0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan59 halaman

Cinta dan Cemburu dalam Pernikahan

ba

Diunggah oleh

Shelly Aprlz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan59 halaman

Cinta dan Cemburu dalam Pernikahan

ba

Diunggah oleh

Shelly Aprlz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Orlando dan Evelyn adalah dua

insan yang selama beberapa tahun ini


saling menanam dan memupuk
kehidupan bersama. Tiga tahun dalam
hubungan pacaran sampai akhirnya
Orlando beranikan diri melamar Evelyn.
Kedua keluarga yang sudah saling
mengenal juga satu sama lain yang
sudah saling yakin kalau akan jadi muara
akhir perjalanan cinta mereka pun
memutuskan untuk mengikat janji suci
di dalam ikatan pernikahan.
Dalam kesehariannya, Evelyn
berprofesi sebagai ibu rumah tangga
tapi Evelyn memiliki keahlian lain di
bidang entertaiment. Evelyn tergabung
di dalam satu band yang biasanya
menerima pekerjaan untuk wedding
atau event lain. Di hari sabtu dan akhir
pekan, Orlando dan Evelyn selalu
sempatkan waktu untuk quality time
bersama. Banyak hal yang berubah
menjadi ke arah yang lebih baik saat
mereka bersama. Hari ini adalah tepat
sebulan setelah mereka menikah.
Pagi ini, Evelyn terbangun terlebih
dahulu, ia merentangkan tangan dan
menatap pria di sebelahnya yang masih
meringkuk dan melingkarkan tangan di
perut Evelyn. Sang puan pun bergeser
dan memiringkan tubuh untuk menatap
Orlando yang masih terlelap bak anak
kecil. Untai senyum Evelyn tipis
terbentuk saat mengusap pipi suaminya
itu. Evelyn pun mengecup bibir Orlando
dan berbisik lirih, “aku beres-beres
dulu, kalau udah bangun nanti ke
bawah, ya?” entah sang tuan
mendengarnya atau tidak yang pasti
Evelyn selalu melakukan itu.
Menjatuhkan hati kepada Orlando
adalah hal yang tidak akan pernah
Evelyn sesali.
Pagi ini, usai mandi, Evelyn
bergegas ke dapur untuk menyiapkan
sarapan dan minuman hangat untuknya
dan suaminya. Satu per satu
diselesaikan dan ditata oleh Evelyn di
meja makan. Sampai ia menyadari
ponsel di meja makan menunjukkan
sebuah notifikasi.
Sebuah notifikasi instagram
seseorang mengikutinya di laman sosial
media itu. Sudah jadi hal biasa untuk
Evelyn mendapatkan followers baru usai
manggung. Kemarin memang Evelyn
baru saja mendapatkan job untuk
menjadi wedding singer, dan hal itu
sudah sering terjadi. Tapi Evelyn tak
terlalu ambil pusing, ia menganggap “ah
siapa tahu nanti kalau ada orang follow
mau pakai jasa gue buat nyanyi”
Tapi kadang hal itu memicu
kecemburuan di pihak Orlando, sudah
sering mereka berdebat perihal ini.
Orlando yang tingkat kecemburuannya
mungkin di atas rata-rata selalu
menanyakan apakah ada lawan jenis
yang mengirim direct message ke
instagram Evelyn atau tidak, kalau ada
pesan seperti apa yang dikirimkan.
Wajar jika seorang suami melakukan hal
itu untuk memantau istrinya. Tapi
kadang, cekcok dan salah paham terjadi,
mungkin ada direct message yang sudah
masuk dan Evelyn buka tapi belum
sempat Evelyn laporkan kepada
Orlando, nanti, saat Orlando
mengetahuinya sendiri kadang
perdebatan kecil itu akan terjadi.
Keduanya menyadari kalau dalam
pernikahan, perdebatan itu bisa terjadi
karena hal kecil bukan selalu hal besar.
Terkadang Evelyn sudah berniat
ingin menunjukkan pesan itu kepada
Orlando tapi mungkin ada hal hal lain
yang mengganggu dan membuyarkan.
Misal, pekerjaan lain yang harus Evelyn
lakukan, Orlando yang sibuk dan belum
juga kembali ke rumah setelah bekerja,
dan yang lainnya. Dalam pernikahan
akan berbeda dengan masa masa
pacaran, dua isi kepala dengan jutaan isi
yang kadang berbeda kadang harus
beradu dengan suasana tegang dan
mencekam juga beberapa argumen
yang diadu yang kadang keluar begitu
saja dari mulut kita. Yahh... begitulah
kehidupan.
