BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Kepemimpinan Kepala Sekolah
Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang
berperan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kepala sekolah
adalah komponen yang dituntut untuk melakukan pengembangan
pendidikan secara terarah dan terencana untuk meningkatkan kualitas
pendidikan. Kepala sekolah adalah seorang guru (jabatan fungsional) yang
diangkat untuk menduduki jabatan struktural (kepala sekolah) di sekolah.
13
Kepala sekolah sebagai tenaga fungsional guru yang diberi tugas
untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar
mengajar, atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi
pelajaran dan murid sebagai penerima pelajaran.14
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat ditarik kesimpulan
bahwa kepemimpinan kepala sekolah sejatinya adalah kemampuan dalam
pengambilan keputusan dan memimpin warga sekolah dalam proses
pembelajaran yang di dalamnya terjadi interaksi antara guru dan murid.
Kepala sekolah adalah tenaga fungsional di sekolah yang bertugas untuk
memimpin warga sekolah dengan segala interaksi yang terjadi di
13 Rahman. 2006. Peran Strategis Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu
Pendidikan. Sumedang: Alqaprint Jatinangor. Hal.106.
14 Wahyusumidjo. 1999. Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan
Permasalahannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Hal.83.
18
19
dalamnya. Akan tetapi, sekolah tidak hanya sekadar memimpin, kepala
sekolah adalah komponen utama dalam manajemen pendidikan pada
lingkup sekolah. Seiring dengan keutamaan kepemimpinan kepala sekolah
dalam manajemen pendidikan, maka kepala sekolah menjadi bagian yang
sangat penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Kedudukan kepala sekolah sebagai pemimpin di sekolah
merupakan tanggung jawab besar bagi siapapun yang menjabatnya.
Kepala sekolah merupakan pemimpin yang melakukan manajemen
pendidikan di setiap sekolah agar dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
Sejalan dengan hal itu, kepala sekolah hendaknya memiliki jiwa
kepemimpinan yang mampu mengarahkan, memotivasi, dan
membangkitkan semangat guru, karyawan, dan siswanya. Kepala sekolah
sebagai leader harus memiliki karakter khusus yaitu kepribadian, keahlian
dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional, serta pengetahuan
administrasi. Kemampuan yang harus dimiliki dalam kepemimpinan
kepala sekolah adalah sebagai berikut: Kemampuan yang harus
diwujudkan kepala sekolah sebagai leader dapat dianalisis dari
kepribadian, pengetahuan terhadap tenaga kependidikan, visi dan misi
kepala sekolah, kemampuan mengambil keputusan, dan kemampuan
berkomunikasi. Berikut adalah rincian aspek dan indikator leader dalam
konteks kepemimpinan kepala sekolah:
a. Kepribadian : jujur, percaya diri, tanggung jawab, berani mengambil
resiko dan keputusan, berjiwa besar, emosi yang stabil, dan teladan.
20
b. Pengetahuan : Memahami kondisi tenaga kepandidikan Memahami
kondisi dan karakteristik peserta didik, menyususn program
pengembangan tenaga kependidikan, menerima masukan, saran, dan
kritikan dari berbagai pihak untuk meningkatkan kemampuannya.
c. Pemahaman terhadap visi dan misi sekolah : Mengembangkan visi
sekolah, mengembangkan misi sekolah, dan melaksanakan program untuk
mewujudkan visi dan misi sekolah ke dalam tindakan.
d. Kemampuan mengambil keputusan : Mengambil keputusan bersama
tenaga kependidikan di sekolah, mengambil keputusan untuk kepentingan
internal sekolah, dan mengambil keputusan untuk kepentingan eksternal
sekolah.
e. Kemampuan berkomunikasi : Berkomunikasi secara lisan dengan tenaga
kependidikan di sekolah, menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan,
berkomunikasi secara langsung dengan peserta didik,dan berkomunikasi
secara lisan dengan orang tua dan masyarakat sekitar.15
Berdasarkan uraian di atas maka indikator kepemimpinan kepala
sekolah ialah:
a. Kepribadian yang kuat
b. Memahami tujuan pendidikan
c. Pengetahuan yang luas
d. Keterampilan profesional16
15 E. Mulyasa. 2013. Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks Menyukseskan
MBS dan KBK. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal. 115.
16 Muchlas Saimin. 2009. Manajemen Sekolah Panduan Praktis Pengelolaan Sekolah.
Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Hal.12.
