0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan6 halaman

Desain Antena Mikrostrip untuk IINUSAT II

Diunggah oleh

firmansyah1745.fs
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan6 halaman

Desain Antena Mikrostrip untuk IINUSAT II

Diunggah oleh

firmansyah1745.fs
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept.

2012) ISSN: 2301-9271 A-19

Desain Antena Array Mikrostrip Tapered Peripheral


SlitsPada Frekuensi 2,4 Ghz Untuk Satelit Nano
Widyanto Dwiputra Pradipta, Eko Setijadi dan Gamantyo Hendrantoro
Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, InstitutTeknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: gamantyo@[Link]

Abstrak—Pada makalah ini akandibahas antena mikrostrip


square yang dimensinyadisesuaikan dengan bentuk satelit Tabel 1.
IINUSAT dan disusunarrayplanar 2x2. Subtrat yang dipakai Spesifikasi Satelit IINUSAT II
adalah FR04 Epoxy dengan konstanta dielektrik 4,3, ukuran Tahun Peluncuran 2014
subtrat adalah 10x10 cm dengan ketebalan 1,6 dan 1 mm. Misi Komunikasi suara dan data
Patchsquare yang digunakan akan mengunakan pola Tapered
Frekuensi S
Peripheral Slit untuk minimalisasi ukuran patch, terdapat 4
pasang slit dengan panjang yang berbeda-beda pada setiap sisi Bandwidth ±7 MHz
patch. Antena mikrostrip ini beroperasi pada frekuensi 2,4 Daya 50 w
GHz dengan parameter Return Loss< -10 dB, VSWR < 2 dan Struktur Kubus (Cube)
gain> 3,7 dBi. Untuk menghasilkan gain yang tinggi, antena
mikrostrip ini menggunakan pencatuan aperture Dalam membangun sebuah komunikasi untuk satelit nano
[Link] cross slot dikombinasikan dengan pencatuan dibutuhkan sebuah antenna yang berukuran kecil dan low
aperture coupled agar menghasilkan polarisasi sirkuler pada [Link] yang dapat digunakan adalah antenna
antena.
Hasil simulasi dengan software CST 2012 Microwave
Mikrostripkarena memiliki ukuran yang kecil, low profile,
Studiomenunjukkan return loss antena sebesar -15,708 dB compact, low weight dan low [Link] Mikrostrip
dengan bandwidth 34,4 MHz, VSWR 1,3922 dan gain 4,413 dBi. merupakan antena yang menggunakan teknologi printed-
Sedangkan pengukuran di Lab. Antena dan Propagasi Elektro circuit board (PCB).Namun antena mikrostrip memiliki
ITS dan Lab. Antena dan Propagasi PENS pada antena yang suatu kelemahan, yaitu hanya memiliki gain yang kecil. Hal
telah direalisasikan menghasilkan return loss sebesar -30,894 tersebut dapat diatasi dengan pencatuan aperture coupled
dB dengan bandwidth 588,67 MHz, VSWR 1,191 dan gain7,104
dBi. Mengacu pada hasil simulasi dan pengukuran maka
dan menyusun antena mikrostrip secara array.
antena arraymikrostrip tapered peripheral slitspada frekuensi Dengan dimensi satelit nano yang terbatas, maka
2,4 Ghz dapat digunakan sebagai acuan desain antena untuk dibutuhkan minimalisasi ukuran antena. Hasil suatu studi
satelit IINUSAT II. mengatakan bahwa adanya potongan pada bentuk patch
mempengaruhi persebaran arusyang berdampak pada
Kata Kunci—Antena mikrostrip,aperture coupled, array, menurunnya frekuensi kerja antena[2], teknik tersebut
cross slot,Tapered peripheral slits.
diimplementasikan dengan sebutantapered peripheral slits.
Oleh karena itu desain antena mikrostrip array dengan
I. PENDAHULUAN menggunakan pola tapered peripheral slits diperlukan untuk
mengatasi permasalahan gain antena pada dimensi satelit
D ENGAN dibentuknya INSPIRE (Indonesian Nano-
Satelite Platform Initiative for Research and
Education), perkembangan satelit di Indonesia menjadi
IINUSAT II yang terbatas.

