0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan2 halaman

Pengembangan Profesional Berkelanjutan Guru

Diunggah oleh

Desima Maranatha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan2 halaman

Pengembangan Profesional Berkelanjutan Guru

Diunggah oleh

Desima Maranatha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

**Judul Paper: Continuing Professional Development of Teachers**

**Pendahuluan**

Pengembangan profesional berkelanjutan (CPD) bagi guru merupakan aspek penting


dalam meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh dunia. Dalam konteks pendidikan
global, CPD tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan pedagogis, tetapi
juga mencakup pembaruan pengetahuan tentang kurikulum, teknologi pendidikan, dan
metodologi pengajaran. Data dari UNESCO (2015) menunjukkan bahwa kualitas
pendidikan sangat dipengaruhi oleh kualifikasi dan pelatihan guru. Oleh karena itu,
penting untuk memahami bagaimana CPD dapat dioptimalkan di berbagai negara,
terutama di negara-negara dengan tingkat pendapatan yang berbeda.

**Pengembangan Profesional Berkelanjutan bagi Guru**

CPD bagi guru mencakup berbagai aktivitas, mulai dari pelatihan formal hingga
seminar dan lokakarya. Menurut data yang diambil dari studi PIRLS, partisipasi guru
dalam kegiatan CPD bervariasi secara signifikan di antara negara-negara dengan
pendapatan yang berbeda. Di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah,
seperti Republik Makedonia, Romania, dan Federasi Rusia, lebih dari 60% siswa kelas
4 diajar oleh guru yang hanya memiliki kurang dari enam jam CPD dalam dua tahun
terakhir. Sebaliknya, di negara-negara seperti Iran, lebih dari 35% guru
berpartisipasi dalam 16 jam atau lebih kegiatan pelatihan dalam periode yang sama
(UNESCO, 2015).

Statistik ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk meningkatkan CPD di
negara-negara berkembang, masih terdapat tantangan besar yang harus dihadapi.
Misalnya, di Iran, meskipun ada proporsi guru yang berpartisipasi dalam pelatihan,
hanya 27% siswa kelas 4 yang diajar oleh guru dengan jam CPD yang memadai. Hal ini
menandakan perlunya pendekatan yang lebih sistematis dalam merancang program CPD
yang dapat diakses oleh semua guru, terlepas dari lokasi atau tingkat pendapatan
negara mereka.

**Persentase Siswa Kelas 4 yang Guru-gurunya Mengikuti Pelatihan dalam Dua Tahun
Terakhir**

Data dari PIRLS menunjukkan bahwa partisipasi guru dalam CPD tidak merata di
seluruh negara. Di negara-negara berpenghasilan tinggi seperti Prancis, 86% siswa
kelas 4 diajar oleh guru yang hampir tidak memiliki CPD dalam dua tahun terakhir.
Di sisi lain, negara-negara seperti Israel, Italia, dan Singapura menunjukkan bahwa
lebih dari 34% siswa diajar oleh guru yang memiliki lebih dari 16 jam CPD. Hal ini
menunjukkan adanya disparitas yang signifikan dalam akses dan partisipasi dalam CPD
berdasarkan konteks ekonomi negara (UNESCO, 2015).

Meskipun banyak negara berpenghasilan tinggi memiliki sumber daya yang lebih baik
untuk pengembangan profesional guru, tidak semua guru di negara tersebut secara
aktif terlibat dalam CPD. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada dukungan finansial dan
struktural, faktor-faktor lain seperti budaya pendidikan, kebijakan pemerintah, dan
motivasi individu juga berperan penting dalam menentukan tingkat partisipasi guru
dalam CPD.

**Persentase Siswa Kelas 6 yang Guru Membacanya Tidak Mengikuti Kursus In-Service
dalam Tiga Tahun Terakhir**

Dalam konteks pendidikan, penting untuk memperhatikan proporsi siswa yang diajar
oleh guru yang tidak memiliki pelatihan in-service. Data menunjukkan bahwa ada
sejumlah besar siswa kelas 6 yang guru-gurunya tidak mengikuti kursus in-service
dalam tiga tahun terakhir. Ini mencerminkan tantangan yang dihadapi dalam upaya
meningkatkan kualitas pendidikan, terutama di negara-negara dengan keterbatasan
sumber daya.

Di negara-negara seperti Kenya, Zambia, dan Zimbabwe, hubungan antara kepadatan


populasi dan insiden pelatihan in-service di antara guru kelas 6 menunjukkan bahwa
daerah dengan kepadatan populasi yang lebih tinggi cenderung memiliki akses yang
lebih baik terhadap pelatihan. Namun, meskipun ada akses yang lebih baik,
efektivitas pelatihan tersebut tetap dipertanyakan. Hanya 44% guru yang
berpartisipasi dalam CPD di Seychelles yang menilai kegiatan tersebut sebagai
efektif, sementara di Malawi dan Tanzania, lebih dari 80% guru merasa pelatihan
tersebut bermanfaat (UNESCO, 2015).

**Kesimpulan**

Pengembangan profesional berkelanjutan untuk guru merupakan komponen krusial dalam


meningkatkan kualitas pendidikan secara global. Meskipun ada kemajuan dalam
partisipasi guru dalam CPD, masih terdapat tantangan besar yang perlu diatasi,
terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Data menunjukkan
bahwa akses dan efektivitas CPD sangat bervariasi tergantung pada konteks ekonomi
dan sosial masing-masing negara. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih
terintegrasi dan berkelanjutan untuk memastikan bahwa semua guru memiliki
kesempatan untuk berkembang secara profesional, demi meningkatkan kualitas
pendidikan bagi siswa di seluruh dunia.

**Referensi**

UNESCO. (2015). Teachers and Educational Quality: Monitoring Global Needs for 2015.

Anda mungkin juga menyukai