21
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa kepemimpinan kepala sekolah adalah kemampuan kepala sekolah
dalam mempengaruhi dan mengkoordinasi warga sekolah untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan tersebut dapat dikerjakan secara
bersama-sama agar dapat tercapai dengan baik. Kepemimpinan kepala
sekolah akan menentukan kualitas pendidikan, karena kepemimpinan kepala
sekolah penentu kebijakan pada situasi apapun. Indikator kepemimpinan
kepala sekolah harus dikuasai kepala sekolah agar kualitas pendidikan dapat
sesuai denagn tujuan. Begitu pula dengan indikator-indikator yang ada pada
setiap aspek, masing-masing indikator perlu dikuasai satu per satu. Apabila
aspek dan indikator sudah dikuasai seorang kepala sekolah, maka akan
berdampak baik bagi sekolah masing-masing pada khusunya dan pendidikan
pada umumnya. Aspek atau indikator kepemimpinan kepala sekolah tidak
hanya terbatas pada tugas memimpin, namun juga hal lain yang berkaitan
dengan interaksi terhadap warga sekolah dan seisinya. Indikator
kepemimpinan kepala sekolah adalah kepribadian, pengetahuan terhadap
tenaga kependidikan, visi dan misi sekolah, kemampuan mengambil
keputusan, dan kemampuan berkomunikasi.
2. Kinerja Guru
Kinerja guru mempunyai spesifikasi tertentu. Kinerja guru dapat
dilihat dan diukur berdasarkan spesifikasi atau kriteria kompetensi yang
harus dimiliki oleh setiap guru. Berkaitan dengan kinerja guru, wujud
perilaku yang dimaksud adalah kegiatan guru dalam proses pembelajaran.
Berkenaan dengan standar kinerja guru dalam buku panduan penilaian
22
kinerja guru oleh pengawas menjelaskan bahwa: “Standar kinerja guru itu
berhubungan dengan kualitas guru dalam menjalankan tugasnya seperti:
(1) bekerja dengan siswa secara individual, (2) persiapan dan perencanaan
pembelajaran, (3) pendayagunaan media pembelajaran, (4) melibatkan
siswa dalam berbagai pengalaman belajar, dan (5) kepemimpinan yang
aktif dari guru”.17
UU Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas
pasal 39 ayat (2), menyatakan bahwa pendidik merupakan tenaga
profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses
pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan
pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,
terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Keterangan lain
menjelaskan dalam UU No. 14 Tahun 2005 Bab IV Pasal 20 (a) tentang
Guru dan Dosen menyatakan bahwa standar prestasi kerja guru dalam
melaksanakan tugas keprofesionalannya, guru berkewajiban
merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang
bermutu serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Tugas pokok
guru tersebut yang diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar
merupakan bentuk kinerja guru.
Pendapat lain diutarakan Soedijarto yang menyatakan ada empat
tugas gugusan kemampuan yang harus dikuasai oleh seorang guru.
Kemampuan yang harus dikuasai oleh seorang guru, yaitu: (1)
17 Kusmianto. 1997. Panduan Penilaian Kinerja Guru Oleh Pengawas. Jakarta:
Erlangga. Hal.49.
23
merencanakan program belajar mengajar; (2) melaksanakan dan
memimpin proses belajar mengajar; (3) menilai kemajuan proses belajar
mengajar; (4) membina hubungan dengan peserta didik. 18 Sedangkan
berdasarkan Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses
untuk Satuan Pendidikan Menengah dijabarkan beban kerja guru
mencakup kegiatan pokok: (1) merencanakan pembelajaran; (2)
melaksanakan pembelajaran; (3) menilai hasil pembelajaran; (4)
membimbing dan melatih peserta didik; (5) melaksanakan tugas tambahan.