sangat menjanjikan. Melalui anggotanya yang merupakan II. PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI ANTENA
universitas dan institut seperti ITS, ITB, UI, UGM, PENS,
Antena mikrostrip yang dirancang adalah antena
dan IT Telkom, dibuatlah sebuah satelit nano IINUSAT
mikrostrip rectangular array 2x2 pada frekuensi 2,4 GHz
I(Indonesian Inter University Satellite) dengan tujuan
dengan menggunakan pencatuan aperture coupled dan pola
penguasaan dan pengembangan teknologi rekayasa luar
patch tapered peripheral slit, subtrat yang digunakan adalah
angkasa (space engineering)[1].Selanjutnya akan dibuat
satelit generasi kedua dengan nama IINUSAT II. FR04 Epoxy dengan konstanta dielektrik (𝜀𝜀reff )4,[Link]
IINUSAT II merupakan satelit nano yang digunakan antena yang dibuat adalah 10x10 cm sesuai dengan dimensi
untuk komunikasi data, gambar maupun video. Dalam satelit IINUSAT II. Untuk lebih jelasnya spesifikasi antena
pengembangannya IINUSAT II memiliki ukuran dan bobot mikrostrip yang dibuat dapat dilihat pada tabel 2.
yang kecil, oleh karena itu komponen-komponen yang Tabel 2.
menyusun IINUSAT II haruslah lebih kecil dan [Link] Spesifikasi Antena Array Mikrostrip Tapered Peripheral Slits
Desain Antena Square Patch
satu kriteria dari satelit tersebut adalah memiliki antena
Frekuensi kerja 2400 MHz
mikrostrip pada frekuensi S-band atau 2,4 GHz. Pada tabel 1
VSWR <2
menunjukkan spesifikasi dari IINUSAT II dengan
Return loss < - 10 dB
penambahan spesifikasi dari satelit yang memiliki
Jarak Antar Patch ½ λ atau 62,5 mm
karakteristik dan fungsi yang sama dengan IINUSAT II.
Polarisasi Sirkular
Struktur IINUSAT II berbentuk kubus dengan referensi
Gain >3,7 dB
dimensi CUBE-SAT yaitu 10x10x10 cm.[2]
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271 A-20

Perancangan antena mikrostrip ini menggunakan software


Computer Simulation Technology (CST) 2012 :Microwave
Studio dan software TXLINE 2003.
A. Patch Antena
Untuk menentukan dimensi elemen peradiasi antena
mikrostrip maka terlebih dahulu menentukan panjang
gelombang di ruang bebas (λ 0 )dan di dielektrik (λ d )dengan Gambar [Link] slot dan tebal subtrat[4]
nilai perambatan di ruang bebas (c) sebesar 3x108m/s dan
Untuk mendapatkan hasil parameter antena yang baik
frekuensi kerja 2,4GHz. Dengan menggunakan persamaan
perbandingan antara panjang dan lebar slot adalah 10:1, hal
(1) dan (2) didapatkan λ 0 sebesar 125 mm danλ d sebesar 60
tersebut akan berpengaruh terhadap back radiation serta
mm untuk frekuensi 2,4 GHz.
impedansi saluran[5]. Perhitungan dari dimensi slot dan
𝑐𝑐
𝜆𝜆0 = 𝑓𝑓 (1) tebal feed subtrat sesuai dengan gambar 1 adalah sebagai
𝑟𝑟
berikut:
𝜆𝜆 0
𝜆𝜆𝑑𝑑 = (2) Panjang slot = 0.1477 x λ d = 0.1477 x 60 = 8.788 mm
√𝜀𝜀 𝑟𝑟

Selanjutnya menghitung dimensi elemen peradiasi antena Lebar slot = 0.0164 x λ d = 0.0164 x 60 = 0.975 mm
mikrostrip atau patch antena yang terdiri dari lebar (W)dan
Ketebalan feed subtrat = 0.0169 x λ d = 0.0169 x 60 = 1 mm
panjang (L). Lebar patch dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan (3) dengan hasil perhitungan 38 C. Saluran Pencatu
[Link] untuk menentukan panjang (L)patch, Besarnya impedansi saluran penctu atau feed yang akan
terlebih dahulu harus ditentukan konstanta dielektrik efektif dirancang adalah 50 Ω, nilai impedansi tersebut
(𝜀𝜀reff ) dengan menggunakan persamaan (4), (5) dan (6). menyesuaikan impedansi konektor dan kabel koaksial yang
Dari hasil akhir perhitungan diketahui panjang patch adalah tersedia di pasaran. Selanjutnya untuk panjang dan posisi
29,42 mm. saluran pencatu terhadap patch antena dapat diketahui
Menghitung lebar konduktor (W) [3] dengan persamaan pada gambar 2.

