0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan5 halaman

Petualangan Alex dan Cincin Misterius

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan5 halaman

Petualangan Alex dan Cincin Misterius

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

CHAPTER 1

8 November 2020.

Kicau burung membuka hariku, melihat jam menunjuk pukul 06.00. Hari ini aku akan memulai
hari yang membosankan lagi. Mungkin memang lebih baik aku tidak mengikuti saran dari kutu buku itu.
Melihat waktu yang tak pernah berhenti bergerak membuatku bergegas membersihkan diri, jam 08.00
perkuliahan dimulai. Baiklah izinkan aku memperkenalkan diri, aku alexsander van rouge hidupku biasa
saja, membosankan dan sangat menjengkelkan. Aku anak pertama keluarga rouge, ayah dan kakekku
adalah orang belanda, ibuku yang berdarah asli indonesia. Saat keluarga kami pindah ke indonesia lagi
setelah bertahun tahun di belanda rasa nya ada sedikit kesenangan dihatiku saat itu, tapi saat tau bahwa
kepindahan kami hanya sementara membuatku sangat muak. Kepindahan kami karena ayah ku dan ibu
memiliki bisnis yang harus dikelola, hal itu yang membuat ku memutuskan untuk berkuliah saja disini.
Alasanya, yah agar aku tidak perlu ikut pulang saat keluarga ku kembali ke belanda, awalnya lancar
lancar saja dan menyenangkan, tapi aku bertemu teman yang lumayan menyebalkan dan kejadian
kejadian yang menurut ku tidak masuk akal. Akhirnya cerita yang membosankan ini dimulai, baiklah tak
perlu perkenlan lagi, aku akan mulai bercerita dan kalian dengarkan dan baca saja oke.

Saat itu malam hari di minggu kedua kami disini, aku memasuki kamar kakekku, kakeku dari
sebelah ibuku, nama nya kakek Damar. Sebenarnya kakek yang memanggilku. “ Alex, cucuku.
Hahaha...kau sangat gagah yah”. Yah memang sudah lama kakek damar dan aku tidak bertemu, terakhir
itu saat aku berumur 5 tahun dan sekarang baru bertemu lagi dan sekarang umurku 18 tahun, yang
artinya sudah 13 tahun kami tidak bertemu, jujur saja aku pun bingung apakah ibuku tidak rindu pada
ayah nya. Maksudku 13 tahun itu waktu yang lama sangat lama, hah, tapi mau bagaimana lagi.

“ Mungkin kau bingung kenapa kakek memanggil mu yah”. “ Alex tidak merasa bingung kek” yah
kujawab dengan singkat dan jelas. “ hahaha...baiklah baiklah kakek hanya asal bicara saja, tapi alex
apakau sudah makan hm?”. “ Iya Kakek, tadi bersama ayah dan ibu alex sudah makan” .” memang harus
begitu, kau kan butuh tenaga.”

“ yahsudah, sini ikut kakek”. Kakek menarik sebuah buku dengan lambang aneh dari rak buku
yang ada di belakang nya, simbol dan warna sampul buku itu agak terasa familiar untukku, tapi aku lupa
dimana aku pernah melihatnya. Tapi seketika hal menarik terjadi, rak buku itu bergeser. Sebenarnya aku
kaget tapi mungkin karena wajah ku tidak mengikuti respon itu. “ wah kau tidak kaget yah..hahaha,
memang cucuku” .

Dibalik rak buku itu terdapat tangga turun kebawah, yah seperti dicerita cerita yang lain.
Mungkin kami akan menemukan harta karun disini. Jika begitu mungkin aku akan membeli ribuan sate
dan nasi padang. Tak berapa lama kami turun akhirnya kami sampai di dasar nya. Disini lumayan terang
dengan pencahayaan dari lampu di atas lorong ini, yah disini ada lorong. Tak jauh kami memasuki
lorong, tibalah kami di sebuah ruangan yang lumayan kecil, tapi tidak terlalu sih.
“ Alex, hahaha... apa kau capek hm?”. Yah.. kakek mungkin mengira perjalanan menuju kesini
sama dengan berlari puluhan mil.” Hah, kakek aku tidak selemah itu,”. Kakek hanya tertawa sedikit
seperti biasa, mungkin itu memang kebisaan kakek damar. Bunyi hewan pengerat menghiasi dan
menemani suasana kami di ruangan ini. Kakek mengambil kotak berwarna sedikit kehijaun seperti giok
tapi aku dapat pastikan itu kayu. Yah, sebenarnya aku juga bingung dari mana kotak itu, soalnya tadi
tidak ada.

