PROLOG
Senyuman cerah muncul di bibir gadis mungil bernama Kang Jiyun. Tubuhnya yang kecil
dengan tinggi yang tak lebih dari bahu kebanyakan temannya membuatnya tampak semakin
menggemaskan, tapi jangan tertipu dengan penampilannya. Pipi bulatnya yang terlihat halus dan
rambut sebahunya yang sedikit lebih panjang dengan poni rapi di dahinya sering kali membuat
orang berpikir dia anak manis—padahal, Jiyun dikenal punya sikap yang kuat dan galak, apalagi
kalau sudah berurusan dengan Lee Hyunjun. Meskipun badannya kecil, semangatnya besar.
Hari ini adalah hari pertamanya sebagai siswa kelas 12. Di balik senyumannya yang polos,
Jiyun bertekad untuk menghabiskan sisa waktunya sebagai siswa SMA dengan baik. Mendapat nilai
terbaik dan masuk universitas impiannya adalah tujuan utamanya. Tahun ini, ia ingin segalanya
berjalan sesuai rencana.
Ia melangkah mantap, menyapa dan melemparkan senyuman kepada siswa-siswa yang
berpapasan dengannya. Sekolah tampak ramai, siswa berlalu-lalang, mungkin mereka juga
semangat seperti Jiyun.
“Jiyuuuuuunnnn-ah!” Jiyun hampir terpekik kaget mendengar teriakan sahabatnya, Yoo
Minji, gadis bermata minus yang tingkahnya sedikit ajaib dan agak berlebihan. “Gausah teriak-
teriak juga, kali,” jawab Jiyun. Minji tampak mengatur napas, sepertinya ia baru saja berlari
mengejar Jiyun.
“Kamu abis maraton, kah?” tanya Jiyun bercanda sambil tertawa kecil. “Maraton
dengkulmu. Aku dari tadi manggilin kamu, tapi kamu nggak denger, makanya aku kejar,” jawab
Minji, masih mengatur napas. “Lah, iya kah? Nggak denger, sorry,” jawab Jiyun sambil
mengangkat tangan, membentuk pose angka dua. “Tau ah. Eh, btw, kita sekelas lagi nggak ya?”
tanya Minji, kali ini mereka melanjutkan perjalanan menuju kelas, entah kelas mana yang pasti,
mereka akan mengecek daftar nama terlebih dahulu, mengingat tahun ini sistem sekolah mereka
akan mengacak siswanya.
Jiyun dan Minji adalah siswi berprestasi, selalu berada di kelas atas sejak awal SMA, dan
berada dalam lingkup siswa-siswa pintar lainnya, seperti Lee Hyunjae, siswa pintar yang Jiyun
kagumi di kelas. “Mudah-mudahan deh. Aku juga berharap bisa sekelas lagi sama si Hyunjae,”
jawab Jiyun. “Cieee, kamu suka sama Hyunjae ya?” ledek Minji. Mendengar itu, Jiyun refleks
memukul punggung Minji pelan. “Apaan sih? Mana ada. Siapa sih yang nggak senang sekelas sama
siswa pintar kayak dia? Lagian, anaknya baik,” jawab Jiyun jujur. Minji mengangguk setuju. “Dan
yang paling penting, dia ganteng,” katanya sambil diakhiri senyuman manis.
Saat mereka melanjutkan perjalanan menuju mading sekolah untuk melihat daftar nama,
tiba-tiba seseorang datang dengan tidak sopannya merangkul Jiyun dari belakang. Untung saja
pertahanannya kuat, jika tidak, ia bisa jatuh tersungkur ke depan.
“Pagi, botol yakult!” Jiyun kesal menepis tangan besar yang merangkul bahunya itu. “Apaan
sih, sok akrab,” jawabnya ketus. Pemuda itu—Lee Hyunjun—tersenyum menyebalkan. “Galak
amat, masih pagi juga,” katanya meledek, ya seperti biasa.
“Tolong deh ya, Bapak Hyunjun. Kamu bisa nggak sih sehari aja diem, jangan ganggu
ketenangan aku? Ngerusak mood aja dah,” jawab Jiyun kesal. Minji yang di sampingnya hanya
diam, tidak mau ikut campur. Jiyun kalau lagi marah cukup menyeramkan.
“Yaelah, kamu kenapa sih sensi banget sama aku?” Hyunjun berkata lagi. Jiyun memasang
wajah sinis. “Seharusnya kalau kamu pinter, kamu nggak bakal nanya. Oh iya... aku lupa, kamu kan
nggak pinter, taunya bikin masalah doang,” lanjut Jiyun, kali ini benar-benar menyindir Hyunjun.
Tapi bukannya tersindir, pemuda itu malah tersenyum, merangkul Juwon, teman yang
bersamanya. “Iya deh, Nyonya Pintar. Tapi hari ini ada kejutan buat kamu, ya nggak, Won?” ucap
Hyunjun, menanyakan Juwon.
Juwon, yang sama tengilnya dengan Hyunjun, mengangguk mantap. “Absolutely, Bro!”
jawabnya sok Inggris.