1 2
𝑊𝑊 = �𝜀𝜀 (3)
2𝑓𝑓𝑓𝑓 �𝜇𝜇 0 𝑓𝑓0 𝑟𝑟+1

Menghitung konstanta dielektrik efektif (ε eff )[3]


𝜀𝜀 𝑟𝑟 +1 𝜀𝜀 𝑟𝑟 −1 ℎ
𝜀𝜀𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒 = 2
+ 2
[1 + 12 𝑤𝑤 ]−1/2 (4)

Menghitung panjang tambahan (ΔL)[3]


𝑤𝑤
(𝜀𝜀 𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒 +0,3)( +0,264 )

∆𝐿𝐿 = 0,412ℎ 𝑤𝑤 (5) Gambar [Link] panjang saluran pencatu[4]
(𝜀𝜀 𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒 −0,258 )( +0,8)

Panjang saluran pencatu secara keseluruhan adalah
Menghitung panjang patch (L)[3] 0,739λ d dan panjang saluran pencatu yang melebihi slot
1 (offset) adalah 0,211λ d . Dengan menggunakan persamaan
𝐿𝐿 = − 2∆𝐿𝐿 (6)
2𝑓𝑓𝑓𝑓 �𝜀𝜀 𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒𝑒 �𝜇𝜇 0 𝜀𝜀 0
tersebut maka panjang saluran pencatu adalah :
Maka dari hasil perhitungan dimensi elemen peradiasi Panjang saluran pencatu
pada frekuensi 2,4GHz adalah W = 38 mm, dan L= 29.42 0.739 x λ d = 0.739 x 60 = 43.97 mm
mm. Karena menggunakan square patch maka dimensi
patch yang digunakan adalah panjang patch (L), sehingga Panjang saluran pencatu (offset)
setiap sisi patch memiliki panjang 29,42 mm. 0.211 x λ d = 0.211 x 60 = 12.554 mm

B. Pencatuan Aperture Coupled D. Perancangan T-Junction


Pada konfigurasi teknik pencatuan aperture coupled, Untuk mendesain antena mikrostrip array maka
pengkopelan dari saluran pencatu (feed-line) ke patch dibutuhkan suatu saluran yang dapat menghubungkan patch
melalui sebuah aperture kecil yang berupa slot pada bidang yang ada. Bentuk awal dari saluran tersebut berupa T-
pentanahan (ground plane).Ada 2 susun substrat konduktor Junction yang merupakan saluran pencatu yang memiliki
dimana permittivity yang di atas lebih kecil dari yang di percabangan seperti pada gambar 3 dimana Z 0 merupakan
bawah untuk mengurangi [Link] bisa juga impedansi karakteristik dan Z adalah impedansi transformer
memakai subtrat yang sama dengan ketebalan yang berbeda. ¼ λ.Nilai dari Z dapat dihitung dengan menggunakan
Perhitungan tebal subtrat, ukuran slot serta panjang feed metode wilkinson, hasil perhitungannya adalah sebagai
berdasarkan panjang gelombang dalam dielektrik (λ d ). [4] berikut.

Z = Z 0√𝑁𝑁 = 50√2 = 70,7106 Ω


JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271 A-21

Gambar 3. Desain T-Junction[6]


(a) (b)
E. Cross Slot Gambar 6. Desain antena mikrostrip array 2x2, desain patch antena (a)
Salah satu teknik untuk mendapatkan polarisasi sirkular dan desain saluran pencatu (b)
pada antena mikrostrip dengan pencatuan aperture coupled
adalah dengan memberikan slot berbentuk cross (+).
Dengan bentuk slot tersebut jalur saluran pencatu yang
berada dibawahnya mengikuti pinggiran slot yang berbentuk
+ sehingga terlihat mengelilingi slot. Hal tersebut
dimaksudkan agar medan tersalurkan secara bergantian pada
patch mengikuti bentuk slot tersebut. Bentuk slot dan
saluran pencatu dari teknik ini dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 7. Hasil simulasi return loss antena mikrostrip

