BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pencucian uang atau dalam Bahasa Inggris disebut money
laundering tidak hanya mengancam stabilitas perekonomian dan integritas
sistem keuangan, tetapi juga membahayakan sendi-sendi kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila dan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.1
Pencucian uang dilakukan adalah untuk menyamarkan uang hasil tindak
pidana.2
Pencucian uang atau money laundering secara sederhana diartikan
sebagai suatu proses menjadikan hasil kejahatan (procced of crime) atau
disebut sebagai uang kotor (dirty money) misalnya hasil dari obat bius,
korupsi, penggelapan pajak, judi, penyelundupan dan lain-lain yang di
konversi atau diubah kedalam bentuk yang tampak sah agar dapat
digunakan dengan [Link] berbagai rumusan tindak pidana
pencucian uang, selain itu dinyatakan bahwa tidak ada definisi pencucian
uang yang bersifat universal, artinya setiap negara boleh merumuskan
sesuai definisi negaranya, terutama dalam menentukan jenis kejahatan
asalnya.3
1
Bagian Menimbang huruf a. Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang
Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
2
PPATK E-Learning, Modul E-Learning 1 : Pengenalan Anti Pencucian Uang dan
Pendanaan Terorisme, PPATK, Jakarta, 2011, h. 1-10.
3
Yenti Garnasih, Penegakan Hukum Anti Pencucian Uang dan Permasalahnnya
di Indonesia, Rajawali Pers, Depok, 2017, h. 1.
1
2
Sebagai kejahatan yang bersifat lintas negara (transnational crime),
tindak pidana pencucian uang (money laundering) modusnya banyak
dilakukan melintasi batas batas negara, dan berdampak negatif pada
sistem keuangan dan perekonomian dunia secara [Link] sisi lain
oleh karena tindak pidana pencucian uang (money laundering) berkaitan
dengan kejahatan asal yang dilakukan oleh organized crime, maka
berkembangnya tindak pidana pencucian uang (money laundering) akan
sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya berbagai tindak
pidana pemicu pencucian uang, seperti korupsi, perdagangan gelap
narkotika dan illegal loging serta upaya untuk memeranginya.4
Sepintas, tampaknya pencucian uang tidak merugikan orang atau
negara, namun sebenarnya pencucian uang telah menimbulkan kerugian
yang meluas, tidak hanya disektor ekonomi, tetapi juga diseluruh sektor
kehidupan, mulai dari rusaknya reputasi negara sampai meningkatnya
jumlah kejahatan awal (prediate crimes) dari tindak pidana pencucian
uang. Selain itu tindak pidana pencucian uang juga berpotensi untuk
merongrong sektor keuangan sebagai akibat demikian besarnya jumlah
uang yang terlibat dalam kegiatan tersebut.5
Tindak pidana pencucian uang sebagai suatu kejahatan
mempunyai ciri khas yaitu bahwa kejahatan ini bukan merupakan
kejahatan tunggal tetapi kejahatan ganda. Tindak pidana pencucian uang
tidak berdiri sendiri karena harta kekayaan yang ditempatkan, ditransfer,
4
Sutan Remy Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana Pencucian Uang dn
Pembiayaan Terorisme, Pusat Utama Grafiti, Jakarta, 2014, h. 5.
5
Ibid, h.19
3
atau dialihkan dengan cara integrasi itu diperoleh dari tindak pidana,
berarti sudah ada tindak pidana lain yang mendahuluinya (predicate
crime).6 Tindak pidana asal di dalam tindak pidana pencucian uang
sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8
Tahun 2010 Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang mengenai Hasil
tindak pidana, adalah Harta Kekayaan yang diperoleh dari tindak pidana
ada 26 macam.
Tindak pidana pencucian uang yang utama dikejar adalah uang
atau harta kekayaan yang diperoleh dari hasil kejahatan dengan beberapa
alasan yaitu bila mengejar pelakunya lebih sulit dan berisiko.
Dibandingkan dengan mengejar pelaku maka akan lebih mudah dengan
mengejar hasil dari kejahatan. Hasil kejahatan merupakan darah yang
menghidupi tindak pidana itu sendiri. Bila hasil kejahatan itu dikejar dan
disita untuk negara dengan sendirinya akan mengurangi kejahatan
pencucian uang.7
Pencucian uang telah menjadi mata rantai penting dalam
kejahatan. Pelaku-pelaku kejahatan menyembunyikan hasil kejahatan
dalam sistem keuangan atau dalam berbagai bentuk upaya lainnya.
Tindakan menyembunyikan hasil kejahatan atau dana-dana yang
diperoleh dari tindak pidana dimaksudkan untuk mengaburkan asal usul
harta kekayaan.
6
Adrian Sutedi, Tindak Pidana Pencucian Uang,Citra Aditya Bakti, Bandung,
2015, h.182.
7
Philips Darwan, “Money Laundering Cara Memahami Dengan Tepat dan Benar
Soal Pencucian Uang”, melalui [Link], diakses Rabu, 05 April 2023,
Pukul 20.00 wib, Pukul 20.00 wib.
4
Kejahatan pencucian uang (money laundering) belakangan ini
semakin mendapat perhatian khusus dari berbagai kalangan. Upaya
penanganannya dilakukan secara nasional, regional, dan global melalui
kerja sama antar-negara. Gerakan ini disebabkan maraknya pencucian
uang, padahal belum banyak negara yang menyusun sistem hukum untuk
memerangi atau menetapkannya sebagai kejahatan. Pencucian uang
pada dasarnya merupakan upaya memproses uang hasil kejahatan
dengan bisnis yang sah sehingga uang tersebut bersih atau tampak
sebagai uang halal. Dengan demikian asal-usul uang itu tertutupi.8
Dalam proses pemeriksaan perkara pidana meneganai kasus
pencucian uang, saksi adalah salah satu kunci untuk memperleh
kebenaran materiil, yang merupakan kebenaran yang benar benar terjadi.
Salah satu alat bukti yang sah dalam proses peradilan pidana adalah
keterangan saksi yang mendengar, melihat atau mengalami sendiri
terjadinya suatu tindak pidana dalam upaya mencari dan menemukan
kejelasan tentang tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana.
Adapun pentingnya saksi dalam tahap penyelidikan dikemukakan
oleh Kabib Nawawi dan Aprillani Arsyad bahwa dalam tahap penyelidikan
sampai pembuktian dimuka sidang pengadilan, kedudukan saksi
sangatlah penting, bahkan dalam praktek sering menjadi penentu dan
keberhasilan dalam mengungkapkan suatu kasus, karena bias
8
Philips Darwan. Op. Cit., h.4.
5
memberikan “keterangan saksi” yang menjadi alat bukti pertama dari alat
bukti yang sah sebagaimana diatur dalam pasal 184 KUHAP”.9
Di dalam pembuktian tindak pidana terdapat alat alat bukti yang sah
yang dijelaskan pasal 184 ayat 1 KUHAP yang berbunyi alat bukti yang
sah adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk,
keterangan terdakwa, hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu
dibuktikan.
Pentingnya alat bukti di dalam suatu tindak pidana yang
dikemukakan oleh Hafrida bahwa alat bukti sangatlah penting, karena
dengan adaya alat bukti akan terungkap jelas dan terang benderang dari
suatu pristiwa. Alat bukti adalah alat alat yang ada hubungan nya dengan
suatu tindak pidana, dimana alat alat tersebut dapat digunakan sebagai
bahan pembuktian guna menimbulkan keyakinan bagi hakim atas
kebenaran adanya suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh
terdakwa”.10
Keberadaan saksi merupakan suatu elemen yang sangat
menentukan dalam suatu proses peradilan pidana. Namun demikian
ternyata peran saksi dalam proses peradilan masih jauh dari perhatian
masyarakat dan penegak [Link] banyak sekali kasus-kasus yang
tidak terungkap dan juga tidak terselaikan, oleh Karena keenggana saksi
9
Kabib Nawawi Dan Aprillani Arsyad, “Meningkatkan Pemahaman Masyaraka
Terhadap Undang-Undang No.31 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban
Di Desa Kayu Aro Kecamatan Muara Bulian Kabupaten Batanghari”. Jurnal Pengabdian
Pada Masyarakat, Vol. 31, No. 2, 2016, h. 7.
10
Hafrida, “Perekaman Proses Persidangan Pada Pengadilan Negeri Di Tinjau
Dari Aspek Hukum Acara Pidana”, Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 5, No. 1, 2014, hlm. 16.
6
untuk memberikan informasi kepada pihak yang berwenang. Bahkan pada
saat ini posisi saksi (termasuk saksi korban) dalam proses peradilan
pidana di Indonesia hanyalah dipandang sebagai alat yang dapat
memperkuat posisi jaksa dipersidangan.
Mencermati kondisi yang tampak belum bekesesuaian diatas, kita
sebenarnya sudah dapat mengkap suatu alur pikir bahwa untuk
menciptakan suatu kesesuaian yang berkualitas hanya dapat diperoleh
jika ancaman-ancaman baik yang bersifat fisik maupun psikis terhadap
saksi (saksi pelapor, saksi biasa, saksi ahli), kerugian-kerugian materiil
dan berbagai masalah lain yang menjadi kendala dapat dihilangkan, salah
satu cara yang dapat diberlakukan adalah dengan memberikan
perlindungan kepada saksi, khususnya dalam hal ini adalah saksi yang
berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang.
Berkenaan dengan adanya ketidakpercayaan Saksi dan Korban,
maka adanya satu instrumen yuridis yang mengatur tentang perlindungan
Saksi dan Korban dalam bentuk undang-undang sangat penting adanya.
Tujuannya bukan hanya semata-mata untuk mendukung proses peradilan
dan penyelesaian perkara secara lebih adil dan kompeten, tetapi juga
untuk menunjukkan adanya tanggung jawab negara terhadap warga
negaranya yang telah mengalami berbagai tindak pelanggaran hukum.
Pelaksanaan perlindungan saksi tindak pidana pencucian uang
lebih terperinci dibahas di undang undang No. 8 Tahun 2010 tentang
Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang di
7
dalamnya terdapat ketentuan mengenai perlindungan terhadap saksi dan
pelapor. Seperti diketahui bahwa dalam rangka mencari kebenaran
materiil dan mendapatkan keadilan, pada peradilan pidana akan selalu
berkaitan erat dengan alat bukti dan kekuatan alat bukti. Keterangan saksi
merupakan salah satu alat bukti yang sangat penting, oleh karena itu bagi
seorang saksi, kedudukannya dalam proses yang dimaksud jelas sangat
penting.
Keberhasilan suatu proses peradilan pidana sangat bergantung
pada alat bukti yang berhasil diungkap atau ditemukan. Keterangan saksi
merupakan hal yang utama dari kelima alat bukti yang terdapat dalam
Pasal 184 KUHAP. Ketentuan KUHAP tersebut menempatkan keterangan
Saksi di urutan pertama di atas alat bukti [Link] karena itu, menjadi
saksi pada dasarnya merupakan kewajiban setiap warga negara, karena
negara dalam hal ini menjamin perlindungannya sebagaimana diatur
dalam pasal 28 G ayat 1 yang berbunyi sebagai berikut : “Setiap orang
berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat,
dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa
aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak
berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.
Berdasarkan pemikiran di atas, penulis menganggap perlu
melakukan penelitian yang berjudul “Perlindungan Hukum Bagi Pelapor
dan Saksi Dalam Tindak Pidana Pencucian Uang Dalam Peradilan Di
Indonesia berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Nomor 17 Tahun
2005 tentang Tata Cara Perlindungan Khusus Terhadap Pelapor dan
Saksi Dalam Tindak Pidana Pencucian Uang”.
8
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan diteliti dibatasi sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaturan hukum perlindungan hukum bagi pelapor dan
saksi dalam tindak pidana pencucian uang dalam peradilan di
Indonesia ?
2. Bagaimana hambatan perlindungan hukum bagi pelapor dan saksi
dalam tindak pidana pencucian uang dalam peradilan di Indonesia ?
3. Bagaimana upaya perlindungan hukum bagi pelapor dan saksi dalam
tindak pidana pencucian uang dalam peradilan di Indonesia ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian dalam tesis ini adalah
sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaturan hukum perlindungan
hukum bagi pelapor dan saksi dalam tindak pidana pencucian uang
dalam peradilan di Indonesia.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis hambatan perlindungan hukum
bagi pelapor dan saksi dalam tindak pidana pencucian uang dalam
peradilan di Indonesia.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis upaya perlindungan hukum bagi
pelapor dan saksi dalam tindak pidana pencucian uang dalam
peradilan di Indonesia
9
Penelitian ini memiliki manfaat teoritis dan praktis. Adapun kedua
kegunaan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan memberi manfaat bagi
perkembangan ilmu hukum, khususnya di bidang hukum pidana
tentang perlindungan hukum bagi pelapor dan saksi dalam tindak
pidana pencucian uang dalam peradilan di Indonesia.
2. Secara praktis :
a. Sebagai pedoman dan masukan bagi pemerintah/badan legislatif
dalam menentukan kebijakan maupun regulasi dalam upaya
pengembangan hukum nasional ke depan terkait dengan
perlindungan hukum bagi pelapor dan saksi dalam tindak pidana
pencucian uang dalam peradilan di Indonesia.
b. Sebagai informasi bagi penegak hukum (para Jaksa Penuntut
Umum, Advokat dan Konsultan Hukum, dan Hakim) untuk
memahami pengaturan perlindungan hukum bagi pelapor dan saksi
dalam tindak pidana pencucian uang dalam peradilan di Indonesia.
c. Sebagai bahan kajian bagi masyarakat yang dapat mengambil
poin-poin atau modul-modul pembelajaran dari penelitian ini dan
diharapkan untuk mendukung program pemerintah dalam
pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang dengan
memberikan perlindungan hukum bagi pelapor dan saksi dalam
tindak pidana pencucian uang dalam peradilan di Indonesia.
10
D. Kerangka Teori dan Konseptual
1. Kerangka Teori
Kata teori berasal dari kata theori yang artinya pandangan atau
wawasan. Theoria juga bermakna sebagai pengetahuan dan pengertian
yang terbaik.11 Secara umum teori itu diartikan sebagai pengetahuan yang
hanya ada dalam alam pikiran tanpa dihubungan dengan kegiatan-
kegiatan yang bersifat praktis untuk melakukan sesuatu.12 Kerangka
secara etimologis bermakna garis besar atau rancangan. Teori adalah
keseluruhan pernyataan yang salin berkaitan.13
Kerangka teori dalam penelitian hukum sangat diperlukan untuk
membuat jelas nilai-nilai oleh postulat-postulat hukum sampai kepada
landasan filosofisnya yang tertinggi. Teori hukum sendiri boleh disebut
sebagai kelanjutan dari mempelajari hukum positif, setidak-tidaknya dalam
urutan yang demikian itulah kita dapat merenkonstruksikan kehadiran teori
hukum secara jelas. Kerangka teori merupakan garis besar dari suatu
rangcangan atas dasar pendapat yang dikemukan sebagai keterangan
mengenai suatu peristiwa.14
Landasan teori dalam suatu penelitian bersifat strategis artinya
memberikan realisasi pelaksanaan penelitian.15 Oleh karena itu, kerangka
teoritis bagi suatu penelitian mempunyai kegunaan sebagai berikut:
11
Bernard Yoan [Link] dan Markus [Link], Teori Hukum Strategi Tertib
Manusia Lintas Ruang Dan Generasi, Genta Publising, Yogjakarta, 2010, hal 41
12
Sudikno Mertokusumo, Teori Hukum, Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta,
2012, h.7.