Saat semua sudah hampir siap di
meja makan, pandangan Evelyn tertuju
kepada sang tuan yang sudah berjalan
ke arahnya dengan merentangkan
tangan.
“Morning, sweetheart...” Orlando
berkata dengan sumringah.
“Udah mandi?” tanya Evelyn
dengan berkacak pinggang.
Orlando menyodorkan pipinya,
“cium aja,” katanya.
Satu kecupan mendarat di pipi
Orlando dari Evelyn, “Oh, iya... ini udah
mandi!” kata Evelyn dengan sumringah.
Orlando terbahak lalu menarik tangan
Evelyn dan mendekap Evelyn dalam
pelukannya.
“Where is my morning kiss?” tanya
Orlando saat keduanya merenggangkan
pelukan.
Evelyn sedikit berjinjit lalu
mendaratkan kecup di bibir sang tuan
dengan gemasnya.
“Udah.” Evelyn hendak beranjak ke
kursi untuk duduk tapi Orlando kembali
menarik tangan Evelyn, kini Evelyn
langsung berbalik badan, pinggangnya
didekap Orlando erat. Kini, tubuh
keduanya saling menempel tidak ada
jarak. Tubuh Evelyn direngkuh Orlando,
rahang Evelyn dijaga oleh telapak
tangan Orlando dan kini bibir ranum
Evelyn dilumat perlahan, dikecup lebih
lama dari sebelumnya dan kini
keduanya sibuk bertukar saliva juga
bersilat lidah.
Cukup lama berlangsung, ponsel
Evelyn di atas meja berdering lagi,
membuat keduanya merenggangkan
jarak.
“Ayo sarapan dulu,” ajak Evelyn.
Keduanya duduk di ruang makan
berhadapan. Meja makan yang hanya
memiliki empat kursi dan satu meja
yang tidak begitu besar ini membuat
keduanya tetap merasa hangat saat
makan berdua. Evelyn sedang
mengambilkan teko kaca berisi air putih
sedangkan Orlando membuka ponsel
Evelyn yang berdering tadi. Mata
Orlando bergerak ke kanan dan kiri
mengikuti setiap kalimat yang ia baca,
ibu jarinya bergerak naik turun
memeriksa pesan di laman instagram
yang diterima oleh istrinya. Beberapa
pesan dari lawan jenis dilihat oleh
Orlando dan beberapa pesan memang
sudah dibuka oleh Evelyn. Memang,
tidak dibalas tapi sudah terbuka. Mata
Orlando tertuju kepada salah satu
username milik seorang lelaki.
Evelyn kembali membawa teko
kaca berisi air putih dan duduk di kursi
di hadapan Orlando.
“Sarapan dulu, sayang.” Evelyn
berkata santai.
Mata Orlando sedikit memicing
menatap Evelyn, “Xander siapa?” tanya
Orlando.
DEG! Jantung Evelyn kaget bukan
main. Mengapa nama itu tiba-tiba
disebut oleh Orlando?
“Kenapa?” tanya Evelyn.
“Xander mantan HTS kamu yang
suka mabuk mabukan waktu kuliah,
kan? Dia hubungi kamu lagi lewat direct
message, kamu nggak ngomong ke aku?
Udah kamu buka juga.” Orlando
menyodorkan pesan yang dikirimkan
Xander kepada istrinya itu.
“Aku nggak bales, kan? Lihat
sendiri.”
“Tapi kamu nggak ngomong.”
“Tapi aku nggak bales, sayang.
Dihapus aja.”
Orlando menghela napas panjang,
“bukan masalah nggak dihapus, tapi
kamu nggak ngomong ke aku, Lyn!”
nada bicara Orlando meninggi seketika
membuat Evelyn kaget dan tertegun.
“Sorry… aku lupa, belum sempat,
selalu aja ada yang bikin lupa dan
ganggu konsentrasiku. Aku udah niat
kok mau bilang ke kamu, sayang.”
Orlando menaruh ponsel Evelyn di
atas meja, “nggak hanya satu dm dari
cowok.”
“Kamu cemburu?”
“Bukan masalah cemburunya,
kalau itu jangan ditanya. Cemburu juga
tanda sayang, kok. Tapi kamu nggak
pernah ngomong ke aku ada yang dm
dm kamu, aku Cuma minta kamu kasih
tahu. Harus banget aku tahu sendiri dan
harus lihat beberapa pesan ini?”
Orlando menatap istrinya dengan
tatapan datar tapi cukup menakutkan
bagi Evelyn.
“Iya, itu Xander dulu HTS aku yang
suka mabuk-mabukan. Aku nggak
respon, aku udah punya suami, udah
punya kamu. Semua temenku yang
selalu ngajak aku dugem juga udah kamu
block, kan?”
