Desain Antena Mikrostrip untuk IINUSAT II
Desain Antena Mikrostrip untuk IINUSAT II
sangat menjanjikan. Melalui anggotanya yang merupakan II. PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI ANTENA
universitas dan institut seperti ITS, ITB, UI, UGM, PENS,
Antena mikrostrip yang dirancang adalah antena
dan IT Telkom, dibuatlah sebuah satelit nano IINUSAT
mikrostrip rectangular array 2x2 pada frekuensi 2,4 GHz
I(Indonesian Inter University Satellite) dengan tujuan
dengan menggunakan pencatuan aperture coupled dan pola
penguasaan dan pengembangan teknologi rekayasa luar
patch tapered peripheral slit, subtrat yang digunakan adalah
angkasa (space engineering)[1].Selanjutnya akan dibuat
satelit generasi kedua dengan nama IINUSAT II. FR04 Epoxy dengan konstanta dielektrik (𝜀𝜀reff )4,[Link]
IINUSAT II merupakan satelit nano yang digunakan antena yang dibuat adalah 10x10 cm sesuai dengan dimensi
untuk komunikasi data, gambar maupun video. Dalam satelit IINUSAT II. Untuk lebih jelasnya spesifikasi antena
pengembangannya IINUSAT II memiliki ukuran dan bobot mikrostrip yang dibuat dapat dilihat pada tabel 2.
yang kecil, oleh karena itu komponen-komponen yang Tabel 2.
menyusun IINUSAT II haruslah lebih kecil dan [Link] Spesifikasi Antena Array Mikrostrip Tapered Peripheral Slits
Desain Antena Square Patch
satu kriteria dari satelit tersebut adalah memiliki antena
Frekuensi kerja 2400 MHz
mikrostrip pada frekuensi S-band atau 2,4 GHz. Pada tabel 1
VSWR <2
menunjukkan spesifikasi dari IINUSAT II dengan
Return loss < - 10 dB
penambahan spesifikasi dari satelit yang memiliki
Jarak Antar Patch ½ λ atau 62,5 mm
karakteristik dan fungsi yang sama dengan IINUSAT II.
Polarisasi Sirkular
Struktur IINUSAT II berbentuk kubus dengan referensi
Gain >3,7 dB
dimensi CUBE-SAT yaitu 10x10x10 cm.[2]
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271 A-20
Selanjutnya menghitung dimensi elemen peradiasi antena Lebar slot = 0.0164 x λ d = 0.0164 x 60 = 0.975 mm
mikrostrip atau patch antena yang terdiri dari lebar (W)dan
Ketebalan feed subtrat = 0.0169 x λ d = 0.0169 x 60 = 1 mm
panjang (L). Lebar patch dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan (3) dengan hasil perhitungan 38 C. Saluran Pencatu
[Link] untuk menentukan panjang (L)patch, Besarnya impedansi saluran penctu atau feed yang akan
terlebih dahulu harus ditentukan konstanta dielektrik efektif dirancang adalah 50 Ω, nilai impedansi tersebut
(𝜀𝜀reff ) dengan menggunakan persamaan (4), (5) dan (6). menyesuaikan impedansi konektor dan kabel koaksial yang
Dari hasil akhir perhitungan diketahui panjang patch adalah tersedia di pasaran. Selanjutnya untuk panjang dan posisi
29,42 mm. saluran pencatu terhadap patch antena dapat diketahui
Menghitung lebar konduktor (W) [3] dengan persamaan pada gambar 2.
1 2
𝑊𝑊 = �𝜀𝜀 (3)
2𝑓𝑓𝑓𝑓 �𝜇𝜇 0 𝑓𝑓0 𝑟𝑟+1
G. Simulasi Antena
Simulasi desain antena menggunakan perangkat lunak Gambar 9. Hasil simulasi pola radiasi antena mikrostrip
CST 2012 Microwave Studio. Simulasi desain antena ini Berdasarkan hasil simulasi diatas didapatkan return loss
dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain simulasi yang cukup baik yaitu -15,708 dB pada frekuensi kerja 2.4
aperture coupled, cross slot, dilanjutkan dengan GHz dan nilai VSWR 1,3922. Sedangkan gain yang
penambahan pola tapered peripheral slits dan akhirnya didapatkan sebesar 4,413 dBi. Gain ini merupakan gain
antena disusun secara array 2x2. Hasil akhir desain antena antena yang didapatkan dari perbandingan dengan isotropis
dapat dilihat pada gambar 6. antena. Pada gambar terdapat perpotongan antara grafik
dengan garis -10dB yang merupakan batas frekuensi dimana
antena dapat bekerja dengan baik, perpotongan tersebut
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271 A-22
ditunjukkan oleh titik 2 dan 3. Bandwidth didapatkan AR= E major / E minor = 1473 / 1213 = 1,197
dengan menghitung selisih frekuensi pada titik 2 dan 3, Dimana :
dengan hasil sebagai berikut : AR : Axial ratio
E major : Nilai medan e paling besar
2,4191 – 2,3847 = 0,0344 GHz = 34,4 MHz E minor : Nilai medan e paling kecil
Dengan melihat pola radiasi secara polar maka dapat Berdasarkan nilai axial ratio yang lebih mendekati 1 yaitu
ditentukan besarnya nilai Half Power Beam Width (HPBW) 1,197, maka dengan kata lain antena ini memiliki polarisasi
yang merupakan sudut batas untuk setengah daya maksimal sirkuler walaupun belum sempurna.