13
Arief Shidarta, Refleksi Tentang Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2019, h.2
14
Sajipto Raharjo, Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2019, h. 254
15
Kaelan M.S., Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat, Paradigma,
Yogjakarta, 2015, h. 239
11
a. Teori tersebut berguna untuk mempertajam atau lebih
mengkhususkan fakta yang hendak diselidiki atau diuji
kebenarannya;
b. Teori sangat berguna untuk mengembangkan sistem klasifikasi
fakta, membina struktur konsep-konsep serta mengembangkan
definisi-definisi yang ada;
c. Teori merupakan suatu iktisar daripada hal-hal yang diteliti;
d. Teori memberikan kemungkinan pada prediksi fakta mendatang,
oleh karena telah diketahui sebab-sebab terjadinya fakta
tersebut dan mungkin faktor-faktor tersebut akan timbul lagi
dimana yang akan datang.16
Berkenaan dengan tindak pidana pencucian uang, maka dalam
menganalisis permasalahan dalam penelitian ini digunakan teori yang
relevan, yaitu :
a. Teori Negara Hukum
Terbentuknya suatu negara didasari dari suatu kenyataan bahwa
manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan satu sama lain dalam
kehidupannya sebagai bentuk dari suatu hubungan timbal balik.
Berkumpulnya manusia dan membentuk kelompok-kelompok, didasari
adanya kepentingan tertentu yang bersifat komunal yang hendak dicapai
secara bersama-sama. Pembahasan mengenai manusia yang hidup
berkelompok, salah satunya bentuk dari kesepakatan manusia untuk
membentuk kelompok adalah dengan terbentuknya sebuah negara.17
Ide negara hukum menurut gagasan Plato mengandung gambaran
suatu bentuk negara ideal. Di mana gambaran negara ideal menurut Plato
sungguh berbeda jauh dengan kondisi dan keadaan negara Athena pada
16
Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 2016, h.
121.
17
Hotma P Sibuea. Asas Negara Hukum, Peraturan Kebijakan & Asas-Asas
Umum Pemerintahan yang Baik. Gelora Aksara Pratama, Jakarta, 2010, h. 2.
12
zamannya. Pada zaman itu, raja yang berkuasa di Negara Athena
merupakan penguasa yang Zalim dan sewenang-wenang.18 Berdasarkan
pendapat di atas, maka Plato berpandangan bahwa negara sebagai suatu
keluarga. Berdasarkan pada pandanganya tersebut, dapat diketahui
bahwa dalam pemikiran Plato kekuasaan bukan merupakan unsur
essensial suatu negara.
Esensi negara sesuai dengan pandangan Plato adalah ikatan
hubungan yang sangat erat dan akrab diantara orang-orang yang hidup
bersama. Hal ini kemudian dijadikan indikasi bahwa dalam penggunaan
kekuasaan untuk negara sebisa mungkin harus dihindari.19
Tujuan negara hukum adalah, bahwa negara menjadikan hukum
sebagai “supreme”, setiap penyelenggara negara atau pemerintahan wajib
tunduk pada hukum (subject to the law). Tidak ada kekuasaan di atas
hukum (above the law) semuanya ada di bawah hukum (under the rule of
law). Dengan kedudukan ini tidak boleh ada kekuasaan yang sewenang-
wenang (arbitrary power) atau penyalahgunaan kekuasaan (abuse of
power).20
Esensi suatu negara berkembang sejalan dengan perkembangan
peradaban dan kebutuhan manusia. Karena itu, teori dan pemikiran
tentang negara pun terus mengalami perkembangan.21Konsep negara
18
Moh. Kusnardi dan Ibrahim. [Link], h. 153.
19
Hotma P. Sibeua. [Link], h. 12.
20
Sumali. Reduksi Kekuasaan Eksekutif di Bidang Peraturan Pengganti Undang-
undang (Perpu), Universitas Muhammadiyah Malang, Malang, 2013, h.11.
21
Malian Sobirin. Gagasan Perlunya Konstitusi Baru Pengganti UUD 1945. FH
Universitas Indonesia, Jakarta, 2015, h. 25.
13
hukum tidak terpisahkan dari pilarnya sendiri yaitu paham kedaulatan
hukum. Paham ini adalah ajaran yang mengatakan bahwa kekuasaan
tertinggi terletak pada hukum atau tidak ada kekuasaan lain apapun,
kecuali hukum semata.22
Negara hukum pada hakikatnya berakar dari konsep teori
kedaulatan hukum yang pada prinsipnya menyatakan bahwa kekuasaan
tertinggi di dalam negara adalah hukum. Oleh sebab itu seluruh alat
perlengkapan negara termasuk warga negara harus tunduk dan patuh
serta menjunjung tinggi hukum.
Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Krabe
sebagai berikut negara sebagai pencipta dan penegak hukum
didalam segala kegiatannya harus tunduk pada hukum yang
berlaku. Dalam arti ini hukum membawahkan negara. Berdasarkan
pengertian hukum itu, maka hukum bersumber dari kesadaran
hukum rakyat, maka hukum mempunyai wibawa yang tidak
berkaitan dengan seseorang (impersonal).23
Berdasarkan pandangan Plato mengenai konsep negara hukum,
maka dapat dipahami bahwa timbulnya pemikiran tentang negara hukum
merupakan reaksi terhadap kesewenangan-wenangan dimasa lampau.
Dengan demikian, unsur-unsur negara hukum mempunyai hubungan yang
erat dengan sejarah dan perkembangan masyarakat dari suatu bangsa.24
Penggunaan wewenang atau kekuasaan oleh penguasa negara atau
pengauasa pemerintahan tidak dapat dilepaskan dari pembatasan yang
22
Ibid, h, 36-37.
23
B. Hestu Cipto Handoyo, Hukum Tata Negara Indonesia, Cahaya Atma
Pustaka, Yokyakarta, 2015, h. 17.
24
Ni’matul Huda, Negara Hukum, Demokrasi dan Judicial Review. UII Press,
Yogyakarta, 2015, h. 1
14
telah ditetapkan dalam hukum, sebab penggunaan wewenang bertolak
dari konsep pembagian kekuasaan yang merupakan ciri atau karakter
negara hukum. Secara konvensional, konsep negara hukum selalu
dikaitkan dengan prinsip-prinsip pemerintahan yang harus didasarkan atas
hukum dan konstitusi, adanya pembagian atau pemisahan kekuasaan
negara ke dalam fungsi yang berbeda-beda
Embrio munculnya gagasan negara hukum yang di kemukakan
oleh Plato adalah dengan mengintroduksi konsep nomoi. Dalam
konsep nomoi, Plato mengemukakan bahwa penyelenggaraan
yang baik ialah yang didasarkan pada pengaturan (hukum) yang
baik. Gagasan Plato tentang negara hukum semakin tegas ketika
didukung oleh muridnya Aristoteles, yang menuliskan ke dalam
bukunya politica.25
Pemikiran atau konsep manusia tentang negara hukum lahir dan
berkembang seiring perkembangan sejarah manusia. Meskipun konsep
negara hukum dianggap sebagai konsep universal, namun pada tataran
implementasinya sangat dipengaruhi oleh karakteristik negara dan
manusianya yang beragam. Konsep negara hukum sangat dipengaruhi
oleh karakteristik suatu bangsa, sistem hukum dan juga dipengaruhi
falsafah bangsa atau ideologi suatu negara.26 Konsep pemikiran negara
hukum yang didasari pada perkembangan sejarah dan ideologi suatu
bangsa, kemudian menimbulkan berbagai bentuk negara hukum.
Sebagai contoh, konsep negara hukum menurut nomokrasi Islam,
yang konsep negara hukum pada nilai-nilai yang terkandung pada Al-
25
Ridwan HR. Hukum Administrasi Negara. Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2016, h. 2.
26
Titik Tri Wulan Tutik, Kontruksi Hukum Tata Negara Indonesia Pasca
Amandemen UUD 1945. Prenada Kencana Media Group, Jakarta, 2010, h. 52.
15
Quran dan Al-Sunnah. Nomokrasi Islam adalah negara hukum yang
memiliki prinsip-prinsip umum sebagai berikut:
1) Kekuasaan sebagai amanah.
2) Musyawarah.
3) Keadilan.
4) Persamaan.
5) Pengakuan.
6) Perlindungan setiap hak-hak asasi manusia.
7) Peradilan bebas.
8) Perdamaian.
9) Kesejahteraan, dan prinsip ketaatan rakyat.27
Negara hukum menurut konsep Eropa Kontinental yang dinamakan
rechtsstaat. Konsep rechtsstaat bertumpu atas sistem Hukum Kontinental
yang disebut civil law dengan karakteristik civil law yang bersifat
administrative.28Sedangkan negara hukum menurut konsep Anglo Saxon
(rule of law)Konsep rule of law berkembang secara evolusioner. Konsep
the rule of law bertumpu atas sistem Hukum yang disebut common law.
Karakteristik common law adalah judicial.29 Selanjutnya, konsep socialist
legality, melahirkan suatu konsep yang dianut di negara-negara komunis,
yang tampaknya hendak mengimbangi konsep rule of law yang dipelopori
oleh negara-negara anglo-saxon.
Adapun konsep negara hukum yang dianut dan diterapkan di
negara Indonesia adalah suatu konsep negara hukum yang timbul dari
nilai-nilai dan norma-norma serta jiwa bangsa Indonesia, yakni konsep
27
Tahir Azhary, Negara Hukum, Prenada Kencana Media Group, Jakarta, 2010,
h. 85-86
28
Ni’matul Huda, Hukum Tata Negara Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2016, h. 74
29
Ibid.
16
negara hukum Pancasila.30Konsep negara hukum Pancasila telah
menjadikan Pancasila sebagai sumber hukum utama. Oleh karena itu,
pembentukan sistem hukum nasional harus memiliki ciri khas dan
karakteristik yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang merupakan
falsafah hidup dan nilai kebenaran yang harus diaplikasikan dalam
kehidupan masyarakat Indonesia.31
Eksistensi negara Indonesia sebagai negara hukum, ditegaskan
dalam Pasal 1 Ayat (3) UUD NRI Tahun 1945 yang menyebutkan :
"Negara Indonesia adalah negara hukum". Dengan dasar yang demikian,
maka kedaulatan tertinggi di negara Indonesia bersumber atau
berdasarkan pada hukum. Dalam konteks negara Indonesia sebagai
negara hukum, sesuai dengan ungkapan Cicero, yang menyatakan “Ubi
societas ibu ius” yang artinya dimana ada masyarakat disitu ada hukum. 32
Istilah negara hukum terbentuk dari dua suku kata, yakni kata
negara dan hukum,33 yang menunjukkan eksistensi negara dan hukum
dalam satu kesatuan. Padanan kata ini menunjukkan bentuk dan sifat
yang saling mengisi antara negara di satu pihak dan hukum di pihak lain.
Tujuan negara adalah untuk memelihara ketertiban hukum (rectsorde).
Oleh karena itu, negara membutuhkan hukum dan sebaliknya pula hukum
dijalankan dan ditegakkan melalui otoritas negara.
30
Ridwan HR, [Link], h. 2.
31
Yopi Gunawan dan Krtistian, Perkembangan Konsep Negara Hukum dan
Negara Hukum Pancasila. Refika Aditama, Bandung, 2015, h. 3.
32
Moh. Mahfud, MD, Membangun Politik Hukum, Menegakkan Konstitusi.
Rajawali Pers, Jakarta, 2011, h. 12.
33
Majda El Muhtaj, Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Indonesia, Prenada
Kencana Media Group, Jakarta, 2015, h. 19.
17
Sebagai konsekuensi dianut konsep negara hukum dalam UUD
NRI Tahun 1945, maka setiap tindakan aparatur penegak hukum
harus dilandasi hukum, dalam hal ini mencakup hukum dasar (UUD
NRI Tahun 1945) dan undang-undang sebagai turunannya.
Kemudian sebagai bangsa yang ingin tetap bersatu, bangsa
Indonesia telah menetapkan dasar dan ideologi negara, yakni
Pancasila yang dipilih sebagai dasar pemersatu dan pengikat yang
kemudian melahirkan kaidah-kaidah penuntun dalam kehidupan
sosial, politik, dan hukum.34
Negara hukum berawal dari ide sistem hukum yang dilaksanakan
untuk membentuk sebuah sistem yang menjamin kepastian hukum dan
perlindungan hak asasi manusia (human rights). Konsep dasar dari
negara hukum adalah semua perilaku dalam setiap aspek kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus berdasarkan hukum yang
dirancang dan dibuat oleh pembentuk undang-undang.35
Konsep negara hukum Pancasila merupakan konsep negara
hukum yang dikembangkan dan diterapkan di Indonesia. Dalam konsep
negara hukum Indonesia menempatkan Pancasila sebagai sumber dari
segala sumber hukum di Indonesia. Hal ini berarti bahwa setiap peraturan
perundang-undangan harus sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung
dalam Pancasila.
Indonesia sebagai negara hukum secara tegas dinyatakan dalam
rumusan Pasal 1 Ayat (3) UUD NRI Tahun 1945, yang berbunyi: “Negara
Indonesia negara hukum”. Negara hukum dimaksud adalah negara yang
menegakan supremasi hukum untuk menegakkan kebenaran dan
34
Ibid. h. 13.
35
Yopi Gunawan dan Krtistian, [Link], h. 21.
18
keadilan. Dengan kata lain, negara hukum ialah negara yang berdiri di
atas hukum yang menjamin keadilan kepada warga negaranya.
Keadilan merupakan syarat utama terciptanya kebahagiaan hidup
warga negara dan sebagai dasar dari pada keadilan itu, maka perlu
untuk mengajarkan rasa susila kepada setiap manusia agar ia
menjadi warga negara yang baik. Demikian pula dengan peraturan
hukum yang sebenarnya, peraturan hukum itu hanya ada dan
dianggap ada jika peraturan tersebut mencerminkan keadilan bagi
pergaulan hidup antar warga negara.36
Mewujudkan pelaksanaan pemerintahan yang adil, maka dalam
setiap negara yang menganut paham negara hukum umumnya berlaku 3
(tiga) prinsip dasar, yakni supremasi hukum (supremacy of law),
kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law), dan penegakan
hukum dengan cara tidak bertentangan dengan hukum (due process of
law), dalam rangka mencapai keadilan.
