Chapter 2
Jam menunjukkan pukul 6 malam, dan ini adalah hari sabtu. Biasanya aku menganggap semua
hari sama apa kadarnya , namun tidak untuk kali ini. Tentang ajakan Hoshizora untuk menginap
dirumahnya, aku jelas setuju, meskipun dari awal agak ragu mempertimbangkannya.
“Biasanya kalau menginap itu melakukan apa saja ya?”
“Apakah berlatih game terus semalaman?”
“Tapi katanya Hoshizora juga, adiknya ikut turnamen juga, apakah dia beneran ikut?”
Tentunya di sela perjalananku menuju rumah Hoshizora, banyak pertanyaan yang menghujani
pikiranku. Sembari membaca pesan serta shareloc darinya, mengitari komplek perumahan yang
hanpir sama di setiap rumahnya. Namun untung saja terdapat nama keluarga di depan pagar
rumah, itu menjadi petunjuk utamanya.
“Hoshizora.” Aku membaca salah satu pagar di saat aplikasi maps di ponselku tepat di arah
tujuan. “Tunggu, dia beneran Hoshizora?”
Tepat setelah aku membaca salah satu hal utama yang menjadi pembeda di setiap rumah, aku
melihat Hoshizora. Namun kali ini sangatlah berbeda, poni merah panjang yang sebelumnya
menyamping kini menutupi sebelah matanya, memberikan kesan yang berbeda.
“Ah, permisi… Hoshizora.”
Ia berpaling padaku, “Shiraishi? Sudah sejak kapan kau ada di sana? Masuklah.” Sembari
menghampiriku dan membukakan pagar.
“Tidak, baru saja….Permisi.”
“Begitu ya, silahkan…mungkin sedikit sempit kalau kita berlima.”
Aku masuk, mengalami kesan pertama menjadi tamu. Disertai langkah ringan memasuki ruang
tamu yang enak dipandang, suasana hangat karena perbedaan atmosfer dari hawa luar. Aku
disambut oleh ketiga orang, salah satunya Kineku dengan fokusnya bermain game. Akan tetapi,
pandanganku teralihkan oleh sepasang gadis lebih muda yang duduk di depan meja kopi kecil.
“Ha…halo,” salah satunya mengambil inisatif dahulu untuk menyapaku. Gadis dengan rambut
Panjang lurus, berwarna hitam dengan sedikit gradasi hijau cerah yang melambai dengan lembut
di sepanjang punggungnya.
“Uhm ya halo,” balasku, sedikit gugup karena penampilan manisnya, apalagi jepitan rambut
bintang di rambutnya.
Sedetik setelahnya, Hoshizora datang dengan secangkir kopi di tangannya, “Oh ya, aku belum
mengenalkannya padamu ya. Dia adalah adikku…”
“Hoshizora Asteria,” potong gadis itu.
“Kalau bingung memanggil namanya, panggil aja aku Taka, simpel bukan?”
“Yoga, panggilan Kineku terlalu panjang.” Diikuti dengan Kineku yang tiba-tiba mengangkat
suaranya, padahal sebelumnya ia sibuk pada layar ponselnya.
“Ba-baiklah, akan kucoba, senang bertemu denganmu Hoshizora, aku Shiraishi Aoi.”
“Aku juga, Kak Shiraishi.” Ia tersenyum manis, kemudian menggunakan bahunya untuk
memberi isyarat pada gadis sebaya yang ada di sebelahnya.
Aku tidak tahu alasan mengapa sedari tadi dia tertunduk, meskipun begitu gadis itu juga tidak
kalah imutnya, wajah kecil dengan rambut merah muda kepang dua lurus nan panjang itu
sungguh perpaduan yang cocok.
“A-Azuzi Namida.”
“Iya, aku Aoi Shiraishi, salam kenal ya.”
Kami beradu pandang, meskipun kesan pertama kalinya sangatlah kikuk, kini senyuman
manisnya mengembang di hadapanku.
Setelah sedikit perkenalan canggung, mulailah kamu bermain game. Cahaya lampu ruangan
menyala redup, kami berlima duduk berjejer di sofa yang empuk, sementara layar monitor besar
terang benderang memantulkan cahaya permainan yang intens.
Tawa riang dan seruan antusias menggema di ruang tamu, bersama dengan suara ponsel yang
terdengar seiring dengan upaya kami memperkuat keahlian dalam permainan. Sebuah meja kecil
di depan kami ikut serta dipenuhi dengan camilan, minuman,
Hingga waktu menyadarkan kami, malam larut pun terjadi. Hoshizora memutuskan untuk
mengakhiri malam ini, namun Kineku menolaknya mentah-mentah.
“Ayolah kalian, kita sudah memenangkan 4 kali pertandingan berturut turut, bukannya kita tidak
terkalahkan? Ayo kita lanjutkan,” tegas Kineku sambil menunjukkan layar ponselnya..
“Dasar, kamu tidak lihat Asteria dan Azuzi sudah mengantuk? Mari kita beristirahat sebentar,”
sanggah Hoshizora dengan nada bosan,
Sesaat setelahnya, hawa dingin terasa kembali melalui tirai yang tertiup. Langit malam sunyi,
angin berhembus membawa awan gelap yang menutupi keindahan langit. Cuaca semakin dingin,
hujan rintik mulai turun, bulir –bulir hitam mulai meluncur turun dari mega hitam menuju bumi
yang basah, dengan ditaburi suara petir yang bersahutan.