Orlando mendorong pelan ponsel
itu ke dekat Evelyn, “block dia sekarang.
Di depan aku,” katanya.
Evelyn menghela napas, ia
melakukan apa yang suaminya itu
perintahkan.
“Udah.” Evelyn menjawab singkat.
“Nggak suka kalau mantan HTSan
kamu, aku suruh block?”
“Apa sih, Lan?!” nada Evelyn
meninggi.
“Jangan marah, buat kebaikan
kamu kok.” Orlando menyesap
minuman di cangkirnya.
“Udah berapa orang dari
sosmedku kamu suruh block?”
Orlando menaruh cangkir dengan
agak keras lalu menatap istrinya itu,
“aku juga nggak sembarangan minta
kamu block orang, udah gila kalau
semua aku block tanpa sebab. Itu
orang-orang yang nggak seharusnya
ada di hidup kamu. Orang-orang yang
pernah mainin kamu, orang-orang yang
pernah ngajak kamu dugem dan mabuk-
mabukan disaat tahu kesehatan kamu
memang nggak baik dan nggak bisa
capek. Mereka yang aku minta block
adalah orang-orang yang nggak bawa
dampak baik buat kehidupan kamu. Oke
kamu bilang mereka temen, kalau
temen paham dong keadaan kamu yang
gampang pingsan, ada sakit, right?
Kenapa bisa mereka ajak kamu dugem?
Itu udah nggak sehat.” Orlando berkata
dengan tegas tanpa menaikkan intonasi
suaranya.
Evelyn bangkit berdiri, hengkang
dari ruang makan, tapi baru beberapa
langkah, Orlando memekik nyaring,
“kamu pilih, aku suami kamu atau
mereka?” hal itu membuat Evelyn
langsung menghentikan langkahnya,
meremas ujung bajunya dan kehabisan
kata-kata. Orlando bangkit berdiri juga,
kini sang tuan sudah berada di belakang
Evelyn dan berkata, “kamu pergi sama
mereka, ada dampak baiknya nggak?
Aku tuh ngelindungin kamu, pergi
sampai malem, oke waktu itu kita belum
menikah. Sekarang kamu udah menikah,
kamu tanggung jawabku lahir batin. Aku
mau jagain kamu, salah? Suami jagain
istrinya, salah?”
Evelyn berbalik badan, “semua
temenku yang ajak dugem sama mabuk
juga udah kamu block, kan? Udah lah,
jangan diperpanjang. Setelah itu aku
juga jadi nggak punya temen rasanya.”
Orlando maju beberapa langkah
mengikis jarak lagi, “kenapa sih fokus ke
temen yang toxic? Temenmu yang baik,
lho, masih banyak. Temenmu yang bawa
good impact masih banyak, fokus lah ke
mereka. Kamu dugem sama main
malem bareng mereka, kamu sakit juga
yang ngurus aku sama keluargamu,
bukan mereka. Rugi apa kamu kalau
nggak sama mereka? Fokus coba lihat
orang-orang yang sayang sama kamu
yang peduli sama kamu, tulus, nggak
memanfaatkan kamu.”
Evelyn menggigit bibir menahan
tangis.
“Setelah sama kamu juga aku
tinggalin semua hobiku buat kamu. Aku
nggak main motor sama mobil.
Nongkrong juga enggak pernah, pulang
kerja yang aku cari kamu, aku nggak
pernah billiard lagi, aku nggak pernah
main game lagi, karena aku sadar udah
bukan saatnya kayak gitu. Sedangkan
kamu masih sama temen-temen kamu,
nggak masalah soalnya aku tahu mana
temen yang baik mana enggak, aku
prioritasin kamu, Lyn.”
Evelyn menangis tanpa suara di
tempat.
“Aku Cuma mau lindungin kamu
aja, kok. karena aku sayang, bukan
karena aku benci. Bukan karena aku
mau menyiksa kamu, enggak, Lyn…”
Orlando meraih tangan istrinya tapi
Evelyn menepis tangan Orlando
perlahan, “Tapi kamu selalu marah,
kalau udah marah diem, kamu selalu
diemin aku, ignore telepon sama video
callku.”
Orlando menghela napas,
“daripada aku ngomong tapi nyakitin
kamu, mending aku diem tapi sebentar
aja, setelah itu aku balik lagi ke kamu
dengan suasana hati yang lebih baik, aku
udah janji kan seumur hidup aku nggak
mau bentak kamu, marah ke kamu, maki
maki kamu bahkan main tangan. Itu
semua nggak akan aku lakuin. Ini
masalah komunikasi, sayang. Coba
dipikir lagi, pernah aku marah ke kamu
bentak bentak kamu? Emosi ke kamu?