Jiyun yang mendengar itu hanya memutar bola matanya malas. “Aku nggak peduli dan
nggak mau peduli. Bye!” kata Jiyun, lalu pergi meninggalkan kedua pemuda menyebalkan itu,
menarik paksa Minji yang tadi hanya berdiam diri memandangi drama pagi ini.
“Bisa-bisanya Hyunjun sama Hyunjae sifatnya kebalik banget. Hyunjae kalem, pinter,
nggak neko-neko, sedangkan Hyunjun? Sehari nggak bikin masalah, kayaknya badannya langsung
gatal-gatal, alergian,” ucap Minji. Jiyun mengangguk setuju. “Udah deh, males aku bahas dia lagi.
Bikin mood tambah jelek aja.”
“Tapi kamu nggak penasaran, Ji? Kejutan apa?” tanya Minji tiba-tiba. “Apaan deh, kok
kamu malah tertarik sama pembahasan nggak bermutu mereka tadi sih?” kata Jiyun kesal.
Minji terkekeh kecil. “Ya kan, siapa tau gitu. Aku tau juga sih mereka emang agak nggak
waras dikit, tapi siapa tau beneran, atau kamu hari ini ulang tahun?” tanya Minji, nada bicaranya
berubah, seperti kaget dan memandang Jiyun serius. Jiyun menghela napas. “Ini sih kamu sama
nggak warasnya kayak mereka. Aku ultah tuh bulan April, udah lewat. Sekarang kan September,
gimana sih?” Minji menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sambil tersenyum kikuk. “Namanya
lupa,” kata Minji.
“Udah, ayo ah, buru!” Jiyun menarik tangan Minji dan membawanya merobos para siswa
yang tengah melihat papan pengumuman.
Dengan seksama, Jiyun mencari namanya di daftar siswa kelas 12. Senyum Jiyun melebar
kala melihat namanya berada di kelas 12-1. Apalagi, Minji juga berada di kelas yang sama
dengannya. Kedua anak itu berteriak senang, memberikan tos satu sama lain dan mekamumpat
bahagia, persis seperti bocah yang baru dibelikan mainan baru.
“Akhirnya kita sekelas lagi!” kata Minji. Jiyun mengangguk bahagia, tampaknya doanya
kali ini terkabulkan. Namun, tiba-tiba Jiyun teringat sesuatu. Ia langsung kembali melihat daftar
nama itu dan mencari sosok yang ia cari—Lee Hyunjae.
“Yes!” ucap Jiyun, senyumnya mengembang saat melihat nama itu berada di kelas yang
sama dengannya. Namun, senyumnya tiba-tiba memudar saat melihat satu nama lagi di bawah
Hyunjae.
Lee Hyunjun. Krekk... Jika ada sound effect, mungkin suaranya akan terdengar seperti hati
yang patah. Tubuh Jiyun terasa layu, dan ia merasa akan meleleh saat ini juga. “Jiyun-a, kamu
kenapa?” tanya Minji, namun tidak dijawab oleh Jiyun. Ia lalu ikut melihat daftar nama itu. “Loh,
Hyunjae sekelas kita lagi, nih, Ji!” katanya senang. Tapi, “Lee Hyunjun?! Dia juga?!” Oke,
kayaknya Minji tahu alasan kenapa Jiyun kaget. Ia mengelus pelan punggung Jiyun. “Sabar ya...
ternyata beneran kejutan,” kata Minji lagi.
Jiyun memasang wajah kecewa, bibirnya melengkung ke bawah, dan tatapan
menyedihkannya menatap ke arah Minji. “Minji-ya...” ucapnya meringis. Minji yang melihat itu
hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jiyun memang kadang agak dramatis, tapi kali
ini kayaknya dia beneran sesedih itu.
Jiyun beneran mau nangis aja rasanya. Ini seperti mimpi buruk baginya. Tahun terakhirnya
yang ia bayangkan akan indah dan berjalan lancar, justru malah seperti malapetaka. Ia memang dari
dulu punya dendam pribadi dengan Hyunjun. Meskipun mereka adalah tetangga dan sudah cukup
lama mengenal, keberadaan Hyunjun seperti parasit baginya. Selalu merampas mood-nya.
Harusnya akan lebih mudah bagi Hyunjun mengganggu dirinya, secara mereka sekelas.
Dulu saja, kelas mereka yang sangat jauh jaraknya, selalu ada cara Hyunjun untuk mengganggu
dirinya, setidaknya saat di kantin atau setiap kali bertemu.
Jiyun menghela napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Hari pertama yang
seharusnya penuh harapan kini terasa berat. Dengan langkah berat, ia dan Minji meninggalkan
papan pengumuman, sambil merencanakan bagaimana menghadapi tahun terakhir yang penuh
tantangan ini. “Gak ada yang bisa menghentikan kita, Ji. Kita pasti bisa!” ucap Minji, berusaha
menghibur. Jiyun tersenyum tipis, meski di dalam hatinya masih terbayang wajah Hyunjun yang
menyebalkan. “Semoga aja,” gumamnya, sambil berharap bahwa segala sesuatu tidak akan seburuk
yang ia bayangkan.