Kinerja guru dapat dilihat saat dia melaksanakan interaksi belajar
mengajar di kelas termasuk persiapannya baik dalam bentuk program
semester maupun persiapan mengajar. Berkenaan dengan kepentingan
penilaian terhadap kinerja guru. Georgia Departemen of Education telah
mengembangkan teacher performance assessment instrument yang
kemudian dimodifikasi oleh Depdiknas menjadi Alat Penilaian
Kemampuan Guru (APKG). Alat penilaian kemampuan guru, meliputi: (1)
rencana pembelajaran (teaching plans and materials) atau disebut dengan
RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran); (2) prosedur pembelajaran
(classroom procedure); dan (3) hubungan antar pribadi (interpersonal
skill). Proses belajar mengajar tidak sesederhana seperti yang terlihat pada
saat guru menyampaikan materi pelajaran di kelas, tetapi dalam
melaksanakan pembelajaran yang baik seorang guru harus mengadakan
persiapan yang baik agar pada saat melaksanakan pembelajaran dapat
18 Soedijarto. 1993. Memantapkan Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Gramedia
Widiasarana Indonesia. Hal.29.
24
terarah sesuai tujuan pembelajaran yang terdapat pada indikator
keberhasilan pembelajaran. Proses pembelajaran adalah rangkaian
kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru mulai dari persiapan
pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran sampai pada tahap akhir
pembelajaran yaitu pelaksanaan evaluasi dan perbaikan untuk siswa yang
belum berhasil pada saat dilakukan evaluasi.
Pedoman penilaian kinerja guru menurut Pedoman Pelaksanaan
Penilaian Kinerja Guru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan
dan Penjamin Mutu Pendidikan Pusat Pengembangan Profesi Pendidik
terdiri dari 14 kompetensi yaitu: mengenal karakteristik peserta didik,
menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik,
pengembangan kurikulum, kegiatan pembelajaran yang mendidik,
memahami dan mengembangkan potensi, komunikasi dengan peserta
didik, penilaian dan evaluasi, bertindak sesuai dengan norma agama,
hukum, sosial, dan kebudayaan nasional, menunjukkan pribadi yang
dewasa dan teladan, etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, dan rasa
bangga menjadi guru, bersikap inklusif, bertindak obyektif, serta tidak
diskriminatif, komunikasi dengan sesama guru, tenaga kependidikan,
orangtua peserta didik, dan masyarakat, penguasaan materi struktur konsep
25
dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu,
dan mengembangkan keprofesian melalui tindakan reflektif.19
Dari berbagai pengertian di atas maka dapat disimpulkan definisi
konsep kinerja guru merupakan hasil pekerjaan atau prestasi kerja yang
dilakukan oleh seorang guru yang terdiri dari 14 kompetensi yaitu:
mengenal karakteristik peserta didik, menguasai teori belajar dan prinsip-
prinsip pembelajaran yang mendidik, pengembangan kurikulum, kegiatan
pembelajaran yang mendidik, memahami dan mengembangkan potensi,
komunikasi dengan peserta didik, penilaian dan evaluasi, bertindak sesuai
dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional,
menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan, etos kerja, tanggung jawab
yang tinggi, dan rasa bangga menjadi guru, bersikap inklusif, bertindak
obyektif, serta tidak diskriminatif, komunikasi dengan sesama guru, tenaga
kependidikan, orangtua peserta didik, dan masyarakat, penguasaan materi
struktur konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran
yang diampu, dan mengembangkan keprofesian melalui tindakan reflektif.
3. Prestasi Belajar Siswa
Siswa akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi jika dalam
belajar dapat melakukan perubahan terhadap dirinya dalam menuju
kebenaran. Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa yang
19 Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Guru, Pembinaan dan Pengembangan Profesi
Guru Buku 2, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Pengembangan Sumber Daya
Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Pusat Pengembangan
Profesi Pendidik, 2017.
26
berupa angka, penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang
diwujudkan dalam bentuk angka, simbol, atau kalimat.
Menurut Sutratinah Tirtonegoro mengemukakan bahwa “Prestasi
belajar adalah hasil dari pengukuran serta penilaian usaha belajar yang
dinyatakan dalam bentuk angka, huruf maupun kalimat yang dapat
mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode
tertentu”.20
Menurut Benjamin S. Bloom ada tiga ranah (domain) hasil belajar
yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Bisa disimpulkan hasil belajar
yang kognitif yaitu, hasil belajar yang berdasarkan pengalaman, sedangkan
hasil belajar yang afektif yaitu dengan cara mengenal dengan cara
merasakan, dan hasil belajar psikomotorik yaitu hasil belajar berdasarkan
sikap atau aktivitas anak didik tersebut.21
Abdurrahman mengemukakan bahwa hasil belajar adalah
kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar”.
Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar bisa dilihat
setelah siswa belajar secara kognitif, afektif, dan psikomotorik.22 Menurut
Sudjana prestasi belajar adalah:
Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh faktor dari dalam
dan faktor dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Faktor yang datang
dari diri siswa terutama adalah kemampuan yang dimilikinya, minat dan
20 Sutratinah Tirtonegoro. 2001. Penelitian Hasil Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha
Nasional. Hal.43.
21 Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta:
Rineka [Link].38.
22 Ibid. Hal. 37.
27
perhatian, sikap dan kebiasaan belajar dan lain- lain. Sedangkan faktor
yang datang dari luar diri siswa adalah kualitas pengajaran yang
digunakan, karakteristik kelas dan lain- lain. Faktor kemampuan siswa
besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai.23
Hasil belajar pada hakekatnya tersirat dalam tujuan pengajaran dan
dipengaruhi oleh kemampuan siswa serta kualitas pengajaran. Pendapat ini
sejalan dengan teori belajar di sekolah (Theory of School Learning dari
Bloom) yang mengatakan ada tiga Variabel utama dalam teori belajar
sekolah, yakni karakteristik individu, kualitas pengajaran dan hasil belajar
siswa.
Menurut Bloom kualitas pengajaran adalah, tinggi rendahnya atau
efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan
pengajaran yang berdasarkan pada karakteristik individu, kualitas
pengajaran dan hasil belajar siswa.
Menurut Uzer Usman dan Lilis Setiawati menyatakan bahwa faktor-
faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor internal dan
eksternal.24
Faktor- faktor yang mempengaruhi prestasi belajar sebagai berikut:
a. Faktor Internal
1) Faktor jasmani (fisiologi), yang bersifat bawaan maupun yang
diperolehnya. Misalnya, penglihatan, pendengaran, struktur tubuh,
dan lain- lain.
23 Sudjana. 2000. Metode Statistika. Bandung: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal. 39.
24 Usman, Muh. User, Lilis Setiawati. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar
Mengajar. (Bahan Kajian PKG, MGBS, MGMP). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Hal. 19.
28
2) Faktor psikologi, baik yang bersifat bawaan baik yang terdiri atas:
a) Faktor potensial yaitu bakat, kecerdasan, dan faktor kecakapan
nyata yaitu potensi yang telah dimiliki.
b) Faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu
seperti sifat, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, dan
penyesuaian diri.
c) Faktor kematangan fisik maupun non fisik.
b. Faktor Eksternal
1) Faktor sosial meliputi, lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat,
dan kelompok. Khusus faktor lingkungan sosial ini, penulis hanya
memfokuskan pembahasannya pada lingkungan sekolah dan
masyarakat. Memang lingkungan keluarga termasuk faktor
eksternal, tetapi pada penelitian ini penulis ingin menjelaskan
secara tersendiri mengenai lingkunga keluarga.
2) Faktor budaya meliputi, adat istiadat, IPTEK, dan kesenian.
3) Faktor lingkungan fisik meliputi, fasilitas rumah dan belajar.
B. Kerangka Berpikir
Kepala sekolah sebagai pemimpin dalam pendidikan formal perlu
memiliki wawasan ke depan. Kepala sekolah sebagai sosok pimpinan yang
diharapkan dapat mewujudkan harapan bangsa. Oleh karena itu diperlukan
seorang kepala sekolah yang mempunyai wawasan ke depan dan kemampuan
yang memadai dalam menggerakkan organisasi sekolah. Dalam peranannya
29
sebagai seorang pendidik, kepala sekolah harus mampu menanamkan,
memajukan, dan meningkatkan nilai mental, moral, fisik dan artistik kepada
para guru atau tenaga fungsional yang lainnya, tenaga administrasi (staf) dan
kelompok para siswa atau peserta didik.
Pentingnya kinerja mengajar dalam meningkatkan prestasi belajar
siswa yang optimal, merupakan salah satu kekuatan eksternal yang dapat
digunakan oleh seorang guru untuk melaksanakan pengaruhnya dalam
mengajar. Prestasi hasil belajar merupakan prestasi belajar peserta didik secara
keseluruhan yang menjadi derajat kemampuan dalam perubahan prilaku
diantaranya hasil belajar siswa.