Lampiasin semua amarah sama emosiku
ke kamu? Enggak, kan?” Orlando
mengusap punggung tangan sang puan.
Evelyn menangis terisak di tempat.
“Maafin ya, maafin aku kalau
terlalu keras. Tapi sekarang kamu
tanggung jawab aku, jangan diem aja
kalau ada apa-apa, semua hal yang
menyangkut masa lalu kamu, orang dari
masa lalu itu bener bener bikin aku
kadang kesel. Bukan kesel sama kamu,
tapi kadang aku mikir kenapa aku harus
dateng terlambat di hidup kamu, jadi
kamu harus terjun ke hal hal yang nggak
seharusnya kamu coba dan yang nggak
seharusnya kamu ada di sana. Aku tuh
sayang sama kamu, Lyn. Aku tuh mau
jagain kamu, because you are precious
more than diamond, I love you, I really
do.” Detik selanjutnya, Orlando menarik
Evelyn ke dalam pelukannya dan
mengusap punggung sang puan lalu
membiarkan sang puan menangis
disana. Evelyn tak bisa bendung air
matanya, sempat berontak beberapa
kali tapi Orlando masih mendekap
dengan kehangatan dan memberikan
ketenangan bagi sang puan.
“Maaf kalau aku kesannya jahat,
maaf kalau aku terlalu tegas daan buat
kamu tersiksa tapi aku harap kamu
ngerti maksudku. Aku sayang kamu,
sayang banget.” Orlando berbisik lirih.
Saat itu juga Orlando merasakan Evelyn
baru membalas pelukannya.
“Aku sayang banget sama kamu,
aku nggak mau kehilangan kamu, maaf
ya kalau gara gara aku, kita jadi sering
berantem, mungkin aku berlebihan, tapi
aku Cuma nggak mau kamu pergi,
semua aku lakuin demi kebaikan kamu
dan buat jagain kamu, Lyn.” Ucapan
Orlando itu membuat Evelyn
mengangguk cepat dan masih terisak
disana.
“Maaf, kadang aku salah persepsi
tentang apa yang kamu lakuin. Aku
paling nggak bisa didiemin, dan kamu
kalau udah kayak gitu pasti diem,” ucap
Evelyn sambil terisak.
Keduanya renggangkan jarak
sejenak, Orlando memegangi kedua
pundak istrinya itu lalu berkata, “tapi
habis itu aku samperin kamu terus
peluk sama cium sama minta maaf
nggak?”
“HUAAAA!!! IYAAA!!!” Evelyn
menangis bak anak kecil yang malah
membuat Orlando terkekeh lalu
memeluk istrinya lagi.
“Udah, udah… aku minta maaf ya,
jangan nangis,” kata Orlando sambil
mencium kening istrinya itu. Pelukan
kembali direnggangkan, keduanya
saling menatap, Orlando tak tinggal
diam, ia menyeka jejak air mata di pipi
Evelyn lalu mengecup ujung hidung
istrinya itu.
“Maafin aku, ya? Jangan marah
lagi,” kata Orlando sambil tersenyum.
Evelyn mengangguk paham, tapi
tiba-tiba, “oh iya!” Evelyn teringat
sesuatu, ia menarik tangan Orlando
menuju ke arah kamar tanpa memberi
tahu apa-apa.
“Kenapa, Lyn?” tanya Orlando
kebingungan, terlebih saat Evelyn
mengajak Orlando menuju kamar
mandi.
“Aku udah mandi, Evelyn.” Orlando
berkata lirih.
“Bukan mau mandi, aku telat haid,
aku beli testpack, belum aku lihat.”
“Hah?!” mata Orlando membulat
seketika.
Keduanya kini sudah berada di
kamar mandi yang ada di kamar mereka,
Orlando berdiri di belakang Evelyn dan
kini Evelyn meraih testpack yang sudah
ia simpan sebelumnya. Evelyn pun
berbalik badan lalu memberikan kepada
Orlando sebuah testpack dengan
keterangan garis dua yang berarti
pregnant. Orlando terkejut bukan main,
“Evelyn , i.. ni ... kamu ...” Orlando
menghela napas tak bisa menahan mata
yang berkaca-kaca.
“I’m pregnant, Orlando!” Evelyn
memekik girang. Tanpa basa basi lagi
Orlando memeluk Evelyn dan mencium
pipi kanan dan pipi kiri istrinya itu, “I
love you so much,” Orlando tak henti
ucapkan kata cinta bagi sang puan.
