BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
1.1.1 Pengertian Akuntansi
American Accounting Association (AAA) menyatakan bahwa Akuntansi
adalah proses identifikasi, pengukuran dan pelaporan informasi ekonomi untuk
memungkinkan adanya penilaian dan keputusan yang jelas serta tegas bagi
pengguna informasi tersebut. Selanjutnya Sujarweni (2015: 18) menjelaskan
bahwa akuntansi pemerintahan adalah akuntansi yang bersangkutan dengan
bidang keuangan negara, dari anggaran sampai dengan pelaksanaan dan
pelaporannya, termasuk segala pengaruh yang ditimbulkannya dikutip dalam
(Larony Tangkaroro et al., 2017).
1.1.2 Pengertian Sistem
Romney (2015) berpendapat bahwa sistem adalah kumpulan dari dua atau
lebih komponen yang saling bekerja dan berhubungan untuk mencapai tujuan
tertentu. Dia juga berpendapat bahwa perusahaan adalah sebuah sistem yang
terdiri atas beberapa departemen yang bertindak sebagai subsistem yang
membentuk sistem perusahaan tersebut. Sementara itu, pendapat lain mengatakan
bahwa sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling
berhubungan serta berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan
atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu (Kamus Teknologi dan
Informasi, 2009) dikutip dalam (Mulyani, 2012).
1.1.3 Pengertian Sistem Akuntansi
Mulyadi (2016; 3) dikutip dalam (Larony Tangkaroro et al., 2017)
menjelaskan bahwa sistem akuntansi adalah organisasi formulir, catatan, dan
laporan yang di koordinasikan sedemikian rupa untuk menyediakan informasi
keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan
perusahaan. Sistem akuntansi yang dirancang dan dijalankan secara baik akan
menjamin dilakukannya prinsip stewardship dan accountability dengan baik pula.
Pemerintah atau unit kerja pemerintah perlu memiliki sistem akuntansi yang tidak
hanya berfungsi sebagai alat pengendalian transaksi keuangan, akan tetapi sistem
akuntansi tersebut hendaknya mendukung pencapaian tujuan organisasi.
1.1.4 Pengertian Desa
Menurut UU RI No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, Desa adalah desa dan desa
adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah
kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk
mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat
berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang
diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (UU RI No. 6, 2014). Rahayu dan Handayani menjelaskan lebih lanjut
desa juga merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah
yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintah, kepentingan
masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal-usul, dan/atau
hak tradisional yang harus dihormati dan harus diakui dalam sistem pemerintahan
Negara Republik Indonesia (Rahayu & Handayani, n.d.)
1.1.5 Pengertian Dana Desa
Menurut Undang-Undang Desa, Dana Desa didefinisikan sebagai dana yang
bersumber dari APBN yang diperuntukan bagi Desa yang ditransfer melalui
APBD Kabupaten/kota dan digunakan unuk membiayai penyelenggaraan
pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan, kemasyarakatan dan
pemberdayaan masyarakat. Dalam UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, tujuan
disalurkannya dana desa adalah sebagai bentuk komitmen negara dalam
melindungi dan memberdayakan desa agar menjadi kuat, maju, mandiri dan
demokratis.
1.1.6 Penerapan Sistem Keuangan Desa (Siskeudes)
Sistem Keuangan Desa (Siskeudes) adalah aplikasi yang dikembangkan
oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) bekerjasama
dengan Kementerian Dalam Negeri. Aplikasi ini bertujuan untuk meningkatkan
kualitas tata kelola keuangan desa. Siskeudes dirancang secara terintegrasi untuk
membantu pemerintah desa dalam mengelola keuangan desa mulai dari tahap
perencanaan, penganggaran, penatausahaan, hingga pelaporan dan
pertanggungjawaban.
Kelebihan/Keunggulan Aplikasi Siskeudes:
1. Sesuai Regulasi: Dikembangkan sesuai dengan regulasi terkini, termasuk
Permendagri No. 20 Tahun 2018.
2. Terintegrasi: Mencakup seluruh tahapan pengelolaan keuangan desa dalam
satu aplikasi.
3. User-Friendly: Mudah digunakan bahkan oleh pengguna dengan pengetahuan
teknologi terbatas.
4. Sistem Pengendalian Intern: Dilengkapi dengan sistem pengendalian intern
untuk meminimalisir risiko kesalahan.
5. Komprehensif: Mencakup seluruh komponen pengelolaan keuangan desa
sesuai peraturan.
6. Keamanan Data: Memiliki sistem pengamanan data untuk menjaga integritas
dan kerahasiaan.
7. Pelaporan Otomatis: Dapat menghasilkan output berupa dokumen
penatausahaan dan laporan sesuai ketentuan.
8. Standarisasi: Membantu standarisasi proses pengelolaan keuangan di seluruh
desa.
1.1.7 Pengelolaan Keuangan Dana Desa
Pengelolaan Dana Desa merupakan bagian integral dari pengelolaan
keuangan desa yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang
Desa. Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) yang diperuntukkan bagi desa dan ditransfer melalui
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten/kota, digunakan
untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan,
pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat (Kementerian
Keuangan RI, 2017).
