebagai berikut: Kemampuan yang harus

diwujudkan kepala sekolah sebagai leader dapat dianalisis dari

kepribadian, pengetahuan terhadap tenaga kependidikan, visi dan misi

kepala sekolah, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan

berkomunikasi. Berikut adalah rincian aspek dan indikator leader dalam

konteks kepemimpinan kepala sekolah:

a. Kepribadian : jujur, percaya diri, tanggung jawab, berani mengambil

resiko dan keputusan, berjiwa besar, emosi yang stabil, dan teladan.
20

b. Pengetahuan : Memahami kondisi tenaga kepandidikan Memahami

kondisi dan karakteristik peserta didik, menyususn program

pengembangan tenaga kependidikan, menerima masukan, saran, dan

kritikan dari berbagai pihak untuk meningkatkan kemampuannya.

c. Pemahaman terhadap visi dan misi sekolah : Mengembangkan visi

sekolah, mengembangkan misi sekolah, dan melaksanakan program untuk

mewujudkan visi dan misi sekolah ke dalam tindakan.

d. Kemampuan mengambil keputusan : Mengambil keputusan bersama

tenaga kependidikan di sekolah, mengambil keputusan untuk kepentingan

internal sekolah, dan mengambil keputusan untuk kepentingan eksternal

sekolah.

e. Kemampuan berkomunikasi : Berkomunikasi secara lisan dengan tenaga

kependidikan di sekolah, menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan,

berkomunikasi secara langsung dengan peserta didik,dan berkomunikasi

secara lisan dengan orang tua dan masyarakat sekitar.15

Berdasarkan uraian di atas maka indikator kepemimpinan kepala

sekolah ialah:

a. Kepribadian yang kuat

b. Memahami tujuan pendidikan

c. Pengetahuan yang luas

d. Keterampilan profesional16

15 E. Mulyasa. 2013. Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks Menyukseskan


MBS dan KBK. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal. 115.
16 Muchlas Saimin. 2009. Manajemen Sekolah Panduan Praktis Pengelolaan Sekolah.
Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Hal.12.
21

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan

bahwa kepemimpinan kepala sekolah adalah kemampuan kepala sekolah

dalam mempengaruhi dan mengkoordinasi warga sekolah untuk mencapai

tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan tersebut dapat dikerjakan secara

bersama-sama agar dapat tercapai dengan baik. Kepemimpinan kepala

sekolah akan menentukan kualitas pendidikan, karena kepemimpinan kepala

sekolah penentu kebijakan pada situasi apapun. Indikator kepemimpinan

kepala sekolah harus dikuasai kepala sekolah agar kualitas pendidikan dapat

sesuai denagn tujuan. Begitu pula dengan indikator-indikator yang ada pada

setiap aspek, masing-masing indikator perlu dikuasai satu per satu. Apabila

aspek dan indikator sudah dikuasai seorang kepala sekolah, maka akan

berdampak baik bagi sekolah masing-masing pada khusunya dan pendidikan

pada umumnya. Aspek atau indikator kepemimpinan kepala sekolah tidak

hanya terbatas pada tugas memimpin, namun juga hal lain yang berkaitan

dengan interaksi terhadap warga sekolah dan seisinya. Indikator

kepemimpinan kepala sekolah adalah kepribadian, pengetahuan terhadap

tenaga kependidikan, visi dan misi sekolah, kemampuan mengambil

keputusan, dan kemampuan berkomunikasi.

2. Kinerja Guru

Kinerja guru mempunyai spesifikasi tertentu. Kinerja guru dapat

dilihat dan diukur berdasarkan spesifikasi atau kriteria kompetensi yang

harus dimiliki oleh setiap guru. Berkaitan dengan kinerja guru, wujud

perilaku yang dimaksud adalah kegiatan guru dalam proses pembelajaran.

Berkenaan dengan standar kinerja guru dalam buku panduan penilaian


22

kinerja guru oleh pengawas menjelaskan bahwa: “Standar kinerja guru itu

berhubungan dengan kualitas guru dalam menjalankan tugasnya seperti:

(1) bekerja dengan siswa secara individual, (2) persiapan dan perencanaan

pembelajaran, (3) pendayagunaan media pembelajaran, (4) melibatkan

siswa dalam berbagai pengalaman belajar, dan (5) kepemimpinan yang

aktif dari guru”.17

UU Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas

pasal 39 ayat (2), menyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga

profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses

pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan

pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,

terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Keterangan lain

menjelaskan dalam UU No. 14 Tahun 2005 Bab IV Pasal 20 (a) tentang

Guru dan Dosen menyatakan bahwa standar prestasi kerja guru dalam

melaksanakan tugas keprofesionalannya, guru berkewajiban

merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang

bermutu serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Tugas pokok

guru tersebut yang diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar

merupakan bentuk kinerja guru.