***
Malam hari yang hangat, sedikit
sendu karena hujan yang turun dengan
derasnya sedangkan Orlando dan
Evelyn masih terjaga. Kedua insan itu
saling merengkuh dan berbagi hangat
tubuh. Masih membuncah kebahagiaan
yang mereka rasakan karena kehamilan
Evelyn.
“Lan,” ucap Evelyn lirih sambil
mengelus lengan yang melingkar di
tubuhnya.
“Ya?” jawab Orlando sambil
memberi sebuah kecupan di pipi Evelyn.
“Aku takut nggak bisa jadi ibu yang
baik.”
Orlando memutar tubuh Evelyn
untuk menghadapnya, diusapnya
lembut pipi Evelyn sebelum Orlando
memegang wajah Evelyn untuk dikecup
di bagian kening dan pipi serta ujung
hidungnya lalu Orlando cubit kedua sisi
pipi Evelyn sedikit keras hingga sang
puan meringis kesakitan.
“Sakit!” pekik Evelyn sambil
berusaha melepaskan tangan Orlando
dari pipinya.
“Lagian, kok bilang gitu, ngapain
sih?”
“Ya namanya juga overthinking.”
Orlando menarik pinggang Evelyn
lebih dekat kepadanya lalu menatap
lekat wanita di depannya, “kamu itu istri
terbaik dan calon ibu yang baik, paling
baik,” jawabnya.
“Tapi aku aja masih sering bikin
kamu marah,” kata Evelyn.
“Aku udah bilang kan, aku nggak
pernah marah sama kamu, Lyn.”
Evelyn tersenyum lalu ia
mengecup kening Orlando, “I love you,
Lan.”
Orlando langsung mendekap erat
Evelyn membuat wanita itu sedikit
kesusahan bergerak dan terkekeh.
Maka Orlando mengecup bibir
Evelyn beberapa kali. Sementara itu
Evelyn melingkarkan dekap di tubuh
Orlando. Sang tuan mengangkat satu
kaki Evelyn dan menempatkannya di
atas paha Orlando dan mengunci satu
kaki Evelyn yang lain sehingga Evelyn
tidak bisa bergerak kemana mana.
“Mau ngapain?” tanya Evelyn
sambil memicingkan mata.
“Nope, I just need you. We’ll
celebrate your pregnancy.” Orlando
menyeringai, Evelyn mengernyitkan
dahinya.
“I need you, me and bed, now.”
Orlando langsung memutar posisi
mengukung tubuh Evelyn dan berada
tepat di atas wanita itu, menopang
beban tubuhnya dengan kedua
tangannya. Mata Evelyn membulat dan
jantungnya berdebar.
“Lan... Wait... What will you do?”
tanya Evelyn kikuk.
“I get what I want, all those things,
you and me, and this bed.”
“So?”
Maka Orlando memberikan
kecupan singkat di bibir Evelyn dua kali
sebelum memberikan lumatan yang
sebenar-benarnya. Tangan Orlando tak
tinggal diam bergerak dengan sensual
dari tengkuk leher Evelyn lalu menuruni
setiap inchi tubuh Evelyn bermuara di
pinggang dan mencubitnya pelan.
Meremas sesekali pinggang itu dengan
penuh afeksi dan penuh cinta tapi
membuat Evelyn merasakan sesuatu
yang bergelora dalam hatinya dan
tubuhnya.
“Orlando…” Evelyn mulai
mendesah. Cukup lama bertukar ludah,
cukup lama bertukar nafsu. Bahkan
Orlando sempatkan untuk membuka
mata dan melihat sang puan memejam
menikmati apa yang Orlando lakukan.
Orlando tidak pernah melirik puan lain
setelah mengenal seseorang bernama
Evelyn. Orlando tidak pernah
mengatakan omong kosong setelah
mengenal Evelyn dan semakin hari cara
Orlando mencintai Evelyn adalah cara
yang tidak biasa. Cumbuan dan pagutan
panas itu nyatanya membuat Evelyn
juga candu. Durasi lama untuk saling
merenggut kesadaran juga kewarasan,
durasi lama untuk saling melumat dan
bersilat lidah, pun juga durasi lama
untuk saling menjamah sebagai
pembuka permainan malam ini
membuat keduanya terbakar gairah.
Napas yang habis diraup lagi, diberi jeda
barang sedetik lalu bibir mereka saling
menyambar lagi. Kadang sedikit saling
menggigit bibir, kadang sedikit saling
menghisap lidah, kadang juga sedikit
meringis mendesah sebab hisapan
hisapan itu sudah semakin brutal dan
tidak bisa dihindari.