Gambar 4. Teknik cross slot untuk polarisasi sirkular

F. Tapered Peripheral Slits


Tapered Peripheral Slits merupakan pola yang digunakan
dalam memodifikasi bentuk patch, patch yang digunakan
adalah [Link] patch dipotong dengan beberapa
pecahan dengan lebar yang sama. Teknik ini didasari oleh
adanya distribusi arus yang membentuk suatu pola dan dari
studi yang dilakukan menyatakan bahwa penyesuaian patch
dengan bentuk distribusi tersebut membawa perubahan yang
signifikan pada ukuran patch. Dengan menggunakan pola Gambar 8. Hasil simulasi VSWR antena mikrostrip
ini ukuran patch sebuah antena mikrostrip dapat berkurang
hingga 33% dari ukuran aslinya.[2]

Gambar 5. Pola Tapered Peripheral Slits[2]

G. Simulasi Antena
Simulasi desain antena menggunakan perangkat lunak Gambar 9. Hasil simulasi pola radiasi antena mikrostrip
CST 2012 Microwave Studio. Simulasi desain antena ini Berdasarkan hasil simulasi diatas didapatkan return loss
dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain simulasi yang cukup baik yaitu -15,708 dB pada frekuensi kerja 2.4
aperture coupled, cross slot, dilanjutkan dengan GHz dan nilai VSWR 1,3922. Sedangkan gain yang
penambahan pola tapered peripheral slits dan akhirnya didapatkan sebesar 4,413 dBi. Gain ini merupakan gain
antena disusun secara array 2x2. Hasil akhir desain antena antena yang didapatkan dari perbandingan dengan isotropis
dapat dilihat pada gambar 6. antena. Pada gambar terdapat perpotongan antara grafik
dengan garis -10dB yang merupakan batas frekuensi dimana
antena dapat bekerja dengan baik, perpotongan tersebut
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271 A-22

ditunjukkan oleh titik 2 dan 3. Bandwidth didapatkan AR= E major / E minor = 1473 / 1213 = 1,197
dengan menghitung selisih frekuensi pada titik 2 dan 3, Dimana :
dengan hasil sebagai berikut : AR : Axial ratio
E major : Nilai medan e paling besar
2,4191 – 2,3847 = 0,0344 GHz = 34,4 MHz E minor : Nilai medan e paling kecil
Dengan melihat pola radiasi secara polar maka dapat Berdasarkan nilai axial ratio yang lebih mendekati 1 yaitu
ditentukan besarnya nilai Half Power Beam Width (HPBW) 1,197, maka dengan kata lain antena ini memiliki polarisasi
yang merupakan sudut batas untuk setengah daya maksimal sirkuler walaupun belum sempurna.
yang diterima antena. Pola radiasi secara polar φ=0 Dari hasil simulasi yang diperoleh, parameter-parameter
ditunjukkan pada gambar 10, dari gambar tersebut antena sudah sesuai dengan kriteria desain antena.
didapatkan nilai HPBW sebesar 56,2o. Perbandingan kriteria desain dengan hasil simulasi dapat
dilihat pada tabel 3.
HPBW
Tabel 3.
Parameter Antena Hasil Simulasi
Parameter Antena Kriteria Desain Simulasi
Return Loss <-10 dB -15,708 dB
VSWR <2 1,3922
Bandwidth ±7 MHz 34,4 MHz
Gain >3,7 dBi 4,413 dBi
HPBW - 56,2o

H. Implementasi Antena
Antena arraymikrostriptapered peripheral slits
direalisasikan berdasarkan simulasi yang telah dilakukan
Gambar 10. Hasil simulasi pola radiasi plot polar Φ=0oantena mikrostrip sebelumnya. Antena tersebut kemudian dirakit dengan
menambahkan spacer plastik dan konektor SMA 50Ω
Polarisasi antena mikrostrip ditentukan dengan nilai axial
seperti pada gambar 12 dan 13.
ratio yang merupakan perbandingan nilai medan e, dari hasil
simulasi didapatkan nilai medan e untuk sumbu x dan
sumbu y sebesar 1213 v/m dan 1473 v/m seperti pada
gambar 11a dan 11b.