“ Alex, apakah kau dapat membantu kakek?”.

“ tenang saja kakek, kakek dapat meminta bantuan ku “

Kakek menyerahkan kotak itu pada ku dan menyuruhku membukanya, dan terlihat didalam nya
terdapat dua cincin yang sewarna dengan kotak kayu ini, yah warna hijau giok. Tapi bukan dari batu
giok, karena aku punya gelang giok dan ini berbeda, tapi aku tak tau apa.

“ tolong antarkan cincin ini besrta kotak nya ke candi tanpa nama di hutan belakang alex”.

“ dan cincin itu tak boleh kau kenakan atau pun kau bawak pulang ke belanda yah... hahaha”

Entah, aku tak merasa candaan dari peringatan nya itu, walaupun di sertai dengan tawa renyah
yang selalu menempel pada nya setiap waktu.

“ baiklah kakek, kau dapat percaya pada ku, lagian aku tidak akan kembali ke belanda jika aku tidak mau,
apalagi sekarang aku sudah memutuskan untuk berkuliah di sini”

Aku bergegas ke hutan belakang rumah kami dan menyelesikan tugas yang di berikan kakek
damar, karena jujur aku masih ingin bermalas malasan dikamar atau mungkin aku akan berjalan jalan,
hah, tidak pasti. Pokoknya, selesai kan dulu ini dan pikirkan nanti. Setelah sampai di candi tanpa nama di
belakang rumah kami aku berniat meletakan kotak itu dan bergegas kembali. Dan yah sedikit cerita
sejarah, candi ini di buat oleh kakek dari kakek buyut ku ketemu nenek buyut dari kakek nya nenek
buyut ku dari sebelah ibuku. Yah bukan candi yang terkenal angker atau hal lainnya juga sih
sepengetahuan ku, soalnya dulu waktu kecil aku sering bermain disini dengan kakek. Candi ini dibuat
untuk menghormati para leluhur kami. Itu saja mungkin sejarah singkat candi kecil keluarga kami.

Kembali ke cerita, saat aku hendak meletakkan kotak itu, tiba tiba terdengar suara yang lumayan
samar, seolah menyuruhku untuk mengenakan cincin itu. Dan seketika tanpa aba aba aku sudah
mengenakan cincin giok palsu ini. Saat aku berniat melepasnya, tak ku sangka muncul wanita yang, yah
mempesona sih. Dia seolah menghentikan ku untuk melepas cincin itu.
Wangi bunga yang tak pernah kucium memasuki lubang hidung ku, dan terasa tapi perlahan
mata ku menutup, tak sesuai kondisi. Maksudku, ayolah kau memaksaku kehilangan kesempatan
melihat batu rubi cantik di depan ku.

Suara yang menenangkan telinga dan hati terdengar melalui gendang telinga ku.

“ Rouge suami ku, takdirku, terima lah aku. Berjanji lah kau tak akan meninggalkan aku lagi.”

Seketika pandangan ku gelap dan aku tak tau apa lagi yang terjadi.

“ kenapa kau masih mengincar cucu ku?..”

“ aku tidak mengincarnya, dia memang takdir ku”

“omong kosong apa yang kau ucapkan siluman rubah”

Secara perlahan aku mendengar suara ayah dan kakek, tapi mataku tetap tak mau terbuka dan
aku kembali terlelap.

Tak tau kapan, jam berapa, aku terbangun. Hari sudah gelap saja. Aku melihat kakek tengah
berdiri menghadap kekaca. “ Alex, kenapa kau memakai cincin itu?”. Suara kakek terasa tegas dan
menyiratkan kemarahan serta kesedihan.

“ aku tidak berniat memakai nya kakek, tapi cincin itu tiba tiba sudah ada di jari tangan ku “.

“ hahh... kakek sebenarnya memang tidak mau dan masih ragu untuk menyuruh mu meletakkan cincin
itu disana, tapi jika terlamabat maka kau akan celaka.”

Aku jujur saja terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut kakek, karena kau juga bingung apa
maksudnya.