Prinsip penting dalam negara hukum adalah perlindungan yang
sama (equal protection) atau persamaan dalam hukum (equality before
the law).Dalam konsep negara hukum, maka hukum memegang kendali
tertinggi dalam penyelenggaraan negara. Hal ini sesuai prinsip dari negara
hukum, bahwa hukumlah yang memerintah dan bukan orang (The rule of
law, and not of Man). Hal ini sejalan dengan pengertian nomocratie, yaitu
kekuasaan itu dijalankan oleh hukum. 37
b. Teori Perlindungan Hukum Pelapor dan Saksi
Teori perlindungan hukum merupakan teori yang mengkaji dan
menganalisis tentang wujud atau bentuk atau tujuan perlindungan, subjek
hukum yang dilindungi serta objek perlindungan yang diberikan oleh
36
Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, [Link], h. 153.
37
Tahir Azhary, [Link], h. 84.
19
hukum kepada subjeknya. Unsur-unsur yang tercantum dalam definisi
teori ini meliputi adanya wujud atau bentuk perlindungan atau tujuan
perlindungan, subjek hukum dan objek perlindungan hukum. “Setiap
perundang-undangan, yang menjadi wujud atau bentuk atau tujuan
perlindungan yang diberikan kepada subjek dan objek perlindungannya
berbeda antara satu dengan yang lainnya”.38
Teori perlindungan hukum berfokus kepada perlindungan hukum
yang diberikan kepada pelapor dan saksi dalam tindak pidana pencucian
uang. Pelapor dan saksi yang disasarkan pada teori ini, yaitu pelapor dan
saksi dalam tindak pidana pencucian uang yang berada pada posisi yang
lemah, baik secara ekonomis maupun lemah dari aspek yuridis. 39 Sudikno
Mertokusumo berpendapat bahwa “dalam fungsinya sebagai perlindungan
kepentingan manusia, hukum mempunyai tujuan”. 40 Hukum mempunyai
sasaran yang hendak dicapai. Adapun tujuan pokok hukum adalah
menciptakan tatanan masyarakat yang tertib, menciptakan ketertiban dan
keseimbangan. Dengan tercapainya ketertiban di dalam masyarakat
diharapkan kepentingan manusia akan terlindungi. Dalam mencapai
tujuannya itu hukum bertugas membagi hak dan kewajiban antar
perorangan di dalam masyarakat, membagi wewenang dan mengatur cara
memecahkan masalah hukum serta memelihara kepastian hukum.
Perlindungan memberikan kesempatan kepada rakyat untuk
mengajukan keberatan (inspraak) atas pendapatnya sebelum suatu
38
Salim HS, Perkembangan Hukum Kontrak Innominaat di Indonesia. Sinar
Grafika, Jakarta, 2013, h. 263.
39
Ibid., h. 259.
40
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, Liberty, Yogyakarta, 2018, h. 71.
20
keputusan pemerintahan mendapat bentuk yang definitif. Perlindungan
hukum yang preventif merupakan perlindungan hukum yang sifatnya
pencegahan, dan perlindungan hukum yang resepsif berfungsi untuk
menyelesaikan apabila terjadi sengketa melalui institusi yang ada.41
Setiono menyatakan bahwa “perlindungan hukum adalah tindakan
atau upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-
wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk
mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan
manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia.” 42 Muchsin
menyatakan bahwa “perlindungan hukum merupakan kegiatan untuk
melindungi individu dengan menyerasikan hubungan nilai-nilai atau
kaidah-kaidah yang menjelma dalam sikap dan tindakan dalam
menciptakan adanya ketertiban dalam pergaulan hidup antar sesama
manusia.”43
Pada dasarnya teori perlindungan hukum merupakan teori yang
berkaitan dengan pemberian pelayanan kepada masyarakat. Roscou
Pound mengemukakan hukum merupakan alat rekayasa sosial (law as a
tool of social engineering). Kepentingan manusia adalah suatu tuntutan
yang dilindungi dan dipenuhi manusia dalam bidang hukum. Roscou
Pound membagi kepentingan manusia yang dilindungi hukum menjadi tiga
macam, yaitu “kepentingan umum, kepentingan masyarakat dan
41
Hendrik Fasco Siregar, Analisis Perlindungan Hukum Terhadap Geopark
Nasional Ciletuh Sebagai Kawasan Geowisata Di Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa
Barat, Jurnal Surya Kencana Satu : Dinamika Masalah Hukum dan Keadilan Volume 10
Nomor 1 Maret 2019, h.19.
42
Setiono, Rule Of Law (Supremasi Hukum), Ghalia Indonesia, Jakarta, 2014,
h.3.
43
Muchsin, Perlindungan Dan Kepastian Hukum Bagi Investor Di Indonesia,
Rineka Cipta, Jakarta, 2011, h.14.
21
kepentingan individual”.44 Bila dikaitkan dengan pengadaan tanah untuk
kepentingan umum, maka tiga macam kepentingan tersebut saling
bersinggungan satu sama lain.
Secara teoritis bentuk perlindungan hukum dibagi menjadi 2 (dua)
bentuk yaitu :
1) Perlindungan yang bersifat preventif.
Perlindungan hukum yang preventif merupakan perlindungan
hukum yang sifatnya pencegahan. Perlindungan memberikan kesempatan
kepada rakyat untuk mengajukan keberatan (inspraak) atas pendapatnya
sebelum suatu keputusan pemerintahan mendapat bentuk yang definitif.
Perlindungan hukum ini bertujuan untuk mencegah terjadinya
sengketa dan sangat besar artinya bagi tindak pemerintah yang
didasarkan pada kebebasan bertindak. Adanya perlindungan hukum yang
preventif ini mendorong pemerintah untuk berhati-hati dalam mengambil
keputusan yang berkaitan dengan asas freies ermessen, dan rakyat dapat
mengajukan keberatan atau dimintai pendapatnya mengenai rencana
keputusan tersebut.45
2) Perlindungan hukum yang represif
Perlindungan hukum yang represif berfungsi “menyelesaikan
apabila terjadi sengketa. Indonesia dewasa ini terdapat berbagai badan
yang secara parsial menangani perlindungan hukum bagi rakyat, yang
dikelompokkan menjadi dua badan, yaitu pengadilan dalam lingkup
44
Salim HS, [Link]., h. 266.
45
Lily Rasyidi, Filsafat Hukum, Remadja Karya, Bandung, 2008, h. 228
22
peradilan umum dan Instansi pemerintah yang merupakan lembaga
banding administrasi”.46
Penanganan perlindungan hukum bagi rakyat melalui instansi
pemerintah yang merupakan lembaga banding administrasi adalah
permintaan banding terhadap suatu tindak pemerintah oleh pihak yang
merasa dirugikan oleh tindakan pemerintah tersebut. “Instansi pemerintah
yang berwenang untuk mengubah bahkan dapat membatalkan tindakan
pemerintah tersebut”.47
Peraturan perundang-undangan telah menentukan bentuk-bentuk
perlindungan yang diberikan kepada masyarakat atas adanya kewenang-
wenangan dari pihak lainnya, baik itu penguasa, pengusaha, maupun
orang yang mempunyai ekonomi lebih baik dari pihak korban. “Pada
prinsipnya perlindungan hukum terhadap pihak yang lemah selalu
dikaitkan dengan perlindungan terhadap hak-hak pihak yang lemah atau
korban”.48
c. Teori Sistem Hukum
Menurut Friedman, pada inti sistem hukum itulah beradanya aturan
yang benar-benar berjalan, karena salah satu fungsi sistem hukum
berkaitan dengan perilaku mengontrol, yaitu memerintahkan orang apa
yang harus dan jangan dilakukan, dan sistem hukum itu menjunjung
46
Sudikno Mertokusumo, Op. Cit, h. 73.
47
Ibid., h. 74
48
Arief Sidharta, Refleksi Tentang Hukum Pengertian-Pengertian Dasar Dalam
Teori Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2011, h. 159
23
perintah-perintahnya dengan paksa.49 Berdasarkan sistem hukum, ada
tiga komponen yang menentukan berfungsi atau bekerjanya hukum, yaitu
struktur hukum, substansi hukum dan budaya hukum. Dengan meneliti
ketiga komponen ini dapat dilakukan analisis terhadap bekerjanya hukum
sebagai suatu sistem.50
Sistem hukum mempunyai struktur, kerangka atau rangkanya,
bagian yang tetap bertahan, bagian yang memberi semacam bentuk dan
batasan terhadap keseluruhan. Struktur hukum terdiri dari lembaga-
lembaga dalam proses penegakan hukum. Ruang lingkup struktur hukum
(penegak hukum) sangat luas, mencakup mereka yang secara langsung
atau tidak langsung turut bertanggung jawab dalam penegakan hukum.
Namun dalam arti sempit, penegak hukum mencakup mereka yang
bertugas di lembaga Kehakiman, Kejaksaan, Kepolisian, Advocat, atau
Lembaga Kemasyarakatan.51
Substansi adalah aturan, norma, dan perilaku nyata manusia yang
berada dalam sistem itu. Penekannya terletak pada hukum yang hidup,
bukan hanya pada aturan dalam kitab hukum (law books). Substansi
hukum menyangkut produk hukum yang dihasilkan oleh orang yang
berada dalam sistem hukum itu, produk yang dikeluarkan, aturan-aturan
baru yang disusun. Dalam hal ini Undang-undang mempunyai peranan
49
Lawrence M. Friedman, Hukum Amerika, Sebuah Pengantar, Terjemahan
Wishnu Basuki, Second Edition, Tatanusa, Jakarta, 2011, hal 190
50
Badan Pembinaan Hukum Nasional , Efektivitas Undang-undang Money
Laundering, Kementerian Hukum dan hak Asasi Manusia RI, Jakarta, 2011, hal 11
51
Acmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan
(Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (Legisprudence), Kencana,
Jakarta, 2019, h. 204
24
yang penting dalam mengarahkan masyarakat menuju ketertiban,
kedamaian, dan keadilan.52
Komponen ketiga yaitu budaya hukum, yaitu sikap manusia
terhadap hukum dan sistem hukum; kepercayaan, nilai, pemikiran dan
harapannya. Dengan kata lain, budaya hukum adalah suasana pikiran
sosial dan kekuatan sosial yang menentukan bagaimana hukum
digunakan, dihindari atau disalahgunakan. Tanpa budaya hukum sistem
hukum itu sendiri tidak akan berdaya.53
Nilai-nilai budaya masyarakat berkaitan erat dengan hukum karena
hukum yang baik adalah hukum yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup
dalam masyarakat. Wujud yang lebih kongkrit dari nilai itu adalah dalam
bentuk norma. Dari norma-norma yang ada, maka norma hukum adalah
norma yang paling kuat karena dapat dipastikan pelaksanaannya oleh
aparat penegak hukum.54
d. Teori Pembuktian
Teori lainnya yang digunakan dalam penelitian tesis ini adalah teori
pembuktian. Membuktikan berarti memberi kepastian kepada hakim
tentang adanya peristiwa-peristiwa tertentu (communis opinion). Hakim
harus mengkonstatir peristiwa dan mengkualifisirnya sehingga tujuan
pembuktian adalah apa yang disebutkan dalam putusan hakim yang
didasarkan atas pembuktian tersebut. Tujuan pembuktian ialah putusan
52
Ibid, h.205.
53
Lawrence M. Friedman, [Link], hal 8
54
Lili Rasjidi dan Ira Rasjid, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum, Citra Aditya
Bakti, Bandung, 2011, hal 80
25
hakim yang didasarkan atas pembuktian tersebut. Walaupun putusan itu
diharuskan objektif, namun dalam hal pembuktian dibedakan antara
pembuktian dalam perkara pidana yang mensyaratkan adanya keyakinan
dan pembuktian dalam perkara perdata yang tidak secara tegas
mensyaratkan adanya keyakinan.55
Tujuan pembuktian adalah untuk memperoleh kepastian bahwa
suatu peristiwa atau fakta yang diajukan itu benar-benar terjadi guna
mendapatkan putusan hakim yang benar dan adil. Hakim tidak dapat
menjatuhkan suatu putusan sebelum nyata baginya bahwa fakta atau
peristiwa yang diajukan itu benar terjadi, yakni dibuktikan kebenarannya
sehingga nampak adanya hubungan antara pihak.56
Ketentuan mengenai pembuktian dalam Undang-Undang Nomor 8
Tahun 2010 Tentang Pemberantasan dan Pencegahan Tindak Pidana
Pencucian Uang telah diatur ketentuan khusus mengenai ketentuan
pembuktian yang dilakukan pada saat pemeriksaan di persidangan.
Ketentuan pembuktian tersebut diatur dalam Pasal 77 dan 78 Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pemberantasan dan Pencegahan
Tindak Pidana Pencucian Uang yakni mengenai ketentuan pembuktian
terbalik.
Ketentuan pembuktian terbalik yang diatur dalam pasal 77 Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pemberantasan dan Pencegahan
Tindak Pidana Pencucian Uang, menyatakan sebagai berikut : “Untuk
55
Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta,
2012, h. 105
56
Ibid, h.104.
26
kepentingan pemeriksaan di sidang pengadilan, Terdakwa wajib
membuktikan bahwa Harta Kekayaannya bukan merupakan hasil tindak
pidana”. Selanjutnya, ketentuan dalam Pasal 78 Undang-Undang Nomor 8
Tahun 2010 Tentang Pemberantasan dan Pencegahan Tindak Pidana
Pencucian Uang sebagai berikut :
(1) Dalam pemeriksaan di sidang pengadilan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 77, Hakim memerintahkan Terdakwa
agar membuktikan bahwa Harta Kekayaan yang terkait dengan
perkara bukan berasal atau terkait dengan tindak pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1).
(2) Terdakwa membuktikan bahwa Harta Kekayaan yang terkait
dengan perkara bukan berasal atau terkait dengan tindak
pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan
cara mengajukan alat bukti yang cukup.
Berdasarkan ketentuan di atas, upaya untuk membuktikan tindak
pidana pencucian uang yang dilakukan pelaku menjadi lebih mudah.
Kemudahan itu disebabkan karena beban pembuktian dalam persidangan
ada pada terdakwa. Hal inilah yang menjadi alasan bahwa dengan
pembuktian terbalik akan memberikan efektivitas dalam membuktikan
bahwa terdakwa bersalah atau tidak.
Menurut R. Soesilo, mengenai sistem atau teori pembuktian ada 4
(empat) macam, yaitu :
1) Sistem pembuktian positif
Menurut sistem ini, maka salah atau tidaknya sejumlah alat-alat
bukti yang telah ditetapkan undang-undang. Menurut peraturan
ini pekerjaan hakim semata-mata hanya mencocokkan apakah
sejumlah bukti yang telah ditetapkan dalam undang-undang
sudah ada, bila sudah ia tidak perlu menanyakan isi hatinya
(yakin atau tidak), tersangka harus dinyatakan salah dan jatuhi
hukuman. Dalam sistem ini keyakinan hakim tidak turut
mengambil bagian sama sekali, melainkan undang-undanglah
yang berkuasa disini.
27
2) Sistem pembuktian negatif;
Menurut sistem ini hakim hanya dapat menjatuhkan hukuman,
apabila sedikit-dikitnya jumlah alat bukti yang telah ditentukan
adalah undang-undang ada, ditambah dengan keyakinan hakim
akan kesalahan terdakwa terhadap peristiwa pidana yang
dituduhkan kepadanya. Walaupun alat-alat bukti lengkap, akan
tetapi jika hakim tidak yakin tentang kesalahan terdakwa, maka
,harus diputus bebas. Dalam sistem ini bukan undang-undang
yang berkuasa melainkan hakim, tetapi kekuasaan itu dibatasi
oleh undang-undang.