Gambar [Link] atas hasil fabrikasi antena

(a)

Gambar [Link] bawah hasil fabrikasi antena

III. EVALUASI DAN ANALISA


Proses pengukuran dalam penelitian ini dilakukan melalui
beberapa tahap pengukuran dengan menggunakan perangkat
Network Analyzer, signal generator dan Spektrum Analyzer.
Parameter yang diukur dalam pengukuran ini adalah return
loss, VSWR, bandwidth, gain dan pola radiasi. Perangkat
(b) Network Analyzerdi Lab Antena dan Propagasi Teknik
Gambar [Link] medan e pada (a) sumbu x dan (b) sumbu y
Elektro ITS digunakan untuk mengukur nilai return loss,
Berdasarkan nilai medan e diatas maka nilai axial ratio VSWR dan bandwidth, sedangkan Signal Generator dan
bisa didapatkan dengan medan e pada sumbu y sebagai Spectrum Analyerdi Lab Antena dan Propagasi PENS
E major dan medan e pada sumbu x adalah E minor : digunakan untuk mengetahui nilai daya terima antena. Nilai
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271 A-23

daya terima antena tersebut dapat digunakan untuk antena yang kurang bagus juga dapat berpengaruh pada hasil
mengetahui nilai gain dan pola radiasi. Setelah mendapatkan pengukuran.
hasil pengukuran antena maka hasil tersebut akan
dibandingkan dengan hasil simulasi. B. Pola Radiasi
A. Analisa Nilai Return loss, Bandwidth dan VSWR Untuk mengukur pola radiasi antena digunakan perangkat
Signal Generator dan Spectrum Analyzer, antena pemancar
Pengukuran return loss, VSWR dan bandwidthdilakukan
dihubungkan dengan Signal Generator dan antena
dengan menggunakan Network Analyzer, antena
mikrostrip dihubungkan dengan Spectrum Analyzer. Antena
dihubungkan dengan perangkat tersebut melalui kabel
mikrostrip diletakkan di atas tripot yang berfungsi untuk
koaksial dan konektor. Perbandingan nilai return loss antena
memutar posisi antena. Antena mikrostrip diputar dengan
mikrostrip hasil simulasi dan hasil pengukuran dapat dilihat
pertambahan sudut 10o pada θ untuk posisi φ=0o dan φ=90o.
pada gambar 14. Nilai return loss pada saat simulasi adalah
Perbandingan pola radiasi antena hasil simulasi dan hasil
-15,708 dB, sedangkan pada saat pengukuran sebesar -
pengukuran, dapat dilihat pada gambar 16 untuk pola radiasi
30,894 dB. Terdapat perbedaan yang sangat besar antara
dengan φ=0o dan pada gambar 17 untuk pola radiasiφ=90o.
hasil similasi dengan hasil pengukuran, nilai return loss
Dilihat pada gambar 16 dan 17 pola radiasi antena
hasil pengukuran terlihat lebih baik daripada hasil simulasi.
mikrostrip hasil simulasi dan hasil pengukuran memiliki
pola radiasi yang sedikit berbeda. Pola radiasi φ=0o pada
hasil simulasi membentuk sebuah pola dimana terdapat
suatu titik yang memberikan arah radiasi yang paling kuat,
arah radiasi tersebut didapatkan ketika permukaan antena
tepat mengarah ke sumber sinyal. Sedangkan arah radiasi
yang paling lemah ada di bagian belakang antena. Pada pola
radiasi hasil pengukuran, terlihat arah radiasi dari antena
menyebar ke beberapa titik tetapi memiliki arah radiasi yang
paling kuat ada di sekitar arah 100, tepatnya pada sudut 3300
Gambar [Link] Perbandingan Nilai Return loss Antara Hasil Simulasi
sampai 200.
dengan Hasil Pengukuran