yang diterima antena. Pola radiasi secara polar φ=0 Dari hasil simulasi yang diperoleh, parameter-parameter
ditunjukkan pada gambar 10, dari gambar tersebut antena sudah sesuai dengan kriteria desain antena.
didapatkan nilai HPBW sebesar 56,2o. Perbandingan kriteria desain dengan hasil simulasi dapat
dilihat pada tabel 3.
HPBW
Tabel 3.
Parameter Antena Hasil Simulasi
Parameter Antena Kriteria Desain Simulasi
Return Loss <-10 dB -15,708 dB
VSWR <2 1,3922
Bandwidth ±7 MHz 34,4 MHz
Gain >3,7 dBi 4,413 dBi
HPBW - 56,2o
H. Implementasi Antena
Antena arraymikrostriptapered peripheral slits
direalisasikan berdasarkan simulasi yang telah dilakukan
Gambar 10. Hasil simulasi pola radiasi plot polar Φ=0oantena mikrostrip sebelumnya. Antena tersebut kemudian dirakit dengan
menambahkan spacer plastik dan konektor SMA 50Ω
Polarisasi antena mikrostrip ditentukan dengan nilai axial
seperti pada gambar 12 dan 13.
ratio yang merupakan perbandingan nilai medan e, dari hasil
simulasi didapatkan nilai medan e untuk sumbu x dan
sumbu y sebesar 1213 v/m dan 1473 v/m seperti pada
gambar 11a dan 11b.
(a)
daya terima antena tersebut dapat digunakan untuk antena yang kurang bagus juga dapat berpengaruh pada hasil
mengetahui nilai gain dan pola radiasi. Setelah mendapatkan pengukuran.
hasil pengukuran antena maka hasil tersebut akan
dibandingkan dengan hasil simulasi. B. Pola Radiasi
A. Analisa Nilai Return loss, Bandwidth dan VSWR Untuk mengukur pola radiasi antena digunakan perangkat
Signal Generator dan Spectrum Analyzer, antena pemancar
Pengukuran return loss, VSWR dan bandwidthdilakukan
dihubungkan dengan Signal Generator dan antena
dengan menggunakan Network Analyzer, antena
mikrostrip dihubungkan dengan Spectrum Analyzer. Antena
dihubungkan dengan perangkat tersebut melalui kabel
mikrostrip diletakkan di atas tripot yang berfungsi untuk
koaksial dan konektor. Perbandingan nilai return loss antena
memutar posisi antena. Antena mikrostrip diputar dengan
mikrostrip hasil simulasi dan hasil pengukuran dapat dilihat
pertambahan sudut 10o pada θ untuk posisi φ=0o dan φ=90o.
pada gambar 14. Nilai return loss pada saat simulasi adalah
Perbandingan pola radiasi antena hasil simulasi dan hasil
-15,708 dB, sedangkan pada saat pengukuran sebesar -
pengukuran, dapat dilihat pada gambar 16 untuk pola radiasi
30,894 dB. Terdapat perbedaan yang sangat besar antara
dengan φ=0o dan pada gambar 17 untuk pola radiasiφ=90o.
hasil similasi dengan hasil pengukuran, nilai return loss
Dilihat pada gambar 16 dan 17 pola radiasi antena
hasil pengukuran terlihat lebih baik daripada hasil simulasi.
mikrostrip hasil simulasi dan hasil pengukuran memiliki
pola radiasi yang sedikit berbeda. Pola radiasi φ=0o pada
hasil simulasi membentuk sebuah pola dimana terdapat
suatu titik yang memberikan arah radiasi yang paling kuat,
arah radiasi tersebut didapatkan ketika permukaan antena
tepat mengarah ke sumber sinyal. Sedangkan arah radiasi
yang paling lemah ada di bagian belakang antena. Pada pola
radiasi hasil pengukuran, terlihat arah radiasi dari antena
menyebar ke beberapa titik tetapi memiliki arah radiasi yang
paling kuat ada di sekitar arah 100, tepatnya pada sudut 3300
Gambar [Link] Perbandingan Nilai Return loss Antara Hasil Simulasi
sampai 200.
dengan Hasil Pengukuran
C. Gain Antena kabel dengan impedansi yang tidak sesuai dengan impedansi
Pengukuran gain pada antena dilakukan dengan cara anten serta pembuatan antena yang kurang bagus.
membandingkan level daya terima antena yang direaliasikan
dengan antena referensi. Antena referensi memiliki gain IV. KESIMPULAN/RINGKASAN
sebesar 7 dBi yang merupakan perbandingan dengan antena
Berdasarkan perancangan desain simulasi dan pengukuran
isotropis. Dari pengukuran diperoleh 10 sampel level daya
antena yang telah direalisasikan maka dapat disimpulkan
terima seperti yang ditunjukkan pada tabel 4.
bahwa parameter antena telah memenuhi kriteria yang telah
Tabel 4 ditentukan. Walaupun parameter yang dihasilkan berbeda,
Hasil Pengukuran Level Daya Terima Antena
No Level Daya Terima Level Daya Selisih level
namun baik antena mikrostrip saat simulasi maupun
Antena Referensi Terima Antena (Pt Daya (dB) pengukuran sama-sama telah memenuhi kriteria.