Pendapat lain diutarakan Soedijarto yang menyatakan ada empat

tugas gugusan kemampuan yang harus dikuasai oleh seorang guru.

Kemampuan yang harus dikuasai oleh seorang guru, yaitu: (1)

17 Kusmianto. 1997. Panduan Penilaian Kinerja Guru Oleh Pengawas. Jakarta:


Erlangga. Hal.49.
23

merencanakan program belajar mengajar; (2) melaksanakan dan

memimpin proses belajar mengajar; (3) menilai kemajuan proses belajar

mengajar; (4) membina hubungan dengan peserta didik. 18 Sedangkan

berdasarkan Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses

untuk Satuan Pendidikan Menengah dijabarkan beban kerja guru

mencakup kegiatan pokok: (1) merencanakan pembelajaran; (2)

melaksanakan pembelajaran; (3) menilai hasil pembelajaran; (4)

membimbing dan melatih peserta didik; (5) melaksanakan tugas tambahan.

Kinerja guru dapat dilihat saat dia melaksanakan interaksi belajar

mengajar di kelas termasuk persiapannya baik dalam bentuk program

semester maupun persiapan mengajar. Berkenaan dengan kepentingan

penilaian terhadap kinerja guru. Georgia Departemen of Education telah

mengembangkan teacher performance assessment instrument yang

kemudian dimodifikasi oleh Depdiknas menjadi Alat Penilaian

Kemampuan Guru (APKG). Alat penilaian kemampuan guru, meliputi: (1)

rencana pembelajaran (teaching plans and materials) atau disebut dengan

RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran); (2) prosedur pembelajaran

(classroom procedure); dan (3) hubungan antar pribadi (interpersonal

skill). Proses belajar mengajar tidak sesederhana seperti yang terlihat pada

saat guru menyampaikan materi pelajaran di kelas, tetapi dalam

melaksanakan pembelajaran yang baik seorang guru harus mengadakan

persiapan yang baik agar pada saat melaksanakan pembelajaran dapat

18 Soedijarto. 1993. Memantapkan Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Gramedia


Widiasarana Indonesia. Hal.29.
24

terarah sesuai tujuan pembelajaran yang terdapat pada indikator

keberhasilan pembelajaran. Proses pembelajaran adalah rangkaian

kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru mulai dari persiapan

pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran sampai pada tahap akhir

pembelajaran yaitu pelaksanaan evaluasi dan perbaikan untuk siswa yang

belum berhasil pada saat dilakukan evaluasi.

Pedoman penilaian kinerja guru menurut Pedoman Pelaksanaan

Penilaian Kinerja Guru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan

dan Penjamin Mutu Pendidikan Pusat Pengembangan Profesi Pendidik

terdiri dari 14 kompetensi yaitu: mengenal karakteristik peserta didik,

menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik,

pengembangan kurikulum, kegiatan pembelajaran yang mendidik,

memahami dan mengembangkan potensi, komunikasi dengan peserta

didik, penilaian dan evaluasi, bertindak sesuai dengan norma agama,

hukum, sosial, dan kebudayaan nasional, menunjukkan pribadi yang

dewasa dan teladan, etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, dan rasa

bangga menjadi guru, bersikap inklusif, bertindak obyektif, serta tidak

diskriminatif, komunikasi dengan sesama guru, tenaga kependidikan,

orangtua peserta didik, dan masyarakat, penguasaan materi struktur konsep


25

dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu,

dan mengembangkan keprofesian melalui tindakan reflektif.19

Dari berbagai pengertian di atas maka dapat disimpulkan definisi

konsep kinerja guru merupakan hasil pekerjaan atau prestasi kerja yang

dilakukan oleh seorang guru yang terdiri dari 14 kompetensi yaitu:

mengenal karakteristik peserta didik, menguasai teori belajar dan prinsip-

prinsip pembelajaran yang mendidik, pengembangan kurikulum, kegiatan

pembelajaran yang mendidik, memahami dan mengembangkan potensi,

komunikasi dengan peserta didik, penilaian dan evaluasi, bertindak sesuai

dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional,

menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan, etos kerja, tanggung jawab

yang tinggi, dan rasa bangga menjadi guru, bersikap inklusif, bertindak

obyektif, serta tidak diskriminatif, komunikasi dengan sesama guru, tenaga

kependidikan, orangtua peserta didik, dan masyarakat, penguasaan materi

struktur konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran

yang diampu, dan mengembangkan keprofesian melalui tindakan reflektif.

3. Prestasi Belajar Siswa

Siswa akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi jika dalam

belajar dapat melakukan perubahan terhadap dirinya dalam menuju

kebenaran. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa yang

19 Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru, Pembinaan dan Pengembangan Profesi


Guru Buku 2, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Pengembangan Sumber Daya
Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Pusat Pengembangan
Profesi Pendidik, 2017.
26

berupa angka, penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang

diwujudkan dalam bentuk angka, simbol, atau kalimat.