Perbedaan hasil simulasi dan hasil pengukuran terhadap


nilai return loss juga berpengaruh terhadap besarnya nilai
bandwidth. Pada hasil simulasi, bandwidth didapatkan 34,4
MHz sedangkan dari hasil pengukuran didapatkan nilai
bandwidth sebesar 588,67 MHz. Nilai bandwidth saat
pengukuran lebih besar daripada nilai bandwidth saat
simulasi.
Perbandingan nilai VSWR antara hasil simulasi dan hasil
pengukuran dapat dilihat pada gambar [Link] hasil
simulasi ditandai dengan grafik bewarna biru dan hasil (a) Pola Radiasi hasil simulasi (b) Pola Radiasi Hasil Pengukuran
pengukuran ditandai dengan grafik bewarna merah. Pada Gambar 16. Perbandingan Pola Radiasi Φ=0o
simulasi didapatkan nilai VSWR sebesar 2,3922, sedangkan Tidak jauh berbeda dengan pola radiasi φ=0o, pola radiasi
pada pengukuran didapatkan nilai 1,191. Karena nilai denganφ=90o juga memiliki suatu pola dimana arah radiasi
VSWR pada saat pengukuran lebih mendekati 1 maka nilai paling kuat di satu arah tertentu. Pada hasil simulasi arah
tersebut yang paling baik. radiasi yang paling kuat adalah dari sudut 3300 sampai 300,
sedangkan saat pengukuran adalah 340o sampai [Link]
teori dapat disimpulkan antena mikrostrip memiliki pola
radiasi directional dimana mempunyai sifat radiasi atau
penerimaan gelombang elektromagnetik yang lebih efektif
pada satu arah tertentu dibandingkan dengan arah lainnya.

Gambar [Link] Perbandingan Nilai VSWR Antara Hasil Simulasi


dengan Hasil Pengukuran

Perbedaan antara hasil simulasi dan pengukuran ini


dikarenakan perangkat pengukur yaitu Network Analyzer
(NA) kurang presisi sehingga memberikan nilai pengukuran
yang kurang valid. Selain itu juga terdapat pengaruh
ketidaksesuaian konektor yang dipakai pada saat (a) Pola Radiasi hasil simulasi(b) Pola Radiasi Hasil Pengukuran
pengukuran, konektor yang digunakan juga tidak persis Gambar [Link] Pola Radiasi φ=90oAntena
sama dengan yang digunakan pada saat simulasi. Pembuatan
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271 A-24

