0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan14 halaman

Analisis Risiko Bunuh Diri dalam Keperawatan

Diunggah oleh

merlambang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
30 tayangan14 halaman

Analisis Risiko Bunuh Diri dalam Keperawatan

Diunggah oleh

merlambang
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN JIWA
“ RESIKO BUNUH DIRI “

Oleh:

NAMA: RIZQIA AMRINA

NIM : 22224080

INSTITUT ILMU KESEHATAN DAN TEKNOLOGI


MUHAMMADIYAH PALEMBANG
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PENDIDIKAN PROFESI NERS
TAHUN 2024
LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO BUNUH DIRI

I. Masalah Keperawatan
Resiko bunuh diri

II. Proses Terjadinya Masalah


A. Pengertian
Resiko bunuh diri merupakan tindakan melukai diri sendiri dengan sengaja
untuk mengakhiri hidupnya. Orang dengan gangguan jiwa memiliki resiko
lebih tinggi dalam percobaan bunuh diri karena individu lebih sering
berperilaku impulsif dan agresif dan dirinya sendiri (Hidayati dkk, 2021)

B. Faktor Predisposisi
Menurut Purbaningsih (2019), meliputi :
1. Aspek Biologis
Dalam hal riwayat keluarga, individu dengan riwayat bunuh diri juga
lebih mungkin memiliki penyakit mental dan pernah mencoba bunuh
diri atau pernah bunuh diri daripada individu tanpa riwayat keluarga
bunuh diri.
2. Aspek Psikologis
Sekitar 90% kasus bunuh diri mengalami gangguan jiwa. Diantara
mereka, bunuh diri yang disebabkan oleh depresi atau episode depresi
dari gangguan bipolar dan skizofrenia menyumbang setidaknya setengah
dari total kejadian dan merupakan gangguan mental paling umum yang
menyebabkan bunuh diri.
3. Aspek Sosial Budaya
Pada klien kelolaan didapatkan aspek sosial budaya sebagian besar
adalah pendidikan menengah dan sosial ekonomi rendah.
C. Faktor Presipitasi
Menurut Purbaningsih (2019), meliputi :
1. Pengalaman Hidup Yang Negatif
Model teori stres menunjukkan bahwa stres adalah salah satu penyebab
munculnya keinginan untuk bunuh diri.
2. Faktor Keluarga
Faktor keluarga berdampak besar pada bunuh diri. Seperti, pengalaman
pelecehan masa kanak – kanak atau pengalaman yang terabaikan,
stabilitas keluarga dan gaya pengasuhan keluarga juga dapat
mempengaruhi ide bunuh diri.
3. Faktor Sosial dan Lingkungan
Media sosial dan forum memiliki potensi yang besar dalam
mempopulerkan dan intervensi pengetahuan tentang bunuh diri.
4. Faktor Kebudayaan
Suasana budaya yang kuat dapat mempengaruhi ide bunuh diri dengan
mempengaruhi sikap individu terhadap bunuh diri

D. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala menurut Nita Fitria, 2009 adalah sebagai berikut:
1. Mempunyai ide untuk bunuh diri.
2. Mengungkapkan keinginan untuk mati.
3. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.
4. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat
patuh).
5. Mempunyai riwayat percobaan bunuh diri.
6. Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat dan panik).
7. Kesehatan mental (secara klinis, klien kelihatan seperti depresi,
menyalahgunakan alkohol).
8. Konflik interpersonal.
9. Latar belakang keluarga.
10. Menjadi korban perikaku kekerasan.

E. Akibat
Akibat perilaku bunuh diri adalah cedera atau kematian. Jika perilaku
bunuh diri mengakibatkan kematian maka tindakan yang dilakukan adalah
perawatan jenazah. Cedera yang disebabkan oleh perilaku bunuh diri sangat
dipengauhi oleh cara seseorang melakukan percobaan percobaan bunuh
diri, Jika perilaku perilaku bunuh diri dilakukan dilakukan dengan
menggantung menggantung maka cedera yang terjadi adalah berupa jejas di
leher. Jika minum racun maka akan terjadi pencederaan di lambung dan
saluran pencernaan. Untuk itu intervensi yang dilakukan juga sangat
tergantung dengan cedera yang terjadi.