Kegiatan utama pendidikan di sekolah dalam rangka mewujudkan
tujuannya yakni kegiatan pembelajaran, sehingga seluruh aktivitas organisasi
sekolah bermuara pada pencapaian efisiensi dan efektifitas pembelajaran.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut maka kompetensi kepala sekolah perlu
ditingkatkan. Oleh karena itu diperlukan peran dari kepala sekolah itu sendiri
dan personil sekolah lainnya guna mencapai hasil yang diharapkan. Salah satu
tugas kepala sekolah adalah sebagai pemimpin pendidikan, yaitu memimpin
staff (guru-guru, pegawai dan pesuruh), membina kerjasama yang harmonis
antar anggota staf sehinggga dapat membangkitkan semangat kerja, motivasi
kerja bagi staf yang dipimpin serta menciptakan suasana yang konduktif.
Kepemimpinan yang bagus, kerjasama yang harmonis serta suasana yang
konduktif menjamin staf menjadi senang untuk melaksanakan tugas dengan
sebaik-baiknya. Disamping itu kepemimpinan kepala sekolah merupakan
30
kunci proses pemberdayaan kegiatan pendidikan di sekolah. Unsur
kepemimpinan kepala sekolah adalah pengaruh yang dimilikinya dan
kemampuan menggunakan pengaruh tersebut serta akibat pengaruh itu bagi
orang yang hendak dipengaruhi yaitu para guru, pegawai, dan warga sekolah
lainnya. Pengaruh tersebut diwujudkan melalui fungsi kepemimpinan kepala
sekolah yaitu charisma, idealized influence, inspirational motivation,
intellectual stimulation, individual consideration. Pengelolaaan fungsi
kepemimpinan kepala sekolah tersebut dapat memberikan pengaruh terhadap
kinerja guru, dengan demikian keberhasilan tujuan pendidikan akan mudah
tercapai.
Dalam mempimpin guru dan staff pegawai setiap top mamupun middle
management memiliki fungsi kekepimpinan masing-masing. Kepemimpinan
yang digunakan adalah fungsi kepemimpinan charisma, idealized influence,
inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individual consideration.
Keberhasilan pendidikan di sekolah bukan saja ditentukan oleh kepemimpinan
pemimpin, melainkan juga para bawahan (guru, dan staff pegawai) sebagai
pelaksana akan memberikan peranan yang sangat penting dalam sekolah.
Kepemimpinan seorang pemimpin pada umumnya ingin merefleksikan sifat-
sifat dan tujuan dari kelompoknya. Keberhasilan organisasi atau perubahan
juga sangat ditentukan oleh keberhasilan pemimpin dengan kepemimpinan
dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. Pelaksanaan suatu kepemimpinan
tidak terlepas dari perilaku atau cara-cara yang diterapkan oleh pemimpin
dalam mempengaruhi bawahannya, sehingga bawahan akan menjalankan
31
tugas atau pekerjaannya secara efektif dan produktif juga pemimpin
menerapkan fungsi kepemimpinan tertentu, maka kinerja guru terhadap
kepemimpinan kepala sekolah akan sangat baik.
Tolok ukur dari kinerja guru sendiri meliputi aktivitas yang berkaitan
dengan perencanaan pengajaran, pelaksanaan proses pengajaran, pelaksanaan
penilaian pengajaran, dan tindak lanjut penilaian. Di samping itu motivasi
kerja guru sebagai perangsang keinginan dan daya gerak yang menyebabkan
seorang guru bersemangat dalam mengajar. Guru yang bersemangat dalam
mengajar terlihat dalam ketekunannya ketika melaksanakan tugas, ulet,
minatnya yang tinggi dalam memecahkan masalah, penuh kreatif dan
sebagainya. Hal ini berdampak pada prestasi kerja, teori diatas dapat
dikemukakan bahwa terdapat pengaruh antara kepemimpinan kepala sekolah
terhadap kinerja guru.
Berdasarkan landasan teori dan kerangka pikir yang dikemukakan,
maka kerangka konseptual sebagai berikut.
Kepemimpinan
Kepala Sekolah
(X1)
Prestasi Siswa
(Y)
Kinerja Guru
(X2)
C. Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
32
1. Ada pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap prestasi siswa di SD
Unggulan ‘Aisyiyah Bantul.
2. Ada pengaruh kinerja guru terhadap prestasi siswa di SD Unggulan
‘Aisyiyah Bantul.
3. Ada pengaruh kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru secara
bersama-sama terhadap prestasi siswa di SD Unggulan ‘Aisyiyah Bantul.