“Uwahh hujan! Pas sekali bukan? Mari kita lanjut menonton beberapa film!” Asteria
mengatakannya seraya menunjukkan beberapa DVD.
Mereka semua tidak ada yang keberatan, termasuk aku. Kami melanjutkan malam ini dengan
menonton beberapa film horror. Udara dingin dan rintikan hujan menambah suasana
kebersamaan.
Ditengah menonton film, Kineku mengangkat suaranya, “Aku masih ingin bermain game lo,
lagian film ini tidak ada horrornya sama sekali.”
“Berisik, kamu memang pecandu game, dasar.” Hoshizora langsung menimbalinya, karena
hanya tinggal kami bertiga yang terjaga. Asteria dan Azuzi sepertinya sudah tertidur.
“Huft, kalau saja aku punya kekuatan seperti ya-”
Zlarr…
Tiba tiba kilat menyambar bersamaan dengan suara gemuruh keras diikuti listrik yang padam,
membuat rumah ini gelap tanpa pencahayaan sedikit pun, gelap menyatu dengan alam pada
umumnya. Buta, tidak ada penglihatan.
Setelahnya, sepasang gadis yang sebelumnya tidur itu terbangun. “Apa ini? Pemadaman?”
“Sepertinya tidak, mungkin karena sambaran petir sebelumnya itu. Tenanglah, di rumah ini
sudah terpasang lampu darurat, sebentar lagi pasti akan menyala,” telaah Hoshizora
menenangkan situasi.
Perlahan namun pasti, lampu berwarna kuning keemasan itu menyala. Meskipun redup,
setidaknya seluruh sudut ruangan nampak wujudnya.
“Benar ‘kan?”
Kami mengangguk, namun entah apa yang dipikirkan Kineku sehingga ia berkata, “Filmnya
sedikit lagi akan selesai, jadi mari kita lanjutkan menontonnya menggunakan laptopku.”
Tontonan kembali diteruskan dengan kelima orang berada di ranjang kasur, tidak ada pilihan lain
karena itulah salah satunya tempat dimana kami bisa menontonnya secara leluasa. Akan tetapi,
tiap detiknya berlalu, kantuk akan memasuki tingkat baru. Aku melihat sekeliling, nampak
mereka juga bertahan melawan naluri alami malam.
Terlebih lagi suara rintikan hujan di luar sungguh menambah serangan kantuk, dibalut dengan
hawa dingin yang akan melemahkan tubuh kita. Menguap adalah ciri-cirinya.
Hingga Hoshizora menyerah, ia bangun dari tempat tidur serta mengambil selimut dilanjut
tubuhnya yang terlemaskan jatuh di atas karpet tebal.
“Tak-kyun,” lirih Asteria yang sadar kalau kakaknya itu sudah berpindah tempat, kemudian
tanpa jeda sedetikpun ia ikut berpindah dan meringkuk di samping Hoshizora.
“Hah? Yang benar saja? Apakah itu yang dilakukan adik dan kakak seperti mereka itu wajar?”
batinku, melihat posisi tidur mereka berdua dalam satu selimut itu sangatlah ambigu.
Aku pun mulai merasakan kelopak mata yang ingin mengistirahatkan mataku. Namun hal itu
terjeda karena kali ini Kineku-lah yang berpindah tempat.
“Hoam…Jam berapa sekarang, ‘ngantuk banget,” ucapnya sembari melangkah pergi ke sofa.
Di ranjang hanya tanggal kami berdua, aku dan Azuzi. Ini sangatlah memicu konflik aneh nan
berbahaya jika aku tertidur di sampingnya.
“Ah sial, mataku sangat berat, apa aku harus membangunkannya? Tidak, seharusnya aku yang
berpindah tempat. Tapi masalahnya, dimana? Dimana aku harus tidur?!” jerit suara hatiku yang
menolak kelelahan otak untuk berpikir.
Tetap saja, aku benar-benar larut dalam panorama malam ini. Sedikit demi sedikit aku mulai
memejamkan mataku, aku menyerah dan pasrah untuk tidur.
Aoi…
Aoi Shiraishi…
Gendang telingaku menangkap suara lirih dan lembut, suara seorang gadis muda. Namun aku
yakin kalau itu bukan suara Azuzi maupun adiknya Hoshizora, sedikit berbeda. Jawaban pastinya
mungkin hanyalah imajinasi.
“Aoi, bagaimana kalau setiap makhluk memiliki kekuatan tersendiri untuk bertahan hidup dari
musuhnya.”
Dan ya, kali ini suara itu terdengar jelas.
“Aku pernah mendengar perkataan itu.” Pikiranku langsung mengingat kejadian disaat Kineku
berkata hal itu namun dipotong oleh gemuruh keras.
“Hei, apakah kamu mendengarku?”
Kembali lagi bersuara, membuat rasa penasaranku membara. Aku memaksakan kelopak mata ini
untuk membangunkan mata sedia kala.
Aku langsung melihat jawabannya, seorang gadis dihadapanku, ia melihatku dengan tatapan
yang serius. Warna biru di mata dan rambutnya mengingatkanku dengan luasnya samudra dan
indahnya langit, dia memakai jubah berwarna putih yang bersinar sambil menggenggam 2 bunga
mawar yang berwarna biru dan merah. Dia nampak sangat mempesona di gelapnya malam.
“Selamat datang Aoi Shiraishi.”
“Selamat…datang?”