F. Rentang Respon
Adaptif Maladaptif

Peningkatan Pertumbuhan Perilaku Pencideraa Bunuh


diri peningkatan destruktif n diri diri
beresiko diri tak
langsung
Sumber: Yusuf (2015)
Keterangan :
1. Peningkatan diri yaitu seorang individu yang mempunyai pengharapan,
yakin, dan kesadaran diri meningkat.
2. Pertumbuhan-peningkatan beresiko, yaitu merupakan posisi pada
rentang yang masih normal dialami individu yang mengalami
perkembangan perilaku.
3. Perilaku destruktif tak langsung, yaitu setiap aktivitas yang merusak
kesejahteraan fisik individu dan dapat mengarah kepada kematian,
seperti perilaku merusak, merebut, berjudi, tindakan kriminal,
penyalahgunaan zat, perilaku yang menyimpang secara sosial, dan
perilaku yang menimbulkan stress.
4. Pencederaan diri, yaitu suatu tindakan yang membahayakan diri sendiri
yang dilakukan dengan sengaja.
5. Bunuh diri, yaitu tindakan angresif yang langsung terhadap diri sendiri
untuk mengakhiri kehidupan.

III. Analisis Data


Data Masalah
DS: Resiko Bunuh Diri
1. Klien mengatakan ingin diakui jati
dirinya.
2. Klien mengatakan tidak ada lagi yang
peduli.
3. Klien mengatakan tidak bisa
apa – apa.
4. Klien mengatakan dirinya tidak
berguna.
DO:
1. Mengkritik diri sendiri.
2. Merusak diri sendiri / orang lain.
3. Menarik diri dari hubungan sosial.
4. Tampak mudah tersinggung.
5. Tidak mau makan dan tidak tidur
IV. Pohon Masalah
Resiko cedera : kematian

Resiko
bunuh diri

Harga diri rendah Halusinasi Gangguan isi pikir:waham

Sumber: Nita Fitria, 2010

V. Rencana tindakan Keperawatan


A. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan utama dari proses keperawatan,
pengkajian mereflesksikan isi, proses dan informasi yang berhubungan
dengan kondisi bilogis, psikologis, sosial dan spiritual klien yang terdiri atas
pengumpulan data dan perumusan kebutuhan masalah pasien (Keliat, 2016).
1. Identitas Klien
Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
tanggal MRS (Masuk Rumah Sakit), informan, tangggal pengkajian, No
Rumah klien dan alamat klien.
2. Keluhan Utama
Tanyakan pada keluarga/ klien hal yang menyebabkan klien dan
keluarga datang ke Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga untuk
mengatasi masalah dan perkembangan yang dicapai.
3. Faktor predisposisi
Tanyakan pada klien / keluarga, apakah klien pernah mengalami
gangguan jiwa pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami,
penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan
dalam keluarga dan tindakan kriminal.
Dapat dilakukan pengkajian pada keluarga faktor yang mungkin
mengakibatkan terjadinya gangguan:
a. Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi
respon psikologis dari klien.

b. Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau SSP, pertumbuhan
dan perkembangan individu pada prenatal, neonatus dan anak-anak.
c. Sosial Budaya
Seperti kemiskinan, konflik sosial budaya (peperangan, kerusuhan,
kerawanan), kehidupan yang terisolasi serta stress yang menumpuk.
d. Aspek fisik/biologis
Hasil pengukuran tada vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan, TB, BB)
dan keluhan fisik yang dialami oleh klien.
e. Aspek Psikososial
1) Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga generasi
yang dapat menggambarkan hubungan klien dan keluarga,
masalah yang terkait dengan komunikasi, pengambilan
keputusan dan pola asuh.
2) Konsep diri
a) Citra tubuh: mengenai persepsi klien terhadap tubuhnya,
bagian yang disukai dan tidak disukai.
b) Identitas diri: status dan posisi klien sebelum dirawat,
kepuasan klien terhadap status dan posisinya dan kepuasan
klien sebagai laki-laki / perempuan.
c) Peran: tugas yang diemban dalam keluarga/ kelompok dan
masyarakat dan kemampuan klien dalam melaksanakan
tugas tersebut.
d) Ideal diri: harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas,
lingkungan dan penyakitnya.
e) Harga diri: hubungan klien dengan orang lain, penilaian
dan penghargaan orang lain terhadap dirinya, biasanya
terjadi pengungkapan kekecewaan terhadap dirinya sebagai
wujud harga diri rendah.
3) Hubungan sosial dengan orang lain yang terdekat dalam
kehidupan, kelompok yang diikuti dalam masyarakat.
4) Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah.
f. Status Mental
Nilai penampilan klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien,
aktivitas motorik klien (sedih, takut, khawatir), afek klien, interaksi
selama wawancara, persepsi klien, proses pikir, isi pikir, tingkat
kesadaran, memori, tingkat konsentrasi dan berhitung.
g. Kebutuhan persiapan pulang
1) Klien mampu menyiapkan dan membersihkan alat makan.
2) Klien mampu BAB dan BAK, menggunakan dan
membersihkan WC, membersikan dan merapikan pakaian.
3) Pada observasi mandi dan cara berpakaian klien terlihat rapi.
4) Klien dapat melakukan istirahat dan tidur, dapat beraktivitas
didalam dan diluar rumah.
5) Klien dapat menjalankan program pengobatan dengan benar.
h. Mekanisme Koping
Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau
menceritakannya pada orang orang lain (lebih sering menggunakan
koping menarik diri).
i. Masalah Psikososial dan Lingkungan
Masalah berkenaan dengan ekonomi, dukungan kelompok,
lingkungan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, dan pelayanan
kesehatan.
j. Pengetahuan
Data didapatkan melalui wawancara dengan klien kemudian tiap
bagian yang dimiliki klien disimpulkan dalam masalah.
k. Aspek Medik
Diagnosa medis yang telah dirumuskan dokter.
Terapi yang diterima klien bisa berupa therapi farmakologi ECT,
Psikomotor, therapi okopasional, TAK dan rehabilitas.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko bunuh diri b.d gangguan psikologis (D.0135)
C. Intervensi Keperawatan
Diagnosa Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Risiko bunuh diri b.d Setelah dilakukan tindakan keperawatan ...x 24 Pencegahan bunuh diri(I.14538)
gangguan psikologis jam diharapkan terjadi peningkatan terhadap
(D.0135) kemampuan mengendalikan diri (L.09076), Observasi:
dengan kriteria hasil: 1. Identifikasi gejala risiko bunuh
Definisi: NO Kriteria hasil Awal Akhir diri.
Berisiko melakukan upaya Verbalisasi 2. Identifikasi keinginan dan pikiran
menyakiti diri sendiri untuk 1. ancaman kepada 1 5 rencana bunuh diri.
mengakhiri kehidupan. orang lain 3. Monitor lingkungan bebas bahaya
2. Perilaku menyerang 1 5 secara rutin.
Perilaku melukai 4. Monitor adanya perubahan mood
3. 1 5 atau perilaku
diri
4. Perilaku merusak 1 5
Teraupetik:
1. Libatkan dalam perencanaan
perawatan mandiri.
2. Libatkan keluarga dalam
perencanaan perawatan.
3. Lakukan pendekatan langsung
dan tidak menghakimi saat
membahas bunuh diri.
4. Berikan lingkungan dengan
pengamanan ketat dan mudah
dipantau.
5. Tingkatkan pengawasan pada
kondisi tertentu.
6. Lakukan intervensi perlindungan.
7. Hindari diskusi berulang tentang
bunuh diri sebelumnya.
8. Diskusikan rencana menghadapi
ide bunuh diri di masa depan.
9. Pastikan obat ditelan.

Edukasi:
1. Anjurkan mendiskusikan
perasaan yang dialami kepada
oranglain.
2. Anjurkan menggunakan sumber
pendukung.
3. Jelaskan tindakan pencegahan
bunuh diri.
4. Informasikan sumber daya
masyarakat dan program yang
tersedia.
5. Latih pencegahan risiko bunuh
diri.

Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian obat
antiansietas, atau antipiretik,
sesuai indikasi.
2. Kolaborasi tindakan keselamatan
kepada PPA.
3. Rujuk ke pelayanan kesehatan
mental, jika perlu.
DAFTAR PUSTAKA

Endah Sari Purbaningsih. (2019). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Depresi Dan
Resiko Bunuh DirI. Jurnal Ilmiah Indonesia. 3(8), 1–9.
Fitria, Nita. 2010. Prinsip Prinsip Dasar dan dari Aplikasi Aplikasi Penulisan
Penulisan Laporan Laporan Pendahuluan Pendahuluan dan Strategi
Penatalaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). Jakarta: Salemba
Medika.
Nur Oktavia Hidayati*, Aviorizki Badori, Alifia Zalfa, Contantius Augusto, Gina
Saufika, K. A., & Salafi, Mitsni Mardhiyatul, Siti Noor Sya’fa, S. R. F.
(2021). Efek DIalectical Behavior Therapy Bagi Pasien Dengan Perilaku
Kekerasan dan Resiko Bunuh Diri. 4, 99–106.
PPNI, T. P. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI): Definisi
dan indikator diagnostik ((cetakan III) 1 ed). Jakarta: DPP

PPNI, T. P. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI): Definisi dan


indikator diagnostik ((cetakan II) 1 ed). Jakarta: DPP

PPNI, T. P. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI): Definisi dan


indikator diagnostik ((cetakan II) 1 ed). Jakarta: DPP
STRATEGI PELAKSANAAN (SP.1)
RESIKO BUNUH DIRI

SP 1: Percakapan untuk melindungi pasien dari percobaan bunuh diri Melindungi


pasien dari percobaan bunuh diri.

Fase Orientasi:
"Selamat pagi Pak, kenalkan saya biasa di pangil........, saya mahasiswa
Keperawatan Profesi Ners yang bertugas di ruang ini, saya dinas pagi dari jam 7
pagi 3 siang."

"Bagaimana perasaan A hari ini?"

Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang apa yang A rasakan selama ini.

Dimana dan berapa lama kita bicara?"

Fase Kerja:
"Bagaimana perasaan A setelah ini terjadi?
Apakah dengan bencana ini A paling merasa menderita di dunia ini?
Apakah A pemah kehilangan kepercayaan diri?
Apakah A merasa tidak berharga atau bahkan lebih rendah dari pada orang lain?
Apakah A merasa bersalah atau mempersalahkan diri sendiri?
Apakah A sering mengalami kesulitan berkonsentrasi?
Apakah A berniat unutuk menyakiti diri sendiri?
Ingin bunuh diri atau berharap A mati?
Apakah A pernah mencoba bunuh diri?
Apa sebabnya, bagaimana caranya?
Apa yang A rasakan?"

"Baiklah, tampaknya A membutuhkan pertolongan segera karena ada keinginan


untuk mengakhiri hidup. Saya perlu memeriksa seluruh isi kamar A ini untuk
memastikan tidak ada benda-benda yang membahayakan A)"

"Karena A tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat untuk mengakhiri


hidup A, saya tidak akan membiarkan A sendiri"

"Apa yang A lakukan jika keinginan bunuh diri muncul?"


"Kalau keinginan itu muncul, maka akan mengatasinya A harus langsung minta
bantuan kepada perawat di ruangan ini dan juga keluarga atau teman yang sedang
besuk. Jadi A jangan sendirian ya, katakan kepada teman perawat, keluarga atau
teman jika ada dorongan untuk mengakhiri kehidupan."
"Saya percaya A dapat mengatasi masalah."

Fase Terminasi:

"Bagaimana perasaan A sekarang setelah mengetahui cara mengatasi perasaan


ingin bunuh diri?"

Coba A sebutkan lagi cara tersebut!"

"Saya akan menemani A terus sampapi keinginan bunuh diri hilang." (jangan
meninggalkan pasien).

Anda mungkin juga menyukai