“ hah...kau mungkin menyimpan banyak pertanyaan di benak mu Alex, kakek akan sedikit menjelaskan,
tapi sekarang sudah jadi tugas mu untuk menyingkap semua tabir misteri ini alex.”

Dari perkataan kakek yang ku dengar dari tadi sampai sekarang, membuat ku yakin kalau
sepertinya akan ada hal hal yang merepotkan yang akan menghampiri perjalanan hidup ku yang indah
ini.

“ dia adalah kayana, kakek tidak tau persis dia itu roh atau siluman ataupun sesuatu yang lain, karena
yang kakek tau dia dan keluarga kita terikat”. Kakek menghela nafas lagi, sedikit sedikit aku mulai bisa
menangkap maksud dari perkataan kakek.
“ kau sudah bertemu dengan nya bukan?, jadi kakek rasa kakek kau tidak mungkin belum menangkap
maksud ucapan kakek”

“ iya, kakek secara samar aku mulai mengerti tapi tidak secara keseluruhan.”

“ baiklah, sedikit informasi lagi akan kakek beritahu pada mu dan sisa nya adalah tugas mu untuk
mencari sendiri maksud dari ini semua”

“ baik kakek”.

“ kau bisa membatalkan hubungan kalian jika, tiga tahun lagi saat umur mu sudah 21 tahun. Itupun jika
kau ingin membatalkan nya, untuk sekarang kau hanya dapat mengikuti alur nya saja Alex dan, yah
pesan kakek kau dapat menjalani ini dengan sungguh dan berusahalah.”

Setelah mendengarkan kata kata kakek aku pun mulai merasa firasat ku sebelumnya benar,
hidup tenangku akan berakhir. Tapi dari kata kata kakek aku tau dia benar benar mengkhawatirkan ku,
hah, karena kakek jarang bicara panjang lebar seperti itu. Biasanya dia hanya berbicara secukupnya. Yah,
dengan tawa renyah nya.

“ baiklah kakek, aku akan berusaha bertahan dari masalah ini”.

Dengan tatapan sendu dan kekhawatiran nya kakek meninngalkan aku sendiri. Dan yah aku
menikmati waktu tenang ini sebentar karena tiba tiba suara indah itu muncul lagi.

“ kau sudah bangun suami,?”.

Jujur saja, siapa yang tidak terkaget kalau hal ini terjadi pada kalian. Sendirian tiba tiba ada suara
wanita yang memanggil kalian dengan mesra.

“ siapa kau nona?, karena rasa nya aneh, kita tidak pernah bertemu tapi kau memanggilku suamimu itu
terasa aneh dan tidak wajar.”

“ kau sudah lupa yah, tapi tak apa..perkenalkan suami aku kayana, aku adalah istrimu. Jadi tolong jaga
aku dan cintai aku”

Time skip teman teman karena jujur saja, nanti kalian baper kalau ku ceritakan lagi. Hahaha,
tapi yah kalian pasti tau bukan, gula yang manis sekali pun dapat menjadi racun kalau kita berlebihan
mengonsumsinya. Yah dia memang menyebalkan dan hidupku menjadi menantang, menyebalkan,
membosankan,yah campur aduk lah. Hah.. tpi tak apa ini jadi cerita ku. Kuharap kalian senang dan mau
terus membaca, mengikuti cerita kami. Karena jujur saja kalian juga irikan. Aku tampan, dan tidak bisa di
sebut kaya tapi setidak nya aku punya jam rolex, wanita cantik yang mengklaim aku suaminya. Heh, laki
laki mana yang tak iri.
Baiklah kembali ke cerita awal, aku sudah siap untuk pergi kuliah. Karena jujur ini minggu
pertama kuliah ku disini setelah dua minggu yang kulalui dengan banyak hal mengejutkan. Hah,
menyebalkan. Kalian tau, mungkin aku akan cepat tua jika seperti ini terus.

“suami, apakah luka mu sudah sembuh?”. “ jika kau masih merasa sakit lebih baik hari ini kau
beristirahat.”

“ tidak usah khawatir, semua akan baik baik saja. Itu hanya luka kecil saja”.

Yah, seminggu ini aku mendapat banyak sekali luka di tubuh ku, hahh... rasanya lumayan perih.

Anda mungkin juga menyukai