Tak perlu ragu siapa yang mau
atau siapa yang tidak mau. Jelas Orlando
ataupun Evelyn menghendaki
romantisme malam hari seperti ini.
Gejolak di tengah malam ini bak jadi
penuntun mereka untuk lebih intim lagi.
Semburat merah muda nampak
jelas di pipi Evelyn saat Orlando
melepaskan pagutan. Dengan niat
menggoda, Orlando mencubit pelan
pipi yang memerah itu sambil berkata,
“pipi tomat, dicium suami sendiri aja
merah pipinya,” ledek Orlando.
Evelyn memanyunkan bibirnya,
“nggak tahu, rasanya masih selalu
banyak kupu-kupu di perut kalau gini
sama kamu.” Evelyn menjawab dengan
malu-malu.
“Kayak masih pacaran, ya?” goda
Orlando lagi.
“Nggak tahu, ah!” Evelyn berbalik
badan memunggungi Orlando.
“Yeee... jangan ngambek sayang,
sini...” Orlando mendekatkan tubuhnya,
memeluk Evelyn dari belakang dan
mencium ceruk leher Evelyn dari
belakang dan menggesekkan hidungnya
di sana membuat Evelyn merasa geli.
“Orlando!” pekik Evelyn sambil
terkekeh. Orlando tidak berhenti malah
semakin gencar melakukan hal yang
sama. Malam itu, kamar yang dihuni
Orlando dan Evelyn menggemakan
tawa dan juga kekehan renyah.
“Istriku gemas.” Orlando
menciumi leher Evelyn dan kini semakin
menempelkan tubuhnya dan menciumi
telinga Evelyn. Seketika, tubuh Evelyn
merinding saat lidah dan bibir Orlando
itu menyentuh telinganya. Sekujur
tubuh Evelyn rasanya lemas bukan main
saat lidah dan bibir Orlando melahap
habis telinga Evelyn, memainkan daun
telinga Evelyn habis habisan. Titik titik
lemah dari diri Evelyn sudah ada di
genggaman dan ingatan Orlando.
“Lan... enough...” Evelyn terbata-
bata. Orlando tenang sebentar, tak
melanjutkan kegiatannya, lidahnya dan
bibirnya yang menyesap telinga sang
puan.
Orlando membiarkan Evelyn
mengambil napas. Evelyn berbalik
badan, Evelyn menatap sang tuan yang
kini sedang tersenyum menggoda.
“Mau dilanjut nggak?” tanya
Orlando. Evelyn tidak bisa menjawab
tapi tangan Orlando menarik pinggang
Evelyn mendekat, merapatkan tubuh
mereka, saling merengkuh dan berbagi
hangat tubuh. Pipi Evelyn diusap pelan
oleh Orlando.
“Nakal!” kata Evelyn.
“Hehe, maaf.” Orlando nyengir.
Tapi kini, tangan Orlando turun dari
pipi, ke leher hingga ke bagian tulang
selangka milik Evelyn, ujung jari telunjuk
Orlando bermain di bagian leher dan
tulang selangka tersebut membuat
Evelyn sedikit bergidik merasakan
merinding. Dikecupnya ujung hidung
Evelyn, tangan Evelyn juga kini
menahan satu pipi Orlando dan
mengusapnya dengan ibu jari,
sementara tangan Orlando kini
menerobos masuk ke bagian pinggang
dan masuk ke baju Evelyn untuk meraba
sekitaran punggung sang puan. Usapan
mesra dan sensual selalu diberikan oleh
Orlando sampai akhirnya Orlando
menyadari istrinya sudah tidak
menggunakan bra. Maka Orlando
meminta ijin untuk melucuti pakaian
yang masih mereka kenakan. Evelyn
mengangguk dan keduanya saling
membantu untuk menguliti satu sama
lain dengan hati-hati. Membiarkan helai
kain itu berserakan di atas lantai begitu
saja.
Maka Orlando bersandar pada
headboard ranjang itu dan meminta
Evelyn duduk di pangkuannya. Evelyn
menurutinya, iris legam Orlando
nyatanya membawa Evelyn pada sebuah
senyum yang terutai di wajahnya tanpa
ia sadari. Orlando masih disana
memeluk pinggang ramping itu.
“Anak kita cowok apa cewek ya?”
tanya Evelyn dengan mata yang
mengerling manja.
“Cowok atau cewek semua berkat
dari Tuhan, apa aja, seneng aku.”
Orlando tersenyum.
“Makasih, sayang,” ujar Evelyn
sambil memeluk Orlando sejenak lalu
merenggangkannya.
Tiba-tiba Orlando berdeham,
“Roses are red, violets are blue, I’m up for
head or we could screw,” kata Orlando
sambil menunggingkan senyum smirk
yang membuat Evelyn terbahak.