Menurut Sutratinah Tirtonegoro mengemukakan bahwa “Prestasi

belajar adalah hasil dari pengukuran serta penilaian usaha belajar yang

dinyatakan dalam bentuk angka, huruf maupun kalimat yang dapat

mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode

tertentu”.20

Menurut Benjamin S. Bloom ada tiga ranah (domain) hasil belajar

yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Bisa disimpulkan hasil belajar

yang kognitif yaitu, hasil belajar yang berdasarkan pengalaman, sedangkan

hasil belajar yang afektif yaitu dengan cara mengenal dengan cara

merasakan, dan hasil belajar psikomotorik yaitu hasil belajar berdasarkan

sikap atau aktivitas anak didik tersebut.21

Abdurrahman mengemukakan bahwa hasil belajar adalah

kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar”.

Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar bisa dilihat

setelah siswa belajar secara kognitif, afektif, dan psikomotorik.22 Menurut

Sudjana prestasi belajar adalah:

Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh faktor dari dalam

dan faktor dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang

dari diri siswa terutama adalah kemampuan yang dimilikinya, minat dan

20 Sutratinah Tirtonegoro. 2001. Penelitian Hasil Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha


Nasional. Hal.43.
21 Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta:
Rineka [Link].38.
22 Ibid. Hal. 37.
27

perhatian, sikap dan kebiasaan belajar dan lain- lain. Sedangkan faktor

yang datang dari luar diri siswa adalah kualitas pengajaran yang

digunakan, karakteristik kelas dan lain- lain. Faktor kemampuan siswa

besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai.23

Hasil belajar pada hakekatnya tersirat dalam tujuan pengajaran dan

dipengaruhi oleh kemampuan siswa serta kualitas pengajaran. Pendapat ini

sejalan dengan teori belajar di sekolah (Theory of School Learning dari

Bloom) yang mengatakan ada tiga Variabel utama dalam teori belajar

sekolah, yakni karakteristik individu, kualitas pengajaran dan hasil belajar

siswa.

Menurut Bloom kualitas pengajaran adalah, tinggi rendahnya atau

efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan

pengajaran yang berdasarkan pada karakteristik individu, kualitas

pengajaran dan hasil belajar siswa.

Menurut Uzer Usman dan Lilis Setiawati menyatakan bahwa faktor-

faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor internal dan

eksternal.24

Faktor- faktor yang mempengaruhi prestasi belajar sebagai berikut:

a. Faktor Internal

1) Faktor jasmani (fisiologi), yang bersifat bawaan maupun yang

diperolehnya. Misalnya, penglihatan, pendengaran, struktur tubuh,

dan lain- lain.

23 Sudjana. 2000. Metode Statistika. Bandung: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal. 39.
24 Usman, Muh. User, Lilis Setiawati. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar
Mengajar. (Bahan Kajian PKG, MGBS, MGMP). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Hal. 19.
28

2) Faktor psikologi, baik yang bersifat bawaan baik yang terdiri atas:

a) Faktor potensial yaitu bakat, kecerdasan, dan faktor kecakapan

nyata yaitu potensi yang telah dimiliki.

b) Faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu

seperti sifat, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, dan

penyesuaian diri.

c) Faktor kematangan fisik maupun non fisik.

b. Faktor Eksternal

1) Faktor sosial meliputi, lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat,

dan kelompok. Khusus faktor lingkungan sosial ini, penulis hanya

memfokuskan pembahasannya pada lingkungan sekolah dan

masyarakat. Memang lingkungan keluarga termasuk faktor

eksternal, tetapi pada penelitian ini penulis ingin menjelaskan

secara tersendiri mengenai lingkunga keluarga.

2) Faktor budaya meliputi, adat istiadat, IPTEK, dan kesenian.

3) Faktor lingkungan fisik meliputi, fasilitas rumah dan belajar.

B. Kerangka Berpikir

Kepala sekolah sebagai pemimpin dalam pendidikan formal perlu

memiliki wawasan ke depan. Kepala sekolah sebagai sosok pimpinan yang

diharapkan dapat mewujudkan harapan bangsa. Oleh karena itu diperlukan

seorang kepala sekolah yang mempunyai wawasan ke depan dan kemampuan

yang memadai dalam menggerakkan organisasi sekolah. Dalam peranannya


29

sebagai seorang pendidik, kepala sekolah harus mampu menanamkan,

memajukan, dan meningkatkan nilai mental, moral, fisik dan artistik kepada

para guru atau tenaga fungsional yang lainnya, tenaga administrasi (staf) dan

kelompok para siswa atau peserta didik.