C. Gain Antena kabel dengan impedansi yang tidak sesuai dengan impedansi
Pengukuran gain pada antena dilakukan dengan cara anten serta pembuatan antena yang kurang bagus.
membandingkan level daya terima antena yang direaliasikan
dengan antena referensi. Antena referensi memiliki gain IV. KESIMPULAN/RINGKASAN
sebesar 7 dBi yang merupakan perbandingan dengan antena
Berdasarkan perancangan desain simulasi dan pengukuran
isotropis. Dari pengukuran diperoleh 10 sampel level daya
antena yang telah direalisasikan maka dapat disimpulkan
terima seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.
bahwa parameter antena telah memenuhi kriteria yang telah
Tabel 4 ditentukan. Walaupun parameter yang dihasilkan berbeda,
Hasil Pengukuran Level Daya Terima Antena
No Level Daya Terima Level Daya Selisih level
namun baik antena mikrostrip saat simulasi maupun
Antena Referensi Terima Antena (Pt Daya (dB) pengukuran sama-sama telah memenuhi kriteria.
(Ps (dBm)) (dBm)) Pada simulasi didapatkan nilai returnloss untuk frekuensi
1 -41.37 -45.38 -4.01 2.4GHz yaitu -15.708 dB dan VSWR sebesar 1,3922 dengan
2 -42.45 -49.73 -7.28 bandwidth sebesar 34,4 MHz. Sedangkan hasil pengukuran
3 -48.35 -51.37 -3.02 nilai returnloss didapatkan pada frekuensi 2.4 GHz yaitu -
4 -47.46 -52.24 -4.78 30,894 dB dan VSWR sebesar 1,192 dengan
5 -40.23 -44.5 -4.27 bandwidthsebesar 588,67 MHz. Nilai gain hasil simulasi
6 -49.42 -45.31 4.11 memiliki nilai sebesar 4,413 dBi, sedangkan pada hasil
7 -50.22 -54.25 -4.03
pengukuran didapatkan nilai gain sebesar 7,104 dBi. Pola
8 -51.87 -52.93 -1.06
radiasi antena mikrostrip hasil simulasi dan hasil
9 -43.24 -45.26 -2.02
pengukuran memiliki karakteristik direksional.
10 -41.02 -43.62 -2.6
Dengan tanpa melupakan keterbatasan data yang
Rata-rata -45.563 -48.459 -2.896
diperoleh, secara umum antenna array mikrostrip tapered
Sampel tersebut kemudian dirata-rata kemudian peripheral slits memiliki spesifikasi dan rancangan yang
digunakan untuk memperoleh gain antena. Gain antena (G t ) memenuhi untuk digunakan pada satelit S-Band IINUSAT II
didapatkan dengan cara menambahkan gain antena referensi pada frekuensi 2.4 GHz.
(G s ) dengan selisih level daya terima antena
G t = G s + (P t ) – (P s )
UCAPAN TERIMA KASIH
G t = 7 + (-48.459) – (-45.563)
G t = 7 + (-2.896) Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktorat
G t = 4,104 dBi Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia yang telah memberikan
Dikarenakan perbedaan polarisasi pada antena pemancar dukungan finansial melalui Program Kreativitas
yang linier dengan antena mikrostrip dengan polarisasi MahasiswaKarsa Cipta (PKM-KC) tahun 2012.
sirkuler, maka daya yang diterima antena mikrostrip hanya
setengahnya. Oleh karena itu untuk mendapatkan gain
antena yang sebenarnya harus ditambah 3 dB menjadi 7,104 DAFTAR PUSTAKA
dBi. [1] “Tentang INSPIRE,” http:/[Link]
Pada saat simulai didapatkan nilai gain sebesar 4,413 dBi [2] G. [Link] andP. Constantinou,”A Compact Microstrip Antenna
with Tapered Peripheral Slits for CubeSat RF Playloads at 436 MHz :
untuk frekuensi kerja 2,4 GHz. Sedangkan pada saat
Miniaturization Techniques, Design & Numerical Result,”
pengukuran didapatkan nilai gain sebesar 7,104 dBi. Seperti IEEE,(2008).
pada pengamatan nilai return loss dan VSWR, terdapat [3] S. D. Emilya,“ Desain Antena Mikrostrip Untuk Satelit S-Band Pada
beberap kondisi yang menyebabkan perbedaan nilai gain Frekuensi 2.4 Ghz,“ Belum dipublikasikan.
[4] M. P. Civerolo, “Aperture Coupled Microstrip Antenna Design and
antena diantaranya perangkat yang kurang presisi, konektor
Analysis,”USA: Faculty of California Polytechnic State
yang tidak sesuai dan pembuatan antena yang kurang bagus. University,(2010).
[5] D. M. Pozar, “A Review of Aperture Coupled Microstrip Antennas:
Tabel 5
History, Operation, Development, and Applications,”USA: University
Perbandingan Parameter Hasil Simulasi dan Pengukuran
of Massachusetts, (1996).
Parameter Antena Kriteria Hasil Simulasi Hasil Pengukuran
[6] A. H. Rambe,“Rancang Bangun Antena Mikrostrip Patch Segiempat
Desain Antena Antena
Planar Array 4 Elemen Dengan Pencatuan Aperture Coupled Untuk
Return loss (dB) <-10 -15,708 -30,894
Aplikasi CPE Pada WIMAX,”Indonesia: Fakultas Teknologi
VSWR <2 1,3922 1,191
Universitas Indonesia,(2008).
Bandwidth (MHz) ±7 34,4 588,67
Gain (dBi) >3,7 4,413 7,104
HPBW - 56,2o 30o

Dari tabel 5 didapatkan perbandingan parameter


berdasarkan kriteria desain, hasil simulasi dan hasil
pengukuran. Jika dibandingan kriteria desain antena,
parameter hasil simulasi dan pengukuran sudah memenuhi
syarat untuk digunakan pada satelit IINUSAT II. Perbedaan
nilai hasil simulasi dengan pengukuran disebabkan oleh
perangkat yang kurang presisi, penggunaan konektor dan

Anda mungkin juga menyukai