Evelyn memutar bola matanya
sebelum membawanya kembali ke
tumpuan netra Orlando, “tiba-tiba
banget? Dadakan banget? Dasar genit!”
katanya.
Lalu Evelyn mengusap lembut pipi
Orlando dan berhenti di dagu Orlando
lalu membuat dagu Orlando sedikit
terangkat.
“I’m not horse but―”
“But you don’t mind at all if I ride
you, right?” Orlando menyambar
ucapan Evelyn sebelum Evelyn
menyelesaikan kalimatnya. Evelyn
terbahak lalu mencubit keras perut
Orlando.
“Kan aku mau selesaiin
kalimatnya!!” ucapnya kesal, Orlando
hanya terkekeh lalu memeluk sang puan
lagi.
“Jangan dilanjutin apalagi sama
godain gitu, aku takut, nggak kuat,
sayang.” Orlando berbisik di telinga
Evelyn lalu mengecupi leher dan
pundak Evelyn.
“Orlando kalau kamu kaya gitu
malah lebih parah, stop it, huh,” kata
Evelyn sambil berusaha melepaskan
pelukan tapi Orlando masih
menahannya.
“Okay, fine, udah semua, udah
tahu sama-sama nggak kuat, jadi udah,
ya? Okay?” Orlando merenggangkan
pelukan lalu menangkup kedua pipi
Evelyn.
“Nah, yaudah!”
“But for the last can I borrow
something from you?” tanya Orlando.
“Iya, apa?”
“Can I borrow your kiss? I promise
I’ll give it back―”
Sekarang gantian sebelum
Orlando menyelesaikan kalimatnya,
Evelyn sudah menyambar bibir Orlando
dengan kecupan singkat. Orlando
terdiam lalu tersenyum, saat kecupan
direnggangkan, Orlando memberikan
tiga kecupan berturut-turut kepada
Evelyn. Maka Evelyn membulatkan
matanya lalu keduanya saling
menangkup pipi pasangan mereka,
disaat yang bersamaan keduanya
menyatukan belah bibir mereka
bersamaan. Seringai muncul dari wajah
keduanya namun tetap mereka
lanjutkan kecupan tanpa melumat itu.
Saat kecupan direnggangkan,
Evelyn menatap Orlando dan saling
tersenyum satu sama lain, masih tidak
percaya keduanya menjalin hubungan
sejauh ini. Setelahnya, Orlando
membawa tubuh Evelyn untuk
direbahkan di ranjang lagi dan kini
Orlando dengan sigap mengukung
tubuh sang puan, bersitatap dengan
mata pasangan kita adalah hal yang
menenangkan. Tapi bagaimana jika saat
itu juga kita diserang oleh afeksi afeksi
yang melemahkan dari orang yang
menjadi penghuni relung hati kita?
Tikaman bertubi-tubi dari Orlando
diberikan kepada Evelyn di bagian bibir,
bak terjerat perangkap, Evelyn tidak
bisa bergerak kemanapun, jika harus
terperangkap seperti ini bersama
Orlando mungkin Evelyn tidak akan
menolak seumur hidup, dan mungkin
enggan mencari jalan pulang biarlah ia
terjebak di sana bersama Orlando
selamanya.
Orlando tak bawa Evelyn hilang
arah, sebab Orlando juga menuntun
tangan Evelyn untuk menjamah
tubuhnya. Saat bibir dan lidah mereka
saling bergelut, segala luka dan
keresahan juga amarah tertanggal
begitu saja. Tertanggal jauh dan yang
mengudara hanyalah hangatnya cinta,
lirih lirih desah dan lenguh yang
mengudara, rintihan pelan pertanda
dua insan yang saling menikmati.
Keduanya tak pernah meragu
sebab mereka ada untuk menjadi satu.
Pergerakan tubuh mereka semakin
seirama dengan cumbu yang dipagut,
tak ada sesak yang mendesak. Tak ada
yang menghalangi mereka berdua.
Tubuh Evelyn malam ini bak tersaji
hanya untuk Orlando begitu sebaliknya.
Setiap inchi tubuh Evelyn diratukan
oleh Orlando, dipuja dengan kecup dan
juga perlakuan yang intens dari
Orlando. Bagian dada dikecup, bagian
selangka dicumbu, ceruk leher disapa
oleh lidah. Orlando juga berkelana ke
bagian dada dimana ia mendaratkan
kecup dan lumatan di gundukan kembar
yang ada di dada istrinya. Evelyn
meringis, bak dibabat habis
kewarasannya. Perdebatan sengit tadi
pagi rasanya sudah musnah begitu saja.