(Ps (dBm)) (dBm)) Pada simulasi didapatkan nilai returnloss untuk frekuensi
1 -41.37 -45.38 -4.01 2.4GHz yaitu -15.708 dB dan VSWR sebesar 1,3922 dengan
2 -42.45 -49.73 -7.28 bandwidth sebesar 34,4 MHz. Sedangkan hasil pengukuran
3 -48.35 -51.37 -3.02 nilai returnloss didapatkan pada frekuensi 2.4 GHz yaitu -
4 -47.46 -52.24 -4.78 30,894 dB dan VSWR sebesar 1,192 dengan
5 -40.23 -44.5 -4.27 bandwidthsebesar 588,67 MHz. Nilai gain hasil simulasi
6 -49.42 -45.31 4.11 memiliki nilai sebesar 4,413 dBi, sedangkan pada hasil
7 -50.22 -54.25 -4.03
pengukuran didapatkan nilai gain sebesar 7,104 dBi. Pola
8 -51.87 -52.93 -1.06
radiasi antena mikrostrip hasil simulasi dan hasil
9 -43.24 -45.26 -2.02
pengukuran memiliki karakteristik direksional.
10 -41.02 -43.62 -2.6
Dengan tanpa melupakan keterbatasan data yang
Rata-rata -45.563 -48.459 -2.896
diperoleh, secara umum antenna array mikrostrip tapered
Sampel tersebut kemudian dirata-rata kemudian peripheral slits memiliki spesifikasi dan rancangan yang
digunakan untuk memperoleh gain antena. Gain antena (G t ) memenuhi untuk digunakan pada satelit S-Band IINUSAT II
didapatkan dengan cara menambahkan gain antena referensi pada frekuensi 2.4 GHz.
(G s ) dengan selisih level daya terima antena
G t = G s + (P t ) – (P s )
UCAPAN TERIMA KASIH
G t = 7 + (-48.459) – (-45.563)
G t = 7 + (-2.896) Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktorat
G t = 4,104 dBi Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia yang telah memberikan
Dikarenakan perbedaan polarisasi pada antena pemancar dukungan finansial melalui Program Kreativitas
yang linier dengan antena mikrostrip dengan polarisasi MahasiswaKarsa Cipta (PKM-KC) tahun 2012.
sirkuler, maka daya yang diterima antena mikrostrip hanya
setengahnya. Oleh karena itu untuk mendapatkan gain
antena yang sebenarnya harus ditambah 3 dB menjadi 7,104 DAFTAR PUSTAKA
dBi. [1] “Tentang INSPIRE,” http:/[Link]
Pada saat simulai didapatkan nilai gain sebesar 4,413 dBi [2] G. [Link] andP. Constantinou,”A Compact Microstrip Antenna
with Tapered Peripheral Slits for CubeSat RF Playloads at 436 MHz :
untuk frekuensi kerja 2,4 GHz. Sedangkan pada saat
Miniaturization Techniques, Design & Numerical Result,”
pengukuran didapatkan nilai gain sebesar 7,104 dBi. Seperti IEEE,(2008).
pada pengamatan nilai return loss dan VSWR, terdapat [3] S. D. Emilya,“ Desain Antena Mikrostrip Untuk Satelit S-Band Pada
beberap kondisi yang menyebabkan perbedaan nilai gain Frekuensi 2.4 Ghz,“ Belum dipublikasikan.
[4] M. P. Civerolo, “Aperture Coupled Microstrip Antenna Design and
antena diantaranya perangkat yang kurang presisi, konektor
Analysis,”USA: Faculty of California Polytechnic State
yang tidak sesuai dan pembuatan antena yang kurang bagus. University,(2010).
[5] D. M. Pozar, “A Review of Aperture Coupled Microstrip Antennas:
Tabel 5
History, Operation, Development, and Applications,”USA: University
Perbandingan Parameter Hasil Simulasi dan Pengukuran
of Massachusetts, (1996).
Parameter Antena Kriteria Hasil Simulasi Hasil Pengukuran
[6] A. H. Rambe,“Rancang Bangun Antena Mikrostrip Patch Segiempat
Desain Antena Antena
Planar Array 4 Elemen Dengan Pencatuan Aperture Coupled Untuk
Return loss (dB) <-10 -15,708 -30,894
Aplikasi CPE Pada WIMAX,”Indonesia: Fakultas Teknologi
VSWR <2 1,3922 1,191
Universitas Indonesia,(2008).
Bandwidth (MHz) ±7 34,4 588,67
Gain (dBi) >3,7 4,413 7,104
HPBW - 56,2o 30o