3) Sistem pembuktian bebas;
Menurut sistem ini, Undang-undang tidak menentukan peraturan
seperti sistem spembuktian yang harus ditaati oleh hakim,
Sistem ini menganggap atau mengakui juga adanya alat-alat
bukti tertentu, akan tetapi alat-alat bukti ini tidak ditetapkan
dalam undang-undang seperti sistem pembuktian menurut
undang-undang yang positif dan sistem pembuktian menurut
undang-undang yang negatif. Dalam menentukan macam-
macam dan banyaknya alat-alat bukti yang dipandang cukup
untuk menentukan kesalahan terdakwa, hakim mempunyai
keleluasaan yang penuh. Ia bebas untuk menetapkan itu.
Adapun peraturan yang mengikat kepadanya adalah bahwa
dalam keputusannya ia harus menyebutkan pula alasan-
alasannya.
4) Sistem pembuktian melulu berdasarkan atas keyakinan belaka.
Menurut sistem ini hakim tidak terikat kepada alat-alat bukti
yang tertentu, ia memutuskan, kesalahan terdakwa melulu
berdasarkan atas keyakinannya. Dalam hal ini hakim
mempunyai kebebasan yang penuh dengan tidak dikontrol
sama sekali. Tentunya selalu ada alasan berdasar pikiran
secara logika, yang mengakibatkan seorang hakim mempunyai
pendapat tentang terbukti atau tidak dari suatu keadaan.
Soalnya adalah bahwa dalam sistem ini hakim tidak diwajibkan
menyebut alasan-alasan itu dan apabila hakim menyebutkan
alat-alat bukti yang ia pakai, maka ,hakim dapat memakai alat
bukti apa saja. Keberadaan sistem ini ialah bahwa terkandung
didalamnya suatu kepercayaan yang terlalu besar kepada
ketetapan kesan-kesan perorangan belaka dari seorang hakim.
Pengawasan terhadap putusan-putusan hakim seperti in adalah
sukar untuk dilakukan, oleh karena badan pengawas tidak dapat
tahu pertimbangan-pertimbangan hakim, yang mengalirkan
pendapat hakim kearah putusan.57
57
R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Serta Komentar-Komentar
Lengkap Pasal Demi Pasal, Politeia, Bogor, 2015, h. 6-8
28
Penggunaan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang
Pemberantasan dan Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang sangat
mendesak untuk efektifitas pembuktian tindak pidana narkotika. Apalagi
penegak hukum di Indonesia baik itu Kepolisian ataupun Kejaksaan masih
berpegang pada paradigma follow the suspect. Maksudnya, untuk
membuktikan tindak pidana narkotika, penegak hukum lebih
mengandalkan kesaksian dari pelaku atau orang lain yang
mengetahuinya, dimana yang paling penting adalah saksi. Pendekatan
tersebut tidak cukup memadai untuk membuktikan kasus-kasus narkotika
yang semakin berkembang. Para pelaku tindak pidana narkotika yang
memahami instrumen pasar finansial mengerti bagaimana bank bekerja
dan tahu berbagai produk investasi, akan mudah untuk menutupi jejak
hasil kejahatan narkotika. Dengan mencuci uangnya, maka kejahatan
yang dilakukannya tidak akan terungkap.
2. Kerangka Konseptual
Memudahkan pemahaman dan menghindari kesalahan penafsiran
yang berbeda antara satu konsep dengan konsep lainnya maka
digunakanlah kerangka konsep. Kerangka konsep berisikan tentang
konsep-konsep operasional dari penelitian bukan konsep-konsep dari
undang-undang. Namun, penggunaan undang-undang dimungkinkan
apabila konsep sudah ada di dalamnya.58 Jadi, tidak menutup
kemungkinan dalam hal penggunaan undang-undang untuk memberikan
definisi mengenai konsep yang dikemukakan. Dikarenakan penelitian
hukum adalah penelitian normatif yang bersifat kualitatif maka tidak
58
Soerjono Soekanto, [Link], h.12.
29
menutup kemungkinan dalam hal penggunaan semua undang-undang
dan regulasi yang bersangkutan dengan judul dan permasalahan (isu
hukum) yang sedang diteliti.59
Topo Santoso menyebutkan bahwa kerangka konsepsional pada
hakekatnya merupakan suatu pengarah, atau pedoman yang lebih konkret
daripada kerangka teoritis yang sering kali bersifat abstrak kadangkala
diperlukan definisi operasional. Dalam penelitian hukum, kerangka
konsepsional dapat diambil dari peraturan perundang-undangan.60
Menentukan konsep harus berurutan sesuai dengan judul dan rumusan
masalah. Adapun konsep dimaksud dalam penelitian ini, antara lain :
a. Perlindungan Hukum adalah upaya dan mekanisme yang ada dalam
sistem hukum suatu negara untuk melindungi hak-hak, kebebasan,
dan kepentingan individu atau kelompok dalam masyarakat
b. Pelapor adalah orang yang memberikan laporan, informasi, atau
keterangan kepada penegak hukum mengenai tindak pidana yang
akan, sedang, atau telah terjad
c. Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna
kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu
perkara pidana yang dia dengar sendiri,
d. Tindak pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum pidana
dilarang dan diancam dengan pidana barang siapa yang melanggar
larangan tersebut. Dapat juga dikatakan bahwa perbuatan pidana
59
Alvi Syahrin, Pendekatan Dalam Penelitian Hukum, Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara, Medan, 2019, h. 3.
60
Topo Santoso, Penelitian Proposal Penelitian Hukum Normatif, Fakultas
Hukum Universitas Indonesia, Depok, 2015, h. 23
30
adalah perbuatan yang oleh satu aturan hukum dilarang dan diancam
pidana, asal saja diingat bahwa larang ditujukan kepada perbuatan
yaitu suatu keadaan atau kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan
orang, sedangkan ancaman pidananya ditujukan kepada orang yang
menimbulkan kejadian itu. 61
e. Pencucian Uang menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 8
Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang adalah perbuatan menempatkan, mentransfer,
membayarkan, membelanjakan, menghibahkan, menyumbangkan,
menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan, atau perbuatan
lainnya, atas harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya
merupakan hasil tindak pidana dengan maksud untuk
menyumbangkan, atau menyamarkan asal-usul harta kekayaan
sehingga seolah-olah menjadi harta kekayaan yang sah. Menurut
Sutan Remy Sjahdeini, mendefinisikan pencucian uang atau money
laundering sebagai rangkaian kegiatan yang merupakan proses yang
dilakukan oleh seseorang atau organisasi terhadap uang haram yaitu
uang yang berasaldari kejahatan dengan maksud untuk
menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul uang tersebut dari
pemerintah atau otoritas yang berwenang melakukan penindakan
terhadap tindak pidana dengan cara terutama memasukkan uang
tersebut ke dalam sistem keuangan (finacial system)sehingga uang
61
Moeljatno. , Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Jakarta, 2016, h.54
31
tersebut kemudian dapat dikeluarkan dari sistem keuangan itu sebagai
uang yang halal 62
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan oleh peneliti di
perpustakaan Universitas Islam Sumatera Utara diketahui bahwa
penelitian tentang “Perlindungan Hukum Bagi Pelapor dan Saksi Dalam
Tindak Pidana Pencucian Uang Dalam Peradilan Di Indonesia
berdasarkan Peraturan Kepala Kepolisian Nomor 17 Tahun 2005 tentang
Tata Cara Perlindungan Khusus Terhadap Pelapor dan Saksi Dalam
Tindak Pidana Pencucian Uang” belum pernah dilakukan dalam
pendekatan dan perumusan masalah yang sama, walaupun ada beberapa
topik penelitian tindak pidana pencucian uang dalam kasus kejahatan
narkotika tapi jelas berbeda.
Berdasarkan hasil penelusuran sementara dan pemeriksaan yang
telah dilakukan baik di kepustakaan, ditemukan beberapa penelitian
mengenai tindak pidana pencucian uang dalam kasus kejahatan
narkotika, tetapi rumusan masalahnya berbeda yaitu :
1. Tesis berjudul “Tindak Pidana Pencucian Uang Dengan Kejahatan
Asal Tindak Pidana Narkoba Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan
No. 1243/PID.B/2012/[Link]”, ditulis oleh Agustin Wati Nainggolan,
NIM : 077005001/HK, Tahun 2017. Pembahasannya :
62
Sutan Remy Sjahdeini, Seluk Beluk Tindak Pidana Pencucian Uang dan
Pembiayaan Terorisme, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 2017, h.7.
32
a. Bagaimana bentuk tindak pidana pencucian uang dalam Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang ?
b. Bagaimana analisa yuridis tindak pidana pencucian uang dan
kejahatan asal tindak pidana kejahatan Narkoba pada Putusan
Pengadilan Negeri Medan No. 1243/Pid.B/2012/[Link] ?
c. Bagaimanakah pertimbangan Majelis Hakim pada tingkat pertama
dan banding terhadap tindak pidana pencucian uang dan tindak
pidana kejahatan asal tindak pidana kejahatan narkoba terkait
Putusan Pengadilan Negeri Medan No. 1243/Pid.B/2012/[Link] ?
2. Tesis berjudul : “Penerapan Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana
Pencucian Uang Yang Merupakan Hasil Tindak Pidana Narkotika
(Studi Putusan Nomor 311/[Link]/2018/[Link])”, ditulis oleh Rara
Pitaloka Sirait, NIM : 168400175, Tahun 2019. Pembahasanya :
a. Bagaimana proses hukum terhadap tindak pidana pencucian
uangjika kejahatan asal (predicate crime) belum diputus ?
b. Bagaimana pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan
tindak pidana pencucian uang yang merupakan hasil tindak pidana
narkotika berdasarkan putusan No. 311/[Link]/2018/[Link] ?
3. Tesis berjudul : “Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Pencucian
Uang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Dari Hasil
Peredaran Narkoba”, ditulis oleh Riswandi Imawan, NIM :
30301308260, Tahun 2019. Pembahasannya:
33
a. Bagaimana keterkaitan antara tindak pidana pencucian uang
dengan kejahatan narkotika ?.
b. Bagaimana penerapan hukum pidana materiil dalam tindak pidana
pencucian uang yang dari hasil peredaran narkoba ?
c. Bagaimana hambatan dan upaya mengatasi tindak pidana
pencucian uang dari hasil peredaran narkoba ?
Penelitian ini adalah asli karena sesuai dengan asas-asas keilmuan
yaitu jujur, rasional, obyektif dan terbuka sehingga penelitian ini dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah dan terbuka atas
masukan serta saran-saran yang membangun sehubungan dengan
pendekatan dan perumusan masalah.
F. Metode Penelitian
Metode adalah cara kerja atau tata kerja untuk mendapatkan
pemahaman mengenai objek yang menjadi sasaran dari ilmu
pengetahuan yang bersangkutan.63 Sedangkan penelitian merupakan
suatu kerja ilmiah yang bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran
secara sistematis, metodologis, dan konsisten.64 Penelitian hukum
merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode,
sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari
sesuatu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan cara
menganalisanya.65
63
Soerjono Soekanto, [Link], h.1069.
64
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu
Tinjauan Singkat,Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2015, h.1.
65
Bambang Waluyo, Penelitian Hukum dalam Praktek, Sinar Grafika, Jakarta,
2016, h.6
34
Dengan demikian secara umum objek penelitian terhadap
penelitian ini adalah norma hukum yang terwujud dalam kaidah-kaidah
hukum dibuat dan diterapkan oleh penegak hukum yaitu hakim dalam
sejumlah peraturan perundang-undangan yang terkait langsung dengan
tindak pidana pencucian uang. Secara khusus, objek penelitiannya adalah
perlindungan hukum bagi pelapor dan saksi dalam tindak pidana
pencucian uang dalam peradilan di Indonesia.
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penyusunan tesis ini
menggunakan metode penelitian hukum normatif (yuridis normatif).
Penelitian normatif adalah penelitian hukum yang meletakkan hukum
sebagai sebuah bangunan sistem norma. Sistem norma yang dimaksud
adalah mengenai asas-asas, norma, kaidah dari peraturan perundangan-
undangan, putusan pengadilan, perjanjian, serta doktrin (ajaran).66
Peter Mahmud Marzuki menjelaskan penelitian hukum normatif
adalah suatu proses untuk menemukan suatu aturan hukum, prinsip-
prinsip hukum, maupun doktrin-doktrin hukum untuk menjawab
permasalahan yang dihadapi. Penelitian hukum normatif dilakukan untuk
menghasilkan argumentasi, teori atau konsep baru sebagai preskripsi
dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.67 Penggunaan metode
penelitian hukum normatif (yuridis normatif) dikarenakan penelitian ini
dilakukan dengan meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka.68
66
Mukti Fajar dan Yulianto Acmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif &
Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, h.34.
67
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, 2015, hal 35.
68
Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, Op. Cit, h.13.
35
Sifat penelitian adalah penelitian deskriptif analisis yang ditujukan
untuk menggambarkan secara tepat, akurat, dan sistematis gejala-gejala
hukum terkait penerapan tindak pidana narkotika dalam dimensi
pencucian uang di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 35
Tahun 2009 tentang Narkotika. Penelitian deskriptif analisis, dikaitkan
dengan penelitian ini yaitu menggambarkan perlindungan hukum bagi
pelapor dan saksi dalam tindak pidana pencucian uang dalam peradilan di
Indonesia.