Yang dititipkan masing masing kini
adalah nama di sela desah dan lenguh,
elok paras dan moleknya keindahan
tubuh Evelyn adalah satu hal yang akan
selalu Orlando kagumi sepanjang usia.
Entah perubahan fisik apa yang
akan terjadi pada Evelyn tak akan
menghalangi dan mengurangi rasa cinta
dan kagum seorang Orlando kepada
sang puan.
“Aku sayang kamu, maaf kalau
sering bikin kamu marah. But I will
always do my best as your husband.”
Bisik bisik lirih Orlando untuk sang puan
membuat mata Evelyn memejam dan
menikmati setiap sentuhan, tubuh
Orlando yang berada di atasnya dipeluk
erat, leher Orlando dipeluk erat juga
oleh Evelyn seakan tak ingin kehilangan.
Gerak tubuh Evelyn dan seperti yang
sudah sudah. Semua perasaan tertuang,
segala keintiman terajut. Setiap
pergerakan Orlando memicu hasrat
dalam diri Evelyn untuk
mengimbanginya juga.
Pada riuhnya bising desah,
gelombang asmara yang membuncah
mengantarkan keduanya menyatukan
milik mereka menjadi satu kesatuan di
bawah sana, dibarengi dengan suara
samar dari keduanya yang mengerang
bersamaan. Cengkeraman erat di
pundak Orlando jadi tanda bahwa di
bawah sana Evelyn sudah kelimpungan.
“You can move but please⎯” ucapan
Evelyn belum selesai tapi Orlando
memotongnya, “I know, di luar, kan?”
Evelyn tersenyum dan
mengangguk. Dikabulkannyalah
permintaan Evelyn. Orlando bergerak
perlahan, pinggulnya bergerak seirama
dengan desahan keduanya, dihiasi
peluh yang mulai membanjiri tubuh
keduanya, arus dalam diri mereka
untuk kejar nikmat juga sudah semakin
ada di puncaknya.
Keduanya hampir tiba di
puncaknya, cahaya lampu kamar, decit
ranjang, sprei yang sudah berantakan
jadi saksi bagaimana sengitnya kegiatan
panas mereka malam ini, hampir tiba di
puncaknya, Orlando buru-buru
mencabut pusakanya, mengeluarkan
miliknya yang berhasil menyemburkan
cairan pelepasan yang membasahi paha
dan perut Evelyn.
Disaat orang lain mungkin sudah
terlelap, Orlando dan Evelyn terengah,
mengatur napas dan mengumpulkan
kesadaran sebab keduanya baru saja
kejar nikmat bersama. Sampai di puncak
singgasana nikmat bersamaan,
terengah bersamaan, bertukar hangat
tubuh dan juga bertukar ludah itulah
yang mereka lakukan sampai waktu
menunjukkan tengah malam seperti ini.
Dengan telaten, Orlando juga
mengambil tisu dan membersihkan
cairan pelepasannya yang membasahi
bagian tubuh istrinya. Membilas tubuh
dengan air hangat setelahnya, juga
melakukan rutinitas cuci muka dan
gosok gigi berdua. Bercanda tawa
sambil sekadar menikmati waktu
sesederhana gosok gigi dan cuci muka
pun bisa membangkitkan mood mereka.
“Kalau pas mau tidur itu seneng
pasti besok bangun tidur moodnya juga
jadi bagus, makasih udah bikin aku mood
banget malam ini.” Evelyn melingkarkan
lengannya di perut Orlando dan sedikit
mendongak menatap suaminya itu.
“Iya sayang, aku juga seneng
banget hari ini dapat kabar bahagia dari
kamu. Sehat-sehat terus bumilku
sayang,” kata Orlando lalu memeluk
istrinya itu lagi sebelum keduanya
kembali ke ranjang untuk berbaring dan
saling merengkuh.
“Lan,” kata Evelyn lirih.
“Apa, Lyn?” jawab Orlando sambil
merenggangkan peluk lalu memusatkan
pandangannya kepada sang puan.
“I will always choose you, no matter
what, I will always choose you with no
doubt, no matter how big the storm that
we’ll through.” Ucapan Evelyn membuat
sebuah semburat simpul senyum di
wajah sang tuan.
Kalau saja perdebatan perdebatan
itu dan juga arak membuat keduanya
berakhir dalam sebuah kata “usai”
pastilah mereka tidak saling merengkuh
saat ini. Nada sumbang dalam hidup
mereka saling disambung jadi satu, nada
rumpang saling diisi sehingga
semuanya―rampung.
END

Anda mungkin juga menyukai