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang
Pengelolaan Keuangan Desa, pengelolaan Dana Desa harus memenuhi prinsip-
prinsip sebagai berikut:
1. Transparan, yaitu keterbukaan dalam pengelolaan keuangan desa.
2. Akuntabel, yaitu pertanggungjawaban pengelolaan keuangan desa sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Partisipatif, yaitu pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan.
4. Tertib dan disiplin anggaran, yaitu pengelolaan keuangan desa sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan (Kemendagri, 2014).
Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia No 113 tahun 2014
tentang Pengelolaan Keuangan Desa, menyatakan bahwa pengelolaan keuangan
desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan,
penatausahaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban keuangan desa. Pengelolaan
keuangan desa mencakup,Proses pengelolaan Dana Desa meliputi tahapan
perencanaan, pelaksanaan, pelaporan, dan pertanggungjawaban.
1. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, pemerintah desa menyusun Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDesa) dan Rencana Kerja
Pemerintah Desa (RKPDesa) yang menjadi dasar penyusunan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) (Kementerian Desa, Pembangunan
Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI, 2020).
2. Pelaksanaan
Dalam pelaksanaannya, penggunaan Dana Desa diprioritaskan untuk
pembangunan infrastruktur desa dan pemberdayaan masyarakat desa. Hal ini
sejalan dengan tujuan pemberian Dana Desa, yaitu meningkatkan pelayanan
publik di desa, mengentaskan kemiskinan, memajukan perekonomian desa,
mengatasi kesenjangan pembangunan antar desa, serta memperkuat masyarakat
desa sebagai subjek pembangunan (Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan, 2015).
3. Penatausahaan
Penatausahaan dalam pengelolaan dana desa merupakan proses pencatatan
yang dilakukan secara sistematis dan kronologis atas transaksi keuangan yang
terjadi. Kegiatan ini umumnya dilaksanakan oleh bendahara desa dan mencakup
pencatatan seluruh penerimaan dan pengeluaran dalam buku kas umum, buku
pembantu pajak, dan buku bank. Tujuan utama penatausahaan adalah untuk
menjamin keteraturan, kelancaran, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas dalam
pengelolaan keuangan desa.
Dalam praktiknya, penatausahaan melibatkan penggunaan berbagai
dokumen seperti bukti transaksi, surat permintaan pembayaran (SPP), dan surat
perintah membayar (SPM). Proses ini juga sering didukung oleh aplikasi Sistem
Keuangan Desa (Siskeudes) untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi. Hasil dari
penatausahaan menjadi dasar untuk penyusunan laporan keuangan desa, termasuk
laporan realisasi pelaksanaan APBDesa.
4. Pelaporan
Pelaporan merupakan salah satu tahap penting dalam siklus pengelolaan
Dana Desa. Tahap ini berfungsi sebagai bentuk pertanggungjawaban pemerintah
desa atas penggunaan Dana Desa yang diterima. Pelaporan juga menjadi
instrumen untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan
keuangan desa.
Pelaporan Dana Desa mencakup beberapa jenis laporan, yakni laporan
realisasi penggunaan Dana Desa per semester, laporan realisasi penggunaan
Dana Desa tahunan, dan laporan konsolidasian realisasi penyerapan dan capaian
output Dana Desa. Periode pelaporan dibagi menjadi dua semester, dengan
tenggat waktu penyampaian untuk Semester I paling lambat minggu keempat
bulan Juli tahun anggaran berjalan, sedangkan untuk Semester II paling lambat
minggu keempat bulan Januari tahun anggaran berikutnya.
Mekanisme pelaporan dimulai dengan penyusunan laporan oleh Sekretaris
Desa, dilanjutkan dengan verifikasi dan penandatanganan oleh Kepala Desa,
kemudian penyampaian laporan kepada Bupati/Walikota melalui Camat. Isi
laporan meliputi realisasi penerimaan Dana Desa, realisasi penggunaan Dana
Desa, sisa Dana Desa di Rekening Kas Desa, dan capaian output untuk laporan
konsolidasian.
Pelaporan Dana Desa memiliki konsekuensi penting, di mana laporan
menjadi syarat untuk pencairan Dana Desa tahap berikutnya. Keterlambatan atau
ketidaksesuaian laporan dapat mengakibatkan penundaan atau pemotongan
penyaluran Dana Desa. Dalam rangka menjaga transparansi, ringkasan laporan
realisasi penggunaan Dana Desa wajib diinformasikan kepada masyarakat desa
melalui media yang mudah diakses.
Laporan Dana Desa juga berfungsi sebagai bahan untuk monitoring dan
evaluasi penggunaan Dana Desa oleh pemerintah kabupaten/kota dan instansi
terkait, memastikan akuntabilitas dan efektivitas penggunaan dana tersebut
untuk pembangunan desa.
5. Pertanggung Jawaban
Laporan realisasi penggunaan Dana Desa menjadi bagian dari laporan
pertanggungjawaban APBDesa. Kepala desa bertanggung jawab untuk
menyampaikan laporan pertanggungjawaban ini kepada bupati/walikota pada
setiap akhir tahun anggaran (Kementerian Keuangan RI, 2018).