2. Metode Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
a. Pendekatan Kasus (Case Approach),69 dilakukan dengan cara
melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu
yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan.
b. Pendekatan Konseptual (Copceptual Approach),70 dilakukan dengan
mempelajari pandangan-pandangan dan doktrin-doktrin di dalam ilmu
hukum, yang akan menemukan ide-ide yang dapat melahirkan
pengertian-pengertian hukum, konsep-konsep hukum, dan asas-asas
hukum yang relevan dengan isu yang dihadapi.
c. Pendekatan Perundang-undangan (Statute Approach)
Pendekatan perundang-undangan adalah pendekatan yang dilakukan
dengan menelaah semua peraturan perundang-undangan dan regulasi
yang bersangkut paut dengan isu hukum yang ditangani.71
69
Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, 2016, h. 94
70
Ibid, h. 95
71
Ibid, h.96
36
3. Alat Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah bagian penting dalam suatu penelitian,
karena dengan pengumpulan data akan diperoleh data yang diperlukan
untuk selanjutnya dianalisis sesuai kehendak yang diharapkan. Penelitian
ini menggunakan metode pengumpulan data kepustakaan.72 Data dalam
penelitian ini diperoleh melalui data sekunder yaitu data yang dikumpulkan
melalui studi terhadap bahan kepustakaan. Data sekunder yaitu data yang
diperoleh dari dokumen-dokumen resmi, buku-buku yang berhubungan
dengan objek penelitian, dan peraturan perundang-undangan. Data
sekunder dalam penelitian ini mencakup:
a. Bahan hukum primer yaitu norma atau kaedah dasar, bahan hukum
yang mengikat seperti Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
1945, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Undang-undang Nomor 8
Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang.
b. Bahan hukum sekunder adalah bahan-bahan hukum dari buku teks
yang berisi mengenai prinsip-prinsip dasar ilmu hukum dan
pandangan-pandangan kalsik para sarjana yang memiliki kalsifikasi
tinggi.73 Bahan hukum sekunder terdiri dari semua publikasi tentang
hukum yang bukan merupakan dokumen resmi yang memberikan
penjelasan mengenai bahan hukum primer sebagaimana yang
terdapat dalam kumpulan pustaka yang bersifat sebagai penunjang
72
Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Suatu Pengantar, Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2018, h.10
73
Ibid, h. 41
37
dari bahan hukum primer. Bahan hukum sekunder ini bisa berasal dari
buku, hasil penelitian dan hasil karya ilmiah dari kalangan hukum. 74
c. Bahan hukum tertier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk
maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum
sekunder, seperti kamus, ensiklopedia dan majalah yang berkaitan
dengan rumusan masalah yang diteliti.75
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
meliputi studi dokumen untuk mendapatkan konsepsi teori atau doktrin,
pendapat atau pemikiran konseptual dan penelitian pendahuluan yang
berhubungan dengan objek yang diteliti dapat berupa peraturan
perundang-undangan dan karya ilmiah, dan kasus-kasus yang terjadi
melalui putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum.76
4. Analisis Data
Analisis data adalah suatu proses mengatur, mengurutkan,
mengelompokkan, memberikan kode dan mengategorikannya hingga
kemudian mengorganisasikan dalam suatu bentuk pengelolaan data untuk
menemukan tema dan hipotesis kerja yang diangkat menjadi teori
substantif.77 Untuk menemukan teori dari data tersebut maka
menggunakan metode kualitatif adalah penelitian yang mengacu pada
norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan
putusan pengadilan serta norma-norma yang hidup dan berkembang
dalam masyarakat.78
74
Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2014, h.30
75
Ibid, h. 43
76
Ibid, h. 98.
77
Lexy J Moleong, [Link], h. 103
78
Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2019, h.105.
BAB II
PENGATURAN HUKUM PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PELAPOR
DAN SAKSI DALAM TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG
DALAM PERADILAN DI INDONESIA
A. Tindak Pidana Pencucian Uang
1. Pengertian Pencucian Uang
Menurut Azis Syamsuddin mendefenisikan pencucian adalah
sebuah kegiatan memproses uang yang secara akal sehat dipercayai
berasal dari tindak pidana, yang dialihkan, ditukarkan, diganti atau
disatukan dengan dana yang sah dengan tujuan utuk menutupi atau
mengaburkan asal, sumber, disposisi, kepemilikan, pergerakan, ataupun
kepemilikan dari proses tersebut. Tujuan dari proses pencucian uang
adalah membuat dana yang berasal dari tindak pidana atau diasosiasikan
dengan kegiatan yang tidak jelas menjadi sah.79
Money laundering saat ini merupakan fenomena di dunia dan
permasalahan dunia internasional. Semua negara sepakat bahwa
pencucian uang merupakan suatu kejahatan serius yang harus ditangani
secara serius pula dan diberantas dengan melakukan kerjasama
antarnegara.80
Berdasarkan beberapa definisi dan penjelasan mengenai apa yang
dimaksudkan dengan money laundering adalah tindakan-tindakan yang
bertujuan untuk menyamarkan uang hasil tindak pidana sehingga seolah-
olah dihasilkan secara halal.
79
Azis Syamsuddin, Tindak Pidana Khusus. Jakarta: Sinar Grafika, Jakarta,
2011, h.18.
80
Edi Setiadi dan Rena Yulia. [Link]., h. 146
38
39
Menurut Azis Syamsuddin menyebutkan money laundering adalah
tindakan memproses sejumlah besar uang illegal hasil tindak pidana
menjadi dana yang kelihatannya bersih atau sah menurut hukum dengan
mempergunakan metode yang canggih, kreatif dan kompleks. Atau tindak
pidana pencucian uang sebagai suatu proses atau perbuatan yang
bertujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul uang atau
harta kekayaan yang diperoleh dari hasil tindak pidana yang kemudian
diubah menjadi harta kekayaan yang seolah-olah berasal dari kegiatan
yang sah.81
Kemajuan dan perkembangan teknologi yang telah tercapai
memang telah mempermudah kehidupan manusia. Kemajuan teknologi di
satu pihak telah membawa banyak dampak positif bagi pembangunan,
namun di lain pihak kemajuan yang telah tercapai juga mengakibatkan
munculnya berbagai masalah dan akibat negatif yang merugikan.
Kemajuan justru seringkali menjadi lahan yang “subur” bagi
berkembangnya kejahatan, khususnya kejahatan kerah putih atau white
collar crime. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
terutama di bidang komunikasi, permesinan, dan transportasi mempunyai
dampak pada modus operandi suatu kejahatan. 82
Tindak pidana dan kejahatan pada saat ini banyak yang sudah
dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, sehingga semakin sukar
pengungkapannya. Perkembangan teknologi yang semakin canggih dan
81
Azis Syamsuddin. [Link]., h.19.
82
Sutan Remy Sjahdeini. Pencucian Uang Dan Pendanaan Terorisme Serta
Pencegahannya, Citra Aditya Bhakti, Bandung, 2011, h.16.
40
harganya yang terjangkau seringkali dipergunakan sebagai alat bantu
melakukan kejahatan. Modus operandi kejahatan seperti ini, hanya dapat
dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai status sosial menengah ke
atas dalam masyarakat, bersikap tenang, simpatik serta terpelajar.
“Mempergunakan kemampuan, kecerdasan, kedudukan serta
kekuasaannya, seorang pelaku tindak pidana dapat meraup dana yang
sangat besar untuk keperluan pribadi atau kelompoknya saja”. 83
Secara yuridis dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010
Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang dibedakan dalam dua tindakan pidana pencucian uang:
a. Tindak pidana yang aktif, di mana sesorang dengan sengaja
menempatkan, mentransfer, menghibahkan, membayar,
menitipkan, membawa ke luar negeri, menukarkan uang-uang
hasil tindakan pidana dengan tujuan mengaburkan atau
menyembunyikan asal-usul uang itu, sehingga muncul seolah-
olah menjadi uang yang sah.
b. Pencucian uang yang pasif, yang dikenakan kepada setiap
orang yang menerima atau menguasai penempatan,
pentransferan, pembayaran, penerimaan hibah, sumbangan,
penitipan, penukaran uang yang berasal dari tindak pidana
tersebut dengan tujuan yang sama yaitu menyembunyikan asal-
usulnya. Hal ini dianggap sama dengan pencucian uang.
Dengan demikian, secara hukum yang berlaku baik taraf
nasional dan internasional tidak dibenarkan hal ini dilakukan
atau diperbuat oleh berbagai pihak.84
Tujuan seseorang atau organisasi kejahatan melakukan pencucian
uang adalah supaya asal-usul uang tersebut tidak dapat diketahui atau
tidak dapat dilacak oleh penegak hukum. Agar tujuan tersebut dapat
83
Ibid, h.23.
84
Ibid, h.27
41
tercapai, ada 4 (empat) faktor yang harus diperhatikan oleh para
pencucinya yaitu:
a. Kepemilikan yang sebenarnya dan sumber yang sesungguhnya
dari uang yang dicuci itu harus disembunyikan. Tidak ada
gunanya untuk melakukan pencucian uang apabila setiap orang
mengetahui siapa yang memiliki uang tersebut apabila uang itu
nantinya muncul di akhir dari proses pencucian uang itu;
b. Bentuk uang tersebut harus berubah. Dana yang berasal dari
perdagangan narkoba hampir dipastikan berupa uang tunai.
Uang tunai ini harus dapat diubah bentuknya menjadi alat
pembayaran lain, misalnya berbentuk cek;
c. Jejak yang ditinggalkan oleh proses pencucian uang harus
tersamar atau tidak dapat diketahui (obscured). Tujuan dari
pencucian uangakan sia-sia apabila orang lain dapat mengikuti
jalannya proses pencucian uang dari permulaan sampai akhir
proses tersebut;
d. Pengawasan terus menerus harus dilakukan terhadap uang
[Link] akhirnya banyak orang yang muncul ketika uang
itu sedang dicuci mengetahui bahwa uang tersebut adalah
uang haram (dirty money) dan apabila mereka dapat
mengambil atau mencurinya, maka kecil sekali
kemungkinannya bagi pemilik uang itu untuk dapat mengambil
tindakan hukum terhadap perbuatan tersebut.85
Sutan Remy Sjahdeni, mengungkapkan sedikitnya ada sembilan
faktor pendorong tindak pidana pencucian uang yaitu:
a. Globalisasi. Terjadinya globalisasi memang mengakibatkan para
pelaku pencucian uang dapat memanfaatkan sistem financial
dan perbankan internasional untuk melakukan kegiatannya;
b. Cepatnya perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi ini
mungkin dapat dikatakan sebagai faktor yang paling mendorong
berkembangnya pencucian uang. Perkembangan teknologi
informasi seperti internet misalnya, dapat mengakibatkan
hilangnya batas-batas antar negara;
c. Ketentuan kerahasiaan bank. Ketentuan ini mengakibatkan
kesulitan bagi pihak berwenang untuk menyelidiki suatu
rekening yang mereka curigai dimiliki oleh atau dengan cara
yang ilegal;
d. Dimungkinkannya oleh ketentuan perbankan di suatu negara
untuk seseorang dapat menyimpan dana di suatu bank dengan
nama samaran atau tanpa nama atau anonim;
85
Ibid, h.25.
42
e. Munculnya jenis uang baru yaitu electronic money atau E-
money, yaitu sehubungan dengan maraknya electronic
commerce atau ecommerce melalui internet. Kegiatan
pencucian uang yang dilakukan melalui jaringan internet ini
biasa disebut sebagai cyber-laundering;
f. Dimungkinkannya praktek pencucian uang dengan cara yang
disebut layering atau pelapisan. Dengan cara ini, pihak yang
menyimpan dana di bank bukanlah pemilik sesungguhnya dari
dana [Link] tersebut hanyalah bertindak sebagai kuasa
atau pelaksana amanah dari pihak lain yang menugasinya untuk
mendepositokan uang tersebut di sebuah bank;
g. Berlakunya ketentuan hukum berkenaan dengan kerahasiaan
hubungan antara lawyer dengan kliennya, dan antara akuntan
dengan kliennya;
h. Seringkali pemerintah yang bersangkutan tidak bersungguh-
sungguh untuk memberantas praktek pencucian uang yang
dilakukan melalui sistem perbankan negara tersebut;
i. Tidak adanya dikriminalisasi perbuatan pencucian uang di
sebuah negara. Dengan kata lain, negara yang bersangkutan
tidak memiliki undang-undang tentang pencucian uang yang
menentukan perbuatan pencucian uang sebagai tindak
pidana.86
Tujuan seseorang atau organisasi kejahatan melakukan pencucian
uang adalah supaya asal-usul uang tersebut tidak dapat diketahui atau
tidak dapat dilacak oleh penegak hukum.
2. Pengaturan Tindak Pidana Pencucian Uang
Indonesia walaupun terlambat dibandingkan dengan negara negara
lain, namun kebijakan melakukan kriminalisasi Tindak Pidana Pencucian
Uang di Indonesia dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun
2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian
Uang sudah menunjukkan keikutsertaan Indonesia dalam upaya
penaggulangan money laundering yang sudah lama menjadi perhatian
Internasional..
86
Ibid, h. 33
43
Diundangkannya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang
Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang di
Indonesia lebih menitik beratkan pada upaya penanggulangan dengan
sarana “penal”. Kondisi demikian merupakan langkah maju dibandingkan
dengan kondisi sebelumnya karena sebelum diundangkannya Undang-
Undang tersebut belum ada aturan secara khusus tentang Tindak Pidana
Pencucian Uang.
Pasal 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang
Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
disebutkan bahwa pencucian uang adalah segala perbuatan yang
memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam
Undang-Undang ini
Tindak pidana pencucian uang selalu terkait dengan suatu tindak
pidana lain yang terjadi sebelumnya. Tindak pidana sebelumnya ini
menghasilkan harta kekayaan yang disebut sebagai hasil tindak pidana.
Hasil tindak pidana inilah yang kemudian disamarkan atau disembunyikan,
ditempatkan, ditransfer, dan lain sebagainya itu, sehingga terjadi tindak
pidana baru yang dinamakan tindak pidana pencucian uang dimaksud.
Tindak pidana yang terjadi sebelumnya itu dinamakan tindak pidana asal
atau predicate crime. Sedangkan tindak pidana pencucian uang atas hasil
44
tindak pidana asal (predicate crime) tersebut merupakan tindak pidana
ikutan (underlying crime).87
Menurut Yunus Husein, dalam International Narcotics Control
Strategy Report (INCSR) yang dikeluarkan oleh Bureau for International
Narcotics and Law Enforcement Affairs, United States Department of
State, Indonesia ditempatkan kembali ke dalam deretan major laundering
countries di wilayah Asia Pacific bersama dengan 53 negara antara lain
seperti Australia, Kanada, Cina, Cina Taipei, Hong Kong, India, Jepang,
Macau Cina, Myanmar, Nauru, Pakistan, Filipina, Singapura, Thailand,
United Kingdom dan Amerika Serikat. Predikat major laundering countries
diberikan kepada negara-negara yang lembaga dan sistem keuangannya
dinilai terkontaminasi bisnis narkotika internasional yang ditengarai
melibatkan uang dalam jumlah yang sangat besar.88
Sejarah perkembangan tipologi pencucian uang menunjukkan
bahwa perdagangan obat bius merupakan sumber yang paling dominan
dan kejahatan asal (predicate crime) yang utama yang melahirkan
kejahatan pencucian uang. Organized crime selalu menggunakan metode
pencucian uang ini untuk menyembunyikan, menyamarkan atau
mengaburkan hasil bisnis haram itu agar nampak seolah-olah merupakan
hasil dari kegiatan yang sah. Selanjutnya, uang hasil jual beli narkotika
87
Barda Nawawi Arief, Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana
Lainnya Yang Terkait, Alumni, Bandung, 2014, h.76.
88
Yunus Husein, Tindak Pidana Pencucian Uang, Ghalia Indonesia, Jakarta,
2013, h.28.