Pentingnya kinerja mengajar dalam meningkatkan prestasi belajar

siswa yang optimal, merupakan salah satu kekuatan eksternal yang dapat

digunakan oleh seorang guru untuk melaksanakan pengaruhnya dalam

mengajar. Prestasi hasil belajar merupakan prestasi belajar peserta didik secara

keseluruhan yang menjadi derajat kemampuan dalam perubahan prilaku

diantaranya hasil belajar siswa.

Kegiatan utama pendidikan di sekolah dalam rangka mewujudkan

tujuannya yakni kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi

sekolah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektifitas pembelajaran.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka kompetensi kepala sekolah perlu

ditingkatkan. Oleh karena itu diperlukan peran dari kepala sekolah itu sendiri

dan personil sekolah lainnya guna mencapai hasil yang diharapkan. Salah satu

tugas kepala sekolah adalah sebagai pemimpin pendidikan, yaitu memimpin

staff (guru-guru, pegawai dan pesuruh), membina kerjasama yang harmonis

antar anggota staf sehinggga dapat membangkitkan semangat kerja, motivasi

kerja bagi staf yang dipimpin serta menciptakan suasana yang konduktif.

Kepemimpinan yang bagus, kerjasama yang harmonis serta suasana yang

konduktif menjamin staf menjadi senang untuk melaksanakan tugas dengan

sebaik-baiknya. Disamping itu kepemimpinan kepala sekolah merupakan


30

kunci proses pemberdayaan kegiatan pendidikan di sekolah. Unsur

kepemimpinan kepala sekolah adalah pengaruh yang dimilikinya dan

kemampuan menggunakan pengaruh tersebut serta akibat pengaruh itu bagi

orang yang hendak dipengaruhi yaitu para guru, pegawai, dan warga sekolah

lainnya. Pengaruh tersebut diwujudkan melalui fungsi kepemimpinan kepala

sekolah yaitu charisma, idealized influence, inspirational motivation,

intellectual stimulation, individual consideration. Pengelolaaan fungsi

kepemimpinan kepala sekolah tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap

kinerja guru, dengan demikian keberhasilan tujuan pendidikan akan mudah

tercapai.

Dalam mempimpin guru dan staff pegawai setiap top mamupun middle

management memiliki fungsi kekepimpinan masing-masing. Kepemimpinan

yang digunakan adalah fungsi kepemimpinan charisma, idealized influence,

inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individual consideration.

Keberhasilan pendidikan di sekolah bukan saja ditentukan oleh kepemimpinan

pemimpin, melainkan juga para bawahan (guru, dan staff pegawai) sebagai

pelaksana akan memberikan peranan yang sangat penting dalam sekolah.

Kepemimpinan seorang pemimpin pada umumnya ingin merefleksikan sifat-

sifat dan tujuan dari kelompoknya. Keberhasilan organisasi atau perubahan

juga sangat ditentukan oleh keberhasilan pemimpin dengan kepemimpinan

dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. Pelaksanaan suatu kepemimpinan

tidak terlepas dari perilaku atau cara-cara yang diterapkan oleh pemimpin

dalam mempengaruhi bawahannya, sehingga bawahan akan menjalankan


31

tugas atau pekerjaannya secara efektif dan produktif juga pemimpin

menerapkan fungsi kepemimpinan tertentu, maka kinerja guru terhadap

kepemimpinan kepala sekolah akan sangat baik.

Tolok ukur dari kinerja guru sendiri meliputi aktivitas yang berkaitan

dengan perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses pengajaran, pelaksanaan

penilaian pengajaran, dan tindak lanjut penilaian. Di samping itu motivasi

kerja guru sebagai perangsang keinginan dan daya gerak yang menyebabkan

seorang guru bersemangat dalam mengajar. Guru yang bersemangat dalam

mengajar terlihat dalam ketekunannya ketika melaksanakan tugas, ulet,

minatnya yang tinggi dalam memecahkan masalah, penuh kreatif dan

sebagainya. Hal ini berdampak pada prestasi kerja, teori diatas dapat

dikemukakan bahwa terdapat pengaruh antara kepemimpinan kepala sekolah

terhadap kinerja guru.

Berdasarkan landasan teori dan kerangka pikir yang dikemukakan,

maka kerangka konseptual sebagai berikut.

Kepemimpinan
Kepala Sekolah
(X1)
Prestasi Siswa
(Y)

Kinerja Guru
(X2)

C. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:


32

1. Ada pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi siswa di SD

Unggulan ‘Aisyiyah Bantul.

2. Ada pengaruh kinerja guru terhadap prestasi siswa di SD Unggulan

‘Aisyiyah Bantul.

3. Ada pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru secara

bersama-sama terhadap prestasi siswa di SD Unggulan ‘Aisyiyah Bantul.

Anda mungkin juga menyukai