45
yang telah dicuci itu digunakan lagi untuk melakukan kejahatan serupa
atau mengembangkan kejahatan-kejahatan baru.89
Pencucian uang (money laundering pada umumnya berasal dari
kegiatan-kegiatan:
a. Uang hasil perdagangan obat bius / narkotika
b. Uang hasil manipulasi pajak.
c. Uang hasil kolusi yng dilakukan pejabat pemerintah tertentu
ketika melakukan manipulasi dalam hal pembelian suatu
keperluan pemerintah.
d. Uang hasil kolusi antara pejabat pemerintah dan pengusaha
dalam menanggani suatu proyek.
e. Uang hasil usaha tidak sah berupa monopoli yang dilakukan
oleh pejabat negara atau kroni-kroninya.
f. Uang hasil pungutan liar yang dilakukan oleh pejabat negara.
g. Uang hasil sitaan Negara;
Tindak pidana pencucian uang (money laundering) sebagai
kejahatan yang bersifat lintas negara (transnational crime), modusnya
banyak dilakukan melintasi batas–batas negara, dan berdampak negatif
pada sistem keuangan dan perekonomian dunia secara keseluruhan. Di
sisi lain oleh karena tindak pidana pencucian uang (money laundering)
berkaitan dengan kejahatan asal yang dilakukan oleh Organized crime,
maka berkembangnya tindak pidana pencucian uang (money laundering)
akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya berbagai tindak
pidana pemicu pencucian uang, seperti korupsi, perdagangan gelap
narkotika, dan illegal logging serta upaya untuk memeranginya.90
Pencucian uang sepintas tampaknya tidak merugikan orang atau
negara, namun sebenarnya pencucian uang telah menimbulkan kerugian
89
Ibid, h.32.
90
Sutan Remy Sjahdeini. [Link]., h.5.
46
yang meluas, tidak hanya di sektor ekonomi, tetapi juga di seluruh sektor
kehidupan, mulai dari rusaknya reputasi negara sampai meningkatnya
jumlah kejahatan awal (predicate crimes ) dari tindak pidana pencucian
uang. Selain itu tindak pidana pencucian uang juga berpotensi untuk
merongrong sektor keuangan sebagai akibat demikian besarnya jumlah
uang yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Lembaga keuangan yang mengandalkan kegiatannya pada dana
yang merupakan hasil kejahatan dapat menghadapi bahaya likuiditas. Hal
ini dapat terjadi, karena uang dalam jumlah besar yang dicuci dan baru
saja ditempatkan pada sebuah bank dapat secara tiba–tiba menghilang
dari bank tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, karena pemiliknya
melakukannya melalui transfer elektronik (wire transfer).91
Aliran uang melalui sistem perbankan internasional yang dilakukan
oleh para pencuci uang (money launderers) dimaksudkan untuk
menopang operasi–operasi mereka yang melanggar hukum dengan cara
memberikan kepada para pelaku kejahatan. Dana segar tersebut
diperlukan untuk membiayai operasi mereka dan untuk membeli lebih
banyak barang–barang dan jasa-jasa yang mereka pelukan. Apabila aliran
uang yang kembali kepada para pelaku kejahatan itu dapat diputuskan,
maka organisasi kejahatan yang bersangkutan akan bertambah lemah
dan pada akhirnya akan mati. Hal ini berlaku terutama bagi kelompok
yang melakukan perdagangan obat-obatan terlarang, yang pada umunya
memperdagangkan obat-obatan terlarang itu secara konsinyasi.
91
Ibid, h.19.
47
Lahirnya Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 Tentang Tindak
Pidana Pencucian Uang yang kemudian diubah dengan Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 2003 dan kemudian dicabut dan diganti dengan Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang, semakin menunjukkan komitmen dari
pemerintah Indonesia dalam penanganan tindak pidana pencucian uang
di Indonesia.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, mengatur berbagai hal
dalam upaya untuk memberantas dan mencegah tindak pidana pencucian
uang, yaitu:
a. Kriminalisasi perbuatan pencucian uang.
b. Kewajiban bagi masyarakat pengguna jasa, lembaga pengawas
dan pengatur, dan pihak pelapor.
c. Pengaturan pembentukan Pusat Pelaporan dan Analisis
Transaksi Keuangan.
d. Aspek penegakan hukum.
e. Kerjasama.92
Tindak Pidana Pencucian Uang diatur secara yuridis dalam
Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, dimana pencucian uang
dibedakan dalam 2 (dua) tindak pidana:
a. Tindak pidana pencucian uang aktif, yaitu Setiap Orang yang
menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membelanjakan,
menbayarkan, menghibahkan, menitipkan, membawa ke luar
negeri, mengubah bentuk, menukarkan dengan uang uang atau
92
PPATK E-Learning, Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan
Terorisme, Bagian 4 : Pengaturan Pencegahan dan Pemberantasan Pencucian Uang di
Indonesia, PPATK, Jakarta, 2010, h. 1.
48
surat berharga atau perbuatan lain atas Harta Kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak
pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan
tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta
Kekayaan. (Pasal 3 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010).
b. Tindak pidana pencucian uang pasif yang dikenakan kepada
setiap Orang yang menerima atau menguasai penempatan,
pentransferan, pembayaran, hibah, sumbangan, penitipan,
penukaran, atau menggunakan Harta Kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak
pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). Hal
tersebut dianggap juga sama dengan melakukan pencucian
uang. Namun, dikecualikan bagi Pihak Pelapor yang
melaksanakan kewajiban pelaporan sebagaimana diatur dalam
undang-undang ini. (Pasal 5 Undang-Undang No. 8 Tahun
2010).93
Pasal 4 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010, dikenakan pula bagi
mereka yang menikmati hasil tindak pidana pencucian uang yang
dikenakan kepada setiap Orang yang menyembunyikan atau
menyamarkan asal usul, sumber lokasi, peruntukan, pengalihan hak-hak,
atau kepemilikan yang sebenarnya atas Harta Kekayaan yang
diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). Hal ini pun dianggap
sama dengan melakukan pencucian uang.
Menurut Pasal 3 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang
Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang bahwa
sanksi bagi pelaku tindak pidana pencucian uang adalah cukup berat,
yakni dimulai dari hukuman penjara paling lama maksimum 20 (dua puluh)
tahun, dengan denda paling banyak Rp. [Link],- (sepuluh miliar
rupiah).
93
Ibid., h. 2.
49
Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 cakupan tindak
pidana asal diperluas lagi menjadi 27 jenis, yang rinciannya hampir sama
dengan rincian yang terdapat dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 2003, dengan penambahan tindak pidana kepabeanan
dan tindak pidana cukai, serta perubahan tindak pidana kelautan dalam
Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 menjadi tindak
pidana kelautan dan perikanan, dan penyebutan tindak pidana
perdagangan manusia pada Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25
Tahun 2003 diubah menjadi tindak pidana perdagangan orang, sementara
tindak pidana penyelundupan barang yang semula terdapat dalam Pasal 2
ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003, tidak terdapat lagi dalam
Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tersebut.
Hasil tindak pidana pencucian uang menurut Pasal 2 Undang-
Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang, menyebutkan bahwa: Hasil tindak pidana
adalah Harta Kekayaan yang diperoleh dari tindak pidana:
a. Korupsi
b. Penyuapan
c. Narkotika
d. Psikotropika
e. Penyelundupan tenaga kerja
f. Penyelundupan migrant
g. Di bidang perbankan
h. Di bidang pasar modal
i. Di bidang perasuransian
j. Kepabeanan
k. Cukai
l. Perdagangan orang
m. Perdagangan senjata gelap
n. Terorisme
50
o. Penculikan
p. Pencurian
q. Penggelapan
r. Penipuan
s. Pemalsuan uang
t. Perjudian
u. Prostitusi
v. Di bidang perpajakan
w. Di bidang kehutanan
x. Di bidang lingkungan hidup
y. Di bidang kelautan perikanan
z. Tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4
(empat) tahun atau lebih, yang dilakukan di wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia atau di luar wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia dan tindak pidana tersebut juga
merupakan tindak pidana menurut hukum Indonesia.
Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga akan digunakan
dan/atau digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan
terorisme, organisasi terorisme atau teroris perseorangan disamakan
sebagai hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf n.
Diaturnya pencucian uang secara khusus dalam sebuah undang-undang
menunjukkan adanya perubahan cara memandang dan menangani
kejahatan ini. Hal terpenting dari lahirnya undang-undang ini yang
menunjukkan adanya perubahan itu adalah dengan ditetapkan kegiatan
pencucian uang sebagai bentuk tindak pidana yang tentunya dibarengi
dengan sanksi pidana bagi mereka yang melakukannya. Selain itu,
dibentuknya suatu unit kerja yang independen yang akan berperan besar
dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang,
yaitu Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Terjadinya perubahan pada undang-undang yang mengatur tindak
pidana pencucian uang tentunya juga dikarenakan oleh adanya
51
perkembangan yang dianggap perlu untuk pencegahan dan
pemberantasan tindak pidana pencucian uang itu sendiri. Saat ini,
undang-undang yang mengatur tindak pidana pencucian uang yang
berlaku adalah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010.
UU TPPU mengatur beberapa hal-hal pokok yang menjadi
perhatian dan perubahan penting dari undang-undang sebelumnya, yaitu:
a. Jenis Tindak Pidana Asal (Predicate Crime)
Pasal 2 ditentukan bahwa yang menjadi tindak pidana asal pada tindak
pidana pencucian uang yaitu korupsi, penyuapan, narkotika,
psikotropika, penyelundupan tenaga kerja, penyelundupan migrant, di
bidang perbankan, di bidang pasar modal, di bidang perasuransian,
kepabeanan, cukai, perdagangan orang, perdagangan senjata gelap,
terorisme, penculikan, pencurian, penggelapan, penipuan, pemalsuan
uang, perjudian, prostitusi, di bidang perpajakan, di bidang kehutanan,
di bidang lingkungan hidup, di bidang kelautan dan perikanan atau
tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat)
tahun atau lebih yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia atau di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
dan tindak pidana tersebut juga merupakan tindak pidana menurut
hukum Indonesia.
b. Lex Specialis
Pasal 68 ditentukan bahwa penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan
di persidangan, dilakukan berdasarkan ketentuan Kitab Undang-
Undang Hukum Acara Pidana, kecuali ditentukan lain dalam undang-
52
undang ini. Pengaturan ini tampak bahwa para pembuat UU
menginginkan UUTPPU ini lebih banyak disesuaikan dengan sifat
perkembangan masalah kejahatan pencucian uang yang memiiki
karakter yang lebih khusus dari masalah yang diatur oleh perundang-
undangan lain.94 Undang-undang ini memiliki sifat lexspecialis karena
undang-undang ini bisa menjadi pengecualian terhadap ketentuan-
ketentuan undang-undang lain (KUHAP) berdasarkan prinsip lex
specialis derogate legi lexgeneralis.
c. Pembuktian Terbalik
Pasal 77 diatur bahwa “untuk kepentingan pemeriksaan di sidang
pengadilan, terdakwa wajib membuktikan bahwa Harta Kekayaannya
bukan merupakan hasil tindak pidana”. Ketentuan ini dikenal dengan
istilah pembuktian terbalik, dimana diberikan kesempatan kepada
terdakwa untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah atau
membuktikan bahwa harta kekayaannya bukanlah hasil tindak pidana.
d. Eksistensi PPATK
Pasal 40, keberadaan PPATK semakin diakui dengan memperluas
fungsi PPATK dibandingkan dengan undang-undang sebelumnya,
yaitu:
1) Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.
2) Pengelolaan data dan informasi yang diperoleh PPATK.
3) Pengawasan terhadap kepatuhan Pihak Pelapor
94
N.H.T. Siahaan. Pencucian Uang Dan Kejahatan Perbankan, Pustaka Sinar
Harapan, Jakarta, 2012, h. 8.
53
4) Analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi Transaksi
Keuangan yang berindikasi tindak pidana pencucian uang dan/atau
tindak pidana lain sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2 ayat
(1).
e. Alat Bukti
Pasal 73 ditentukan bahwa alat bukti yang sah dalam pembuktian
tindak pidana pencucian uang, yaitu:
1) Alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana.
2) Alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan,
diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau
alat yang serupa optik dan dokumen.
Alat bukti yang diakui dalam undang-undang ini tentu lebih luas dari
alat bukti yang ditentukan dalam KUHAP dan alat bukti tersebut sangat
beragam. Hal ini menjadi kebutuhan dalam pemeriksaan mengingat
tindak pidana pencucian uang ini adalah tindak pidana yang
terorganisir dan sistematis. Saat ini, tindak pidana pencucian uang
sudah marak yang dilakukan dengan teknologi canggih dan media-
media yang tidak terduga sebelumnya. Melalui ketentuan ini
diharapkan pembuktian tindak pidana pencucian uang semakin mudah
sehingga lebih mudah juga pencegahan dan pemberantasannya.
f. Peradilan In Absentia
Pasal 79 mengakui bahwa dalam pemeriksaan tindak pidana
pencucian uang dibenarkan tanpa kehadiran terdakwa apabila sudah
54
dipanggil secara sah dan patut namun tidak hadir juga (in absentia).
Kekhususkan dalam hukum acara pidana yang diterapkan oleh
undang-undang ini tentu memberikan dukungan positif terhadap
pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang, yaitu
untuk mempermudah pemeriksaan meskipun terdakwa tidak hadir.
Dengan dilanjutkannya pemeriksaan tanpa kehadiran terdakwa tentu
membantu pemerintah dalam menyelamatkan harta hasil kejahatan
yang dilakukan terdakwa.
g. Kualifikasi Perbuatan Pidana dan Ancaman Hukuman
Pasal 10 ditentukan bahwa perbuatan percobaan, pembantuan dan
permufakatan jahat pada tindak pidana pencucian uang dikenakan
ancaman hukumannya yang sama dengan perbuatan pidana yang
selesai dilakukan sebagaimana pada Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5. Hal
ini sangat berbeda dengan ketentuan umum hukum pidana Indonesia
yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana bahwa percobaan, pembantuan dan
permufakatan jahat ancaman hukumannya adalah dikurangi sepertiga
dari hukuman pokoknya. Adanya perbedaan ini menunjukkan bahwa
pembuat undang-undang dan pemerintah Indonesia tidak main-main
dalam pemberantasan tindak pidana pencucian uang.
h. Paradigma Follow The Money
UU TPPU menggunakan pendekatan follow the money dalam
mengkriminalisasi pencucian uang. Setiap tindak pidana, setidaknya
55
ada tiga komponen, yaitu adanya pelaku, tindak pidana yang
dilakukan, dan hasil tindak pidana dapat berupa uang atau harta
kekayaan lain.
Pendekatan follow the moneymendahulukan mencari uang atau harta
kekayaan hasil tindak pidana dibandingkan dengan mencari pelaku
kejahatan. Setelah hasil diperoleh barulah dicari pelakunya.
Pendekatan ini dirasa lebih menguntungkan dan adil karena
jangkauannya lebih jauh, dapat dilakukan secara diam-diam sehingga
memiliki resiko perlawanan dari pelaku tindak pidana sangat kecil.95
i. Penerobosan Rahasia dan Kode Etik
Pasal 28 UU TPPU memberikan suatu jaminan kepada pihak pelapor
dalam melaksanakan kewajiban pelaporannya dikecualikan dari prinsip
kerahasiaan bank. Berdasarkan Pasal 45 UU TPPU, PPATK dalam
menjalankan fungsi dan wewenangnya tidak terkait dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan dan kode etik yang mengatur tentang
prinsip kerahasiaan. Berdasarkan Pasal 72 UU TPPU, penyidik,
penuntut umum atau hakim dalam meminta keterangan tidak berlaku
ketentuan peraturan perundang perundang-undangan yang mengatur
rahasia bank dan kerahasiaan transaksi keuangan lainnya.
Dikesampingkannya rahasia dan kode etik ini berguna untuk
memudahkan para penegak hukum dalam melaksanakan prinsip follow
the money agar penanganan suatu perkara dugaan pencucian uang
tidak berlarut-larut.
95
Ibid.,h.67.
56
j. Penundaan, Penghentian Sementara dan Pemblokiran Transaksi
Transaksi keuangan dapat ditunda paling lama 5 hari kerja terhitung
sejak penundaan transaksi oleh pihak penyedia jasa keuangan
sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 26 dan pada Pasal 71. Pihak
penyidik, penuntut umum maupun hakim berwenang memerintahkan
pihak pelapor untuk melakukan pemblokiran harta kekayaan yang
diketahui atau patut diduga merupakan hasil dari suatu tindak pidana.
k. Kerjasama Pertukaran Informasi
Pasal 90 UU TPPU, PPATK dapat melakukan kerja sama pertukaran
informasi dengan pihak-pihak nasional maupun kalangan internasional
yang berupa permintaan, pemberian, dan penerimaan informasi. Hal ini
bertujuan agar lebih memudahkan PPATK dalam melakukan
pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.
3. Modus Operandi dan Bentuk Tindak Pidana Pencucian Uang
Praktek perbuatan tindak pidana pencucian uang terdapat
pembagian atau pengkategorian beberapa modus yang didasarkan pada
tipologinya. Pembagian akan berbeda pada setiap negara, daerah, karena
dasar yang dijadikan landasan dalam membuat tipologi pencucian uang
tidak sama, sehingga terdapat perbedaan.96
Adapun modus tindak pidana pencucian uang adalah :
a. Modus secara Loan Back
Modus secara Loan Back yaitu dengan cara meminjam uangnya
sendiri. Modus terinci lagi dalam bentu direct loan, yakni dengancara
96
Irman, Hukum Pembukan Pembuktian Pencucian Uang, Aneka Ilmu, Jakarta,
2016, hal 89
57
meminjam uang dari perusahaan luar negeri yakni semacam perusahaan
bayangan (immbolen investment company) yang direksi dan pemegang
sahamnya dirinya sendiri. Bentuk back to loan, dimana pelaku meminjam
uang dari cabang bank asing di negaranya. Peminjam dengan jaminan
bank asing secara stand bay letter of credit atau certificate of deposit
bahwa uang di dapat atas dasar uang dari kejahatan. Peminjam itu
kemudian tidak dikembalikan, sehingga jaminan bank dicairkan. Bentuk
lainnya dari modus ini ialah parallel loan, yakni pembiayaan internasional
yang memperoleh asset dari luar negeri karena ada hambatan restriksi
mata uang, maka dicari perusahaan di luar negeri untuk sama-sama
mengambil loan dan dana dari loan itu di pertukarkan satu sama lain.97
b. Modus Operasi C-Chase
Modus ini cukup rumit karena memiliki sifat lika liku sebagai cara
menghapus jejak. Contoh seperti kasus dalam BCCI, dimana kurir-kurir
datang ke bank di Florida untuk menyimpan dana sebesar US $ 10.000,
supaya lolos dari kewajiban lapor. Kemudian beberapa kali dilakukan
transfer, yakni dari New York ke Luxemburg, dari Luxemburg ke cabang
bank di Inggris, lalu disana dikonversi dalam bentuk Certificate of Deposit
untuk menjamin loan dalam jumlah yang sama yang diambil oleh orang di
Florida. Loan dibuat di Negara karabia yang terkenal dengan tax heaven-
nya. Disini loan itu tidak pernah ditagih, namun hanya dengan mencairkan
sertifikat deposito itu saja. Dari rekening drug dealer dan disana uang itu
97
Pathorang Halim, Penegakan Hukum terhadap Pencucian Uang di Era
Globalisasi, Total Media, Yogyakarta, 2013, hal 36
58
di distribusikan menurut keperluan dan bisnis yang serba gelap. Hasil
investasi ini dapat tercuci dan aman.98
c. Modus transaksi dagang internasional
Modus ini menggunakan sarana dokumen L/C. Karena yang
menjadi fokus urusan bank, baik bank koresponden maupun opening bank
adalah dokumen bank itu sendiri dan tidak mengenai keadaan barang,
maka hal ini dapat menjadi sasaran money laundering berupa invoice
yang besar terhadap barang-barang yang kecil atau malahan barang itu
tidak ada. Modus penyeludupan uang tunai atau sisem bank pararel ke
negara lain. Modus ini menyelundupkan sejumlah uang fisik itu ke luar
negeri. Berhubung dengan cara ini terdapat resiko-resiko seperti hilang
dirampok atau tertangkap dalam pemeriksaan, dicari modus berupa
electronic transfer, yakni mentransfer dari suatu negara ke negara lain
tanpa perpindahan fisik uang itu.99
d. Modus Akusisi
Perusahaan yang diakusisi adalah perusahaan sendiri. Contohnya,
seorang pemilik perusahaan di Indonesia yang memiliki perusahaan di
Indonesia, yang memiliki perusahaan secara gelap pula di Cayman Island,
negara tax heaven. Hasil usaha di Cayman didepositkan atas nama
perusahaan yang ada di Indonesia. Kemudian perusahaan yang ada di
Cayman membeli saham-saham dari perusahaan yang ada di Indonesia
98
Ibid, hal 39
99
Joni Emirzon, “Bentuk Praktik dan Modus Tindak Pidana Pencucian Uang”,
diunduh dari [Link] tanggal 3 Maret 2022, h. 22
59
(secara akuisisi). Dengan cara ini pemilik perusahaan di Indonesia
memiliki dana sah, karena telah tercuci melalui hasil penjualan saham-
sahamnya di perusahaan yang ada di Indonesia.100
e. Modus Perdagangan Saham
Modus ini pernah terjadi di Belanda. Dalam suatu kasus di Bursa
efek Amsterdam, dengan melibatkan perusahaan efek Nusse Brink,
dimana beberapa nasabah perusahaan efek ini menjadi pelaku pencucian
uang. Artinya dana dari nasabahnya yang diinvestigasi ini bersumber dari
uang gelap. Nusse Brink membuat 2 (dua) buah rekening bagi nasabah-
nasabah tersebut, yang satu untuk nasabah yang dirugi yang satu untuk
nasabah yang keuntungan. Rekening diupayakan untuk dibuka di tempat
yang terjamin proteksi kerahasiannya, suaya sulit untuk ditelusuri siapa
beneficial owner dari rekening tersebut.101
f. Modus Investasi Tertentu
Investasi tertentu ini biasanya dalam bisnis transksi barang atau
lukisan atau antik. Misalnya pelaku memberi barang lukisan dan kemudian
menjualnya kepada seseorang yang sebenarnya adalah suruhan si pelaku
itu sendiri dengan harga mahal. Lukisan dengan harga tidak terukur, dapat
ditetapkan dengan harga setinggi-tingginya dan bersifat sah. Dana hasil
penjualan lukisan tersebut dapat dikategorikan sebagai dana yang sudah
sah.102
100
Ahmad Reza, Money Laundering dan Modus Kejahatan Produk Perbankan,
diunduh dari [Link] tanggal 3 Maret 2022, h.3.
101
Pathorang Halim, Op Cit., h.89.
102
Fathur Rachman, “Tinjauan Yuridis Modus Operanding Tindak Pidana
Pencucian Uang”, Jurnal Pranata Hukum, Vol 11 No 1 : 2019, h. 58
60
g. Modus Deposit Taking
Mendirikan perusahaan keuangan seperti Deposit Taking
Institutions (DTI) di Kanada. DTI ini terkenal dengan sarana pencucian
uang seperti charatered banks, trust companie dan credit union. Kasus
money laundering yang melibatkan DTI antara lain transfer melalui telex,
surat berharga penukaran valuta asing, pembelian obligasi pemerintah
dan treasury buills.103
h. Modus Identitas Palsu
Modus dengan cara memanfaatkan lembaga perbankan sebagai
mesin pemutih uang, dengan cara mendepositokan secara nama palsu,
menggunakan safe deposit box untuk menyembunyikan hasil kejahatan
menyediakan fasilitas transfer supaya dengan mudah di transfer ke tempat
yang dikehendaki, atau menggunakan electronic fund transfer untuk
melunasi kewajiban transaksi gelap. Menyimpan atau mendistribusikan
transfer gelap itu.
Secara metodik dikenal 3 (tiga) metode dalam money laundering,
antara lain:
a. Metode Buy and Sell Conversions
Metode ini dilakukan melalui jual barang-barang dan jasa. Sebagai
contoh, real estate atau asset lainnya yang dapat dijual kepada co-
conspirator yang menyetujui untuk membeli atau menjual dengan harga
yang lebih tinggi dari pada harga yang sebenarnya dengan tujuan untuk
103
Pathorang Halim, Op Cit., hal 23
61
memperoleh fee atau discount. Kelebihan harga dibayar dengan
menggunakan uang illegal dan kemudian dicuci melalui transaksi bisnis.
Dengan cara ini setiap aset barang atau jasa seolah-olah menjadi hasil
legal melaui rekening pribadi atau perusahaan yang ada disuatu bank.104
b. Metode Offshore Conversions
Dengan cara ini uang kotor dikonversi ke suatu wilayah yang
merupakan tempat yang sangat menyenangkan bagi penghindaran pajak
(tax heaven money laundering centers) untuk kemudian di depositkan di
bank yang berada di wilayah tersebut. Di Negara-negara yang termasuk
atau berciri tax heaven demikian memang terdapat sistem hukum
perpajakan yang tidak ketat, birokrasi bisnis yang cukup mudah untuk
memungkinkan adanya rahasia bisnis yang ketat serta pembentukan
usaha trust fund. Untuk mendukung kegiatan demikian, para pelakunya
memakai jasa-jasa pengacara, akuntan dan konsultan keuangan dan para
pengelola dana yang handal untuk memanfaatkan segala celah yang ada
di dalam negara ini.105
c. Metode Legitimate Busnises Conversions
Metode ini dilakukan melalui kegiatan bisnis yang sah sebagai cara
pengalihan atau pemanfaat dari sesuatu hasil uang kotor. Hasil uang kotor
ini kemudian dikonversi secara transfer, cek atau alat pembayaran lain
untuk disimpan di rekening bank atau ditransfer kemudian ke rekening
104
Juni Sjafrien Jahja, Melawan Money Laundering, Mengenal, Mencegah &
Memberantas Tindak Pidana Pencucian Uang, Visi Media, Jakarta, 2012, h.10
105
Ibid, h. 42.
62
bank lainnya. Biasanya para pelaku bekerja sama dengan suatu
perusahaan yang rekeningnya dapat dipergunakan sebagai terminal untuk
menampung uang kotor tersebut.106
Praktek pencucian uang merupakan tindak pidana yang amat sulit
dibuktikan. Hal ini dikarenakan kegiatannya yang amat kompleks dan
beragam, akan tetapi para pakar telah berhasil menggolongkan proses
pencucian uang ini ke dalam tiga tahap yang masing-masing berdiri
sendiri tetapi seringkali juga dilakukan secara bersama-sama yaitu:
a. Tahap Placement
Placement adalah upaya menempatkan dana yang dihasilkan dari
suatu kegiatan tindak pidana ke dalam sistem keuangan. Placement
diartikan pelaku tindak pidana pencucian uang memasukan dana ilegalnya
ke rekening perusahaan fiktif seperti perusahaan bidang perhiasan batu
berharga atau mengubah dana menjadi monetary instrument seperti
traveler’s cheque, money order dan negotiable instrument lainnya
kemudian menagih utang itu serta mendepositokannya ke dalam
rekening-rekening peerbankan (bank accounts) tanpa diketahui. Dengan
cara ini menjadi uang tersebut akan ditempatkan dalam suatu bank dan
kemudian uang tersebut akan masuk ke dalam sistem keuangan negara
bersangkutan. Jadi misalnya melalui penyeludupan, ada penempatan
uang tunai dari suatu negara ke negara lain, menggabungkan uang yang
didapat dari tindak pidana dengan uang yang diperoleh secara halal.
106
Wiyono, Pembahasan Undang-Undang Pencegahan Dan pemberantasan
Tindak Pidana Pencucian Uang, Sinar Grafika, Jakarta, 2014, hal 23
63
Variasi lain dari tahap placement ini misalnya dengan menempatkan uang
giral ke dalam deposito bank, ke dalam saham, atau menkonversi dan
mentransfer uang tersebut ke dalam valuta asing. 107
Bentuk kegiatan ini menurut Azis Syamsuddin. antara lain:
1) Menempatkan dana pada bank. kadang-kadang kegiatan ini
diikuti dengan pengajuan kredit/pembiayaan;
2) Menyetorkan uang pada penyedia jasa keuangan sebagai
pembayaran kredit untuk mengaburkan adit trail;
3) Menyelundupkan uang tunai dari satu negara ke negara lain;
4) Membiayai suatu usaha yang seolah-olah sah atau terkait
dengan usaha yang sah berupa kredit/pembiayaan, sehingga
mengubah kas menjadi kredit/ pembiayaan; dan
5) Membeli barang-barang berharga yang bernilai tinggi untuk
keperluan pribadi, membelikan hadiah yang nilainya mahal
sebagai penghargaan atau hadiah kepada pihak lain yang
pembayarannya dilakukan melalui Penyedia Jasa Keuangan.108
Pada tahap placement bentuk dari uang hasil kejahatan harus
dikonversi untuk menyembunyikan asal usul yang tidak sah dari uang itu.
Uang itu kemudian didepositokan langsung ke dalam suatu rekening di
bank, atau digunakan untuk membeli sejumlah instrumen-instrumen
moneter (monetary instrument) seperti cheques, money orders, dan lain-
lain kemudian menagih uang tersebut serta mendepositokannya ke dalam
rekening-rekening di lokasi lain. Sekali uang tunai itu telah dapat
ditempatkan pada suatu bank, maka uang itu telah masuk ke dalam
sistem keuangan negara yang bersangkutan. Uang yang telah
ditempatkan di suatu bank itu selanjutnya dapat dipindahkan lagi ke bank
lain, baik di negara tersebut maupun di negara lain. Uang tersebut bukan
107
Azis Syamsuddin. [Link]., h. 20.
108
Ibid, h.21
64
saja masuk ke dalam sistem keuangan negara yang bersangkutan, tetapi
telah pula masuk ke dalam sistem keuangan global atau internasional.
b. Tahap Layering
Layering diartikan sebagai pelapisan atau memisahkan hasil
kejahatan dari sumbernya, yaitu aktivitas kejahatan yang terkait melalui
beberapa tahapan transaksi keuangan. “Melalui tahap layering tujuannya
adalah menghilangkan jejak, baik ciri-ciri aslinya atau asal usul uang
tersebut”.109 Dalam hal ini terdapat proses pemindahan dana dari
beberapa rekening atau lokasi tertentu sebagai hasil placement ke tempat
lainnya melalui serangkaian transaksi yang kompleks yang didesain untuk
menyamarkan atau mengelabui sumber dana haram tersebut.
Berbagai cara dapat dilakukan dalam tahap ini yang tujuannya
adalah untuk menghilangkan jejak, baik ciri-ciri asli atau asal-usul uang
tersebut. Misalnya dengan melakukan transfer dana dari beberapa
rekening ke lokasi lainnya atau dari satu negara ke negara lainnya dan
dapat dilakukan berkali-kali, memecah-mecah jumlah dananya yang
tersimpan di bank, pembukaan sebanyak mungkin rekening perusahaan-
perusahaan fiktif dengan memanfaatkan ketentuan rahasia bank, dan cara
lainnya.
Seringkali terjadi bahwa si penyimpan dana di suatu rekening justru
bukanlah pemilik sebenarnya dan si penyimpan dana tersebut sudah
merupakan lapis-lapis yang jauh, karena sudah diupayakan berkali-kali
109
Amin Widjaja Tunggal, Memahami Seluk Beluk Pencucian Uang Untuk
Pencegahan dan Pemberantasan, Harvarindo, Jakarta, 2015, h. 4.
65
simpan-menyimpan sebelumnya. Setidaknya dalamp proses pelapisan
uang ada dua atau tiga jurisdiksi negara yang dilibatkan.110
Bentuk kegiatan ini antara lain:
1) Transfer dana dari suatu bank ke bank lain dan atau antar wilayah/
negara;
2) Penggunaan simpanan tunai sebagai agunan untuk mendukung
transaksi yang sah;
3) Memindahkan uang tunai lintas batas negara melalui jaringan kegiatan
usaha yang sah maupun shell company.111
c. Tahap Integration
Adapun tahap integration merupakan tahap menyatukan kembali
uang kotor tersebut setelah melalui tahap placement atau layering yang
selanjutnya uang tersebut dipergunakan dalam berbagai kegiatan ilegal.112
Di sini uang hasil kejahatan yang telah melalui tahap placement maupun
layering dialihkan atau digunakan ke dalam kegiatan-kegiatan resmi
sehingga tampak tidak berhubungan sama sekali dengan aktivitas
kejahatan yang menjadi sumber uang tersebut. Penyatuan uang
melibatkan pemindahan sejumlah dana yang telah melewat proses
pelapisan yang teliti dan kemudian disatukan dengan dana yang berasal
dari kegiatan legal ke dalam arus perputaran dana global yang bergitu
besar.113
110
Azis Syamsuddin. [Link], h. 22
111
Ibid, h.23
112
Amin Widjaja Tunggal, [Link], h.5.
113
Azis Syamsuddin. [Link], h.21.
66
B. Pengaturan Pemberian Perlindungan Pelapor dan Saksi dalam
Tindak Pidana Pencucian Uang
Money Laundering adalah salah satu sarana bagi pelaku kejahatan
untuk melegalkan uang hasil kejahatan, salah satunya adalah korupsi
guna menghilangkan jejak. Selain itu, nominal tindak pidana money
laundering ini biasanya dalam jumlah besar, yang artinya bahwa hasil
kejahatan korupsi tersebut telah mempengaruhi keuangan nasional
bahkan global dan menimbulkan kerugian besar bagi korbannya. Bahaya
selanjutnya dari money laundering membuat para pelaku kejahatan
terutama organized crime mengembangkan jaringan dengan uang yang
telah dicuci tersebut. Selain itu membuat para pelaku kejahatan seperti
korupsi, narkotika, kejahatan perbankan mudah untuk menggunakannya
dan dengan demikian kejahatankejahatan tersebut akan semakin marak.
Money Laundering dapat dilakukan dengan beberapa cara, dewasa ini
Money Laundering dilakukan dengan menanamkan modal di fintech yang
tidak terdaftar di OJK maupun menanamkan modalnya di Bursa Efek
Indonesia.114
Setiap proses pemeriksaan perkara pidana Money Laundering,
salah satu kunci untuk memperoleh kebenaran materiil adalah saksi. Hal
tersebut ditegaskan dalam Pasal 184 dan 185 KUHAP. Pasal 185 ayat (2)
menyatakan, “Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk
membuktikan bahwa terdakwa bersalah terhadap perbuatan yang
didakwakan kepadanya”.
114
Irman, Hukum Pembukan Pembuktian Pencucian Uang, Aneka Ilmu, Jakarta,
2016, h 89
67
Pasal 185 ayat (3) berbunyi “ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) tidak berlaku apabila disertai alat bukti yang sah lainnya”.
Hal ini dapat diartikan bahwa keterangan dari satu orang saksi saja tanpa
disertai alat bukti yang lain, belum cukup untuk dapat membuktikan
apakah seseorang terdakwa bersalah atau tidak. Bahwa salah satu alat
bukti yang sah dalam proses peradilan pidana adalah keterangan saksi
yang mendengar, melihat, atau mengalami sendiri terjadinya suatu tindak
pidana dalam upaya mencari dan menemukan kejelasan tentang tindak
pidana yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana.115
Keberhasilan suatu proses peradilan pidana sangatlah tergantung
pada alat bukti yang berhasil dimunculkan dalam pengadilan, yang
terutama berkenaan dengan saksi. Dari kasus yang banyak terlihat, tidak
sedikit kasus yang kandas di tengah jalan oleh karena ketiadaan saksi
untuk menopang tugas jaksa. Dengan demikian keberadaan saksi
merupakan suatu elemen yang sangat menentukan dalam suatu proses
peradilan pidana. Namun demikian ternyata peran saksi dalam proses
peradilan pidana masih jauh dari perhatian masyarakat dan penegak
hukum.116
PBB pada tahun 2000 melakukan konvensi internasional guna
menanggulangi kejahatan internasional yang salah satunya mengatur
mengenai perlindungan saksi tindak pidana money laundering pada Pasal
24 yang berbunyi :
115
Pathorang Halim, Penegakan Hukum terhadap Pencucian Uang di Era
Globalisasi, Total Media, Yogyakarta, 2013, h. 36
116
Ibid, h.39
68
(1) Setiap negara pihak harus mengambil tindakan yang tepat
sesuai kemampuannya dalam memberikan perlindungan yang
efektif dari kemungkinan balas dendam atau intimidasi bagi
saksi dalam proses pidana yang memberikan kesaksian tentang
pelanggaran yang dilindungi oleh Konvensi ini dan, jika sesuai,
untuk kerabat dan orang lain mendekat kepada mereka.
(2) Tindakan-tindakan yang disebutkan dalam pasal ini antara lain,
dengan tidak mengurangi hak-hak tergugat, termasuk hak
sampai proses:
a. Menetapkan prosedur untuk perlindungan fisik orang-orang
tersebut, apabila diperlukan dan memungkinkan maka dapat
merelokasi mereka dan mengizinkan, jika sesuai,
kerahasiaan atau pembatasan atas pengungkapan informasi
tentang identitas dan keberadaan orang tersebut;
b. Memberikan aturan dalam pembuktian untuk mengizinkan
keterangan saksi diberikan dengan cara yang menjamin
keamanan saksi, seperti memberikan keterangan melalui
penggunaan teknologi komunikasi seperti tautan video atau
sarana memadai lainnya.
c. Negara-negara pihak harus mempertimbangkan untuk
membuat perjanjian atau pengaturan dengan negara lain
untuk merelokasi orang-orang sebagaimana dimaksud
dalam ayat 1 pasal ini.
d. Ketentuan pasal ini juga berlaku bagi korban sepanjang
mereka menjadi saksi.
Berdasarkan apa yang telah diuraikan di atas jelaslah bahwa
masalah perlindungan saksi dalam pemeriksaan perkara pidana mengenai
kasus pencucian uang (money laundering) merupakan salah satu kunci
agar pengungkapan kasus dapat berjalan sebaik-baiknya. Anggapan yang
salah mengenai saksi sudah selayaknya diakhiri, dan guna memperoleh
suatu gambaran yang menyeluruh mengenai perlindungan saksi dalam
pencucian uang.117
Upaya pemerintah dalam pelaksanaan dan penegakan Undang-
Undang Pencucian Uang dalam legalitas selanjutnya adalah dengan
117
Joni Emirzon, “Bentuk Praktik dan Modus Tindak Pidana Pencucian Uang”,
diunduh dari [Link] tanggal 01 September 2023, h. 2
69
membuat peraturan-peraturan pelaksanaan Undang-Undang Pencucian
Uang yaitu :
1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi
dan Korban
3. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. Pol. : 17
Tahun 2005 Tentang Tata Cara Pemberian Perlindungan Khusus
Terhadap Pelapor Dan Saksi Dalam Tindak Pidana Pencucian Uang.
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 2003
tentang Tata Cara Perlindungan Khusus bagi Pelapor dan Saksi
Tindak Pidana Pencucian Uang,
Subyek yang dilindungi dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun
2014 tetang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006
yang meliputi, saksi, korban, pelapor, dan keluarga saksi/korban adalah
sebgai berikut:
1. Pasal 1 ayat (1): Saksi adalah orang yang memberikan keterangan
guna kepentingan penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan
pengadilan tentang tindak pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat
sendiri, ia alami sendiri, atau hal-hal yang ia ketahui berkenaan
dengan suatu perkara pidana.
70
2. Pasal 1 ayat (5): keluarga saksi adalah orang-orang yang mempunyai
hubungan darah atau semenda dalam garis lurus dan kesamping
sampai derajat ketiga, dan atau orang-orang yang menjadi tanggungan
saksi, serta orang lain yang menurut Lembaga Perlindungan Saksi
layak dilindungi.
Secara umum hak-hak seorang saksi diatur dalam Undang-Undang
Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perlindungan Saksi dan Korban pada
Pasal 5 yang diberikan berdasarkan keputusan Lembaga Perlindungan
Saksi dan Korban (LPSK), hak-hak saksi tersebut meliputi:
1. Memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi, Keluarga, dan harta
bendanya, serta bebas dari Ancaman yang berkenaan dengan
kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya;
2. Ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk perlindungan
dan dukungan keamanan;
3. Memberikan keterangan tanpa tekanan;
4. Mendapat penerjemah;
5. Bebas dari pertanyaan yang menjerat;
6. Mendapat informasi mengenai perkembangan kasus;
7. Mendapat informasi mengenai putusan pengadilan;
8. Mendapat informasi dalam hal terpidana dibebaskan;
9. Dirahasiakan identitasnya;
10. Mendapat identitas baru;
11. Mendapat tempat kediaman sementara;
71
12. Mendapat tempat kediaman baru;
13. Memperoleh penggantian biaya transportasi sesuai dengan kebutuhan;
14. Mendapat nasihat hukum;
15. Memperoleh bantuan biaya hidup sementara sampai batas waktu
16. Perlindungan berakhir;
17. Mendapat pendampingan.
Pengaturan pemberian perlindungan saksi dalam undang-undang
pencucian uang diatur pada bab XI yaitu Perlindungan Bagi Pelapor dan
Saksi yang tentang dalam Pasal 83 s.d Pasal 87. Cakupan subyek yang
dilindungi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang ini tampaknya telah
mengalami perluasan jika dibanding dengan ketentuan KUHAP. Pasal 83,
Pasal 84, dan Pasal 85 mengatur mengenai perlindungan khusus pelapor.
Pasal 86 dan Pasal 87 mengatur mengenai perlindungan hukum saksi.
Ketentuan dalam Pasal tesebut berbunyi sebagai berikut:
1. Pasal 86 :
(1) Setiap Orang yang memberikan kesaksian dalam pemeriksaan
tindak pidana Pencucian Uang wajib diberi pelindungan khusus
oleh negara dari kemungkinan ancaman yang membahayakan
diri, jiwa, dan/atau hartanya, termasuk keluarganya.
(2) Ketentuan mengenai tata cara pemberian pelindungan khusus
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam peraturan
perundang-undangan.
2. Pasal 87 :
(1) Pelapor dan/atau saksi tidak dapat dituntut, baik secara perdata
maupun pidana, atas laporan dan/atau kesaksian yang diberikan
oleh yang bersangkutan.
72
(2) Saksi yang memberikan keterangan palsu di atas sumpah
dipidana sesuai dengan ketentuan dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana.
Presiden pada 11 November 2003, menetapkan Peraturan
Pemerintah Nomor 57 Tahun 2003 tentang Tata Cara Perlindungan
Khusus bagi Pelapor dan Saksi Tindak Pidana Pencucian Uang.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2003 mengatur mengenai bentuk
dan tata cara perlindungan khusus bagi pelapor dan saksi sebagai
pengaturan teknis pelaksanaan perlindungan saksi Money Laundering.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2003 yang
dimaksud dengan perlindungan khusus adalah suatu bentuk perlindungan
yang diberikan oleh negara untuk memberikan jaminan rasa aman
terhadap Pelapor atau Saksi dari kemungkinan ancaman yang
membahayakan diri, jiwa, dan/atau hartanya termasuk keluarganya. Juga
diberikan pengertian mengenai pelapor yang merupakan setiap orang
yang:
1. Karena kewajibannya berdasarkan peraturan perundang-undangan
menyampaikan laporan kepada PPATK tentang transaksi keuangan
mencurigakan atau transaksi keuangan yang dilakukan secara tunai
sebagaiman dimaksud dalam undang-undang;
2. Secara sukarela melaporkan kepada penyidik tentang adanya dugaan
terjadinya tindak pidana pencucian uang sebagaimana dimaksud
dalam undang-undang.
73
Sedangkan saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan
guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu
perkara pidana pencucian uang yang didengar sendiri, dilihat sendiri, dan
dialami sendiri.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2003 tentang Tata
Cara Perlindungan Khusus bagi Pelapor dan Saksi Tindak Pidana
Pencucian Uang, perlindungan diberikan kepada Pelapor dan Saksi baik
sebelum, selama, maupun sesudah proses pemeriksaan perkara yang
dilaksanakan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. Atas
perlindungan yang diberikan kepada pelapor dan saksi tersebut tidak
dikenakan biaya.
Perlindungan yang diberikan diharapkan memberikan jaminan atas
rasa aman dan dapat memberikan keterangan yang benar, sehingga
proses peradilan terhadap tindak pidana pencucian uang dapat
dilaksanakan dengan baik. Dengan demikian pelapor dan saksi dapat
berpartisipsi aktif dalam upaya pencegahan dan pemberantasan Tindak
Pidana Pencucian Uang. Perlindungan yang diberikan adalah
perlindungan khusus yang meliputi perlindungan atas keamanan pribadi
dan/atau keluarga pelapor dan saksi dari ancaman fisik atau mental,
perlindungan terhadap harta pelapor dan saksi, perahasiaan dan
penyamaran identitas pelapor dan saksi, dan/atau pemberian keterangan
tanpa bertatap muka dengan tersangka/terdakwa dalam setiap tingkat
pemeriksaan.
74
Sebenarnya pengaturan mengenai pelaksana pemberian
perlindungan kepada saksi diatur dalam Undang-Undang Payung
Perlindungan Saksi dan Korban, yaitu oleh Lembaga Perlindungan Saksi
dan Korban. Namun pada Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2003
yang telah dahulu dibuat, mengenai pengaturan pelaksana pemberian
perlindungan kepada saksi telah diatur terlebih dahulu, yaitu dilakukan
oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dikarenakan sampai saat ini
LPSK belum maksimal dalam pemberian perlindungan kepada saksi tetap
dilakukan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia.